You are on page 1of 55

ASKEP LANSIA DENGAN GANGGUAN

PSIKOLOGIS (DEPRESI)

A.

Latar Belakang
Keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan
upayapemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai
masa tua yang sehat, bahagia,berdaya guna dan produktif.
keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upaya
pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa
tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif.proses menua yang
dialami oleh lansia menyebabkan mereka mengalami berbagai perasan
sedih,cemas,kesepian, dan mudah tersinggung dan depresi. Jika lansia
mengaklami gangguan tersebut maka kondisi tersebut dapat menggangu
kegiatan sehari-hari lansia.mencegah dan merawat lansia dengan masalah
tersebut adalah hal yang sangat penting dlamupaya mendorong lansia
bahagia sejahtera di dalamkeluarga serta masyarakat.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :

1.

Apakah pengertian lansia dan batasan lansia ?

2.

Apakah yang dimaksud dengan proses menua ?

3.

Bagaimanakah teori-teori proses menua ?

4.

Apakah pengertian depresi ?

5.

Apakah faktor predisposisi dan pencetus ?

6.

Apakah tanda dan gejala depresi serta ciri-ciri depresi ?

7.

Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia dengan depresi ?

C.

Tujuan
1.

Untuk menetahui pengertian lansia dan batasan usia.

2.

Untuk mengetahui dan mengerti proses menua.

3.

Untuk mengetahui teori teori proses menua.

4.

Untuk mengetahui apa itu depresi

5.

Untuk mengetahui faktor predisposisi dan faktor pencetus


depresi

6.

Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi.

7.

Untuk mengetahui asuhan keperawatan lansia dengan


depresi.

D.

Manfaat
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
mengenai lansia beserta bagian-bagian penting dan asuhan keperawatan
lansia dengan depresi. Dengan penyusunan makalah ini, juga diharapkan
dapat menjadi acuan untuk lebih mengetahui apa yang menjadi tujuan
penyusunan makalah ini.

E.

Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah asuhan keperawatan lansia dengan
depresi penulis menggunakan metode study pustaka, pengetikan dan
pengeditan serta browsing internet.

BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

A.
1.

Tinjauan tentang Lansia

Pengertian lansia
Menurut organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle
age) kelompok usia45-70 tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun
usia tua (old) antara 75-90thn usia dangat tua(very old) diatas 90
tahun.
Menurut prof koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang
yg berumur 65 tahun keatas. Sebenarnya lanjut usia adalah suatu
proses alami yang tidakapat ditentukan oleh tuhan yang maha esa
(wahyudi nugroho,2000)
2. Batasan-batasan Lansia

Batasan seseorang dikatakan Lanjut usia masih diperdebatkan


oleh para ahli karena banyak faktor fisik, psikis dan lingkungan yang
saling mempengaruhi sebagai indikator dalam pengelompokan usia
lanjut. Proses peneuan berdasarkan teori psikologis ditekankan pada
perkembangan).

World

Health

Organization

(WHO)

mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut :


1. Middle Aggge (45-59 tahun)
2. Erderly (60-74 tahun)
3. Old (75-90 tahun)
4. Very old (> 91 tahun)
Menurut Birren dan Renner dalam Johanna E.P (1991; 75) usia
biologis dabat diberi batasan sebagai suatu estimasi posisi seseorang
dalam hubungannya dengan potensi jangka hidupnya. Menurut
Eisdoefer dan Wilkie dalam Johanna, EP (1993, 75) mengatakan
bahwa usia biologis adalah proses genetik yang berhubungan waktu,
tetapi terlepas dari stres, trauma dan penyakit. Seseorang dikatakan
muda secara biologis apabila secara kronologis tua, tetapi organ-organ
tubuhnya, seperti jantung, ginjal, hati, saluran pencernaan, tetap
berfungsi seperti waktu muda.
Usia psikologis adalah kapasitas individu untuk adaptif dalam
hal ingatan, belajar, intelegnsi, keterampilan, perasaan, motivasi dan
emosi. Apabila hal ini masih baik dan stabil dapat dikatakan secara
psikologis ia masih dewasa.

Usia sosial menekankan peran dan kebiasaan seseorang dalam


hubungannya dengan orang lain dan menjalankan perannya dengan
penuh tanggung jawab di mayarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tua :
1. Herediter
2. Nutrisi
3. Status Kesehatan
4. Penglaman hidup
5. Lingkungan
6. Stres
7. Proses penuaan

1.

Pengertian
Aging proses adalah suatu periode menarik diri yang tak
terhindarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi antara lansia
dengan orang lain di sekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk
mempersiapkan dirinya menghadapi ketidamampuan dan bahkan
kematia (Cox, 1984).
2.

Teori-teori Proses Penuan


1) Teori Biologi

Perubahahn biologi yang berasal dari dalam(intrinsik)/ Teori


Genetika
a) Teori jam biologi (Biological clock theory), Proses menua
dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan dari dalam. Umur
seseorang seolah-olah distel seperti jam.
b) Teori menua yang terprogram (program aging theory), sel
tubuh manusia hanya dapat membagi diri sebanyak 50 kali.
c) Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada
saatnya akan mengalami mutasi.
d) The Error Theory, Pemakaian dan rusak kelebihan usaha
dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
Perubahan biologik yang berasalah dari luar/ekstrinsik (Teori
Non Genetika).
a) Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal
bebas

sebagai

akibat

pencemaran

lingkungan

akan

menimbulkan perubahan pada kromosom pigmen dan


jaringan kolagen.
b) Teori

imunlogi,

perubahan

jaringan

getah

bening

akanmengakivbatkan ketidakseimbangan sel T dan terjadi


penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh, akibatnya usia
lanjut mudah terkena infeksi.
2) Teori Psikologik
a) Maslow Hierareky Human Needs Theory

Teori Maslow mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia


yang meliputi 5 hal (kebutuhan biologik, keamanan da
kenyamanan , kasih sayang, harga diri, aktualisasi diri dan
aktualisasi diri.
b)Jungs Theory of invidualsm
Teori individualism yang dikemukakan Carl Jung (1960)
mengungkapkan perkembangan personality dari anak-anak,
remaja, dewasa muda, dewasa pertengahan hingga dewasa
tua (lansia) yang dipengaruhi baik dari internal maupun
eksternal.
c) Course of Human Life Theory
Chorlotte Buhler juga merupakan penganut teori psikologik
dengungkapkan bawa teori perkembangan dasar manusia
yang difokuskan pada identifikasi pencapaian tujuan hidup
seseorang dalam melalui fase-fase perkembangan.
d) Eight Stages of Life Theory
Teori Eight Stages of Life yang dikemukakan Erikson
(1950) adalah suatu teori perkembangan psikososial yang
terbagi atas 8 tahap, yang mempunyai tugas dan peran yang
perlu diselesaikan dengan baik :

Tahap Masa bayi timbul kepercayaan dasar (basic trust)


I
Tahap
II

Tahap penguasaan diri (autonomi)

Tahap
III

Tahap inisiatip

Tahap Timbulnya kemauan untuk berkarya (Industriousness)


IV

Mencari identitas diri (Identy)

Tahap
V
Tahap
VI

Timbulnya keintiman (Intimacy)


Mencapai kedewasaan (generativity)
Memasuki usia lanjut akan mencapai kematangan

Tahap
VII

kepribadian (ego Integrity), dia merupakan orang yang


memiliki integritas dalam kepribadian sehingga mampu
berbuat untuk kepentingan umum. Kegagalan pada tahap

Tahap ini akan menyebabkan cepat putus asa.


VIII

Tahap VIII
Demikian juga dengan teori Developmental Task yang
dikemukakan Havighurst (1972) bahwa masing-masing
individu melalui tahap-tahap perkembangan secara spesifik
dan terjadi variasi/perbedaan antara individu satu dengan
lainnya.
Tahap perkembangan ini harus dilalui dengan baik sehingga individu akan
merasakan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
Peran Perawat pada klien lansia sesuai Proses Penuaan.

Proses Perawatan Kesehatan bagi para Lansia merupakan tugas yang


membutuhkan suatu kondisi yang bersifat komprehnsif sehingga diperlukan
suatu upaya penciptaan suatu keterpaduan antara berbagai proses yang dapat
terjadi pada lansia. Untuk mencapai tujuan yang lebih maksimal, konsep dan
strategi pelayanan kesehatan bagi para lansia memegang peranan yang sangat
penting dalam hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai unsur pelaksana.
1. Perubahan- perubahan yang terjadi pada lansia
1. Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria,
endokrin dan integumen.
Sistem pernafasan pada lansia.
1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara
inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga
potensial terjadi penumpukan sekret.
3)

Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga

jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada
pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
4)

Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan

normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi.

5)

Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose

oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.


6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga
menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7) Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium
dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

Sistem persyarafan.
1)

Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.

2)

Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.

3)

Mengecilnya syaraf panca indera.

4)

Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf

pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya
ketahanan terhadap dingin.
Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.
1. Penglihatan
1) Kornea lebih berbentuk skeris.
2) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).

4)

Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap

kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.


5) Hilangnya daya akomodasi.
6) Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
7) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.
1. Pendengaran.
1) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :
Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas,
sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
2) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
3) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya
kreatin.
1. Pengecap dan pembau.
1) Menurunnya kemampuan pengecap.
2) Menurunnya kemampuan membau sehingga mengakibatkan selera makan
berkurang.
1. Peraba.
1) Kemunduran dalam merasakan sakit.
2) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.


1. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
2. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah
berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan
volumenya.
3. Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan
posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah
menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
1. Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer (normal 170/95 mmHg ).
Sistem genito urinaria.
1. Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal
menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %,
fungsi

tubulus

berkurang

akibatnya

kurangnya

kemampuan

mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1


) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap
glukosa meningkat.
2. Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya
menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat,
vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga
meningkatnya retensi urin.
3. Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.

4. Atropi vulva.
5. Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga
permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya
lebih alkali terhadap perubahan warna.
6. Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi
kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.
Sistem endokrin / metabolik pada lansia.
1. Produksi hampir semua hormon menurun.
2. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
3. Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di
pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan
LH.
4. Menurunnya aktivitas tiriod BMR turun dan menurunnya daya
pertukaran zat.
5. Menurunnya produksi aldosteron.
6. Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.
7. Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari
sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa
(stess).
Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.

1. Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa


terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang
buruk dan gizi yang buruk.
2. Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir,
atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf
pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
3. Esofagus melebar.
4. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam
lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
5. Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
6. Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
7. Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan,
berkurangnya aliran darah.
Sistem muskuloskeletal.
1. Tulang kehilangan densikusnya rapuh.
2. Resiko terjadi fraktur.
3. Kyphosis.
4. persendian besar & menjadi kaku.
5. Pada wanita lansia > resiko fraktur.
6. Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.

7. Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan


berkurang ).
Perubahan sistem kulit & karingan ikat.
1. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya
jaringan adiposa
3. Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak
begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.
4. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran
darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.
5. Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan
luka luka kurang baik.
6. Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
7. Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna
rambut kelabu.
8. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang
menurun.
9. Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
10.Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang
banyak rendahnya akitfitas otot.
Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.

1. Selaput lendir vagina menurun/kering.


2. Movarium dan uterus.
3. Atropi payudara.
4. Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara
berangsur berangsur.
5. Dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi
kesehatan baik.
6. Perubahan-perubahan mental/ psikologis
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
1. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
2. Kesehatan umum
3. Ttingkat pendidikan
4. Keturunan (herediter)
5. Lingkungan
6. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
7. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
8. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan
famili
9. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran
diri dan perubahan konsep diri

Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering
berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh
karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.
Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai
berhari-hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka
pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk.
Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan
perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan
psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanantekanan dari faktro waktu.
1. Perubahan Spiritual
Agama

atau

kepercayaan

makin

terintegarsi

dalam

kehidupannya

(Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini


terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari.

1. B.

Tinjauan tentang Depresi


1. Pengertian Depresi

Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen
psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta
komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan
darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan dapat
digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom,
keadaan emosional, reaksi penyakit/ klinik.(stuart dan sundeer,1998)

Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan


dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap
pada individu yang bersangkutan.

1. Faktor predisposisi dan faktor pencetus


Faktor Predisposisi:
1. Faktor genetik dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan afektif
melalui riwayat keluarga atau keturunan.
2. Teori agresi menyerang kedalam,menunjukan bahwa depresi terjadi
karena perasaan marah yang dtujukan kpd diri sendiri.
3. Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu
dengan benda atau yang sangat berarti.
4. Teori organisasi keprbdian menguraikan bagaimana konsep dri yang
negatif dan harga diri rnudah mempengaruhi sistem keyakinan dan
penilaian seseorang terhadap stressor.
5. Model kognitif menyatakan bahwa deprsi merupakan masalah kognitif
yang di dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap dari seseorang,
dunia seseorang dan masa depn seseorang.
6. Model ktidakberdayaan yang dipelajari menunjukan bahwa bukan
semata-mata trauma menyebabkan depresi tapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mempnyai kendali terhadap hasil yang penting dalam
kehidupannya oleh karena itu ia mengulngi respon yang adaptif.

7. Model perilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial yang


mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif
dalam berinteraksi dengan lingkngan.
8. Model biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi selma
masa depresi. Termasuk defisiensi ketokolamin, disfungsi endokrin,dan
hiperskresi kortisol
Stresor Pencetus
1. Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang di bayangkan, termasuk
kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan,atau harga diri.
karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan maka
persepsi pasien merupakan hal yg sangat penting
2. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah yang
dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Peran

dan

ketegangan

peran

telah

dilaporkan

mempengaruhi

perkembangan depresi, trutama pada wanita.


4. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau penyakit fisik dan
gangguan keseimbangan metabolik, dapat mencetuskan gangguan alam
perasaan.

Diantra

obat-obatan

termasuk

tersebut

terdapat

obat

antihipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan.


Kebanyakan penyakit kronik yg melemahkan tubuh juga sering disrtai
dengan depresi. Depresi yg terdapat pada usia lanjut biasnya bresfat
kompleks karena untuk menegakan diagnosis sering melibtkan evaluasi
dari kerusakan otak orgnik dan depresi klinik.

1. Tanda Dan Gejala Depresi


Frank J.Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa
ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
1. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan
yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.
2. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat
sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika
kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah
makan.
3. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor
penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak
banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
4. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami
depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya
dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Ya,kan? saya tidak
mengalami depresi?.dilain pihak, seseorang lainnya yang mengalami
depresi mungkin akan gampang letih dan lemah.
5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk
mengatakan atau merasa,saya selalu merasah lelah atau saya capai. Ada
anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional,
bukan faktor biologis.
6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak
efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti,
saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai banyak
kemajuan, seringkali terjadi.

7. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk


memecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi
merasa kesulitan untuk menfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah
untuk jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi adalah,
saya tidak bisa berkonsentrasi..
8. Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan
alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan,
terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya
menjadi gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga
diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara
tidak langsung.
9. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang
sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung.
Frank menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk setiap
orang. tetapi merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau lima
atau lebih dari tanda-tanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka
sangat mungkin seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika seseorang
mnegalami gejala pada nomor 9, yakni punya keinginan untuk bunuh diri,
maka Frank menganjurkan seseorang untuk segera mencari bantuan
profesional secepat mungkin.

1. Ciri-Ciri Depresi
Ciri-ciri tiga macam depresi (Tumlahaye,1998).

Kehilangan

semangatPatah

(ringan)

(serius)

Mental

semangat

Kritik

diri

Ragu-ragu

sendiri

Kemurkaan

Kemarahan

Kasihan diri sendiri

Kasihan diri

Kehilangan

Penolakan

diri

sendiri

sendiri

Putus asa (berat)

Kepahitan
Kasihan diri sendiri

nafsu

makan

Kelesuan
Pengungsian diri

Fisik

Tidak dapat tidur

Kecemasan
Kepasifan

Penampilan yang tidak Menangis


teratur
emosiona Ketidakpatuhan

Keadaan yang Tiada harapan

sulit

Kesedihan
Mudah tersinggung

kesepian

Skizophegenia
Penderita
Keadaan tertinggal

Ragu-ragu akan tuhan

Kemarahan

akan

sabda-sabda tuhan

Tidak senang akan Menolak akan Acuh tak acuh akan


tuhan

tuhan

Spiritual Tidak berterima kasih


dan tidak percaya

nasehat
Mengeluh

terhadap tuhan

Tidak

terhadap tuhan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI

1. A.

Pengkajian
1. Identitas diri klien
2. Struktur keluarga : Genoogram

percaya

3. Riwayat Keluarga
4. Riwayat Penyakit Klien
Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala
karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.
1. Kaji adanya depresi.
2. Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat,
seperti geriatric depresion scale.
3. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan
4. Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga.

Lakukan observasi langsung terhadap :

1. Perilaku.
Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan melakukan
aktivitas hidup sehari-hari?
Apakah klien menunjukkan perilaku yang tidak dapat diterima secara
sosial?
Apakah klien sering mengluyur danmondarmandir?
Apakah

ia

menunjukkan

perseveration phenomena?

sundown

sindrom

atau

1. Afek

Apakah kilen menunjukkan ansietas?

Labilitas emosi?

Depresi atauapatis?
lritabilitas?
Curiga?
Tidak berdaya?
Frustasi?
1. Respon kognitif
Bagaimana tingakat orientasi klien?
Apakah klien mengalamikehilangan ingatan tentang halhal yang baru
saja atau yang sudah lamaterjadi?
Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau mengabstrakan?
Kurang mampu membuat penilaian?
Terbukti mengalami afasia, agnosia, atau,apraksia?

1. Luangkan waktu bersama pemberi asuhan atau keluarga

1. Identifikasi pemberian asuhan primer dan tentukan berapa lama ia


sudah menjadi pemberi asuhan dikeluarga tersebut.
2. ldentifikasi sistem pendukung yang ada bagi pemberi asuhan dan
anggota keluarga yang lain.
3. Identifikasi pengetahuan dasar tentang perawatan klien dan sumber
daya komunitas (catat hal-hal yang perlu diajarkan).
4. Identifikasi sistem pendukung spiritual bagi keluarga.
5. Identilikasi kekhawatiran tertentu tentang klien dan kekhawatiran
pemberiasuhan tentang dirinya sendiri.

Klasifikasi Data
o Data Subyektif
1. Lansia Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.
2. Sering mengemukakan keluhan somatic seperti ; nyeri abdomen dan
dada, anoreksia, sakit punggung,pusing.
3. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan
hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
4. Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk konsentrasi.

Data Obyektif
1. Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk
dengan sikap yang merosot.
2. Ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang
diseret.
3. Kadang-kadang dapat terjadi stupor.
4. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering
menangis.
5. Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi
terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak
mempunyai daya khayal.

Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak
masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi. Kadangkadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah
tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. Pada pasien depresi juga
mengalami kebersihan diri kurang dan keterbelakangan psikomotor.

1. B.

Diagnosa Keperawatan
1. Mencederai diri berhubungan dengan depresi.
2. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif.

1. C.
DX I

Rencana Tindakan Keperawatan


: Mencederai diri berhubungan dengan depresi.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam lansia tidak
mencederai diri.
Kriteria Hasil:
1. Lansia dapat mengungkapkan perasaanya.
2. Lansia tampak lebih bahagia.
3. Lansia sudah bisa tersenyum ikhlas.
Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya dengan lansia.
Rasional : hubungan saling percaya dapat mempermudah dalam mencari datadata tentang lansia.
1. Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati
dan Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih
banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan,
anggukan.

Rasional : Dengan sikap sabar dan empati lansia akan merasa lebih diperhatikan
dan berguna.
1. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri. Jauhkan
dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai
dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.
Rasional : Meminimalkan terjadinya perilaku mencederai diri

DX 2 : Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping


maladaptif
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X24 jam lansia
merasa tidak stres dan depresi.
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat meningkatkan harga diri
2. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
3. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

Intervensi :
1. Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.

Rasional : Membangun motivasi pada lansia


1. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
Rasional :Individu lebih percaya diri
1. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar
sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
Rasional : Menumbuhkan semangat hidup lansia
1. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang
terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang
dianut).
Rasional : Lansia tidak merasa sendiri
1. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas
keagamaan, kepercayaan agama).
Rasional : Meningkatkan nilai spiritual lansia
1. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
Rasional : Untuk menangani klien secara cepat dan tepat
1. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:

1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat).
Rasional : Untuk memberi pemahaman kepada lansia tentang obat
1. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat,
dosis, cara, waktu).
Rasional : Prinsip 5 benar dapat memaksimalkan fungsi obat secara efektif
1. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
Rasional : Menambah pengetahuan lansia tentang efek efek samping obat.
1. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.
Rasional : Lansia merasa dirinya lebih berharga

LAPORAN PENDAHULUAN DEPRESI


MASALAH UTAMA
Gangguan alam perasaan: depresi.

PROSES TERJADINYA MASALAH


Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen
psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta
komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan
darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik,
faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi,
faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit
dan sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,
pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti
kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.

Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang
pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi
sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila
keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai
realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
POHON MASALAH
Resiko mencederai diri
Akibat

Gangguan alam perasaan: depresi


Core problem
Koping maladaptif
Penyebab
MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1. Gangguan alam perasaan: depresi
1. Data subyektif:
1. Tidak

mampu

mengutarakan

pendapat

dan

malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan


somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna
lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup,
merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
2. Data obyektif:
1. Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang
melengkung dan bila duduk dengan sikap yang
merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan
yang

lambat

dengan

diseret.Kadang-kadang

langkah

yang

terjadi

stupor.

dapat

Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu


makan, sukar tidur dan sering menangis.
Proses

berpikir

terlambat,

seolah-olah

pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak


mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak

mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa


depresif

terdapat

perasaan

bersalah

yang

mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham


Data Obyektifsa, depersonalisasi dan halusinasi.
Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap
bermusuhan

(hostility),

mudah

tersinggung

(irritable) dan tidak suka diganggu.


2. Koping maladaptif
1. Data Subyektif : menyatakan putus asa dan tak
berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
2. Data

Obyektif

nampak

sedih,

mudah

marah,

gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.


DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi
2. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan
koping maladaptif.
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
2. Tujuan khusus
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
1. Tindakan:

1. Perkenalkan diri dengan klien


2. Lakukan interaksi dengan pasien sesering
mungkin dengan sikap empat
3. Dengarkan
sikap

sabar

pemyataan
empati

pasien

dan

dengan

lebih

banyak

memakai bahasa non verbal. Misalnya:


memberikan sentuhan, anggukan
4. Perhatikan pembicaraan pasien serta beri
respons sesuai dengan keinginanny
5. Bicara dengan nada suara yang rendah,
jelas,

singkat,

sederhana

dan

mudah

adanya

tanpa

dimengerti
6. Terima

pasien

apa

membandingkan dengan orang lain.


2. Klien dapat menggunakan koping adaptif
1. Tindakan:
1. Beri

Data

Obyektifrongan

mengungkapkan

untuk

perasaannya

dan

mengatakan bahwa perawat memahami


apa yang dirasakan pasien.
2. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa
dilakukan

mengatasi

sedih/menyakitkan

perasaan

3. Diskusikan dengan pasien manfaat dari


koping yang biasa digunakan
4. Bersama

pasien

mencari

berbagai

alternatif koping.
5. Beri Data Obyektifrongan kepada pasien
untuk memilih koping yang paling tepat
dan dapat diterima
6. Beri Data Obyektifrongan kepada pasien
untuk mencoba koping yang telah dipilih
7. Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif
lain dalam menyelesaikan masalah.
3. Klien terlindung dari perilaku mencederai diri
1. Tindakan:
1. Pantau

dengan

seksama

resiko

bunuh

diri/melukai diri sendiri.


2. Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat
digunakan olch pasien untuk mencederai
dirinya/orang lain, ditempat yang aman
dan terkunci.
3. Jauhkan bahan alat yang membahayakan
pasien.
4. Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang
mudah dipantau oleh peramat/petugas.

4. Klien dapat meningkatkan harga diri


1. Tindakan:
1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat
mengatasi keputusasaannya.
2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal
individu.
3. Bantu

mengidentifikasi

sumber-sumber

harapan (misal: hubungan antar sesama,


keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
1. Tindakan:
1. Kaji

dan

manfaatkan

sumber-sumber

ekstemal individu (orang-orang terdekat,


tim

pelayanan

kesehatan,

kelompok

pendukung, agama yang dianut).


2. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai,
pengalaman

masa

lalu,

aktivitas

keagamaan, kepercayaan agama).


3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal :
konseling pemuka agama).
6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan
tepat

1. Tindakan:
1. Diskusikan

tentang

Obyektifsis,

obat

frekuensi,

(nama,

efek

dan

Data
efek

samping minum obat).


2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5
benar

(benar

pasien,

obat,

Data

Obyektifsis, cara, waktu).


3. Anjurkan membicarakan efek dan efek
samping yang dirasakan.
4. Beri

reinforcement

positif

bila

menggunakan obat dengan benar.


Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya....
Tag : ASKEP JIWA, MAKALAH KEPERAWATAN, MAKALAH
KESEHATAN
Ditulis oleh: Kang Kapuk - Sabtu, 02 Januari 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DEPRESI


ASUHAN

KEPERAWATAN

1.

PADA

KLIEN

Konsep

a.

DENGAN

DEPRESI

Dasar

Kasus

Pengertian

Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan


kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga
hilangnya

kegairahan

hidup.

(Hawari,

2001,

hal.

19)

Depresi adalah suatu mood sedih (disforia) yang berlangsung lebih dari empat
minggu, yang disertai perilaku dari perubahan tidur, gangguan konsentrasi,
iritabilitas, sangat cemas, kurang bersemangat, sering menangis, waspada
belebihan, pesimis, merasa tidak berharga, dan mengantisipasi kegagalan.
(DSM-IV-TR,

2000

dalam

Videback,

2008,

hal.388)

Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih
dan berduka berlebihan dan berkepanjangan. (Purwaningsih, 2009, hal.130)
Depresi adalah keadaan emosional yang ditandai dengan kesedihan, berkecil
hati, perasaan bersalah, penurunan harga diri, ketidakberdayaan dan
keputusasaan.

(Isaacs,

2004,

hal.121)

Dari keempat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa depresi adalah


gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologis dan komponen
somatic
b.
Respon

yang

terjadi
Rentang
adaptif

akibat

kesedihan
Respon
Respon

yang

panjang.
Emosional
Maladaptif

Responsif

Reaksi

Kepekaan

emosional

Supresi

Reaksi

kehilangan

yang

Mania/Depresi

kehilangan

wajar

yang

berkepanjangan

Menurut Purwaningsih (2009) Reaksi Emosi dibagi menjadi dua yaitu :


1)

Reaksi

Emosi

Adaptif

Merupakan reaksi emosi yang umum dari seseorang terhadap rangsangan yang
diterima dan berlangsung singkat. Ada dua macam reaksi adaptif :
a)

Respon

emosi

yang

responsive

Keadaan individu yang terbuka dan sadar akan perasaannya. Pada rentang ini
individu

dapat

b)

berpartisipasi

Reaksi

dengan

dunia

kehilangan

eksternal

dan

internal.

yang

wajar

Merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh individu yang mengalami
kehilangan. Pada rentang ini individu menghadapi realita dari kehilangan dan
mengalami proses kehilangan, misalnya bersedih, berhenti kegiatan sehari-hari,
takut

pada

diri

2)

sendiri,

berlangsung

Reaksi

tidak

Emosi

lama.
Maladaptif

Merupakan reaksi emosi yang sudah merupakan gangguan, respon ini dapat
dibagi

tingkatan,

yaitu

a)

Supresi

Tahap awal respon emosional maladaptive, individu menyangkal, menekan atau


menginternalisasi
b)

semua

Reaksi

aspek

perasaanya

kehilangan

terhadap
yang

lingkungan.
memanjang

Supresi memanjang sehingga mengganggu fungsi kehidupan individu.


Gejala

bermusuhan,

sedih

berlebihan,

c)

rendah

diri.

Mania/Depresi

Merupakan respon emosional yang berat dan dapat dikenal melalui intensitas
dan

pengaruhnya

terhadap

fisik

individu

dan

fungsi

social.

c.

Patopsikologi

Alam perasaan adalah kekuatan / perasaan hati yang mempengaruhi seseorang


dalam jangka waktu yang lama setiap orang hendaknya berada dalam afek yang
tidak stabil tapi tidak berarti orang tersebut tidak pernah sedih, kecewa, takut,
cemas, marah dan sayang, emosi ini terjadi sebagai kasih sayang seseorang
terhadap rangsangan yang diterimanya dan lingkungannya baik internal maupun
eksternal. Reaksi ini bervariasi dalam rentang dari reaksi adaptif sampai
maladaptive.
1)

Penyebab

Terjadinya

Depresi

Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan kehilangan.
Tak ada orang yang mengalami depresi bila kenyataan hidupnya sesuai dengan
keinginan

dan

harapannya.

a)

Kekecewaan

Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang menjadi


jengkel, tidak dapat berpikir sehat atau kejam pada saat-saat khusus jika cinta
untuk iri sendiri lebih besar dari pada cinta pada orang lain yang menghimpun
kita, kita akan terluka, tidak senang dan cepat kecewa, hal ini langkah pertama
depresi jika luka itu direnungkan terus-menerus akan menyebabkan kekesalan
dan
b)

keputusasaan.
Kurang

Rasa

Harga

Diri

Ciri-ciri universal yang lain dari orang depresi adalah kurangnya rasa harga diri,
sayangnya kekurangan ini cenderung dilebih-lebihkan menjadi ekstrim, karena
harapan-harapan yang realistis membuat dia tidak mampu merestor dirinya
sendiri, hal ini memang benar khususnya pada individu yang ingin segalanya
sempurna yang tak pernah puas dengan prestasi yang dicapainya.
c)

Perbandingan

yang

Tidak

Adil

Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang mempunyai nilai
lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan tidak bisa sebaik dia maka
depresi

mungkin

terjadi.

d)

Penyakit

Beberapa faktor yang dapat mecetuskan depresi adalah organic contoh individu
yang mempunyai penyakit kronis kanker payudara dapat menyebabkan depresi.
e)
Orang

Aktivitas
yang

Mental

produktif

dan

aktif

yang
sering

Berlebihan

menyebabkan

f)

depresi
Penolakan

Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu tak
terpenuhi

maka

terjadilah

depresi.

(Anonymous,

2004).

Menurut Nanda (2005-2006) adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan


sedih
a)

kronis
Kematian

adalah
orang

yang

:
dicintai

b) Pengalaman sakit mental/ fisik kronis, cacat (retardasi mental, sklerosis


multiple, prematuritas, spina bifida, kelainan persalinan, sakit mental kronis,
infertilitas,

kanker,

sakit

Parkinson)

c) Pengalaman satu atau lebih kejadian yang memicu (krisis dalam manajemen
penyakit, krisis berhubungan dengan stase perkembangan, kehilangan
kesempatan yang dapat meningkatkan perkembangan, norma social atau
personal)
d) Ketergantungan tak henti pada pelayanan kesehatan dengan mengingat
kehilangan.
2)

Gejala

Klinis

Depresi

Menurut Hawari (2001) secara lengkap gejala klinis depresi adalah sebagai
berikut

a) Aspek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun, tidak
semangat,
b)
c)

merasa
Perasaan
Nafsu

bersalah,

tidak
berdosa,
makan

berdaya.
penyesalan.
menurun

d)

Berat

e)

badan

Konsentrasi

dan

menurun

daya

ingat

menurun

f) Gangguan tidur : insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya


hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali disertai dengan
mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi orang yang telah
meninggal.
g) Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak berdaya)
h) Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan hobi,
kreativitas

menurun,

i)

Gangguan

j)

Pikiran-pikiran

3)

produktivitas

juga

seksual
tentang

(libido
kematian,

Tingkat

a)

bunuh

menurun.
menurun)
diri.

Depresi
Depresi

Ringan

Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses piker komunikasi


social

dan

rasa

b)
(1)

tidak

Depresi
Afek

murung,

cemas,

nyaman.
Sedang

kesal,

marah,

menangis.

(2) Proses pikir : perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang komunikasi


verbal,

komunikasi

non

verbal

meningkat.

(3) Pola komunikasi : bicara lambat, berkurang komunikasi verbal, komunikasi


non

verbal

meningkat.

(4) Partisipasi social : menarik diri, tak mau bekerja/ sekolah, mudah
tersinggung
c)

Depresi

Berat

(1) Gangguan Afek : pandangan kosong, perasaan hampa, murung, inisiatif


berkurang.
(2)

Gangguan

proses

piker

(3) Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba-tiba
hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum, menarik diri, tidak

peduli

dengan

d.

lingkungan.

Penatalaksanaan

Depresi

Menurut Tomb (2003, hal. 61), semua pasien depresi harus mendapatkan
psikoterapi, dan beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi
khusus bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap
terapi

sebelumnya.

1)

Terapi

Psikologik

Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,


pengertian dan optimistic. Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan
hal-hal yang membuatnya prihatin dan melontarkannya. Identifikasi faktor
pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah memecahkan problem
eksternal (missal, pekerjaan, menyewa rumah), arahkan pasien terutama pada
periode akut dan bila pasien tidak aktif bergerak. Latih pasien untuk mengenal
tanda-tanda dekompensasi yang akan datang. Temui pasien sesering mungkin
(mula-mula 1-3 kali per minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak
berakhir atau untuk selamanya. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat
memprovokasi kemarahan anda (melalui kemarahan, hostilitas, dan tuntutan
yang tak masuk akal, dll). Psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang, dapat
berguna pada pasien depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien dengan
depresi

mayor

yang

mengalami

remisi

tetapi

mempunyai

konflik.

Terapi Kognitif Perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi sedang
dan ringan. Diyakini oleh sebagian orang sebagai ketidak berdayaan yang
dipelajari, depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan keterampilan
dan memberikan pengalaman-pengalaman sukses. Dari perspektif kognitif,
pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negative dan
harapan-harapan

negative.

Terapi

ini

mencegah

kekambuhan.

Deprivasi tidur parsial (bangun dipertengahan malam dan tetap terjaga sampai
malam berikutnya), dapat membantu mengurangi gejala-gejala depresi mayor

buat sementara. Latihan fisik (berlari, berenang) dapat memperbaiki depresi,


dengan

mekanisme

biologis

2)

yang

belum

dimengerti

dengan

Terapi

baik.
Fisik

Semua depresi mayor dan depresi kronis atau depresi minor yangtidak membaik
membutuhkan antidepresan (70%-80% pasien berespon terhadap antidepresan),
meskipun yang mencetuskan jelas terlihat atau dapat diidentifikasi. Mulailah
dengan SSRI atau salah satu anti depresan terbaru. Apabila tidak berhasil,
pertimbangkan antidepresan trisiklik, atao MAOI (terutama pada depresi
atipikal) atau kombinasi beberapa obat yang efektif bila obat yang ertama
tidak berhasil. Waspadalah terhadap efek samping dan bahwa antidepresan
dapat mencetuskan episode manic pada beberapa pasien bipolar (10% dengan
TCA, dengan SSRI lebih rendah, tetapi semua konsep tentang presipitasi
manic masih diperdebatkan). Setelah sembuh dari depresi pertama, obat
dipertahankan untuk beberapa bulan, kemudian diturunkan, meskipun demikian
pada beberapa pasien setelah satu atau lebih kekambuhan, membutuhkan obat
rumatan untuk periode panjang. Anitdepresan saja (tunggal) tidak dapat
mengobati

depresi

psikosis

unipolar.

Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania dan mungkin
bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa depresi
unipolar. Obat ini cukup efektif pada bipolar serta untuk mempertahankan
remisi dan begitu pula pada pasien unipolar. Antikonvulsan juga tampaknya
sama baik dengan litium untuk mengobati kondisi akut, meskipun kurang
efektif untuk rumatan. Antidepresan dan litium dapat dimulai secara bersamasama dan litium diteruskan setelah remisi. Psikotik, paranoid atau pasien sangat
agitasi membutuhkan antipsikotik, tunggal atau bersama-sama dengan
antidepresan, litiun atau ECT- antidepresan antipikal yang baru saja terlihat
efektif.
ECT

mungkin

merupakan

terapi

terpilih

a) Bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu pengobatan,

b) Bila kondisi pasien menuntut remisi segera (missal, bunuh diri yang akut)
c)

Pada

beberapa

depresi

psikotik

d) Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (missal, pasien tua yang
berpenyakit

jantung).

Lebig

dari

90%

pasien

memberikan

respons.

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Alam Perasaan


a.

Pengkajian

1)

Faktor

a)

Predisposisi

Faktor

Genetik

Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis


keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan pada kembar monozigote dari
dizigote.
b)

Teori

Agresi

Berbalik

pada

Diri

Sendiri

Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan dari perasaan marah yang dialihkan


pada

diri

sendiri.

Diawali dengan proses kehilangan terjadi ambivalensi terhadap objek yang


hilang tidak mampu mengekspresikan kemarahan marah pada diri sendiri.
c)

Teori

Kehilangan

Berhubungan dengan faktor perkembangan : misalnya kehilangn orang tua pada


masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat
dicintai.

Individu

d)

tidak

berdaya

mengatsi

Teori

kehilangan.
Kepribadian

Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang


mengalami

depresi

e)

atau

Teori

mania.
Kognitif

Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang dipengaruhi


oleh penilaian negative terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
f)

Teori

Belajar

Ketidakberdayaan

Mengemukakan bahwa depresi dilmulai dari kehilangan kendali diri, lalu


menjdi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Kemidian individu timbul
dengan keyakinan akan ketidakmampuam mengendalikan kehidupan sehingga
ia

tidak

berupaya

mengembangkan

g)

respon

yang

Model

adaptif.
Prilaku

Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian positif selama


berinteraksi

dengan

h)

lingkungan.

Model

Biologis

Mengemukakan bahwa depresi terjadi prubahan kimiawi, yaitu defisiensi


katekolamin,

tidak

berfungsi

2)

endokrin

dan

hipersekresi

Faktor

kortisol.
Presipitasi

Stresor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi faktor


biologis, psikologis, dan social budaya. Faktor biologis meliputi perubahan
fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti
infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan metabolisme. Faktor psikologis
meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang dan
kehilangan harga diri. Faktor social budaya meliputi kehilangan peran,
perceraian,
3)

kehilangan
Perilaku

dan

pekerjaan.
Mekanisme

Koping

Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi


kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi.
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang
adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari tekanan yang hebat.

b.
1)

Analisa

Data
Data

Subyektif

Klien mengatakan sedih, tidak bergairah untuk bekerja, menyesal, merasa


bersalah, merasa ditolak, merasa tidakberdaya dan merasa tidak berharga.

2)

Data

Obyektif

Klien tampak sedih, murung lambat, lemah, lesu, tidak bergairah, cemas dan
marah.
c.

Daftar

1)

Sedih

2)
3)

masalah

Harga
Koping

kronis
diri

individu

rendah
tidak

efektif

4) Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri


5)

Koping

d.

e.

keluarga

tidak

Pohon

Diagnosa

efektif
Masalah

Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan gangguan alam

perasaan

(depresi),

1)

yaitu

Sedih

2)

kronis

Harga

3)

diri

Koping

individu

rendah
tidak

efektif

4) Resiko tinggi terjadi kekerasan yang diarahkan pada diri sendiri


5)
6)

Deficit
Resiko

perawatan

gangguan

7)

Gangguan

8)

Koping

f.

pola

EVALUASI

Gangguan

alam
tidak

perasaan:
mengalami

melemah

Keperawatan
TUJUAN

Kriteria

INTERVENSI/IMPLEMENTASI
Sedih
gangguan

Kronis
alam

TUK
Klien

nutrisi

istirahat/tidur

Tindakan
DIAGNOSA

KRITERIA

kebutuhan

keluarga

Rencana

TGL/JAM

Klien

pemenuhan

diri

TUM

perasaan

1
dapat

membina
Evaluasi

hubungan

saling

percaya.

Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau
berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk
berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi 1.
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi

terapeutik
a.

Sapa

b.

:
klien

dengan

nama

baik

Perkenalkan

verbal

maupun

diri

non

dengan

verbal.
sopan.

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d.

Jelaskan

e.
f.

tujuan

Jujur
Tunjukkan

dan

sikap

empati

pertemuan
menepati

dan

menerima

klien

janji
apa

adanya.

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar


TUK

Klien

dapat

mengungkapkan

Kriteria

perasaanya.

evaluasi

Klien mampu mengungkapkan perasaannya 1. Dorong dan beri kesempatan


klien untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat
memahami

apa

yang

dirasakan

pasien.

2. Beri kesempatan klien mengutarakan keinginan dan pikirannya dengan teknik


focusing.
3.

Bicarakan

hal-hal

yang

nyata

dengan

TUK
Klien

klien.
3

dapat

menggunakan

Kriteria

koping

evaluasi

adaptif

Klien dapat mengungkapkan perasaan saat sedih, menyimpulkan tanda-tanda


sedih yang dialami. 1. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan
mengatasi

perasaan

kesal,

sedih,

dan

tidak

menyenangkan

2. Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan


sedih/menyakitkan

3. Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan


4.

Bersama

pasien

mencari

berbagai

alternatif

koping.

5. Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan
dapat

diterima

6. Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih
7. Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
TUK

Klien

terlindung

dari

perilaku

Kriteria

mencederai

evaluasi

diri.
:

Sikap klien tampak tenang dan dapat mengontrol emosinya. 1. Tempatkan klien
di tempat yang tenang, tidak banayak rangsangan, tidak banyak terdapat
peralatan.
2. Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk
mencederai

dirinya

di

tempat

yang

amana

dan

terkunci.

3. Temani klien jika nampak tanda-tanda sedih yang berlebihan seperti


menangis.
4. Lakukan pengekangan fisik jika klien tidak dapat mengontrol perilakunya.
TUK

Klien

dapat

melakukan

Kriteria

kegiatan

evaluasi

terarah
:

Klien dapat melakukan kegiatan yang diintruksikan dengan baik 1. Anjurkan


klien untuk melakukan kegiatan motorik yang terarah misalnya: menyapu,
olahraga,

dll.

2. Beri kegiatan individual sederhana yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh
klien.
3.

Berikan

4.

Bantu

5.

Beri

kegiatan

yang

klien
reinforcement

tidak

dalam

memerlukan
melaksanakan

atas

keberhasilan

kompetisi.
kegiatan.
pasien.

TUK

Klien

terpenuhi

kebutuhan

Kriteria

nutrinya.

evaluasi

BB ideal dan nafsu makan klien meningkat. 1. Diskusikan tentang manfaat


makan

dan

minum

bagi

kesehatan.

2. Ajak klien makan makanan yang telah disediakan, temani selama makan.
3. Ingatkan klien untuk minum setengah jam sekali sebanyak 100 cc.
4.

Sediakan

makanan

TUK

TKTP,

Klien

terpenuhi

mudah

cerna.

TUK

kebutuhan

Kriteria

tidur

7
dan

istirahatnya.

Evaluasi

Konjungtiva tidak pucat, klien tidak terbangun pada malam hari, klien tidak
mengeluhkan
1.
2.

susah

tidur

Diskusikan
Anjurkan

pentingnya
klien

untuk

dan

wajah
istirahat

tidur

pada

tampak
bagi
jam-jam

segar.
kesehatan
istirahat.

3. Sediakan lingkungan yang mendukung: tenang, lampu redup, dll.

TUK

Klien

terpenuhi

kebersihan

dirinya

Kriteria

Evaluasi

Klien tampak rapi dan bersih, klien dapat berpakaian mandiri, dan dapat
toileting

sendiri.

1.

Diskusikan

manfaat

kebersihan

bagi

kesehatan.

2.

Bombing

dalam

3.

kebersihan

diri

(mandi,

Bimbing

4.

Beri

pujian

keramas,

gogok

pasien
bila

klien

gigi).
berhias

berhias

secara

wajar

TUK

Klien

dapat

memanfaatkan

obat

dengan

baik.

Kriteria

Evaluasi

a. Klien menyebutkan manfaat, kerugian, nama, warna, dosis, efek terapi dan
efek
b.

samping
Klien

mendemonstrasikankan

obat.

penggunaan

obat

dengan

benar

c. Klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi 1.


Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama,
warna, dosis, cara, efek terapi dan efek samping penggunaan obat.
2.
3.

Pantau
Beri

pujian

klien
jika

saat

klien

penggunaan

menggunakan

obat

obat

dengan

benar

4. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter


5. Anjurkan klien untuk konsultasi kepada perawat/dokter jika terjadi hal-hal
yang

tidak

diinginkan.

DAFTAR

PUSTAKA

Hawari, D. 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.


Jakarta:

EGC

Keliat, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC


Nanda.

2005-2006.

Panduan

Diagnosa

Keperawatan.

Prima

Medika.

Purwaningsih, dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha


Medika

Tomb, David A. 2003. Buku Saku Psikiatri, Edisi 6. Jakarta : EGC


Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC