You are on page 1of 29

modul 1

KOMPETENSI DASAR. I
MENDESKRIPSIKAN K3

A. Rencana Belajar Siswa


Standar Kompetensi
: Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
B. Kegiatan Belajar
I. Kegiatan Belajar 1
1. Tujuan Pembelajaran
Setelah Pembelajaran Siswa dapat :
a. Siswa dapat menerapkan peraturan K3 dalam lingkup pekerjaan
b. Siswa dapat memahami pentingnya peraturan K3 bagi lingkup pekerjaan
c. Siswa dapat menyadari penting adanya K3 bagi lingkup pekerjaan
2. Uraian Materi
I. Pengertian Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja
1. Keamanan Kerja
Keamanan kerja adalah unsur-unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana
kerja yang aman, baik berupa materil maupun nonmateril.
a. Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat material diantaranya sebagai berikut.
1) Baju kerja
2) Helm
3) Kaca mata
4) Sarung tangan
5) Sepatu
b. Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat nonmaterial adalah sebagai berikut.
1) Buku petunjuk penggunaan alat
2) Rambu-rambu dan isyarat bahaya.
3) Himbauan-himbauan
4) Petugas keamanan
2. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar masyarakat
pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun
sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan
yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.Kesehatan
dalam ruang lingkup kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja tidak hanya diartikan
sebagai suatu keadaan bebas dari penyakit. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI

a)
b)
c)
d)

1.
2.
3.
4.
5.
6.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

No. 9 Tahun 1960, BAB I pasal 2, keadaan sehat diartikan sebagai kesempurnaan keadaan
jasmani, rohani, dan kemasyarakatan.
3. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama
melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan salah sau faktor yang
harus dilakukan selama bekerja. Tidak ada seorang pun didunia ini yang menginginkan
terjadinya kecelakaan. Keselamatan kerja sangat bergantung .pada jenis, bentuk, dan
lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan.
Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja yang telah dijelaskan diatas.
Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
Teliti dalam bekerja
Melaksanakan Prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kesehatan, keselamatan, dan keamanan
kerja adalah upaya perlindungan bagi tenaga kerja agar selalu dalam keadaan sehat dan
selamat selama bekerja di tempat kerja. Tempat kerja adalah ruang tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan tempat
terdapatnya sumber-sumber bahaya.
Kecelakaan kerja dapat dibedakan menjadi kecelakaan yang
disebabkan oleh :
Mesin
Alat angkutan
Peralatan kerja yang lain
Bahan kimia
Lingkungan kerja
Penyebab yang lain
A. Tujuan Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja.
Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja bertujuan untuk menjamin
kesempurnaan atau kesehatan jasmani dan rohani tenaga kerja serta hasil karya dan
budayanya.
Secara singkat, ruang lingkup kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja adalah
sebagaai berikut :
Memelihara lingkungan kerja yang sehat.
Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu bekerja.
Mencegah dan mengobati keracunan yang ditimbulkan dari kerja
Memelihara moral, mencegah, dan mengobati keracunan yang timbul dari kerja.
Menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan, dan
Merehabilitasi pekerja yang cedera atau sakit akibat pekerjaan.

a.
b.
c.

Keselamatan kerja mencakup pencegahan kecelakaan kerja dan perlindungan terhadap


terhadap tenaga kerja dari kemungkinan terjadinya kecelakaan sebagai akibat dari kondisi
kerja yang tidak aman dan atau tidak sehat.
Syarat-syarat kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja ditetapkan sejak tahap
perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian,
penggunaan, pemeliharaan, dan penyimpanan bahan, barang, produk teknis, dan aparat
produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
B. Undang-undang Keselamatan Kerja
UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,
menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar
proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak
merugikan semua pihak. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan
dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta
produktivitas nasional.
UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU Keselamatan
Kerja (UUKK) No. 1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan undang-undang pokok yang
memuat aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja di
segala macam tempat kerja yang berada di wilayah kekuasaan hukum NKRI.
Dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 adalah UUD 1945 pasal 27 (2) dan UU No. 14
tahun 1969. Pasal 27 (2) menyatakan bahwa: Tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Ini berarti setiap warga negara berhak hidup
layak dengan pekerjaan yang upahnya cukup dan tidak menimbulkan kecelakaan/ penyakit.
UU No. 14 tahun 1969 menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan modal utama serta
pelaksana dari pembangunan.
Ruang lingkup pemberlakuan UUKK dibatasi oleh adanya 3 unsur yang harus
dipenuhi secara kumulatif terhadap tempat kerja. Tiga unsur yang harus dipenuhi adalah:
Tempat kerja di mana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
Adanya tenaga kerja, dan
Ada bahaya di tempat kerja.
UUKK bersifat preventif, artinya dengan berlakunya undang-undang ini, diharapkan
kecelakaan kerja dapat dicegah. Inilah perbedaan prinsipil yang membedakan dengan
undang-undang yang berlaku sebelumnya. UUKK bertujuan untuk mencegah, mengurangi
dan menjamin tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja untuk mendapatkan perlindungan,
sumber produksi dapat dipakai dan digunakan secara aefisien, dan proses produksi berjalan
lancar.
C. Memahami Prosedur yang Berkaitan dengan Keamanan
Prosedur yang berkaitan dengan keamanan (SOP, Standards Operation Procedure)
wajib dilakukan. Prosedur itu antara lain adalah penggunaan peralatan kesalamatan kerja.
Fungsi utama dari peralatan keselamatan kerja adalah melindungi dari bahaya kecelakaan
kerja dan mencegah akibat lebih lanjut dari kecelakaan kerja. Pedoman dari ILO

(International Labour Organization) menerangkan bahawa kesehatan kerja sangat penting


untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
Pedoman itu antara lain:
a. Melindungi pekerja dari setiap kecelakaan kerja yang mungkin timbul dari pekerjaan dan
lingkungan kerja.
b. Membantu pekerja menyesuaikan diri dengan pekerjaannya
c. Memelihara atau memperbaiki keadaan fisik, mental, maupun sosial para pekerja.
Alat keselamatan kerja yang biasanya dipakai oleh tenaga kerja adalah helm, masker,
kacamata, atau alat perlindungan telinga tergantung pada profesinya.
D. TINDAK LANJUT PENANGANAN KECELAKAAN
Pimpinan menetapkan kebijakan lebih lanjut dalam kaitan kasus-kasus kecelakaan yang terjadi
Jaminan santunan dan rehabilitasi kecelakaan kerja.
Penyidikan terhadap penanggung jawab terjadinya kecelakaan.
Pembinaan yang perlu segera dilakukan bersangkutan.
Dan sebagainya.
E. SASARAN
1. Mencagah terjadinya kecelakaan
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat/pekerjaan
3. Mencegah/mengurangi kematian
4. Mencegah/mengurangi cacad tetap
5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan-bangunan, alat-alat
kerja, mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi dsb
6. Meningkatkan produktifitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan
produktifnya
7. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat dan sumber produktif lainnya sewaktu kerja
dsb
8. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat menimbulkan
kegembiraan semangat kerja
9. Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi, industri serta pembangunan
F. JENIS KESELAMATAN KERJA
1. Keselamatan kerja dalam industri (Industrial safety)
2. Keselamatan kerja di pertambangan (Mining Safety)
3. Keselamatan kerja dalam bangunan (Building & construction Safety)
4. Keselamatan kerja lalu lintas (Traffic Safety)
5. Keselamatan kerja penerbangan (Flight Safety)
6. Keselamatan kerja kereta api (Railway Safety)
7. Keselamatan kerja di rumah (Home Safety)
8. Keselamatan kerja di kantor (Office Safety)
2. PROSEDUR K3 DILINGKUNGAN PEKERJAAN

1.

Karakteristik industri elektronik adalah mengoperasikan mesin atau peralatan dengan


tenaga listrik yang besar. Mesin atau peralatan tersebut dapat beroperasi secara otomatis atau
setengah otomatis, atau beroperasi dengan menggunakan bahan kimia yang korosif.
Kecelekaan kerja yang terjadi dapat diklasifikasikan menjadi 3 aspek, yaitu: kimia, fisik, dan
ergonomics.
Kimia: terhirup atau kontak kulit dengan debu, uap kimia, asap, dan cairan logam, non
logam, hidrokarbon, dan gas beracun
Fisik: suhu lingkungan yang ekstrim panas dan dingin, radiasi non pengion dan pengion,
bising, vibrasi/ getaran, dan tekanan udara yang tidak normal.
Bahaya ergonomics: pencahayaan yang kurang, pekerjaan angkat angkut secara manual, dan
peralatan yang tidak sesuai.
Tabel1-1 Hubungan antara jenis kecelakaan dan media penyebabnya
Jenis Kecelakaan
Peralatan
Luka atau meninggal di
semua jenis industri
Jumlah
Persentase (%)
Tergencet, tertekan Mesin pusat tenaga (seperti 407
58,99
karena benda yang generator set), alat penghantar
berputar
listrik, mesin yang menggunakan
tenaga listrik
Terpotong
Mesin pusat tenaga (seperti 263
60,74
generator set), bahan, mesin dan
peralatan
yang
menggunakan
tenaga listrik dan dioperasikan oleh
pekerja
Tertabrak
Alat untuk pengangkatan yang 236
69,62
bergerak, mesin bermotor, bahan,
alat penghantar listrik, mesin pusat
tenaga, mesin untuk pengangkutan
Kebocoran
gas, Terhirup bahan kimia, kontak 104
86,67
kontak
dengan langsung dengna kulit
bahan kimia
Jatuh
karena Peralatan gedung dan konstruksi, 230
47,13
ketidakseimbanga alat untuk pengangkatan yang
n
bergerak,
lingkungan,
mesin
bermotor

2.
3.

2-1 Analisa kasus


Peralatan dengan listrik tegangan tinggi banyak digunakan di industri elektronik dan
menyebabkan kecelakaan dengan tingkatan yang berbeda. Dalam kasus dibawah ini,
kecelakaan yang banyak mengakibatkan kematian adalah terpotong dan tergencet atau
tertekan karena benda yang berputar. Tetapi ada juga kecelakaan yang serius yang lainnya.
Diharapkan dengan diberikannya kasus dibawah ini dapat meyakinkan pihak manajemen dan
pekerja akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

1.
2.
3.

i.

ii.

Tiga tahapan penyebab kecelakaan yang akan dianalisa:


Penyebab langsung: penyebab utama yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan K3
Penyebab tidak langsung: penyebab yang mengakibatkan terjadinya penyebab utama
Penyebab dasar (akar penyebab): penyebab paling dasar yang mengakibatkan kecelakaan
Setelah setiap tahapan penyebab dijelaskan, diberikan penjelasan tambahan mengenai
kondisi lingkungan yang tidak aman dan perilaku yang tidak aman.
Lingkungan yang tidak aman: manajemen yag tidak menyediakan peralatan dan prosedur
yang aman bagi lingkungan kerja, jadwal kerja yang tidak baik, dan pelatihan K3 yang tidak
efisien, dan lain sebagainya .
Perilaku kerja yang tidak aman: konsekuensi dari tidak adanya budaya K3, pekerja yang
tidak mematuhi peraturan prosedur kerja, dan bekerja dengan tidak hati hati.
Klasifikasi diatas tidak terjadi secara terpisah, dalam beberapa kecelakaan dapat terjadi
secara bersamaan.
Sehingga, diperlukan beberapa strategi untuk meningkatkan situasi dan lingkungan kerja
yang ada sekarang untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas.
Kasus 1
: Tergencet atau tertekan karena benda yang berputar
Judul kasus
: Kematian dikarenakan tergencet barang bawaan pada pekerja
pengangkut bahan material di area penampungan limbah oksidasi.
Operator/Pekerja
Wanita, 25 tahun, telah bekerja di perusahaan tersebut selama
1,5 tahun
Tanggung jawab
Menambahkan cairan obat ke penampungan limbah oksidasi
pekerjaannya
Waktu
Jam 5 sore, di Bulan Mei
Tempat kerja
Bagian produksi
Peralatan atau media yang Pekerja pengangkut yang membawa bahan material dan tiang
menyebabkan terjadinya
kecelakaan
Prosedur/ urutan kejadian
Suatu hari, sekitar jam 4 5 sore, di perusahaan elektronik,
ketika seorang manajer produksi berkeliling untuk inspeksi,
dan semuanya diketahui berjalan dengan normal. Ketika dia
kembali lagi jam 9:20 malam, dia melihat seorang pekerja
wanita telah tergencet diantara lantai dasar area berjalan dan
tiang. Pekerja tersebut terkena cairan obat yang dibawanya.
Kemudian korban dibawa ke rumah sakit, setelah
mendapatkan selama 1 jam, korban meninggal.
Di bagian produksi memiliki panjang 11 meter dan lebar 2,1
meter. Peralatan yang ada adalah peralatan yang otomatis.
Terdapat 3 penampungan, yaitu penampungan air untuk
mencuci, penampungan asam untuk mencuci, dan
penampungan limbah oksidasi. Sepanjang sisi kanan dan kiri
di bagian produksi terdapat tiang 10 x 10 cm setiap jarak 2
meter. Area/ jalur berjalan dibuat menempel pada tiang
dengan jarak 1,8 meter dari lantai dan pekerja bekerja pada
area berjalan tersebut (gambar 2.1).

Analisa

Tahapan penyebab
Keterangan
Penyebab langsung1. Tidak ada alat pengaman dan isolasi (gambar 2.2).
(lingkungan yang tidak aman)
2. Operator bekerja sendiri tanpa ada asisten ataupun
pengawas
3. Tidak ada pengawas K3 yang melakukan inspeksi
(lingkungan yang tidak aman)
4. Pekerja tidak mendapatkan pelatihan K3 sedangkan
pengetahuannya akan K3 masih kurang (perilau yang
tidak aman)
5. Tidak ada peraturan K3 sehingga tidak ada panduan K3
untuk pekerja (perilau yang tidak aman)
Penyebab
tidak
1. Manajemen tidak menyediakan peralatan K3 yang
langsung
memadai (lingkungan yang tidak aman)
2. Tenaga kerja yang kurang sehingga tidak
memungkinkan 2 orang pekerja bekerja secara
bersamaan (lingkungan yang tidak aman)
3. Jumlah tenaga kerja yang sedikit untuk memenuhi
peraturan dibentuknya bagian K3 sehingga tidak adanya
bagian K3. Terlebih lagi, tidak adanya pengawas di
tempat kerja. (lingkungan yang tidak aman)
4. Perusahaan mengindahkan/ tidak perhatian akan
pentingnya pelatihan K3 dan tidak menyediakan
informasi yang relevan dan terkait dengan K3
(lingkungan yang tidak aman)
Penyebab
dasar/
1. Perusahaan tidak mempunyai rencana tenaga kerja yang
akar penyebab
baik (lingkungan yang tidak aman)
2. Dalam konvensi perusahaan, K3 di industri tidak
penting dan pelatihan K3 juga tidak mencukupi
(lingkungan dan perilaku yang tidak aman)

Strategi pengendalian

1. Pengecekan peralatan dan pengoperasiannya secara rutin oleh


bagian K3
2. Pekerja diharuskan mengikuti pelatihan K3 dan belajar
bagaiamana mencegah kecelakaan
3. Dibentuknya peraturan K3 dan diinvestigasi oleh institusi
terkait, kemudian disosialisasikan dan bersifat mandatori/
wajib.
4. Bagian K3 melakukan pelatihan dan inspeksi prosedur
operasi/ kerja
5. Merencanakan ulang mengenai ketenagakerjaan
6. Membuat alat pengaman (lisolasi) dan alat otomastis untuk
berhenti jika mesin dalam keadaan darurat
7. Menyediakan alat peindung diri untuk pekerja

Gambar 2.1 Korban yang terjepit diantara dasar dan jalur penumpu
Peralatan pengaman dan isolasi

Gambar 2.2 Memasang peralatan pengaman dan isolasi


Kasus 2
: Tergencet atau tertekan karena benda yang berputar
Judul kasus
: Kematian dikarenakan tertekan bagian bawah penghisap mesin produksi
ketika mengoperasikannya
Operator/Pekerja
Seorang wakil pengawas dan seorang teknisi
Tanggung jawab
2 orang mengoperasikan mesin produksi bersama dan
pekerjaannya
menggunting alumunium foil dengan pisau
Waktu
Sekitar jam 6:40 sore
Tempat kerja
Bagian produksi
Peralatan atau media yang Pisau yang menempel dan alat penghisap pada mesin
menyebabkan terjadinya
produksi
kecelakaan
Prosedur/ urutan kejadian
Di perusahaan IT (informasi dan teknologi), pada awalnya
seorang teknisi bekerja di departemen pelapisan lem. Tetapi,
kemudian dia dipindahkan. Suatu hari, dia mengoperasikan
mesin pengangkut papan dengan seorang asisten insinyur.
Sekitar jam 06:40, oleh wakil pengawas insinyur tersebut
dipindahkan ke area pengecekan papan. Kemudian wakil
pengawaslah yang megoperasikan mesin dengan teknisi tadi.
Mereka memotong lebih dari 20 papan alumunium, kedua
pisau yang mereka gunakan menempel/ tidak dapat
digerakkan pada papan alumunium foil dikarenakan sudut
pemotongan yang salah atau karena pisau tersebut telah
tumpul. Setelah dipakai untuk memotong lebih dari 17 papan,
mata pisau harus diganti, karena mata pisau akan menjadi

tumpul dan tidak dapat bergerak. Teknisi yang pertama kali


melepaskan pisaunya dari papan. Wakil pengawas terlambat
mengambilnya dan dia memasukkan kabel nilon ke lubang di
tombol aktivasi sehingga mesin dapat beroperasi secara
otomatis. Karena dia ingin hemat waktu, dia memasukkan
kepalanya dibawah alat penghisap untuk memasang
pisaunya. Ternyata kepalanya tergencet alat penghisap dan
dasar dari mesin ( gambar 2.3). Dan teknisi tidak tahu dengan
baik cara kerja mesin tersebut, dia baru bekerja selama 3 hari
di departemen itu. Kemudian dia memanggil pekerja lainnya
untuk memindahkan wakil pengawas tetapi wakil pengawas
tersebut telah meniggal dengan patahnya daerah trakea dan
tidak ada lagi denyut jantung.
Analisa

Tahapan penyebab
Keterangan
Penyebab langsung1. Tidak ada alat isolasi untuk menjaga pekerja jauh dari
mesin produksi (lingkungan yang tidak aman)
2. Pisau yang tidak dapat digerakkan oleh mesin dan tidak
dapat diambil langsung (dengan satu kali pencabutan)
(lingkungan yang tidak aman)
3. Tombol darurat tidak kelihatan. Teknisi tidak dapat
menekan tombol tersebut untuk menghentikan mesin.
(lingkungan yang tidak aman)
4. Wakil pengawas memiliki pandangan yang salah
tentang K3. Dia membuat keputusan yang salah, yang
bukan merupakan kewenangannya, dan membuat mesin
menjadi setengah otomatis. (perilaku yang tidak aman)
Penyebab
tidak
1. Manajemen tidak menyediakan peralatan K3 yang
langsung
memadai (lingkungan yang tidak aman)
2. Pisau yang mudah tumpul dan mudah menempel/ tidak
bergerak. Pihak perusahaan harus menanyakan hal
tersebut ke perusahaan penyedia peralatan untuk
mendisain ulang model dari mesin. (lingkungan yang
tidak aman)
3. Manajer di bagian otomatis produksi tidak
menghentikan perilaku yang tidak aman dari wakil
pengawas. (lingkungan yang tidak aman)
Penyebab
dasar/
1. Tidak ada alat isolasi pengaman di daerah yang
akar penyebab
berbahaya. (lingkungan yang tidak aman)
2. Perusahaan tidak mempunyai kebijakan agar pekerja
bekerja sesuai dengan standar proses atau standar
perbaikan peralatan. (perilaku yang tidak aman)
3. Dalam budaya perusahaan, K3 di industri tidak penting
dan pelatihan K3 juga tidak mencukupi (lingkungan dan
perilaku yang tidak aman)

Strategi pengendalian

1. Pengecekan peralatan harus dilakukan secara rutin dan


hilangkan kondisi lingkungan dan perilaku yang tidak aman.
2. Pekerja harus dilatih materi K3. Kasus yang ada harus

asus 3
dul kasus

3.
4.
5.
6.
7.

dimasukkan dalam materi pelatihan untuk mencegah


kecelakaan yang sama terjadi lagi.
Dibentuknya peraturan K3 dan diinvestigasi oleh institusi
terkait, kemudian disosialisasikan dan bersifat mandatori/
wajib.
Bagian K3 melakukan pelatihan dan inspeksi prosedur
operasi/ kerja
Membuat alat pengaman isolasi dan tombol berhenti untuk
keadaan darurat pada mesin. Pekerja diberikan alat pelindung
diri.
Membuat sistem penghargaan atau hukuman/ penalti untuk
memaksa pekerja agar bekerja sesuai dengan standar operasi
prosedur.
Mengembangkan prosedur pengoperasian alat dan hindari
pisau yang menempel/ tidak dapat bergerak.

Alas dasar untuk pengangkatan papan


Alat Penghisap
Gambar 2.3 Korban tertekan diantara alat penghisap dan alas dasar
: Tertabrak
: Kematian dikarenakan tertabrak alat penggantung otomatis ketika melapisi PCB dengan
nikel
Operator/Pekerja
Tanggung jawab
pekerjaannya
Waktu
Tempat kerja
Peralatan atau media yang
menyebabkan terjadinya
kecelakaan
Prosedur/ urutan kejadian

Laki laki, 25 tahun


Berkeliling dan melakukan inspeksi di bagian produksi
BGA PCB
Jam 8 pagi di Bulan April
Bagian produksi pada area otomatis
Sebuah alat penggantung otomatis (gambar 2.4)
Sekitar jam 8 pagi, pengawas dan pekerja bersama sama
berkeliling dan melakukan inspeksi di bagian produksi
pelapisan BGA PCB dengan nikel. Pekerja mendapatkan
panggilan telepon dan pergi ke kantor didepan area bahan
material. Sekitar 2 menit, dia kembali ke area untuk
pejalan kaki di bagian produksi. Tetapi dia melihat
pengawas terbaring di lantai dekat dengan area
penampungan air untuk pencucian, kepalanya dilantai
mengalami perdarahan dan kakinya berada di area untuk
pejalan kaki, dan jaring pengaman menutupi
punggungnya. Dia sempat dikirim ke rumah sakit tetapi
akhirnya meninggal dunia.

Analisa

Tahapan penyebab
Keterangan
Penyebab langsung1. Pengawas memasuki area operasi otomatis tanpa
mematikan mesin terlebih dahulu. Hal ini
dikarenakan, konsep K3 dari pengawas yang tidak
cukup memadai. (perilaku yang tidak aman)
2. Tidak ada peraturan atau pengawasan dimana
seseorang dapat memperingatkan situasi pada saat itu.
(lingkungan yang tidak aman)
Penyebab
tidak
1. Pekerja tidak memiliki konsep K3 yang cukup
langsung
sehingga membawa dirinya sendiri dalam bahaya
(gambar 2.5). (perilaku yang tidak aman)
2. Prusahaan tidak membuat tanda/ alarm peringatan
untuk menjaga orang yang tidak relevan jauh dari
area operasi. (lingkungan yang tidak aman)
Penyebab
dasar/
1. Perusahaan tidak menekan atau memaksa pekerja
akar penyebab
untuk bekerja sesuai dengan standar. (perilaku yang
tidak aman)
2. Dalam budaya perusahaan, K3 di industri tidak
penting dan pelatihan K3 juga tidak mencukupi
(lingkungan dan perilaku yang tidak aman)

Strategi pengendalian

1. Pekerja harus dilatih K3 dan mengambil kasus yang ada


untuk dimasukkan dalam materi pelatihan untuk mencegah
kecelakaan yang sama terjadi lagi.
2. Dibentuknya peraturan K3 dan diinvestigasi oleh institusi
terkait, kemudian disosialisasikan dan bersifat mandatori/
wajib.
3. Bagian K3 melakukan pelatihan dan inspeksi prosedur
operasi/ kerja.

Alat penggantung
otomatis
Tidak ada peralatan pengaman dna isolasi

Gambar 2.4 Proses otomatis tanpa peralatan pengaman dan isolasi


Peralatan pengaman dan isolasi
Gambar 2.5 Memasang peralatan pengaman dan isolasi untuk mengisolasi pekerja
II. Kegiatan Belajar 2
1. Tujuan Pembelajaran
Setelah Pembelajaran Siswa dapat :
a. Siswa dapat mengetahui dan memahami peralatan dan perlengkapan K3
b. Siswa dapat menerapkan manajemen dan teknik K3 di lingkungan pekerjaan

2. Uraian Materi
1. ALAT-ALAT KESELAMATAN KERJA
A. Alat-alat pelindung Anggota badan
B. Alat untuk bahaya kebakaran
C. Alat tanda bahaya
A. ALAT-ALAT PELINDUNG ANGGOTA BADAN
1. Pakaian Kerja
2. Pelindung tangan
3. Pelindung kaki
4. Pelindung kepala
5. Pelindung mata
6. Pelindung wajah
7. Pelindung bahaya jatuh
1. PELINDUNG TANGAN
Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya
seperti terlihat pada gambar antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan melindungi
tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar.
c) Vinyl dan neoprene gloves, melindungi tangan dari bahan kimiaberacun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam,bergelombang dan kotor.
f) Heat resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api
g) Latex disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman

a)

(b)

(c)

(e)

(d)

(f)

(g)

2. PELINDUNG KEPALA
1. Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh; dan melindungi dari sengatan
listrik sampai 2.200 volts.
2. Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, dan dapat melindungi dari
sengatan listrik sampai 20.000 volts.
3. Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, TIDAK melindungi dari sengatan
listrik, dan TIDAK melindungi dari bahan-bahan yang merusak (korosif)
(1)
(2)
(3)

3. PELINDUNG MATA
a. Kaca mata safety merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai pelindung
mata. Meskipun kelihatannya sama dengan kacamata biasa, namun kaca mata safety lebih
kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa.
b. Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkansafety glass sebab lebih
menempel pada wajah

(a)

(b)

4. PELINDUNG WAJAH
a) Pelindung wajah memberikan perlindungan menyeluruh pada wajah dari bahaya percikan
bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung wajah ini
dapat digunakan bersamaan dengan penggunaan helm.
b) Helm pengelas memberikan perlindungan baik pada wajah dan juga mata. Helm ini
menggunakan lensa penahan khusus yang menyaring intesnsitas cahaya serta energi panas
yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan

(b)

5. PELINDUNG BAHAYA JATUH


a. Full Body Hardness (Pakaian penahan Bahaya Jatuh),
sistim yang dirancang untuk menyebarkan tenaga benturan ataugoncangan pada saat
jatuh melalui pundak, paha dan pantat. Pakaian penahan bahaya jatuh ini dirancang dengan
desain yang nyaman bagi si pemakai dimana pengikat pundak, dada, dan tali paha dapat
disesuaikan menurut pemakainya. Pakaian penahan bahaya jatuh ini dilengkapi dengan cincin
D (high) yang terletak dibelakang dandi depan dimana tersambung tali pengikat, tali
pengaman atau alat penolonglain yang dapatdipasangkan.

Life Line (tali kaitan), tali kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang
salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau
diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal

2. Manajemen Keselamatan Kerja Dalam Upaya Untuk

1.
2.

Meningkatan Kerja
Secara Optimal.
Manajemen Keselamatan Kerja Dalam Upaya UntukMeningkatan Kerja
Secara Optimal. Proses produksi dengan mengoperasikan berbagai peralatan pada
umumnya tidak sama sekali terbebas dari resiko bahaya. Hal ini harus mejadikan
perhatian dari pihak manajemen dan unit-unit teknis dan secara khusus
bertanggungjawab terhadap keselamatan kerja. Dengan demikian keselamatan kerja
akan merupakan bagian yang selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
dan penetapan kebijakan sehingga upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat
kerja telah dimulai sejak perencanaan. Pada setiap perusahaan diharuskan
berdiri
Panitia
Pembinaan
Keselamatan
dan
Kesehatan
Kerja
(P2K3), berdasarkan pada undang-undang nomor 1 tahun 1970.
Dengan pendekatan demikian, maka diharapkan manajemen perusahaan
mengambil sikap nyata yang mencakup:
mengidentifikasi setiap proses dan peralatan pengendalian kerugian sebagai sumber
resiko bahaya,
mengestimasi rencana program pengendalian kecelakaan dan penyakit akibat kerja,

3.

menyusun rencana program pengendalian kecelakaan dan penyakit akibat kerja,

4.

menyusun sistem komunikasi yang diperlukan, dan

5.

menyiapkan sarana dan peralatan beserta personil yang terlaith dan profesional.
Manajemen keselamatan kerja harus mampu mencari dan mengungkapkan
kelemahan operasional yang memungkinkan terjadinya penyakit akibat kerja dan
kecelakaan. Kebijaksanaan manajerial yang dijabarkan dalam pelaksanaan operasional
dengan tingkat segi manajemen yang sangat esensial bagi kelangsungan proses produksi
dan keselamatan kerja yang mengarahkan pada partisipasi semua pihak dalam sistem
manajemen dan organisasi, akan dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman sebagai
landasa kuat untuk kontinuitas usaha dan pengaman investasi dalam pembangunan.
Hiperkes dan keselamatan kerja haruslah dipandang sebagai upaya teknis
manajerial yang sangat besar fungsi dan peranannya dalam:

1.

Mengamankan investasi.

2.

Memelihara kelestarian dan kontinuitas usaha.

3.

Mengembangkan potensi ekonomi.

4.

Meningkatkan manfaat perangkat produksi.

5.

Memelihara dan meningkatkan daya produktivitas kerja dari tenaga kerja.


Mutu sumberdaya manusia ditingkatkan melaui tiga jalur dalam peningkatan
mutu pengetahuan dan ketrampilan, yaitu:

1.

jalur pendidikan formal,

2.

jalur latihan kerja, dan

3.

jalur pengalaman kerja.


Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut sangat penting bukan saja
untuk meningkatkan kemampuan kerja secara teknis operasional, akan tetapi juga
kemampuan kerja secara aman serta kemampuan menciptakan kondisi dan lingkungan
kerja yang aman dan sehat.

III. Kegiatan Belajar 3


3. Tujuan Pembelajaran
Setelah Pembelajaran Siswa dapat :
a. Siswa dapat menerapkan peraturan dan standar K3 di lingkungan pekerjaan
b. Siswa dapat menerapkan prinsip dari SOP
4. Uraian Materi
1. STANDAR OPERASIONAL (SOP)
A.
Pengertian SOP
1.
Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong dan menggerakkan
suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.
2.
SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk
menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.
B.
Tujuan SOP

1.
2.
3.
4.
5.
C.

D.
1.
2.
3.
E.
1.
2.
3.

Agar petugas/pegawai menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas/pegawai atau tim
dalam organisasi atau unit kerja.
Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam organisasi
Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas/pegawai terkait.
Melindungi organisasi/unit kerja dan petugas/pegawai dari malpraktek atau kesalahan
administrasi lainnya.
Untuk menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi
Fungsi :
1.
Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
2.
Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
3.
Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
4.
Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.
5.
Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
Kapan SOP diperlukan
SOP harus sudah ada sebelum suatu pekerjaan dilakukan
SOP digunakan untuk menilai apakah pekerjaan tersebut sudah dilakukan dengan baik atau
tidak
Uji SOP sebelum dijalankan, lakukan revisi jika ada perubahan langkah kerja yang dapat
mempengaruhi lingkungan kerja.
Keuntungan Adanya SOP
SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi dan
pengawasan dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten
Para pegawai akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yang harus
dicapai dalam setiap pekerjaan
SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat trainning dan bisa digunakan untuk
mengukur kinerja pegawai.
Dalam menjalankan operasional perusahaan , peran pegawai memiliki kedudukan
dan fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan standar-standar operasi
prosedur sebagai acuan kerja secara sungguh-sungguh untuk menjadi sumber daya
manusia yang profesional, handal sehingga dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan.

modul 2
KOMPETENSI DASAR. I I
MENERAPKAN K3 BERDASARKAN OSHA
A. Rencana Belajar Siswa
Standar Kompetensi

: Menerapkan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja
B. Kegiatan Belajar
I.

Kegiatan Belajar 1

1. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mencegah terjadinya kecelakaan menerapkan peraturan K3 dalam
lingkup pekerjaan
2. Siswa dapat memahami pentingnya lembaga penjamin kecelakaan seperti
OSHA
3. Siswa dapat menerapkan pelindung keamanan
4. Siswa dapat menerapkan labeling panel
5. Siswa dapat menjelaskan grounding
6. Siswa dapat menerapkan grounding pada system
2. Uraian Materi
A. PENGETAHUAN OSHA
The United States Occupational Safety and Health Administration (OSHA) adalah
bagian dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat yang dibentuk di bawah Undang-Undang
Keselamatan dan Kesehatan, yang ditandatangani oleh Presiden Richard M. Nixon, pada 29
Desember 1970. Misinya adalah untuk mencegah cedera yang berhubungan dengan pekerjaan,
penyakit, dan kematian dengan menerbitkan dan menegakkan peraturan (standar) untuk kesehatan
dan keselamatan kerja.
Fungsi OSHA
OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah lembaga federal Amerika
Serikat di Departemen Tenaga Kerja. OSHA bertujuan untuk keselamatan dan kondisi kerja yang
sehat bagi karyawan untuk mengurangi kematian dan kecelakaan yang terjadi di tempat kerja.
Dua fungsi utama yang diberikan oleh OSHA.
Fungsi utama dari OSHA adalah untuk menetapkan standar dan melakukan inspeksi
tempat kerja untuk memastikan apakah majikan dengan standar dan menyediakan tempat kerja
yang aman dan sehat. Standar OSHA memerlukan praktik akal dan protektif, metode, dan proses
kerja bagi kesejahteraan karyawan. OSHA memastikan jika persyaratan bagi karyawan
disediakan oleh pengusaha atau tidak Menurut OSHA, pengusaha harus menjadi akrab dengan
yang berlaku standar untuk pendirian mereka. Jika tempat kerja tidak higienis dan berbahaya bagi
karyawan untuk bekerja, maka mereka harus menghilangkan kondisi berbahaya tersebut.

Fungsi Kedua, OSHA tidak pemeriksaan apakah peralatan yang digunakan oleh
pengusaha pelindung atau tidak. Karyawan bertanggung jawab untuk mengetahui semua aturan
dan peraturan yang berlaku untuk tindakan mereka sendiri dan perilaku.
Untuk semua tindakan ini, OSHA telah memberikan pelatihan baik bagi majikan dan
karyawan sehingga lingkungan kerja yang baik dapat diciptakan. OSHA telah menyediakan dua
jenis program:

OSHA Konstruksi dan Kursus

OSHA Industri Kursus Umum


OSHA Konstruksi Course adalah pelatihan keselamatan bagi pekerja konstruksi Industri.
Tujuan dari program ini adalah untuk menginformasikan pegawai mengenai orientasi
keselamatan dan kesehatan yang dibutuhkan oleh OSHA. OSHA Jenderal Industri Course adalah
program keamanan komprehensif yang membantu para pekerja di industri umum. Kedua program
mencakup semua persyaratan OSHA. OSHA kursus ini tersedia baik di kelas dan juga online.
Kursus dilakukan dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa Spanyol. OSHA telah melakukan
suatu bantuan besar bagi pengusaha dan karyawan dengan membuat mereka waspada dan
bertanggung jawab atas lingkungannya.
Beberapa "standar." Dari OSHA

1.

Hak Karyawan
Karyawan di tempat kerja memiliki beberapa hak yang sangat penting dalam

OSHA. Beberapa hak-hak ini mencakup kemampuan untuk mengeluh kepada OSHA
mengenai kesehatan dan standar keselamatan di tempat kerja mereka (namun tetap
anonim dan rahasia). Semua karyawan di Amerika Serikat tertutup kecuali untuk
individu yang bekerja sendiri atau bekerja sebagai karyawan publik di pemerintah
daerah dan negara (bar Amerika Serikat Postal Service karyawan).
2.

Majikan Tanggung Jawab


Majikan harus menyediakan karyawan yang bekerja di bawah mereka dengan

lokasi, aman bekerja bahaya-bebas. Mereka seharusnya untuk memastikan bahwa


karyawan tidak bekerja di lingkungan yang dapat mengakibatkan gangguan fisik
serius atau bahkan kematian. Beberapa dari tanggung jawab mereka meliputi
pemberian ujian medis, pelaporan ke OSHA dalam waktu delapan jam of-the-korban
pekerjaan di, tidak diskriminasi terhadap karyawan yang melaksanakan hak-hak
mereka OSHA, jelas menampilkan mereka poster OSHA menginformasikan
karyawan hak-hak mereka, dan banyak lagi.

3. Karyawan Tanggung Jawab


Karyawan juga memiliki beberapa tanggung jawab sesuai dengan peraturan
OSHA. Tanggung jawab termasuk membantu untuk mencegah pajanan terhadap
keselamatan kerja dan bahaya kesehatan dengan mematuhi tegas dengan semua
persyaratan OSHA dan peraturan tentang tindakan individu dan perilaku.
4. Hak Majikan
Majikan juga memiliki hak di bawah peraturan OSHA. Beberapa hak-hak ini
termasuk waran inspeksi meminta, meminta identifikasi dari petugas kepatuhan
OSHA, diberitahukan tentang apa alasan untuk pemeriksaan OSHA adalah, meminta
sebuah konferensi pasca inspeksi informal-dan banyak lagi.
5. Education Pendidikan
Sebagai seorang karyawan atau majikan, mudah untuk mempelajari semua
tentang peraturan dan persyaratan OSHA. Anda dapat memeriksa Federal Register
yang memiliki semua OSHA saat ini dan sampai dengan standar tanggal diterbitkan.
Semua perubahan OSHA, koreksi, penghapusan dan sisipan juga tersedia juga.
I.

KEGIATAN BELAJAR 2
1. URAIAN MATERI
A. IDENTIFIKASI CIRCUIT BREAKER DAN PANEL SWICTCH
1.

CIRCUIT BREAKER
Circuit breaker digunakan sebagai pengganti sekring untuk melindungi dari kesulitan

pengiriman tenaga dalam sirkuit, seperti power windows dan sirkuit pemanas (heater).
a.

Tipe Circuit Breaker


Circuit breaker menurut tipenya dapat digolongkan dalam 3 (tiga) tipe, yaitu: Manual reset
type Mechanical, Automatic resetting type Mechanical dan Automatically reset solid state type.

Gambar 5. TipeTipe Circuit Breaker


b.

Konstruksi
Prinsip

dasar

dari circuit

breaker tipe Manual

reset

type

Mechanical danAutomatic resetting type Mechanical terdiri dari sebuah lempengan bimetal
yang dihubungkan pada kedua terminal dan satu diantaranya bersentuhan.

Gambar 6. Konstruksi Circuit breaker Manual reset type Mechanical


dan Automatic resetting type Mechanical
(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com)
c.

Cara kerja
Bila sejumlah arus yang berlebihan mengalir melalui circuit breaker, maka bimetal menjadi

panas. Dan ini menyebabkan lempengan membengkok,circuit breaker hubungannya terbuka dan
memutuskan aliran arus.
d. Tipe penyetelan
Circuit breaker dapat disetel. Penyetelannya ada tipe otomatis dan tipe biasa.
Tipe penyetelan otomatis
Circuit yang menyetel secara otomatis (rating 7,5 A) digunakan khusus untuk melindungi sirkuit
dari selenoid door lock (sistem 12V) yang membuka karena arus yang berlebihan tetapi akan
menyetel secara otomatis ketika temperatur dari lempengan bimetal turun.
Tipe penyetelan biasa
Circuit breaker penyetelan biasa (manually-reset type mechanical) dilengkapi untuk system 12 v
dan 24 V. Ukuran arusnya adalah 10A, 14A, 20A dan 30A.

Gambar 7. Sistem Bimetal pada Circuit Breaker


(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop 101.com)
Circuit breaker ada didalam junction block atau kotak sekring. Saatcircuit
breaker terbuka disebabkan adanya arus yang berlebihan, circuit breaker disetel kembali seperti
yang diperlihatkan dibawah ini:

2.

Gambar 8. Circuit Breaker Penyetelan Biasa (Manually Reset Type


Mechanical)
(sumber: Circuit Protection, Kevin@autoshop101.com)
Circuit Breaker tipe Automatic Resetting Solid State Type PTC
Polimer PTC (Positive Temperature Coefficient) merupakan Circuitbreaker yang juga
sering disebut thermistor atau thermal resistor. PTC terbuat dari bahan polimer konduksi yang
akan berubah menjadi tahanan ketika temperaturnya menjadi naik. Circuit breaker tipe ini sering
dipakai untuk melindungi sistem power windows dan sirkuit power door lock.

Gambar 9. Circuit Breaker Tipe Automatic Resetting Solid State Type PTC
Cara kerja:
Ketika temperatur normal, karbon akan berfungsi sebagai konduktor yang akan
mengalirkan arus listrik. Pada saat ini nilai tahanan sangat rendah. Jika materi PTC temperaturnya
naik yang sering disebabkan oleh arus yang berlebihan, maka atom karbon akan merenggang
sehingga nilai tahanan menjadi naik hingga pada saat tertentu PTC akan memutuskan sistem
sirkuit. Circuit breaker tipe Automatic Resettting Solid State type PTC akan berfungsi sebagai
konduktor lagi apabila temperatur menjadi dingin kembali.
Kondisi kerja atom karbon pada Circuit breaker tipe Automatic
Resettting Solid State type PTC dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 10. Cara Kerja Circuit Breaker Tipe Automatic


Resetting Solid State
type PTC. Kondisi Atom Karbon pada saat Temperatur Normal
(A) dan Temperatur Naik (B)
(sumber: Circuit Protection , Kevin@autoshop101.com)
B. Panel Switch
1. Electrical Switcboard (Panel Listrik)
Electrical switch board atau dinamakan panel listrik adalah suatu susunan peralatan
listrik / komponen listrik yang dirangkai atau disusun sedemikian rupa didalam suatu papan
control (board)sehingga saling berkaitan dan membentuk fungsi sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan.
Berikut ini contoh contoh nama panel beserta fungsi dan kegunaan:
a. MOTOR STARTER PANEL : adalah panel listrik yang fungsi utamanya mengoperasikan
motor motor listrik yang meliputi pengasutan awal (starting),runningdan stoping dan dilengkapi
dengan proteksi sesuai kebutuhan antara lain Circuit breaker, overload relay, phase failure relay
dan
lain
lain
.
Disebagian panel dilengkapi dengan metering sebagai fungsi monitoring baik yang berbentuk
analog (jarum, lampu pilot,lidah getar) maupun yang berupa moduldigital.
Yang termasuk motor starter panel antara lain :
Star Delta Starter
Direct On Line starter
Double speed starter
Slip ring motor starter
Impedansi motor starter
Resistor motor Starter
Ototransformer starter
Soft starter motor
Variable speed motor starter
Edy current motor starter
b. GENERATOR CONTROL PANEL : Adalah panel listrik yang fungsi utamanya untuk
mengoperasikan generator yang meliputi starting , running, stoping, emergency stop dan
dilengkapi dengan proteksi dan monitoring baik proteksi dan monitoring terhadap diesel engine
maupun terhadap alternator (generator)

Proteksi terhadap engine antara lain meliputi :

Low oil pressure

High water temperature

High Oil Temperature

Over / Under speed

Low voltage battery

Proteksi terhadap alternator antara lain meliputi :

Over/under voltage

c.

Over/under Frekuensi

Over current

Overload

Over temperature

Reverse Power

Unbalancing Voltage

Unbalancing current

Earth Fault

AMF & ATS PANEL (Automatic Mains Failure & Automatic Transfer

Switch )
Adalah Panel yang secara system mempunyai fungsi control otomatic terhadap
generator dan mains power dimana parameter listrik,control dan proteksi terhadap kedua sumber
dapat terbaca dan terkontrol secara sistimatis .Komponen utama panel ini adalah modul control
yang didalamnya berisi program program untuk menjalankan dan mengoperasikan system secara
menyeluruh. Panel ini banyak digunakan diindustri ,perkantoran ,supermarket, rumah sakit dll
d. SYNCHRONIZING PANEL
Adalah panel yang berfungsi untuk mengoperasikan dua buah genset atau lebih yang
bekerja secara parallel (bersamaan) agar didapat catu daya sumber yang dapat diatur sesuai
dengan kebutuhan beban listrik disamping juga untuk efisiensi jika beban listrik dalam level
rendah / ringan.Dengan adanya teknologi yang semakin pesat maka pengoperasian panel
synchrone sudah sedemikian mudah karena dilengkapi dengan modul modul elektronik
berteknologi tinggi yang secara keseluruhan sudah diatur secara otomatis.
e.

MAINS DISTRIBUTION PANEL


Adalah panel yang berfungsi mendistribusikan sumber daya ke sub sub panel

distribusi. Didalamnya terdapat Mains Breaker dan breaker breaker beban yang tersambung
dengan panel Sub distribusi
f.

KAPASITOR PANEL
Adalah Panel Yang berfungsi mengoptimalkan catu daya yang tersedia disamping itu

berfungsi untuk :
Mengurangi denda daya dari PLN jika power factor kurang dari 0,85

Mengurangi disipasi panas pada kabel power

Menaikkan tegangan jatuh pada rangkaian cabang akhir

modul 3
KOMPETENSI DASAR. III
MENGIDENTIFIKASIKAN GEJALA KEJUTAN LISTRIK

A. Rencana Belajar Siswa


Standar Kompetensi

: Menerapkan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja
B. Kegiatan Belajar
I.
1.

Kegiatan Belajar 1
Tujuan Pembelajaran
1.

Siswa dapat menjelaskan dan mencegah efek dari kejutan listrik

terhadap
tubuh manusia
2.

Siswa dapat menjelaskan perangkat rangkaian pengaman listrik

terhadap tubuh
manusia
3.

Siswa dapat menjelaskan dan menyebutkan peralatan

bertegangan tinggi serta


pengaruhnya bagi keselamatan kerja
4.

Siswa dapat menerapkan cara penanganan dari electric shock

2. URAIAN MATERI
A. PENGETAHUAN PENGARUH SYSTEM SARAF TERHADAP KEJUTAN
LISTRIK
Bagi yang tidak mengerti baik yang mengerti paling tidak
sudah pernah tahu bahwa listrik itu bisa mengakibatkan kematian. Kesetrum

dalam

bahasa

Indonesianya

adalah

istilah

yang

sering

digunakan.

Kaget, shock, sesak nafas, terengah-engah, tekanan darah turun, pusing,


mual, muntah, terbakar, hingga nyawa lenyap adalah efek dari kesetrum.
Kenapa listrik bisa sejahat itu?
Listrik itu pada dasarnya adalah baik jika kita mengerti akan
sifatnya. Ibaratkan listrik itu sebagai pedang bermata dua. Bisa digunakan
untuk menusuk lawan jika kita tahu cara menggunakannya. Ia juga bisa
melukai diri sendiri jika tidak hati-hati dalam mengayunkannya. Jika kita kutip
dari wikipedia, kejutan listrik itu dapat didefinisikan sebagai berikut
Kejutan listrik dapat terjadi saat kontak antara badan manusia
dengan sumber tegangan yang cukup tinggi untuk mengakibatkan aliran arus
melalui otot atau rambut. Arus minimal yang bisa dirasakan oleh manusia
adalah sekitar 1 miliamper. Arus ini bisa menimbulkan luka pada jaringan
atau fibrilasi jika cukup tinggi. Kematian yang disebabkan oleh kejutan listrik
dapat disebut dengan elektrokusi. Umumnya, arus yang mencapai 100mA
adalah fatal jika melewati bagian sensitif dari badan.
Bahasa gampangnya, siapapun itu orangnya bakal kesetrum jika
kita menciptakan jalur transfer dari arus listrik. Makanya orang yang tahu
bahaya ini jika ingin mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan listrik
tapi tidak bisa dalam kondisi mati power akan memutus semua kemungkinan
yang bisa mengakibatkan transaksi arus. Bisa dengan menggunakan
sepatu safety yang

memiliki

ketahanan

isolasi

sesuai

tegangan

yang

dikerjakan atau dengan mempelajari jurus melayang tanpa menyentuh tanah


dari mas david copperfield. Intinya, jangan sempat kita ada hubungan ke
benda-benda yang menghantar seperti tanah, besi, air, dan keturunan
penghantar baik lainnya. Tanah perlu dihindadri karena tanah biasanya
lembab atau biasanya juga ada hubungan dengan netral untuk beberapa
instalasi atau karena instalasinya jelek.
Jantung sebagai organ tubuh yang paling rentan terhadap
pengaruh aliran arus listrik dan ada empat batasan jika kita tersengat aliran
listrik

Daerah 1 (0,1 sd 0,5mA) jantung tidak terpengaruh sama sekali bahkan


dalam jangka waktu lama.

Daerah 2 (0,5 sd 10 mA) jantung bereaksi dan rasa kesemutan muncul


dipermukaan kulit. Diatas 10mA sampai 200mA jantung tahan sampai jangka
waktu maksimal 2 detik saja.

Daerah 3 (200 sd 500mA) Jantung merasakan sengatan kuat dan terasa


sakit, jika melewati 0,5 detik masuk daerah bahaya.

Daerah 4 (diatas 500mA) jantung akan rusak dan secara permanen dapat
merusak sistem peredaran darah bahkan berakibat kematian.
terjadinya aliran ketubuh manusia dapat dilihat pada gambar
2. Sumber listrik AC mengalirkan arus ke tubuh manusia sebesar Ik, melewati
tahanan sentuh tangan Rut, tubuh manusia Rki dan tahanan pijakan kaki
Ru2. Tahanan tubuh manusia rata-rata 1000 , arus yang aman tubuh
manusia maksimum 50mA, maka besarnya tegangan sentuh adalah sebesar :
UB = Rk. Ik = 1000 x 50 mA = 50 V

Nah...!!! terjawablah mengapa tegangan Akumulator 12V


tidak menyengat saat dipegang terminal positip dan terminal negatifnya,
karena tubuh manusia baru merasakan pengaruh tegangan listrik diatas 50V.
Faktor yang berpengaruh ada dua, yaitu besarnya arus
mengalir ketubuh dan lama waktunya menyentuh. Tubuh manusia rata-rata
memiliki tahanan Rk sebesar 1000 = 1k , dan pada saat tangan
menyentuh tegangan PLN 220V (gambar 3), arus yang mengalir ketubuh
besarnya.
Ik = U/Rk =220V/1000 = 220Ma
Arus Ik sebesar 200mA dalam hitungan milidetik tidak
membahayakan jantung, tetapi diatas 0,2 detik sudah berakibat fatal bisa
melukai bahkan bisa mematikan seperti yang telah diterangkan di atas,
bahaya kesetrum lainnya adalah:
a.

Psychological Shock (Kejutan Listrik)


Orang yang kesetrum umumnya mengalami shock, kaget, atau terkejut
seketika. Besarnya Shock yang dirasakan sangat bergantung kepada
besarnya tegangan, durasi, arus, jalur aliran, frekuensi, dll. Kaget atau
kejutan listrik sudah mulai dapat dirasakan untuk DC 5-10 mA dan untuk AC
1-10 mA pada frekuensi 60 Hz

b.

Ventricular Fibrillation (Fibrilasi Otot Jantung)


Fibrillation adalah kontraksi serat otot jantung yang cepat, tidak beraturan,
tidak sinkron jika terkena arus yang cukup besar (frekuensi 50-60 Hz untuk

AC dengan arus 60 mA dan 300-500mA untuk DC, tetapi bila aliran listrik
langsung berada di jalur menuju jantung, arus lebih kecil dari 1 mA sudah
dapat menyebabkan fibrillation). Hal ini dapat berbahaya karena sel-sel otot
bergerak tidak beraturan sehingga jantung mengalami gangguan saat
menjalankan funsinya sebagai alat pemompa darah. Bila besar arus yang
masuk mengacaukan jantung melebihi 200 mA maka otot jantung sudah
tidak dapat digerakkan lagi dan menyebabkan kematian pada manusia.
c.

Burns (Luka Bakar)


Luka bakar diakibatkan pemanasan jaringan akibat menerima tegangan
tinggi 500-1000 volts. Bahkan pada tegangan 16 volts bias berakibat fatal
pada manusia jika terkena organ penting seperti jantung.

d.

Neurological Effect
Kestrum juga dapat menyebabkan gangguan pada system Saraf kita
terutama jantung dan paru-paru. Kesetrum yang tidak mematikan bisa
menyebabkan neuropathy (gangguan, kerusakan, ketidakseimbangan dalam
Sistem Saraf Periperal). Gejala penderita neuropathy adalah otot bekerja
lemah, tegang,dan kejang. Kehilangan keseimbangan dan koordinasi juga
muncul
B. ALAT PENGAMAN KEJUTAN LISTRIK
Circuit Breaker itu kan Sekring. Pada intinya dia memutuskan
rangkaian jika terjadi arus yang berlebih (sekring biasa) atau memutus
rangkaian jika ada kesalahan grounding (GFCI).
Cara kerja sekring biasa, sekring yang terdapat pada instalasi
rumah tangga dengan VA rendah, adalah memutus rangkaian jika terjadi Arus
berlebih/hubungan arus pendek/korsleting. Hal ini terjadi jika saluran Fasa
terhubung langsung dengan Netral tanpa melalui sebuah rangkaian, yang
mengakibatkan arus begitu besar dan menghasilkan panas tinggi yang
berpotensi terjadi kebakaran.
Sekring

model

lama

terbuat

dari

dua

buah

pelat

besi/tembaga yang terpisah beberapa cm dan terhubung dengan sebuah


serat tembaga tipis. Serat tembaga tersebut memiliki daya hantar arus
terbatas. Sehingga jika arus yang mengalir besar, maka tembaga tersebut
akan terbakar dan terputus.
Sekring model baru terbuat dari beberapa kumparan dan
medan

magnet.

Karena

arus

memiliki

gaya

magnet,

maka

hal

itu

dimanfaatkan untuk memutus rangkaian jika terjadi arus berlebih(medan


magnet juga berlebih).
GFCI adalah Ground Fault Circuit Interrupter, yang berfungsi
memutus rangkaian jika terjadi kesalahan dalam grounding. Jika ada
seseorang yang terkena sengatan listrik, secara otomatis dia akan menggrounding-kan rangkaian. Sedangkan GFCI sendiri memiliki ground referensi.
Ketika ground dari manusia dibandingkan dengan ground referensi, maka
ground dari manusia dianggap suatu kesalahan. Maka GFCI akan memutus
rangkaian dalam waktu kurang dari seperempat detik. Bagian dalam dari
GFCI menyerupai Sekring model baru.
Di bawah ini terdapat macam-macam GFCI
(Ground Fault Circuit Interrupter) adalah :

1.

ELCB (EARTH LEAKAGE CIRCUIT BREAKER)

Rangkaian ELCB terdiri dari kumparan magnet dan sakelar. Sakelar ini dapat
dikendalikan secara manual dan magnet listrik