You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan yaitu berat badan kurang dari 500 gram atau usia kehamilan kurang dari
20/22/24 minggu. Dari 210 juta kehamilan, 75 juta dianggap tidak direncanakan di mana
sekitar 15% kehamilan akan berakhir pada aborsi. Pada negara berkembang, prevalensi
abortus mencapai 160 per 100000 kelahiran hidup dan paling tinggi terdapat di Afrika
yaitu 870 per 100000 kelahiran hidup. Di Indonesia, ditunjukkan prevalensi abortus
sebesar 2 juta kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000 kelahiran pada wanita
usia produktif pada 6 wilayah (Allan Guttmacher Institute, 1999).
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan
abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus provokatus.
Abortus provokatus ini dibagi 2 kelompok yaitu abortus provokatus medisinalis dan
abortus provokatus kriminalis. Disebut medisinalis bila didasarkan pertimbangan dokter
untuk menyelamatkan ibu (Hadijanto, 2010).
. Sekitar 5 % dari pasangan yang mencoba hamil akan mengalami 2 keguguran
yang berurutan dan sekitar 1 % dari pasangan mengalami 3 atau lebih keguguran yang
berurutan. Sekitar 75% abortus spontan ditemukan pada usia gestasi kurang dari 16
minggu dan 62% sebelum usia gestasi 12 minggu. Insidensi abortus inkomplit belum
diketahui secara pasti, namun demikian disebutkan sekitar 60% dari wanita hamil dirawat
di rumah sakit dengan perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit. Inisidensi
abortus spontan secara umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan
(DeCherney, 2003).
Kasus yang diangkat dalam laporan kasus ini adalah mengenai seorang wanita,
38

tahun,

G5P3A1 yang datang dengan keluhan keluar darah disertai jaringan dari

kemaluan. Di Rumah Sakit Rajawali Bandung, dilakukan anamnesis lengkap,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetri ginekologis, dan USG. Pasien akhirnya
didiagnosis dengan abortus inkomplit. Berdasarkan data dari ruang kebidanan RS
Rajawali, abortus inkomplit merupakan salah satu masalah obstetri ginekologis yang
sering ditemui. Angka kejadian abortus inkomplit Bulan November 2015 dilaporkan ada
sekitar 5 kejadian (20%).
Terdapat berbagai faktor risiko dan penyebab dari abortus sendiri di mana lima
puluh persen sampai tujuh puluh persen abortus spontan trimester pertama terutama
abortus rekuren disebabkan oleh kelainan genetik. Selain itu, trauma yang sering sekali
terjadi dalam kehidupan masyarakat dapat menyebabkan abortus melalui beberapa

1

Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien dengan Abortus Inkomplit. Bagi Pasien Dapat mengetahui tentang Abortus Inkomplit mulai dari pengertian. Belakangan ini.mekanisme. penyebab. pencegahan dan proses pengobatan. Manfaat Penulisan 1. Kasus yang dibahas dalam laporan kasus ini memiliki kemungkinan ketiga faktor penyebab abortus di atas. Tujuan Penulisan 1. Dari latar belakang yang ada di atas. 2010). Merumuskan diagnosis keperawatan yang muncul. Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah memberikan pengalaman yang nyata kepada penulis dalam pemberian asuhan keperawatan dengan masalah sistem reproduksi pada klien dengan Abortus Inkomplit. Melakukan pengkajian pada pasien dengan Abortus Inkomplit. b. Merumuskan intervensi keperawatan. peran perawat sebagai care giver sangat dibutuhkan pada klien dengan masalah kesehatan ini. Melakukan implementasi keperawatan. 3. f. g. Selain itu. Mengetahui dan memahami konsep dasar Abortus Inkomplit. C. Tujuan Khusus Laporan ini dibuat dengan tujuan untuk: a. R. pencegahan serta proses pengobatan biasanya akan berdampak pada psikologis ibu dan suaminya sehingga dapat menimbulkan trauma psikis di kemudian hari. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan. Dengan mengetahui penyebabnya. Bagi Penulis 2 . Kurang terpaparnya informasi mengenai kondisi kesehatan. Bagi Profesi Keperawatan Dapat meningkatkan standar pemberian asuhan keperawatan khususnya asuhan keperawatan pada klien dengan masalah Abortus Inkomplit. B. d. c. 2. e. muncul konsep biomolekular baru mengenai keterlibatan stres oksidatif oleh asap rokok terhadap risiko abortus (Hadinjanto. (38 Tahun) dengan Gangguan Sistem Reproduksi: Abortus Inkomplit di Ruang Kartini RS Rajawali Bandung”. Melakukan analisis data pada pasien dengan Abortus Inkomplit. Pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga akan sangat berarti dalam menambah informasi dan pengetahuan tentang kondisi. 2. tanda dan gejala serta pengobatan dan pencegahan penyakit.D. h. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan. abortus selanjutnya pada kehamilan selanjutnya dapat dicegah. maka penulis tertarik untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Abortus Inkomplit dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Klien Ny.

riwayat keperawatan. Bab I pendahuluan meliputi latar belakang. manfaat penulisan dan sistematika penulisan. yang mana prinsipnya akan menjawab kesenjangan antara teori dan kenyataan dengan memperhatikan aspek tahapan proses keperawatan. tujuan penulisan yang terdiri dari tujuan umum. Bab IV pembahasan. hasil implementasi yang dilakukan. Bab V penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran dari penulis. 3 . Bab III resume keperawatan yang meliputi identitas pasien. D. analisis data (daftar masalah) rencana tindakan sesuai dengan diagnosis keperawatan yang diangkat. Bab II konsep dasar teori yang meliputi konsep dasar penyakit dan konsep asuhan keperawatan Abortus Inkomplit.Dapat memberikan pengalaman yang nyata kepada penulis dalam pemberian asuhan keperawatan dengan masalah sistem reproduksi pada klien dengan Abortus Inkomplit. Sistemika Penulisan Penulisan laporan kasus ini terdiri dari lima bab dan tiap-tiap bab ini diuraikan lagi menjadi sub-sub bab berserta pokok bahasannya. tujuan khusus.