You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN REPRODUKSI HYSTEREKTOMI

A. PENGERTIAN

Histerektomi adalah pengangkutan uterus melalui pembedahan, paling
umum dilakukan untuk keganasan dan kondisi bukan keganasan tertentu
(contoh, endometriosis atau tumor), untuk mengontrol perdarahan yang
mengancam jiwa, dan kejadian infeksi pelvis yang tidak sembuh-sembuh atau
ruptur uterus yang tidak dapat diperbaiki. (doengoes,2001)
Histerektomi adalah operasi ginekologi utama yang paling lazim dan
prosedur pembedahan utama kedua yang terbanyak digunakan, dapat
dilakukan lewat perut atau vagina.(Hacker/Moore, 2001)
B. INDIKASI HISTEREKTOMI
1. Keadaan akut
a. bencana kehamilan (misalnya, perdarahan yang hebat)
b. infeksi yang hebat (misalnya ruptural abses ovarium-tubo)
c. komplikasi operatif (misalnya perforasi rahim)
2. Penyakit benigna
a. leiomiomata, simtomatik (misalnya perdarahan, tekanan),asimptomatik

(> ukuran 12 minggu, mengacaukan evaluasi adneksa)
b. endometriosis (endometriosis yag berbeda, tak memberi respon terhadap

penekanan hormonal atau pembedahan konservatif)
c. adenomiosis
d. infeksi kronik (misalnya, penyakit radang pelvis yang berulang)
e. massa adneksa (misalnya, neoplasma ovarium)
3. lainnya (definisi operator, kriteria khusus)

dan embolisme paru-paru. Keadaan yang meringankan (tidak diindikasikan secara khusus tetapi barangkali dibenarkan–membutuhkan peninjauan setara sebelum pembedahan) E-1 sterilisasi (keadaan yang meringankan) E-2 profilaksis kanker (misalnya berulangnya CIN-2 setelah biopsi kerucut atau hiperplasia adenomatosa yang terus berlanjut pada endometrium tanpa atipial) E-3 lainnya-pendaftaran keadaan yang mmeringankan. kriteria khusus) E. KONTRAINDIKASI HISTEREKTOMI Komplikasi umum yang berhubungan dengan setiap pembedahan perut atau pelvis antara lain adalah atelektasis. penyakit infasif pada organ reproduksi c. luka infeksi. genitourinarius atau kanker payudara) D. infeksi saluran kencing.a. penyakit pra infasif yang bermakna pada rahim (CIN-3+ atau hiperplasia adenomatosa pada endometrium dengan atipia sel) C-3 kanker pada organ yang bersebelahan atau jauh (gastrointestinal. Kanker/penyakit pra-ganas yang bermakna b. Rasa tak enak (tak ada perkiraan patologi jaringan) D-1 nyeri pelvis yang kronis (laparoskopi negatif dan dicoba terapi bukan bedah) D-2 relaksasi pelvis (simtomatik) D-3 perdarahan rahim yang berulang (tidak memberi respon terhadap pengaturan hormon dan kuretasi-rahim ukuran normal) D-4 lainnya (definisi operator. tromoflebitis. Atelektasis sering terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama dan dapat dicegah dan diterapi dengan pembersihan . C.

yang menunjukkan suatu selulitis pelvis. dan urine untuk mikroskopi dan biakan harus diperoleh pada setiap pasien yang mengalami demam pasca pembedahan. Bila ada pembentukan seroma atau hematoma. dan peningkatan kehangatan disekitar luka. dari infundibulopelvis atau pedikel ovarium-utero. dan perawatan luka. ini biasanya terjadi 7 sampai 10 hari pasca perasi.tromboflebitis (yang berikutnya kemungkinan embolisme paruparu) ditunjukkan oleh demam dan pembengkakan atau nyeri kaki. embolisme paru-paru dapat terjadi. abses pelvis atau hematoma pelvis yang terinfeksi . Ini biasanya dapat diterapi dengan terapi anntibiotika. pedikel rahim. Komplikasi intraoperatif yang paling lazim pada histerektomi perut atau vagina adalah perdarahan. sekalipun tidak terdapat tanda-tanda tromboflebitis. Terapinya dapat membutuhkan antibiotika sistemik. Bila terjadi perdarahan pasca pembedahan. nyeri tekan. pembengkakan. debridemen lokal. Terbukanya luka dengan evirasi usus biasanya diakibatkan oleh banyaknya sekret serosa dari luka (cairan peritoneum) 4 sampai 8 hari pasca operasi. Infeksi saluran kencing dapat terjadi pada setiap saat dalam periode pasca pembedahan. atau susdut vagina.paru-paru yang agresif. pembukaan insisi itu. Luka infeksi biasanya terjadi sekitar 5 hari pasca operasi dan disertai dengan kemerahan. Infeksi sering terjadi pada kedua prosedur dan ditunjukkan oleh demam dan nyeri perut bagian bawah. drainase sekret. perdarahan dari sudut vagina kadang-kadang dapat dikenali dan dikendalikan lewat vagina. Tetapi. Bila eviserasi dicurigai. Pemeriksaan sering mengungkapkan nyeri tekan dan indurasi pada daerah vagina. laparotomi mungkin dibutuhkan untuk mengikat predikel pembuluh darah yag mengalami perdarahan. luka harus dieksplorasi dalam kamar bedah. kalau perdarahan cukup untuk menyebabkan hipotensi.

vol 2.dapat terjadi. D. endometriosis. selain pemberikan antibiotik parenteral. Tempat cedera yang paling lazim adalah tempat di bagian lateral serviks. edisi 8) . Sebelum melakukan ligasi dan insisi ligamen infundibulopelvis ureter perlu dikenali. Cedera ureter adalah komplikasi yang paling berbahaya dari histerektomi dan biasanya terjadi selama prosedur perut terutama selama diseksi yang sukar pada penyakit radang pelvis. kalau diketahui. Fistula uterovaginal membutuhkan reimplantasi ureter ke dalam kandung kemih. Cedera intraoperatif pada kandung kemih atau usus dapat terjadi dan. dan fistula uterovaginalis atau urinoma dapat terjadi 5 sampai 21 hari pasca operasi. atau ini dapat dicepit dan dipotong. (brunner & Suddarth. tetapi biasanya menunggu beberapa bulan agar reaksi radang mereda. dan ovarium. suatu pemeriksaan termasuk sistoskopi dan pielografiintravena. harus diperbaiki dengan segera. Kalau diperlukan perbaikan kandung kemih. pasien akan mengalami demam dan nyeri pinggang.tempat kedua yang paling banyak ditemukan adalah dibawah ligamen infundibulopelvis. atau kanker pelvis. Suatu jahitan dapat dilakukan pada ureter. Kalau cairan mulai bocor dari vagina. Histerektomi total adalah pengangkatan unterus. Pasca operasi. Sefalosforin profilaksis secara intraoperatif dan selama 24jam pasca operasi ternyata bermanfaat untuk mengendalikan infeksi pada histerektomi vagina yang dilakukan pada pasien pra-menopause. diperlukan 7 hari drainasepasca pembedahan dengan kateter foley untuk memungkinkan penyembuhan yang optimal. Ini akan ditunjukkan oleh suatu massayang panas dan nyeri dengan pemeriksaan rektovagina. serviks. diperlukan. KLASIFIKASI HYSTEREKTOMI 1.pasien semacam itu membutuhkan drainase yang tepat pada bahan yang terinfeksi melalui puntung vagina.

adneksa. dan nodus limfe bilateral melalui insisi abdomen. Histerektomi intrafasial adalah bahwa bagian tengah serviks dibuang dan lapisan fasial sebelah luar (endopelvis) di biarkan melekat pada kandung kemih. perubahan endometrial. 6. Histerektomi vaginal radikal (schauta) adalah pengangkatan vagina uterus. Histerektomo ekstrafasial adalah membuang rahim besrta lapisan fasial sebelah luarnya secara utuh. 3. 2001) 4. edisi 8) E. 2. adneksa. vol 2. edisi 8) 6. vagina proksimal. 4. Laparoskopi: dilakukan untuk melihat tumor.(Brunner & Suddarth. sementara penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif.(Brunner & Suddarth.(Hacker/Moore. (Hacker/Moore. Pap smear: dysplasia seluler menunjukkan kemungkinan/adanya kanker. Ultrasound/ CT Scan: membantu mengidentifikasi ukuran atau lokasi massa. Tes Schiller (bercak serviks dengan iodin): berguna dalam identifikasi sel abnormal. vol 2. Hitung darah lengkap: penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis. Peningkatan SDP dapat mengindikasikan proses inflamasi/infeksi.(Hacker/Moore. D & K dengan biopsy (endometrial/servikal): memungkinkan pemeriksaan histopatologis sel untuk menentukan adanya/lokasi kanker. Histerektomi radikal (wertheim) adalah pengangkatan uterus. 2001) 3. perdarahan. Histerektomi sub total adalah mempertahankan serviks.2. . Laparatomi mungkin dilakuakn untuk membuat tahapan kanker atau untuk mengkaji efek kemoterapi. 5. dan vagina proksimal. 2001) 5. DATA PENUNJANG 1.

Resiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan dengan faktor fisik (bedah abdominal. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan trauma mekanis. e) Ansietas Jika histerektomi dilakukan untuk mengangkat tumor maligna .F. kanker. .paralisis saraf. 3. hematoma. melemahkan otot abdominal). kehilangan femininitas dan perubahan bentuk tubuh. KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan seksualitas. takut akan rasa nyeri. disfungsi perdarahan uteri. Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya. fertilitas. ansietas yang berhubungan dengan ketakutan adanya kanker dan kematian menambah stres pada pasien dan keluarganya. PENGKAJIAN a) Riwayat Kesehatan b) Pemeriksaan Fisik dan Pelvis c) Data dasar pengkajian pasien Data tergantung pada proses penyakit dasar/kebutuhan untuk intervensi pembedahan (contoh. 5. d) Respon Psikososial Pasien Keharusan menjalani histerektomi dapat menunjukkan reaksi emosional yang kuat dan adanya ketakutan. adanya edema jaringan lokal. manipulasi bedah. 4. Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker. prolaps. 2. G. endometriosis berat/infeksi pelviks yang tidak sembuh terhadap penanganan medik). dan hubungan dengan pasangan dan keluarga. dengan manipulasi usus.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan seksualitas. Ansietas berhubungan dengan diagnosis kanker. takut akan rasa nyeri. inflamasi jaringan pascaoperasi. tidak mengenal sumber informasi. Kurang pengetahuan tentang kondisi. H. Intervensi : a) Berikan penjelasan tentang persiapan fisik sepanjang periode praoperatif. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat.tak adanya irama kontraksi uterus selama orgasme. ketidaknyamanan/nyeri vagina(dispareunia)). prognosis. perubahan masukan diet. dan hubungan dengan pasangan dan keluarga. PERENCANAAN (INTERVENSI) 1. salah interpretasi informasi. memendeknya kanal vaginal. penurunan/penghentian aliran darah (kongesti pelvis.nyeri/ketidaknyamanan abdomen atau area perineal. stasis vena). fertilitas. Intervensi : a) Berikan waku untuk mendengar masalah ketakutan pasien dan orang terdekat. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia. b) Bantu pasien dalam mengekspresikan perasaannya pada seseorang yang dapatmemahami dan membantunya. 2. trauma intraoperasi/tekanan pada pelvis/pembuluh betis/posisi litotomi selama histerektomi vagina. kehilangan femininitas dan perubahan bentuk tubuh. penurunan libido). 8. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi (contoh. perubahan kadar hormon. 6. . kemungkinan perubahan pola respon seksual (contoh. 7. Diskusiakan persepsi dari pasien sehubungan dengan antisipasi perubahan dan pola hidup khusus.

menganggap diri negatif. Dorong pasien untuk mengekspresikan dengan tepat. 4. c) Berikan informasi akurat. c) Berikan tindakan berkemih rutin. Nyeri berhubungan dengan pembedahan dan terapi tambahan lainnya. kuatkan informasi yang diberikan sebelumnya. atau terlalu memasalahkan perubahan aktual/yang ada. hematoma. f) Perhatikan perilaku menarik diri. b) Palpasi kandung kemih. Identifikasi kehilangan pada pasien/orang terdekat. selidiki keluhan ketidaknyamanan.paralisis saraf. Intervensi : a) Pemberian analgesik sesuai yang d resepkan untuk mrnghilangkan nyeri dan meningkatkan pergerakan dan ambulasi. pemasangan penghambat pada abdomen jika pasien menglami distensi abdomen atau flatus. manipulasi bedah. b) Pantau cairan dan makanan selama 1 atau 2 hari dalam periode pasca operatif. e) Berikan lingkungan terbuka kepada pasien untuk mendiskusikan masalah seksualitas. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan trauma mekanis. contoh vrivasi. d) Ketahui kekuatan individu dan identifikasi perilaku koping positif sebelumnya. penuh. penggunaan penolakan. adanya edema jaringan lokal.b) Kaji stres emosi pasien. Intervensi : a) Perhatikan pola berkemih dan awasi keluarnya urine. ketidakmampuan berkemih. . aliran air pada baskom. 3. penyiraman air hangat pada perineum. posisi normal. c) Pasang selang rektal. g) Kolaborasi dengan rujuk konseling profesional sesuai kebutuhan.

kejernihan. 5. d) Berikan rendam duduk. Resiko tinggi terhadap konstipasi/diare berhubungan dengan faktor fisik (bedah abdominal. f) Kolaborasi dalam pemberikan selang NG bila ada. bila tepat. perhatikan warna. contok pelumas feses. dengan manipulasi usus. Intervensi : a) Auskultasi bising usus. bila pemasukan per oral dimulai.d) Berikan perawatan kebersihan perineal dan perawatan kateter (bila ada). laksatif sesuai indikasi. bau. h) Gunakan selang rektal. Perhatikan distensi abdomen. g) Kolaborasi pemberian cairan jernih/banyak dan dikembangkan menjadi makanan halus sesuai toleransi. e) Kaji karakteristik urine. perubahan masukan diet. h) Pertahankan patensis kateter tak menetap. termasuk sari buah. pertahankan drainase selang bebas lipatan. e) Kolaborasi dalam membatasi pemasukan oral sesuai indikasi. i) Berikan obat. lakukan kompres hangat pada perut. b) Bantu pasien untuk duduk pada tepi tempat tidur dan berjalan. nyeri/ketidaknyamanan abdomen atau area perineal. adanya mual/muntah. melemahkan otot abdominal). f) Kolaborasi pemasangan kateter bila diindikasikan/per protokol bila pasien tidak mampu berkemih atau tidak nyaman. i) Periksa residu volume urine setelah berkemih bila diindikasikan. . c) Dorong pemasukan cairan adekuat. minyak mineral. g) Kolaborasi dalam dekompresi kandung kemih dengan perlahan.

b) Inspeksi balutan dan pembalut perineal. inflamasi jaringan pascaoperasi. Perhatikan eritema. penurunan/penghentian aliran darah (kongesti pelvis. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi (contoh. atau keluhan nyeri dada tiba-tiba pada dispnea. stasis vena). trauma intraoperasi/tekanan pada pelvis/pembuluh betis/posisi litotomi selama histerektomi vagina. produk darah sesuai indikasi. memendeknya kanal vaginal. kaji keluaran/karakteristik urine. bila pasien mengalami perdarahan hebat. palpasi nadi perifer dan perhatikan pengisian kapiler. perubahan kadar hormon. 7. g) Berikan cairan IV. e) Bantu/instruksikan latihan kaki dan telapak dan ambulasi sesegera mungkin. . kemungkinan perubahan pola respon seksual (contoh. Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia. penurunan libido). f) Bantu/dorong penggunaan spirometri insentif. Evaluasi perubahan mental. i) Periksa tanda Homan. pembengkakan ekstremitas. Intervensi : a) Pantau tanda vital. h) Pakaikan stoking antiemboli. ketidaknyamanan/nyeri vagina(dispareunia)). Timbang pembalut dan bandingkan dengan berat kering. perhatikan warna.6. c) Ubah posisi pasien dan dorong batuk sering dan latihan napas dalam. dan bau drainase. jumlah. d) Hindari posisi Fowler tinggi dan tekanan dibawah lutut atau menyilangkan kaki.tak adanya irama kontraksi uterus selama orgasme.

e) Dorong pasien untuk berbagi pikiran /masalah dengan teman. kelemahan berat. Intervensi : a) Diskusikan degan lengkap masalah yang diantisipasi selama penyembuhan. f) Solusi pemecahan masalah terhadap masalah potensial. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat. 8. contoh. melanjutkannya dengan ekspresi alternative. masalah berkemih. c) Identifikasi faktor budaya/nilai dan adanya konflik. perubahan pada respon seperti individu biasanya. posisi yang menghindari tekanan pada insisi abdomen. b) Kaji informasi pasien/orang terdekat tentang anatomi fungsi seksual dan pengaruh prosedur pembedahan. apakah menopause pembedahan akan terjadi dan kemungkinan kebutuhan untuk penambahan hormon. h) Rujuk ke konselor/ahli seksual sesuai kebutuhan. b) Tinjau ulang efek prosedur pembedahan dan harapan pada masa datang. prognosis. g) Diskusikan sensasi/ketidaknyamanan fisik. Kurang pengetahuan tentang kondisi. contoh menunda koitus seksual saat kelelahan. salah interpretasi informasi. pasien perlu mengetahui bahwa ia tak akan menstruasi atau melahirkan anak. d) Bantu pasien untuk menyadari/menerima tahap berduka. tidak mengenal sumber informasi. menggunakan minyak vagina. gangguan tidur. . contoh labilitas emosi dan harapan perasaan depresi/ kesedihan.Intervensi : a) Mendengarkan pernyataan pasien/orang terdekat.

(Rujuk DK: Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi(contoh: memendeknya kanal vaginal. perdarahan. duduk/menyetir lama. Tekankan pentingnya respon individu dalam penyembuhan. perubahan kadar hormon. e) Kaji anjuran untuk memulai koitus seksual. f) Identifikasi kebutuhan diet. contoh protein tinggi. contoh menghindari mengangkat berat (seperti pengosongan dan mengejan saat defekasi). l) Tekankan pentingnya mengevaluasi perawatan. i) Diskusikan potensial efek samping. sakit kepala. Kemungkinan perubahan pola respon seksual (contoh: tak adanya irama kontraksi uterus selama orgasme. Dorong aktivitas pertama dengan periode istirahat yang sering dan meningkatkan aktivitas/latihan sesuai toleransi. contoh peningkatan berat badan. dengan makan). penurunan libido). h) Dorong minum obat yang diresepkan secara rutin (contoh. tambahan besi. k) Kaji ulang perawatan insisi bila tepat. j) Anjurkan menghentikan merokok bila menerima terapi estrogen. nyeri tekan payudara. perubahan drainase vaginal/luka. d) Identifikasi keterbatasan individu. . demam/menggigil. g) Kaji ulang terapi penambahan hormon. Hindari mandi di bak/pancuran sampai dokter mengizinkan. peningkatan pigmentasi kulit atau jerawat. Diskusikan kemungkinan “hot flash” meskipun ovarium masih ada. contoh. I. m) Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan evaluasi medik.c) Diskusikan melakukan kembali aktivitas. fotosensitivitas. PELAKSANAAN (IMPLEMENTASI) Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah disusun. ketidaknyamana/nyeri vagina (dispareunia))).

c) Mengalami nyeri dan ketidaknyamanan minimal 1) Melaporkan peredaan nyeri dan ketidaknyamanan abdomen. Edisi 2.2001. Jakarta: EGC.2004. 3) Menunjukkan kesediaan atau depresi minimal. VII. 2) Melakukan ambulasi tanpa rasa nyeri. Jakarta: Hipokrates.J. 2) Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan yang ia alami dan rencana pengobatannya. Edisi 3. Doengoes. Buku Ajar keperawatan Medical bedah. Dasar-Dasar Teknik Operasi Ginekologi.2002 Diposkan oleh anggreni di 19. Manuaba. Edisi 8. Jakarta: EGC. b) Menerima perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pembedahan: 1) Membicarakan perubahan yang dihasilkan dari pembedahan dengan pasangannya. 1999. Brunner and Suddarth. DAFTAR PUSTAKA Hacker dan Moore. Rencana Asuhan Keperawatan. Marilynn. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC.28 . EVALUASI a) Mengalami penurunan ansietas.