Debo is Rio - Chapter 1

-Studio di kediaman AndryosKau jadi samudra, aku langitnya... Memeluk dunia... kita berdua... Debo dan Aren masih berpegangan tangan dan menunduk. “Oke, sip!”, kata Rio. Langsung aja dua orang itu mundur dan saling menjauh. “Haihh.. Selesai juga.”, dengus Aren, “Kenapa mesti ada acara pegang-pegangan tangan segala sih?”, omelnya. Cewek itu mengambil tempat duduk di sofa. Debo tak ambil peduli, “Lo pikir gw dengan senang hati mesra-mesraan kayak gitu?”, ujarnya sambil membolak-balik daftar lagu yang mesti mereka nyanyikan. “Dasar..”, desis Aren pelan. “Ssshh... Udah, udah.”, selalu Obiet yang paling sabar itu melerai pertengkaran mereka. Yah, kayak biasa nggak ada satu pun dari mereka berdua yang mau minta maaf. “Gw ragu, lo berdua bisa nggak ya akrab di panggung..”, ujar Cakka cemas. “Liat aja entar..”, kata Ozy sambil beranjak dari drum dan selonjoran di sofa. “Dia tuh! Selalu aja cari masalah..”, rajuk Aren sambil menunjuk muka Debo. “Siapa?”, balas Debo. “Udaaahhh...”, lerai Obiet lagi, “Kalian berdua tuh.. Nggak ada hari tanpa berantem, apa? Aren, dinginkan kepalamu. Debo, dewasalah..”, kata Obiet sambil tersenyum dewasa. “Huh.”, mereka berdua sama-sama memalingkan muka. Sebel. Rio memperhatikan mereka berdua, “Jadi ramai ya, latihan kita..” Obiet menghampiri Rio dan mengetes senar bass listriknya, “Seru, kan?” “Tapi capek juga denger dua vokalis berantem mulu..”, keluh Cakka. “Padahal kalo nyanyi mereka kompak.”, komentar Rio. “Kids..”, ujar Ozy sambil angkat bahu. Sudah tiga minggu berlalu sejak penerimaan Aren sebagai anggota baru band ini. Artinya, mereka sudah sembilan kali latihan bareng di studio pribadi Debo. Sekarang ini mereka sedang melakukan latihan menjelang manggung di acara wisudaan salah satu universitas beken di Bandung. Jam kuno di ruangan tengah berdentang empat kali. Artinya, baru jam empat sore. Bukan artinya mereka sudah mau bubaran, lho. Debo masih berdiri di dekat drum sambil mempelajari lagu-lagu yang rencananya akan mereka bawakan. Aren duduk di sofa sambil membaca rundown acara dengan seksama. Rio, Obiet, Ozy dan Cakka masih berkutat dengan gitar dan bass mereka. Berusaha mencari alunan yang pas supaya besok nggak mau-maluin. “Makin kompak saja, lo semua..”, komentar seorang cewek yang datang membawa nampan berisi enam buah gelas bersisi jus jeruk dingin. “Wew.. Menejer baiikkk...”, langsung saja Obiet, Cakka, dan Ozy menghampirinya. Aren melirik ke arah menejer mereka. Oik, cewek seangkatan mereka yang perawakan maupun otaknya nyaris sempurna. Cantik, pintar, baik hati, keibuan, dan tajir, tentunya. Sejak awal band ini berdiri, ia sudah ikutan sibuk dengan mengurusi keperluan lima cowok serampangan itu. Aren sendiri belum terlalu akrab dengan Oik, jadi dia hanya diam menunggu cewek itu meletakkan nampan di meja. Ia lanjut mempelajari rundown acara. Aren menengadah saat segelas jus disodorkan padanya. “Minum?”, sebuah suara menegurnya. Aren tersenyum dan menerima gelas itu. “Thanks, Ri..”, kata Aren sebelum menegak isi gelas itu. Rio mengangguk dan duduk di samping Aren. “Tinggal seminggu nih.”, kata Rio sambil memainkan gelas di genggamannya. “Ya..”, jawab Aren. “Lo udah siap?”, tanya Rio. Aren mengangguk antusias, “Tentu! Gue akan buktiin pada semua orang kalo gw pantas nyanyi di depan mereka semua!”, jawab Aren semangat. Rio tersenyum kecil. “Nggak gugup?” “Yah.. Gugup sih iya...” Lalu mereka terlibat dalam pembicaraan ringan. Sesekali Rio tersenyum kecil melihat tingkah

Aren yang polos dan apa adanya. Agaknya mereka berdua nggak sadar kalo ada sepasang mata yang daritadi memperhatikan mereka berdua. Oik menghampiri dan duduk di samping pemilik mata itu. “Muka lo sangar amat, De..”, sapanya sambil tersenyum. Debo tidak menanggapi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Anak baru itu imut banget, ya?”, pancing Oik. Debo menjengit. “Trus?” Oik menggeleng, “Nggak ada maksud apa-apa. Cuma berkomentar..” Debo mendengus. Ia mulai mencuri pandang ke arah Aren. Nggak menyangka juga, Aren nggak sengaja bertemu pandang dengannya. Debo dapat melihat senyuman cewek itu berubah jadi cemberut. Lalu seperti biasa, Aren menjulurkan lidahnya dan langsung mengalihkan pandangannya ke Rio. Debo panas. Oik menoleh ke arah Aren. Bergantian melihat ke arah Rio dan kembali melirik Debo, “Kayaknya si Aren itu akrab sama Rio ya..” Debo sama sekali tak menjawab. Ia sebenarnya sebal mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut Oik, tapi memang begitulah adanya. Debo juga nggak mengerti, kenapa ia sama sekali tak bisa seakrab itu dengan Aren. Padahal mereka sudah tiga minggu ini latihan bareng terus. Bawaan Debo kalo ngeliat Aren itu pengen ngeberantemin mulu. “Bukan urusan gue.”, jawab Debo akhirnya. “Memang bukan urusan lo.. Urusan cewek itu sama siapa dia mau ngobrol..”, kata Oik sambil memandangi Rio dan Aren, “Cocok juga ya mereka..” Kuping Debo makin panas mendengar ocehan-ocehan Oik. Ia tak berkata-kata sama sekali dan berdiri meninggalkan Oik. Debo berjalan mendekati Aren dan Rio, lalu dengan cueknya ia duduk di samping Aren. Jelas aja cewek itu bengong. “Ngapain deket-deket gue?” Debo masih pasang tampang cool, “Jadi yang boleh duduk di sebelah lo cuma Rio?”, tanya Debo sambil tersenyum mencemooh, “Ya udah, gue pindah..” “Eh.. Tunggu!”, kata Aren sambil menarik ujung T-shirt merah Debo, “Lo itu beneran gampang tersinggung deh!” Rio melirik ke arah Debo, “Duduklah.” Debo tak banyak tingkah dan langsung duduk di samping Aren. Jadilah cewek manis itu diapit oleh dua pentolan ganteng band. Nggak seperti cewek biasanya, Aren anteng dan cuek aja mesti berdekatan segitu rupa dengan mereka berdua. Sudah biasa kali ya, dikelilingi lima cowok tampan dan pandai. Aren menghabiskan minumannya. “Bosen nih..”, gumamnya, “Latihannya udah kelar, kan?” Debo mengangguk. Rio juga mengangguk. Aren terlihat berpikir. “Makan di Ciwalk yuk?”, celetuknya, “Udah lama gue pengen kesana. Belum pernah sih..”, sambung Aren sambil meregangkan punggung. Debo tak merespon. Aren melirik Debo malas. “Mau?”, tanya Aren. Debo menggeleng. “Udahlah, mendingan juga disini. Latihan atau ngapain, gitu..”, kata Debo. Jauh dalam lubuk hatinya, ia memang tak ingin Aren pergi. Debo mendengus dan menoleh ke arah Aren dengan tatapan memelas. Tanpa sepatah kata pun. Rio menghela nafas dan tersenyum sangat kecil, “Mau kesana?” Aren mengangguk mantap sambil ber-puppy eyes-ria. Rio mengangguk. “Boleh, ayo!” -Cihampelas Walk, pukul lima sore...“Terus...”, desis Aren sambil memandang ke cowok itu, “Kenapa lo jadi ikut?”, sindirnya sambil pasang muka ngejek. “Lo mau gue ikut atau nggak?”, balas Debo sambil tetap memilih-milih lagu di mp3 player-nya, “Serba salah berurusan sama cewek kayak lo..” “Huh.. Sok jual mahal..”, desis Aren pelan. Sangat pelan sampai Debo nggak denger. Mereka bertiga sedang berada di dalam New Camry merah milik Rio yang sedang melesat menuju parkiran Ciwalk. Rio menyetir. Debo duduk di sebelahnya dan Aren duduk sendirian di jok belakang. Obiet cs nggak pada ikut karena sudah ada janji malam mingguan bersama gadisgadis mereka. Aren melihat ke arah gedung yang menjulang berwarna ungu-oranye bergaya

modern kontemporer itu. “Wah, ruang luarnya tertata dengan baik!”, komentar Aren sok arsitektural. Debo dan Rio tidak merespon. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Sampai otak mereka sampai pada satu tujuan yang sama saat mendengar Aren berkata, “Ah.. Malem minggu ya, pantesan rame sama orang pacaran. Jadi pengen punya pacar..” Kedua cowok itu tersentak. Dan berpikiran sama. Pacar..? Rio membelokkan sedannya ke arah parkiran yang kosong. Setelah diberi petunjuk oleh masmas tukang parkir dan memarkir dengan keren, Rio mematikan mesin mobilnya. Ia dan Debo langsung membuka sabuk pengaman mereka dan sama-sama keluar dari sedan. Debo sambil mengibaskan rambut, dan Rio sambil membuka sunglasses-nya. Sukses membuat dua mobil jeep—yang dua-duanya disupirin cewek ganjen—tabrakan saking terpesonanya liat dua cowok superkul se-Bandung itu. Hiperbolis deh. Dan mungkin karena mereka ingin bersikap gentle, secara bersamaan juga mereka membuka pintu belakang untuk Aren. “Eh?”, Aren bengong. Debo dan Rio langsung bertatapan dingin. Aren bingung mau keluar lewat mana. Sesaat, kayak ada stalaktit bertumbuhan karena Debo dan Rio saingan adu mata. Aren menghela nafas dan keluar dari pintu yang dibukakan Rio. Aren merapikan roknya dan melirik ke Debo, “Ayo, ke main building-nya.” Debo melihat sepintas senyuman bahagia Rio dan entah kenapa itu membuatnya kesal. Debo agak membanting pintu dan menyusul kedua anggota band-nya menuju gedung Ciwalk. Mereka bertiga berjalan dengan formasi Aren di tengah. Sore itu Debo dan Rio kompakan dengan T-shirt hitam, jaket putih dan blue jeans gede, plus sneakers warna gelap. Di tengah ada Aren dengan sundress warna oranye dengan corak kembang-kembang kecil berwarna merah. Ia memakai flat shoes warna kuning pucat, serasi dengan bandana rambutnya. Sekilas, Aren udah kayak dijagain dua bodyguard. “Whew, es krim..”, langkah Aren melambat saat melewati konter Hagen Daaz, “Jadi pengen deh..”, kata Aren sambil beneran menghentikan langkahnya. “Mau? Aku beliin deh.”, kata Rio cepat, “Mau rasa apa?” Aren sedikit berpikir, “Green tea.”, jawabnya. Rio mengangguk, “kalau lo?”, tanyanya sambil melihat ke Debo. “Lo tahu sendiri kan..”, kata Debo. Rio tertawa kecil dan mengangguk cepat. “Tunggu di sini, ya..”, kata Rio, “De, jagain dia..” Debo mengangguk kecil. Aren memandangi muka Debo, “Lo nggak beli?” “Gue nggak suka es krim. Benci, malah.”, jawabnya. Aren meng-ohh. Diam lagi. Rio masih mengantri karena hari itu kayaknya banyak orang yang pengen beli es krim. “Hei..”, panggil Debo tiba-tiba. “Apa?”, tanya Aren, masih memperhatikan Rio dari kejauhan. “Oh, lo lagi ngeliatin Rio ya..”, Debo mendengus kesal, “Nggak jadi, deh..” Aren langsung memandang muka Debo heran, “Lho? Emang salah kalo aku ngeliatin Rio? Kalo keluar dari pintu mobil yang dibukain sama Rio, salah juga?”, Aren menghela nafas, “Lo dari tadi aneh, tau nggak..” Debo diem aja ngeliat Aren yang sedang sewot. Mana bisa dia ngaku kalo dia sebel melihat Aren deket-deket sama Rio? Hening lagi. Kali ini agak lama. Mereka berdua sibuk dengan pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Sampai Aren merasa bahunya basah. “Waduh, gerimis..”, katanya polos, “Yah, lupa bawa payung pula!” “Hhhh.. Nyusahin aja..”, desis Debo sambil membuka jaketnya dan dilemparkannya ke kepala Aren, “Pake nih, lindungi kepala lo.” Aren, di balik jaket Debo, merasakan mukanya memerah, “Ngg.. Nggak papa nih?” “Nanti kalo kepala lo kena air hujan, bisa tambah bego. Mau jadi apa lo?”, tanya Debo asal. Aren langsung cemberut mendengar jawaban Debo. “Dasar tampang bau..”, desis Aren sambil membenarkan posisi jaket kebesaran itu di kepalanya, “De, tambah deres nih, ujannya..” “Hmm.. Cari tempat berteduh deh..”, kata Debo sambil merangkul Aren. DEG. Aren bisa merasakan jantungnya berdegup dua kali lipat. Walau ia tahu Debo merangkul semata-mata agar kecepatan lari mereka sama, tetap saja debaran ‘itu’ terasa. “Lo bisa lari, kan?”, suara Debo membuyarkan lamunan Aren. Cewek itu langsung mengangguk. Debo mempererat rangkulannya, membawa cewek itu merapat dan berlari kecil menerjang hujan.

Rio melihat semuanya dengan jelas. Perlu dua kali ia dipanggil oleh penjual es krim agar cowok itu sadar dari kevakuman. “Mas..!” “Oh.. Iya?”, Rio mengalihkan perhatiannya pada tukang es krim. “Ini es krim sama kembaliannya, Mas..”, kata mas-mas itu. Rio mengangguk dan mengambil uang serta dua cup es krim dengan rasa yang sama. Ia membawa es krim itu tepat ke depan konter Hagen Daaz, terdiam di bawah awning yang melindunginya dari tetes hujan. Dari sana cukup jelas ia dapat melihat Aren bersikeras menyuruh Debo sejaket berdua dengannya. Cukup jelas pula ia melihat Debo akhirnya berlari sambil memayungi Aren dengan jaket putihnya. Jelas sekali Rio melihat Debo berlaku manis pada pujaan hatinya. “Mas, maaf.. Perlu payung?” Suara seorang pelayan Hagen Daaz mengusiknya. Dengan cepat Rio menggeleng. “Tidak usah. Terima kasih.”, jawabnya datar. Pelayan tadi mengangguk. Kembali Rio melihat dua orang itu. Mereka berhenti berlari ketika berada di bawah naungan atap gedung. Rio melihat Debo mengibaskan jaketnya lalu memakaikannya pada Aren. Ia juga melihat saat Aren membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu mengeringkan wajah Debo. Ia juga melihat—ah! Rio tak sanggup lagi melihat mereka berdua. Langsung ia memalingkan pandangannya ke arah lain, yaitu es krim di tangannya. Dua es krim dengan rasa yang sama. Green tea. “Gue nggak suka teh hijau. Rasanya sangat, sangat aneh!” Rio teringat perkataannya saat Obiet menawarkannya milkshake dengan rasa teh hijau. Ia tertawa pahit. Hari itu ia memaksakan diri membeli es krim dengan rasa yang sama dengan yang dipesan Aren. Entah kenapa. Entah kenapa... Akhirnya Rio memutuskan untuk membuang satu cup es krim ke tong sampah. Ia berlari menembus derai hujan sambil membawa satu cup es krim yang tersisa. Rio merasakan perasaan yang aneh melanda hatinya. Sesuatu yang sangat panas, dan mengerikan. Entah kenapa.

Debo is Rio - Chapter 2
• •
Chapter 2 Studio di kediaman Andryos “Lo terlambat, Ri..”, kata Debo saat melihat Rio memasuki studio, “Nggak biasanya.”, Debo melihat jam dinding. Rio mengangguk, “Maaf. Macet.” “Nggak apa-apa. Aren, Ozy dan Cakka juga belum dateng kok..”, kata Obiet. “Oh.”, jawab Rio singkat. Debo tak ambil peduli. Ia masih mengecek suaranya. Rio melihat Debo dengan tatapan tak terdefinisi. Setiap kali Rio mengingat apa yang terjadi dua hari yang lalu, hatinya jadi galau dan jengah. Bukan hanya insiden jaket di tengah hujan saja. Saat Aren mau memesan makanan, Debo orang yang pertama memanggil pelayan. Saat Aren selesai makan, Debo juga yang mengeluarkan dompet dan membayar tagihannya. Kemarin apalagi. Mereka berenam memutuskan main basket tiga lawan tiga di lapangan basket komplek rumah Ozy. Setelah gambreng, Debo, Rio dan Aren ada di satu tim melawan Ozy, Obiet dan Cakka. Rio merasa tertohok oleh lelucon bernama takdir. Ia teringat bagaimana cara Aren memberikan minuman pada Debo, cara Debo memijit kaki Aren yang terkilir, cara mereka berdua dalam bekerja sama dalam merebut angka, semuanya. Rio sedikit merasa tersisih. Posted by windi DO2RioZyAcha on January 1, 2010 at 6:32pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

Hampir sebulan mereka bersama. Waktu yang lebih dari cukup untuk merasakan sesuatu yang spesial pada seseorang. Rio bisa melihat adanya perubahan dari dalam diri Debo. Dan ia juga merasakan, banyak sesuatu yang berubah dari dalam dirinya. Sampai muncul satu pertanyaan di benaknya. Apa aku sebenarnya... Menyukai Aren? Rio masih tak mampu menjawab pertanyaan konyol tersebut. Lamunannya terbuyar saat mendengar suara cewek yang ceria. Setidaknya, hanya itulah yang bisa menyegarkan hatinya. “Yo! Semuanya!”, disusul dengan suara orang naik tangga, “Nah, kebetulan ada Debo sama Obiet! Ah, ada Rio juga..”, kata Aren senang. “Ada apa?”, tanya Obiet. “Cakka sama Ozy baru pulang beli alat-alat band yang baru. Ada keyboard juga loh.. Bantuin mereka ngangkutin barang ya!”, kata Aren ceria. Tiga cowok kul itu mengangguk bareng. Obiet dan Debo turun duluan. Pas Rio mau turun... “Ah, Rio..”, panggil Aren, “Kamu disini aja, bantuin aku beresin alat musik yang di sini.”, kata Aren sambil memandang Rio memelas. “Tapi..”, Rio agak keberatan. “udah, lo bantu dia saja.”, ujar Debo dari bordes, “Biar kami aja yang turun.” Rio mengangguk juga akhirnya, “Baiklah.” Aren melihat Debo dan Obiet langsung membongkar barang yang dibawa oleh Harrier -nya Ozy lewat jendela di lantai dua. Ia tersenyum dan menoleh pada Rio. “Ayo, kita juga cepetan beresin yang disini.”, ajak Aren sambil menggulung kabel yang berseliweran. Rio sendiri bekerja dalam diam. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Aren yang sedang membereskan peralatan listrik sambil bersenandung riang. Hatinya tergetar oleh dentingan yang sama. Jiwanya yang sangat cantik—tak bisakah aku memilikinya? “Eh, Rio..”, suara Aren lagi-lagi membuyarkan lamunannya, “Kamu kan sudah bersahabat lama sekali ya, dengan Debo?”, tanya Aren sambil menatap mata Rio. Rio tak suka pembicaraan ini, “Ya.” Aren mengangguk. Rio dengan sangat jelas dapat melihat ada rona merah di pipi yang putih itu, “Um.. Ini cuma perasaanku, mungkin.. Tapi rasanya Debo sedikit berubah..” Rio berusaha sekuat mungkin untuk tidak mendengar. “Soalnya..”, Aren tersenyum menerawang, “Dulu kan dia diem, judes, nggak punya otak.. Tapi sekarang beda. Kamu perhatiin nggak sih, kalo dia lebih manusiawi sekarang? Lebih.. Apa ya?”, tanya Aren sambil pasang pose mikir. “Lebih lembut, maksudmu?”, tanya Rio tanpa mikir. “Iya! Itu dia maksudku!”, kata Aren sambil mengatupkan tangannya, “Dia jauh lebih lembut sekarang! Dan dia lebih memperhatikanku.. Aduh, aku ngomong apa sih..” Rio memejamkan matanya. Berharap detik itu dia bisa tuli sekalian. Entah kenapa hatinya sakit sekali mendengar keceriaan Aren yang sedang membicarakan Debo. Perlahan, ia mendekati punggung Aren. Tanpa suara sama sekali. “Ihh.. Tapi aku tetep sebel sama dia.. Mulut tajamnya itu sama sekali belum berubah!”, ujar Aren, “Eh, Rio. Kamu gak akan bilang ini pada Debo kan, kamu...” Perkataan Aren menggantung di tengah-tengah. Ia membelalak terkejut saat merasa ada sepasang tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang. Rio-lah orang itu. Aren sama sekali tak mampu untuk memberontak dari pelukan Rio. Sebagian besar, karena ia terlalu syok mendapati cowok itu sedang merengkuhnya erat. “Ada saatnya aku gak bisa lagi membendung perasaanku padamu. Kenapa aku gak bisa menghapus wajah ceriamu saat kamu membicarakan dia? Kenapa aku selalu mendengar cerita manis tentang dia? Kesabaranku ada batasnya, Aren... Ada batasnya...” ucap Rio dalam hati. “Rio..”, desis Aren sambil berusaha melepaskan diri. Saat itulah, Debo yang sedang membawa cymbal melihat apa yang terjadi di antara Aren dan Rio. Langsung Debo mundur dan memperhatikan mereka berdua dari balik railing tangga.Debo tetap diam sambil memperhatikan Rio. “Rio.. Lepas!”, teriak Aren panik. Rio langsung melepaskan pelukannya dan menjauh dari Aren. Ia melihat sekilas wajah cewek itu—sangat merah. Nafasnya pun terengah-engah. Rio yang merasa bersalah, langsung mengalihkan pandangannya ke lantai. Aren yang masih syok, hanya bisa diam membatu dan mengatur nafasnya. Debo yang tak sengaja melihat, mau tak mau merasa kesal juga. Lama mereka bertiga bergeming. “Maaf..”, bisik Rio sambil berusaha menatap mata Aren, “Aku...” Aren membuang muka dan menggigit bibir bawahnya. Rio menghela nafas dan memutuskan

turun ke lantai satu untuk membantu teman-temannya. Betapa kagetnya dia menemukan Debo yang sedang berdiri di balik railing. “De.. Debo?”, wajah Rio sedikit memucat. Aren apalagi. Dia langsung tersentak dan melihat panik ke arah tangga. Debo memutuskan untuk pasang muka pura-pura tak terjadi apa-apa. Langsung ia menyerahkan cymbal ke arah Rio. “Kenapa lo bengong gitu? Angkat nih, masih banyak barang di bawah.”, kata Debo, “Hei, Ren. Jangan bengong aja, bantuin dong.” “Eh.. I.. Iya..”, jawab Aren sambil membantu Rio membawa sebagian. Debo tak bicara lagi. Langsung ia turun menemui teman-temannya di bawah. Rio langsung menyusulnya setelah selesai meletakkan cymbal. Meninggalkan Aren yang terduduk di sofa sambil memeluk lengannya sendiri. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Bertiga masuk dalam tsunami hati yang siap mengobrak-abrik perasaan mereka. Menyisakan satu pertanyaan, ‘Perasaan macam apa ini?’ ________________________________ “Oke, bagus sekali..”, puji seorang cowok yang memakai bedge panitia. “Umm.. Cukup nih, kak?”, tanya Aren sambil tersenyum. Cowok tadi tersenyum dan mengangguk. Aren dan yang lain langsung turun dari panggung. “Gladi-nya cukup dulu, sekarang udah jam delapan malem..”, jawab si cowok, “Besok kalian bakalan tampil untuk acara penutupan wisudaan. Kalo tepat waktu, jam dua. Tapi untuk jagajaga kalo bisa, sekitar jam satu kalian udah siap di backstage, oke?” “Oke, sip..”, jawab Aren cs sambil mengangguk. “Ya udah, sekarang kalian boleh pulang. Istirahat yang cukup, ya. Terutama kamu..”, si anak kuliahan satu ini ngeliatin aren, “Kamu baru sekali tampil, kan?” “Eh.. I.. Iya..”, jawab Aren sambil mengangguk gugup. Baru sekali dia berurusan dengan mahasiswa yang aktif panitia kayak gitu. Si mahasiswa mengangguk. “Okelah, sampai besok ya..”, dan si mahasiswa tadi menjauh dari mereka. Aren dan yang lain berjalan menuju ke parkiran. Obiet, Cakka, Oik, dan Ozy jalan paling depan sambil berceloteh tentang ‘gimana besok’. Di belakangnya ada Debo yang dari kemaren berubah lagi jadi ‘tuan menyebalkan’ bagi Aren. Cewek itu sendiri masih sibuk dengan ponselnya, menyuruh orang rumahnya menjemput. Dan Rio, ia berjalan paling belakang sambil ngeliatin Aren. Bukan suasana yang enak buat sebuah band yang mau manggung besok. “Iya.. Di Sabuha.. Oke, makasih ya..”, Aren menyimpan kembali N76-nya di tas dan berdiri di depan gedung Sabuha. “Oi, duluan ya.. Mobil gue mau dipake bokap nih..”, pamit Ozy. “Gue nebeng dong.. Lagi nggak ada ongkos taksi nih..”, pinta Cakka memelas. “Oke..”, Ozy mengangguk, “Ri, mobil lo bukannya lagi masuk bengkel? Mau barengan ga?”, tawar Ozy. Rio terlihat menimang. “Nggak usah ah. Rumah kita kan jauh-jauhan. Gue bisa mesen taksi kok.”, jawab Rio. “Ya udah, ikut gue aja. Rumah kita kan searah.”, kata Obiet menawarkan, “Gimana?” “Eh, jangan!” sergah Cakka. Semua memandang heran ke cakka. Cakka tersenyum jahil, “Jangan ganggu mereka dong..” ucapnya sambil melirik pasangan o2. “Ya udah. makanya ikut gue aja.” kata Ozy. Rio mikir. Debo yang memcah keheningan. “Udahlah, ikut Ozy aja.”, katanya dengan nada sedikit jengkel, “Udah malem. Gue nggak mau denger alasan besok ada yang telat.” Siingg.. Diem. Ini pertama kalinya Debo bad mood setelah keberadaan Aren di antara mereka. Rio yang malas berdebat dengan Debo hanya mengangguk, “Ya udah, Zy. Aku nebeng ya”, kata Rio. Ozy mengangguk. “Oke, pulang sekarang ya. Aku mesti makan malem bareng keluarga nih..”, kata Ozy sambil mengeluarkan kunci Neo Baleno hitamnya. Rio sempat tersenyum pahit ke arah aren. “Aku.. Duluan ya.”, kata Rio. Senyuman di wajah Aren memudar. Ia hanya mengangguk tanpa berani memandang mata Rio. Cowok itu menghela nafas lalu menyusul Ozy. Tinggallah Aren berdua dengan Debo di depan gedung Sabuha yang masih ramai dengan panitia wisudaan besok. Kalo biasanya mereka ribut berantem, nggak dengan kali ini. Sejak insiden kemarin, Aren, Debo dan Rio banyakan diemnya. Debo melirik Aren. “Lo sama sekali nggak bagus malem ini.”, komentarnya. Aren hanya bisa menunduk malu.

Memang ia mengakui, gladi resik malam itu ia tak maksimal. Suaranya tidak sedahsyat biasanya, dan pas berakting, Aren banyak bengongnya. “Iya, maaf.. Aku agak..”, Aren nelen ludah, “Nggak enak badan.” “Lo pikir alasan klasik kayak gitu berlaku? Lo pikir, penonton mau ngerti? Mereka mau nonton kita karena mereka denger aku, Andryos Ariyanto, mau manggung!”, kata Debo seenaknya, “Awas kalau lo bikin kacau besok!” Aren agak panas mendengarnya, “Iya, aku nggak bakal ngelakuin kesalahan, deh! Sewot banget sih..”, kata Aren cemberut. Debo mendengus. “Gini nih kalo masalah perasaan dibawa-bawa ke kerjaan. Nggak profesional.”, kata Debo tajem. Aren melotot ke Debo mendengar kalimat barusan. “Heh.. Apa maksud kamu perasaan?”, tanya Aren agak terbata. Debo tertawa mengejek, “Ya gitu deh..”, katanya dengan nada nyebelin, “Pake acara pelukan sembunyi-sembunyi segala. Kalo emang mau pacaran sama Rio, jujur aja lah..” Aren menganga kaget mendengar perkataan Debo. “Kenapa? Kaget? Nggak nyangka ya, kalo aku ngeliat?”, tanya Debo, nyepet. Aren sampe terdiam sejenak, “Kamu ngomongnya kasar banget sih..” Debo diem. Kali ini dia nggak mampu menatap Aren. Hatinya terbakar amarah dan cemburu, “Gue nggak suka kalo anggota gue pacaran sembunyi-sembunyi. Pengecut.” “Heh!”, teriak Aren kencang, “Siapa yang pacaran sama Rio? Kita nggak ada apa-apa kok! Jangan asal nyimpulin seenak jidat lo, deh!” “Masih mau mungkir?”, kali ini Debo dan Aren tatap-tatapan panas. “Gue nggak mungkir! Gue emang nggak ada apa-apa sama Rio!” “Terus maksud lo peluk-pelukan sama dia apa, hah?” “DIA MELUK GUE, bukan peluk-pelukan! Lo tuh cemburu apa gimana sih??” “Buat apa gue cemburu sama cewek kayak lo? Ngarep.” Aren ngerasa beneran marah kali ini. Bukan marah karena kesal dikatai, tapi ia nggak bisa terima Debo asal tuduh tentang dirinya. Aren masih menatap mata Debo. “Ya udah kalo nggak! Nggak usah marah-marah gitu dong! Biasa aja!” Debo mencibir, “Nggak nyangka aja.. Ternyata vokalis yang gue pilih mau-mau aja dipeluk sama gitaris gue..”, Debo merendahkan suaranya, “Gampangan.” PLAK! Debo kaget bukan main saat pipinya ditampar keras-keras oleh Aren. Ia memegang pipinya yang mulai perih dan memerah. Dengan tatapan tak percaya ia melirik ke arah Aren. Cewek itu memandangnya dengan tatapan benci dan marah. Air mata tampak menggenang di kedua bola matanya yang cerah. “Lo..”, kata Aren dengan suara bergetar, “Lo sama sekali nggak pernah mau ngerti.. gimana perasaan gue lo kata-katain barusan.. Lo udah keterlaluan.. DASAR BODOH!”, teriak Aren tak terkendali. Ia menangis sambil menunduk. Entah kenapa, rasanya air mata itu mengalir sendiri. Debo terdiam tanpa tahu harus berbuat apa melihat Aren nangis kayak gitu. Ia juga bingung, kenapa rasa cemburu itu sangat meledak-ledak. Hatinya terbakar sampai ia tega menyakiti orang yang sangat ingin dilindunginya. “Aku memang bodoh, Aren. Aku bodoh karena melihatmu dan Rio...” ucapnya dalam hati. Aren masih sesenggukan di depan Debo. Ia menunduk dan memegang dadanya yang terasa sakit. Aren berusaha sekuat mungkin agar tetap bisa berdiri. Betapa lega hatinya melihat sebuah Jaguar silver mendekatinya. Langsung Aren melambaikan tangannya. Debo memandang Jaguar yang parkir di dekat Aren. Dari dalamnya muncul seorang cowok yang menghampiri Aren dengan tatapan cemas. “Aren?”, langsung ia merangkul Aren dan memakaikan jaketnya pada cewek itu, “Kamu kenapa nangis? Aduh... Ayo masuk mobil, kita pulang..” Aren yang masih sesenggukan hanya mengangguk lemah dan diam saja saat dirangkul cowok itu. Debo hanya memandang bingung dan cemburu ngeliat Aren dibawa cowok itu. Langsung aja disamperin sama Debo. “Heh! Siapa lo?”, tanya Debo di depan muka cowok barusan. Cowok itu agaknya terganggu disamperin Debo dengan cara nggak bagus. “Mestinya lo kenalin diri lo sendiri dulu, anak kecil!”, bentaknya. Debo merasa dadanya panas karena cemburu, “Gue Andryos Ariyanto dan dia vokalis cewek gue! Mau lo bawa kemana, hah?”, tanyanya dengan nafas memburu. “Gue Riko, anak Pertambangan ITK dan gue mau anterin dia pulang. Mau protes?”, tantang Riko. Debo agak jiper juga ditantangin anak kuliahan.

“Heh.. Gue nggak takut sama...” “Diem!”, teriak Aren dengan nafas ngos-ngosan. Ia memandang Debo dengan tatapan marah, “Mau kemana gue, bukan urusan lo.. Urusin aja diri lo sendiri.” Debo terdiam digituin sama Aren. Ia sama sekali tak menyela Riko lagi. Aren masuk ke dalam mobil dan menatap Debo dingin, “Sampai besok, tuan-selalu-benar..” Riko menutup pintu untuk Aren lalu memutar untuk duduk di jok supir. Ia sempat menatap tajam ke arah Debo, “Gw gak tahu apa yang terjadi di antara lo berdua. Tapi kalau gw lihat Aren sampai menangis lagi, gw bunuh lo!” Debo terkesiap mendengar nada mengancam dari suara cowok itu. Ia hanya terdiam dan memandang marah ke Jaguar silver yang sudah menjauh itu. Debo marah besar pada dirinya sendiri. “Bodoh! Kenapa aku mengatakan hal yang menyakiti dia? Kenapa? Kenapa?” Debo sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Walau ia merasakan rintik hujan mulai membasahi tubuh dan hatinya. . Aren masih sesenggukan di dalam sedan mewah itu. Ia memandang keluar jendela mobil yang dipenuhi tetes hujan. Memandang ke arah keramaian kota yang seakan nggak mau ngerti kalau hatinya sedang terasa pedih. Di sampingnya, Riko masih menyetir sambil sesekali mencuri pandang ke arah Aren. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang amat sangat. Dengan lembut dibawanya kepala Aren ke bahunya lalu mengusap-usap rambut Aren. Aren memejamkan matanya. “Ren.. Ada apa sih? Cerita dong sama aku..”, kata Riko lembut. Aren tak menjawab. Malah isak tangisnya terdengar makin pedih. Riko cemas. “Ren.. Mana bisa aku ngerti kalo kamu nangis terus.. Lagian nanti jantung kamu kumat lagi...”, kata Riko. “Ka..”, Aren menghapus air matanya, “Kakaak..” “Iya?”, jawab Riko sabar. “Sakit, Kak...”, desis Aren sambil mengepalkan tangannya di dada kiri, “Sakit..” Riko langsung menatap Aren khawatir, “Sakit? Kenapa, apa yang sakit?” Aren meringis menahan sakit, “Dada Aren sakit...” “Haah??”, Riko cemas beneran, “Jantung kamu kumat lagi, kan... Apa aku bilang.. Mestinya malam-malam dingin kayak gini kamu nggak usah latihan.. Kecapekan kan..” Aren sama sekali tak menjawab. Kepalanya sudah terkulai lemah. Riko pucat, “Ren.. Tahan ya, aku segera puter balik ke rumah sakit, nih..” Dengan kemampuan nyetirnya yang di atas rata-rata, Riko mengarahkan sedannya ke rumah sakit langganan mereka, St. Konomeus. Sesekali ia melihat cemas ke arah adik kesayangannya itu dan mempercepat laju kendaraan. Sambil mengutuk Debo yang membuat jantung adiknya kumat.

Debo is Rio - Chapter 3
• •
Chapter 3 Oik mengangkat ponselnya, “Halo..” “Selamat malam..”, suara seorang cowok. “Iya, dengan siapa?”, tanya Oik sopan. “Maaf, mengganggu malam-malam. Saya Riko, kakaknya Aren..”, ujar suara di seberang sana. Oik langsung cemas. “Iya, ada apa ya?” “Ini menejer band Aren kan? Oik?” “Iya, bener.. Maaf, ada apa?” “Itu..”, diem sebentar, “Saya mau ngabarin kalau malem ini adik saya masuk rumah sakit. Kayaknya besok nggak bisa manggung.. Keadaannya drop banget.” Posted by windi DO2RioZyAcha on January 6, 2010 at 12:13pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

Oik langsung kaget mendengarnya, “HAH? Kok bisa.. Sakit apa, ya?” Hening. “Halo?” “Gini, Oik.. Adikku minta ini dirahasiakan dari anggota yang lain.. Bisa?” Oik menimang, “Ya, baiklah.. Tolong ceritakan padaku..” “Hmm..”, Riko menghela nafas berat, “Aren.. Dia lahir dengan keadaan jantung yang lemah. Sudah berkali-kali operasi sejak kecil.. Selalu hanya bersifat sementara.. Klep jantungnya sudah rusak.. Dia..”, Oik mendengar Riko hampir menangis, “Dia menderita gagal jantung.. Sudah tak bisa diselamatkan lagi...” Oik syok mendengarnya. “La.. Lalu bagaimana keadaan Aren sekarang?” “Sudah stabil.. Kayaknya karena tadi dia capek dan marah.. jantungnya kumat lagi. Sebenarnya.. Hidup Aren juga sudah pendek.. Kecuali ada donor jantung.. Oh, maaf.. Saya jadi bercerita yang nggak semestinya..”, Riko nahan nangis sejadi-jadinya. “Saya.. Saya turut menyesal..”, kata Oik, “Kalo gitu besok Aren nggak perlu tampil. Saya akan cari penyanyi lain..” “Iya.. Saya mohon begitu..”, kata Riko. “Baiklah..” “Dan satu lagi..”, kata Riko dengan nada marah, “Tolong bilang ke Debo, supaya nggak menganggu adik saya lagi. Cukup dengan dia bikin jantung Aren kumat.. Saya gak mau dia membuat masalah lagi dengan adik saya.” Oik terdiam mendengarnya. “Iya, nanti saya bicarakan dengan Debo..” “Makasih, Oik. Selamat malam.” “Malam..” Oik memandang ponselnya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana ini... . Backstage Sabuha, 12.18 P.M... “Duh..”, Debo mondar-mandir cemas sambil melotot ke ponselnya, “Udah jam segini tapi kok cewek itu belum dateng juga sih? Hapenya mati, juga!” Anggota yang lain tidak menanggapi. Karena udah tau, berurusan sama Debo yang lagi uringuringan tuh sama aja dengan ngobrol sama kompor nyala. Nggak bakal digubris, yang ada tetep panas. Ozy memainkan stik drumnya. Obiet dan Cakka diem-dieman sambil ngetes gitar, seperti biasa. Rio, diam-diam ia juga berusaha menghubungi Aren. Mereka berlima serentak menoleh ke arah pintu backstage yang dibuka seseorang. Debo mendengus. “Oik..”, katanya, “Kirain Aren..” Oik bingung harus mulai ngomong darimana, “Aku ada kabar mengenai Aren..” Langsung Debo melotot, “Kabar apa?” “Tadi malem Aren masuk rumah sakit gara-gara kecapekan.”, kata Oik akhirnya, “Jadi siang ini dia nggak bisa manggung.” Mereka semua langsung membelalak nggak percaya. Rio berdiri dari bangkunya, “Terus? Keadaan dia sekarang gimana?” “Terlalu lemah untuk bisa manggung.”, jawab Oik, “Masih di rumah sakit.” “Terus gimana dengan penampilan kita kalo dia nggak ada..??”, tanya Debo geram. “Aku udah minta salah satu anak Paduan Suara Mahasiswa buat ngedampingi kamu di lagu terakhir.”, kata Oik mantap. Debo terdiam bengong dan bingung. “Nggak bisa! Aku udah latihan selama ini sama dia.. Mana bisa aku nyanyi sama penyanyi lain?”, kata Debo emosi. Oik menatap Debo. “Seorang profesional mesti tampil profesional, dalam keadaan apapun.”, kata Oik, “Bukannya kamu yang selalu bilang kayak gitu, De?” Debo terdiam. Ia berusaha menenangkan dirinya. “Tenang, anak PSM itu suaranya bagus kok.”, kata Oik lagi, “Kalian berlima harus tetap tampil, dengan atau tanpa Aren.”, tekan Oik. Obiet, Cakka dan Ozy mengangguk, “Ya, baiklah.. Tetap tampil..” “Bagus.”, kata Oik, “Sebenarnya aku juga benci mesti maksa kalian tampil tanpa ada Aren... Gimana pun juga kita sudah latihan bareng sebulan lebih. Tapi kita harus profesional, bukan?”, tanya Oik sambil tersenyum pedih. Rio dan Debo terdiam mendengar kata-kata Oik. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka ingin

membatalkan kontrak dengan ITK detik itu juga. Mereka bersedia mengganti konser kali ini dengan seharian berada di rumah sakit. Mereka siap kehilangan popularitas demi berada di samping Aren. Sayangnya, Oik tak mengizinkan hal itu. “Aku keluar dulu.. Saat kalian tampil aku ada di pintu masuk Sabuha yang bersebrangan dengan panggung kalian. Aku merekam kalian dari sana.”, kata Oik sambil membuka pintu, “Nanti kalau ada kabar terbaru dari Aren, akan aku beritahu..” Oik beranjak dari backstage, meninggalkan Debo dan Rio yang merasakan kegalauan dalam hati mereka. . “Kak… Please..”, mohon Aren sambil menarik-narik kemeja kakaknya, “Aren harus pergi.. Ini konser Aren yang pertama, kak..”, mohonnya. Riko menggeleng, “Nggak boleh.” Aren menghela nafas panjang, “Kak, please...” mohon Aren dengan mata berkaca-kaca, “Cuma kakak yang bisa ngebantu Aren kabur dari sini.. Aren nggak betah di rumah sakit kayak gini. Aren harus ke Sabuha sekarang.. Satu jam lagi tampil, kak...” Riko melihat adiknya nggak tega, “Aku tau, ini konser sangat berharga buat kamu, tapi liat juga kondisi kamu, Ren..” “Aren udah sehat, nggak kenapa-napa..”, Aren keras kepala. “Kalo lagi ngotot gini, kamu nggak ada bedanya sama Mamih, tau nggak?”, kata Riko sambil melipat tangannya di dada. Misi yang diberikan ayahnya kali ini cukup jelas. Menjaga supaya Aren nggak melakukan hal bodoh seperti ngabur dari kamar rawatnya dan mencuri-curi ke Sabuha. Riko berniat menjalankan tugas ini dengan baik. “Kakak pelit! Jelek!”, dengus Aren sambil manyun kesal. “Dasar anak Mamih, kamu.”, balas Riko nggak mau kalah. “Eh, eh.. Ini apa-apaan, bawa-bawa nama Mamih segala..”, sesosok wanita anggun masuk, “Ada apa ini?”, tanyanya sambil melirik ke kedua anaknya. Aren masih manyun. “Mih.. Mamih..”, Aren pasang muka memelas, “Mamih.. Aren mau ke Sabuha ya.. Aren udah janji sama semuanya untuk bisa nyanyi siang ini..” Bu Ira menaikkan sebelah alisnya, “Kalo kamu pingsan pas nyanyi, nggak lucu loh.”, katanya cuek. Riko mengangguk semangat. “Tapi Mih..”, kata Aren, “Menjadi penyanyi profesional itu sudah jadi impian Aren sejak kecil.. Kalo cuma segini aja Aren nggak tampil..” “Nanti kalo Papih kamu tau, gimana?”, tanya Bu Ira. “Bodo amat!”, teriak Aren, “Hidup Aren tuh udah pendek! Kenapa di hidup Aren yang sebentar ini.. Aren nggak boleh mewujudkan impian Aren...” Bu Ira dan Riko langsung terdiam mendengarnya. Aren menunduk. Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Bu Ira sampe kaget ngeliat anaknya yang keras kepala itu sampai menangis. Riko jadi kasihan melihatnya. “Aren cuma pengen ngebuktiin sama semua..”, kata Aren terbata, “Kalo Aren tuh pantes untuk jadi penyanyi..”, isaknya lirih. Ia merenggut selimutnya keras-keras sampai kedua tangannya terasa sakit. Riko jadi kasihan melihatnya. “Kenapa sih kamu ngotot pengen pergi? Bukannya si debo itu udah bikin kamu nangis? Sampe kumat jantung kamu? Hah?”, tanya Riko agak keras. Aren tersentak mendengar pertanyaan kakaknya. Ia berhenti menangis dan menggigit bibir bawahnya. Aren berusaha membuka mulutnya. Namun tak satupun penjelasan keluar. ‘Bagaimana... Bagaimana aku menjelaskan pada mereka? Aku ingin pergi karena aku harus membuktikan pada Debo itu, kalau aku bisa nyanyi. Kalo aku juga bisa bersikap profesional. Kalo aku mampu mendampingi dia sebagai vokalis cewek...’ Aren dapat merasakan dua orang itu memandanginya. Ia makin menunduk. ‘Bohong. Aku pergi karena aku ingin berduet dengan Debo. Ini kesempatan yang sudah lama aku tunggu.’ Aren mengangkat wajahnya dengan berani. Menatap kakak dan ibunya. “Karena Aren mau tampil dengan Debo. Aren.. Berlatih sebulan lebih untuk hari ini.. Dan Aren nggak mau latihan Aren sia-sia hanya karena hal sepele yang terjadi tadi malam.”, jawab Aren mantap. ‘Ya, sangat tidak profesional kalau aku lari hanya karena kesalahpahaman antara aku, Rio dan Debo. Lagian kondisiku sudah stabil. Nggak ada alasan lagi.’ ucapnya dalam hati. Riko dan Bu Ira berpandangan. Sampai akhirnya Bu Ira menghela nafas. “Jadi itu alasanmu?”, tanya Bu Ira.

Aren mengangguk yakin. Riko udah cemas. “Mamih, jangan biarin dia ketemu sama si Debo itu lagi.. Dia udah bikin Aren sakit! Dia itu..” “Kakak!”, bentak Aren.Riko dan Bu Ira sampe terdiam. Aren memandang Riko marah, “Kakak nggak tau Debo.. Jangan katakan yang nggak-nggak tentang dia.” “Aren! Kamu kan tau dia itu kayak apa..”, kata Riko bersikeras. “Iya, Aren tau Debo itu gimana!”, Aren terdiam agak lama. Mengingat kejadian dimana Debo memayunginya, Debo memijiti kakinya, Debo yang menemaninya, Debo yang tersenyum padanya... Aren ingat semua kehangatan yang pernah diberikan Debo sebulan terakhir ini. Jauh dalam lubuk hatinya, Aren sangat ingin berada di samping orang itu. Entah sejak kapan perasaan rindu itu ada. Sangat samar, namun Aren merasakannya. “Debo itu baik..”, kata Aren terbata. Ya, dia baik. Dia sangat baik. Aku bisa ngerasain kehangatan dibalik sikapnya. Dia itu baik, kakak... Riko nggak bisa ngomong lagi, “Terserahlah..” Bu Ira agaknya tanggap dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh putrinya, “Jadi kamu tetep ngotot mau pergi? Apapun konsekuensinya?” “Aren yakin.”, jawab cewek itu mantap. “Tapi.. Kayaknya tetap nggak bisa.”, kata Bu Ira. Aren udah mau nangis lagi mendengar keputusan ibunya, “Mamihh... Kenapa lagi?” Bu Ira tertawa kecil, “Kamu beneran mau manggung dengan muka lusuh gitu?”, tanya Bu Ira, “Tentu saja kamu mesti mandi dulu! Terus kita ke butik, beli baju dan ke salon buat menata rambut kamu itu.”, sambungnya sambil mengerlingkan mata, “Kamu siap?” Aren langsung memeluk ibunya, “Mamihhh.. Makasihhh..!! Makasiihh.. Bangeeettt...”, kata Aren keras-keras. “Sssttt...”, kata Bu Ira sambil melongokkan kepala ke luar kamar, “Ayo buruan! Riko, kamu yang nyetir ya. Kunci Jaguar di kamu, kan?” “Ehh... I...Iya, Mih..”, kata Riko pasrah.

Debo is Rio - part 4
• •
Chapter 4 Sabuha, pertengahan acara... Rio cs masih siap-siap di backstage karena setelah angklung kelar, giliran mereka yang tampil. Semua sudah memakai dresscode berupa setelan jas berwarna hitam. Maklum, wisudaan. Mesti rapi dan resmi. Obiet, Ozy dan Cakka udah bersemangat dan nggak sabar, melihat penonton yang lebih senior dan buanyak banget itu. Lain lagi dengan Rio dan Debo yang hanya diam tak bersemangat. Rio menunduk berdoa. Rio melihat ke arah Debo. Sahabatnya satu itu sedang mondar-mandir kayak setrikaan baru beli. Debo terlihat tertekan. ‘Ini semua gara-gara aku. Kenapa malam itu aku mesti berlaku kasar sama dia, sampe dia sakit? Mestinya aku tau kalo dia beneran nggak enak badan. Mestinya aku peka sama keadaan dia. Nyatanya apa? Sial.. Aku bodoh, bodoh, bodoh!’ Debo mengepalkan tangannya kuat-kuat. ‘Aku ingin berada di samping Aren... Sekarang...’ Debo merasakan ada sesuatu yang menganga di hatinya. Sebuah luka besar yang ia buat sendiri. Sulit baginya membayangkan sebesar apa luka yang ada di hati orang itu. Di hati Aren, cewek pertama yang mampu membuatnya berbuat di luar akal. “Aren, aku menyesal. Kamu dengar itu? Aku menyesal!” Kata-kata itu mengiang-ngiang di benak Debo. Ia gagal melindungi orang yang begitu penting baginya. Debo berjalan menuju dinding backstage, dan melampiaskan kekesalannya di dinding. “Sial!”, teriaknya sambil memukul dinding sejadi-jadinya, “Sial, sial, sial!!” “Debo!”, teriak Obiet dan yang lain kaget. Langsung mereka menahan kedua lengan Debo, Posted by windi DO2RioZyAcha on January 11, 2010 at 4:21pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

“Kamu ini kenapa? Kamu sudah gila, dinding lagi diem kok digebukin?” “Arrgghhh...!!”, Debo melepaskan diri dan meletakkan dahinya di dinding, “Semua ini salah gue... Aren masuk rumah sakit juga... Gara-gara gue..!”, lirihnya. Obiet dan yang lain berpandangan bingung. Mereka memang nggak tau perihal pertengkaran malam itu antara Debo dan Aren. Namun beberapa terakhir ini mereka bisa merasakan betapa dingin hubungan antara Debo, Rio dan Aren. Debo masih mengatur nafasnya sambil terus mengutuk dirinya sendiri. Melihat Debo uring-uringan begitu, Rio langsung menghampiri dan memegang pergelangan tangan Debo. Ia merendahkan egonya habis-habisan. Melupakan semua gengsinya. “Cukup. Jangan siksa tanganmu.”, kata Rio. Debo memandang Rio dengan pandangan campur aduk. Marah, benci, kesal. Namun tak dapat ia pungkiri, orang itulah yang selalu ada di sampingnya. Sahabatnya. Teman seperjuangannya. “Nanti habis konser, kita jenguk Aren ya.”, sambung Rio. Mereka bertatapan. Ada kilatan cemburu di sana. Namun kehangatan persahabatan juga terpancar. Debo terdiam. Memandang sahabatnya yang sudah lama menemaninya dalam suka dan duka itu. Debo mengangguk, “Ya. Kita jenguk sama-sama..” “Tenangkan dirimu. Ingat, De.”, kata Rio sambil menekankan kata-katanya, “Profesionalitas.”, ujarnya sambil menepuk bahu Debo. Debo mangangguk. Sehancur apapun hatinya saat itu, sebesar apapun rasa cemburunya pada Rio, penampilan mereka akan tetap berjalan. Debo menenangkan dirinya. “Ya. Kamu bener.”, kata Debo sambil mengangguk, “Sori, aku tadi hilang kendali.” Rio ikut mengangguk. Sebenarnya, ia ingin pergi sendiri. Sebenarnya, Debo ingin pergi sendiri. Namun entah perasaan macam apa, yang membuat mereka merasa kalau mereka harus pergi bersama. Cakka, Ozy dan Obiet mengelus dada karena lega. Mereka bertiga kembali ribut seperti biasa. Debo sudah duduk tenang sambil mengatupkan tangan. Rio bisa melihat kalau Debo masih merasa bersalah. Lalu mereka diam sambil menunggu waktu yang seakan berjalan sangat lambat. Tanpa tahu bahwa mereka akan mendapat kejutan. “Giliran kita, nih!”, lapor Ozy. Yang lain langsung berdiri dan berdiri melingkar. Semuanya tersenyum pada Debo, yang dibalas dengan anggukan oleh cowok itu. Ozy menunduk, “Demi kelancaran hari ini...”, lalu Ozy memimpin doa. Setelah hening beberapa saat, mereka berlima saling melempar senyum. “Ayo..”, kata Debo, “Kita selesaikan ini!” “Yaak!” Mereka berlima dengan percaya diri memasuki panggung, yang langsung disambut dengan teriakan dari cewek-cewek peserta wisudaan. Panitia wisudaan yang cewek apalagi, langsung ada di depan panggung buat mengabadikan saat-saat kayak gini. Ozy langsung duduk di depan drum. Obiet, Rio dan Cakka nyocokin gitar dan bass, sementara Debo mengecek mic. Sesuai latihan, si cewek PSM itu bakalan muncul belakangan dari backstage pas giliran dia nyanyi. Debo menghela nafas. ‘Andai saja Aren ada di sini, mendampingi aku nyanyi...’ “Selamat siang, wisudawan sekalian..”, sapa Debo sambil maksain senyum. Fans cewek udah pada teriak-teriak. Debo stay cool, “Satu lagu penutup dari kami. Spesial untuk para wisudawan, ‘aku datang untukmu’ dari Jikustik... Semoga lagu ini dapat menjadi pedoman bagi kakak-kakak sekalian...” Cewek-cewek udah pada melting deh melihat kelima cowok itu di depan panggung. Obiet dan Cakka kompakan ada di dekat Ozy. Intro dimulai dengan alunan gitar dari Obiet. Debo menggenggam mic-nya dan bernyanyi Jangan takut berjalan sendirian Ada aku, turut menuntun jalan Saat hatimu diserang kesepian, Aku datang... Debo maju ke depan panggung dan memandang pada penonton. ‘Andai saja Aren ada di sini.. Andai saja suara yang menyambut suaraku adalah suaranya...’ Redam badai lakukan dengan tenang Hujan ini akan engkau kalahkan Kalau hatimu percaya padaku, Aku datang...

Debo tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat beberapa spotlight menyorot ke arah pintu masuk Sabuha. Di sana ada sesosok cewek dengan suara yang sangat ia kenal. Cewek yang mengenakan gaun berupa kemben dengan aksen kembang kecil di bagian dada. Bagian roknya pendek di depan—sebatas lutut dan memanjang di belakang, dipercantik dengan renda mungil. Gaun itu berwarna merah. Suara merdu itu menyambut nyanyiannya. Kau jadi samudra, aku langitnya Memeluk dunia, kita berdua... Hening sesaat di panggung karena mereka berlima tak menduga suara merdu itu yang berkumandang di seantero auditorium Sabuha. Semua wisudawan langsung menengok untuk melihat ke sumber suara. Benar saja, di sana sudah berdiri Aren dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Debo menatapnya tak percaya. Rio juga membelalak bingung. Yang paling cepat reaksinya adalah Ozy. Langsung ia menabuh drum, sehingga player lain melanjutkan musik mereka yang sempat terputus. Debo mengangkat mic-nya dan memperdengarkan suaranya yang dahsyat. Menyelamatkanmu... Aren berjalan menuju panggung sambil melanjutkan nyanyian Debo. A gentleman saviour, a knight in shining armor... Tetap di sampingmu... From the cold of winter, through an endless summer... Aku datang... Untukmu... Semua penonton bertepuk tangan riuh mendengar betapa megahnya lagu yang mereka bawakan. Emosi Debo keluar saat menyadari pasangannya tetaplah Aren. Membuat lagu yang dinyanyikan terasa agung sekali maknanya. Untung saja Sabuha didesain sedemikian rupa biar antara panggung sama pintu keluar ada jalur buat jalan. Tapi tetep aja diapit sama kursi para wisudawan. Sukses kehadiran Debo membuat wisudawan cewek nyiapin kamera hape. Debo langsung turun dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Jangan takut kehilangan pegangan Ada aku berimu kekuatan Agar dirimu mampu tuk bertahan, Aku datang... Aren mengiringi nyanyian Debo dengan senandung. Suara soprannya membuat semua orang terpukau. Ia ikutan berjalan mendekati Debo yang menyanyikan tiap bait lagu. Redam badai lakukan dengan tenang Hujan ini akan engkau kalahkan Kalau hatimu percaya padaku, Aku datang... Debo mengulurkan tangannya pada Aren yang berjalan mendekatinya. Aren menyambut tangan Debo dan menyanyi sambil menatap cowok itu. Merasakan kesungguhan dari semua lirik lagu yang dinyanyikan Debo. Kau jadi samudra, aku langitnya Memeluk dunia, kita berdua... Yak, ulang lagi reff-nya. Berhubung males nulis ulang.. Jadi yah begitulah mereka. Bernyanyi sambil berakting. Aku datang... Untukmu...

“Whuuaaaa...!!”, kontan deh wisudawan pada ribut. Nyadar nggak ya mereka kalo Rio yang di atas panggung, lagi cemburu. Terus nyadar nggak mereka kalo aransemennya jadi agak ngerock? Abis Rio ngegitarnya jadi semangat sih... Kembali Aren dan Debo. If you were the ocean, then I’ll be the sea Wherever you may go, that’s where I’ll be Debo menggenggam tangan Aren makin erat Kau jadi samudra, aku langitnya... If you were the ocean, then I’ll be the sea Aren juga menggenggam tangan Debo erat. Memeluk dunia kita berdua Debo mengeluarkan suara mautnya.. That’s where I’ll be... Reff lagi. Seluruh perhatian penonton tersedot ke arah tengah-tengah tempat duduk wisudawan. Mereka berdua agaknya tidak beranjak, tetap di sana. Debo mengakhiri dengan lengkingan tinggi. Aren yang nggak mau kalah juga mengeluarkan suara mautnya. Aku datang... Untukmu... Entah sadar atau tidak, Debo langsung memeluk Aren erat-erat. Sukses membuat penonton tambah ribut. Aren merasakan wajahnya memerah, tak menyangka Debo akan memeluknya di hadapan orang sebanyak ini. Debo berbisik lirih di telinga Aren. “Kenapa kamu datang? Bukannya kamu masuk rumah sakit, heh? Kenapa kamu ada di sini...”, bisik Debo lirih, “Aku cemas, ren...” Aren hampir nangis rasanya mendengar kata-kata Debo, “Dasar.. Aku berusaha supaya bisa kabur dari rumah sakit.. Bukan kata-kata itu yang mau aku denger..” Debo mengangguk, “Maaf…… maaf……” “Aku juga minta maaf soal kemarin...”, balas Aren sambil menahan tangis. Ia merasakan pelukan Debo melonggar. Mereka sama-sama tersenyum. Kau jadi samudra, aku langitnya Memeluk dunia, kita berdua... Debo memandang Aren senang. Bahagia sekali rasanya bisa berduet seperti apa yang telah direncanakan. Apalagi ia sudah baikan lagi dengan Aren, lengkap sudah. Raut wajah Debo berubah saat ia melihat wajah Aren yang memucat. Dengan sigap ia menangkap tubuh Aren yang merosot lemah. Rumah Sakit St. Konomeus... “Tuh kan.. Apa coba Papih bilang...”, Pak Duta ngomel-ngomel ngeliat Aren yang udah ngampar lagi di ranjang ruang rawat, “Kamu tuh paling bisa bikin Papih cemas. Pake acara kabur dari rumah sakit demi tampil nyanyi.. Untung ada kakak dan Mamih kamu... Ampun deh, Areen...”, sambungnya gemas. Aren hanya bisa nyengir pasrah dan mendengarkan semua ocehan papihnya. Pak Duta mendelik ke anaknya satu lagi. “Riko, kamu ya yang bawa kabur Jaguar buat nganterin adikmu ke Sabuha?”, tuduhnya. Riko langsung menggeleng keras-keras. “Ampun, Pih! Riko cuma menjalankan perintah Mamih!” Pak Duta menghela nafas kesel dan melihat ke istrinya, “Ma-Mih Iraaaa...” “Hadir!”, jawab Bu Ira ceria sambil mengacungkan jari telunjuk.

“Astagpiruloohh.. Kayaknya kalian semua suka ya bikin Papih jantungan. Kalian seneng ya kalo Papih mati cepet?”, tanya Pak Duta sambil ngelus dada. “Wah, Mih! Kalo Papih mati, Riko ngelanjutin perusahaan dong! Kan warisan jatohnya ke Riko, Mih!”, kata Riko semangat. Bu Ira mengangguk cepat. “Tentu! Terus ntar Jaguarnya mau Mamih pake jalan-jalan di Singapur!”, sambung Bu Ira. Aren ikutan angkat tangan. “Aren.. Aren mau jadi penyanyi beneran!” “Beres!”, kata Bu Ira dan Riko sambil ngacungin jempol. “Wooii..!!”, Pak Duta melotot, “Kalian..”, Pak Duta langsung jongkok di pojokan kamar rawat dan nunjukin lantai, “Kalian malah seneng kalo Papih mati ya.. hiks hiks..” “Bercanda kali Pih..”, kata Aren sambil mesem-mesem. Jadi ya begitulah. Karena Aren ngotot mau konser, akhirnya Bu Ira dan Riko sama-sama merencanakan gimana caranya agar Aren bisa kabur dari rumah sakit tanpa ketahuan Pak Duta. Biasalah, bapak-bapak operprotektip... Singkat cerita dan.. Jadilah Aren tetep nyanyi walau aksi panggungnya banyak perubahan mendadak. “Permisi..” Keluarga Aren langsung diem mendengar ada suara ketukan. Bu Ira membuka pintu dan agak kaget melihat ada dua cowok tampan menclok di depan pintu. Ia tersenyum manis, “Selamat siang.” “Ah.. Selamat siang, Tante..”, jawab dua cowok itu, “Mau jenguk Aren, Tante..” “Oh, iya..”, tanya Bu Ira ramah, “Kalian berdua yang barusan ngegotong Aren ke mobil Tante kan, ya?”, tanya Bu Ira lembut. Rio dan Debo mengangguk sopan. “Mamih.. Kan yang ngegotong Aren ke kamar ini, Riko..”, protes Riko. Bu Ira nggak ambil peduli, “Aren sayang, temen-temen kamu dateng menjenguk nih..”, katanya sambil melebarkan bukaan pintu. Aren bingung dan agak kaget juga menemukan ada Rio dan Debo yang berdiri di depan pintu, masih dengan kostum manggung barusan—tuxedo hitam. Dan, mereka dua-duanya bawa karangan bunga dong, buat Aren. Ngeliatnya Riko langsung berang. Dia langsung adu mata aja sama Debo. “Eh, ini anak satu, dibilangin jangan nampakin diri lagi.. Masih aja ya ini anak..”, kata Riko geram dan mau nyambangin Debo gitu. “Ampun deh Bang... Saya kan udah minta maaf sama Aren..”, kata Debo. Berusaha sebisa mungkin untuk sopan. Riko nggak peduli. “Ahh.. Sekali brengsek tetap brengsek!”, teriak Riko. “Kakak..!”, panggil Aren dengan nada mengancam. Bu Ira yang cepat tanggap langsung memungut onggokan anaknya dan menyeret suaminya (yang masih pundung di pojokan) lalu keluar kamar. “Tante tinggal dulu ya.. Jagain Aren-nya..”, kata Bu Ira sambil menutup pintu. Rio dan Debo tak dapat menahat tawa kecil mereka. “Keluargamu kocak.”, komentar Rio sambil berjalan mendekati ranjang Aren. “Kuanggap itu sebagai pujian.”, kata Aren sambil tersenyum lebar. “Kakak kamu sangar banget sih sama aku.”, keluh Debo, “Pantes aja kamu jadi kayak gini, punya kakak serem kayak gitu..”, kata Debo sambil memukul pelan kepala Aren dengan karangan bunganya. Aren menjulurkan lidahnya dan tertawa. Lalu mereka diam semua. Mengheningkan cipta, mulai! “mmm..”, kata Aren memecah keheningan, “Entah kenapa, sejak kapan aku juga nggak ngerti.. Tapi aku ngerasa dua-tiga hari sebelum nampil hari ini.. Kita kayak jalan sendirisendiri..”, kata Aren. Rio dan Debo mengangguk pelan. “Iya, kamu benar..”, desis mereka sambil menatap Aren. “Aku bingung kenapa kita bisa.. Pecah kayak gini. Diem-dieman.. Kayak anak kecil saja... Aku nggak tau siapa yang salah, tapi ya sudahlah..”, Aren tersenyum manis sambil memandang Rio dan Debo, “Aku pengen kita kayak dulu lagi..” Dua cowok itu nahan mimisan ngeliat Aren lagi super cute gitu. “Aku sayang sama Rio..”, kata Aren tiba-tiba. Rio tersentak mendengarnya. Mukanya merah padam. Debo apalagi, udah mau protes abis-abisan aja kali, dia. Langsung Aren mengalihkan pandangannya pada Debo, “Aku juga sayang sama kamu, Debo..” Aren menghela nafas, “Aku juga sayang sama Obiet, Cakka dan Ozy. Karena kalian temanteman pertamaku semenjak aku datang ke Indonesia. Aku senang sekali waktu Rio mau nganter aku jalan-jalan keliling.. Waktu Debo bilang kalau aku boleh bergabung dengan

kalian. Aku senangg... Sekali..” Rio dan Debo mendengarkan dengan seksama. Sekarang baru mereka mengerti, betapa besar arti kehadiran mereka dalam kehidupan Aren. Sempet ge er juga sih, tapi ternyata angan-angan mereka berlebihan. Cewek itu tersenyum lebar. “Karena itu..”, Aren menggenggam tangan Debo. Sebelah tangannya menggenggam tangan Rio. Lalu Aren menaruh tangannya sendiri di antara tangan mereka berdua, “Janji sama aku, kalau kita bertiga akan selalu menjadi sahabat.” Rio dan Debo langsung memandang Aren dengan tatapan bingung. Aren mengangguk, “Iya, sahabat.. Sampai kapan pun juga, kita akan selalu menjadi sahabat.”, katanya sambil memaksakan tersenyum. “Maaf, bukan aku egois. Bukannya aku bermaksud membuat ‘benteng’ berkedok persahabatan di antara kita. Tapi aku nggak bisa memilih salah satu di antara kalian, Debo.. Rio.. Lepas dari itu semua, aku ini hanya seorang cewek berpenyakit jantung yang hidupnya nggak lama lagi...” kata Aren dalam hati. Debo hanya terdiam mendengar perkataan Aren. Rio juga. Sama seperti Debo, ia hanya bisa mendengar tanpa bisa membantah. Walau sebenarnya, mereka berdua ingin sekali menolak penawaran Aren saat itu. Mereka ingin bisa menjadi cinta, bukan sekedar... SAHABAT... Debo dan Rio menghela nafas panjang. “Baiklah, aku janji...”, kata Rio sambil tersenyum menatap Aren. Debo yang ngedenger langsung kaget. Ia menatap Rio. Yang ditatap hanya mengangguk yakin. Melihat itu, Debo jadi merasa tak punya pilihan lain. “Ya…”, katanya pelan. Aren langsung tersenyum saat mendengarnya. “Makasih...”, kata Aren pelan. Rio dan Debo mengangguk. Mereka kembali ngobrol seperti biasa, bercanda seperti biasa, semua terlihat biasa. Debo dan Aren tetap bertengkar kecil dan Rio selalu menengahi. Masalah di antara mereka sudah selesai. “Eh, kita ditawarin manggung lagi! Baru inget.”, kata Rio. “Oh ya?”, Aren terlihat antusias, “Dimana?” “Di pentas seni St. Idol International School.”, kata Rio lagi. “Yay!! Asiikkk.. Nambah jam terbang, nambah fans, nambah deket dengan cita-citaku jadi penyanyi terkenal!”, kata Aren senang. “Heh, sembuh dulu gih!”, kata Debo sambil menjambak beberapa helai rambut Aren. “Eh! sakit, bodoh!”, teriak Aren. Ia manyun dan merapikan rambutnya. “Makanya jadi cewek jangan sakit melulu..”, kata Debo sok sehat. “Jelek lo.” “Sshh... Udah ah.” Aren banyak tertawa hari ini. Ada perasaan lega di hatinya, mengingat janji kedua cowok di hadapannya untuk selalu ada sebagai sesosok sahabat. Semua perang dingin sudah selesai. Tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka bertiga. Aren menganggapnya ‘janji sahabat’. Namun bagi Rio dan Debo, mereka kembali ke titik awal. Pendekatan yang sesungguhnya, baru dimulai..

Debo is Rio - Part 5
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on February 19, 2010 at 12:09pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

“Ayo..”, kata Debo saat melihat Ozy mengangkat stik drumnya, pertanda mereka akan menyanyikan lagu terakhir, “Selesaikan ini.” Rio mengangguk. Ia mengekor Debo keluar menuju panggung. “Whuuaaaaa...!!”, teriak cewek-cewek (lagi) sambil menunjuk ke arah Obiet, Debo, Rio, Ozy, dan Cakka yang baru keluar. Debo langsung ngambil mic dan ngecek suaranya sendiri. Rio langsung ngetes gitar listriknya dengan gitar-nya Obiet dan bass-nya Cakka. Tentunya, dengan gaya mereka yang superkul itu. Aren langsung mengambil alih. “Baiklah, lagu terakhir!”, teriaknya ceria sambil mundur sampai ke tengah panggung. Cowokcowok kayaknya udah pada pasang muka ngayal deh. Cewek-cewek sekarang yang giliran

ribut-ribut ngeliat Debo udah ada di samping Aren. Hening sesaat. Lalu keadaan kembali riuh rendah saat additional keyboardist dari Idol School, Ify, memainkan intro lagu yang bakal dinyanyiin Debo dan Aren. Debo mengangkat mic-nya dan mulai nyanyi. Sebuah lagu ngetop dari Gwyneth Paltrow, Cruisin’. Diem! Debo nyanyi, nih! Baby let’s go... Away... From here... Dibales Aren. Don’t be confused... The way... Is clear... Debo mendekati Aren, dan kaget saat Aren menjatuhkan kepalanya ke bahu Debo, “Heh, Kenapa?” Aren tak menjawab apa-apa, ia hanya menunduk di bahu Debo sambil memegang dadanya. Aren meringis menahan sakit. Wajahnya berubah pucat. Debo merasa ada yang tak beres, “Ren, lo kenapa?” Aren hanya diam. Ia merasa jantungnya mulai nggak beres lagi. Kesadaran Aren mulai hilang. Sampai akhirnya, tubuhnya merosot tak bertenaga di atas panggung. “Aren?”, teriak Debo kaget sambil langsung menahan badan Aren, “Oi! Tolong! Dia pingsan, nih!” Suasana mendadak panik. Penonton mulai pada cemas dan anggota band ikutan panik. Rio langsung melepasakan gitar listriknya dan menghampiri Debo yang lagi berlutut megangin Aren, “Aren kenapa, De?”, tanyanya cemas. Debo menggeleng. Lalu dari belakang panggung muncul manager mereka. “Maaf, permisi…”, suara yang halus seorang Oik. Langsung ia menghampiri Aren dan memeriksa keadaannya sebentar. Ia menghela nafas dan melirik pada Debo, “Dehidrasi kayaknya. Bawa dia ke backstage.”, kata Oik cepat. Debo mengangguk. Rio langsung ikutan berdiri, “Kubantu.” Debo melirik ke arah Rio dan mengangguk cepat. Mereka berdua bersatu padu serta bekerja sama dalam menggotong Aren ke arah backstage. Disusul manager mereka, juga tiga anggota band yang lain. Ify mengambil alih dalam menenangkan dan akhirnya ikutan kabur ke belakang panggung. Yang tersisa hanya bisik-bisik penonton. ______________________ Apa ini? Aku… apa yang terjadi padaku? Enghh… Siapa itu? Suara cewek… Cahaya ini… Silau… debo? Lalu Aren membuka matanya perlahan. “Oi, menejer, dia sadar nih!”, suara yang sangat Aren kenal. Debo. Terdengar suara langkah yang pelan dari ujung ruangan. Oik menghampiri Aren dan tersenyum padanya. “O…ik?”, desis Aren pelan sambil berusaha duduk, “Ughh.. Pusing…” Oik, manager band merangkap ‘dokter pribadi’ itu tersenyum, “Jangan dipaksain, kamu itu menderita dehidrasi…” Aren kembali tiduran, “Aku.. kenapa?” “Lo pingsan di atas panggung tadi..”, kata Debo yang tiba-tiba udah menclok di depan pintu. Berdiri sambil menyilangkan tangan di dada, “Merepotkan…” Aren mengerenyitkan dahinya, “Heh Debo.. Aku nggak butuh informasimu!”, balasnya sambil maksain duduk dan menunjuk-nunjuk Debo. Debo menghela nafas, “Lain kali jangan terlalu pecicilan, makanya.” “Diam, kamu!”, rajuk Aren sambil pasang muka cemberut. “Asal kamu tau ya..”, kata Debo sambil memandang Aren, “Kamu berat. Banget.”, lalu Debo membenarkan posisinya hingga berdiri sempurna. “Ugghh…”, Aren udah hampir berubah jadi super saiya saking sebelnya dia sama cowok satu

itu, “Dasar Debooo…!! Nyebelin! Orang baru siuman, juga..” Aren membuang muka lalu tiduran lagi sambil manyun. Oik yang menganggap hal ini sebagai pemandangan sehari-hari hanya tertawa kecil. Ia berdiri dari kursinya. “Aku mau menemui ketua pensi dulu ya. Debo, kamu disini dulu. Temani Aren, oke?”, kata Oik sambil keluar dari ruangan dan menutup pintu. Debo menghela nafas dan duduk di ranjang Aren. “Nyusahin aja kamu..”, komentar Debo. Aren cemberut. “Nggak minta digendong sama kamu..”, balasnya. “Rio juga ngegendong kamu.”, kata Debo, “Kalo sendirian, bisa mati aku ngangkat kamu.”, sambungnya cuek. Aren hanya diem dan berusaha tidur. Namun ia teringat sesuatu, “Eh! Manggungnya gimana? Kan masih harus nyanyi satu lagu..”, kata Aren. “Udah, jangan ngurusin panggung. Rio sama yang lain ngiringin penyanyi dari Idol School.”, kata Debo, “Kamu jangan maksain diri lah. Bikin orang cemas aja.” Aren merasa mukanya sedikit memerah, “Kamu cemas?” Debo salah tingkah, “Dikit…” Aren tersenyum diam-diam. BRAK! “Areeeeeen …”, panggil suara cowok-cowok dari arah pintu kamar rawatnya. Karena kaget, Aren langsung mendorong Debo sampe cowok itu jatoh dari ranjang. Ozy, Obiet, Rio dan Cakka yang ngeliat Debo yang ngampar di bawah cengok. Debo langsung berdiri dan menatap marah ke Aren. “Dasar barbar.. Lo mau bunuh gue ya?”, kata Debo berang. Aren meringis, “Maaf.” “Hehhh…”, Debo yang malu dan kesel langsung keluar dari kamar dengan muka yang masih merah. Obiet, Rio, Cakka dan Ozy berpandangan heran. “Debo kenapa? Demam ya? Kok mukanya merah gitu?”, tanya Ozy. Bravo, tuan Pandai! Bisa mendeteksi muka orang yang diliat cuma dua detik! Aren hanya angkat bahu. Ia kembali tertawa-tawa riang saat empat sahabatnya itu berada di kamarnya. Obiet pake acara bawa cemilan segala. Ozy langsung ambil bantal dan ngelungker di sofa terdekat. Cakka, asik matut-matut diri di depan kaca. Kayaknya yang berniat mulia untuk menjenguk cuma Rio doang deh. Iya dong, demi Aren tercinta apa sih yang enggak? Obiet cs mulai melontarkan lelucon bodoh yang membuat Aren ceria lagi. Mereka bercerita, berceloteh banyak soal konser barusan. “Udah jam segini nih..”, kata Ozy yang baru bangun dari bobonya, “Kita balik ke hotel yuk?”, ajaknya. “Ok..”, kata Obiet sambil beranjak, “Kami balik ke hotel dulu ya. Nanti pas makan malem, kami jemput kamu lagi.”, katanya. Aren mengangguk, “Oke.. Rumah sakit ini enak kok. Dan lebih mahal ketimbang hotel, jadi bobo disini pun nggak apa-apa..”, kata Aren jenaka. Yang lain tersenyum. “Kita duluan ya, Aren..”, kata Rio pamit, “Istirahatlah..” “Ahh.. Rio!”, Aren langsung menarik ujung kemeja Rio. Cowok itu memandang Aren dengan pandangan heran dan kaget. “Kamu disini saja ya.. Temani aku..”, mohonnya. Obiet dan yang lain mesem-mesem, “Ya udahlah, Ri. Temenin aja, kasihan..” Rio akhirnya mengangguk, “Boleh..”, katanya sambil mengambil tempat duduk di samping ranjang Aren. Cewek itu tersenyum lebar. “Hehehe… Makasih ya..” “Duluan ya..”, pamit yang lain. Meninggalkan Aren dan Rio berdua. Hening agak lama sebelum Rio buka mulut, “Ada apa sih? Tumben minta ditemenin?”, tanyanya. Aren tiba-tiba tersenyum malu-malu dan menggeleng pelan. Rio tambah bingung. “Kayaknya kamu seneng banget. Ada sesuatu bagus yang terjadi?”, tanyanya. Aren mengangguk dan menatap Rio, “Barusan…”, lalu ia menggeleng lagi, “Ah, sudahlah.. Nggak ada apa-apa kok..”, kata Aren sambil kembali ke posisi bobo. “Kalo belum mau cerita, nggak apa-apa.”, kata Rio, “Tidur aja. Kamu butuh banyak istirahat.”, sambungnya sambil membenarkan selimut Aren. Aren mengangguk dan menutup mata. Rio tersenyum, “Selamat tidur, Aren.” “Rio..”, kata Aren sebelum benar-benar terlelap, “Makasih..” Rio tersenyum lebar mendengar perkataan Aren barusan. Ia memutuskan untuk diam di sana sejenak. Menikmati pemandangan indah, yang dari dulu ingin ia sentuh. Sejak kejadian di St.

Konomeus waktu itu, bukannya melupakan, Rio malah jatuh cinta lebih dalam pada Aren. “Nngghh..”, Aren agak mengigau. Rio tersenyum melihat betapa manisnya sosok itu saat dia tertidur. Kali ini, Rio memutuskan untuk sedikit—sedikit saja mengikuti perasaannya. Ia hendak membelai rambut itu. Namun tangannya membatu saat bibir Aren mulai mengigau lagi. “Ngghh.. Debo…”, Aren mengubah posisi tidurnya, “Debo…”, lalu Aren sedikit tertawa. Entah seperti apa Debo dalam mimpinya. Senyuman Rio terhapus seketika. Detik itu juga ia menarik tangannya menjauh dari Aren, merasa ia tidak bisa menyentuhnya dalam saat seperti itu. Rio menggigit bibir bawahnya. Mencerna perasaan panas macam apa yang sedang melanda batinnya saat Aren menyebut nama Debo dalam mimpinya. ‘Apa ini yang namanya cemburu?’ pikirnya. Rio merasakan bibit kebencian tumbuh dalam hatinya. Entah kebencian yang tertuju pada siapa. Rio kembali melirik ke Aren yang masih tidur. ‘Nggak. Kenapa aku sama sekali gak bisa membencinya…’ ucapnya dalam hati. Rio mendengus pelan dan keluar dari kamar itu dengan perasaan galau. ---------“Nyaa Baksoo!”, teriak Aren senang. Ia langsung makan di tempat tidur. Debo cs yang nganterin makanan langsung geleng-geleng kepala. “Pelan-pelan napa makannya, ntar keselek loh..”, kata Riko yang siap sedia duduk di samping adiknya. Riko sampe bolos praktikum, demi ngebut ke Idol School karena ngedenger adiknya masuk rumah sakit lagi. “Laper, kak..”, kata Aren melas. Riko mendengus pelan. “Adikku benar-benar barbar..”, bisiknya. Kamar itu sedang ramai. Debo, Rio, Ozy, Cakka, Obiet, Oik, dan Riko semuanya dateng menjenguk. Semua orang pada sumringah dalam menghibur Aren, kecuali satu orang. Rio. Ya, Rio. Ia duduk di pojokan sambil menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Sedari tadi ia mengulang-ulang lagu yang—menurut dia—sangat cocok dengan suasana hatinya sekarang ini. Rio ikut bersenandung lirih. Ingin ku, bukan hanya jadi temanmu, Atau sekedar sahabatmu, yang rajin dengar ceritamu Tak perlu hanya kau lihat ketulusan Yang sebenarnya tak kusangka kadang ku hilang kesabaran Rio tersenyum pahit. Merasa ia tertonjok oleh paradoks yang sama. Rio sudah lama tahu itu. Aren hanya melihat satu orang. Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Debo. Sahabat dan rival abadinya. Rio juga tahu. Kalau sebenarnya Debo menyimpan perasaan khusus pada Aren. Semua terlihat jelas, terlalu jelas. Mungkinkah akan segera mengerti Seiring jalannya hari sungguh ku tergila padamu Yang ada bila tak juga kau sadari Akan kutempuh banyak cara… Agar engkau tahu semua mauku Rio merasa bodoh. Rio merasa tersisih. Rio merasa keberadaannya hanya sebagai eksistensi berlebihan dari lelucon Tuhan. Namun tetap saja ia tak bisa membenci Aren maupun Debo. Malah ia cenderung membenci dirinya sendiri. “Aku sudah tahu sejak lama kalau mereka berdua sama-sama memiliki perasaan ‘itu’. Lalu kenapa aku masih ada di antara mereka? Kenapa aku gak bisa membuat Aren melihat aku saja?” teriaknya dalam hati. Rio merasakan kepahitan itu lagi. Kembali ia bersenandung lirih. Biarkan aku untuk jadi kasihmu, karena tak percaya ungkapan Cinta tak harus memiliki… Terlambat jika aku harus berubah Kuterlanjur ingini semua, yang ada dalam dirimu… “RIOO!”, panggil Aren keras. Rio terlonjak dari lamunannya. Langsung ia melepaskan

earphone-nya dan memandang Aren heran. “Apa? Maaf, aku nggak denger..”, kata Rio. “Ughh.. Rio..”, rajuk Aren, “Tadi si Debo bilang dia nggak mau ngangkat aku kalo aku pingsan lagi..” Debo memalingkan muka walau udah dipelototin sama Riko, “Ogah.” “Tuh kan!”, kata Aren, “Kalo dia nggak mau ngangkatin aku, Rio mau kan ngangkat aku? Kalo aku pingsan lagi sih..”, cengir Aren polos. Rio agak tertohok mendengar perkataan Aren barusan. Ia memilih diam dan memainkan earphone di tangannya. Aren yang merasa dicuekin jadi agak kesel, “Yah.. Rio.. Bilang iya dong..”, katanya. Melihat Debo menyeringai puas, Aren makin kesal aja. Rio menatap tajam ke arah mereka berdua. “Jadi maksudmu, aku ini cuma pengganti Debo?”, tanya Rio tanpa ada ekspresi maupun intonasi. Hening seketika. Senyum Aren memudar mendengar perkataan Rio yang tajam. Debo dan yang lain, semuanya memandang Rio bingung. Aren jadi merasa bersalah. “Umm.. Ri, maaf.. Bukan maksudku..”, Aren menunduk dan mendadak nggak pecicilan lagi. Rio ingin mengutuk diri sendiri rasanya. “Lo bodoh, Rio! Untuk apa lo bilang kata-kata kayak gitu? Untuk membuat Aren sakit hati? Apa karena lo sedang cemburu jadi lo bisa melampiaskannya pada Aren? Apa salah dia sampe mulut lo tega ngomong kayak gitu?” “Bercanda.”, ujarnya lagi. Setelah ia melihat wajah Aren yang rileks dan kembali ceria, ia diam. Debo bisa merasakan ada hal aneh pada sahabatnya itu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Rio menghela nafas berat. Dinikmatinya lagi lirik demi lirik dari Yovie and the Nuno yang mewakili betapa porak poranda hatinya. Dan berulang, mencoba… Tuk merebut hati dan cintamu… Sadarkah dirimu, sering kau kesalkan aku… Bila masih saja kau menyebut namanya… Rio mendengus keras. “Aku gak mau menyakiti Aren. Biar saja aku yang memendam perasaan ini.” batinnya. Rio langsung berdiri, “Maaf, aku duluan ke hotel.”, pamit Rio. Ia keluar dari kamar Aren, meninggalkan semua orang yang bertatapan, nggak tau mesti ngapain. Hanya Debo yang berlari ke luar dan menghentikan langkah Rio. “Rio.” Rio diam di tempat, “Hmm?.”, jawabnya tanpa melirik ke Debo. Debo menatap punggung Rio, “Lo kenapa?” “Apa maksud lo dengan ‘gue kenapa’?”, balas Rio. “Lo kenapa?”, ulang Debo dengan penuh penekanan. Mendengarnya, Rio langsung berbalik dan menatap langsung ke mata sahabatnya itu. “Gue baik-baik saja, De.”, katanya dengan wajah yang sama sekali tak bisa dibaca ekspresinya. Namun Debo tahu, ada yang tak beres dalam diri Rio. Rio berbalik lagi, “Sungguh, gue nggak kenapa-napa.” “Baguslah..”, kata Debo pelan. “Kembalilah ke kamar Aren. Lo harus nemenin dia, kan?”, kata Rio sambil melangkahkan kakinya menuju panggung. Debo terdiam, “Lo juga, Ri.”, kata Debo akhirnya, “Kita semua harus nemenin dia. Bukan cuma gue yang mesti repot menjaga cewek sepecicilan itu.” Rio sedikit tersentak mendengar perkataan Debo. Ia tersenyum pahit dan mengangguk, “Lo bener..”, desisnya, “Kita semua, yah. Kita semua..”, kata Rio berbalik, “Maaf, tapi malem ini badan gue agak nggak enak.” “Lo mau ke hotel sekarang?”, tanya Debo. Rio mengangguk. Debo tak menghalangi langkah Rio, walau dalam hati ia merasakan kegalauan setiap kali teringat pada kata-kata Rio barusan. Debo mengerenyitkan dahinya. dan berkata dalam hati, “Rio… Ternyata lo masih…”

Debo is Rio - Part 6

• •

Posted by windi DO2RioZyAcha on February 23, 2010 at 4:20pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

“YAAYYY... LIBURAAANNN...!!” teriak Aren penuh kenistaan sambil menghempaskan diri di sofa. “Hih, berisik. Orang masih capek, ini masih ada aja energi buat teriak..”, kata Debo. “Kesenangan masa muda.”, kata Obiet. Semester baru dimulai. Keenam anggota band yang sudah melewati kerasnya kehidupan dua SMP itu bisa bernafas lega karena lepas juga dari cobaan berupa soal-soal dari guru mereka yang tidak berperikesoalan. “Anjisss...”, teriak Debo, Rio, Cakka dan Obiet yang lagi ngeliatin laporan belajar milik Ozy, “Makan apa sih itu anak?”, tanya Obiet. “Bagus bener nilainya.” ucap Cakka. Sementara mereka sibuk mendewakan Ozy, Aren masih menghela nafas melihat rapotnya yang warna-warni itu. Mulai dari biologinya yang merah, matematika yang kebakaran dan nilai lain yang biasa-biasa saja. Yang bisa menghibur Aren hanya bahasa Inggrisnya yang bernilai sembilan dan olahraganya yang sepuluh setengah. Mereka baru saja selesai manggung di acara pensi sekolah. Tiga bulan terakhir ini diisi dengan kebanyakan latihan dan manggung. Juga berakhir di rumah sakit seperti biasa. Debo mengambil rapot Aren dan tertawa nista pas ngeliat nilai matematika. “DEEBOOOOO...!! Balikin rapor gue!”, teriak Aren ngamuk. Debo berkelit dan sambil mesemmesem ngeliat semua nilai Aren. “Lo pantes dapat julukan ‘bego’..”, kata Debo sambil menggulung rapor Aren dan memukul kepalanya pelan, “Matematika lo hangus terbakar.” Aren cemberut dan merebut rapornya dari tangan Debo, “Iya, emang aku bego!” Debo tertawa kecil, “Makanya jangan males belajar.” “Ya udah..”, kata Rio sambil mendekati Aren, “Ke depannya nanti aku mau ajarin kamu deh. Kamu perlunya diprivatin apa? Matematik? Fisika?” Aren memandang Rio dan mengangguk cepat, “Mau!” “Percuma ngajarin dia mah..”, kata Debo seraya mencibir. “Berisik deh, dasar DEBOO!”, lalu mereka bertiga tertawa-tawa lagi. Kejadian di Idol School tiga bulan lalu membuat Rio sadar akan posisinya. Juga membuat Debo sadar kalau sahabatnya mengincar hal yang sama dengannya. Namun tak ada penembakan dan pernyataan cinta yang terjadi. Debo tak ingin menyakiti sahabatnya. Rio tak mau mengkhianati persahabatannya. Dan Aren, tak mau memberi harapan pada keduanya. Akhirnya mereka bertiga kembali memegang teguh ‘janji sahabat’. Walau tentu saja Rio dan Debo tetep PDKT dengan cara mereka sendiri. Suasana band juga sangat kondusif tiga bulan terakhir ini. Semuanya seakan kembali seperti dulu. Latihan dalam canda tawa, tampil maksimal dengan aksi panggung sempurna, serta perlahan, popularitas mereka naik. Namun ada satu hal. Ozy diam-diam memperhatikan Aren. Sambil tiduran, ia melihat Aren mulai pecicilan lagi. Cewek itu melonjak-lonjak sambil memegang mic dan bernyanyi. Rio langsung main gitar dan ngiringin. Debo yang nggak mau kalah, juga ikutan ngambil mic. Mereka semua tertawa-tawa dan mulai joget kucing garong. Ozy tak melepaskan pandangannya pada Aren. ‘Kalau dugaanku gak salah, maka sebentar lagi Aren akan..’ pikirnya dalam hati. Cowok itu langsung bangun dari tidurnya saat melihat gejala yang diramalkannya. Langsung ia menunjuk Aren yang sedang memegang dadanya. “Debo! Rio! Tahan badan Aren!”, teriaknya. Debo dan Rio yang kaget langsung melihat ke arah Aren yang—benar saja—sedang berpegangan pada tiang penyangga mic. “Ren.. Aren!”, panggil mereka. Sama sekali tak berguna. Aren memegang dadanya makin erat, nafasnya tersenggal-senggal dan pandangannya berputar. Ia terhuyung ke belakang. Debo dan Rio langsung menangkap badannya yang terkulai lemas. Entah untuk kesekian kalinya, Aren pingsan lagi di saat sedang bersenang-senang. Ozy mendengus. ‘Cih. Sial, dugaanku nggak meleset ternyata.’ pikirnya.

St. Konomeus, Unit Gawat Darurat... Debo dan Rio udah kayak setrikaan daritadi. Mondar-mandir di koridor rumah sakit sementara menunggu Aren diperiksa oleh dokter rumah sakit. Beberapa suster keluar masuk dan semuanya memasang tampang cemas. Ini membuat lima cowok yang barusan kebut-kebutan ke St. Konomeus tambah panik. Cakka dan Obiet duduk sambil mengatupkan tangan, berdoa. Ozy berdiri menyandar di dinding. Debo memandang Ozy dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu jantung Aren bermasalah?”, tanya Debo cemas. Ozy menghela nafas, “Sebenarnya aku udah sadar sebulan terakhir ini. Setiap kali Aren hampir pingsan, dia selalu memegang dada kirinya. Padahal kan Aren selalu makan teratur.”, kata Ozy sambil pasang pose Conan. “Hubungannya apa?”, tanya Cakka bingung. “Orang yang nutrisinya tercukupi tapi masih pingsan, bukannya itu aneh?”, tanya Ozy, “Dia juga nggak pernah kurang minum. Mustahil pingsannya karena dehidrasi. Setelah kusimpulkan, dia pingsan kalo terlalu capek, terlalu emosi, terlalu bersemangat, atau terlalu banyak bergerak.”, kata Ozy panjang lebar. “Jadi kamu nyimpulin, kalau ada masalah dengan jantungnya?”, tanya Obiet. Ozy mengangguk, “Ya. Nggak ada kemungkinan lain. Saat orang banyak beraktivitas, maka jantung akan memompa banyak darah untuk menyuplai oksigen dan zat makanan. Buat kita yang sehat, itu malah bagus. Tapi untuk orang yang jantungnya lemah dan nggak sanggup memompa darah dengan cepat, itu bisa fatal.”, kata Ozy, “Pingsan. Paling parah, kematian mendadak karena otak kekurangan suplai oksigen.” Semuanya terdiam ngeri. Rio mendelik ke Ozy, “Kamu.. Memperhatikan Aren sedetail itu? Kenapa nggak ngasih tau kami dari dulu?” “Sekali-sekali melihat saja ketahuan. Masa’ kalian nggak merasa ada yang aneh dari pingsannya Aren?”, tanya Ozy. Semua terdiam terdiam. Sejujurnya, mereka memang bingung dengan kebiasaan pingsan Aren yang tiba-tiba. Awalnya mereka mengira memang fisik Aren lemah. Namun ternyata, semua omongan Ozy masuk akal. “Jadi.. Sebenernya Aren itu kenapa?”, desis Obiet bingung. “Tebakanku...” “Teman-teman..”, dari jauh terdengar langkah kaki yang berlari. Mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Oik. Ia berhenti di depan UGD, “Aren dimana?” Semua menunjuk salah satu bilik UGD. Mereka dapat melihat ekspresi Oik yang sangat cemas. Terlalu cemas untuk ukuran orang yang tahu bahwa temannya pingsan. “Kamu sudah tahu ini sejak lama kan..”, tuding Ozy, “Oik?” Oik menoleh terkejut ke arah Ozy lalu memaksakan bersikap biasa, “A.. Apa maksudmu? Tahu tentang a.. apa?”, tanya Oik. Yang lain melirik ke Oik. “Jangan pura-pura lagi. Aku tahu kalau kamu tahu tentang penyakit Aren yang sebenernya.”, ucap Ozy, “Sudahlah. Jangan disembunyikan lagi.” Oik menggigit bibir bawahnya. “Kamu yang anak dari pasangan dokter mustahil nggak tahu apa yang sebenarnya diderita Aren. Kamu selalu bilang Aren dehidrasi lah, kecapekan lah. Tapi kamu selalu membawanya ke rumah sakit dan bukan melakukan pertolongan pertama untuk orang pingsan. Sepertinya kamu sudah tau apa yang terjadi.”, kata Ozy, “Bukannya itu aneh?” Oik membuang muka. Habis semuanya. Ozy sudah tahu... “Boleh aku tebak?”, tanya Ozy, “Gagal jantung karena katup jantungnya sudah tak berfungsi?”. Oik langsung menoleh dan melotot ke arah Ozy. Bibirnya sama sekali tak bisa berkata apapun. Semua menatap Ozy tak percaya. “Oik.. Apa ini benar?”, tanya Obiet dengan nada memaksa. Oik sama sekali bergeming. Ia bingung antara mengatakannya atau tidak. Debo langsung mengguncang lengan Oik. “Jawab, Ik! Katakan itu semua bohong! Itu semua nggak bener!”, teriak Debo, “Bilang kalau Ozy salah, Ik! Bilang!” “Ozy benar!”, teriak Oik tertahan. Air mata yang sedari tadi ia tampung tumpah di kedua pipinya, “Benar, dia benar..”, Oik memandang Debo sambil menangis. Debo tak dapat mempercayainya. Ia menggeleng sambil melangkah mundur lalu terduduk di lantai. Kondisi Rio tak jauh lebih baik. Ia sangat syok mendengar pengakuan Oik. “Aren.. sejak lahir.. Memiliki kelainan pada jantungnya.. Klep jantungnya.. tidak berkembang sebagaimana mestinya..”, kata Oik terbata karena menangis, “Sebelum konser pertama.. Riko

memberitahu aku.. Kalau jantung Aren kumat.. Sejak itu..”, Oik terisak, “Aku sudah tahu.. Kalau sebenarnya.. Hidup Aren hanya tinggal hitungan bulan...” Debo dan Rio kembali melotot karena terkejut. Cakka dan Obiet menunduk menyesal. Ozy menghela nafas panjang. Sekarang mereka semua mengerti kenapa Oik sebagai manager selalu membatasi latihan mereka. Selalu memaksa mereka makan siang. Selalu mengingatkan Aren untuk tidak terlalu memaksakan diri. Oik juga selalu memberikan pil pada Aren yang mereka kira hanya vitamin. Cewek berambut sebahu itu mengeluarkan sebotol pil berwarna putih dari tas tangannya. “Ini.. Obat yang selalu... Aku berikan untuk Aren.. Ini obat penguat jantung.. Karena ada ini.. Aren masih bisa bertahan..”, isakan Oik makin dalam, “Tapi ini bukan obat.. Aren nggak bisa sembuh sama sekali.. Kecuali ada yang mau mendonorkan jantungnya..” Ozy mengeluarkan ekspresi ‘sudah kuduga’. “Kenapa.. Kamu nggak beritahu kami dari dulu..”, bisik Rio tanpa emosi sama sekali. Oik menghapus air matanya, “Karena...” “Maaf, saya yang minta hal ini agar dirahasiakan.”, suara lembut wanita dewasa membuat mereka semua menoleh. Bu Ira menatap lima cowok itu lalu merangkul Oik, “Aku minta kalian jangan menyalahkan Oik. Ini salah saya..” Semua menatap Bu Ira tak percaya. Wanita itu memandang sedih ke arah bilik dimana Aren sedang diberikan perawatan darurat. Ia menghela nafas panjang, terlihat sekali ia berusaha menahan tangis. “Empat belas tahun yang lalu, aku sangat bahagia karena melahirkan seorang bidadari yang sangat manis. Aku masih ingat dia menangis kencang sekali lalu memelukku. Itu merupakan momen terindah bagiku, sama seperti saat aku melahirkan Riko.”, kata Bu Ira mengenang, “Namun hari itu juga rasanya aku dihempaskan ke neraka. Saat dokter bilang bahwa putriku.. Tidak memiliki jantung yang normal...”, suara Bu Ira mulai bergetar. Semua terdiam mendengarnya. Tangis Oik makin perih. “Aren memang tumbuh menjadi anak yang periang. Namun, karena ia sering masuk rumah sakit, ia tak pernah punya banyak teman. Apalagi sahabat. Belum lagi pekerjaan papanya yang selalu pindah negara.”, sambung Bu Ira sambil menghapus air matanya, “Makanya.. Tante sangat bahagia melihat sekarang Aren memiliki sahabat.. Di rumah ia selalu bercerita tentang kalian semua.. Tante senang... Sekali..” Semua masih terdiam. Sampai Obiet memberanikan diri bertanya, “Tante.. Kenapa Tante menyuruh Oik menyembunyikan ini..?” Bu Ira terdiam. Ia menggeleng, “Tante hanya nggak mau kalian menjauhi Aren karena penyakitnya.. Bagi orang normal.. Penyakit gagal jantung hanya halangan.. Selain itu, ini keputusan Aren juga... Dia tak ingin menjadi penghalang bagi kalian.. karena penyakitnya ini..”, kata Bu Ira, “Maafkan Tante.. Karena malah membuat kalian susah..” “Nggak, Tante..”, kata Rio tiba-tiba, “Separah apapun kesehatan Aren.. Kami nggak akan pernah ninggalin dia.. Karena Aren..”, Rio bingung mencari padanan kata yang tepat. Debo langsung mengangguk yakin. “Karena Aren adalah bagian dari kami.”, katanya mantap. Obiet, Cakka dan Ozy ikut mengangguk. Oik juga mengangguk. “Iya, Tante. Rio dan Debo benar.”, kata mereka bersamaan. Tangis Bu Ira menjadi karena terharu, “Terima kasih sekali.. Tante senang... Kalian masih mau mendukung Aren...”, kata Bu Ira sambil terus menghapus air matanya, “Dari kecil.. Impian anak itu adalah menjadi seorang penyanyi profesional.. Dia sudah tahu kalau.. Di hidupnya yang singkat.. Ia tak akan pernah bisa menjadi seperti idolanya... Tapi..” “Tapi kemauan anak itu sangat luar biasa.”, tiba-tiba Pak Duta sudah ada di samping Bu Ira dan merangkul bahu wanita itu, “Dia berhasil mengalahkan penyakitnya demi menjadi penyanyi di band ini. Dia berhasil mengalahkan ketakutanku, mengalahkan ego ibunya, mengalahkan keras kepala kakaknya.. Dan mengalahkan dirinya sendiri.” “Papih..”, Bu Ira kaget ngeliat suaminya udah ada di sampingnya. “Abis tadi Mamih buru-buru bawa kabur Jaguar Papih.. Ya udah, Papih ikutin aja pake taksi.”, kata Pak Duta, “Gimana keadaan Aren ya..” “Pih.. Mamih takut..”, kata Bu Ira sambil ikut suaminya melongok ke UGD. Pak Duta tersenyum dan menenangkan istrinya. “Anak kita kuat kok, Mih.. Udah beberapa kali lolos dari maut.. Kemauan dia untuk terus hidup lebih kuat dari siapapun..”, kata Pak Duta dengan suara menenangkan. Rio, Obiet, Debo, Cakka, dan Ozy sangat kagum akan ketabahan kedua orang tua Aren. Di

atas itu semua, mereka sangat merasa bersalah karena ketidaktahuan mereka akan penyakit mengerikan yang diidap sahabat mereka tersebut. Selama ini Aren sendirian dalam menanggung penyakitnya. Sikapnya yang sangat keras itu tidak memberikan izin bagi dirinya sendiri untuk dikasihani. Mereka semua langsung berdiri saat dokter yang sedari tadi memeriksa Aren keluar dari ruang periksa. “Gimana anak saya, Dok?”, tanya Bu Ira penuh kecemasan. Sang dokter menggeleng lemah, “Sayang sekali. Jantungnya sudah terlalu lemah. Katupnya harus segera diganti dengan katup buatan—apabila kalian menyetujui hal ini.” Bu Ira ingin menangis rasanya. Namun ia berusaha tegar, “Operasi, Dok?” “Ya. Jantung Aren sudah tidak mampu mempertahankan beban kerjanya. Akibatnya kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan nutrisi tidak sampai secepat yang semestinya. Belum lagi katupnya yang sudah rusak. Ini menyebabkan darah bersih dan darah kotor bercampur dalam jantungnya.”, kata sang dokter panjang lebar, “Ini sangat berbahaya. Kalau sekarang dia sering pingsan, besok bisa saja terjadi kematian mendadak.” Sesuai sekali dengan diagnosa Ozy. Yang lain tak bisa berbuat apa-apa. Bu Ira dan Pak Duta berpandangan dan mengangguk. “Kira-kira.. Kapan operasinya bisa dijalankan?”, tanya Pak Duta. Sang dokter berpikir, “Terserah kalian siapnya kapan. Saya rasa, sampai satu bulan ke depan Aren masih bisa bertahan. Tapi dengan syarat, dia sama sekali tak boleh berkegiatan.” Bu Ira dan Pak Duta mengangguk, “Baiklah... Kami mengerti.” “Saya permisi dulu. Aren akan segera dipindahkan ke ruang rawat yang biasa.”, dan si dokter pun beranjak ke ruangannya. Disusul dengan beberapa suster yang mendorong ranjang Aren menuju kamar rawat pribadi di lantai dua. -------“Tawaran sebesar itu datang pada kita?”, Aren membelalakkan matanya tak percaya, “Oik, kamu nggak sedang bercanda kan?”, tanya Aren masih kaget. Oik mengangguk antusias, “Bener! Kalian semua mendapatkan tawaran manggung di acara konser amal nasional. Ini kesempatan yang sangat langka loh!” Waktu menunjukkan pukul lima sore. Aren sudah sadar dan mereka semua sedang membicarakan tawaran konser bertaraf nasional yang datang pada mereka. Walau mereka semua tahu, akan sulit bagi Aren untuk berpartisipasi, rasanya nggak adil kalau Aren tak tahu. Akhirnya semua memutuskan untuk memberitahu Aren. “Kapan dimana?”, tanya Aren lemah. Tak seperti biasanya. “Minggu depan, di Gelora Bung Karage, kamu tahu? Itu tempat konser paling bergengsi kelas dunia loh!”, kata Oik. Aren tercenung.“Tapi kalian tahu kan..”, kata Aren sedih, “Kalian semua sudah tau kalo aku nggak mungkin bisa melanjutkan ini.. Jantungku..” Semuanya langsung terdiam. Enam orang itu berpandangan bingung. “Sebenarnya sudah lama aku mikirin ini..”, kata Aren, “Sebelum terlambat, lebih baik kalian cari vokalis cewek untuk menggantikan aku..” Semua tersentak mendengarnya. “Aren.. Tarik ucapanmu itu!”, kata Oik langsung. “Oik!”, teriak Aren, “Sudah cukup aku nyusahin kamu karena keegoisanku! Aku sudah tau bentar lagi aku mati, tapi aku tetap bikin kamu susah dengan ngerawat aku yang jantungan ini! Daripada aku terus-terusan jadi beban, mending aku keluar..” “Nggak! Kamu nggak boleh menyerah sekarang, Ren.. Ini kesempatan sangat langka buat kamu..”, Oik hampir nangis saat mengatakannya, “Jangan keluar sekarang..” “Justru karena aku nggak mau menghambat kalian semua, aku mau keluar sekarang juga!”, bentak Aren. Oik langsung memeluk Aren sambil menangis. “Aren.. denger..”, kata Oik, “Kamu itu jiwa dari band kita.. Kalau kamu nggak ada, apa jadinya kami, Ren.. Siapa yang akan menyemangati? Jawab..”, Oik sesenggukan sambil memeluk tubuh lemah itu. Aren menahan tangis mendengarnya. Suasana kamar rawat itu menjadi sangat suram. “Aku nggak ngizinin kamu keluar.”, kata Debo pelan. Aren menatap Debo dengan tatapan memohon, “Debo, lepasin aku.. Aku sudah cukup seneng pernah tampil dengan kalian selama ini.. Tapi kali ini konser nasional.. Aku nggak mungkin sanggup mendampingi kamu lagi...”, kata Aren hampir nangis.

Debo marah mendengarnya, “Omong kosong!”, teriaknya, “Kemana perginya Aren yang selalu nyemangatin kita-kita? Kemana si bodoh yang selalu bilang, ‘kita bisa! Kita bisa!’. Kemana Aren yang dulu, kemana..??”, tanya Debo. Aren benar-benar kaget mendengarnya, “Debo, denger dulu..” “Apalagi yang mesti aku denger?”, balas Debo, “Selain kenyataan yang empat bulan kamu sembunyikan, iya?”, tanya Debo tajam. Aren nggak bisa membalas kali ini. “Kamu pikir dengan menyembunyikan penyakitmu, itu membantu? Lihat sekarang! Rio, Obiet, Ozy, Cakka... Dan AKU..”, tekan Debo sambil menunjuk dadanya sendiri, “Kamu membuat kami sangat cemas, reen.. Kamu pernah mikir ke sana nggak sih?” Aren menangis di pelukan Oik mendengar kata-kata Debo. Ia sama sekali tak membantah maupun menyela. Rio angkat bicara. “Aren.. Dengar ya..”, katanya lembut, “Kita mengawali ini barengan.. Karena ada kamu, penampilan kita tambah banyak peminatnya. Bukannya kamu yang bilang, apapun yang terjadi, kita bertujuh akan melewatinya bersama?” Aren menggeleng dalam tangisnya, “Aku nggak akan sanggup.. Aku..” “Kamu bisa, Aren.. Kamu bisa..”, kata Rio meyakinkan, “Kamu berhasil bertahan sendirian selama ini.. Sekarang, kamu nggak sendirian..” Aren sesenggukan. “Aren..”, panggil Rio lagi, “Membiarkan kami tahu tentang penyakit kamu, nggak akan membuatmu terlihat lemah. Di mata kami semua, kamu nggak berubah. Tetap Aren yang kuat seperti dulu. Percayalah.”, kata Rio sambil mengangguk mantap. Aren memandang Rio. Air matanya makin membanjir. Bergantian, ia menatap temantemannya. Mereka semua mengangguk mantap dan tersenyum pada Aren. Berharap mereka bisa memberikan kakuatan dan keyakinan pada anak itu. Oik melepaskan pelukannya dari Aren dan menatap Aren yakin. “Ren, dengar.. Apapun yang terjadi, kami semua akan melindungi kamu. Ngerti?”, tanya Debo. Aren mengangguk sambil menghapus air matanya. Aren merasakan kesungguhan dari kata-kata Debo. Tangisnya menjadi karena terharu. Debo tersenyum, “Ren.. Walau mereka bilang kamu kuat, tapi kamu beneran cengeng deh..” “Ma.. Makasih.. Makasih banyak..” ucap Aren di sela isak tangisnya. “Kata-kata ‘aku keluar’ adalah frase paling pengecut yang pernah keluar dari mulut kamu, tau.” kata Debo. Aren menggeleng, “Aku nggak akan keluar. Walau aku nggak bisa nyanyi kayak biasa, aku ingin tetap berada di band ini.”, katanya tegas. Yang lain mengangguk bangga. Nggak percuma empat bulan lalu mereka menerimanya. Keputusan itu sangat benar, membawa orang sekuat Aren ada di antara mereka. Rio mendekati Aren. Aren memaksakan tersenyum. Mereka berpandangan agak lama, sampai akhirnya Aren mengembangkan senyumanya. Rio tersenyum kecil lalu memeluk tubuh rapuh itu. “Rio..”, bisik Aren, “Makasih banyak...” Dalam pelukan itu, Rio mengangguk, “Ren.. Aku janji, aku akan ngejaga kamu. Selalu..”, bisik Rio. Aren agak tersentak mendengarnya. Sama dengan janji Debo barusan padanya. Gadis itu mengangguk. “Makasih, Rio..”, katanya sambil melepaskan pelukannya. Semuanya menarik nafas lega karena berhasil mempertahankan jiwa dari band mereka. Senyuman Aren memang memiliki pengaruh besar bagi mereka. “Ayo, ayo..”, kata Oik sambil menghapus air matanya, “Minggu depan kalian akan tampil live dan disiarkan di semua stasiun TV. Jangan malu-maluin, ya!” Aren mengacungkan jempol, “Beres!” “Beres darimana, kalian itu belum punya nama band, tau!”, kata Oik, “Selama ini kan kita membawa nama sekolah.. Masa’ untuk konser amal nasional pake nama sekolah?” Enam anggota band itu berpandangan, “Bener juga ya..” “Ayo, karena sekarang Aren nggak jadi keluar dan bakal ikutan—eh, iya kan, Ren?”, tanya Oik sambil menoleh pada Aren. Aren mengangguk, “Ikut dong! Selama ada rumah sakit, aku ikut!” “Bagus.. Ayo semua, pikirkan nama!”, komando Oik. Semua langsung berpikir nama apa yang kira-kira ear catching dan komersial. Akhirnya terpilihlah nama ‘The Thannatos’ untuk band mereka. “Ngomong-ngomong, udah magrib nih. Pada pulang yuk? Kasihan, Aren mau istirahat tuh..”

kata Oik kemudian. “Huaah.. Iya.. Kayaknya obatnya bekerja.. Ngantukk..”, kata Aren, “Makasih ya, semuanya..”, katanya sambil mengambil posisi tidur dan mendadahi teman-temannya. “Yuk, sampai besok..”, mereka semua pasang senyum dan keluar dari kamar rawat Aren. Mereka melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit. Rio dan Debo paling lambat. Setelah teman-teman mereka menjauh, Rio yang baru menutup pintu kamar langsung memanggil Debo. “De.”, suara Rio terdengar memerintah, membuat langkah Debo berhenti dan menoleh ke arah Rio. Rio menatap mata Debo tajam, “Aku mau ngomong sama kamu.”, katanya sambil menyilangkan tangan di dada. Debo merasa kalau ini sangat serius. Ia mengangguk pelan. “Soal apa?”, tanyanya. “Soal Aren.”, jawab Rio tegas. Debo tak merasa heran. Ia mengangguk. “Ya, lalu?” “Aku suka Aren.”, katanya tanpa basa-basi dahulu, “Mungkin tepatnya, aku jatuh cinta sama dia.” Debo sama sekali tak bereaksi. Ia hanya mengangguk mengerti. Giliran Rio yang bingung dengan reaksi Debo, yang kurang tepat juga disebut sebagai reaksi. “Kok kamu nggak kaget?”, tanya Rio. Debo tertawa kecil, “Kenapa aku harus kaget mendengar kenyataan yang sudah lama aku sadari?”, Debo bertanya balik. Giliran Rio yang tertawa kecil. “Kamu sudah tahu, kenapa nggak menjauhi Aren?”, tanya Rio. Debo menghela nafas, “Gampang aja..”, katanya sambil menatap Rio tajam, “Karena aku juga suka sama Aren.” Diam. Hening. Mereka berdua akhirnya saling mengetahui perasaan masing-masing, langsung dari bibir mereka sendiri. Rio dan Debo bertatapan tajam, seolah mencoba membaca apa yang dipikirkan sang rival. Namun seperti biasa, tak ada emosi di mata mereka. Tak ada ekspresi di raut mereka. Semuanya begitu sulit ditebak. Suasana mendadak menjadi dingin, sampai akhirnya Rio yang bicara. “Sudah kuduga.”, desisnya, “Kamu nggak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku.” “Kamu juga sama saja.”, balas Debo, “Perasaanmu jelas sekali.” “Jadi?”, tanya Rio sambil tersenyum meremehkan. “Sudah jelas, kan?”, balas Debo sambil pasang muka super angkuh. Rio mengeluarkan aura sedingin es-nya itu. Mereka sama-sama tersenyum. “Kita bersaing.”

Debo is Rio - Part 7
• •
Backstage... “Saya mohon..”, kata Bu Ira dengan wajah tegang, “Anak saya tidak mungkin tampil dengan keadaan begini..” Pemuda di hadapannya menimang bingung, “Saya juga tidak ingin memaksanya. Saya juga mengerti kalau Aren tidak mungkin naik ke panggung di atas kursi roda. Tapi.. Karena ada Aren sebagai leader The Thanatos, banyak penonton datang. Bagaimana supaya mereka tidak kecewa, itu saja..” “Tapi.. Jantung Aren sudah..” “Baiklah. Saya mengerti.” -“Aku.. Aku..”, desis Aren pelan. “Iya, Ren.. Ada apa?”, tanya Oik di antara isaknya. Aren menegakkan kepalanya sambil Posted by windi DO2RioZyAcha on February 24, 2010 at 5:25pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

menatap teman-temannya. “Rio.. Debo..”, Aren merasa isakannya menjadi, “Obiet.. Cakka.. Ozy..” Semua cowok itu mengangguk, “Ya?” “Kumohon..”, bisik Aren, “Biarkan aku naik ke panggung.. Mungkin ini panggung terakhirku bersama kalian.. Operasiku minggu depan.. Kemungkinan berhasilnya cuma 20%... Kalian tahu itu, kan?”, isak Aren makin perih. Semua terdiam. Mereka tak ingin kehilangan sosok itu, namun... “Bawa aku ya?”, tanya Aren lagi. Akhirnya Debo mengangguk. “Baiklah.. Kalau itu maumu..” Aren tersenyum puas, “Makasih.. Semuanya..” Oik memeluk Aren makin erat. Berusaha mengalirkan kekuatan pada tubuh rapuh itu. Mereka tak mengerti mengapa Aren bisa begitu tegar dan tenang menghadapi operasinya. Sekarang, dia memutuskan untuk naik panggung dengan keadaan yang begitu lemah. Betapa besar keinginannya untuk memuaskan penggemarnya. Oik menghapus air matanya dan tersenyum. “Tunjukkan yang terbaik, Ren..”, kata Oik. Aren mengangguk cepat. Mereka semua terdiam mendengar teriakan riuh dari luar panggung, menyebut-nyebut nama mereka. The Thanatos. Debo menghela nafas panjang. Mereka berenam bertatapan dan tersenyum. Menunggu kata-kata itu meluncur dari bibir Debo. “Baiklah.”, kata Debo sambil berjalan menuju panggung, “Kita selesaikan ini.” “Selamat siang, Gelora Bung Karage!!”, teriak Dila lantang. “Huwwweeeooooo...!!”, jawab semua penonton histeris. Rata-rata cewek yang udah bawabawa spanduk bertuliskan WE LOVE RIO. Atau poster gede mukanya Debo. Ada yang pake bando dengan huruf O-B-I-E-T. Ada juga yang pake kaos dengan gambar mukanya Ozy. Yang kelewat kreatif, sampe iseng banget ber-cosplay ala Cakka. Dan kalo rombongan cowok senggang, mereka masih teriak-teriak ‘We want Aren’ gitu deh. “Kalau begitu, tanpa menunggu terlalu lama, saya panggilkan..”, Zhi menarik nafas panjang, “The THANATOS...!!” “WHUUEEEAAAAOOOO...!!”, sorak-sorai fans lima cowok tampan itu makin menggila. Sorakan makin heboh ketika Debo dan Rio keluar barengan. Disusul Ozy, yang langsung duduk di belakang drum. Lalu Obiet dan Cakka. Disusul dengan Oik yang mendorong kursi rodanya Aren. Otomatis seluruh fans kaget melihatnya. Dila dan Zhi yang nggak menyangka kalo Aren beneran tampil langsung ber-MC ria.“Wah, sebuah kejutan! Lagi-lagi kejutan!”, teriak Dila saat Aren sudah ada di tengah panggung sambil tersenyum lebar, “Saya tidak menyangka Aren akan ada di panggung!” Aren tersenyum. Debo mengambil sebuah mic dan memberikannya pada Aren. Dengan semangat, Aren berteriak lantang, “What’s up, everybody..!!” Cengok dulu beberapa detik, baru deh, “YYEEEAAAHHH...!! AREEEN!” Aren tertawa senang di atas kursinya. Ia menghela nafas pelan, “VJ Dila, VJ Zhi.. Semuanya yang ada di sini..”, semua orang diem, “Awalnya, memang saya nggak nyangka bisa tampil di acara sebesar ini. Saya sempat putus asa, dan.. Jujur saja. Saya ini memiliki penyakit gagal jantung. Nggak apa-apa. Ini bukan aib yang mesti saya tutupi.” Siingggg... Debo tetap berada di samping Aren sambil merangkul bahu gadis itu. Aren menghapus air mata yang bertengger di sudut matanya, “Saya bangga sekali berada di sini. Saya tahu, ada banyak teman-teman saya yang juga menderita penyakit seperti saya. Saya hanya ingin bilang, kalau ini adalah anugrah yang mesti kita terima...”, Aren mulai nangis. “Dan nggak ada alasan buat kita, untuk berhenti dalam ngejer impian kita. Nggak ada. Karena itu, saya akan tetap menyanyi... Untuk kita semua.”, Debo berdiri dan mengambil mic, “Satu lagu, dari kami berenam.”, kata Debo sambil mengangguk pada anggotanya. Hari itu Obiet jadi keyboardist dan Rio memainkan melody plus rythm sekalian. Debo mendekatkan mic-ke bibirnya dan memulai satu bait pertama lagu itu. Tak Mungkin Melepasmu dari Dygta. Dan begitulah, mereka berdua bernyanyi dengan penghayatan pol-polan dan diakhiri dengan tepukan riuh para penonton. “Oh.. Penampilan yang sangat membuat hati terharu..”, kata VJ Dila sambil cipika cipiki sama Aren dan Oik. Aren hanya tersenyum, nggak banyak bicara.

“Nanti dulu, nanti dulu..”, kata VJ Zhi, “Belum lagu kedua, nih!” “Karena tinggal Debo, gimana kalo kita kasih lagu cowok aja?”, tanya Dila. “Boleh juga. Lagu apa ya bagusnya?”, tanya Zhi. Dila tersenyum licik, “Yovie, tentunya. Dia milikku! Semua setuju??” “YEEAAAAHHHH...!!”, teriak semua penonton sambil tepuk tangan riuh rendah. Debo hanya mengangguk cool dari panggung. “Baiklah.. Penampilan terakhir dari The Thanatos! Dia milikku!”, teriak Dila dan Zhi bersamaan. Dimulailah intro lagu satu itu. Debo sebenarnya agak tersindir menyanyikan lagu ini. Semula, ku tak tahu Engkau juga kan ingin, memilikinya... Bukankah ku lebih dulu, bila engkau temanku Sebaiknya tak menganggu... Debo pasang aksi ala Nuno gitu deh. Sambil sesekali ia melirik ke arah Aren yang tersenyum melihat penampilannya. Debo dengan spontannya menunjuk Aren. Kontan saja penonton bersorak-sorai. Rio masih nahan perasaannya. Dia untukku, bukan untukmu... Lalu Debo menunjuk dadanya sendiri. Dia milikku, bukan milikmu... Pergilah kamu, jangan kau ganggu... Biarkan aku mendekatinya... Debo melambaikan tangannya pada penonton, “Semua!” Kamu tak akan mungkin... Mendapatkannya karena dia... Berikan aku pertanda cinta... Janganlah kamu banyak bermimpi, oh.. Debo tersenyum pada Aren. Pandangan mereka bertemu. Dia untuk aku... Lalu hal tak terduga terjadi. Baru saja Debo mau melanjutkan nyanyiannya, Rio dengan nekad sudah maju duluan. Ia tetap bermain gitar, namun berdiri di hadapan mic yang barusan digunakan Aren dan membalas nyanyian Debo. Kontan saja semua orang kaget dengan adegan di luar skenario ini. Debo sampe cengok. Aren melotot kaget. Bukankah belum pasti kamu juga Kan jadi dengan dirinya, owh... Dia yang menentukan apa yang kan terjadi, Rio mendelik pada Debo. Tak usah mengaturku Rio memetik senar gitarnya dan menghadap ke Debo, melemparkan pandangan penuh aura persaingan. Sambil sesekali melirik ke arah Aren, Rio terus nyanyi. Dia untukku, bukan untukmu... Dia milikku, bukan milikmu... Lihatlah nanti, lihatlah saja... Biarkan aku mendekatinya...

Penonton mulai ikutan nyanyi. Debo mengangguk-angguk mengikuti irama musik dan menatap Rio tajam. Rio tak peduli dan tetep nyanyi. Kamu tak akan mungkin... Mendapatkannya karena dia... Berikan aku pertanda juga... Janganlah kamu banyak bermimpi, oh... Aren udah salah tingkah ngeliat Rio dan Debo. Oik tertawa kecil. Gimanapun juga, aksi panggung kayak gini beneran menghibur. Debo dan Rio menyatukan suaranya. Saingan, tapi nyanyinya kompak. Emang cocok abis deh ini lagu! Saat bait ini dinyanyikan berdua, Aren langsung merinding. Debo dan Rio agak teriak. Kusarankan engkau mundur saja, ohh... Debo nyanyi. Dia untukku, bukan untukmu Dibales lagi sama Rio Dia milikku, bukan milikmu Pergilah kamu, jangan kau ganggu, biarkan aku mendekatinya... Lagi, mereka berdua bernyayi duet sambil pandang-pandangan tajem. Namun tak ada emosi, mereka menyanyi mengalir saja. Dalam hati mereka, mereka tahu ini bukan nyanyian biasa, melainkan persaingan. Rio menggenjreng gitarnya makin heboh. Kontan saja semua pononton yang udah melambai-lambaikan tangan ikutan nyanyi keras-keras. Kamu tak akan mungkin, mendapatkannya karena dia, berikan aku pertanda juga, Janganlah kamu banyak bermimpi, oh.. Rio nyanyi lagi. Dia untukku.. Debo ngebales. Dia untukku.. Dibales lagi sama Rio. Dia milikku.. Debo tetep nggak mau kalah. Dia milikku.. Penonton ikutan nyanyi, “Lihatlah nanti, lihatlah saja... Biarkan aku mendekatinya...”, mereka semua terpesona dengan aksi panggung dua orang itu. Masih dengan aksi mereka yang pandang-pandangan tajem itu. Mereka berdua sekarang mengerti arti kata ‘kita bersaing’. Janganlah kamu banyak bermimpi, oh... Rio mengakhiri aksi panggungnya. Dia untuk aku... Debo menggeleng. Bukan.. Dia untuk.. aku.. Langsung saja sorakan heboh membahana, “WHUUUEEEWWW...!! RIOO! RIOO! DEBOO! DEBOO! THANATOS! Yeeeaaahhh...!!”, banyak korban berjatuhan. Cewek-cewek yang nggak kuat iman melihat betapa kerennya Debo dan Rio nyanyi bareng pada mimisan, pingsan, sampe asma di tempat. Dila dan Zhi berdecak kagum. “Wow! WOOWW!!”, kata Dila, “Saya nggak nyangka Rio bakalan nyanyi!” “Sunggu surprise yang luar biasa sekali!”, kata Zhi, “Jangan-jangan, lagu ini memang jeritan hati kalian berdua, ya?” “Cieeehhh...”, teriak penonton. Aren merasa wajahnya terbakar karena malu. Debo dan Rio

masih liat-liatan. Rio tersenyum pada Debo. “Maaf, De.”, bisik Rio. Debo mengerenyitkan dahi, “Karena?” “Aku sudah capek membendung perasaanku padanya.”, lirih Rio. Debo agak tersentak, namun ia tak bisa berbuat apapun saat Rio sudah mengambil mic. Dengan senyum, Rio berkata di depan orang se-Gelora. “Benar. Lagu tadi merupakan ungkapan perasaan saya pada seseorang.”, jawab Rio. Diem sebentar lalu, “WHUUEEEE..!!”, teriak penonton lagi. Aren udah ngerasa jantungnya mau copot. Ia melotot gugup dan melihat ke arah Oik. Oik hanya angkat bahu. Debo sendiri nggak tau mesti berbuat apa. Rio dengan pede, atau pasrah mungkin, berjalan mendekati Aren. Disusul dengan suara riuh dari penonton. Aren salah tingkah. “Aren..”, panggil Rio lembut. Aren maksa senyum dan melihat Rio. Rio menggigit bibir bawahnya. “Aku ingin menjadi penjagamu.”, katanya lembut. “WHUUOOOOOWWW...!!”, teriakan para fans yang senang dan ngiri membaur. “Rio..”, kata Aren pelan. Rio langsung duduk berlutut di depan Aren dan menggenggam tangan mungil itu. “Would you be my girl?”, tanya Rio to the point. “WHUAAAOOOWWW...!!”, para fans teriak lagi. Gila aja! Ini konser amal apa katakan cinta sih? Muka Aren udah merah banget ditembak di depan orang sebanyak itu. Belum lagi kan acara ini disiarkan live ke semua penjuru dunia. Sementara Debo, hanya bisa memandang penembakan itu. “Ayo, Aren.. Jawab..”, kata Dila mencairkan suasana. “Terima.. Terima.. Terima..!!”, teriak fans yang mendukung. “TOLAK.. TOLAK.. TOLAK..!!”, teriak cowok-cowok iseng. “Aku..”, Aren tergagap saat menjawabnya. “Aku siap dengan apapun jawaban kamu, Ren..”, kata Rio lembut. “Ciiieeeehhhhh...!!”, tanpa sadar Cakka, Ozy dan Obiet ikutan usil. Debo menggigit bibir bawahnya. ‘Cih. Sial. Aku keduluan. Persaingan ini ternyata...’ batinnya. Hening yang terjadi agak lama. Rio sudah pasrah. ‘Jawablah, Aren, please... Apapun jawaban kamu, aku terima.’ pikirnya. Aren pandangannya kemana-mana dan nggak fokus, bingung mau menjawab apa. Debo memandang Aren dengan pandangan sedih. ‘Aren, jangan terima...’ ucapnya dalam hati. Namun kemudian, ia menggeleng. ‘Aku betul-betul jahat...’ batinnya. “Rio..”, suara Aren sukses bikin Gelora Bung Karage sunyi senyap, “Maaf.. Tapi aku.. Maaf.. Aku nggak bisa.”, kata Aren sambil menunduk. Diem sebentar. Rio menatap Aren, “Kamu nolak aku?” Aren mengangguk. Rio tetep natap Aren, “Boleh aku tau alasannya?” “Ada..”, Aren memberanikan diri memandang Rio, “Ada orang lain yang sudah lama aku sukai, Ri.. Jadi maaf...” “Apa aku mengenal orang itu?”, tanya Rio. Aren tersenyum lemah, “Kamu sangat mengenalnya.” Debo tersentak mendengar pengakuan Aren yang satu itu. Mana pas mengatakan hal itu, pandangan mereka bertemu. Debo menemukan seutas senyum di wajah Aren. Lalu cewek itu kembali menatap Rio, “Maaf ya, Ri.. Kita.. Sahabatan aja..” “Sudah aku duga..”, Rio menghela nafas, “Makasih ya, Ren..” “Iya..”, jawab Aren. Lalu mereka berpelukan singkat, diikuti dengan ramainya tepuk tangan semua penonton. Sebagian besar kecewa, mereka pikir bakalan jadi. “Oh.. Sayang sekali sang pejuang ditolak..”, kata Zhi sok katakan cinta. “Cinta boleh datang dan pergi, tapi sahabat selalu di hati..”, kata Dila. Rio berjalan menuju Debo dengan langkah agak gontai. Debo dapat melihat Rio terluka. Hatinya, cintanya, harga dirinya sudah ia pertaruhkan semata-mata untuk mendapatkan gadis impiannya. Jauh dalam hatinya, Rio sudah tahu ia tak akan pernah memenangkan persaingan ini. Ia berhenti di hadapan Debo dan menepuk pundak sahabatnya pelan, “Aku kalah, De. Dia memang untukmu..”, ucap Rio lirih. “Aku..”, Debo bingung mau berkata apa. Rio menatap mata Debo, “Katakan padanya. Sekarang.” Debo menggeleng, “Nggak.”

“Dia pasti akan nerima kamu, De.”, kata Rio. “Kamu pikir aku akan nglakuin hal macam itu?”, tanya Debo. Rio terdiam mendengarnya. Ia sangat ingin menonjok muka Debo. Saingan abadinya yang tak pernah bisa ia kalahkan. Kenapa juga mereka harus jatuh cinta pada sosok yang sama? “Masa’ kamu harus kehilangan dia hanya karena nggak enak sama aku?”, tanya Rio. “Rio..”, Debo melihat punggung Rio menjauh menuju backstage. Debo menatap Aren dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya, bisa saja ia mengatakan perasaannya sekarang, namun Debo enggan. Ia tak mau menyakiti Rio lebih jauh. Akhirnya, ia menyusul Rio ke backstage. Diikuti Obiet, Ozy, Cakka, Oik dan Aren. Debo bergabung dengan Obiet, Cakka dan Ozy yang lagi ngambil minum. Aren sedang dipelukin sama ayah, ibu dan kakaknya. Sekeluarga itu sedang nangis bombay. Sementara Rio lagi-lagi hanya diam di pojokan sambil menyumpal telinganya dengan earphone. Debo langsung duduk di samping Rio. “Mmm..”, baru Debo mau memulai pembicaraan. “Maaf semuanya..”, Aren sudah memecah keheningan, “Aku mau ke rumah sakit duluan.. Pemeriksaan rutin sebelum operasi.” “Oh, baiklah..”, Cakka, Ozy dan Obiet melambaikan tangan, “Sukses, ya!” Aren mengangguk, “Makasih..” “Setelah selesai, aku akan menjenguk kamu.” kata Oik. “Iya.”, Aren mengangguk. Lalu pandangannya beralih ke Debo dan Rio, “Maaf ya. Aku duluan..”, kata Aren sambil tersenyum. Debo mengangguk. “Nanti aku sama Rio akan menjengukmu.”, jawabnya. Sama sekali tak mempedulikan Rio yang pasang muka nggak setuju, “Ntar kami perginya bareng, kok.” Aren mengangguk senang, “Duluan semuanya..”, lalu sosok di kursi roda itu menghilang bersama keluarganya. “Kenapa kamu bilang ‘kita’?”, tanya Rio dengan suara nahan marah. “Aku nggak mau jenguk dia sendirian.”, jawab Debo. Rio tak ambil peduli, malah mengeraskan volume ipod-nya. Ia menunduk dan diam. Debo dapat melihat bahwa sebenarnya hati Rio terluka. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, posisi Debo sekarang sangat sulit. Rio menghayati lantunan lagu yang merasuki kedua telinganya. Kucoba menahan himpitan rasa itu Merajam keluhnya jiwaku “Boleh denger sebelah?”, tanya Debo basa-basi. Rio langsung menyerahkan sebelah earphone-nya pada Debo. Tanpa pikir panjang Debo mendengar apa yang Rio dengar. Debo tersentak. Lagu yang sangat ia benci. Sobat, maafkan aku mencintainya Aku tak bermaksud membuatmu sungguh Tak berarti Rio tetap menunduk. Debo mengeraskan hatinya. Bait demi bait lagu itu benar-benar menonjok perasaan mereka habis-habisan. Terutama tiga baris itu yang selalu diulang-ulang dengan nada yang mengejek. Sobat, maafkan aku mencintainya Aku tak bermaksud membuatmu sungguh Tak berarti Rio merasa matanya agak basah. Ia menyerahkan ipod-nya pada Debo dan berdiri. “Pegang dulu bentar.”, kata Rio. Debo bingung, “Mau kemana?” “Toilet.”, jawab Rio tanpa menoleh. Debo hendak menahannya, namun tidak jadi. Seumur hidupnya, baru kali ini rio mau menitipkan ipodnya pada orang lain. Debo tahu, ada yang tidak beres. Tentu saja, bodoh. Dia itu baru ditolak oleh gadis yang disukainya dari dulu. Debo tersenyum pahit. Ya, gadis itu.

Debo merasa dialah orang paling brengsek sedunia. Ia tak mampu merangkul sahabatnya di saat seperti ini. Ia juga tak bisa merangkul orang yang diam-diam dicintainya. ‘Kenapa aku harus berada dalam posisi sesulit ini? Selalu ada dua sisi.’ Dan Debo sedang berada di persimpangannya. Mana yang harus ia pilih? Menjaga perasaan sahabatnya? Atau menyelamatkan perasaannya sendiri? Debo tertawa pahit. Maafkan aku Rio, Aren... Oh, sobat, maafkan aku mencintainya Aku tak bermaksud membuatmu sungguh Tak berarti... Sementara itu Rio langsung masuk ke toilet pria dan mengunci dirinya di dalam sana. Untung saja ia cepat-cepat berada di sana, karena ia merasakan ada sesuatu yang memaksa keluar dari kedua matanya. Sesuatu yang terakhir dirasakannya bertahun-tahun yang lalu. Air mata dan tangisan. ‘Aku sudah tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi.’ Rio tertawa pahit saat merasakan air yang hangat itu jatuh ke pipinya. Hanya aku tak tahu, kalau akan sesakit ini. Rio menengadah, berdiri diam sambil menyandar ke pintu toilet. Mengingat semua yang pernah dilaluinya bersama sosok yang sangat ia puja. Ia sudah sadar dari dulu. Ia tak pernah megingkarinya. Namun ia juga tak dapat membohongi perasaannya. Bahwa ia juga jatuh cinta pada sepasang bola mata hitam itu. Rio menangis. Sama sekali tak ada perubahan dalam caranya berekspresi. Tak ada isakan sama sekali. Tak ada suara yang memancing keingintahuan. Yang ada hanya air mata yang sesekali jatuh. Maafkan aku Debo, Aren...

Debo is Rio - Part 8
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on February 25, 2010 at 3:14pm in Cerita Idola Cilik Send Message View Discussions

Warning : Siapkan tissue.. karena part ini = part yang paling sedih… Kalo ada lagunya, pastikan BENER-BENER menyetel lagu di winamp. spaya dapat merasakan emosi dari tiap lagu. Makasih. -------------Debo yang sedang menyetir sesekali melirik ke arah sahabatnya itu. Sekeluarnya Rio dari kamar mandi, cowok itu belum mengeluarkan sepatah katapun. Debo jadi cemas melihatnya. “Idupin radio dong”, kata Cakka, “Sepi amat..” “Bentar lagi juga nyampe rumah sakit.”, kata Debo sambil membelokkan sedannya ke arah rumah sakit. “De, pelan-pelan napa nyetirnya.. Ujan tau, licin..”, kata Ozy. “Bechyek.. Ngghak adya oujhek..”, sambung Obiet. “Iya, bannya udah rada aus..”, kata Debo sambil masukin gigi dua, “Abis ini gue mau ke bengkel, ganti bannya. Gue turunin kalian di rumah sakit dulu.” “Oh. Oke..”, Cakka mengangguk. Debo memasuki drop off RS. Ia menghentikan sedan hitamnya di depan teras rumah sakit, “Kalian bertiga turun gih.” “Lho? trus Rio?”, tanya Cakka. “Dia nemenin gue ganti ban. Sekalian mau isi bensin.”, jawab Debo seenaknya. Rio mendengus. Namun ia tak beranjak dari sedan. “Oh. Ya udah.”, kata Ozy. “Okelah, kita duluan ya.”, kata Obiet. “Jangan lama-lama. Kasihan Aren.”, kata Ozy sambil menutup pintu. Debo mengangguk dan langsung tancap gas. Tiga temennya geleng-geleng kepala. “Debo tuh, kalo nyetir nggak pernah bisa pelan..”

Debo melajukan sedannya memasuki jalan besar sambil sesekali melihat ke arah Rio. Ia sendiri bingung harus bagaimana memulai pembicaraannya dengan Rio. Daripada bingung, Debo menghidupkan mp3 player-nya. Yang sialnya, memutar sebuah lagu dari Yovie. Menjaga Hati (puter lagunya, ya!). Intro sedih itu mengalun lembut, seirama dengan titik hujan yang turun makin deras. Rio tertawa pahit. Masih tersimpan, bayanganmu... “Pinter juga kau milih lagu yang pas sama keadaanku, De..”, kata Rio pahit. Debo menghela nafas, “Maaf.. Kuganti sekarang.” Yang telah membekas di relung hatiku... “Jangan.”, cegah Rio. Ia menatap mata Debo. Debo balas menatap mata Rio. Masih tersisa bekas tangisan di sana. Mata Rio yang biasanya menatap tajam, kini agak sembab dan merah. Rio mengalihkan pandangannya ke depan, menatap hujan, “Jangan diganti. Aku mau dengar..” Hujan tanpa henti seolah pertanda... Cinta tak disini lagi kau telah berpaling... Debo mengangguk, “Baiklah..” Rio menatap kosong pada kehampaan. Penolakan barusan masih terasa sekali. Suara Aren saat memberikan jawaban yang menampik hatinya. Dengan suara lirih, Rio ikut menyanyi, “Biarkan aku menjaga, perasaan ini, oh... Menjaga segenap cinta, yang telah kau beri..”, Rio tertawa pahit, “Engkau pergi, aku tak akan pergi.. Kau menjauh, aku tak kan jauh..”, Debo melihat ekspresi Rio yang menyedihkan itu. “Sebenarya... Diriku masih.. Mengharapkanmu.. Heh..”, Rio kembali tertawa pahit, “Suaraku boleh juga.” Debo hanya diam. “Waktu nyanyi di panggung tadi.. Suaraku bagus nggak?”, tanya Rio dengan tatapan yang tetap kosong. Debo mengangguk. “Bagus kok.” “Sayang.. Dia nggak melihatku.”, desis Rio. Lagi, Debo terdiam. Rio juga ikut diam. Dua sahabat itu tiba juga pada saat dimana mereka harus bicara dari hati ke hati. “Lo cinta sama dia, kan?”, tanya Rio. Debo mengangguk pelan. “Gue nggak akan nyerahin Aren ke orang yang nggak yakin sama perasaannya sendiri.”, kata Rio sambil menatap wajah Debo, “Lo cinta dia atau nggak?” Debo balas menatap Rio, “Iya.”, katanya mantap. Rio menghela nafas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan. “Kapan lo akan nembak dia?”, tanya Rio. Debo merasa tak nyaman, “Apa itu urusan lo?” “Selama lo belum nyatain cinta lo sama dia, maka itu akan jadi urusan gue.”, jawab Rio, “Gue bukan orang yang gampang menyerah, De.” Debo terdiam, “Lalu mau lo apa?” Rio terlihat berpikir, “Jangan siksa diri lo, De. Cukup gue aja.. Cukup gue.” Rio terdiam lama. Aku tak kan bisa, menghapus dirimu... Meski ku lihat kini kau di seberang sana... “Gue nggak bisa berhenti mencintai dia.”, kata Rio tiba-tiba. “Kalau gitu, jangan.. jangan berhenti mencintainya..”, kata Debo pelan. “Lo mau janji sama gue?”, tanya Rio, “Berjanjilah, lo akan menjaga Aren selama yang lo bisa.”, kata Rio. Debo tersentak. “Lo ini ngomong apa, sih Ri!”, bentaknya, “Kita ini—“

“Jangan katakan omong kosong ‘kita akan menjaganya bersama’!”, tandas Rio, “Gue ingin, lo aja yang menjaganya. Lo pikir gue mau sakit hati terus-terusan dengan ada di samping dia? Sementara lo pacaran sama dia, gitu?” “Oke, gue nggak akan pacaran sama dia!”, teriak Debo. “Nggak!”, balas Rio, “Please.. gue tau perasaan Aren ke elo. Apa sih susahnya? Toh lo juga cinta kan, sama dia?” “Rio..” “De!”, bentak Rio, “Jangan peduliin perasaan gue.”, lirihnya. Debo terdiam. Ia melihat ke arah Rio dengan ekspresi tak enak hati, “Gue nggak mau nyakitin elo lebih jauh dengan ada di sampingnya, Ri..” “Tapi gue lebih nggak rela kalo orang yang gue sayangi sampe nangis.”, balas Rio, “Dampingi dia, De. Buat dia bahagia, karena cuma lo yang bisa..” Debo tak menjawab. Ia terus berkonsentrasi pada sedannya. “Ri, maafin gue..”, lirihnya. Rio menggeleng, “Lo sahabat gue banget, De. Gue udah tau.. Kalo sebesar apapun usaha gue, Aren cuma ngeliat sahabat gue.. Dan itu elo.. Nggak ada yang perlu dimaafin..” “Aku janji bakal menjaga Aren.. Untukmu..”, kata Debo. “Bukan untukku. Tapi untukmu dan Aren.”, kata Rio sambil tersenyum. Debo membalas tersenyum. Senyum yang sama saat mereka memutuskan masuk SMP yang sama. Senyum yang sama ketika mereka berhasil manggung untuk pertama kalinya. Senyum yang hangat, menawarkan sebuah persahabatan yang tak bisa digantikan oleh apapun. “Terus? Kapan kamu akan menyatakan perasaanmu sama Aren?”, tanya Rio. Debo angkat bahu, “Secepatnya kali.” “Kok nggak yakin gitu sih? Aku yang pasti ditolak ini aja yakin.”, kata Rio. “Iya deh.. Abis Aren operasi jantung..”, kata Debo sambil tersenyum. “Nah, itu baru sobat gue..”, kata Rio, “Jangan sampai kamu nyesel karena nggak sempet mengucapkan cintamu..” Debo mengangguk sambil tersenyum. Ia membelokkan mobilnya. “Kalau aku sih.. Sudah lega sekarang. Setidaknya walau ditolak aku sudah berani menyatakannya pada Aren..”, lirih Rio sambil memejamkan matanya, “Rasanya kalau harus mati sekarang pun aku nggak menyesal..” “Jangan asal ngomong!”, hardik Debo. Andai akhirnya kau tak juga kembali Aku tetap sendiri menjaga hati... Rio tertawa lirih, “Jaga Aren, De.. Lo udah janji sama gue..” Debo tak memperhatikan Rio lagi saat hujan menderas dan membuatnya agak sulit menyetir. Wiper-nya sudah bekerja maksimal namun kabut yang lumayan tebal menghalangi pandangan Debo. “Cih, sial.. Nggak keliatan..”, desis Debo. Rio langsung melotot melihat lampu lalu lintas yang menyala merah, “De! Awas!” “Iya, gue tau..”, Debo berusaha menghentikan sedannya, “Bannya licin!” “Rem!”, teriak Rio. Debo berusaha menghentikan sedannya, “Shit! Remnya..” Mereka tak sempat lagi berteriak. Lampu merah yang menyala terang itu seakan menjadi saksi bisu ketika sebuah tronton besar dengan kecepatan tinggi melaju ke arah sedan mereka. Kejadian itu terlalu cepat, secepat terpelantingnya sedan hitam itu ke bahu jalanan. Jalanan sama sekali sepi, kecuali suara besi menghantam aspal dan jungkir balik beberapa meter. Suara berdecit mengerikan sampai akhirnya sedan itu berhenti sama sekali. Supir tronton itu membelalak kaget. Sama sekali tak menyangka kalau ia akan menabrak sedan kecil yang menerobos lampu merah. Ia dan beberapa rekannya langsung turun dari tronton dan berusaha menolong siapapun yang bisa diselamatkan. “Tolong! Tolong! KECELAKAAN!!”, teriak mereka sambil menghentikan beberapa kendaraan yang lewat. Suasana menjadi ricuh di persimpangan itu. Debo, di antara batas kesadarannya berusaha mengetahui apa yang terjadi. Terlambat. Ia tahu itu. Tubuhnya terjepit di antara dashboard dan jok mobil. Jangankan bergerak, bernafaspun ia sudah tak bisa. Debo mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menoleh ke samping. Rio sudah tak ada di sampingnya. Pintu itu terbuka. Kelihatannya Rio terpental dari dalam sedan. Debo ingat, sahabatnya itu tak memakai sabuk pengaman.

Debo mendengar jeritan orang-orang di luar. “Ada yang terkapar di jalan!”, teriak mereka. “Apa dia masih hidup?”, suara yang lain. “Dia sudah tak bernafas! Tapi, cepat bawa dia ke rumah sakit! Mungkin masih bisa ditolong!”, teriak salah seorang pria. “Bagaimana dengan yang di dalem mobil??” Debo tersenyum pahit mendengarnya. Ia sama sekali tak merasakan sakit. Seluruh tubuhnya sudah terlalu lelah untuk itu. Debo merasakan sebuah kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya begitu ringan. Nafasnya begitu lega. Entah apa yang terjadi. Namun Debo hanya bisa tersenyum. ‘Maaf, Rio. Aku nggak bisa memenuhi janjiku...’ Debo memejamkan matanya. Dan dengan satu senyuman, Debo pun menghembuskan nafas terakhirnya di dalam onggokan besi itu. “Gawat!”, teriak seseorang yang berusaha mengeluarkan tubuh Debo, “Dia sudah nggak bernafas!”, beberapa orang langsung mendekat. “Ya ampun.. Tubuhnya..”, mereka tak tega melihat tubuh Debo yang sudah ada dalam posisi tak lazim itu. Namun mereka tetap berusaha mengeluarkan tubuh Debo. “Bawa juga dia ke rumah sakit!” Hujan turun menderas. Menyapu darah yang tadi membanjiri jalanan itu. Sedan hitam itu memang telah hancur. Namun entah kenapa mp3 player Debo tetap mengumandangkan lagunya. Lagu perpisahan yang mengantarkan kepergian Debo dan Rio. Sejujurnya, diriku masih... Mengharapkanmu...

Debo is Rio - Part 9
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 7, 2010 at 8:48am in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

“Mana sih Rio sama Debo..”, keluh Aren saat malam turun, “Mereka bilang mau jenguk aku secepatnya.. Malem-malem gini kok belum dateng..” “Mungkin bengkel pada tutup.. Pom bensin nggak ada yang buka..”, jawab Cakka. “Ngaco ah.”, kata Obiet. Cakka hanya angkat bahu dan lanjut main PSP. Malam itu mereka semua masih berada di kamar Aren. Cakka, Obiet, Ozy, Bu Ira, Pak Duta dan Riko. “Oik juga nggak dateng-dateng..”, keluh Aren sebal. “Sabar..”, kata Bu Ira sambil mengecup dahi putrinya, “Nanti juga mereka dateng.” Tol tok tok... Semua menoleh ke pintu. Aren udah senyum senang. “Oik ya?”, tanyanya. Pintu terbuka. Membuat Aren kecewa melihat siapa yang masuk. Seorang wanita berbaju putih, “Nona Aren, saatnya minum obat.” Aren mendengus, “Iya, Sus..” Suster itu langsung memeberikan obat dan suntikan pada infus Aren. Tanpa menunggu lama lagi, Aren tertidur pulas. Bu Ira kembali mengecup dahi Aren yang sedang tidur dengan manisnya. Tak lama setelah sang suster meninggalkan kamar Aren, kembali terdengar ketukan. Pak Duta langsung membuka pintu. “Ah, Gabriel? Oik?”, sapa Pak Duta, “Kok lama bener?” “Om..”, Pak Duta merasa ada yang tak beres. Oik sedang menangis sesenggukan di belakang Gabriel. Raut wajah gabriel pun terlihat sangat sedih. Terlihat sekali ia mati-matian menahan tangisnya. Pak Duta heran, “Gabriel? Oik? Ada apa?”. Gabriel menghela nafas berat, “Om, tante.. Maaf. Bisa bicara di luar saja? Yang lain juga.. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Aren ada?” “Sedang tidur, ada apa?”, tanya Bu Ira sambil menghampiri suaminya. “Untunglah.. Kita ke lobby saja.”, kata Oik sambil menghapus air matanya. Semua yang ada di ruangan itu berpandangan. Mereka mengikuti Gabriel dan Oik menuju

lobby rumah sakit dan meninggalkan Aren yang masih tidur sendirian. Sesampainya di lobby, mereka duduk melingkar. Pak Duta membuka pembicaraan. “Ada apa ini?”, tanya Pak Duta langsung. Gabriel menarik nafas dan berusaha menahan tangisnya, “Berat sekali harus mengatakan ini..”, lirihnya, “Barusan saja, aku mendapatkan kabar.. Tentang Debo dan Rio.”, kata Gabriel. Cakka cs plus keluarga Aren berpandangan. “Apa yang terjadi?”, tanya Bu Ira pelan. “Sedan yang dikendarai Debo kecelakaan. Kemungkinan karena ban sedan Debo sudah aus, sehingga ia terlambat mengerem.. Lalu..”, Gabriel merasa matanya basah, “Sedan itu menerobos lampu merah.. Dari arah kanan ada tronton yang melaju dan menabrak..” Semua yang ada di sana terbelalak. Tak percaya dengan pendengaran mereka. “Astaga..” “Lalu.. Bagaimana Debo? Rio?”, tanya Ozy cemas. Gabriel menggelengkan kepalanya, “Rio koma, ada di ICU sekarang. Dia terlempar ke luar sehingga tubuhnya nggak mengalami luka berat.. Hanya belakang kepalanya terbentur keras.. Kemungkinan dia bisa bertahan hidup.. Tapi Debo..”, Gabriel menangis kali ini, “Dia tak bisa diselamatkan.. Para saksi bilang, Debo meninggal seketika karena... Tubuhnya terhimpit di depan setir.. Tubuhnya.. Sudah.. Oh, Tuhan..”, Gabriel menunduk dan menangis. “Astaga..”, Ozy, Obiet dan Cakka langsung merasa lemas, “Astaga, Debo...” Oik terus menangis, “Debo..”, lirihnya. Bu Ira menutup mulutnya dan menyender di bahu Pak Duta. “Karena itu..”, Gabriel menghapus air matanya, “Saya bermaksud menyumbangkan jantung Debo.. Pada Aren..”, kata Gabriel sambil menatap Pak Duta, Bu Ira dan Riko. Kontan saja mereka terbelalak kaget, “Gabriel.. Kamu serius?” Gabriel mengagguk mantap, “Saya sudah bicara dengan dokter yang menangani Aren.. karena golongan darah Aren dan Debo sama, kemungkinan besar transplantasi ini akan berhasil. Lagipula Debo nggak punya alergi dan nggak pernah merokok. Jantungnya masih sangat bagus..”, Gabriel menghela nafas, “Di atas itu semua, ia baru saja meninggal..” Riko, Bu Ira dan Pak Duta berpandangan bingung. “Aku nggak yakin Aren mau..”, kata Riko lirih, “Dia itu cinta mati sama Debo.. Kalau aku jadi dia, aku mendingan..”, Riko menggeleng pelan. “Tapi cuma dengan jalan ini Aren bisa selamat..”, bisik Bu Ira. Pak Duta terlihat berpikir, “Gabriel.. Kamu rela?” “Sampai akhir hayatnya, Debo itu menyukai Aren.. Dan itu terlihat sangat jelas. Kalau dia ada di sini, saya yakin dia sangat setuju dengan ideku ini.”, jawab Gabriel, kakak Debo, mantap. “Tante.. Om.. Riko..”, kata Oik, “Tolong, terima donor jantung dari Debo..” Pak Duta akhirnya mengangguk, “Baiklah..” Bu Ira tersentak, “Papih!” “Asal kita jangan beri tahu Aren soal ini.”, kata Pak Duta, “Memang sangat egois dan menyakitkan, namun.. Nggak ada jalan lain. Aku masih ingin melihat Aren hidup..” Bu Ira menangis mendengarnya. Memang tak ada jalan lain. Inilah satu-satunya cara agar Aren bisa selamat. Riko menatap lantai dengan pandangan kosong. Walau Debo sekalu bertengkar dengannya, namun ia sudah terlanjur mempercayai Aren padanya. Obiet, Cakka dan Ozy memejamkan mata. Kesedihan di hati mereka tak dapat diungkapkan dengan katakata. Salah satu sahabat terbaik mereka telah pergi untuk selamanya. Tak akan pernah kembali lagi. “Operasi harus dijalankan lusa..”, kata Gabriel, “Lebih cepat lebih baik. Agar jantung Debo tidak sia-sia..”, ia menahan tangis lagi saat mengatakannya. Pak Duta menarik nafas panjang, “Baiklah.. Saya akan katakan pada Aren, bahwa ini hanya operasi klep jantung. Tolong.. Rahasiakan ini pada Aren.. Kalau dia mendengar berita ini, bisa-bisa dia malah syok dan meninggal..”, lirih Pak Duta. Semuanya mengangguk setuju. “Kalau begitu, saya permisi dulu..”, pamit Gabriel sambil berdiri. Langsung Pak Duta berdiri dan memeluk Gabriel. “Terima kasih sekali..”, kata Pak Duta hampir menangis, “Saya nggak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa..”. Gabriel membalas pelukan Pak Duta.“Nggak perlu, Om. Saya melakukan ini agar adik saya bahagia di atas sana.” Pak Duta melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang bertengger di sudut

matanya. Bu Ira langsung memeluk suaminya itu dan menangis. Riko menghampiri ibunya dan memeluk tubuhnya. Menyedihkan sekali. Ozy, Obiet dan Cakka juga sibuk menghapus air mata mereka yang sedari tadi menunggu untuk turun. Rumah Sakit, menjelang operasi... Bu Ira tersenyum, “Ayo.. Mana senyumanmu itu, Sayang? Cemberut aja..” Aren manyun, “Bahkan saat aku operasi pun, Rio sama Debo nggak datang menjenguk! Dasar cowok.. Tukang bohong.. Nyebelin..” Hati Bu Ira sakit mendengar perkataan Aren barusan. Sebenarnya ia sangat tidak tega harus membohongi putri kandungnya itu. Ia sama sekali tak bisa membayangkan betapa hancurnya Aren kelak saat tahu apa yang sebenarnya dipersiapkan untuk operasi ini. Apalagi saat Aren tahu, siapa pemilik jantung yang sebentar lagi akan dipasang di tubuhnya. Bu Ira menggenggam tangan Aren. “Kamu jangan tegang ya, Sayang..”, katanya sambil mengusap rambut Aren. Aren menggeleng, “Aku nggak tegang. Aku sudah biasa dioperasi kayak gini..”, Aren membenarkan posisi kepalanya, “Palingan hanya bertahan dua bulan.. dan operasi lagi... Lalu bertahan.. Operasi lagi.. Capek..”, keluhnya. Hati Bu Ira dan Pak Duta makin sakit mendengarnya. “Kali ini.. Kamu nggak akan operasi lagi..”, kata Pak Duta pelan. Aren tertawa kecil, “Papih sekalu bilang gitu setiap kali Aren mau operasi..” “Papih nggak akan bohong kali ini.”, kata Bu Ira meyakinkan. Aren tertawa pahit, “Mamih.. Papih.. Kak Riko..”, lirih Aren, “Aren belum mau mati.. Aren masih pengen jadi penyanyi.. Berapa kali operasi pun akan Aren jalani, kok..” “Aren..”, Riko mendekati adiknya, “Sabar ya..”, katanya lirih. Riko langsung keluar kamar saat merasa matanya berkaca-kaca. Aren sampe bingung. “Ada apa sih, ini? Kok semua orang jadi aneh..?”, tanya Aren heran. Apalagi saat melihat ibunya juga keluar ruangan sambil menutup mulutnya. Pak Duta menatap putrinya tak tega, “Aren.. Jalani operasi ini dengan rileks ya..” Aren tersenyum heran, “Papih.. Ini bukan operasi pertama Aren. Kenapa sih, semua orang pada sok dramatis gini? Mamih sama Kak Riko juga.. Heran deh Aren..” Pak Duta tak menjawab. Ia mendengar beberapa suster memasuki kamar rawat Aren, “Nona Aren? Kita jalankan operasinya sekarang ya?”, kata mereka sambil melepas infus Aren dan membawa ranjang beroda itu keluar, “Rileks saja. Semua akan berjalan baik.” Aren mengangguk. Masih terbayang wajah kakak dan ibunya barusan yang terlihat sangat sedih. Aren tak mengerti. Ia juga melihat wajah ayahnya yang tertekuk lesu, padahal biasanya beliaulah yang paling bersemangat. Aren melihat di depan ruang operasi dan sedikit kecewa. Ia berharap ada Debo dan Rio yang mengantarnya. Namun yang ada hanya keluarganya, Ozy, Cakka, Obiet, Oik dan Gabriel. Semuanya memasang senyum sedih. “Semangat ya, Aren.. semoga berhasil..”, kata mereka sambil tersenyum. Aren mengagguk semangat, “Tenang aja, aku sudah sering operasi!”, jawabnya jenaka. Lalu Aren menatap wajah sahabatnya satu per satu, “Nanti.. Kalau aku sudah selesai operasi, wajah pertama yang ingin aku lihat adalah Rio dan Debo! Bakal kumarahi mereka habishabisan.. Tega mereka nggak jengukin aku..”, kata Aren. Oik tak dapat membendung tangisnya saat kata-kata itu meluncur tanpa beban dari bibir Aren. Gabriel memaksa bibirnya menyunggingkan senyum. “Tentu. Akan aku sampaikan sama adikku.”, jawabnya lirih. Aren tersenyum lebar. lalu suster-suster barusan membawa ranjang Aren masuk ke ruang operasi. Meninggalkan semua penjenguk yang mati-matian menahan tangis mereka. “Aku...”, lirih Oik sambil duduk di bangku pembesuk, “Aku.. Aku nggak bisa bayangin.. Saat Aren tau.. Kalo ini operasi.. Transplantasi jantung...”, katanya sambil terisak. Gabriel langsung menepuk bahu Oik, “Ik.. Sudahlah..” “Nggak bisa sudah.. Nggak mungkin ini semua disembunyiin terus..”, isakan Oik makin perih, “Cepat atau lambat.. Aren pasti tau kalo dalam badan dia.. Ada jantung Debo..”, lirihnya, “Dia pasti sangat syok.. Pasti sedih banget..” Bu Ira lagi-lagi menangis di bahu Pak Duta. Ozy, Cakka dan Obiet hanya bisa diam. Riko juga tak mampu berbicara apa-apa. Pak Duta menghela nafas. “Kita doakan saja..”

Malam hari selepas operasi... “Mengagumkan.”, kata dokter bedah yang barusan memimpin operasi, “Jantung sumbangannya sangat cocok dengan tubuh Aren. Sama sekali nggak ada reaksi penolakan.” “Syukurlah..”, jawab semuanya. “Mungkin Aren akan tidur selama seminggu lebih.. Karena tubuhnya perlu adaptasi dengan jantung barunya. Ini hal yang biasa terjadi.”, sambung dokter itu, “Sejauh ini keadaan Aren normal. Detak jantungnya sangat baik. Nafas dan tekanan darahnya stabil. Dia hanya butuh istirahat total. Setelah sekitar satu bulan, ia sudah bisa beraktivitas lagi. Namun, tetap dalam pengawasan dokter.”, katanya sambil menyumpalkan maskernya di saku celana. Pak Duta mengangguk, “Terima kasih banyak, Dok.” “Sama-sama. Oh ya, saya sengaja menempatkan Aren di kamar VIP, banyak sekali alat yang menyokong tubuhnya. Jangan terlalu sering dijenguk kalau dia belum sadar.”, kata si dokter lagi, “Saya mohon diri dulu.” “Iya, Dok..”, jawab semuanya. Mereka menghela nafas lega mendengar laporan dari dokter barusan. Aren dinyatakan stabil dan operasinya berhasil dengan baik. Gabriel menepuk pundak Pak Duta, “Untunglah..” “Sekali lagi, terima kasih banyak, Gabriel..”, kata Pak Duta sambil tersenyum lirih. Gabriel mengangguk, “Jenazah Debo masih ada di rumah duka dan besok akan diantarkan ke kediaman kami. Upacara pemakaman akan dilangsungkan lusa. Saya berharap kalian menyempatkan datang.”. Pak Duta mengangguk mantap, “Tentu saja saya sekeluarga akan datang. Kami ingin memberikan penghormatan terakhir buat dia.”. Disusul dengan anggukan Riko dan Bu Ira. “Terima kasih sekali..”, kata Gabriel. Mereka baru saja hendak beranjak pulang saat suara seorang suster menghentikan langkah mereka. “Maaf..”, sapanya, “Dengan kerabatnya Tuan Rio?” Obiet, Ozy dan Cakka langsung menghambur ke arah suster itu, “Iya, benar.” “Rio kenapa?”, tanya Ozy cemas. “Dia nggak mati, kan Sus?”, tanya Obiet dengan wajah siap nangis. Suster itu tersenyum, “Tidak. Saya mau mengatakan hal yang sebaliknya. Keadaan Tuan Rio mulai stabil dan membaik. Kami perkirakan dia akan sadar sebentar lagi.” Wajah mereka bertiga langsung cerah mendengarnya, “Yang bener, Sus?” Suster itu mengangguk, “Hal ini juga sangat di luar dugaan. Tadinya tim dokter hampir menyerah karena kardiogram menunjukkan bahwa Tuan Rio akan meninggal. Ini bagaikan sebuah mukjizat. Tiba-tiba saja detak jantungnya berubah stabil secara drastis.” “Syukurlah! Nanti boleh kami jenguk, ya?”, tanya Cakka semangat. “Tentu bisa, Tapi sebelum itu, kami akan pindahkan dulu dia ke ruangan VIP. Keluarganya memesan untuk ini. Mungkin setengah jam lagi. Kami akan pindahkan dia ke paviliun Lucas nomor 12.”, kata si suster lagi, “Saya mohon diri dulu.” “Iya, Sus. Makasih..”, jawab mereka bertiga. Gabriel tersenyum mendengar berita itu, “Syukurlah, Rio selamat.”

Debo is Rio - Part 10
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 8, 2010 at 4:35pm in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

Lucas no. 12... ‘Dengarkan aku... Kembalilah... Selesaikanlah apa yang belum selesai...’ Cowok itu menggeleng pelan. Apa ini mimpi? Bukankah aku sudah mati di kecelakaan mobil itu? Semuanya gelap. Sangat gelap. Hanya suara yang tak asing, namun tak dapat diingat siapa pemilik suara itu. Menyuruhnya untuk kembali. Kemana? Kembali pada apa? Sudahkah aku sampai di akhirat? Kenapa tubuh ini terasa sangat ringan? “Rio... Rio... Rio...” Suara siapa? Memanggil siapa? Ia melihat ada setitik sinar yang sangat kecil namun terang. Perlahan, sinar itu makin membesar. Membuat matanya terasa silau. Sudah berapa lama aku mati? “Rio... Rio... Rio...” “Ugh..” “Rio, lo sudah sadar!” Itulah kata pertama yang muncul dari bibir semua orang saat cowok itu membuka matanya. Ia menutup matanya lagi karena silau. Belum dapat mendengar riuh rendah suara yang terdengar senang saat ia membuka matanya. “Rio!”, Obiet nyengir sumringah saat Rio membuka matanya sempurna. “Lo sudah sadar.. Gimana perasaan lo?”, tanya Ozy semangat. “Syukurlah lo selamat, Ri..”, Cakka ikut nimbrung mengucapkan selamat. Cowok itu terlihat sangat bingung. Rio? Siapa yang mereka panggil dengan nama itu? Ia memegang belakang kepalanya, “Ouch..” “Oh..”, Cakka menyadari sesuatu, “Tentunya kamu masih sakit, ya? Maaf kalau kami mengganggu.”, katanya tak enak. “Bukan..”, Rio memegang belakang kepalanya yang masih terasa sakit, “Ini dimana?”, tanyanya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi. “di rumah sakit.. Lo pingsan selama dua hari.”, jawab Ozy. “Ugh..”, Rio tak menggubris. “Ceritanya besok saja.”, kata Obiet, “Sudah malam, nih.” “Lo butuh istirahat.”, kata Cakka menepuk pundak Rio, “Kayaknya.. Kami pergi dulu. Besok kami akan jenguk lo lagi, ya..” Rio tak tahu harus membalas apa. Perhatiannya masih teralih pada tengkuknya yang masih sakit. Tentu saja, itu akibat kerasnya benturan saat kecelakaan terjadi. Namun ada satu hal yang sangat mengganjal di hatinya. Rio? Aku dipanggil dengan nama itu? Apa mereka semua buta? Argghh, sial... Kepala ini sama sekali tak mau kompromi! Ia melirik sedikit ke arah pintu keluar. Tiga orang yang dikenalnya sudah beranjak. Rio hanya diam dan tetap berbaring. Mengingat semua yang bisa dia ingat. Saat itu hari sedang hujan. Bukannya waktu itu... Rio mencoba mengingat. Ia merasa ada yang hilang dari fragmen memorinya. Ada satu puzzle yang terlupakan. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang menyetir. Lalu mobil yang ia setir terpelanting. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Ia tertawa kecil. “Huh, aku pikir aku sudah mati..”, ucapnya pelan. Wajah Rio memucat saat ia mendengar suara yang keluar dari bibirnya. Astaga? Astaga, apa yang terjadi dengan suaraku? Aku sangat mengenal suara ini dan, ini bukan suaraku! Dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, ia hendak mencoba berbicara. Namun ia terlalu takut mendengar suaranya sendiri. “Aaa.. Aaaa..”, ucapnya. Suara yang sama. Suara yang ia kenal baik. Tapi itu bukan suaranya. Tidak! Tidak, tidak, tidak! Mana mungkin ini terjadi! Ini omong kosong! Rio langsung duduk di ranjangnya dan memperhatikan sekitar. Di ujung kamar terdapat ruangan kecil yang agaknya toilet. Rio langsung mengambil botol infusnya dan berjalan menuju toilet. Ia menguatkan diri agar tidak pingsan karena kepalanya masih terasa sakit. Rio melangkah gontai dan membuka pintu toilet dengan kengerian amat sangat. Mustahil, kan? Rio melihat sebuah cermin terpasang di ruangan kecil itu. Sambil menghembuskan nafas panjang, ia melangkah ngeri mendekati cermin. Ia sama sekali takut, terlalu tak sanggup

untuk melihat ke cermin itu. Tenangkan hatimu, bodoh. Ini semua hanya bentuk ketakutanmu yang berlebihan. Dengan keberanian yang berhasil ia kumpulkan, Rio berdiri di depan cermin dan berteriak tertahan melihat bayangan yang terpantul di sana. “TIDAK!”, teriaknya terkejut. Mata Rio melotot melihat pantulan itu. Pantulan itu adalah sosok yang sangat dikenalnya dengan baik. TAPI INI BUKAN AKU! INI BUKAN TUBUHKU! Sosok Rio itu menggelengkan kepalanya tak percaya. Ini mimpi! Semua ini hanya MIMPI! Kenapa aku.. INI TUBUH RIO TAPI AKU INI DEBO! AKU INI ANDRYOS ARIYANTO!! AKU BUKAN RIO! BUKAN!! DIMANA TUBUHKU YANG SEBENARNYA?? “Nggak...”, lirih Debo, “Bukan, ini.. Apa yang sebenarnya terjadi??”, Debo mencoba mengingat semua yang terjadi. Hal terakhir yang ia ingat adalah.., “Pintu yang terbuka.. Bukannya Rio terpental keluar.. Dan aku mestinya..” Debo sadar sepenuhnya kali ini, “Mestinya aku sudah mati, kan..? Lalu.. Kalau aku ada di badan Rio..”, Debo merasa kesadarannya menghilang. Berarti.. Yang meninggal sebenarnya adalah... ---Debo membuka matanya. Yang ia lihat hanyalah hitam. Gelap. Semuanya terasa sangat dingin dan tenang. Ia hanya bisa melihat dirinya sendiri yang memancarkan cahaya putih. Debo sama sekali tak mengerti ia sedang apa dan dimana. Terakhir, ia pingsan setelah mengetahui bahwa dirinya, jiwanya, malah masuk ke tubuh sahabatnya sendiri. “Menganalisa ini dimana..”, Debo tersentak mendengar suara itu, “De?” “Rio?”, sahutnya agak berteriak saat melihat Rio yang melayang rendah di hadapannya, “Kamu..” Rio tersenyum kecil, “Apa? Kamu mau bilang aku ini hantu?” Debo menggeleng, “Bisa tolong kamu jelasin, apa yang sebenernya terjadi padaku? Sebelum itu..”, Debo memperhatikan sekeliling, “Ini dimana?” “Perbatasan antara hidup dan mati.”, jawab Rio, “Anggap aja kita bertemu dalam mimpimu.”, jawabnya enteng. Debo menghela nafas. “Bisa kamu jelaskan, apa yang sebenernya terjadi setelah kecelakaan? Aku yakin sekali mestinya aku sudah mati..”, kata Debo. “Kamu heran, kenapa ketika kamu bangun, kamu ada dalam tubuhku?”, tanya Rio. Debo mendengus, “Ya iyalah aku heran.” Rio tersenyum sedih, “Tentu aja, karena sebenarnya kita berdua sudah mati dalam kecelakaan waktu itu. Nggak ada yang selamat.” “Terus kenapa aku masih berkeliaran dengan tubuhmu?”, desak Debo. “De..”, kata Rio lirih, “Ketika jiwa terpisah dengan tubuh, maka saat itu orang akan disebut mati. Sekarang kita sedang ada di perbatasan itu. Karena.. Kamu masih menyimpan urusan dengan dunia.”, jawab Rio. Debo tertawa bingung, “Urusan?” “Kamu belum menuntaskan apa yang seharusnya kamu selesaikan.”, kata Rio. “Ya?”, tanya Debo, “Spesifiknya?” Rio tertawa pahit, “Kamu tahu persis itu apa, kan..” Debo terdiam mendengarnya. Ya, kalau ada urusan duniawi yang membuatnya berat meninggalkan tubuhnya, hanya ada satu jawaban. Janjinya untuk menjaga Aren. Ikrarnya untuk mengucapkan apa yang semestinya ia ucapkan dari dulu. “Rio.. Aku sudah mati.”, kata Debo, “Aku yakin itu.” “Aku tahu. Tapi aku ini mati duluan saat tengkukku menghantam aspal.”, jawab Rio, “Tapi jiwamu itu.. Kasarnya statusmu sekarang itu arwah gentayangan. Mati penasaran. Dengan jiwa macam itu, mana bisa kamu tidur dengan tenang?” Debo terdiam, “Lalu?” “Selesaikan apa yang belum selesai.”, kata Rio. Ekspresi wajahnya melunak, “Daripada kamu gentayangan, bukankah lebih baik kamu gunakan tubuhku?” Debo tersentak mendengarnya, “Rio!” “Aku sudah nggak ada urusan lagi dengan dunia. Aku bisa mati dengan tenang. Sedangkan kamu..”, Rio menggeleng, “Kembalilah ke tubuhku. Gunakan tubuhku untuk menyelesaikan semuanya, De. Saat semuanya selesai, aku akan kembali untuk menjemputmu.”, kata Rio sambil menunjuk ke arah atas.

“Rio... Gw nggak bisa..”, Debo menatap sahabatnya dengan mata nanar, “Kamu terlalu banyak berkorban demi aku! Kenapa nggak sekarang aja kita pergi?” Rio menggeleng, “Karena kamu sahabatku, De. Sampai kapanpun.” Hati Debo terasa bagai diiris sembilu mendengar ucapan Rio, “Dengan apa aku harus berterima kasih sama kamu?” “Dengan menjaga Aren.”, jawab Rio pendek, “Jangan buat dia menderita. Dan jangan gunakan tubuhku untuk berbuat yang aneh-aneh.”, tambahnya cepat. Debo tertawa kecil, “Nggak akan.” “Yah, sudahlah. Kita nggak boleh berlama-lama. Dimensi kita berbeda, De. Urusanku disini sudah selesai.”, kata Rio. Tubuhnya meredup perlahan, “Ingatlah, tubuhku itu sebenarnya sudah mati. Kamu jangan terlalu lama mengulur waktu.” Debo merasa pusaran itu menyeretnya. Jauh.. Jauh.. Jauh pada setitik sinar yang makin lama makin membesar. Lalu ia merasa tubuhnya terlonjak. Dapat dilihat di hadapannya, tiga wajah yang ia kenal. Ozy, Obiet, dan Cakka. Sahabatnya, yang memasang wajah cemas. Debo membuka matanya. “Rio! Lo sudah sadar?”, tanya Ozy, “Lo membuat kami cemas! Suster bilang dia nemuin lo pingsan di kamar mandi. Makanya kalo nggak kuat jangan jalan..” Debo sama sekali tak menjawab. Kata-kata Rio barusan masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. Akhirnya Debo berkata.“Tinggalkan aku sendiri.. Kumohon..” Obiet, Cakka dan Ozy berpandangan lalu angkat bahu. Mereka mengangguk. “Jangan memaksakan diri, Ri..”, kata Obiet sambil beranjak keluar dan menutup pintu kamar itu. Debo memejamkan matanya erat-erat. Berarti sebenarnya Rio yang.. Debo merenggut rambutnya saat menyadari kenyataan itu. Rio yang sudah mati.. “Arrghhh...”, lirihnya sambil duduk dan menunduk. Tanpa terasa bulir-bulir air mata yang hangat jatuh ke pangkuannya, “Rio.. Rio..”, lirihnya. Debo menggunakan tubuh itu untuk menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa sangat sakit, sangat perih mengingat semua yang Rio lakukan untuknya. Rio, sahabat yang selalu ada di sampingnya. Orang yang mendukung dan memarahinya. Yang selama tiga tahun lebih mendampinginya dalam mewujudkan impian mereka untuk menjadi band papan atas. Semuanya sudah tak mungkin bersama dengan kepergian Rio. Debo mengingat semuanya. Kenangan itu terus berputar di kepalanya, bagaikan rekaman video yang rusak. Momen-momen yang ia lalui bersama sahabat terbaiknya. Semua pengorbanan Rio. Ia rela sakit hati demi mendukung hubungan Debo dan Aren sampai akhir hayatnya. Dan sekarang, ia merelakan tubuhnya sendiri untukku! Debo menangis makin perih. Menangisi pemilik tubuh yang ia gunakan. Menangisi kepergiannya. Menangisi ketidakberdayaannya. Menangis dan terus menangis. Debo perlu waktu untuk itu. Debo butuh ruang untuk itu. Rio... Kamu benar-benar sahabatku yang bodoh...

Debo is Rio - Part 11
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 12, 2010 at 4:10pm in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela. Debo berusaha membuka matanya, namun agak sulit. Ia habis menangis semalaman sampai lelah dan tertidur. Hal itu membuat matanya jadi bengkak dan sekarang membuka mata pun susah. Pagi itu ia menemukan dirinya sendirian di kamar rawat. Debo menghela nafas lega. Hmm.. Untung mereka belum datang menjenguk. Debo memaksakan diri bangun dan berjalan menuju toilet. Lalu berdiri di hadapan cermin. “Rio..”, lirihnya, “Tubuhmu ini..”, Debo tak melanjutkan kata-katanya. Terus saja dipandangi pantulan bayangan sahabatnya di cermin. Sangat ganjil rasanya, menemukan dirinya ada di dalam tubuh itu. Debo memaksakan diri tersenyum, “Maafkan aku.. Rio..”, lirihnya sambil

kembali meneteskan air mata. Kali ini tak ada isakan dan suara yang berarti. Debo kembali menatap bayangan itu di cermin sambil menghapus air mata yang jatuh. Aku berjanji akan menggunakan tubuh kamu dengan baik. Lalu Debo mulai bingung. Kalau begini caranya, berarti dia harus berpura-pura menjadi Rio. Tak ada seorangpun yang bakal percaya kalau sebenarnya ia adalah Debo yang jiwanya nyasar ke tubuh sahabatnya sendiri. Debo mengangguk mantap. Ya, aku akan berakting layaknya Rio. Selama ini aku cukup tahu kebiasaannya, mestinya ini tak akan terlalu sulit bagiku. “Rio..?” Debo dalam badan Rio tersentak dan melihat ke arah pintu toilet yang lupa ia tutup. Di sana sudah berdiri Shilla yang memasang muka cemas. Di belakangnya ada Sion. Debo memaksakan diri tersenyum. Apa yang mesti aku lakukan? Ia diam saja saat Shilla menghampirinya dan mengamit tangannya, “Kamu ini kan baru sembuh. Jangan banyak jalan-jalan dulu, lagian ngapain sih bengong di depan cermin? Wajahmu yang tampan itu masih selamat, kok! Nggak kenapa-napa..”, omel Shilla. Debo hanya bisa pasrah saat Shilla membawanya kembali ke ranjang. Wanita itu duduk di samping ranjang adiknya. Sion meletakkan sekeranjang besar buah di meja. “Bagaimana keadaanmu?”, tanya Shilla lembut. Debo mengangguk, “Aku baik saja kak..”, jawabnya. Otomatis Shilla dan Shilla berpandangan kaget. Tidak biasanya Rio memanggilnya dengan embel2 kakak. Debo menyadari ada yang salah dengan ucapannya, “Ma.. Maksudku.. Shilla.” Sion masih bengong. Shilla juga tertawa heran, “Kepalamu kenapa?” “Mungkin kejedot terlalu keras, makanya dia jadi sopan gitu.”, jawab sion. Debo mengerenyitkan dahi. ‘Argh, ternyata ini lebih sulit dari yang aku duga!’ batinnya. “Biasanya kamu manggil nama kami saja, tapi baguslah kalo kamu sudah tahu sopan santun.”, kata sion, yang langsung disikut oleh Shilla. “Adikmu ini masih sakit.”, ujar Shilla. Debo langsung memelototi Sion. “Dasar raja bokep.”, sahut Debo tajam. Itulah satu-satunya hal yang ia tahu tentang Sion. Itu juga karena Rio suka sebel sama majalah dewasa Sion yang bertebaran. Sion mencibir, “Heh, rupanya mulut anak satu ini masih rusak.” “Sudahlah, kalian berdua ini..”, lerai Shilla, “Rio?” Debo memandang Shilla, “Ya?” “Aku sama Sion harus kembali ke Surabaya sore ini. Besok kami kan harus kuliah. Sementara sekolahmu masih libur kan.”, kata Shilla, “Kamu nggak apa-apa kami tinggal?” Debo menggeleng, “Nggak masalah.” Shilla mengangguk, “Maaf ya. Setelah kamu dinyatakan boleh pulang oleh dokter di sini, Ayah dan Ibu akan menjemputmu dan membawamu kembali ke Bandung. Sementara itu, kamu istirahat saja di sini.”, kata Shilla sambil mengelus rambut Rio. Debo. Terserah deh. “Kakak pulang saja. Teman-temanku masih di sini kok.”, kata Debo. Shilla tertawa kecil sebelum beranjak dari sisi adiknya. “Ya sudah, kalau begitu aku mau packing dulu. Sebelum berangkat aku akan ke sini lagi.”, kata Shilla sambil menyusul Sion keluar dari kamar rawat itu, “Oh ya, Rio.” “Ya?” Shilla tersenyum lebar sebelum keluar, “Aku senang akhirnya kamu mau memanggil aku dengan sebutan kakak.”, lalu pintu kamar itu tertutup pelan. Debo hanya diam tertegun. Ternyata banyak juga yang nggak aku tau tentang sahabatku sendiri. Bakalan susah, nih. Debo berusaha mengingat semua yang ia tahu tentang Rio. Kebiasaan Rio, hal yang dibenci Rio, gerak-gerik Rio. Bagaimana caranya agar ia tak terlihat mencurigakan. Debo tersentak saat mendengar ketukan yang lumayan keras. “Rio, kita mau jenguk nih!”, suara Ozy. Debo menarik nafas gugup, “Masuk.” Ozy memasuki kamar rawat itu sambil membawa sekeranjang cemilan. Disusul Obiet dan Cakka yang nggak bawa apa-apa. Ozy meletakkan bawaannya lalu duduk di samping ranjang sahabatnya itu, “Yo. Sudah baikan?” “Ya.”, jawab Debo, “Maaf kemarin aku mengusir kalian..” “Sudahlah. Kami ngerti kok kalo kamu masih pengen sendirian.”, kata Obiet sambil tersenyum, “Tadi kami katemu dokter yang ngerawat kamu. Katanya besok kamu udah bisa keluar dari rumah sakit.”, kata Obiet, disusul anggukan Cakka. “Tapi karena kamu masih syok sama kecelakaan itu, kayaknya kamu perlu pake kursi roda

dulu beberapa hari ini.”, kata Cakka. Debo mengangguk. Lalu ia teringat sesuatu yang sudah semestinya ia tanyakan, “Debo..”, desisnya, “Kapan Debo dimakamkan?” Cakka tersentak, “Rio.. kamu tau darimana..?” Jah, salah ngomong. Lagi-lagi Debo mendengus, “Dia.. Sudah meninggal, kan?” Obiet dan Ozy berpandangan, lalu mereka mengangguk, “Iya.. Pemakamannya besok sore. Malam ini jenazahnya akan dibawa pulang ke Bandung.” Debo menarik nafas panjang. Mencoba menerima kenyataan kalau tubuhnya memang sudah rusak berat,“Aku mau ikut..”, kata Debo pelan. Cakka mengangguk. “Baiklah, reservasi pesawatnya biar aku yang urus. Berangkatnya besok pagi.”, kata Cakka, “Ri.. Kami mau memberitahu kamu sesuatu.” Debo menatap Cakka bingung, “Soal?” “Soal operasi jantung Aren..”, kata Cakka. Lebih tepatnya, bisikan. “Bukannya dia akan operasi minggu depan?”, tanya Debo bingung. Lebih heran lagi saat melihat ketiga temannya berpandangan. Terlihat sekali mereka menyuruh satu sama lain untuk bicara. Debo tak sabar, “Heh. Ada apa sih?” Ozy menarik nafas, “Kemarin Aren sudah operasi. Tapi bukan operasi klep yang disuruh sama dokter.”, Ozy menggeleng dan menatap Obiet. “Iya.. Jadi..”, Obiet terlihat agak gugup, “Aren menjalani operasi transplantasi jantung. Sekarang dia masih tidur di ruang rawat pribadinya.” Debo terkejut sekali mendengarnya, “Transplantasi?” Ozy mengangguk, “Sebenarnya, malam setelah kamu dan Debo kecelakaan, Gabriel bicara pada Om Duta. Ia bilang, ia akan mendonorkan jantung Debo pada Aren. Lalu besoknya operasi itu dilakukan dan... Berhasil. Aren sehat seratus persen.” Debo masih terdiam dalam keterkejutannya. Ia sama sekali bingung mau berekspresi bagaimana. Aren memakai jantungku? Debo tertawa kecil. Kak Iyel. memang dialah orang yang paling mengerti mauku. Ozy memandang Rio—yang sedang tersenyum sedih—heran. “Rio?”, panggilnya. “Bahkan sampai jantungnya pun..”, Debo geleng-geleng kepala, “Sudahlah..” Obiet, Ozy dan Cakka berpandangan heran. Setelah kecelakaan itu, mereka merasa Rio menjadi aneh. Namun mereka berusaha maklum, mungkin saja karena kepala Rio terbentur terlalu keras, jadi ada sesuatu yang korslet dengan otak anak itu. Pikiran mereka. “Syukurlah kalau Aren selamat..”, kata Debo penuh rasa syukur. Cakka merasa aneh, “Kamu.. Nggak sedih? Sahabat kamu baru meninggal, lho..” Debo memejamkan matanya, “Aku sudah tau itu. Makanya kemarin aku minta kalian meninggalkan aku sendirian..”, Debo menatap tajam melalui sepasang mata Rio, “Kalian pikir, aku akan membiarkan kalian melihat aku menangis?” Obiet tertawa kecil, “Gaya ngomongmu itu.. Debo banget.” Debo tersentak, “Mana mungkin.”, katanya pendek. “Jadi? Kamu ikut ke Bandung, kan?”, tanya Ozy, “Langsung pulang?” “Memang buat apa kesini lagi?”, tanya Debo bingung. “Aren masih akan tidur satu minggu ke depan karena butuh adaptasi dengan jantung barunya. Kami pikir kamu mau disini dan mendampingi sampai dia bangun?”, tanya Ozy. Debo berpikir. Tentu saja, kalau aku ini Rio, maka aku bakalan menunggu di samping Aren sampai ia membuka matanya. Rio kan sangat... Debo tersenyum pahit. Rio sangat mencintai Aren. Sampai dia mati. Debo menggeleng. “Aku pikir.. Aku akan ke Bandung aja..”, putusnya. Lebih baik aku beradaptasi dengan sekitarku sebelum Aren bangun. Bisa gawat kalau aku masih canggung seperti ini. Bisa-bisa dia tahu kalau aku ini sebenarnya Debo. Debo menghela nafas lagi. Toh akhirnya dia akan tahu. Aku memang harus segera menuntaskan urusanku sih, tapi... “Kamu..”, Cakka heran, “Tumben. Biasanya kamu ini maunya 24 jam di samping Aren.”, kata Cakka. Obiet dan Ozy ikut mengangguk. “Dia itu sudah menolakku.”, kata Debo, “Aku masih..”, Debo tak melanjutkan kata-katanya. Berharap sahabatnya akan maklum dengan jawabannya, “Yang ia harapkan itu Debo, bukan aku..”, kata Debo lirih. Semoga mereka percaya, semoga mereka percaya... “Tapi—“ Obiet menahan ucapan Ozy dan menggeleng, “Sudahlah.”, bisiknya, “Kalau gitu, kami akan pesan empat seat buat keberangkatan besok pagi. Lebih baik kamu hubungi keluargamu untuk menjemput di Bandung.”

Debo menggeleng, “Nggak. Kak Shilla dan Sion besok kuliah. Aku nggak mau mengganggu mereka. Nanti kan bisa pake taksi.”, kata Debo. Ozy mengangkat sebelah alisnya dan menatap Debo dengan pandangan tak percaya. “KAK Shilla?”, sindirnya. Debo memejamkan matanya. Salah lagi. kenapa sih, Ozy itu kelewat jenius? Sedikit saja aku lengah, dia langsung sadar. “Ada yang salah? Dia itu kakakku.”, Debo menatap Ozy tajam, “Awas lo.” Ozy tertawa kecil, “Tetap aja Rio—si adik protektif.” “Sudah ah. Kita belum sarapan nih.”, kata Cakka sambil memegang perutnya, “Kamu sudah saparan belum, Ri? Mau kami bawakan makanan?” Debo mengangguk cepat, “Apa saja yang kalian makan, deh. Aku nggak tahan makanan rumah sakit. Dan aku benci cairan ini.”, kata Debo sambil memamerkan infusnya. “Baiklah.”, kata Obiet, “Kalo gitu, kami cari makan sebentar. Nanti kita makan sama-sama.”, katanya dengan cool, “Atau.. Kamu mau salah satu dari kami tetap disini?” Debo menggeleng, “Aku sendirian saja di sini.” Ketiga temannya itu mengangguk cepat, “Pergi sebentar, ya.” Debo menghela nafas lega saat akhirnya pintu kamar rawatnya tertutup, “Astaga.. Berapa kali aku salah ngomong? Gimana ke depannya? Ini gawat..”, bisik Debo pada dirinya sendiri, “Sepertinya, memang aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini ya, Rio..” Debo tertawa pahit. -Keesokan pagi, Rumah Sakit Hasan Karaage... “Bawaanmu cuma ini, kan?”, tanya Obiet sambil membawakan ransel Rio. Debo mengerenyitkan dahi, “Mungkin.”, katanya sambil mengingat-ingat bawaan Rio. Cuma satu ransel, kan? Dan Ipod kesayangannya itu. Argh, sudah hancur saat kecelakaan itu. Debo mengancingkan kemejanya, “Barang-barang berhargaku hancur lebur di kecelakaan itu. Sampai Bandung, kalian harus temani aku belanja.” “Belanja bulanan?”, tanya Cakka sambil main PSP. “Iya, bulanan.”, jawab Debo, “Ipod, handphone.. Itu bulanan.”, katanya sengak. Mereka sekarang sedang menjemput Rio di rumah sakit. Menjemput Debo yang ada di badan Rio. Ya begitulah. Obiet yang bertugas membereskan barang-barang Rio, Cakka membereskan barang Debo, dan Ozy yang memesan tiket pesawat. Sedan Rio, dibawa oleh Shilla dan Sion karena tubuh Rio masih susah dikendalikan. Akhirnya yang berperan itu Neo Baleno-nya Ozy. “Umm...”, kata Debo, “Sebelum ke Bandung, aku mau menjenguk Aren sebentar.” Obiet dan Cakka mengangguk setuju. Debo menghampiri Cakka, “Sini tasku..” Cakka memandang Rio bingung, “Ini tas Debo, mau kamu bawa juga?” “Tasmu yang ini, kan? Rio?”, tanya Obiet sambil mengacungkan ransel marron. Ups. Arrghh, lagi-lagi. Debo pasang tampang acuh, “Yah, siapa tau tas Debo berat.”, kata Debo sambil menyandang tas Rio. “Yo.”, Ozy masuk sambil ngacungin empat tiket, “Setengah jam lagi kita udah harus ada di bandara.”, katanya sambil bagiin tiket pesawat. “Oke..”, jawab semuanya. “Umm..”, Debo menatap temen-temennya, “Bisa aku jenguk Aren sebentar?” “Boleh saja..”, kata Ozy, “Tapi nggak bisa lama-lama ya. Kita harus sampe di Bandung tepat waktu. Soalnya aku nggak mau ketinggalan upacaranya.” Debo mengangguk. “Ya udah, aku sama Cakka ke mobil duluan ya. Lo antar Rio ke kamar Debo.”, kata Obiet. Ozy mengangguk. Ia mengambil kursi roda untuk Rio. Debo bingung. “Apaan nih?”, tanya Debo. “Lah, kan aku udah bilang kamu mesti pake kursi roda beberapa hari.”, kata Ozy. Debo langsung menggeleng. “Ogah.”, katanya keras kepala, “Jalan aja. Kamar Aren yang mana?” Ozy menghela nafas, “Akhir-akhir ini sifat ngototmu nambah parah, deh.” Debo tak ambil peduli. Satu saja kesalahan kecil dalam omongannya di depan Ozy, sama saja menggali lubang kubur sendiri. Akhirnya ia hanya berjalan dalam diam mengikuti langkah Ozy. Sesampainya di depan kamar Aren, Debo berbalik. “Zy, maaf. Tapi.. Bisa tinggalkan aku

berdua sama Aren?”, tanyanya. “Nggak masalah. Jangan lama-lama ya.”, kata Ozy sambil beranjak menuju bangku, “Aku tunggu disini.”, katanya sambil pasangn pose duduk sambil tidur. Debo menghela nafas lalu masuk ke kamar rawat Aren. Sedang tak ada penjenguk maupun perawat yang biasanya memenuhi ruangan kecil itu. Debo melihat Aren terbaring dalam keadaan tidur. Berbagai macam mesin menyambung ke tubuhnya, sama banyak dengan selang yang berseliweran demi menyokong hidupnya. Debo mendekati ranjang Aren dan duduk di samping gadis itu. “Aren..”, bisiknya sambil menggenggam tangan Aren, “Kamu bisa denger aku?” Tentu saja Aren hanya diam dan tetap tertidur. Debo tersenyum pedih. “Ini aku, Ren.. Aku Debo..”, lirihnya, “Apa jantungku masih berdetak di dalam sana? Apa dia bekerja dengan baik buat kamu?”, tanya Debo lagi. Aren tetap tak menjawab. Debo menggenggam tangan mungil itu makin kencang. Dibawanya tangan itu ke dahinya. Debo memejamkan matanya. ‘Aren, aku cinta sama kamu. Aku ingin menjaga kamu lebih lama. Maafkan aku, maafkan Rio. Karena kami hanya bisa membuat kamu bersedih...’ Debo menghela nafas, mencoba bertahan untuk tidak menangis. Perlahan, ia bangkit berdiri. “Kita bertemu di Bandung ya.”, bisik Debo. Ia berbalik, hendak meninggalkan ruangan itu. Namun sekonyong-konyong ia merasa ujung kemejanya ditarik oleh tangan yang mungil. Debo berbalik dan terkejut. Ia menemukan Aren masih memejamkan mata. “Debo..”, lirihnya, “Jangan pergi lagi.. dasar bodoh..” Dia memanggilku siapa? Debo? Debo menatap Aren yang sedang tidur itu tak percaya. Ia langsung melambaikan tangannya di depan wajah Aren dan menghela nafas lega, “Mengigau..”, desis Debo. Kamu benar, Ren. Ini aku, Debo.. “Lho, Rio?” Kontan Debo langsung menoleh pada sumber suara. Dia tersenyum canggung pada ketiga orang yang dikenalnya itu, “Ah.. Tante Ira, Om Duta, Kak Riko..”, sapa Debo. Berusaha sesopan mungkin seperti kelakuan Rio yang sebenarnya. “Kamu sudah bisa jalan?”, tanya Bu Ira kaget, “Syukurlah.. Beruntung sekali.” Debo hanya mengangguk. “Kabarnya kamu akan langsung ke Bandung?”, tanya Pak Duta sambil masuk. “Iya. Sebelum saya pulang, saya memang berniat menjenguk Aren..”, kata Debo agak terbata, “Maaf, saya lancang.. Asal masuk saja..” “Sudahlah..”, kata Bu Ira sambil mendekati Aren, “Kamu sudah mau berangkat? Tadi aku melihat Ozy malah tidur di kursi. Obiet dan Cakka sih, sudah pamitan.” Debo mengagguk, “Kalau begitu, saya pamit dulu.” “Kami akan berangkat dengan pesawat setelah kalian, dan langsung ke pemakaman Debo.”, kata Riko, “Terus langsung balik ke sini lagi.” “Baiklah. Saya.. Duluan.”, kata Debo dengan bahasa sesopan yang ia bisa. Tanpa pikir panjang, ia keluar dari kamar rawat dan membangunkan Ozy. “Heh. Bangun.”, panggil Debo sambil menggoncang tubuh Ozy. “Ugh..”, Ozy ngulet lalu nguap, “Udahan, jenguknya?” Debo mengangguk, “Ayo kita ke bandara.” --Pandangan Debo tak beralih dari nisan berwarna putih yang tertancap di atas tanah. Di hadapannya tanah yang sedikit cembung, pertanda ada tubuhnya di dalam sana. Debo terus memandangi fotonya, bersama dengan buket lili putih dan rosario perak yang tak pernah ia lepas dari tubuhnya. Debo tertawa pahit. Rasanya aneh sekali menghadiri pemakaman tubuhku sendiri. Debo memperhatikan sekitarnya. Ozy, Obiet dan Cakka bertiga paling depan memakai setelan hitam. Wajah mereka sangat murung. Ada juga keluarga Aren yang bersandingan dengan Gabriel. Oik masih menangis. Beberapa kerabat, rekan artis dan teman sekolahnya datang. Namun perhatian Debo tertuju pada seorang wanita yang terus menangis sambil bersimpuh di tanah kuburnya. Ia dirangkul dan dihibur oleh seorang pria yang juga sedang menangis. Ayah, dan ibunya. “Anakku.. Kenapa, kenapa?”, tangis Ibu Debo terdengar makin perih, “Debo..”

“Ma, sudah.. Nanti kalau Mama terus-terusan nggak merelakan Debo, dia nggak akan bisa beristirahat dengan tenang..”, hibur Ayah Debo. Ibu Debo menutup mulutnya, “Dia masih sangat muda, Pa.. Kenapa harus dia..” “Ma.. Udah ma, sabar ya..”, Gabriel ikut menenangkan ibunya yang sedari tadi menangis. Ibu Debo memegang dadanya dan tubuhnya agak terlonjak. Gabriel dan ayahnya panik melihatnya. Debo, otomatis langsung menghampiri ibunya. “Astaga!”, teriak Debo sambil ikut menahan tubuh ibunya yang melemah, “Asmanya kumat ya? Bertahan Ma..”, Debo menggeleng, “Tante!” Ayah Debo dan GAbriel memandang Debo bingung, “Rio?” “Kenapa malah ngeliatin aku kayak gitu? Bawa langsung ke mobil, di sana kan ada inhaler!”, teriak Debo panik, “Biar aku sama Gabriel yang ngangkat Tante..” “I.. Iya. Iyel, Papa ke mobil dulu, kamu tolong angkat Mama ya.”, kata Ayah Debo sambil berlari ke arah mobilnya. Gabriel dan Debo—yang masih ada di dalam badan Rio—langsung mengangkat ibu mereka yang pingsan karena terlalu syok dan sedih. Setelah menggotong wanita itu ke dalam sedan, Rio kembali ke pemakaman ditemani Gabriel. “Makasih, Rio..”, kata Gabriel. Debo tersenyum pahit. Mama, Papa.. Debo kembali ke tempatnya berdiri tadi, tepat di hadapan makamnya. Kakak.. Semuanya.. Debo sudah mati. Tapi aku ada di sini.. Debo memejamkan matanya sampai kelopak matanya terasa sakit. Ia ingin menangis rasanya, saat melihat ibunya meraung di atas tanah kuburnya. Saat asma wanita yang sangat disayanginya itu kumat di hadapannya. Juga saat ayah dan kakaknya meneteskan air mata, menangisi kepergiannya. Debo menahan tangisnya. Kalian semua salah. Bukan aku yang sudah pergi, bukan aku, bukan Debo... “Rio..”, Obiet menepuk pundak sahabatnya, “Upacaranya sudah selesai.” “Iya, Ri. Kamu mau sampe kapan disini?”, tanya Cakka, “Kamu mesti istirahat.” Debo menggeleng, “Tinggalkan aku sendiri.” “Tapi, Ri..” “Kumohon..”, bisik Debo lirih. Obiet dan Cakka berpandangan cemas. OZy menghela nafas pelan. Ia menepuk pundak Obiet dan Cakka. “Sudahlah, ada baiknya ia ditinggal sendirian.”, kata Ozy. “Nanti Rio pulang sama siapa?”, tanya Cakka cemas. “Sudahlah, aku bisa naik taksi.”, kata Debo, “Please, tinggalin aku sendiri.” Ozy mengangguk dan mengajak kedua temannya menjauh, “Kami duluan, Ri. Jangan terlalu lama disini.” Debo hanya diam. Ia tak memperhatikan saat Ozy memandanginya dengan tatapan penuh kecurigaan. Cakka dan Obiet sampai bingung. “Zy?”, panggil Obiet, “Mandangin Rio segitunya?” Ozy masih mengerenyitkan dahi dan memandangi gerak-gerik Rio, “Kalian sama sekali nggak curiga sama dia? Nggak ngerasa ada yang aneh?” Obiet dan Cakka berpandangan heran, “Maksudnya?” “Mungkin..”, Ozy menggeleng pelan, “Nggak sih. Cuma kayaknya.. Setelah kecelakaan itu, Rio jadi.. Ah, sudahlah. Dugaanku terlalu berlebihan..”, kata Ozy sambil mendahului Cakka dan Obiet menuju ke Harrier-nya. Dua orang itu berpandangan dan angkat bahu. Ozy manghidupkan mesin mobilnya. Rio. Debo. Entah kenapa sejak kecelakaan itu sikap Rio agak tidak manusiawi. Nggak seperti Rio yang dulu, malah lebih condong ke Debo... Ozy tertawa kecil. Bodoh, mana mungkin, kan? “Jalan?”, tanya Cakka yang baru duduk di bangku belakang. Obiet mendampingi Ozy duduk di depan. Obiet mengangguk. Ozy melajukan mobil gedenya itu. Debo masih berdiri diam di hadapan makam itu. Satu per satu orang sudah pergi dari sana. Menyisakan tangis yang menyayat hati. Gabriel sudah berkali-kali mengajaknya pulang bareng, namun Debo menolak. Keluarga Aren pun tidak digubrisnya. Mereka semua menyangka Rio terlalu syok atau pun merasa bersalah pada Debo yang pergi mendahuluinya. Tidak. Bukan itu yang membuat hati Debo sakit. “Debo..”, Debo berlutut di hadapan makamnya sendiri setelah memastikan semua orang sudah pulang, “Tubuhmu sudah berpulang, ya.” Bayangan-bayangan masa lalu berputar di otaknya. Hidupnya yang singkat, serta

kematiannya yang secepat kilat. Semua yang ia lalui dan jalani bersama orang-orang terdekatnya. Pada akhirnya, semua orang akan kembali ke asalnya. Onggokan tanah yang suci. Debo menatap fotonya lekat-lekat. Disentuhnya rosario perak yang dipakainya selama dua belas tahun. Tanah itu masih terasa sangat basah dan segar. “Semestinya aku sudah mati..”, lirihnya, “Semestinya aku nggak disini. Semestinya aku dan Rio..”, Debo terdiam lagi. Tatapannya seakan terkunci di sana. Rintik hujan sama sekali tak dihiraukannya, walaupun kemeja hitamnya mulai basah. Seluruh penjuru pemakaman disiram oleh tetesan air dari langit. Seolah awan mendung pun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Debo. “Rio.. Mereka menangisiku.. Mestinya mereka menangis untukmu, berdoa untukmu..”, bisik Debo sambil memeluk lengannya, “Mestinya mereka..” Debo tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya. Bahkan ia tak mampu lagi mendengar suaranya sendiri saat suara hujan berhasil mengalahkan kata-katanya. Debo menengadah, seolah menantang hujan untuk turun lebih deras. Di makam itu, rasa kehilangan seroang sahabat dirasakannya berkali-kali lipat. Bukan, bukan dia yang sudah tiada. Bukan seorang Debo. Namun seorang Rio. Walau tubuh Rio masih ada di muka bumi ini, namun jiwanyalah yang telah berpulang. Debo tetap berlutut di sana. Sementara hujan turun makin lama makin deras, bagaikan salam perpisahan pada tubuh seorang Andryos. Sampai-sampai Debo tak dapat lagi membedakan air yang mengalir di wajahnya adalah air hujan, atau air matanya sendiri.

Debo is Rio - Part 12
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 22, 2010 at 1:45pm in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

“Aku sudah kenyang..”, kata Debo sambil meletakkan piring kotor di wastafel. Shilla tersenyum senang melihatnya. “Ternyata walau tinggal sendiri, kamu rapih ya.”, ujarnya. Debo angkat bahu. Biasanya Rio bakalan membiarkan piring kotor di mejanya dan menunggu pembantunya membereskan. Tapi, Debo sudah terbiasa membereskan sendiri piring kotornya. “Kakak nggak apa-apa menjengukku? Bukannya masih ada kuliah?”, tanya Debo. Shilla menggeleng, “Aku sudah izin kok. Kalau Sion, dia ada UTS.” “Siapa yang mau bertemu dia.”, kata Debo dingin. Shilla tertawa kecil. “Dasar kalian.”, Shilla ikut meletakkan piring di wastafel, “Minggu depan ayah dan ibu baru kembali dari Amrik. Kamu balik ke Surabaya, ya?” Debo agak tersentak, “Pulang ke Surabaya?”, tanyanya gugup. Aduh, ini lebih gawat. Aku nggak ngerti gimana bersikap di hadapan orang tua Rio. Mereka kan nggak begitu akur. Namun Debo hanya mengangguk kecil, “Ya..” “Tumben langsung mau.”, goda Shilla, “Biasanya mesti dibujuk sampai mulutku berbusa-busa ngomong, baru kamu mau pulang.” Debo juga tahu itu. Rio pulang ke Surabaya hanya paling tiga sampai empat bulan sekali. Sisanya Shilla dan Sion yang sering datang ke Bandung. Debo melirik ke arah jam dinding, “Kak, aku ada janji keluar sama anak-anak.” Shilla mengangguk. --“Sejak kapan..”, Cakka melongo mandangin skor yang terus dan terus bertambah, “Kamu jadi jago main Time Crisis? Mana udah level akhir, lagi!” Debo tak ambil peduli dan terus berkonsentrasi pada pistol mainannya itu. Obiet yang ikutan nimbrung juga cengok, “Wah... Nyawanya masih empat?” “Diem ah, bos besar nih!”, hardik Debo sambil habis-habisan melawan si bos. Sayang banget, empat nyawanya langsung habis dalam waktu singkat. Debo mendengus kesal dan meletakkan si pistol sambil menggerutu, “Cih. Kalah mulu. Dari jaman kapan tau..”

“Nggak main basket, Ri?”, tanya Obiet sambil mengikuti Rio ke arah Pizza Hut. Debo menggeleng, “Nggak ah. Males.” “Biasanya kalo ke Timezone, kamu langsung nyerbu basket.”, kata Cakka. Sekali lagi. Debo angkat bahu, “Lenganku masih nggak enak.”, jawabnya asal, “Lagian kalo nggak ada rival, main basket tuh nggak asik.” Obiet dan Cakka hanya diam memperhatikan Rio. Sudah satu minggu berlalu sejak Debo dimakamkan. Artinya, sudah selama itu pula Debo berpura-pura menjadi Rio. Awalnya sangat sulit memang, bahkan sampai sekarang pun semuanya masih terasa janggal. Namun Debo tetap menyembunyikan semuanya rapat-rapat. “Kayaknya sejak kematian Debo, dia jadi syok ya.”, bisik Obiet. Cakka mengangguk, “Gimana pun juga, mereka tuh sobatan banget..” Mereka angkat bahu dan masuk ke Pizza Hut. Obiet dan Cakka sibuk memilih-milih apa yang mau dipesan setelah pelayan Pizza memberikan daftar menu. Lain halnya dengan Debo yang sama sekali tak menyentuh daftar menu. “Spaghetti bolognaise sama jus jeruk ya.”, kata Debo langsung. Si pelayan mengangguk dan mencatat. Obiet dan Cakka sama sekali tak ambil peduli. Mereka memesan pesanan favorit masing-masing dan makan sambil diem-dieman. “Nanti aku mau cari N-95 yah.”, kata Debo sambil menghabiskan spaghetti-nya. Obiet dan Cakka berpandangan agak bingung, “N-95?” Debo mengangguk dan menyeruput habis jus jeruknya, “Iya, N-95. Emang kenapa? Jelek ya? Aku sih suka desainnya.” Obiet menggeleng, “Biasanya kamu suka ponsel Sony Ericsson.” “Lagian N-95 mah sama kayak HP Debo kan?”, tambah cakka dengan muka heran. Debo terdiam. Tapi ia hanya tertawa kecil, “Bosen sama SE.”, katanya sambil meletakkan selembar lima puluh ribuan di meja, “Aku ke ATM sebentar.” obiet dan Cakka melihat sahabat mereka itu dengan pandangan heran. “Aneh. Rio bukannya cinta mati sama hape SE ya?”, tanya Cakka. Obiet angkat bahu dan melihat ke arah piring dan gelas kosong yang barusan digunakan Rio. Setidaknya mereka melihat Debo sebagai Rio, sih. Wajah Obiet agak memucat. “Cak..”, bisik Obiet, “Rio bukannya benci banget sama jeruk, ya?” Sementara dirinya digosipin, Debo yang nggak tahu apa-apa berjalan menuju ATM center. Ia menghela nafas menanggapi cewek-cewek yang ngeliatin dia. Pindah ke badan Rio, sama saja bohong. Daritadi semua cewek kayak mau makan dia idup-idup. Debo berbelok dan memasuki salah satu gerai ATM. Dengan ragu-ragu, ia membuka dompet Rio. Debo mengambil salah satu kartu debit dari dompet hitam bermerk Billabong itu. “Oke, BNI..”, kata Debo sambil menghampiri salah satu mesin ATM. Langkah Debo terhenti saat ia merasa menjatuhkan sesuatu. Cowok itu mengerenyitkan dahi, lalu memungut kertas glossy itu. Debo langsung kaget melihatnya. Sebuah foto. Seorang cewek berambut sebahu. Aren. Sedang tersenyum lebar dan ditimpa sinar mentari. Terlihat sekali foto yang diambil diam-diam. Dan Rio menyimpan itu diam-diam. “Rio, kamu..”, Debo memandang foto itu lekat-lekat. Ia menyadari seberapa dalam perasaan sahabatnya itu pada gadis yang juga diinginkannya. Debo sekalipun tidak menyimpan foto Aren di dompetnya. Dan Rio melakukannya. Debo tersenyum pahit lalu mengembalikan foto itu pada tempatnya semula. Bagian paling dalam dompet Rio. Lalu ia mendekati mesin ATM dan memasukkan kartu ke dalamnya. Enter your four digit PIN number. Debo langsung tersentak melihatnya, “Sial!”, desis Debo, “Mana aku tahu nomer PIN ATM si Rio!”, Debo menghela nafas. Tentu saja banyak hal yang ia tak ketahui tentang sahabatnya sendiri. Ia mendengus kesal sambil berdiri melototin mesin ATM. Sampai seseorang menepuk bahunya pelan. “Rio?” Debo langsung berbalik dan menemukan wanita yang ia kenal, “Kak Shilla?” “Kamu kenapa? Bengong sambil ngeliatin mesin ATM dengan pandangan penuh dendam kayak gitu..”, tanya Shilla sambil melihat layar, “Masa.. Kamu lupa PIN kamu?” Debo hanya mengangguk bego. Shilla geleng-geleng kepala dan mengetikkan empat angka. Debo memperhatikannya baik-baik. Lagi-lagi ia tersentak melihat rangkaian angka itu. Tanggal ulang tahun Aren. Debo tersenyum pedih, “Oh iya.. Tentu saja password-nya itu..”, desisnya. Shilla bingung, “Apaan maksudnya ‘tentu saja’? Dasar aneh..”

“Huh.”, Debo mendengus, “Terserahlah.”, katanya sambil mengambil uang sekian juta dan memasukkannya ke dompet, “Aku mau ke Pizza Hut. Obiet sama Cakka nungguin.” “Oke..”, kata Shilla sambil tersenyum pada adiknya. Debo langsung ngeloyor ke Pizza Hut. Ozy yang ternyata sedari tadi berada di belakang Shilla, bertanya, “Rio kenapa, kak?” “Hhh.. Dia tuh ada-ada aja.”, kata Shilla. “Masa’ tadi aku yang masukin nomer PIN dia..” Ozy heran, “Kenapa? Masa’ seorang Rio lupa nomer PIN dia sendiri?” “Iya, dia lupa.”, kata Shilla sambil mengangguk yakin, “Tumben..” Ozy tak menjawab. Tumben? Terlalu banyak kata ‘tumben’ semenjak kecelakaan itu terjadi. Rio makin mirip dengan Debo. Gelagatnya, kelakuannya, sifatnya, sampai hal yang disukai... Dan dibenci... Ozy berusaha berpikir logis. Mustahil, kan? Debo menghampiri kedua sahabatnya yang bertengger di luar Pizza Hut. Obiet sedang menelpon, atau ditelepon. Cakka ikutan mendengarkan pembicaraan Obiet. Ekspresi mereka menunjukkan rasa senang. Debo langsung mendekati Cakka dan menyikutnya. “Ada apa nih?”, tanya Debo. Cakka menatapnya dengan sorot mata bersemangat. “Ri, ada kabar bagus!”, katanya. Obiet memutuskan ponselnya. “Bagus, dan mungkin.. Jelek di sisi lain..”, katanya sambil angkat bahu. “Maksudnya?”, tanya Debo bingung, “Kabar apa?” “Aren..”, kata Cakka sambil tersenyum lebar, “Aren sudah sadar...” --“Bagaimana perasaanmu?”, tanya Bu Ira sambil duduk di samping ranjang putrinya. Aren mengangguk sambil tersenyum. “Menyenangkan..”, katanya ceria, “Seperti punya jantung baru.” Bu Ira tersentak mendengar perkataan Aren barusan. Namun ia memaksakan diri tersenyum, “Luka bekas operasinya masih kerasa sakit?” Aren menggeleng, “Sama sekali enggak...” “Teknologi kedokteran disini memang hebat..”, kata Pak Duta sambil memeluk putrinya, “Syukurlah.. Papih seneng kamu sudah bangun lagi.” “Iya, nggak ada Aren, nggak rame..”, kata Riko “Mih, kapan Aren bisa pulang ke rumah?” tanya Aren. “Kata dokter, besok juga udah bisa pulang ke Bamdung. Tapi tetap harus check up ke dokter.”, jawab Bu Ira sambil mengusap rambut Aren yang terurai. “Hmm..”, Aren tersenyum, “Yang lain, udah pada pulang ya..” “Iya tuh.”, jawab Riko seperlunya. Takut Aren menanyakan yang lain. “Eh, Mamih mau ke administrasi dulu ya.”, kata Bu Ira sambil menarik lengan baju suaminya cepat, “Nanti Mamih ke sini lagi..”, sambungnya sambil cepat-cepat keluar. Pak Duta dapat melihat dengan jelas genangan air mata yang hampir menetes di pipi istrinya. Kiba duduk di bangku yang barusan dipakai ibunya. Bersiap menceritakan semuanya. “Kak”, panggil Aren “Rio... Dia udah pulang ke Bandung, ya?” Riko mengangguk, “Iya. Sama yang lain.”, jawabnya. Tuhan, jangan biarkan Aren bertanya yang itu, pertanyaan lain saja, Tuhan.. Aku mohon..., batin Riko. Aren mengangguk, “Aku nggak tau mesti bersikap gimana sama cowok yang baru aku tolak.. Duh, pasti nggak enak-nggak enakan deh.”, Aren nyengir dan menatap kakaknya, “Kalo.. Um.. Beberapa hari yang lalu, pas Aren masih tidur.. Apa Debo masuk dan ngejenguk?”, tanya Aren. Teringat akan mimpinya yang terlalu samar-samar. Riko menggeleng. “Seingat Kakak, yang ngejengukmu itu Rio..”, kata Riko, “Tepat sebelum dia pulang ke Bandung..”, sambungnya. “Cuma mimpi ya..”, desis Aren, “Debo juga udah pulang ya?” Riko terus menunduk, terlalu tak mampu untuk menjawab. Kenyataan ini akan terlalu pahit untuk diketahui adiknya. Aren mengerenyitkan dahi. “Kak?”, panggilnya. “Aren..”, Riko menghela nafas berat, “Cepat atau lambat juga kamu pasti tahu, sih..” Senyum di wajah Aren memudar, “Kak, ada apa, sih?” “Kakak minta kamu tabah ya. Sebenarnya..”, Riko menarik nafas panjang, “Sebelum mereka sempat mejenguk kamu disini, sedan yang mereka naiki.. kecelakaan.” Kali ini senyuman Aren benar-benar menghilang. Ia menatap Riko dengan pandangan kosong

dan tak percaya. Beberapa detik Aren hanya bisa diam sama sekali. Lalu reaksi kedua adalah tertawa. Aren tertawa kecil dan menatap kakaknya, “Kakak bercanda, ah. Siapa yang nyetir, coba? Rio sama Debo kan nyetirnya jago!” “Ban sedan Debo aus.. Lalu sedan mereka telat ngerem dan ditabrak oleh tronton besar.. Rio koma. Tapi sekarang dia sudah sembuh dan pulang ke Bandung..”, kata Riko panjang lebar. Ia mati-matian menahan emosinya agar nada bicaranya tetap normal. Aren masih tertawa kecil, “Lalu.. Debo?” Kali ini Riko menunduk dan terdiam. Kedua lengannya memeluk tubuh Aren erat-erat. Ia tak sanggup mengatakan kenyataan yang satu ini. Aren merasa jantungnya berdebar sangat keras. Ada nyeri yang tak terdefinisi di perutnya, entah kenapa. “Kak.. Bilang, Debo kenapa..”, kata Aren. Tawanya mulai berubah menjadi bergetar karena menahan tangis, “Kak, bilangg...” Aren merasa Riko menggeleng dalam pelukannya. Aren makin panik dan memukul pelan punggung kakaknya, “Kak, Debo nggak mati, kan? Bilang sama Aren kalo Debo juga ada di Bandung.. Kalo Debo nggak apa-apa..”, lirih Aren. “Debo sudah meninggal, Ren..”, kata Riko akhirnya. Ia terus memeluk Aren, merasa terlalu tak sanggup melihat ekspresi adiknya saat mendengar kata-katanya barusan, “Debo udah nggak ada.. Kakak mohon, kamu sabar..” Aren merasa waktu di dunia ini berhenti bersamaan dengan kata-kata kakaknya barusan. Ia sama sekali tak ingin mempercayai itu. Ini semua bohong. Ini konyol. Ini cuma mimpi. Debo meninggal? Lelucon macam apa, ini? Aren hanya bisa memandang kosong. Otaknya terlalu syok menerima kenyataan sepahit itu. Riko mengeratkan pelukannya. “Aren, kamu nggak apa-apa?”, tanyanya dengan suara agak bergetar. Aren sama sekali tak menjawab. Air matanya meleleh dan jatuh tanpa beban. Tawa barusan berubah menjadi isakan yang sangat pedih untuk didengar, “Bohong..” “Kakak nggak bohong..”, jawab Riko pelan, “Kakak ngerti ini berat banget buat..” “BOHONG!”, teriak Aren sambil melepaskan diri dari kakaknya. Air mata mengalir deras dari kedua bola mata birunya, “NGGAK MUNGKIN Debo ninggalin Aren! SEMUA BOHONG! BOHOOOONNNGGGG!!”, teriak Aren sambil menangis kencang. Riko berusaha menenangkan adiknya, “Aren, sabar.. Aren..!!” “LEPASIN...!!”, teriak Aren tak terkendali sambil memberontak dari pelukan Riko, “Debo nggak mungkin mati! Nggak mungkin! Dia udah janji sama Aren... Katanya dia bakalan jagain Aren... Debo... Argngghhh..”, Aren menangis bagai kesurupan. Ia menunduk dan membiarkan air matanya jatuh di sprei putih itu. Riko masih berusaha memeganginya, namun Aren terus juga memberontak. “Aren..” “NGGAK!! Aren nggak mau dioperasi-operasi lagi! AREN MAU MATI AJA SEKALIAN!!”, teriak Aren sambil memukul dadanya, “Bunuh aja aku, bunuh..”, isakan itu makin perih, “Ambil aja jantung Aren.. Dia udah nggak berguna.. Aren nggak mau..”, lirihnya sambil sesenggukan berat. Riko menggeleng, air matanya tak terasa meleleh. “Aren, dengerin Kakak.. Kamu nggak boleh mati! Jangan sekali-kali mikir kayak gitu!”, kata Riko sambil memeluk adiknya yang masih menangis hebat. Aren menggeleng keras, “Buat apa Aren lama-lama hidup dengan jantung kayak gini..”, isaknya. ‘Tuhan, ambil jantung ini! Cabut saja nyawaku sekalian!’ Nafas Aren memburu hebat, “Kenapa Aren nggak mati aja.. Kenapa..” “Kamu nggak boleh mati..”, bisik Riko, “Nggak, dengan jantung yang ada dalam badan kamu.. Jangan sia-siakan jantung dia..” Aren terkejut bukan main di tengah tangisnya, “Kakak.. Bilang apa tadi..?” “Maaf.. Kami bohong..”, kata Riko terbata, “Waktu itu.. Kamu bukan operasi klep.. tapi transplantasi jantung.. Karena Debo..”, Riko menunjuk dada kiri Aren, “Debo memberikan jantung dia.. Untuk kamu, Aren..” Tangisan dan isakan itu berhenti. Yang tersisa hanya tetes demi tetes air mata yang membasahi pipi dan hatinya. Aren menggeleng pelan, “Kakak.. Semua nggak bener, kan? Besok, saat Aren ke Bnadung, Debo akan ngejemput Aren, kan..?” Riko merasa hatinya diiris mendengar kata-kata adiknya. Lebih perih lagi saat ia harus menggelengkan kepalanya. Aren kembali menangis. “Debo... BODOH!!”, teriaknya sambil terisak keras, “Aku nggak butuh jantung kamu, dasar

bodoh...!! Aku nggak butuh, aku nggak BUTUH!!”, teriaknya lagi. Aren mengepalkan tangan di dada kirinya, merasakan denyutan di dalam sana. Jantung Debo yang berdetak untuknya. Jantung Debo yang mampu menopang hidup dan impiannya. “Aku nggak butuh jantungmu..”, isak Aren. Riko langsung memeluk adiknya yang terus dan terus sesenggukan. Ia tak mampu lagi berkata-kata, hanya berharap pelukannya mampu menghibur Aren. Sementara itu di balik dinding kamar Aren, Bu Ira hanya bisa berdiri sambil menangis tertahan. Perlahan, tubuhnya merosot sampai ia terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya di sana. Baginya, tak ada yang lebih menyakitkan dari tangisan perih darah dagingnya. Putri kandungnya. Sementara Pak Duta hanya bisa memeluk istrinya dan menahan tangis sekeras yang ia bisa. Berusaha menutup kedua telinganya dari suara tangisan tiga orang yang dicintainya. Walau ia tahu, sebesar apapun usahanya, ia tetap bisa mendengarnya. -“Aren pulangnya cepet amat, ya?”, kata Obiet, “Kemaren katanya mau pulang lusa.” Cakka angkat bahu, “Mungkin dia sudah nggak tahan, kangen sama kita-kita..” “Ada satu hal yang aku cemasin.”, kata Ozy, “Jangan-jangan, Aren sudah tahu kabar tentang Debo.. Makanya dia cepet-cepet pulang.” Debo menarik nafas panjang saat mendengar kata-kata itu terlontar dari bibir Ozy. Iya ya, Debo sudah meninggal.. Ia banyak diam dan menghabiskan waktu dengan mendengar lagu dari ipod barunya. Kalau dia nggak menyumpal telinganya dengan earphone, bisa-bisa Ozy curiga lagi. Debo mulai memilih-milih lagu. Umbrella. Nggak. Bisa mimisan dia kalo inget video klipnya Rihanna. Aryati. Buset, kurang jadul tuh lagu! Debo langsung pencet tombol ‘next’. Kucing Garong. Debo mendengus. Pasti Shilla yang iseng masukin. Menjaga hati. Bisa-bisa sedih lagi ingat kecelakaan yang membawa Rio pergi selamanya. Ganti. Sampai akhirnya jari Debo diam. Didengarkannya lagu itu. sebuah lagu duet. Lagu yang dinyanyikan Aren saat ia audisi. Aku dan Dirimu. Debo tersenyum pahit. Dimulai dari pertemuan itu, dan seakan kehidupan Debo dan Rio berubah drastis. Baru kali itu ia dan Rio bersaing demi seorang cewek. Debo ingat semuanya. Barulah terasa sangat berarti kehadiran seorang sahabat baginya. Persaingan itu seakan selesai dengan tidak adil. Debo tersentak saat Ozy menepuk pundaknya, “Eh? Aren udah nyampe?” Ozy tersenyum kecil, “Otakmu tuh.. Aren melulu.” Debo mendengus pelan. Baiklah, setidaknya reaksiku sudah bener, “Kenapa?” “Pesawatnya nyampe bentar lagi. Kamu tunggu sini bentar ama Cakka, aku dan Obiet mau beli minum. Kamu mau apa?”, tanya Ozy dengan tatapan mengawasi. “Jus je..”, Debo langsung meralat ucapannya, “Jambu.”, katanya sambil mengangguk yakin. Ozy menaikkan sebelah alisnya lalu mengangguk. “Oke deh.” Debo menghela nafas lega, “Hampir bilang jeruk..” Cakka berdiri saat mendengar berita kedatangan. Rupanya ada pesawat yang baru saja lepas landas. Obiet dan Ozy sampe balik lagi, nggak jadi beli minum. “Lah? Nyampe?”, tanya Obiet. Ozy mengangguk. “Nggak salah lagi.”, jawabnya yakin. “Duh, bingung nih mau berekspresi apa di depan Aren..”, keluh Cakka. “Lha, aku? Yang ditolak di depan kamera aja santai.”, kata Debo asal. Debo membiarkan ketiga temannya yang menyambut Aren. Toh dia sendiri bingung bagaimana harus bersikap di hadapan orang yang dicintainya itu. Terus, aku harus berpurapura jadi Rio di depan Aren? Orang yang cinta mati, baru ditolak, dan ceritanya aku ini menjaga Aren sebagai kekasih sahabatku yang sudah meninggal? Debo mendengus lagi. Ini bukan sulit lagi namanya... Debo teringat perkataan Rio sebelum tubuhnya tersaput kabut. ‘Ingatlah, tubuhku itu sebenarnya sudah mati. Kamu jangan terlalu lama mengulur waktu.’ Debo tertegun. Semestinya memang dia mempercepat urusannya yang satu itu. Lalu sesuai kata Rio, setelah selesai urusannya di dunia, maka sahabatnya itu akan menjemputnya untuk pergi ke dimensi lain. Debo agak ragu. Mestinya ini hal yang mudah, tapi apa iya semua bisa berjalan semudah itu? Debo merasa tak yakin.

“Aren...!!” Debo melihat ketiga temannya mengerubungi satu orang yang sedang duduk di kursi roda. Rambut sebahunya itu digelung, menampakkan wajahnya yang masih pucat dan matanya yang sangat sembab. Ia memakasakan tersenyum pada Cakka, Obiet, dan Ozy. Debo menatap sosok itu lekat-lekat. Ingin rasanya ia berari dan memeluknya. Namun diurungkan niatnya itu. Bisa-bisa Aren salah paham. “Ayo, ayo.. Aren harus cepat ke rumah sakit. Check up dulu.”, kata Bu Ira sambil mendorong kursi roda putrinya. pak Duta dan Riko mengangguk. “Sekarang, Tante?”, tanya Cakka. “Harus secepatnya kata dokter.”, jawab Pak Duta. Aren hanya diam dan tetap memaksa bibirnya untuk tersenyum. Namun senyum itu memudar saat berhadapan dengan sosok itu. Rio. Debo masih menatap Aren dari sepasang mata Rio. “Selamat datang, Aren..”, ucapnya lirih. Aren mendekatkan kursi rodanya pada Rio, “Antarkan aku ke makam Debo.” --Akhirnya, sekarang ia berada lagi di sini. Di hadapan nisan yang menancap di tanah kuburnya. Debo berdiri diam agak jauh dari Aren yang sedang berlutut di samping makamnya. Gadis berbaju hitam itu melarangnya untuk mendekat. “Debo..”, bisik Aren sambil tersenyum, “Kamu denger aku, kan..” Debo memejamkan matanya. Iya aku denger. Sangat jelas, malah. Aren merasa air mata menggenang lagi di pelupuk matanya, “Kamu bodoh, tau nggak.. Siapa yang butuh jantung kamu.. Siapa?”, isak Aren, “Aku nggak butuh..” Aren kembali mengepalkan tangan di dada kirinya. Detakan jantung itu makin cepat, namun sama sekali tak membuat Aren kehilangan kesadarannya. Jantung Debo bekerja baik di sana, terlalu baik bahkan. Terkadang Aren berharap ia pingsan saja agar tangisannya terputus. Namun keadaannya sekarang membuatnya selalu sadar sesakit apapun hatinya. Membuat air matanya terus membanjir tanpa jeda. Aren meraba tanah makam yang masih basah itu dan meneteskan air matanya di sana. “Debo..”, lirihnya sambil terus menangis, “Kamu janji.. Kamu janji jagain aku..”, kata-kata Aren terputus oleh isakannya sendiri. Kali itu Aren bersimpuh di hadapan makam Debo sambil terus menangis. Sebelah tangannya menggenggam rosario perak yang masih ada di sana. Isakan yang makin lama makin menyayat hati Debo yang berdiri dengan tubuh sahabatnya. Sekarang, ia berada di situasi yang sangat sulit. ‘Kenapa aku hanya bisa diam disini? Kenapa aku nggak bisa berkata kalau aku ini Debo? Aku ini Debo!’ Debo berusaha menulikan telinganya. Ia sangat tak tahan melihat gadis yang ingin ia jaga menangis. Menangisi kepergiannya, yang sebenarnya masih ada di sana. Debo bingung. Ia tak mampu meninggalkan Aren, namun ia juga tahu bahwa urusannya harus cepat diselesaikan. Katakan pada Aren sekarang kalau aku ini Debo? Debo menggeleng pelan. ‘Rio, aku nggak sanggup. Kalau aku bilang sekarang, maka ia akan kehilangan kamu juga. Aku belum siap Rio, maafkan aku...’ Akhirnya Debo hanya berdiam di sana sambil melihat sosok itu. Sosok yang dulu begitu tegar, kini berganti dengan seorang yang rapuh walau kesehatannya sangat baik. “Debo.. Kenapa kamu pergi..”, Aren hampir tak mampu lagi berkata-kata. Lamat-lamat Debo masih dapat mendengar tangisan Aren. Tentu saja. Tak mungkin Aren akan merelakan dengan mudah sosok orang yang memberikan jantung untuknya. Sosok orang yang dicintainya, namun tak sempat terucap. Debo menyesal sekarang. Tahu begini jadinya, kenapa juga tidak ia katakan dari dulu. Debo memejamkan matanya. Mendengar namanya terus disebut dari bibir gadis itu. Aren, aku disini. Aku Debo. Aku Debo. Aku Debo...

Debo is Rio - Part 13

• •

Posted by windi DO2RioZyAcha on March 23, 2010 at 5:18pm in Cerita Idola Send Message View Discussions

Cilik

“Nggak..”, desis Aren sambil memundurkan kepalanya, “Singkirkan itu.” Bu Ira menghela nafasnya sekali lagi, “Kalau kamu terus-terusan nggak mau makan kayak gini, nanti keadaan kamu drop lagi.”, Bu Ira kembali menyuapi putrinya. Dan kesekian kalinya, Aren menggeleng dan membuang muka. Membuat Bu Ira menyerah. “Mamih keluar sebentar ya..”, kata Bu Ira sambil meletakkan piring berisi bubur di meja. Ia kembali menangis di balik dinding kamar itu. Entah sampai kapan keadaan seperti ini akan berlangsung. Rupanya semenjak jantung Debo dicangkokkan pada Aren, keadaan mental putrinya itu makin mengerikan. Satu hari, Aren hanya mau makan satu kali. Itu pun sangat sedikit. Dia lebih banyak muram dan menangis. Terkadang Aren menatap hasil fotobox waktu mereka berkunjung ke Jakarta. Lalu Aren akan tertawa kecil dan menangis lagi. Begitu saja setelah tiga hari berlalu semenjak ia melayat ke makam Debo. Sahabatnya sama sekali tak berhasil menghiburnya. Tiga hari terakhir itu pula, Rio alias Debo menghilang. “Permisi..”, Bu Ira menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum dan menghapus air mata mereka, “Rio?” Debo mengangguk. “Kok lama nggak main ke sini?”, tanya Bu Ira. Debo menghela nafas. Gimana cara dia menjelaskan kalau dia butuh waktu untuk sendirian? Kalau dia nggak sanggup menghadapi Aren dengan tubuh sahabatnya? Debo memaksakan diri tersenyum, “Kemarin.. Ada pertemuan sama orang tua saya..”, jawab Debo. Akhirnya ia terbang juga ke Surabaya dan bertemu keluarga Rio selama dua hari. Pertemuan yang lumayan hangat, namun Debo merasa sangat canggung. “Umm.. Aren ada?”, tanya Debo sopan. “Ada, di dalam. Masuk saja.”, jawab Bu Ira. Debo mengangguk dan memutar kenop pintu. Langkahnya tertahan oleh kalimat Bu Ira, “Hibur dia, saya mohon..” Debo menatap mata sedih itu dan mengangguk, “Saya harap, saya bisa..” Debo menarik nafas panjang dan masuk ke dalam kamar Aren. Agak tersentak juga ia melihat keadaan Aren yang seperti mayat hidup itu. Mata yang menerawang kosong, kulit yang pucat, rambut yang dibiarkan tergerai, dan dirinya yang terasa tidak hidup. Seakan jiwa Aren sudah nggak ada di tempat itu. Debo mendekatinya. “Aren?”, panggilnya. Gadis itu menolehkan kepalanya perlahan dan tertawa kecil, “Rio..” “Iya, aku Rio.” “Nanti Debo akan menyusul ke sini, kan?”, lirih Aren dengan nada bicara mengapung, “Iya kan, Rio? Dia bilang dia mau menjenguk aku sebelum aku operasi..” Debo mencelos mendengarnya, “Aren.. Debo itu..” “Debo janji begitu.”, kata Aren datar. Matanya yang kosong mulai mengalirkan air lagi, “Debo janji akan ngejaga aku.. Akan di samping aku...” “Cukup, Ren..”, bisik Debo sambil menatap ke sepasang bola mata yang kini meredup, “Sampai kapan kamu mau nyiksa diri kamu sendiri..?” Lagi, Aren hanya tertawa miris. Lalu suara tawa itu berubah menjadi isakan. Debo menghela nafas melihatnya. Rupanya keadaan Aren belum berubah semenjak terakhir ia melihatnya. Bahkan lebih parah. Ketegaran itu sama sekali tak tersisa. “Kenapa harus Debo..”, lirih Aren. “Aren..”, bisik Debo. “Kenapa.. Kenapa..”, isaknya lagi. Debo akhirnya mendekati Aren. Berusaha sebisa mungkin untuk terlihat seperti Rio. Walau Debo sendiri bingung, untuk apa dia melakukan ini? Kenapa nggak sekalian dia mengakui semuanya, dan selesailah urusannya. Nggak semudah itu. Andai saja aku bisa cepat-cepat mengaku padanya. “Ren.. Apa kepergian Debo sebegitu menyedihkannya.. Sampai kamu begini...” “Kamu nggak ngerti, Rio.. Kamu nggak ngerti..”, isak Aren. “Apa yang aku nggak ngerti, heh?”, tanya Debo. “Ini jantung dia, Ri..”, ujar Aren sambil menunjuk dada kirinya, “Kamu pikir.. Aku bisa

ngelupain dia semudah itu.. Nggak bisa, Rio..”, isak Aren, “Sampai kapan pun, jantung Debo akan terus ada di sini.. Selama itu juga aku akan inget terus sama dia..” Debo memejamkan matanya. Menahan air matanya yang menunggu untuk jatuh, “Debo bisa nangis di atas sana kalo ngeliat kamu jadi kayak gini...” Aren sama sekali tak menjawab. Ia menunduk dan terus menangis. “Debo memberikan jantungnya buat kamu.. Bukan untuk dipakai menangis terus-terusan..”, kata Debo lagi, “Tapi agar kamu bisa hidup bahagia..” Aren menggeleng, “Bilang sama aku, gimana cara aku bahagia tanpa dia, Rio..” Debo tersentak mendengar perkataan Aren barusan. Ia tak tahu lagi harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanya mengatakan satu hal yang sama sekali tak ia duga, “Apa aku nggak bisa menggantikan dia?” Mendengarnya, sepasang mata Aren itu membelalak. Lagi, Aren melotot, “Rio.. Kamu..” “Iya, aku.”, Debo sudah bingung mau bicara apa. Terlanjur ia mengatakan hal itu dengan tubuh Rio, “Apa aku nggak bisa menjadi penggantinya?” Aren terlihat berpikir dalam tangisnya. Rasa sedih yang mendalam masih dirasakannya, namun rasa bersalah pada Rio juga masih membekas. Ia memalingkan wajahnya. Debo menghela nafas. Rio, maafkan aku. Aku juga nggak mau mengulur waktu, tapi aku nggak sanggup meninggalkan dia.. Kalaupun dia harus memandangku sebagai kamu, kalaupun aku mesti menderita, aku rela.. Asal di samping dia... “Aku nggak bisa, Rio..”, lirih Aren, “Nggak bisa..” Debo menunduk. “Tolong tinggalkan aku sendiri, Ri..”, kata Aren sambil kembali ke posisi tidur. “Baiklah.”, kata Debo. Ia berbalik dan memutar kenop pintu, siap untuk keluar. Namun ia menoleh sekali lagi, “Aku juga cinta sama kamu, Aren..” Aren tak menjawab. Ia memejamkan kedua matanya erat-erat. Debo menutup pintu di belakangnya. Meninggalkan Aren yang kembali menangis perih. --“Buat apa kamu lakukan itu?” Debo, dalam wujud aslinya. Ia kembali berada di perbatasan yang sama. Mungkin karena keinginannya yang sangat kuat untuk bertemu dengan sahabatnya, mimpi itu terulang kembali. Debo menunduk. Tak mampu menatap mata sahabatnya. “Aku..”, Debo menelan ludah, “Aku nggak tau lagi mesti gimana menghadapi dia yang terusterusan nangis, Ri.. Aku nggak bisa ngadepin ini semua sendirian.” Rio menghela nafas, “Kamu tuh. Aku sudah tenang-tenang di alam sana, juga..” “Maaf..”, bisik Debo. “Bisa-bisa Aren nganggap aku ini lelaki yang ngotot dan pengen nyamber cewek yang baru ditinggal mati sama sobatnya sendiri.”, kata Rio sambil tertawa kecil. “Maaf..”, kata Debo makin depresi, “Aku nggak tau lagi mesti gimana.. Nggak tau.. Apa yang mesti aku lakuin...” Rio angkat bahu, “Aku nggak mau ikut campur, De.” “Aku mesti apa? Setiap kali aku mau menuntaskan semuanya, setiap kali itu juga dia menangis, Ri. Mana tega aku ninggalin dia dalam keadaan kayak gitu?”, lirih Debo. Kali ini Rio tak bisa berkata-kata. Jantung Debo dicangkokkan, tubuh yang ia relakan untuk dipinjam sahabatnya ternyata malah membuat keadaan makin kacau. Sampai-sampai jiwanya yang sudah tenang kembali terusik oleh sahabatnya yang meminta bantuan. “Pokoknya kamu mesti cabut kata-katamu yang kemarin, ya.”, kata Rio, “Aku sama sekali nggak pernah berniat untuk menjadi pengganti kamu.” Debo menunduk makin dalam, “Aku tahu.. Maafkan aku, sekali lagi..” “Maaf juga. Aku bisanya hanya melihat kamu yang sedang bimbang.”, kata Rio, “Tapi aku nggak bisa melakukan apapun, selain berdoa untuk kamu..” “Kamu terlalu banyak berkorban, Ri..”, lirih Debo. Rio tersenyum hangat, “Pokoknya cepat selesaikan urusanmu.” “Aku nggak kuat liat dia nangis terus..”, lirih Debo. “Kamu harus kuat, De.”, kata Rio. Tubuhnya lagi-lagi tersaput kabut tebal, “Karena aku nggak bisa mendampingi kamu lagi.” Lagi-lagi Debo harus pasrah saat pusaran yang sama menyedot tubuhnya. Ia kembali terbangun di dalam tubuh yang sama. Dan tetap saja ia tak menemukan jawabannya. Debo

melirik ke arah jam dinding yang menunjuk ke angka delapan. Matahari sudah mulai menerangi bumi. Artinya Debo sudah tidur sejak kemarin sore sampai pagi lagi. Aneh. Nggak biasanya aku tidur selama ini. Debo merasa tubuhnya sangat tidak enak. Ia bangun dan duduk di ranjang Rio yang selama ini menemani tidurnya. Debo memandang cermin besar yang memantulkan tubuhnya. Tubuh Rio. Tubuh atletis yang menggoda setiap gadis untuk melirik. Wajah yang lebih dari cukup untuk membuat semua wanita bertekuk lutut. Tapi, ada juga gadis yang sama sekali menolak tubuh ini. Debo menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh itu. Meninggalkannya hanya dengan celana panjang jeans yang dipakainya seharian kemarin. (Siapa sih, yang nggak mau liat Rio lagi topless? hehe). Debo hendak beranjak ke kamar mandi untuk mandi. “Arghh..”, Debo berteriak tertahan saat tubuhnya menolak untuk digerakkan. Bukan rasa sakit ataupun lelah, namun Debo merasa tubuh itu sangat berat. Debo menopang badannya dan berusaha berdiri. Percuma. Tubuh Rio sangat sulit untuk ia kendalikan. Berkali-kali Debo jatuh. Wajah itu memucat. “Ada apa ini.. Kenapa tubuhku..”, Debo berlutut sambil memeluk lengannya. Saat itu juga ia teringat kata-kata Rio. Karena sebenarnya tubuh itu sudah mati. Tentu saja Debo tidak mempunyai cukup tenaga untuk berlama-lama di dalam tubuh itu. “Sial!”, teriaknya sambil berusaha untuk menyandar di ranjangnya, “Kumohon.. Bertahanlah..”, bisiknya sambil terus memeluk lengannya, “Sampai besok saja.. Sampai besok saja..”, lirihnya. Debo berusaha berdiri. Debo berusaha bergerak. Walau ia tahu, kalau jiwanya sudah sangat tak mungkin melakukan itu. Sampai besok, saja.. Aku mohon... --Debo datang ke rumah sakit itu dengan langkah gontai. Ia memaksakan dirinya habis-habisan untuk bisa berjalan dan menyetir sampai ke sana. “Nggak tau!”, kata Bu Ira panik. “Tapi kan tadi dia ada di sini, Mih!”, teriak Riko bingung. Debo yang melihat ada kericuhan di sana langsung menghampiri Bu Ira dan Riko. “Kak Riko? Tante?”, sapa Debo, “Ada apa?” “Rio..”, Bu Ira memandang Debo dengan wajah sangat cemas, “Aren.. Aren hilang..”, katanya diiringi anggukan Riko. Debo kaget bukan main. “Hah? Hilang? Hilang gimana?” “Barusan Aren bilang mau jalan-jalan keliling rumah sakit. Terus Mamih membawa dia keluar dengan kursi roda.”, kata Riko, “Terus Aren bilang kalau dia haus. Mamih kan ke kantin rumah sakit, beli minum. Lalu..” Debo mengalihkan pandangannya pada Bu Ira. Wanita itu menahan tangisnya, “Lalu.. Tante kembali.. Tante nggak menemukan Aren di kursi roda.. Kata orang-orang, Aren berlari dan nyari taksi.. Pergi nggak tau kemana..” “Mih, sabar Mih.. Aren pasti ketemu kok..”, kata Riko sambil mengusap-usap bahu ibunya yang mulai menangis, “Papih sedang nyari Aren.” Debo tetap tak habis pikir, “Aneh. Memangnya Aren sudah kuat berjalan?” “Dia memang bisa berjalan sejak jantungnya diganti. Namun karena syok, kesehatannya jadi mundur lagi.”, kelas Riko, “Kamu punya ide nggak, kira-kira Aren pergi kemana?”, tanya Riko sambil melirik Rio. “Ini hanya dugaan..”, kata Debo lemah, “Makamnya Debo?” Riko menggeleng, “Papih sudah cek kesana setengah jam yang lalu.” “Areen.. Kamu kemana, sayangg..”, isak Bu Ira di bahu putranya. “Memangnya ponsel Aren nggak bisa dihubungi?”, tanya Debo. “Sudah dicoba. Tapi selalu nggak diangkat.”, jawab Riko, “Aku takut terjadi apa-apa..” Debo mengangguk. Aren, bodoh! Kenapa dia harus membuat keadaan makin kacau dengan kabur dari rumah sakit, sih! Debo mencoba berpikir jernih. Mendata kira-kira kemana Aren akan pergi. Ayo, Debo. Ingat-ingat! Perkirakan ia akan pergi kemana... Debo menggeleng pelan. “Kalo gitu, saya akan bantu cari.”, kata Debo. Riko dan Bu Ira memandang Rio. “Kamu tau Aren dimana?” Debo menggeleng, “Saya coba-coba cari saja.. Walau nggak yakin.” Riko mengangguk, “Baiklah, tolong ya.”

Debo berbalik dan berlari ke arah New Camry merah itu terparkir. Sambil mati-matian memaksa tubuhnya untuk bergerak, Debo duduk di belakang setir dan memasukkan gigi satu, “Kemana sebenarnya anak itu..” Debo menarik nafas panjang dan melajukan sedan itu ke jalan raya. Untuk ini saja, ia berusaha sekali. Debo berjuang agar tidak tertidur dan terus bergerak. Salah sedikit saja, nyawanya bisa melayang. Walau memang jiwanya bukan milik dunia ini lagi. Konsentrasi Debo agak buyar saat ponselnya berbunyi. Ia kaget melihat nama yang tertera. Aren. Dengan geram dan khawatir, Debo langsung mengangkat ponselnya. “Halo?”, Debo menyapa, “Ren! Kau dimana? Bikin orang cemas aja!” Hening agak lama. Ia bisa mendengar Aren menangis di ujung sana. “Areen.. Please..”, mohon Debo, “Jangan buat ibu kamu cemas lagi..” Aren menghela nafas berat, “Gereja.” Debo tersentak, “Apa?” “Gereja. Aku ada di gereja.”, jawab Aren, “Aku belum berdoa untuk Debo..” Debo merasa perasaannya campur aduk. Kesal, marah, cemas, senang.. Entah perasaan macam apa, “Ya sudah. Aku jemput ya? Di gereja mana?” --Aren berjalan menuju altar dengan langkah agak gontai. “Tuhan..”, bisik Aren sambil melihat ke atas, “Kau dengar aku, kan? Aku ini hamba-Mu yang lemah. Saking lemahnya aku harus memakai jantung orang lain untuk hidup..” Aren merasakan air hangat mengalir di pipinya lagi. Bukan sesuatu yang asing baginya. Ia tak menghapus air matanya, dan terus menengadah. Mengadu pada Tuhannya. “Tuhan.. Apa orang itu ada di sisi-Mu? Apa Debo.. Apa dia bahagia? Kumohon.. Dia orang baik, Tuhan..”, air mata Aren jatuh dan membasahi lantai gereja, “Aku berdoa kepada-Mu.. Semata-mata agar Debo.. Agar Debo..” “Masukkanlah dia dalam surga-Mu, Tuhan..” Aren menoleh terkejut ke arah pintu gereja. Di lorong yang sepi itu sudah berdiri sesosok orang yang sangat dikenalnya. Ia bersandar di pintu. Wajahnya terlihat sangat lelah dan berkeringat. Nafas orang itu terengah-engah. “Ri.. Rio..”, Aren langsung berdiri. Debo melangkah pelan menuju Aren, Aren merasa air matanya jatuh lagi. “Debo..”, isaknya, “Dia benar-benar jahat.. Meninggalkan aku..” Debo mendekati Aren, “Relakan dia pergi. Kalau kamu masih seperti ini, jiwa dia nggak akan bisa tenang..”, kata Debo. “Aku mencoba, Rio..”, jawab Aren, “Tapi tiap kali jantung ini berdenyut.. Bayangan dia dateng lagi, dateng lagi.. Aku nggak akan bisa melupakan dia.”, kata Aren. Pandangannya beralih ke Debo, “Tapi, Rio.. Mungkin aku bisa mencoba..” Jantung Debo hampir copot mendengarnya. Apa? Apa Aren mulai mau menerima Rio di sampingnya? Argh! Ini bisa makin rumit! Mana bisa aku bertahan lama-lama dalam tubuh ini? Gara-gara aku asal ngomong kemarin. Debo manatap Aren lekat-lekat. Ada rasa tak rela dalam hatinya kalau Aren sampai menerima pengakuannya kemarin. Mereka berpandangan lama. Sampai akhirnya Aren menggeleng keras dan kembali menangis. Debo kaget. “Aren..?” “Nggak bisa..”, kata Aren sambil mengepalkan tangan di dada kirinya, “Aku nggak bisa, Rio.. Aku nggak bisa cinta sama kamu... Nggak bisa..” Debo melihat tubuh Aren kembali berlutut di lantai. “Aku..”, isaknya, “Aku nggak bisa, aku nggak bisa menerima kamu.. Maafkan aku..” “Jangan..”, lirih Debo, “Aku akan pergi dari hidup kamu.. Aku akan pergi..” Aren bingung, “Rio..?” “Maafin aku.. Maafin aku.. Aku hanya bisa nyakitin kamu.. Aku nggak pernah bisa menjaga kamu.. Nggak bisa membuat kamu bahagia..”, kata Debo tak terkendali, “Aku harus pergi..” “Rio..?”, Maafkan aku, Aren. Aku nggak bisa membalas apa-apa. Aku hanya bisa memberikan jantung aku ke kamu. Maafkan Rio yang juga cinta sama kamu. Maafkan semuanya, karena aku lagilagi harus pergi dari kamu.

“Aren.. Maaf…” Ada kalanya Debo sudah tak tahan lagi untuk menahan emosinya. Ada waktunya Debo sudah tak mampu membendung rasa rindunya. Ada saatnya DEbo lelah mendengar suara tangisan Aren. Tangisan untuknya. Doa untuknya. Dia yang sekarang sedang dipeluknya. Debo berjanji dalam hatinya untuk membuat gadis itu bahagia. Walau sudah mustahil... Aren terlalu terlambat untuk menghindar dari pelukan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tubuhnya lemas dan tak bisa melawan. Aren dapat merasakan getaran aneh di dalam dirinya, entah apa itu. Sesuatu yang membuatnya sama sekali tak melawan. Aren memutuskan untuk memejamkan kedua matanya, dan menerima pelukan itu sambil menangis. Debo akhirnya menjauhkan dirinya, “Maaf..”, bisiknya, “Kamu nggak perlu menerima aku, Aren..” Debo berdiri dan berjalan gontai keluar gereja, “Aku tunggu di mobil..” Aren tetap berlutut di sana sambil menangis, “Debo..” Langkah Rio berhenti di tengah-tengah koridor itu. Ia tak sanggup lagi. Dipaksakan tubuhnya untuk berlari membabi buta keluar. Ia berlutut sekeluarnya dari gereja. Membiarkan air mata yang sedari tadi ditahannya kembali mengalir. Aren mengalihkan pandangannya pada sosok Rio yang barusan meninggalkannya sendirian. “Rio..”, Aren menggelengkan kepalanya, “Bukan..” Aren merasakan ada yang sangat janggal dari pelukan tadi. Bukan suatu pelukan yang asing. Pelukan yang sama saat Debo mengatakan akan menjaganya. Aren menggelengkan kepalanya pelan sambil terus menatap sosok Rio di luar sana. “Debo..”, desis Aren sambil memeluk lengannya, “Tadi itu.. Aahh...” Tangis Aren pecah lagi. Bukan. Tadi itu bukan Rio. Aku bisa merasakannya. Aren sesenggukan sambil menutup bibirnya. Pelukan tadi... Debo... Kamu Debo, kan? Kamu.. Bukan Rio, kan? Tuhan... Tuhan...

Debo is Rio - Part 14
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 26, 2010 at 8:24am in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

“Mustahil.”, kata Cakka menggelengkan kepalanya, “Aku nggak percaya.” “Aku juga enggak. Tapi kadang-kadang memang ada sesuatu yang melebihi nalar dan logika kita.”, kata Obiet. Diiringi anggukan Ozy. Mereka bertiga berpandangan dengan wajah pucat, lalu menoleh ke arah gadis berambut sebahu yang sedari tadi diam. “Aren.. Menurutmu?”, tanya Ozy. Aren menggeleng, “Aku.. Nggak berani berpendapat..” Ozy menghela nafas, “Aku sudah merasa aneh sejak Rio bangun. Dia tiba-tiba menangis, tiba-tiba emosianal.. Bukan seperti Rio yang biasanya tenang.” “Dan dia langsung bertanya soal kapan Debo dimakamkan.”, tambah Obiet. “Kayaknya dia tahu.. Kalo Debo memang sudah mati.”, Cakka mengiyakan. “Dia manggil Shilla dengan awalan kak.”, kata Ozy. “Dia juga salah ngambil tas Debo.”, kata Cakka mengingat-ingat. “Dia membeli ponsel yang bukan SE.”, tambah Obiet. “Yang paling parah..”, kata Ozy sambil pasang pose Conan, “Dia lupa nomor PIN ATM-nya sendiri. Seorang Rio yang ingatannya kuat itu.” “Ada yang lebih parah.”, kata Obiet. Cakka mengangguk. “Rio makan jeruk.” Mereka bertiga diam dan berpandangan tegang. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka menyadari hal itu. Aren masih diam. “Dia bukan Rio..”, desis Ozy, “Dia.. Debo.” Aren memejamkan matanya saat mendengar perkataan Ozy itu. Kedua tangannya menggenggam erat selimut yang dikenakannya. Ia sangat ingin menyangkal hal itu. “Kenapa..”, desis Aren, “Kenapa ia harus berpura-pura jadi Rio..?”

Ozy menghela nafas, “Mungkin.. Karena ia sangat menyayangi sahabatnya. Dan nggak mampu untuk mengkhianati Rio.. Juga karena cinta dia sama kamu..” Aren menahan tangisnya, “Dia memang Debo.. Dia Debo..”, bisiknya, “Aku nggak bisa mengatakan alasan logisnya, tapi aku tahu..” Obiet, Cakka dan Ozy terdiam lagi. Kembali mereka berpandangan bingung. “Perlu nggak kita buat dia ngaku?”, tanya Cakka. Ozy menggeleng, “Dia sangat berusaha untuk terlihat seperti Rio.” “Jadi? Sampai kapan kita bakal biarin hal ini?”, tanya Obiet, “Ini beneran nggak masuk akal..”, katanya sambil duduk di sofa. Mereka terdiam lagi. Aren menunduk dan mengenang semuanya. Sebelumnya ia juga merasa heran dengan perubahan sikap Rio. Wajah yang biasanya tenang itu entah kenapa sering memperlihatkan emosi dan gejolak. Sorot mata itu kini sering memandangnya dengan pandangan memilukan. Pandangan menginginkan untuk memiliki. Pandangan yang seolah berkata ‘selamat tinggal’. Itu bukan reaksi seorang Rio. Belum lagi dengan semua informasi yang dikumpulkan Cakka dan yang lain. Kalau dirangkai, maka semuanya akan cocok. Perubahan drastis itu terjadi sejak Rio bangun dari komanya. Aren kembali memeluk lengannya sendiri, merasakan kehangatan di sana. Kehangatan yang tak asing baginya. Itulah satu-satunya bukti yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Di dalam tubuh Rio, ada jiwa Debo. “Jadi..?”, tanya Ozy memecah kesunyian, “Gimana?” “Katanya dia mau kesini sekitar setengah jam lagi.”, kata Cakka sambil membaca sms yang mampir ke ponselnya. Obiet angkat bahu, “Aku nggak punya ide..” Aren menarik nafas panjang, “Kalian.. Bisa tolong aku?” --Debo masih termangu diam di depan cermin. Entah untuk kesekian kalinya ia berhadapan dengan wajah yang sama. Namun kali itu ada sesuatu yang berbeda. Debo dapat melihat dengan jelas tubuh itu makin memucat dan berat. Ia tertawa miris. “Sudah waktunya, ya.. Rio..”, bisiknya lirih. Dipandanginya kembali pantulan itu. Debo merasakan perasaan yang sangat aneh setelah ia terbangun. Rasanya ia tak akan menjejakkan kakinya di dunia ini lagi. Perasaannya sangat damai dan tenang. Ia sama sekali tak bermimpi semalam, semuanya hanya gelap. Namun gelap itu seakan melindunginya, Debo dapat merasakan hal itu. Perlahan, dirabanya cermin dingin itu. “Sebentar lagi..”, bisiknya sambil tersenyum pada bayangan sahabatnya itu. Senyuman yang terlalu damai untuk ukuran seorang yang hidup. Debo melihat mata itu kembali meneteskan air yang hangat. Ia membiarkannya. “Sebentar lagi, Rio.. Aku akan menyusulmu..” --“Datang juga kamu.”, sapa Ozy sambil menyeruput teh hangatnya. Debo mengangguk dan mengambil kursi yang kosong. Mereka berempat duduk melingkari sebuah meja bundar. Di atasnya sudah tersedia empat cangkir teh. “Tumben kalian mengajak minum teh di sini.”, kata Debo. Cakka, Obiet dan Ozy berpandangan. Bingung harus berkata apa. Debo memilih diam dan menyeruput tehnya, “Aren.. Dimana?” “Sedang jalan-jalan sama Riko.”, jawab Ozy, “Tadi dia kesini juga. Tapi sekarang sih sudah kembali ke kamarnya.” “Hmm..”, jawab Debo seadanya. Ia terus menyeruput tehnya. Obiet dan Cakka berpandangan heran. Ozy menghela nafas. “Sejak kapan kamu mau minum Earl Grey, Rio?..”, tanya Ozy sambil mendelik pada Debo, “Atau lebih tepatnya.. Debo?” Mata Debo membelalak terkejut. Ia memandang cangkir teh yang sedang ia pegang. Sama sekali tak disadarinya bahwa rasa pahit itu berasal dari aroma kesukaannya. Sekaligus juga, cita rasa teh yang paling dibenci sahabatnya itu. Pantas saja mereka lebih dulu mesan meja dengan empat cangkir teh. Sial, aku dijebak... Perlahan Debo meletakkan cangkir itu di meja

dan berdiri dari kursinya. “Debo.”, panggil Cakka dan Obiet bersamaan. Debo spontan menghentikan langkahnya. Habis sudah semuanya. Mereka sudah tahu. Kusudahi saja drama ini. Aku terlalu lelah, aku capek berpura-pura menjadi kamu, Rio... Debo menghela nafas dan berbalik. Menatap ketiga orang yang sangat dikenalnya. “Ya..” “Duduk.” “Nggak.” Obiet mengarik nafas panjang sebelum mengatakannya, “Dimana Rio?” Debo merasa dadanya tertohok mendengar pertanyaan itu. Wajahnya ditundukkan. Perlahan, sebuah gelengan diperlihatkannya, “Dia sudah nggak ada.” Spontan mereka bertiga memejamkan matanya dan ikut menunduk. Jawaban itu sudah bisa mereka duga. Tidak mungkin ada dua jiwa berdesakan dalam satu tubuh. “Aku salah berdoa..”, bisik Cakka penuh penyesalan, “Rio..” Debo memalingkan wajahnya, “Maaf..” “Sudah lama sekali aku nggak dengar kata maaf dari mulutmu, Debo.”, kata Obiet sambil tersenyum tulus, “Selamat datang kembali.” Debo mengerenyitkan dahi, “Maksudmu?” “Kamu kembali hidup.. Walau dalam tubuh Rio.”, kata Ozy, “Aku nggak tau ini berita bagus atau jelek, tapi..” “Nggak.”, potong Debo, “Aku harus cepat menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan.. Aku nggak bisa lama-lama di dunia ini..” Kontak ketiga sahabatnya memandang sosok Rio dengan pandangan tak rela dan kaget, “Apa.. Maksud kata-kata kamu?” “Aku sudah berjanji pada Rio..”, Debo memandang ketiga orang itu bergantian, “Untuk mengembailkan tubuh ini ke tanah setelah urusanku selesai. Karena sebenernya, aku ini sudah mati. Aku sudah mati bersamaan dengan saat Rio meninggal..” “Apa..?” Debo mengangguk, “Aku sudah mati.” Hening. Ozy beranjak dari kursinya, langsung memeluk tubuh itu. Ia hampir menangis saat merasakan tubuh itu sangat dingin. Hawa yang sangat mati. Rasa dingin yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Debo membalas pelukan itu. “Aku harus pergi..” “Debo.. Setelah Rio.. Kami harus kehilangan satu sahabat lagi?”, tanya Ozy. Obiet dan Cakka ikut berdiri dan merangkul sahabat mereka itu. Debo mengangguk. “Sejak bangun dari koma.. Aku sudah tahu..”, bisiknya, “Bahwa aku juga..” Kembali pelukan itu terjadi. Satu pelukan terakhir. Pengantar bagi sahabat mereka yang akan segera pergi. Debo merasa hatinya perih. “Maafkan aku..” Ozy menggeleng, “Titipkan salamku.. Buat Rio.” Debo mengangguk mantap, “Pasti.”, lalu ia melepaskan diri dari pelukan ketiga sahabatnya, “Dari sini.. Biarkan aku pergi sendiri. Dan satu lagi. Kalau aku sudah nggak ada.. Titip Aren ya.. Jaga dia baik-baik..” Mereka bertiga mengangguk dengan tatapan sedih. Debo menghela nafas, “Aku mau ke kamar Aren du..” Kata-kata Debo terputus oleh bunyi SMS yang nyaring dari ponselnya. Langsung diraihnya ponsel besar itu dan dilihat siapa pengirimnya. Debo menahan nafas saat melihat nama pengirim dan isi pesan singkat itu. Rio. Ada yang ingin kubicarakan. Aku tunggu kamu di atap rumah sakit. Aren. “Apa?”, Debo berteriak tertahan. “Ada apa?”, tanya Ozy. “Aren.. Menyuruh aku dateng ke atas atap rumah sakit.”, kata Debo cemas, “Apa-apaan dia di sana? Rumah sakit ini kan lima belas lantai!” Cakka dan Obiet berpandangan kaget, “Kok.. Beda dari rencana?” “Apa kata kalian?”, tanya Debo kaget. Obiet memandang Debo, “Aren yang merencanakan semua ini.. Supaya kamu mengaku

sama kami tentang siapa kamu sebenernya, Debo. Dia sudah curiga padamu.” “Di atas ATAP?”, tekan Debo. Ia mendengus keras dan berlari menuju lift terdekat yang membawanya ke atas atap. Ketiga temannya yang masih kaget ditinggalkannya begitu saja. Ozy langsung berlari ke lift terdekat untuk mengejar Debo. “Kok..”, kata Obiet, “Jadi ada ketemuan di atap? Bukannya ketemuannya cuma di kamar rawat saja?”, tanyanya panik. “Ini gawat..”, kata Ozy sambil memandang kesal ke lift yang belum juga terbuka, “Aku tahu dari tadi, kalo Aren ada di sekitar kita dan ngedenger semua omongan Debo.. Kalo kalian jadi Aren.. Yang make jantung Debo.. Terus menemukan kenyataan kalo Debo ada di badan Rio.. Pura-pura jadi Rio.. Apa yang kepikir? Lalu sebenarnya Debo hanya meminjam sementara badan Rio, cuma untuk bilang, ‘aku cinta kamu’ saja. Lalu Debo akan..”, Ozy menggeleng, “Kembali ke alamnya..?” “Jangan-jangan Aren berniat..”, Cakka dan Obiet berpandangan ngeri. Ozy mengangguk, “Aren.. Berniat bunuh diri..” “Gawat!” --Debo bertahan untuk dapat berdiri di lift. Tiga belas.. Dua lantai lagi.. Debo mengomel-omel dalam hati dan berusaha untuk mengalahkan rasa kantuk yang mengerikan. Kepalanya terasa sangat berat, tubuhnya bagaikan melayang dan pandangannya sangat kabur. Kayak gini ya, reaksi jiwa kalo mau meninggalkan tubuh? Perasaan yang sama saat aku terjepit waktu itu. Debo tertawa miris. Ia melihat pintu lift yang terbuka. Lantai lima belas. Sambil menyeret tubuhnya paksa, Debo melangkah menuju satu-satunya pintu yang ada. Pintu itu sudah terbuka. Plang bertuliskan ‘dilarang masuk’ sudah tergeletak di sana. Debo berjuang untuk dapat mencapai pintu itu. Sial, aku mengantuk. Sangat, sangat mengantuk. Kumohon, Rio... Pinjamkan kekuatanmu untuk terakhir kalinya. Debo akhirnya tiba di balik pintu itu. Benar saja. Sudah ada sesosok gadis yang sangat dikenalnya. Rambut sebahunya tergerai indah. Tertiup angin yang kencang di ketinggian itu. “aren..”, panggil Debo dengan suara parau karena lelah, “Ngapain kamu disini..?” Wajah itu tak tertoleh. Debo dapat mendengar tawa perih dari sosok itu, “Rio.. Debo sedang apa ya, di atas sana?” Debo terdiam. Sampai kapan permainan kucing-kucingan melawan takdir ini akan berakhir? Namun tak satupun kata-kata terucap dari bibir Debo. “Jantung ini..”, kata Aren, “Tak berguna banyak..” Debo tersentak, “Apa maksud kamu..” “Karena aku..”, Aren melangkah pelan menuju ujung atap, “Akan menyusul pemilik jantung ini.. Sekarang..” “NGGAK!”, teriak Debo dengan sisa kekuatannya, “Debo nggak pernah mengharapkan itu.. Dia memberikan jantungnya buat kamu bukan untuk dibawa mati!”, Debo terengah-engah saat mengatakannya, “Dia ngasih itu agar kamu bahagia..” Aren menggeleng, “Nggak ada kebahagiaan itu, Rio..”, lirih Aren sambil melangkah makin mendekati gerbang kematiannya. Debo berusaha menggapai tubuh itu, namun kekuatannya sama sekali tak memungkinkan. Ia terlalu mengantuk. “Kamu akan menyesal..”, bisik Debo, “Kamu akan menyesal! Apa lo dengar itu, BODOH?”, teriaknya dengan sisa kekuatannya. Mendengar kata-kata itu, Aren menghentikan langkahnya. Tak terasa matanya membelalak dan mengeluarkan air mata lagi. Ia sangat mengenal nada bicara itu, intonasi kasar itu, dan satu kata itu. Satu kata yang sama sekali tak mungkin diucapkan oleh Rio. Aren menunduk dan menangis lagi. “Kamu..”, desisnya, “Kamu Debo, kan?” Desir pasir di padang tandus Segersang pemikiran hati Debo agak tersentak mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Aren. Ia mengangguk dalam usahanya menahan tangis dan kantuk yang amat sangat. Debo menyunggingkan satu senyum damainya. Sedetik, Aren tersentak bukan main. Ia merasa sepasang mata Debo sedang menatapnya.

Terkisah ku di antara, Cinta yang rumit... “Debo!”, teriak Aren sambil berbalik. Namun bukan sosok Debo yang ia lihat. Bukan wajah menyebalkan Debo yang ia temukan. Yang berdiri di sana adalah Rio, dengan kedua matanya yang meneteskan bulir-bulir air yang seakan mengiris pipi itu. Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekedar cinta Bibir itu terus tersenyum. Senyuman paling damai yang pernah disunggingkan otot pipi seorang Rio. Namun Debolah yang menggerakkan bibir itu. Aren berteriak tertahan saat tubuh itu melemah dan tersungkur perlahan. Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan... “Debo!”, teriak Aren sambil berlari ke arah tubuh Rio, “Debo! Bertahanlah..”, isaknya sambil mengguncang tubuh lemah itu, “Akan aku panggilkan dokter..” Namun tangan Aren keburu ditahan oleh tangan yang pucat itu, “Nggak.. Aku sudah nggak butuh itu..”, bisik Debo sambil tersenyum, “Nggak..”, kata Aren sambil menangis dan memeluk badan Rio, “Debo.. Kenapa.. Kenapa semua mesti kayak gini...” Debo menghela nafas. Maafkan bila ku tak sempurna Cinta ini tak dapat kujaga “Rio sudah menunggu aku..”, bisik Debo. Aren menggelengkan kepalanya keras-keras dan terus menangis. Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu... “Kenapa kamu lagi-lagi harus ninggalin aku, dasar bodoh..”, lirih Aren, “Aku nggak butuh jantung kamu.. Aku nggak butuh..”, isaknya lirih, “Aku butuh kamu..” Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama “Rio..”, bisik Debo sambil melihat sosok sahabatnya itu melayang rendah dan mengulurkan tangan padanya, “Lepaskan aku, Aren.. Rio sudah menjemputku..” “Nggak akan!” Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud... Aren memandang langit dengan pasrah. Bola mata bening itu terus-terusan mengalirkan air hangat. Aren berteriak tak tentu arah pada langit, “Rio! Rio, kamu dengar aku? Kumohon Rio.. Jangan bawa Debo pergi lagi.. Jangan bawa dia, Rio.. Jangannn...”, teriak Aren. Tangisannya berubah menjadi raungan dan erangan keputusasaan, “Rio.. Jangan bawa Debo, aku mohon...”, lirihnya sambil memeluk tubuh Rio yang makin dingin dan kaku. Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekedar cinta Debo mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menghapus air mata Aren, “Jangan menangis lagi”

Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan... Aren terus menatap wajah itu sambil menangis. Hatinya bagaikan diiris-iris, “Kenapa aku mesti ngeliat kamu dalam keadaan kayak gini.. Kenapa harus aku yang bertahan hidup.. Setelah kamu dan Rio nggak ada.. Aku mesti gimana, Debo? Aku harus apa..?” Debo menghembuskan nafasnya berat, “Hiduplah..”, bisiknya, “Karena untuk itu aku memberikan jantungku.. Untukmu..” “Debo..”, Aren kembali memeluk erat tubuh dingin itu. Seakan semua yang ia lakukan mampu mengembalikan jiwa yang pernah hilang itu. Ozy, Cakka dan Obiet yang baru saja tiba setelah berlari-lari lima belas lantai menggunakan tangga, terkejut sekali melihat pemandangan itu. Aren yang terus menangis sambil memeluk tubuh Rio. “Ar..” Langkah Cakka langsung dihalangi oleh tangan Ozy, “Percuma..”, katanya sambil menggeleng, “Biarkan mereka.. Untuk terakhir kalinya..” Cakka hanya bisa berdiri diam sambil memandang kedua sosok rapuh itu. Ia memalingkan wajahnya dan membiarkan air matanya jatuh. Obiet juga tak tahan melihatnya. Maafkan bila ku tak sempurna Cinta ini tak dapat kujaga... “Ren..”, panggil Debo sambil melontarkan senyuman terdamainya, “Aku suka kamu..” Aren mengangguk sambil menggenggam tangan dingin itu. Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu... “Tetaplah hidup.. Gantikan aku dan Rio..”, bisik Debo. Aren mengangguk lemah, “Aku akan berusaha..” Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama “Aku mengantuk..”, kata Debo sambil menutup matanya, “Aku ngantuk sekali..” “Debo..”, bisik Aren sambil mengguncang tubuh Rio pelan, “Debo!”, panggilan itu berubah menjadi teriakan yang miris. Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud... “Nggak.. Debo!!”, tangisan dan teriakan Aren seakan menjadi suara termiris yang pernah didengar. Aren terus dan terus mengguncang tubuh Rio sambil menangis, “Deboo... Kenapa...”, isaknya sambil memeluk tubuh yang barusan saja menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh yang makin mendingin dan kaku. Tubuh yang semestinya sudah kembali ke bumi seminggu yang lalu. Namun entah kenapa tubuh itu terlihat seperti sedang tidur. Kenapa kau menangis? Kenapa kau harus bersedih? Aku disini merasa sangat ringan. Rasa sakit itu sudah tak ada. Debo menyusul sosok sahabatnya yang terbang menjauh. Tinggi, tinggi, menuju sebuah cahaya yang terasa hangat dan agung. Debo melihat Rio menoleh kepadanya dan tersenyum. Ia membalas senyuman itu dan memejamkan mata saat sinar itu makin membesar dan menyilaukan. Dengan ini, resmilah ia dan Rio meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Meninggalkan semuanya, termasuk satu gadis yang sama-sama mereka cintai. Dia, yang masih memeluk tubuh mati itu sambil terus menangis. “Debo..”, bisik Aren, “Rio.. Selamat Tinggal...” Ketika kubersujud... ---

“Ini sangat tragis..” “Tragis? Misterius maksudmu?” “Masa’ sih.. Tiba-tiba meninggal tanpa gejala apapun?” Aren memandang sinis pada tiga cewek yang sedang bisik-bisik di sebelahnya. Sampaisampai ketiga cewek entah siapa itu terdiam dan menunduk. Sore itu acara pemakaman berjalan sangat khidmat. Penghormatan terakhir bagi sesosok sahabat yang rela melakukan apa saja demi peryantaan cinta sahabatnya. “Rio..”, isak seorang wanita di hadapan kuburan Rio, “Maafkan Mama, nak.. Maafkan Mama..” “Mama,.. Mama, sabar..”, kali ini Shilla dan Sion yang merangkul ibu mereka. Sementara ayah Rio langsung masuk rumah sakit karena syok mendengar putra bungsunya dinyatakan meninggal mendadak. Aren menunduk lagi. Terlalu tak sanggup untuk melihat pemandangan sesedih itu. Rio. Banyak orang yang mencintai kamu. Banyak orang yang berdoa dan mengharapkan kebahagiaan kamu di sana. Maaf kalau kami terlambat memberikan rangkaian bunga buat kamu. Maaf kalau sampai kapanpun.. Aren merasa air matanya menetes lagi. Kita adalah sahabat terbaik, Rio. Aku, kamu dan Debo. Pandangan Aren beralih pada nisan di sebelah nisan Rio. Di mana tubuh Debo terbaring selamanya. Biarlah sampai kapan pun, mereka berdua bersandingan sebagai sahabat yang tak terpisahkan. Aren memperhatikan satu per satu orang yang beranjak pergi dari makam itu. Yang tertinggal hanyalah ia, Cakka, Ozy dan Obiet. Aren berlutut di hadapan makam Debo dan Rio. “Rio..”, bisiknya, “Sahabatku yang paling baik.”, Aren tersenyum pahit saat mengucapkannya, “Semoga kamu mimpi indah di sepanjang tidur kamu.. Aku sayang Rio, sampai kapan pun..”, Aren mengalihkan pandangannya ke makam di sebelahnya. Kali itu, air matanya jatuh lagi. “Debo..”, lirihnya di tengah isakan, “Aku janji.. Aku akan terus hidup buat kamu.. Buat melanjutkan impian kamu.. Aku nggak akan menyia-nyiakan jantung kamu..” Aren kembali terisak sampai dadanya terasa sangat sesak. Baru saja ia kehilangan sahabat bernama Rio, ia harus rela ditinggalkan cintanya. Berat, terlalu berat untuk ditanggungnya seorang diri. Karena itu ia terus menangis. Obiet, Ozy dan Cakka langsung ikut berlutut dan merangkul sahabatnya itu. “Aren..”, ucap mereka bersamaan, “Tak apa-apa.. Menangislah sekali kamu bisa..” “Aku nggak kuat.. Aku nggak bisa..” isak Aren. “Kamu nggak sendirian menghadapi ini, Ren..”, bisik Cakka, “Ada kita.. Oik, Gabriel.. Semuanya juga sama.” “Bener, Ren.. Kita semua sama-sama merasa kehilangan.”, kata Ozy. “Kamu harus kuat..”, bisik Obiet. Ozy mengangguk, “Jantung Debo.. Harapan Debo hanya satu, yaitu untuk melihat kamu tetap hidup.”, kata Ozy, “Karena itu, berdirilah lagi..” “Kami akan selalu ada di sampingmu.”, kata Cakka, “Karena kami bertiga sudah janji sama Debo untuk ngejaga kamu..” Aren mengangguk lemah. “Mereka pasti ngejaga kamu dari jauh.”, bisik Obiet, “Aku yakin..” Lagi, Aren hanya menganguk dan membiarkan air matanya jatuh. Aku tahu. Aku merasakan kehadiran mereka berdua di setiap langkahku. Mereka ada dalam tetes embun di pagi hari. Mereka ada dalam rangkaian warna pelangi. Mereka ada, dan akan selalu ada. Karena aku nggak akan pernah bisa melupakan.. Semuanya. Aren tersenyum. Ia berdiri dari makam itu dan berjalan menuju mobil. Cakka, Ozy, dan Obiet mengikuti Aren berjalan ke arah parkiran makam itu. Setelah semua berakhir, ia merasa sesak itu masih bersemayam. Namun ia akan berdiri, ia akan melangkah dan terus berlari. Semua itu bisa ia lakukan dengan jantung Debo dalam tubuhnya. Lalu Aren mendengar suara yang sangat halus. Terlalu halus bahkan. Hiduplah.. Dan kami akan selalu di sampingmu, menjaga dan mendampingimu... Aren agak tersentak dan melihat ke arah kedua makam itu. “Aren? Kenapa?”, tanya Ozy. Aren menggeleng pelan. “Nggak. Rasanya..”, Aren tersenyum bahagia, “Debo dan Rio akan selalu melindungi aku dari jauh..”, katanya sambil memalingkan wajahnya. Obiet tersenyum. “Apa aku bilang.” Mereka bertiga tertawa dan mengusek rambut Aren. Aren merasa lega, setidaknya ia masih punya sahabat yang setia mendampinginya. Selamat beristirahat Rio. Selamat beristirahat Debo. Have a nice dream, forever...

Debo is Rio - Part 15 (Last Part)
• •
Posted by windi DO2RioZyAcha on March 31, 2010 at 5:51pm in Cerita Idola Send Message View Discussions Cilik

“Nggak kerasa ya, sudah dua tahun berlalu sejak Aren pindah ke Bogor..”, kata Ozy, “Apa kabar cewek itu sekarang?” Mereka bertiga kembali mengenang wajah manis itu. Sosok seorang cewek riang yang dua tahun lalu ada di antara mereka sebagai vokalis band. Sejak kepergian Rio dan Debo serta pindahnya Aren, Obiet dan yang lain memutuskan untuk vakum dari dunia musik. Mereka memilih fokus pada studi mereka. Walau begitu, entah kenapa kebiasaan mereka berkumpul di rumah Debo tak pernah berubah. “Makanya aku suruh kalian berkumpul..”, suara seorang wanita membuat mereka bertiga menoleh, “Semalam aku dapat telepon dari Aren.” Cakka, Ozy dan Obiet berpandangan, “Lalu?” “Dia menyuruh kita nonton MTV hari ini.”, kata Oik sambil mengambil tempat duduk di samping Obiet, “Kata Aren sih, kita disuruh nonton MTV jam empat sore..” “Baru juga jam tiga..”, kata Ozy sambil nguap, “Sempet tidur sebentar..” “Heh! Tidur melulu..”, hardik Oik sambil melemparkan bantal ke muka Ozy. Dengan sigap Ozy nangkep. “Apa lagi yang akan diperlihatkan Aren pada kita?” tanya Obiet. Oik angkat bahu, “Entahlah. Tapi kalau Aren.. Ia berkali-kali memperlihatkan pada kita, apa itu yang dinamakan ‘keajaiban’..” --“Make up-nya sudah? Itu bajunya, hei!” “Jangan biarin wartawan masuk, ya! Security-nya mesti sigap, tuh!” “Aduh neekk... eke pusing deghh..” Aren tersenyum kecil melihat krunya yang sangat sibuk mengurusi acara kali ini. Ia sendiri sedang berada di backstage, menunggu acara yang akan berlangsung live setengah jam lagi. Karena pusing dengan kericuhan rekan-rekannya, Aren menyusup dan memasuki ruangan pribadinya. Tidak ada siapapun di sana. Aren menarik nafas lega. “Huh.. Untung saja si menejer cerewet itu masih sibuk sama wartawan..”, bisik Aren sambil duduk di depan meja riasnya, “Setengah jam lagi..” Aren tersenyum melihat bayangannya di cermin. Wajah yang menawan itu sudah di-make up ringan. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai bebas. Baju yang ia kenakan pun sederhana namun terlihat elegan. Dua tahun, dan sosok yang dahulu sempat tertatih-tatih itu kini mampu mengembangkan sayapnya. Terbukti, sebentar lagi acara launching album solo pertamanya akan disiarkan di seluruh negeri. “Nggak sia-sia perjuanganku selama dua tahun..”, kata Aren sambil terus tersenyum pada bayangannya sendiri, “Ini semua kayak mimpi. Kamu tau, Aren? Kamu adalah cewek paling beruntung di dunia ini..” Gadis itu kembali tertawa lepas. Sepertinya memang inilah takdir yang digariskan untuknya. Menjalankan hidup sebagai seorang penyanyi profesional. Aren menghela nafas dan melakukan kebiasaannya sebelum melakukan hal penting. Berdoa sambil mendengarkan denyut jantungnya. Aren tersenyum kecil, mengingat pemilik jantung itu lagi. ‘Debo, kamu dengar? Hari ini aku akan membuktikan bahwa aku pantas menjadi seorang penyanyi. Rio juga, hari ini launching album solo pertamaku, lho. Aku yakin kalian berdua melihat aku dari atas sana, dan kalian akan bangga padaku. Dan kamu, Debo. Aku yakin kamu nggak akan menyesal memberikan jantungmu padaku’ Aren kembali membuka matanya, dan pandangannya langsung tertuju pada sebuah handycam. Aren tersenyum sedih sambil mengambil benda pemberian Oik itu.

Flashback “Aku nggak menyangka kamu akan pergi secepat ini.”, kata Obiet sambil memandang Aren sedih, “Kenapa sih, nggak bilang dulu sebelumnya?” Aren tersenyum pahit, “Maaf, Biet.. Tapi kepindahanku ke Bogor karena kerjaan Papih mendadak dimutasi.”, jawab Aren. “Kenapa harus Bogor.. Kan jauh banget.. Nggak bisa ketemuan..”, kata Cakka sedih. “Soalnya hanya di sana aku bisa mengembangkan bakatku di dunia musik.”, jawab Aren, “Bogor kan terkenal karena musiknya. Papih sengaja minta mutasi ke sana.” Ozy mengangguk, “Kamu akan main-main ke sini, kan?” “Mungkin..”, Aren menggeleng, “Nggak akan sering. Aku mau fokus dengan latihan vokal dan lain-lain.. Tapi kayaknya sih.. Ya, akan aku usahakan.” Bandara sedang jam sibuk. Aren, Cakka, Ozy dan Obiet masih berada di sana untuk melepas kepergian sahabatnya itu. Keluarga Aren masih sibuk dengan bagasi dan bekal. Oik masih dalam perjalanan. Sudah satu bulan berselang semenjak Rio dimakamkan. Dan Aren memutuskan untuk pindah. “Senang melihat kamu bisa senyum lagi.”, kata Ozy. “Memangnya aku akan sedih terus?”, jawab Aren, “Rio bisa maki-maki aku di atas sana. Dan Debo..”, Aren menunduk, “Dia bener. Dia memberikan jantung buat aku, bukan untuk dipakai menangis terus, kan..” Obiet, Ozy dan Cakka tersenyum lebar mendengar kata-kata Aren. Gadis yang kemarin begitu rapuh itu kini sudah mulai bisa berjalan sendiri lagi. Hari-hari terakhir mereka di Bandung banyak dihabiskan dengan main bareng, jalan-jalan dan mengunjungi makam kedua sahabat mereka. Pada dua kunjungan terakhir, Aren sudah bisa memandang kedua makam di hadapannya sambil tersenyum dan berdoa. Tak ada lagi air mata. “Kalian..”, kata Aren, “Sering-sering latihan ya.” Senyum di wajah ketiga cowok itu sedikit memudar. Mereka berpandangan lalu sama-sama angkat bahu dan tertawa kecil. Obiet memandang wajah manis itu, “The Thanatos dinyatakan vakum mulai hari ini.” “Apa?”, Aren tersentak mendengarnya, “Kenapa?” “Kita nggak bisa naik panggung lagi tanpa kamu, Debo dan Rio.”, jawab Ozy, “Karena itu kami memutuskan vakum. Entah sampai kapan..” Aren kaget bukan main. Dia memandang ketiga sagabatnya dengan mata tak percaya, “Kalian kan bisa cari pemain lain..” Cakka menggeleng, “Kamu pikir mudah mencari pemain gitar sebagus Rio?” “Atau penyanyi sekaliber kamu dan Debo?”, tambah Obiet. Aren terdiam dan menunduk, “Sayang sekali..” “Nggak ada pilihan lain.”, kata Ozy, “Tapi kalau ke depannya memang ada pemain yang bagus, bukan nggak mungkin Thanatos main lagi.” “Kuharap gitu.”, kata Aren sambil tersenyum. “Aren..!!” Aren menoleh ke arah Oik yang datang sambil berlari kecil dan melambaikan tangan. “Oik!”, sapa Aren sambil berpelukan dengan gadis itu, “Kok lama?” “Aku mempersiapkan hadiah perpisahan buat kamu.”, kata Oik sambil merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah handycam kecil berwarna pink, “Bawa ini ya.” “Oik..”, kata Aren sambil menggeleng, “Aku nggak bisa menerima barang sepenting ini! Handycam ini kan selalu kamu pake kemana-mana..” Giliran Oik yang menggeleng, “Aku bisa beli yang baru. Lagian dengan benda inilah, aku merekam semuanya.”, kata Oik sambil meletakkan handycam pink itu di tangan Aren, “Bawalah. Karena hanya benda ini yang akan mengingatkan kamu pada persahabatan kita semua.” Aren memandang benda mungil itu. Handycam Oik yang selalu dibawanya kemana-mana. Oik selalu merekam momen penting The Thanatos dar belakang panggung. Ia selalu membanggakan hadiah ulang tahunnya itu. Aren tak menyangka kalau Oik akan memberikan handycam penting itu kepadanya. Ia memeluk gadis itu lagi. “Aku nggak akan ngelupain kamu, Ik.. Yang lain juga..”, bisiknya. Oik mengangguk, “Awas saja kalau sampai lupa..” “Oh iya, dalam handycam itu sudah ada sebuah kaset yang isinya film pendek hasil editan Cakka.”, kata Oik, “Nanti sampai di Bogor, kamu tonton ya, Ren.” Mata Aren berbinar, “Wah, film apa?”

“Itu.. Editanku dari semua hasil rekaman Oik.”, jawab Cakka. “Menarik sekali.. Aku lihat sekarang saja ya?”, kata Aren semangat. Baru saja yang lain hendak mencegah, tombol play sudah kepencet duluan. Cakka, Ozy, Obiet, dan Oik berpandangan agak camas. Aren menontonnya dengan semangat. Lalu di video itu terlihat sepasang tangan dari jarak dekat sedang bermain gitar. Intro ‘Semua Tentang Kita’ terdengar dari gitar itu. Baru setengah, lalu tangan itu berhenti main. “Woy! Jangan rekam aku lagi latihan!” “Nggak apa-apa..” “Ntar aja, kalo aku udah lancar mainin!” Aren agak tersentak melihat cowok itu, “Rio? Ini rekaman jaman kapan..?”, katanya sambil tertawa melihat sosok Rio yang masih imut-imut itu. “Waktu kita SMP.. Jaman dulu banget deh.”, jawab Obiet sambil ikutan nonton. Akhrinya semua ikut nonton video editan Cakka itu. Layar itu memperlihatkan Rio dengan muka sebal mendekati kamera lalu menutup lensa handycam dengan tangannya. Lalu layar berubah hitam, ada tulisan berwarna putih muncul. Our Memory. The Thanatos. Senyuman Aren berubah sedih saat lagu ‘Semua Tentang Kita’-nya Peterpan mengalun lembut sebagai backsound video itu. Waktu terasa semakin berlalu Tinggalkan cerita tentang kita “Halo, halo!”, ada Cakka lagi dadah-dadah ke kamera, “Konser pertama kita!” Lalu kamera menyorot keadaan backstage beberapa menit sebelum mereka tampil. Biasa, Obiet yang main ponsel, Ozy lagi tidur, Rio main gitar dan Debo latihan nyanyi. Oik mengarahkan handycam ke wajahnya sendiri. “Mereka sok cool.”, katanya sambil geleng-geleng kepala. Gambar itu berubah menjadi saat-saat di panggung. Aren tertawa saat melihat Debo menyanyi dengan wajah agak tegang. Lagu yang mereka bawakan ternyata sama dengan backsound video yang sedang ia putar. Penampilan mereka berlima masih pada cupu deh. Maklumlah, anak SMP. Aren menahan tangisnya saat video itu memutar adegan Debo dan Rio tertawa kecil dan mengelus dada. “Gue gugup, gila!” “Ah, suara lo masih bagus, kali..” Akan tiada lagi kini tawamu Tuk hapuskan semua sepi di hati OIk merangkul Aren saat melihat ekspresi cewek itu mulai muram. Adegannya ganti lagi. Aren kaget saat menontonnya. “Kalian.. Oik.. Kamu merekamku waktu audisi?” Oik mengangguk sambil tertawa kecil, “Nggak sadar?” Aren kembali memandang adegan yang masih sangat segar di ingatannya. Saat ia menyanyikan bait lagu ‘Aku dan Dirimu’. Lalu Debo berdiri dan menyambut nyanyiannya. Kamera menyorot ke muka-muka cengok Rio, Cakka, Ozy dan Obiet. Ada cerita tentang aku dan dia Dan kita bersama sejak dulu kala Aren kembali menonton. Adegan-adegan dimana mereka berlatih di rumah Debo. Obiet tertawa saat melihat adegan ia menengahi pertengkaran Debo dan Aren. Lalu ada saat mereka semua berebutan minum yang dibawa Oik. Ada juga Rio yang masih main gitar. Semua menoleh pada Ozy saat kamera menyorot close up mukanya yang sedang ngiler. “Kapan lo merekam itu?”, tanya Ozy ngancem. Oik menjulurkan lidahnya, “Siapa suruh kamu tidur melulu?” Ada cerita tentang masa yang indah Saat kita berduka, saat kita tertawa Lalu berbagai adegan muncul di sana. Bukan hanya saat-saat konyol ketika mereka latihan

saja. Gladi resik dimana Debo, Rio dan Aren perang dingin juga ada. Lalu konser pertama Aren. Aren tersenyum mengenang waktu itu. Setelah itu adegan berganti saat mereka semua menjenguk Aren di rumah sakit. Saat mereka semua tertawa ceria menghibur Aren. “Ini keren!”, kata Cakka. Semua memperhatikan dan mengangguk. Adegan dimana mereka konser besar-besaran di Jakarta. Mereka tersenyum geleng-geleng kepala saat adegan Debo dan Rio nyanyi duet lagu ‘Dia Milikku’. Lalu senyum itu berubah pahit saat adegan berganti menjadi penembakan Rio. Kamera menyorot ke penonton yang banyak bukan main, lalu menyorot lagi ke panggung. Aren menghela nafas panjang, “Aku kangen Rio..” Yang lain langsung merangkul bahu Aren dan terus menonton. Mereka menatap sedih ke arah layar kamera. Rekaman saat-saat pemakaman Debo. Berganti menjadi momen terakhir di pemakaman itu, saat Rio yang dimakamkan. Lalu berbagai foto-foto the Thanatos yang aneh-aneh menjadi slideshow di layar itu. Aren menutup mulutnya. Saat slideshow itu berganti menjadi rekaman khusus. “Aren..”, kata Cakka, “Ini rekaman yang kuambil saat kami lulus-lulusan..” Mata Aren menatapnya. Ada Rio dan Debo sedang berangkulan dengan senyum terkembang. Baju dan rambut mereka penuh coretan pilox. Mereka mengacungkan ijazah mereka bangga. Aren merasa air matanya menetes saat melihatnya. “Abis lulus, rencana kalian apa?”, suara Oik yang megang kamera. “Aku mau masuk Idola High School.”, kata Rio. “Aku juga. Dan aku akan membuat the Thanatos terkenal di mana-mana!”, Debo yang menjawab semangat, “Oh ya, aku mau cari penyanyi cewek!” “Kompak bener”, Cakka, Obiet dan Obiet ikutan nampang di kamera. Debo dan Rio tetap berangkulan dan tertawa kecil, “Kami kan sahabat.” “Wah, parah! Kita nggak dianggep!” Lalu mereka bertiga langsung mengejar Debo dan Rio sambil mengincar muka mereka dengan pilox warna-warni. Oik mengikuti mereka kejar-kejaran sambil tertawa. Karena dikejar tiga orang, Rio dan Debo tertangkap dan habis-habisan dicoret dengan pilox. Mereka berteriak nggak jelas dan tertawa kencang. Teringat di saat kita tertawa bersama Ceritakan semua tentang kita... Kamera itu men-zoom out wajah coreng moreng Debo dan Rio yang sedang tertawa lepas. Aren tak dapat lagi membendung tangisnya. Ia langsung memeluk handycam itu dan berlutut di hadapan teman-temannya sambil menangis sesenggukan, “Rio.. Debo.. Kenapa..”, isak Aren, “Aku nggak bisa lagi liat mereka tertawa..” “Aren..”, mereka hanya bisa diam melihat Aren seperti itu. Aren menangis makin perih. Dalam hatinya ia sangat merindukan kedua sosok itu. Namun tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangis dan terus menangis. Oik dan yang lain akhirnya ikut berlutut dan memeluk gadis itu. “Itu.. Anggap aja kenang-kenangan..”, kata Cakka, “Biar kamu selalu ingat kalo kamu punya sahabat yang selalu nunggu kamu..” Aren mengagguk dalam isakannya. Setelah ia merasa tangisannya mereda, Aren berdiri dan menghapus air matanya, “Makasih..” “Jangan lupain kita-kita ya.”, kata Oik yang juga ngelap air mata, “Kayaknya pesawat kamu udah mau tinggal landas..” “Iya..”, kata Aren sambil melihat ke arah ibunya yang sudah melambaikan tangan, “Kalau begitu.. Aku berangkat sekarang.” Aren menunduk agak lama dan membiarkan air matanya jatuh. Lalu ia menegakkan kepalanya, “Terima kasih, semuanya..”, lalu senyuman terkembang di bibirnya. Semuanya membalas tersenyum, “Terima kasih juga, Aren..” “Jaga baik-baik jantung Debo ya.”, kata Ozy sambil melambaikan tangan. “Aren.. Jangan lupa kirimkan aku e-mail! YM-an!”, kata Oik sambil menangis. “Hati-hati.. Hiks.. Di jalan.. Hiks..”, kata Cakka sambil ngelap air mata. “Selamat jalan, Aren.”, kata Obiet. Aren mengangguk dan berbalik pergi. “Sampai jumpa lagi, semuanya!” Aren berlari ke arah pesawat sambil menenteng handycam Oik. Ada rasa hangat yang ia

rasakan saat itu. Walau perpisahan itu benar-benar terjadi, namun rasanya ikatan persahabatan itu tak akan pernah terputus oleh apapun. Aren menaiki tangga pesawat lalu menoleh untuk terakhir kalinya dan melambaikan tangan pada sahabat-sahabatnya. Sampai jumpa lagi. Karena tak ada itu frase ‘selamat tinggal’... End of flashback Aren tersenyum lagi sambil mengusap debu yang bertengger di handycam-nya. Setelah dua tahun berlalu, ia tak pernah lagi menangis saat memutar ulang rekaman karya Cakka. Terakhir kali ia menangis adalah saat enam bulan lalu ia mengunjungi makam Debo dan Rio. Namun tidak sekarang. Aren menghela nafas dan meletakkan handycam itu ke dalam tas peralatannya. “Aren?”, sapa seorang wanita yang sangat ia kenal, “Ayo, udah mau mulai.” Aren mengangguk semangat, “Oke, Mih!” Bu Ira merangkul bahu putrinya dan membimbingnya sampai ke tempat konfrensi pers, “Kamu jangan gugup, biasa saja. Kalo wartawan mulai nanya aneh-aneh, biar Mamih yang hajar nanti.”, kata Bu Ira semangat. Aren tertawa. “Mih, Mamih..”, katanya. Bu Ira tersenyum dan membelai rambut putrinya. Aren menarik nafas panjang saat memasuki ruangan konfrensi pers, dimana sudah sejublek wartawan yang menyiapkan kamera dan microphone. “Baiklah, sekarang saatnya..” --“ASTAGA!!”, teriak mereka barengan sambil menonton acara yang bertajuk launching album pertama seorang penyanyi wanita. Masalahnya, mereka sangat mengenal wanita cantik itu. “Aren??”, teriak Oik tak percaya, “Kok dia nggak cerita?” “Mau kasih kejutan, kali..”, jawab Obiet. “Gila..”, kata Cakka kagum, “Dia beneran jadi penyanyi wanita!” “Konfrensi pers-nya di jakarta, lagi! Pasti beken, ini mah..”, Ozy geleng-geleng kepala. “Impian dia.. Beneran menjadi nyata ya..” Mereka semua terdiam dan menonton acara eksklusif itu. Aren duduk didampingi Riko, Bu Ira dan menejernya. Sekarang masih sesi foto-foto, lalu sesi wawancara pun dimulai. Dengan pertanyaan ringan tentunya. Cakka tertawa-tawa melihat betapa gugup dan polosnya Aren saat menjawab pertanyaan para pers. Lalu mereka semua terdiam saat salah satu pers bertanya. “Nona Aren, kabarnya ada lagu karangan Anda?” Aren mengangguk, “Iya, judulnya ‘Mengenangmu’.” “Boleh tahu, lagu ini ditujukkan pada siapa? Seseorang yang spesial mungkin?” Lalu wartawan mulai heboh. Aren tertawa. “Lagu ‘Mengenangmu’ ini saya tulis ketika inget satu kota yang sangat berkesan buat saya.”, jawabnya. “Boleh tau kota mana?” Aren tersenyum, “Bandung.” Cakka, Ozy, Obiet dan Oik berpandangan saat mendengar jawaban Aren, “Bandung? Kita, dong?” “Boleh tau alasannya?” Aren menarik nafas, “Saya pernah bergabung dengan the Thanatos saat saya sekolah di Bandung. Nah, lagu ini saya persembahkan buat temen-temen seperjuangan saya. Sahabat, yang senantiasa menemani saya saat senang dan sedih.” “Sahabat, atau sahabat?”, lagi-lagi pers iseng. Senyum Aren berubah sedih, “Terutama untuk dua orang yang selalu ada buat saya. Sahabat terbaik yang pernah saya punya.” “Ohhh...”, wartawan iseng lagi, “Apa mereka menonton acara ini?” Aren mengangguk yakin, “Pasti. Mereka berdua pasti sedang melihat saya..”, Aren menunjuk ke atas, “Dari surga...” Spontan lima orang yang nonton acara itu dari televisi menunduk sedih mendengar kata-kata Aren. Sudah dua tahun berselang namun Aren tetap mengenang kedua orang terpenting baginya itu. Wajar saja. Selama jantung itu masih berdetak, selama itu pula Aren akan

mengenang Debo dan Rio. “Baiklah, sekarang saja kita mulai sesi nyanyinya...”, kata salah seorang MC. “Hadirin, sambutlah! Aren!” Semua kamera menyorot ke panggung yang sudah disediakan. Aren melangkah ke tengah panggung bulat itu dan berdiri di depan mic. Saat intro lagu dimulai, Aren mengambil mic dan maju ke hadapan kamera. “Saya persembahkan lagu ini untuk sahabat saya, the Thanatos. Obiet, Oik, Ozy, dan Cakka. Buat Rio, sahabat terbaikku yang sudah tidur dengan tenang.. Dan untuk pemilik jantung yang kupakai sekarang. Debo...” Intro lagu ‘Mengenangmu’ mengalun lembut. Aren mundur sedikit dan mulai bernyanyi. Yang nonton dari TV kaget mendengar suara Aren sekarang. Tak kan pernah habis, air mataku Bila kuingat tentang dirimu, huu “Suara Aren bagus banget sekarang..”, kata Oik kagum. “Nggak percuma ya, dua tahun dia belajar vokal di Bogor.”, kata Obiet bangga. “Apa kalian berpikiran sama denganku?”, tanya Ozy semangat. Obiet dan Cakka mengangguk. Mungkin hanya kau yang tahu Mengapa sampai saat ini, ku masih sendiri... “Besok, kita cari vokalis cowok dan gitaris ya.”, kata Cakka. “Aku setuju. Sudah saatnya the Thanatos bangkit kembali.”, sambung Obiet. Oik menghapus air yang bertengger di kedua ujung matanya, “Aku siap jadi menejer kalian lagi.”, katanya. Ketiga cowok itu mengangguk mantap. “Sudah seharusnya, kan?” Mereka berlima kembali menatap Aren yang sedang menghayati tiap bait yang ia nyanyikan. Suaranya jauh lebih matang ketibang saat dia jadi vokalis the Thanatos. Adakah di sana, kau rindu padaku Meski kita kini ada di dunia, berbeda Aren membuka matanya lebar-lebar dan menatap pada penonton yang sedari tadi melambailambaikan tangan mereka mengikuti irama lagu. Satu senyuman tersungging di bibirnya. Kalian lihat aku, Debo? Rio? Aku membanggakan, bukan? Aku bisa berdiri tanpa kalian harus selalu di sampingku. Aren ikut melambaikan tangannya dan menuju ujung panggung sambil terus menyanyi. Bila masih mungkin waktu kuputar Kan kutunggu dirimu “Semuanya!”, teriak Aren sambil mengarahkan mic-nya ke penonton. Biarlah kusimpan, sampai nanti aku Detik itu juga, Aren seakan kembali ke dua tahun yang lalu. Aren memejamkan matanya, menikmati momen-momen saat aksi panggungnya dan The Thannatos berhasil membuat penonton terpesona. Kan ada di sana, tenanglah dirimu Dalam kedamaian Aren terus menyanyi sambil melambaikan tangan. Ia merasa Debo ada di sebelahnya dan ikut membaurkan suara dengan penonton. Petikan gitar yang mengiringi suaranya tak lain adalah permainan Rio yang memang jenius soal gitar. Di sebelah Rio ada Obiet yang konsentrasi penuh pada bass-nya. Cakka ada di belakang. Ia memainkan rythm sambil berdiri di samping Ozy yang menikmati permainan drumnya.

Itulah yang ada dalam benaknya. Kenangan masa lalu yang tak pernah bisa ia lupakan. Kalaupun bisa, ia tak mau. Aren tersenyum saat mengenang masa-masa indah itu. Tersenyum karena ia begitu kuat, karena ia tak pernah lagi sendirian. Detik ini saja, Aren ingin kembali ke masa-masa itu. Dengarlah cintaku, kau tak terlihat lagi Saat Aren membuka matanya, kembali ia sedang menghibur ratusan tamu undangan. Menamukan ia sendirian bernyanyi dengan orkestra besar di belakangnya. Namun tetap saja ia merasa, sahabat-sahabatnyalah yang mendampinginya. Debo, Rio... Namun cintamu, abadi Aku tak akan pernah melupakan kalian, selamanya... THE END