You are on page 1of 25

MINI PROJECT

“Peningkatan Pengetahuan Keluarga Tentang Mutu & Keamanan
Makanan dalam Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat Pada Wilayah
Kerja Puskesmas Ngasem Bojonegoro ”

Disusun Oleh :
dr. Fitra Hardian P

PUSKESMAS NGASEM
INTERNSIP DOKTER INDONESIA
BOJONEGORO - JAWA TIMUR
2015

MINI PROJECT

“ Peningkatan Pengetahuan Keluarga Tentang Mutu &
Keamanan Makanan dalam Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
Pada Wilayah Kerja Puskesmas Ngasem Bojonegoro”

Disetujui dan disyahkan pada tanggal

Oktober 2015

Mengetahui,

Peserta

dr. Fitra Hardian P

Pendamping

dr. Tri Vera H

1 LATAR BELAKANG Kualitas SDM merupakan faktor utama yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan nasional. dan dewasa hingga usia lanjut. bayi. faktor gizi memegang peranan yang penting. Akan tetapi. mulai sejak masa kehamilan. Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya jajan makanan dan minuman yang bersih dan sehat. Kualitas SDM yang menjadi penggerak pembangunan dimasa yang akan datang ditentukan oleh bagaimana pengembangan SDM saat ini. dan rhodamin oleh produsen pangan jajanan adalah salah satu contoh rendahnya tingkat pengetahuan produsen mengenai keamanan pangan jajanan. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan penyakit akibat pangan pada anak–anak baik secara akut maupun kronis. tingkat keamanan pangan jajanan di sekolah sangat memprihatinkan. Perbaikan gizi diperlukan pada seluruh siklus kehidupan. anak balita. anak SD. boraks. prasekolah. untuk mencapai SDM berkualitas baik dan unggul. . cerdas dan memiliki fisik yang tangguh serta produktif. kualitas anak sekolah penting untuk diperhatikan karena pada masa ini merupakan masa pertumbuhan anak dan sangat pentingnya peranan zat gizi serta keamanan makanan yang dikonsumsi di sekolahnya. termasuk pada usia sekolah. dimana gizi yang baik akan menghasilkan SDM yang berkualitas yaitu sehat. Penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin.BAB I PENDAHULUAN 1. Ketidaktahuan produsen mengenai penyalahgunaan bahan berbahaya dan tingkat kebersihan makanan yang masih rendah merupakan faktor utama penyebab masalah keamanan pangan jajanan. Pembentukan kualitas SDM sejak masa sekolah akan mempengaruhi kualitasnya pada saat mereka mencapai usia produktif. Dengan demikian. remaja.

Hal ini akan berdampak terhadap angka ketidakhadiran anak di sekolah. sebagaimana hasil temuan diatas jika tidak ditanggulangi akan memperburuk masalah rendahnya status gizi anak-anak sekolah. demam tifus. diare. dll.Selama Juli sampai Oktober 2015 terdapat 2 kasus anak sekolah keracunan makanan di kecamatan Ngasem yang dirawat di IGD Puskesmas. Dari penelitian BPOM Pangan Jajanan Anak Sekolah yang tidak sehat paling banyak ditemukan karena mengandung kadar pemanis buatan (siklamat) melebihi batas maksimal.2 PERNYATAAN MASALAH Tingkat keamanan pangan jajanan konsumsi anak sekolah yang masih kurang. Data KLB keracunan pangan yang dihimpun oleh Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) Badan POM dari 26 Balai POM di seluruh Indonesia pada tahun 2006 menunjukkan (21. Berdasarkan kondisi di atas. Mereka diduga mengkonsumsi jajanan yang terkontaminasi kuman. sehingga orang tua bisa memberi . mual muntah dan lemas. seperti infeksi saluran pernafasan (ISPA). dikarenakan penyajian yang kurang higienis. terutama jajanan di lingkungan sekolah.5%) kelompok siswa anak sekolah dasar (SD) paling sering mengalami keracunan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS). Apalagi dampak mengkonsumsi pangan yang mengandung bahan kimia berbahaya berlebihan secara terus menerus baru akan terlihat dalam jangka panjang. tidak memenuhi syarat (TMS) mikrobiologi dan mengandung bahan tambahan pangan borax serta formalin. 1. Hal-hal tersebut akan berdampak kepada kesehatan anak sekolah yang akan berpengaruh pada kualitas SDM Indonesia di masa yang akan datang. maka perlu dilakukan edukasi kepada setiap orangtua tentang keamanan makanan untuk anak. kemampuan belajar dan hasil belajar anak sekolah.4%) kasus terjadi di lingkungan sekolah dan (75. mereka datang dengan keluhan diare. Rendahnya status gizi anak-anak sekolah akan menyebabkan mereka mudah terkena penyakit infeksi.

1.3 TUJUAN Memberikan edukasi kepada orangtua tentang berbagai jenis bahaya keamanan pangan jajanan terhadap kesehatan dan kiat praktis mendapatkan pangan yang aman dan sehat untuk anak-anak. 1. Selain itu.pengetahuan yang baik kepada anak mengenai pangan jajanan anak sekolah yang sehat.4 MANFAAT Mini project ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi orangtua dalam memilih pangan jajanan yang aman dan sehat untuk anak-anak. . juga dapat memberi informasi kepada masyarakat luas dalam upaya perlindungan kesehatan dan gizi terutama anak usia sekolah.

Hasil analisis data Riskesdas (2007) menunjukkan secara nasional masih rendahnya kualitas kesehatan dan perilaku tidak sehat pada anak sekolah dasar (614 tahun).4%. Sedangkan Departemen Pendidikan hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Anak usia sekolah merupakan anak yang sudah memasuki sekolah dasar hingga dua belas tahun. Lingkungan sekolah memiliki peranan penting dalam pendidikan. Sedangkan para ahli psikologi menyebut masa ini dengan sebutan usia berkelompok.9% perempuan. usia penyesuain diri.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Periode pertengahan masa kanak-kanak. usia kreaktif dan usia bermain. tetapi terdapat perubahan yang mencengangkan dalam hal intelektualnya dan dalam hubungan dengan orang lain. kini menjadi tanggung jawab Kabupaten/Kota. Masa ini ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak.3% laki-laki dan 10. Walaupun pertumbuhan fisik anak-anak pada usia sekolah relatif lambat. yaitu anak usia sekolah (6-12 tahun) merupakan periode yang penting dalam kehidupan anak-anak. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001. Prevalensi anemia untuk anak-anak (5-14 tahun) sebesar 9. selain itu anak sekolah beresiko terhadap . Lingkungan merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk perilaku anak sekolah.1 ANAK USIA SEKOLAH Sekolah merupakan institusi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. pengelolahan sekolah yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Rata-rata status gizi kurus (IMT< 2SD) pada anak usia sekolah (6-14 tahun) adalah 13.

Masalah pangan jajanan di lingkungan sekolah antara lain: 1. yaitu ditunjukkan kurangnya konsumsi sayur dan buah 93. 2. bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan untuk proses penyiapan. 3. Keracunan pangan karena proses penyiapan & penyajian yang tidak higienes.0%. 2. layak dikonsumsi dan tdk menimbulkan gangguan kesehatan. Ditunjuk oleh sekolah menyatu dengan kantin dan dikelola oleh koperasi sekolah.penyakit tidak menular. 3. Landasan Hukum : .2 PANGAN Sesuatu yang bersumber dari hayati dan air. Pangan Jajanan : Termasuk kategori pangan siap saji yaitu makanan dan atau minuman yang merupakan hasil proses dengan cara atau metode tertentu. 2. untuk langsung disajikan.6% dan sudah biasa merokok 2. sehat. Pangan siap saji yang belum memenuhi syarat higienitas. Kandungan gizi yang minim pada pangan jajanan. Peranan pangan jajanan sangat strategis untuk memberi tambahan asupan gizi bagi anak-anak. pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman. Sangat banyak dijumpai di lingkungan sekitar sekolah. Keamanan Pangan : Sangat penting diperhatikan untuk menjamin konsumen memperoleh pangan yang aman untuk kesehatan. Dua kategori penjaja pangan di sekitar sekolah : 1. Penjual pangan jalanan yang mangkal di sekitar sekolah. Risiko penyakit kanker karena penggunaan bahan tambahan yang berbahaya atau cemaran bahan kimia lainnya. baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. Ditemukannya produk pangan olahan yang tercemar bahan berbahaya (mikrobiologis & kimia) 2. rutin dikonsumsi sebagian besar anak usia sekolah dengan harga yang terjangkau oleh anak-anak. Dampak dari kurangnya perhatian terhadap keamanan pangan : 1. Penurunan kesehatan konsumen. bergizi. Syarat pangan dikatakan baik meliputi aman.

pengepakan.Kes/Per/XII/76 tentang Produksi dan Peredaran Makanan. pengemasan. Permenkes RI No. Obat Tradional. 1168/MenKes/Per/X/1999 dan No. yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud tehnologi (termasuk organoleptik) pada pembuatan.28 Tahun 2004 tentang Keamanan. Prebekkes Rumah Tangga dan Makmin. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI: PermenKes No. Antioksidan (Antioxidant) 2. Kepmenkes Ri No. 5. Kep. 386/Mne. 6. penyimpanan. BTM yang diizinkan terdiri dari golongan: 1. 2.79/Men.1. pengolahan.7 Tahun 1996 Tentang Pangan. Permenkes RI No. 4. 9.Kes/Sk/Iv/1994 tentang Pedoman Periklanan : Obat. 02240/B/SK/VII/91 tentang Persyaratan Mutu serta Label dan Periklanan Makanan. Anti kempal (Anti caking agent) .Kes/Per/VI/89 tentang Pendaftaran Makanan. 2.3 BAHAN TAMBAHAN MAKANAN Didefinisikan sebagai bahan yang biasanya digunakan sebagai makanan dan biasanya merupakan ingridien khas makanan. 8. perlakuan. Alkes Kosmetika. Mutu dan Gizi Pangan. 3. Dirjen POM No. Undang-Undang No. Undang-Undang No.79/Men.Kes/Per/III/78 tentang Label dan Periklanan Makanan. Undang-Undang No. Permenkes RI no.79/Men. mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi. penyiapan.23 Tentang Kesehatan.8 Tahun1999 tentang Perlindungan konsumen. PP No. 722/MenKes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan (BTM). atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. 7.

Pewarna Makanan yang Diijinkan : - Zat Warna Alam  nabati: kurkumin/ turmerik. nipagin. misal: natrium/kalium/amonium benzoat. Pengaturan keasaman (Acidity Regulator) 4. Flavour enhancer) 11. propionat. - Pengawet ORGANIK. Pemanis buatan (Artificial Sweetener) 5. Pengemulsi. sulfur dioksida) dsb. Pengawet (Preservative) 8. Pewarna (Colours) 10. sehingga dimungkinkan terjadinya penyalahgunaan peruntukan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan gangguan .4 BAHAN BERBAHAYA Bahan berbahaya merupakan barang yang peredarannya perlu dilakukan pengawasan. sulfit (metabisulfit. Semakin meningkatnya penggunaan bahan berbahaya karena jenis ataupun jumlahnya dapat dengan mudah diperoleh di pasaran. Pengental (Emulsifier. Stabilizer. pengaturan dan pengendalian oleh pemerintah karena dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat serta lingkungan hidup. nipasol dsb. Thickener) 7. misal: natrium/kalium nitrit. Sekuestran (Sequestrant) Bahan Pengawet yang Diijinkan : - Pengawet ANORGANIK. sorbat. Pemantap.3. klorofil dll  hewani: kurkumin dll - Zat Warna Sintetik (dibatasi)     Golongan Pirasolon Golongan Indigo Golongan Trifenilmetan Golongan Xantin 2. Pemutih dan Pematang tepung (Fluor treatment agent) 6. nitrat. Penyedap rasa dan aroma – Penguat rasa (Flavour. Pengeras (Firming agent) 9.

sangat kenyal. serta tidak mudah putus .Bila terhirup: iritasi pada hidung dan tenggorokan. pembunuh kuman/pembersih lantai. tumbuhantumbuhan serta lingkungan hidup.terhadap kesehatan. . Oleh karena itu. agak keras serta - tidak dihinggapi lalat Bakso : Tekstur sangat kenyal. warna daging putih bersih. mati rasa.Nama lainnya: Formol Methylene Aldehyde Paraforin. kenyal. sangat kenyal. Penggunaan BTM yang Tidak Tepat 1. serta tidak mudah rusak - dan tahan dalam jangka waktu lama Tahu : Teksturnya yang terlampau keras. Ciri-Ciri Makanan Mengandung Boraks: - Mie Basah : Tidak lengket. hewan. Boraks sebagai bahan pengawet dan pengenyal makanan. jika dibelah di dalamnya tampak warna merah tua - mencolok tidak wajar Daging Ayam : tekstur daging kencang. keamanan dan keselamatan manusia. boraks bisa menyebabkan gangguan sistem pencernaan seperti mual muntah. tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar. tidak mudah patah. . .Mie Basah : Tidak lengket. saluran pernafasan juga pada penggunaan jangka lama menyebabkan kanker. .Bahaya jangka pendek (akut). kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk mencegah penyalahgunaan bahan berbahaya yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Ciri-Ciri Makanan Mengandung Formalin: . kenyal dan tak mudah rusak. tak mudah rusak dan tak disukai lalat 2. tapi tidak padat. Formalin sebagai pengawet makanan.Bila terkena kulit : akan menjadi merah. diare.Penggunaan : Sebagai pengawet kosmetik dan pengeras kuku. juga bisa menyebabkan gangguan ginjal. tidak berbau khas ikan asin. . - tidak mudah rusak dalam waktu lama Ikan : Insang berwarna merah tua. tidak cerah atau bukan merah segar.

- Bakso : Tekstur sangat kenyal. Makanan yang mengandung rhodamin dan methanyl yellow Memiliki warna mencolok cerah. tapi lebih cemerlang keputihan Lontong : Rasa getir dan sangat gurih.5 KEMASAN PANGAN Bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau membungkus pangan. 4. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan). Rhodamin dan methanyl yellow sebagai pewarna makanan. berbahaya karena menyebabkan kanker bila dikonsumsi dalam jangka waktu lama. baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. ada sedikit rasa pahit jika ditelan dan memunculkan sedikit rasa gatal di tenggorokan saat mengkonsumsinya. 2. bisa menimbulkan rasa getir di lidah 3. mengkilap. penataan. kedua zat tersebut digunakan dalam industri tekstil. warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal). (UU No. transportasi) Memberi PROTEKSI dan perpanjangan daya tahan pangan agar terhindar dari kerusakan secara : fisik (mekanikal.7 Tahun 1996 tentang Pangan dan PP No. Fungsi kemasan pangan antara lain : - Sebagai WADAH (penyimpanan. Yang mencantumkan logo tara pangan Keunggulan : . kapang) Mempermudah transpor Sebagai media PROMOSI dan informasi Kemasan Pangan yang Paling Aman : 1. kimiawi - (permeasi gas. biologik (mikroba. Gelas dan keramik 2. Penggunaan Natrium nitrit sebagai pengawet makanan yang melebihi batas yang diperbolehkan dapat membentuk senyawa nitrosamin penyebab kanker. kelembaban/uap air). warna tidak kecokelatan seperti - penggunaan daging. cahaya). serta beraroma sangat tajam Kerupuk : Teksturnya sangat lembut dan renyah.

air dan gas – gas lain - Tahan panas - Inert yaitu tidak bereaksi dengan bahan yang dikemas - Dapat digunakan kembali Kelemahan : - Rapuh dan mudah pecah - Bobot besar sehingga biaya distribusi dan transportasi tinggi Berikut beberapa bahan yang harus kita waspadai penggunaannya karena berbahaya bagi kesehatan :  Melamin  Styrofoam  Kantong plastik  Kertas bekas 2. bentuknya tetap (kaku) - Barrier yang baik terhadap uap air. karena bungkus makanan juga bisa berpengaruh terhadap keamanan makanan.- Gelas dapat tembus pandang / transparan atau gelap - Selama pemakaian. • Pilih kemasan yang mencantumkan logo tara pangan dan kode daur ulang • Pilih kemasan yang warnanya tidak mencolok.6 TIPS MEMILIH KEMASAN PANGAN Para orang tua hendaknya berhati-hati dalam memilih bungkus makanan yang aman bagi anak. hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Utamakan menggunakan kemasan yang terbuat dari kaca/gelas atau keramik. . • Ikuti petunjuk pemakaian yang disarankan oleh produsennya.

Snack. . membuat lidah bergetar dan tenggorokan gatal. Berikut cara mudah memilih jajanan aman bagi anak. 1. misal sangat gurih. es krim. tapi ternyata makanan tersebut tidak aman. yang berwarna terlalu mencolok ada kemungkinan telah ditambahkan zat pewarna yang tidak aman.7 TIPS MEMILIH JAJANAN ANAK YANG AMAN Kebanyakan anak sangat tergoda dengan makanan yang berwarna mencolok atau bentuknya menarik.• Pilih kemasan yang mencantumkan identitas produsen. Makanan yang tidak aman umumnya berasa tajam. mie. 3. Amati warnanya. 2. • Tidak terkecoh dengan harga yang murah. kerupuk. • Jangan merebus botol susu untuk sterilisasi. 2. Baui aromanya Bau apek atau tengik pertanda makanan tersebut sudah rusak atau terkontaminasi oleh mikroorganisme. • Hindari penggunaan plastik untuk membuat/merebus makanan seperti ketupat. Amati komposisinya Bacalah dengan teliti adakah kandungan bahan-bahan makanan tambahan yang bahaya dan bisa merusak kesehatan. 4. mencolok atau tidak Amati apakah makanan tersebut berwarna mencolok atau jauh berbeda dari aslinya. Cicipi Rasanya Biasanya lidah cukup jeli untuk membedakan mana makanan yang aman atau tidak. sebaiknya direndam saja dalam air mendidih.

Sarapan selain bisa memastikan anak mendapat makanan yang sehat yang bisa memberi tenaga di sekolah. sehingga diharapkan pengguanaan bahan yang berbahaya bisa dihindari. Makanan yang sudah berjamur menandakan proses tidak berjalan dengan baik atau sudah kadaluarsa. Terdaftar di BPOM Bila hendak membeli makanan impor. Perhatikan kualitasnya Perhatikan kualitas makanan. mendorong sekolah untuk aktif dan peduli terhadap kesehatan anak didiknya. usahakan produknya telah terdaftar di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) yang bisa dicermati dalam label yang tertera di kemasannya.5. Keempat. bisa saja bahan pengawet menimbulkan reaksi alergi. Pada anak tertentu. juga bisa meninggalkan kesan mendalam dalam kebersamaan. Kedua. . sehingga anak bisa lebih selektif dalam memilih jajanan yang akan mereka beli. Ingat juga kriteria aman itu bervariasi. apakah masih segar atau sudah berjamur yang bisa menyebabkan keracunan. 6. memberi pengarahan kepada penjual jajanan mengenai bahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan. memberi pemahaman dan pengetahuan kepada anak mengenai jajanan yang bersih dan sehat. Cara yang bisa dilakukan terkait kebiasaan jajan anak di sekolah Pertama orang tua mewajibkan anak untuk sarapan di rumah dan menyiapkan bekal makanan yang diolah atau dipilih langsung oleh orang tua. semisal sekolah bisa membuat kantin sehat yang hanya menjual makanan sehat dengan perilaku yang juga sehat. Ketiga. aman bagi satu orang belum tentu aman bagi yang lainnya.

BAB III METODE Metode yang dilakukan sebagai intervensi pada program mini proyek ini yaitu dengan memberikan edukasi kepada orangtua anak sekolah terutama ibu. Target intervensi program mini proyek ini antara lain ibu-ibu datang pada saat kegiatan POSYANDU di wilayah kerja Puskesmas Ngasem. serta tatap muka secara langsung. Ibu-ibu diharapkan mempunyai pemahaman yang baik mengenai keamanan makanan dan dapat memberikan edukasi kepada anggota keluarga mengenai keamanan makanan dan minuman. kader kesehatan di kecamatan Ngasem. Hal tersebut diharapkan dapat menurunkan tingkat kejadian penyakit pada anak usia sekolah . ibu-ibu yang datang berobat ke Puskesmas pada bulan September 2015. melalui pembagian pamflet. presentasi dan diskusi berkelompok.

15 ibu-ibu yang datang ke Posyandu. feedback. Usia responden bervariasi antara 20-60 tahun.seperti ISPA. Semua responden yang diintervensi pada mini proyek ini adalah ibu-ibu yang sudah mempunyai anak dan kader kesehatan. . diare. ibu-ibu di Posyandu dan ibu-ibu yang datang ke  Puskesmas.1 KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS RESPONDEN Dalam mini proyek ini didapatkan 50 sampel target intervensi yang terdiri atas 15 kader. BAB IV HASIL 4. Dukoh Kidul. ibu-ibu di Posyandu dan ibu-ibu  yang datang ke Puskesmas sebagai bahan penilaian. dan kuisioner. Mempersiapkan materi edukasi yang mudah dipahami dan diingat kepada kader kesehatan. dan 20 ibu-ibu yang datang ke Puskesmas pada bulan September 2015. Tengger. dan Sendangharjo. Ngantru. presentasi powerpoint. Pengisian kuisioner oleh kader kesehatan. sebanyak 23 orang (46 persen) berusia 20-30 tahun. pendapat. Ngadiluwih. Mediyunan. 5 orang (10 persen) berusia 40-50 tahun. 21 orang (42 persen) berusia 30-40 tahun. dan juga masalah gizi yang diakibatkan dari jajanan yang tidak baik. Langkah-langkah intervensi :  Membuat daftar masalah yang ditemukan pada anak sekolah di ruang  lingkup kerja Puskesmas Ngasem terkait dengan keamanan makanan. media leaflet. Sampel berasal dari beberapa desa. Trenggulunan. Media yang digunakan dalam edukasi ini antara lain dengan menggunakan tatap muka langsung. Ngasem. Mencatat pertanyaan. dan satu orang (2 persen) diatas 50 tahun. dan saran serta kendala yang ada di masyarakat dimana semua partisipan harus ikut serta aktif dalam jalannya diskusi. Butoh.

distribusi pendidikan terahir cukup merata.Tabel 1. lulusan SMP yakni sebanyak 10 orang (20 persen). Karakteristik Umum Responden. mayoritas merupakan Ibu rumah tangga (66 persen). diikuti dengan lulusan SD sebanyak 18 orang (36 persen). No 1 2 3 4 Karakteristik responden Kelompok usia 20-30 30-40 40-50 50-60 Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan terahir Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Sarjana Pekerjaan Swasta IRT Bertani Jumlah ( n= 50 ) % 23 21 5 1 46 42 10 2 50 0 100 0 0 1 18 10 20 1 0 2 36 20 40 2 4 33 13 8 66 26 Untuk tingkat pendidikan responden. . bertani sebanyak 26 persen dan sebagian merupakan pekerja di bidang swasta (8 persen). antara lain untuk lulusan SMA jumlahnya paling banyak yakni 20 orang (40 persen). Sedangkan untuk pekerjaan.

Distribusi usia Responden 40-50 50-60 .DISTRIBUSI USIA RESPONDEN 20-30 5 1 30-40 23 21 Gambar 1.

Distribusi Pekerjaan 4 Swasta IRT 13 Bertani 33 Distribusi Pendidikan Terakhir Tidak tamat Sd 31 Tamat SD 18 20 Tamat SMP Tamat SMA Sarjana 10 Gambar 2. Distribusi Usia dan Pendidikan terakhir Responden .

sikap mengenai jajanan anak di sekolah. sikap dan perilaku responden setelah diberikan intervensi. dan kurang bila jawaban betul hanya satu atau kurang. Untuk mengevaluasi pemahaman materi. Pertanyaan 1-3 bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman materi (pengetahuan) responden setelah diberikan intervensi. DAN PERILAKU RESPONDEN SETELAH INTERVENSI Mini proyek ini menggunakan metode promosi kesehatan secara didaktif (satu arah).2 TINGKAT PENGETAHUAN. maupun wadah pembungkus makanan. Setelah dijelaskan responden dapat mengajukan pertanyaan atau berdiskusi mengenai materi yang diberikan. pertanyaannya bervariasi mengenai syarat jajanan yang baik. sedangkan pertanyaan 7-9 mengukur perilaku responden setelah diberikan intervensi. SIKAP. bahan berbahaya dalam makanan. Tingkat Pengetahuan. Sikap dan Perilaku Responden Setelah Intervensi. dinilai cukup bila hanya menjawab 2 pertanyaan benar. Tabel 2. Sebagian besar responden memiliki . presentasi power point maupun lewat pamflet.4. yakni lewat tatap muka langsung. Pertanyaan 4-6 bertujuan untuk menilai sikap responden mengenai keamanan pangan. Faktor yang dinilai Pengetahuan Sikap Perilaku Jumlah ( n=50) Baik : 46 % 92 Cukup : 4 8 Kurang : 0 Baik : 50 0 100 Cukup :0 0 Kurang :0 Baik: 32 0 64 Cukup: 15 30 Kurang: 3 6 Skor responden dinilai baik jika benar bisa menjawab 3 pertanyaan. responden mengisi quisioner yang berisi tentang identitas umum dan 9 pertanyaan.

seluruh responden ingin anaknya berhati-hati dalam memilih makanan dan jajanan di sekolah. Sikap dan Perilaku Responden Setelah Intervensi Baik Cukup Kurang . Distribusi Tingkat Pengetahuan. Banyak responden yang tidak memberikan bekal makanan dan minuman kepada anak ketika sekolah dan masih membebaskan anak untuk jajan sembarangan di luar. dan 30 persen memiliki perilaku cukup sedangkan yang hasilnya baik jumlahnya 64 persen. Gambar 3.pengetahuan yang baik ( 92 persen) dan hanya sebagian kecil responden memiliki pengetahuan yang cukup (8 persen) Sedangkan presentasi sikap reseponden seluruhnya baik ( 100 persen). Namun pada perilaku. sebanyak 6 persen masih kurang.

SMP. Jenis kelamin responden keseluruhan adalah wanita. Oleh karena itu. dan SMA. Pendidikan rata-rata responden SD. misalnya : Peran serta Pemerintah: . orang tua. pengawasan makanan khususnya pangan jajanan anak sekolah perlu melibatkan berbagai pihak terkait. guru. siswa. yang msebagian besarnya berkerja sebagai ibu rumah tangga. Dari hasil penilaian kuesioner di dapatkan hasil. Usia terbanyak responden adalah 20-40 tahun. seperti pemerintah. Tetapi untuk faktor perilaku masih menjadi kendala untuk dirubah atau ditingkatkan. didapatkan setelah diberikan intervensi tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang mutu dan keamanan makanan menjadi relatif baik.BAB V DISKUSI Berdasarkan hasil mini project yang telah dilakukan. Masing-masing pihak terkait memiliki peran serta yang terintegrasi. Selain itu. dan penjual pangan.

a. serta instansi terkait lainnya perlu ditingkatkan. yaitu mengawasi pangan apa yang dijual. Guru berperan dalam mengawasi kantin sekolah melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). penjual pangan. Pemberian informasi terhadap kiat–kiat memilih jajanan yang aman (warna. Menyediakan perangkat pelaksanaan peraturan dan pengawasan penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP). kebersihan kantin. b. b. lokasi jajanan) Peran serta guru: a. tekstur. b. orang tua. Peran serta penjual pangan: . Orang tua berperan dalam memberikan pengetahuan dasar kepada anak–anak mengenai dampak negatif atau akibat yang timbul apabila jajan disembarang tempat. Badan Ketahanan Pangan. Peran serta orang tua: a. serta memberikan pelatihan bagi petugas kantin. Kerjasama program keamanan pangan terpadu JAS yang melibatkan lintas sektor antara lain Depdiknas. Kegiatan monitoring JAS secara terencana dan terus menerus perlu lebih ditingkatkan dengan mencakup daerah yang lebih luas di Indonesia. Badan POM RI beserta jajarannya masing–masing. higiene dan sanitasi serta pelarangan penggunaan bahan berbahaya pada pangan perlu lebih ditingkatkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Orang tua sebaiknya membekali anak–anaknya dengan makanan rumah yang aman dan layak ketika akan berangkat sekolah. e. Guru berperan dalam memberikan pengertian dan pengetahuan kepada anak–anak mengenai dampak negatif yang timbul apabila jajan di sembarang tempat. c. dan siswa f. Depkes. Mengadakan program promosi keamanan pangan jajanan ke sekolah–sekolah d. Depdag. Melakukan pelatihan – pelatihan terhadap guru. agar tidak jajan sembarangan.

Ketidaktahuan produsen mengenai penyalahgunaan bahan kimia berbahaya dan praktek higiene yang masih rendah merupakan - faktor utama penyebab masalah keamanan pangan jajanan.a. BAB VI KESIMPULAN & SARAN A. b. KESIMPULAN - Pangan jajanan yang bersih dan sehat memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi - anak-anak terutama pada usia sekolah. serta mempraktekkan cara pengolahan pangan yang baik terutama memperhatikan persyaratan higiene dan sanitasi. Perlu peran serta aktif dari berbagai pihak dalam upaya menjaga mutu dan keamanan makanan. guru. Penjual wajib memperhatikan kebersihan fasilitas dan tempat penjualan untuk mencegah kontaminasi silang terhadap produk. B. Penjual hanya boleh menggunakan BTP yang diijinkan dan tidak melebihi batas maksimum yang dipersyaratkan. murid serta penjual pangan dalam meningkatkan keamanan pangan jajanan harus diupayakan secara terus menerus dan terpadu agar . SARAN Kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak antara pemerintah. serta tidak boleh menggunakan pewarna ataupun bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya pada pangan. orangtua.

hasil yang dicapai dalam upaya menjaga mutu dan keamanan makanan dapat maksimal. .