You are on page 1of 32

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH SUMATERA UTARA
RESOR TAPANULI UTARA

STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP)
TENTANG
PENANGANAN KECELAKAAN LALU LINTAS

I.

PENDAHULUAN.

1. UMUM
Perkembangan teknologi yang sangat pesat pada saat ini dan tingkat pertumbuhan penduduk yang
terus bertambah pula populasinya, maka diperlukan adanya sarana dan prasarana transportasi yang
memadai dari segi kualitas maupun kuantitas. Berbagai merek kendaraan bermotor telah
merambah di berbagai wilayah di Indonesia, tidak hanya di daerah perkotaan saja namun juga di
wilayah pelosok negeri ini, bahkan di daerah pegunungan tidak mau ketinggalan untuk memiliki
kendaraan bermotor. Tentu saja tidak hanya jenis kendaraan bermotor roda dua ( sepeda motor)
melainkan kendaraan beroda empat ( mobil ), kendaraan transportasi umum sampai kendaraan
transportasi beroda enam. Baik kendaraan pribadi maupun milik perusahaan maupun milik
kelembagaan sudah tidak asing lagi bagi penduduk di Indonesia.
Sementara itu perilaku orang dalam penggunaan jalan pada saat ini mengalami hal-hal yang
sangat kompleks, karena dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor yang ada di jalan tidak
disertai dengan bertambahnya panjang jalan. Sehingga masalah yang timbal di jalan pun semakin
banyak, kepadatan lalu lintas di berbagai tempat yang disebabkan oleh banyaknya pengguna jalan
terutama kendaraan bermotor menyebabkan kemacetan jalan serta kerawanan kecelakaan lalu
lintas. Setiap orang bebas untuk dapat memiliki kendaraan sesuai dengan kemampuan ekonomi,
maka tidak tanggung-tanggung bagi orag yang memiliki ekonomi yang lebih dapat memiliki
kendaraan
lebih
dari
satu.
Dengan keadaan tersebut berarti terdapat sesuatu perubahan dari kondisi sebelumnya yang tidak
dibarengi dengan kesadaran dari pengguna jalan untuk tertib dalam berlalu lintas, sehingga
dengan hal itu memerlukan perencanaan yang matang dan terarah, sehingga tujuan yang
diinginkan oleh masyarakat luas dapat tercapai. Jalan dalam bentuk apapun terbuka untuk lalu
lintas, sebagai sarana dan prasarana perhubungan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Setiap pengguna jalan wajib turut serta terlibat dalam menciptakan situasi yang kondusif dan lalu
lintas yang tertib dan lancar. Ketertiban lalu lintas merupakan keadaan dimana manusia dalam
mempergunakan jalan secara teratur, tertib dan lancar atau bebas dari kejadian kecelakaan lalu
lintas. Maka dalam hal ini diperlukan aturan hukum yang dapat mengatur lalu lintas untuk
mewujudkan
ketertiban
dalam
berlalu
lintas.
Diharapkan peraturan yang ada dapat menajdi pedoman dalam mengantisiasi terjadinya
permasalahan lalu lintas dan kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerugian materi maupun
korban jiwa. Tidak semua orang menyadari bahwa pemakaian jalan ialah untuk kepentingan

masyarakat luas bukan untuk kepentingan diri sendiri saja, sehingga tidak jarang pemakai jalan
mengabaikan peraturan dan keselamatan pengguna jalan lainnya dengan berbagai macam alasan.
Menurut Kansil, berdasarkan teori fictie hukum dimana, “setiap orang dianggap telah mengetahui
adanya suatu undang-undang”. Hal ini berarti jika ada seseorang yang melanggar Undang-Undang
tersebut, la tidak diperkenankan membela atau membebaskan dini dengan alasan : "saya tidak tahu
menahu
adanya
Undang-Undang
ini"
(
Kansil,
1989
:
47
)
Pelanggaran yang dilakukan oleh pemakai jalan akan menimbulkan kerawanan dan pada akhimya
dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jadi hendaknya semua pengguna jalan
berhati-hati serta mentaati peraturan lalu lintas yang ada. Namun sangat disayangkan, tidak semua
orang menyadari akan bahaya kecelakaan lalu lintas yang dapat menimpa dirinya sandiri atau
mungkin
orang
lain.
Selain mendatangkan kerugian materi kecelakaan lalu lintas juga mengakibatkan kerugian yang
lebih besar yaitu korban jiwa. Korban kecelakaan lalu lintas dapat berupa luka ringan, luka berat /
cacat seumur hidup dan meninggal dunia. Tidak jarang karena kurang kesadaran atau tidak adanya
rasa tanggung jawab dari pihak-pihak yang mengalami musibah kecelakaan karena alasan tertentu
meninggalkan korban kecelakaan lalu lintas begitu saja tanpa memberikan pertolongan atau
melaporkannya kepada petugas kepolisian ( tabrak lari ). Hal seperti ini sangatlah bertolak
belakang dengan peraturan yang ada sehingga dapat merugikan korban kecelakaan lalu lintas
tabrak lari, korban kecelakaan lalu lintas tabrak lari kurang mendapatkan hak mereka menurut
hukum dan harus menanggung sendiri akibat yang timbul dari kecelakaan tersebut. Tidak jarang
kecelakaan yang pada akhirnya menjadi tabrak lari, sehingga penyelesaian kasus kecelakaan itu
kadang menemui jalan buntu, dalam arti proses penuntutannya pun akan mengambang karena
tersangka tidak dapat tertangkap / melarikan diri dan korban kecelakaan harus menanggung
akibatnya sendiri karena tidak adanya tertanggungjawaban dari pihak tersangka.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai
penanganan kecelakaan lalu lintas tabrak lari dan peran POLRI dalam menangani kasus tersebut
serta dasar-dasar hukum yang dapat menjerat para pelanggar dan pelaku tindak pidana lalu
lintasDalam Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 F
disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi,
mengembangkan Pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari,
memperoleh,memiliki dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia.
Untuk memberikan jaminan terhadap semua orang dalam memperoleh informasi maka dibentuk
undang- undang yang mengatur tentang Keterbukaan Informasi Publik. Hal ini diperlukan
mengingat hak manusia untuk memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia sebagai
salah satu wujud dari kehidupan berbangsa bernegara yang demokratis.
Dalam kesiapannya menghadapi era Keterbukaan Informasi Publik, Polri sebagai salah satu badan
Publik, dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya secara optimal dan professional sehingga di
harapkan dapat memberikan pelayanan informasi kepada publik secara cepat, murah, transparan
dan Akuntabel.
Seiring dengan tuntutan masyarakat yang semakin komplek dan kritis terhadap pelayanan
penanganan kecelakaan Lalu lintas maka dibutuhkan kesiapan secara menyeluruh baik pihak
Kepolisian maupun instansi terkait lainnya yang merupakan stakeholders layanan penanganan
kecelakaan lalu lintas. Guna memudahkan kinerja dan mendapatkan hasil yang optimal dipandang
perlu untuk membuat Standar Operation Procedure (SOP) tentang tata Cara penanganan
Kecelakaan Lalu Lintas yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di wilayah hukum Polres
Tapanuli Utara.

2.

DASAR

a. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia.

b. Undang – Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukan Informasi Publik. ( KIP )
c. Undang- undang …..
2
c. Undang – Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
d. Grand Strategi Polri 2004 – 2025.
e. Renstra Polri 2010 – 2014.
f. Reformasi Birokrasi Polri.
3.

MAKSUD DAN TUJUAN

a. Maksud
Standar Operation Procedure (SOP) ini dimaksudkan sebagai pedoman dasar bagi Pejabat
Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Polri yang bertugas di dalam penyampaian
informasi Polri kepada Publik yang ada pada satker Polres Ngawi atau pada Bag dan Satfung serta
Polsek /ta dalam jajaranPolres Ngawi, yang menggunakan jaringan online sebagai sarana
penyebarluasan informasi satker / Polres atau Polsek yang ada di jajaran yang cepat dan tepat.
b. Tujuan
Tujuan Pembuatan Standar Operation Procedure (SOP) ini sebagai acuan pelaksanaan tugas
Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Polri guna mendapatkan persamaan
persepsi, kesatuan tindak dan keseragaman dalam penggunaan informasi secara online sebagai sa
rana penyebarluasan informasi Polri yang transparan.
4.

RUANG LINGKUP

Adapun ruang lingkup dari pada Standar Operation Procedure (SOP) Ini meliputi tata cara
penggunaan informasi secara online sebagai sarana penyebarluasan informasi kinerja
POLRI.khususnya di Polres Ngawi.
5.

PENGERTIAN – PENGERTIAN

a. System adalah suatu jaringan kerja dari prosedur – prosedur yang saling berhubungan, untuk
melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
b. Online adalah system yang terhubung, terkoneksi, aktif dan siap untuk operasi, dapat
berkomunikasi dengan atau dikontrol oleh komputer.
c. Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan dan tanda-tanda

. TATA CARA SYSTEM ONLINE. Pejabat….id). dan/atau pelayanan Informasi dibadan Publik.. Yang kemudian petugas operator tersebut melakukan input data kedalam database. Orang adalah orang perseorangan. baik data. 2) Mempersiapkan Informasi data dalam bentuk file data yang dapat diakses oleh Publik setiap saat dengan memanfaatkan jasa Internet atau Intranet. b. kemudian di lakukan upload ke dalam website Polri yaitu (www. Pejabat pengelola Informasi dan Dokumentasi adalah Pejabat yang bertanggung jawab dibidang penyimpanan. Pengguna informasi Publik adalah orang yang menggunakan Infor masi publik sebagai mana diatur dalam Undang – Undang. 3 e. dikelola.polri. atau badan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang. kelompok orang. pendokumentasian. 4) Operator bertugas melaksanankan Update dan Upload data yang berada di dalam portal maupun website Polri dalam setiap harinya. 3) Mempersiapkan personil / petugas operator input data. 2) Data yang sudah tersimpan didalam database. dan dibaca disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun none lektronik.go. e. penyediaan. d. disimpan. Persiapan System online : 1) Mempersiapkan hardware dan software yang terkoneksi ke system portal VPN – IP yang ada pada system jaringan komputer POLRI (komputerisasi). fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat.yang mengandung nilai.Informasi Publik adalah Informasi yang dihasilkan. kemudian di edit ke dalam portal masing – masing Satker ( PPID ) Polres. dikiriim. II. badan hukum. dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan badan Publik lainnya yang sesuai dengan Undang – Undang ini serta Informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan Publik. f. didengar. makna. a. 3) File data yang telah tersedia dimasing – masing portal Satker (PPID) Polres atau Stfung danPolsek. g. dan pesan. Pelaksanaaan System online: 1) Data yang diterima petugas operator dari Pejabat PID.

Bid Humas Polda Jatim dan atau di Bag Humas /PID Polres Ngawi III. Bentuk penggunaan System online. b) Untuk mengakses data melalui layar informasi dapat dilakukan mengunakan perangkat yang ada di pusat layanan informasi elektronik Div Humas Polri. (b) Informasi…. .go. (d) Publik yang membutuhkan data yang belum tersedia dapat mengajukan permintaan melalui kolom menu buku tamu atau pertanyaan yang tersedia dihalaman depan website Polri. KETENTUAN TAMBAHAN: 1. 1) Penggunaan system online melaluin internet : (a) Informasi dan data yang dapat di input oleh Oprator /petugas PID dapat dilakukan melalui jaringan VPN-IP yang ada di lingkungan Polri. 3) Menjaga kerahasiaan Password masing – masing user. PENUTUP Demikian Standard Operation Procedure (SOP) dibuat untuk dapat digunakan sebagai pedoman operator atau petugas penggunaan online sebagai sarana penyebarluasan informasi Polri yang cepat dan tepat serta transparan kepada publik. (c) Publik dapat melihat informasi dan data Satker Polres pada menu dan sub menu yang terdapat didalam konten Pus PID. Dapat memegang informasi dan data yang bersifat rahasia yang ada pada satker atau Polda dimana operator tersebut bertugas. ( Bag Humas ) Polres Ngawi. dan petugas operator yang dapat mengoperasikan system komputer secara online. 2) Menjamin system online untuk dapat diakses oleh seluruh Publik setiap saat.id) dengan cara masuk kedalam konten Pus-PID yang tersedia di halaman utama website Polri. Operator yang akan ditunjuk harus memiliki kompetensi computer dan tek nologi informasi data..polri. 2) Penggunaan layar monitor informasi a) Publik dapat mengakses informasi dan data melalui layar monitor informasi yang tersedia di ruangan informasi Humas Polri. IV.c. d. 4 (b) Informasi diakses oleh Publik menggunakan website Polri (www. 2. Tanggung jawab operator System online : 1) Menyimpan seluruh informasi data yang diperoleh ke dalam server database.

POLRI DAERAH JAWA TIMUR WILAYAH MADIUN RESOR NGAWI BAG HUBUNGAN MASYARAKAT STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) TENTANG TATACARA PELAYANAN INFORMASI 1. mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari. pendokumen tasian. Seiring dengan tuntutan masyarakat yang semakin komplek dan kritis terhadap jasa pelayanan informasi maka dibutuhkan kesiapan secara menyeluruh baik perangkat keras maupun perangkat lunak dan penyediaan jasa layanan informasi. Hal ini diperlukan mengingat hak manusia untuk memperoleh informasi merupakan Hak Asasi Manusia sebagai salah satu wujud dari kehidupan berbangsa bernegara yang demokratis. dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya secara optimal dan professional sehingga di harapkan dapat memberikan pelayanan informasi kepada publik secara cepat. murah. Untuk memberikan jaminan terhadap semua orang dalam memperoleh informasi maka dibentuk undang-undang yang mengatur tentang Keterbukaan Informasi Publik. Salah satu bentuk daripada kegiatan tersebut adalah penyiapan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) yang bertanggung jawab di bidang penyimpanan. penyediaan dan atau pelayanan informasi. transparan dan Akuntabel. Guna memudahkan kinerja dan mendapatkan hasil yang optimal dipandang perlu untuk membuat Standar Operation Procedure (SOP) tentang Tata Cara Pelayanan Informasi. I. PENDAHULUAN. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. DASAR a. 1. memperoleh. Dalam kesiapannya menghadapi era Keterbukaan Informasi Publik. Polri sebagai salah satu badan Publik. Undang-Undang No. UMUM Dalam Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28F disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. . memiliki dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 2.

Reformasi Birokrasi Polri. disimpan. data maupun penjelasannya yang dapat dilihat. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik d. Tujuan Tujuan Pembuatan Standar Operation Procedure (SOP) ini sebagai acuan pelaksanaan tugas Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Polri guna mendapatkan persamaan persepsi. c. b. gagasan dan tanda – tanda yang mengandung nilai. c. baik data. . dan pesan. dikelola. Grand Strategi Polri 2004 – 2025. Undang…. Maksud Pembuatan Standar Operation Procedure (SOP) ini dimaksudkan sebagai pedoman dasar Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Polri bertugas dalam pelayanan informasi. MAKSUD DAN TUJUAN a. Undang – Undang No. dikiriim.b. dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan badan Publik lainnya yang sesuai dengan Undang – Undang ini serta Informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan Publik. dan dibaca disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik. dan/atau pelayanan Informasi di badan Publik. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukan Informasi Publik. 4. pernyataan. e. 5. penyediaan. pendokumentasian. kesatuan tindak dan keseragaman dalam pelayanan informasi. b. RUANG LINGKUP Adapun ruang lingkup dari pada Standar Operation Procedure (SOP) ini meliputi tata cara pelayanan informasi. Pejabat pengelola Informasi dan Dokumentasi adalah Pejabat yang bertanggung jawab dibidang penyimpanan. Informasi Publik adalah Informasi yang dihasilkan. Renstra Polri 2010 – 2014. makna. 2 c. Undang – Undang No.. 3. didengar. Informasi adalah keterangan. f. PENGERTIAN – PENGERTIAN a.

II. e. 2) Mencatat permintaan informasi publik yang diajukan secara tidak tertulis. 1. 3 II. 2) Memberikan pelayanan informasi dengan mengirimkan secara berkala. ..d. c. f. 3) kelancaran pelayanan informasi kepada pengemban fungsi Humas. 5) Dalam hal permintaan disampaikan melalui surat. kelompok orang. Persiapan pelayanan informasi 1) Mempersiapkan sarana dan prasarana pelayanan baik berupa Buku register dan blangko tanda penerimaan permohonan informasi. Pelaksanaaan pelayanan informasi: 1) Mencatat nama dan alamat pemohon informasi Publik. pengirman Nomor pendaftaran dapat diberikan bersamaan dengan pengiriman informasi. nomor pendaftaran diberikan saat penerimaan permintaan. Pemohon informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hokum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang – Undang. Orang adalah orang perseorangan. TATA CARA PELAYANAN INFORMASI. Pelayanan informasi adalah serangkaian kegiatan pelayanan kepada Pemohon informasi berupa penerimaan permohonan. tau badan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang. 2) Mempersiapkan personil/petugas pelayanan informasi. b. 4) Kerahasiaan Informasi yang dikecualikan kepada masyarakat.TATA CARA…. Pengguna informasi Publik adalah orang yang menggunakan informasi publik sebagai mana diatur dalam Undang – Undang. pencatatan dan pemberian informasi. g. 3) Memberikan tanda bukti penerimaan permintaan informasi. subjek dan Format informasi serta cara penyampainan informasi yang diminta oleh pemohon informasi publik. badan hukum. a. rekaman dan Audio Visual.serta merta dan setiap saat informasi dan dokumentasi kepada pengemban fungsi Humas. 4) Dalam hal permintaan disampaikan secara langsung atau melalui surat elektronik. Tanggung jawab pelayanan informasi : 1) Mendokumentasikan Informasi dan data yang diperoleh dalam bentuk foto.

(c) Setiap saat yaitu informasi publik yang berada di bawah penguasaannya tidak termasuk yang dikecualikan. 4) Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan yaitu: (a) Secara berkala yaitu segala kegiatan dan kinerja badan publik.seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya. laporan keuangan. (b) Pemberian informasi melalui akses informasi dan data Teknologi informasi dan komunikasi. informasi lain yang diatur oleh undang-undang. 4 3) Penyampaian akses informasi dan data melalui teknologi informasi dan komunikasi oleh Pelayan informasi dapat diperoleh melalui antara lain : (a) Internet (b) Multimedia Messages System (MMS) (c) Pesan singkat (Short Messages System/SMS) (d) Faksmil. Bentuk pelayanan informasi. informasi dan kebijakan yang disampaikan pejabat publik dalam pertemuan yang terbuka untuk . 1) Penyampaian informasi publik dilakukan dalam bentuk : (a) Pemberian informasi dan data secara langsung. d.. 2) Penyampaian informasi dan data secara langsung kepada publik oleh Pelayan informasi dalam bentuk antara lain: (a) Tulisan (b) Laporan (c) Gambar (d) Grafik (e) Rekaman 3) Penyampaian…. (b) Serta merta yaitu segala bentuk keadaan yang mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum.hasil keputusan badan publik dan pertimbangannya.perjanjian badan publik dengan pihak ketiga.rencana kerja Polri.5) Keakuratan Informasi yang diberikan kepada pengemban fungsi umas dan masyarakat.

prosedur kerja polri dan laporan mengenai pelayanan akses informasi publik sebagaimana diatur dalam undang-undang. 5) Kewajiban pelayanan informasi setiap tahun mengumumkan layanan informasi berupa jumlah permintaan informasi yang diterima. mengungkapkan data intelejen kriminal dan rencana – rencana yang berhubungan dengan pencegahan dan penanganan segala bentuk kejahatan transnasional. b) Secara insidentil. 2. . KETENTUAN TAMBAHAN: Penyelenggaraan Pelayan informasi.jumlah pemberian dan penolakan permintaan informasi. d) Pengiriman informasi dan dokumentasi di lingkungan Polri menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia. III. Hubungan Horizontal a) Setiap pelayan informasi agar mengirimkan informasi dan doku mentasi yang berkaitan dengan kegiatan Polri yang dapat diakses olek publik yaitu informasi yang bukan dikecualikan .saksi dan atau korban yang mengetahui adanya tindak pidana.alasan penolakan informasi.membahayakan keamanan peralatan. sarana dan atau prasarana penegak hukum.pelapor.informasi yang wajib…. (d) Informasi yang di kecualikan yaitu apabila informasi tersebut di berikan akan menghambat proses penyelidikan dan penyidikan. a.. c) Humas Polri dapat meminta tambahan informasi dan dokumentasi yang telah diberikan atau dikirim oleh pelayan informasi. membahayakan keselamatan dan kehidupan penegak hukum dan atau keluarganya. pelayan informasi wajib memberikan informasi dan data yang akurat kepada Humas Polri dalam hal terjadi kasus yang menjadi perhatian publik dan sedang ditangani oleh Polri. 5 yang wajib tersedia setiap saat dan informasi yang wajib disediakan secara berkala.waktu yang di perlukan badan publik dalam memenuhi setiap permintaan informasi.mengungkap identitas informan. b) Melaksanakan koordinasi yang berkaitan dengan informasi publik disampaikan pada publik.umum. Hubungan Vertikal a) Saling memberi dan menerima informasi dan dokumentasi yang berkaitan dengan satuan kerja masing-masing. 1.

b.undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28F disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomu nikasi dan memperoleh informasi mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. viedo player / VTR unit (VHS. 4. Untuk . Hard Disk ) dan studio audio baik yang manual maupun digital. Standarisasi sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelayanan informasi antara lain : 1. Betamax.c) Pelayan informasi wajib secara langsung memberikan laporan informasi terkait dengan peristiwa yang bersifat insidentil yang menjadi perhatian publik kepada Humas Polri. PENDAHULUAN 1) Umum Dalam Undang. Peralatan pengolah data ( editing unit ) linier dan non linier baik manual maupun digital. Kamera video dan foto. PENUTUP Demikian Standard Operation Procedure (SOP) dibuat untuk dapat digunakan sebagai pedoman petugas Pelayan informasi. Betacam. DV cam. memperoleh. Peralatan yang berbasis multimedia (proyektor LCD. 3. computer dan laptop). POLRI DAERAH JAWA TIMUR WILAYAH MADIUN RESOR NGAWI BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) TENTANG PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN INFORMASI I. Standarisasi sarana dan prasana pelayanan informasi. kamera surveilance. 2. video 8. mini DV. Peralatan digital monitoring media (DMM) baik televise maupun radio. IV. memi liki dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. serta berhak untuk mencari. Ruangan dengan teknologi jaringan yang berbasis inter dan intranet. 5.

d.Humas Polri sebagai salah satu satuan kerja dalam organisasi Polri yang bertugas dibidang pelayanan informasi dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya secara optimal dan professional sehingga di harapkan dapat memberikan pelayanan informasi kepada publik secara trasparan dan Akuntabel. Reformasi Birokrasi Polri. pendokumentasian. Seiring dengan tuntutan masyarakat yang semakin komplek dan kritis terhadap jasa pelayanan informasi maka dibutuhkan kesiapan secara menyeluruh baik perangkat keras maupun perangkat lunak dan penyediaan jasa layanan informasi. 24 Tahun 2009 tentang pelayanan Publik. c.penyediaan dan atau pelayanan informasi. menggunakan dan menyebarkan informasi yang akurat secara mudah dan cepat sehingga memerlukan kesiapan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk memberikan pelayanan informasi publik. Salah satu bentuk dari kegiatan tersebut adalah penunjukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) baik secara struktural maupun fungsional yang mengemban peran sebagai pelayan informasi dilingkungan polri yang bertanggung jawab dibidang penyim panan.memberikan jaminan terha dap semua orang dalam memperoleh informasi maka diterbitkan undang.Undang No. Undang – Undang No. 3) Maksud dan Tujuan 1. Undang – Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers .undang yang mengatur tentang Keterbukaan Informasi Publik. 2 2) Dasar a. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Maksud Pembuatan Standar Operation Procedure (SOP) ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi setiap personil maupun anggota / petugas PPID Satker mabes polri dan satuan kewilayahan dalam melaksa nakan tugas pengumpulan dan pengolahan informasi. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukan Informasi Publik. Guna memudahkan dalam kinerjanya dan mendapatkan hasil yang optimal serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat dipandang perlu untuk membuat Standar Operation Procedure (SOP) kegiatan PPID tersebut diatas yang merupakan Standar Baku dari pelaksanaan tugas PPID dalam melaksanakan tugas pengumpulan dan pengolahan informasi 2) Dasar…. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Di Era reformasi setiap warga negara memiliki hak untuk mencari. Undang – Undang No. Dalam kesiapannya menghadapi era Keterbukaan Informasi Publik. Undang. f. g. . Grand Strategi Polri 2010-2025. memperoleh. Undang – Undang No. e.. b.

Pejabat pengelola Informasi dan Dokumentasi adalah Pejabat yang bertanggung jawab dibidang penyimpanan. Informasi Publik adalah Informasi yang dihasilkan. kesatuan tindak dan keseragaman dalam pelaksaan tugas. Pengumpulan…. dan pesan. didengar. 3 d. c. 5) Pengertian-pengertian a.. makna. dikelola. Tujuan Tujuan Pembuatan Standar Operation Procedure (SOP) ini sebagai pedoman pelaksanaan tugas kepada seluruh anggota /petugas PPID Satker mabes polri maupun satuan kewilayahan dalam melaksanakan pengumpulan dan pengolahan informasi. data maupun penjelasannya yang dapat dilihat. e. pernyataan.tugas PPID. Informasi adalah keterangan. Adapun ruang lingkup dari pada Standar Operation Procedure (SOP) ini dibatasi pada pelaksanaan Tugas PPID dalam pengumpulan dan pengolahan informasi pada Satker mabes polri dan satuan kewilayahan. disimpan. II. Pengolahan adalah kegiatan evaluasi dan verifikasi Informasi terha dap data maupun Informasi yang berkaitan dangan kinerja Polri. b. Semua informasi dan data bersumber dari Satker Mabes Polri. dan/atau pelayanan Informasi di badan Publik. dikiriim. penyediaan. TATA CARA PENGUMPULAN INFORMASI 1) Sumber Informasi a. baik data. 4) Ruang Lingkup. gagasan dan tanda – tanda yang mengandung nilai. b. dan dibaca disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik. d. Semua informasi dan data bersumber dari Polres Tabes/ Ta/standard . dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan badan Publik lainnya yang sesuai dengan Undang – Undang ini serta Informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan Publik. c. Semua informasi dan data bersumber dari Polda. pendokumentasian.guna mendapatkan persamaan persepsi. mendapatkan suatu Informasi baik berupa data maupun dokumentasi yang berkaitan dengan kinerja Polri.a. Pengumpulan adalah kegiatan mencari.

(5) Perjanjian Polri dengan pihak ketiga. Informasi yang wajib diumumkan secara serta merta. (3) Informasi mengenai laporan keuangan Polri. (2) Informasi mengenai kegiatan dan kinerja Polri.d. (4) Informasi yang diatur dalam peraturan Perundang – undangan. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala. tidak termasuk informasi yang dikecualikan. (1) Informasi yang terkait dengan ancaman hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum. (2) 4 Informasi…. d. (1) Informasi yang berkaitan dengan Polri. . c. b. (2) Hasil keputusan Polri dan pertimbangannya. Informasi yang wajib tersedia setiap saat. (1) Daftar seluruh informasi Polri yang berada dibawah penguasa annya. (4) Rencana kerja proyek termasuk didalamnya perkiraan penge luaran tahunan Polri. (6) Informasi dan kebijakan yang disampaikan Pejabat Polri dalam pertemuan terbuka untuk umum. (8) Laporan mengenai pelayanan akses informasi Polri sebagai mana diatur dalam Undang – Undang. Informasi yang Dikecualikan. Semua informasi dan data bersumber dari Polsek Tabes/ Ta/ standard 2) Jenis Informasi a. (7) yang Prosedur kerja Polri yang berkaitan dengan pelayanan masya rakat dan/atau. (3) Seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya. Informasi yang dikecualikan dirumuskan setelah dilakukan uji konsekuensi (apabila di buka untuk umum akan menimbulkan kerugian yang lebih besar ). berupa : (1) Informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi publik dapat menghambat proses penegakan hukum..

diterima dari (b) Mengelompokan informasi dan data sesuai dengan jenis informasi yang diterima dari Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan buku register informasi b. (3) Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi Publik dapat membahayakan keamanan Negara. (b) Mengelompokan informasi dan data yang diterima dari Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan buku register informasi (2) Pengolahan (a) Menganalisa dan memverifikasi informasi dan data yang Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan buku register informasi. (10) Informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang – Undang. (4) Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi Publik dapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia. dapat merugikan kepentingan hubungan luar negeri. Pengumpulan dan pengolahan secara manual dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) Pengumpulan (a) Mencatat informasi dan data yang diterima dari Satker/ Polda/Polres/Polsek kedalam buku register. Pengumpulan dan pengolahan dengan menggunakan Jaringan IT . dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional. 3.(2) Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi publik dapat mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat. (8) Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi. (9) Memorandum atau surat – surat antara Polri atau intra Polri yang menurut sifatnay dirahasiakan kecuali atas putusan komisi informasi atau pengadilan. (5) Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi Publik. (6) Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi Publik. (7) Informasi publik yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang. Sistem Pengumpulan dan pengolahan Informasi a.

III. diterima dari (3) Mengelompokan informasi dan data sesuai dengan jenis infor masi yang diterima dari Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan data base komputer. Hasil evaluasi dan verifikasi dilaporkan dalam bentuk tertulis sesuai format yang ditentukan. 5 (2) Menganalisa dan memverifikasi informasi dan data yang Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan database komputer. b. dilakukan evaluasi dan c.(1) Memasukan dan menyimpan informasi dan data yang Satker/Polda/Polres/Polsek kedalam file dokumen dan database komputer. 1. File Informasi (Gudang Penyimpanan/Database) Melaksanakan penyimpanan informasi dan data melalui file dokumen manual dan IT dilakukan Berdasarkan Jenis Informasi a. (2) diterima dari Menganalisa…. Informasi yang dikecualikan e. Penghapusan informasi dan data dilakukan setelah informasi dan data tidak valid. 5. Informasi secara Berkala b. Data yang diterima dari Satker/Polda/Polres/Polsek kemudian verifikasi. secara mendesak. 4. tidak up date (mutakhir) dan dalam batas waktu tertentu.. Informasi secara Serta Merta c. Disposal (Penghapusan) a. 6. Pemutahiran data dan informasi dilakukan pada setiap hari kerja. Informasi yang dapat diakses setiap saat d. Berdasarkan Waktu f. KETENTUAN TAMBAHAN Analisa dan verifikasi dilaksanakan secara rutin setiap bulan oleh PPID Pejabat . Berdasarkan Kesatuan/Wilayah Updating Data/informasi a. Penghapusan informasi dan data dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Pengelola Informasi dan Dokumentasi melalui lisan atau tertulis. kecuali dibutuhkan b.

5. 3. 3. c.002/Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan. perlu dilakukan secara bertahap dengan melakukan uji coba di wilayah tertentu yang cukup padat arus lalu lintasnya. Aturan pengumpulan/pengolahan informasi dan data mengacu kepada Perkap. Mengingat : 1. b. sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 192 Tahun 1998. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3529). perlu menyelenggarakan sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan.Satker/Polda/Polres/Polsek. Tugas. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen. Ketentuan waktu pengumpulan/pengolahan informasi dan data dilakukan pada jam kerja dilaksanakan pukul 08.00 s/d selesai. bahwa sehubungan dengan hal tersebut huruf a dan huruf b. Ketentuan…. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49. sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 80 Tahun 1998. . terhadap informasi dan data dilakukan dengan cara pengecekan kepada sumber informasi. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63. Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1998 tentang Kedudukan. Menimbang : a. pada hari libur disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan situasi.. 2. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 70 TAHUN 1999 TENTANG PELAKSANAAN UJI COBA SISTEM INFORMASI KECELAKAAN LALU LINTAS DI JALAN UNTUK DAERAH BALI DAN SUMATERA BAGIAN UTARA MENTERI PERHUBUNGAN. bahwa untuk dapat menghasilkan sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan yang andal. 4.002/Phb-80 dan KM 164/OT. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Pelaksanaan Sistem Informasi Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Untuk Daerah Bali dan Sumatera Bagian Utara. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. 4. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 91/OT. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480). bahwa dalam rangka mengoptimalkan hasil pencatatan kejadian kecelakaan lalu lintas guna evaluasi dan upaya penanggulangan kecelakaan lalu lintas sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

prosedur dan data yang saling berinteraksi untuk menghasilkan informasi tentang kecelakaan lalu lintas. Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat dimana terjadi kecelakaan lalu lintas. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG PELAKSANAAN UJI COBA SISTEM INFORMASI KECELAKAAN LALU LINTAS DI JALAN UNTUK DAERAH BALI DAN SUMATERA BAGIAN UTARA. Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. 5. Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya.03-Db/329 tanggal 13 April 1999 perihal Sistem Informasi Kecelakaan LLAJ. 6.Memperhatikan : 1. Pendapat Direktur Lalu Lintas POLRI melalui Surat Nomor : B/257/IV/1999/Lantas tanggal 15 April 1999 perihal Tanggapan Rancangan Keputusan tentang Uji coba sistem informasi kecelakaan lalu lintas. 3. 2. Sistem Informasi Kecelakaan Lalu Lintas adalah kumpulan komponen yang berupa manusia. 4. dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadi kecelakaan. sehingga menderita cacad tetap atau harus dirawat dalam jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari sejak terjadi kecelakaan. mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. 2. Korban mati adalah korban kecelakaan yang dipastikan mati sebagai akibat dari terjadinya suatu kecelakaan lalu lintas jalan. Korban luka berat adalah korban kecelakaan yang mengalami luka-luka serius sebagai akibat terjadinya suatu kecelakaan lalu lintas jalan. . Pendapat Menteri Pekerjaan Umum melalui Surat Nomor : Um. Korban luka ringan adalah korban kecelakaan yang mengalami luka-luka tidak serius sebagai akibat terjadinya suatu kecelakaan lalu lintas jalan.01.

lokasi dan waktu. di kantor Polres. e. dimasukkan ke dalam formulir 3-L sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini. Pusat Pemasukan Data Propinsi (PPDP) adalah unit pengumpulan data di tingkat Kantor Kepolisian Daerah (POLDA) pada Daerah Tingkat I Propinsi. (3) Data kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). (2) Korban kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d. korban luka ringan. b. Pasal 3 (1) Tata cara penanganan sistem informasi kecelakaan lalu lintas. 8. dilakukan pencatatan informasi kecelakaan yang dilaksanakan oleh petugas POLRI dan disetujui oleh pengawas/atasannya yang selanjutnya dilaporkan/dikirimkan ke Polres setempat. d. d.7. korban mati. identitas dan kondisi pelaku dan/atau korban kecelakaan. c. dapat berupa : a. c. b. b. meliputi kegiatan sebagai berikut : a. c. di Polda (PPDP) dilakukan pemasukan data ke dalam perangkat komputer dan dianalisis serta penggandaan diskette untuk dikirimkan ke masingmasing unit/instansi terkait. identitas dan kondisi kendaraan yang terlibat. . yang akan digunakan sebagai masukan bagi masing-masing pimpinan unit/instansi dalam pengambilan kebijaksanaan. Pasal 2 (1) Data kecelakaan lalu lintas meliputi : a. di TKP. kondisi jalan tempat kejadian kecelakaan. dilakukan kegiatan pengisian data kecelakaan dari TKP ke dalam formulir 3-L yang selanjutnya disebut sebagai data lapangan. Polres melakukan pengiriman formulir 3-L yang telah terisi data ke Polda yang berfungsi sebagai PPDP. Formulir 3-L adalah formulir yang dipakai oleh petugas Polisi Lalu Lintas (POLANTAS) untuk mencatat data kecelakaan. risalah kejadian kecelakaan. korban luka berat.

d. Propinsi DI Aceh. meliputi Propinsi Bali. Pasal 8 Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan uji coba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. (3) Untuk daerah Sumatera Bagian Utara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. Pasal 6 Pelaksanaan uji coba sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan untuk daerah Bali dan Sumatera Bagian Utara. dilakukan sampai dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Perhubungan tentang Sistem Informasi Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan. Propinsi Sumatera Utara. Departemen Pekerjaan Umum dan Kepolisian Republik Indonesia. meliputi : a. Pasal 4 (1) Pelaksanaan kegiatan uji coba sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan tersebut. b. dilakukan untuk daerah : a. Propinsi Sumatera Barat. sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Keputusan ini. c. sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Keputusan ini. (2) Untuk daerah Bali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a. Direktur Jenderal Perhubungan Darat membentuk Tim Koordinasi Teknis pelaksanaan uji coba sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan untuk daerah Bali dan Sumatera Bagian Utara. Sumatera Bagian Utara. (3) Bagan alir penanganan sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan.(2) Mekanisme penanganan sistem informasi kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Propinsi Riau. Pasal 5 Pelaksanaan uji coba sistem informasi kecelakaan lalu lintas di jalan dilakukan secara terkoordinasi antara jajaran Departemen Perhubungan. Pasal 7 Direktur Jenderal Perhubungan Darat melakukan pembinaan dan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan Keputusan ini. Bali. yang berlaku secara nasional. . b.

22. 23. 26. 9. 15. Kakanwil Departemen Perhubungan Propinsi DI Aceh. 3. Kepala Dinas LLAJ Tingkat I Propinsi DI Aceh. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat. 13. Gubernur KDH Propinsi Sumatera Barat. HADIHARDJONO SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth : ---------------------------------------------1. 28. Gubernur KDH Propinsi Bali. 8. 6. MENHANKAM/Panglima TNI. 17. 5. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara. 4. Kepala Dinas LLAJ Tingkat I Propinsi Sumatera Utara. 19. Kepala Dinas LLAJ Tingkat I Propinsi Riau. 14. 20. Gubernur KDH Propinsi Sumatera Utara. 16. Kepala Kepolisian Daerah DI Aceh. Irjen. Sekjen. Kepala Kepolisian Daerah Bali. Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Propinsi Bali. 12. Gubernur KDH Propinsi DI Aceh. Dirjen Perhubungan Darat dan Kabadan Litbang Perhubungan. Kakanwil Departemen Perhubungan Propinsi Riau. Kepala Kepolisian Daerah Riau. 7. Kakanwil Departemen Perhubungan Propinsi Sumatera Utara. 18. . Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Propinsi Sumatera Barat. Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Propinsi Riau. Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Propinsi Sumatera Utara. 24. 10. Kepala Dinas LLAJ Tingkat I Propinsi Bali. 11. 25. 2. 27. Kakanwil Departemen Pekerjaan Umum Propinsi DI Aceh. Gubernur KDH Propinsi Riau. Kakanwil Departemen Perhubungan Propinsi Bali.Pasal 9 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Kakanwil Departemen Perhubungan Propinsi Sumatera Barat. 21. Ditetapkan di : J a k a r t a Pada tanggal : 25 Agustus 1999 -------------------------------MENTERI PERHUBUNGAN ttd GIRI S. Kepala Dinas LLAJ Tingkat I Propinsi Sumatera Barat. KAPOLRI.

4. Tercapainya kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Polri di Samsat. Unit Pelayanan Kecelakaan. c. Membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri. transparan. Proses Pelayanan Samsat. preventif dan Gakkum serta disiplin petugas Polantas dalam rangka meningkatkan pelayanan polantas kepada masyarakat. Ambang Gangguan : a. Pattimura Tl. b. Jalan Umum / Tol. Potensial Gangguan : a. 3. Calo. Mabes Polri s/d Inpres Lokasi 1. tidak berbelit-belit dan berikan kepastian hukum. SIM Keliling. cepat.TUJUAN : a. Unit Pelayanan Pengaturan Pengawalan Lalu Lintas dengan indicator terlaksananya pelayanan Polantas yang akuntabel. Tindakan arogan petugas dalam pelayanan. SIM Corner. 6. 2. Jakarta Selatan : Jl. Keluhan masyarakat. Satpas. Menyebabkan antipati masyarakat terhadap Polri. d. c. 3. Pelayanan Tilang. Lokasi Pelayanan Pengaturan Pengawalan Lalu Lintas : 1. Giat Pengaturan Pengawalan Lalu Lintas. Gangguan nyata : a. d. c. Proses Pelayanan Satpas. Jakarta Barat : Jl. Pelayanan Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas. TUGAS POKOK : Polda Metro Jaya beserta jajarannya menyelenggarakan Ops Kepolisian Kewilayahan dengan sandi : “Ops Citra Pelayanan Polantas 2008” selama 10 hari mulai dari tanggal 3 s/d 12 November 2008 dengan mengedepankan tindakan preemtif. Tempat pelayanan Polri ( Samsat. S. Unit UKP. anggota 60 pres. Pelayanan Giat Pengaturan Pengawalan Lalu Lintas. HAKEKAT KERAWANAN : 1. Pelayanan Tilang. 5. anggota 60 pers 2. Satpas. Proses pelayanan berbelit-belit dan tidak transparan. Munculnya inovasi bidang pelayanan Polantas. BPKB. b. . Pelayanan SIM di Satpas dan UKP. Proses Pelayanan Idik Kecelakaan Lalu Lintas. Proses Pelayanan BPKB. Proses Pelayanana Tilang. Pungli. b. f. e. SASARAN : 1. b. e. c. 2. Parman Tl Slipi s/d Grogol Lokasi 1. Pelayanan STNK di Samsat. Unit Pelayanan Pelanggaran. Pelayanan BPKB. Pelayanan Kecelakaan Lalu Lintas).

Tangerang : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. Samapta 50. Samapta 50. pelayanan tilang jumlah 56. anggota 60 pers 4. Jalur Timur Barat : MPR s/d Cawang Lokasi 41. Bekasi : sepanjang Jl. Samapta 50. Samapta 50. pelayanan tilang jumlah 64. 5. Tanggerang : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. SIM 15. anggota 200 pres KEKUATAN PERSONIL : 1. Jakarta Utara : Jl. PGC Lokasi 1. Kod. Intel jumlah 10 Prov / P3d jumlah 20. STNK jumlah 477. BPKB jumlah 18. Halim s/d Tl. Samapta 50. Satgasres : 1) Jakpus : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. 2) Jakut : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. Samapta 50. 6. Kod. Satgasda : pelayanaan pengaturan pengawasan lalu lintas jumlah 950. Samapta 50. SIM 22. Joyo Martoyo pintu keluar s/d Tl. . Cocacola Lokasi 1. 9) Res Metro Kab Bekasi : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. 7) Res Metro Kab. anggota 200 pres 11. 6) Res Metro Kod. Gor Bekasi Lokasi 1. pelayanan tilang jumlah 64. Unsur Staf : jumlah 35 3. THamrin halte Pos Medan s/d outrend kebun nanas Lokasi 1 anggota 60 pres. Raya Serang pintu keluar tol Cikarang Lokasi 1. 10) Res Metro Depok : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. Unsur Posko : jumlah 28 4. pelayanan tilang jumlah 64. pelayanan tilang jumlah 64. pelayanan tilang jumlah 64. Sutoyo tl. MH. Enggan s/d Terminal Lokasi 1. Tanggerang : sepanjang Jl. pelayanan tilang jumlah 64. anggota 60 pres 7. 4) Jaksel : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. pelayanan tilang jumlah 64. 10. 12) Res Metro KPPP : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 23. pelayanan tilang jumlah 64. Suprapto Fly Over Senen s/d Tl. pelayanan tilang jumlah 64. Samapta 50. 5) Jaktim : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. Depok : Sepanjang Jl. anggota 60 Pers. Samapta 50. Samapta 50. 11) Res Metro Bandara Sukarno hatta : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. SIM jumlah 16. Martha Dinata Tl. 3) Jabar : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64. Binamitra jumlah 50. Jakarta Pusat : Jl. Bekasi : Jl. SIM jumlah 272. anggota 60 pers 8. Sat Gatur Jalur Utara – Selatan : Monalisa s/d Olimo Lokasi 1. Margonda Raya Fly over UI s/d Depok II Lokasi 1. Kab. SIM 16. Jakarta Timur : Jl. samapta jumlah 200.3. pelayanan tilang jumlah 64. Unsur Pelaksana : a. anggota 60 pers. Dikyasa jumlah 45. SIM 18. Samapta 50. pelayanan tilang jumlah 64. anggota 60 pers 9. brimob jumah 200 b. Unsur Pimpinan : jumlah 2 2. 8) Res Metro Kod Bekasi : Pelayanan pengaturan pengawasan lalu lintas jumah 64.

Sat Gatur. CARA BERTINDAK : 1. Subdit Gakkum . Pelayanan Samsat / BPKB : 1) Pemasangan spanduk 2) Penertiban calo 3) Petugas pelayanan ramah dan simpatik 4) Beaya sesuai PNBP 5) Ruangan yang nyaman dan bersih 6) Sediakan akses untuk komplain masyarakat / SMS 7) Masyarakat mengisi Blangko kepuasan pelayanan B. Cara Bertindak Teknis a. Mudi 6) Proses sederhana tidak berbelit belit 7) Masyarakat mengisi blangko kepuasan pelayanan 8) Optimalisasi pelayanan SIM keliling C. Proses Pelayanan Tilang f. Pelayanan Satpas / SIM Keliling : 1) Biaya sesuai PNBP 2) Tidak lalui calo 3) Remedial test 4) Tempat yang nyaman dan bersih 5) Tidak memaksakan pemohon SIM ke S.pelayanan tilang jumlah 22. Samapta 50. Sat Patwal. Proses Pelayanan SIM b. Cara Bertindak Taktis A. Proses Pelayanan Kecelakaan Lalu Lintas g. 1) 2) 3) 4) 5) Pelayanan Penegak Hukum : Pelayanan Tialng dan Lalu Lintas tidak dipungut biaya Tidak persulit masyarakat Proses yang sederhana dan cepat Proses yang tidak berbelit belit Memberikan kepastian hukum D. Simpatik b. Sopan / Ramah c. Proses Pelayanan STNK c. Memberikan Petunjuk yang jelas d. Proses Pelayanan BPKB d. Simpatik dengan tidak meninggalkan prosedur yang berlaku e. adanya pemandu dan sebagainya 2. Melakukan inovasi-inovasi seperti : seperti petunjuk. Proses Pelayanan UKP e. Proses Pelayanan Pengaturan Pengawasan Lalu Lintas Tujuannya : a. Pelayanan Pengaturan Pengawalan Lalu Lintas Sat PJR.

edukasi . Melakukan survey / pengecekan awal ( memperhitungkan waktu. Menyiapkan petugas pengawalan dan kendaraan yang memadai Dalam pelaksanaan gakkum dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan bagian supremasi hukum yaitu untuk menunjukan adanya kepastian hukum memberikan layanan kepada korban atau pihak-pihak yang akan mencari keadilan yang berkaitan dengan masalah-masalah kamseltibcar lantas. PELAYANAN STNK Menyelenggarakan pelayanan baik di Samsat maupun dalam samsat keliling memperhatikan : a. Rute / jalur baik yang utama. Sistem pelayanan cepat dan akurat c. Kegiatan VVIP / VIP baik yang bersifat dinas maupun pribadi b. b. Cara bertindak / model-model pengawalan baik 91 / maupun 93 c. Sistem pendataan / data base secara on line system b. faktor penghambat dan membuat perencanaan-perencanaan untuk cara bertindak insidentil ) f. mencegah terjadinya konflik yang lebih luas 3. Bangun Opini. Melalui satgas gakkum juga untuk menunjukan hukum sebagai wibawa hukum yaitu dalam negara yang merdeka dan demokrasis hukum sebagai sandaran dalam mewujudkan dan memelihara kamseltibcar lantas. Sistem data base / filing and recording tang terpadu ( on line system ). Koordinasi dengan pihak terkait e. Sistem terpadu dalam Samsat dapat selenggarakan PELAYANAN BPKB a. alternatif maupun escape ( penyelamatan ) d. Dan juga melalui pelayanan Gakkum dapat menunjukan bahwa polisi sebagai aparat penegak hukum adalah mampu menunjukan dalam melaksanakan tugasnya adalah untuk : 1. menjaga. Memberikan pelayanan dan perlindungan 2. Rebut Simpati. Sistem-sistem terpadu serta terkait dengan STNK maupun dengan sistem lainnya Pengawalan VVIP / VIP kegiatan kemasyarakatan / kegiatan politik bertugas untuk mengawal. menyelesaikan konflik dengan cara-cara yangberadab 4. menyelamatkan pejabat / keluarga / barang-barang dengan memperhatikan : a. Petugas yang ramah / santun d.1) Datang tepat waktu 2) Pengaturan tepat sasaran 3) Ramah dan Simpatik Tujuan : Zero Complain. Sistem pelayanan dan pendataan yang cepat c. Petugas ramah dan santun d.

Membuat produk-produk / program-program yang akan disosialisasikan kepada masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya. Profesional Satgas Edukasi dan Sosialisasi Satgas Edukasi dan Sosialisasi adalah bagian dari komunikasi. KEMAMPUAN TERSEBUT DIKETAHUI MELALUI BERBAGAI UJIAN SBB : • ADMINISTRASI •KESEHATAN •PSIKOLOGI •TEORI •PRAKTEK Kegunaan SIM ALAT KONTROL DAN PENGENDALIAN PENGGUNAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN RAYA SEBAGAI IDENTITAS JATI DIRI PARA PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR YG TELAH DINYATAKAN MAMPU MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN. efek jera Hal-hal yang harus diperhatikan Satgas Gakkum : a. BAIK BAGI POLRI MAUPUN PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR Mengapa SIM ditangani polisi ? . Hal-hal yang harus diperhatikan : a. Tindakan-tindakan yang ditujukan pada hal-hal yang membahayakan keselamatan lalu lintas. Pelayanan di bidang SIM. Membuat sistem data yang dalam penanganan MILL ( Manajemen Informasi Laka Lantas ) e. d. Melaksanakan kegiatan edukasi baik dengan lembaga-lembaga pendidikan formal maupun para pemangku kepentingan lainnya. STNK dan BPKB SIM. b. Memberikan pelayanan dan pertolongan cepat saat terjadi kecelakaan c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan kemitraan dengan stakeholders c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi baik melalui media cetak maupun elektronik. sosialisasi dan kemitraan dalam membangun Citra Positif baik secara langsung maupun melalui media. d.5. Tindakan-tindakan upaya paksa tetap memperhatikan tindakan memberikan jaminan dan perlindungan HAM. Transparasi f. SURAT IJIN MENGEMUDI ADALAH SURAT IJIN YG DIBERIKAN KPD ORANG YG TELAH DINYATAKAN MAMPU MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN RAYA. b.

PELANGGARAN LALU LINTAS.PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DLM MENGEMUDIKAN KENDARAANNYA BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAI LALU LINTAS LAINNYA. KEMACETAN LALU LINTAS MERUPAKAN TUGAS & KEWENANGAN POLRI DLM MELAKSANAKAN KONTROL SOSIAL. ATURAN & HUKUM LALU LINTAS YG DPT MENGAKIBATKAN: KECELAKAAN LALU LINTAS. SBG SALAH SATU BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK DLM LAK KONTROL SOSIAL DI BIDANG LALU LINTAS SIM dan masalahnya TDK DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL TDK SESUAI DG PROSEDUR YG ADA DIJADIKAN LAHAN UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN PRIBADI / KELOMPOK TERTENTU TDK DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL UJIAN SIM SBG FORMALITAS SAJA PETUGAS TDK TAHU TUGASNYA SISTEMNYA BANYAK PELUANG UNTUK DISELEWENGKAN SISTEM KONTROL & KENDALI YG TDK MEMADAI TDK SESUAI DG PROSEDUR YG ADA MEREBAKNYA PRAKTEK PERCALOAN MERAJALELANYA KKN TDK ADA PERTANGGUNG JAWABAN PUBLIK DIBANGUN BERDASARKAN KEPERCAYAAN YG SIFATNYA PERSONAL & TDK BERDASAR PADA PRESTASI KERJA Konsep Pelayanan SIM DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL SESUAI DG PROSEDUR YG ADA TRANSPARAN DPT DIPERTANGGUNG JAWABKAN TDK DIJADIKAN LAHAN UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN PRIBADI / KELOMPOK TERTENTU PETUGAS KEPOLISIAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN DI BIDANG LALU LINTAS SARANA & PRASARANA UJIAN SIM MEMADAI SISTEM PELAYANAN YG CEPAT & TDK BERBELIT-BELIT SISTEM MANAJEMEN & MEKANISME KONTROL YG BAIK MEMENUHI SYARAT ADMINISTRASI DIKATEGORIKAN JENIS SIM YG AKAN DIAMBIL DIKATEGORIKAN PEMBUATAN SIM : BARU/ PERPANJANGAN/ PENINGKATAN DASAR PEMBERIAN SIM ADALAH HASIL UJIAN YG SAH & DPT DIPERTANGGUNGJAWABKAN SERTA BUKAN HASIL KKN TRANSPARAN & DPT DIPERTANGGUNG JAWABKAN SISTEM & PROSEDUR PENGURUSAN SIM JELAS SISTEM UJIAN & HASIL UJIAN TRANSPARAN DAN DPT DIPERTANGGUNGJAWABKAN BIAYA PENGURUSAN SIM JELAS DAN TDK ADA BEA TAMBAHAN WAKTU PENGURUSAN SIM JELAS BARU PERPANJANGAN PENINGKATAN UJIAN ULANG BAGI YG TDK LULUS DLM MENGEMUDIKAN RANMOR DI JALAN RAYA MENYANGKUT KESELAMATAN & KEAMANAN MASYARAKAT LAINNYA DPT MENCELAKAKAN YG MENGAKIBATKAN .

Langkah –langkah yang harus diperhatikan adalah : Merubah pandangan para petugas kepolisian dalam melakukan pemolisiannya (cange the mind set of police officers). Di bidang rekayasa lantas ……………… Di bidang penyidikan kecelakaan lalu lintas Kasat Lantas selaku penyidik melaksanakan proses penyidikan yang pelaksanaannya ditangani oleh para penyidik pembantu. ..Membangun kepercayaan masyarakat Melakukan tindakan dari hati ke hati menunjukkan bahwa tindakan petugas kepolisian memang tulus. dan untuk pinjam pakai barang bukti ditangani berdasarkan kebijakan Kasat Lantas. Proses penangguhan penahanan maupun penghentian penyidikan berdasarkan atas kebijakan ………………. menjaga keselamatan. Yang berkaitan penyelesaian perkara secara kekeluargaan maupun ganti rugi.ORANG LAIN MENINGGAL DUNIA. jujur. Dalam proses penyidikan kecelakaan lalu lintas para penyidik pembantu melakukan hubungan atau interaksi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas tersebut untuk mendapatkan keterangan maupun melakukan negosiasi. LUKA – LUKA ATAU KERUGIAN MATERI UJIAN TEORI MENCAKUP : PENGETAHUAN TTG HUKUM & PERATURAN LALU LINTAS PENGETAHUAN TTG RANMOR PENGETAHUAN TTG TATACARA BERLALU LINTAS PENGETAHUAN TTG CARA MENGEMUDIKAN RANMOR PENGETAHUAN TTG TATA CARA MENOLONG KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS PENGETAHUAN TTG KESELAMATAN BERLALU LINTAS UJIAN PRAKTEK SECARA SIMULASI TTG SBG PENJABARAN UJIAN TEORI PARAKTEK DI LAPANGAN SBG PENJABARAN UJIAN TEORI STNK BPKB Di bidang dikmas lantas …………. Melakukan pendidikan dan pelatihan kepada seluruh anggota Polri tentang pemolisian komuniti (Community Policing) secara bertahap. melayani. melindungi dan membimbing masyarakat.. terbuka dan bertanggung jawab untuk memberikan keamanan. Bimbingan dan latihan terus menerus oleh pimpinan atau petugas kepolisian yang lebih senior Menanamkan (Core value) kepolisian kepada seluruh anggota kepolisian agar nilai-nilai tersebut menjadi landasan dan tindakannya sebagai petugas kepolisian.

Untuk Itu POLRI diharapkan mampu untuk menganalisa dan mengantisipasi segala bentuk ganguan kamtibmas baik yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi serta mampu membangkitkan peran serta masyarakat dalam menciptakan Siskamtibmas Swakarsa. Memberitahukan tentang situasi dan kondisi Kamtibcar lantas serta cara-cara menanggulangi kecelakaan lalu lintas yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Dalam organisasi POLRI sendiri perlu diadakan pembenahan dan penerapa strategin seperti yang telah diuraikan diatas dan senantiasa mengevaluasi Kinerja dalam pembinaan Sumber Daya Manausia POLRI yang meliputi : 1 Kompensasi (finansial /non finansial ) 2 Karier system 3 Pendidikan dan latihan 4 Disiplin kerja Mekanisme koordinasi dalam organisasi 1 Mutual adjustment 2 Direct supervision 3 Standarisasi proses kerja 4 Standarisasi hasil kerja 5 Standarisasi kemampuan Motivator nonfinansial memang sangat ampuh namun akan lebih efektif bila diintegrasi denagn imbalan finandsial dalam proses imbalan .Pdidikan bagi masyarakat dgn tujuan agar masyarakat siap dan menyadari bahwa masalah SIM penting bagi keselamatan masyarakat serta Kamtibcar lantas Melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan / sekolah-sekolah dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas untuk memberikan pelajaran atau pengetahuan tentang kamtibcar lantas dsb. Mencegah tumbuh dan berkembangnya KKN (Korupsi. Profesional dalam melakukan tugasnya. Kolusi dan Nepotisme). Di samping itu POLRI juga harus senantiasa mereformasi dirinya secara terus menerus mengingat tuntutan masyarakat serta situasi Kamtibmas yang senantioasa mengalami perobahan secara cepat dan tidak menentu. sistem politik dan kebijakan pimpinan POLRIsendiri . Tidak responsif terhadap aduan atau keluhan masyarakat Tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap masyarakat Dan tidak melakukan tindak pidanaTidak transparan dan tidak bertanggung jawab kepada masyarakat atas kepercayaan yang telah diberikan. Penutup Untuk menuju Kepolisian RI yang dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara prima bukanlah hal mudah dan membutuhkan waktu namun demikian yang terpenting disini adalah kemauan untuk mencapai hal tersebut serta diimbangi dukungan baik dari pemerintah .

Registrasi dan identifikasi pengemudi / kendaraan bermotor. pengaturan. kemacetan maupun tindak pidana yang berkaitan dengan kendaraan bermotor. Pengawalan dan Patroli. KEMAMPUAN TERSEBUT DIKETAHUI MELALUI BERBAGAI UJIAN SBB : • ADMINISTRASI •KESEHATAN •PSIKOLOGI •TEORI •PRAKTEK Kegunaan SIM ALAT KONTROL DAN PENGENDALIAN PENGGUNAAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN RAYA SEBAGAI IDENTITAS JATI DIRI PARA PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR YG TELAH DINYATAKAN MAMPU MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN. Dan dalam lalu lintas banyak masalah atau gangguan yang dapat menghambat dan mematikan proses produktivitas masyarakat. Pelayanan kepada masyarakat di bidang lalu lintas dilaksanakan juga untuk meningkatkan kualitas hid up masyarakat. SBG SALAH SATU BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK DLM LAK KONTROL SOSIAL DI BIDANG LALU LINTAS SIM dan masalahnya : TDK DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL TDK SESUAI DG PROSEDUR YG ADA DIJADIKAN LAHAN UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN PRIBADI / KELOMPOK TERTENTU TDK DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL . SIM SURAT IJIN MENGEMUDI ADALAH SURAT IJIN YG DIBERIKAN KPD ORANG YG TELAH DINYATAKAN MAMPU MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN RAYA. PELANGGARAN LALU LINTAS. penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum dalam bidang lalu lintas. BAIK BAGI POLRI MAUPUN PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR Mengapa SIM ditangani polisi ? PENGEMUDI KENDARAAN BERMOTOR DLM MENGEMUDIKAN KENDARAANNYA BERHUBUNGAN DENGAN PEMAKAI LALU LINTAS LAINNYA. Pendidikan Masyarakat dan Rekayasa lalu lintas. guna memelihara keamanan . ATURAN & HUKUM LALU LINTAS YG DPT MENGAKIBATKAN: KECELAKAAN LALU LINTAS. Untuk itu polisi lalu lintas juga mempunyai visi dan misi yang sejalan dengan bahasan POLRI di masa depan (yang telah dibahas di atas). STNK dan BPKB 1. Para petugas kepolisian pada tingkat pelaksana menindaklanjuti kebijakan –kebijakan pimpinan terutama yang berkaitan dengan pelayanan di bidang SIM. BPKB dan penyidikan kecelakaan lalu lintas. Seperti kecelakaan lalu lintas. karena dalam masyarakat yang modern lalu lintas merupakan factor utama pendukung produktivitasnya.Polisi lalu lintas adalah unsur pelaksana yang bertugas menyelenggarakan tugas kepolisian mencakup penjagaan. ketertiban dan kelancaran lalu lintas. STNK. Pelayanan di bidang SIM. KEMACETAN LALU LINTAS MERUPAKAN TUGAS & KEWENANGAN POLRI DLM MELAKSANAKAN KONTROL SOSIAL.

UJIAN SIM SBG FORMALITAS SAJA PETUGAS TDK TAHU TUGASNYA SISTEMNYA BANYAK PELUANG UNTUK DISELEWENGKAN SISTEM KONTROL & KENDALI YG TDK MEMADAI TDK SESUAI DG PROSEDUR YG ADA MEREBAKNYA PRAKTEK PERCALOAN MERAJALELANYA KKN TDK ADA PERTANGGUNG JAWABAN PUBLIK DIBANGUN BERDASARKAN KEPERCAYAAN YG SIFATNYA PERSONAL & TDK BERDASAR PADA PRESTASI KERJA 2. LUKA – LUKA ATAU KERUGIAN MATERI. 3. UJIAN TEORI MENCAKUP : PENGETAHUAN TTG HUKUM & PERATURAN LALU LINTAS PENGETAHUAN TTG RANMOR PENGETAHUAN TTG TATACARA BERLALU LINTAS PENGETAHUAN TTG CARA MENGEMUDIKAN RANMOR PENGETAHUAN TTG TATA CARA MENOLONG KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS PENGETAHUAN TTG KESELAMATAN BERLALU LINTAS UJIAN PRAKTEK SECARA SIMULASI TTG SBG PENJABARAN UJIAN TEORI . DPT MENCELAKAKAN YG MENGAKIBATKAN ORANG LAIN MENINGGAL DUNIA. TRANSPARAN & DPT DIPERTANGGUNG JAWABKAN SISTEM & PROSEDUR PENGURUSAN SIM JELAS SISTEM UJIAN & HASIL UJIAN TRANSPARAN DAN DPT DIPERTANGGUNGJAWABKAN BIAYA PENGURUSAN SIM JELAS DAN TDK ADA BEA TAMBAHAN WAKTU PENGURUSAN SIM JELAS BARU PERPANJANGAN PENINGKATAN UJIAN ULANG BAGI YG TDK LULUS DLM MENGEMUDIKAN RANMOR DI JALAN RAYA MENYANGKUT KESELAMATAN & KEAMANAN MASYARAKAT LAINNYA. KONSEP PELAYANAN SIM DILAKSANAKAN DG PROFESIONAL SESUAI DG PROSEDUR YG ADA TRANSPARAN DPT DIPERTANGGUNG JAWABKAN TDK DIJADIKAN LAHAN UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN PRIBADI / KELOMPOK TERTENTU PETUGAS KEPOLISIAN MEMPUNYAI KEMAMPUAN DI BIDANG LALU LINTAS SARANA & PRASARANA UJIAN SIM MEMADAI SISTEM PELAYANAN YG CEPAT & TDK BERBELIT-BELIT SISTEM MANAJEMEN & MEKANISME KONTROL YG BAIK MEMENUHI SYARAT ADMINISTRASI DIKATEGORIKAN JENIS SIM YG AKAN DIAMBIL DIKATEGORIKAN PEMBUATAN SIM : BARU/ PERPANJANGAN/ PENINGKATAN DASAR PEMBERIAN SIM ADALAH HASIL UJIAN YG SAH & DPT DIPERTANGGUNGJAWABKAN SERTA BUKAN HASIL KKN.

Merubah pandangan para petugas kepolisian dalam melakukan pemolisiannya (cange the mind set of police officers).Membangun kepercayaan masyarakat 5. Bimbingan dan latihan terus menerus oleh pimpinan atau petugas kepolisian yang lebih senior 4. 3. 2. . terbuka dan bertanggung jawab untuk memberikan keamanan. melindungi dan membimbing masyarakat. Melakukan tindakan dari hati ke hati menunjukkan bahwa tindakan petugas kepolisian memang tulus. Menanamkan (Core value) kepolisian kepada seluruh anggota kepolisian agar nilai-nilai tersebut menjadi landasan dan tindakannya sebagai petugas kepolisian.PARAKTEK DI LAPANGAN SBG PENJABARAN UJIAN TEORI STNK BPKB Langkah –langkah yang harus diperhatikan adalah : 1. menjaga keselamatan. jujur. Melakukan pendidikan dan pelatihan kepada seluruh anggota Polri tentang pemolisian komuniti (Community Policing) secara bertahap. melayani.