You are on page 1of 14

1.

DEFINISI ALOKASI UMUM
Dalam era reformasi saat ini urusan wajib/kewenangan yang begitu luas diserahkan ke daerah
membawa konsekuensi terhadap pembiayaan, sedangkan bila daerah mengandalkan penerimaan
dan pendapatan asli daerah atau PAD maka membiayai seluruh urusan wajib yang diserahkan
pemerintah tersebut masih sangatlah kurang, untuk itu perlu adanya dana pusat yang diserahkan
ke daerah dalam upaya mengurangi ketimpangan baik vertikal maupun horizontal yang dalam
peraturan perundang-undangan dinamakan Dana Perimbangan.
Sesuai dengan namanya, Dana Perimbangan menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004
adalah dana yang bersumber dari Pendapatan APBN yang dialokasikan ke daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan itu
meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Untuk lebih memahami tentang Dana Perimbangan, khususnya untuk Dana Alokasi Umum
(DAU) berikut wawancara koresponden dispenda.inhukab.go.id dengan Kepala Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten Indragiri Hulu, H. Arief Fadillah, SE, M.Si disela-sela
kesibukannya mengenjot PAD yang dalam kurun 3 tahun terakhir meningkat tajam.
1. Apa maksud dari
Dana Perimbangan?

Dana

Alokasi

Umum

yang

merupakan

bagian

dari

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu transfer dana pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan
dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU bersifat “Block Grant” yang berarti
penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah
untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
1

Apa dasar hukum yang dipakai dalam Dana Alokasi Umum ?

Dasar hukumnya adalah UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dan PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana
Perimbangan.
1

Bagaimana pengalokasian Dana Alokasi Umum ini ?

DAU dialokasikan untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota. Besaran DAU ditetapkan
sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) Netto yang ditetapkan
dalam APBN. Proporsi DAU untuk daerah provinsi dan untuk daerah kabupaten/kota
ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.
1

Bagaimana Penghitungan Dana Alokasi Umum Menurut UU No. 33 Tahun 2004

sedangkan. Bagaimana cara menghitung celah fiskal ? Formula penghitungan Celah Fiskal dan Kapasitas Fiskal adalah: CF = KbF – KpF CF = Celah Fiskal KbF = Kebutuhan Fiskal KpF = Kapasitas Fiskal Kebutuhan Fiskal dihitung dengan formula . Kebutuhan Fiskal merupakan kebutuhan pendanaan daerah dalam rangka melaksanakan fungsi layanan dasar umum yang diukur melalui variabel: 1.DAU dialokasikan kepada daerah dengan menggunakan formula DAU yang berdasarkan Alokasi Dasar dan Celah Fiskal dengan proporsi pembagian DAU untuk daerah provinsi dan kabupaten/kota masing-masing sebesar 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari besaran DAU secara nasional. 4. Indeks Kemahalan Konstruksi. Indeks Pembangunan Manusia. 5. 2. yang meliputi luas darat dan luas wilayah perairan. Celah Fiskal merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal dan Kapasitas Fiskal. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per-kapita. Formula DAU per daerah rumusnya adalah: DAU = AD + CF DAU artinya alokasi DAU per daerah AD = alokasi DAU berdasar Alokasi Dasar CF = alokasi DAU berdasar Celah Fiskal Bagaimana mengetahui alokasi dasar ? Alokasi Dasar dihitung berdasarkan data jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) dan besaran belanja gaji PNSD dengan memperhatikan kebijakan-kebijakan lain terkait dengan penggajian. Luas Wilayah. Jumlah Penduduk. 3.

termasuk Cukai Hasil Tembakau yang baru kita miliki tahun 2014 .KbF = TBR (∑1IP + ∑2IW + ∑3IKK + ∑4IPM + ∑5IPDRB/Kapita) TBR = Total Belanja Daerah Rata-rata IP = Indeks Penduduk IW = Indeks Wilayah IKK = Indeks Kemahalan Konstruksi IPM = Indeks Pembangunan Manusia IPDRB = Indeks PDRB per kapita ∑ = bobot indeks masing-masing variabel Formula yang digunakan untuk menghitung Kapasitas Fiskal adalah KpF = PAD + DBH SDA + DBH Pajak PAD = Pendapatan Asli Daerah DBH SDA = Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam DBH Pajak = Dana Bagi Hasil Pajak.

” Pasal 162 UU No. . langkah kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah dibagi menjadi 4 kelompok besar yaitu (i) penetapan program dan kegiatan. Menteri teknis mengusulkan kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK dan ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri. yang menyebutkan bahwa: “Dana Alokasi Khusus.32/2004 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan dalam APBN untuk daerah tertentu dalam rangka pendanaan desentralisasi untuk (1) membiayai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah Pusat atas dasar prioritas nasional dan (2) membiayai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu Dalam menjalankan Kebijakan DAK. Pada tulisan ini. 2. Transfer DAK merupakan konsekuensi lahirnya Ketetapan MPR No. Menteri Keuangan. (iii) arah kegiatan dan penggunaan DAK. XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah . DEFINISI DANA ALOKASI KHUSUS Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang ditransfer oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). dan (iv) administrasi pengelolaan DAK. dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Keuangan Negara dan Keuangan Daerah sebagai pengganti UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 55 Tahun 2005 berbunyi : 1. Pembagian dan Pemanfaatan Sumberdaya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengaturan. sesuai dengan Rencana Kerja Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. penulis hanya akan mencoba membahas proses penetapan program dan kegiatan serta perhitungan alokasi DAK.22 Tahun 1999 dan UU No.2. Program yang menjadi prioritas nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) dan Pasal 51 ayat (1) dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun anggaran bersangkutan.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagai pengganti dari UU No. Pengertian DAK diatur dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. penetapannya diatur dalam Pasal 52 PP No. Yang kemudian disempurnakan melalui penerbitan UU No. (ii) penghitungan alokasi DAK. Penetapan Program dan Kegiatan Dalam proses penetapan program dan kegiatan DAK. Kemudian dilanjutkan dengan lahirnya UU No. I.25 Tahun 1999.

Kegiatan dan program yang akan didanai tersebut merupakan program yang diusulkan oleh kementerian teknis yang melalui proses koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri. sebelum ditetapkan dan sesuai dengan RKP. Menteri Keuangan.3. Penghitungan Alokasi DAK Pasal 54 PP Nomor 55 Tahun 2005 mengatur bahwa perhitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahap. yaitu: . dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Pasal 52 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2005 jelas dikatakan bahwa program dan kegiatan yang akan didanai dari Dana Alokasi Khsus merupakan program yang menjadi prioritas nasional yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah. Menteri teknis menyampaikan ketetapan tentang kegiatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri Keuangan. Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan II. Tahapan berikutnya adalah ketetapan program tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan untuk dilakukan penghitungan alokasi DAK.

Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Dalam tahun 2011. Penentuan daerah tertentu menurut pasal 54 Peraturan Pemerintah No. dan b. 55 Tahun 2005 tersebut harus memenuhi kriteria umum.a. penentuan daerah tertentu yang menerima DAK. kriteria umumtersebut dapat ditunjukkan pada beberapa persamaan di bawah ini: Dimana : Penerimaan Umum = PAD + DAU + (DBH – DBHDR) Belanja Pegawai Daerah = Belanja PNSD PAD = Pendapatan Asli Daerah APBD = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DAU = Dana Alokasi Umum DBH = Dana Bagi Hasil DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi PNSD = Pegawai Negeri Sipil Daerah Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. kriteria khusu dan kriteria teknis sebagaimana sudah diatur didalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Keuangan Pusat dan Keuangan Daerah. 55 Tahun 2005. penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah. Kriteria Umum Menurut Pasal 33 PP No. . Dalam bentuk formula. Dalam hal ini. rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini. arah kebijakan umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang tercermin dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil.

(4) Daerah rawan bencana. (2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan. (3) Daerah perbatasan dengan negara lain. Aturan perundangan-undangan. Kriteria Khusus. dan karakteristik daerah. maka daerah tersebut mendapatkan prioritas dalam memperoleh DAK Kriteria Khusus Ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. Karakteristik Daerah. Untuk Provinsi : (1) Daerah tertinggal. daerah yang mendapatkan DAK dirumuskan melalu indeks kewilayahan oleh menteri keuangan dengan mempertimbangkan masukan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Lembaga terkait. Untuk Kabupaten dan Kota : (1) Daerah tertinggal. (6) Daerah pariwisata c. (5) Daerah ketahanan pangan. dan tingkat kinerja pelayanan masyarakat serta pencapaian teknis . daerah yang diperioritaskan mendapatkan alokasi DAK dilihat dari karakteristik daerah yang meliputi : a. atau dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional. (6) Daerah pariwisata b. (4) Daerah rawan bencana. Jika IFN < 1. perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah.Selanjutnya. (2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan. Kriteria Teknis Kriteria Teknis disusun berdasarkan indikator-indikator yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana. untuk daerah yang termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal diprioritaskan mendapatkan alokasi DAK 2. 1. (5) Daerah ketahanan pangan. (3) Daerah perbatasan dengan negara lain.

4. Pada proses ini. 5. 9. Bidang Kelautan dan Perikanan dirumuskan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Bidang Prasarana Pemerintahan dirumuskan oleh Menteri Dalam Negeri. Kriteria teknis kegiatan DAK dirumuskan oleh masing-masing menteri teknis terkait. . 3. Bidang Infrastruktur Jalan. Bidang Pertanian dirumuskan oleh Menteri Pertanian. Tahapan Menentukan Daerah Tertentu Penerima DAK 1. Bidang Sarana dan Prasaranan Pedesaan dirumuskan oleh Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. maka daerah tersebut layak memperoleh DAK. Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 di atas. Infrastruktur Irigasi dan Infrastruktur Air Minum dan Senitasi dirumuskan oleh Menteri Pekerjaan Umum. IFN dan IKW digabungkan sehingga menghasilkan IFW. maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik wilayah yang ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). 6. yakni : 1. Bidang Kesehatan dirumuskan oleh Menteri Kesehatan. maka dilihat kriteria khusus yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. 2. Jika pada proses no. Bidang Perdagangan dirumuskan oleh Menteri Perdagangan. maka daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi DAK. 10. Bidang Lingkungan Hidup dirumuskan oleh Menteri Lingkungan Hidup. Dalam hal ini apabila IFW > 1. 1 di atas daerah tidak memenuhi. maka daerah tersebut layak memperoleh alokasi DAK. Bidang Keluarga Berencana dirumuskan oleh Kepala Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional. 2. 7.pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. Bidang Pendidikan dirumuskan oleh Menteri Pendidikan. Bidang Kehutanan dirumuskan oleh Menteri Kehutanan. 3. 8. Jika ya. dan 11. Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1.

Setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui. 3. IT digabungkan dengan IFW sehingga menghasilkan IFWT.4. Jika IFWT > 1. maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut Tahapan Menentukan Besaran Alokasi DAK masing-masing Daerah (gambar diatas) 1. alokasi daerah dan bidang). . Selanjutnya. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan DAK pada proses nomor 3 di atas. Pada proses ini. maka harus dihitung besaran alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB. maka dilihat kriteria teknisnya untuk masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). 2. BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masing-masing bidang sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk masing-masing bidang. IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masingmasing daerah.

.

bagian daerah dari PBB ditetapkan 90%. pajak bumi dan bangunan (PBB). bagian kedua daerah tersebut dari penerimaan migas masing-masing ditetapkan menjadi 70%. sumber-sumber penerimaan SDA yang dibagihasilkan adalah minyak bumi. maka pemerintah daerah dari penerimaan PBB diperkirakan mencapai 95. Berdasarkan perhitungan tersebut. juga seluruhnya dikembalikan ke daerah. Sementara itu. Secara garis besar DBH terdiri dari DBH perpajakan. dengan diberlakukannya otonomi khusus bagi Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang diatur dengan UU Nomor 18 Tahun 2001. dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). gas alam. Sementara itu. dan bagi propinsi Papua yang diatur dengan UU Nomor 21 Tahun 2001.7%. kehutanan. yang masing-masing ditetapkan sebesar 15% dan 30% dari penerimaan bersih setelah dikurangi komponen pajak dan biaya-biaya lainnya yang merupakan faktor pengurang. DEFINISI DANA BAGI HASIL Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan hak daerah atas pengelolaan sumber-sumber penerimaan negara yang dihasilkan dari masing-masing daerah. sesuai dengan PP Nomor 16 Tahun 2000. pertambangan umum. Berdasarkan PP Nomor 115 tahun 2000. dan perikanan yang merupakan bagian daerah ditetapkan masing-masing sebesar 80%. kehutanan dan perikanan. 20% bagian daerah tersebut terdiri dari 8% bagian propinsi dan 12% bagian kabupaten/kota. Dalam UU tersebut juga diatur mengenai besarnya bagian daerah dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam (migas). yang besarnya ditentukan atas daerah penghasil yang didasarkan atas ketentuan perundangan yang berlaku. Pengalokasian bagian penerimaan pemerintah daerah kepada masing-masing daerah kabupaten/kota diatur berdasarkan usulan gubernur dengan mempertimbangkan berbagai faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. bagian daerah dari PPh. Dari bagian daerah sebesar 90% tersebut. Sementara itu. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999 ditetapkan sebesar 20% yang merupakan bagian pemerintah pusat. Sementara itu. yang sebagian merupakan bagian pemerintah pusat. seluruhnya juga sudah dikembalikan kepada daerah. . Sumber-sumber penerimaan perpajakan yang dibagihasilkan meliputi pajak penghasilan PPh) pasal 21 dan pasal 25/29 orang pribadi. sedangkan sisanya sebesar 10% yang merupakan bagian pemerintah pusat. baik PPh pasal 21 maupun PPh pasal 25/29 orang pribadi ditetapkan masing-masing 20% dari penerimaannya.3. penerimaan SDA pertambangan umum. 10% nya merupakan upah pungut. dan DBH sumber daya alam (SDA). Namun demikian. bagian daerah dari penerimaan BPHTB.

Jika daerah penghasil merupakan pemerintah pusat (> 12 mil). Jika wilayah pertambangan tersebut berada antara 4 .12 mil maka lokasi pertambangan tersebut dianggap masuk wilayah pemerintah provinsi dimana lokasi tersebut berada c. berapa persen yang didapat pemerintah provinsi/kabupaten/kota? Bagian yang diterima oleh pemerintah provinsi/kabupaten/kota tergantung dari definisi daerah penghasil. kalau begitu bagaimana dengan prosentase bagi hasilnya? Dana Bagi Hasil untuk minyak dan gas berbeda dalam prosentase. Jika wilayah pertambangan tersebut berada > 12 mil maka lokasi pertambangan tersebut dianggap masuk wilayah pemerintah pusat b. Sehingga share pemerintah berkurang 0. pemerintah pusat mendapatkan 70% sedangkan 30% nya dibagi ke daerah penghasil.KONSEP DAN PENGHITUNGAN DANA BAGI HASIL MIGAS Bagaimana Perhitungan Dana Bagi Hasil untuk Pertambangan Minyak dan Gas Bumi? Sebelum dilakukan pembagian penghitungan bagi hasil. Apabila suatu lokasi pertambangan berada di darat (onshore). Prosentase tersebut sama dengan prosentase bagi hasil yang diatur dalam Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC). Hal ini penting karena akan mempengaruhi prosentase perhitungan bagi hasil. maka hasil dari lapangan migas tersebut 100% menjadi milik pemerintah pusat . Untuk gas bumi.5% dari bagian bagi hasilnya kepada daerah untuk dana pendidikan.5% Prosentase tersebut merupakan prosentase yang akan dikalikan dengan bagian yang menjadi hak pemerintah sesuai dengan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) Lalu. Namun yang menjadi masalah. mudah bagi kita untuk menentukan lokasi wilayah dari pertambangan tersebut. Untuk minyak bumi. hal pertama yang harus diketahui adalah definisi daerah penghasil. pemerintah pusat mendapatkan 85% sedangkan 15% nya dibagi ke daerah penghasil.5% sedangkan daerah bertambah 0. bagaimana menentukan kriteria daerah penghasil bagi lokasi yang terletak di laut (off shore)? Daerah penghasil untuk wilayah offshore ditentukan sbb: a. Namun Pemerintah Pusat menambah 0. Jika wilayah pertambangan tersebut berada kurang dari 4 mil maka lokasi pertambangan tersebut dianggap masuk wilayah pemerintah kabupaten/kota dimana lokasi tersebut berada Baik.

Bagaimana dengan 0.17% nya masuk ke provinsi sedangkan sisanya (0. Dana Bagi Hasil Minyak Bumi memiliki prosentase dua kali lipat dari gas bumi. 0. Sehingga jika daerah penghasil termasuk wilayah provinsi ( 4-12 mil).5% tersebut. 0.1% masuk ke provinsi yang bersangkutan. maka dari 0.Jika daerah penghasil termasuk wilayah provinsi ( 4-12 mil). maka 100% dari hasil tersebut masuk ke pemerintah pusat. 5% merupakan bagian pemerintah provinsi sedangkan 10% sisanya menjadi hak seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut (dibagi rata). Jika daerah penghasil termasuk wilayah kabupaten/kota (<4 mil).2% ke kabupaten/kota penghasil sedangkan sisanya (0.5% yang akan dialokasikan sebagai dana pendidikan? Jika lokasi masuk pemerintahan provinsi. kabupaten/kota penghasil mendapatkan 12% dan kabupaten/kota lainnya mendapatkan 12% (dibagi rata). pemerintah provinsi mendapatkan 6%. 0. kabupaten/kota penghasil mendapatkan 6% dan kabupaten/kota lainnya mendapatkan 6% (dibagi rata). Bisa di ringkas dalam bentuk tabel proporsi dana bagi hasil tersebut? Berikut adalah tabel yang menggambarkan skema Dana Bagi Hasil Untuk Minyak dan Gas Bumi .5% tersebut. maka dari 30% share daerah. 10% merupakan bagian pemerintah provinsi sedangkan 20% sisanya menjadi hak seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut (dibagi rata). maka dari 15% share daerah. Bagaimana dengan gas bumi? Secara umum. Jika daerah penghasil termasuk wilayah kabupaten/kota (<4 mil). maka dari 30% share daerah. Untuk wilayah yang termasuk pemerintah pusat.2%) dibagi rata ke seluruh kabupaten kota. pemerintah provinsi mendapatkan 3%. maka dari 0.33%) dibagi rata ke seluruh kabupaten/kota Jika lokasi masuk pemerintah kabupaten/kota. maka dari 15% share daerah. Pembagian diatas kan untuk minyak bumi.

15 .