You are on page 1of 20

PENDEKATAN SCIENTIFIC, MODEL DAN STRATEGI PEMBELAJARAN

DALAM KURIKULUM 2013
Oleh:
Drs. Taufik Nugroho, M.Hum. (Widyaiswara Muda P4TK Bahasa)
Abstrak
Kurikulum 2013 menggunakan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses
pembelajaran. Pendekatan scientific termasuk pembelajaran inkuiri yang bernafaskan konstruktivisme.
Sasaran pembelajaran dengan pendekatan ilmiah mencakup pengembangan ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah
kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses) psikologis yang berbeda. Sikap diperoleh
melalui aktivitas: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan
diperoleh melalui aktivitas: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan
mencipta. Sementara itu, keterampilan diperoleh melalui aktivitas: mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi/mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan (Permendikbud No. 81a
tahun 2013). Kurikulum 2013 yang terinspirasi dengan pembelajaran abad ke-21 pada intinya
menekankan pada aspek kolaborasi dan komunikasi. Ini dicerminkan dengan diterapkannya
pendekatan scientific dan tiga model pembelajaran yang mendukungnya; project-based learning,
problem-based learning dan discovery-learning, serta terintegrasinya stategi pembelajaran cooperative dan collaborative learning dalam pelaksanaan tiga model di atas.

A. Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 angka 1
dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan
untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar
Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan
PemerintahNomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
0

ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Berdasarkan penjelasan di atas, tantangan dunia pendidikan paling tidak ada 2, yaitu dampak
teknologi komunikasi/internet, kemunduran lingkungan manusia sehingga penanaman sikap melalui
proses pembelajaran sangat diperlukan. Kemajuan IPTEK dapat mengubah manusia informasi menjadi
masyarakat industri, pasca teknologi menjadi Hi-technology, dan ekonomi nasional menjadi ekonomi
dunia. Kemajuan IPTEK juga memiliki dampak yang sangat luas dalam mempengaruhi perilaku
manusia. Sedangkan kemunduran lingkungan manusia terjadi karena kerusakan lingkungan yang
ditandai oleh pengrusakan manusia terhadap lingkungan yang ada. Penebangan, pembakaran hutan
terjadi di mana-mana tanpa ada satupun manusia yang merasa bersalah/berdosa, dengan kata lain
kesadaran, kepedulian terhadap lingkungan sekitar patut dipertanyakan.
Sejalan dengan itu, trend dunia pendidikan abad 21 lebih berorientasi pada pengembangan
potensi manusia dan bukan memusatkan pada kemampuan teknikal dalam melakukan eksplorasi dan
eksploitasi alam. Intinya adalah bagaimana guru dapat mengoptimalkan potensi mind dan brain untuk
meraih prestasi peradaban secara cepat dan efektif. Dengan asumsi; jika manusia mampu
menggunakan potensi nalarnya dan emosinya secara jitu maka dia akan mampu membuat loncatan
prestasinya yang dia tidak duga sebelumnya (Siberman, Mel. 2002: XIII).
Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran
langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Proses pembelajaran langsung adalah proses
pendidikan di mana peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan
keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam
silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran langsung tersebut
peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam
kegiatan analisis. Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
langsung atau yang disebut dengan instructional effect.
Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses
pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung
berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap. Berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan
sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran tertentu,
1

(d) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi. dinamis dan menyenangkan dalam membangun pengetahuannya. dan masyarakat. (e) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu. Pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. (b) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. sekolah. B. sehingga dampak samping atau nurturent effect dari proses tersebut terbangunnya sikap terhadap sesama dan kepada Tuhan YME. (c) mengumpulkan informasi. belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain. dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013. pendekatan dan metode hendaknya selalu mengacu pada proses tersebut. Prinsip Pembelajaran Prinsip pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 meliputi: (a) dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu. belajar untuk memahami dan menghayati. Oleh karena itu. Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: (a) mengamati. belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif. pemilihan strategi. (b) menanya. efektif. kreatif. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2. melalui proses pembelajaran yang aktif. (g) dari pembelajaran verbalisme menuju ketrampilan aplikatif. dan menyenangkan. Kajian Materi Prinsip pelaksanaan proses seperti yang digariskan dalam Kurikulum 2013 adalah siswa harus mendapat: kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. Keduanya. dan. (h) 2 . 1. semua kegiatan yang terjadi selama belajar di sekolah dan di luar dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler terjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan sikap. Dengan demikian. (f) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi. (d) mengasosiasi. Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. (e) mengkomunikasikan. (c) dari pendidikan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. dan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri. dikembangkan secara bersamaan dalam suatu proses pembelajaran dan menjadi wahana untuk mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2.pengembangan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas. Pengetahuan dibangun bersamaan dengan ketrampilan yang menyertai dalam membangun pengetahuan dimaksud.

. dikembangkanlah standar proses yang mencakup: perencanaan proses pembelajaran. 3 . (i) pembelajaran yang mengutaman pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat. siapa saja adalah siswa. di sekolah dan di masyarakat. menalar.membangun kemauan (ing madyo mangun karso). Proses pembelajaran di sekolah merupakan kegiatan kunci yang harus diwujudkan dan tercermin dalam model pembelajaran yang diaktualisasikan oleh guru di dalam kelas. Jadi. dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri haandayani). dan pengawasan proses pembelajaran. menanya. (l) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru. dapat digambarkan tentang filosofi guru mengajar sekarang terbalik dari teaching menjadi tutoring. (m) pemanfaatan teknologi inforrmasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. dan dimana saja adalah kelas. (n) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik Terkait dengan prinsip.peningkatan dan keseimbangan antara ketrampilan fisik (hard skills) dan ketrampilan mental (soft skills). penilaian hasil pem belajaran. Hal baru yang hendak dibangun dalam kurikulum 2013 bahwa proses belajar hendaknya selalu dilalui dengan kegiatan scientific/ilmiah seperti mengamati. (j) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo). dan bukan lagi murid diberi tahu melainkan murid mencari tahu. pelaksanaan proses pembelajaran.prinsip di atas. mencoba dan membuat hubungan apa yang sedang dipelajari. (k) pembelajaran yang berlangsung di rumah.

penemuan. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. table. adalah cara atau mekanisme untuk mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. penalaran. Suatu pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dari metode ilmiah. dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian diperlukan adanya penalaran dalam rangka pencarian (penemuan). Substansi atau materipembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. dialogis. Sebaliknya. 4 . mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning). 1. Penalaran induktif menempatkan buktibukti khusus /spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. PAKEM. Pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dengan nama scientific approach atau pendekatan ilmiah. proses pembelajaran dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai. atau dongeng semata. Dengan demikian. Pendekatan ilmiah menerapkan kaidah-kaidah ilmiah yang memiliki ciri penonjolan dimensi pengamatan. khayalan.2. Dalam dokumen pelatihan implementasi kurikulum 2013 dijelaskan tentang proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. prinsip-prinsip. pasif. Contextual teaching and learning/CTL. Penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Batasan pendekatan inkuiri di sini adalah kegiatan penemuan yang dilakukan siswa sendiri mulai dari merumuskan masalah. scientific approach. atau kriteria ilmiah. serta mengkomunikasikannya kepada pihak lain. menganalisis. Proses kerja ilmiah. Romiszowski dalam Milan Rianto: 2000 menjelaskan tentang pendekatan pembelajaran yang diibaratkan sebagai rentangan antara dua ujung yang saling berlawanan seperti ekspositori dan diskoveri/inkuiri. pendekatan dapat dipahami sebagai cara pandang terhadap obyek yang akan mewarnai seluruh jalannya proses pembelajaran (aktif. Sedangkan diskoveri/inkuiri menunjukkan dominasi siswa selama proses pembelajaran dan peran guru hanya sebagai fasilitator. Pendekatan Pembelajaran Secara umum. menyajikan hasil dalam bentuk tulisan. legenda. dsb). Hal ini sudah sangat sejalan dengan pendekatan ilmiah yang dikembangkan dalam kurikulum 2013. gambar. Metode ilmiah memandang fenomena khusus (unik) dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan pada simpulan. bukan sebatas kira-kira. Ekspositori menunjukkan pendekatan dengan dominasi peran guru selama proses pembelajaran berlangsung. dll. mengumpulkan data/informasi. pembenaran.

dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta. pemikiran subjektif. teori. Penjelasan guru. respon peserta didik. 7. 3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami. memecahkan masalah. memahami. atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. analistis. retensi informasi dari guru lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen. Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. 4. 6. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis. pendekatan ilmiah merujuk pada: (a) adanya fakta. menerapkan. Berbasis pada konsep. harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi. 5. Untuk dapat disebut ilmiah. kemudian memformulasi dan menguji hipotesis. Secara sederhana. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan. dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. dan tepat dalam mengidentifikasi. Sedangkan pembelajaran tradisional. dan (d) adanya analisa. (c) sifat objektif. pendekatan ilmiah umumnya memuat rangkaian kegiatan koleksi data atau fakta melalui observasi dan ekperimen. retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah lima belas menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas. proses belajar diharapkan 5 . Dengan metode ilmiah. empiris. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah. namun menarik sistem penyajiannya. dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.2. dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. Karena itu. kesamaan. (b) sifat bebas prasangka.

menyajikan. Project-Based Learning Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan cara belajar dengan menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. 6 .Kurikulum 2013 menitikberatkan pada pola / model yang mendukung terjadinya proses scientific seperti Project Based learning. dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati. Discovery Learning. (3) ingin tahu. (2) tidak gampang percaya begitu saja pada ha-hal yang tidak rasional (takhayul). metode yang diterapkan secara menyeluruh dan utuh dalam proses pembelajaran. strategi. menanya. Problem Solving/Inquiry. menyimpulkan.mempunyai sifat: (1) kecintaan pada kebenaran yang objektif. pendekatan ilmiah merupakan mekanisme untuk memperoleh pengetahuan yang didasarkan pada struktur logis dengan memerlukan langkah-langkah pokok seperti: a) b) c) d) e) Mengamati (observing) Menanya(questioning) Mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting) Mengasosiasi (associating) Mengkomunikasikan (communicating) Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik moderen dalam pembelajaran. a. mencoba. dan mencipta untuk semua mata pelajaran. 3. dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. (5) selalu optimis Jadi. Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali materi dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. (4) tidak mudah membuat prasangka. mengolah. Model Pembelajaran Model pembelajaran merupakan implementasi seluruh komponen pendekatan.

kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. kreasi dan inovasi dari siswa. (2) motivasi belajar peserta didik. (5) mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. Masalah yang diberikan digunakan untuk memancing rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran yang dimaksud. (3) secara kolaboratif bertanggungjawab mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan. pelatih. Keuntungan melaksanakan PBL adalah meningkatkan: (1) kolaborasi. Langkah langkah pelaksanaan PBL 1 PENENTUAN PERMASALAHAN 6 EVALUASI PENGALAMAN/RE FLEKSI 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 5 MENGUJI HASIL 3 MENYUSUN JADWAL 4 MONITORING Diagram 1: Langkah langkah Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek (dikembangkan dari materi pelatihan kurikulum 2013) b. (4) secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. Ada lima cara dalam menggunakan model pembelajaran berbasis 7 . (8) melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki. (5) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki karakteristik seperti peserta didik: (1) membuat keputusan tentang permasalahan yang diberikan. (6) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan Peran guru dalam PBL adalah sebagai fasilitator. (4) membuat siswa menjadi lebih aktif. (3) kemampuan memecahkan masalah. Problem-Based Learning (PBL) Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk mengembangkan ketrampilan/kreativitas tingkatan berfikir tinggi (HOTS). Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”. (6) keterampilan mengelola sumber. (2) mendesain solusi atas permasalahan yang diajukan. (7) memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi tugas. penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal sesuai dengan daya imajinasi.

model dan berbagi tugas dengan teman Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja pemecahan masalah 8 . (3) contoh. dan mengembangkan inisiatif. (5) stimulus aktivitas otentik Peran guru. (2) belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya. melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. yang sering disebut student-centered. siswa dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut: Siswa sebagai problem Guru sebagai pelatih o Asking about thinking (bertanya tentang o o o o o pemikiran) memonitor pembelajaran probing ( menantang siswa untuk berfikir ) menjaga agar siswa terlibat mengatur dinamika kelompok menjaga berlangsungnya proses Masalah sebagai awal o o solver peserta yang aktif o terlibat langsung dalam o tantangan dan motivasi menarik untuk dipecahkan menyediakan kebutuhan pembelajaran membangun yang ada hubungannya o pembelajaran dipelajari dengan pelajaran yang (Dokumen Pelatihan Kur 2013) Keuntungan menerapkan PBL antara lain bahwa peserta didik: (1) memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah. (4) bagian yang tak terpisahkan dari proses. (3) mampu berpikir kritis. menjelaskan  logistik yg dibutuhkan Memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Fase 2 Mengorganisasikan siswa Membantu siswa mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.masalah (PBL) yaitu permasalahan sebagai: (1) kajian. (2) penjajakan pemahaman. Tahapan menerapkan PBL: Fase-fase Fase 1 Orientasi siswa kepada masalah Perilaku guru  Menjelaskan tujuan pembelajaran.

(4) siswa mengaplikasikan konsep Proses mental yang dikembangkan meliputi kegiatan. Tahapan pembelajaran dilakukan melalui 4 tahap. Strategi pembelajaran Strategi pembelajaran adalah garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran kompetensi dasar. yaitu: (1) data dikemukakan kepada siswa. Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan problem Solving. (2) siswa menganalisis strategi untuk mendapatkan konsep-konsep. hanya saja Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Discovery Learning Discovery merupakan cara belajar dengan membangkitkan rasa ingin tahu (curiousity) siswa untuk mengeksplorasi dan belajar sendiri. peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir. (3) membuat dugaan/rumusan. Ketigannya tidak ada perbedaan yang prinsip. Pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa. 4. (4) mengukur. (1) mengamati. (3) siswa menganalisis jenisjenis konsep. Prinsip belajar dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan dibelajarkan tidak disampaikan dalam bentuk final. yang sesuai dengan umur dan pengalamansisw. a. Menetapkan spesifikasi/mengidentifikasi kualifikasi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan 9 . (6) menarik kesimpulan. (5) mengumpulkan data.. sedangkan Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian sederhana. (2) menggolonggolongkan. Strategi dapat dipandang sebagai pola-pola umum kegiatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai kompetensi dasar tertentu seperti yang dijelaskan Jamarah & Zain (2002) Langkah-langkah strategi. Pemahaman suatu konsep didapat siswa melalui proses yang lebih menekankan kepada proses penemuan konsep dan bukan pada produknya.c.

campuran). yang menerapkan inklusi dengan melibatkan guru khusus (Special Ed) yang bergabung dengan guru biasa. metode. Model 1 Model 2 Contoh Model 1 dari White dan White: sebuah model kolaboratif bagi siswa tuna ringan di SMP. sehingga dapat dijadikan pedoman evaluasi hasil KBM. Menetapkan prosedur. Jadi. 10 . Memilih pendekatan belajar mengajar c. Dengan begitu umpan balik penyempurnaan instruksional dapat dilakukan. Menetapkan norma dan batas minimal keberhasilan/kriteria kompetensi inti. Mereka menggabungkan program yang memadukan antara strategi pembelajaran dengan penguasaan materi pembelajaran. teknik yang dianggap paling efektif/tepat sesuai dengan karakteristik siswa d.b. deduktif. strategi belajar mengajar adalah memanfaatkan segala daya dan sumber yang dimiliki untuk dikerahkan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya (induktif.

asih. Mereka menerapkan pembelajaran individual. tanpa harus ada yang disebut sebagai pemimpin dan yang dipimpin. (2) Interaksi face to face atau tatap muka. asuh. Teknologi penerapan dalam pembelajaran ini bahwa metodenya tergolong dalam technologyassisted sehingga bentuk dan susunan kelompoknya akan selalu terlihat: (1) Siswa ditempatkan dalam kelompok kecil. (6) Siswa dalam kelompok yang berbeda mempelajari materi yang berbeda. (5) Susunan cooperative dengan menekankan kemampuan akademis siswa secara heterogin. 1992:xii). dimana masing-masing siswa mempunyai tanggungjawab yang sama. (3) Tanggungjawab individu 11 . 1. Pembelajaran Kooreratif (Cooperative Learning) Untuk mewujudkan strategi pembelajaran yang efektif. Banyak sekali komponen lain yang dapat diidentifikasi tetapi jika ingin membelajarkan siswa dengan pembelajaran ini hendaknya selalu mengingat hal-hal seperti berikut. CL merupakan pembelajaran yang kemampuan individu dalam kelompok. dengan harapan siswa yang pandai membimbing siswa yang kurang. Cooperative learning merupakan pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif yang mengintegrasikan ketrampilan sosial yang bernuatan akademis (Davidson & Worsham. mengarah pada demokratis dengan mengoptimalkan menegakkan konsep saling asah. (1) Interdependensi atau ketergantungan yang poisitif. Kelompok-kelompok tersebut diorganisir sedemikian rupa sehingga tercipta partisipasi belajar secara menyeluruh dengan pengertian bahwa siswa dibiarkan dalam kelompoknya untuk berdiskusi terlebih dahulu kemudian merumuskannya sampai dengan melaporkan perolehan belajarnya pada seluruh kelas. antara guru biasa dengan guru khusus (special Ed) dengan rasio siswa 1:15. Secara umum cooperative learning di desain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran inkuiri dan diskusi dalam kelompok kecil. (4) Guru lebih mengikutsertakan siswa dalam proses belajar. berbagi pengambilan keputusan dan evaluasi.Model 2 menerapkan collaborative teaching. (3) Perhatian guru lebih terpusat pada siswa yang lemah. (2) Sistem interaksi guru dengan siswa bersifat coaching atau pelatih dan yang dilatih. guru hendaknya jeli memilih pembelajaran yang pemberdayaan cooperative learnig atau disingkat siswa seperti. Dengan demikian siswa akan mempunyai ketrampilan menemukan atau discovery dengan meng-gunakan kegiatan what and how.

saran. (6) mengembangkan kemampuan menerima perspektif orang lain. (5) Proses kerjasama kelompok. jigsaw. saling menghormati. Slavin (1990). serta Sharan (1980. Dalam situasi kolaboratif itu. think pair share. dan menerima kekurangan atau kelebihan masingmasing. untuk keseluruhan teknik. Setiap teknik mempunyai ciri dan pengoperasioanalannya amat sangat tergantung pada kepiawian/kepandaian guru. (4) Ketrampilan kelompok kooperatif yang terlihat ketika memberi kritikan. number head together. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. 2. sanggahan tanpa mengkritik orangnya. sebaliknya. peserta didik berinteraksi dengan empati. Pembelajaran Kolaboratif (Colaborative Learning) Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal. Teknik – teknik membelajarkan Cooperative Learning banyak sekali antara lain. terdapat perumpamaan yang selalu mengiringi pola pembelajaran cooperative learning yaitu berenang bersama atau tenggelam bersama. Cooperative learning sangat cocok digunakan untuk menerapkan prinsip-prinsip pelaksanaan Kurikulum 2013 karena jika dilihat dampak pembelajarannya secara menyeluruh adalah meningkatkan rasa percaya diri siswa serta berfikir lebih kritis dimana Johnson (1989). Akan tetapi. (3) mengembangkan rasa percaya diri siswa.dalam kelompok. Kolaborasi merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama. (4) meningkatkan hubungan inter kelompok. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman. 12 .Berikut ini beberapa langkah pembelajaran cooperative learning yang dapat diakses untuk melaksanakan pembelajaran. telah membuktikan hasil riset mereka bahwa dampak positif pembelajaran cooperative learning adalah: (1) pencapaian hasil belajar yang dapat dipertanggungjawabkan. Cooperative learning seringkali dimaknai sebagai bagian dari colaborative teaching. sebagai contoh jigsaw akan efektif jika digunakan untuk kelas yang mempunyai jumlah siswa sedikit. sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama. (2) mengembangkan daya pikir yang tinggi. 1990) dalam Davidson and Worsham (1992:XVII). peserta didiklah yang harus lebih aktif. sedangkan teknik pelaporan sangat cocok untuk kelas besar. pelaporan dll. (5) mengembangkan ketrampilan sosial siswa.

Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri. Potensi tersebut dapat terwujud melalui cara menerapkan mastery learning/belajar tuntas. terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna. mereka akan bekerja lebih baik melalui kerjasama atau kolaborasi dibandingkan secara individu. seperti termuat dalam gambar. Karakteristik ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. “can do with help“. menghormati antar sesama. proses pembelajaran mampu menarik pebelajar dari zona tersebut dengan cara kolaborasi atau pembelajaran kolaboratif. Dua karakteristik berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik.Vygotsky menjelaskan bahwa ketika peserta didik diberi tugas. bahasa komunikasi. peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar. serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran.  Guru sebagai mediator. guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik. guru berperan sebagai mediator atau perantara. Dengan pembelajaran kolaboratif. pengalaman personal. ZPD merupakan wilayah “can do with help” yang sifatnya tidak permanen. strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori. peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. bukan pemberi instruksi. Karakteristik keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif yang mencerminkan:  Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Pakar ini sangat terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” atau ZPD. Di sini. khususnya untuk hal-hal tertentu. Istilah ”Proximal” yang digunakan di sini memiliki makna “next“. berbagi strategi dan informasi. Guru berperan membantu menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami 13 . mendorong tumbuhnya ide-ide cerdas. Empat karakteristik kelas dalam pembelajaran kolaboratif.  Berbagi tugas dan kewenangan. dan “can do alone“. Vigotsky merupakan salah satu penggagas teori konstruktivisme sosial. setiap manusia (peserta didik) mempunyai potensi tertentu. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif. Menurut Vygotsky. Vygostsky mengemukakan tiga wilayah dalam ZPD yang disebut dengan “cannot yet do”.

sehingga semua mendapatkan informasi dari masing-masing ahli. Pembelajaran dilakukan dengan cara peserta didik sebagai anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda mengenai suatu pokok bahasan. (f) Klarifikasi guru dengan merujuk pandangan siswa (g) Kesimpulan 14 . berbagi informasi. (e) Guru mempersilahkan kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya dan dilengkapi oleh kelompok lain. Di halaman 17 dinyatakan bahwa Cooperative learning seringkali dimaknai sebagai bagian dari colaborative teaching. Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif. serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. dan pengetahuan peserta didik yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas.  JP = Jigsaw Proscedure. Karakteristik teknik ini adalah mempersiapkan siswa untuk menjadi ahli informasi.kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar. Oleh karenanya. Sikap. teknik-teknik yang ada di dalam CL dianggap sebagai macam/jenis pembelajaran kolaboratif. Agar masing-masing anggota kelompok dapat memahami keseluruhan bahasan. perhatikan langkah berikut: (a) Siswa dibagi berkelompok dengan anggota 4-6 siswa (kelompok awal/serangkai) (b) Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari tugas/permasalahan yang diberikan (c) Anggota kelompok yang mendapat tugas sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut (kelompok ahli) (d) Kelompok ahli kembali ke kelompok awal untuk menerangkan hasil diskusi kepada anggota kelompok secara bergilir. Pada kelas kolaboratif peserta didik dapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka.  Kelompok peserta didik yang heterogen. keterampilan.

setiap peserta didik mengerjakan permasalahan berikutnya. Jika permasalahan tahap pertama telah diselesaikan dengan benar. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para peserta didik yang sangat heterogen. Penilaian didasari pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok peserta didik. STAD = Student Team Achievement Divisions.  TAI = Team Accelerated Instruction. matematika. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling membelajarkan. merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/kolaboratif dengan pembelajaran individual. setiap peserta didik sebagai anggota kelompok diberi permasalahan yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Pada penerapan pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Secara bertahap. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua peserta didiksebagai anggota kelompok terhadap pokok bahasan. dan tiap individu diberi skor perkembangan  CI = Complex Instruction. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya. Penilaian didasari pada hasil belajar individual maupun kelompok  CLS = Cooperative Learning Stuctures.Perhatikan langkah-langkah berikut: (a) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4-5 orang dengan kempuan Heterogen (b) Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat tugas yang lain (c) Setiap anggota saling membantu memahami bahan pelajaran (d) Secara individu tiap 1 atau 2 minggu diberi kuis (e) Kuis di skor. khususnya dalam bidang sains. dan ilmu pengetahuan sosial. ia harus menyelesaikan permasalahan lain pada tahap yang sama. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Seorang peserta 15 . Namun jika seorang peserta didik belum dapat menyelesaikan permasalahan tahap pertama dengan benar. Setiap tahapan permasalahan disusun berdasarkan tingkat kesukaran HOT / higher level of thinking.Titik tekan metode ini adalam pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan. Karakteristik dari teknik ini adalah pemberian kuis di akhir pembelajaran. Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.

juru bicara menyampai kan hasil temuannya (e) Guru memberi penjelasan singkat dan memberi kesimpulan  AC = Academic-Constructive Controversy.didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.  TGT = Teams-Games-Tournament. Pada teknik ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Pada teknik ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya. para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. setelah belajar bersama kelompoknya sendiri. Pada teknik ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahn/tugas yang diberikan oleh guru. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. kedua peserta didik yang saling berpasangan itu berganti peran. (a) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan tugas kelompok (b) Guru memanggil ketua kelompok dan memberi tugas yang berbeda (c) Masing2 kelompok membahas materi secara kooperatif berisi penemuan (d) Setelah diskusi selesai. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Pada teknik ini. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.  GI = Group Investigation. ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Penilaian didasari pada proses dan hasil kerja kelompok. Tutor mengajukan /permasalahan atau dapat berupa pertanyaan yang harus diselesaikan atau dijawab oleh tutee. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan 16 .  LT = Learning Together. baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Bila jawaban tutee benar.

pair-share. menjawab dan membantu satu sama lain (a) Thinking (berpikir). (3) kemudian sharing dengan teman terdekat. Pada teknik pembelajaran ini mirip dengan TAI. menulis dan tata bahasa. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya. guru meminta kepada pasangan untuk berbagi apa yang telah mereka bicarakan. kesehatan psikis dan keselarasan.  Think. menulis dan tata bahasa.(4) setelah berempat. pertimbangan. Catatan: (1) awalnya siswa disuruh berpikir sendiri. guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir.  CIRC = Cooperative Integrated Reading and Composition. teknik ini melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran (a) Penomoran. (5) teknik ini sangat efektif bila dilakukan secara bergilir  Numbered heads together. Siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri beberapa saat (b) Pairing. baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya. formasinya meningkat menjadi ber-empat. Teknik ini menekankan kemampuan membaca.pengembangan kualitas pemecahan masalah. siswa menyatukan pendapat terhadap jawaban pertanyaan atau masalah yang diajukan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya untuk mengetahui jawaban itu 17 . hubungan antarpribadi. guru membagi siswa ke dalam kelompok (3-5 orang) dan setiap anggota diberi nomor (b) Mengajukan pertanyaan atau permasalahan dapat bervariasi dan spesifik. sesuai dengan materi yang dibahas (c) Berpikir bersama. formasi meningkat menjadi lebih besar lagi. (2) kemudian berpikir berpasangpasangan. guru meminta siswa berpasangan untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan (c) Sharing (berbagi). Dalam pembelajaran ini. pemikiran kritis. para peserta didik saling menilai kemampuan membaca.

d. (d) Guru membantu siswa menyusun laporan dan pembagian tugas siswa  Cross over group discussion (Diskusi Silang Kelompok) (a) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok. Pendekatan scientific termasuk pembelajaran inkuiri yang bernafaskan konstruktivisme didukung tiga model pembelajaran yang mendukungnya. tugas. masing2 klp memilih topik (d) 10’ kedua s. pembelajaran bahasa adalah untuk komunikasi. mendes kripsikan temuan.turut seorang peserta dari setiap kelompok pindah ke kelompok lain searah jarum jam. setiap anggota klp baru memberi pendapat (e) Anggota klp asli berperan sebagai pemimpin diskusi C. masing-masing kelompok 6 orang (b) Guru menetapkan waktu diskusi misal 60’ (c) 10’ pertama. sarana yang dibutuhkan & memotivasi siswa unt terlibat dlm aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (b) Guru membantu siswa merumuskan & mengorganisasikan tugas yg dipilih (penetapan topik. Model pembelajaran mencakupi sintaks-sintaks (langkah pembelajaran) yang harus dilalui. Misalnya. analisa data. jadwal dll) (c) Guru memantau siswa untuk mengumpulkan informasi. serta terintegrasinya stategi pembelajaran cooperative dan collaborative learning dalam pelaksanaan tiga model di atas. Model pembelajaran bersifat procedural. Pendekatan. (a) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.(d) Guru memanggil siswa satu nomor tertentu untuk menjawab pertanyaan/masalah yang dibahas (e) Pembenaran dan dilanjutkan pada masalah yang lain  Problem based introduction /Pembelajaran Berdasarkan Masalah. model dan strategi pembelajaran dilaksanakan secara berkelindan. pengumpulan data. berturut . Pendekatan bersifat axiomatic. 10’ keenam. melaksanakan eksperimen/penelitian. Model harus mengacu pada pendekatan. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran harus memiliki landasan teori dan asumsi tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa. Sedangkan strategi pembelajaran sifatnya 18 . yakni: project-based learning. problem-based learning dan discovery-learning. sampai setiap kelompok hanya ada 1 orang anggota asli dan 5 anggota berasal dari klp lain. Penutup Ruh Kurikulum 2013 adalah penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran.

dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. New Jersey. New York: Teacher College. 1991. 1975. 2002. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. New York: Teachers College. 2013. deduktif. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no 65 tentang Standar Proses. Kurikulum 2013. Jakarta: Kemdikbud Muhammad Nuh. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no 81a. 1980. Learning Together and Alone. 1992. Sudibyo. Douglas. Davidson & Worsham. Mel.2006. 1992.. pengetahuan.The Cooperative Development of the Intellect. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. An Article on A Journey Into Constructivism. Jakarta: Depdikbud. 1998. Jakarta: Pusbangprodik. model dan strategi pembelajaran dilaksanakan pada hakikatnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang mencakup pengembangan ranah sikap. Heinemann: Portsmouth. 1998. . Co-Cognition. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Englewood Cliffs-New Jersey: Prentice Hall and Boston: Allyn & Bacon. Strategi belajar mengajar adalah memanfaatkan segala daya dan sumber yang dimiliki untuk dikerahkan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya (induktif. 2013. Bandung : Kaifa. 2013. Prentice-Hall. Best Practice: New Standards for Teaching and Learning in America’s Schools. Models of Teaching. Depdiknas: Jakarta. Zemelman. Enhancing Thinking Through Cooperative Learning. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan PemerintahNomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan: Jakarta. 19 . Johnson & Johnson. Pendekatan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013.implementational (classroom activities). Daftar Pustaka Costa and O’leary. SMP Ilmu Pengetahuan Sosial. campuran). Martin. Joyce &Weil. Bambang. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses) psikologis yang berbeda. Pusat Kurikulum. 101 Macam Pembelajaran Aktif. Siberman.