You are on page 1of 18

Keberadaan guru di mayapada sudah ada sejak jaman dulu.

Sejak manusia paling awal diciptakan, yaitu
Nabi Adam A.S. Guru Nabi Adam A.S. adalah guru dari segala guru, guru dari para penemu, guru dari
makhluk paling soleh, yaitu Allah SWT. yang Maha Tahu. Dalam Al Quran diterangkan Allah SWT. yang
mengajarkan pada Adam segala sesuatu tentang benda yang ada di dunia. Selanjutnya Nabi Adam
mengajarkannya pada Siti Hawa, begitu seterusnya.
Istilah guru pada saat ini mengalami penciutan makna. Guru adalah orang yang mengajar di sekolah.
Orang yang bertindak seperti guru seandainya di berada di suatu lembaga kursus atau pelatihan tidak
disebut guru, tetapi tutor atau pelatih. Padahal mereka itu tetap saja bertindak seperti guru. Mengajarkan
hal-hal baru pada peserta didik.
Terlepas dari penciutan makna, peran guru dari dulu sampai sekarang tetap sangat diperlukan. Dialah yang
membantu manusia untuk menemukan siapa dirinya, ke mana manusia akan pergi dan apa yang harus
manusia lakukan di dunia. Manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya memerlukan
bantuan orang lain, sejak lahir sampai meninggal. Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan
harapan guru dapat mendidiknya menjadi manusia yang dapat berkembang optimal.
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara
optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu,
karena antara satu perserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Mungkin
kita masih ingat ketika masih duduk di kelas I SD, gurulah yang pertama kali membantu memegang pensil
untuk menulis, ia memegang satu persatu tangan siswanya dan membantu menulis secara benar. Guru pula
yang memberi dorongan agar peserta didik berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk
bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya. Guru juga bertindak bagai pembantu ketika ada peserta
didik yang buang air kecil, atau muntah di kelas, bahkan ketika ada yang buang air besar di celana. Gurulah yang menggendong peserta didik ketika jatuh atau berkelahi dengan temannya, menjadi perawat, dan
lain-lain yang sangat menuntut kesabaran, kreatifitas dan profesionalisme.
Memahami uraian di atas, betapa besar jasa guru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan para
peserta didik. Mereka memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak,
guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat,
kemajuan Negara dan bangsa.
Guru juga harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta
didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif,
professional dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai :
1. Orang tua, yang penuh kasih saying pada peserta didiknya.
2. Teman, tempat mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat,
kemampuan dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang
dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas.
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan.

Demikian beberapa peran yang harus dijalani seorang guru dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki
oleh para siswanya.
Saat ini permasalahan yang menimpa bidang pendidikan sangat beragam dan tergolong berat. Mulai dari
sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pengajar yang kurang, serta tenaga pengajar yang belum
kompeten. Kondisi sekolah yang memprihatinkan, ruang kelas bocor bila hujan dan sebagian sekolah
ambruk. Maka tidaklah aneh kalau kondisi pendidikan kita jauh dari harapan.
Salah satu permasalahan yang menimpa dunia pendidikan adalah kompetensi guru. Guru yang harusnya
memiliki kompetensi sesuai ketentuan dan kebutuhan, nyatanya hanya sedikit yang masuk kategori
tersebut. Sisanya sungguh memprihatinkan. Program sertifikasi guru yang sekarang sedang digalakkan
adalah salah satu bagian dari usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Program sertifikasi guru merupakan program yang menyentuh langsung kompetensi guru. Salah satu
kriterianya yaitu menilai kemampuan guru dari segi kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran.
Diharapkan guru dapat melakukan pembelajaran yang dapat menghantarkan siswa ke arah sikap kreatif
dan inovatif serta trampil. Kondisi tersebut harus dimulai dari gurunya sendiri.
Sebagai contoh derasnya informasi serta cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
memunculkan pertanyaan terhadap tugas utama guru yang disebut “mengajar”. Masih perlukah guru
mengajar di kelas seorang diri, menginformasikan, menjelaskan dan menerangkan? Permasalahan lain
akibat derasnya informasi dan munculnya teknologi baru adalah kesiapan guru untuk mengikuti
perkembangan tersebut. Seorang guru dituntut harus serba tahu bila tidak tahu guru harus berkata jujur
“Saya tidak tahu”. Namun kalau terlalu sering guru berkata demikian alangkah naifnya guru tersebut.
Seyogyanya dia terus mencari tahu, belajar terus sepanjang hayat, memanfaatkan teknologi yang ada.
Di masyarakat, seorang guru diamati dan dinilai masyarakat, di sekolah dinilai oleh murid dan teman
sejawatnya serta atasannya. Peran apakah yang harus dilakoni seorang guru supaya penilaian mereka
positif? Suatu pertanyaan -yang menjadi salah satu permasalahan- yang sekarang muncul di masyarakat.
Dalam proses pembelajaran, guru dituntut untuk dapat membentuk kompetensi dan kualitas pribadi anak
didiknya. Untuk mencapai hal demikian timbul pertanyaan, sebenarnya peran apa saja yang harus dimiliki
oleh seorang guru sehingga anak didik bisa berkembang optimal? Cukupkah peran guru seperti yang telah
disampaikan di atas ataukah ada peran lain yang harus dilakoni seorang guru ?
Beragam pertanyaan tadi dapat menyebabkan demotivasi bagi seorang calon guru ataupun guru yang
sudah lama mengabdi. Apakah saya mampu menjadi guru yang ideal? Peran apa yang harus saya lakoni
untuk menjadi guru yang ideal? Demikian pertanyaan yang timbul dalam hati seorang guru yang berniat
mengabdikan sisa hidupnya di dunia pendidikan.
Pertanyaan tersebut sebelumnya telah menggugah sejumlah pengamat dan akhli pendidikan. Mereka telah
meneliti peran-peran apa yang harus dimiliki seorang guru supaya tergolong kompeten dalam
pembelajaran maupun pergaulan di masyarakat.
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran
guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta
Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan
lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung
jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru Sebagai Pengajar
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan, hubungan
peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam

berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar
dengan baik. Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam
memecahkan masalah.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu : Membuat ilustrasi,
Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan
kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar,
Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan.
Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk
mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak
hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang
lebih dalam dan kompleks.
Sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal
berikut.
Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
Kedua, guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa
peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat
secara psikologis.
Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar.
Keempat, guru harus melaksanakan penilaian.
4. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik,
sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Hal ini lebih ditekankan lagi dalam kurikulum
2004 yang berbasis kompetensi, karena tanpa latihan tidak akan mampu menunjukkan penguasaan
kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan
materi standar.
5. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki
latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya
akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat
secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
6. Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik.
Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian
halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang
belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna
dan diwujudkan dalam pendidikan.

Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau
bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi
muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
7. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia
sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk
ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat
sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai
guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru : Sikap dasar, Bicara dan gaya bicara, Kebiasaan
bekerja, Sikap melalui pengalaman dan kesalahan, Pakaian, Hubungan kemanusiaan, Proses berfikir,
Perilaku neurotis, Selera, Keputusan, Kesehatan, Gaya hidup secara umum
Perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya
hidup pribadinya sendiri.
Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada
dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap
merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
8. Guru Sebagai Pribadi
Guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan yang sering
dikemukakan adalah bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang
disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani.
Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka dengan cara yang tepat disikapi
sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat yang berakibat terganggunya proses
pendidikan bagi peserta didik.
Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara
lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab
kalau tidak pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh
masyarakat.
9. Guru Sebagai Peneliti
Pembelajaran merupakan seni, yang dalam pelaksanaannya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dengan
kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan berbagai penelitian, yang didalamnya melibatkan guru. Oleh
karena itu guru adalah seorang pencari atau peneliti. Menyadari akan kekurangannya guru berusaha
mencari apa yang belum diketahui untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas.
Sebagai orang yang telah mengenal metodologi tentunya ia tahu pula apa yang harus dikerjakan, yakni
penelitian.
10. Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk
mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang
bersifat universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh
adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau
adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani
peserta didik, sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan
sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang
lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.

11. Guru Sebagai Pembangkit Pandangan
Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan peristiwa, mulai dari kisah nyata
sampai yang direkayasa. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memberikan dan memelihara pandangan
tentang keagungan kepada pesarta didiknya. Mengembangkan fungsi ini guru harus terampil dalam
berkomunikasi dengan peserta didik di segala umur, sehingga setiap langkah dari proses pendidikan yang
dikelolanya dilaksanakan untuk menunjang fungsi ini.
12. Guru Sebagai Pekerja Rutin
Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan tertentu, serta kegiatan rutin yang amat diperlukan dan
seringkali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa mengurangi atau
merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
13. Guru Sebagai Pemindah Kemah
Hidup ini selalu berubah dan guru adalah seorang pemindah kemah, yang suka memindah-mindahkan dan
membantu peserta didik dalam meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka alami.
Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang
menghalangi kemajuan serta membantu menjauhi dan meninggalkannya untuk mendapatkan cara-cara
baru yang lebih sesuai. Guru harus memahami hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat bagi peserta
didiknya.
14. Guru Sebagai Pembawa Cerita
Sudah menjadi sifat manusia untuk mengenal diri dan menanyakan keberadaannya serta bagaimana
berhubungan dengan keberadaannya itu. Tidak mungkin bagi manusia hanya muncul dalam lingkungannya
dan berhubungan dengan lingkungan, tanpa mengetahui asal usulnya. Semua itu diperoleh melalui cerita.
Guru tidak takut menjadi alat untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan, karena ia tahu
sepenuhnya bahwa cerita itu sangat bermanfaat bagi manusia.
Cerita adalah cermin yang bagus dan merupakan tongkat pengukur. Dengan cerita manusia bisa
mengamati bagaimana memecahkan masalah yang sama dengan yang dihadapinya, menemukan gagasan
dan kehidupan yang nampak diperlukan oleh manusia lain, yang bisa disesuaikan dengan kehidupan
mereka. Guru berusaha mencari cerita untuk membangkitkan gagasan kehidupan di masa mendatang.
15. Guru Sebagai Aktor
Sebagai seorang aktor, guru melakukan penelitian tidak terbatas pada materi yang harus ditransferkan,
melainkan juga tentang kepribadian manusia sehingga mampu memahami respon-respon pendengarnya,
dan merencanakan kembali pekerjaannya sehingga dapat dikontrol.
Sebagai aktor, guru berangkat dengan jiwa pengabdian dan inspirasi yang dalam yang akan mengarahkan
kegiatannya. Tahun demi tahun sang actor berusaha mengurangi respon bosan dan berusaha meningkatkan
minat para pendengar.
16. Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap insane dan
menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa
pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak
menyenangkan, kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran
sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami berbagai
kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
17. Guru Sebagai Evaluator

Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak
latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan
konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang
dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu
persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Penilaian harus adil dan objektif.
18. Guru Sebagai Pengawet
Salah satu tugas guru adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil
karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa
depan.
Sarana pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu adalah kurikulum. Guru juga harus
mempunyai sikap positif terhadap apa yang akan diawetkan.
19. Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi).
Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan
setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran
sebagai evaluator.
Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan
kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak
didik.
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak
guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus
menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada
yang menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh
ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran. (Bahan dirangkum dari
berbagai sumber).
Posted on Kamis, Maret 6th, 2008 at 10:46 in strategi pembelajaran | RSS feed You can skip to the end and leave a response.
Tag:artikel, berita, KTSP, makalah, opini, pembelajaran, profesi, umum

44 Komentar to “Peran Guru dalam Proses Pendidikan”
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/06/peran-guru-dalam-proses-pendidikan/

CORRELATIVE CONJUNCTIONS
A correlative conjunction is essentially a coordinate conjunction used in pairs. A correlative conjunction gets
its name from the fact that it is a paired conjunction that has a reciprocal or complementary relationship.
Correlative conjunctions always join grammatically equal elements (e.g., noun & noun, adjective & adjective,
phrase & phrase, clause & clause, etc.). They also lend equal weight to the joined elements; which is to say,
one joined element is always equal to but never subordinate to the other. It's interesting to note that the second
word of each conjunctive pair is a coordinating conjunction.
Note
Correlative conjunctions usually precede the joined elements, or conjuncts, immediately.
Correlative conjunctions are essentially paired coordinating conjunctions. The meaning expressed by a
sentence with correlative conjunctions is basically the same as a sentence with a coordinating conjunction. The
difference is only a matter of emphasis, where the correlative conjunction reinforces the fact that there are two
equal elements or ideas in the sentence. Below are five pairs of correlative conjunctions commonly used in
English.

either ..... or
neither ..... nor
not only ..... but also
whether ..... or
both ..... and

In the following examples, note the placement of correlating conjunctions, which generally appear
immediately before the elements they join. Conjunctions appear in accentuated text; joined elements are
underlined.
Either you or Susan must remain with me.
(Correlative conjunction joins the pronoun you and the noun Susan, becoming the compound subject of the sentence.)

Either help us in our struggle for égalité or step aside and let us pass.
(Conjunction joins two independent clauses.)

This job requires an ability possessed neither by Jack nor by John.
(Conjunction joins two prepositional phrases.)

In 1795 B.C.E., Babylon was not only the capital city of ancient Babylonia but also the world's first
metropolis.
(Two noun phrases are joined, forming a compound subject complement.)

Whether we meet in the park or at Enid's house is up to you.

(Sometimes a correlating conjunction does not immediately precede the joined element.)

Both the teacher and the principal were furious.
(Conjunction joins two noun phrases, which become the compound subject.)

When using paired conjunctions, be sure the joined elements are grammatically equal. Poor grammatical
constructions result when joining unequal elements. In the examples below, joined elements appear in
accentuated text; conjunctions are underlined.
When building Hoover Dam, laborers not only discovered silver but also gold.
(Construction is poor because the correlative conjunction does not join grammatically equal elements. Discovered silver is a verb +
object; gold is a noun. The conjunction pairs a phrase with a single noun.)

When building Hoover Dam, laborers discovered not only silver but also gold.
(The construction is correct because the paired conjunctions join two nouns, grammatically equal elements.)

Beth became angry both with our singing and our shouting.
(Grammatically unequal elements are joined: A prepositional phrase is joined with a gerund phrase.)

Beth became angry both with our singing and with our shouting.
(Two prepositional phrases, grammatically equal elements, are joined.)

Put your earnings either in a bank or in a treasury account.
Whether Jim sees a movie or watches a play is unimportant to me.
The hounds were neither smart enough to climb the ledge nor small enough to enter the cave.
Conjunctions adalah kata sambung/konjungsi yang menghubungkan bagian-bagian ujaran dalam kalimat: kata
dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa yang mempunyai kedudukan setara atau sejenis.
Kata-kata yang setara ini bisa berupa hubungan antara noun dengan noun, adverb dengan adverb, adjective
dengan adjective, verb dengan verb, juga phrase dengan phrase, dan clause dengan clause.
Contoh:
- We could go to the library, or we could go to the park.
- He neither finished his homework nor studied for the test.
- I went out because the sun was shining.
Tiga macam bentuk konjungsi (conjunction forms):
a. Single Word, misalnya: and, but, because, although, or.
b. Compound (biasanya berakhiran as atau that), misalnya: as long as, in order that, etc.
c. Correlative, misalnya: so…that, both…and, neither…nor, etc.
Tiga jenis konjungsi, yaitu: coordinating conjunctions (simple conjunctions), correlative conjunctions, dan
subordinating conjunctions. Disamping ketiga jenis tersebut, ada adverbia yang digunakan sebagai konjungsi,

yaitu conjunctive adverbs.
Memahami penggunaan konjungsi dan hubungan antar klausa merupakan hal penting untuk mengenali setiap
bagian dalam kalimat lengkap. Ada empat kegunaan utama dari konjungsi, yaitu: menambah informasi
(adding information), menunjukkan sebab dan akibat (showing cause and effect), menunjukkan urutan waktu
(showing time sequence), dan membedakan atau membandingkan informasi yang satu dengan yang lain
(contrasting one piece of information with another).
a. Adding information: and, but, or.
b. Showing cause and effect: as, since, because, if.
c. Showing time sequence: after, since, as, until.
d. Contrasting one piece of information with another: unless, although.
Mengenal pola konjungsi sangat membantu dalam menggali ide atau pokok pikiran yang berkaitan dengan
seluruh teks di dalam kalimat dan antar kalimat.
Correlative conjunctions adalah konjungsi yang dipakai untuk menghubungkan unsur-unsur kalimat antara
kata dengan kata, frase dengan frase, dan klausa dengan klausa (seperti halnya coordinating conjunctions).
Konjungsi ini selalu digunakan berpasangan. Unsur-unsur kalimat yang dihubungkan harus mempunyai
kedudukan sejajar (parallel) sesuai dengan struktur gramatikal. Jika subjek singular dan plural dihubungkan,
maka subjek yang paling dekat akan menentukan apakah verb itu singular atau plural.
Konjungsi yang umumnya digunakan adalah:
- both...and
- either...or
- neither...nor
- not only...but also
- whether...or
Contoh:
-She can both speak and write Japanese.
- Both my sister and my brother play the piano.
- I’m going to buy either a camera or a CD player with the money.
- Either she goes or I go.
- Shakespeare was not only a writer but also an actor.
- He not only read the book, but also remembered what he had read.
- He is neither rich nor famous.
- Neither Tom’s mother nor his father spoke English.
- Whether you win this race or lose it doesn't matter as long as you do your best.
- She was uncertain whether to stay or leave.
- I didn’t know whether to believe him or not.
Jika menggunakan coorelative conjunctions untuk menghubungkan independent clauses, sebaiknya gunakan
tanda baca koma (,) sebelum klausa yang kedua.
- Either Jane will conclude the experiment by April, or she will ask for additional research funds.
Coordinating conjunctions adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan kata, frase, atau klausa
(independent clause) yang mempunyai kedudukan setara atau struktur gramatikal yang sama dalam kalimat.
Ada tujuh konjungsi yang digunakan: for, and, nor, but, or, yet, so (biasa disingkat FANBOYS untuk
memudahkan dalam mengingat).
Perhatikan contoh penggunaan coordinating conjunctions yang menghubungkan kata dengan kata, frase
dengan frase, dan klausa dengan klausa (yang diberi huruf tebal adalah konjungsi, sedangkan yang bergaris
bawah adalah kata, frase, atau klausa).
a. Kata dengan kata (subjek, predikat/verba, objek)
- You and I will come together.

- It can be black, white or grey.
- Most children like cookies and milk.
- Lilacs and violets are usually purple.
b. Frase dengan frase
- The gold is hidden at the beach or by the lakeside.
- Daniel's uncle claimed that he spent most of his youth dancing on rooftops and swallowing goldfish.
- Manufacturers must be free to develop their ideas and to package their products.
- He reappeared a few minutes later looking embarrassed yet appearing otherwise unruffled.
c. Klausa dengan klausa
- I wanted to sit in the front of the balcony, so I ordered my tickets early.
- It’s an old car, but it’s very reliable.
- It was raining, so I took my umbrella.
- The sun is warm, yet the air is cool.
- I don’t care for the beach, but I enjoy a good vacation in the mountains.
Hal penting yang perlu diingat ketika menggunakan coordinating conjunctions:
1. Sebaiknya gunakan konjungsi di tengah kalimat. Konjungsi yang terletak di awal kalimat secara gramatikal
memang tidak disarankan. Meskipun begitu, untuk menarik perhatian atau menegaskan tambahan informasi
lain yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya, struktur kalimat dengan konjungsi di awal kalimat sekarang
ini sudah umum dipakai.
2. Gunakan tanda koma. Jika menggunakan klausa gunakan tanda koma sebelum konjungsi. Tetapi, jika klausa
itu pendek, misalnya pada kalimat She is kind so she helps people, maka koma bisa tidak dipakai. Pada
kata/frase, sebaiknya gunakan tanda koma pada akhir kata/frase atau sebelum konjungsi yang terdapat dua
atau lebih kata/frase, seperti contoh di atas: It can be black, white or grey.
3. Jika memakai klausa gunakan independent clause. Setiap klausa yang dihubungkan dengan konjungsi harus
dapat berdiri sendiri sebagai kalimat jika konjungsi dihilangkan.
Kalimat yang di dalamnya memakai coordinating conjunctions disebut juga compound sentences.

Profesionalitas Guru di Era Global
Jumat, 28/11/2008
Oleh: Irwan Prayitno
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,
Engkau patriot pahlawan bangsa,
Pahlawan tanpa tanda jasa …
Potongan lagu ‘hymne guru’ di atas menunjukkan betapa berarti dan pentingnya keberadaan seorang guru bagi
kehidupan seorang manusia dalam menjalani hidupnya. Guru berada di garis depan dalam memberi penyejuk
dan kemajuan suatu bangsa. Tanpa guru, sistem yang dibangun tidak akan berhasil.
“No Teacher, No Education”, demikian pernyataan Presiden Vietnam Ho Chi Minh. Sehingga moto tersebut
dijadikan landasan pemerintahannya dalam membangun Vietnam yang berlandaskan pendidikan dengan guru
sebagai intinya.
Sedangkan bagi seorang Fuad Hasan (alm), ”Jangan terlalu meributkan soal kurikulum dan sistemnya. Itu
semua bukan apa-apa, justru pelaku-pelakunya (guru) itulah yang lebih penting diperhatikan.” Beliau
berpendapat bahwa kualitas gurulah yang justru menjadi permasalahan pokok pendidikan di manapun.
Dan masih banyak pendapat yang mendukung tentang begitu pentingnya keberadaan guru dengan peran dan
fungsinya dalam mencerdaskan anak bangsa di manapun.
Namun pertanyaannya hari ini adalah; adakah masih cukup bertahan anggapan demikian di tengah tuntutan
zaman yang semakin berubah dan menginginkan pergerakan kemajuan yang lebih cepat dan dinamis ?
Fenomena guru hari ini
Di hari peringatan Guru Nasional saat ini, pertanyaan di atas sepatutnya menjadi renungan kita bersama.
Karena hal tersebut dapat dibuktikan dengan jawaban yang diberikan anak-anak Indonesia ketika diajukan
pertanyaan; Apa cita-citamu kelak jikalau sudah besar/dewasa nanti ?, maka rata-rata mereka menjawab, akan
menjadi dokter, insinyur, arsitek, manajer, pengacara, diplomat, pilot, dll nya. Lalu dimanakah posisi guru
dalam pikiran mereka ?. Kenapa mereka tidak berkeinginan menjadi guru ?, seperti guru-guru mereka yang
memang setiap hari mereka gauli bahkan ‘diayomi’ oleh guru-guru mereka ?.
Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa fenomena kritik yang dilontarkan di tengah masyarakat terhadap
keberadaan guru, yang terkesan ‘tidakberdaya’ menghadapi derasnya arus globalisasi termasuk ide-ide ideal
yang disampaikan baik dari pemerintah, DPR, akademisi, maupun kalangan lainnya.
Fenomena tersebut, antara lain :
- Masih adanya guru yang lebih senang menggunakan suatu produk pembelajaran yang bersifat ’instan’
daripada berlatih mendesain sendiri, dimana hal tersebut sebagai bukti belum teraktualisasinya kompetensi
guru.
- Masih adanya guru yang lebih senang dan bangga menjadi satu-satunya sumber belajar tanpa berpikir
perlunya berinteraksi dengan ’makhluk’ lain selain dirinya. Menjadi pewarta materi dengan peserta didik yang
duduk senang tanpa ‘perlawanan’, juga menjadi kebanggaannya. Padahal keterlibatan peserta didik dalam
proses pembelajaran merupakan conditio sine qua non atau mutlak dilakukan.
- Masih adanya guru yang lebih senang menggunakan ’ancaman’ untuk mengingatkan peserta didik daripada
menerapkan teknik-teknik profesionalnya saat dididik menjadi guru sebelumnya. Padahal guru sudah
mempelajari kaedah dan teori pemberian reward dan memahami bahwa memberikan reward bagi peserta didik
merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan dan menjadi bagian yang utuh dalam proses pembelajaran.
- Juga terlihat adanya guru yang masih asing bahkan sinis terhadap inovasi tapi suka menganggukkan kepala
tanda setuju tanpa memikirkan secara mendalam makna anggukan kepala tersebut. Gurupun terlihat
’kebingungan’ ketika datang suatu perubahan tanpa mencerna terlebih dahulu makna perubahan tersebut.
- Masih adanya guru yang lebih senang menyimpan alat peraga secara rapi di lemari daripada memanfaatkan
alat tersebut guna kepentingan proses pembelajaran. Padahal guru sudah belajar tentang teori perkembangan
kognitifnya Piaget dan telah memahami sejak dari dulunya, bahwa pembelajaran dengan alat peraga lebih

bermakna daripada pembelajaran tanpa alat peraga.
- Masih adanya guru yang tidak mau belajar membuat karya ilmiah dan lebih senang dengan pilihan golongan
kepegawaiannya tetap di IVA, sehingga merasa ”bebas administrasi”.
- Ada juga guru yang senang menggunakan peserta didiknya sebagai objek ’les privat’ dengan memberikan
perhatian khusus bagi peserta didik yang mengikuti les privatnya.
Kondisi-kondisi tersebut disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari guru itu sendiri dan faktor lainnya
yang berasal dari luar. Faktor-faktor tersebut, antara lain :
1. Kurangnya minat guru untuk menambah wawasan sebagai upaya menaikkan tingkat profesionalitasnya,
sebab bertambah atau tidaknya pengetahuan serta kemampuan dalam melaksanakan tugas rutin dianggap tidak
berpengaruh langsung terhadap pendapatan yang diperolehnya.
2. Penghasilan yang diperoleh guru masih belum mampu memenuhi hidup harian keluarga secara mencukupi,
meskipun sudah ada upaya pemerintah untuk menaikkan penghasilan guru dengan program peningkatan
kualifikasi dan sertifikasi guru (dimana pemerintah telah ‘menjanjikan’ akan menaikkan gaji guru dan dosen
hingga 300 persen, dengan berbagai persyaratan harus memenuhi kompetensi dan sertifikasi).
3. Meledaknya jumlah lulusan guru dari tahun ke tahun.
Kompetensi personal, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah menegaskan bahwa yang dimaksud
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik di jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
Disamping itu, di era global saat ini, dituntut adanya fungsi dari keberadaan guru sebagai tenaga profesional,
yang mampu meningkatkan martabat serta mampu melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan
tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, dan kreatif.
Untuk itu sewajarnyalah profesionalitas guru, harus terkait dan dibangun melalui penguasaan kompetensikompetensi yang secara nyata dalam menjalankan dan menyelesaikan tugas-tugas dan aktivitasnya sebagai
guru, sehingga guru dapat menghadapi arus globalisasi dengan efektif dan tanpa ‘ketidakberdayaan’.
Adapun kompetensi-kompetensi penting dari seorang guru tersebut, adalah :
Kompetensi personal, yaitu kompetensi nilai yang dibangun melalui perilaku yang ditampilkan guru. Dapat
memiliki pribadi dan berpenampilan menarik, yang menyenangkan, pandai bergaul - tidak saja dengan sesama
guru tapi juga dengan peserta didiknya - sehingga menjadi dambaan bagi setiap orang setidaknya yang berada
di sekitarnya, dan adalah sosok guru yang menjadi panutan bagi peserta didik dan masyarakat.
Kompetensi profesional, adalah kompetensi yang langsung menyentuh bidang substansi atau bidang studi,
kompetensi bidang pembelajaran, metode pembelajaran, sistem penilaian (evaluasi), pola bimbingan,
konsultasi siswa, dll nya yang mesti dimiliki seorang guru secara efektif.
Kompetensi sosial, adalah kemampuan atau kompetensi yang terkait pada hubungan serta pelayanan dan
pengabdian kepada masyarakat.
Pemberdayaan profesionalitas guru
Dengan menilik kondisi dan perkembangan dunia yang semakin menglobal sementara kedudukan guru yang
tidak tergeserkan dalam fungsinya sebagai pencerdas bangsa dan memajukan dunia pendidikan, tentunya
menjadi ‘kemestian’ kata kunci ‘profesional’ guru yang wajib selalu ditingkatkan disamping perlu juga
dilakukan program-program lain yang mendukung.
Karena itu, guru jangan sampai hanya disibukkan dengan mengajar saja (meski memang sudah menjadi
aktivitas rutin yang dilakoni guru), tapi juga harus mampu menampilkan profesionalitasnya dalam
menjalankan fungsi-fungsinya.
Beberapa hal yang perlu dilakukan, adalah :
1. Dengan karya nyata dan sikap seorang gurulah yang mampu mengangkat harkat dan martabatnya serta
diakui keprofesionalannya oleh masyarakat.
2. Guru perlu berpikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya guru harus melakukan pengayaan dan

pembaruan di bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya secara terus menerus.
3. Mengefektifkan perubahan budaya mendengar dan mendongeng menjadi budaya membaca, menulis, dan
diskusi. Karena dengan budaya membaca, menulis, dan diskusi akan tumbuh kehidupan ilmiah di tengah
masyarakat khususnya kalangan guru.
4. Guru harus paham dan melakukan penelitian-penelitian guna mendukung efektifitas pengajaran yang
dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak dengan praktek pengajaran
yang menurut asumsinya sudah efektif, namun kenyataannya justru bisa mematikan kreativitas peserta
didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian dapat memungkinkan guru untuk melakukan
pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
5. Gurupun mesti mampu melakukan dialektika dengan realitas kehidupan (kontekstual) hari ini. Hal ini
dianggap penting, karena tanpa adanya dialektika dengan realitas kehidupan akan kehilangan makna dan
konteks pembelajaran yang disampaikan, sehingga proses pembelajaran nantinya seperti di ruang hampa,
hanya ilusi atau sekedar fatamorgana. Berdialektika dengan realitas kehidupan maka fungsi pragmatis akan
bersinergi dengan fungsi idealis, sehingga akan berguna dalam pemberian makna pembelajaran bagi masa
kekinian maupun masa yang akan datang.
6. Bagi pemerintah, penting untuk mengkaji ulang kurikulum perkuliahan institusi penghasil guru, dengan
menekankan pada kompetensi guru yang berkualitas dan mumpuni.
7. Pemerintah juga diharapkan dapat melaksanakan secara efektif program penempatan guru di wilayahwilayah pelosok Indonesia yang masih banyak membutuhkan guru dengan memberikan pendapatan yang
sesuai.
8. Pemerintah perlu bersungguh-sungguh merealisasikan anggaran pendidikan yang 20 % (dari APBN dan
APBD) sebagai syarat upaya meningkatkan kualifikasi dan profesionalitas guru serta dunia pendidikan secara
umum.
Padang Ekspres, 25 Nopember 2008
http://irwanprayitno.info/artikel/1227678274-profesionalitas-guru-era-global.htm
Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta didik ibarat sebuah lilin yang
menjadi penerang tanpa batas tanpa membedakan siapa yang diteranginya demikian pulan terhadap peserta
didik. WASPADA Online
Oleh Drs.Hasan Basri MM
Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia, kehadiran guru bagi peserta didik ibarat sebuah lilin yang
menjadi penerang tanpa batas tanpa membedakan siapa yang diteranginya demikian pulan terhadap peserta
didik. Tetapi, dalam mengemban amanah sebagai seorang guru, perlu kiranya tampil sebagai sosok
profesional. Sosok yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, sosok yang dapat memberi contoh teladan
dan sosok yang selalu berusaha untuk maju, terdepan dan mengembangkan diri untuk mendapatkan inovasi
yang bermanfaat sebagai bahan pengajaran kepada anak didik.
Dukungan berbagai pihak terhadap nasib para guru saat ini memang perlu disikapi secara positif. Pemerintah
daerah misalnya, telah berupaya menyiapkan finansial tambahan untuk para guru, sekali pun dalam jumlah
yang terbatas. Tetapi paling tidak, hal itu membuktikan, keberadaan guru mendapat perhatian yang cukup dari
pemerintah daerah. Sekarang, kembali kepada para guru itu sendiri, apakah mereka akan tetap berada dalam
posisi tawar yang biasabiasa saja dengan mengandalkan finansial terbatas dari pemerintah daerah? Ataukah
mereka akan meningkatkan posisi tawar diri dengan cara meningkatkan profesionalismenya ? Tentu, untuk
peningkatan ini, para guru perlu meningkatkan pengetahuan, menimba pendidikan lagi, rajin dan aktif dalam
berbagai kegiatan seminar dan sebagainya.
Tak dapat dipungkiri, benturan finansial seringkali menjadi masalah ketika para guru ingin mengembangkan
aspek pengetahuan mereka. Terlebih aspek pengembangan karir dengan cara menimba ilmu ke jenjang yang
lebih tinggi. Akan tetapi, sebagai seorang yang harus lebih pintar dan lebih pandai dari anak didik nya, mau
tak mau cara ini harus ditempuh para guru. Dengan kata lain, meningkatkan profesionalisme itu memang
harus diiringi dengan sekolah lanjutan setelah memiliki gelar sarjana ke pendidikan.Ikut ambil bagian dalam
berbagai kegiatan seminar kependidikan, diskusi dengan pakar-pakar ilmu pengetahuan dan lain sebagainya

termasuk cara untuk mencerdaskan diri di samping menuntut ilmu secara formal Tentu saja, kearifan dan
kebijaksanaan dalam proses memenej penghasilan sangat dibutuhkan dalam rangka mempersiapkan
pendanaan untuk mendapatkan pendidikan kelanjutan. Tidak sedikit para doktor, profesor atau sarjana lanjutan
lainnya yang memenj keuangan mereka demikian rupa, sehingga mampu menyelesaikan pendidikan hingga
akhirnya benar-benar tampil sebagai seorang pendidik yang memiliki profesi yang dibanggakan.
Setelahnya, para guru akan lebih mempunyai peluang dan harapan untuk mendapatkan posisi tawar dalam
berbagai aspek, yang akhirnya mendapatkan finansial yang lebih tinggi dari keberadaan mereka semula yang
hanya mengandalkan kemampuan mengajar. Dukungan berbagai pihak memang memberikan peluang. Bila
diperhatikan undang-undang, perhatian pemerintah yang memberikan dana finansial bagi para guru honor.
Saat ini, berbagai peluang yang mengandalkan kemampuan untuk mendapatkan finansial tambahan sudah
cukup banyak. Bagi mereka yang mampu menulis, media surat kabar, umumnya memberikan finansial bila
tulisan mereka diterbitkan. Lembaga pendidikan kursus juga menunggu para pendidik yang ahli di bidangnya.
Sehingga orang-orang yang profesional akan mengandalkan kemampuannya untuk mendapatkan finansial
yang berdampak pada kesejahteraan hidup keluarganya.
Ingatlah, kemajuan zaman akan menggiring manusia yang profesional lebih memposisikan diri sesuai ilmu
dan kemampuan mereka masing-masing. Jika tidak, semua orang akan tertinggal, terutama para guru. Anak
didik dengan orang tuanya yang mapan akan memilih sekolah dengan tingkat kecerdasan guru yang mereka
anggap profesional pula. Lembaga pendidikan akan melakukan hal yang sama, memilih para guru yang
profesional, karena finansial yang mereka berikan sama dengan tingkat pengetahuan dan kinerja para guru
yang bakal menjadikan siswa mereka cerdas, mampu berkompetisi dan bisa bersaing dengan siswa lainnya
dalam dan luar negeri. Jika tidak dari sekarang membenahi diri ke arah yang profesional kapan lagi.
Hari Guru selalu diperingati setiap tanggal 25 November, tapi sadarkah kita, setiap tahun ribuan pengetahuan
baru bermunculan yang memerlukan keseriusan para guru untuk membahasnya. Jika guru yang ada tidak
mengembangkan diri dengan harapan lebih profesional, apakah mungkin guru mampu mentransfer ilmu
pengetahuan yang baru? Cakap, cerdas dan memiliki posisi tawar adalah ciri guru masa depan, yang selalu
mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan inovasi, yang selalu ingin maju dari peserta didiknya.
Anak didik menjadi insinyur, selayaknya guru-guru mereka menjadi doktor atau profesor. Selamat Hari Guru,
semoga mampu membangun semangat profesional yang bertujuan menjadikan anak bangsa yan g
cerdas,kompetitif, berbudi luhur dan mampu berinovasi di masa datang.
Penulis adalah Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan
http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=7631

Oleh:
Zaim Mukaffi*
Pendahuluan
Pengembangan dan peningkatan mutu profesionalitas guru Indonesia bukan persoalan mudah dan jangka
pendek, melainkan persoalan pelik dan jangka panjang. Oleh karenaitu, baik guru maupun masyarakat dan
pemerintah harus bersinergi dan berkomitmen untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalitas
guru (wiyono, 2005). Hal ini harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak boleh hanya sekali jadi, karena
profesionalitas guru terus berkembang, tidak pernah mengenal kata berhenti. Tanpa profesionalitas, guru tidak
mungkin diharapkan menjadi pemicu utama peningkatan mutu pendidikan khususnya pembelajaran
Rendahnya mutu pendidikan khususnya pembelajaran Indonesia merupakan cerminan rendah atau kurangnya
mutu profesionalitas guru dalam melaksanakan dan mempertanggung jawabkan pembelajaran. Rendahnya
mutu profesionalitas guru-guru di Indonesia menurut Rasio (2006) disebabkan antara lain:
1.masih cukup banyak guru Indonesia baik yang bertugas di SD/MI maupun di SLTP/MTs dan SMU/SMA
yang tidak berlatar belakang pendidikan sesuai dengan ketentuan dan bidang studi yang dibinanya.

2.masih sangat banyak guru Indonesia yang memiliki kompetisis rendah dan memprihatinkan.
3.masih banyak guru di Indonesia yang kurang terpacu dan termotivasi untuk memberdayakan diri,
mengembangkan profesionalitas diri atau memutakhirkan pengetahuan mereka secara terus-menerus dan
berkelanjutan, meskipun cukup banyak guru Indonesia yang sangat rajin menaikkan pangkat mereka dan
sangat rajin pula mengikuti program-program pendidikan kilat atau jalan pintas yang dilakukan oleh berbagai
lembaga pendidikan.
4.masih sangat banyak guru Indonesia yang kurang terpacu, terdorong, dan tergerak secara pribadi untuk
mengembangkan profesi mereka sebagai guru.
Namun demikian masih ada sisi-sisi positif dari profesi seorang guru, antara lain:
1.guru sudah memiliki jiwa dan semangat pengabdian dan pengorbanan yang sangat tinggi, bahkan dalam
batas-batas tertentu dapat disebut mengagumkan. Walaupun upah yang mereka terima masih sangat kecil.
2.guru sudah berusaha keras dengan mengikuti derap perubahan pendidikan dan pelajaran, yang walaupun
diliputi rasa ketidak berdayaan.
3.guru sudah berupaya kuat untuk memajukan diri dan menambah pengetahuan meskipun sering terjebak oleh
pihak-pihak yang sekedar mencari keuntungan
Permasalahan-permasalahan tersebut yang selama ini menjadi persoalan –yang sampai saat ini- belum
terselesaikan. Maka dari itu, komitmen pemerintah dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru mutlak
diperlukan agar tercipta kualitas guru yang kompeten sehingga berdampak pada terciptanya siswa/pelajar yang
berkualitas dan kompetitif.
Profesionalitas Guru
Menurut Muallifah (2006) guru yang profesional adalah guru yang ahli dibidangnya, mempunyai kemampuan
tinggi untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, serta berwawasan luas. Warti (2006) mendefinisikan
profesionalitas guru, pertama, bersangkutan dengan profesi, kedua, memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya yang dilandasi oleh pendidikan keahlian tertentu.
Seseorang yang dipekerjakan sebagai guru tentunya telah memiliki surat keahlian mengajar (akta atau
sejenisnya) dari lembaga yang berwenang. Sebuah LPTK tidak akan meluluskan peserta didiknya jika mereka
dinilai belum layak untuk mengajar. Dalam artian bahwa guru tersebut;
1.belum menguasai subyek materi pelajaran.
2.belum menguasai metodologi pengajaran, dan
3.belum memahami filosofi pengajaran dan pendidikan.
Dengan kata lain, calon guru pada sebuah LPTK telah dibekali dengan kepandaian khusus mengajar. Dengan
demikian, tidak ada guru yang telah tamat pendidikan keguruan tanpa bekal profesional. Berprofesi sebagai
guru sebenarnya telah siap sejak awal akan konsekuensi logis dari pekerjaan yang diembannya. Bahwa kita
berhadapan dengan manusia (murid), bukan barang. Bahwa dalam dunia pendidikan, guru dituntut proaktif
akan perkembangan ilmu dan dinamika kehidupan. Di sisi lain, guru harus memahami diri bahwa upah
kerjanya tidak besar.
Sebagai guru yang profesionalitasnya telah dicetak sejak di LPTK, kiranya tidak pantas apabila guru dituding
sebagai pekerja yang tingkat profesionalitasnya rendah, apalagi dikatakan kurang.
Tantangan Profesionalitas Guru
Selama ini (bahkan mayoritas) bahwa pendidikan di Indonesia masih menggunakan teacher centered atau
pendidikan terpusat pada guru (Subagyo,2006) hal ini dirasa kurang efektif sebab tidak ada kreasi yang
muncul dari potensi siswa atau dengan kata lain sistemnya harus di ubah menjadi student centered. Disamping
itu, arah kebijakan pemerintah terlebih pasca otonomi daerah daerah mempunyai kewenangan untuk
mengembangkan kurikulum lokal atau muatan lokal dalam kurikulum pendidikannya. Oleh karena itu, guru
dituntut adanya kemampuan secara kompetitif. Adapun tantangan guru profesional kedepan adalah;
1.persoalan rambu-rambu atau acuan pelaksanaan, arah kebijakan pendidikan, paradigma sistem pendidikan,
termasuk sistem dan kurikulum yang selalu mengalami perubahan.
2.semakin cepatnya perkembangan tehnologi sehingga menuntut guru lebih proaktif terhadap perkembangan
tersebut.
3.kesempatan guru yang sangat terbatas dalam mengembangkan kemampuannya..
4.sistem yang selama ini digunakan oleh guru masih monoton sehingga berpengaruh terhadap pola pikir siswa.
5.kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib/kesejahteraan guru.
Srategi Peningkatan Profesionalitas Guru

Guna mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalitas guru, sudah barang tentu kendala-kendala dan
tantangan harus segera diatasi. Kendala personal, ekonomis, struktural, sosial dan kultural harus dipecahkan
supaya guru bebas dan berkembang. Hal itu dapat dilakukan antara lain:
1.secara personal harus dilakukan pemberdayaan diri para guru Indonesia, pemacuan dan pemotivasian guru
dan pendampingan guru.
2.secara ekonomis, pemerintah maupun masyarakat harus bertekat sekaligus merealisasikan peningkatan
kesejahteraan guru terutama masalah gaji atau penghasilan guru, mengurangi berbagai pungutan dan
meningkatkan berbagai fasilitas profesional guru.
3.secara struktural, pemerintah harus melakukan deregulasi peraturan yang mengatur guru, melonggarkan atau
membebaskan guru agar berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran dan memberikan kebebasan dan
kedaulatan kepada guru untuk menjalankan profesinya.
4.secara sosial masyarakat harus banyak terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan dan pengembangan profesi
guru dan pemerintah harus lebih banyak lagi melakukan promosi guru.
5.secara kultural, harus dikembangkan budaya kerja yang berorientasi pada mutu, budaya pembelajaran,
berorientasi profesional dan nilai-nilai profesi yang mengutamakan kejujuran.
Profesionalisme guru dapat diukur melalui kualifikasi akademik, kompetensi yang dikuasai, dan sertifikasi
yang dimilikinya. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang berdasarkan prinsip-prinsip
profesional sebagai berikut;
1.memiliki bakat, minat, dan idealisme,
2.memiliki kualifikasi pendidikan dari latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas.
3.memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas.
4.memiliki ikatan kesejawatan dan kode etik profesi.
5.bertanggung jawab atas paksanaan tugas keprofesionalan.
6.memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja
7.memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesi secara berkelanjutan.
8.memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
9.memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenanganmengatur hal-hal yang berkaitan dengan
keprofesionalan.
Guru yang profesional disamping memiliki prinsip-prinsip profesional diatas, juga dapat dilihat melalui
kualifikasi akademik, kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.
dan sertifikasi (Sopratno,2006). Ketiga aspek tersebut di jelaskan dalam tabel berikut:
Tabel 1. Penilaian Profesionalitas Guru
Penilaian Profesionalitas Guru
Sub-Sub Profesionalitas
Keterangan
Profesionalitas guru
Kualifikasi akademik
Kompetensi
1.kompetensi pedagogik
2.kompetensi kepribadian
3.kompetensi sosial
4.kompetensi profesional
Sertifikasi
1.pendidikan profesi
2.pendidikan sertifikasi
Terkait dengan tingkat pendidikan guru
Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan, evaluasi dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.
Kemampuan guru tentang kepribadian yang mantap, berakhlak, arif, bijaksana erta menjadi teladan siswa.
Kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi kepada peserta didik.

Diperoleh melalui pendidikan profesi
Pendidikan profesi calon guru
Pendidikan profesi bagi guru dalam jabatan
Pelaksanaan sertifikasi
Tempat penyelenggaraan sertifikasi
E. Kesimpulan
Guna mengembangkan dan meningkatkan mutu profesionalitas guru kendala-kendala dan tantangan harus
segera diatasi. Kendala tersebut adalah personal, ekonomis, struktural, sosial dan kultural harus dipecahkan
supaya guru bebas dan berkembang. Dalam upaya meningkatkan Guru yang profesional maka seorang guru
harus memiliki prinsip-prinsip professional dan melalui kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikasi.
*Penulis Adalah Guru MTs Miftahul Huda Tegalpare Muncar Banyuwangi. Alumni UGM Yogyakarta
Diposting oleh My website di 9:10 PM
http://zaim1979.blogspot.com/2008/04/peningkatan-profesionalitas-guru-di.html

Friday, January 9, 2009
Pengembangan Profesionalitas Guru
Profesionalitas Guru Kompetensi pendidik sebagaimana dinyatakan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan dan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terurai menjadi 4
komponen, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2) kompetensi profesional (dalam penjelasan yang dimaksud
kompetensi profesional adalah penguasaan bidang ilmu yang diajarkan), (3) kompetensi sosial, dan (4)
kompetensi kepribadian. Pengembangan elemen-elemen kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan secara
terpisah-pisah,akan tetapi musti dilakukan dalam bingkai utuh kompetensi guru. Bahan ajar disusun dengan
kerangka pikir bahwa kompetensi kompetensi guru merupakan bentuk integrasi yang bersenyawa dari
berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang sisi-sisinya Menampakkan (1) penguasaan dalam disiplin ilmu
secara baik dan mendalam (kompetensi profesional), (2) penguasaan teori belajar dan pembelajaran serta
mengenal peserta didik secara mendalam (kompetensi Pedagogis), (3) pengembangan pembelajaran, yang
terdiri atas kemampuan menganalisis isi dan mengorganisasi isi,merancang skenario pembelajaran,menyusun
perangkat pembelajaran, dan mengembangkan sistem evaluasi (kompetensi pedagogis dan profesional), (4)
melaksanakan pembelajaran yang mendidik (kompetensi pedagogis dan profesional), kinerja tersebut
memerlukan dukungan (5) penguasaan bidang-bidang lain yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran
dan memutakhirkan pengetahuan dan ketrampilan pemdidik (kompetensi sosial dan kepribadian), dan (6)
sikap,nilai, dan kebiasaan berfikir produktif,serta perilaku yang menunjang tampilan kinerja pendidik
(kompetensi sosial dan kepribadian).(kutipan dari modul Pengembangan Profesionalitas guru PSG yaron 15
PLPG gelombang 5 kuota 2008) Dari uraian diatas , dapat ditarik benang merah bahawa hasil yang diharapkan
dari sertifikasi profesi profesi guru adalah:
1. Guru mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan secara terus menerus.
2. Guru memahami perkembangan pandangan (konsepsi),teori, dan paradikama belajar dan pembelajaran.
3. Guru mampu mengembangkan teori belajar dan pembelajaran berdasarkan pengalaman sehari-hari.
4. Guru mampu memahami karakteristik peserta didik dan menjadikan pemahamannya sebagai pijakan
pengambilan keputusan dalam menetapkan strategi pembelajaran.
5. Guru mampu mengembangkan pembelajaran dengan model pembelajaran yang inovatif.
6. Guru mampu menganalisis tujuan, isi pembelajaran, dan menetapkan strategi pengorganisasian isi
pembelajaran.
7. Guru mampu memilih dan menetapkan sistem evaluasi pembelajaran.
8. Guru mampu mengimplementasikan rancangan pembelajaran.
9. guru mampu mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Diposkan oleh Sutrisno,S.Pd di 2:20 PM
Label: Profesionalitas Guru
http://sutrisnoblogg.blogspot.com/2009/01/pengembangan-profesionalitas-guru.html