You are on page 1of 15

ARBORSI

PENGERTIAN ARBOSI
Di kalangan ahli kedokteran dikenal dua macam abortus (keguguran
kandungan) yakni abortus spontan dan abortus buatan.Abortus spontan adalah merupakan
mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 28
minggu. Penyebabnya dapat oleh karena penyakit yang diderita si ibu ataupun sebab-sebab lain
yang pada umumnya berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi.Lain halnya dengan
abortus buatan, abortus dengan jenis ini merupakan suatu upaya yang disengaja untuk
menghentikan proses kehamilan sebelumberumur 28 minggu, dimana janin (hasil konsepsi) yang
dikeluarkan tidak bisa bertahan hidup di dunia luar.
1. Abortus buatan legal
Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan
oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus therapcutius, karena alasan
yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa/menyembuhkan
si ibu.
2. Abortus buatan ilegal
Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk menyelamatkan/
menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat
dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut
dengan abortus provocatus criminalis,karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau
kejahatan. Secara skematis penggolongan abortus dapat digambarkan sebagai berikut.

Aborsi: Fakta dan Realita


Perkiraan jumlah aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup beragam. Hull, Sarwono dan
Widyantoro (1993) memperkirakan antara 750.000 hingga 1.000.000 atau 18 aborsi per 100
kehamilan. Saifuddin (1979 di dalam Pradono dkk 2001) memperkirakan sekitar 2,3 juta.
Sedangkan sebuah studi terbaru yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan
Universitas Indonesia memperkirakan angka kejadian aborsi di Indonesia per tahunnya sebesar 2
juta (Utomo dkk 2001).
Isu aborsi sering kali dikaitkan dengan prilaku seks bebas di kalangan remaja. Ternyata
banyak penelitian membuktikan dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Penelitian mengenai
aborsi yang diselenggarakan pada periode 70-an menemukan bahwa ternyata pelayanan aborsi
juga dicari oleh perempuan menikah yang tidak menginginkan tambahanan anak tetapi tidak
mengunakan kontrasepsi atau mengalami kegagaln kontrasepsi (Affandi, Herdjan dan
Darmabrata, 1979; Sastrawinata, Agoestina dan Siagian, 1976). Pola ini tidak berubah di era 90an, seperti ditunjukkan pada sebuah penelitian di Bali di mana 71% perempuan yang melakukan
aborsi berstatus menikah (Dewi 1997:33). Demikian pula penelitian yang diselenggarakan oleh

Population Council pada tahun 1996-1997 di klinik swasta dan klinik pemerintah menunjukkan
98,8% klien merupakan perempuan menikah dan telah punya 1-2 orang anak (Herdayati 1998).

Faktor yang memengaruhi Praktek Aborsi


Sampai saat ini praktik aborsi masih terus berlangsung, baik yang legal maupun yang ilegal.
Bahkan menurut Azrul Azwar, sumbangan aborsi ilegal di Indonesia mencapai kurang lebih 50
persen dari angka kematian ibu (AKI), sementara angka kematian ibu di Indonesia (AKI) ini
adalah yang tertinggi di Asia.
Adapun para penyebab dari kejadian aborsi ini antara lain adalah:
1. Faktor ekonomi, di mana dari pihak pasangan suami isteri yang sudah tidak mau menambah
anak lagi karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi, atau dapat juga
karena kontrasepsi yang gagal.
2. Faktor penyakit herediter, di mana ternyata pada ibu hamil yang sudah melakukan
pemeriksaan kehamilan mendapatkan kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya cacat secara
fisik.
3. Faktor psikologis, di mana pada para perempuan korban pemerkosaan yang hamil harus
menanggung akibatnya. Dapat juga menimpa para perempuan korban hasil hubungan saudara
sedarah (incest), atau anak-anak perempuan oleh ayah kandung, ayah tiri ataupun anggota
keluarga dalam lingkup rumah tangganya.
4. Faktor usia, di mana para pasangan muda-mudi yang masih muda yang masih belum dewasa
& matang secara psikologis karena pihak perempuannya terlanjur hamil, harus membangun suatu
keluarga yang prematur.
5. Faktor penyakit ibu, di mana dalam perjalanan kehamilan ternyata berkembang menjadi
pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia yang mengancam nyawa ibu.
6. Faktor lainnya, seperti para pekerja seks komersial, perempuan simpanan, pasangan yang
belum menikah dengan kehidupan seks bebas atau pasangan yang salah satu/keduanya sudah
bersuami/beristri (perselingkuhan) yang terlanjur hamil.

Para pelaku aborsi


PELAKU ABORSI

Profil pelaku aborsi di Indonesia tidak sama persis dengan di Amerika. Akan tetapi
gambaran dibawah ini memberikan kita bahan untuk dipertimbangkan. Seperti
tertulis dalam buku Facts of Life oleh Brian Clowes, Phd:

Para wanita pelaku aborsi adalah:

Wanita Muda

Lebih dari separuh atau 57% wanita pelaku aborsi, adalah mereka yang berusia
dibawah 25 tahun. Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia dibawah
19 tahun.
Usia

Jumlah

Dibawah 15 tahun 14.200


15-17 tahun 154.500
18-19 tahun

9.9%

224.000

20-24 tahun 527.700

33.9%

25-29 tahun 334.900

21.5%

30-34 tahun 188.500

12.1%

35-39 tahun 90.400

5.8%

40 tahun keatas

Belum Menikah

0.9%

23.800

14.4%

1.5%

Jika terjadi kehamilan diluar nikah, 82% wanita di Amerika akan melakukan aborsi.
Jadi, para wanita muda yang hamil diluar nikah, cenderung dengan mudah akan
memilih membunuh anaknya sendiri.
Untuk di Indonesia, jumlah ini tentunya lebih besar, karena didalam adat Timur,
kehamilan diluar nikah adalah merupakan aib, dan merupakan suatu tragedi yang
sangat tidak bisa diterima masyarakat maupun lingkungan keluarga.

Waktu Aborsi

Proses aborsi dilakukan pada berbagai tahap kehamilan. Menurut data statistik yang
ada di Amerika, aborsi dilakukan dengan frekuensi yang tinggi pada berbagai usia
janin.
Usia Janin

Kasus Aborsi

13-15 minggu

90.000 kasus

16-20 minggu

60.000 kasus

21-26 minggu

15.000 kasus

Setelah 26 minggu 600 kasus

Hukum yang mengatur aborsi


KUHP Bab XIX Pasal 229,346 s/d 349:
Pasal 229: Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang perempuan atau menyuruhnya
supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu
hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda
paling banyak tiga ribu rupiah.
Pasal 346: Seorang perempuan yang dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama

empat tahun.
Pasal 347:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan
tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama limabelas tahun.
Pasal 348:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang perempuan
dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya perempuan tersebut, diancam dengan pidana
penjara tujuh tahun.
Pasal 349: Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan
pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 & 348, maka
pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga & dapat dicabut hak
untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.
Dari rumusan pasal-pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Seorang perempuan hamil yang dengan sengaja melakukan aborsi atau ia menyuruh orang
lain, diancam hukuman empat tahun penjara.
2. Seseorang yang dengan sengaja melakukan aborsi terhadap ibu hamil dengan tanpa
persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman penjara 12 tahun, & jika ibu hamil tersebut
mati, diancam penjara 15 tahun penjara.
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara & bila ibu hamil
tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
4. Jika yang melakukan & atau membantu melakukan aborsi tersebut seorang dokter, bidan atau
juru obat ancaman hukumannya ditambah sepertiganya & hak untuk berpraktik dapat dicabut.
5. Setiap janin yang dikandung sampai akhirnya nanti dilahirkan berhak untuk hidup serta
mempertahankan hidupnya.
UU HAM, pasal 53 ayat 1(1): Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup,
mempertahankan hidup & meningkatkan taraf kehidupannya.
UU Kesehatan:
Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam

nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun
yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang
dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali
dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat
yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung
jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada penjelasan UU Kesehatan pasal 77 dinyatakan sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung
jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang
bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti
standar profesi dan pelayanan yang
berlaku, diskriminatif, atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi medis.
Namun sayangnya didalam UU Kesehatan ini belum disinggung soal masalah kehamilan akibat
hubungan seks komersial yang menimpa pekerja seks komersial.
(3) Dalam peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain
mengenai keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian & kewenangan bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk.

Aborsi dalam persprektif medis dan syariah

Dalam pandangan medis, aborsi (abortus atau abortion) yang dibolehkan adalah abortus
berdasarkan indikasi medis (abortus artificialis therapicus). Selebihnya, aborsi yang dilakukan
tanpa indikasi medis dikategorikan sebagai abortus kriminal (abortus provocatus criminalis).
Adapun indikasi medis yang dimaksudkan adalah berdasarkan kesehatan ibu yang dibatasi
pengertiannya pada jiwa ibu. Bila keselamatan jiwa ibu terancam dengan adanya kehamilan itu,
aborsi dapat dilakukan. Pengertian ini kemudian diadopsi dalam KUHP dan menjadi dasar
penghukuman bagi siapa saja yang melakukan aborsi dan diancam hukuman penjara. Ancaman
ini tidak saja tertuju pada si wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat termasuk
para bidan/dokter, juru obat, maupun orang yang menganjurkan aborsi. Dari sini jelas bahwa
persepsi hukum dan medis adalah menghargai kehidupan sejak masa konsepsi sehingga aborsi
yang dilakukan sejak dini sekalipun dianggap identik dengan pembunuhan.
Persoalan aborsi di bawah usia tiga bulan memang masih mengandung perbedaan pendapat.
Salah seorang ulama yang membolehkan aborsi adalah Muhammad Ramli dalam kitabnya AnNihayah, dengan alasan karena pada masa itu belum ada makhluk yang bernyawa. Yang jelas
setelah masa itu, atau sejak berusia empat bulan, para ulama sepakat mengharamkan
pengguguran janin karena roh sudah ditiupkan ke dalam janin.
Dalam ilmu kedokteran, pengguguran janin setelah janin berusia tiga bulan dikenal dengan
istilah fetuscid, yakni pembunuhan janin yang sudah memasuki usia lahir dan akan hidup sebagai
manusia. Praktek fetuscid ini di luar negeri juga dilarang keras.
Syariah yang berkaitan dengan aborsi
Umat Islam percaya bahwa Al-Quran adalah Undang-Undang paling utama bagi kehidupan
manusia. Allah berfirman: Kami menurunkan Al-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala
sesuatu. (QS 16:89) Jadi, jelaslah bahwa ayat-ayat yang terkandung didalam Al-Quran
mengajarkan semua umat tentang hukum yang mengendalikan perbuatan manusia.
Tidak ada satupun ayat didalam Al-Quran yang menyatakan bahwa aborsi boleh dilakukan oleh
umat Islam. Sebaliknya, banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa janin dalam
kandungan sangat mulia. Dan banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa hukuman bagi orangorang yang membunuh sesama manusia adalah sangat mengerikan.
Pertama: Manusia - berapapun kecilnya - adalah ciptaan Allah yang mulia.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Banyak sekali ayat-ayat dalam AlQuran yang bersaksi akan hal ini. Salah satunya, Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami
telah memuliakan umat manusia.(QS 17:70)
Kedua: Membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang.
Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang.
Didalam agama Islam, setiap tingkah laku kita terhadap nyawa orang lain, memiliki dampak

yang sangat besar. Firman Allah: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan
karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena kerusuhan di muka
bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang
memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara
keselamatan nyawa manusia semuanya. (QS 5:32)
Ketiga: Umat Islam dilarang melakukan aborsi dengan alasan tidak memiliki uang yang
cukup atau takut akan kekurangan uang.
Banyak calon ibu yang masih muda beralasan bahwa karena penghasilannya masih belum stabil
atau tabungannya belum memadai, kemudian ia merencanakan untuk menggugurkan
kandungannya. Alangkah salah pemikirannya. Ayat Al-Quran mengingatkan akan firman Allah
yang bunyinya: Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah
yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka
adalah dosa yang besar. (QS 17:31)
Keempat: Aborsi adalah membunuh. Membunuh berarti melawan terhadap perintah
Allah.
Membunuh berarti melakukan tindakan kriminal. Jenis aborsi yang dilakukan dengan tujuan
menghentikan kehidupan bayi dalam kandungan tanpa alasan medis dikenal dengan istilah
abortus provokatus kriminalis yang merupakan tindakan kriminal tindakan yang melawan
Allah. Al-Quran menyatakan: Adapun hukuman terhadap orang-orang yang berbuat keonaran
terhadap Allah dan RasulNya dan membuat bencana kerusuhan di muka bumi ialah: dihukum
mati, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilang, atau diasingkan dari
masyarakatnya. Hukuman yang demikian itu sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia
dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang pedih. (QS 5:36)
Kelima: Sejak kita masih berupa janin, Allah sudah mengenal kita.
Sejak kita masih sangat kecil dalam kandungan ibu, Allah sudah mengenal kita. Al-Quran
menyatakan:Dia lebih mengetahui keadaanmu, sejak mulai diciptakaNya unsur tanah dan sejak
kamu masih dalam kandungan ibumu.(QS: 53:32) Jadi, setiap janin telah dikenal Allah, dan
janin yang dikenal Allah itulah yang dibunuh dalam proses aborsi.
Keenam: Tidak ada kehamilan yang merupakan kecelakaan atau kebetulan. Setiap
janin yang terbentuk adalah merupakan rencana Allah.
Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi segumpal darah dan menjadi janin.
Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Al-Quran mencatat firman Allah: Selanjutnya Kami
dudukan janin itu dalam rahim menurut kehendak Kami selama umur kandungan. Kemudian
kami keluarkan kamu dari rahim ibumu sebagai bayi. (QS 22:5) Dalam ayat ini malah
ditekankan akan pentingnya janin dibiarkan hidup selama umur kandungan. Tidak ada ayat
yang mengatakan untuk mengeluarkan janin sebelum umur kandungan apalagi membunuh janin
secara paksa!
Ketujuh: Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan aborsi. Bahkan dalam kasus
hamil diluar nikah sekalipun, Nabi sangat menjunjung tinggi kehidupan.
Hamil diluar nikah berarti hasil perbuatan zinah. Hukum Islam sangat tegas terhadap para pelaku
zinah. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW seperti dikisahkan dalam Kitab Al-Hudud tidak

memerintahkan seorang wanita yang hamil diluar nikah untuk menggugurkan kandungannya:
Datanglah kepadanya (Nabi yang suci) seorang wanita dari Ghamid dan berkata,Utusan Allah,
aku telah berzina, sucikanlah aku.. Dia (Nabi yang suci) menampiknya. Esok harinya dia
berkata,Utusan Allah, mengapa engkau menampikku? Mungkin engkau menampikku seperti
engkau menampik Mais. Demi Allah, aku telah hamil. Nabi berkata,Baiklah jika kamu
bersikeras, maka pergilah sampai anak itu lahir. Ketika wanita itu melahirkan datang bersama
anaknya (terbungkus) kain buruk dan berkata,Inilah anak yang kulahirkan. Jadi, hadis ini
menceritakan bahwa walaupun kehamilan itu terjadi karena zina (diluar nikah) tetap janin itu
harus dipertahankan sampai waktunya tiba. Bukan dibunuh secara keji.

Statistik aborsi
Statistik aborsi di Indonesia.
Frekuensi terjadinya aborsi sangat sulit dihitung secara akurat,
karena aborsi buatan sangat sering terjadi tanpa dilaporkan kecuali jika terjadi
komplikasi, sehingga perlu perawatan di Rumah Sakit.
Akan tetapi, berdasarkan perkiraan dari BKBN, ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi
yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2.000.000 nyawa yang
dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak yang tahu.

Jumlah kematian karena aborsi melebihi kematian perang manapun


Data statistik mengenai kasus aborsi di luar negeri khususnya di Amerika
dikumpulkan oleh dua badan utama, yaitu Federal Centers for Disease Control
(CDC) dan Alan Guttmacher Institute (AGI).
Hasil pendataan mereka menunjukkan bahwa jumlah nyawa yang dibunuh dalam
kasus aborsi di Amerika yaitu hampir 2 juta jiwa lebih banyak dari jumlah nyawa
manusia yang dibunuh dalam perang manapun dalam sejarah negara itu.

Sebagai gambaran, jumlah kematian orang Amerika dari tiap-tiap perang adalah:
1. Perang Vietnam 58.151 jiwa
2. Perang Korea 54.246 jiwa
3. Perang Dunia II 407.316 jiwa
4. Perang Dunia I 116.708 jiwa
5. Civil War (Perang Sipil) 498.332 jiwa

Secara total, dalam sejarah dunia, jumlah kematian karena aborsi jauh melebihi
jumlah orang yang meninggal dalam semua perang jika digabungkan sekaligus.

Jumlah kematian karena aborsi melebihi semua kecelakaan


Menurut James K. Glassman dari The Washington Post pada tahun 1996, jumlah
kematian akibat aborsi 10 kali lebih banyak daripada semua kecelakaan yang masih
ditambah kasus bunuh diri maupun pembunuhan.

Data kecelakaan di Amerika menunjukkan:


1. Kecelakaan karena jatuh 12.000
2. Kecelakaan karena tenggelam 4.000
3. Kecelakaan karena keracunan 6.000
4. Kecelakaan mobil 40.000
5. Bunuh diri 30.000
6. Pembunuhan 25.000

Jumlah kematian karena aborsi selalu melebihi kematian karena kecelakaan, bunuh
diri ataupun pembunuhan di seluruh dunia.

Jumlah kematian karena aborsi melebihi segala penyakit


Daniel S. Green dari Washington Post mengatakan bahwa pada tahun 1996, di
Amerika setiap tahun ada 550.000 orang yang meninggal karena kanker dan
700.000 meninggal karena penyakit jantung.
Jumlah ini tidak seberapa dibandingkan jumlah kematian karena aborsi yang
mencapai hampir 2 juta jiwa di negara itu.

Secara keseluruhan, di seluruh dunia, aborsi adalah penyebab kematian yang paling
utama dibandingkan kanker maupun penyakit jantung.

Resiko Kesehatan dan Keselamatan Fisik


Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan
dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh
Brian Clowes, Phd yaitu :
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya.
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita).
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer).
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer).
9. ). Kanker hati (Liver Cancer
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy).
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).

Pendarahan Hebat. Jika leher rahim robek atau terbuka lebar akan menimbukan
pendarahan yang dapat berbahaya bagi keselamatan ibu. Terkadang dibutuhkan
pembedahan untuk menghentikan pendarahan tersebut.

Infeksi. Infeksi dapat disebabkan oleh alat medis tidak steril yang dimasukkan ke dalam
rahim atau sisa janin yang tidak dibersihkan dengan benar.

Aborsi Tidak Sempurna. Adanya bagian dari janin yang tersisa di dalam rahim sehingga
dapat menimbulkan perdarahan atau infeksi.

Sepsis. Biasanya terjadi jika aborsi menyebabkan infeksi tubuh secara total yang
kemungkinan terburuknya menyebabkan kematian.

Kerusakan Leher Rahim. Kerusakan ini terjadi akibat leher rahim yang terpotong,
robek atau rusak akibat alat-alat aborsi yang digunakan.

Kerusakan Organ Lain. Saat alat dimasukkan ke dalam rahim, maka ada kemungkinan
alat tersebut menyebabkan kerusakan pada organ terdekat seperti usus atau kandung
kemih.

Kematian. Meskipun komplikasi ini jarang terjadi, tapi kematian bisa terjadi jika aborsi
menyebabkan perdarahan yang berlebihan, infeksi, kerusakan organ serta reaksi dari
anestesi yang dapat menybabkan kematian.

Selain itu ada juga risiko lain jika melakukan lebih dari satu kali aborsi yaitu meningkatkan
risiko melahirkan prematur nantinya serta komplikasi lain akibat prematur seperti masalah
pada mata, otak, pernapasan atau usus.
B. Meningkatkan Resiko Kanker Payudara
Tindakan aborsi memang memiliki banyak risiko. Salah satunya, meningkatkan risiko kanker
payudara tiga kali lipat. Hal itu menurut tim peneliti dari University of Colombo di Sri Lanka.
Faktor lain yang juga memengaruhi meningkatnya risiko kanker payudara adalah menopause
dan merokok. Penelitian yang dipublikasi dalam Journal Cancer Epidemiology ini merupakan
penelitian terbaru yang menunjukkan hubungan antara aborsi dan kanker payudara.
Penelitian ini merupakan pengujian epidemologi keempat yang melaporkan hubungan
penelitian ini di China, Turki dan Amerika Serikat. Hasil kesimpulan penelitian pun tidak jauh
berbeda.
Tetapi, penelitian ini masih harus disempurnakan. Karena, menurut peneliti di Inggris ada
kemungkinan sampel yang rusak secara statistik. "Ini penelitian kecil yang hanya melibatkan
300 orang. Jadi, secara statistik ada kemungkinan sampel rusak. Penelitian yang lebih besar,
pada ribuan wanita menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan," kata Dr Kat Arney,
Manajer Informasi dari Cancer Research UK, seperti dikutip dari Daily Mail. grave harm.

Meskipun begitu, menurut tim peneliti dari "Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists", telah mengakui kemungkinan ada hubungan antara kanker payudara dan
aborsi. Tetapi, sebagian besar profesional medis di Inggris tetap tidak yakin.
C. Resiko Kesehatan Mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom PaskaAborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam Psychological Reactions Reported After
Abortion di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut
ini :
1. Kehilangan harga diri (82%).
2. Berteriak-teriak histeris (51%).
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%).
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%).
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%).
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%).
Sedangkan efek aborsi terhadap faktor emosional adalah menimbulkan kelainan pola makan,
timbul rasa bersalah yang dapat memicu stres atau depresi serta kemungkinan disfungsi seksual.
Mendapatkan kehamilan yang tidak terduga memang menimbulkan beban mental tersendiri, tapi
memilih untuk melanjutkan kehamilan dan menjadi orangtua adalah satu-satunya pilihan yang
terbaik.
Bicaralah dengan seseorang yang bisa dipercaya serta adanya dukungan dari orang-orang
disekitar akan membantu seseorang menjalani kehamilan yang tidak diinginkannya itu.

SOLUSI

Solusi untuk seorang wanita


Jika anda sedang memikirkan untuk melakukan aborsi, tenangkan pikiran anda. Aborsi bukanlah
suatu solusi sama sekali. Aborsi akan membuahkan masalah-masalah baru yang bahkan lebih
besar lagi bagi anda di dunia dan di akhirat.
Ada beberapa pihak yang dapat diminta bantuannya dalam hal menangani masalah aborsi ini,
yaitu:
1. Keluarga dekat atau anggota keluarga lain.
2. Saudara-saudara seiman
3. Orang-orang lain yang bersedia membantu secara pribadi
4. Konsultasi ke psikiater atau orang yang mengerti agama
Yang terutama, hubungi keluarga terlebih dahulu. Orang tua, kakak, om, tante atau saudarasaudara dekat lainnya. Minta bantuan mereka untuk mendampingi di saat-saat yang sukar ini.

Solusi untuk Bayi


Apapun alasan anda, aborsi bukanlah jalan keluar. Setiap bayi yang dilahirkan, selalu
dipersiapkan oleh Allah untuk segala sesuatunya. Jika saat ini anda merasa tidak sanggup
membiayai kehidupan dia, berdoalah agar Allah memberikan jalan keluar.
Jika anda benar-benar tidak menginginkan anak tersebut, carilah orang-orang dekat yang
bersedia untuk menerimanya sebagai anak angkat.

resource :
http://arsitek-peradaban.abatasa.com/post/detail/7154/aborsi-dalam-perspektifsyariah-dan-medis
www.kesrepro.info
www.aborsi.org
http://majalahkesehatan.com/4-indikasi-medis-aborsi
http://www.aborsi.org/statistik.htm
http://www.aborsi.org/pelaku.htm