You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang universal di dalam kehidupan manusia.
Dimanapun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan. Pendidikan
dipandang merupakan kegiatan manusia untuk memanusiakan manusia sendiri,
yaitu agar manusia berbudaya. Dan dipandang sebagai usaha manusia agar dapat
mengembangkan potensinya, sebagaimana disebutkan dalam UU No. 20 tahun
2003 tentang Sisdiknas bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Undang –
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1)
menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan
ayat (3) menegaskan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta
akhalak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal ini

1

menunjukkan bahwa negara telah berkomitmen untuk menyelenggarakan suatu
sistem pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara.
Pendidikan Nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan
sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua
warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga
mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Berdasarkan visi tersebut pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan ini dapat disimpulkan
bahwa sasaran pendidikan nasional mencakup 3 (tiga) ranah, yaitu : Kognitif,
Afektif dan Psikomotor atau dengan kata lain tercapainya kecerdasan
menyeluruh.
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan,
nilai kultural dan kemajemukan. Upaya memanusiakan manusia melalui
pendidikan itu diselenggarakan sesuai dengan pandangan hidup dan dalam latar
sosial-kebudayaan setiap masyarakat tertentu. Oleh karena itu, meskipun
pendidikan itu universal, namun terjadi terjadi perbedaan – perbedaan tertentu
sesuai dengan pandangan hidup dan latar sosiokultural. Dengan kata lain,
pendidikan diselenggarakan berlandaskan filsafat hidup serta berlandaskan

2

sosiokultural setiap masyarakat, termasuk di Indonesia (Umar Tirtarahardja,
2005 : 82). Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna. Sistem terbuka dalam artian bahwa
pendidikan diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian
program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi – entry – multi exit system).
Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program – program
pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan
berkelanjutan melalui program tatap muka atau jarak jauh. Pendidikan multi
makna adalah proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada
pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta
kecakapan hidup.
Pendidikan juga diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pembelajaran peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran serta dengan mengembangkan budaya
membaca, menulis dan berhitung bagi segenap masyarakat. Yang menjadi tujuan
utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan
pengalaman belajar yang optimal. Sebab berkembangnya tingkah laku peserta
didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya pengalaman
belajar yang optimal itu (Umar Tirtarhardja, 2005 : 41).
Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
layanan pendidikan. Lingkungan yang kondusif sebagai tempat berlangsungnya

3

proses pendidikan juga mempengaruhi hasil akhir dari proses tersebut.
Kerjasama yang baik antara ketiga lingkungan yaitu, informal, formal dan non
formal dapat menutup celah negatif yang mungkin timbul pada peserta didik
selama proses pendidikan berlangsung.
Dalam Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1
ayat (6) disebutkan pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi
sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartsipasi dalam menyelenggarakan pendidikan, dan Pasal 39 ayat (2) yaitu,
pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan profesi. Sebagai tenaga profesional pendidik wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani
dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Yang dimaksud kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan
minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan
ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan. Sedangkan yang dimaksud
kompetensi adalah bahwa setiap pendidik harus memiliki 4 (empat) macam

4

kompetensi,

pertama

adalah

kompetensi

Pedagogik

yaitu

kemampuan

pengelolaan pembelajaran. Kedua adalah kompetensi kepribadian yaitu pendidik
harus memiliki kemampuan pribadi yang stabil, dewasa, arif dan berwibawa.
Ketiga adalah kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi
pelajaran secara luas dan mendalam. Dan yang terakhir adalah kompetensi sosial
yaitu kemampuan berinteraksi dengan masyarakat.
Dalam pendidikan, pendidik berperan sebagai agen pembelajaran
(learning agent) dalam koridor ini peran pendidik antara lain, yang pertama
adalah sebagai fasilitator yang memiliki tugas memfasilitasi peserta didik agar
mampu berkembang. Kedua, sebagai motivator yang memiliki tugas sebagai
pemberi motivasi/pendorong kepada peserta didik agar mampu memaksimalkan
semua potensi yang dimiliknya. Ketiga, pendidik berperan sebagai pemacu yaitu
pendidik harus mampu melipatgandakan potensi yang ada dalam diri peserta
didik dan mengembangkannya sesuai dengan aspirasi dan cita – citanya.
Keempat, pendidik memiliki peran sebagai inspirator yaitu bahwa pendidik
mampu memposisikan dirinya sebagai teladan dan sosok yang bisa ditiru oleh
peserta didik dalam berbagai segi.
Perkembangan masyarakat beserta kebudayaannya sekarang ini makin
mengalami percepatan serta meliputi seluruh aspek kehidupan dan penghidupan
manusia. Percepatan pertumbuhan ini terutama karena percepatan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi. Sehinggga
memicu kecenderungan globalisasi yang kuat serta tuntutan peningkatan
pelayanan profesional dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Untuk itu

5

diperlukan suatu pendidikan yang berbeda dengan pendidikan pada zaman
sebelumnya jika mengingat bahwa pendidikan adalah selalu merupakan
penyiapan peserta didik bagi peranannya di masa yang akan datang.
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan
peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di
seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer,
dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi
semakin sempit. Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata
global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan
Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku)
sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja
(working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada
yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau
proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin
terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan
ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik
yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering
dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang
dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. Mengacu
pada hal tersebut di atas dalam kaitannya dengan dunia pendidikan dapat
dipastikan bahwa tuntutan akan output pendidikan di Indonesia yang kompeten,

6

kreatif, inovatif dan bisa bersaing yang sesuai dengan profil dunia kerja menjadi
semakin tinggi. dan pendidik sebagai figur yang dianggap paling bertanggung
jawab dalam proses pendidikan juga dituntut untuk selalu meningkatkan dan
mengaktualisasikan kompetensi mereka masing – masing.
Namun di tengah harapan tinggi dan tugas berat yang dipikul oleh
pendidik. Masih saja ditemui permasalahan berkaitan dengan pendidik yang
bertindak indisipliner yang dipicu oleh perceraian dan perselingkuhan, seperti
yang diungkapkan oleh Soedjito, Kepala Inspektorat Kabupaten Jember (Jawa
Pos, 2 Januari 2010. Guru Terbanyak Bolos dan Selingkuh).
Berdasarkan hal di atas penulis memilih judul ”Profesionalitas Pendidik
Di Era Globalisasi”.

1.2. Rumusan Masalah
1.

Bagaimana Deskripsi tentang Pendidik ?

2.

Bagaimana Peran Pendidik ?

3.

Bagaimana Analisis Kasus didasarkan pada Undang – Undang?

4.

Bagaimana Solusi dari Kasus tersebut?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui deskripsi tentang pendidik.
2. Untuk mengetahui bagaimana peran pendidik
3. Untuk mengetahui bagaimana analisis kasus
4. Untuk mengetahui solusi dari kasus tersebut

7

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Deskripsi tentang Pendidik
Menurut Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (6), pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartsipasi dalam menyelenggarakan pendidikan, dan Pasal 39 ayat (2) yaitu,
pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
Dengan demikian sesuai pasal 1 ayat (6), pendidik harus berkualifikasi
dalam artian memiliki kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan minimal
yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah
dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan jenjang pendidikan
formal yang dibidangi dan diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana
atau program diploma empat.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang
dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu

8

serta memerlukan pendidikan profesi. Dengan demikian, sebagai tenaga
profesional, pendidik harus bertindak dan berlaku berdasarkan prinsip – prinsip
profesionalitas sebagai berikut :
a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia;
c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai
dengan bidang tugas;
d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hajat;
h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan;
i. Memiliki orientasi yang mempunyai kewenangan mengatur hal – hal
yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
(UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005, Pasal 7)

Setiap profesi, seperti halnya jabatan dokter, notaris, arsitek dan lain – lain
profesi pendidik juga memiliki kode etik. Kode etik suatu profesi adalah norma
– norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam
melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma –

9

norma yang tersebut berisi petunjuk – petunjuk bagi anggota profesi tentang
bagaimana mereka melaksanakan tugas profesinya dan larangan – larangan,
yaitu ketentuan – ketentuan tentang apa yang tidak boleh diperbuat atau
dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam melaksanakan tugas profesi mereka,
melainkan juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam
pergaulannya sehari – hari di dalam masyarakat. Kode Etik Guru Indonesia
berfungsi sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap warga PGRI
dalam melaksanakan pengabdiannya sebagai guru, baik di dalam maupun di luar
sekolah serta dalam kehidupan sehari – hari di masyarakat. Dengan demikian,
maka Kode Etik Guru Indonesia merupakan alat yang amat penting untuk
pembentukan sikap profesional para anggota profesi keguruan (Soetjipto; Raflis
Kosasi, 2004 : 33 – 34). Adapun teks Kode Etik Guru Indonesia adalah sebagai
berikut :
Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, serta kemanusiaan
pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setiap pada
Undang – Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya
cita – cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
oleh sebab itu, Guru terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan
memedomani dasar – dasar sebagai berikut :
1.

Guru Berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.

2.

Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.

10

3.

Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai
bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.

4.

Guru menciptakan suasana sekolah sebaik – baiknya yang
menunjang berhasilnya proses belajar – mengajar.

5.

Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan
masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung
jawab bersama terhadap pendidikan.

6.

Guru secara pribadi dan bersama – sama mengembangkan dan
meningkatkan mutu dan martabat profesinya.

7.

Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan
kesetiakawanan sosial.

8.

Guru secara bersama – sama memelihara dan meningkatkan mutu
organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

9.

Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
(Soetjipto, Raflis Kosasi. 2004 : 34)

Pada umumnya kode etik adalah landasan moral dan merupakan pedoman sikap,
tingkah laku, dan perbuatan maka sanksi terhadap pelangaran kode etik adalah
sanksi moral.

11

Sebagaimana disebut dalam pasal 39 ayat (2) Undang – Undang Nomor
20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

bahwa tugas pendidik

adalah sebagai berikut :
a. Merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran
b. Menilai hasil pembelajaran
c. Melakukan pembimbingan dan pelatihan
d. Melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama
bagi pendidik di lingkungan perguruan tinggi
Dalam memenuhi tuntutan tugas sebagaimana disebutkan di atas dan juga
sebagai bentuk sikap profesionalisme, pendidik harus memiliki Standar
Kompetensi Pendidik sebagaimana dinyatakan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen, yang terurai menjadi 4 (empat) komponen, yaitu
2.1.1. Kompetensi Pedagogik
Yang dimaksud dengan kompetensi Pedagogik adalah kemampuan
mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2.1.2. Kompetensi Profesional
Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang

12

memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan
2.1.3. Kompetensi Sosial
Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
2.1.4. Kompetensi Kepribadian.
Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi
teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Pengembangan elemen-elemen kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan
secara terpisah-pisah,akan tetapi harus dilakukan dalam bingkai utuh
kompetensi pendidik.

2.2. Peran Pendidik
Pendidik adalah komponen dalam pendidikan yang paling bertanggung
jawab dalam proses pendidikan agar pendidikan dapat mengarah pada tujuan
yang diharapkan. Pendidik merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha
pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan
kurikulum, pengadaan alat – alat belajar sampai pada kriteria sumber daya
manusia yang dihasilkan proses pendidikan, selalu bermuara pada pendidik. Hal

13

ini menunjukkan betapa signifikan (berarti penting) posisi pendidik dalam dunia
pendidikan.
Dalam pendidikan, pendidik berperan sebagai agen pembelajaran
(learning agent) yang dimaksud adalah peran pendidik antara lain, sebagai
fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi
belajar bagi peserta didik.
2.2.1.

Pendidik sebagai fasilitator
Pendidik sebagai fasilitator adalah peran yang menuntut pendidik agar
bisa memberikan kemudahan belajar dengan cara memberikan
dorongan kepada peserta didik untuk mengemukakan pendapat.
Pendidik harus mampu bersikap demokratis, terbuka dan siap
menerima kritikan dari peserta didiknya. Sikap yang dapat
dikembangkan oleh pendidik dalam perannya sebagai fasilitator antara
lain adalah tidak berlebihan dalam mempertahankan pendapat,
mendengarkan aspirasi dan perasaan peserta didiknya, mau menerima
ide yang inovatif dan kreatif, menerima feedback dari peserta didik
sebagai pandangan yang konstruktif terhadap dirinya, memberikan
toleransi terhadap kesalahan peserta didiknya.

2.2.2.

Pendidik sebagai motivator
Pendidik

sebagai

motivator

adalah

pendidik

harus

mampu

membangkitkan dan mendorong keinginan belajar peserta didik.
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan

14

kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan
sungguh – sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi (Mulyasa,
2007:58). Prinsip – prinsip yang perlu diperhatikan oleh pendidik
dalam membangkitkan motivasi belajar :
a. Peserta didik akan bekerja keras kalau memiliki minat dan
perhatian terhadap pekerjaannya,
b. Memberi tugas yang jelas dan dapat dimengerti,
c. Memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi
peserta didik,
d. Mengunakan hadiah dan hukuman secara efektif dan tepat,
e. Memberikan penilaian dengan adil dan transparan.
(Mulyasa, 2007 : 59)
2.2.3.

Pendidik sebagai pemacu
Pendidik sebagai pemacu belajar adalah pendidik harus dapat
mengeluarkan potensi peserta didik dan mengembangkannya sesuai
dengan cita – cita mereka di masa yang akan datang. Minat, bakat,
kemampuan dan potensi yang dimliki peserta didik tidak akan
berkembang secara optimal tanpa bantuan dari pendidik. Pendidik
harus mampu menggali potensi dari dalam diri peserta didik dengan
cara berkomunikasi, mendengarkan aspirasi mereka serta menganalisis
perilaku peserta didik agar dapat menentukan metode yang tepat dalam
mengembangkan potensi dari setiap peserta didiknya.

15

2.2.4.

Pendidik sebagai perekayasa pembelajaran
Pendidik sebagai perekayasa pembelajaran adalah pendidik harus
mampu memerankan diri dan mengkondisikan peserta didik agar
menjadi baik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat
membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide – ide baru.
Mampu menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga proses
interaksi edukatif berlangsung secara optimal dan menghasilkan output
yang optimal pula.

2.2.5.

Pendidik sebagai Inspirator
Pendidik merupakan model atau teladan bagi para peserta didik
dan semua orang yang menganggap dia sebagai pendidik. Terdapat
kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak
mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja
pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta
didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau
mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan bekerja,
Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan
kemanusiaan, Proses berfikir, Perilaku neurotis, Selera, Keputusan,
Kesehatan, Gaya hidup secara umum. Pendidik harus mampu
memberikan contoh bagi peserta didiknya dari penampilan dan sikap
pendidik yang baik serta hubungan yang harmonis di antara keduanya.

16

Pemberian aspirasi tersebut bertujuan agar peserta didik dapat bersikap
dan berpikir seperti pendidik, dan dikemudian hari dapat meneladani
sikap dan sifat pendidik yang baik untuk kebaikan diri peserta didik di
masa yang akan datang. Inspirasi yang baik dapat juga muncul dari
cerita atau pengalaman yang disampaikan oleh pendidik sehingga
timbul kesadaran dari peserta didik untuk menjadikannya sebagai
panutan dan inspirasi.

2.3. Analisis Kasus
Analisis kasus berdasarkan kasus yang dimuat pada koran Jawa Pos, edisi
Sabtu, 2 Januari 2010, yang berjudul ”Guru Terbanyak Bolos dan Selingkuh”
No
UU Sisdiknas/UU Guru dan Dosen
Fakta yang terjadi
Hasil
1
- Undang – Undang Nomor 20 tahun ” jumlah Pegawai negeri sipil ( - )
2003 tentang Sisdiknas Pasal 40 ayat (PNS)
(2)

Pendidik

dan

tenaga ternyata

kependidikan berkewajiban :

yang

indisipliner

didominasi

kalangan

guru.

oleh

Bahkan

a. menciptakan suasana pendidikan jumlahnya mencapai separo
yang bermakna, menyenangkan, di
kreatif, dinamis dan dialogis.
b. mempunyai

komitmen

antara

PNS

yang

melakukan indisipliner. Hal

secara tersebut disampaikan oleh

profesional untuk meningkatkan Soedjito, Kepala Inspektorat
mutu pendidikan; dan

Kabupaten Jember”

c. Memberi teladan dan menjaga

17

nama baik lembaga, profesi, dan
kedudukan

sesuai

kepercayaan

yang

dengan
diberikan

kepadanya.”
 UU Nomor 14 tahun 2005 tentang ”Menariknya,

2

Guru dan Dosen Pasal 4 ” Kedudukan tindakan
Guru

sebagai

tenaga

profesional adalah

pemicu

(-)

indisipliner itu
perceraian

dan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 perselingkuhan......”
ayat

(1)

berfungsi

untuk

meningkatkan martabat dan peran
guru

sebagai

agen

pembelajaran

berfungsi untuk meningkatkan mutu
pendidikan nasional
 UU Nomor 14 tahun 2005 tentang
Guru

dan

Dosen

”menjunjung

tinggi

Pasal

20d

peraturan

perundang – undangan, hukum, dan
kode etik Guru, serta nilai – nilai
agama dan etika;
-

” jumlah Pegawai negeri sipil (PNS) yang indisipliner ternyata didominasi
oleh kalangan guru. Bahkan jumlahnya mencapai separo di antara PNS
yang melakukan indisipliner....”

18

Fakta yang terjadi di lapangan bahwa masih ditemukan pendidik (guru) yang
bertindak indispliner tidak sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 40 ayat 2b yang berbunyi ”
Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban mempunyai komitmen secara
profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan . Pendidik sebagai tenaga
profesional harus memenuhi prinsip – prinsip profesionalitas diantaranya
adalah memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan dan
memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan dan akhlak mulia (UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
pasal 7). Pendidik adalah faktor penentu dan figur yang paling bertanggung
jawab dalam proses interaksi edukatif sehingga memberi dampak yang sangat
besar dalam mempengaruhi hasil akhir atau output dari proses tersebut.
Karena pendidik adalah ujung tombak dan representasi dari pendidikan itu
sendiri.

-

”Menariknya, pemicu tindakan indisipliner itu adalah perceraian dan
perselingkuhan......”
Fakta tersebut di atas juga tidak sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 40c yang berbunyi pendidik dan tenaga
kependidikan berkewajiban memberi teladan dan menjaga nama baik
lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan
kepadanya. Dan UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 20d,
yaitu Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban

19

menjunjung tinggi peraturan perundang – undangan, hukum, kode etik guru,
serta nilai – nilai agama dan etika. Pendidik profesional mempunyai citra yang
baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia
layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat
terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan pendidik sehari – hari,
apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Pendidik harus memiliki
kesatuan antara kata dan perbuatan. Adanya perbedaan ucapan dan perilaku
seorang pendidik hanya akan membuat peserta didik dalam kebingungan,
kehilangan sosok atau figur yang bisa dijadikan panutan, tidak tahu siapa yang
harus dicontoh dan apa arti sebuah keluhuran budi atau mulianya satu akhlak.
Disamping itu seorang pendidik yang tidak mengamalkan apa yang
disampaikan kepada peserta didiknya hanya akan merendahkan martabat
dirinya dihadapan orang yang seharusnya menghormatinya (Muhammad
Syafi’i. Antonio, 2007 : 189).

2.4. Solusi
Masalah – masalah pendidikan seringkali diperngaruhi oleh faktor mikro
(interaksi antar Komponen pendidikan) dan makro (interaksi komponen
pendidikan dengan sistem lain), namun dalam kasus di atas faktor mikro yaitu
dalam hal ini adalah pendidik sebagai pesakitannya. Dalam kasus ini, pendidik
kurang paham akan tugas dan peranannya yang sangat penting dalam
pendidikan, serta hak dan kewajibannnya sebagai seorang pendidik. Solusi dari
permasalahan ” Guru Terbanyak Bolos dan Selingkuh” antara lain adalah :

20

2.4.1. Pendidik harus sadar akan hak dan kewajibannya, tahu dan mengerti
akan tanggung jawab dan konsekuensinya sebagai tenaga profesional.
Terutama dalam kasus ini adalah Pendidik yang menjadi PNS yang telah
terpenuhi hak – hak nya oleh negara, tentu harus pula melaksanakan
kewajibannya.
2.4.2. Sanksi yang lebih tegas terhadap pendidik yang melanggar Kode Etik
Guru dan Prinsip Profesionalitas Pendidik baik oleh Pemerintah maupun
Organisasi Profesi Pendidik (PGRI). Karena pendidik adalah profesi
yang selalu dianggap sebagai profesi yang menekankan kepada sosok
yang menjadi suri tauladan yang baik bagi lingkungan masyarakat.
Sehingga pelanggaran dan penyimpangan yang dilakukan oknum
pendidik akan mempengaruhi martabat dan wibawa pendidik yang lain.
2.4.3. Khusus untuk Pendidik yang menjabat sebagai Pegawai Negeri Sipil
(PNS), Pemerintah hendaknya melakukan seleksi yang lebih ketat dalam
merekrut PNS dari lingkup Pendidik. Bukan hanya melihat kualifikasi
akademiknya saja, tapi juga harus diperhatikan kualifikasi non
akademiknya.

BAB III
PENUTUP

21

3.1. Kesimpulan
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,
dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan
sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartsipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan, dan Pendidik merupakan tenaga profesional
yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai
hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.
Sebagai tenaga profesional, pendidik harus bertindak dan berlaku yang
mencerminkan prinsip – prinsip profesionalitas pendidik, serta selalu berpegang
teguh pada Kode Etik Guru sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku
dalam menunaikan pengabdiannya sebagai pendidik, baik di dalam maupun
diluar sekolah serta dalam kehidupan sehari – hari di masyarakat. Pendidik
memiliki tugas untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,

dan

melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik di lingkungan perguruan tinggi. dan harus memiliki standar
kompetensi yang wajib dimiliki pendidik, yaitu Kompetensi Pedagogik,
Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Kepribadian.
Pendidik adalah agen pembelajaran yang memilik peran sebagai fasilitator,

22

motivator, pemacu, perekayasa, dan inspirator. Masalah – masalah dalam dunia
pendidikan di Indonesia selalu saja muncul dan bahkan bertambah kompleks,
hal ini dipengaruhi oleh sistem pendidikan terbuka yang kita anut. Namun
demikian semua masalah tersebut akan bisa teratasi dengan kerjasama dari
semua komponen bangsa dalam mencapai tujuan pendidikan dan cita – cita
bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa.

3.2. Saran
Pendidik sebagai ujung tombak pendidikan dituntut bukan hanya
mentranfer pengetahuan tapi juga menanamkan nilai – nilai moral dan akhlak
mulia kepada peserta didik. Hal ini dipengaruhi juga oleh kultur masyarakat kita
yang selalu menuntut sosok yang sempurna dalam diri seorang pendidik. Untuk
itu, setiap pendidik harus selalu menanamkan dalam hatinya semangat
mengabdi untuk kemajuan pendidikan dan sadar akan konsekuensi dan resiko
yang didapat saat memilih untuk menjalani profesi sebagai pendidik, sehingga
akan timbul keikhlasan dalam memposisikan dirinya sebagai sosok yang
menjadi suri teladan bagi peserta didik dan masyarakat

Daftar Pustaka

23

Tirtarahardja,Umar.2005.Pengantar Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta
Soetjipto; Kosasi, Raflis.2004. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta
Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung:Remaja
Rosdakarya
Antonio, Muhammad Syafii. 2007.Muhammad SAW, The Super Leader Super
Manager. Jakarta : ProLM Centre
http/id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang Standar
Pendidikan Nasional

24

LAMPIRAN – LAMPIRAN

25