You are on page 1of 17

Evelyn Reza Tjoa

TUGAS REFERAT ABSES PERITONSIL

Oleh :
Evelyn Reza Tjoa

09700103

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK
RSUD IBNU SINA GRESIK 2015

1

Gabungan dari bakteri aerob dan anaerob di daerah peritonsilar. Peradangan akan mengakibatkan terbentuknya abses dan biasanya unilateral. abses parafaring. sinus paranasal. abses retrofaring. Tempat yang biasa terjadi abses adalah di bagian pillar tonsil anteroposterior. fossa piriform inferior. mulut. Penjalaran infeksi disebabkan oleh perembesan peradangan melalui kapsula tonsil. atau abses submandibula juga termasuk abses leher bagian dalam. tenggorokan. (1) Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. telinga tengah dan leher. 2 .(2) Abses peritonsil terbentuk karena penyebaran organisme bakteri yang menginfeksi tenggorokan pada satu ruangan areolar yang longgar disekitar faring yang biasa menyebabkan pembentukan abses. dimana infeksi telah menembus bagian kapsul tonsil.(3) Peritonsillar abscess (PTA) merupakan kumpulan/timbunan (accumulation) pus (nanah) yang terlokalisir/terbatas (localized) pada jaringan peritonsillar yang terbentuk sebagai hasil dari suppurative tonsillitis. dan palatum superior. Selain abses peritonsil. dan angina ludavici (Ludwig’s angina). tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring.Evelyn Reza Tjoa BAB I PENDAHULUAN Abses peritonsil termasuk salah satu abses leher bagian dalam. Abses leher dalam terbentuk di antara fascia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber seperti gigi. Gejala dan tanda klinik setempat berupa nyeri dan pembengkakan akan menunjukkan lokasi infeksi.

dan tonsil lingual yang ketiga. tonsil palatina.tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Anatomi Tonsil (5) 3 . (4) Gambar 1.Evelyn Reza Tjoa BAB II ANATOMI TONSIL Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsil faringeal (adenoid).

Tonsil terletak di lateral orofaring. dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris. Dibatasi oleh: (2)  Lateral  Muskulus konstriktor faring superior  Anterior  Muskulus palatoglosus  Posterior  Muskulus palatofaringeus  Superior  Palatum mole  Inferior  Tonsil lingual Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila.1 Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring.Evelyn Reza Tjoa Gambar 2. masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Cincin Waldeyer (6) 2. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang 4 .

yaitu 1. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus. Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik. Arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteritonsilaris dan arteri palatina asenden 2. Arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden 3. Arteri faringeal asenden Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden.(1) Gambar 3. (3) 2. diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal. Tonsilla Palatina (7) 2. batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior.Evelyn Reza Tjoa kriptus. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina 5 .2 Fosa Tonsil Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring. Arteri lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal 4. yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus.3 Pendarahan Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna. pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal.

Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. (3) Vaskularisasi Tonsil (7) Gambar 4.1 Definisi Abses peritonsil sering disebut sebagai Peritonsillar Abscess (PTA) atau Quinsy adalah suatu rongga yang berisi nanah didalam jaringan peritonsil yang terbentuk sebagai hasil dari tonsillitis supuratif. ABSES PERITONSIL 4. vena lidah dan pleksus faringeal.Evelyn Reza Tjoa desenden.(11) 6 .

Staphylococcus aureus. Prevotella. Untuk kebanyakan abses peritonsil diduga disebabkan karena kombinasi antara organisme aerobik dan anaerobik. herpes simplex. 4. Porphyromonas. tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan nafas yang signifikan pada anak-anak. dan Haemophilus influenzae.2 Etiologi Abses peritonsil terjadi sebagai akibat dari komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil. 7 . influenza A dan B. Sedangkan organisme anaerob yang berperan adalah Fusobacterium. dan parainfluenza.(11) Sedangkan virus yang dapat menyebabkan abses peritonsil antara lain Epstein-Barr. Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsil adalah Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptoccus). adenovirus. Biasanya kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsilitis. namun paling sering terjadi pada umur 20-40.Evelyn Reza Tjoa Gambar 7. Abses peritonsil sinistra (12) 4. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya.3 Prevalensi Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Dari kiri ke kanan : Abses peritonsil dextra. dan Peptostreptococcus sp.(4) Abses peritonsil disebabkan oleh organisme yang bersifat aerob maupun yang bersifat anaerob. Abses peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun.

8 . depan. namun jarang. 4. Abses peritonsil akan menggeser kutub superior tonsil ke arah garis tengah dan dapat diketahui derajat pembengkakan yang ditimbulkan di palatum mole. Abses peritonsil dapat juga merupakan suatu gambaran (presentation) dari infeksi virus Epstein-Barr (mononucleosis). Abses peritonsil juga dapat terbentuk di bagian inferior. Terdapat riwayat faringitis akut. teori yang paling banyak diterima adalah kemajuan (progression) episode tonsilitis eksudatif pertama menjadi peritonsilitis dan kemudian terjadi pembentukan abses yang sebenarnya (frank abscess formation).000 orang per tahun. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100. oleh karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati daerah ini. Abses dapat pecah spontan.(4) Bila proses terus berlanjut. pterigoid interna. sehingga tampak palatum mole membengkak. Bila proses berlanjut. peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m. waktu dari onset gejala sampai terjadinya abses sekitar 2-8 hari. abses peritonsil terbukti dapat timbul de novo tanpa ada riwayat tonsilitis kronis atau berulang (recurrent) sebelumnya. kemungkinan hampir 45.(4) Selain itu. bawah.000 kasus setiap tahun. Pembengkakan peritonsil akan mendorong tonsil ke tengah.4 Patologi Patologi abses peritonsil belum diketahui sepenuhnya. selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis. Pada stadium permulaan (stadium infiltrat). Kebanyakan pasien menderita nyeri hebat. sehingga dapat terjadi aspirasi ke paru. Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar. dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan atau faring unilateral yang semakin memburuk. (1) 4.5 Gejala Klinik Gejala klasik dimulai 3-5 hari. tonsilitis. dan uvula bengkak terdorong ke sisi kontra lateral. Namun.Evelyn Reza Tjoa Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. terjadi supurasi sehingga daerah tersebut lebih lunak dan berwarna kekuning-kuningan. sehingga timbul trismus.

pasien sering mengeluhkan nyeri leher dan terbatasnya gerakan leher (torticolis). rasa lemah. trismus menandakan adanya inflamasi dinding lateral faring dan m. Pada pemeriksaan kavum oral didapatkan hiperemis. mulut berbau (foetor ex orae). 4. Sesak akibat perluasan edema ke jaringan laring jarang terjadi. Tonsil hiperemis. Abses peritonsil biasanya unilateral dan terletak di pole superior dari tonsil yang terkena. mengunyah terasa sakit karena m. disfagia. Riwayat adanya faringitis akut yang disertai tonsilitis dan rasa kurang nyaman pada pharingeal unilateral. 2. Adanya riwayat pasien mengalami nyeri pada tenggorokan adalah salah satu yang mendukung terjadinya abses peritonsil. dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus) yang bervariasi. dan odinofagia yang menyolok dan spontan. Bila kedua tonsil terinfeksi maka gejala sesak nafas lebih berat dan lebih menakutkan. dan pemeriksaan penunjang. mungkin banyak detritus dan terdorong ke arah tengah. depan. eksudasi. muntah (regurgitasi). suara sengau (rinolalia) (4) karena oedem palatum molle yang terjadi karena infeksi menjalar ke radix lingua dan epiglotis atau oedem perifokalis.6 Diagnosis Diagnosis ditegakkan dari anamnesis. Inspeksi terperinci daerah yang membengkak mungkin sulit karena ketidakmampuan pasien membuka mulut. Hot potato voice. Pernafasan terganggu biasanya akibat pembengkakan mukosa dan submukosa faring.Evelyn Reza Tjoa Gejala yang dikeluhkan pasien antara lain demam. 1. dan bawah. banyak ludah (hipersalivasi). sakit kepala. Akibat limfadenopati dan inflamasi otot. nyeri telinga (otalgia) ipsilateral. Masseter menekan tonsil yang meradang. Didapatkan pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar regional. sehingga menimbulkan spasme muskulus tersebut. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan tonsilitis akut dengan asimetri faring. Keparahan dan progresivitasnya ditunjukkan dari trismus. dehidrasi. mulut berbau (foetor ex ore). Pterigoid interna. Uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontralateral. di fossa 9 . pemeriksaan fisik. Anamnesis Informasi dari pasien sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis abses peritonsil.

Gold standart pemeriksaan yaitu dengan melakukan aspirasi jarum (needle aspration). dengan edema dari palatum mole dan penonjolan jaringan dari garis tengah. Aspirasi material yang purulen merupakan tanda khas. Jika hasilnya positif.Evelyn Reza Tjoa supratonsiler. Pada penderita abses peritonsil perlu dilakukan pemeriksaan:  Hitung darah lengkap (complete blood count). Diagnosis jarang diragukan jika pemeriksa melihat pembengkakan peritonsilaris yang luas. dan kultur darah (blood cultures). pengukuran kadar elektrolit (electrolyte level measurement). untuk mencegah timbulnya resistensi antibiotik. Mukosa di lipatan supratonsiler tampak pucat dan bahkan seperti bintil-bintil kecil. Pemeriksaan Penunjang Nasofaringoskopi dan laringoskopi fleksibel direkomendasikan untuk penderita yang mengalami gangguan pernafasan. Hasilnya dapat digunakan untuk pemilihan antibiotik yang tepat dan efektif. Liver function tests perlu dilakukan pada penderita dengan hepatomegaly. Tempat yang akan dilakukan aspirasi di anestesi dengan menggunakan lidokain atau epinefrin dengan menggunakan jarum berukuran 16-18 yang biasa menempel pada syringe berukuran 10 cc. dan material dapat dikirim untuk dibuat biakannya sehingga dapat diketahui organisme penyebab infeksi demi kepentingan terapi antibiotika.  Plain radiographs adalah foto pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari nasopharyng dan oropharyng dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal. 3. penderita memerlukan evaluasi/penilaian hepatosplenomegaly. 10 . (1) Asimetri palatum mole.  Throat culture atau throat swab and culture diperlukan untuk identifikasi organisme yang infeksius.  Tes Monospot (antibodi heterophile) perlu dilakukan pada pasien dengan tonsillitis dan bilateral cervical lymphadenopathy. tampak membengkak dan menonjol ke depan. mendorong uvula melewati garis tengah. serta pada palpasi palatum mole teraba fluktuasi.

Foto lateral soft tissue dengan gambaran abses peritonsil  Computerized tomography (CT scan) biasanya tampak kumpulan cairan hypodense di apex tonsil yang terinfeksi menandakan adanya cairan pada tonsil yang terkena disamping itu juga dapat dilihat pembesaran yang asimetris pada tonsil. 11 .Evelyn Reza Tjoa Gambar 8. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk rencana operasi.

Ultrasonografi dari abses peritonsil 12 . merupakan teknik yang simple dan noninvasif dan dapat membantu dalam membedakan antara selulitis dan awal dari abses. contohnya: intraoral ultrasonography.5 %. Pemeriksaan ini juga bias menentukan pilihan yang lebih terarah sebelum melakukan operasi dan drainase secara pasti. Transcutaneous ultrasonografi mempunyai sensifitas 80% dan spesifisitas 92. CT Scan dari Abses peritonsil dextra  Peripheral Rim Enhancement Ultrasound.Evelyn Reza Tjoa Gambar 9. Intraoral ultrasonografi mempunyai sensifitas 95.8 %.2 % dan spesifitas 78. Gambar 10.

8 Terapi Beberapa macam terapi yang selama ini dikenal adalah : a) Pemberian antibiotika dosis tinggi dan obat simtomatik. c) Insisi dan mengeluarkan nanah disertai pemberian antibiotika secara parenteral atau peroral.Evelyn Reza Tjoa 4. Penisilin merupakan drug of chioce pada abses peritonsil dan efektif pada 98% kasus jika dikombinasikan dengan 13 . nyeri tenggorok. Abses retrofaring 2. diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat. serta terbatasnya gerakan membuka mulut merupakan keluhan yang paling umum. Pemilihan antibiotik yang tepat tergantung dari hasil kultur mikroorganisme pada aspirasi jarum. d) Segera tonsilektomi disertai pemberian antibiotika parenteral. Abses parafaring 3. b) Pungsi dan aspirasi disertai antibiotik parenteral. Abses submandibula 4. Juga perlu kumur-kumur dengan cairan hangat dan kompres dingin pada leher. diberikan antibiotika dosis tinggi. (4) 4. Hal ini karena pada semua penyakit abses leher dalam. dan obat simtomatik. e) Pemberian steroid. Angina ludovici Abses peritonsil dapat di diagnosis banding dengan penyakit-penyakit abses leher dalam lainnya yang disebutkan diatas. Untuk membedakan abses peritonsil dengan penyakit leher dalam lainnya. Pada stadium infiltrasi. demam.7 Diagnosis Banding 1.

Bila telah terbentuk abses. dan anak 12.5 mg/kg selama 1 jam diberikan selama 6-8 jam dan tidak boleh lebih dari 4 gr/hari. dilakukan pungsi pada daerah abses. atau pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar uvula dengan geraham atas terakhir. maka untuk mengatasi nyeri. kemudian di insisi untuk mengeluarkan nanah. Intraoral incision dan drainase dilakukan dengan mengiris mukosa overlying abses. (4) Tonsilektomi merupakan indikasi absolut pada orang yang menderita abses peritonsil berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya. yaitu 2-3 minggu sesudah drainase abses. Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang. dan bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah drainase abses disebut tonsilektomi “a” froid. Dosis untuk penisilin pada dewasa adalah 600 mg IV tiap 6 jam selama 12-24 jam. Metronidazole dosis awal untuk dewasa 15 mg/kg dan dosis penjagaan 6 jam setelah dosis awal dengan infus 7.Evelyn Reza Tjoa metronidazole.000 U/Kg tiap 6 jam. Tempat insisi ialah di daerah yang paling menonjol dan lunak. Abses peritonsil mempunyai 14 . diberikan analgesia lokal di ganglion sfenopalatum. Insisi Abses Peritonsil (4) Bila terdapat trismus. biasanya diletakkan di lipatan supratonsillar. Kemudian pasien dinjurkan untuk operasi tonsilektomi “a” chaud.500-25. Gambar 11. Drainase atau aspirate yang sukses menyebabkan perbaikan segera gejalagejala pasien. Bila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut tonsilektomi “a” tiede.

nyeri tenggorokan (throat pain).Evelyn Reza Tjoa kecenderungan besar untuk kambuh. (1) 4. Penelitian terbaru yang dilakukan Ozbek mengungkapkan bahwa penambahan dosis tunggal intravenous dexamethasone pada antibiotik parenteral telah terbukti secara signifikan mengurangi waktu opname di rumah sakit (hours hospitalized). atau piemia. mengakibatkan perdarahan.9 Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi ialah: (4)  Abses pecah spontan. sedangkan sebagian lagi menganjurkan tonsilektomi segera. Angka kekambuhan yang mengikuti episode pertama abses peritonsiler berkisar antara 0% sampai 22%. demam. 15 . Sampai saat ini belum ada kesepakatan kapan tonsilektomi dilakukan pada abses peritonsil. Sebagian penulis menganjurkan tonsilektomi 6–8 minggu kemudian mengingat kemungkinan terjadi perdarahan atau sepsis. dan trismus dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberi antibiotik parenteral. aspirasi paru. (2) Gambar 12. Tonsilektomi Penggunaan steroid masih kontroversial.

 Peritonsilitis kronis dengan aliran pus yang berjeda.10 Prognosis Abses peritonsil merupakan penyakit yang jarang menyebabkan kematian kecuali jika terjadi komplikasi berupa abses pecah spontan dan menyebabkan aspirasi ke paru. biasanya terdapat jaringan fibrosa dan granulasi pada saat operasi. 4.  Akibat tindakan insisi pada abses. Beratnya komplikasi tergantung dari kecepatan progresi penyakit.Evelyn Reza Tjoa  Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring.  Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial. Sejumlah komplikasi klinis lainnya dapat terjadi jika diagnosis abses peritonsil diabaikan. maka ditunda sampai 6 minggu berikutnya. Untuk itulah diperlukan penanganan dan intervensi sejak dini. meningitis. terjadi perdarahan pada arteri supratonsilar.  Sekuele post streptokokus seperti glomerulonefritis dan demam rheumatik apabila bakteri penyebab infeksi adalah Streptococcus Group A. (14) Abses peritonsil hampir selalu berulang bila tidak diikuti dengan tonsilektomi. dan abses otak. 16 . dapat mengakibatkan thrombus sinus kavernosus. Pada saat tersebut peradangan telah mereda. Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. Selain itu komplikasi ke intrakranial juga dapat membahayakan nyawa pasien. sehingga terjadi abses parafaring.  Kematian walaupun jarang dapat terjadi akibat perdarahan atau nekrosis septik ke selubung karotis atau carotid sheath.

308-09. 2008. 6. Available from. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. darnila.patient. Soepardi. Penyakit Telinga. Adams. 2000. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.A.Evelyn Reza Tjoa DAFTAR PUSTAKA 1.Hatmansjah. Petrus. MD. 7. Buku Ajar Penyakit THT. MD. Mehta. 1233-34. P :1224.aafp. Dalam: Boies. and Adenoidectomy.N. Iskandar. 1993. M. accessed: http://www. 2. STEYER. Fachruddin.kabarindonesia. Tips Praktis Mengenali Abses Peritonsil. Dito. Byron J. EGC. 3.co. 2002. H.php?pil=3&dn=20080125161248. Ninfa. Jakarta. Jakarta. 89.uk/showdoc/40000961/. 9. Lippincott_Raven Publisher. 1986. Adrianto. 17 . 10. 8. 5.emedicine. Preston. Anurogo. EGC.E. Peritonsillar Abscess (Quinsy). G.com. Tonsillitis. Bailey. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan. www.L. hal.html. Peritonsillar Abscess. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Telinga-Hidung-Tenggorokan. Accessed: http://www.org/afp/20020101/93. 296. Tonsilektomi. Tonsillectomy. hal. Hidung dan Tenggorokan. Cermin Dunia Kedokteran Vol.com/berita. 4. 1997.333. Peritonsillar Abscess: Diagnosis and Treatment. E. Penyakit-Penyakit Nasofaring Dan Orofaring. 2008. accessed: http://www. hal : 19-21. Abses Leher Dalam. Jakarta: FKUl. Philadelphia. 2006. 185-89. 185. Hidung dan Tenggorokan. T. Accessed at Juli 2007. Abses Peritonsiler. In : Head and Neck Surgey-Otolaryngology 2nd Edition.