You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari
hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering seluruh dunia.
Penyebab utamanya adalah selesma(common cold) yang merupakan infeksi virus, alergi dan
gangguan anatomi yang selanjutnya dapat diikuti infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus
disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang
paling sering terkena ialah sinus ethmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan
sinus sphenoid lebih jarang lagi.
Sinusmaksila disebut juga antrum highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka
infeksi gigi mudah menyebar ke sinus,disebut sinusitis dentogen. Sinusitis dapat menjadi berbahaya
karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intrakranial, serta menyebabkan peningkatan serangan
asma yang sulit diobati. Rinosinusitis didefinisikan sebagai: Inflamasi hidung dan sinus paranasal
yang ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala, salah satunya harus termasuk sumbatan hidung /
obstruksi / kongesti atau pilek (sekret hidung anterior / posterior), nyeri / tekanan
wajah,penurunan / hilangnya penghidu.

1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Rinosinusitis Kronis
Rinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang
dapat ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12
minggu, dan sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria
minor. Gejala Mayor: nyeri sinus, hidung buntu, ingus purulen, post nasal drip,
gangguan penghidu, Sedangkan Gejala Minor: nyeri kepala, nyeri geraham,
nyeri telinga, batuk, demam, halitosis.
Sesuai anatomi sinus yang terkena, sinusitis dapat dibagi menjadi sinusitis
maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus
paranasal disebut pansinusitis. Sinusitis yang paling sering

ditemukan ialah

sinusitis maksila dan sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih
jarang.
2.2

Anatomi Sinus Paranasal
2.2.1 Sinus Maksila
Pada waktu bayi, sinus maksila hanya berupa celah kecil disebelah
medial orbita. Mula-mula dasarnya lebih tinggi daripada dasar rongga hidung,
kemudian terus mengalami penurunan, sehingga pada usia 8 tahun menjadi sama
tinggi.
Perkembangannya berjalan kearah bawah, bentuk sempurna terjadi setelah erupsi gigi
permanen. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun. Sinus
maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal yang terbesar, bentuk
piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya kearah
2

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar.apeks prosessus zygomaticus os maksila. Sinus maksila mempunyai beberapa dinding yaitu: a. Perdarahan pada sinus maksila meliputi cabang arteri maksilaris termasuk infraorbita. Dinding anterior terbentuk dari fasia fasialis maksila yang berhadapan dengan fossa kanina dan memisahkan sinus dari kulit pipi. yaitu 15 ml saat dewasa. sekitar 9 mm ke arah posterior duktus nasolakrimalis. cabang lateral nasal dari arteri sfenopalatina. Saat lahir sinus maksila bervolume 6–8 ml. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os palatum. prosesus unsinatus os etmoid. arteri greater palatine serta anterior superior dan posterior dari arteri alveolaris. Menurut Moris pada buku anatomi tubuh manusia. Dinding atas memisahkan rongga sinus dengan orbita terdiri dari tulang yang tipis yang dilewati oleh kanalis infra orbitalis. Dinding posterior–inferior atau dasarnya biasanya paling tebal dan dibentuk oleh bagian alveolar os maksila atas dan bagian luar palatum durum. Ujung posterior dari ostium berlanjut ke lamina papyracea dari tulang etmoid. Ostium ini terletak pada bagian superior dari dinding medial. 3 . d. biasanya pada pertengahan posterior dari infundibulum. c. prosesus maksilaris konka inferior dan sebagian kecil os maksilaris. b. sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal. Dinding medial sinus maksila merupakan dinding lateral hidung dimana terdapat ostium sinus yang menghubungkan sinus maksila dengan infundibulum ethmoid. ukuran rata-rata pada bayi baru lahir 7–8 x 4–6 mm dan untuk usia 15 tahun 31–32 x 18–20 x 19–20 mm. Sinus maksila ini mendapat persarafan dari nervus maksilaris (V2) yang mempersarafi sensasi dari mukosa dibagian lateroposterior nasal dan cabang superior alveolar dari nervus infraorbita. Dinding posterior memisahkan sinus dari fossa infratemporal dan fossa pterigomaksila. sedangkan vena yang mendarahinya adalah vena maksilaris yang berhubungan dengan plexus vena pterygoid.

Dasar dari sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris maksila. kemudian sinus ini berkembang secara lambat kearah vertikal pada tulang frontal dan telah lengkap pada usia remaja. Ukuran sinus frontal pada orang dewasa sekitar 28 x 27 x 17 mm dengan volume 6 sampai 7 ml. Sinus frontal terletak pada tulang frontal dibatas atas supraorbital dan akar hidung. Proses supuratif yang terjadi disekitar gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe. Perdarahan pada sinus frontal meliputi cabang supra troklear dan supraorbital dari arteri optalmikus dan melalui vena superior optalmikus yang mengalir kedalam sinus kavernosus. Sekitar 5% dari populasi mengalami kegagalan pertumbuhan dari sinus ini. Sensasi mukosa sinus frontal ini mendapati persarafan dari percabangan supratroklear nervus frontal yang berasal dari nervus optalmikus. Ostium alami dari sinus ini terletak di anteromedial dari dasar sinus. dan pada dewasa letaknya 45 mm dibawah dasar cavum nasi.e.2 Sinus Frontal Perkembangan sinus frontal dimulai pada bulan keempat kehamilan kemudian berkembang kearah atas dari hidung pada bagian frontal reses.2. Pada anak letaknya sekitar 4 mm diatas dasar cavum nasi . 2. 4 . Dinding posterior dari sinus ini melebar secara inferior obliq dan posterior dimana nantinya akan bertemu dengan atap dari orbita. Sel-sel infraorbita bisa terobstruksi dan membentuk mukokel yang terisolasi dari ostium dan sinus etmoid. Anomali fasial atau sinus yang besar dapat juga menyebabkan sinusitis kronis. Sinus ini dibagi dua oleh sekat secara vertikal dibatas midline dengan ukuran masing-masing yang bervariasi. sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan ronggga sinus yang akan mengakibatkan sinusitis. Sinus ini jarang tampak pada pemeriksaan rontgen hingga tahun kedua setelah kelahiran. Sinus frontal sangat berhubungan erat dengan tulang etmoid anterior.

arteri etmoidalis anterior dan posterior. Kelima bagian tersebut yakni unsinatus. sedangkan sel-sel posterior drainasenya melalui meatus superior. biasanya tiga atau empat sel baru tampak. Sinus etmoid memiliki dinding yang tipis dengan jumlah dan ukuran yang bervariasi.3 Sinus Etmoid Sel-sel etmoid mulai terbentuk pada bulan ketiga dan keempat setelah kelahiran yang merupakan invaginasi dari dinding lateral hidung pada daerah meatus medial (etmoid anterior) dan meatus superior (etmoid posterior). Saat setelah lahir. Sinus ini terletak di inferior dari fossa kranial anterior dekat dengan midline. Perdarahan pada sinus etmoid meliputi cabang arteri sfenopalatina. Kelompok sel anterior kecil-kecil dan banyak. konka superior dan konka suprema. yang 5 . Sedangkan aliran vena berasal dari vena maksilaris dan etmoidalis yang mengalir kedalam sinus kavernosus. Beberapa sel melebar mengelilingi frontal sfenoid dan tulang maksila. drainasenya melalui meatus media. bervariasi dan merupakan subjek penelitian yang baik. Sel-sel sinus etmoid ini akan tumbuh secara cepat sehingga pada usia dewasa mencapai ukuran 20 x 22 x 10 mm pada kelompok sel anterior dan 20 x 20 x 10 mm pada kelompok sel posterior. cabang arteri optalmikus dari arteri karotis interna. 2. Inervasi persarafan dari sinus etmoid ini berasal dari cabang posterolateral hidung dari nervus maksilaris (V2) dan cabang nervus etmoidalis dari nervus optalmikus (V1). Anatomi dari sinus etmoid ini cukup kompleks.2.4 Sinus Sfenoid Sinus sfenoid mulai berkembang saat bulan ketiga setelah kelahiran yang merupakan invaginasi dari mukosa bagian superior posterior dari kavum nasi. Secara embriologis. bula etmoid basal lamella (ground lamella). Sel-sel etmoid ini biasanya mengandung 10–15 sel persisi dengan total volume 14–15 ml. sinus etmoid ini terbentuk dari lima etmoturbinal.2.2. Pada bagian lateral berbatasan dengan dinding medial orbita (lamina papyracea) dan bagian medial dari kavum nasi.

melembabkan udara inspirasi. Nervus dan pembuluh darah sfenopalatina terletak didepan dari sinus sfenoid ini. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal: 6 . dan merubah udara pernafasan.5 x 1. Namun karena berhubungan langsung dengan hidung.5 x 2. sedangkan aliran vena berasal dari vena maksilaris dan pleksus pterigoid. maka sinus dapat membantu resonansi suara. nervus optikus dan vena kavernosa serta sinus interkavernosus. Sinus ini mengalami pertumbuhan maksimal dan terhenti setelah berusia 12 sampai 15 tahun. Perdarahan sinus sfenoid meliputi cabang arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Inervasi persarafan dari sinus sfenoid ini berasal dari cabang nervus etmoidalis posterior dari nervus optalmikus (V1). terutama hanya bila menderita sakit.3 Fisiologi Sinus Paranasal Fungsi dari sinus paranasal masih belum diketahui dengan pasti dan masih belum ada persesuaian pendapat.5 mm pada tahun pertama dan 14 x 14 x 12 mm saat berusia 15 tahun. 2. menghangatkan. dan cabang nasal dan sfenopalatina dari nervus maksilaris. membersihkan. Pneumatisasi sfenoid ini terjadi selama pertengahan usia kanak-kanak dan mengalami pertumbuhan yang cepat saat berusia 7 tahun. Sinus sfenoid ini pada bagian dinding lateralnya berbatasan dengan arteri karotis interna. Sinus sfenoid kiri dan kanan yang asimetris tersebut dibagi oleh septum intersinus. Kebanyakan penulis masih ragu-ragu dan menyatakan bahwa sinus paranasal hanya berpengaruh sedikit. Dibagian superior terletak lobus frontalis dan bagian olfaktori. Pada daerah ini juga terdapat bagian ketiga.5 ml. Kapasitas sinus berkisar 7. penciuman. sedangkan nervus vidianus terletak dibagian inferiornya.juga dikenal sebagai sphenoethmoidal reces. Dibagian posterior terdapat fosa pituitari. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai fungsi apa-apa karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang wajah. keempat opthalmikus dan maksilaris dari nervus kranialis kelima dan keenam. Ukuran sinus ini sekitar 2.

3 Membantu keseimbangan kepala Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. sehingga teori ini dianggap tidak bermakna 2. 7 . Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang. 2000). 2. lagi pula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar sebanyak mukosa hidung.2.3. sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.3.4 Membantu resonansi suara Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara. lagipula tidak ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan tingkat rendah.2 Sebagai penahan suhu (thermal insulators) Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas. 2.3. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas.1 Sebagai pengatur kondisi udara (air coditioning) Sinus yang berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembapan udara inspirasi. melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. sebab ternyata tidak didapati pertukaran udara yang defenitif antara sinus dan rongga hidung. Namun teori ini mendapat sanggahan. akan tetapi ada yang berpendapat. Akan tetapi kenyataannya sinus-sinus yang besar tidak terletak diantara hidung dan organorgan yang dilindungi (Soetjipto dan Mangunkusumo. hanya akan memberikan penambahan berat sebesar 1% dari berat kepala.3.

tetapi kelainan dasarnya tidak pada sinus.6 Membantu produksi mukus Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung. Apabila terjadi udema. mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia 8 . Infundibulum etmoid dan resesus frontal yang termasuk bagian dari KOM. Bila ada kelainan anatomi seperti deviasi atau spina septum. maka celah yang sempit itu akan bertambah sempit sehingga memperberat gangguan yang ditimbulkannya.5 Sebagai peredam perubahan tekanan udara Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak.sinus itu sendiri melainkan pada dinding lateral rongga hidung.4 Patofisiologi Rinosinusitis Kronis Pada umumnya penyebab rinosinusitis adalah rinogenik.2.3. berperan penting pada patofisiologi sinusitis.3. namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius. Walaupun gejala klinis yang dominan merupakan manifestasi gejala infeksi dari sinus frontal dan maksila. 2. tempat yang paling strategis. Bila terdapat gangguan didaerah KOM seperti peradangan. konka bulosa atau hipertrofi konka media. yang merupakan perluasan infeksi dari hidung. misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus. Kompleks ostiomeatal (KOM) atau celah sempit di etmoid anterior yang merupakan serambi muka bagi sinus maksila dan frontal memegang peranan penting dalam terjadinya sinusitis. 2. Permukaan mukosa ditempat ini berdekatan satu sama lain dan transportasi lendir pada celah yang sempit ini dapat lebih efektif karena silia bekerja dari dua sisi atau lebih. udema atau polip maka hal itu akan menyebabkan gangguan drainase sehingga terjadi sinusitis.

DM yang tidak terkontrol dan iritasi udara sekitar. sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat dan terjadilah udema di submukosa. udema/hipertrofi konka. rinolit dan sebagainya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa hidung dan akhirnya menyebabkan disfungsi mukosiliar yang mengakibatkan stagnasi mukos dan menyebabkan bakteri semakin mudah untuk berkolonisasi dan infeksi inflamasi akan kembali terjadi. Bakteri dapat berkembang menjadi kuman patogen bila lingkungannya sesuai. polipoid atau terbentuk polip dan kista. malnutrisi. barotrauma.tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Infeksi saluran nafas atas menyebabkan terjadinya reaksi peradangan pada mukosa hidung. keadaan umum yang lemah. mukosa sinus termasuk juga mukosa ostium sinus. sehingga bakteri anaerob akan berkembang baik. Zat-zat kimia ini akan menyebabkan vasodilatasi kapiler. Faktor predisposisi lokal antara lain: septum deviasi. Bakteri juga akan memproduksi toksin yang akan merusak silia. Bila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir. Sedang faktor predisposisi sistemik yang mempengaruhi adalah: infeksi saluran nafas atas oleh karena virus. Virus dan bakteri yang masuk kedalam mukosa akan menembus kedalam submukosa. korpus alienum. silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi menjadi lebih kental sehingga merupakan media yang baik untuk tumbuh kuman patogen. maka akan terjadi penurunan pH dalam sinus. sel mast dan limfosit. mukosa osteum sinus dan sekitarnya (komplek ostiomeatal). Kuman di dalam sinus dapat berasal dari rongga hidung sebelum ostium tertutup ataupun merupakan kuman komensal didalam rongga sinus. rinitis alergi/rinitis vasomotor. yang diikuti adanya infiltrasi sel polimorfonuklear. Faktor yang lebih penting untuk diketahui dan merupakan dasar patofisiologi terjadinya infeksi sinus adalah: adanya gangguan dari mukosa sinus. maka akan terjadi gangguan drainase dan ventilasi sinus maksila dan frontal. Selain virus dan bakteri sebagai penyebab infeksi pada peradangan rongga sinus juga dipengaruhi oleh faktor predisposisi lokal dan sistemik. Keadaan ini 9 . Selanjutnya dapat terjadi perubahan jaringan menjadi hipertropi. kemudian akan diikuti lepasnya zat-zat kimia seperti histamin dan prostaglandin. Karena gangguan ventilasi.

dan pada kasus yang sangat akut keseluruhan rongga sinus dapat terisi oleh membran mukosa yang edema. Oksigen yang ada dalam rongga sinus akan diresorbsi oleh kapiler submukosa sehingga terjadi hipoksia dan tekanan oksigen yang rendah didalam rongga sinus. Perubahan mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan pada sinusitis akut tidak sempurna. Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak. Rinosinusitis kronis berbeda dari rinosinusitis akut dalam berbagai aspek. sehingga drainase sekret akan terganggu. rongga sinus menjadi menghilang. permeabilitas pembuluh darah meningkat dan terjadilah proses transudasi. gerak silia yang berkurang dan sempitnya ostium merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan kuman. Keadaan hipooksigen juga akan menyebabkan vasodilatasi kapiler di submukosa. Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka. Vaskularisasi dan permeabilitas kapiler akan meningkat. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya. Rinosinusitis kronis umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Tekanan oksigen yang rendah juga akan mengganggu fungsi sinus dimana kelumpuhan gerak silia ini akan menambah timbunan transudat didalam rongga sinus.akan mempersempit ostium sinus yang secara keseluruhan sudah sempit dan letaknya tersembunyi atau bahkan menyebabkan obstruksi ostium. kadar oksigen yang terendah. Drainase sekret yang terganggu dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya. Hal ini akan menyebabkan udema dan hipertrofi membran mukosa yang kemudian menjadi polipoid. 10 . Transudat yang tertimbun. sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. 2. Perubahan mukosa hidung juga dapat disebabkan alergi dan defisiensi imunologik. Transudat yang terbentuk sebagian diresorbsi oleh submukosa sehingga akan menambah udema submukosa dan sebagian lagi akan terperangkap didalam rongga sinus.5 Patologi Rinosinusitis Kronis Perubahan patologi yang terjadi pada mukosa dan dinding tulang sinus saat berlangsungnya peradangan supuratif adalah seperti yang biasa terjadi dalam rongga yang dilapisi mukus.

Setelah beberapa jam atau beberapa hari. Penebalan ini didalam struktur seluler terdiri dari timbunan sel-sel spiral. Ulserasi epitel akan menyebabkan terbentuknya jaringan granulasi. dan pigmen. bulat. terjadi perdarahan kapiler. Akan tetapi pada kasus lain. dan darah bercampur dengan sekret. c. Sekret yang mula-mula encer dan sedikit. d. mukosa sangat menebal dan merah akibat udema dan pembengkakan struktur subepitel. Kapiler berdilatasi. serum dan lekosit keluar melalui epitel yang melapisi mukosa. karena 11 . Abses-abses kecil yang multipel terjadi dalam mukosa yang menebal dan fibrosis dari strauma submukosa yang melapisinya. yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan: a.Sel goblet hiperplasi dan akan terjadi infiltrasi seluler kronis. Lekosit juga mengisi rongga jaringan submukosa. lekosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Penyakit sinus supuratif kronis dapat diklasifikasikan secara mikroskopik sebagai (1) adematous. Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini. mukosa tidak dapat kembali normal. sedangkan permukaannya kering. kemudian bercampur dengan bakteri. eosinofil. atau (4) campuran dari beberapa atau semua bentuk ini. dan bila penyebab infeksi telah diobati. kemudian menjadi kental dan banyak. (3) fibrous. purulen kronis dan hiperplastik kronis. karena terjadi koagulasi fibrin dan serum. Pada beberapa kasus. resolusi terjadi dengan absorbsi eksudat dan berhentinya pengeluaran lekosit memakan waktu 10 sampai 14 hari. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan epitel. Sering terjadi perubahan jaringan penunjang. peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe purulen. Perubahan dalam mukosa pada saat ini bisa irreversibel. purulen akut. plasmosit. (2) granular dan infiltrasi. Resolusimasih mungkin. kongesti akut. bentuk bintang. dengan penebalan dilapisan sub epitel. b. Ada 4 tipe yang berbeda dari infeksi hidung dan sinus. e. Jaringan sub mukosa diinfiltrasi oleh serum. meskipun tidak selalu terjadi. Pada banyak kasus. debris epitel dan mukus.

Secara anatomi. Pseudomonas aerugenosa 17% dan S. Jenis kuman gram negatif juga meningkat pada sinusitis kronis demikian juga bakteri aerobik termasuk pada sinusitis dentogenik. jamur.7 Gejala dan Tanda Klinis 2. emosi. kecuali proses segera berheti.6 Epidemiologi Rinosinusitis Kronis 2. Tulang dibawahnya dapat terlihat tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang. Infeksi seperti beberapa bakteri patogen yang sering ditemukan pada kasus kronis adalah Stafilokokus 28%. dan (4) melalui jalur vaskuler dalam bentuk bakterimia. Peptostreptococci.7. apeks gigi-gigi depan atas (kecuali gigi insisivus) 12 .6. Perluasan infeksi dari sinus kebagian lain dapat terjadi: (1) melalui tromboflebitis dari vena yang perforasi. maka akan terjadi keadaan kronis. hipertrofi konka) atau Penyebab lain (idiopatik. Nyeri Sesuai dengan daerah sinus yang terkena dapat ada atau mungkin tidak. seperti variasi KOM. aureus 30%. 2.1 Gejala Subjektif a. (2) perluasan langsung melalui bagian dinding sinus yang ulserasi atau nekrotik. deviasi septum. zat iritan. 2. perubahan jaringan akan terjadi permanen. obat-obatan. Ketiganya ini mempunyai resistensi yang tinggi terhadap antibiotik. Rinosinusitis kronis juga dapat disebabkan oleh kelainan (Struktur anatomi. Bakteri rinosinusitis kronis paling sering adalah Peptococci. Bacteriodes dan Fusobacteria. hormonal. perenial atau karena pekerjaan tertentu).1 Etiologi Rinosinusitis dapat disebabkan oleh Alergi (musiman. (3) dengan terjadinya defek. atrofi). faktor hidung.perubahan jaringan belum menetap. misalnya Pseudomonas aerugenosa resisten terhadap jenis kuinolon. Masih dipertanyakan apakah infeksi dapat disebarkan dari sinus secara limfatik.

sedangkan pada penyakit sinus sakit kepala lebih sering unilateral dan meluas kesisi lainnya. tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena. Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari. Nyeri pada penekanan Nyeri bila disentuh dan nyeri pada penekanan jari mungkin terjadi pada penyakit di sinus-sinus yang berhubungan dengan permukaan wajah. c. saat istirahat ataupun saat berada dikamar gelap. Hal ini disebabkan adanya sumbatan pada fisura olfaktorius didaerah konka media. Oleh karena itu ventilasi pada meatus 13 . Penyebab sakit kepala bermacam-macam. Wolff menyatakan bahwa nyeri kepala yang timbul merupakan akibat adanya kongesti dan udema di ostium sinus dan sekitarnya. dan akan berkurang atau hilang setelah siang hari.dipisahkan dari lumen sinus hanya oleh lapisan tipis tulang atau mungkin tanpa tulang hanya oleh mukosa. pasien mencium bau yang tidak tercium oleh hidung normal. Jika sakit kepala akibat kelelahan dari mata. Gangguan penghindu Indra penghindu dapat disesatkan (parosmia). d. karenanya sinusitis maksila sering menimbulkan nyeri hebat pada gigi-gigi ini. b. Sakit kepala Merupakan tanda yang paling umum dan paling penting pada sinusitis. oleh karena itu bukanlah suatu tanda khas dari peradangan atau penyakit pada sinus. maka biasanya bilateral dan makin berat pada sore hari. Sakit kepala yang bersumber di sinus akan meningkat jika membungkukkan badan kedepan dan jika badan tiba-tiba digerakkan. Keluhan yang lebih sering adalah hilangnya penghindu (anosmia). Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Sakit kepala ini akan menetap saat menutup mata.

Sekret nasal Mukosa hidung jarang merupakan pusat fokus peradangan supuratif.7. hanya dapat dipakai untuk pemeriksaan sinus maksila dan sinus frontal. 2. 2. Pus di meatus medius biasanya merupakan tanda terkenanya sinus maksila. sehingga menyebabkan hilangnya indra penghindu. sinus frontal atau sinus etmoid anterior.superior hidung terhalang.2 Transiluminasi Transluminasi mempuyai manfaat yang terbatas. bila fasilitas pemeriksaan radiologik tidak tersedia. sinus-sinuslah yang merupakan pusat fokus peradangan semacam ini.2 Gejala Objektif a. Pada kasus kronis. Adanya pus dalam rongga hidung seharusnya sudah menimbulkan kecurigaan adanya suatu peradangan dalam sinus. hal ini dapat terjadi akibat degenerasi filament terminal nervus olfaktorius. Pembengkakan dan udem Jika sinus yang berbatasan dengan kulit terkena secara akut. karena sinus-sinus ini bermuara ke dalam meatus medius. b.8. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti pada penebalan ringan atau seperti meraba beludru. indra penghindu dapat kembali normal setelah infeksi hilang. dapat terjadi pembengkakan dan udem kulit yang ringan akibat periostitis. meskipun pada kebanyakan kasus.1 Pemeriksaan fisik Pemeriksaan palpasi turut membantu menemukan nyeri tekan pada daerah sinus yang terkena disamping pemeriksan rinoskopi anterior dan rinoskopi posterior. 2.8 Pemeriksaan 2. 14 .8.

CT-Scan (Computer Tomography) sinus paranasal Sinus maksila. tetapi jika ada infeksi tepi mukosa akan tampak karena udema permukaan mukosa. komplek osteomeatal. selalu dapat dilihat adanya batas cairan (air fluid level) pada foto dengan posisi tegak. b. Sistem ini sangat sederhana untuk digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor angka hasil gambaran CT scan. rongga-rongga sinus dan struktur-struktur yang mengelilinginya seperti orbita. rongga hidung. Permukaan mukosa yang membengkak dan udema tampak seperti suatu densitas yang paralel dengan dinding sinus. etmoid posterior dan sinus sphenoid. Obstruksi anatomi pada komplek osteomeatal dan kelainan-kelainan gigi akan terlihat jelas.2. CT-Scan koronal dari sinus paling baik untuk pembedahan. dan kanalis optikus. Pembengkakan permukaan mukosa yang berbatas tegas pada resesus alveolaris antrum maksila biasanya terjadi akibat infeksi yang berasal dari gigi atau daerah periodontal. memberikan visualisasi yang baik tentang anatomi rongga hidung. Jika cairan tidak mengisi seluruh rongga sinus.8. Gradasi 1 : Opasifikasi parsial Gradasi. lamina kribiformis. septum nasi dan konka terlihat pada penampang CT-Scan aksial dan koronal.3 Pemeriksaan radiologi a. PA dan Lateral. 2 : Opasifikasi komplit. CT-Scan dapat menilai tingkat keparahan inflamasi dengan menggunakan sistem gradasi yaitu staging Lund-Mackay. Foto rontgen sinus paranasal Pemeriksaan radiologik yang dapat dibuat antara lain: Waters. 15 . Tepi mukosa sinus yang sehat tidak tampak pada foto rontgen. Gradasi 0 : Tidak ada kelainan. etmoid anterior. Lund-MacKay Radiologic Staging System ditentukan dari lokasi Gradasi Radiologik sinus maksila. Pada sinusitis dengan komplikasi. Penilaian Gradasi radiologik dari 0-2. CT-Scan adalah cara yang terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah.

16 . kelainan atau variasi anatomi KOM. Batuk = skor 1. dan American Rhinologic Society (ARS) adalah rinosinusitis yang berlangsung lebih dari 12 minggu dengan 2 gejala mayor atau lebih atau 1 gejala mayor disertai 2 gejala minor atau lebih. Jika tidak ditemukan faktor predisposisi. hipertrofi adenoid pada anak. kista. juga dapat mengetahui adanya polip atau tumor. dianjurkan untuk melakukan penatalaksanaan yang sesuai dengan kelainan yang ditemukan. polip.8. Demam = skor 1. jamur. Sedangkan Gejala Minor: Nyeri kepala = skor 1. konka media dan inferior. Post nasal drip = skor 2. meatus media. gejala mayor skor diberi skor 2 dan gejala minor skor 1. Halitosis = skor 1 dan skor total gejala klinik = 16 Pengukuran skor total gejala klinik dikelompokkan menjadi dua.9 Diagnosis Gejala klinik rinosinusitis kronis menurut American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA). gigi penyebab sinusitis.2.4 Nasoendoskopi Nasoendoskopi ini akan mempermudah dan memperjelas pemeriksaan karena dapat melihat bagian-bagian rongga hidung yang berhubungan dengan faktor lokal penyebab sinusitis. yaitu. diduga kelainan adalah bakterial yang memerlukan pemberian antibiotik dan pengobatan medik lainnya. dan ringan (skor <8) dengan Skor total gejala klinik: skala nominal. Berdasarkan kriteria Task Force on Rinosinusitis. 2. sehingga didapatkan skor gejala klinik sebagai berikut. Gejala Mayor: Nyeri sinus = skor 2. Hidung buntu = skor 2. Nyeri telinga = skor 1. Nyeri geraham = skor 1. Ingus purulen = skor 2. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat melihat adanya kelainan septum nasi. sedang-berat (skor ≥8). Gangguan penghidu = skor 2.10 Penatalaksanaan Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya faktor predisposisi seperti deviasi septum. 2.

antibiotika dapat diberikan sebagai terapi awal. demikian juga kemungkinan imunoterapi. Dekongestan oral menstimulasi reseptor α. Alergi berperan sebagai penyebab sinusitis kronis pada lebih dari 50% kasus.laktamase seperti pada terapi sinusitis akut lini ke II. A. Dekongestan berperan penting sebagai terapi awal mendampingi antibiotik. Jika tidak ada perbaikan dapat dipilih antibiotika alternatif seperti siprofloksasin. Antihistamin. klindamisin. Pilihan antibiotika harus mencakup β. Jika dengan antibiotika alternatif tidak ada perbaikan. meningkatkan diameter ostium dan meningkatkan ventilasi. Dekongestan topikal mempunyai efek yang lebih cepat terhadap sumbatan hidung. Karena antihistamin generasi 17 . Medikamentosa A. maka eveluasi kembali apakah ada faktor predisposisi yang belum terdiagnosis dengan pemeriksaan nasoendoskopi maupun. Jika diduga ada bakteri anaerob. Jika ada perbaikan antibiotik diteruskan mencukupi 10 – 14 atau lebih jika diperlukan. dapat diberi metronidazol.adrenergik dimukosa hidung dengan efek vasokontriksi yang dapat mengurang keluhan sumbatan hidung.A. yaitu amoksisillin klavulanat atau ampisillin sulbaktam. sefalosporin generasi kedua. Karena efek peningkatan tekanan darah tinggi dan penyakit jantung harus dilakukan dengan hati-hati. golongan kuinolon atau yang sesuai dengan kultur.propanolamine. Preparat yang umum adalah pseudoefedrine dan phenyl. namun efeknya ini sebetulnya tidak fisiologik dan pemakaian jangka lama (lebih dari 7 hari) akan menyebabkan rinitis medika mentosa. karenanya penggunaan antihistamin justru dianjurkan.1 Antibiotika Meskipun tidak memegang peran penting.2 Terapi Medik Tambahan Dekongestan. makrolid.

B. Penatalaksanaan Operatif Sinusitis kronis yang tidak sembuh dengan pengobatan medik adekuat dan optimal serta adanya kelainan mukosa menetap merupakan indikasi tindakan bedah. acrivastine. dan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) dapat dilaksanakan. keluhan pasien berkurang karena udema di rongga hidung dan meatus medius hilang. Beberapa macam tindakan bedah mulai dari antrostomi meatus inferior. Meskipun obat semprot ini tidak mencapai komplek osteomeatal. trepanasi sinus frontal. Caldwel-Luc. 18 . Namun dengan berkembangnya pengetahuan patogenesis sinusitis. sekresi lendir. Sedangkan kortikosteroid oral dapat mencapai seluruh rongga sinus. ada 2 jenis kortikosteroid. generasi kedua seperti azelastine. maka berkembang pula modifikasi bedah sinus konvensional misalnya Caldwel-Luc yang hanya mengangkat operasi jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar tetap berfungsi dan melakukan antrostomi meatus medius sehingga drainase dapat sembuh kembali. Preparat oral dapat diberikan mendahului yang topikal. fexofenadine dan loratadine.pertama mempunyai efek antikolinergik lebih disukai yang tinggi. Bedah sinus konvensional tidak memperlihatkan usaha pemulihan drainase dan ventilasi sinus melalui ostium alami. obat oral dapat membuka sumbatan hidung terlebih dahulu sehingga distribusi obat semprot merata. Kortikosteroid. Penggunaannya kortikosteroid topikal meluas pada kelainan alergi dan non-alergi. sumbatan hidung dan hipo/anosmia. Penemuannya merupakan perkembangan besar dalam pengobatan rinitis dan sinusitis. cetirizine. kortikosteroid topikal mempunyai efek lokal terhadap bersin. Terapi singkat selama dua minggu sudah efektif menghilangkan beberapa keluhan. yaitu kortikosteroid topikal dan kortikosteroid oral.

D. jaringan normal tetap berfungsi dan kelainan didalam sinus maksila dan frontal akan sembuh sendiri. 2. abses ektradural. Selain itu dapat juga 19 . Kelainan Intrakranial Dapat berupa meningitis. Komplikasi yang dapat terjadi ialah: A. Jenis operasi ini lebih dipilih karena merupakan tindakan konservatif yang lebih efektif dan fungsional.11 Komplikasi Kompikasi rinosinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukan antibiotika. Osteomielitis dan abses subperiostal Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. abses otak dan trombosis sinus kavernosus. C. B. Kelainan Paru Seperti bronkitis kronis dan brokiektasis. Variasi yang dapat timbul ialah udema palpebra. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral. abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus. Yang paling sering ialah sinusitis etmoid. kemudian sinusitis frontal dan maksila. sehingga saat operasi kita dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi dirongga-rongga sinus. abses subperiostal. Jaringan patologik yang diangkat tanpa melukai jaringan normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar. selulitis orbita.Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) merupakan kemajuan pesat dalam bedah sinus. Dengan ini ventilasi sinus lancar secara alami. Kelainan Orbita Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Keuntungan BSEF adalah penggunaan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis.

Gejala Subjektif: Nyeri pada sinus.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah 1. antibiotik. Untuk mengobati penyakit rhinosinositis dapat dilakukan: menghilangkan faktor predisposisi.timbul asma bronkial. dekongestan. sinus frontal. Gejala Objektif: Pembengkakan dan udem. 2. foto rontgen sinus paranasal. Gangguan penghindu b. Terdapat beberapa macam pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk penyakit ini seperti transluminasi. Rhinosinositis memiliki tanda dan gejala yang dapat dibagi menjadi dua yaitu: a. sakit kepala. BAB III PENUTUP 3. 4. nyeri tekan sinus. sekret nasal 3. Rinosinusitis kronis adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang dapat ditegakkan berdasarkan riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12 minggu. Caldwel-Luc. dan dan operatif Bedah Sinus Endoskopi Fungsional) 20 . CT-Scan (Computer Tomography) sinus paranasal dan nasoendoskopi. dan sesuai dengan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor. antihistamin. (Antrostomi meatus inferior. trepanasi kortikosteroid.

Bashiruddin J. 2012. Jakarta: EGC Rukmini S. 1997. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke-6.E. 2008. George L. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. J. Restuti RD.DAFTAR PUSTAKA Adams. Iskandar N. Boies: buku ajar penyakit THT (Boeis fundamentals of otolaryngology). Edisi ke-6. Soepardi EA. Jakarta: FK UI. dan Hall. Edisi 11. Jakarta: EGC. Guyton.C.. 2000. A. Jakarta: EGC. Hidung & Tenggorok. Teknik Pemeriksaan Telinga. Herawati S. 21 .