You are on page 1of 23

SINTESIS SENYAWA KOMPLEKS ION LOGAM Mn (II

)
DENGAN LIGAN 2-FENILETILAMIN

MAKALAH
Disusun sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Kimia Anorganik Lanjut

TRISNA RAMADHAN
12210008

PROGRAM STRATA 1
PROGRAM STUDI KIMIA JURUSAN KIMIA
SEKOLAH TINGGI MIPA BOGOR
BOGOR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmt dan
hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul “SINTESIS SENYAWA KOMPLEKS
ION LOGAM Mn(II) DENGAN LIGAN 2-FENILETILAMIN” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusunan proposal penelitian ini diajukan untuk memenuhi tugas Ujian
Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah Kimia Anorganik Lanjut. Penulis
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini. Mudah-mudahan segala sesuatu yang telah
diberikan menjadi bermanfaat dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.
Penulis memahami sepenuhnya bahwa proposal ini tak luput dari
kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
demi perbaikan di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan
inspirasi bagi para pembaca untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dan semoga
makalah ini bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bogor, Januari 2016
Penulis

i

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI ...................................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

iii

DAFTAR TABEL ...........................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
1.2
Tujuan

1
1
3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
2.1
Sejarah Mangan
4
2.2
Karakteristik Mangan
4
2.3
Sumber-Sumber Mangan
5
2.4 Kegunaan Mangan ............................................................................
BAB III METODE PENELITIAN
3.1
Alat
7
3.2
Bahan
7
3.3
Metode
7

7

BAB IV PEMBAHASAN
11
4.1
Preparasi Sintesis
11
4.2
Analisis Unsur C, H, N
13
4.3
Analisis Daya Hantar Listrik
14
4.4
Analisis Dengan Suseptibilitas Magnetik
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

17
17
18

ii

15

4

5

DAFTAR GAMBAR

No.

Gambar

Halaman

1.

Kurva panjang gelombang maksimum logam dan ligan dengan..........

11

2.

Hasil sintesis logam Mn dengan ligan 2-feniletilamin.........................

13

iii

DAFTAR TABEL

No.

Tabel

Halaman

1.

Karakteristik dengan mikro unsur.........................................................

14

2.

Perhitungan Hasil Uji Daya Hantar Listrik...........................................

15

3.

Suseptibilitas Magnetik.........................................................................

16

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pentingnya

material

elektronik

dalam

kehidupan

sehari-hari

mengakibatkan banyak penelitian untuk merancang material baru dengan sifat
yang lebih baik material dengan sifat yang lebih unggul dapat digunakan untuk
display, memori dan saklar molekular (Elmila dan Martak, 2010). Material
elektronik dapat dibangun dari senyawa kompleks. Senyawa kompleks
mononuklir umumnya bersifat paramagnetik. Sifat magnetik senyawa dapat
ditingkatkan dengan pembentukan kompleks polimer. Kompleks polimer
dihasilkan dari ligan multidentat yang berikatan koordinasi dengan ion logam
sehingga terjadi interaksi ion logam dan ligan. Interaksi antar ion logam dan ligan
pada senyawa kompleks dapat menghasilkan senyawa yang bersifat feromagnetik
atau antiferomagnetik contoh senyawa kompleks yang bersifat feromagnetik
adalah kompleks bimetalik oksalat [A][MIIM(C2O4)3] dengan A =
tetrabutil fosfin (P(C4H9)), MII= Mn2+, Fe2+,Co2+, Ni2+ dan Cu2+ sedangkan
MIII = Cr3+ dan Fe3+(Martak, 2008) dan senyawa yang bersifat antiferomagnetik
adalah Fe2(pm) dan Mn2(pm) dimana pm=pyromellitate.
Ligan 2-feniletilamin memiliki gugus amina dimana terdapat atom
nitrogen dengan pasangan elektron bebas sehingga dapat mengisi orbital kosong
ion logam dan terjadi ikatan kovalen koordinasi. Gugus amina dapat berikatan
hidrogen dengan molekul air pada senyawa. Ikatan kovalen koordinasi dan ikatan
hidrogen pada senyawa kompleks dapat membentuk interaksi antar lapisan
(Swastika dan Martak, 2012). Ligan yang digunakan 2-feniletilamin karena ligan
2-feniletilamin memiliki cincin fenil dan gugus amin. Gugus amin pada ligan
tersebut dapat diubah menjadi ammonium, sehingga atom hidrogen yang terikat
pada ammonium dapat berikatan hidrogen pada ligan yang terkoordinasi pada ion
logam. Hal tersebut menyebabkan interaksi inter dan intramolekular senyawa
kompleks meningkat. Selain itu, gugus fenil pada ligan 2-feniletilamin
menyebabkan ikatan polimer yang membentuk lapisan-lapisan kompleks polimer
pada senyawa kompleks. Ion logam yang digunakan dalam penelitian ini adalah

1

ion logam Mn(II). Ion logam Mn(II) memiliki lima elektron tidak berpasangan
pada orbital d. Jumlah elektron tidak berpasangan lebih besar dapat meningkatkan
sifat magnetik senyawa.
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion
logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan
elektron bebasnya kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan
kepada ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen koordinasi sehingga
senyawa kompleks juga disebut senyawa koordinasi. Jadi semua senyawa
kompleks atau senyawa koordinasi adalah senyawa yang terjadi karena adanya
ikatan kovalen koordinasi antara logam transisi dengan satu atau lebih ligan.
Pembentukkan senyawa kompleks merupakan fenomena yang sangat menarik di
dalam ilmu kimia, karena sifat-sifatnya yangs spesifik. Karena itulah, senyawa
kompleks acap kali dipergunakan untuk kepentingan analisis kuantitatif maupun
kuantitatif atas unsur ataupun senyawa, baik sebagai kation maupun anion.
Senyawa kompleks terdiri dari atom pusat yang biasanya berupa kation dapat
berperan sebagai asam Lewis, sedangkan ligan yang biasanya berupa anion atupun
molekul netral dapat berperan sebagai masa Lewis (Suhartana, 2007).
Senyawa kompleks dapat diuraikan menjadi ion kompleks. Ion kompleks
adalah kompleks yang bermuatan positif atau bermuatan negative yang terdiri atas
sebuah logam atom pusat dan jumlah ligan yang mengelilingi logam atom pusat.
Logam atom pusat tersebut memiliki bilangan oksida nol, positif sedangkan ligan
bisa bermuatan netral atau anion pada umumnya. Beberapa contoh senyawa
kompleks yaitu: (Prakash,S dkk, 2000).
- [Co3+,(NH3)6]3+ - [Ni0(CN)4]4- [Fe2+,(CN)6]4- - [Co+,(CO)4]3
Senyawa kompleks atau senyawa koordinasi telah berkembang pesat
karenasenyawa ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia
terutama karena aplikasinya dalam berbagai bidang seperti dalam bidang
kesehatan, farmasi, industri dan lingkungan. Senyawa kompleks dalam industri
sangat dibutuhkan terutama dalam katalis. Dalam industri petrokimia kebutuhan
katalis semakin meningkat karena setiap produk petrokimia diubah menjadi

2

senyawa kimia lainnya selalu dibutuhkan katalis, misalnya pada reaksi
hidrogenasi, karbonilasi, hidroformilasi.
Kompleks logam transisi dapat mengkatalis berbagai reaksi kimia seperti
kompleks [PdCl2DFFM] yang telah lama dipakai sebagi katalis untuk oksidasi
stirena yaitu dalam pembentukan senyawa olefin. Dalam bidang kesehatan dan
farmasi senyawa kompleks sangat penting juga dalam berupa obat-obatan seperti
vitamin B12 yang merupakan senyawa kompleks antara kobalt dengan porfirin,
hemoglobin yang berfungsi untuk mengangkut oksigen.
1.2

Tujuan
Makalah ini disusun untuk:



Memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kimia Anorganik Lanjut
Menentukan kristal senyawa kompleks
Mengetahui reaksi logam Mn dengan ligan 2-feniletilamin dengan proses
karakterisasi

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sejarah Mangan
Mangan dioksida pada abad ke-16 disebut mangaesum oleh glassmakers.

Kaim Ignatius Gottfried dan Johann Glauber abad ke-17 menemukan bahwa
mangan dioksida untuk menghasilkan klorin. Pertama asam klorida, atau
campuran encer asam sulfat dan natrium klorida itu bereaksi dengan mangan
dioksida, kemudian asam klorida dari proses Leblanc digunakan dan mangan
dioksida didaur ulang oleh proses Weldon. Produksi klorin dan hipoklorit
mengandung bleaching agen adalah konsumen besar bijih mangan (Fachrunnisa,
2011). Logam mangan pertama kali dikenali oleh Scheele, Bergman, dan ahli
lainnya sebagai unsur dan diisolasi oleh Gahn pada tahun 1774, dengan mereduksi
mangan dioksida dengan karbon (Anonimous, 2008).
2.2

Karakteristik Mangan
Mangan, Mn (nomor atom = 25, massa atom relatif = 54,938) termasuk

salah satu unsur pada periode empat dan golongan VII B pada tabel periodik,
merupakan logam berwarna putih keabuan, keras, mudah retak, serta mudah
teroksidasi. Sebagian besar Mn memiliki bilangan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan
+7. Bilangan oksidasi +2 mudah bereaksi dengan asam hidroklorit membentuk
MnCl2, sedangkan bilangan oksidasi +3 bersifat tidak stabil dan mudah berubah
menjadi bilangan oksidasi +2. Status bilangan oksidasi +4 banyak terdapat
sebagai MnO2, yang bersifat amfoterik yang dapat mendonasikan dan menerima
elektron dalam reaksi kimia. Bilangan oksidasi +6 terdapat dalam bentuk
manganat (MnO42-), sedangkan bilangan oksidasi +7 terdapat dalam bentuk
permanganat (MnO4-) yang bersifat stabil. Terdapat pula bilangan oksidasi +1 (Mn
mengompleks sianida), juga terdapat bilangan oksidasi +5 yang bersifat tidak
stabil Mn2+. Berdasarkan pengelompokan logam yang membagi logam menjadi
kelompok logam berat dan logam ringan, maka mangan merupakan salah satu
logam berat karena memiliki berat jenis 7,4 g/cm merupakan bahan oksidator

4

yang kuat (Widowati, 2008). Logam berat adalah golongan logam yang memiliki
berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3.
2.3

Sumber-Sumber Mangan
Mangan adalah salah satu logam yang banyak tersebar di muka bumi,

membentuk sekitar 0,1% kerak bumi. Mangan tidak ditemukan secara alamiah
dalam bentuk unsur murni, melainkan seagai senyawa pada lebih dari 100 jenis
mineral (ATSDR, 2000). Mangan di alam, sebagian besar sebagai pirolusit
(MnO2) yang stabil dalam asam atau alkali pengoksidasi, sehingga proses leaching
mangan dari sumber dilakukan dalam kondisi tereduksi. Beberapa zat pereduksi
telah digunakan sebelumnya dalam media asam yang berbeda seperti batubara,
pirit, besi sulfat, sulfur dioksida dan peroksida (Wahyudi et al., 2013).
2.4

Kegunaan Mangan
Mangan merupakan logam yang banyak dimanfaatkan dalam industri

peleburan besi-baja dan pengolahan logam. Sekitar 88% dari seluruh kebutuhan
mangan dimanfaatkan dalam bidang metalurgi tersebut. Mangan juga digunakan
untuk formula stainless steel dan alloy. Sebagai unsur transisi dengan sifat
paramagnetik yang dimilikinya, mangan sangat ideal digunakan untuk kedua jenis
produk tersebut. Kalium permanganat dipakai sebagai pengoksidasi untuk tujuan
pembersih, pemutih dan desinfeksi (ATSDR, 2000). Kegunaan mangan sangat
luas, baik untuk tujuan metalurgi maupun nonmetalurgi. Sekitar 85-90% kegunaan
mangan adalah untuk keperluan metalurgi terutama pembuatan logam khusus
seperti german silver dan cupro manganese. Keperluan nonmetalurgi biasanya
digunakan untuk produksi baterai, kimia, keramik dan gelas, glasir dan frit, juga
untuk pertanian, proses produksi uranium. Di Indonesia industri hilir pemakai
mangan adalah industri logam, korek api dan baterai, serta keramik (Ansori,
2010).
Mangan kadang-kadang digunakan sebagai bahan pembuatan koin di
Amerika Serikat (USA) pada tahun 1942-1945. Mangan sangat penting dalam
industri logam, sebagai bahan deoksidasi dan desulfurisasi. Mangan ditambahkan
pada gasolin guna mengurangi engine knocking. Mangan oksida dan mangan

5

dioksida sebagai bahan dry cell baterai, sebagai katalisator, dekolorisasi kaca
(membuang warna hijau), serta mangan dosis besar untuk membuat warna violet
pada kaca. Mangan dioksida adalah pigmen warna coklat yang biasa digunakan
untuk:
1. Membuat cat yang bisa memberikan efek warna ungu pada kaca.
2. Untuk pabrik penghasil oksigen dan klorin serta untuk mengeringkan cat
warna hitam.
3. Bahan pengering, sebagai katalisator reaksi oksidasi minyak cat dan minyak
varnishes.
Mangan oksida dan mangan karbonat digunakan sebagai bahan pupuk dan
keramik. Potasium permanganat sebagai Condy’s crystals banyak digunakan
sebagai obat, khususnya untuk obat ikan, industri kimia, industri bleaching, dan
sebagai obat desinfektan. Mangan posfat digunakan untuk mencegah korosi dan
mencegah perubahan warna coklat pada logam (Widowati, 2008).

6

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Alat
Neraca Analitk, Beaker Gelas, Batang Pengaduk, Pipet Tetes, Kertas

saring, Labu Takar 100 dan 500 mL, Alumuniumfoil, Pelat Berlubang, Alat
Mikrounsur C, H, N, O dan S, Cawan Alumunium, Spektroskopi Inframerah,
Instrumen Daya Hantar Listrik, Difraksi Sinar-X Powder, Magnetik Susceptibility
Balance, Spektrofotometer UV-VIS 200-550 nm, Mettler Teledo dan AAS
(Atomic Abroption Spectrophotometer).
3.2

Bahan
Sampel Mangan Klorida Dihidrat, 2-Feniletilamin Hidroklorida, HCL 5

M, Standar L-Cisyina (C6H12N2O4S2 C = 29.99%, H = 5.03%, N = 11.66%, S =
26.69% dan O = 26.63%), Vanadium Oksida, Gas Oksigen, Padatan Kompleks
KBr, KCl 0.01 M, Standar Muatan +2 MgCl2.6H2O, dan Standar Muatan +3
FeCl3.6H2O.
3.3

Metode

A.

Sintesis Senyawa Kompleks [M (2-fenil-etil ammonium) x ] MCl2+x
M=Mn2+
Sejumlah 0,7299 gram (0,0045mol) garam 2-fenil etil amin hidroklorida

dimasukkan ke dalam beaker glass 100 mL kemudian ditambahkan pelarut
methanol, diaduk- aduk sehingga 2-feniletilamin hidroklorida tersebut larut.
Mangan klorida dihidrat sebanyak 0,7807 gram (0,0045 mmol) juga dilarutkan
dalam methanol tetes demi tetes sampai melarut ke dalam beaker glass 100 mL.
Kedua larutan (larutan mangan dihidrat. Dan larutan ligan2-feniletilamin
hidroklorida) tersebut dicampur. Campuran ini diaduk apabila terjadi endapan
maka endapan tersebut disaring, larutan filtratnya di letakkan dalam desikator dan
dibiarkan sampai terbentuk Kristal. Kristal yang sudah terbentuk karena

7

penguapan pelarut pada temperatur ruang akan disaring,selanjutnya dianalisis
formula danstrukturnya dengan karakterisasi.
B.

Karakterisasi Hasil Sintesis Penentuan Kadar Ion Logam
Persiapan larutan standar untukion logam besi digunakan: larutan

MnCl2.4H2O konsentrasi 1000 ppm. Larutan standar ini dibuat dari 0,7363 gram
MnCl2.4H2O dalam labu takar 250 mL yang kemudian ditambah 2.5 mL HCl 5 M
dan aquades hingga tanda batas. Larutan ini disebut larutan induk. Larutan Mn
standar 100 ppm diperoleh dari 10 mL larutan induk dimasukkan dalam labu takar
100 mL selanjutnya ditambahkan aquades hingga volume 100 mL. Kemudian
diambil 2, 4, 6, 8, dan 10 ml dari larutan standar 100 ppm, dimasukkan kedalam
labu takar 100 mL, lalu pada masing-masing larutan ditambah 1 mL HCl 5 M dan
ditambahkan aquades hingga tanda batas. Larutan-larutan tersebut memiliki
konsentrasi Mn (II) masing-masing sebesar 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm. Setiap larutan
standar tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang 278.5 nm.
Data yang diperoleh dibuat kurva standar yaitu hubungan antara
konsentrasi dengan serapan. Larutan sampel disiapkan dengan metoda sebagai
berikut: sebanyak 0.08 gram kompleks dengan formula struktursementara [Mn(2feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 dilarutkan dalam aquades dan 1 mL HCl5 M dalam labu
takar 100 mL, kemudian ditambahkan aquades lagi hingga tandabatas. Larutan
dengan konsentrasi 100ppm tersebut diambil 4 mL dan 6 mLdengan
menggunakan pipet volume dan dimasukkan masing-masing dalam labutakar 100
mL, selanjutnya ditambahkan aquadest hingga tanda batas. Larutan sampel
dengan konsentrasi 4 ppm dan 6ppm di ukur dengan AAS, hasil absorbansinya
akan dibandingkan dengan kurva standar yang telah di buatdan dilakukan analisis
kandungan logam Mn dalam sampel sehingga nantinya akan diketahui berapa
persen jumlah logam Mn dalam sampel.
C.

Penentuan Kandungan C, H dan N dalam Senyawa
Alat untuk analisis mikrounsur C, H, N, S distandarisasi dengan L-Cistina

Standard (C6H12N2O4S2, C = 29,99 %, H = 5,03 %, N = 11,66 % S= 26,69 % dan
O = 26,63 %) sebelum digunakan. Sebanyak 2.83 mg sampel ditempatkan. Dalam

8

alumuniumfoil

kemudian

ditambahkan

vanadium(V)

oksida

untuk

menyempurnaka nreaksi oksidasi. Sampel tersebut dimasukkan dalam pelat
berlubang untuk dilakukan pembakaran dengan gas oksigen. Selanjutnya alat
mikrounsur dijalankan dan komposisi C, H, N dan S yang terkandung pada
senyawa terbaca pada layar monitor komputer.
D.

Pengukuran Daya Hantar Listrik Larutan
Analisis hantaran dilakukan menggunakan instrumen daya hantar listrik di

laboratorium energi. Larutan sampel dibuat dengan konsentrasi 0,01 M dalam
pelarut metanol. Larutan standar dibuat pada konsentrasi yang sama dengan
larutan sampel. Larutan sampel ditimbang sebanyak 0.022 gram dan ditambahkan
metanol hingga tanda batas dalam labu ukur 50 mL. Larutan yang digunakan
sebagai standar untuk muatan +1 adalah KCl. Larutan KCl konsentrasi 0,01 M
dibuat dengan melarutkan 0,0745 gram KCl dalam 100 mL metanol pada labu
takar 100 mL. Adapun larutan standar muatan +2 menggunakan larutan
MgCl2.6H2O. Di dalam labu takar 100 mL dimasukkan 0,118 gram MgCl2.6H2O
dan dilarutkan dalam 100 mL methanol sehingga diperoleh larutan dengan
konsentrasi 0,01 M. Untuk larutan standar muatan +3 digunakan larutan
FeCl3.6H2O sebanyak 0,2705 gram dan dimasukkan dalam pelarut metanol 100
mL.
E.

Pengukuran Suseptibilitas Magnetik Pada Suhu Kamar
Penentuan sifat magnetik dilakukan dengan Magnetic Susceptibility

Balance. Dari nilai kerentanan magnetic yang terukur dapat diketahui momen
magnetik senyawa hasil sintesis pada temperatur ruang. Mula-mula ditimbang
berat tabung kosong Magnetic Susceptibility Balance (m0), lalu diukur kerentanan
magnetiknya (R0). Pada penelitian ini, massa tabung yang akan digunakan adalah
0,8019 gram dengan nilai R0 = -35. Selanjutnya tabung kosong diisi sampel dan
diukur tinggisampel dalam tabung tersebut. Tabung yang berisi sampel
ditimbang.Selanjutnya tiap tabung yang telah berisi sampel tersebut dimasukkan
dalam alat Magnetic Susceptibility Balance untuk ditentukan nilai kerentanan
magnetik (R).Dari data ini kemudian dilakukan perhitungan momen magnetik

9

senyawa kompleks pada temperatur ruang. Alat MSB ditempatkan di atas
permukaan datar dan penunjuk permukaan (water-pass) berada tepat ditengah
lingkaran penunjuk. Kemudian alat dihidupkan dan dibiarkan selama beberapa
menit. Ditimbang berat tabung kosong MSB(m0), lalu diukur kerentanan
magnetnya(R0). Tabung kosong diisi sample sehingga ketinggian sampel melebihi
1.5cm dan maksimal 2.5 cm (l). Tabung yang berisi sample ditimbang (m),
selanjutnya dimasukkan dalam alat MSB untuk ditentukan nilai kerentanan
magnet (R). Dari harga kerentanan magnetyang terukur, dihitung nilai
susebtibilitas magnetik massa, dengan persamaan :
Xg =

9

Nilai susebtibilitas magnetik massa dikonversi menjadi suseptibilitas molar (Xm)
menurut persamaan :
Xm =
Nilai suseptibilitas molar dikoreksi dengan faktor koreksi diamagnetic, sehingga
diperoleh nilai suseptibilitas molar terkoreksi (XA) sebagai berikut :
A=Xm-XD
Nilai momen magnetik effektif (μeff) dapat dihitung dengan persamaan :
μeff=(8XA.T)½
Nilai fraksi mol spin tinggi dapat ditentukan berdasar nilai XAT atau μeff dengan
menggunakan persamaan :
XAT=XHSXHS+(1-XHS)XLS

10

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Preparasi Sintesis
Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan sebelum melakukan
sintesis senyawa kompleks untuk mendapatkan rasio yang tepat antara logam dan
ligan menghasilkan kristal senyawa kompleksyang optimal. Ligan 2-feniletilamin
dan logam MnCl2.2H2O dilarutkan dalam pelarut metanol dengan perbandingan
mol logam dan mol ligan yaitu 1:1.Serapan kompleks yang paling tinggi diperoleh
dari perbandingan logam dan ligan 1:1 pada panjang gelombang maksimum 212
nm dengan absorbansi 1,483.

Gambar 1. Kurva panjang gelombang maksimum logam dan ligan dengan.
(Sumber : Safarina dan Martak, 2006)
Panjang gelombang maksimum tersebut digunakan untuk metode kontinu.
Hasil dari metode kontinu menjadi acuan dalam sintesis senyawa kompleks.
Perbandingan mol logam dan ligan yang diperoleh dari metode kontinu adalah 5:5
atau 1:1. Panjang gelombang senyawa kompleks disekitar 200-300nm bisa
disebabkan oleh warna logam mangan hidrat yaitu merah muda agak memudar,
saat logam mangan dilarutkan dengan methanol warnanya menjadi jernih.
Sedangkan dari data diatas hasil yang diperoleh menunjukkan perbandingan

11

logam dan ligan 5:5 atau 1:1, puncak paling tinggi terletak pada angka 0,5 yang
berarti perbandingan logam dan ligan 5:5 atau 1:1. Kristal senyawa kompleks
[Mn(2- feniletilamin) 2 (H2O)4] Cl2 bisa terbentuk dengan maksimal pada panjang
gelombang tersebut.
Untuk lebih jelasnya senyawa kompleks ion logam Mn (II) dengan
ligand2-feniletilamin disintesis dari reaksi senyawa mangan klorida dihidrat
(MnCl2.2H2O) dengan 2-feniletilamin hidroklorida. Rasio antara kedua senyawa
adalah 1:1 menggunakan rasio mol dalam pelarut methanol dari hasil metode
kontinu. Methanol yang merupakan pelarut organik digunakan karena methanol
mudah menguap dan tidak ikut bereaksi menjadi ligan. Pelarut tidak
menggunakan aquades dikhawatirkan saat pelarutan aquades akan bereaksi
menjadi ligan. Kedua larutan antara larutan MnCl2.2H2O dan larutan 2feniletilamin hidroklorida direaksikan bersama dengan cara diaduk-aduk
menggunakan spatula. Pengadukan dilakukan untuk mempercepat reaksi supaya
larutan larut sempurna. Larutan yang sudah jadi ditutup dengan alumunium foil
dan diletakkan dalam desikator yang tertutup.
Desikator rmengandung silika yang desikator juga terlindungi dari
berfungsi untuk menyerap metanol atau uap air sehingga kristal terbentuk dengan
baik. Kristal yang sudah terbentuk dalam desikator juga terlindungi dari berfungsi
untuk menyerap methanol atau uap air sehingga kristal terbentuk dengan baik.
Kristal yang sudah terbentuk dalam desikator juga terlindungi dari kontaminasi
udara. Kristal senyawa kompleks yang sudah terbentuk berwarna merah muda
keoranye-oranyean. Warna ini dihasilkan dari warna merah muda MnCl2.2H2O
yang bereaksi dengan larutan ligan 2-feniletilamin. Persamaan antara logam
mangan dan ligan 2-feniletilamin :

2

HCl + MnCl2.2H2O  [ Mn (2-feniletilamin) 2(H2O)4] Cl2.H2O + 2HCl

Methanol

12

Terbentuknya kristal dibutuhkan waktu selama tujuh hari. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kristal yaitu panjang gelombang
senyawa kompleks, pengadukan saat mencampurkan larutan logam dan ligan,
kondisi udara disekitar larutan. Kristal yang sudah terbentuk dilakukan
karakterisasi untuk mengetahui komponen kristal senyawa kompleks tersebut
yang dilakukan antara lain adalah analisis mikro unsur C, H, N, analisis
DTA/TGA, analisis AAS, analisis FTIR, analisis XRD, analisis UV, analisis daya
hantar listrik, dan analisis suseptibilitas magnetik.

Gambar 2. Hasil sintesis logam Mn dengan ligan 2-feniletilamin.
(Sumber : Safarina dan Martak, 2006)
4.2

Analisis Unsur C, H, N
Analisis ini digunakan untuk menentukan komposisi relatif atom karbon,

hidrogen, nitrogen dan sulfur yang ada pada senyawa kompleks karena senyawa
ini tidak mengandung sulfur maka peresentase sulfur tidak digunakan. Hasil dari
analisis mikrounsur tersebut akan dibandingkan dengan perhitungan teoritis untuk
mencari rumus molekul yang paling sesuai. Hasil pengukuran sampel dari
eksperimen dibandingkan dengan perhitungan teoritis formula senyawa [Mn
(2feniletilamin) 2(H2O)4]Cl2 lebih kecil kecuali untuk atom C. Hal ini bisa
dikarenakan adanya atom tambahan dalam senyawa koordinasi, misalnya senyawa
kompleks terikat dengan pelarut atau air kristal (hidrat). Penambahan inti atom
Mn pada senyawa kompleks probabilitasnya sangat kecil karena Mn mempunyai
massa atom relatif yang besar sekitar 12,5% dari massa atom relatif [Mn(2feniletilamin)2(H2O)4]Cl2. Selain itu, klorin juga dapat mempengaruhi rumus

13

molekul karena klorin terjadi karena hasil samping MnCl 2.2H2O tetapi
probabilitasnya kecil karena massa atom Cl2 besar yaitu 16,13% dari massa atom
relatif [Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 .
Air kristal atau air hidrat satu-satunya yang sesuai sebagai senyawa
tambahan dalam senyawa koordinasi [Mn(2-feniletilamin) 2(H2O)4]Cl2. Air
Kristal bisa berasal dari hasil samping darireaksi MnCl 2.2H2O dan 2-feniletilamin.
Sedangkan

untuk

pelarut

methanol

probabilitasnya

kecil

karena

bila

bertambahnya methanol maka akan meningkatkan prosentase C pada sampel hasil
sintesis. Jumlah air Kristal yang sesuai untuk perbedaan persentase karbon,
hidrogen, dan nitrogen tidak lebih dari 1 molekul sehingga sementara rumus
molekulnya [Mn(2-feniletilamin) 2(H2O)4]Cl2.H2O. Karakterisasi yang lain masih
diperlukan karena sangat menentukan rumus molekul sampel yang sebenarnya.
Tabel 1. Karakteristik dengan mikro unsur
Rumus senyawa

%C

%H

%N

Sample (Eksperimen)

42.3287

7.4328

6.5521

[Mn(2-feniletilamin)2 (H2O)4]Cl2

43.63

6.82

6.36

[Mn(2-feniletilamin)2
(H2O)4]Cl2.H2O

41.92

6.99

6.11

[Mn(2-feniletilamin)2 (H2O)4]Cl2.1,5
H2O

41.11

7.5

5.99

59.44

7.43

8.67

53.04

8.89

7.73

[Mn(2-feniletilamin)4 (H2O)2Cl2
[Mn(2-fenietilamin)3 (H2O)3]Cl2
(Sumber : Safarina dan Martak, 2006)
4.3

Analisis Daya Hantar Listrik
Daya hantar listrik larutan umumnya menggunakan kemampuan suatu

larutan untuk menghantarkan arus listrik. Faktor yang mempengruhi daya hantar
listrik suatu larutan adalah jumlah, ukuran, dan muatan ion-ion yang terdapat
dalam larutan itu. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion
dalam larutan, ion mudah bergerak berarti mempunyai daya hantar listrik yang
besar sehingga bisa diketahui pergerakan ion senyawa kompleks [Mn (2feniletilamin) 2(H2O)4]Cl2.H2O. Pada Tabel berikut menampilkan hantaran molar

14

senyawa

kompleks

[Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2.H2Odi

dalam

pelarut

methanol yang diukur pada temperatur kamar. Seluruh larutan baik larutan standar
maupun larutan sampel mempunyai konsentrasi 0,01 M dan hantarannya diukur
pada temperature kamar. Larutan standar yang digunakan adalah KCl untuk
muatan +1, MgCl2.6H2O dengan muatan +2, dan FeCl3.6H2O untuk muatan +3.
Tabel 2. Perhitungan Hasil Uji Daya Hantar Listrik
Larutan standar
A (S.cm2mol-1) Perbandingan
elektrolit
Methanol 0.01

0.0245x105

0.0

KCl 0.01 M

1.7020x105

0.0

MgCl2.6H2O 0.01 M

9.6000

0.1

FeCl3.6H2O 0.01 M

6.1300

0.1

[Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 0.01 M

10.0400

0.1

(Sumber : Safarina dan Martak, 2006)
Hasil analisis hantaran [Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 dalam pelarut
methanol menunjukkan senyawa ini termasuk larutan elektrolit dengan
perbandingan 2:1. Daya hantar listrik larutan elektrolit dapat dinyatakan sebagai
daya hantar molar (Λm) yang didefinisikan sebagai daya hantar yang ditimbulkan
oleh satu zat mol. Senyawa [Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 menunjukkan
perbandingan besar muatan kation : anion = 2:1 yang berarti kloridadalam
senyawa kompleks [Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2 berkedudukan sebagai anion
dan 2-feniletilamin berperilaku sebagai ligan, dapat diketahui ligan 2-feniletilamin
termasuk ligan unidentat karena ligan 2-feniletilamin hanya menyediakan satu
pasangan electron bebas pada gugus amina. Struktur senyawa kompleksnya
[Mn(2-feniletilamin)2(H2O)4]Cl2.H2O.
4.4

Analisis Dengan Suseptibilitas Magnetik
Pengukuran momen magnet dengan metode Guoy, yang dilakukan pada

penelitian ini berprinsip pada pengukuran perubahan berat sampel karena adanya
tolakan diamagnetik dan tarikan paramagnetik tehadap medan magnet yang
diberikan.

Analisis

suseptibilitas

magnetik

15

senyawa

kompleks

[Mn(2-

feniletilamin)2(H2O)4]Cl2.H2O menunjukkan momen magnet sebesar 5,4 BM pada
temperatur kamar. Hal ini menunjukkan ion Mn (II) pada sampel senyawa
kompleks [Mn(2-feniletilamin) 2(H2O)4]Cl2.H2O bersifat paramagnetik dan
mempunyai spin tinggi. Apabila dibandingkan dengan perhitungan momen
magnetik teoritisnya (μs) yaitu 5,9 BM untuk spin tinggi. Perbedaan momen
magnet teori dan percobaan bisa disebabkan karena orbital contribution yaitu
kontribusi momen magnet oleh bilangan kuantum magnet yang tidak di kompeser.
Untuk orbital d harganya dapat +2, +1, 0, -1, -2 sehingga untuk ion d5 ada
tambahan momen magnet sebesar enam quanta. Dari momen magnetik bisa
diketahui apakah ligan yang digunakan adalah ligan lemah atau ligan kuat, dalam
penelitian ini dapat diketahui ligan 2-feniletilamin termasuk ligan lemah karena
logam Mn pada senyawa kompleks yang masih kosong. [Mn(2-feniletilamin)
2(H2O)4]Cl2.H2O termasuk spin tinggi, ligan tidak bisa menggeser posisi elektron
pada orbital d mangan sehingga pasangan electron bebas ligan mengisi orbital s, p
dan d.
mo
0.08019

Tabel 3. Suseptibilitas Magnetik
m1
R
R1
I
0.8938
-35
1096 2.1 cm

(Sumber : Safarina dan Martak, 2006)
Dari data ini diperoleh data :
μeff = 2.82
Momentum magnetik secara teoritis :
X= 9
X=2.00023

5+1

X=5.92

16

T
30˚

BAB V
KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan
Senyawa kompleks dari ion logam Mn(II) dengan ligan 2-fenil etil amin

telah berhasil disintesis. Sintesis senyawa tersebut dengan perbandingan mol ion
logam dan ligan sebesar 1:1 dihasilkan kompleks dengan formula [Mn(2feniletilamin)2(H2O)]Cl2.2H2O. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan gugus
O-H ligan H2O pada bilangan 3410 cm-1, gugus fenil mono substitusi pada
bilangan gelombang 748,36-694,37 cm-1, gugus amina pada bilangan gelombang
1388,75-1327,02 cm-1, gugus C-H alifatik ditunjukkan pada bilangan gelombang
2947,43-2515,18 cm-1. Hasil pengukuran DTA/TGA menunjukkan dua molekul
air kristal terdekomposisi pada suhu 90-1400C. Pengukuran daya hantar listrik
menunjukkan senyawa kompleks bermuatan +2. Analisis momen magnet
menunjukkan bahwa senyawa koordinasi ini bersifat paramagnetik dengan nilai
moment magnet 5.4 BM.

17

DAFTAR PUSTAKA

ATSDR. 2000. Toxicological Profile for Chromium. Hair Analysis Panel
Discussion. Lexington: 12-13 Juni 2001. The Agency for Toxic
Subtances and Disease Registry. www.atdsr.cdc.gov/toxprofile [30 Des
2002] diakses pada 11 Januari 2016

Ansori, Chusni. 2010. Potensi Dan Genesis Mangan Di Kawasan Kars
Gombong Selatan Berdasarkan Penelitian Geologi Lapangan, Analisis
Data Induksi Polarisasi Dan Kimia Mineral. Penelitian Madya, Balai
Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung-LIPI. Buletin
Sumber Daya GeologiVolume 5 Nomor 2.

Anonimous. 2008. Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 10 Januari
2016. http:// jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran

Elmila, Izza dan F, Martak. 2010. Peningkatan Sifat Magnetik Kompleks
Polimer Oksalat [N(C4H9)4][MnCr(C2O4)3 dengan menggunakan
kation organic tetrabutil ammonium”. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember. Surabaya.

Fachrunnisa, Andi. 2011. Makalah Mangan Kimia Anorganik. Diakses
tanggal 26 Desember 2015. http://organiksmakma3b03.blogspot.co.id

Safarina, Nourma dan F, Martak. 2006. Jurnal Sintesis Senyawa Kompleks
Ion Logam Mn(II) dengan Ligan 2-Feniletilamin

Swastika, Lexy N dan F, Martak. 2012. Sintesis dan Sifat Magnetik Kompleks
Ion Logam Cu (II) dengan Ligan 2-Feniletilamin. Jurusan Kimia,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. ITS. Jurnal Sains
dan Seni Pomits Vol. 1, No. 1 (2012) 1-5

Wahyudi, H,. dkk. 2013. Ekstraksi Mangan Dengan Proses Leaching Asam
Sulfat Menggunakan Tandan Kosong Sawit Sebagai Reduktor. Fakultas
MIPA. Universitas Tanjungpura.

Widowati, W., dkk. 2008. Efek Toksik Logam. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Hal. 109-110, 119-120, 125-126.

18