You are on page 1of 36

ANALISIS STRUKTURAL DALAM HIKAYAT ISKANDAR

DZU’L-KARNAIN

Oleh
Netti Yuniarti

PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra mencerminkan segala sesuatu yang terjadi di dunia nyata,
meski karya sastra digolongkan sebaga karya imajinatif.Namun, karya sastra
itu dilandasi kesadaran dari segi kreativitas sebagai karya sastra oleh pengarang
atau kreatornya. Karya sastra meski dinyatakan sebagai karya imajinatif bukan
berarti isinya hanya hasil khayalan saja, karena di dalamnya terdapat
penghayatan, perenungan dan pengekspresian yang dilakukan dengan penuh
kesadaran. Karya sastra dapat bersumber dari adanya masalah dalam kehidupan
manusia, misalnya interaksi sesama manusia, dengan lingkungan, dan dengan
Tuhannya.
Sastra lahir disebabkan oleh dorongan dasar manusia untuk
mengungkapkan eksistensi dirinya dan perhatian besar terhadap masalah
manusia.Sangidu (2004:8) mengemukakan bahwa sastra merupakan suatu
pengetahuan yang bersifat umum, sistematis, dan berjalan terus menerus serta
berkaitan dengan apa yang dialami, dirasakan, dan dipikirkan oleh manusia
dalam kehidupannya. Sastra dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat,
karena karya sastra itu diciptakan oleh manusia dan masalah yang dibahas di
dalam karya sastra itu juga lahir dari interaksi antara manusia dengan alam,
dengan sesama manusia ataupun dengan Tuhannya.Selain itu, bahasa juga
merupakan media penting dalam karya sastra. Dengan adanya bahasa maka
karya sastra itu tidak hanya akan dipahami oleh pengarang atau kreatornya,
tetapi juga dapat dipahami oleh pembaca yang menikmati dan memberi nilai
terhadap karya sastra tersebut.
Membaca karya sastra para pembaca akan mendapatkan kesenangan
dan kegunaan yang diberikan oleh karya sastra itu yang berupa keindahan dan
pengalaman-pengalaman jiwa yang bernilai tinggi. Dalam karya sastra
dituliskan keadaan dan kehidupan sosial suatu budaya masyarakat, peristiwaperistiwa, ide-ide serta nilai-nilai yang diamanatkan oleh penciptanya. Dengan
kata lain sastra dapat memberikan berbagai informasi tentang berbagai hal
yang digambarkan secara aktual dan imajinatif.

Sastra merupakan cermin perjalanan hidup manusia. Istilah cermin ini
akan ada pada berbagai perubahan dalam masyarakat. Cermin tersebut dapat
berupa pantulan langsung segala aktivitas kehidupan sosial, dalam artian
pengarang secara nyata memantulkan keadaan masyarakat lewat karyanya
tanpa terlalu banyak diimajinasikan.Oleh sebab itu, karya sastra adalah karya
seni, indah dan memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri.Selain itu, sastra
adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, perasaan, pikiran,
ide,

semangat,

keyakinan

dalam

bentuk

gambaran

konkret

yang

membangkitkan pesona dengan alat bahasa.
Karya sastra bersifat imajinatif yang terbagi ke dalam tiga jenis genre
sastra, yaitu puisi, drama, dan prosa.Puisi merupakan ekspresi yang konkret
dan

artistik

dari

pikiran

manusia

dalam

bahasa

emosional

dan

berirama.Sedangkan drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap
manusia dengan gerak. Prosa dalam pengertian kesusastraan juga disebut fiksi
yang menguraikan maksud pengarang melalui karya-karyanya yang didukung
komponen bahasa yang lain dalam menghasilkan karya sastra. Dalam hal ini
fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan
kehidupan.Namun, karena fiksi merupakan cerita rekaan atau cerita khayalan
saja, maka dari itu berbagai masalah kehidupan tersebut diolah dengan
sungguh-sungguh sedemikian rupa oleh pengarang sesuai dengan persepsinya
untuk dituangkan ke dalam karya sastra.
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya
berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang
kephalawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan
mukjizat sang tokoh utama.Masyarakat sering menilai bahwa hikayat dianggap
sebagai sarana hiburan yang mempunyai pengaruh nilai edukatif, sosial dan
berbagai nilai kehidupan dan kebudayaan.Namun, masyarakat kurang
menyadari bahwa fungsi hikayat, juga berfungsi sebagai sarana yang
membentuk perilaku dan watak masyarakat.Oleh sebab itu, diharapkan
penelitian ini dapat mendeskripsikan tokoh.dan penokohannya, sehingga dapat
diketahui dengan terperinci. Hikayat ini menceritakan tentang Perang Sabi,
yang terdapat dalam hikayat tersebut adalah bagaimana seseorang yang ingin

memperjuangkan negerinya rela berkorban harta dan nyawa, hanya kekuatan
iman dan taqwa niat yang tulus mendorong semangat seorang pejuang, yang
dapat memberi sugesti terhadap masyarakat yang berbuda dan tradisi.
Masyarakat yang berbudaya adalah, masyarakat yang mengenai berbagai
macam tradisi.
Hikayat adalah salah satu tradisi yang sangat berperan dalam
masyarakat yang tentunya harus tetap diajarkan pada generasi penerus.Oleh
karna itu, kenapa hikayat harus diajarkan dari berbagai media baik dalam
pendidikan formal maupun tidak formal misalnya di Sekolah-Sekolah, di
televisi, di buku, di majalah dan di koran-koran.Hikayat yang merupakan
cerita-cerita yang berlatar belakang historis.Tokoh-tokoh di dalamnya
merupakan tokoh-tokoh terpenting dalam sejarah.
Kurangnya penelitian tentang hikayat, dan semakin longgarnya ikatan
adat dan normal dalam masyarakat. Ditambah lagi ketidakpedulian generasi
muda terhadap budaya masa lalu, semakin berkurangnya perhatian dari pihak
yang terkait dan merebaknya media massa dan elektronik, maka hikayat akan
terus hilang dari ingatan masyarakat, dari berbagai macam pada hal dalam
hikayat ini banyak menceritakkan tentang kisah-kisah nenek moyang kita saat
memimpin dalam membela agama dan Negeri.
Peneliti merasa penting melakukan penelitian ini terhadap tokoh dan
penokohan dalam Hikajat Iskandar Dzul-karnainkehidupan Sutan Iskandar
dengan mempunyai lebih dari satu istri, serta karakter sang tokoh sutan
iskandar yang gagah dan berani. Cerita tersebut dibangun atas dasar cerita,
tokoh, dan kejadian-kejadian (konflik) di dalamnya tersirat dengan nilai-nilai
keagamaan dan sejarah.
Alasan menggunakan pendekatan struktural karena

Pendekatan

strukturalisme menelaah sastra secara obyektif yaitu menekankan aspek tokoh
dan penokohan dalam hikayat karyasastra.Keindahan teks sastra bergantung
pada penggunaan bahasa yang khas danrelasi antara unsur yang mapan.Unsurunsur itu tidak jauh berbeda dengan sebuah artefak (benda seni) yang
bermakna.Artefak tersebut terdiri dari unsur dalam teks seperti identitas tokoh,

alur, dansebagainya yang jalin-menjalin rapi. Sehingga pembaca mudah
memahami hasil analisis yang akan dihasilkan dalam penelitian ini.
B. Masalah Penelitian
Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah unsur instrinsik dalam Hikajat Iskandar Dzul-karnain?
2. Bagaimanakah unsur ekstrinsik dalam Hikajat Iskandar Dzul-karnain?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini untuk:
1. Mendeskripsikan unsur instrinsik dalam Hikajat Iskandar Dzul-karnain.
2. Mendeskripsikan unsur ekstrinsik dalam Hikajat Iskandar Dzul-karnain.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat praktik yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi mahasiswa, peneliti ini bermanfaat untuk meningkatkan apresiasi
terhadap sastra daerah.
2. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat memberi pengetahuan dan membuka
cakrawalapemikiran bagi pencinta sastra dan daerah.
3. Bagi pemerhati sastra dan budaya, penelitian ini dapat memberi inspirasi
dan motivasi untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya-karya sastra
yang lain.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hikayat
1. Pengertian Hikayat
Hikayat menurut KBBI adalah karya sastra lama dan berisi cerita, baik
sejarah maupun roman fikti yang dibaca untuk pelipurlara, pembangkit
semangat juang atau sekedar untuk meramaikan pesta.Ali dan Alwi,

(1995:29).Hikayat secara umum merupakan cerita sejarah atau sebuah bentuk
dari

kesusastraan

Melayu

Aceh.Menurut

Pellat

dalam

Hamid,

(2007:68).Hikayat berasal dari Bahasa Arab yaitu “Haka” yang berarti
(peniruan).Djajadiningrat dalam Hamit, (2007:46).Mengatakan bahwa hikayat
merupakan cerita sejarah, bentuknya prosa lirik dan ditulis dalam Bahasa
Melayu Pasai yang dalam perjalanan sejarah kemudian terkenal dengan Bahasa
Melayu Riau, seperti hikayat Raja-Raja Pasai.Menurut Djajadininggrat dalam
Abdullah, (1991:18). Dan beberapa batas hikayat, antara lain:
(1) Hikayat adalah nama bentuk karya cipta sastra dalam bentuk prosa.
(2) Hikayat yaitu cerita, dan
(3) Kisah nasib dan pantun tidak termasuk dalam kategori hikayat.
Asal usul Hikayat berasal dari bahasa Arab hikayah yang berarti kisah,
cerita, atau dongeng.Dalam sastra Melayu lama, hikayat diartikan sebagai
cerita rekaan berbentuk prosa panjang berbahasa Melayu, yang menceritakan
tentang kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesaktian,
keanehan, dan karomah yang mereka miliki.Orang ternama tersebut biasanya
raja, putera-puteri raja, orang-orang suci, dan sebagainya.Hikayat termasuk
karya yang cukup populer di masyarakat Melayu dengan jumlah cerita yang
cukup banyak.Kemunculan genre ini merupakan kelanjutan dari ceritera
pelipurlara yang berkembang dalam tradisi lisan di masyarakat, kemudian
diperkaya dan diperindah dengan menambah unsur-unsur asing, terutama unsur
Hindu dan Islam.Dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, hikayat ini
berfungsi sebagai media didaktik (pendidikan) dan hiburan. Berdasarkan urean
di atas terdapat ciri-ciri hikayat yaitu sebagai berikut:
1. Bersifat istana sentris.
2. Bersifat anonim.
3. Bersifat khayal/fantastis.
4. Berbahasa melayu.
5. Disajikan secara lisan (dari mulut ke mulut).
6. Banyak menggunakan kata klise/arkais (ungkapan).

Berdasarkan ciri-ciri hikayat diatas adalah yang bersifat sentris yang
menceritakan kisah raja-raja dan puteri-puteri, pada umumnya hikayat lebih
banyak menceritakan tentang perang dan penjajah, yang selalu memberi contoh
kepada kita sebagai penerus bangsa meskipun harus meninggalkan anak dan
istri dalam membela kebenaran di jalan Allah.Hikayat juga biasanya juga
disampaikan secara lisan dan dijadikan sebagai hiburan yang menceritakan
tentang kisah–kisah perang pahlawan pada jaman dahulu.
Menurut Abdullah, (1991:18). Hikayat dapat dibagi dalam beberapa
bagian yaitu. (1) Hikayat selalu diubah dengan memakai puisi sanjak. (2)
Umumnya hikayat lebih dari diubah dalam bentuk lisan di bawakan dengan
berbagai variasi warna di depan khalayak penikmat. (3)Bila diubah ini
diturunkan dalam bentuk tulisan, huruf yang dipakai adalah huruf jawo. (4)
Hikayat dipandang sebagai karya sastra Aceh klasik, sedangkan lanjutan
perkembangannya dewasa ini disebut dengan nama kisah atau tanpa disebutkan
jenisnya sama sekali. (5) Sebagai karya sastra klasik, umumnya hikayat
anonim, tapi beberapa seperti Hikayat Perang Sabi dan karya keagamaan
disebutkan nama pengubahnya. (6) Hikayat selalu mengandung unsur cerita.
(7) Ceritadalam hikayat berupa fiksi tanpa menghitungkan kadarfantasi di
dalamnya. Kemampuan penyair mengolahcerita yang di bawanya, terutama
karenadihubungkan dengan kejadian atau nama tempat dalam nyata
menyebabkan (dunia dalam kata) sama dengan dunia nyata bagi penikmatnya.
(8) Hikayat selalu mengenal khuteuban (pembuka cerita) dan penutup. (9)
Kebebasan yang dipunyai penyair dalam setiap kesempatan membawakan
hikayat mengalami berbagai perubahan dan penambahan. Hal ini dilakukan
penyiar tidak hanya untuk lebih menyempurnakannya, tetapi juga untuk
kebutuhan penyelesaian teks dengan lingkungan budaya atau selera
penikmatnya.
Menurut Hasyim, (1995:69). Hikayat selalu dipengaruhi jiwa keIslaman
dan salah satu ciri khas dari hikayat dimulai dengan Bismilah, tokoh-tokoh
utama digambarkan selalu manusia taatdan selalu dipengaruhi sastrawan
perang.Dengan demikian dapat disimpulkan dalam kesusastraan pengaruh

agama Islam dan Budaya Islam selalu mewarnai setiap karya hikayat yang
dihasilkan.
Semi, (1984:52). Berpendapat dalam buku Anatomo Sastra Hikayat
merupakan refleksi zaman yang mewakili pandangan dunia pengarang, tidak
sebagai individu melainkan anggota masyarakat atau kelompok sosial
tertentu.Pandangan dunia pengarang merupakan interaksi dari pandangan
pengarang dengan kelompok sosial masyarakat di sekitar pengarang.
Hikayat adalah karya sastra yang membawa nilai-nilai sosial budaya
dan kehidupa masyarakat.Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap konteks
tokoh dalam Hikayat yang latar belakang kehidupan sosial budaya pengarang
yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang, dan
pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam Hikayat tokoh dan
penokohan dengan menggunakan pendekatan struktural sastra.Sasaran
penelitian ini adalah realita tokoh dan penokohan yang terdapat dalam naskahnaskah Hikayat, Menurutahli sejarah Baried, (1985:1).
Dalam buku Telaah Sastrahikayat merupakan suatu pengetahuan
tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan,
kesastraan, dan kebudayaan.Pendapat tersebut diperkuat dengan definisi tokoh
dan penokohan dalam Hikayat yang dinyatakan oleh Mulyani, (2009:1).Kritik
Sastra Feminis, Teori dan Aplikasinya. Yaitu suatu yang berhubungan dengan
studi terhadap hasil budaya (buah pikiran, perasaan, kepercayaan, adat
kebiasaan, dan nilai-nilai yang turun temurun berlaku dalam kehidupan
masyarakat) manusia pada masa lampau.Dari kedua pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa tokoh dan penokohan dalam.Hikayat adalah suatu studi
yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan yang
berhubungan dengan hasil budaya manusia pada masa lampau.
2. Jenis-Jenis Hikayat
Sedangkan menurut Hasyim, (1995:502-503). Secara garis besar
hikayat dapat dibagi atas enam golongan, yaitu:
(1) Hikayat agama
(2) Hikayat sejarah
(3) Hikayat Safari

(4) Hikayat peristiwa
(5) Hikayat Jihad
(6) Hikayat cerita
Penulis dapat menyimpulkan dari beberapa jenis hikayat di atas adalah
hikayat tersebut menceritakan tentang peristiwan dan sejarah-sejarah, dalam
memimpin dan membela agama serta melawan Belanda yang telah menjajah
negeri ini berpuluhan tahun.Nenek moyang kita mempunyai semangat tinggi
tidak pernah putus asa, Mareka tidak takut hartanya habis dan nyawanya
melanyang. Kita sebagai penerus bangsa jangan sampai kita bercerai berai
dengan masuknya budaya-budaya dari luar, mari kita kuatkan keimanan dan
ketakwaan pada sang pencipta agar selalu taat dalam menjalankan perintahnya.
B. Pendekatan Struktural
1. Pengertian pendekatan struktural
Pendapat Semi, (1994:67). pendekatan yang stuktural yang bertitik
tolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra sebagai satu sosok yang berdiri
sendiri dan terlepas dari hal lain yang berada diluar dirinya. Menurut Teeuw,
(1985:135-136).Pendekatan struktural bertujuan membongkar dan memaparkan
dengan cermat keterkaitan dengan semua analisis karya sastra yang bersamasama menghasilkan makna menyeluruh. Analisis struktural bukanlah
penjumlahan analisis-analisisnya melainkan sumbangan apa yang diberikan
oleh analisis semua analisis pada keseluruhan makna dalam keterkaitan untuk
keterjalinannya.
Endraswara, (2008:61). Menyatakan menganalisis adanya pemahaman
dan penjelasan.Pemahaman ialah usaha untuk pendeskripsian struktur objek
yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha penemuan makna struktur
itu dengan menggabungkan kedalam struktur yang lebih besar.
Pendekatan strukturalisme menelaah sastra secara obyektif yaitu
menekankan aspek tokoh dan penokohan dalam hikayat karyasastra.Keindahan
teks sastra bergantung pada penggunaan bahasa yang khas danrelasi antara
unsur yang mapan.Unsur-unsur itu tidak jauh berbeda dengan sebuah artefak
(benda seni) yang bermakna. Artefak tersebut terdiri dari unsur dalam teks
seperti identitas tokoh, gaya bahasa, dansebagainya yang jalin-menjalin rapi.

Jalinan antara unsur tersebut akan membentuk makna yang utuh pada sebuah
teks Endraswara, (2011:52).
2. Unsur-Unsur Strukural dalam Cerita
Unsur yang membangun struktur fiksi ini ialah unsur intrinsik yaitu
unsur dalam dari sebuah fiksidan unsur ekstrinsik yaitu permasalahan
kehidupan, falsafah, cita-cita, ide-ide dan gagasan serta latar budaya yang
menopang kisahan cerita (Zulfahnur, dkk., 1996:24-25).
a. Unsur Instrinsik
Unsur instrinsik terdiri atas tema, alur (plot), tokoh dan penokohan,
sudut pandang, latar, dan amanat.Berikut rinciannya.
1. Tema
Istilah tema berasal dari kata “thema” (Inggris) ide yang menjadi
pokok suatu pembicaraan. Tema adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita,
tema mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai pedoman bagi pengarang dalam
menggarap cerita, sasaran/tujuan penggarapan cerita, dan mengikat peristiwaperistiwa cerita dalam satu alur (Zulfahnur, dkk.,1996:25).
Stanton (dalam Santosa dan Wahyuningtyas, 2010:3) menjelaskan
bahwa tema merupakan jiwa cerita itu.Tema disebut juga sebagai ide sentral
atau makna sentral suatu cerita.Sedangkan Hartoko dan Rahmanto (dalam
Santosa dan Wahyuningtyas, 2011:2) mengungkapkan tema adalah gagasan
dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di
dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaanpersamaan atau perbedaan-perbedaan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tema
merupakan ide paling mendasar atau utama dalam mengolah, menggarap dan
mengikat suatu ide, sehingga menjadi sebuah karya sastra yang memiliki arah
jelas dan dapat dimengerti serta ditarik amanatnya oleh pembaca. Di dalam
suatu cerita tema mungkin tersirat dalam penokohan (lakuan tokoh), di dukung
oleh pelukisan latar, ataupun terungkap dalam dialog tokoh.
2. Alur (Plot)
Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap
kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu

disebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Tarsif (dalam Zulfahnur, 1996:28)
membagi struktur alur menjadi lima bagian sebagai berikut.
a. Situation: tahap pengarang mulai melukiskan keadaan.
b. Generating Circumstances: tahap pemunculan konflik, masalahmasalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik
mulai dimunculkan.
c. Rising action: tahap peningkatan konflik, konflik yang telah
dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan
dikembangkan kadar intensitasnya.
d. Tahap climax: tahap klimak, peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya.
Konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui dan
atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas
puncak.
e. Tahap denouement: tahap penyelesaian, pengarang memberikan
pemecahan soal dari semua peristiwa. Konflik yang telah mencapai
klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik
yang lain, sub-konflik, atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga
diberi jalan keluar.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa alur
atau plot adalah berbagai peristiwa dengan urutan peristiwa tertentu.
3. Tokoh dan Penokohan
a. Tokoh
Tokoh pada umumnya berwujut manusia, tetapi ada juga berwujud
binatang atau benda, maka harus disadari bahwa disamping kemiripannya ada
juga perbedaan dengan manusia seperti yang dikenal dalam kehidup nyata.Oleh
karena itu, tokoh cerita rekaan tidak sepenuhnya bebas.Cerita rekaan pada
dasarnya mengisahkan seorang atau beberapa orang yang menjadi tokoh.
Menurut Aminuddin, (2009:79). Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya
peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalau diemban oleh tokoh atau
pelaku-pelaku tertentu, pelaku yang mengembang cerita dalam cerita fiksi
sama sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita dengan tokoh.
Menurut Ambrams, (2005:165). Tokoh adalah orang-orang yang
ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Selain
itu, tokoh menurut definisinya adalah individu rekaan yang mengalami
peristiwa atau pelaku dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Menurut Trisman,

(2003:56). Tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa atau perilaku
dalam berbagai peristiwa tokoh memiliki sifat tertentu dengan peran yang
diletakan padanya oleh pengarang sedangkan menurut Sujddiman dalam
Sugihastuti, (1991:16).Yang dimaksud dengan tokoh cerita atau individu
rekaan yang mengalami peristiwa atau pelaku di dalam berbagai peristiwaperistiwa cerita.Tokoh tertentu saja dilengkapi dengan watak atau karakteristik
tertentu. Tokoh dalam cerita sama seperti halnya manusia dalam kehidupan
sehari-hari dalam kehidupan kita, selalu memiliki watak-watak tertentu.
Menurut Sujiddman, (1991:21).Watak adalah kualitas tokoh yang
meliputi kualitas yang nalar dan jiwa yang membedakannya. Tokoh adalah
orang sebagai subjek yang mengerakkan dengan tokoh cerita yang lain, Dalam
hikayat, tokoh-tokoh yang ditampilkan secara lengkap, contohnya yang
berhubungan dengan ciri-ciri fisik, sifat, tingkahlaku, keadaan sosial, dan
kebiasaan termasuk hubungan antara tokoh baik dilukiskan secara langsung
maupun tidak langsung. Dalam sebuah fiksi baik hikayat maupun novel, dilihat
dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita tokoh
utama dan tokoh tambahan.Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan dalam
penceritaannya dalam hikayat yang bersangkutan, sedangkan tokoh tambahan
adalah tokoh yang mendukung tokoh utama dalam pengembangan cerita.
b. Penokohan
Pengertian penokohan dan karakterisasi-karakterisasi sering juga
disamakan

artinya

dengan

karakter

dan

perwatakan-menunjuk

pada

penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah
cerita.Atau seperti dikatakan oleh Jonnes, penokohan adalah pelukisan
gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita
Nurgiyantoro, (1998:165).
Menurut Waluyo, (1994: 171-172).Perwatakan tokoh biasanya ter diri
dari tiga dimensi yaitu dimensi fisik, dimensi sosial dan dimensi psikis.Untuk
membentuk tokoh yang hidup, ketiga dimensi ini tidak dapat dipisahkan atau
tampil sendiri-sendiri. Dimensi fisik biasanya berupa usia, tingkat kedewasaan,
jenis kelamin, postur tubuh, deskripsi wajah dan ciri-ciri khas fisik lain yang

spesifik. Dimensi sosial merupakan deskripsi tentang status sosial, jabatan,
agama atau ideologi, aktivitas sosial dan suku atau bangsa.Dimensi psikis
meliputi mentalitas, ukuran moral, kecerdasan, temperamen, keinginan,
perasaan, kecerdasan dan kecakapan khusus.
Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah
cerita, ada tokoh yang yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus
sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita, dan sebaliknya, ada tokohtokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita, dan itu
pun mungkin dalam porsi penceritaan yang relatif pendek. Tokoh yang disebut
pertama adalah tokoh utama cerita sedang yang kedua adalah tokoh tambahan
Nurgiyantoro, (1998:176).
Hubungan antara tokoh dan penokohan dalam sebuah cerita sangat erat
sekali hubungannya dan tidak dapat dipisahkan begitu saja.Sebenarnya tokoh
menunjukan pada orangnya atau sebagai pelaku cerita, sedangkan penokohan
menujukan pada sifat dan sikap para tokoh atau yang dimainkan
tokoh.Menurut Ambams dalam Nugyantoro, (2005:165). Tokoh adalah orangorang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kecenderungan tertentu seperti diekspresikan dalam
ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Seorang tokoh dengan kualitas
pribadinya sangat mempengaruhi resensi pembaca. Dalam hal ini, pembaca
dapat berasumsi bahwa untukmelihat perbedaan antara tokoh yang satu dengan
tokoh yang lain lebih ditentukan oleh kualitas pribadi sang tokoh dari pada
fisik.
Menurut Jones, penokohan merupakan pelukisan gambaran yang jelas
tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita Nurgyantoro,
(2005:165). Penokohan dalam sebuah cerita berhubungan erat dengan tokoh
sebab perwatakan yang ditampilkan harus sesuai dengan penampilan si
tokoh.Menurut

Jones

dalam

Nurgyantoro,

(2005:165).Penokohan

dan

karakterisasi sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan
yang menujukan pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu
dalam cerita penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang
yang ditampilkan dalam sebuah cerita.Namun, istilah penokohan lebih jelas

daripada tokoh, karena penokohan mencakup masalah siapa tokoh dalam
cerita, bagaimana penempatanya, bagaimana perwatakan, dan bagaimana
pelukisan dalam sebuah cerita.
4. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah tempat pencerita dalam hubungannya
dengan cerita, dari sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya (Sudjiman
dalam Zulfahnur, dkk., 1996:35).Gaya penceritaan dilihat dari sisi sudut
pandang tokoh dalam karya sastra dapat memberi dampak yang berbeda bagi
pembaca. Sedangkan, Nurgiyantoro (dalam Santosa dan Wahyunintyas,
2011:8) memaparkan bahwa sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan:
siapa yang menceritakan, atau dari posisi mana (siapa) dan tindakan itu dilihat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
sudut pandang adalah pusat pengisahan titik pandang dari sudut mana cerita itu
diceritakan.
5. Latar
Mihardja (2012:7) menyatakan bahwa latar adalah tempat atau waktu
terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra.
Sedangkan Brooks (dalam Zulfahnur, dkk., 1996:36) mengatakan bahwa latar
merupakan latar belakang fisik, unsur tempat dan ruang di dalam cerita.
Hudson (dalam Zulfahnur, dkk., 1996:37) membagi latar menjadi tiga,
yaitu latar fisik (material) dan latar sosial. Termasuk dalam latar fisik adalah
latar yang berupa benda-benda fisik seperti bangunan rumah, kamar, perabotan,
daerah, dan sebagainya. Latar sosial meliputi pelukisan keadaan sosial budaya
masyarakat, seperti adat istiadat, cara hidup, bahasa kelompok sosial, sikap
hidupnya, dan lain-lain yang melatari peristiwa cerita.
Nurgiyantoro (2013:314) membedakan latar menjadi tiga unsur pokok,
yaitu.
a. Latar tempat
latar tempat menyangkut deskripsi lokasi terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam karya sastra.
b. Latar waktu

latar waktu mengacu kepada kapan terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam sebuah karya sastra.
c. Latar sosial
latar sosial merupakan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku
kehidupan sosial masyarakat disuatu tempat yang diceritakan
dalam karya sastra.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah
situasi

dan waktu terjadinya cerita. Tercakup di dalamnya lingkungan

geografis, benda-benda dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tempat
terjadinya suatu peristiwa, cerita waktu, dan suasana.Latar juga berperan
penting dalam membawa pembaca menghayati suasana yang ada dalam suatu
cerita. Dengan latar yang sesuai dan tepat akan membuat pembaca larut dan
seolah terbawa pada kondisi dan situasi yang terdapat dalam suatu cerita
tersebut.
6. Amanat
Amanat dapat diartikan pesan berupa ide, gagasan, ajaran moral dan
nilai-nilai kemanusiaan yang ingin disampai-kan/dikemukakan pengarang
lewat cerita.Amanat pengarang ini terdapat secara implisit dan eksplisit di
dalam karya sastra.Implisit misalnya disiratkan pengarang melalui tingkah laku
tokoh cerita.Eksplisit, bila dalam tengah atau akhir cerita pengarang
menyampaikan pesan-pesan, saran, nasihat, pemikiran, dll.(Zulfahnur, dkk.
1996:26).Sumardjo (dalam Santosa dan wahyuningtyas, 2011:4) menjelaskan
amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin
disampaikan pengarang kepada pembacanya.
Disimpulkan bahwa amanat adalah pesan dan kesan yang didasarkan
atas pandangan pengarang yang hendak disampaikan kepada pembaca.Amanat
dalam penelitian ini berupa ajaran nilai-nilai pendidikan karakter yang meliputi
nilai kejujuran, kerja keras, dan keikhlasan.
b. Unsur Ekstrinsik
Unsur yang membangun karya sastra tidak hanya dapat dilihat dari
dalam tetapi juga dari luar karya sastra.Selain unsur intrinsik yang membangun
karya sastra itu sendiri, ada juga unsur ekstrinsik.Nurgiyantoro (2013-30)
menjelaskan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang aspek analisisnya berupa
tinjauan di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung memengaruhi struktur

bangunan atau sistem organisme karya sastra. Secara lebih khusus ia dapat
dikatakan sebagai unsur-unsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya
sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian,
unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita secara
keseluruhan.Oleh karena itu, unsur ekstrinsik sebuah cerita haruslah tetap
dipandang sebagai sesuatu yang penting. Pemahaman ekstrinsik suatu karya
sastra bagaimanapun akan membantu dalam hal pemahaman makna karya itu
mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosongan budaya.
Unsur ekstrinsik secara umum adalah unsur yang memengaruhi karya
sastra dari luar struktur karya sastra.Hal ini dapat ditinjau dari aspek-aspek atau
nilai-nilai

yang

bersifat

aturan

atau

panduan

dalam

kehidupan

bermasyarakat.Efek yang diharapkan dari pengkhususan sebuah nilai dalam
penelitian sastra adalah pembaca dapat memahami maksud diciptakannya
sebuah karya sastra.Nilai dalam karya sastra diantaranya adalah nilai budaya
yang tidak terlepas dari budaya yang melatarbelakangi kapan cerita itu ditulis.
Selanjutnya nilai sosial nilai yang berhubungan dengan masyarakat dimana
pengarang berasal karena sangat mempengaruhi hasil cerita yang ditulis.

BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Deskriptif dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk melukiskan objek. Datadata
yang telah dideskripsikan secara umum dan dianalisis menurut bagianbagian
yang lebihk husus. Dengan cara ini peneliti dapat dilakukan dengan terperinci
dan lebih mendalam.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan struktural dengan
bentuk penelitian kualitatif.Sumber data dalam penelitian ini adalah Hikajat

Iskandar Dzul-karnain. Sedangkan data dalam penelitian ini berupa kutipan
kemudian dideskripsikan atau dipaparkan sehingga diketahui adanya unsur
instrinsik dan ekstrinsik dalam hikayat tersebut. Teknik pengumpulan data
menggunakan studi dokumenter dengan cara menelaah dokumen atau hikayat
berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan.
Langkah dalam menganalisis data dengan cara:
1. Membaca berulang-ulanghikayatHikajat Iskandar
2. Memperhatikan kembali masing-masing unsur instrinsik dan ekstrinsik
yang akan diidentifikasi
3. Mendeskripsikandata, dan
4. Menarik kesimpulan.

BAB IV
ANALISIS
A. Analisis Data
1. Unsur Intrinsik Hikajat Iskandar Dzul-karnain
a. Tema
Tema adalah salah satu unsur dalam karya sastra. Tema menurut
Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro (1995:67) adalah makna yang
dikandung oleh sebuah cerita. Namun, ada banyak makna yang dikandung
dan ditawarkan oleh sebuah cerita. Jadi, dalam sebuah cerita terdapat
makna khusus yang dapat dinyatakan sebagai tema, sub-tema atau tematema tambahan. Dalam episode Pernikahan Sultan Iskandar seperti yag
menunjukkan bahwa tema dalam episode ini adalah keagaamaan dan

kepahlawanan yang dilakukan oleh Raja Iskandar. Raja Iskandar memiliki
sifat agamis yakni ketaatannya kepada Allah terlihat dari kuipan di bawah
ini.
“Maka berdirilah nabi Chidir memudji Allah ta’ala dengan
berbagai-bagai pudjinya, maka ia mengutjap salawat nabi
Ibrahim”.
“Maka nabi Chidirpun minta doa akan radja Iskandar, maka segala
radja-radja mngetakan amin”.
Tema selanjutnya ialah kepahlawanan yaitu dilihat dari sikap radja
yang ingin melindungi dan berbuat baik kepada pakir miskin terlihat dari
kutipan di bawah ini.
“Maka dipersalin radja Iskandar akan segala radja-radja dan orang
besar-besar dan panglima jang memegang negeri dan menteri
hulubalang, disuruh buka tiga buah pembendaharaan baginda dan
diberi sedekah akan parker miskin, hingga habis menerima seekah
baginda”.

b. Alur
Stanton (dalam Burhan Nurgiyantoro,1995:113) mengungkapkan
bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun setiap
kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu
disebabkan atau mengkibatkan peristiwa yang lain. Agar menjadi sebuah
plot, peristiwa-peristiwa tersebut haruslah diolah dan disiasati secara
kreatif, sehingga hasil pengolahan dan penyiasatannya itu sendiri
merupakan sesuatu yang indah dan menarik. Alur dalam episode
Pernikahan Sultan Iskandar ialah alur maju. Alur di mulai dari keadaan
atau situasi pernikahan sutan Iskandar dengan putri Badru’lkamariah
terlihat dalam kutipan dibawah ini.

“Kemudian dari pada itu maka dibatjanja chotbah nikah radja
Iskandar dengan anak raja Kidi Hindi dan ditanjakan kepada radja
Kidi Hindi”
Kutipan diatas menceritakan proses pembacaan chotbah nikah
untuk radja Iskandar dengan anak raja Kidi Hindi. Selanjutnya muncul
konflik

dimana

para

brahmana

menceritakan

sesuatu

hal

yang

mengakibatkan marahnya radja Iskandar, seperti kutipan dibawah ini.
“tetapi takkala radja Iskandar kembali itu, maka disesatkan allah
ta’ala dari pada djalan jang dahulu itu”
Kutipan diatas menggambarkan prasangka para bramana jika Allah
akan memyesatkan jalan radja Iskandar. Tentunya prasangka buruk para
bramana tersebut membangkitkan amarah radja Iskandar. Radja Iskandar
pun memutuskan untuk berperang. Konflik mulai meningkat ketika Radja
Iskandar berbincang dengan para nabi seperti kutipan dibawah ini.
“sebermula takkalah radja Iskandar bertanya akan perihal itu, maka
bersabda ia pada apa dari pada kehendak kamu, pintalah kepada
aku, supaya kuberi?”_maka sahut segala hukama itu: “bahwa dari
pada kehendak kami, jikalau ada kuasamu, janganlah kami merasai
mati, hidup juga kami senantiasa”._maka bersabda radja Isakandar
akan perihal itu”tiada terserah kepadaku bahwa akupun sadja akan
merasai mati juga, kesudahannya-maka sahut mereka itu, jikalau
demikian katamu mengapa maka engkau pergi perang ke sana
kemari?kiranya dunia ini sudah diserahkan allah ta’ala padamu.”
Kutipan diatas menjelaskan jawaban yang di berikan nabi pada
radja Iskandar akan hukuman apa yang pantas untuk diberikan kepada
kaum

brahmana,

namun

rajda

Iskandar

akhirnya

menyerahkan

keputusannya kepada Allah ta’ala. Klimak dalam cerita ini kembali ketika
radja Iskandar yang masih terus memutuskan segala sesuatunya dengan
berperang. Terlihat dari dialog radja Sulaiman yang berbincang dengan
malaikat dibawah ini.
“Hai, malaikat jangan engkau larang radja Iskandar itu, kemana
kehendaknya biarlah ia pergi”.
Akhirnya

radja

Sulaiman

sadar

akan

tindakannya

dalam

menyelesaikan segala persoalan tidak selalu memerlukan peperangan.
Akhir dari hikayat ini terlihat dari kutipan dibawah ini.

““maka tahulah ia akan tempa tiada ada berisi manusia dan tiada
ada bermula, tiada ada berkesudahan, maka pada ketika itu juga,
kembalilah radja Iskandar kepada malaikat yang membahagikan
air”.
c. Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan atau penggambaran yang jelas tentang
seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Hal ini sekaligus
mencakup siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana
penempatan serta pelukisan dalam sebuah cerita sehingga sanggup
memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus
menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah
cerita. Dalam episode Pernikahan Sultan Iskandar, melibatkan tokoh antara
lain Iskandar sendiri, Raja Kidi Hindi, Nabi Chidir.
1) Sutan Iskandar Dzul-karnain (sebagai tokoh utama dalam
cerita) mempunyai sifat bijaksana dan takabur. Seperti dalam
kutipan dibawah ini.
“Apa dari pada kehendak kamu, pintalah kepada aku, supaya
kuberi”.
Pernyataan diatas menujukkan sikap bijaksana yang dimiliki
radja Iskandar yang mau mengabulkan keiinginan kaumnya.
2) Raja Kidi Hindi mempunyai sifat bijaksana.
“Kebiksaan radja Kidi Hindi dengan menanggapi suatu
permasalahan dengan bijkasana”.
Peryataan diatas menujukan radja Kidi Hindi yang selalu
bersikap bijaksana dalam menanggapi perbagaimacam
permasalahan.
3) Nabi Chidir mempunyai sifat amanah. Nabi Chidir selalu
menyampaikan pesan dengan jujur sesuai dengan yang
diperintahkan.
d. Sudut pandang
Sudut pandang adalah tempat pencerita dalam hubungannya
dengan cerita, dari sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya

(Sudjiman dalam Zulfahnur, dkk., 1996:35).Gaya penceritaan dilihat dari
sisi sudut pandang tokoh dalam karya sastra dapat memberi dampak yang
berbeda bagi pembaca.
Sudut pandang dalam hikayat ini ialah orang ketiga pengarang
serba tahu. Pengarang seolah-olah serba tahu sehingga pengarang dapat
mengemukakan segala tingkah laku dan pikiran semua tokoh.
e. Latar
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang
diceritakan dalam sebuah karya. Unsur tempat yang digunakan berupa
tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, dan mungkin lokasi
tertentu tanpa nama jelas. Dalam episode ini terdapat beberaa tempat yang
menjadi latar penceritaan yakni,
1) Latar tempat tepi laut
“ Setelah pagi hari, berkandaralah radja Iskandar dengan nabi
Chidir keduanja berdjalan ke tepi laut itu”.
Kutipan diatas menjelaskan radja Iskandar dan nabi Chidir
yang berjalan di tepi laut.
2) Latar waktu pagi hari
“Dan pagi hari maka, berangkatlah raja Iskandar dengan segala
tenteranja”.
Kutipan

diatas

mengambarkan

keadaan

waktu

yaitu

keberangkatan radja Iskandar dan tentaranya pada pagi hari.
3) Latar Sosial kehidupan dikalangan para penguasa (para
raja).
“maka keesokan harinya pergilah radja Kidi Hindi dengan
sepuluh hambanja dengan sorang mentri raja kepada nabi
Chaidir”.
Kutipan diatas menjelaskan keadaan sosial para penguasa (raja)
ketika berpergian radja akan didampingi oleh hambanya dan
mentri.
4) Amanat

Cerita ini merupakan kisah kekuasaan yang dimiliki oleh seorang
radja yang memliki ketaatan ke Allah namun penuh dengan ambisi dan
amarah. Radja harus memiliki sifat yang tenang dalam mengambil
keputasan kerena setiap tidakkan yang dilakukan di dunia ini akan
memndapatkan balasan secara langsung maupun tidak langsung. Amanat
yang dapat diambil dari cerita ini yakni jangan serakah dan tidak boleh
menyalahgunakan kekuasaan.
2. Unsur Ekstrinsik
a. Nilai Budaya
Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam
dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang
mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol,
dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai
acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.
Koentjaraningrat (1987:85) lain adalah nilai budaya terdiri dari konsepsi –
konsepsi yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga masyarakat
mengenai hal – hal yang mereka anggap amat mulia.
Nilai budaya dalam hikayat tersebut adalah budaya yang terdapat
dikerajaan, contohnya budaya pernikahan, antara kedua mempelai tidak
langsung dipertemukan, baru dipertemukan setelah sah menjadi suami-istri
serta dalam budaya perkawinan pihak wanita yang memeberi mahar kepada
pihak pria. Hal tersebut terlihat dalam kutipan dibawah ini.
“kemudian daripada itu, pada esok harinya, maka datanglah radja Kidi
Hindi membawa anakanya dengan barang kuasanya pada ketiga petang
hari” (halaman 278)
“ Sekarang barang diketahui adalah isi kawin putri itutiga ratus dinar”
(halaman 278).

b. Nilai Sosial
Nilai sosial dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik, diinginkan,
diharapkan, dan dianggap penting oleh masyarakat. Hal-hal tersebut
menjadi acuan warga masyarakat dalam bertindak. Jadi, nilai sosial

mengarahkan tindakan manusia. Wujud nilai dalam kehidupan itu
merupakan sesuatu yang berharga sebab dapat membedakan yang benar dan
yang salah, yang indah dan yang tidak indah, dan yang baik dan yang buruk.
Wujud nilai dalam masyarakat berupa penghargaan, hukuman, pujian, dan
sebagainya.
Nilai sosial yang terdapat dalam cerita berupa keadaan p ara raja yang

sangat dihormati oleh semua orang. Hal tersebut terlihat dari kutipan di
bawah ini.
“maka bangkitlah segala raja-raja dan orang orang besar dan
hakimnya”
B. RANGKUMAN HASIL ANALISIS
Berdasarkan hasil analisis di temukan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik
dalam hikayat Iskandar Dzulkarnain. Adapun hasil unsur intrinsiknya berupa
tema keagamaan dan kepahlawanan, dengan alur maju yang menceritakan
peristiwa pernikahan radja Iskandar dengan anak radja Kidi Hindi sampai
pada kesibukan radja Iskandar yag selalu memerangi orang kafir, sampai pada
akhirnya radja Iskandar mengerti dan paham bahwa segala sesuatunya tidak
mesti diselesaikan dengan cara kekerasan atau berperang. Tokoh yang menjadi
pemeran utama dalam hikayat ini ialah radja Iskandar, dengan sifatnya yang
bijaksana namun takabur, kemudian rajda Kidi Hindi dengan sifatnya yang
bijaksana, dan nabi chidir yang amanah. Sudut pandangan pengarang dalam
hikayat ini berupa orang ketiga serba tau, dengan latar tempat tepi laut, waktu
pagi hari, dan terdapat latar sosial tentang keadaan para radja. Adapaun
amanat yang dapat diambil ialah jangan sekarakah dan tidak boleh
menyalahgunakan kekuasaan.
Sedangkan unsur ekstrinsiknya berupa nilai budaya dan nilai sosial. Nilai
budaya yang tercermin dalam hikayat ini adat atau tatacara pernikahan yang di
lakukan oleh radja Iskandar. Begitu juga dengan nilai sosialnya mencerminkan
bagaimana keadaan sehari-hari kehidupan seorang radja.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra
itu sendiri (Nurgiyantoro, 2002:6). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan
karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual
akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah
hikayat adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun
cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat
sebuah hikayat semakin terwujud. Dalam unsure intrinsik terdapat tema.
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperanan
sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya reka yang di
ciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan
tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya (Aminuddin,1984-107108).
Tema dikembangkan dan ditulis pengarang dengan bahasa yang
indah sehingga menghasilkan karya sastra atau drama. Tema merupakan
ide pusat atau pikiran pusat, arti dan tujuann cerita, pokok pikiran dalam
karya sastra, gagasan sentral yang menjadi dasar cerita dan dapat menjadi
sumber konflik-konflk seorang pengarang memahami tema cerita yang
akan di paparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan,
sementara pembaca baru dapat memahami unsur-unsur yang menjadi
media pemapar tersebut,menyimpulkan makna yang di kandungnya serta
mampu

menghubungkan

dengan

tujuan

penciptaan

pengarangnya

(Aminuddin, 1984 :108).
Hikayat Iskandar Dzulkarnain mengisahkan tentang pernikahan
radja Iskandar yang taat beribadah dan memiliki jiwa kepalawanan. Radja
iskandar sangat meilindungi dan patuh pada pentah Allah. Setelah
membaca hikayat tersebut dapat disimpulkan bahwa tema hikayat ini yakni
keagaaman dan kepahlawanan.
Unsur Intrinsik selanjutnya adalah alur. Alur yang terdapat dalam
hikayat ini ialah alur maju. Alur merupakan rangkaian cerita yang di
bentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita

yang di hadirkan oleh para pelaku dalam sebuah cerita Abrams (dalam
Siswanto 1981 :137). Alur maju yang terdapat dalam hikayat dimulai dari
situation yakni pengarang mulai melukiskan suatu keadaan pernikahan
radja Iskandar, kemudian generating circumstance (peristiwa) yang
bersangkut-paut dan di mulai dari sifat radja Iskandar yang memerangi
kaum kafir dan keadaan muai memuncak (Ricing Action) saat radja
melakukan percakapan dengan nabi dan ikuti Climax (peristiwa-peristiwa
mencapai puncaknya) yakni rajda Iskandar meminta saran pada malaikat,
dan akhirnya pengarang memberikan pencerahan soal dari semua
peristiwa.
Tokoh dalam hikayat ini ialah tokoh antara lain Iskandar sendiri,
Raja Kidi Hindi, Nabi Chidir. Tokoh adalah pelaku yang mengemban
peristiwa dalam cerita rekaan sehinggaperistiwa itu menjalin suatu cerita,
sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan
(Aminuddin 1984 : 85),dalam novel selalu mempunyai sifat, sikap, dan
tingkah laku dan watak-watak tertentu. Pemberian watak pada tokoh suatu
karya oleh sastrawan disebut perwatakan.
Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya.
Dari

tempat

itulah

sastrawan

becerita

tentang

tokoh,peristiwa

tempat,waktu dengan gayanya sendiri. Sudut pandang menunjuk pada cara
sebuah cerita dikisahkan. Menurut Abrams, sudut pandang merupakan cara
atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk
menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk
cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (dalam Nurgiyantoro,
1998:248). Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang ceritanya.
Dari sudut pandang itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa,
tempat, waktu, dengan gayanya sendiri. Sudut pandang merupakan cara
atau pandangan yang digunakan sebagai sarana untuk menyajikan tokoh,
tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam
sebuah karya fiksi kepada pembaca. Sudut pandang yang digunakan dalam
hikayat ini adalah orang ketiga pengarang serba tahu. Pengarang seolah-

olah serba tahu sehingga pengarang dapat mengemukakan segala tingkah
laku dan pikiran semua tokoh.
Latar merupakan unsur struktural yang sangat penting. Latar di
dalam lakon atau cerita harus mendukung para tokoh cerita dan
tindakannya. Pengarang tentu membuat latar membuat latar yang tepat
demi keberjhasilan dan keindahan struktur cerita.
Penggunaan latar yang berhasil juga menentukan keberhasilan
suatu karya drama. Penyaji latar yang tepat dapat menciptakan warna
kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan cerita. Latar adalah
lingkungan tempat berlangsungnya peristiwa yang dapat dilihat, termasuk
di dalamnya aspek waktu, iklim, dan periode sejarah. Latar mendukung
dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh cerita. Latar memberikan pijakan
cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana
tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro,
1995). Latar pada hikayat ini meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar
sosial. Latar tempat yang diungkapkan daam hikayat ini yaitu tepi pantai
dengan waktu pagi hari, dan latar sosial khidupan para raja yang
dihormati.
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan
oleh pengarang melalui karuanya. Sebagaimana tema, amanat dapat
disampaikan secara implisit yaitu denga cara memberikan ajaran moral
atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjaidi pada tokoh
menjelang cerita berajhir, dan dapat pula disampaikan secara ekplisit yaitu
dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau
larangan yang berhubungn dengangagasan utama cerita. Amanat dalam
cerita

ini mengajarkan kita untuk tidak bersikap

takabur

dan

menyalahgunakan kekuasaan yang kita miliki kerena setiap apa yang kita
lakukan akan mendapatkan balasan secara langsung maupun tidak
langsung seperti radja Iskandar dengan segala keuasaannya bebas
melakukan apa saja tanpa menimbang atau memikirkan tindakannya
namun akhirnya rajda Iskandar sadar akan semua perbuataannya.
2. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra
itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem

organism karya sastra. Secara spesifik, unsur tersebut dikatakan sebagai
unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, tetapi
tidak menjadi bagian di dalamnya. Seperti halnya unsur intrinsik, unsur
ekstrinsik juga terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur tersebut meliputi
latar belakang kehidupan pengarang, keyakinan, dan pandangan hidup
pengarang, adat istiadat yang berlaku saat itu, situasi politik, persoalan
sejarah, ekonomi, pengetahuan agama dan lain-lain (Suroto, 1989: 138)
yang kesemuanya akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Unsur ini
mencakup berbagai aspek kehidupan sosial yang menjadi latar belakang
penyampaian tema dan amanat cerita.
Hikayat Iskandar Dzulkarnain mengandung unsure eksterinsik
berupa nilai budaya dan sosial. Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai
yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi,
lingkungan

masyarakat,

yang

mengakar

pada

suatu

kebiasaan,

kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang
dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas
apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Nilai budaya dalam hikayat ini
berupa tatacara pernikahan radja Iskandar. Sedangkan nilai sosial ialah
nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik
dan buruk yang ada dalam masyarakat. Nilai sosial dalam hikayat ini
menggambarkan keadaan para raja yang selalu di hormati. Hikyat ini
menceritakan bagaimana peranan raja dan posisi raja dalam mengambil
keputusan.

KARTU DATA
No.
1.

UNSUR
INSTRINSIK
TEMA

Keterangan
Keagamaan dan kepahlawanan

Kutipan
“Maka berdirilah nabi Chidir

memudji Allah ta’ala dengan
berbagai-bagai
pudjinya,
maka ia mengutjap salawat
nabi Ibrahim”.
“Maka nabi Chidirpun minta
doa akan radja Iskandar, maka
segala radja-radja mngetakan
amin”.
“Maka
dipersalin
radja
Iskandar akan segala radjaradja dan orang besar-besar
dan panglima jang memegang
negeri
dan
menteri
hulubalang, disuruh buka tiga
buah
pembendaharaan
baginda dan diberi sedekah
akan parker miskin, hingga
habis
menerima
seekah
baginda”.
2

Alur (plot)

Alur maju karena diceritakan secara
berurutan dan tersusun sehingga
cerita dapat tergambar dengan jelas
a. Situasi
Tahapan awal memperkenalkan
cerita kepada pembaca dalam cerita
ini pada situasi awal diceritakan
pernikahan sutan Iskandar putri

“Kemudian dari pada itu
maka dibatjanja chotbah
nikah radja Iskandar dengan
anak raja Kidi Hindi dan
ditanjakan kepada radja Kidi
Hindi”

Badru’lkamariah
“tetapi takkala radja Iskandar
b. Pemunculan konflik
Berawal dari dialog dengan para
brahmana

kembali itu, maka disesatkan
allah ta’ala dari pada djalan
jang dahulu itu”
“sebermula takkalah radja
Iskandar bertanya akan

c. Peningkatan konflik

perihal itu, maka bersabda ia

Radja Iskandar berbincang dengan
para nabi

pada apa dari pada kehendak
kamu, pintalah kepada aku,
supaya kuberi?”_maka sahut
segala hukama itu: “bahwa
dari pada kehendak kami,
jikalau ada kuasamu,
janganlah kami merasai mati,
hidup juga kami
senantiasa”._maka bersabda
radja Isakandar akan perihal
itu”tiada terserah kepadaku
bahwa akupun sadja akan
merasai mati juga,
kesudahannya-maka sahut
mereka itu, jikalau demikian

d. Tahap klimak
Ketika radja sulaiman
berbincang dengan malaikat
e. Tahap penyelesaian

katamu mengapa maka
engkau pergi perang ke sana
kemari?kiranya dunia ini
sudah diserahkan allah ta’ala
padamu. (halaman 281-282)
“Hai, malaikat jangan engkau
larang radja Iskandar itu,
kemana kehendaknya biarlah
ia pergi”. (halaman 287)
“maka tahulah ia akan tempa
tiada ada berisi manusia dan
tiada ada bermula, tiada ada
berkesudahan, maka pada
ketika itu juga, kembalilah
radja Iskandar kepada
malaikat yang membahagikan

air”.(halaman 287)
1. Sutan Iskandar Dzul-karnain
(sebagai tokoh utama dalam
cerita) mempunyai sifat

3

bijaksana dan takabur
2. Raja Kidi Hindi mempunyai

Tokoh dan

sifat bijaksana

Penokohan

“Apa dari pada kehendak
kamu, pintalah kepada aku,
supaya kuberi” (halaman 281)
Kebiksaan radja Kidi Hindi
dengan menanggapi suatu
permasalahan dengan
bijkasana

3. Nabi Chidir mempunyai sifat
amanah

Menyampaikan pesan dengan
jujur sesuai dengan yang
diperintahkan.

4

Sudut

pandang Sudut pandang orang ketiga

(point of view)

-

pengarang serba tahu.
“ Setelah pagi hari,
a. Latar tempat tepi laut

berkandaralah radja Iskandar
dengan nabi Chidir keduanja
berdjalan ke tepi laut itu”.
(halaman 282)
“Dan pagi hari maka,

5

Latar/settyng

b. Latar waktu pagi hari

berangkatlah raja Iskandar
dengan segala tenteranja
“(halaman 283)
“maka keesokan harinya

c. Latar Sosial kehidupan
dikalangan para penguasa (para

pergilah radja Kidi Hindi
dengan sepuluh hambanja
dengan sorang mentri raja

raja)

kepada nabi Chaidir”. (277)
6

Amanat

No.

Jangan serakah dan tidak boleh
menyalahgunakan kekuasaan
UNSUR

Keterangan

KUTIPAN

EKSTRINSIK
“kemudian daripada itu,
Nilai budaya dalam hikayat tersebut
adalah budaya yang terdapat
dikerajaan, contohnya budaya
pernikahan, antara kedua mempelai
1.

NILAI BUDAYA

tidak langsung dipertemukan, baru
dipertemukan setelah sah menjadi
suami-istri serta dalam budaya
perkawinan pihak wanita yang
memeberi mahar kepada pihak pria

pada esok harinya, maka
datanglah radja Kidi Hindi
membawa anakanya
dengan barang kuasanya
pada ketiga petang hari”
(halaman 278)
“ Sekarang barang
diketahui adalah isi kawin
putri itutiga ratus dinar”
(halaman 278)
“maka bangkitlah segala

2

NILAI SOSIAL

Para raja sangat dihormati

raja-raja dan orang orang
besar dan hakimnya”

BAB V
MODEL PEMBELAJARAN

5.1

Pembelajaran
Analisis Struktural dalam Hikayat Iskandar Dzu’l-karnain

5.1.1

Bahan dalam Pembelajaran
Bahan ajar visual, yaitu bahan ajar yang penggunaannya dengan indra
penglihatan. Terdiri atas bahan cetak (printed) seperti antara lain handout,
buku, modul, lembar kerja siswa yang berhubugan dengan hikayat. Selain
itu di perlukan karton dan kotak sebagai media pembelajaran.

5.1.2

Kegiatan dalam Pembelajaran
Diskusi,Kuis, dan Game

5.1.2.1 Rancangan
- Dapat mendeskripsikan unsur intrinsik dalam Hikayat Iskandar Dzu’l-

karnain
Dapat mendeskripsikan unsure ekstrinsik dalam Hikayat Iskandar
Dzu’l-karnain

5.1.2.2 Pelaksanaan
Kegiatan Awal
-

Apersepsi (Absen dan mengulang materi yang berkaitan dengan mata
pelajaran)

-

Menjelaskan Kompetensi pembelajaran
Menjelaskan Ruang lingkup pembelajaran
Menjelaskan Kemanfaatan mata pelajaran

Kegiatan Inti
- Guru menyajikan atau mendemonstrasikan materi hikayat sederhana
-

dengan tanya jawab
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil 4-5 orang
dalam satu kelompok

-

Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kartu sesuai
dengan kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru secara

-

individu.
Siswa diminta untuk mendiskusikan unsur-unsur yang terdapat dalam

-

hikayat
Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawabannya

-

didalam kartu yang nomornya disebutkan guru.
Setelah pembacaan soal dan jawaban siswa telah ditulis didalam kartu

-

guru dan siswa mendiskusikan soal yang telah diberikan tadi.
Bagi yang benar, siswa mengangkat kartu dan memasukknya kedalam
kotak yang telah disediakan guru sesuai dengan nomor soal. Di akhir
pembelajaran siswa yang memilki kartu paling sedikit atau tidak
bersisa bearti memiliki nilai yang tinggi karena jawabannya benar.

Kegiatan Akhir
-

Guru memberi penguatan tentang hal-hal yang diperhatikan pada mata

-

pelajaran hikayat
Guru menutup pembelajaran

5.1.2.3 Evaluasi dalam Pembelajaran
- Teknik : Tes Tertulis
- Bentuk Instrumen : Tes Uraian
- Penilain : - Soal - Kunci jawaban
5.2 Pendidikan
Pembelajaran Hikayat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP
maupun SMA
BAB VI
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan

penelitian

yang

telah

dilakukan

dapat

disimpulkan hikayat Iskandar Zulkarnain memiliki unsure intersik maupun
unsure ekstrinsik. Iskandar Zulkarnain merupakan seorang tokoh yang ada
dalam sejarah penyebaran agama Islam. Kisahnya juga ada dalam kitab

suci Al-Qur’an yang terdapat dalam surat Kahfi. Sebagai manusia yang
memiliki agama kita perlujuga mengambil hikmah dari kisah tersebut.
Cerita ini tergolong dalam genre atau bertemakan hikayat rajaraja dan pahlawan Islam. Para pahlawan Islam ini diperkenalkan agar
sejarah perjuangan kaum Muslimin di negeri Arab dan Parsi tidak asing
dan menjadi bagian dari sejarah kaum Muslimin secara keseluruhan.
Tokoh dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain yakni radja Iskandar, radja Kidi
Hindi, dan Nabi Chidir. Adapun alurnya merupakan alur maju dengan
sudut pandang orang ketiga serba tau. Kisah ini memiliki latar waktu pagi
hari dengan tempat tepi laut dan memiliki latar sosial yakni keadaaan para
raja yang selalu dihormati. Amanat dalam cerita berupa tindakan manusia
yang tidak boleh serakah menyalah gunakan kekuasaan.
Unsur ekstrinsik dalam hikayat Iskandar Zulkarnain berupa
nilai budaya dan nilai sosial yang didasarkan atas legenda Iskandar Agung
dari Macedonia yang telah menaklukkan banyak negeri dengan lokasi
Balkan hingga India.
B. Saran
Berdasar

pada

hasil

penelitian

ini,

peneliti

dapat

memberikan saran-saran sebagai berikut.

1. Bagi Guru
Hikayat Iskandar Zulkarnain dapat dimanfaatkan dalam pengajaran
materi pemeblajaran pada tingkat sekolah menengah atas. Selain dapat
membedah unsur-unsur intrinsik pada umumnya, hikayat ini juga dapat
digunakan

untuk

melatih

siswa

dalam mengasah

imajinasi

mereka.

Sebuah karya dengan imajinasi tinggi akan semakin menarik untuk
diapresiasi karena lebih memungkinkan munculnya perbedaan presepsi
terhadap isi karya tersebut
2. Bagi Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan ketertarikan pembaca
akan lebih tuntuk mempelajari hikayat. Hasil penelitian ini juga dapat

dijadikan sebagai penghubung antara karya sastra dan penikmatnya. Pembaca
diharapkan pula untuk mampu mengambil nilai-nilai positif yang terdapat
dalam hikayat Iskandar Zulkarnain dan tidak terpengaruh oleh sisi negatif
yang dimunculkan dalam cerita tersebut.
3. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat memicu peneliti-peneliti lain untuk
melanjutkan maupun memulai penelitian sastra baru, terutama dengan
objek hikayat Iskandar Zulkarnain. Hikayat dapat dikaji dengan berbagai
pendekatan untuk menguraikan komponen-komponen penyusunnya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Teuku dan M. Nasir, 2006.Hikayat Muda Balia. Banda Aceh: Balai
Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Abrams, M.H. 2005.A Glosary In Literary Terms. New York: Holt, Rinehart and
Winston.
Aminuddin, Pellat. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Algensio.
Endraswuara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Edisi Revisi) Yogyakarta:
FBS Universitas Yogyakarta.
Hasyim K.S dkk 1995.Seulawah Antologi Sastra. Jakarta: Yayasan Nusantara
Djajadiningrat, Hamid Mukhlis A. 2007.Sastra dan Probelmatika
Pembelajarannya di Aceh.Jakarta: Mitra Media.

Mulyani. 2009:1. Kritik Sastra Feminis, Teori dan Apresiasinya. Yogyakarta:
Putaka Pelajar.
Nurgyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada.
Sangidu. (2004). Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat.
Yogyakarta: Unit Penerbitan Sastra Asia Barat. Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada Bulaksumur.
Santosa, W. H., & Wahyuningtyas, S. (2011). Sastra: Teori dan Implementasi.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Semi, Atar, M, 1993.Antonim Sastra. Padang Bandung: Angkasa Raya.
Sujiddman, panuti. 1998. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pusaka Jaya.
Trisman, B dkk.2003. Antonologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia
Modern.dan Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Teeuw, A. 1985.Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta Pusat PT.
Pustaka Jaya.
Waluyo, Herman J. 1994. Pengkajian Cerita Fiksi. Cet 2. Surakarta. University
Press.
ZF, Zulfahnur, dkk. (1996). Teori Sastra. Jakarta: Depdikbud.