PROPOSAL PENELITIAN

DAMPAK PELEMAHAN PASAR SAHAM CHINA PADA
PASAR SAHAM INDONESIA

ARSYIL HENDRA SAPUTRA
1406658023

Program Pascasarjana Ilmu Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
Depok
2015

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian
Globalisasi yang tengah menjadi fenomena kehidupan masyarakat dunia, telah
membawa dampak dan perubahan yang besar terhadap pola hubungan ekonomi antar
negara. Perubahan kondisi ekonomi negara yang satu akan berpengaruh terhadap
ekonomi negara lain. Berbagai peristiwa penting telah mewarnai dan membentuk arah
ekonomi global, antara lain keruntuhan di pasar modal internasional pada bulan 1987,
krisis finansial pada tahun 1998, dan krisis ekonomi global di tahun 2008. Semua itu
secara terpisah maupun simultan menunjukkan bahwa perekonomian dunia semakin
terhubung.
Pasar modal Indonesia dalam memasuki globalisasi keuangan dunia, tentunya
tidak dapat dipisahkan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada pasar modal global.
Hal ini disebabkan setiap perubahan kondisi di pasar modal global akan direspon oleh
pasar modal negara lain, termasuk Indonesia. Pasar modal di negara Indonesia
merupakan pasar yang sedang berkembang dengan pesat. Pertumbuhan dari harga
saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercermin dalam pergerakan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menunjukkan pertumbuhan yang jauh
lebih baik dibandingkan regionalnya bahkan jika dibandingkan dengan beberapa Negara
besar di dunia. Melihat pertumbuhan Pasar Modal Indonesia yang cukup pesat tersebut,
ternyata pasar modal di Indonesia masih tergolong rentan terhadap kondisi makro
ekonomi dunia secara umum.

Gambar 1.1. Tren Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Tahun ke Tahun

1

Mengingat Pasar Modal Indonesia masih dianggap sedang berkembang dengan
baik, sehingga tidak dipungkiri bahwa investor asing ternyata tertarik untuk
menginvestasikan dananya di Pasar Modal Indonesia. Sekalipun peranan dan jumlah
investor domestik semakin meningkat akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat
kebiasaan dari investor domestik untuk melakukan strategi follower pada investor asing
atau setidaknya investor domestik menggunakan perilaku investor asing sebagai acuan
(Cahyono, 2000). Berdasarkan data tahun 2013 dan 2014 yang ditunjukan pada Gambar
2.3 dibawah ini, dijelaskan bahwa investor asing dominan dalam total nilai transaksi
saham di Pasar Modal Indonesia. Tercatat pada 2014, transaksi saham yang terkait
dengan investor asing di Pasar Modal Indonesia masih dominan yaitu sebesar 58,16%.
Kondisi ini tentunya semakin menegaskan bahwa kondisi global memungkinkan untuk
mempengaruhi pasar modal di Indonesia.

Gambar 1.2. Komposisi Nilai Transaksi Saham di BEI Berdasarkan Jenis Investor
Tahun 2013-2014
Secara teoritis, pasar modal antar negara memiliki hubungan satu sama lain. Hal
ini mungkin untuk diteliti karena sejak terbukanya pasar global atau sejak diizinkannya
investasi asing untuk dilakukan di Indonesia, dimungkinkan ada penanaman modal
asing sehingga timbul pengaruh baik perekonomian maupun antar bursa saham di tiap
negara.
Berdasarkan data yang diolah oleh International Monetary Fund (IMF), bahwa
saat ini hanya terdapat beberapa negara saja yang mengontrol pertumbuhan ekonomi
dunia. Kondisi ini dapat dilihat berdasarkan komposisi Gross Domestic Product (GDP)
negara tersebut dan dikomparasikan dengan GDP dunia. Adapun sepuluh besar dari
perbandingan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.3. sebagai berikut.

2

United States

22,5%

China

13,4%

Japan

6,0%

Germany

5,0%

United Kingdom
France
Brazil
Italy
India
Russia

3,8%
3,7%
3,0%
2,8%
2,7%
2,4%

Sumber: IMF
Gambar 1.3. 10 Negara Dengan GDP Terbesar di Dunia Tahun 2014
Pada Gambar 1.3 dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2014 negara China memiliki
komposisi GDP yang dikomparasikan dengan GDP dunia yaitu 13,4%, yaitu terbesar
kedua setelah Amerika Serikat. Hal ini menggambarkan bahwa negara China
mempunyai kekuatan besar untuk mengontrol ekonomi dunia. Di samping itu,
perubahan kondisi perekonomian China akan mempengaruhi pasar modal Amerika
Serikat, dan pada akhirnya akan memberikan efek domino ke pasar modal negara lain.
Dari data yang ada menunjukkan bahwa pasar saham China merupakan salah
satu yang terbesar di dunia. Gambar 1.4 di bawah ini menunjukkan bahwa berdasarkan
kapitalisasi pasar, pasar saham China (Shanghai SE, Shenzhen SE, dan Hong Kong
Exchanges) menempati urutan kedua, di bawah pasar saham Amerika Serikat (NYSE).
Selain dari nilai kapitalisasi pasar, berdasarkan jumlah perusahaan yang terdaftar di
bursa saham, juga tercatat China menempati peringkat kedua setelah India, dengan total
4538 perusahaan (per Mei 2015).

Sumber: The Wall Street Journal, http://www.wsj.com/, data per Mei 2015.
Gambar 1.4. Pasar Saham China Merupakan Terbesar Kedua di Dunia
3

Berikutnya

adalah

menilai

potensi

pengaruh

negara

China

terhadap

perekonomian Indonesia. Berdasarkan Gambar 1.4 dapat dijelaskan bahwa Negara
China merupakan negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah
Jepang.

Sumber: BPS.
Gambar 1.5. Perkembangan Perdagangan Luar Negeri Indonesia dengan
Beberapa Negara Utama, 2013-2014 (Juta Dolar AS)
Perubahan keadaan perekonomian di negara China tentu akan memberikan
pengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada Indonesia. Apabila
perekonomian negara China mengalami keadaan resesi, ini tentu akan menyebabkan
nilai ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut ikut menurun, sebab konsumen di
negara tersebut dalam keadaan ekonomi yang sedang resesi tentu akan mengurangi
tingkat pengeluarannya. Tentunya hal ini juga berdampak pada pertumbuhan laba
perusahaan di Indonesia yang akhirnya berdampak juga pada pergerakan harga
sahamnya.

4

Sumber: Statistik Perdagangan Luar Negeri Ekspor 2015 Jilid II, www.bps.go.id.
Gambar 1.6. Nilai Defisit Terbesar Perdagangan Indonesia, 2013-2014 (Juta Dolar AS)
Pentingnya menakar dampak pelemahan ekonomi China terhadap Indonesia
dapat dicerminkan pada Tabel 1.2. Pada tahun 2014 defisit terbesar yang dialami oleh
neraca perdagangan Indonesia adalah dengan negara China.

1.2. Perumusan Masalah
Dari data-data yang dijabarkan di atas ada dugaan bahwa ketika terjadi pelemahan pasar
saham China kemungkinkan ada dampak terhadap kondisi pasar saham di Indonesia.
Kausalitas dari pengaruh yang muncul dapat dijelaskan sebagaimana pada Gambar 1.7
di bawah ini.

Gambar 1.7 Kausalitas Dampak Pelemahan Pasar Saham China Terhadap Indonesia
Ketika China mengalami pelemahan ekonomi maka akan membawa dampak
kepada pasar sahamnya yang turut mengalami pelemahan pula. Kondisi tersebut
membuat China yang merupakan salah satu negara mitra perdagangan ekspor-impor
terbesar Indonesia akan memberikan dampak kepada kondisi ekonomi Indonesia,
selanjutnyaakan membawa dampak terhadap kondisi pasar saham Indonesia.

5

Gambar 1.7. Variabel Konstrak dari Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk melihat pengaruh pelemahan pasar saham China
terhadap kinerja pasar modal Indonesia. Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis
mencoba menganalisis dampak dari pelemahan indeks pasar saham China dapat
mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia
(BEI). Penulis menggunakan analisis dari pergerakan tiga bursa terbesar di China yang
diduga dapat mempengaruhi indeks dari Bursa Efek Indonesia – IHSG, yaitu
sebagaimana pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1. Nama Pasar dan Indeks Saham China Yang Diteliti
No.

Nama Pasar Saham China

Nama Indeks Pasar

1.

Shanghai Stock Exchange

SSE Composite Index

2.

Shenzhen Stock Exchange

Shenzhen Composite Index

3.

Hong Kong Stock Exchange

Hang Seng Index

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disampaikan sebelumnya,
maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh perubahan indeks SSE Composite, Shenzhen Composite,
dan Hang Seng secara bersama-sama terhadap kondisi Pasar Modal Indonesia.
2. Mengetahui pengaruh perubahan indeks SSE Composite terhadap kondisi Pasar
Modal Indonesia.
3. Mengetahui pengaruh perubahan indeks Shenzhen Composite terhadap kondisi
Pasar Modal Indonesia.
4. Mengetahui pengaruh perubahan indeks Hang Seng terhadap kondisi Pasar
Modal Indonesia.
5. Mengetahui dampak pelemahan tajam indeks SSE Composite, Shenzhen
Composite, dan Hang Seng secara bersama-sama terhadap kondisi Pasar Modal
Indonesia.

6

6. Mengetahui dampak pelemahan tajam indeks SSE Composite terhadap kondisi
Pasar Modal Indonesia.
7. Mengetahui dampak pelemahan tajam indeks Shenzhen Composite terhadap
kondisi Pasar Modal Indonesia.
8. Mengetahui dampak pelemahan tajam indeks Hang Seng terhadap kondisi Pasar
Modal Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris terhadap teori yang
diuji mengenai pengaruh pelemahan indeks saham China terhadap kondisi pasar
saham Indonesia, serta sebagai referensi bagi penelitian-penelitian yang serupa
di masa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan investasi bagi investor individual dan
institusional dalam berinvestasi di Pasar Modal Indonesia.

1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari laporan penelitian ini selanjutnya diuraikan dalam lima bab
yang terdiri dari:
1. Bab I Pendahuluan: menguraikan latar belakang dilakukannya penelitian ini,
perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan
sistematika penulisan laporan penelitian.
2. Bab II Tinjauan Pustaka: menguraikan tinjauan pustaka yang terdiri dari faktor
penentu utang dan hasil beberapa penelitian sebelumnya.
3. Bab III Metodologi Penelitian: menguraikan metodologi penelitian yang terdiri
dari ruang lingkup, metode pengumpulan data, metode model penelitian, definisi
variabel-variabel penelitian dan hipotesis.
4. Bab IV Analisis dan Pembahasan: menguraikan hasil analisis dan pembahasan
dari penelitian yang terdiri dari analisis pengujian model, analisis korelasi
variabel, dan analisis hasil regresi.

7

5. Bab V Kesimpulan dan Saran
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Terkait Pasar Modal
2.1.1. Pengertian dan Fungsi Pasar Modal
Secara umum, pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya antara permintaan
dan penawaran atas instrumen keuangan jangka panjang, umumnya lebih dari satu tahun
(Samsul, 2006). Menurut Undang – Undang Pasar Modal Nomor 8 tahun 1995, definisi
pasar modal (capital market) adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Efek yang dimaksud dalam definisi Undang–Undang Pasar Modal Nomor 8
tahun 1995 adalah setiap surat berharga berupa surat pengakuan hutang, surat berharga
komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kontrak kolektif,
kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.
Efek – efek yang terdapat dalam pasar modal diperdagangkan pada dua jenis
pasar (Hidayat, 2010) :
a. Pasar Perdana
Pasar Perdana adalah pasar dimana emiten atau perusahaan menjual saham atau
surat berharga lain kepada publik untuk pertama kalinya. Membeli saham di
pasar perdana berarti membeli saham pada saat penawaran umum perdana alias
initial public offering (IPO).
b. Pasar Sekunder
Setelah penjualan melalui pasar perdana berakhir, saham kemudian akan
diperjualbelikan di pasar sekunder yaitu melalui bursa efek. Investor yang sudah
memiliki saham di pasar perdana bisa menjual atau membeli lagi saham
tersebut, sedangkan bagi yang belum memiliki bisa membelinya di pasar
sekunder.
Pasar modal memiliki peranan besar bagi perekonomian suatu negara, karena
pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi
keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal
menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak
yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang membutuhkan dana (issuer).

8

Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat
menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return)
sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut
untuk keperluan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari hasil operasi
perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal
memberikan kemungkinan dan kesempatan untuk memperoleh imbalan (return) bagi
pemilik dana, sesuai dengan karakterisktik investasi yang dipilih (Sekolah Pasar Modal,
2012).

2.1.2. Integrasi Pasar Modal
Integrasi ekonomi dikatakan sebagai pengurangan atau penghapusan hambatan
perdagangan serta koordinasi kebijakan moneter dan fiskal antar negara yang bertujuan
untuk meningkatkan perdagangan negara-negara dalam sebuah perjanjian (Setiawan,
2012). Sedangkan Bae (1995) menjelaskan bahwa pasar modal dikatakan terintegrasi
secara internasional apabila aset-aset dengan karakteristik risiko yang identik memiliki
harga yang sama walaupun diperdagangkan pada pasar modal yang berbeda.
Secara teoritis pasar modal internasional yang terintegrasikan sepenuhnya
(artinya tidak ada hambatan apapun untuk memiliki sekuritas di setiap pasar modal, dan
juga tidak ada hambatan dalam capital inflow outflow) akan menciptakan biaya modal
yang lebih rendah daripada seandainya pasar modal tidak terintegrasikan (Husnan,
2005). Hal ini disebabkan karena para pemodal bisa melakukan diversifikasi investasi
dengan lebih luas, bukan hanya antar industri tetapi juga antar negara. Karena risiko
yang relevan bagi pemodal hanyalah risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan
diversifikasi, maka semakin besar bagian risiko total yang bisa dihilangkan dengan
diversifikasi semakin menarik diversifikasi internasional bagi para pemodal. Dengan
demikian kecilnya yang ditanggung pemodal, maka tingkat keuntungan yang
diisyaratkanpun akan lebih kecil. Dengan kata lain biaya modal akan lebih kecil.
Menurunnya

biaya

modal

tertentu

akan

membuat

investasi

makin

menguntungkan, apabila hal-hal lain sama. Ini akan berarti bahwa investasi akan makin
banyak dilakukan, penyerapan tenaga kerja akan makin besar, dan seterusnya. Dengan
demikian nampaknya pasar modal internasional yang terintegrasi sepenuhnya akan

9

memberikan manfaat yang besar dibandingkan dengan seandainya tersegmentasi
sepenuhnya (Husnan, 2005).
Secara teoritis penghilangan hambatan bagi pemodal asing akan membuat pasar
modal di seluruh dunia menjadi terintegrasikan secara penuh (fully integrated capital
market) (Husnan, 2005). Maka pertimbangan risiko dan keuntungan akan dilakukan
dalam lingkup dunia dan tidak lagi dalam batasan negara tertentu. Manfaat yang akan
diperoleh adalah bahwa harga saham akan lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan
dimana pasar modal semuanya tertutup (fully segmented markets). Menurut Husnan
(2005), pasar modal Indonesia dikatagorikan sebagai pasar modal yang masih
tersegmentasikan. Pasar modal yang tersegmentasikan ditafsirkan bahwa pembentukan
harga saham di pasar modal tersebut dipengaruhi oleh kondisi bursa-bursa di luar
negeri.

2.1.3. Diversifikasi Internasional
Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam
berbagai instrumen investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang
berbeda, atau dikenal dengan strategi alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini
lebih fokus pada penempatan dana di berbagai instrumen investasi, bukan memfokuskan
terhadap pilihan saham dalam portofolio. Dari hasil studi, perbedaan kinerja lebih
banyak dikarenakan alokasi aset bukan karena pilihan investasi. Diversifikasi bertujuan
untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang
cukup. Menurut Rodoni (2008) faktor yang penting dalam diversifikasi adalah korelasi
yang rendah antara keuntungan. Semakin rendah korelasi ini, maka semakin besar
manfaat diversifikasi portofolio.
Dampak globalisasi yang terjadi pada abad 21 terhadap ekonomi menyebabkan
pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi global. Melalui semangat
globalisasi inilah para investor di berbagai negara melakukan diversifikasi internasional
yang menyebabkan adanya portofolio internasional. Diversifikasi internasional
memberikan manfaat lebih besar bagi inverstor dibanding hanya berinvestasi pada pasar
lokal. Dalam jangka panjang, kontribusi return melalui diversifikasi internasional yang
diperoleh investor akan lebih tinggi dibanding investasi yang hanya dilakukan pada

10

pasar lokal. Dengan melakukan diversifikasi internasional, investor akan memiliki
manfaat pengurangan risiko pada tingkat keuntungan tertentu.

2.1.4. Teori Efek Domino (Contagion Effect Theory)
Rigobon (2002) mengemukakan tiga definisi contagion. Pertama, contagion
dapat diinterprestasikan sebagai terjadi krisis di suatu negara dan krisis yang terjadi di
negara tersebut menimbulkan serangan spekulasi pada negara lain. Sebagai contoh
adalah serangan besar-besaran yang menyebabkan Brazil menderita pada akhir 1998
setelah Rusia jatuh. Kedua, contagion dalam arti restriktif merupakan tranmisi dari
suatu shock meliwati lintas batas negara atau secara umum terjadi korelasi yang
signifikan antar negera yang terjadi di luar hubungan fundamental antara negara dan di
luar common shocks. Contagion dalam arti restriktif biasanya disebut sebagai excess comovement dan umumnya dijelaskan oleh herd behavior. Ketiga, contagion dalam arti
sangat restriktif yaitu suatu fenomena yang terjadi ketika korelasi antar lintas negara
meningkat selama periode krisis dibandingkan pada saat perekonomian normal.
Menurut Trihadmini (2011), terdapat empat kriteria yang dapat digunakan untuk
menditeksi ada tidaknya contagion effect, yaitu berdasarkan korelasi harga aset,
conditional probability dari krisis mata uang, terjadinya tranmisi dari perubahan
volatilitas dan adanya pergerakan aliran modal.
Teori domino adalah fenomena perubahan berantai berdasarkan prinsip geostrategis. Pola perubahan dianalogikan seperti domino China (mahyong) yang berdiri
tegak, apabila domino paling awal dijatuhkan, ia akan menimpa domino terdekat, dan
proses ini akan berlanjut hingga ke keping domino terakhir. Menutur para ahli, efek
domino terjadi karena adanya teori pasar kuat mempengaruhi pasar yang lebih lemah
(Wijayanti, 2013). Menurut Dornbusch, et al. (2000), penyebab terjadinya contagion
terdiri dari beberapa penyebab seperti fundamental dan prilaku investor.

2.2. Gambaran Pasar Modal Indonesia
2.2.1. Bursa Efek di Indonesia
Menurut Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995, Bursa Efek adalah pihak yang
menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan

11

penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek
diantara mereka.
Di Indonesia hanya ada satu bursa yaitu PT Bursa Efek Indonesia. PT Bursa
Efek Indonesia adalah gabungan dari PT. Bursa Efek Jakarta dan PT. Bursa Efek
Surabaya yang merger pada tahun 2007. PT Bursa Efek Indonesia bersifat swasta dan
merupakan SRO (Self Regulatory Organization) yaitu merupakan lembaga atau
organisasi yang bisa mengatur dirinya sendiri dan berwenang untuk mengeluarkan
peraturan bagi kegiatan usahanya. Di Pasar Modal Indonesia, SRO terdiri dari: PT
Bursa Efek Indonesia sebagai fasilitator, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI)
sebagai lembaga kliring dan penjaminan, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia
(KSEI) sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesaian.

2.2.2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Untuk memberikan informasi yang lebih lengkap dan transparan bagi investor tentang
perkembangan Pasar Modal Indonesia, BEI menyebarkan data pergerakan harga saham
melalui media cetak dan elektronik. Salah satu indikator pergerakan harga saham
tersebut adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG diperkenalkan pertama
kali pada tanggal 1 April 1983 sebagai indikator pergerakan harga saham yang tercatat
di bursa. Hari dasar perhitungan indeks adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai
100. Sedangkan jumlah emiten yang tercatat pada waktu itu adalah sebanyak 13 emiten
(Buku Panduan Indeks, 2010).
IHSG menggunakan semua perusahaan tercatat sebagai komponen perhitungan
indeks. Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek
Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu atau beberapa
perusahaan tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain, jika
jumlah saham perusahaan tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif
kecil, sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham
perusahaan tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran pergerakan IHSG.
Situasi pasar secara umum baru dapat diketahui jika kita mngetahui indeks harga
saham gabungan. Untuk perhitungan indeks harga saham gabungan ini, caranya hampir
sama dengan menghitung indeks harga saham individual, tetapi harus menjumlahkan

12

seluruh harga saham yang tercatat. Rumus untuk menghitung indeks harga saham
gabungan (IHSG) adalah sebagai berikut.
IHSG=(∑Ht/∑Ho) x 100%
dengan:
∑Ht = Total harga semua saham pada waktu yang berlaku
∑Ho= Total harga semua saham pada waktu dasar
Dari harga indeks inilah kita bisa mengetahui apakah kondisi pasar sedang
ramai, lesu, atau dalam keadaan stabil. Angka IHSG menunjukan di atas 100 berarti
kondisi pasar sedang ramai, sedangkan pada saat IHSG menunjukan dibawah 100
berarti kondisi pasar sedang lesu, IHSG menunjukan nilai 100 berarti pasar dalam
keadaan stabil.

2.2.3. Keterbukaan Pasar Modal Indonesia
Keterkaitan Pasar Modal Indonesia dengan pasar modal luar negeri dimulai setelah
diperbolehkannya para investor asing untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia.
Diperkenalkannya investor asing ke pasar tentu saja berfungsi sebagai katalis yang
mendorong investasi lokal. Investasi asing berpengaruh dalam melihat perusahaan yang
memberikan informasi keuangan paling transparan dan valuasi terbaik. Masuknya danadana asing ke pasar-pasar baru, berpengaruh jelas dan menguntungkan bagi
pertumbuhan dan struktur pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, peranan investor domestik makin meningkat,
akan tetapi terdapat kebiasaan dari investor domestik untuk melakukan strategi follower
pada investor asing atau setidaknya investor domestik menggunakan perilaku investor
asing sebagai acuan (Cahyono, 2000). Sehingga saat investor asing melepas sahamnya,
investor domestik pun akan ikut melepas sahamnya sehingga indeks dapat berpotensi
turun.
Investor asing menanamkan modalnya pada bursa seluruh dunia sehingga antara
bursa-bursa di dunia mempunyai keterkaitan secara global. Kejadian dan dinamika
harga saham antara satu bursa dengan bursa yang lain saling mempengaruhi terutama
dengan bursa dari negara-negara berdekatan,

13

2.3. Gambaran pasar Modal China
2.3.1. Bursa Efek di China
Di China, 3 bursa efek terbesarnya yaitu Shanghai Stock Exchange, Shenzhen Stock
Exchange, dan Hongkong Stock Exchannge.
1. Shanghai Stock Exchange (SSE)
Bursa Efek Shanghai (Shanghai Stock Exchange; SSE) adalah bursa efek
terbesar di China. Ia terletak di kota Shanghai, China. Bursa ini didirikan pada
26 November 1990 dan mulai beroperasi pada 19 Desember tahun itu juga.
Bursa saham ini merupakan organisasi nirlaba yang dikelola oleh China
Securities Regulatory Commission (CSRC).
Indeks pasar saham utama SSE adalah SSE Composite (dikenal sebagai
"Shanghai Composite"), yang merupakan indikator paling sering digunakan
untuk mencerminkan kinerja pasar SSE. Pada Mei 2012, sejumlah 932
perusahaan mencatatkan sahamnya di SSE. Pada Desember 2011, harga sahamsaham di SSE mencapai AS$2,3 triliun dalam kapitalisasi pasar global.
2. Shenzhen Stock Exchange
Bursa Efek Shenzhen (Shenzhen Stock Exchange) adalah salah satu dari tiga
bursa efek di China selain Bursa Efek Shanghai dan Bursa Efek Hong Kong.
Bursa Efek Shenzhen merupakan bursa saham terbesar ke-9 di Asia menurut
kapitalisasi pasar. Bursa saham Shenzhen berpusat di Shenzhen, China.
3. Hong Kong Exchange
Bursa Efek Hong Kong (Hong Kong Exchange : HKEX) adalah bursa efek di
Hong Kong. Dengan kapitalisasi pasar total lebih dari HK$13,33 triliun
(US$1,71 trilyun) pada Desember 2006, Bursa Efek Hong Kong berada pada
urutan ke-7 di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar perusahaan yang terdaftar.

2.3.2. Indeks Pasar Saham China
1. SSE Composite Index
Indeks SSE disusun dan diterbitkan oleh Shanghai Stock Exhange. Indeks SSE
adalah indeks statistik otoritatif yang banyak diikuti di dalam dan luar negeri
untuk mengukur kinerja Pasar Modal China. Indeks seri SSE terdiri dari 75
indeks, termasuk 69 indeks saham, 5 indeks obligasi dan 1 indeks dana, meliputi

14

beberapa seri seperti ukuran pasar, sektor, gaya, strategi dan seri tematik dan
menjadi sistem indeks yang terus menerus ditingkatkan.
SSE Composite Index mengambil 19 Desember 1990 sebagai hari dasar
dan total kapitalisasi pasar dari semua saham yang tercatat di hari yang sama
dengan periode dasar, dengan dasar 100 poin. Indeks SSE diterbitkan dari
tanggal 15 Juli 1991 dan adalah indeks yang paling banyak digunakan di Pasar
Modal China. Indeks seri SSE mengukur tren pasar di Pasar Modal Shanghai
pada umumnya atau dari dimensi yang berbeda dan dapat merefleksikan kinerja
dan pergerakan harga perusahaan di beragam industri. Indeks SSE menawarkan
kepada investor tolak ukur yang berbeda untuk analisis portofolio. Pasar modal
diatur untuk memainkan peran yang semakin penting dalam perekonomian
nasional, indeks SSE secara bertahap akan menjadi barometer perekonomian
China (www.sse.com).
2. Shenzhen Composite Index
The Indeks Komponen Shenzhen (SZSE) merupakan indeks 40 saham yang
diperdagangkan di Bursa Efek Shenzhen.
3. Hang Seng Index
Indeks Hang Seng Index (HSI) adalah sebuah indeks pasar saham berdasarkan
kapitalisasi di Bursa Saham Hong Kong. Indeks ini digunakan untuk mendata
dan memonitor perubahan harian dari perusahaan-perusahaan terbesar di pasar
saham Hong Kong dan sebagai indikator utama dari performa pasar di Hong
Kong. Ke-34 perusahaan tersebut mewakili 65% kapitalisasi pasar di bursa ini.
HSI dimulai pada 24 November 1969 dirangkum dan dirawat oleh HSI
Services Limited, yang merupakan anak perusahaan penuh dari Hang Seng
Bank, bank terbesar ke-2 di Hong Kong berdasarkan kapitalisasi pasar.
Perusahaan ini bertanggung jawab untuk membuat, menerbitkan, dan mengatur
Indeks Hang Seng dan beberapa indeks saham lainnya, seperti Hang Seng
Composite Index, Hang Seng HK MidCap Index, dll.

15

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Kerangka Berfikir
Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang berkembang,
yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi makro ekonomi secara
umum. Pasar Modal Indonesia melalui fasilitator yaitu PT Bursa Efek Indonesia
merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan bursa saham global. Biasanya untuk
bursa-bursa saham yang berdekatan lokasinya, seringkali memiliki investor yang sama.
Perubahan di satu bursa juga akan ditransmisikan ke bursa negara lain. Dalam hal ini,
biasanya bursa yang lebih besar akan mempengaruhi bursa yang lebih kecil.
Investor asing menginvestasikan modalnya pada bursa seluruh dunia sehingga
antara bursa-bursa di dunia mempunyai keterkaitan secara global. Kejadian dan
dinamika harga saham antara satu bursa dengan bursa yang lain saling mempengaruhi,
terutama dengan bursa dari negara-negara berdekatan misalnya crash yang terjadi di
beberapa bursa negara-negara di Eropa akan mengakibatkan crash pada bursa-bursa di
negara-negara Asia termasuk Indonesia.
Berdasarkan beberapa studi empiris yang ada, kemudian disusun kerangka
konseptual untuk melihat hubungan-hubungan antara variabel penelitian seperti terlihat
pada Gambar 3.1 berikut:

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual

3.2. Data Penelitian
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh
dari berbagai sumber, dimana data yang diperoleh tidak diperoleh secara langsung dari
objek yang diteliti.

16

Adapun indeks pasar saham di Indonesia yang diteliti adalah Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan indeks pasar saham di China yang diteliti
meliputi:
1. Shanghai Composite Index,
2. Shenzhen Composite Index, dan
3. Hang Seng Index.
Dalam penelitian ini data-data diperoleh melalui website-website terkait dan
literatur- literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sedangkan jenis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yakni data yang
menekankan pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan
melakukan analisis data dengan prosedur statistik..

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, digunakan pengukuran variabel sebagai berikut:
No.
1

Variabel
RIHSGt

Definisi

Pengukuran

Perubahan harga IHSG selama periode Ln(IHSGt-IHSGt-1)
t dan t-1

2

RSSEt

Perubahan

harga

SSE

Composite Ln(SSEt-SSEt-1)

Index selama periode t dan t-1.
3

RSZSEt

Perubahan harga SZSE Composite Ln(RZSEt-RZSEt-1)
Index selama periode t dan t-1.

4

RHSIt

Perubahan harga HSI selama periode t Ln(HSIt-HSIt-1)
dan t-1.

5

DRIHSGt Nilai dummy ketika terjadi pelemahan 1, jika RIHSGt ≥ 5%
tajam IHSG pada periode t

6

DRSSEt

0, lainnya

Nilai dummy ketika terjadi pelemahan 1, jika RSSEt ≥ 5%
tajam SSE Composite Index pada 0, lainnya
periode t.

7

DRSZSEt Nilai dummy ketika terjadi pelemahan 1, jika RSZSEt ≥ 5%
tajam SZSE Composite Index pada 0, lainnya
periode t.

8

DRHSIt

Nilai dummy ketika terjadi pelemahan 1, jika RHSIt ≥ 5%

17

tajam HSI pada periode t.

0, lainnya

3.3. Pemodelan Regresi dan Hipotesis Penelitian
Model regresinya adalah sebagai berikut:
=

+

+

+

+

+

+

+

Selain itu juga diujikan apakah perubahan pasar modal China mempengaruhi pasar
modal Indonesia setelah periode tertentu. Model regresinya:
=

+
+

+

+
+

+
+

Hipotesisnya adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh SSE Composite Index, SZSE Composite Index, dan HSI Secara
Bersama-Sama Terhadap IHSG
H0 : β = β = β = 0 (Tidak ada pengaruh signifikan SSE Composite Index,
SZSE Composite Index, dan HSI secara bersama-sama terhadap IHSG)
H1 : Minimal ada satu β ≠ 0, i=1,2,3 (Ada pengaruh signifikan SSE Composite
Index, SZSE Composite Index, dan HSI secara bersama-sama terhadap IHSG)
2. Pengaruh SSE Composite Index Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada pengaruh signifikan SSE Composite Index Terhadap
IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada pengaruh signifikan SSE Composite Index Terhadap IHSG)
3. Pengaruh SZSE Composite Index Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada pengaruh signifikan SZSE Composite Index Terhadap
IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada pengaruh signifikan SZSE Composite Index Terhadap IHSG)
4. Pengaruh HSI Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada pengaruh signifikan HSI Terhadap IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada pengaruh signifikan HSI Terhadap IHSG)

18

5. Dampak Pelemahan Tajam SSE Composite Index, SZSE Composite Index,
dan HSI Secara Bersama-Sama Terhadap IHSG
H0 : β = β = β = 0 (Tidak ada dampak pelemahan tajam signifikan SSE
Composite Index, SZSE Composite Index, dan HSI secara bersama-sama
terhadap IHSG)
H1 : Minimal ada satu β ≠ 0, i=1,2,3 (Ada dampak pelemahan tajam signifikan
SSE Composite Index, SZSE Composite Index, dan HSI secara bersama-sama
terhadap IHSG)
6. Dampak Pelemahan Tajam SSE Composite Index Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada dampak pelemahan tajam signifikan SSE Composite
Index Terhadap IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada dampak pelemahan tajam signifikan SSE Composite Index
Terhadap IHSG)
7. Dampak Pelemahan Tajam SZSE Composite Index Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada dampak pelemahan tajam signifikan SZSE Composite
Index Terhadap IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada pengaruh signifikan SZSE Composite Index Terhadap IHSG)
8. Dampak Pelemahan Tajam HSI Terhadap IHSG
H0 : β = 0 (Tidak ada dampak pelemahan tajam signifikan HSI Terhadap
IHSG)
H1 : β ≠ 0 (Ada dampak pelemahan tajam signifikan HSI Terhadap IHSG)

3.4. Metode Analisis Data
3.4.1. Analisis Deskriptif Statistik
Analisis deskriptif membahas mengenai deskriptif data, penyederhanaan angkaangka pengamatan yang diperoleh (meringkas dan menyajikan) serta melakukan
pengukuran pemusatan dan penyebaran untuk memperoleh informasi yang lebih
menarik, berguna dan lebih mudah dipahami. Tujuan penggunaan analisis deskriftif ini
adalah mengetahui adanya dugaan awal pengaruh perubahan dan dampak pelemahan
tajam pasar saham China terhadap pasar bursa Indonesia.

19

3.4.2. Analisis Inferensi Statistik
Analisis inferensi statistik pada penelitian ini antara lain:
1. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh dua
variabel independen atau lebih terhadap satu variabel dependen atau untuk
membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional antara dua buah variabel
independen (X) atau lebih terhadap sebuah variabel dependen (Y).
Model regresi berganda sebagai berikut:
Y = α+β X

,

+β X

,

+ ⋯+β X

,

a) Uji Kecocokan Model
Uji kecocokan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji F. Pada
tahapan ini dilakukan pengujian terhadap variabel bebas (X) secara bersamasama terhadap variabel terikat (Y). Dengan demikian akan dapat diketahui
model hubungan fungsional antara variabel tidak bebas dengan variabel
bebasnya yang terbentuk pada penelitian ini. Jika hasil perhitungan
menunjukkan bahwa nilai probabilitas (P value) < alpha 0,05, maka H0 ditolak
dan H1 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas dari model
regresi dapat menerangkan variabel terikat secara bersama-sama.
b) Uji Koefisien Variabel Independen

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara individu masing-masing
variabel bebas dalam penelitian mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat
dalam penelitian. Dasar pengambilan keputusan adalah : Ho ditolak atau H1
diterima jika nilai signifikan t atau p value < 5%..

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara bersama-sama
mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat. Dasar pengambilan keputusan adalah :
Ho ditolak atau Ha diterima jika signifikan F atau p value < 5%.

c) Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi yang
digunakan benar-benar menunjukan hubungan yang signifikan dan representatif.
Jenis uji asumsi klasik yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
 Uji Normalitas

20

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau
tidak.
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk melihat apakah model regresi yang
digunakan atas korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik
seharusnya bebas multikolinearitas atau tidak terjadi kolerasi antara variabel
independen. Uji multikolinearitas dapat dilihat dari (1) nilai tolerance dan
lawannya (2) Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih besar
dari 0,1 atau nilai VIF lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi
multikolinearitas pada data yang akan di olah.
 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya
autokorelasi pada model ini akan digunakan uji Durbin-Watson (DW-Test). Jika
nilai DW-Test lebih lebih besar dari batas atas (du), maka tidak terjadi
autokorelasi. Untuk menguji autokorelasi dalam penelitian ini digunakan
statistik d dari Durbin-Watson (DW test) dimana angka-angka yang diperlukan
dalam metode tersebut adalah dL (angka yang diperoleh dari tabel DW batas
bawah), dU (angaka yang diperoleh dari tabel DW batas atas), 4-dL dan dU.
Jika nilainya mendekati 2 maka tidak terjadi autokorelasi, sebaliknnya jika
mendekati 0 atau 4 terjadi autokorelasi (+/-).
 Uji Heteroskedatisitas
Uji heteroskedatisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
terjadi kesamaan variance atau residual satu pengamatan yang lain. Jika
variance dari residual satu pengamatan kepengamatan lain tetap, maka disebut
heteoskedatisitas, sebaliknya jika tetap disebut

21

Homokesdatisitas. Dasar

analisis yang digunakan untuk mendeteksi heteroskedatisitas adalah sebagai
berikiut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu
yang teratur (bergelombang,

melebar kemudian menyempit)

maka

mengidentifikasikan telah terjadi heterokesdatisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah
angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskerdatisitas.

IV. DAFTAR PUSTAKA
Annuar, M.N. and Shamr:her, M. (1993). Capital Structure, Capital Market Review,
1(2), 171-177.
Ariff, M (1998). Stock Pricing in Malaysia - Corporate Financial & Investment
Management. UPM Press.
Auerbach, A. J. (1985). Real Determinants of Capital Structure in Friedman, B. (ed.),
Corporate Structures in the United States, Chicago: University of Chicago
Press.
Barclay, M. J. and Smith, C. W. (1996). On Financial Architecture: Leverage, Maturity
and Priority, Journal of applied Corporate Finance, 8, 4, 4-17.
Barclay, M. J. and Smith, C. W. (1999). The Capital Structure Puzzle: Another Look at
the Evidence, Journal of Applied Corporate Finance, 12(1), 8-20.
Barclay, M. J., Smith, C. W., and Watts, R. L. (1995). The Determinants of Corporate
Leverage and Dividend Policies, Journal of Applied Corporate Finance, 7(4), 419.
Baskin, J.
(1989). An Empirical Investigation of the Pecking Order Hypothesis,
Financial Management I(1), 26-35.
Berger, P. G., Ofek, E. nd Yermack, D. L.(1997). Managerial Entrenchment and
Capital Structure Decisions, Journal of Finance, 52, 4, 1411-1438.
Bradley, M., Jarrell, G. A. and Kim, E. H. (1984). On the Existence of Optimal Capital
Structure Theory and Evidence, Journal of Finance, 39 (July),
857-878.

22

Castanias, R. (1983). Bankruptcy Risk and Optimal Capital Structure, Journal of
Finance, 1617-1635.
Chirinko, R. S. and Singha, A. R. (2000). Testing Static Tradeoff Against Pecking
Order Models of Capital Structure: A Critical Comment, Journal of Financial
Economics, 58, 417-425.
Chittenden, F. Hall, G. and Hutchinson, P.(1996). Small Firm Growth, Access to
Capital Markets and Financial Strcture: Revie of Issues and an Errpirical
Invesigation, Small Business Economics, 8, 59-67.
Chung, K. H. (1993). Asset Characteristics and Corporate Debt Policy: An Empirical
Test, Journal of Business Finance and Accounting, 20(1), 83-98.
Crutchley, C. E. and Hansen, R. S. (1989). A Test of the Agency Theory of Managerial
Ownership, Corporate Leverage, and Corporate Dividend, Financial
Management, 18(4), 36116.
DeAngelo, H. and Masulis, R.W.(1980). Optimal Capital Structure Under Corporate
and Personal Taxation, Journal of Financial Economics, 8(1), 3-29.
Ferri, Micheal G. and Jones, Wesley H. (1979). Determinants of Financial Structure:
a New Methodological Approach, The Journal of Finance, 34(3), 631.
Harris, M. and Raviv, A. (1991). The Theory of Capital Structure, Journal of Finance,
XLVL(1), 297-355.
Jensen, M.C. and Meckling, W.H. (1976). Theory of the Finn: Managerial Behavior,
Agency Costs and Capital Structure, Journal of Financial Economics.
Kester, C. W. (1996). Capital and Ownership Structure: A Comparison of United
States and Japanese Manufacturing Corporations, Financial Management, 5-16.
Lasfer, M. A. (1995). Agency Costs, Taxes and Debt: The U. K. Evidence, European
Financial Management, 1, 3, 265-285.
Michaelas, N., Chittenden, F. and Poutziouris, P. (1999). Financial Policy and Capital
Structure Choice in U. K. SMEs: Empirical Evidence from Company Panel
Data, Small Business Economics, 12, 113-130.
Modigliani, F. and Miller, M. H. (1958). The Cost of Capital, Corporation Finance and
The Theory of Investment, .American Economic Review, XLVIII(3), 261-297.
Modigliani, F. and Miller, M. H. (1963). Corporate Income Taxes and the Cost of
Capital: A Correction, Americcm Economic Review, 53(3), 433-443.

23

Moh'd, M. A., Perry, L. G., and Rimbey, James N (1998). The Impact of Ownership
Structure on Corporate Debt Policy: A Tune-Series Cross-Sectional Analysis,
Financial Review, 33(3), 85-99.
Myers, S. C. (1977). Determinants of Corporate Borrowing, Journal of Financial
Economics, 5, 147-175.
Myers, S. C. (1984). The Capital Structure Puzzle, The Journal of Finance, XXXIX(3),
575-592.
Myers, S. C. and Majluf, N. S. (1984). Corporate Financing and Investment Decisions
When Firms Have Information that Investors Do not Have, The Journal of
Financial Economics, 13, 187-221.
Pandey, I.M., Chotigeat, T. and Ranjit, M, K. (2000). Capital Structure Choices in an
Emerging Capital Market: Case of Thailand, Management and Change, 4, 1, 114.
Rajan, R. G. and Zingales, Luigi (1995). What Do We Know about Capital Structure?
Some Evidence from International Data, Journal of Finance, 50, 5, 1421-1460.
Remmers, L., Stonehill, A., Wright, R. and Beekhuisen, T. (1974). Industry and Size as
Debt Ratio Determinants in Manufacturing Internationally, Financial
Management (Summer), 24-32.
Stohs, M. H. and Mauer, D. C. 1996). The Determinants of Corporate Debt Maturity
Structure, Journal of Business, 69, 3, 279-312.
Thies, C. F. and Klock, M. S.(1992). Determinants of Capital Structure, Review of
Financial Economics, 1(2), 40-53.
Titman, S. and Wessels, R. (1988). The Determinants of Capital Structure Choice, The
Journal of Finance, XLIII, 1, 1-19.
Van der Wijst, N. and Thurik, R. (1993). Determinants of Small Firm Debt Ratios: An
Analysis of Retail Panel Data , Small Business Economics, 5, 55-65.
Wald, John K. (1999). How Firm Characteristics Affect Capital Structure: An
International Comparison, Journal of Financial Research, 22(2), 161-187.

24