You are on page 1of 12

ASKEP ABORTUS

LAPORAN PENDAHULUAN
1. Konsep Dasar Abortus
1.1 Pengertian Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat
tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah
kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan. Abortus adalah
ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
1.2 1.2 Klasifikasi
1.2.1 Abortus spontan Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktorfaktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata oleh faktor alamiah. Klinis
abortus spontan dapat dibagi atas :
1) Abortus imminens
Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan
suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut
atau dipertahankan.
2) Abortus insipiens
Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda di mana hasil konsepsi
masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus
sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.
3) Abortus inkompletus
Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah
keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.
4) Abortus kompletus
Perdarahan pada kehamilan muda di mana seluruh hasil konsepsi telah
dikeluarkan dari kavum uteri.
5) Abortus Habitualis ( keguguran berulang ) : adalah dimana penderita
mengalami keguguran 3 kali berturut-turut atau lebih.
6) Abortus infeksiosa
Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya
penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat
menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis.
7) Missed abortion
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang
telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Biasanya diagnosis tidak dapat ditentukan
hanya dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan
dan pemeriksaan ulangan.

1.2.2 Abortus Provakatus ( induced abortion )


Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alatalat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :
1) Abortus medisinalis (Abortus therapeutica) Adalah abortus karena tindakan
kita sendiri, dengan alasan apabila kehamilan dilanjutkan dapat
membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis ). Biasanya perlu
mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
2) Abortus kriminalis Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.
1.3 Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
1.3.1 Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada
kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini
adalah :
1) Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
2) Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
3) Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau, dan
alkohol.
1.3.2 Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena
hipertensi menahun.
1.3.3 Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan, dan
toksoplasmosis.
1.3.4 Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus
pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan kelainan bawaan
uterus.
1.3.5 Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi
kelenjar gondok.
1.3.6 Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
1.3.7 Gizi ibu yang kurang baik.
1.3.8 Faktor psikologis ibu.
1.4 Manifestasi klinis
1) Terlambat haid atau aminore kurang dari 20 minggu.
2) Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat
dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3) Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4) Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.

1.5 Pemeriksaan ginekologi :


1) Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
2) Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium.
3) Vagina touche : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri
1.6 Pemeriksaan Penunjang
1) Tes kehamilan : pemeriksaan HCG, positif bila janin masih hidup, bahkan
2-3 minggu setelah abortus.
2) Pemeriksaan doppler atau USG : untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
3) Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.
4) Histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus
submukosa dan anomali kongenital.
5) BMR dan kadar udium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau
tidak gangguan glandula thyroidea
6) Psiko analisa
7) Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan.
1.7 Penatalaksanaan
1.7.1 Abortus iminens
1) Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang
melanik berkurang.
2) Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas
dan tiap 4 jam bila pasien panas.
3) Tes kehamilan dapat dilakukan. Bila hasil negatif, mungkin janin sudah
mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
4) Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3x30 mg. berikan preparat
hematinik misalnya sulfas ferosus 600-1000 mg.
5) Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
6) Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptic untuk
mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
1.7.2 Abortus insipiens
1) Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa
pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
2) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai
perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau

cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan


ergometrin 0,5 mg intramuscular.
3) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infuse oksitosin 10 IU
dalam dekstrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai
kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
4) Bila janin keluar, tetapi plasenta masih tertinggal di dalam , lakukan
pengeluaran plasenta dengan cara manual.
1.7.3 Abortus inkomplit
1) Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infuse cairan NaCl fisiologis
atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
2) Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikan
ergometrin 0,2 mg intramuscular.
3) Bila janin sudah keluar tetapi plasenta masih tertinggal, maka lakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
4) Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
1.7.4 Abortus komplit
1) Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3x1 tablet selama 3 sampai 5
hari.
2) Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfuse
darah.
3) Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
4) Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
1.7.5 Missed abortion
1) Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan
cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
2) Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat
sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi.
3) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks
dengan gagang laminaria selama 12 jam laulu dilatasi serviks dengan
dilatator Hegar. Kemudian hasil konsepsi diambil engan cunam ovum lalu
dengan kuret tajam.
4) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan diestilstilbestrol 3x5 mg
lalu infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20
tetes per menit dan naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin
dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila tidak berhasil, ulang infus
oksitosin setelah pasien istirahat 1 hari.
5) Bila tinggi fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil
konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui

dinding
1.7.6 Abortus septik
Abortus septic harus dirujuk ke rumah sakit. Penyalahgunaan infeksi :
1) Obat pilihan pertama : penisilin prokain 800.000 IU intramuscular tiap 12
jam ditambah kloramfenikol 1 g peroral selanjutnya 500 gmg peroral tiap 6
jam.
2) Obat pilihan kedua : ampisilin 1 g peroral selanjutnya 500 g tiap 4 jam
ditambah metronidazol 500 mg tiap 6 jam.
3) Obat pilihan lainnya: ampisilin dan kloramfenikol, penisilin dan
metronidazol, ampsilin dan gentamicin, penisilin dan gentamisin.
4) Tingkatkan asupan cairan.
5) Bila perdarahan banyak, lakukan transfusi darah.
6) Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotic atau lebih
cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.
7) Pada pasien menolak dirujuk, beri pengobatan sama dengan yang
diberikan pada pasien yang hendak dirujuk, selama 10 hari.
1.7.7 Abortus Habitualis
Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar
hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya . merokok
dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks
inkompeten terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau MC DONALD
(cervical cerclage ).
1.8 Komplikasi
1.8.1 PerdarahanPerdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari
sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian
karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada
waktunya.
1.8.2 PerforasiPerforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada
uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya
abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian
terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan
luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
1.8.3 Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat.
1.8.4 Infeksi
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu

staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma,


Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis,
sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram
negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.
Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada
abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium,
tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering
bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli,
Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus,
Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang
kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan
Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena
dapat membentuk gas.
1.8.5 Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi
kelainan pembekuan darah.
2. Asuhan keperawatan
2.1 Pengkajian
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
2.1.1 Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
2.1.2 Keluhan utama : adanya perdarahan pervaginam berulang
2.1.3 Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar
siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
2.1.4 Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami
oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan
tersebut berlangsung.
2.1.5 Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
2.1.6 Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan
dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan
penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
2.1.7 Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya

dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang
menyertainya
2.1.8 Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan
kesehatan anaknya.
2.1.9 Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
2.1.10 Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat obatan
kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya. Pola aktivitas seharihari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK),
istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi : Inspeksi adalah proses observasi yang
sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi
indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain : mengobservasi kulit terhadap warna,
perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap
kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur,
penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan
posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang
abnormal
Pemeriksaan tinggi fundus uteri:
1) Tinggi dan besarnya tetap dan sesuai dengan umur kehamilan.
2) Tinggi dan besamya sudah rnengecil.
3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis.
Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada
permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau
jaringan yang ada dibawahnya. Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan
dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau
konsolidasi.Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada
kontraksi dinding perut atau tidak

Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan


stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang
terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan
darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut
jantung janin.
2.2 Diagnosa Keperawatan
2.2.1 Kekurangan volume cairan volume cairan behubungan dengan
kehilangan vaskuler dalam jumlah berlebih
2.2.2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan
2.2.3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kondisi vulva lembab.
2.2.4 Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia
2.2.5 Intoleansi aktivitas berhubungan dengan pendarahan.
2.2.6 Cemas berhubungan dengan ancaman kematian diri sendiri dan janin.
2.3 Intervensi Keperawatan
2.3.1 Kekurangan volume cairan berhubungan denga kehilangan vaskuler
berlebih yang ditandai dengan pasien mengungkapkan merasa lemah,
haus,suhu tubuh meningkat > 37.50C, turgor kulit menurun, mata cowong,
pendarahan >500cc, Nadi lambat < 60 X/mnt, TD < 120/80 mmHg, RR >20,
CRT > 2 dtk, oliguri dan mukosa bibir kering. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 1 X 24 jam volume cairan terpenuhi dengan criteria hasil :
1. pasien mengungkapkan tidak lemah, dan tidak merasa haus lagi.
2. TTV normal (suhu 36,5 37,5 , ND 60 100 X/ mnt, TD 120/80 mmHg ,
RR 12 20 X/ mnt)
3. CRT < 2dtk 4. Haluaran urine 1cc/kg BB / jam 5. Mukosa bibir lembab 6.
Turgor kulit normal 7. Mata tidak cowong Intevensi : 1. Jelaskan 2. Lakukan
tirah baring dan menghindari ibu untuk valsava manufer. R/ Pendarahan
dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen dapat
merangsang pendarahan. 3. Posisikan ibu dengan tepat (semi fowler). R/
menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul
menghindari kompresi vena. 4. Evaluasi , laporkan serta catat jumlah dan
sifat kehilangan darah, lakukan perhitungan pembalik, kemudian timbang
pembalut. R/ perkirakan kehilangan darah membantu membedakan diagnosis.
5. Catat tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membrane
mukosa atau kulit dan suhu. R/ membantu menentukan beratnya kehilangan
darah. 6. Kolaborasi a. Dapatkan pemeriksaan darah cepat: HDL jenis dan
pencocokan silang, titer Rh , kadar fibrinogen , hitung trombosit, APTT dan

kadar LCC. R/ menentukan jumlah darah yang hilang dan dapat memberikan
informasi mengenai penyebab yang harus dipertahankan untuk mendukung
transfor oksigen dan nutrient. b. Pasang kateter R/ apabila terjadi kekurangan
haluaran 30 ml/jam menadakan penurunan perfusi ginjal. c. Berikan larutan
intravena , darah lengkap , ekspander plasma meningkatkan volume darah
sirkulasi dan gejala gejala syok. 2.3.2 Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan trauma jaringan ditandai dengan pasien mengeluh nyeri,
nadi cepat > 100 X/mnt, TD > 120/80 mmHg, RR > 100 X/mnt,skala nyeri
>5.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam nyeri berkurang dangen
kriteria hasil :
1. Pasien tidak lagi mengeluh nyeri
2. TTV normal : ND 60 100 x / mnt, RR 12 20 x/mnt, TD 120/80 mmHg.
3. Skala nyeri < 3. Intervensi : 1. Jelaskan nyeri yang diderita klien dan
penyebabnya. R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance
mengatasi nyeri 2. Tentukan riwayat nyeri, mis. Lokasi nyeri, frekuensi,
durasi dan intesitas (skala 0-10) dan tindakan penghilangan yang digunakan.
R/ untuk mengetahui lokasi nyeri, frekunsi dan inteinsitasnya. 3. Berikan
tindakan fiksasi daerah yang nyeri (dengan memberikan gurita). R/
mengurangi rasa nyeri. 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
analgesic. R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan
pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 5.
Pantau TTV R/ untyk mengetahui nyeri berkurang / tidak. 2.3.3 Resiko tinggi
infeksi berhubungan dengan trauma jaringan Setelah dilakukan tindakan 3x
24 jam pasien tidak mengalami infeksi ditandai dengan KU pasien normal
dengan kriteria hasil : 1. Tidak merasa nyeri pada daerah vulva. 2. Tidak
merasa gatal 3. TTV normal (nadi 60-100x.mnt, TD 120/80mmHg, suhu 36,5
37,50C, RR 12 20 X/ mnt) Intervensi : 1. Terangkan pada klien
pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat
timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar 2. Terangkan
pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi Rasional : Berbagai
manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan
peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi. 3. Lakukan
perawatan vulva. Rasional : inkubasi kuman pada area genital yang relatif
cepat dapat menyebabkan infeksi. 4. Tingkatkan prosedur mencuci tangan

yang baik Tekankan higienen personal. Rasional : membantu mencegah


penularan bakteri untuk mencegah infeksi. 5.Observasi semua system, mis.
Kulit, pernafasan, genitourinaria, terhadap tanda/gejala infeksi secara
kontinyu. Rasional : Pengenalan dini dan intervensi segera dapat mencegah
progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. 6.Observasi kondis keluar ;
jumlah, warna, dan bau. Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji
setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak
enak mungkin merupakan tanda infeksi. 7. Pantau suhu. Rasional :
peningkatan suhu menandakan adanya infeksi. 2.3.4 Perubahan perfusi
jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan pasien
mengeluh lemas, sering pusing CRT>2detik, terjadi sianosis, nadi< 60
X/menit, TD<120/80mmHg, akral dingin. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan 2x24jam pasien menunjukan perbaikan perfusi jaringan dengan
kriteria hasil:
1. Pasien tidak lagi mengeluh lemah, tidak pusing,
2. CRT<2 detik
3. Tidak terjadi sianosis
4. TTV normal (nadi 60-100x.mnt, TD 120/80mmHg)
Intervensi :
1.Anjurkan tirah baring .
Rasional : meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ibu.
2.Perhatikan status fisiologi ibu, status sirkulasi, dan volume darah
Rasional : untuk mengetahui status sirkulasi ibu dalam keadaan normal untuk
mencegah terjadinya hipovolumik.
Kolaborasi :
3. Berikan oksigen pada ibu sesuai indikasi
Rasional : untuk mempertahankan perfusi jaringan.
4. Ganti kehilangan darah atau cairan itu.
Rasional : mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport
oksigen.
5. Dapatkan tes darah ibu untuk mengevaluasi serum ibu, darah Hb.
Rasional : untuk mengetahui seberapa banyak ibu kehilangan Hb.
2.3.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan perdarahan yang ditandai
dengan pasien merasa lemah, tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 x 24 jam dengan kriteria
hasil : pasien tidak lagi merasa lemah dan mampu melakukan aktivitas
sehari-hari tanpa bantuan perawat.

1. Anjurkan pasien mengikuti aktifitas dengan istirahat yang cukup.


Rasional : menghemat energi dan menghindari penggunaan tenaga terus
menerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan usus.
2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
Rasional : meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan
kepekaan/aktivitas uterus.
3. Instruksikan klien untuk menhindari mengangkat berat, aktivitas/kerja
rumah tangga berat, olahraga dan perjalanan dengan motorlebih dari 1-2 jam.
(Catatan : klien dengan kondisi jantung dapat menghadapi pembatasan yang
lebih berat).
Rasional : aktivitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak diindikasikan
untuk wanita beresiko. Latihan / ketegangan abdomen aerobic dapat
menurunkan aliran darah uterus dan meningkatkan kepekaan uterus.
4. Kolaborasi :
Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi / komplit sesuai kebutuhan.
Rasional : tingkat aktivitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejalagejala aktivitas uterus, perubahan serviks, atau perdarahan.
2.3.6 Cemas berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan
janin
Kriteria hasil : ibu mendiskusikan kecemasan mengenai diri janin dan masa
depan kehamilan, juga mengenai kecemasan yang sehat dan tidak sehat.
Intervensi
1. Jelaskan prosedur dan arti gejala
Rasional : Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan
meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi
2. Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri kesempatan
klien untuk mengajukan pertanyaan
Rasional : Pengetahuan akan membantu ibu untuk mengatasi apa yang
sedang terjadi dengan lebih efektif. Informasi sebaiknya tertulis, agar
nantinya memungkinkan ibu untuk mengulang informasi akibat tingkat stres,
ibu mungkin tidak dapat mengasimilasi informasi. Jawaban yang jujur dapat
meningkatkan pemahaman dengan lebih baik serta menurunkan rasa takut.
3. Dengarkan masalah ibu dengan seksama
Rasional : Menigkatkan rasa kontrol terhadap situasi dan memberikan
kesempatan pada ibu untuk mengembangkan solusi sendiri
4. Diskusikan tentang situasi dan pemahaman tentang situasi dengan ibu dan
pasangan

Rasional : Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang


terjadi.
5. Libatkan ibu dalam perencanaan dan berpatisipasi dalam perawatan
sebanyak mungkin
Rasional : Menjadi mampu melakukan sesuatu untuk membantu mengontrol
situasi sehingga dapat menurunkan rasa takut
6. Pantau respon verbal dan non verbal ibu dan pasangan.
Rasional : Menandai tingkat kecemasan yang sedang dialami ibu atau
pasangan
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan
Maternal/Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Ajaran Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP
Mansjoer, Arif Dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta :
Media Aesculapius
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Mochtar, Rustom. 1998. Sinopsis Obstetri jilid 1 edisi 2. Jakarta : EGC