You are on page 1of 4

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teh
Teh merupakan tanaman yang biasa tumbuh didaerah perkebunan dipanen secara
manual, dan dapat tumbuh pada ketinggian 200 - 2.300 m diatas permukaan laut. Teh berasal
dari kawasan India bagian Utara dan Cina Selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang
terkenal, yaitu var. assamica yang berasal dari Assam dan var. sinensis yang berasal dari Cina.
Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung yang runcing, sedangkan varietas
sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak tumpul. Pohon kecil, karena seringnya
pemangkasan maka tampak seperti perdu. Bila tidak dipangkas, akan tumbuh kecil ramping
setinggi 5 - 10 m, dengan bentuk tajuk seperti kerucut. Batang tegak, berkayu, bercabangcabang, ujung ranting dan daun muda berambut halus. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak
berseling, helai daun kaku seperti kulit tipis, bentuknya elips memanjang, ujung dan pangkal
runcing, tepi bergerigi halus, pertulangan menyirip, panjang 6 - 18 cm, lebar 2 - 6 cm,
warnanya hijau, permukaan mengilap. Bunga di ketiak daun, tunggal atau beberapa bunga
bergabung menjadi satu, berkelamin dua, garis tengah 3 - 4 cm, warnanya putih cerah dengan
kepala sari berwarna kuning, harum. Buahnya buah kotak, berdinding tebal, pecah menurut
ruang, masih muda hijau setelah tua cokelat kehitaman. Biji keras, 1 - 3. Pucuk dan daun
muda yang digunakan untuk pembuatan minuman teh.
Tanaman teh Camellia sinensis O.K.Var.assamica (Mast) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan biji)

Sub divisi

: Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)

Kelas

: Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)

Sub kelas

: Dialypetalae

Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)


Familia (suku) : Camelliaceae (Tehaceae)
Genus (marga) : Camellia
Spesies (jenis) : Camellia sinensis
Varietas

: Assamica

Isi
Khasiat

: Coffein, Theophylin, Adenin, Theobromin, Xanthone


: Stimulan, Adstringen, Diuretik, Minuman penyegar

2.2. Kafein

Kafein adalah sejenis senyawa alkaloid yang termasuk golongan metilxanthine (1,3,7trimethylxantine). Struktur kafein terbangun dari system cincin purin, yang secara biologis
penting dan diantaranya banyak ditemukan dalam asam nukleat. Kafein berasal dari tanaman
yang dapat menstimulasi otak dan saraf. Selain pada kopi, kafein juga terdapat dalam
minuman teh, cola, coklat, minuman berenergi (energy drink), maupun obat-obatan.
Kandungan kafein pada secangkir kopi adalah 80-125 mg. Sedangkan, satu kaleng soft drink
kola mengandungi sekitar 23-37 mg, teh mengandung sekitar 40 mg, dan satu ons coklat
sebanyak 20 mg kafein. Sejak dahulu kala, kafein telah dikenal sebagai zat stimulan yang
populer. Kafein sering digunakan dalam dunia kedokteran sebagai perangsang jantung dan
peningkat produksi urin. Kafein dosis rendah juga dapat berperan sebagai pembangkit stamina
dan penghilang rasa lelah. Konsumsi kafein secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai
masalah, seperti warna gigi yang berubah menjadi coklat atau gelap, bau mulut, meningkatkan
stress, serangan jantung, kemandulan pada pria, gangguan pencernaan, kecanduan dan bahkan
penuaan dini. Kafein juga merupakan salah satu penyebab utama sakit kepala.
2.3. Identifikasi dan Isolasi Senyawa
Isolasi merupakan suatu cara untuk mengambil satu senyawa aktif yang terdapat di
dalam tanaman untuk mengetahui senyawa yang berkhasiat dalam tumbuhan. Untuk dapat
melakukan isolasi harus melalui berbagai tahapan yang cukup panjang hingga kita dapat
memperoleh suatu senyawa murni yang berkhasiat dalam tumbuhan tersebut. Teknik isolasi di
berbagai negara juga berbeda seperti di Indonesia dan jepang tapi prinsip yang digunakan
tetap sama.
Untuk melakukan isolasi harus melalui beberapa tahapan, yaitu

a.

Preparasi sampel/simplisia: Preparasi sangat penting dalam melakukan isolasi, maka


preparasi harus dibuat secara benar dan tepat. Pada simplisia dilakukan penumbukkan

sehingga dinding sel yang terdapat pada simplisia rusak dan senyawa yang ada di dalam
tumbuhan akan dapat mudah ditarik oleh pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi.
Untuk senyawa yang mengandung minyak atsiri setelah penumbukkan tidak boleh
dilakukan pengeringan karena minyak atsiri yang terdapat dalam tanaman akan menguap.
b.
Ekstraksi: Ekstraksi merupakan proses penarikan senyawa-senyawa yang ada dalam
tumbuhan. Pada proses ekstraksi dipilih pelarut yang kepolarannya mirip dengan sel
tumbuhan contohnya etanol. Penggunaan etanol juga disesuaikan dengan keadaan
simplisianya. Apabila simplisia yang digunakan adalah simplisia yang kering digunakan
etanol 70% untuk proses ekstraksi karena air akan membantu etanol untuk menjerap
senyawa yang ada di dalam simplisia. Beda dengan simplisia yang tidak begitu kering,
maka digunakan etanol 96% untuk melakukan ekstraksi pada tanaman. Ekstraksi juga
dapat dilakukan dengan cara dingin ataupun panas bergantung pada sifat senyawa dari
tanaman tersebut. Apabila senyawa yang akan diisolasi adalah termostabil ekstraksi
dengan cara dingin ataupun panas tidak akan bermasalah. namun apabila senyawa yang
akan diisolasi adalah senyawa termolabil maka cara panas tidak boleh dilakukan karena
dapat merusak senyawa tersebut. Jadi ekstrasi yang dilakukan harus mengikuti berbagai
c.

pertimbangan dari sifat senyawa yang akan diisolasi.


Fraksinasi: Setelah melakukan proses ekstraksi kita dapat melanjutkan dengan proses
fraksinasi, intinya adalah memisahkan senyawa yang terkandung dalam suatu tanaman
berdasarkan tingkat kepolaran dari pelarut yang digunakan. Contohnya n-heksan (non
polar); etil asetat (semi polar); air (polar) sehingga senyawa dapat terpisah berdasarkan
kepolarannya. Proses fraksinasi ini dilakukan dengan menggunakan corong pisah untuk
memisahkan senyawa-senyawa yang terkandung. Dimulai dari senyawa non polar
terlebih dahulu, dimasukkan n-heksan ke dalam corong pisah yang berisi ekstrak,
dilakukan pengocokan lalu fraksi n-heksan (bagian atas) ditampung. Hal ini dilakukan
terus hingga fraksi n-heksan tidak berwarna/ jernih. Setelah jernih dilakukan pergantian
pelarut dari n-heksan ke etil asetat dan dilakukan hal yang sama seperti n-heksan. Ketika
fraksi etil asetat selesai maka akan didapatkan 3 fraksi yaitu fraksi n-heksan, etil asetat
dan air. Untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu kromatografi dilakukan uji dahulu
ke fraksi yang didapatkan apakah ada aktivitas terhadap suatu penyakit yang
diperkirakan. Lalu dilakukan kromatografi terhadap fraksi yang memiliki aktifitas

d.

terhadap penyakit tersebut.


Isolasi: Dalam tahap isolasi dapat menggunakan KCV (kromatografi cair vakum) atau
kolom konvensional, bergantung kebutuhan. KCV menggunakan vakum untuk membantu
suatu senyawa turun lebih cepat untuk melewati kolom silica namun karena terlalu cepat

kelemahannya adalah waktu kontak dengan silica akan semakin cepat juga sehungga
pemisahan yang terjadi kurang baik. Jika dengan menggunakan kolom konvensional
pemisahan akan lebih sempurna karena waktu kontak akan lebih lama karena hanya
memanfaatkan gravitasi bumi untuk eluen turun sehingga eluen yang membawa senyawa
akan turun lebih lama dan mengakibatkan pemisahan yang sempurna juga. Senyawasenyawa yang turun kemudian dipisahkan dan dilakukan klt untuk mengetahui bercakbercak sehingga dapat mengetahui pada vial keberapa senyawa yang diinginkan akan
e.

turun
Uji kemurnian: Untuk mengetahui apakah hanya terdapat satu senyawa dalam hasil
percobaan dapat dilakukan kromatografi dua dimensi. Metode ini dilakukan hampir sama
seperti KLT seperti biasa namun pada saat eluen mulai mencapai garis finis dilakukan
pembalikkan pelat KLT. Apalabila ketika dibalikkan hanya ada satu spot becak KLT maka

f.

senyawa tersebut dapat dikatakan murni.


Elusidasi struktur: Setelah mendapatkan senyawa yang murni, maka dilakukan
identifikasi struktur senyawa tersebut dengan menggunakan alat-alat analisis seperti
spektroskopi UV-Vis, Infrared, Mass Spektroskopi, C-NMR dan H-NMR. Maka
didapatkanlah struktur senyawa berkhasiat dari tanaman tersebut.
Hal-hal di atas merupakan gambaran umum dari proses isolasi. Namun untuk di

Indonesia sendiri masih sulit untuk melakukannya karena keterbatasan alat dan pelarut-pelarut
yang digunakan. Untuk mendapatkan pelarut organik memerlukan dana yang cukup besar dan
alat-alat seperti NMR masih sangat langka di Indonesia. Maka perlua adanya suatu perhatian
dari berbagai pihak untuk mengembangkan tanaman-tanaman herbal di Indonesia sehingga
tumbuhan asli Indonesiia dapat menjadi hak paten Indonesia bukan negara lain.