You are on page 1of 76

Laporan Kasus

Gullain Barre
Syndrome (GBS)
Oleh :
Camelia Septina Hutahayan
Tirza Yeslika Sinulingga
Rizka Fadhila Siregar
Sivaranjini a/p S. Nagalinggam
Sures Raj a/l Munusamy
Pembimbing

: dr. Dwi Retno Hastani

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

EPIDEMOLOGI .

ETIOLOGI SGB tidak diketahu tetapi sering dihubungkan dengan penyakit infeksi seperti infeksi saluran nafas ddan saluran cerna. systemic lupus eritamatosus kehamilan . Vaksinasi Pembedahan Penyakit sistemik keganasan.

.PATOFISIOLOGI • SBG-demielinasasi akut • Kerusakan saraf melalui mekanisme imunologi – Adanya respon kekebalan selluler terhadap agen infeksius – Autoantibodi terhadap sistem saraf tepi – Penimbunan kompleks antigen dari peredaran pada pembuluh darah saraf tepi.

• Gangliosid • Ikatan antibodi dalam sistem imun mengaktivasikan terjadinya kerusakan pada mielin • Adanya sinyal infeksi yang menginisisasi imunitas humoral maka sel –t merespon dengan adanaya inflirtrasi limfosit ke spinal dan saraf perifer. .

KLASIFIKASI .

.Acute inflammatory demyelinating polyneuropathy (AIDP) • Paling sering diidentifikasi • Biasanya didahului oleh infeksi bakteri atau virus • Sekitar 40% pasien dengan AIDP seropositif terhadap C jejuni • Dijumpai infiltrasi limfosit dan demielisasi saraf perifer yang dimediasi oleh makrofag • Simptom biasanya akan sembuh dengan remielisasi.

cepat dan progresif yang bisa berakibat pada gagal napas • 70-75% pasien memiliki seropositive untuk Campylobacter. GM1. GD1a.Acute Motor-Axonal Neuropathy (AMAN) • subtipe ini adalah gangguan motorik murni yang prevalensinya lebih sering pada kelompok anak • AMAN biasanya ditandai dengan kelemahan simetris yang bersifat asending. yang berhubungan dengan infeksi yang disebabkan oleh C jejuni • titer antibodi terhadap gangliosid meningkat (seperti. GD1b) • Pada biopsi menunjukkan degenerasi ‘wallerian like’ tanpa inflamasi limfositik .

dengan gangguan motorik dan sensorik yang cepat dan berat dengan perbaikan yang lambat • degenerasi akson dari serabut saraf sensorik dan motorik yang berat dengan sedikit demielinisasi .Acute Motor-Sensory Axonal Neuropathy (AMSAN) • Sering pada pasien dewasa.

facial palsy.Miller Fisher Syndrome • 5 % dari semua kasus GBS • Sindroma ini terdiri dari ataksia. atau bulbar palsy • Anti-GQ1b antibodi meningkat pada MFS . optalmoplegia dan arefleksia • Bisa juga terdapat kelemahan ekstremitas ringan. ptosis.

tetapi perkembangan gejala neurologinya bersifat kronik • Pada sebagian anak. kelainan motorik lebih dominan dan kelemahan otot lebih berat pada bagian distal .Chronic Inflammatory Demyelinative Polyneuropathy (CIDP) • CIDP memiliki gambaran klinik seperti AIDP.

anhidrosis.Acute pandysautonomia • tipe GBS yang jarang terjadi • Tanpa keterlibatan sensorik dan motorik • Terjadi disfungsi dari sistem saraf simpatis dan parasimparis yang berat mengakibatkan terjadinya hipotensi postural. penurunan salvias dan lakrimasi dan abnormalitas dari pupil. retensi saluran kemih dan saluran cerna. • Gangguan pada sistem cardiovaskular dan disaritmia sering menjadi penyebab kematian • Perbaikan secara gradual dan sering inkomplit .

DIAGNOSIS .

GBS ditandai dengan timbulnya suatu kelumpuhan akut yang disertai hilangnya refleks-refleks tendon pada bagian distal secara cepat diikuti oleh paralisis ke-empat ekstremitas yang bersifat asendens dengan gangguan sensorik dan motorik perifer dan didahului parestesi dua atau tiga minggu setelah sebelumnya mengalami infeksi pernapasan ataupun gangguan gastrointestinal .Diagnosis SGB terutama ditegakkan secara klinis.

50% mencapai puncak dalam 2 minggu. . Relatif simetris. 2. 3. Kelemahan yang bersifat progresif pada satu atau lebih ekstremitas dengan atau tanpa disertai ataxia 2. Arefleksia atau hiporefleksia yang bersifat general Gejala tambahan : 1. Progresifitas: gejala kelemahan motorik berlangsung cepat. dan 90% dalam 4 minggu. 80% dalam 3 minggu.Kriteria diagnostik SGB menurut The National Institute of Neurological and Communicative Disorders and Stroke ( NINCDS) Gejala utama : 1. Gejala gangguan sensibilitas ringan. maksimal dalam 4 minggu.

6. hipotensi postural. Pemulihan: dimulai 2-4 minggu setelah progresifitas berhenti. Gejala saraf kranial. 50% terjadi parese N VII dan sering bilateral. Takikardi dan aritmia. kadang < 5% kasus neuropati dimulai dari otot ekstraokuler atau saraf otak lain.4. Tidak ada demam saat onset gejala neurologis . Saraf otak lain dapat terkena khususnya yang mempersarafi lidah dan otot-otot menelan. Disfungsi otonom. hipertensi dan gejala vasomotor. 5. 7. dapat memanjang sampai beberapa bulan.

Peningkatan protein 2.Pemeriksaan LCS : 1. Sel MN < 10 /ul Pemeriksaan elektrodiagnostik : terlihat adanya perlambatan atau blok pada konduksi impuls saraf .

vascular injury) • CIDP • Myasthenia Gravis . transverse myelitis.DIAGNOSIS BANDING • Multiple Sclerosis • Poliomyelitis • Penyakit medula spinalis akut • Acute Myelipathy (akibat kompresi.

PENATALAKSAN AAN .

.1. Plasma exchange therapy (PE) • Jumlah plasma yang dikeluarkan per exchange adalah 40-50 ml/kg dalam waktu 7-10 hari dilakukan empat sampai lima kali exchange • Waktu yang paling efektif untuk melakukan PE adalah dalam 2 minggu setelah munculnya gejala. Fisioterapi 2.

Imunoglobulin IV • Pemberian IVIg ini dilakukan dalam 2 minggu setelah gejala muncul dengan dosis 0. • Pemberian PE dikombinasikan dengan IVIg tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hanya memberikan PE atau IVIg.3. Kortikosteroid . 4.4 g / kgBB /hari selama 5 hari.

PROGNOSIS • sembuh sempurna (75-90%) • sembuh dengan gejala sisa berupa dropfoot atau tremor postural (25-36%) • Penyembuhan dapat memakan waktu beberapa minggu samapai beberapa tahun. • Kematian pada 3 % pasien (gagal napas dan aritmia) .

STATUS NEUROLOGI .

Nama Jenis Kelamin Usia Suku Bangsa Agama Alamat Status Pekerjaan Tgl Masuk : Kristina Ginting : Perempuan : 18 tahun : Karo : Kristen : Dusun Parangguam Kec Salapian : Belum Menikah : Pelajar : 9 Januari 2016 .

Riwayat buang air kecil dan buang air besar tertahan tidak dijumpai. Riwayat trauma tidak ditemukan. Sebelumnya Os mengeluhkan kelemahan keempat anggota gerak yang terjadi dari tungkai bawah ± 3 bulan SMRS kemudian naik ke tungkai atas ± 1 bulan SMRS. Sebelumnya pasien mengalami demam dan batuk yang sifatnya hilang timbul. Riwayat Penyakit Tedahulu Riwayat Penggunaan Obat : : - . Sebelumnya Os dirawat di RS Pringadi dengan diagnosa Guillain Barre Syndrome dan sudah tracheostomy. Sesak tidak berhubungan dengan aktivitas dan cuaca.ANAMNESIS Keluhan Utama : Sesak nafas Deskripsi : Hal ini dirasakan os sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Demam turun dengan obat penurun panas. Riwayat kejang tidak ditemukan.

Anamnesa Traktus Traktus Sirkulatorius : Nyeri dada (-) Traktus Respiratorius : Sesak Nafas (+) Traktus Digestivus : Kesulitan BAB (+) Traktus Urogenitalis : Kesulitan BAK (+) Penyakit Terdahulu dan Kecelakaan :Intoksikasi dan Obat-obatan :- Anamnesa Keluarga Faktor Herediter Faktor Familier Lain-lain :::- Anamnesa Sosial Kelahiran dan Pertumbuhan : Tidak dijumpai Kelainan Imunisasi : Tidak jelas Pendidikan : SMA Pekerjaan : Pelajar Perkawinan & Anak : - .

trakea medial Pergerakan : dbn Kelainan Panca Indera :Rongga Gigi dan Mulut : dbn Kelenjar Parotis : dbn Desah :Dan lain-lain :- Rongga Dada Inspeksi : Simetris Fusiformis Perkusi : Sonor Palpasi : Stem Fremitus Kanan = Kiri Auskultasi: SP=vesikuler.Pemeriksaan Jasmani Pemeriksaan Umum Tekanan Darah : 110/70 mmHg Nadi : 84 kali/menit Frekuensi Nafas : 36 kali/menit Temperatur : 36. Nyeri tekan (-) Auskultasi: Peristaltik (+) normal Genitalia Toucher : Tidak diperiksa . ST= Ronchi Basah (-) Wheezing (-) S1 dan S2(+) Splitting (-) Murmur (-) Abdomen Inspeksi : Simetris Perkusi : Timpani Palpasi : Soepel.8 ‘C Kulit dan Selaput Lendir : dbn Kelenjar dan Getah Bening : dbn Persendian : dbn Kepala dan Leher Bentuk dan Posisi : Bulat.

Status Neurologi Sensorium : Kompos Mentis Kranium Bentuk : Bulat Fontanella : Tertutup Palpasi :Perkusi :Auskultasi :Transiluminasi: - Perangsangan Meningeal Kaku kuduk :Tanda Kerniq : Tanda Brudzinski I :Tanda Brudzinski II :Peningkatan Tekanan Intrakranial Muntah :Kejang :Sakit Kepala : - .

Saraf Otak/Nervus Kranialis Nervus I Meatus Nasi Dextra Tes Menghidu : Normosmia Meatus Nasi Sinistra Nervus II Oculi Dextra Oculi Sinistra Visus : Dalam batas normal Lapangan Pandang : Dalam batas normal Refleks ancaman :+ Fundus Okuli Warna : tidak diperiksa Batas : tidak diperiksa Ekskavasio : tidak diperiksa Arteri : tidak diperiksa Vena : tidak diperiksa .

VI Gerakan Bola Mata Nistagmus : Dalam batas normal :- Pupil Lebar Bentuk Refleks Cahaya Langsung Refleks Cahaya Tak Langsung Rima Palpebra Deviasi Konjugate Fenomena Doll’s eye Strabismus : diameter ±3 mm : bulat :+ :+ : 7 mm :: tidak diperiksa :- .Nervus III.IV.

Nervus V Motorik Membuka dan menutup mulut : simetris Palpasi m.Masseter & Temporalis : tegang. dalam batas normal Kekuatan gigitan : dalam batas normal Sensorik Kulit : + Selaput Lendir: tidak diperiksa Refleks Refleks Kornea langsung :+ Refleks kornea tidak langsung Refleks masseter :+ Refleks Bersin: + :+ .

Nervus VII Motorik Mimik : Simetris Kerut Kening : Simetris Menutup Mata: Simetris Meniup Sekuatnya : Simetris Memperlihatkan Gigi : Simetris Tertawa : Simetris Sensorik Pengecapan 2/3 depan lidah : dalam batas normal Produksi Kelenjar Ludah : dalam batas normal Hiperakusis : Refleks Stapedial :- .

Nervus VIII Auditorius Pendengaran : Dalam batas normal Test Rinne : Test Weber : tidak dijumpai lateralisasi Test Schwabach : sama dengan pemeriksa Vestibularis Nistagmus : Reaksi Kalori Vertigo :Tinnitus :- : tidak diperiksa .

Sternocleidomastoideus : + . X Pallatum Mole : terangkat Uvula : medial Disfagia :Disartria :Disfonia :Refleks Muntah :+ Pengecapan 1/3 Belakang Lidah : dalam batas normal Nervus XI Mengangkat Bahu : + Fungsi M.Nervus IX.

Nervus XII
Lidah
Tremor
Fasikulasi
:Atrofi
:Ujung lidah sewaktu istirahat
Ujung lidah sewaktu dijulurkan

:-

: medial
: medial

Sistem Motorik
Trofi
Tonus Otot
Kekuatan Otot

Sikap (duduk-berdiri-berbaring)
Gerakan Spontan Abnormal

: eutrofi
: normotonus
: ESD : 33333/33333
ESS : 33333/33333
EID : 11111/11111
EIS :11111/11111
: Berbaring,duduk
:-

Test Sensibilitas
Eksteroseptif
Propioseptif
Fungsi Kortikal untuk sensibilitas

:+
:+
: dalam batas normal

Refleks
Refleks Fisiologis
Biseps
: +/+
Triseps
: +/+
Radioperiost : +/+
APR
: +/+
KPR
: +/+
Strumple
: +/+

Refleks Patologis
Babinski
Oppenheim
Chaddock
Gordon
Schaefer
Hoffman-tromner
Klonus Kaki
Klonus Lutut

::::::::-

Refleks Primitif

:-

Koordinasi Lenggang Bicara Menulis Percobaan Apraksia Mimik Test telunjuk-telunjuk Test telunjuk-hidung Diadokhokinesia Test tumit-lutut Test Romberg : sulit dinilai : tidak dijumpai kelainan : tidak dijumpai kelainan : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai : sulit dinilai .

Vegetatif Vasomotorik : dalam batas normal Sudomotorik : dalam batas normal Pilo-erektor : dalam batas normal Miksi : Kesulitan BAK (+) Defekasi : Kesulitan BAB (+) Potens dan Libido : dalam baatas normal Vertebra Bentuk : Normal Pergerakan : Sulit dinilai Tanda Perangsangan Radikuler Laseque :Cross Laseque : Test Lhermitte : Test Naffziger : - .

Gejala-gejala Serebellar Ataksia :Disartria :Tremor: Nistagmus :Fenomena rebound : Vertigo: Dan lain-lain : Gejala-gejala Ekstrapiramidal Tremor: Rigiditas :Bradikinesia : Dan lain-lain : - .

Fungsi Luhur Kesadaran Kualitatif Ingatan Baru Ingatan Lama Orientasi Intelegensia Daya Pertimbangan Reaksi emosi Afasia Apraksia Agnosia : Kompos mentis : baik : baik : baik : baik : baik : baik :::- .

Sebelumnya Os mengeluhkan kelemahan keempat anggota gerak yang terjadi dari tungkai bawah ± 3 bulan SMRS kemudian naik ke tungkai atas ± 1 bulan SMRS. Demam turun dengan obat penurun panas.KESIMPULAN PEMERIKSAAN KG.8ºC . Sebelumnya pasien mengalami demam dan batuk yang sifatnya hilang timbul. • Vital Sign • TD: 110/70 mmHg HR : 84x/i • RR : 36x/i Temp : 36. Riwayat trauma tidak ditemukan. Riwayat kejang tidak ditemukan. Riwayat buang air kecil dan buang air besar tertahan tidak dijumpai. perempuan usia 18 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama sesak nafas. Sesak tidak berhubungan dengan aktivitas dan cuaca. Hal ini dirasakan os sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya Os dirawat di RS Pringadi dengan diagnosa Guillain Barre Syndrome dan sudah tracheostomy.

Ø 3mm N. X : gag refleks (+) N. II. VII : sudut mulut simteris N. III : RC +/+. IX. III.• • • • • • • • • • Saraf Kranialis N. XII : lidah medial saat dijulurkan . IV. V : buka tutup mulut (+) N. VI : gerakan bola mata (+) N. XI : pergerakan bahu (+) N. I : normosmia (+) N. pupil isokor. VIII : pendengaran + N.

• • • • • • • • • Rangsangan Meningeal Peningkatan TIK Refleks Fisiologis : (-) : (-) : BT +/+ +/+ APR/KPR +/+ +/+ Refleks Patologis : Babinski (-) (-) Kekuatan Otot : ESD : 33333 ESS : 33333 33333 33333 EID : 11111 EIS :11111 11111 11111 .

Diagnosa Diagnosa Fungsional : Tetraparese tipe LMN Diagnosa Etiologik : Autoimun Diagnosa Anatomik : Saraf tepi Diagnosa Banding : 1. Guillain Barre Syndrome 2. Myasthenia Gravis 3. Mielitis transversalis Diagnosa Kerja : Tetraparese tipe LMN ec Guillain Barre Syndrome .

RFT 2.Penatalaksanaan : IVFD R sol 20gtt/I Inj Cefoperazone 1gr/ 12jam Rencana Prosedur Diagnostik : 1. Lumbal Punction . Darah Lengkap. elektrolit. KGD sewaktu 3.

FOLLOW UP HARIAN DI RUANGAN .

09 Januari 2016-11 Januari 2016 .

Lemah pada keempat extremitas Sensorium : Compos Mentis TD : 100/60 mmHg HR : 90x/menit RR : 20x/menit Temp:37oC Nervus kranialis : dbn R. fisiologis : B/T APR/KPR R. Patologis : Kekuatan Motorik ESD : 44444/44444 EID : 22222/22222 ESS : 44444/44444 EIS : 22222/22222 Dextra +/+ +/+ Sinistra +/+ +/+ .

Disfonia + Dispnoe+ Hypestesia extremitas inferior ec Gullain Barre Syndrome + tetraparese ec GBS  Head Elevation 30o  O2 2-4 l/menit Via Nasal Kanul  Inj. 2 jam PP. SGOT. Cefoperazone 1 gr/12jamskin test  Inj. Ketorolac 1 amp/8jam  Inj. LFT. Uric Acid. Albumin)  Rencana : (11 Januari 2016) EMG Fisioterapi . B complex 3x1 tab  Rencana : (09 Januari 2016) Konsul radiologi pembacaan foto thorax Cek lab darah rutin (KGD N. SGPT. Dexamethasone 1 amp/8 jam  Vit.

12 Januari 2016-14 Januari 2016 .

Lemah keempat extremitas. Dexamethasone 1 amp/8 jam (H4-H6)  Vit. Susul Konsul THT  Rencana : (14 Januari 2016) Konsul Paru . Cefoperazone 1 gr/12jam(H4-H6)  Inj. Fisioterapi  Rencana : (13 Januari 2016) Fisioterapi.Cek Albumin. batuk berdahak Sensorium : Compos Mentis TD : 120/80 mmHg Disfonia + Dispnoe+ Hypestesia extremitas inferior ec Gullain Barre Syndrome + tetraparese ec GBS+ post trakeostomi  Head Elevation 30o  O2 2-4 l/menit Via Nasal Kanul  Inj. B complex 3x1 tab  Rencana : (12 Januari 2016) Konsul THT. EMG. Ketorolac 1 amp/8jam  Inj.

0 U/L U/L U/L g/dL g/dL <32 <31 5-39 6.4-8.5 3.0 .5-5.73 Unit mg/dL References <1 Total Bilirubin 0.45 mg/dL 0-0.2 Direk Fosfatase 76 U/L 35-104 Alkali (ALP) AST/SGOT ALT/SGPT γ-GT Protein Total Albumin 43 117 233 5.Test Bilirubin Result 0.3 3.

9 mEq/L 3.90 Natrium 134 mEq/L 135-155 Kalium 4.6-3.6 mg/dL <200 Sewaktu Ureum 41.90 mg/dL <50 Kreatinin 0.Globulin 2.5 Glukosa Darah 129.6-5.60 g/dL 2.34 mg/dL 0.50-0.32 ng/mL <0.5 Klorida 100 mEq/L 96-106 Procalcitonin 0.05 .

15 Januari-19 Januari 2016 .

Ketorolac 1 amp/8jam  Inj. batuk berdahak Sensorium : Compos Mentis TD : 120/80 mmHg Disfonia + Dispnoe+ Hypestesia extremitas inferior ec Gullain Barre Syndrome + tetraparese ec GBS+ post trakeostomi  Head Elevation 30o  Mobilisasi  O2 2-4 l/menit Via Nasal Kanul  IVFD R. Sol 20 gtt/menit  Inj. Dexamethasone 1 amp/8 jam (H7-H11) .Lemah keempat extremitas. Cefoperazone 1 gr/12jam (H7-H11)  Inj.

.

20 Januari 2016-21 Januari 2016 .

Lemah keempat extremitas. Sol 20 gtt/menit  Inj. batuk berdahak Sensorium : Compos Mentis TD : 130/80 mmHg HR : 84x/menit RR : 18x/menit Temp : 36. Cefoperazone 1 gr/12jam (H12-H13) .8oC Disfonia + Dispnoe+ Hypestesia extremitas inferior ec Gullain Barre Syndrome + tetraparese ec GBS+ post trakeostomi  Head Elevation 30o  Mobilisasi  O2 2-4 l/menit Via Nasal Kanul  IVFD R.

B complex 3x1 tab  N. Ketorolac 1 amp/8jam  Inj. Transamin 500 mg/12 jam (H1H 2)  Ciprofloxacin tab 2x1  Vit. Inj. Asetyl Sistein 3x200 mg  Paracetamol 3x500 mg (k/p)  Rencana : (20 Januari 2016) Konsul Giz . Dexamethasone 1 amp/8 jam (H12-H13)  Inj.

66 103/µL 2.7-6.00 % 1-6 Basophil 0.10 g/dL 11.90 % 2-8 Neutrophil 19.100 % 0-1 Neutrophil 87.87 Leucocyte 22.00 % 37-80 Lymphocyte 7.00 % 20-40 Monocyte 5.28 106/mm3 4.61 103/mm3 4.5 absolute Lymphocyte 1.7 absolute .Test Result Unit References Hemoglobin 12.0 Thrombocyte 220 103/mm3 150-450 Hematocrite 37.80 % 38-44 Eosinophil 0.5 Erythrocyte 4.7-15.20-4.5-3.59 103/µL 1.5-11.

02 103/µL 0-0.1 absolute MCV MCH MCHC Glukosa Darah 88.30 28.2-0.90 0.6-5.90 135-155 3.01 103/µL 0-0.00 133.38 136 4.10 absolute Basophil 0.30 32.50 Fl Pg g% mg/dL 85-95 28-32 33-35 <200 Sewaktu Ureum Kreatinin Natrium Kalium Klorida AST/SGOT 36.5 96-106 <32 .8 105 94 mg/dL mg/dL mEq/L mEq/L mEq/L U/L <50 0.4 absolute Eosinophil 0.Monocyte 1.33 103/µL 0.50-0.

22 Januari 2016 .

8oC Disfonia + inferior ec tetraparese Dispnoe+ Gullain ec Hypestesia Barre dermatitis Syndrome GBS+ trakeostomi+hypoalbuminemia+ extremitas + post pneumonia + .Lemah keempat extremitas. bintil kemerahan pada dada dan wajah Sensorium : Compos Mentis TD : 130/80 mmHg HR : 84x/menit RR : 18x/menit Temp : 36. batuk berdahak.

 Head Elevation 30o  Mobilisasi  O2 2-4 l/menit Via Nasal Kanul  IVFD R. Ketorolac 1 amp/8jam  Inj. Dexamethasone 1 amp/8 jam (H14)  Inj. Asetyl Sistein 3x200 mg  Paracetamol 3x500 mg (k/p)  Cetirizine 1x1  Bedak Salysilat  Nebul Flexotide 0. B complex 3x1 tab  N.5 mg/12 jam . Sol 20 gtt/menit  Inj. Transamin 500 mg/12 jam (H3)  Ciprofloxacin tab 2x1  Vit. Cefoperazone 1 gr/12jam (H14)  Inj.

DISKUSI .

9 100.TEORI Epidemiologi : KASUS Wanita. sampai 1.6 Sindroma Guillain-Barre. Perbandingan laki-laki dan wanita 3 : 1 dengan usia . Terjadi puncak insidensi antara usia 15-35 tahun dan antara 50-74 tahun.000 orang kasus per pertahun. 18 tahun didiagnosa DISKUSI Insidensi sindroma Guillain- dengan Barre bervariasi antara 0. Jarang mengenai usia dibawah 2 tahun. Insiden ini meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.

Pada sebagian besar pasien. bawah.Diagnosis : Anamnesa: Pada sebagian kecil pasien. dan pneumonia. terdapat riwayat infeksi di saluran cerna atau respirasi seperti diare. . common cold. infeksi Riwayat demam selama 14 C. Jejuni tidak menyebabkan gejala hari sebelum kelemahan tungkai klinis sama sekali sehingga pasien dapat menunjukkan gejala SGB tanpa riwayat infeksi sebelumnya.

Pemeriksaan Fisik: Kriteria diagnostik SGB menurut NINCDS Gejala utama : 1. 4. Pemulihan 6. 7. 5.Progresifitas 2. 3. Arefleksia atau hiporefleksia yang bersifat general Gejala tambahan : 1. Kelemahan yang bersifat progresif pada satu atau lebih ekstremitas dengan atau tanpa disertai ataxia 2. → Kelemahan motorik simetris → hiporefleks . Disfungsi otonom. Gejala gangguan sensibilitas ringan.Relatif simetris. Gejala saraf kranial. Tidak ada demam saat onset gejala neurologis → Kelemahan kedua tungkai bersifat progresif tanpa disertai ataxia.

Dexamethason 5 mg/8 jam .Vit B kompleks 3x1 . Kortikosteroid Pasien ditatalaksana dengan sebagai berikut : .Inj.Inj.IVFD R sol 20gtt/i . Ranitidin 50 mg/12 jam . Ketorolac 30 mg/ 12 jam . mobilisasi .O2 2-4 L/I via nasal canul .Medikamentosa 1. Plasma exchange therapy (PE) 3. Cefoperazone 1 gr/12 jam .Head elevation 30%. Fisioterapi 2.Inj. Imunoglobulin IV 4.Inj.

KESIMPULAN .

Riwayat trauma tidak ditemukan. pasien mengalami demam dan batuk yang sifatnya hilang timbul selama 2 minggu. Sesak tidak berhubungan dengan aktivitas dan cuaca. Hal ini dirasakan os sejak ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Riwayat kejang tidak ditemukan. Demam turun dengan obat penurun panas. Sebelumnya OS dirawat di RS Pringadi dengan diagnosa Guillain Barre Syndrome dan sudah tracheostomy . Sebelumnya Os mengeluhkan kelemahan keempat anggota gerak yang terjadi dari tungkai bawah ± 3 bulan SMRS kemudian naik ke tungkai atas ± 1 bulan SMRS.KG. Riwayat buang air kecil dan buang air besar tertahan tidak dijumpai. perempuan usia 18 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama sesak nafas. 1 bulan sebelum kelemahan keempat anggota gerak.

Ranitidin 50 mg/12 jam . mobilisasi . Dexamethason 5 mg/8 jam .IVFD R sol 20gtt/i .• Pasien ditatalaksana dengan: . Cefoperazone 1 gr/12 jam .Vit B kompleks 3x1 . Ketorolac 30 mg/ 12 jam .O2 2-4 L/I via nasal canul .Inj.Inj.Head elevation 30%.Inj.Inj.

TERIMA KASIH .