You are on page 1of 19

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN

PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR

Disusun Oleh:
Kelompok 15
1.

Diana Ahimatul A (2011.028)

2. Dika Sri Wahyuni

(2011.029)

3. Riska Yuliana

(2011.103)

4. Leo Ardiansyah

(2011.074)

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN
Jl. Kusuma Bangsa No.7A, Lamongan
Telp. (0322) 324352
Tahun Ajaran 2012 / 2013

BAB I
PENDAHULUAN
1 LATAR BELAKANG
Luka bakar ( Combustio ) adalah suatu kejadian yang paling sering terjadi
di Indonesia dan negara lainnya. Luka bakar yang terjadi dapat disebabkan oleh
panas, listrik ataupun kimia. Dan kecelakaan luka bakar ini dapat terjadi dimanamana seperti di rumah, kantor ataupun tempat umum yang lainnya (mal, terminal).
80% kecelakaan yang menyebabkan luka bakar terjadi di rumah dan korban yang
terbanyak ternyata anak-anak, entah terkena air panas, tumpahan kuah sayur, api
dan lain sebagainya.
Cedera luka bakar terutama pada luka bakar yang dalam dan luas masih
merupakan penyebab utama kematian. Oleh sebab itu penderita luka bakar
memerlukan perawatan secara khusus, karena luka bakar berbeda dengan luka
tubuh lain (seperti tusuk, tembak atau sayatan). Ini disebabkan karena luka bakar
terdapat keadaan seperti mengeluarkan banyak air, serum, darah, terbuka untuk
waktu yang lama dan ditempati kuman dengan patogenitas tinggi (mudah
terinfeksi).
Oleh sebab itu, pasien luka bakar memerlukan penanganan yang serius
dimana dalam hal ini peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan
keperawatan yang komprehensif. Selain itu, diperlukan kerjasama dengan tim
medis yang lainnya seperti dokter, fisioterapis, ahli gizi dan bahkan psikiater.
2 RUMUSAN MASALAH
Masalah yang diangkat dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
2.1 Jelaskan pengertian dari luka bakar?
2.2 Jelaskan fase-fase luka bakar?
2.3 Bagaimana patofisiologi dari luka bakar?
2.4 Jelaskan klasifikasi dari luka bakar?
2.5 Bagaimana penatalaksanaan kegawatdaruratandari luka bakar?

TUJUAN
3.1 Tujuan Umum

Setelah mengikuti proses pembelajaran, diharapkan mahasiswa


mampu memahami Asuhan Keperawatan pada Kasus Luka Bakar.
3.2 Tujuan Khusus
Setelah proses pembelajaran dilakukan, diharapkan mahasiswa dapat:
3.2.1 Memahami pengertian dari luka bakar
3.2.2 Memahami fase-fase luka bakar
3.2.3 Memahami patofisiologi dari luka bakar
3.2.4 Memahami klasifikasi dari luka bakar
3.2.5 Memahami penatalaksanaan kegawatdaruratan dari luka bakar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Luka bakar (combustio) adalah Suatu penyakit yang disebabkan oleh


panas, arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit, mukosa dan
jaringan lebih dalam.(M Sjaifudin Noer ,2006)
2.2 ETIOLOGI
2.3 Luka Bakar Suhu Tinggi (Thermal Burn)
2.3.1

Gas

2.3.2

Cairan

2.3.3

Bahan padat (Solid)

2.4 Luka Bakar Bahan Kimia (hemical Burn)


2.5 Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
2.6 Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
3

KLASIFIKASI LUKA BAKAR


3.1 Kedalaman Luka
3.2 Luas luka bakar
3.3 Tinggi infeksi
3.4 Luka bakar disertai dengan trauma jalan nafas atau jaringan lunak
luas, atau fraktur.
3.5

Luak bakar akibat listrik.

3.6

Sedang bila :
3.6.1 Derajat 2 dengan luas 15 25 %.
3.6.2 Derajat 3 dengan luas kurang dari 10 %, kecuali muka, kaki
dan tangan.

3.7

Ringan bila :
3.7.1

Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %.

3.7.2

Derajat 3 kurang dari 2 %.

MANIFESTASI KLINIS
Kecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar terdapat
3 atau lebih dari keadaan berikut :
4.1 Riwayat terjebak dalam rumah/ ruangan terbakar

4.2 Sputum tercampur arang


4.3 Luka bakar perioral, hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
4.4 penurunan kesadaran.
4.5 Tanda distress napas, rasa tercekik, tersedak, malas bernapas dan
adanya
wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan (iritasi
mukosa)
4.6 Gejala distress napas. Takipea
4.7 Sesak atau tidak ada suara.
4.8 Pada fase awal kerusakan saluran napas akibat efek toksik yang
langsung terhirup
4.9 Pada fase lanjut edema paru dengan terjadinya hpoksemia progresif
ARDS
4.10 Korelasi tingkat keracunan CO / presentase COHb dengan kelainan
neurologist
4.11 Kadar Keracunan CO Kelainan Neurologis
4.12 10-20 % (ringan) sakit kepala, binggung, mual
4.13 20-40 % (sedang) lekas marah, pusing, lapangan
4.14 penglihatan menyempit
4.15 40-60 % (berat) Halusinasi, ataksia, konvulsi atau koma,
4.16 takipnea
4.17 Pemeriksaan tambahan :
4.18 Kadar karboksihemoglobin (COHb)
4.19 Pada trauma inhalasi, kadar COHb 35-45 % (berat), bahkan setelah 3
jam dari
4.20 kejadian, kadar COHb pada batas 20-25 %. Bila kadar COHb lebih
dari 15 %
4.21 setelah 3 jam kejadian bukti kuat terjadi taruama inhalasi.
4.22 PaO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa pada konsentrasi oksigen
50%, FiO2 0,5)
5 PATOFISIOLOGI

Cedera thermis menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan


elektrolit sampai syok, yang dapat menimbulkan asidosis, nekrosis, tubular
akut, dan disfungsi serebral. Kondisi-kondisi ini dapat dijumpai pada fase
awal / akut / syok yang biasanya berlangsung sampai 72 jam pertama
Dengan kehilangan kulit yang memiliki fungsi sebagi barier, luka
yang sangat mudah terinfeksi. Selain itu, dengan kehilangan kulit luas, terjadi
penguapan cairan tubuh yang berlebihan. Penguapan cairan ini disertai
pengeluaran protein dan energi, sehingga terjadi gangguan metabolisme.
Jaringan nekrosis yang ada melepas toksin (burn toxin, suatu lipid
protein kompleks) yang dapat menimbulkan sirs bahkan sepsis yang
menyebabkan disfungsi dan kegagalan fungsi organ-organ tubuh seperti hepar
dan paru yang berakhir dengan kematian

Bahan Kimia

Termis

Radiasi

Listrik

LUKA BAKAR
Pada muka dan
leher

Nyeri
Kerusakan

Kerusakan kulit

integritas kulit

Kerusakan mukosa

Penguapan6 meningkat

Obstruksi jalan
Odema
Gagal
nafas
laring
nafas

Peningkatan
pembuluh
Cairan Intravaskuler
Ekstravasasi
cairan
(H2O,
KP:
Hipovolemia
darah
kapiler
menurun
Elektrolit,
Protein)

Potensi
masuknya
kuman

SIRS
KP: Sepsis
Tekanan onkotik
menurun
MK:
Ketidakefektifan
pola nafas
KP :
hipoksemia
1. Trakheostomi
2. Berikan O2 aliran
rendah

Pemberian
Antibiotik sesuai
program
Rawat luka
Pemberian
cairan infus

MK :

Defisit volume cairan


Perubahan perfusi
jaringan perifer

6 PENEGAKAN DIAGNOSIS :
6.2 Tergantung derajad luka bakar.
6.3 Luas permukaan
6.4 Daerah yang terkena, perineum, ketiak, leher dan tangan karena sulit
perawatan dan mudah kontraktur.
6.5 Usia dan kesehatan penderita.
7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
7.1 secara klinis
7.2 Laboratorium : Hb, Hematokrit, Electrolit dsb
8 PENATALAKSANAAN.
7

Pada penanganan penderita dengan trauma luka bakar, seperti pada penderita
trauma trauma lainnya harus ditangani secara teliti dan sistematik.
8.1 Evaluasi Pertama (Triage)
8.1.1 Airway, sirkulasi, ventilasi
Prioritas pertama penderita luka bakar yang harus dipertahankan
meliputi
airway, ventilasi dan perfusi sistemik. Kalau diperlukan segera lakukan
intubasi endotrakeal, pemasangan infuse untuk mempertahankan
volume
sirkulasi
8.1.2 Pemeriksaan fisik keseluruhan.
Pada pemeriksaan penderita diwajibkan memakai sarung tangan yang
steril, bebaskan penderita dari baju yang terbakar, penderita luka bakar
dapat pula mengalami trauma lain, misalnya bersamaan dengan
trauma abdomen dengan adanya internal bleeding atau mengalami
patah tulang punggung / spine.

8.1.3 Anamnesis
Mekanisme trauma perlu diketahui

karena ini penting, apakah

penderita
terjebak dalam ruang tertutup sehingga kecurigaan adanya trauma
inhalasi
yang dapat menimbulkan obstruksi jalan napas. Kapan kejadiannya
terjadi,
serta ditanyakan penyakit penyakit yang pernah di alami
sebelumnya.
8.1.4 Pemeriksaan luka bakar
Luka bakar diperiksa apakah terjadi luka bakar berat, luka bakar
sedang atau ringan. 1) Ditentukan luas luka bakar. Dipergunakan Rule
of Nine untuk menentukan luas luka bakarnya. 2) Ditentukan
kedalaman luka bakar (derajat kedalaman)

8.2 Penanganan di Ruang Emergency


8.2.1 Diwajibkan memakai sarung tagan steril bila melakukan pemeriksaan
penderita.
8.2.2 Bebaskan pakaian yang terbakar.
8.2.3 Dilakukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk memastikan
adanya
trauma lain yang menyertai.
8.2.4 Bebaskan jalan napas. Pada luka bakar dengan distress jalan napas dapat
dipasang endotracheal tube. Traheostomy hanya bila ada indikasi.
8.2.5 Luka bakar derajat 2 atau 3 > 25% pada orang dewasa, luka bakar di daerah
wajah dengan trauma inhalasi dan tidak dapat minum, sedangkan pada anak-anak
dan orang tua > 15% maka resusitasi cairan intravena umumnya diperlukan.
Hari pertama : luas luka bakar x berat badan (kg) x 4cc (RL)
Hari kedua: koloid :500-2000cc + glukosa 5% untuk mempertahankan cairan.
Pemberian cairan volume diberikan 8 jam pertama dan volume diberikan 16
jam berikutnya.
8.2.6 Dilakukan pemasangan Foley kateter untuk monitor jumlah urine
produksi.
Dicatat jumlah urine/jam.
8.2.7 Di lakukan pemasangan

nosogastrik tube untuk gastric dekompresi

dengan intermitten pengisapan.


8.2.8 Untuk menghilangkan nyeri hebat dapat diberikan morfin intravena dan
jangan secara intramuskuler.
8.2.9 Timbang berat badan
8.2.10 Diberikan tetanus toksoid bila diperlukan. Pemberian tetanus toksoid
booster bila penderita tidak mendapatkannya dalam 5 tahun terakhir.
8.2.11 Pencucian Luka di kamar operasi dalam keadaan pembiusan umum.
Luka dicuci debridement dan di disinfektsi dengan salvon 1 : 30.
Setelah bersih tutup dengan tulle kemudian olesi dengan Silver Sulfa
Diazine (SSD) sampai tebal. Rawat tertutup dengan kasa steril yang

tebal. Pada hari ke 5 kasa di buka dan penderita dimandikan dengan air
dicampur Salvon 1 : 30
8.2.12 Eskarotomi adalah suatu prosedur atau membuang jaringan yang mati
(eskar)dengan teknik eksisi tangensial berupa eksisi lapis demi lapis
jaringan nekrotik sampai di dapatkan permukaan yang berdarah.
Fasiotomi dilakukan pada luka bakar yang mengenai kaki dan tangan
melingkar, agar bagian distal tidak nekrose karena stewing.
8.2.13 Penutupan luka dapat terjadi atau dapat dilakukan bila preparasi beda
luka telah dilakukan dimana didapatkan kondisi luka yang relative
lebih bersih dan tidak infeksi. Luka dapat menutup tanpa prosedur
operasi. Secara persekundam terjadi proses epitelisasi pada luka bakar
yang relative superficial. Untuk luka bakar yang dalam pilihan yang
tersering yaitu split tickness skin grafting. Split tickness skin grafting
merupakan tindakan definitive penutup luka yang luas. Tandur alih
kulit dilakukan bila luka tersebut tidak sembuh sembuh dalam waktu
2 minggu dengan diameter > 3 cm.

Dewasa

Kepala bagian depan

4,5%

Kepala bagian belakang

4,5 %

Dada

9%

Punggung atas

9%

Perut

9%

Punggung bawah

9%

Kelamin

1%

Lengan atas depan

4,5 %

Lengan atas belakang

4,5 %

Tungkai depan

9%

Tungkai belakang

9%

Total:

100%

10

.
Bayi
Kepala dan Leher

21%

Badan bagian depan

13%

Badan bagian belakang

13%

Lengan

10%

Tungkai

13,5%

Bokong

5%

Alat kelamin

1%

11

9 KOMPLIKASI
9.1 Syok karena kehilangan cairan.
9.2 Sepsis / toksis.
9.3 Gagal Ginjal mendadak
9.4 Peneumonia

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Meliputi : nama, alamat, umur, jenis kelamin, agama, suku, bangsa,
pendidikan, pekerjaan, tanggal MRS, diagnosa medis, no. Register.
2. Keluhan utama
Biasanya pada luka bakar akan mengalami peningkatan panas dalam tubuh
dan disertai nyeri pada daerah yang terbakar..
3. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit luka bakar biasanya terjadinya karena kontak dengan
suhu tinggi, seperti : api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi.
12

4. Riwayat penyakit dahulu


Perlu ditanyakan antara lain apakah klien pernah mengalami penyakit ini
(luka bakar) atau pernah punya penyakit yang menular / menurun
sebelumnya.
5. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Perlu ditanyakan kebiasaan klien, apakah klien suka oleh raga,
merokok, penggunaan alkohol /penggunaan tembakau.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Perlu ditanyakan apakah mengalami gangguan penurunan nafsu makan
pada klien dengan combustio dibuatkan diit TKTP.
c. Pola eliminasi
Terjadi gangguan eliminasi, jika luka bakar mengenai daerah genetalia.
d. Pola tidur dan istirahat
Kebiasaan pola tidur dan istirahat mengalami gangguan yang
disebabkan oleh nyeri, misalnya nyeri yang hebat pada otot dan tulang.
e. Pola aktivitas dan latihan
Aktifitas dan latihan mengalami perubahan atau gangguan akibat dari
penyakitnya, sehingga kebutuhan klien perlu di bantu baik oleh
perawat atau keluarga.
f. Pola persepsi dan konsep diri
Pada klien dengan penyakit luka bakar biasanya mengalami gangguan
persepsi atau konsep diri.
g. Pola sensori dan kognotif
Perlu ditanyakan seberapa berat klien merasa nyeri.
h. Pola reproduksi seksual
Bila klien sudah berkeluarga dan mempunyai anak maka akan
mengalami pola seksual dan reproduksi, jika klien belum berkeluarga
maka tidak akan mengalami gangguan dalam reproduksi seksual.
i. Pola hubungan dan peran
Perlu ditanyakan bagaimana hubungan klien dengan orang lain,
interaksi klien dengan orang lain.

13

j. Pola penaggulangan stress


Perlu ditanyakan apa yang membuat klien menjadi stress dan bagaimana
cara menanggulanginya.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Perlu ditanyakan apakah klien masih menjalankan ibadah seperti
biasanya.
6. Pemeriksaan penunjang
-

Radiologi.

Pemeriksaan laboraturium.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan inhalasi asap, luka bakar
sekitar leher dan trauma panas.
2. KekuranKgan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari
intravaskuler ke dalam rongga intestinal.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit, jaringan
traumatik.
4. Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit / jaringan, pembentukan
edema.
5. Resiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan luka bakar.
6. Resiko gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan bakar, nyeri,
penurunan kekuatan dan tahanan.
7. Ketakutan / ansietas berhubungan dengan ancaman kematian atau
kecacatan.
INTERVENSI
1. Diagnosa 1
Tidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan inhalasi asap, luka bakar
sekitar leher, dan trauma panas.
Tujuan : jalan nafas efektif dalam waktu 1 jam.
KH :

- Bunyi nafas jelas.


- Frekuensi pernafasan dalam rentang normal.
- Tidak sianosis.
14

Intervensi
1. Kaji refleks gangguan /menelan ; perhatikan pengaliran air liur,
ketidakmampuan menelan, sesak, batuk mengi.
R / : Dugaan cedera inhalasi.
2. Awasi frekuensi ; irama, kedalaman pernafasan ; perhatikan adanya
pucat / sianosis dan sputum mengandung karbon atau merah muda.
R / : Takepnea, penggunaan otot bantu, sianosis, dan perubahan sputum
menunjukkan terjadi distress pernapasan / edema paru dan
kebutuhan intervensi medik
3. Tinggikan kepala tempat tidur. Hindari penggunaan bantal dibawah
kepala, sesuai indikasi.
R / : Meningkatkan ekspansi paru optimal / fungsi pernafasan.
4. Dorong batuk / latihan nafas dalam dan perubahan posisi sering.
R / : Meningkatkan ekspansi paru, memobilisasi, dan drainase sekret
5. Awasi 24 jam keseimbangan cairan, perhatikan variasi / perubahan.
R / : Perpindahan cairan atau kelebihan pengganti cairan meningkatkan
resiko edema paru.
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi.
R / : O2 memperbaiki hipoksia / asidosis. Pelembab menurunkan
pengeringan saluran pernafasan dan menurunkan viskositas
sputum.
2. Diagnosa 2
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari
inhalasi intrabaskuler ke dalam rongga intestisial.
Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi dalam waktu 1 x 24 jam.
KH : - Haluaran urin individu adekuat.
- Tanda vital stabil.
Intervensi :
1. Awasi tanda-tanda vital

15

R / : Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji


respon kardiovaskuler.
2. Awasi haluaran urine
R / : Secara umum penggantian cairan harus difitrasi untuk
menyakinkan rata-rata haluaran urine 30 50 ml / jam (pada
orang dewasa).
3. Perkiraan diagnosa dan kehilangan yang tidak tampak
R / : Peningkatan permeabilitas kapiler, perpindahan protein, proses
inflamasi, dan kehilangan melalui cidera aveporasi besar
mempengaruhi volume sirkulasi dan haluaran urine, khususnya
selama 24 72 jam pertama setelah terbakar.
4. Pertahankan pencatatan komulatif jumlah dan tipe pemasukan cairan
R / : Penggantian cepat dengan tipe pemasukan cairan berbeda dan
fluktuasi kecepatan pembrian memerlukan tabulasi ketat untuk
mencegah ketidak seimbangan dan kelebihan cairan.

3. Diagnosa 3.
Resiko infeksi sehubungan dengan kerusakan perlindungan kulit, jaringan
traumatik
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
KH : - Penyembuhan luka tepat waktu.
- Bebas eksudat purulen.
- Tidak demam.
Intervensi :
1. Implementasi teknik isolasi yng tepat sesuai indikasi.
R / : Untuk menurunkan resiko kontaminasi silang flora bakteri
multipel.
2. Tekanan pentingnya teknik mencuci tangan yang baik untuk
R / : Mencegah kontaminasi silang : menurunkan resiko infeksi.

16

3. Cukur / ikat rambut disekitar area yang terbakar meliputi 1 inci batas
(termasuk bulu alis). Cukur rambut wajah (pria) dan beri sampo pada
kepala dua hari sekali.
R / : Rambut media baik untuk pertumbuhan bakteri, namun alis mata
bertindak sebagai pelindung mata, pencucian secara teratur
menurunkan keluarnya bakteri keluka bakar.
4. Periksa luka setiap hari, perhatikan / catat perubahan penampilan, bau,
atau kualitas drainase.
R / : Mengidentifikasi adanya penyembuhan (granulasi jaringan) dan
memberi deteksi dini infeksi luka bakar.

4. Diagnosa 4.
Nyeri sehubungan dengan kerusakan kulit / jaringan, pembentukan edema.
Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu 2 x 24 jam.
KH : -

Kx mengatakan nyeri berkurang.

Menunjukkan ekspresi wajah.

Intervensi

TTV normal.

1. Lakukan komunikasi terapeutik dengan klien dan keluarga.


R / : Agar kooperatif dalam tindakan.
2. Observasi TTV.
R / : Untuk mengetahui perkembangan Kx dan langkah-lngkah
selanjutnya dalam perencanaan tindakan.
3. Ubah posisi klien dengan sering dan rentan gerak pasif dan aktif sesuai
indikasi.
R / : Gerakan dengan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan
otot tetapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas cedera.
4. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karekter dan intensitas (skala 010).

17

R / : Nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya


keterlibatan jaringan / kerusakan tetapi biasanya paling berat
selama penggantian balutan dan debridemen.
I. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
tindakan meliputi beberapa bagian yaitu validasi, rencana keperawatan,
memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah
di susun dengan melihat situasi dan kondisi Kx.
II. EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dari rencana
tindakan dari masalah kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan
pasien dan tenaga kesehatan lainnya

BAB IV
4.1

KESIMPULAN
Mengingat kasus luka bakar merupakan suatu cidera berat yang
memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang sangat komplek
dengan biaya yang cukup tinggi serta angka morbiditas dan mortalitas
karena beberapa faktor penderita, factor pelayanan petugas, factor fasilitas
pelayanan dan faktor cideranya. Untuk penanganan luka bakar perlu perlu
diketahui fase luka bakar, penyebab luka bakar, derajat.

4.2

SARAN
Diperlukan suatu pemahaman yang baik agar tidak salah dalam
memahami tentang pengertian, frekuensi penderita, etiologi, manifestasi
klinik, pengobatan dan pragnosis dari Luka Bakar.

18

DAFTAR PUSTAKA
Noer. Sjaifudin M.,2006. Penanganan Luka Bakar. Airlangga University Press.
David S. Perdanakusuma.,2006. Penanganan Luka bakar. Airlangga University
Press.
Sjamsuhidajat R, Wim De Jong.,2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.

19