You are on page 1of 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kelimpahan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Gangguan Mania.
Referat ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti kepanitraan Klinik
dibagian ilmu kedokteran kejiwaan RSJD Surakarta.
Penulis sangat menyadari dalam penyusunan dan penulisan referat ini ada banyak sekali
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun
untuk perbaikan dan memperluas wawasan penulis.
Sekian saja kata pengantar dari penulis,semoga referat ini dapat memberi tambahan ilmu
bagi penulis sendiri khususnya dan dapat memberikan manfaat bagi yang membaca referat ini.

Semarang, 11 Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI .. 2
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .. 3
2. Tujuan dan Manfaat 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Definisi
Epidemiologi.
Etiologi ....
Gambaran Klinis ..
Diagnosis ..
Penatalaksanaan.
Prognosis

5
5
5
7
9
12
17

BAB III KESIMPULAN 18


BAB IV PENUTUP.. 19
DAFTAR PUSTAKA . 20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Gangguan mood meliputi sekelompok besar gangguan, dengan mood patologis
serta gangguan yang terkait mood yang mendominasi gambaran klinisnya. Istilah
gangguan mood yang dalam edisi Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders( DSM) sebelumnya dikenal sebagai gangguan afektif, saat ini lebih disukai
karena istilah ini mengacu pada keadaan emosi yang menetap, bukan hanya ekspresi
eksternal (afektif) pada keadaan emosional sementara. Gangguan mood paling baik
dianggap sebagai sindrom (bukannya penyakit terpisah), yang terdiri atas sekelompok
tanda dan gejala yang bertahan selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, yang
menunjukkan penyimpangan nyata fungsi habitual seseorang serta kecenderungan untuk
kambuh, sering dalam bentuk periodik atau siklik. Mood dapat normal, meningkat, atau
menurun. Orang normal dapat mengalami berbagai variasi mood yang luas dan memiliki
berbagai ekspresi afektif yang sama besarnya; mereka kurang lebih merasa dibawah
kendali mood dan afek. Pada gangguan mood, pengendalian hilang dan terdapat
pengalaman subjektif akan adanya penderitaan yang berat.[1]
Gangguan suasana perasaan (gangguan mood afektif) merupakan sekelompok
penyakit yang biasanya mengarah ke depresi atau elasi (suasana perasaan yang
meningkat). Afek yang meningkat dengan peningkatan aktivitas fisik dan mental yang
berlebihan serta perasaan gembira luar biasa yang secara keseluruhan tidak sebanding
dengan peristiwa yang terjadi merupakan karakteristik dari mania.Pasien dengan mood
yang meninggi menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat,
penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri dan gagasan kebesaran. Bentuk mania
yang lebih ringan disebut hipomania. Mania dan hipomania agak sulit ditemukan karena
kegembiraan jarang mendorong seseorang untuk berobat ke dokter. Pada penderita mania
sebagian besar tidak menyadari adanya sesuatu yang salah dengan kondisi mental
maupun perilakunya. [2]

1.2.

TUJUAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dalam Kepaniteraan Klinik bagian
ilmu Psikiatri Program Pendidikan Profesi Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung
Semarang.

1.3.

MANFAAT
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfat bagi kalangan umum
dan mahasiswa dalam memahami gangguan suasana perasaan (gangguan mood [afektif]),
Gangguan mania, memahami etiologi dan patogenesis, manifestasi klinis, pemeriksaan
status mental, penegakan diagnosis, pengelolaan dan penatalaksanaan secara efektif dan
efisien serta menentukan prognosisnya.

BAB II
PEMBAHASAN
I.

DEFINISI
Mania merupakan suatu episode meningkatnya afek seseorang yang jelas,
abnormal, menetap, ekspansif, atau iritabel. Afek yang abnormal ini membuat fungsi
harian pasien menjadi terganggu karena gangguan pada daya pertimbangan lingkungan
Menurut PPDGJ III, episode mania merupakan suatu kesamaan karakteristik dalam afek
meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental
dalam berbagai derajat keparahan. [3,] [4]

II.

EPIDEMIOLOGI.
Mania merupakan suatu gangguan afektif dengan persentasi 12 % dari seluruh
gangguan afektif. Onset rata-rata umur pada pasien dewasa dengan mania adalah 55
tahun dengan perbandingan jumlah pria dan wanita 2 : 1. Prevalensi timbulnya mania
sekitar 0,1% pertahun.[4] Biasanya gangguan mania lebih sering pada pasangan yang
sudah bercerai atau

belum menikah dibandingkan dengan pasien yang

menikah.

Gangguan mania juga dikatakan dialami oleh golongan sosioekonomi yang tinggi dan
pada pasien yang kurang taraf pendidikannya, sebagai contoh mahasiswa lebih jarang
mengalami gangguan ini dibanding dengan orang yang rendah pendidikannya.[5]
III.

ETIOLOGI
1. FAKTOR BIOLOGIS
a. Neurotransmitter
Teori biologik untuk gangguan mania memfokuskan pada abnormalitas norepinefrin
(NE) dan serotonin (5-HT). Hipotesis katekolamin menyatakan peningkatan NE di
otak menyebabkan mania. Hipotesis indolamin pula menyatakan bahwa peningkatan
neurotransmiter serotonin (5-HT) pada otak menyebabkan juga dapat menyebabkan
mania. Hipotesis lain menyatakan bahwa peningkatan NE menyebabkan mania,
hanya bila kadar serotonin 5-HT rendah. [5]

Selain itu, penelitian-penelitian juga menunjukksan adanya kelompok neurotransmiter


lain yang berperan penting pada timbulnya mania, yaitu golongan neuropeptida,
termasuk endorfin, somatostatin, vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa
neurotransmiter-neurotransmiter

ini,

dalam

beberapa

cara,

tidak

seimbang

(unbalanced) pada otak individu mania dibanding otak individu normal.Misalnya,


GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal pada pasien
mania. Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan
hiperaktivitas dan agresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan
trisiklik dan MAO inhibitor yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang timbulnya
mania, dan antipsikotik yang mem-blok reseptor dopamin yang menurunkan kadar
dopamin bisa memperbaiki mania, seperti juga pada skizofrenia.[6]
b. Genetik
Data genetik dengan kuat menyatakan bahawa suatu faktor yang penting di dalam
perkembangan gangguan mood adalah genetika, tetapi pola penurunan genetika
adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks, bukan saja tidak mungkin untuk
menyingkirkan efek psikososial, tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan
peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa
orang. [6]
Data keluarga menunjukkan bahwa jika satu orang tua memiliki gangguan mood,
anak akan memiliki risiko antara 10 - 25 % untuk gangguan mood. Jika kedua orang
tua yang terkena, risiko ini berlipat ganda. Lebih banyak anggota keluarga yang
terpengaruh, semakin besar risikonya untuk anak. Risikonya juga lebih besar jika
anggota keluarga dekat terkena dibanding kerabat jauh.[5]
Data kembar pula memberikan bukti yang kuat bahwa gen hanya menjelaskan 50
sampai 70 persen dari etiologi gangguan mood. Satu studi menemukan tingkat
kesesuaian untuk gangguan mood dalam (MZ) kembar monozigot adalah 70 hingga
90 persen dibandingkan dengan dizigotik sesama jenis (DZ) kembar yang hanya 16
hingga 35 persen.[5]

2. FAKTOR PSIKOSOSIAL
Faktor psikososial terdiri dari 3 faktor yang utama yaitu faktor lingkungan, faktor
kepribadian, dan faktor psikodinamik mania. [5]
a.

Faktor Lingkungan

Pengamatan klinis menunjukkan bahwa peristiwa kehidupan yang penuh stres lebih
sering mendahului episode gangguan mood seperti gangguan mania [5]
b. Faktor Kepribadian
Tidak ada ciri kepribadian tunggal atau khusus untuk seseorang yang mengalami
gangguan mania; semua manusia, apapun pola kepribadian, bisa menjadi tertekan dan
dalam keadaan yang sesuai mengalami gangguan yang sama. Orang dengan
kepribadian tertentu seperti kepribadian antisosial atau menurut PPDGJ III gangguan
kepribadian dissosial mungkin menghadapi risiko lebih besar untuk mengalami
gangguan mania dibandingkan orang dengan gangguan kepribadian paranoid atau
cemas.[5]
c. Faktor Psikodinamika
Kebanyakan teori-teori episode manik mania dipandang sebagai pertahanan terhadap
depresi yang mendasarinya. Abraham, misalnya, percaya bahwa episode manik
mungkin mencerminkan ketidakmampuan untuk mentolerir tragedi perkembangan,
seperti kehilangan orangtua. Keadaan manik juga mungkin akibat dari superego
tirani, yang menghasilkan kritik-diri yang kemudian digantikan oleh euforia kepuasan
diri. Bertram Lewin dianggap ego pasien manik sebagai kewalahan oleh impuls
menyenangkan, seperti seks, atau dengan impuls ditakuti, seperti agresi. Klein juga
melihat mania sebagai reaksi defensif terhadap depresi,dengan menggunakan
pertahanan manik seperti kemahakuasaan, di mana seseorang mengembangkan
delusion of grandeur[5]
IV . GAMBARAN KLINIS

Deskripksi umum

Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang-kadang mengelikan dan sering
hiperaktif.

Mood, afek dan perasaan

Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki toleransi yang rendah dan
mudah frustasi yang dapat menyebabkan perasaan marah dan permusuhan. Secara emosional
mereka sangat labil, mudah beralih dari tertawa menjadi marah kemudian menjadi depresi
dalam hitungan menit atau jam.

Bicara:

Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel dan

menjadi pengganggu bagi orang-orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas, pembicaraan


penuh dengan gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata-kata dan hal-hal yang tidak relevan.
Saat tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi longgar kemampuan konsentrasi
menghilang menyebabkan gagasan yang meloncat-loncat (flight of idea), gado-gado kata dan
neologisme. Pada keadaan manik akut pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan
tidak dapat dibedakan dari pembicaraan skizofrenik.

Gangguan persepsi :

Waham ditemukan pada 75% pasien manik.Waham sesuai mood seringkali

melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa. Dapat juga ditemukan
waham dan halusinasi aneh yang tidak sesuai mood.

Pikiran:

Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali

perhatiannya mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang tidak
terkendali.

Sensorium dan kognisi:

Secara umum, orientasi dan daya ingat masih intak walaupun beberapa pasien manik
mungkin sangat euforik sehingga mereka menjawab secara tidak tepat. Gejala tersebut
disebut mania delirium (delirious mania) oleh Emil Kraepelin.

Pengendalian impuls:

Kira-kira 75% pasien manik senang menyerang atau mengancam.

Perimbangan dan tilikan:

Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien manik. Mereka mungkin

dapat melanggar peraturan.

Reliabilitas:
8

Pasien manik sulit untuk dipercaya. Kebohongan dan penipuan sering ditemukan

pada pasien mania. [2]


V. DIAGNOSIS
PPDGJ III
Menurut PPDGJ III, gangguan suasana perasaan (gangguan mania) dibagi menjadi: [3]
F30 EPISODE MANIK
Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam
jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan.
Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal (yang pertama), termasuk gangguan
afektif bipolar, episode manik tunggal. Jika ada episode afektif (depresi, manik atau
hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya, termasuk gangguan afektif bipolar. (F31).
F30.0 Hipomania
Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania (F30.1), afek yang meninggi atau berubah
disertai peningkatan aktivitas,nbmenetap selama sekurang-kurangnya beberapa hari
berturut- turut,pada suatu derajat intensitas dan yang bertahan melebihi apa yang
digambarkan bagi siklotimia (F34.0), dan tidak disertai halusinasi atau waham.
Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai dengan
diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat atau menyeluruh, maka
diagnosis mania (F30.1 atau F30.2) harus ditegakkan.
F30.1 Mania Tanpa Gejala Psikotik
Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai
mengacaukan seluruh atau hamper seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa
dilakukan.
Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas
berlebihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide
perihal kebesaran/ grandiose ideas dan terlalu optimistik.
F30.2 Mania Dengan Gejala Psikotik

Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (mania tanpa
gejala psikotik).
Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham
kebesaran (delusion of grandeur), irritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar
(delusion of persecution). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut
(mood congruent).
F30.8 Episode Manik Lainnya
F30.9 Episode Manik YTT
DSM-III-R
Berdasarkan tabel Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder DSM-IVTR , Episode Manik. [4]
A. Periode terpisah yang secara abnormal dan persisten meningkat, ekspansif, atau iritabel
yang berlangsung setidaknya 1 minggu (atau berapapun lama waktunya jika memerlukan
rawat inap)
B. Selama periode gangguan mood , tiga atau lebih gejala berikut telah ada (empat gejala
jika mood hanya iritabel dan signifikan ;
Harga diri yang membumbung atau rasa kebesaran
Berkurangnya kebutuhan tidur ( cth, merasa lelah beristirahat setelah tidur
hanya 3 jam )
Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus
berbicara
Flight of ideas atau pengalaman subjektif bahwa pikirannya saling
berlomba
Perhatian mudah teralih
Meningkatnya aktivitas yang berorientasi tujuan (baik secara social,
ditempat kerja atau sekolah, maupun secara seksual) atau agitasi psikomotor
Keterlibatan yang berlebihan didalam aktivitas yang menyenangkan dan
berpotensi tinggi memiliki akibat menyakitkan (cth. Terlibat dalam kegiatan
10

berbelanja yang tidak bias ditahan, tindakan seksual yang tidak bijaksana dan
investasi bisnis yang bodoh
C. Gejala tidak memenuhi criteria episode campuran.
D. Gangguan mood cukup berat hingga menyebabkan hendaya nyata fungsi pekerjaan
maupun aktivitas atau hubungan social yang biasa dengan orang lain, atau memerlukan
rawat inap untuk mencegah mencelakakan diri sendiri dan orang lain, atau terdapat cirri
psikotik
E. Gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologis langsung suatu zat (cth. Obat yang
disalahgunakan, obat, atau terapi lain atau kondisi medis umum
Catatan : Episode menyerupai manik yang secara nyata disebabkan terapi antidepresan
somatic (cth. Obat, terapi elektrokonvulsif, terapi cahaya) sebaiknya tidak dimasukkan
kedalam diagnosis Bipolar I.
Berdasarkan tabel Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder DSM-IVTR , Episode Hipomanik
A. Periode terpisah yang secara abnormal dan persisten meningkat, ekspansif, atau
iritabel yang berlangsung setidaknya 1 minggu (atau berapapun lama waktunya jika
memerlukan rawat inap)
B. Selama periode gangguan mood , tiga atau lebih gejala berikut telah ada (empat gejala
jika mood hanya iritabel dan signifikan ;
Harga diri yang membumbung atau rasa kebesaran
Berkurangnya kebutuhan tidur ( cth, merasa lelah beristirahat setelah tidur
hanya 3 jam )
Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus
berbicara
Flight of ideas atau pengalaman subjektif bahwa pikirannya saling
berlomba
Perhatian mudah teralih
11

Meningkatnya aktivitas yang berorientasi tujuan (baik secara social,


ditempat kerja atau sekolah, maupun secara seksual) atau agitasi psikomotor
Keterlibatan yang berlebihan didalam aktivitas yang menyenangkan dan
berpotensi tinggi memiliki akibat menyakitkan (cth. Terlibat dalam kegiatan
berbelanja yang tidak bias ditahan, tindakan seksual yang tidak bijaksana dan
investasi bisnis yang bodoh
C. Episode ini disertai perubahan jelas fungsi yang tidak khas pada orang tersebut ketika
tidak bergejala
D. Gangguan mood dan perubahan fungsi dapat diamati orang lain
E. Episode ini tidak cukup berat untuk menimbulkan hendaya nyata fungsi pekerjaan
maupun aktivitas atau hubungan social yang biasa dengan orang lain, atau
memerlukan rawat inap dan tanpa ciri psikotik
F. Gejala tidak disebabkan pengaruh fisiologis langsung suatu zat (cth. Obat yang
disalahgunakan, obat, atau terapi lain atau kondisi medis umum
Catatan : Episode menyerupai hipomanik yang secara nyata disebabkan terapi
antidepresan somatic (cth. Obat, terapi elektrokonvulsif, terapi cahaya) sebaiknya tidak
dimasukkan kedalam diagnosis Bipolar II.

VI.

PENATALAKSANAAN
1. PSIKOFARMAKA
Antimania yang juga disebut sebagai mood modulator atau mood stabilizer
merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gejala sindrom mania dan mencegah
berubah-ubahnya suasana hati pasien. Episode berubahnya mood pada umumnya tidak
berhubungan dengan peristiwa peristiwa kehidupan. Gangguan biologis yang pasti belum
diidentifikasi tapi diperkirakan berhubungan dengan peningkatan aktivitas katekolamin.
Berdasarkan hipotesis, sindrom mania disebabkan oleh tingginya kadar serotonin dalam
celah sinaps neuron khususnya pada sistem limbik. [2]
12

1) Lithium
Lithium adalah kation monovalen yang kecil. Telah lama dikenal bahwa lithium
merupakan pengobatan yang paling disukai pada gangguan manik. Angka
keberhasilannya pada remisi pasien dengan fase manik dilaporkan mencapai 60-80%.
Sampai saat ini lithium karbonat dikenal sebagai obat gangguan bipolar terutama
pada fase manik. Pengobatan jangka panjang menunjukkan penurunan resiko bunuh diri.
Bila mania masih tergolong ringan, lithium sendiri merupakan obat yang efektif. pada
kasus berat, hampir selalu perlu ditambah clonazepam atau lorazepam dan kadang
ditambah antipsikosis juga. Setelah mania dapat teratasi, antipsikosis boleh dihentikan
dan lithium digunakan bersamaan dengan benzodiazepine untuk pemeliharaan. [2]
Efek Samping
Efek neurologis: tremor, koreoatetosis, hiperaktivitas motorik, ataksia,
disartria dan afasia.
Efek pada fungsi tiroid: dapat menurunkan fungsi kelenjar tiroid tapi
efeknya reversibel dan nonprogresif. Beberapa pasien mengalami pembesaran
kelenjar gondok dan gejala-gejala hipotiroidisme. Oleh sebab itu perlu dilakukan
pengukuran kadar TSH serum setiap 6-12 bulan.
Efek pada ginjal: polidipsi dan poliuri sering ditemukan namun bersifat
reversibel. Beberapa literatur menerangkan bahwa terapi lithium jangka panjang
dapat menyebabkan disfungsi ginjal termasuk nefritis interstitial kronis dan
glomerulopati perubahan minimal dengan sindrom nefrotik. Penurunan laju filtrasi
glomerulus telah ditemukan tapi tidak ada contoh mengenai azotemia maupun gagal
ginjal. Tes fungsi ginjal harus dilakukan secara periodik untuk mendeteksi perubahanperubahan pada ginjal.
Edema: Hal ini mungkin terkait dengan efek lithium pada retensi natrium.
Peningkatan berat badan pada pasien diduga karena edema namun pada 30% pasien
tidak mengalami peningkatan berat badan.
Efek pada jantung: Ion lithium dapat menekan pada nodus sinus sehingga
sindrom bradikardi dan takikardi merupakan kontraindikasi penggunaan lithium.
Efek pada kehamilan dan menyusui: Laporan terdahulu menyatakan
peningkatan frekuensi kelainan jantung pada bayi dengan ibu yang mengkonsumsi
13

lithium terutama anomali Ebstein. Namun data terbaru menyebutkan resiko efek
teratogenik relatif rendah.Lithium didapatkan pada air susu dengan kadar sepertiga
sampai setengah dari kadar serum. Toksisitas pada bayi dimanifestasikan dengan
letargi, sianosis, reflek moro dan reflek hisap berkurang dan hepatomegali.
Efek lainnya: Telah dilaporkan efek erupsi jerawat dan folikulitis pada
penggunaan lithium. Leukositosis selama pengobatan dengan lithium selalu ada yang
merefleksikan efek langsung pada leukopoiesis.
Preparat yang Tersedia
Lithium carbonate (generik, Eskalith)
Oral: 150; 300; 600 mg kapsul, 300 mg tablet, 8 meq/5 mL sirup, 300; 450 mg tablet
sustained release
Dosis: 250-500 mg/hari
2) Asam Valproat (valproic acid; valproate)
Obat ini merupakan suatu agen untuk epilepsi dan telah terbukti memiliki efek antimania.
Valproate manjur untuk pasien-pasien yang gagal memberikan respon terhadap lithium.
Secara keseluruhan, valroate menunjukkan keberhasilan yang setara dengan lithium pada
awal minggu pengobatan. Kombinasi valproate dengan obat-obatan psikotropik lainnya
mungkin dapat digunakan dalam pengelolaan fase kedua pada penyakit bipolar yang
umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Valproate telah diakui sebagai pengobatan lini
pertama untuk mania. [2]
Preparat yang Tersedia
Valproic acid (generik, Depakene)
Oral: 250 mg kapsul, 250 mg/5 mL sirup
Dosis: 3 x 250 mg/hari

14

3) Carbamazepine
Carbamazepine telah dianggap sebagai alternatif yang pantas untuk lithium jika lithium
kurang optimal. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati mania akut dan juga untuk
terapi profilaksis.
Efek samping carbamazepine pada umumnya tidak lebih besar dari lithium dan kadang
bahkan lebih rendah. Carbamazepine dapat digunakan sendiri atau pada pasien yang
refrakter dapat dikombinasi dengan lithium. [2]
Cara kerja carbamazepine tidak jelas, tetapi dapat mengurangi sensitisasi otak terhadap
perubahan mood. Mekanisme tersebut mungkin serupa dengan efek antikonvulsinya.
Meskipun efek diskrasia darah menonjol pada penggunaannya sebagai antikonvulsi,
namun tidak menjadi masalah besar pada penggunaanya sebagai penstabil mood
.
Preparat yang Tersedia
Carbamazepine (generic, Tegretol)
Oral: 200 mg tablet; 100 mg tablet kunyah, 100 mg/5 mL suspensi, 100; 200; 400 mg
tablet extended-release, 200; 300 mg kapsul.
Dosis: 400-600 mg/hari
4) Chloropromazine
Cara kerja chloropromazine tidak jelas, tetapi dikatakan dapat menghalang reseptor D 2
pada chemoreceptor trigger zone di otak. [7]
Efek sampingnya adalah sedasi ,hipotensi postural,peningkatan prolaktin di tubuh dsb
5) Neuroleptik atipikal dan tipikal yang lain
Atipikal: Olanzapine, Risperidone, Quetiapine, Ziprasidone, and Aripiprazole
Tipikal: Haloperidol
Dibandingkan dengan agen yang tipikal, seperti Haloperidol (Haldol) dan Chlorpromazin
(Thorazine), antipsikotik atipikal memiliki peluang yang lebih rendah untuk tardive
dyskinesia perangsangan postsynaptic, dan banyak obat atipikal tidak meningkatkan
kadar prolaktin. Tetapi obat-obat jenis ini akan menyebabkan risiko tinggi dalam
penaikan berat badan, sakit kepala,gangguan jantung dan sebagainya. [7]
15

6)

Clonazepam and lorazepam

Keduanya berasal dari golongan benzodiazepine dan sangat berguna untuk mengobati
gangguan mania akut.Cara kerja antipsikotik ini adalah dengan menghalang inhibitory
action GABA dengan mengikat dirinya dengan reseptor GABA di sistem saraf pusat. [7]
2.PSIKOTERAPI
Selain pengobatan, psikoterapi, atau "terapi berbicara" , dapat menjadi pengobatan yang
efektif untuk gangguan mood afektif seperti mania. Hal ini dapat memberikan dukungan,
pendidikan, dan bimbingan untuk orang dengan gangguan mania dan keluarga mereka.
Beberapa perawatan psikoterapi digunakan untuk mengobati gangguan mania meliputi:
1) Terapi perilaku kognitif (CBT) membantu orang dengan gangguan mania belajar
untuk mengubah pola pikir berbahaya atau negatif dan perilaku.
2) Keluarga yang berfokus pada terapi termasuk anggota keluarga. Ini membantu
meningkatkan strategi koping keluarga, seperti mengenali episode baru awal dan
membantu mereka cintai. Terapi ini juga meningkatkan komunikasi dan pemecahan
masalah.

3) Terapi irama interpersonal dan sosial membantu orang dengan gangguan bipolar
meningkatkan hubungan mereka dengan orang lain dan mengelola rutinitas sehari-hari.
Rutinitas sehari-hari yang teratur dan jadwal tidur dapat membantu melindungi terhadap
episode manik.

4) Psychoeducation mengajarkan orang dengan gangguan mania tentang penyakit


dan pengobatannya. Perawatan ini membantu orang mengenali tanda-tanda kambuh
sehingga mereka dapat mencari pengobatan awal, sebelum episode-besaran terjadi.

16

Biasanya dilakukan dalam kelompok, psychoeducation juga dapat membantu untuk


anggota keluarga dan pengasuh. [5]

VII.

PROGNOSIS

Emil Kraepelin,yang mendeskripsikan sifat episodik mania-depresi,menyatakan bahwa


kondisi episodik manik tunggal biasanya akan sembuh sendiri seiring waktu dengan atau
tanpa pengobatan, akan tetapi kejadian episodik tunggal sangatlah jarang. Oleh karena itu
digunakan istilah bipolar untuk menggambarkan individu yang mengalami gabungan
episode manik dan juga depresi.
Studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan berdasarkan usia dan jenis kelamin saat
ini. Namun, angka morbiditas pada masa kecil atau remaja lebih tinggi pada usia lanjut.
Pasien yang mengalami langsung dari satu kutub (mania atau depresi) yang lain juga
cenderung membutuhkan waktu lebih lama dan serangan lebih sering daripada pasien yang
mengalami episode diskrit mania atau depresi.[8]

17

BAB III
KESIMPULAN

Mania merupakan suatu episode meningkatnya afek seseorang yang jelas, abnormal,
menetap, ekspansif, atau iritabel. Afek yang abnormal ini membuat fungsi harian pasien menjadi
terganggu karena gangguan pada daya pertimbangan lingkungan, episode mania merupakan
suatu kesamaan karakteristik dalam afek meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan
kecepatan aktivitas fisik dan mental dalam berbagai derajat keparahan. Kategori ini hanya untuk
satu episode manik tunggal (yang pertama), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik
tunggal. Jika ada episode afektif (depresi, manik atau hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya,
termasuk gangguan afektif bipolar.
Faktor yang berperan penting sebagai penyebab mania adalah faktor biologis, faktor
genetika, dan faktor psikososial. Penatalaksanaan untuk mania adalah dengan terapi psikososial
serta farmakoterapi. Pemilihan agen-agen farmakoterpi untuk mania adalah tergantung pada
toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien.
Kondisi episodik manik tunggal biasanya akan sembuh sendiri seiring waktu dengan atau
tanpa pengobatan, akan tetapi kejadian episodik tunggal sangatlah jarang. Oleh karena itu
digunakan istilah bipolar untuk menggambarkan individu yang mengalami gabungan episode
manik dan juga depresi. Hasil terapi akan menunjukkan kemajuan jika fungsi keluarga dan
fungsi pendukung lainnya baik.

18

BAB IV
PENUTUP
Demikianlah Referat ini yang berjudul Gangguan manik ini kami susun. Kami bersyukur,
referat ini dapat diselesaikan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan atas bantuan dari semua
teman-teman kami, sehingga ucapan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kami
sampaikan kepada teman-teman kami. Akhir kata kami, berharap semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa dan kalangan umum dalam memahami Gangguan manik.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock Virginia Alcott. Kaplan&Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2.

New

York.2012. hal 189


2.

Yulia Sari Risnawati. Tesis: Psikatrik Gangguan Afektif. [online] 13. August. 2010 [cited 10 Juli
2013 ], Available from: http://www.scribd.com/Makalah-Psikiatri-Gangguan-Afektif

3. Rusdi M. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2001 hal 58-61
4. Ahmad Yusron Alfi Wakhianto Anggara Hadinata, dll. : Mania [online] Mei, 2009 [cited 10 Juli
2013], Available from: www.scribd.com/-GangguanAfektifMania
5. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry. Edisi 10. New York: Lippincott Williams. 1997. hal 529-34, 552-3
6. Inu Wicaksana. Aspek Neuropsikologi Gangguan Mood : Depresi dan Mania [online] Oktober
2011 [cited 10 Juli 2013] ,Available from: http://www.inuwicaksana.com/
7. Sukhdev Chatu. The Hands on Guide to Clinical Pharmacology.Edisi 3.United Kingdom. WileyBlackwell. 2010. hal 98-107
8. Judd LL, Akiskal HS, Schettler PJ, et al. The Recognition and Management of Mania : Prognosis
[online] [cited 10 Juli 2013 ], Available from: http://www.medscape.org/viewarticle/487928_2

20