You are on page 1of 2

Teknik PCR

Uji Asam Nukleat Amplifikasi (ANA) untuk mendiagnosis meningitis TB memiliki tingkat
sensitivitas 56% dan spesifitas 98% dan hasil diagnostic ANA ini meningkat ketika volume CSF
yang digunakan dalam jumlah yang banyak. Sensitivitas pemeriksaan mikroskopis sama dengan
uji ANA untuk mendiagnosis Menigitis TB. Sensitivitas dari tes mikroskopik CSF dan kultur
menurun pada masa pemberian obat , dimana DNA kuman mycobacterium akan terdeteksi
sampai 1 bulan setelah pengobatan dimulai. Uji ANA yang mendeteksi resistensi terhadap
rifampicin harus dilakukan ketika risiko resistensi terhadap obat TB meningkat.
Tes Kulit Tuberkulin
Alat bantu diagnostic yang dikerjakan pada kulit pasien akan memberikan hasil positif pada
Meningitis TB pada 10 – 50% pasien. Hasil dari tes tuberculin dipengaruhi oleh banyak faktor
diantara lain : umur, vaksin BSG, status nutrisi, infeksi HIV dan teknik pemeriksaan. Tes
tuberculin dapat menunjukkan indikasidari infeksi TB sebelumnya.
Interferron-γ release assays (IGRA)
Kemajuan pemeriksaan yang telah berkembang adalah pemeriksaan T-cell based interferon-γ
reselase assays (IGRA). IGRAs adalah suatu tes in vitro yang berbasis pelepasan interferon- γ
setelah stimulasi T-cell oleh antigen dan pemeriksaan ini lebih spesifik dalam mendiagnosis
Meningitis TB daripada tes PPD (Prurified Protein Derivate). Dua bentuk tes IGRAs sudah
tersedia. Tinjauan sistematis telah melaporkan bahwa tes IGRAs memiliki tingkat spesifitas
yang tinggi dan hasilnya tidak dipengaruhi oleh vaksin BCG , sangat berlawanan dengan Tes
Ttuberkulin. Tes Tuberkulin memiliki spesifitas tinggi pada populasi yang belum mendapatkan
vaksin BCG tetapi menjadi tidak spesifik pada populasi yang telah vaksin BCG. Spesifitas
tinggi dari tes IGRAs terbukti berguna untuk pasien yang sudah divaksinasi BCG. Kedua tes
imunologi ini hanya terindikasi untuk tes imunitas seluler yang baru tersensitisasi oleh
Meningitis TB. IFN- γ dapat dengan mudah mengaktifkan mosoit darah perifer melalui stimulasi
antigen dalam kuantitas yang cukup, hal ini dapat dideteksi dengan teknologi, seperti ELISA.
IGRA dilaporkan dengan bentuk peningkatan IFN- γ setelah stimulasi oleh antigen (ESAT-6,
CFP-10). Karena antigen ini sangat terlarang untuk pasien dengan Meningitis TB yang
kompleks, tes ini tidak dipengaruhi oleh vaksin BCG atau kuman mycobacterial lingkungan.

tetapi juga meningkat pada pasien limfoma. Hasil yang sudah di standardisasi bermakna untuk diagnosis Meningitis TB belum dekeluarkan. Penghitungan sensitivitas dan spesifisitas ADA pada pemeriksaan CSF berkisar 44 to 100% dan 71 – 100%. bruselosis. Aktifitas ADA pada CF tidak disarankan untuk menjadi tes rutin pada Meningitis TB. Peningkatan aktifitas ADA tidak spesifik pada penyakit Menigitis TB saja. jarena harganya yang mahal maka tes ini tidak dianjurkan untuk dilakukan. malaria. Pada sebuah studi yang dilakukan. Sekitar 50% psien yang dilakukan kultur tidak ditemukan hasil IGRAs yang positif. meningitis piogenik. Namun nilai prognostic dari tes IGRA masih terbatas . Hasil tes ADA pada CSF sangat berguna untuk memperkirakan hasil neurologi yang lemah pada kasus Meningitis TB anak. Asam Tuberculostearic Asam Tuberculostearc adalah komponen asam lemak dari dinding sel Mycobacterium tuberculosis. Hasil IGRA negative juga tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut tidak terinfeksi TB. meningitis kriptokokus dan limfoma serebri. tes IGRA yang positif tidak selalu menunjukan suatu TB aktif. Penggunaan tes IGRAs meningkat dan meluas di negara berkembang. . ADA ADA dihubungkan dengan proliferasi besar-besaran dari limfosit dan diferensiasi dan tes ini dijadikan sebagai marker untuk imunitas yang di mediasi oleh sel (cell-mediated immunity).Karena tes IGRAs tidak bisa membedakan antara infeksi TB laten dan aktif. ADA tidak bermakna pada pasien TB dengan infeksi HIV. Walaupun perkiraannya memiliki sensitifitas dan spesfisitas yang baik.