You are on page 1of 21

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Penelitian Terdahulu
Hasan Asyari, SH (2009) Implementasi Corporate Social Responsibility

(CSR) Sebagai Modal Sosial Pada PT NEWMONT. Berdasarkan hasil analisa,


diperoleh kesimpulan bahwa dalam mengimplementasikan tanggung jawab
sosialnya, PT Newmont melakukan kegiatan-kegiatan Pembangunan Masyarakat
yaitu pendidikan, Infrastruktur, Perbaikan Kesehatan, Pendidikan Kejuruan dan
Pengembangan Bisnis, Program Pertanian dan Perikanan, Program Perbaikan
Habitat Laut Minahasa. Sedangkan kendala-kendala yang ditemui adalah
meningkatnya ketidak percayaan masyarakat dan kesalahan persepsi yang muncul
akibat tuduhan pencemaran terhadap operasi Newmont Minahasa Raya sehingga
izin penempatan tailing PT NNT, yang mesti diperpanjang pada tahun 2005, akan
tetap ditentang oleh LSM anti tambang, Kontroversi lain muncul terkait daerah
eksplorasi Dodo di kecamatan Ropang yang melibatkan sembilan desa. Warga
Labangkar mengklaim nenek moyang mereka dimakamkan di Dodo dan menuntut
ganti rugi lahan dan pemakaman yang ada sehingga perusahaan memutuskan
untuk menghentikan kegiatan eksplorasi di daerah tersebut. Tuntutan oleh
beberapa nelayan setempat bahwa kegiatan tambang telah mengurangi hasil
tangkapan mereka. Untuk mengatasi tuduhan ini dan memperbaiki kesalahan
persepsi, PTNNT telah menyusun suatu sasaran untuk melibatkan diri lebih
banyak dalam pengembangan desa nelayan setempat dan melakukan survei
perikanan pada tahun 2005.
Diah Febriyanti (2010) Good Corporate Governance (GCG) Sebagai Pilar
Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Pada PT. Bank X. Hasil
penelitian ini menunjukan adanya peranan penting antara penerapan GCG dengan
pelaksanaan praktik CSR, dimana dengan penerapan prinsip GCG maka
implementasinya terhadap pelaksanaan program CSR menjadi terarah dan lebih
terfokus terhadap program CSR yang dibutuhkan oleh masyarakat luas lebih

terstruktur dan mengalami perbaikan menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
Selain itu Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa motivasi perusahaan dalam
melakukan praktek CSR dan berbagai pengungkapan adalah untuk melaksanakan
prinsip good corporate governance secara utuh, memenuhi harapan stakeholder,
mendapatkan legitimasi, dan memenangkan penghargaan tertentu. Praktik CSR
didasarkan pada visi perusahaan, misi, budaya dan kode etik CSR.
2.2

Corporate Social Responsibility (CSR)

2.2.1 Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)


Tanggungjawab sosial dapat pula diartikan sebagai berikut; merupakan
kewajiban perusahaan untuk merumuskan kebijakan, mengambil keputusan, dan
melaksanakan tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
World business council for sustainable development (WBCSD) dalam
ambadar (2008:19) Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab
sosial perusahaan didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan
kontirbusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan
para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat
maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara
yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.
Pengertian CSR diadaptasi dari Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, yang menyebutkan komitmen perseroan
untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna
meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi
perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.
Petkoski dan Twose (2003:19) mendefenisikan CSR sebagai komitmen
bisnis untuk berperan mendukung pembangunan ekonomi, bekerjasama dengan
karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat luas, untuk
meningkatkan mutu hidup mereka dengan berbagai cara yang menguntungkan
bagi bisnis dan pembangunan.

Sedangkan menurut John dan Robinson (2008:73) dalam bukunya


Manajemen Strategis, menyatakan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan
gagasan perusahaan bertanggung jawab untuk melayani masyarakat secara umum,
selain melayani kepentingan keuangan para pemegang saham.
Didalam Green Paper Komisi Masyarakat Eropa 2001 dinyatakan bahwa
kebanyakan defenisi tanggung jawab sosial perusahaan menunjukkan sebuah
konsep tentang pengintegrasian kepedulian terhadap masalah sosial

dan

lingkungan hidup kedalam operasi bisnis perusahaan dan interaksi sukarela antara
perusahaan dan para stakeholdernya. Ini setidaknya ada dua hal yang terakhir
dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan hidup serta interaksi sukarela
(Irianta, 2004:87).
Menurut WBCSD (2005:23), CSR adalah komitmen perusahaan yang
berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan pekerja
dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas guna meningkatkan
kualitas hidupnya. Departemen Sosial tahun 2005 mendefinisikan CSR sebagai
komitmen dan kemampuan dunia usaha untuk melaksanakan kewajiban sosial
terhadap lingkungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
menjaga keseimbangan hidup ekosistem disekelilingnya.
CSR menurut Schermerhon (1993), diartikan sebagai suatu kepedulian
organisasi bisnis untuk bertindak dengan cara-cara mereka sendiri dalam melayani
kepentingan organisasi dan kepentingan publik eksternal. Tanggung jawab ini
dilakuakan demi sebuah prakarsa baik dunia usaha untuk lebih memiliki etika dan
makna dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Dengan demikian, dunia usaha
tetap eksis dan mampu bersaing serta mendapatkan manfaat ekonomi yang
sebesar-besarnya. Hal ini diperkuat oleh argumen Orlitzky (2003), di mana ia
menyimpulkn bahwa peningkatan kinerja sosial perusahaan akan meningkatkan
kinerja finansial, yang kemudian akan meningkatkan pula kemampuan perusahaan
dalam berinvestasi sosial.
Menurut Sri Rejeki Hartono (2007:33), aktifitas menjalankan perusahaan
adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dalam pengertian yang
tidak terputus-putus, kegiatan tersebut dlakukan secara terang-terangan dalam

pengertian sah/legal, dan dalam rangka untuk memperoleh keuntungan, baik untuk
diri sendiri maupun orang lain. Menurut Mentri Kehakiman Nederland (Minister
van Justitie Nederland) dalam memori jawaban kepada parlemen menafsirkan
pengertian perusahaan sebagai berikut: Barulah dapat dikatakan adanya
perusahaan apabila pihak yang berkepentingan bertindak secara tidak terputusputus, terang-terangan, serta di dalam kedudukan tertentu untuk memperoleh laba
bagi dirinya sendiri.
Agenda World Summit di Johannesburg (2002), menekankan pentingnya
tanggung jawab sosial perusahaan. Dari situ program CSR mulai terus berjalan
dan berkembang dengan berbagai konsep dan definisi. Kesadaran menjalankan
CSR akhirnya tumbuh menjadi trend global, terutama produk-produk yang ramah
lingkungan yang diproduksi dengan memperhatikan kaidah sosial dan hak asasi
manusia.
Pada hakekatnya setiap orang, kelompok dan organisasi mempunyai
tanggungjawab sosial (social responcibility) pada lingkungannya. Tanggungjawab
sosial seorang atau organisasi adalah etika dan kemampuan berbuat baik pada
lingkungan sosial hidup berdasarkan aturan, nilai dan kebutuhan masyarakat.
Berbuat baik atau kebajikan merupakan bagian dari kehidupan sosial. Dan segi
kecerdasan, berbuat kebajikan adalah salah satu unsur kecerdasan spiritual
(Susanto, 2002:2)
2.2.2 Standar Pelaksanaan Corporate Social Responsibility di Indonesia
Pada tahun 2001, ISO-suatu lembaga internasional dalam perumusan
standar atau pedoman, menggagaskan perlunya standar tanggungjawab sosial
perusahaan (CSR standard). Setelah mengalami diskusi panjang selama hampir 4
tahun tentang gagasan ini, akhirnya Dewan managemen ISO menetapkan bahwa
yang diperlukan adalah Standar Tanggungjawab Sosial atau Social Responcibility
Standard (ISO, 2005). CSR merupakan salah satu bagian dari SR. Tidak hanya
perusahaan yang perlu terpanggil melakukan SR tetapi semua organisasi,
termasuk pemerintah dan LSM.46 Sejak januari 2005 dibentuk kelompok kerja
ISO 26000 untuk merumuskan draf Standar SR. Definisi tanggungjawab

Sosial/Social Responsibility (SR), berdasarkan dokumen draf dokumen ISO 26000,


adalah

etika

dan

tindakan

terkait

tanggungjawab

organisasi

yang

mempertimbangkan dampak aktivitas organisasi pada berbagai pihak dengan caracara yang konsisten dengan kebutuhan masyarakat. Social Responcibility (SR)
merupakan kepedulian dan tindakan managemen organisasi pada masyarakat dan
lingkungan, disamping harus mentaati aspek legal yang berlaku. ISO 26000
memberikan prinsip-prinsip dasar, isu-isu universal dan kerangka pikir yang
menjadi landasan umum bagi penyelenggaraan SR oleh setiap organisasi, tanpa
membedakan ukuran dan jenis organisasi. ISO 26000 tidak dimaksudkan untuk
menjadi standar sistem managemen dan tidak untuk sertifikasi perusahaan. ISO
26000 juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan konsensus internasional yang
sudah ada, tetapi untuk melengkapi dan memperkuat berbagai konsensus
internasional, misalnya tentang lingkungan, hak azazi manusia, pelindungan
pekerja, MDGs, dan lain sebagainya. Prinsip Penyelenggaraan SR antara lain
terkait

dengan

pembangungan

berkelanjutan,

penentuan

dan

pelipatan

stakeholders; komunikasi kebijakan kinerja SR; penghargaan terhadap nilai-nilai


universal, pengintegrasian SR dalam kegiatan normal organisasi. Oleh karena itu,
ada tujuh isu utama dalam perumusan ISO 26000 yaitu 1) isu lingkungan, 2) isu
hak asasi manusia, 3) isu praktek ketenaga-kerjaan, 4) isu pengelolaan organisasi,
5) isu praktik beroperasi yang adil, 6) isu hak dan perlindunagn konsumen, dan 7)
isu partisipasi masyarakat, Dokumen Final ISO 26000 dipublikasi pada awal
tahun 2009. Diharapkan keberadaan ISO 26000 akan berdampak positif pada
upaya percepatan penanggulangan masalah kemiskinan, masalah pangan dan gizi,
masalah kesehatan, masalah pendidikan, dan masalah kesejahteraan sosial
(Hardiansyah, 2005;46).
Memang saat ini belum tersedia formula yang dapat memperlihatkan
hubungan praktik CSR terhadap keuntungan perusahaan sehingga banyak
kalangan dunia usaha yang bersikap skeptis dan menganggap CSR tidak memberi
dampak atas prestasi usaha, karena mereka memandang bahwa CSR hanya
merupakan komponen biaya yang mengurangi keuntungan. Praktek CSR akan
berdampak positif jika dipandang sebagai investasi jangka panjang, karena dengan

melakukan praktek CSR yang berkelanjutan, perusahaan akan mendapat tempat di


hati dan ijin operasional dari masyarakat, bahkan mampu memberikan kontribusi
bagi pembangunan berkelanjutan, (A.B Susanto, 2007:12).
Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan yang sering
diterapkan di Indonesia adalah community development. Perusahaan yang
mengedepankan konsep ini akan lebih menekankan pembangunan sosial dan
pembangunan kapasitas masyarakat sehingga akan menggali potensi masyarakat
lokal yang menjadi modal sosial perusahaan untuk maju dan berkembang. Selain
dapat menciptakan peluang-peluang sosial-ekonomi masyarakat, menyerap tenaga
kerja dengan kualifikasi yang diinginkan, cara ini juga dapat membangun citra
sebagai perusahaan yang ramah dan peduli lingkungan. Selain itu, akan tumbuh
rasa percaya dari masyarakat. Rasa memiliki perlahan-lahan muncul dari
masyarakat sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di
daerah mereka akan berguna dan bermanfaat (A.B Susanto, 2007:47).
Kepedulian kepada masyarakat sekitar komunitas dapat diartikan sangat luas,
namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi
organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan
bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar
kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan
keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibatnya
terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan, termasuk
lingkungan

hidup.

Hal

ini

mengharuskan

perusahaan

untuk

membuat

keseimbangan antara kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal


dengan kepentingan pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku
kepentingan internal, (Susanto 2003:5).
Menurut Himawan Wijanarko (2005:4) setidaknya ada tiga alasan penting
mengapa kalangan dunia usaha harus merespon dan mengembangkan isu
tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya. Pertama, perusahaan
adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan
memperhatikan kepentingan masyarakat. Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat
sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketiga,

kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau
bahkan menghindari konflik social.
Program yang dilakukan oleh suatu perusahaan dalam kaitannya dengan
tanggung jawab sosial di Indonesia dapat digolongkan dalam tiga bentuk, yaitu:
a.

Public Relations
Usaha untuk menanamkan persepsi positif kepada komunitas tentang

kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.


b.

Sterategi defensif
Usaha yang dilakukan perusahaan guna menangkis anggapan negative

komunitas yang sudah tertanam terhadap kegiatan perusahaan, dan biasanya untuk
melawan serangan negatif dari anggapan komunitas. Usaha CSR yang dilakukan
adalah untuk merubah anggapan yang berkembang sebelumnya dengan
menggantinya dengan yang baru yang bersifat positif.
c.

Kegiatan yang berasal dari visi perusahaan


Melakukan program untuk kebutuhan komunitas sekitar perusahaan atau

kegiatan perusahaan yang berbeda dari hasil dari perusahaan itu sendiri.
Sebagai contoh, terdapat sebuah perusahaan di Indonesia yang menjalankan
strategi bisnis dengan konsep 3 P yaitu Profit, memastikan bahwa tetap mampu
memenuhi permintaan dengan kualitas tinggi dan biaya murah sebagai sebuah
perusahaan internasional yang kompetitif. Konsep kedua yaitu Planet,
memastikan bahwa pelaksanaan usaha tetap melindungi keanekaragaman hayati
dan mengurangi penurunan kualitas lingkungan. Konsep ketiga People dengan
meyediakan kesempatan untuk ikut serta dalam pengentasan kemiskinan serta
menjadi tempat untuk pilihan pekerjaan. Perusahaan tersebut memiliki 6 konsep
srategi pelaksanaan CSR yaitu environment, community empowerment, improving
workplace, volunterism, stakeholders engagement dan transparency.
Penerapan CSR dimulai pada tahun 1993 dimana pelaksanaan program CD
dijalankan oleh Public Relations dengan kegiatan yang bersifat insidental dan
kedermawanan. Pada 1999 July 2005 kegiatan CD lebih mengarah ke penguatan
komunitas di bawah Departemen Community Development yang kemudian
didirikan Community Development Foundation. Pada November 2005 CSR

Department terbentuk dan pada tahun 2007 dibentuk Sustainability Director dan
menandatangani The Global Compact untuk mendukung terwujudnya tujuantujuan Millenium Development Goals (MDGs).
Secara singkat CSR dapat diartikan sebagai tanggung jawab social
perusahaan yang bersifat sukarela. CSR adalah konsep yang mendorong
organisasi untuk memiliki tanggung jawab sosial secara seimbang kepada
pelanggan, karyawan, masyarakat, lingkungan, dan seluruh stakeholder.
Sedangkan program charity dan community development merupakan bagian dari
pelaksanaan CSR. (Himawan Wijanarko, Filantrofi bukan Deterjen, Majalah
Trust, 11-17 September 2006)
Penerapan kegiatan CSR di Indonesia baru dimulai pada awal tahun 2000,
walaupun kegiatan dengan esensi dasar yang sama telah berjalan sejak tahun
1970-an, dengan tingkat yang bervariasi, mulai dari yang paling sederhana seperti
donasi sampai kepada yang komprehensif seperti terintegrasi ke dalam strategi
perusahaan dalam mengoperasikan usahanya. Belakangan melalui Undangundang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pemerintah
memasukkan pengaturan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan kedalam
Undang-Undang Perseroan Terbatas.
Secara umum, prinsip-prinsip yang berlaku dalam bisnis yang baik
sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia, dan
prinsip-prinsip ini sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masingmasing masyarakat (Majalah Bisnis Dan CSR, Oktober 2007:97). Prinsip etika
bisnis itu sendiri adalah:
1.

Prinsip otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk


mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang
apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

2.

Prinsip kejujuran.

3.

Prinsip keadilan.

4.

Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle).

5.

Prinsip integritas moral; terutama dihayati sebagai tuntutan internal


dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis

dengan tetap menjaga nama baik pimpinan/orang-orangnya maupun


perusahaannya.
Agar efektif CSR memerlukan peran civil society yang aktif (Majalah Bisnis
Dan CSR, Oktober 2007:99).. Setidaknya terdapat tiga wilayah dimana
masyarakat dapat menunjukkan perannya yaitu:
1.

Kampanye melawan korporasi yang melakukan praktik bisnis yang


tidak sejalan dengan prinsip CSR lewat berbagai aktivitas lobby dan
advokasi.

2.

Mengembangkan kompetensi untuk meningkatkan kapasitas dan


membangun institusi yang terkait dengan CSR.

3.

Mengembangkan inisiatif multi-stakeholder yang melibatkan berbagai


elemen

dari

masyarakat,

korporasi

dan

pemerintah

untuk

mempromosikandan meningkatkan kualitas penerapan CSR.


Cakupan dari ISO 26000 ini antara lain untuk membantu organisasi
organisasi menjalankan tanggung jawab sosialnya; memberikan practical
guidances yang berhubungan dengan operasionalisasi tanggung jawab sosial;
identifikasi dan pemilihan stakeholders; mempercepat laporan kredibilitas dan
klaim mengenai tanggungjawab sosial; untuk menekankan kepada hasil
performansi dan peningkatannya; untuk meningkatkan keyakinan dan kepuasan
atas konsumen dan stakeholders lainnya; untuk menjadi konsisten dan tidak
berkonflik dengan traktat internasional dan standarisasi ISO lainnya; tidak
bermaksud mengurangi otoritas pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab
sosial oleh suatu organisasi; dan, mempromosikan terminologi umum dalam
lingkupan tanggung jawab social dan semakin memperluas pengetahuan mengenai
tanggung jawab sosial.
2.3

Community Development

2.3.1 Pengertian Community Development


Community Development atau Pemberdayaan masyarakat adalah salah satu
kegiatan yang menjadi bagian dari program CSR, sebuah konsep pengembangan
atau pembangunan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya

disebut ComDev) sudah lahir sejak tahun 1960-an. Pada saat ini, banyak pihak
kemudian mengatakan inilah pemberdayaan masyarakat. Apakah Community
Development? Community Development adalah sebuah proses pembangunan
jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas,
mendukung pembangunan berkelanjutan, dan pengembangan kualitas hidup
masyarakat (United States Departement of Agriculture, 2005:117).
Secara umum community development adalah kegiatan pengembangan
masyarakat yang harus dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahakan
untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi, dan
kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan
pembangunan sebelumnya (Budimanta,2002:28)
Konsep community development merupakan istilah yang dimaksudkan untuk
mewakili

pemikiran

tentang

pengembangan

masyarakat

dalam

konteks

pembangunan sumber daya manusia ke arah kemandirian, karena tidak dapat


dipungkiri bahwa kehadiran perusahaan (privat service) di tengah kehidupan
masyarakat dengan berbagai kegiatannya menimbulkan ketidaksetaraan sosial
ekonomi anggota masyarakat lokal dengan perusahaan ataupun pendatang lainnya,
sehingga diperlukan suatu kebijakan untuk meningkatkan daya saing dan
kemandirian masyarakat lokal. Hal ini dikemukakan Rudito dan Arif Budimanta
(2003:28).
Secara hakekat community development merupakan suatu proses adaptasi
sosial budaya yang dilakukan oleh industri, pemerintah pusat dan daerah terhadap
kehidupan komuniti-komuniti lokal, artinya bahwa industri adalah sebuah elemen
dari serangkaian elemen hidup yang berlaku di masyarakat. Sebagai salah satu
elemen, berarti industri masuk dalam struktur sosial msyarakat setempat dan
berfungsi terhadap elemen lainya yang ada serta dengan kesadaranya, industri
harus dapat membawa komuniti-komuniti lokal bergerak menuju kemandiriannya
tanpa merusak tatanan sosial budaya yang sudah ada (Rudito,2003:17). Dengan
kata lain masyarakat terdiri dari komuniti lokal, komuniti pendatang dan komuniti
industri, yang kesemua komuniti tersebut saling mempengaruhi, berinteraksi dan
beradaptasi sebagai anggota masyarakat.

Untuk meningkatkan peran serta anggota masyarakat dalam kegiatan


perusahaan atau paling tidak untuk menjaga kemunculan ketidak setaraan sosial
ekonomi anggota komuniti lokal dengan perusahaan atau dengan pendatang
lainnya diperlukan suatu cara untuk meningkatkan daya saing dan mandirinya
komunit lokal. Kemudian untuk itu diperlukan suatu wadah program yang
berbasis pada masyarakat yang sering disebut dengan community development
untuk menciptakan kemandirian komuniti lokal untuk menata sosial ekonomi
sendiri. Disini tampak bahwa industri merupakan sebuah komuniti pendatang
yang berusaha didaerah komuniti lokal sebagai pemegang hak ulayat, serta
komuniti pendatang lainya yang hidup atau mencari kehidupan didaerah tersebut.
Kesemua komuniti ini dengan ciri sosial budaya serta suku

bangsa dan pola

kehidupan yang berbeda, hidup dalam satu kesatuan masyarakat (Rudito,


2003:21).
Secara umum, dapat ditarik suatu benang merah bahwa community
development dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat
yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi
sosial - ekonomi - budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan sebelum
adanya

kegiatan

pembangunan.

Sehingga masyarakat

tempatan

tersebut

diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan


yang lebih baik (Budimanta, 2003: 27)
Badaruddin (2008:132) melanjutkan pendekatan CSR hendaknya dilakukan
secara holistic, artinya, pendekatan yang dilakukan oleh perusahaan tidak dalam
kegiatan bisnis semata, melainkan juga bergerak dari yang sifatnya derma (charity)
menuju ke arah CSR yang lebih menekankan pada keberlanjutan pengembangan
masyarakat (community development). Intinya, bagaimana dengan CSR tersebut
masyarakat menjadi berdaya baik secara ekonomi, sosial, dan budaya secara
berkelanjutan (sustainability) sehingga perusahaan juga dapat terus berkembang
secara berkelanjutan.
Implementasi lebih lanjut berarti adanya kesetaraan, saling menghargai
dalam sosial budaya yang beragam atau multikultural. Kesetaraan sebagai suatu
kesatuan komunitas, saling menghargai dan mengakui adanya perbedaan yang

berarti tidak adanya usaha untuk mendominasi antar masing-masing stakeholder


yang di dalamnya terkandung pengutamaan hak azasi manusia. (Rudito, 2003:23).
Secara umum community development adalah kegiatan pengembangan masyarakat
yang dilakukan secara sistematis, terencana dan diarahkan untuk memperbesar
akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial, ekonomi dan kualitas kehidupan
yang lebih baik apabila dibandingkan dengan kegiatan pembangunan sebelumnya.
(Budimanta, 2003: 27)
2.3.2 Ruang Lingkup Community Development
Community Development atau Pemberdayaan masyarakat (Widjaja dan Ardi
Pratama, 2009:27) adalah salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari program
CSR, yang terdiri dari empat kategori ruang lingkup yaitu:
1.

Community Relation yaitu pengembangan kesepahaman melalui komunikasi


dan informasi kepada stakeholder, yang pada umumnya banyak dilakukan
kepada masyarakat setempat dan Pemerintah Daerah. Dalam kategori ini,
program lebih cenderung mengarah pada bentuk bentuk kedermawanan
(charity) perusahaan.

2.

Community Service yaitu program pemberian bantuan yang berkaitan


dengan pelayanan masyarakat atau kepentingan umum. Inti dari kategori ini
adalah memberikan kebutuhan yang ada di masyarakat dan pemecahan
masalah dilakukan oleh masyarakat itu sendiri sedangkan perusahaan
hanyalah sebagai fasilitator dari pemecahan masalah tersebut. Dalah
kategori ini, termasuk didalamnya bantuan untuk bencana alam, bantuan
prasarana umum termasuk tempat ibadah, dan peningkatan kesehatan bagi
masyarakat setempat.

3.

Community Empowering, yaitu sebuah usaha untuk memberdayakan


masyarakat sehingga memiliki akses yang baik untuk menunjang
kemandiriannya, sebagai contoh program pemberian beasiswa, peningkatan
kapasitas usaha masyarakat yang berbasis potensi setempat seperti
pembentukan usaha industri kecil lainnya yang secara alami anggota
masyarakat sudah mempunyai pranata pendukungnya dan perusahaan

memberikan akses kepada pranata sosial yang ada tersebut agar dapat
berlanjut. Dalam kategori ini, sasaran utama adalah kemandirian komunitas.
4.

Program konservasi atau pelestarian alam yaitu melakukan penghijauan


dengan memberdayakan masyarakat setempat sehingga dapat meningkatan
pendapatan para petani atau penggarap. Keseluruhan program kegiatan
community Development harus diusahakan berkesinambungan dengan
criteria keberhasilan yang jelas, dan yang terpenting harus dilakukan sesuai
dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance).

2.3.3 Karakter Community Development


Community Development atau Pemberdayaan masyarakat adalah salah satu
kegiatan yang menjadi bagian dari program CSR, yang terdiri dari tiga kategori
karakter utama Rudito dan Budimanta (2003:28) yaitu:
1.

Berbasis masyarakat atau (community based).

2.

Berbasis sumber daya setempat (local resource based).

3.

Berkelanjutan (sustainable).

2.3.4 Sasaran Community Development


Community Development atau Pemberdayaan masyarakat adalah salah satu
kegiatan yang menjadi bagian dari program CSR, yang terdiri dari dua kategori
sasaran yang ingin dicapai yaitu:
1.

Sasaran pertama yaitu kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya


pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam
proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan
(equity) dengan tidak membedakan status dan keahlian, keamanan (security),
keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation), kesemuanya
berjalan secara simultan.

2.

sedangkan sasaran kedua yaitu kesejahteraan masyarakat dapat dicapai


melalui

memberikan

solusi

perekonomian masyarakat.

untuk

menopang

sumber

pendapatan

Program community development dimaknai sebagai konsep pemberdayaan


masyarakat yang telah ditetapkan sebagai kebijakan pemerintah

untuk

memandirikan masyarakat di tengah kegiatan pembangunan. Ada tiga alasan


mengapa perusahaan dan pemerintah melaksanakan program community
development menurut Rudito dan Budimanta (2003: 30-32), yaitu:
1.

Izin lokal dalam mengembangkan hubungan dengan komuniti lokal.


Maksudnya melibatkan komuniti lokal dengan cakupan usaha
perusahaan, dan perusahaan sebagai suatu komuniti pendatang dengan
komuniti lokal secara bersama-sama memperoleh keuntungan usaha. Seperti
merekrut pekerja dari komuniti lokal, menciptakan keterkaitan usaha dengan
perusahaan-perusahaan jasa penunjang yang ada di masyarakat. Ini berarti
perusahaan akan dapat menghargai keberadaan sosial budaya komuniti lokal
setempat yang tentunya berbeda dengan kebudayaan perusahaan itu sendiri
yang didasari pada acuan nasional.
Izin lokal merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan oleh komuniti
perusahaan dalam rangka melanggengkan kegiatannya di wilayah hak
ulayat komuniti lokal sebagai bagian dari masyarakat. Sehingga izin lokal
mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan legalitas dengan
nasional dan pemerintah daerah. Apalagi dalam era reformasi dan otonomi
daerah yang memprioritaskan hak ulayat komuniti lokal.
Dengan

izin

lokal

perusahaan

dapat

meminimalkan

resiko

pengeluaran biaya yang lebih banyak terhadap kelompok anggota


masyarakat yang tergolong miskin yang ada di lokasi. Artinya perusahaan
dengan programnya dapat bekerjasama dengan komuniti-komuniti yang
ada sehingga bisa ikut terlibat dalam jenis-jenis usaha penunjang
perusahaan yang ada, sehingga pengeluaran biaya secara donor terhadap
anggota masyarakat yang tergolong miskin yang ada di sekitarnya dapat
ditanggulangi oleh adanya jasa penunjang ini.
2.

Mengatur dan menciptakan strategi ke depan melalui program community


development.

Melalui adaptasi perusahaan dengan kehidupan sosial budaya


komuniti lokal maka perusahaan dapat memperoleh dan menciptakan
strategi pengembangan usahanya dengan kerjasama yang proaktif melalui
program

community

development.

Reputasi

hubungan

baik

antara

perusahaan dan komuniti lokal dalam community development dapat


menciptakan kesempatan usaha yang baru. Terciptanya mata rantai suplai
dan usaha di antara keterkaitan komuniti-komuniti yang ada dan perusahaan
dapat melanggengkan kehidupan operasi perusahaan.
Mata rantai usaha yang dapat dibuat yang berbasis pada pranata sosial
yang ada di komuniti lokal secara fungsional dapat menunjang usaha yang
dilakukan oleh perusahaan melalui program-program yang terencana yang
terdapat dalam community development. Usaha-usaha komuniti lokal ini
selain meningkatkan pendapatan komuniti juga memudahkan perusahaan
dalam memperoleh apa yang diinginkan oleh perusahaan sebagai suatu
ikatan kerja dan usaha.
3.

Program community development sebagai cara untuk membantu pemenuhan


sasaran usaha.
Komuniti lokal walau bagaimanapun memiliki hak ulayat dari wilayah
yang ada, tetap masih termasuk ke dalam lingkungan masyarakat Indonesia,
sehingga mau tidak mau dalam melakukan interaksinya antara sesama
anggota masyarakat Indonesia akan menggunakan model kebudayaan
nasional pembangunan sebagai suatu program nasional akan diinterpretasi
oleh anggota komuniti-komuniti dan menjadikannya sebagai suatu tujuan
bersama. Begitu juga dengan usaha-usaha yang ada di masyarakat akan
mengacu pada kebudayaan nasional, segala pembangunan yang bersumber
dari nasional akan menjadi milik masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai tambahan untuk membantu perusahaan memperoleh izin lokal

untuk beroperasi, program-program community development untuk mendapatkan


sasaran usaha. Sasaran-sasaran usaha tersebut termasuk :
1.

Menangani isu pembangunan yang dapat secara langsung berakibat


pada usaha perusahaan, kesehatan masyarakat, dan pendidikan.

2.

Memfasilitas konsultasi umum dan komunikasi antara perusahaan dan


masyarakat lokal dalam isu-isu usaha, seperti kontrol polusi,
kompensasi, dan perumahan.

3.

Membangun hubungan positif dengan pemerintah daerah. Hal ini


mutlak dilakukan guna kesinambungan kegiatan pengabsahan dari
perusahaan, karena pada masa kini otonomi daerah sangat memegang
peranan penting dan perusahaan yang ada merupakan asset dalam
pemerintah daerah.

4.

Membangun hubungan baik dengan pemerintah pusat.

5.

Mengembangkan kualitas staf melalui pekerja sosial yang secara tidak


langsung maupun langsung berkenaan dengan kehidupan komuniti
lokal. Kualitas di sini dimaksudkan dengan pengetahuan tentang
kondisi sosial budaya komuniti lokal.

6.

Meningkatkan moral staf dan membangun rasa berusaha pada pekerja


lokal. Diharapkan staf dapat bekerja sama dan mempunyai keinginan
untuk bisa berkolaborasi dengan individu sebagai anggota komuniti
lokal untuk dapat mengembangkan usaha yang bersifat dan berdasar
pada komuniti lokal.

Lebih lanjut dikemukakan Rudito dan Budimanta (2003: 32-33) bahwa


program-program

community

development

mempunyai

potensi

untuk

meningkatkan nilai usaha terhadap perusahaan. Nilai usaha ini hanya dapat
dimaksimalkan ketika perusahaan merencanakan strategi program community
development melalui :
1.

Pendefinisian sasaran. Perusahaan harus dapat mengidentifikasi


keuntungan usaha potensial dari community development perusahaan.
Ini dapat menolong membentuk basis untuk merencanakan tujuan dan
sasaran dari perusahaan.

2.

Memahami harapan komuniti dan stakeholder. Memiliki pemikiran


bahwa komuniti-komuniti mempunyai harapan yang berbeda dengan
stakeholder, dan ini dapat membantu untuk meramalkan dan
menganalisa potensi konflik dan harapan-harapan secara umum.

Membuat program dan tujuan umum komuniti sehingga dapat


membantu perusahaan dan komuniti-komuniti untuk membangun
kepercayaan,

meningkatkan

kemampuan,

transparansi

dan

mendefinisikan tujuan dan sasaran bersama.


3.

Membentuk kerjasama untuk mempromosikan community development


sebagai unit usaha. Community development lebih seperti suatu hal yang
memberi keuntungan dan mendapatkan dukungan dari perusahaan jika
community development memasukkan stakeholder yang ada ke dalam
perusahaan. Senior managers, staf lingkungan, personil operasi, staf
sumber daya manusia, masyarakat dan staf hubungan masyarakat dan
organisasi pekerja, seluruhnya dapat memberi keuntungan dari program
community development yang kuat.

Community development sebagai wadah program yang berbasis rakyat


dalam konsepsi pengembangan masyarakat. Kegiatan community development
untuk lingkungan industri pada dasarnya dapat dipergunakan sebagai media
peningkatan komitmen masyarakat untuk dapat hidup berdampingan secara
simbiotik dengan entitas bisnis (perusahaan) beserta operasinya. Kedudukan
komunitas (community) dalam konsep CD pada lingkungan industri adalah
sebagai bagian dari stakeholder yang secara strategis memang diharapkan
memberikan dukungannya bagi eksistensi perusahaan.
2.4

Komunitas Perusahaan
Komunitas peusahaan atau stakeholder adalah pihak pihak yang

dipengaruhi oleh keberadaaan atau kebijakan perusahaan baik secara langsung


maupun tidak secara langsung.
Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang
hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat
bagi stakeholdernya. Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat
dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan
tersebut (Ghozali dan Chariri, 2007). Fenomena seperti ini terjadi, karena adanya

tuntutan dari masyarakat akibat negative externalities yang timbul serta


ketimpangan sosial yang terjadi (Harahap, 2002).
Tanggung jawab sosial perusahaan seharusnya melampaui tindakan
memaksimalkan laba untuk kepentingan pemegang saham (stakeholder), namun
lebih luas lagi bahwa kesejahteraan yang dapat diciptakan oleh perusahaan
sebetulnya tidak terbatas kepada kepentingan pemegang saham, tetapi juga untuk
kepentingan stakeholder, yaitu semua pihak yang mempunyai keterkaitan atau
klaim terhadap perusahaan (Untung, 2008 dalam Waryanti, 2009). Mereka adalah
pemasok, pelanggan, pemerintah, masyarakat lokal, investor, karyawan, kelompok
politik, dan asosiasi perdagangan. Seperti halnya pemegang saham yang
mempunyai hak terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan, stakeholder juga mempunyai hak terhadap perusahaan. (Waryanti,
2009)
Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan
perusahaan. Oleh karena itu power stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya
power yang dimiliki stakeholder atas sumber tersebut (Ghozali dan Chariri, 2007).
Power tersebut dapat berupa kemampuan untuk membatasi pemakaian sumber
ekonomi yang terbatas (modal dan tenaga kerja), akses terhadap media yang
berpengaruh, kemampuan untuk mengatur perusahaan, atau kemampuan untuk
mempengaruhi konsumsi atas barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan
(Deegan, 2000 dalam Ghozali dan Chariri, 2007). Oleh karena itu, ketika
stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka
perusahaan akan bereaksi dengan cara - cara yang memuaskan keinginan
stakeholder.
Dalam buku Manajemen Strategis oleh John dan Robinson, (2008:72) untuk
lebih memahami sifat dan cakupan tanggung jawab sosial yang harus
direncanakan perusahaan dapat mempertimbangkan empat jenis komitmen sosial
yaitu tanggung jawab sosial ekonomi, hukum, etika, dan diskresi.
1.

Tanggung jawab ekonomi yaitu menjadi tugas manajer sebagai agen dari
pemilik perusahaan, untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

2.

Tanggung jawab hukum yaitu suatu kewajiban perusahaan untuk mematuhi


undang-undang yang mengatur aktifitas perusahaan.

3.

Tanggung jawab etika yaitu suatu gagasan manajemen perusahaan mengenai


perilaku bisnis yang benar dan layak.

4.

Tanggung jawab diskresi yaitu tanggung jawab perusahaan secara sukarela,


seperti hubungan masyarakat, kewarganegaraan yang baik, dan tanggung
jawab sosial secara penuh.
Atas dasar argument di atas, teori stakeholder umumnya berkaitan dengan

cara-cara yang digunakan perusahaan untuk memanage stakeholdernya (Gray, et


al., 1997 dalam Ghozali dan Chariri, 2007). Cara yang dilakukan perusahaan
untuk memanage stakeholdernya tergantung pada strategi yang diadopsi
perusahaan. Organisasi dapat mengadopsi strategi aktif atau pasif. Ullman (1985)
dalam Ghozali dan Chariri (2007) mengatakan bahwa strategi aktif adalah apabila
perusahaan berusaha mempengaruhi hubungan organisasinya dengan stakeholder
yang dipandang berpengaruh/penting. Sedangkan perusahaan yang mengadopsi
strategi pasif cenderung tidak terus menerus memonitor aktivitas stakeholder dan
secara sengaja tidak mencari strategi optimal untuk menarik perhatian stakeholder.
Akibat dari kurangnya perhatian terhadap stakeholder adalah rendahnya tingkat
pengungkapan informasi sosial dan rendahnya kinerja sosial perusahaan.
Kasali (2005) membagi stakeholders, sebagai berikut:
1.

Stakeholders internal dan stakeholders eksternal.


Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada dalam lingkungan

organisasi, misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholders).


Sedangkan stakeholders eksternal adalah stakeholders yang berada diluar
lingkungan organisasi, seperti: penyalur atau pemasok, konsumen atau pelanggan,
masyarakat, pemerintah, pers, kelompok investor, dan lainnya.
2.

Stakeholders primer, stakeholders sekunder dan stakeholders marjinal.


Stakeholders primer merupakan stakeholders yang harus diperhatikan oleh

perusahaan, dan stakeholders sekunder merupakan stakeholders kurang penting,


sedangkan stakeholders marjinal merupakan stakeholders yang sering diabaikan
oleh perusahaan.

3.

Stakeholders tradisional dan stakeholders masa depan.


Karyawan dan konsumen merupakan stakeholders tradisional, karena saat

ini sudah berhubungan dengan organisasi. Sedangkan stakeholders masa depan


adalah stakeholders pada masa yang akan datang diperkirakan akan memberikan
pengaruh pada organisasi, seperti: peneliti, konsumen potensial , calon investor
(investor potensial) dan lainnya.
4.

Stakeholders Proponents, opponents, uncommitted.


Stakeholders proponents merupakan stakeholders yang berpihak kepada

perusahaan, stakeholders opponents merupakan stakeholders yang tidak memihak


perusahaan, sedangkan stakeholders uncommitted adalah stakeholders yang tak
peduli lagi terhadap perusahaan (organisasi).
5.

Silent majority dan vocal minority.


Dilihat aktivitas stakeholders dalam melakukan komplain atau dukungannya

secara vocal (aktif), namun ada pula yang menyatakan secara silent (pasif).
Lebih lanjut, Kasali (2005) membagi atas garis besar kriteria kepentingan
dan keputusan serta kepuasan stakeholders terhadap keberadaan perusahaan,
sebagaimana dalam tabel berikut:
Tabel H.2.1: Interest Stakeholders terhadap Perusahaan
No
Stakeholders
Kriteria Kepentingan dan Keputusan
1.

Shareholders

Financial Performance

2.

Employee

Salaries, Supervision & Workforce a Satisfaction

3.

Consumers

Quality, Service, Location, Price

4.

Creditors

Creditworthiness

5.

Community

Community Contributions

6.

Supplier

Equal Transactions

7.

Government

Legal Compliance

Sumber Data: Kasali (2005)

Tabel H2.1 diatas menunjukan perbedaan karakter dan kepentingan


stakeholders terhadap perusahaan, dimana mereka memiliki ukuran kepentingan
secara berbeda-beda.

Sedangkan menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, M.P.A pada bukunya


Manajemen

Internasional

(2004)

Teori

pemuasan

tuntutan

stakeholders

menunjukkan bahwa perusahaan multi nasional menghadapi tiga kelompok


stakeholders, yaitu masyarakat pada umumnya, berbagai pihak di negara asal
perusahaan, dan berbagai pihak di negara tempat perusahaan beroperasi.