You are on page 1of 26

INDIKASI SEKSIO SESAREA

Pembimbing :
dr. Tigor P. Simanjuntak, SpOG, M Kes

Dibuat Oleh :
Stefani Larasati (0961050028)

RUMAH SAKIT PELABUHAN JAKARTA
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FAKULTAS KEDOKTERAN

Kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Kandungan
17 MARET – 10 MEI 2014

INDIKASI SEKSIO CAESAREA
REFARAT

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian
Akhir

STEFANI LARASATI
0961050028

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FAKULTAS KEDOKTERAN

Kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Kandungan
17 MARET – 10 MEI 2014

KATA PENGANTAR

kekurangan tersebut.OG. bimbingan. motivasi. Terima kasih penulis ucapkankepada : 1. 2. Simanjuntak.Tigor P.Puji dan syukur penulis panjatkan kepadaTuhan Yang MahaEsa. Jakarta. bimbingan. serta pengarahan yang diperoleh baik selama kepaniteraan berlangsung maupun pada saat kuliah pra-klinis. dokter pembimbing yang telah banyak menyediakan waktu. penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki kekurangan . Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam referat ini. Direktur Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta yang telah memberikan kesempatan penulis untuk mengikuti kegiatan kepaniteraan dan mempelajari ilmu penyakit Obsteri dan Ginekologi di RS Pelabuhan Jakarta 3. dengan berbekalkan pengetahuan. dr. April 2014 Stefami Larasati . sehingga referat Indikasi Seksio Sesarea ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.Oleh karena itu. dan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat dalam penulisan referat ini. Sp. karena berkat rahmat dan karunia-Nya. penulis telah mendapatkan kesempatan. Keluarga dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulisan referat ini. Referat mengenai Indikasi Seksio Sesarea ini disusun pada saat melaksanakan kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Kandungan pada periode 17 Maret – 10 Mei 2014.

(3. Caesarean section is commonly performed operation on women that is globally increasing in prevalence each year. Indikasi ABSTRACT Cesarean section is defined as the birth of a fetus through incisions in the abdominal wall (laparotomy) and the uterine wall (hysterotomy). Cultural changes and expectations in general population may have made the changing rate and indications for caesarean section seem more acceptable. Akhir-akhir ini tindakan seksio sesarea hanya dikarenakan oleh keputusan maternal tanpa adanya kelainan obstetrik atau indikasi pada fetal. dan gawat janin. malpresentation (4. cephalopelvic disproportion (6. Indication . The most common indications for caesarean were previous caesarean (7.7%). Kata Kunci : Seksio Sesarea. Pada studi yang dilakukan di beberapa negara di Asia Tenggara yang melibatkan South Eath Asia Optimising Reporoductive and Child Health in Developing Countries (SEA-ORCHID) project didapatkan sekitar 27% wanita telah menjalani seksio sesarea. Seksio sesarea merupakan tindakan operatif yang umum dilakukan pada wanita dan makin meningkat prevalensinya tiap tahun baik pada negara yang pendapatan perkapitanya tinggi maupun rendah. Recently caesarean section is only indicated by maternal request without any obstetric nor fetal indication.0%).3%). Perubahan budaya dan harapan oleh masyarakat umum telah membuat tindakan seksio sesarea lebih dapat diterima. Indikasi yang paling umum adalah riwayat seksio sesarea sebelumnya (7.3%).7%).3%). malpresentasi janin (4.3%).ABSTRAK Seksio sesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi di dinding abdomen (laparotomy) dan dinding uterus (histerektomi). Keyword : Caesarean Section. disporposi sefalopelvik (6. Study was done in few countries in South East Asian countries included South Eath Asia Optimising Reporoductive and Child Health in Developing Countries (SEA-ORCHID) project stated that overall 27% women had caesarean section. and fetal distress (3.0%).

3%). Thailand. 1 Seksio sesarea merupakan tindakan operatif yang umum dilakukan pada wanita dan makin meningkat prevalensinya tiap tahun baik pada negara yang pendapatan perkapitanya tinggi maupun rendah. Komplikasi kehamilan yang umum seperti pre-eklampsia dan pendarahan antepartum tidak sering dijadikan indikasi untuk seksio sesarea. dan Philipine.PENDAHULUAN I. Studi yang dilakukan melibatkan 4 negara anggota ASEAN yaitu Indonesia. dan gawat janin. INSIDEN SEKSIO SESAREA Seksio sesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi di dinding abdomen (laparotomy) dan dinding uterus (histerektomi). Akhir-akhir ini tindakan seksio sesarea hanya dikarenakan oleh keputusan maternal tanpa adanya kelainan obstetrik atau indikasi pada fetal. 3 .3%). namun hal ini tidak menjadi indikasi di Malaysia.2 Pada studi yang dilakukan di beberapa negara di Asia Tenggara yang melibatkan South Eath Asia Optimising Reporoductive and Child Health in Developing Countries (SEA-ORCHID) project didapatkan sekitar 27% wanita telah menjalani seksio sesarea. Di Philipine riwayat seksio sesarea sebelumnya merupakan indikasi yang paling umum. 2 Perubahan budaya dan harapan oleh masyarakat umum telah membuat tindakan seksio sesarea lebih dapat diterima. Thailand.0%). disporposi sefalopelvik (6. Didapatkan indikasi yang paling umum adalah riwayat seksio sesarea sebelumnya (7.7%). dan Philipine. malpresentasi janin (4. Sedangkan disporposi sefalopelvik merupakan indikasi paling sering di Thailand. (3. Malaysia. Di Indonesia dan Malaysia indikasi yang paling umum adalah malpresentasi janin. Begitu pula dengan permintaan ibu untuk tindakan seksio sesarea walaupun hal ini cukup umum di Indonesia. Pada studi ini didata 9 rumah sakit pada masing – masing negara dimana 7 diantaranya merupakan institusi dengan mayoritas rujukan ibu hamil resiko tinggi (tersier) dan 2 diantaranya merupakan rumah sakit provinsi (distrik).

associated care practices and health outcomes. Rata-rata seksio sesarea meningkat 14% menjadi 20% pada tahun 1990 – 1999.biomedcentral.com/1471-2393/9/17 Data statistik Organisation for Economic Coorperation and Development (OECD) menyatakan tingkat seksio sesarea meningkat dekade ini. dan Swedia. Norwagia. rates.Tabel 1 : Angka dan Indikasi Utama Seksio Sesarea Sumber : Caesarean section in four South East Asian countries : reasons for. 9 . Islandia. Sedangkan angka seksio sesarea tertinggi terjadi di Turki dan Meksiko (>40%). dan kemudian meningkat menjadi 26% pada tahun 2009. Negara yang angka seksio sesareanya paling kecil yaitu Belanda (14%) kemudian diikuti beberapa negara seperti Finlandia. http://www.

Tabel 2 : Seksio Sesarea per 100 kelahiran hidup 1990 – 2009 Sumber : Caesarean Sections http://www.html?itemId=/content/chapter/health_glance-2011-37-en .org/sites/health_glance-2011en/04/09/index.oecd-ilibrary.

hal ini tidak akurat. tumor pada jalan lahir). hidrosefalus) . Malposisi relatif dapat ditangani dengan persalinan pervaginam jika dilatasi maksimal telah tercapai. 5 . Kelainan pada jalan lahir (panggul sempit. mungkin terdapat disporposi sevalopelvik absolut atau disporposi sefalopelvik relatif akibat malposisi kepala. INDIKASI SEKSIO SESAREA MATERNAL II. 2. 3.II. anak besar. dahi. Tes lain yang dapat memprediksi disporposi sefalopelvik adalah ukuran sepatu. kekuatan mengejan kurang kuat) . Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan dalam 18 jam. namun hal.1 DISTOSIA Yang dimaksud dengan distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai adanya hambatan kemajuan dalam persalinan. namun beberapa wanita tetap memerlukan tindakan seksio sesarea. Hal ini dilakukan dengan melakukan manajemen aktif persalinan yaitu dengan tindakan amniotomi dan pemberian oksitosin. muka. tinggi ibu. Manajemen aktif persalinan akan meningkatkan kemajuan persalinan dan memicu persalinan normal. 1. 3 Pada praktek klinis. Kekuatan mendorong anak yang tidak memadai (kelainan his. setelah diagnosis dari kemajuan persalinan yang buruk dibuat. bokong. 3 Pelvimetri dengan pemeriksaan klinis ataupun radiologis dilakukan untuk mendeteksi disporposi sefalopelvik. Namun pelvimetri ini jarang digunakan kecuali pada kondisi yang jarang seperti jika ibu sebelumnya mengalami fraktur pelvis. Kelainan letak janin / kelainan fisik janin (presentasi bahu. Penggunaan partogram sebagai diagnosis awal dari persalinan yang lama diperkenalkan oleh WHO. Jika aktivitas uterus telah dioptimalkan dengan manejemen aktif namun persalinan masih tetap sulit. Penyebab distosia dapat dibagi dalam 3 golongan besar yaitu : 1. faktor mekanik mungkin terlibat. dan ukuran janin. 4 Distosia merupakan indikasi yang sangat sering untuk tindakan seksio sesarea. Distosia didiagnosis ketika dilatasi serviks pada fase aktif persalinan lebih lambat dari normal. hal yang pertama dilakukan adalah untuk mengoptimalkan aktivitas uterus.

1. Hal ini dilakukan akibat kekhawatiran akan rupturnya jaringan parut uteri sebelumnya saat persalinan sehingga tindakan seksio sesarea direkomendasikan. Sebaliknya insisi uterus klasik atau bentuk T dianggap kontraindikasi untuk VBAC. kecil kemungkinan mengalami robeknya jaringan parut pada kehamilan berikutnya. di mana 20. American College of Obstetricians and Gynecology kemudian mendesak agar percobaan persalinan pervaginam agar dilakukan lebih hari-hati. dan dua bayi menderita gangguan neurologis jangka panjang yang signifikan. Secara umum.II. Dua wanita memerlukan histerektomi.6 Syarat dilakukannya VBAC antara lain : 1  Jenis insisi uterus sebelumnya Pasien dengan jaringan parut melintang yang terbatas di segmen uterus bawah. angka terendah untuk ruptur dilaporkan terdapat pada insisi transversal rendah dan tertinggi pada insisi yang meluas ke fundus (insisi klasik). Studi ini melibatkan 8899 wanita yang melakukan persalinan percobaan . 3 Laporan ini memicu minat terhadap pelahiran pervaginam dengan riwayat seksio sesarea (Vaginal Birth After Caesarea / VBAC).9% melakukan persalinan pervaginam. 6 Namun ada pula laporan yang dipublikasikan di AS dan Kanada yang menyatakan bahwa VBAC lebih beresiko daripada yang diperkirakan. Wanita yang pernah mengalami ruptur uteri beresiko mengalami kekambuhan. Dilaporkan 12 wanita mengalami ruptur uteri saat berusaha melakukan persalinan pervaginam.1% kembali melakukan tindakan seksio sesarea dan 79. American College of Obstreticians and Gynecology menyimpulkan wanita dengan insisi vertical di segmen bawah uterus yang tidak meluas ke fundus dapat menjadi kandidat VBAC. tiga kematian perinatal.2 RIWAYAT SEKSIO SESAREA Salah satu dari indikasi yang paling umum dari tindakan seksio sesarea adalah riwayat seksio sesarea sebelumnya. Namun terdapat juga studi yang menyatakan amannya persalinan pervaginam setelah seksio sesarea. Idealnya wanita dengan riwayat ruptur uteri atau insisi klasik atau bentuk T melahirkan dengan seksio sesarea setelah paru janin matang .

Angka keberhasilan akan meningkat bila seksio seksaria dilakukan atas indikasi presentasi bokong atau gawat janin daripada distosia.1  Oksitosin Pemakaian oksitosin untuk menginduksi persalian dilaporkan menjadi penyebab ruptur uteri pada wanita dengan riwayat seksio sesarea. 1 .1  Jumlah seksio sesarea sebelumnya Resiko ruptur uteri meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya. Harus dipastikan tercapainya kematangan paru janin dengan analisis cairan amnion sebelum dilakukan seksio sesarea elektif. 1  Seksio sesarea elektif berulang Apabila direncanakan seksio sesarea berulang perlu dipastikan bahwa janin sudah matur sebelum persalinan elektif tersebut. Secara umum 60 – 80% persalinan pervaginam dengan riwayat seksio sesarea berhasil. American College of Obstreticians and Gynecologist berpendapat bahwa wanita dengan riwayat dua kali seksio sesarea insisi transversal rendah dapat dipertimbangkan untuk menjalani VBAC. American College of Obstreticians and Gynecologist telah membuat petunjuk mengenai penentuan waktu operasi elektif. Menurut kriteria ini. American College of Obstetricians and Gynecologist merekomendasikan pemantauan pasien secara ketat apabila digunakan oksitosin atau gel prostaglandin pada wanita dengan riwayat seksio sesarea yang menjalani percobaan persalinan pervaginam.dan para wanita tersebut diberi tahu mengenai bahayanya bersalin tanpa bantuan dan tanda-tanda kemungkinan ruptur uteri. Angka ruptur uteri meningkat lima kali lipat pada wanita dengan riwayat dua kali seksio sesarea dibandingkan dengan satu kali seksio sesarea. seksio sesarea elektif dapat dipertimbangkan pada atau setelah 39 minggu.1  Indikasi seksio sesarea sebelumnya Angka keberhasilan percobaan persalinan sedikit bergantung pada indikasi seksio sesarea sebelumnya.

Ketuban pecah dini juga lebih sering terjadi kalangan sosial ekonomi rendah. karena ketuban pecah dini secara langsung bertanggung jawab untuk infeksi neonatal pada sekitar sepertiga dari semua kelahiran. Ketika diagnosis ketuban pecah dini masih diragukan. tekanan (trauma tumpul rahim dan penggunaan kokain yang menyebabkan peningkatan tonus).Hal yang menyebabkan percobaan persalinan pervaginam jarang dilakukan setelah riwayat seksio sesarea sebelumnya terutama akibat pilihan maternal yang tetap menginginkan dilakukannya seksio sesarea kembali karena dianggap lebih aman dan nyaman daripada persalinan pervaginam.3 KETUBAN PECAH DINI Ketuban Pecah dini didefinisikan ketika selaput ketuban ruptur spontan sebelum fase aktif ketika dilatasi serviks kurang dari 4 cm. Pemeriksaan dengan speculum juga menegaskan kebocoran cairan. serviks inkompeten. 10 Ketuban peceah dini sering dihubungkan dengan beberapa komplikasi kehamilan seperti hipertensi. 10 Diagnosis ketuban pecah dini ditentukan oleh berbagai metode yang mendeteksi cairan ketuban dan komponennya. pengujian ulang harus dilakukan. dan amniocentesis.3 II. 10 . Ketika diagnosis ketuban pecah dini tidak jelas. dan memberikan komplikasi yang lebih sedikit. kondisi yang meningkatkan distensi uterus (kehamilan ganda dan hidramnion). Setidaknya 60 persen kasus ketuban pecah dini membran terjadi pada kehamilan aterm. Hal ini terjadi pada 5 – 10 % kehamilan. dan ibu usia muda. nyaman. perokok. Seringkali ketuban pecah dini didiagnosis dengan terlihatnya kebocoran cairan terus menerus yang tidak terlihat atau tidak berbau seperti urin. malformasi uterus. Teknik lainnya termasuk injeksi transabdominal. dilakukan penentuan pH dengan kertas nitrazin atau cairan amnion kristalisasi (ferning). Ketuban pecah dini telah menerima banyak perhatian dalam literatur obstetri dan sepatutnya begitu.1. Tenaga medis juga merasa tindakan seksio sesarea pada kasus ini lebih aman. termasuk dengan pemeriksaan USG.

10 Penanganan dari ketuban pecah dini ini masih kontroversial. 10 Wanita yang memasuki persalinan secara spontan kurang dari 24 jam memiliki prognosis yang paling baik bagi ibu dan bayi.Setelah mengkonfirmasi diagnosis ketuban pecah dini. tidak satupun dari studi awal ini mengamati keadaan ibu dan bayi di kelompok khusus perempuan yang memiliki serviks yang tidak menguntungkan untuk induksi persalinan. Jika induksi dicoba dengan oksitosin intravena. Sehingga pada akhirnya ketuban pecah dini menyebabkan peningkatan frekuensi kelahiran dengan metode seksio sesarea. Pasien harus terhidrasi dan diberikan antibiotic. Namun. usia kehamilan harus ditetapkan. Periode awal induksi oksitosin harus diberikan jika persalinan spontan tidak dimulai dalam waktu 24 jam dari pecahnya ketuban tanpa memperhitungkan usia kehamilan janin. frekuensi induksi gagal dan dilanjutkan dengan seksio sesarea mendekati 30 . 10 Serangkaian laporan yang mengkhawatirkan diterbitkan pada tahun 1960 1970 menunjukkan peningkatan yang substansial dalam frekuensi infeksi maternal dan neonatal ketika jarak waktu ketuban pecah dan persalinan memanjang. dapat terjadi infeksi dan prolaps tali pusat. Semakin lama waktu antara ketuban pecah dengan persalinan. Penundaan persalinan lebih dari 72 jam untuk menunggu onset persalinan spontan tidak memberikan manfaat klinis untuk ibu atau bayi dan meningkatkan resiko infeksi bagi ibu dan bayi. terutama jika pemeriksaan vagina dilakukan terlalu sering.5 % dari janin usia kehamilan 32 minggu menunjukkan pematangan paru -paru dan prognosisnya baik untuk dapat hidup di luar. jika hanya dilakukan tindakan observasi dengan harapan serviks menjadi matang untuk persalinan spontan. Bahkan ada penulis yang mengatakan bahwa persalinan lebih dari 72 jam dapat meningkatkan resiko kematian perinatal. Ada atau tidak adanya tanda persalinan. janin harus dimonitoring. 10 . sepsis atau gawat janin juga harus ditentukan. Sehingga laporan-laporan ini berpendapat sangat mendukung induksi segera setelah ketuban pecah dini terjadi. Sekitar 96. Dilema pada penanganan ketuban pecah dini ini melibatkan bagaimana cara terbaik untuk memberikan penanganan lebih lanjut pada pasien dengan ketuban pecah dini namun memiliki serviks yang tidak menguntungkan untuk induksi persalinan . semakin besar risiko infeksi .40 %. Sebaliknya.

beberapa penulis menggambarkan tingkat seksio sesarea lebih dari 80% pada kehamilan di bawah 30 minggu. 10 Karena ketuban pecah dini cenderung berulang pada kehamilan berikutnya. Beberapa penjelasan yang menghubungkan antara ketuban pecah dini dengan peningkatan seksio sesarea diantaranya adalah distosia. kondiloma vulvovaginal besar. Wanita yang sebelumnya telah menjalani operasi di daerah vagina atau perineum dapat diindakasikan seksio sesarea untuk menghindari kerusakan dari perbaikan bedah sebelumnya. kemudian didapatkan 100 kasus tersebut akhirnya seluruhnya menjalani seksio sesarea karena kegagalan kemajuan persalinan dan gawat janin. Namun penempatan tindakan seksio sesarea pada kasus ini masih merupakan hal yang kontroversial. faktor yang berhubungan dengan ketuban pecah dini harus dimodifikasi sebelum pasien mencoba hamil kembali. Demikian pula dalam pre-eklampsia. Sehingga ketuban pecah dini dapat menjadi salah satu indikasi untuk dilakukan tindakan seksio sesarea.1. Ibu dengan penyakit diabetes pada kehamilan banyak dilakukan seksio sesarea.7 . hal ini kemungkinan disebabkan sebagai usaha untuk mengurangi angka kematian janin intrauterine yang tak terduga yang terkait dengan janin makrosomia. dan leiomioma dari segmen bawah uterus yang mengganggu “engagement” kepala janin diindikasikan untuk dilakukan tindakan seksio sesarea. termasuk keganasan.Pada studi yang dilakukan di Roma terdapat 100 kasus ketuban pecah dini yang diamati. septa vagina obstruktif. 3 Lesi obstruktif pada saluran genital bawah. dalam upaya untuk menghindari infeksi selama kehamilan. disproporsi sefalopelvik. 10 II. Terapi antibiotik harus digunakan sebelum kehamilan pada wanita dan bahkan diberikan kepada pasangan seks mereka.4 PENYAKIT MATERNAL Tindakan seksio sesarea banyak dianjurkan pada maternal dengan berbagai penyakit seperti jantung. dan tidak adanya tekanan hidrostatik dari ketuban ketika sudah rupture sehingga menyebabkan kemajuan persalinan yang lambat dan meningkatkan resiko tindakan seksio sesarea.

Prevalensi HBsAg + pada wanita hamil di UK bervariasi antara 0. Intervensi kombinasi dengan antiretrovirus. dan tidak melakukan pemberian ASI dapat mengurangi resiko transmisi menjadi 1%.5 % dan bekurang menjadi 8% dengan pemberian antiretrovirus zidovudine. 5 Pemeriksaan serologi untuk hepatitis B harus ditawarkan pada semua wanita hamil. Imuboglobulin hepatitis B dan vaksin hepatitis B menurunkan transmisi dari ibu ke anak. Ulserasi genital dapat disertai nyeri namun juga dapat asimptomatik.5 – 1%. Wanita dengan infeksi HSV primer selama trimester ketiga kehamilan dapat ditawarkan tindakan seksio sesarea karena dapat mengurangi resiko infeksi neonatal.38%. Neonatal HSV dapat menyebabkan penyakit sistemik yang serius dan dikaitkan dengan angka mortalitas yang tinggi. Transmisi ibu ke bayi dapat terjadi saat persalinan maupun post natal. Vaksin dan immunoglobulin diberikan pada bayi saat lahir.5 . Jika tidak ada intervensi penularan HIV dari ibu ke anak dapat mencapai 25. Sebuah studi kohort prospektif dari Inggris melibatkan wanita dengan indeks massa tubuh 50 kg/m2 atau lebih dan mencatat kemungkinan peningkatan distosia bahu sehingga tindakan seksio sesarea dapat dipertimbangkan. Tindakan seksio sesarea tidak perlu dilakukan pada wanita dengan Hepatitis B karena belum ada bukti bahwa seksio sesarea dapat mengurangi transmisi ibu ke anak.7 Sejak tahun 1999 wanita hamil ditawarkan antenatal screening untuk HIV.Tidak ada bukti yang jelas mendukung tindakan seksio sesarea elektif untuk ibu dengan obesitas ekstrim. sehingga tindakan seksio sesarea pada infeksi HSV rekuren tidak diindikasikan secara rutin. Tindakan seksio sesarea harus tetap ditawarkan pada ibu yang menderita HIV karena mereduksi angka transmisinya. Transmisi saat persalinan dapat terjadi akibat mikroperfusi dari darah ibu ke sirkulasi bayi selama pemisahan plasenta atau janin dapat tertelan darah ibu. Prevalensi wanita hamil dengan HIV di London mencapai 0. seksio sesarea. cairan ketuban. 5 Infeksi herpes simplex virus genital merupakan penyakit menular seksual yang ditandai dengan ulserasi genital. Penularan pada neonatal dapat terjadi akibat kontak dari bayi baru lahir dengan jalan lahir dari ibu yang terinfeksi. dan sekret vagina. Sedangkan wanita dengan infeksi HSV rekuren tindakan persalinan dengan seksio sesarea tidak menjamin untuk menurunkan angka transmisi neonatal.

11 II.2 INDIKASI SEKSIO SESAREA FETUS II.2. Sehingga pemeriksaan dengan CTG banyak dikritik karena telah meningkatkan tindakan seksio sesarea yang sebenarnya tidak diperlukan. sehingga mengalami hipoksia. dan sering tidak akurat. gagal untuk memprediksi gawat janin.II. Sehingga diperlukan metode yang lebih akurat ntuk menentukan gawat janin.2 LETAK SUNGSANG Sekitar 4% dari seluruh kehamilan tunggal mengalami letak sungsang. namun hal ini masih sulit dilakukan. Namun setelah dilakukan tindakan seksio sesarea sekitar 78. antara lain: denyut jantung janin tidak teratur.1 GAWAT JANIN Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima O2 cukup. Tanda-tanda gawat janin.2. Banyak studi manyatakan intepretasi CTG tidak konsisten.8% tidak ditemukannya tanda-tanda gawat janin. 11 Pada suatu studi dikatakan adanya insiden yang cukup tinggi dari tindakan seksio sesarea yang diindikasikan gawat janin. denyut jantung janin > 160 x/menit. Untuk itu dilakukan pemeriksaan darah dari kulit kepala janin.2. Pada fetus yang dicurigai gawat janin yang dideteksi dengan cardiotocography (CTG) merupakan salah satu indikasi yang umum untuk tindakan seksio sesarea pada dekade terakhir. Hal ini menggambarkan keterbatasan CTG dalam mendeteksi gawat janin. pH darah janin kurang atau sama dengan 7. terjadi deselarasi lambat. denyut jantung janin < 100 x/menit. Presentasi bokong pada kehamilan akan berkurang seiring dengan meningkatnya usia . pengeluaran mekonium. Karena keterbatasan pemeriksaan ini maka diperkenalkan elektrokardiogram fetus (EKG) untuk medeteksi gawat janin. Banyak fetus yang menunjukan perubahan denyut jantung pada CTG tanpa adanya perubahan patologis pada jantung fetus.

cedera janin. Secara keseluruhan 88 % dari kehamilan dengan presentasi bokong di Inggris dan Wales dilakukan tindakan seksio sesarea ( 56 % elektif dan 44% darurat). 9 % usia kehamilan 33-36 minggu .1% . 4. 5 Bayi letak sungsang merupakan salah satu indikasi dilakukan seksio sesarea. persalinan dengan seksio sesarea yang elektif dapat menurunkan kematian perinatal dan neonatal.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan versi percobaan termasuk multiparitas.5 Ada studi yang menyatakan bahwa resiko kematian perinatal pada persalinan letak sungsang 2-5x lebih tinggi pada persalinan pervaginam daripada persalinan dengan tindakan seksio sesarea.84 % pada wanita multipara. Kelainan denyut jantung janin umumnya adalah bradikardia transient (1. monitor janin dipasang dan dipantau denyut jantung janin. atau dia dapat dilakukan induksi jika usia kehamilan yang sesuai.kehamilan : 3 % kehamilan aterm.1%) . pasien dipulangkan untuk menunggu persalinan spontan. Risiko versi sefalik eksternal meliputi pecah ketuban. Solusio plasenta (0. 5 Pada letak sungsang.5 Dilakukan usaha untuk memanipulasi janin dengan teknik "forward roll" atau "backward roll".1 %) . Versi sefalik eksternal biasanya dicoba di 36-38 minggu.16 %) .4% . dan tindakan sectio caesarea segera karena solusio plasenta. Jika pengujian denyut jantung janin adekuat.7 Versi sefalik eksternal dapat memberikan komplikasi meliputi . dan cairan ketuban normal dengan janin yang normal. 3. plasenta posterior. Masuk untuk induksi persalinan (3%).3 Resiko mortalitas perinatal / neonatal dan morbiditas yang serius pada persalinan seksio sesarea adalah 1.57 % dan 52 % .7 Jika versi ini berhasil. 18 % usia kehamilan 28-32 minggu . sedangkan pada persalinan pervaginam resiko mortalitas dan . Kontraindikasi relatif meliputi pertumbuhan janin yang buruk atau adanya anomali kongenital. Versi sefalik eksternal dilakukan dengan memberikan tekanan pada perut ibu untuk memutar janin untuk mencapai presentasi vertex. 2.6 % . Tingkat keberhasilan versi sefalik eksternal pada wanita primipara berkisar 35% . dan 30 % usia kehamilan kurang dari 28 minggu. 1.5 Untuk bayi dengan letak sungsang dahulu dapat dilakukan versi sefalik eksternal namun saat ini hal ini banyak ditinggalkan karena resiko yang besar bagi ibu dan janin. Perdarahan vagina tanpa rasa sakit (1.

Bayi yang lahir prematur juga memiliki peningkatan resiko morbiditas seperti cerebral palsy. metode persalinan tidak menunjukan efek yang signifikan bagi keadaan janin setelah lahir antara 24 – 28 minggu usia kehamilan. Saat melakukan persalinan pervaginam pada presentasi bokong denyut jantung janin harus terus dimonitor (setiap 15 menit ketika masuk kala I dan setiap 5 menit dalam kala II).5 Prematur dengan letak sungsang memiliki resiko lebih tinggi menderita kelainan kongenital (18%). Metode persalinan seksio sesarea pada persalinan prematur dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas.morbiditas adalah 5%. tindakan seksio sesarea dapat meningkatkan angka keselamatan bayi. Pada fetus di bawah 26 minggu atau di bawah 800 gram. Angka kematian pada bayi sungsang yang lahir 33 – 36 minggu sangat rendah dan tidak terkait oleh metode persalinan.3 FETUS PREMATUR Kelahiran prematur merupakan penyebab umum dari mortalitas neonatal (47%). namun ketika ukuran janin masih sangat kecil persalinan dengan seksio sesarea sulit dilakukan. Jika tidak ada penyulit bagi bayi prematur dengan letak sungsang dan kondisi fetus dan ibu baik. Walaupun begitu efek dari seksio sesarea yang elektif masih belum jelas. pilihan untuk metode persalinan dengan percobaan persalinan pervaginam atau tindakan seksio sesarea sulit ditentukan. 3 Pada prematur dengan presentasi kepala. Persalinan yang dikatakan adekuat dan maju jika ada pembukaan 0. 3 . 5 II.5 cm / jam dan penurunan janin ke rongga pelvis dalam 2 jam dari dilatasi serviks maksimal. oleh karena itu seksio sesarea sebaiknya tidak dilakukan secara rutin.2.5 Kelahiran prematur dikaitkan dengan tingginya morbiditas dan mortalitas neonatal.

Riwayat seksio sesarea sebelumnya bukan menjadi kontraindikasi absolut pada persalinan pervaginam dari kehamilan ganda ini. Hampir semua kehamilan triplet ( 92 % ) dilakukan tindakan seksio sesarea. Kebanyakan metode persalinan akan bergantung pada komplikasi fetal dan maternal. usia kehamilan saat persalinan. ada penelitian yang menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan pada kondisi janin ganda yang dilahirkan pervaginam dengan presentasi non-vertex dengan yang dilahirkan dengan . berat badan lahir rendah. 5 Metode persalinan yang dianjurkan pada kehamilan ganda sampai saat ini masih kontroversial.3 Tindakan seksio sesarea yang elektif pada usia 36 – 37 minggu memiliki resiko gangguan pernafasan pada bayi dibandingkan dengan tindakan seksio sesarea pada usia kehamilan 38 – 40 minggu. 5 Presentasi anak pertama dan kedua vertex merupakan presentasi yang paling umum pada kehamilan ganda dan pada kasus ini persalinan pervaginam masih dapat dilakukan.4 KEHAMILAN GANDA Kehamilan ganda adalah indikasi utama untuk seksio sesarea (1%). Sehingga tindakan seksio sesarea pada usia kehamilan sebelum 38 minggu tidak dianjurkan karena meningkatakan resiko gangguan pernafasan pada bayi. 3 Pada presentasi anak pertama vertex dan anak kedua non vertex. dan presentasi janin. Namun jika detak jantung janin tidak adekuat maka tindakan seksio sesarea harus dilakukan.II. Kematian perinatal dan morbiditas seperti cerebral palsy lebih tinggi pada kelahiran ganda dibandingkan kelahiran tunggal. namun tindakan seksio sesarea harus tetap ditawarkan pada ibu. Secara keseluruhan 59 % dari kehamilan ganda dilakukan seksio sesarea. (37 % elektif dan 63% darurat). Saat ini belum ada studi yang mengevaluasi waktu yang tepat untuk dilakukan seksio sesarea pada kehamilan ganda. Hal ini terkait dengan persalinan prematur.2.5 Sekitar 15 dari 1000 kehamilan adalah kehamilan ganda. Ada kenaikan tingkat kehamilan ganda dalam sepuluh tahun terakhir yang dikaitkan dengan penggunaan induksi ovulasi sebagai terapi infertilitas. Kehamilan ganda merupakan salah satu faktor resiko bagi kelahiran premature.

8 Hal yang ditakutkan dalam persalinan dengan fetus makrosomia adalah distosia bahu. dan ultrasonografi. Umumnya anak kedua secara signifikan lebih besar daripada anak pertama. Ketika persalinan tak maju maka ada kemungkinan terjadinya disporposi sefalopelvik. Satu dari empat bayi dengan distosia bahu saat persalinan mengalami cedera pleksus brakhialis atau nervus fasialis bahkan fraktur humerus maupun klavikula. tinggi fundus uterus dan palpasi dinding perut. Makrosomia meningkatkan angka seksio sesarea dan trauma pada fetus dan jalan lahir jika dilahirkan pervaginam. estimasi dokter oleh manuver Leopold. Makrosomia terjadi pada kurang lebih 10% kehamilan di Amerika Serikat. Namun beberapa penulis masih merekomendasikan seksio sesarea karena resiko morbiditas dan mortalitas pada anak kedua yang lebih rendah. Jika dilakukan induksi terlalu awal dapat meningkatkan kemungkinan persalinan seksio sesarea karena kegagalan induksi.3 Jika anak pertama non vertex metode persalinan dengan seksio sesarea sering direkomendasikan pada kasus ini karena sering terjadi “locked chins / head / twin entrapment“ yang menyebabkan kematian pada anak pertama dan hipoksia pada kedua anak. obesitas dan multiparitas.3 II. Ultrasonografi merupakan metode yang lebih akurat estimasi berat janin. 8 Tiga strategi yang dapat digunakan untuk mendeteksi makrosomia merupakan faktor risiko klinis.tindakan seksio sesarea. Faktor risiko lainnya adalah kehamilan post-term. sehingga rencana pertolongan yang matang harus disiapkan pada kehamilan ganda terutama pada presentasi non-vertex.5 MAKROSOMIA Makrosomia janin adalah dimana berat janin lahir lebih berat dari 4000 gram. Estimasi berat janin juga dapat diperkirakan melalui volume cairan ketuban.2. Faktor risiko yang terkuat untuk terjadinya makrosomia adalah diabetes maternal. 8 . Komplikasi kedua yang paling ditakutkan asfiksia namun hal ini lebih jarang.

Hal ini menunjukkan bahwa seksio sesarea elektif tidak direkomendasikan untuk makrosomia saja tanpa adanya komplikasi lain. kecuali perkiraan berat janin lebih dari 5000 g. sementara yang lain telah menganjurkan seksio sesarea dari semua bayi dengan cacat. 3 II.6 ANOMALI JANIN Berbagai kondisi anomali kongenital dikaitkan dengan tingkat seksio sesarea yang cukup tinggi. terutama pada wanita nullipara. 3 Satu studi mencatat tidak ada perbedaan dalam prognosis jangka panjang motorik atau neurologis dengan metode persalinan pervaginam maupun seksio sesarea.2. Dalam banyak kasus keputusan tentang metode persalinan pada anomali kongenital dibutuhkan pula bantuan pediatrik. Beberapa penulis mencatat ada hubungan antara metode persalinan dengan prognosis bayi. dan beberapa displasia skeletal.7 . Seksio sesarea diindikasikan pada kasus-kasus tertentu seperti hidrosefalus dengan diameter biparietal membesar. Tindakan seksio sesarea direkomendasikan untuk bayi dengan berat janin diperkirakan lebih besar dari 5000 gr.Sebuah studi telah menunjukkan bahwa kebanyakan bayi makrosomia (lebih dari 4000 gr) dapat lahir normal pervaginam dengan komplikasi yang rendah pada ibu dan janin.

3 II. keadaan serviks. pada kehamilan preterm. Manurut de Snoo pembagian plasenta .2 PLASENTA PREVIA Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal.4 Pada kejadian solusio plasenta prognosis bagi bayi untuk dilakukan persalinan pervaginam tidak menjanjikan. Namun pada studi lain mengatakan bahwa tindakan seksio sesarea hanya memiliki keuntungan kecil atau bahkan tanpa keuntungan pada kehamilan dengan solusio plasenta. dan kemungkinan komplikasi ostetrik lainnya sebelum menentukan metode persalinan. Solusio plasenta parsialis (bila hanya sebagian saja plasenta terlepas dari tempat perlekatannya) . yaitu pada segmen bawah rahim sehinggga menutupi sebagian / seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal). Pada kasus yang ringan. Menurut derajat lepasnya plasenta. Solusio plasenta totalis / komplet (bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat perlekatannya) .II. kebijakan untuk penanganan konservatif dapat diindikasikan untuk mencapai kematangan paru sampai usia yang cukup untuk persalinan. solusio plasenta terbagi menjadi 3 : 1.3 INDIKASI SEKSIO SESAREA UTEROPLASENTA II. 3.1 SOLUSIO PLASENTA Solutio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang normal implantasinya di atas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak. Prolaps plasenta (jika plasenta turun ke bawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam).3. 2. Pada sebuah studi didapatkan angka mortalitas yang lebih tinggi pada persalinan pervaginam dibandingkan dengan tindakan seksio sesarea.3.3 Pada kondisi solusio plasenta yang tidak terlalu berat penting untuk mempertimbangkan faktor lain seperti tanda-tanda gawat janin.

3.5 Pada plasenta previa derajat ringan (tingkat I – plasenta previa lateral ketika pinggir bawah plassenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim.4 Diagnosis plasenta previa biasanya merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan seksio sesarea.3 Seksio sesarea harus dilakukan ketika plasenta menutupi ostrium uteri interna pada kehamilan 36 minggu (tingkat III – plasenta previa komplit ketika plasenta menutupi ostium waktu tertutup dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap dan tingkat IV – plasenta previa sentralis ketika plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap). Plasenta previa lateralis (bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi plasenta) .previa adalah : 1. Plasenta previa marginalis (bila sebagian kecil / hanya pinggir ostium yang ditutupi plasenta). Plasenta previa sentralis / totalis (bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium . Plasenta previa menyebabkan pendarahan tanpa rasa nyeri. Wanita yang dilakukan tindakan section caesarea atas indikasi plasenta previa akan kehilangan darah lebih banyak > 1000 ml dibandingkan dengan mereka yang melakukan tindakan seksio sesarea atas indikasi lain. namun tidak sampai ke pinggir pembukaan dan tingkat II – plasenta previa marginal ketika plasenta mencapai pinggir pembukaan / ostium) dan kepala fetus sudah masuk panggul. Percobaan persalinan pervaginam ini dilakukan di ruang operasi untuk antisipasi jika pada akhirnya tindakan seksio sesarea harus dilakukan. 2.3 Plasenta letak rendah yang terdeteksi pada usia kehamilan 20 minggu masih bisa berubah. 5 . percobaan persalinan pervaginam dapat dilakukan.

Ketika ibu ingin melakukan tindakan seksio sesarea maka para obstetric harus mengevaluasi alasan mereka untuk memilih tindakan seksio sesarea. The International Federation of Obstetrics Gynecology yang menyatakan bahwa “melakukan tindakan section caesarea tanpa adanya indikasi medis tidak dibenarkan”. 6 Diperkirakan 6-10% wanita hamil mengalami ketakutan akan kelahiran bayi. Misalnya. Ketakutan tersebut meliputi rasa nyeri.II. cedera jalan lahir. 6 . dan apakah ibu memili hak untuk memilih metode persalinan. Melakukan seksio sesarea jika tidak ada indikasi klinis dahulu dianggap tidak pantas. Pandangan ACOG tentang tindakan section caesarea akibat pilihan ibu bertentangan dengan organisasi lain. tetapi pandangan tersebut saat ini mungkin berubah.4 INDIKASI SEKSIO SESAREA ATAS PERMINTAAN IBU Terjadi peningkatan tindakan seksio sesarea atas indikasi permintaan ibu dalam ketiadaan indikasi obstetrik (Caeseran Delivery On Maternal Request / CDMR).5% wanita memutuskan untuk melakukan persalinan dengan seksio sesarea tanpa adanya indikasi medis. tidak yakin dengan tenaga kesehatan. FIGO Committee for the Etnical Aspects of Human Reproduction menyatakan bhawa tidak etis untuk melakukan tindakan section caesarea tanpa adanya indikasi medis. ACOG menyatakan bahwa pilihan pasien harus dihargai dan didukung selama hal itu tidak bertentangan kode etik dan tidak mengancam keselamatan ibu dan janin. 3 Pada suatu studi oleh National Hospital Discharge Survey 1991 – 2004 mendata tindakan seksio sesarea yang diindikasikan oleh pemintaan ibu. terdapat 1. Namun saat ini Amerikan College of Obstetrican and Gynecologist (ACOG) berpendapat bahwa keputusan pasien untuk melakukan tindakan operasi apapun harus didiskusikan dengan baik antara dokter dengan pasien.5 Dahulu hubungan antara dokter dan pasien masih didominasi oleh otoritas dokter sehingga keputusan pasien hampir tidak pernah dipertimbangkan untuk menenukan metode persalinan. 6 Tindakan seksio sesarea yang dilakukan atas permintaan ibu masih diperdebatkan. Hal yang diperdebatkan adalah mengenai resiko dan keuntungan seksio sesarea jika dilakukan atas keputusan ibu.

CDMR memiliki potensi yang bermanfaat untuk penurunan risiko perdarahan bagi ibu dan penurunan risiko cedera kelahiran untuk bayi . NIH lebih lanjut mencatat bahwa prosedur CDMR memerlukan konseling individual yang memberikan informasi dari potensi risiko dan manfaat dari kedua persalinan pervaginam dan seksio sesarea.7 Keputusan untuk melakukan tindakan seksio sesarea elektif mungkin terkait dengan tingginya status sosial ekonomi pada budaya tertentu seperti Amerika Latin. 2.Pada tahun 2006. CDMR harus dihindari oleh wanita ingin memiliki beberapa anak . 4. CDMR dapat meningkatkan risiko plasenta previa dan plasenta akreta akibat tidakan seksio sesarea itu sendiri. 5 Klinisi memiliki hak untuk menolak permintaan ibu untuk section caesarea bila tidak ditemukan alasan yang mendukung. Ketika wanita yang meminta tindakan seksio sesarea memiliki ketakutan unutk melahirkan. National Institutes of Health ( NIH ) mengadakan konferensi konsensus untuk mengatasi tindakan CDMR. CDMR memiliki potensi risiko masalah pernapasan untuk bayi dikaitkan dengan tinggal di rumah sakit lebih lama . CDMR tidak boleh dilakukan sebelum minggu ke-39 kehamilan atau tanpa memperhitungkan kematangan paru janin . Namun permintaan ibu tetap harus dihargai dan dipertimbangkan. atau peningkatan permintaan dari keterlibatan ibu untuk menetukan metode dan waktu persalinan. NIH kemudian merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut : 1. 3. 5. mereka harus ditawarkan konseling untuk membantu mereka mengatasi ketakutannya.5 .3 Ibu yang meminta tindakan seksio sesarea tanpa adanya indikasi dan alasan yang jelas harus diinformasikan mengenai persalinan pervaginam keuntungan dan resikonya dibandingkan dengan seksio sesarea.

KESIMPULAN Persalinan merupakan proses yang sulit. .III. dan menyadari resiko serta komplikasi yang mungkin terjadi dengan dilakukannya tindakan operatif ini untuk mengoptimalkan keamanan dari tindakan seksio sesarea. distosia. Tindakan seksio sesarea dapat mengindari kesulitan persalinan melalui jalan lahir akibat disporposi sefalopelvik. dan gawat janin.3 Di antara wanita yang memiliki bekas luka uterus (miomektomi transmural sebelumnya atau kelahiran sesar dengan insisi klasik). kekuatan uterus yang tidak adekuat. kelahiran seksio sesarea harus dilakukan sebelum awal persalinan untuk mencegah risiko rupture rahim. Saat ini hal yang paling menonjol yang banyak terlihat di negara maju adalah tindakan seksio sesarea atas permintaan ibu sendiri tanpa adanya indikasi medis. Indikasi yang paling umum ditemukan adalah riwayat seksio sesarea.3 Tenaga kesehatan terutama obstetrik harus mempertimbangkan indikasi untuk dilakukannya tindakan seksio sesarea . dan sebagainya. letak sungsang. bidan.7 Jelas bahwa faktor-faktor penentu tingkat seksio sesarea terletak pada sikap dokter kandungan. Tingkat seksio sesarea makin meningkat dengan indikasi yang bervariasi. para ibu dan keluarga mereka.

org/docserver/download/8111101ec037. Cunningham FG. 2003. 591 – 600.21. American Family Physician. Cesarean section for suspected fetal distress. Ed ke . 2008 Dec . 75(12):1249-1252. . Gant NF. 2004. Martaadisoebrata D. 2009 May 9. (Cited 2014 Mar 20). associated care practices and health outcomes. Indian Journal of Pediatrics.pdf?expires=13982743 22&id=id&accname=guest&checksum=77B525EA25961E69EA57CE 15540094AF 10. Jamil U. 4. American College of Obstetricians and Gynecologist. rates.nice. 2014. Wijayanegara FF.oecdilibrary. (updated 2014 Mar 13 . Tanfer K. Cesarean delivery. Available from : http://www. 8. Bratakoesoma DS. 2. et al.pdf 6. London. Baruah J.medscape. Maghami SG.org. RCOG Press. 11. Penn Z. 9.108(6):1506-1516. 3. 2010 . Management of suspected fetal macrosomia. Health at a Glance : OECD Indicator Caesarean Sections. Isaacs C. Kumar S.com/article/263424-overview#aw2aab6b3. Obstetri Patologi. Available from : http://www. cited 2014 Mar 15). Jakarta : Buku Kedokteran ECG. 7. 5. 2010. Biggs W. Joesch JM. Chapter 23. Leveno KJ.15(1):1-15. Festin MR. and decision to delivery time. continuous fetal heart monitoring. Nanu D.DAFTAR PUSTAKA 1. Zamorski MA. Joy S. New York : McGraw-Hill. et al. Early rupture of membrane a risk factor for caesarean section in term pregnancy. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology. 63(2):302 – 306. Ed ke-2. Available from : http://emedicine. et al. 2001. Pattanittum P. 2011 (cited 2014 Mar 20). Williams Obstetrics. University of Galati. p. 2013. National Collaborating Centre for Women’s and Children Health. BMC Pregnancy Childbirth. Gosmann GL. Caesarean section in four South East Asian countries : reasons for.uk/nicemedia/pdf/CG013fullguideline. Hussin AK. Laopaiboon M. et al. 2009. Roy KK. Indications for caesarean section. Caesarean Section. Trends in Maternal Request Cesarean Delivery From 1991 to 2004. Seksio Sesarea. 9(17):1-11.