You are on page 1of 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

S DENGAN DECOMPENSASI
CORDIS DI INSTALASI GAWAT DARURAT
RUMAH SAKIT DR. MOEWARDI

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh :
Rahadyan Kusuma
J 230 113 040

PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012

Nes (…………………. 9 November 2012 Fakultas Ilmu kesehatan Universitas Muhammdiyah Surakarta Dekan.. Arif Widodo. MOEWARDI Disusun oleh: RAHADYAN KUSUMA J 230 113 040 Telah dipertahankan di depan Dewan penguji pada tanggal 9 November 2012 Dan Dinyatakan Telah Lulus Syarat Susunan Dewan Penguji: Ketua :Winarsih Nur Ambarwati. M. M.2    LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. Ns.Kes     . S DENGAN DECOMPENSASI CORDIS DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT DR. Kep.Kep. S. ETN.Kep (………………….A. A.) : Arif Widodo.Kep. M.) Sekretaris : Mulyo Budiono..) Anggota (………………….Kep.. S.Kes Surakarta.

apabila digunakan sebagai sumber pustaka Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila surat pernyataan ini tidak benar saya bersedia mendapatkan sanksi akademis Surakarta. Hasil karya tulis ilmiah ini merupakan hak royalty non eksklusif. kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya 2. S DENGAN DECOMPENSASI CORDIS DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT DR. 8 November 2012 Yang menyatakan Rahadyan Kusuma     . judul karya tulis ilmiah: “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. MOEWARDI ” 1. Adalah bukan karya tulis ilmiah orang lain sebagian maupun keseluruhan.3    SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Rahadyan Kusuma NIM : J 230 113 040 Menyatakan.

Moewardi selama 3 bulan terakhir Januari-Maret 2012 berjumlah 20 pasien. Angka Kejadian Penyakit jantung di RSUD Dr. Winarsih Nur Ambarwati**. metode penelitian ini adalah deskriptif. cemas berhubungan dengan krisis situasional. S dengan decompensasi cordis di instalasi gawat darurat RSUD Dr.1    NASKAH PUBLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. sesak nafas. Tujuan penelitian ini adalah penulis ingin mengetahui bagaimanakah asuhan keperawatan Ny. di dapatkan dua diagnose yaitu Penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard. S DENGAN DECOMPENSASI CORDIS DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT DR. apabila tidak segera di tangani dapat menimbulkan kematian. Kata kunci : Decompensasi cordis. MOEWARDI Rahadyan Kusuma*. Hasil penelitian adalah Decompensasi Cordis merupakan satu kasus kegawatan. Moewardi. Untuk mengurangi angka kematian terutama pada pasien Decompensasi Cordis di perlukan perawatan yang optimal dan mengacu pada fokus permasalahan yang tepat. Mulyo Budiono** ABSTRAK Prevalensi penyakit jantung di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. data kemudian dianalisis dan diintepretasikan dalam laporan tertulis. data penelitian diperoleh dengan cara wawancara. Edema     . pemeriksaan fisik dan observasi terhadap pasien.

anxiety related to situational crisis Keywords: Decompensasi cordis. To reduce mortality. dr. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu di atas maka mempengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabknan kegagalan memompa (Hudak & Gallo. Moewardi pada pasien decompensasi cordis adalah terjadinya peningkatan sistem saraf simpatis yang mempengaruhi arteri vena jantung. kemudian melaju dengan     . Menurut Barita (2003).2%. pekerjaan jantung adalah memompa darah keseluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme pada setiap saat baik istirahat. especially of patients was needs of decomposision cordis optimal care and refer to tappropriate focus of the problem.2    NURSING CARE TO TN. Kematian akibat penyakit jantung tahun 2000 hanya 4. DR. S with decomposision cordis at emergency intalation. S WITH DECOMPOSISION CORDIS AT EMERGENCY INTALATION. there were 26 patients. Data was analyzed and interpreted in a written report.Pentingnya tindakan yang segera dilakukan oleh petugas kesehatan di IGD RSUD Dr. edema pesat hingga mencapai puncak tahun 2000 dengan 532 kasus. Akibatnya meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan kontraksi. peningkatan kasus di mulai pada tahun 1997 dengan 248 kasus. Akibat yang paling buruk adalah kematian. sistem katub serta pemompaan baik. Hal ini dilakukan dengan baik bila kemampuan otot jantung untuk memompa baik. This research method is descriptive. Incidence rate of heart disease in Dr. MOEWARDI HOSPITAL ABSTRACT The prevalence of heart disease in Indonesia from year to year increase. Tujuan umum dari karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui PENDAHULUAN Latar Belakang Jantung merupakan organ yang berfungsi dalam sistem sirkulasi darah. The results are Decompensasi Cordis is the gravity of the case. Angka Kejadian Penyakit jantung di RSUD DR. if not handled immediately can lead to death. Data were obtained by interview. shortness of breath. prevalensi penyakit jantung di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat berdasarkan data RS Jantung Harapan Kita. Moewardi hospital for 3 months since January-maret 2012. Tonus simpatis membantu mempertahankan tekanan darah normal. bekerja maupun menghadapi beban. moewardi hospital.3% jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan insiden pada tahun 1999 sejumlah 12. The objective aimed to know Nursing Care to Ny. physical checking and observation of patient. 2002). Moewardi pada periode Januari-Maret 2012 berjumlah 20 pasien yang di ambil dari data register ruang IGD. in getting the two diagnoses are associated with a decrease in cardiac output decreased myocardial contractility.

pada gagal jantung kiri Manifestasi klinis yang terjadi meliputi dispneu. Beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta atau hipertensi sistemik. 2005). takikardia. 2010). Gagal jantung kanan Manifestasi klinis yang terjadi meliputi edema. kecemasan dan kegelisahan. LANDASAN TEORI Deompensasi cordis adalah suatu keadaan patofisiologis adanya kelainan fungsi jantung mengalami kegagalan dalam memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh (kekurangan fungsi oksigen) dan saat istirahat atau latihan (Black&Hawks. Selain itu juga dapat terjadi Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis (Hudak. bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Decompensasi cordis di Instalasi Gawat Darurat Rumah sakit Dr. Moewardi Patofisiologi Menurut Smeltzer (2002). Dari seluruh penyebab tersebut diduga yang paling mungkin terjadi adalah pada setiap kondisi tersebut mengakibatkan pada gangguan penghantaran kalsium di dalam sarkomer. Bila ventrikel kanan gagal. Studi kasus Yaitu melalui aplikasi langsung dalam memberikan asuhan     . Gallo. pertambahan berat badan. Terjadi trombosis vena dalam. Deompensasi cordis adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan fungsi kontraktilitas yang berakibat pada penurunan fungsi pompa jantung (Prince. pitting edema. atau di dalam sistesis Komplikasi dari gagal jantung Komplikasi dari gagal jantung Syok kardiogenik yang ditandai oleh gangguan fungsi ventrikel kiri yang mengakibatkan gangguan fungsi ventrikel kiri yaitu mengakibatkan gangguan berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada infark miokard atau kardiomyopati. 2002). 2006). 2005). Sylvia A. gangguan pada pengisian dan ejeksi ventrikel (perikarditis konstriktif dan temponade jantung). Edema paru terjadi dengan cara yang sama seperti edema dimana saja didalam tubuh (Udjanti. dan lemah. Etiologi Mekanisme fisiologis yang menyebabkan timbulnya dekompensasi kordis adalah keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal.2    atau fungsi protein kontraktil ( Prince. nokturia. dan cacat septum ventrikel. METODE PENULISAN Pendekatan 1. karena pembentukan bekuan vena karena stasis darah. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat mengakomodasi semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi vena. anoreksia. bunyi jantung S3. yang menonjol adalah kongesti visera dan jaringan perifer. ortopneu batuk. Faktor lain yang dapat menyebabkan jantung gagal sebagai pompa adalah gangguan pengisisan ventrikel ( stenosis katup atrioventrikuler ). beban akhir atau yang menurunkan kontraktilitas miokardium. hepatomegali. mudah lelah. Keadaan yang meningkatkan beban awal seperti regurgitasi aorta.

Bukubuku terkait dengan Penyakit jantung serta jurnal-jurnal yang terkait dengan Gagal Jantung.Moewardi merupakan instalasi yang memberikan pelayanan 24 jam yang menangani klien baik     . metode penulisan yang penulis gunakan adalah metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya menggambarkan secara objektif dimulai dari pengumpulan sampai evaluasi dan selanjutnya menyajikan dalam bentuk narasi. melakukan implementasi. Ruang observasi memiliki 10 bed diantaranya 5 bed untuk bedah minor. diagnosa. Triage. status menikah. implementasi dan evaluasi. perencanaan. 3 bed untuk klien non bedah.3    emergency maupun non emergency. Langkah-langkah Pengambilan data di dapatkan pertama kali di IGD dengan melakukan pengkajian melalui anamnesa. observasi dan pemeriksaan fisik ke klien dan dari catatan keperawatan maupun catatan medis klien. pekerjaan PNS. Pengambilan data selanjutnya dilakukan di bangsal Aster V antara lain data laboratorium yang di dapatkan pada status pasien.Moewardi terdiri dari ruang pendaftaran. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara ke klien. Riwayat Penyakit Keluhan Utama pada klien yaitu klien mengeluh sesak nafas dada terasa ampeg dan kedua kaki terasa kemeng. 2 bed untuk anak. Analisis Data Analisa data merupakan proses kegiatan menyeleksi. Studi Kepustakaan Yaitu studi berdasarkan dokumentasi Rekam Medis. Rongten. pengkajian. dokumentasi keperawatan. pendidikan D3. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang EKG. mengintepretasi data. Isolasi. status menikah. Biodata Klien bernama Ny. Resusitasi. Klien tidak memiliki Tehnik Pengambilan Data Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. 2. pendidikan D3. bila klien beraktifitas berjalan sedikit klien merasa lemes. agama islam. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada hari Sabtu tanggal 25 Agustus 2012 jam 14. pada ekstremitas bawah terdapat edema. nomor CM: 898703 b. Gambaran Kasus 1. mengelompokkan data. pekerjaan PNS. VK. dan ruang Observasi klien. Ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Klien sempat berobat ke dokter praktek 1x namun kondisinya belum kunjung sembuh sehingga klien merasa kawatir akan kondisi kesehatannya. Alamat : Pondok Grogol RT 01 RW 03 Surakarta. membuat diagnosa. keluarga. Masuk tanggal 25 Agustus 2012. membuat perencaanaan. a. evaluasi HASIL Data Profil Objek Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. S umur 51 tahun. agama islam. nomor CM: 898703 keperawatan pada kasus decompansasi cordis meliputi. Masuk tanggal 25 Agustus 2012. S umur 51 tahun. Klien bernama Ny.30 WIB. Alamat : Pondok Grogol RT 01 RW 03 Surakarta. Klien mengeluh dada terasa ampeg sejak 1 minggu yang lalu.

Pengkajian Skunder Klien dan keluarga menyangkal adanya Alergi makanan maupun obat-obatan. tidak ada sianosis. distribusi merata. Suhu klien 36. aliran infus lancar. DM. e. tidak ada bunyi nafas tambahan. tidak ikterik reflek cahaya positif. akral dingin. Untuk pengkajian pada Breathing yaitu : Pola nafas klien cepat dan dangkal. fungsi pendengaran baik. terdengar bising jantung sistolik. Palpasi: fokal fremitus kanan dan kiri sama.5 o C. Telinga: telinga bersih. auskultasi: suara ronchi pada paru kanan. tidak ada pembesaran JVP. Respirataori rate: 32x/menit. Keluarga mengatakan tidak ada penyakit yang sama dialami oleh keluarga c. terdapat edema. makanan yang dimakan klien terakhir adalah nasi sayur dan minum teh manis. ada suara nafas ronchi di paru kanan sedangkan bunyi paru kiri vesikuler. klien mampu diajak berkomunikasi. klien tidak gelisah. Sedangkan untuk pengkajian pada Disability antara lain : Status mental klien baik. bentuk dada normal. Abdomen: Inspeksi: tidak ada lesi/jejas. terpasang kanul oksigen 4 lt/mnt. sklera putih. Jantung: Inspeksi: ictus kordis tampak Palpasi: Ictus cordis teraba mid clavikula intercosta 4-5. Mata: konjungtiva tidak anemis. turgor kulit baik d. nadi karotis teraba kuat. M: 6. Eks kiri bawah : bisa bergerak bebas.4    lingkungan pedesaan. Leher: tidak ada pembesaran kelenjar thyroid. Pengkajian Primer Pengkajian primer pada Airway antaralain : Jalan nafas klien paten. Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan. iramanya reguler. kulit kepala bersih. Perkusi: suara thympani. tidak terdapat lesi/jejas pada kepala. Warna rambut hitam sedikit beruban. tidak ada sumbatan/penumpukan secret. tidak ada nyeri telan. Dada: Inspeksi: pergerakan dada simetris kanan dan kiri. Eks kiri atas: terpasang Infus D5 15 tpm. mukosa bibir lembab. Ekstremitas : Eks kanan atas: bisa bergerak bebas Eks kanan bawah: bisa bergerak bebas. bunyi nafas bersih. Palpasi: tidak ada nyeri tekan. Muskuloskeletal: ekstrimitas atas dan bawah dapat bergerak bebas kekuatan otot normal. tidak ada serumen. Untuk pengkajian pada Circulation antaralain: Nadi perifer teraba lemah. klien bekerja sebagai PNS. tidak ada sumbatan/ penumpukan secret di jalan nafas. terdapat riwayat penyakit keturunan seperti Hipertensi. Perkusi: suara pekak. Hidung: hidung bersih. Capilarirefiil > 2 detik. Mulut: mulut bersih. Klien tinggal di     . Dalam satu minggu yang lalu klien berobat ke dokter dan di berikan obat diuretic. GCS : 15 (E: 4. Auskultasi: Auskultasi suara jantung I & II regular. Sedangkan pada pengkajian Exposure antara lain : terdapat Edema pada ekstremitas bawah. tidak ada sianosis. Perkusi: suara sonor. V: 5). Asma dan Alergi. Tekanan darah klien: 120/80 mmHg dan nadi: 88 x/menit. pupil isokor. Auskultasi: peristaltik usus 16x/menit. Tingkat kesadaran klien composmentis. Pemeriksaan Fisik Kepala : bentuk mesocepal.

turgor kulit baik. g. terdapat edema di kedua kaki pada ekstermitas bawah. Injeksi Ranitidin 2 x 20 mg. Dan dari data objektif yaitu TD : 120/80 mmHg. Dari data tersebut muncul masalah Penurunan cardiac out put berhubungan dengan Penurunan kontraktilitas miocard. Dan dari data objektif yaitu HR : 88x/menit. Furosemid 3 x 20 mg. Nadi teraba lemah dan cepat. Data selanjutnya antara lain dari data subjektif klien takut karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. klien takut karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan EKG pada tanggal 25-08-2012 : Irama: Sinus Takikardi. P: positif < 3 kotak kecil. HR: 128 x/menit. klien mengatakan saat beraktifitas saat berjalan merasa lemes. Ciprofluoxacin 2 x 200 mg. klien mengatakan kedua kaki terasa kemeng. keluarga banyak bertanya akan kondisi kesehatan klien. pada ekstremitas bawah terdapat edema. Data Fokus a. RR : 32 x/menit.5 oC. Suhu klien 36. Data Obyektif : Dari pengkajian data objektif didapatkan. TD : 120/80 mmHg. tidak ada sianosis Auskultasi bunyi jantung terdapat bunyi Bising Sistolik. hasil pemeriksaan foto thorak kesan kardiomegali 3. hasil pemeriksaan EKG: irama sinus takikardi. Nadi teraba lemah dan cepat. Gel QRS: lebar 2-3 kotak kecil. Gel. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil analisa data didapatkan Dua diagnose keperawatan antara lain :     . hasil pemeriksaan EKG: irama sinus takikardia. 25-08-2012 didapatkan data antara lain dari data subyektif yaitu Klien mengatakan merasa lemes saat beraktifitas/ berjalan. capilarefil kembali > 2 detik. hasil pemeriksaan foto thorak kesan kardiomegali. pada ekstremitas bawah terdapat edema. Tanggal 26-08-2012 (bangsal Aster5). HR : 88 x/menit. Oksigen kanul 3 lt/menit. RR : 32 x/menit irama reguler. klien mengeluh dada terasa ampeg sejak 1 minggu yang lalu. Kulit: tidak ada sianosis. Dari data tersebut muncul masalah cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional. suhu akral teraba dingin Nadi. Keluarga klien mengatakan bertanya tentang kondisi kesehatan klien sekarang. b. Infus D5 15 tpm. 4. Oksigen kanul 4 lt/menit. R: melebar di V5 dan V6 > 27 kotak kecil.5    edema. suhu akral teraba dingin f. Gel PR : lebar 3-5 kotak kecil 2) Foto Thorax : Kesan Kardiomegali 3) Pemeriksaan Laboratorium 2. N : 88 x/menit. RR : 32 x/menit. Analisa Data Hasil analisa data pada hari Selasa. capilarefil kembali > 2 detik. Terapi Tanggal 25-08-2012 (IGD). Gel. Injeksi Furosemid 3x20 mg. Data Subyektif : Klien mengeluh sesak nafas dada terasa ampeg dan kedua kaki terasa kemeng. Klien terpasang kanul O2 3 lt/mnt.

memposisikan klien posisi fowler. identifikasi penyebab cemas. N 60-100 x/menit. memberikan informasi actual mengenai kondisi. Intervensi Pada diagnosa penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard. namun masih lemas. mengauskultasi suara jantung. cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional. Auskultasi bunyi jantung. Anjurkan klien untuk menghindari stress. memberikan Ranitidin 20 mg via IV Penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard. diagnosis klien. menganjurkan klien untuk menghindari Stress dengan berfikir yang positif. Nadi teraba kuat. Obyektif : TD :     . Nadi. identifikasi tingkat kecemasan. Kolaborasi pemberian obat diuretik. HR 60-100 x/mnt. TD 120-140 mmHg. memberikan Obat diuretik : Furosemid 20 mg via IV. temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi rasa takut. tujuanya adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x8 jam diharapkan terjadi peningkatan curah jantung dengan kriteria hasil : TD 130/80-140/90 mmHg. diagnosis klien. Istirahatkan klien untuk menghindari kelelahan. Dengan intervensi : anxiety reduction: gunakan pendekatan yang menyenangkan. Pada diagnosa cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional tujuanya adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit cemas berkurang dengan kriteria hasil: klien dapat menunjukkan cara mengontrol cemas. menganjurkan klien untuk beristirahat. Implementasi Pada diagnosa penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard implementasi yang dilakukan antara lain : Mengobservasi TTV. Evaluasi Hasil evaluasi pada diagnosa penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard antara lain : Subyektif : klien mengatakan sesak nafas berkurang. anjurkan keluarga untuk mendampingi klien. 7. Berikan informasi aktual Pada diagnosa cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional. RR. 6.6    mengenai kondisi. Monitor sianosis perifer. Vital sign Monitoring: Monitor TD. menganjurkan keluarga untuk mendampingi klien. Mengidentifikasi penyebab cemas implementasi yang dilakukan antara lain : Mengidentifikasi penyebab cemas. RR 18-24 x/menit. anjurkan klien untuk melakukan relaksasi nafas dalam. Dengan intervensi: Cardiac Care: Observasi Vital sign. menganjurkan klien melakukan relaksasi nafas dalam. mengobservasi adanya sianosis. menganjurkan klien untuk menghindari Stress. 5. tanda Vital normal. Kolaborasi pemberian Oksigen kanul 3 lt/menit. memberikan Oksigen kanul 3 lt/menit. vasodilator.

7    120/80 mmHg. N : 88 x/menit. anoreksia. Terdapat kesenjangan antara teori dengan yang ditemui dilapangan antara lain klien tidak terdapat tanda peningkatan berat     badan. N : 88 x/menit RR : 32 x/menit. Hasil evaluasi pada diagnosa cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional Mengidentifikasi penyebab cemas antara lain : Subyektif : klien mengatakan sudah mengerti tentang kondisinya. mudah lelah serta terjadi edema di kedua kaki. Analisa: masalah penurunan kardiak output teratasi sebagian. dan takikardi yaitu HR: 88 x/menit. Peningkatan berat badan terjadi akibat peningkatan timbunan cairan. b. Analisa : Masalah cemas teratasi. namun pada klien timbunan cairan/edema belum terlalu menyebar hanya terdapat di ekstremitas bawah yaitu di kedua kaki klien. Namun terdapat kesenjangan antara lain klien tidak terdapat tanda peningkatan berat badan. Planning: Hentikan intervensi. mudah lelah saat aktivitas. PEMBAHASAN 1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya perpindahan cairan kedalam alveoli sekunder Oedem paru. RR : 32 x/menit. pembesaran hepar. JVP meningkat. berdasarkan pemeriksaan foto thorax tidak terdapat edema pada paru klien. klien dapat mengontrol cemas. Anoreksia terjadi karena adanya pembesaran hepar yang mendesak lambung sehingga mempengaruhi kinerja lambung yang mengakibatkan mual. dan takikardi. mudah lelah saat beraktivitas. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh sehingga mengakibatkan sesak nafas. 2. Kenyataannya berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pada kedua kakinya terasa kemeng dan terdapat edema. edema pada ekstrimitas. hal ini terjadi karena adanya peningkatan tekanan pada vena pulmonalis yang mengakibatkan peningkatan terhadap tekanan kapiler paru sehingga terjadi edema paru. Anjurkan pasien untuk beristirahat. Obyektif: klien tampak tenang. Lanjutkan pemberian injeksi Furosemid 3x 20 mg. Pada kasus ini diagnosa tersebut tidak penulis angkat karena tidak adanya data pendukung yang menyatakan edema paru. Planning: Monitor TTV. Pengkajian Pada tahap ini telah ditemukan adanya kesamaan yaitu dalam tinjauan pustaka disebutkan bahwa tanda gejala terjadinya decompensasi cordis adalah sesak nafas. pembesaran hepar. Diagnosa Masalah keperawatan Pada tinjauan pustaka disebutkan bahwa masalah yang mungkin timbul pada kasus Decompensasi Cordis adalah : a. Penurunan Cardiac Output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard. . TD : 120/80 mmHg.

Pada kasus ini diagnosa tersebut penulis angkat karena sesuai antara teori dengan kejadian di lapangan pada pemeriksaan fisik klien didapatkan N : 88 x/mnt. nadi. Kecemasan berdampak buruk pada kondisi kesehatan pada klien Decompensasi Cordis. Saturasi oksigen. Pada kasus ini diagnosa tersebut penulis angkat karena klien menunjukkan tanda kecemasan takut serta mengkhawatirkan tentang kondisi kesehatanya. c. berikan oksigen 3 lt/mnt. posisi semi fowler untuk support pernafasan. Saturasi Oksigen. Intervensi Pada tahap ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus. Menurut Black and Hawks (2005). d. penatalaksanaan Decompensasi Cordis yaitu observasi tanda vital klien. berikan terapi diuretic untuk menambah ekskresi ginjal sehingga sirkulasi darah berkurang. Nadi.8    3. penurunan stress fisik dan emosi (untuk memperbaiki daya pompa ventrikel dan menurunkan beban kerja jantung). . Penatalaksanaan sesuai dengan Black and Hawks (2005). prognosis dan penyakit serta jelaskan kepada klien semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan. suhu akral teraba dingin. HR. Diagnose cemas berhubungan dengan krisis situasional intervensi yang dilakukan meliputi motivasi klien untuk menghindari stress. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan intake dan retensi cairan. Cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional. Edema merupakan salah satu efek penurunan cardiac output yaitu akibat penurunan airan darah ke ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerulus yang akan menimbukan retensi sodium dan cairan. untuk mengatasi penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard intervensi yang dilakukan meliputi observasi tanda vital klien meliputi tekanan darah. Dalam kasus ini untuk mengatasi penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard intervensi yang dilakukan meliputi observasi tanda vital klien meliputi tekanan darah. nadi peifer teraba lemah. Implementasi Pada tahap ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. HR.     pembatasan penggunaan garam dan terapi diuretic untuk menambah ekskresi ginjal sehingga sirkulasi darah berkurang. adanya edema pada ekstremitas bawah pada kedua kaki. 4. pemberian oksigen (40-70% liter/menit) dengan kanu atau masker untuk mengurangi hipoksia. posisikan semi fowler. Diagnosa ini tidak penulis angkat karena tidak adanya data yang mendukung seperti peningkatan berat badan dan penurunan balance cairan.

RR : 32 x/menit. TD : 120/80 mmHg. Subjektif : Klien mengatakan sudah mengerti tentang kondisinya. hal ini ini bertujuan untuk menghilangkan stress pada klien. capilarirefil > 2 detik. Pengkajian Pengkajian terpenting dari Decompensasi Cordis adalah melakukan anamnesa serta pemeriksaan fisik untuk menentukan penyebab terjadinya Decompensasi Cordis. TTV : TD : 120/80 mmHg. terdapat edema di kedua kaki pada ekspremitas bawah. Subjektif : Klien mengatakan sesak nafas berkurang. Untuk diagnose cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional intervensi yang dilakukan meliputi Mengidentifikasi penyebab cemas. Analisa Data Pada tahap analisa data dalam kasus nyata penulis menemukan dua diagnose keperawatan 3. Pada tahap ini ditemukan adanya kesenjangan dimana pada tinjauan pustaka evaluasi tidak ditulis berdasarkan SOAP. N : 88 x/menit RR : 32 x/menit. N : 88 x/menit. Objektif : Keadaan umum baik. Analisa : Masalah cemas teratasi. Decompensasi Cordis merupakan satu kasus kegawatan. Evaluasi Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir poses keperawatan yang dapat digunakan sebagai alat ukur keberhasilan suatu keperawatan yang di buat. Planing : Intervensi dilanjutkan. SIMPULAN 1. suhu akral teraba dingin. Planing : Hentikan intervensi. klien mengerti kondisi keadaanya sekarang. berikan terapi diuretic untuk menambah eksresi ginjal sehingga sirkulasi darah berkurang. hal ini untuk mengurangi preload. berikan kanul oksigen 3 lt/mnt. menganjurkan keluarga untuk mendampingi klien. Masalah penurunan cardiak output teratasi sebagian. nadi perifer teraba kuat. 2. Objektif. Analisa . menganjurkan klien untuk menghindari Stress dengan berfikir yang positif.9    5. posisikan semi fowler.5 o C. Hasil evaluasi pada diagnosa cemas berhubungan dengan penurunan status kesehatan krisis situasional antara lain. Klien tampak tenang. klien dapat mengontrol cemas. namun masih lemas. Klien tidak kawatir lagi. apabila tidak segera di tangani dapat menimbulkan kematian. kesadaran Composmentis. memberikan informasi actual mengenai kondisi diagnosis klien. sedang pada tinjauan kasus ditulis menggunakan SOAP. Diagnose Keperawatan Diagnose keperawatan yang dapat di angkat berdasarkan kasus meliputi Penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan     . menganjurkan klien melakukan relaksasi nafas dalam. Lanjutkan pemberian injeksi Furosemid 3x 20 mg via IV. Anjurkan pasien untuk beristirahat. Pada diagnose Penurunan cardiac output berhubungan dengan penurunan kontraktilitas miokard antara lain. Klien dapat mengontrol rasa cemas. klien mengatakan sudah tenang dan rileks. Monitor TTV. S : 36.

Buku ajar kardiologi edisi 3. pembatasan aktifitas dan istirahatkan klien. S.European Heart Journal. European     . 2002. K. Edisi 7 volume 1. 2002.com/2011/. pentingnya tindakan yang segera dilakukan oleh petugas kesehatan sehingga masalah keperawatan dapat teratasi secara maksimal. European Journal Of Heart Failure. 1. Black. kolaborasi obat diuretic/vasodilator. Guideline update for the diagnosis and management of chronic heart failure in the adult. Jakarta.   DAFTAR PUSTAKA Barita. Balai penerbit FKUI. 2005. Bagi Klien Dan Keluarga Di harapkan dapat menambah pengetahuan dan perawatan tentang Decompensasi cordis sehingga dapat menghindari resiko yang tidak di harapkan yaitu kematian. Implementasi Asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada kasus Decompensasi Cordis antara lain adalah monitor vital sign. Elsevier Saunders: Universitas Michigan Dickstein. Jakarta. 2008. Bagi Rumah Sakit Kepada pihak rumah sakit dan staf keperawatan dalam melaksanakan tindakan kegawat daruratan perlu dilakukan dengan cepat. J and Hawks. kontraktilitas miokard. EGC Hunt SA et al. J. Intervensi Pada tahap intervensi dalam kasus nyata ada beberapa langkah tindakan yang ditambahkan penulis selain yang terdapat dalam tinjauan pustaka sesuai dengan kondisi klien. Alain and Gerasimos et al. 6. Evaluasi Evaluasi merupakan kunci keberhasilan dari proses keperawatan. 2. http://www. Keperawatan kritis. Bagi Perawat Diharapkan perawat melakukan pengkajian secara teliti sehingga dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara tepat khususnya pada klien Decompensasi cordis. Gallo. Doenges. Marilynn E. Diakses tanggal 12 November 2012 SARAN 1. 4. Bagi Peneliti Lain Diharapkan karya tulis imiah ini dapat menambah kasanah keilmuan serta dapat dijadikan sebagai refrensi untuk penelitian selanjutnya tentang klien dengan Decompensasi cordis. Medicalsurgical nursing: clinical managemet for positive outmes. ESC Guildlines for the diagnosis and treatment of acute and cronic hearth failure. Rencana Asuhan Keperawatan. anjurkan klien menghindari stress. Edisi IV Vol. Jakarta : EGC Hudak. 4. 2003. 5. cemas berhubungan dengan krisis situasional.10    3. Dengan evaluasi akan membantu perawat dalam memenuhi kebutuhan klien yang dapat berubah ubah setiap waktu. 2005. posisikan semi fowler.

hkmj. Wajan J. http://www. (2008). 933-989 Muttaqin. A.hkmj. 2010.org diakses http://www. Yogyakarta : EGC     .J and Swadberg (2001).European Heart Journal.org/article_pd fs/hkm1010p403. Keperawatan Kardiovaskular.com/2011/ Kenenth D.com. http://www/idealibrary. Jakarta : Salemba Medika.medika. HY Chan. Diagnosa keperawatan NANDA NICNOC. Sylvia A. Jakarta: EGC Remme W. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan kardiofaskuler. Eropean Journal Of Heart Failure. ESC Guildlines for the diagnosis and treathment of acute and cronic heart failure. 2005. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah jilid II.com/2011/. KY Ngai. European Society of Cardiology. et al. Hong KongMedical Journal Vol. Jakarta : salemba medika Prince. 2001.11    Smeltzer & Bare.pdf Wasyanto. Penyakit Degeneratif. 2007-2008. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Guidelines for the diagnosis and treatment of chronic heart failure. 16 No 5# Octobe2010#www. http://www. 2009. Diakses tanggal 23 Oktober 2012. Diakses tanggal 12 November 2012 Udjianti. Budi. (2010) A patient with commotio cordis successfully resuscitated by bystander cardiopulmonary resuscitation and automated external defibrillator. Diakses tanggal 12 November 2012 Santosa. Jakarta : EGC Journal Of Heart Failure. 2005.