P. 1
PEMBESARAN IKAN LELE

PEMBESARAN IKAN LELE

|Views: 8,319|Likes:
Published by Baswantara
kegiatan akuakultur dalam bentuk pembesaran ikan lele.......
kegiatan akuakultur dalam bentuk pembesaran ikan lele.......

More info:

Published by: Baswantara on Apr 14, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

Laporan Praktikum m.k.

Dasar-dasar Akuakultur

Hari/Tgl : Senin/ 11 Januari 2010 Asisten : Moch Johan Chandra Muhammad Harir Riri Fitri Maria Yuliyanti Trian Rizky Febriansyah

PEMBESARAN IKAN LELE Clarias gariepinus

Oleh: Arif Baswantara C54080027

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan gizi akan protein hewani saat ini dirasakan sangat diperlukan. Salah satu sumber protein hewani tersebut adalah ikan. Karena semakin besarnya permintaan ikan, maka pemenuhannya tidak cukup hanya kita peroleh dari kegiatan perikanan tangkap. Hal ini yang mengakibatkan diperlukannya adanya kegiatan budidaya. Secara garis besar, kegiatan budidaya dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan produksi on farm dan off farm. Kegiatan on farm meliputi kegiatan pembenihan,pendederan, dan pembesaran. Pada kegiatan off farm meliputi pengadaan prasarana dan sarana produksi, penanganan hasil panen, distribusi hasil, dan pemasaran. Pada praktikum kali ini, kita akan melakukan pembesaran ikan lele (Clarias gariepinus). Ikan lele dapat tetap hidup dan tumbuh pada padat penebaran yang tinggi sehingga menguntungkan dalam segi ruang maupun finansial. Pemasaran ikan lele juga relatif mudah karena komoditi ini banyak diminati oleh masyarakat. Oleh sebab itulah ikan lele dipilih dalam praktikum pembesaran ini. Dalam produksi pembesaran, terdapat beberapa tahap proses yang meliputi persiapan wadah, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan air, pemberantasan hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan populasi, dan pemanenan. 1.2 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tata cara pembesaran ikan lele (Clarias gariepinus) dan menghasilkan ikan ukuran siap konsumsi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Lele Ikan lele memiliki bentuk tubuh memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mempunyai sungut yang memanjang yang terletak di sekitar kepala sebagai alat peraba ikan. Mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengan sungut hidung. Penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Ikan lele mempuyai lima sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinya mengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain brnafas dengan insang juga mempunyai alat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak pada insang bagian atas. (Najiyati,1992) Berdasarkan pada taksonominya, ikan lele dapat di klasifikasikan sebagai berikut (Sanin, 1984) Kingdom Sub Kingdom Phylum Class Sub Class Ordo Sub Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Metazoa : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Ostariophysoidei : Siluroidea : Claridae : Clarias : Clarias batrachus

2.2 Pertumbuhan Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolisme (Soetjiningsih, 1988). Ada perbedaan kecepatan tumbuh antara ikan lele lokal dan ikan lele dumbo. Ikan lele dumbo biasanya kemiliki kecepatan tumbuh yang lebih besar dibandingkan dengan ikan lele lokal. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan lele, yaitu faktor internal meliputi genetik dan kondisi ikan itu sendiri, dan faktor eksternal meliputi kondisi lingkungan contohnya air. 2.3 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR) adalah jumlah ikan yang hidup hingga akhir pemeliharaan. Untuk mengetahuinya digunakan rumus sederhana, yaitu jumlah ikan yang ditebar dikurangi dengan jumlah ikan yang hidup kali seratus persen. Faktor yang mempengaruhi SR ini antara lain faktor lingkungan (kualitas air, pH, kekeruhan, jumlah oksigen terlarut), makanan, predator yang bisa menurunkan SR. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Hal ini disebabkan karena lele memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya, antara lain lebih tahan terhadap penyakit, lebih cepat besar, dan mampu beradaptasi dengan mudah pada berbagai kondisi lingkungan,termasuk kondisi lingkungan yang buruk. (Angkringan, 2009) 2.4 Pakan Ikan Ikan lele termasuk ikan omnivor yaitu pemakan segala. Ikan lele dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Dalam usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pelet) sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

2.5 Kualitas Air Lele termasuk ikan air tawar yang menyukai genangan air. Di sungai-sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai di tempat-tempat yang aliran airnya tidak terlalu deras. Kondisi yang ideal bagi hidup lele adalah air yang mempunyai pH 6,5-9 dan bersuhu 24–26 ºC. Kandungan O² yang terlalu tinggi akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung dalam jaringan tubuhnya. Sebaliknya penurunan kandungan O² secara tiba-tiba, dapat menyebabkan kematiannya. (Najiyati, 1992)

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Pembesaran Ikan Lele dilaksanakan dari tanggal 15 Oktober 2009 hingga tanggal 18 Desember 2009. Pembesaran ini selesai setelah ikan lele mencapai bobot layak panennya, yaitu pada kisaran kurang lebih size 8. Pembesaran ikan lele dilaksanakan di kolam percobaan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam pembesaran ikan lele ini adalah ember, jaring, timbangan, plastik. Bahan yang digunakan dalam pembesaran ikan lele ini adalah air yang mengalir, pakan, dan daun pisang. 3.3 Prosedur Kerja Pada awal tahapannya, dilakukan pengeringan pada kolam percobaan yang akan kita gunakan. Pembersihan dilakukan setelahnya, yaitu mengangkat sisa-sisa endapan pakan yang masih berada di dalam kolam, dan mengangkat sampahsampah dari luar kolam yang masuk ke dalam kolam seperti daun-daunan ataupun serasah rumput. Kolam dibiarkan kering hingga beberapa hari, dan selanjutnya dilakukan pengisian air ke dalam kolam, dan pengisian ini memakn waktu yang cukup banyak. Setelah air terisi kedalam kolam, selanjutnya dilakukan penebaran ikan. Ikan yang akan ditebar terlebih dahulu diukur bobotnya agar dapat diketahui jumlah ikan yang kita tebar, dan jumlah pakan yang dapat kita berikan. Jumlah yang ditebar pada pembesaran kali ini adalah 11319 ekor. Terjadi proses aklimatisasi terlebih dahulu dalam penebaran ikan ini. Proses aklimatisasi adalah proses penebaran secara perlahan pada ikan, ketika ikan akan di masukkan kedalam kolam. Hal ini dilakukan agar ikan dapat melalukan adaptasi dengan baik dengan lingkungan perairan yang baru yang akan ditempati oleh ikan.

Untuk pemeliharaan ikan, jumlah pakan dan volume air harus diperhatikan, hal ini dimaksudkan agar ikan dapat tumbuh dengan baik dan mencapai size yang diinginkan. Dalam pemberian pakan, biasa dilakukan tiga kali dalam sehari, yaitu pada pagi, siang, dan malam hari. Pemberian pakan diberikan hingga ikan merasa kenyang, jadi pemberian pakan dilakukan hingga ikan tidak mau lagi memakan pakannya. Dalam penjagaan volume air, harus dipastikan bahwa outlet berada dalam keadaan bersih dan tidak adanya penyumbatan. Keadaan inlet juga tetap dalan keadaan mengalir. Dalam pemeliharaan, dilakukan juga kegiatan sampling, hal ini dilakukan agar dapat diketahui pertumbuhan bobot ikan dan jumlah pakan yang harus diberikan. Semakin meningkatnya bobot ikan,maka jumlah pakan ynag diberikan pun juga meningkat. Dalam sampling ini juga kita dapat melihat keadaan ikan lele yang sedang kita pelihara, apakah ada penyakit yang menyerang mereka ataupun adanya persaingan antara mereka. Ikan yang terindikasi terkena penyakit kita pisahkan dari kolam untuk selanjutnya kita berikan pakan obat. Proses sampling ini dilakukan dengan menjaring ikan pada tiga lokasi berbeda pada kolam, dan selanjutnya ikan ditimbang ataupun dilihat keadaan fisiknya. 3.4 Analisis Data 3.4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate adalah jumlah ikan yang hidup hingga akhir pembesaran. Jumlah ikan yang hidup ini dibuat perbandingan dengan jumlah seluruh ikanyang ditebaran saat awal penebaran. Rumus :

Keterangan: SR = Tingkat kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No = jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian (ekor)

3.4.2 Konversi Pakan Konversi pakan atau FCR adalah jumlah pakan yang dihabiskan untuk menghasilkan 1kg daging. Nilai konversi pakan berujung pada kualitas dari pakan yang kita berikan. Rumus :

Keterangan: FCR Pt Bt Bo = feed conversion rate/ konversi pakan = pakan total (kg) = bobot total (kg) = bobot awal penebaran benih (kg)

3.4.3 Laju Pertumbuhan Harian Rumus :

Keterangan : SGR Wt Wo t = Pertumbuhan spesifik (%) = Berat pada akhir penelitian (g) = Berat pada awal penelitian (g) = Waktu yang dibutuhkan dari berat awal hingga berat akhir (hari)

3.4.4 Pertumbuhan Mutlak Pertumbuhan total dari berat bobot akhir dikurangi bobot awal dibagi dengan waktu yang diperlukan. Rumus:

Keterangan: GR = pertumbuhan mutlak (gr/hari) t = waktu pemeliharaan (hari) Wo = berat awal saat penebaran benih (gr) Wt = berat rata-rata pada waktu ke t (gr)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat Kelangsungan Hidup dapat kita ketahui dari jumlah ikan yang kita panen. Jumlah tersebut kita bandingkan dengan jumlah benih yang kita tebar. Dari lima departemen, diperoleh data Tingkat Kelangsungan Hidup sebagai berikut.

Grafik.1. Tingkat Kelangsungan Hidup

Dari data diatas diketahui bahwa Tingkat Kelangsungan Hidup ikan lele dari departemen BDP sebesar 88.7%, MSP sebesar 82.3%, THP sebesar 79.6%, PSP sebesar 88.6%, dan ITK sebesar 85.9%. 4.1.2 Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian dapat kita ketahui dari pengolahan data hasil sampling yang kita lakukan. Laju pertumbuhan harian selalu membandingkan antara biomassa ikan saat sampling dengan biomassa ikan saat awal tebar. Data laju pertumbuhan harian ikan lele dari masing-masing departemen dapat kita lihat dalam grafik sebagai berikut.

Grafik.2. Laju Pertumbuhan Harian

Dari grafik Laju Pertumbuhan Harian diatas, diketahui bahwa laju pertumbuhan harian dari setiap departemen mengalami penurunan. Laju pertumbuhan harian terakhir dari departemen BDP adalah 8.18%, MSP adalah 5.53%, THP adalah 2.08%, PSP adalah 7.78%, dan ITK adalah 5.87%. 4.1.3 Pertumbuhan Mutlak Pertumbuhan Mutlak juga dapat kita ketahui dari pengolahan data hasil sampling yang kita lakukan. Pertumbuhan mutlak membandingkan antara bobot rata-rata ikan lele saat sampling dengan bobot rata-rata ikan lele saat awal tebar. Data pertumbuhan mutlak dari masing-masing departemen dapat kita lihat dalam grafik sebagai berikut.

Grafik.3. Pertumbuhan Mutlak

Dari grafik diatas dapat kita ketahui bahwa pertumbuhan rata-rata ikan lele per hari dari departemen BDP adalah 2.71 gr/hari, MSP adalah 1.91 gr/hari, THP adalah 1.38 gr/hari, PSP adalah 1.71 gr/hari, dan ITK adalah 1.83 gr/ hari.

4.1.4 Konversi Pakan Konversi Pakan dapat kita ketahui dengan membandingkan antara pertambahan bobot ikan dengan jumlah pakan yang dihabiskan. Konversi pakan dapat menjadi pembanding kualitas suatu pakan. Nilai konversi pakan dari masing-masing departemen dapat kita lihat dalam grafik sebagai berikut.

Grafik.4. Konversi Pakan

Data konversi pakan memiliki arti bahwa banyaknya pakan yang dihabiskan untuk menghasilkan 1kg daging. Dari grafik diatas dapat kita ketahui bahwa konversi pakan dari departemen BDP adalah 1.05 kg, MSP adalah 1.05 kg, THP adalah 2.27 kg, PSP adalah 1.65 kg, dan ITK adalah 1.71 kg. 4.1.5 Hasil Panen Hasil Panen adalah total biomassa yang diperoleh dari hasil pembesaran lele. Hasil panen tersebut telah termasuk dari biomassa konsumsi, big size, dan sortir. Data hasil panen dari masing-masing departemen dapat kita lihat dalam grafik sebagai berikut.
Tabel.1. Hasil Panen

Departemen BDP MSP THP PSP ITK

Panen dalam biomassa (kg) daging big size sortir total 265 117 9.1 391 401 61 59 521 318.5 84.6 18 421 315 85 25 425 333 25 98 456

Dari grafik diatas dapat kita ketahui bahwa hasil panen dari departemen BDP sebesar 391 kg, MSP sebesar 521 kg, THP sebesar 421 kg, PSP sebesar 425 kg, dan ITK sebesar 456 kg. 4.1.6 Analisis Usaha Analisis usaha dilakukan untuk mengetahui setiap biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan praktikum pembesaran ini, pendapatan yang diperoleh dari hasil panen, dan selisih antara keduanya untuk mengetahui keuntungan ataupun kerugian yang dialami. Data analisis usaha dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.
Tabel.2. Analisis Usaha

Departemen BDP MSP THP PSP ITK

Pemasuka n 3667900 5029000 4023800 4055000 4412000 Pengeluaran Keuntungan 3537133 130767 4984000 45000 6253733 -2229933 4302307 -1847307 4827342 -2015342

Dari tabel di atas dapat kita ketahui keuntungan yang diperoleh dari setiap departemen. Tanda minus pada kolom keuntungan berarti bahwa departemen tersebut mengalami kerugian. 4.1.7 Analisis Kualitas Air Data kualitas air diperoleh dari sampling. Data kualitas air dari masingmasing departemen terdapat dalam tabel sebagai berikut.
Tabel.3. Analisis Kualitas Air

Parameter DO pH

BDP 7.1-7.2 mg/L 6.63-6.64 37.79-

MSP 6.9-7 mg/L 6.85-6.93 42.5247.25 172-200

Kelas THP 6.6 mg/L 6.84-6.92 47.2570.87 60-172

PSP 6.6 mg/L 6.61-6.99 89.7694.49 76-104

ITK 6.6 mg/L 6.817.76 94.49 72-80

CaCo3 47.25 Alkalinitas 160-176

0.28Amoniak Nitrit 0-0.12 0.0390.043 0.05-0.08 0.030.034 0.29-0.32 0.0390.066 0.15-0.4 0.0440.059 0.29 0.050.055

Dari tabel diatas diketahui parameter-parameter kualitas air yang diukur, mulai dari nilai dari DO, pH, CaCO3, alkalinitas, amoniak, dan nitrit. Sebagai contoh dari data ITK, nilai DO adalah 6.6 mg/L, nilai pH adalah 6.81-7.76, nilai CaCO3 adalah 94.49, nilai alkalinitas 72-80, nilai amoniak 0.28-0.29, nilai nitrit 0.05-0.055. 4.2 Pembahasan Tingkat kelangsungan hidup adalah jumlah ikan yang mampu bertahan hidup hingga akhir pemeliharaan. Dari data yang diketahui, terdapat perbedaan nilai tingkat kelangsungan hidup dari masing-masing departemen. Departemen BDP memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi dengan 88.7%, dan departemen THP memiliki tingkat kelangsungan hidup yang rendah dengan 79.6%. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan kualitas air dan cara pemeliharaan dari setiap departemen. Kualitas air yang sesuai dengan kadarnya akan sangat berpengaruh dengan tingkat kelangsungan hidup ikan. Semakin besar nilai tingkat kelangsungan hidup, maka pembesaran ikan berlangsung lebih baik. Laju pertumbuhan harian adalah pertumbuhan biomassa harian dari awal penebaran hingga panen. Juga terdapat perbedaan laju pertumbuhan harian dari setiap departemen. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan ketelitian saat pemeliharaan dan pemberian pakan. Perbedaan ketelitian inilah yang mengakibatkan pertumbuhan ikan tidak sama dari setiap departemen. Pertumbuhan mutlak adalah pertumbuhan dari bobot rata-rata ikan saat awal penebaran hingga panen. Terdapat perbedaan pertumbuhan mutlak dari setiap departemen karena perbedaan yang terjadi pada laju pertumbuhan harian. Semua faktor yang mempengaruhi perbedaan laju pertumbuhan harian juga dapat mempengaruhi perbedaan pertumbuhan mutlak. Pertumbuhan ikan terkait dengan pertambahan bobot. Pada masa pembesaran, bobot akan terus bertambah. Namun ada waktu dimana bobot ikan

tidak lagi bertambah atau pun laju pertumbuhannya menurun. Meskipun pembesaran terus dilanjutkan, pertumbuhan ikan pun tidak akan bertambah lagi. Konversi pakan ditentukan dari hasil sampling, yaitu pertambahan bobot dan jumlah pakan yang dihabiskan. Terjadi perbedaan konversi pakan dari tiap departemen karena adanya perbedaan bobot rata-rata ikan saat sampling dari setiap departemen. Konversi pakan menunjukan kualitas suatu pakan, karena setiap nilai konversi pakan berarti banyaknya pakan yang dihabiskan untuk menghasilkan 1kg daging. Semakin kecil nilai suatu konversi pakan, maka semakin bagus mutu pakan tersebut. Hasil panen adalah total bobot yang didapatkan pada saat akhir pembesaran. Departemen MSP memiliki hasil panen terbesar yaitu 521 kg dan departemen BDP yaitu 391 kg. Perbedaan hasil panen terjadi karena adanya perbedaan pertumbuhan ikan pada masing-masing departemen. Semakin besarnya hasil panen tidak menentukan semakin besarnya pendapatan, karena hasil panen ini dibagi lagi menjadi hasil sortir, ukuran konsumsi dan over size. Analisis usaha merupakan perhitungan pendapatan hasil panen, pengeluaran untuk benih dan pakan, serta keuntungan ataupun kerugian yang dialami. Dari analisis usaha ini, kita dapat memperhitungan biaya yang kita habiskan untuk melakukan pembesaran di waktu selanjutnya. Selanjutnya kita lihat kembali pada tingkat kelangsungan hidup. Nilai tingkat kelangsungan hidup yang paling tinggi adalah departemen BDP dengan 88.7%. Dari nilai itu dapat kita ketahui bahwa jumlah ikan yang mati cukup banyak. Hal tersebut biasa terjadi pada awal penebaran, karena kesalah pada aklimatisasi ataupun kondisi kesehatan benih. Pada masa pemeliharaan, kematian terjadi karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan, ruang hidup, dan sumber penyakit. Untuk waktu pemanenan, kita dapat mengetahuinya dari grafik pertumbuhan mutlak. Dari grafik pertumbuhan mutlak dapat kita lihat bahwa pemanenan baik dilakukan saat pertumbuhan ikan telah mencapai puncak. Pertubuhan ikan akan menurun pada saat mencapat bobot tertentu, sehingga pada saat itu jumlah pakan yang kita berikan tidak begitu berpengaruh besar pada pertambahan bobot ikan. Pada saat seperti itulah ikan lebih baik untuk dipanen.

Waktu panen juga dapat kita tentukan pada saat sampling. Pada saat sampling kita tidak hanya menimbang bobot ikan, namun juga melihat keadaan kesehatan ikan. Jika saat sampling tersebut kita menemukan banyak ikan yang terserang penyakit, maka pemanenan lebih baik kita lakukan lebih awal sebelum semua ikan tertular penyakit tersebut. Pemanenan ikan juga dapat kita tentukan jika bobot ikan kita telah memenuhi ukuran konsumsi yaitu kurang lebih berukuran size 8. Untuk analisis usaha, kita melihat pengeluaran dan pendapatan yang diperoleh. Dari kedua data itu kita dapat menetapkan data keuntungan. Dari tabel analisis usaha, kita dapat melihat bahwa dana yang kita dapatkan dari hasil panen yang berukuran daging lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen yang berukuran sortir dan Over size. Hal tersebut berarti bahwa pemanenan yang tepat waktu jauh lebih baik daripada lebih awal atau pun lebih lama. Dengan pemanenan yang tepat waktu, maka kita akan mendapatkan hasil panen dengan ukuran daging dalam jumlah yang lebih banyak, dengan seperti itu maka pendapatan yang kita peroleh juaga akan semakin tinggi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Praktikum pembesaran lele yang dilakukan telah membantu kita untuk mengetahui tata cara dari pembesaran lele yang dimulai dari penyiapan wadah, penebaran, pemeliharaan, hingga pemanenan. Kita juga telah mengetahui parameter-parameter yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembesaran seperti tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, pertumbuhan mutlak, konversi pakan, dan kualitas air. Dalam proses panen, kita telah mengetahui tata cara menyortir ikan lele mulai dari yang berukuran kecil, big size, dan ukuran daging atau konsumsi. 5.2 Saran Pelaksanaan pembesaran ikan lele kali ini telah dilaksanakan dengan baik. Untuk pelaksanaan kegiatan pembesaran kedepannya, hendaknya mempunyai jadwal yang pasti mengenai pemberian pakan, sampling, dan pemanenan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->