You are on page 1of 25

RIVAN TRISATRIO

110 2014 230
LO.1.
MEMAHAMI
PERNAPASAN ATAS

B5
DAN

MENJELASKAN

ANATOMI

1.1 Makroskopik
Pada waktu inspirasi udara masuk melalui kedua nares
anterior → vestibulum nasi → cavum nasi → yang dibatasi oleh
septum nasi→Udara keluar dari cavum nasi → nares posterior =
choanae →masuk ke nasophaarybx→masuk ke laryngopharynx
(epiglotis membuka aditus laryngis/ pintu larynx) → daerah larynx
→ trachea →Masuk bronchus primer → bronchus sekunder →
bronchiolus segmentalis (tersier) → brochiulus terminalis →
melalui brochiulus respiratorius → masuk organ paru → ductus
alveolaris → alveoli → Pada alveoli terjadi difusi pertukaran CO2
(yang dibawa a.pulmonalis) keluar paru dan O2 masuk ke dalam
vena pulmonalis→Masuk atrium sinistra → ventrikel sinistra →
dipompakan melalui aorta ascendens → masuk sirkulasi sistemik →
oksigen (O2) didistribusikan
Anatomi Hidung
Organ hidung merupakan organ yang pertama berfungsi dalam
saluran napas. Terbentuk oleh tulang (os nasal), tulang rawan
(cartilago) dan otot.
Bagian penting yang terdapat pada hidung adalah sbb:
a. Nares anterior = apertura nasalis anterior (lubang
hidung)
b. Vestebulum nasi bagian hidung → tempat muara
nares anterior (batas epitel kulit
dengan mucosa hidung). Terdapat silia yang kasar
yang berfungsi sebagai saringan udara yang masuk
waktu inspirasi.

c. Cavum nasi (rongga), yakni bagian dalam rongga
hidung yang berbentuk terowongan, mulai dari
nares anterior sampai ke nares posterior → keluar
pada nares posterior yang dikenal dengan Choana
→ dilanjutkan ke daerah nasopharynx
d. Conchae nasalis yaitu tonjolan yang terbentuk dari
tulang tipis dan ditutupi mucosa yang dapat
mengeluarkan lendir. Dalam cavum nasi ada3 buah
concha nasalis yaitu:
• Concha nasalis superior
• Concha nasalis media
• Concha nasalis inferior
e. saluran keluarcairan melalui hidung yaitu:
• Meatus nasalis superior (antara concha nasalis
superior dan media)
• Meatus nasalis media (antara concha media dan
inferior)
• Meatus nasalis inferior (antara concha nasalis
inferior dan donding atas maxilla).
f. Septum nasi (sekat), yakni sekat yang berasal dari
tulang dan tulang rawan serta jaringan mucosa, sbb:
• Cartilago septi nasi
• Os Vomer
• Lamina parpendicularis os ethmoidalis
Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung
dan mata melalui "ductus nasolacrimalis" tempat
keluarnya air mata ke hidung melalui meatus
inferior.Pada nasopharynx terdapat hubungan antara
hidung dengan rongga telinga melalui O.P.T.A.
(Osteum Pharyngeum Tuba Auditiva) yang dikenal
dengan Eustachii.

1

RIVAN TRISATRIO
110 2014 230

B5

Dalam ilmu THT pemeriksaan hidung ada 2 cara sbb:
a. Rhinoscopy anterior (langsumg meilhat cavum nasi
bagian depan serta isinya dengan Head Lamp)
b. Rhinoscopy posterior (melihat bagian belakang
cavum nasi dan oropharynx dengan pakai kaca
pembesar).
Pada tulang neurocranium dan splachnocranium terdapat ronggarongga yang disebut dengan sinus. Sinus-sinus berhubungan dengan
cavum nasi dikenal dengan Sinus-sinus Paranasalis, antara lain:
a. Sinus sphenodalis, mergeluarkan sekresinya melalu
meatus superior
b. Sinus frontalis, ke meatus media
c. Sinus maxillaris ke meatus media
d. Sinus ethmoidalis ke meatus superior dan media
Bila terdapat infeksi pada sinus dinamakan dengan: sinusitis yang
sering terjadi pada komplikasi penderita infeksi rongga hidung dan
sakit gigi (rhinitis chronis) yaitu sinus maxilaris.
Persarafan hidung
Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung: bagian
depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensorik dari
cabang nervus opthalmicus, bagian lainnya termasuk mucusa
hidung dipersarafi oleh “gangglion sfenopalatinum”.

Pembuluh darah, berasal dari Arteri carotis externa dan
interna (A. carotis eksterna & interna). A. carotis eksterna
mensuplai darah ke hidung lewat A. maksilaris interna dan A.
fasialis. Cabang terminal A. fasialis yaitu A. labialis superior,
mensuplai darah ke dasar hidung dan septum bagian anterior.
Sedangkan A. maksilaris interna akan masuk fossa
pterigomaksilaris dan kemudian membentuk 6 percabangan
arteri, yaitu: posterior superior alveolar, descending palatine,
infraorbital, sphenopalatine, pterygoid canal, dan pharyngeal.
A.descending palatine berjalan ke bawah melalui kanalis palatina
mayor dan mensuplai darah ke dinding lateral hidung, serta juga
septum hidung bagian anterior lewat percabangan ke foramen
incisivus. Adapun A. sfenopalatin masuk hidung dekat area
perlekatan posterior konka media untuk kemudian mensuplai
dinding lateral hidung, dan juga memberikan percabangannya ke
septum hidung anterior. Arteri carotis interna memberikan
kontribusi pada sistem vaskularisasi hidung, terutama lewat
cabangnya, A. ophtalmicus.
“Plexus kisselbach”, (terbentuk dari: a. ethmoidalis anterior, a.
ethmoidalis posterior, dan a. sphenopalatinum) yang mudah
pecah oleh trauma/infeksi sehingga sering menjadi sumber
epistaxis (perdarahan hidung), terletak di bagian anterior tulang
rawan septum. Setiap cabang arteri yang mensuplai hidung ke
area ini saling berhubungan membentuk anastomosis.

Daerah nasopharynx dan concha nasalis mendapat persarafan
sensorik dari cabang “gangglion pterygopalatinum”
Serabut-serabut nervus olfactoris (keluar dari cavum cranii
melalui lamina cribosa ethmoidalis) bukan untuk mensarafi
hidung tapi untuk fungsional penciuman.
Vaskularisasi hidung

Anatomi Pharynx
Pharynx adalah bagian dari traktus digestivus dan traktus
respiratorius yang terletak dibelakang cavum nasi, cavum oris,
dan
di
belakang
larynx.
Merupakan
saluran
2

yakni os. Pharynx membentang dari basis cranii (tuberculum pharyngeum) sampai setinggi cartilgo cricoid di bagian depan dan setinggi VC 6 di bagian belakang.A. Cranial : corpus os sphenoidalos dan pars basilaris os occipitalis. terdapat tonsila palatina. sementara di dinding lateral. seperti besi telapak kuda c. Anatomi Larnyx Daerah dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah cartilagp cricoid. Ventral : choanae menghubungkan ke cavum nasi. e. Nasopharynx dihubungkan dengan cavum nasi oleh choanae. Tulang.T. b. Ini membuka ke bagian depan. dapat diraba di daerah batas atas leher dengan batas bawah dagu b. vena jugularis interna. Pada atap dan dinding posterior terdapat tonsila pharyngea yang dapat mengalami pembesaran dikenal sebagai adenoid yang membuat buntu tractus respiratorius. Nasopharynx (pars nasalis pharyngis) Bagian pharynx yang berada dibelakang cavum nasi dan diatas palatum molle berfungsi sebagai tractus respiratorius sehingga dindingnya tidak kolaps. Laryngopharynx (pars laryngea pharyngis) Di depannya terdapat pintu masuk larnyx. c. a. carotis comunis dan interna. melalui isthmus faucium ke dalam mulut. Larynx merupakan bagian terbawah dari saluran nafas bagian atas menyerupai limas “cavum laryngis”. Tulang rawan a. terbentuk dari jaringan tulang. Batas-batas dan hubungan pharynx : a.hyoid (1 buah). yang digerakkan oleh epiglotis.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 musculomembranosus yang berbentuk kerucut dengan basis diatas dan apex dibawah. Di samping OPTA terdapat di depan lekukan yang disebut fosa Rosenmuller.5 cm. dan di atas dengan bagian-bagian kecil dariPterygoidei interni. Pharynx mempunyai panjang sekitar 12. diameter transversal dari lumen pharynx lebih besar daripada diameter antero-posterior lumen pharynx. nervus glossopharyngeal. vagus.P.). Oropharynx (pars oralis pharyngis) Mulai dari palatum mole ke tulang hyoid. berfungsi tempat perlekatan otot mulut dan cartilago thryroid 2. Dorsal : fascia prevertebralis dan jaringan ikat longgar areolar denganbagian cervical dari clumna vertebralis. Di bawah muara glotis bagian medial dan lateral terdapat ruangan yang disebut sinus piriformis yaitu di antara lipatan ariepiglotika dan cartilago thyroid. b. Berdasarkan letaknya pharynx dibagi menjadi 3 bagian: a. dan hypoglossal. d. Lateral : processus styloideus. Pada dinding lateral nasopharynx terdapat ostium pharyngeum tubae auditiva (O. dan trunkus simpatikus. yang: a. Cartilago thyroid (1 buah) 3 . isthmus faucium menghubungkan dengan cavum oris. bagian atas adalah “aditus laryngis” (pintu) lebih besar dari bagian bawah yaitu cartilago cricoid yang berbentuk lingkaran. Lebih ke bawah lagi terdapat otot-otot dari lamina cricoid dan di bawahnya terdapat muara esofagus. dan aditus laryngis menghubungkan dengan larynx. Nasopharynx berhubungan dengan oropharynx lewat isthmus pharyngeus. Caudal : lanjut ke esophagus c. Rangka dibentuk oleh: 1. antara kedua lengkungan palatina.

 Salah satu fungsi dari larynx : membantu respirasi dengan mengatur besar kecilnya rima glotis. m. dan m. Cartilago criocoid  Batas bawah cartilago thyroid (daerah larynx)  Berhubungan dengan thyroid debgan ligamentum cricothyroid dan m.Otot internal larynx:  M. berfungsi untuk membuka kedua pita suara. ke belakang dengan arytenoid  Jaringan ikat nya “membrana thyrohyoid”  Mempunyai cornu superior dan inferior  Perdarahan dari a.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230  B5 Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan yang dikenal dengan “prominen’s laryngis” atau “jakun”.aryepiglotica  Pada waktu biasa epiglotis terbuka.omohyoideus.geniohyoideus.thyrohyodeus) b. m. Epiglotis (1 buah)  Tulang rawan berbentuk sendok  Melekat di antara kedua cartilago arytenoid  Berfungsi membuka dan menutup aditus laryngis  Berhubungan dengan cartilago arytenoid melalu m. sedangkan antara kedua plica ventricularis disebut “plica ventriculi”  Pada rima glotis terdapat m.arytenoideus tranversus c. b.cricoarytenoideus posterior. tetapi pada waktu menelan epiglotis menutup aditus laryngis supaya makanan tidak masuk ke larynx d.crycoarytenoideus posterior dikenal debagai “safety of muscle larynx”. m. kalau ada gangguan pada fungsi otot tsb 4 . Otot external larynx yang membantu pergerakan larynx adalah:  Otot-otot suprahyoid → menarik larynx ke bawa (m. Cartilago arytenoid (2 buah)  Terletak posterior dari lamina cartilago thyroid dan di atas dari cartilago cricoid  Mempunyai bentuk seperti burung penguin  Bagian ujung (apex) terdapat tulang rawan kecil cartilago cornuculuta dan cuneiforme (sepasang)  Kedua arytenoid dihubungkan oleh m.Plica ventricularis : pita suara palsu Otot-otot larnyx a. lebih jelas pada laki-laki.thyroidea superior dan inferior b. Plica vocalis : pita suara asli  Bidang antara plica vocalis kiri dan kana disebut dengan “rima glotis”.thyroarytenoideus.cricothyroid medial lateral  Batas bawah adalah cinci pertama trachea  Berhubungan dengan cartilago arytenoid dengan otot m. m.sternohyodeus.cricoarytenoideus posterior dan lateralis Anatomi Larynx Di dalam cavum laryngis.digastricus.  Melekat ke atas dengan os hyoid dan ke bawah dengan cartilago cricoid.cricoarytenoideus posterior relaksasi terjadi adduksi plica vocalis dan rima glotis menutup udara tidak bisa masuk. Cricoarytenoideus berkontraksi menyebabkan prosesus cartilago arytenoid bergerak ke lateral sehingga rima glotis terbuka yang disebut abduksi plica vocalissedangakan sebaliknya bila m.vocalis. Bila m. dan di sampingnya m.mylohyoideus)  Otot-otot infrahyoid → menarik larynx ke atas (m. terdapat: a.

Vestibulum nasi (Cui. dan c) mucosa olfactorius dilapisi oleh epitel olfactori yang terspesialisasi. misal trauma pada nervus vagus yang mensyarafi otot-otot larynx. Gambar 6. Bagian konduksi meliputi saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah. sementara bagian respiratori meliputi bronchiolus respiratori.2 Mikroskopik Gambar 7.aryepiglotica Bagian Konduksi a. Saluran pernafasan atas 1. ductus alveolaris.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230     B5 dapat menyebabkan orang bisa tercekik dan bisa mati. Gambaran umum sistem respirasi (Cui. sacus alveolaris dan alveoli. yaitu: a) regio vestibularis dilapisi oleh sel epitel gepeng berlapis. M. udara yang melewati cavitas ini dilembabkan dan dihangatkan sebelum masuk ke paru-paru. 5 . b) regio mucosa nasal dilapisi oleh epitel respiratori.crycoarytenoideus lateralis untuk menutup rima glotis. Cavitas nasalis memiliki sepasang ruangan yang dipisahkan oleh septum nasi. yaitu bagian konduksi (bagian yang mentransport udara) dan bagian respiratori (tempat pertukaran gas). M. 2011) Secara fungsional. saluran pernafasan dibagi menjadi dua. karena rima glotis tertutup. 2011).vocalis M. Terdapat 3 jenis epitel yang ada pada cavitas nasalis.arytenoideus transversus dan arytenoideus obliq M.

Membrana mucosa nasalis. dan sembilan kartilago yang terletak pada dindingnya (termasuk juga cartilago thyroidea atau ‘jakun’). Epiglottis (Cui. yaitu sel epitel gepeng berlapis (pada bagian lingual) dan sel epitel respiratori (pada bagian laringeal). tulang rawan hyaline. Panjangnya adalah sekitar 10-12 cm. (Cui. 2011) Trakea merupakan penampang yang fleksibel. Posisinya adalah anterior dari esofagus. Epiglottis dilapisi oleh dua jenis sel epitel. Pada kasus infeksi saluran pernfasan atas. ataupun karena reaksi alergi. Kondisi ini disebut rhinitis. dapat terjadi inflamasi pada mucosa hidung (terutama concha inferior). dan diameternya adalah 22. 2011) Gambar 10. sehingga menghambat udara yang masuk melalui cavitas nasalis. b.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Gambar 9. dan 6 . Bangunan yang terdapat di laring antara lain epiglottis. Strukturnya terdiri dari mucosa.5 cm. 201) Laring merupakan jalur pendek yang menghubungkan faring dengan trake. Saluran pernafasan bawah Gambar 8. Trakea (Cui. submucosa. fungsinya adalah untuk menghubungkan laring dengan bronchus primer. fungsi utamanya adalah untuk menghasilkan suara dan untuk mencegah makanan/minuman masuk ke trakea. pita suara.

sehingga udara terjerat dalam paru2  Fase 2 (Kompresi). oesofagus dan pita suara menutup. diikuti pula dengan kontraksi intercosta internus.1 Fungsi pernapasan atas MEKANISME BATUK FISIOLOGI -Nares anterior: Tempat masuk utama O2 -Vesitubulum nasi: Terdapat bulu hidung yang berfungsi menyaring udara -Cavum nasi: Rongga hidung -Septum nasi: Membatasa antara lubung hidung kanan dan kiri -Nares posterior: -Nasopharynx: -Laryngopharynx: -Epligotis: -Aditus larynges: -Larynx: Seluruh saluran nafas dari hidung sampai bronkiolus terminalis. LO.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 adventitia. Pada akhirnya akan menyebabkan tekanan pada paru2 meningkat hingga 100mm/hg. (4) Adventitia terdiri dari jaringan penyambung. Batuk yang tidak efektif dapat menimbulkan penumpukan sekret yang berlebihan. (1) Mucosa melapisi bagian dalam dari trakea.2 Mekanisme Pertahanan Tubuh 7 .2. Mekanisme batuk dibagi menjadi 3 fase:  Fase 1 (Inspirasi).  Fase 3 (Ekspirasi). MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MEKANISME PERTAHANAN TUBUH 2. dan terdiri dari epitel respiratori serta lamina propia. yang melapisi bagian luar dari tulang rawan dan menghubungkan trakea ke jaringan sekitarnya. diafragma naik dan menekan paru2. paru2 memasukan kurang lebih 2. gangguan pertukaran gas dan lain-lain. dan jumlahnya adalah sebanyak 16-20 cincin sepanjang trakea. yaitu seperti huruf C (beberapa hewan. (3) Tulang rawan hyaline memiliki bentuk yang sangat khas. dipertahankan agar tetap lembab oleh selapis mukosa yang melapisi seluruh permukaan. (2) pada submucosa terdapat jaringan penyambung yang lebih padat dari lamina propia. misalnya tikus. dan sebagian lagi oleh kelenjar submukosa yang kecil. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel goblet dalam epitel saluran nafas.5 liter udara. atelektasis. memiliki tulang rawan hyaline berbentuk O). otot perut berkontraksi. Spontan oesofagus dan pita suara terbuka dan udara meledak keluar dari paru 2.

Difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dan sel-sel jaringan. .Berperan dalam memelihara keseimbangan asam basa normal dengan mengubah jumlah CO2 penghasil asam (H+) untuk dikeluarkan. memodifikasi. Udara bergerak ke dalam paru selama inspirasi bila tekanan alveolus lebih rendah daripada tekanan atmosfir. sehingga sejumlah besar udara dengan cepat melalui hidung. berfungsi sebagai organ pembau. Tekanan intrapleura menjadi lebih negatif selama inspirasi dan kurang negatif selama ekspirasi. .Meningkatkan aliran balik vena. c. ada 3 yang tertentu dikerjakan oleh rongga hidung. Ukuran partikel yang terjerat dalam saluran pernapasan berukuran kira-kira antara 1-5 mikrometer. .dan CO2 dikeluarkan ke udara ekspirasi. bukan pada saluran pernapasan bagian bawah. Ventilasi Merupakan gerak udara masuk paru yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dan alveoli akibat gerakan paru dalam rongga dada yang diperkuat oleh otot-otot pernapasan. impuls saraf aferen berjalan dalam nervus ke lima menuju medulla tempat refleks ini dicetuskan. dan udara keluar dari paru selama ekspirasi bila tekanan atmosfir.Hidung bagian pernapasan. .Mengeluarkan. mengaktifkan. dapat dibagai menjadi tiga stadium. Udara dilembabkan sampai hampir lembab sempurna sebelum udara meninggalkan hidung. . MEKANISME BERSIN Reflek bersin mirip dengan reflek batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada saluran hidung. atau menginaktifkan berbagai bahan yang melewatisirkulasi paru. Mekanisme Pernafasan Proses fisiologi pernapsan yaitu proses O 2 dipindahkan dari udara ke jaringan-jaringan. Rangsangan awal menimbulkan refleks bersin adalah iritasi dalam saluran hidung. Fungsi utama pernapasan adalah untuk memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel. menyaingi dan vikalisasi lain. 1. b.Memungkinkan ketika berbicara.transportasi. Terjadi serangkaian reaksi yang mirip dengan refleks batuk tetapi uvula ditekan.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 . dengan total area kira-kira160 Cm2.mungkin dikeluarkan dalam bronkiolur kecil sebagai akibat presipitasi gaya berat. dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari benda asing. d. Transportasi a. Udara dihangatkan oleh permukaan kontan dengan septum yang lurus. 2. Udara disaring. Penggerak kekuatan difusi gas melewati membran alveolokapiler terdiri dari perbedaan 8 .   Fungsi Pernapasan Hidung Bila udara mengalir melalui hidung.Menyediakan jalan untuk mengeluarkan air dan panas. a.Mempertahankan tubuh dari infasi bahan asing. Sistem pernapasan melakukan fungsi nonrespirasi lain berikut ini : . yaitu ventilasi. dan repirasi sel.

dengan gejala hidung gatal. Unit pirau (V/Q <0. Unit untung rugi (V/Q > 0. tanpa ventilasi dan perfusi c. dan hanya sedikit jumlah yang larut dalam plasma (karena O2 tidak larut dalam plasma).1 Definisi Rhinitis didefinisikan sebagai kondisi inflamasi mucosa nasal. ventilasi normal tanpa perfusi (pada embolisme paru) ii. Transpor CO2 dalam darah - Transpor CO2 dari jaringan ke paru untuk dibuang dilakukan dengan tiga cara Sekitar 10% CO2 secara fisik larut dalam plasma.8(4L/menit : 5L/menit). Rhinitis akut (coryza. Sekitar 70% CO2 diangkut dalam bentuk bikarbonat plasma LO. i. karena alergi. Hal ini berkaitan dengan hubungan antara ventilasi(dalam paru)-perfusi(aliran darah dalam kapiler). commond cold) Merupakan peradangan membrane mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. ii. Sementara rhinitis alergi adalah radang selaput lendir hidung yang disebabkan oleh proses inflamasi mukosa hidung yang dimediasi oleh reaksi hipersensitivitas/alergi tipe 1.8(V lebih rendah dari Q). Sekitar 20% CO2 berikatan dengan gugus amino pada Hb dalam eritrosit. namun sekitar 75% Hb masih berikatan dengan O 2 pada waktu Hb kembali ke paru dalam bentuk darah vena campuran. rinore encer dan hidung tersumbat yang reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Rhinitis kronis Merupakan suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang.8). Karena gaya gravitasi aliran darah pulmonal. dan hipersekresi. pneumonia) iii. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN RHINITIS ALERGI 3. Unit diam . sedangkan V/Q pada basis paru lebih rendah dari 0. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi 2.8). yang menyebabkan gejala klinis meliputi obstruksi nasal. Keseluruhan V/Q normal adalah 0. Transpor O2 dalam darah Hampir semua O2 yang dibawa ke jaringan dalam darah terikat pada hemoglobin . Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus. efisiensi pertukaran gas yang optimal akan diberikan melalui distribusi dan perfusi sehingga ventilasiperfusi hampir seimbang (pada orang normal). i.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 tekanan parsial antara darah dan rongga alveolar. Difusi CO2 dari darah ke alveolus membutuhkan perbedaan tekanan parsial yang lebih kecil daripada O 2 karena CO2 lebih dapat larut dalam lipid. b. tanpa ventilasi perfusi normal (pada edema paru. hiperirritabilitas. Idealnya.2 Klasifikasi  Menurut sifatnya: 1. Ketidaksamaan V/Q yang menyebabakan hipoksemi terjadi pada kebanyakan penyakit pernapasan. Jadi hanya 25% O 2 dalam darah arteri yang digunakan untuk keperluan jaringan. Reaksi kimia dan fisik dari O2 dan CO2 dengan darah.3. 3. atau karena rhinitis vasomotor 9 . Perbedaan tekanan parsial untuk difusi O2 relatif besar : O2 alveolar kira-kira 100 mmHg dan sekitar 40 mmHg dalam darah kapilar paru venosa campuran. bersinbersin. Meskipun kebutuhan jaringan bervariasi .8 (V lebih tinggi dari Q). V/Q pada apex paru lebih tinggi dari 0.

berolahraga. serbuk/tepung sari yang ada di udara   Rhinitis alergi musiman (Hay Fever) Biasanya terjadi pada musim semi. debu dan polusi udara atau asap Rhinitis alergi yang terjadi terus menerus (Perennial) Disebabkan bukan karena musim tertentu (serangan yang terjadi sepanjang masa/tahunan) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah. bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu 10 . Persisten Bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu 3. kokain dan anti hipertensif  Rhinitis vasomotor Merupakan terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis  Rhinitis medikamentosa Merupakan suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan  Rhinitis atrofi Merupakan suatu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progresif tulang dan mukosa konka  Berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative ARIA tahun 2000. misalnya kutu debu rumah. deformitas struktural.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5  Berdasarkan penyebabnya: 1. seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angina untuk penyerbukannya. Rhinitis alergi Merupakan penyakit umum yang paling banyak diserita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. gangguan aktivitas harian. neoplasma. bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu 4. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah. Rhinitis alergika sedang atau berat Bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tidur. berolahraga. gangguan aktivitas harian. bersantai. belajar. Intermiten Bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu 2. menurut sifat berlangsungnya rhinitis alergika dibagi menjadi: 1. seperti debu. penggunaan kontrasepsi oral. bersantai. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel. Rhinitis alergika ringan Bila tidak ditemukan gangguan tidur. Rhinitis non alergi Disebabkan oleh infeksi saluran napas karena masuknya benda asing kedalam hidung. asap. dan massa. bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat 2. penggunaan kronik dekongestan nasal. belajar.

4) Paparan pasif terhadap rokok (terutama pada masa kanakkanak). alergi makanan/minuman seperti susu. antara lain: 1) Suseptibilitas genetik (misalnya riwayat keluarga yang alergik). bulu binatang. Sementara penyebab utama dari rhinitis alergi ini adalah inflamasi membrana mukosa nasal yang disebabkan oleh reaksi IgE terhadap satu ataupun beberapa alergen. 3) Paparan terhadap alergen (misalnya kulit/bulu binatang dan makanan). misalnya debu. dan asma). tungau debu rumah. 11 . telur. makanan. serta alergen inhalasi lainnya merupakan penyebab utama rhinitis alergi (biasanya juga diikuti oleh dermatitis atopic.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 3. Sifat alergen ini umumnya tidak membahayakan. Pada masa kanak-kanak. Tabel 1. kacang kedelai. dan gigitan serangga.3 Etiologi Rhinitis alergi disebabkan oleh paparan terhadap alergen yang berulang. spora jamur. 5) Partikel polusi udara. dan tungau debu. 2) faktor lingkungan (misalnya tingginya paparan debu dan jamur). Beberapa gen yang terkait dengan alergi beserta fenotip yang dihasilkan Selain itu. perlu diketahui juga faktor predisposisi rhinitis alergi. otitis media dengan efusi. terutama pada penduduk perkotaan.

alergen yang terbawa udara nafas akan menyebabkan sensitisasi mukosa respirasi. sel T CD4 dapat mengalami polarisasi menjadi sel Th 1 dan atau sel Th 2 yang tergantung dari tipe antigen. sinyal kostimulator yang diterima sel T dan faktor genetik. Diduga sel Th 0 ini mengekspresikan tanda permukaan sel yang dapat membuat sel tersebut tinggal di pembuluh darah mukosa saluran nafas. Tipe polimorfik molekul MHC kelas II yang diekspresikan oleh tiap-tiap individu akan menentukan afinitas molekul terhadap peptide antigen spesifik. reseptor antigen spesifik sel Th 0 (TCR) bersama molekul CD4 dengan MHC kelas II. apabila terjadi paparan berikutnya akan menimbulkan gejala alergi. Sel T CD4+ pada individu yang atopik mengalami polarisasi menjadi sel Th 2 dan akan menghasilkan berbagai sitokin antara lain IL-3. IL-10.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 3. IL-5. dosis. Dengan gerakan intraseluler. microenviroment sitokin. yang kemudian keluar dari sirkulasi berada dalam jaringan termasuk mukosa hidung. Dalam fase ini maka sesorang sudah dalam keadaan sensitif. Akibat sensitisasi ini. CD 28 dengan B7 serta molekul asesoris pada sel T ( CD2. Pada area sel T limfonodi. berikatan dengan reseptornya (high affinity receptors mast. Sel penyaji antigen ini akan berjalan melintasi adenoid. GM-CSF yang akan mempertahankan lingkungan pro atopik ( terutama IL4) yaitu menginduksi sel B yang memproduksi Ig E dan menghambat produksi sitokin sel Th 1. Penderita dengan kecenderungan atopik. Fusi antara endosom dengan membran plasma akan mengekspresikan komplek peptide dan MHC kelas II di permukaan sel penyaji. endosom yang mengandung peptide bergabung (intersect) dengan vesikel yang berisi molekul MHC kelas II dan membentuk ikatan non kovalen. tipe sel APC. antigen dipresentasikan pada sel Th 0 yang baru keluar dari timus. Selengkapnya imunopatogenesis rinitis alergi adalah sebagai berikut: a) Fase sensitisasi Alergen yang terhirup bersama udara nafas akan terdeposit dalam mukosa hidung yang kemudian diproses oleh makrofag atau sel dendrit yang berfungsi sebagai fagosit dan sel penyaji antigen (antigen presenting cell/APC). Akibatnya terjadi aktifasi 12 . Didalam endosom alergen diproses menjadi bentuk fragmen peptide (berupa 7 sampai 14 asam amino) yang akan berikatan dengan molekul MHC (major histocompatibility complex) kelas II. Berdasarkan sitokin yang dihasilkan. IL-13. sitoplasma maupun nukleus sel T yang hasil akhirnya berupa produksi sitokin. b) Fase elisitasi Terjadinya gejala-gejala rinitis ditandai dengan dimulainya aktivasi sel mast yang diakibatkan oleh paparan ulang alergen serupa pada mukosa yang sudah sensitif. Terjadi cross. yang akan berperanan pada respon sistem imun terhadap protein spesifik.linking dua molekul IgE pada permukaan sel mast dengan alergen (multivalent/bivalen). tonsil dan limfonodi regional. LFA-1) dengan ligand pada sel penyaji antigen. memicu terjadinya rangkaian aktivitas pada membran sel.4 Patofisiologi Mukosa saluran nafas selalu terpapar oleh bermacam alergen yang terbawa oleh udara nafas. Pada penderita yang mempunyai bakat alergi. IL-4. Paparan alergen dosis rendah yang terus menerus dan presentasi alergen oleh sel penyaji antigen (APC) kepada sel B disertai adanya pengaruh sitokin IL-4 maka sel B akan memproduksi Ig E yang terus bertambah yang akan beredar bebas dalam sirkulasasi. yang disintesis di vesikel golgi. IL-9.

leukotrin C4 (LCT4). rinore. Sehingga hasil akhir aktivasi ini terbentuk lipids mediators ( newly formed mediators) seperti prostaglandin D2 (PGD2). Gambaran khas reaksi fase lambat ditandai dengan tertariknya berbagai sel inflamasi khususnya eosinofil pada mukosa hidung. RANTES). VCAM-1 (vascular cell adhesion molecule-1). Eosinofil dalam perjalannya dari sirkulasi sampai ke lokasi alergi melalui beberapa tahap yaitu perpindahan eosinofil dari tengah ke tepi dinding pembuluh darah dan berikatan secara reversibel dengan sel endotel (rolling) yang disebabkan interaksi antar E-selectin dengan glikoprotein eosinofil. tryptase. IL-5. IL-5 dan GM-CSF dapat meningkatkan survival eosinofil dijaringan. platelet activating factor dan exocytosis sekresi granula yang berisi mediator kimia (preformed mediators) seperti histamin. Kenaikan eosinofil dapat ditunjukkan dengan meningkatnya kadar eosinophil cationic protein (ECP) dan produk eosinofil lainnya pada sekresi hidung. eosinofil dan sel Th 2. Gejala-gejala hidung gatal. IL-4. Saraf ini secara luas bercabang di epitel dan submukosa. gejalagejalanya akan berkurang. Histamin dimetabolisme oleh histamine N-methyltransferase (HMT) pada sel epitel maupun endotel. kongesti dan bersin yang disebabkan pelepasan mediator kimia oleh sel mast akibat paparan alergen disebut reaksi fase cepat. IL-5. Ca2+ di sitoplasma secara langsung mengaktifkan beberapa enzim seperti phospolipase A. yang dapat meningkatkan ekspresi molekul adhesi endotel (IL-3. bradykinin.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 guanosin triphosfate (GTP) binding (G) protein yang mengaktifkan enzim phospholipase C untuk mengkatalisa phosphatidyil inositol biphosphat (PIP2) menjadi inositol triphosfate (IP3) dan diacyglicerol (DAG) pada membrane PIP2. yang apabila diinduksi dapat menyebabkan kenaikan permeabilitas kapiler dan rinore. Oleh pengaruh IL-3. VCAM1 bersifat spesifik terhadap perlekatan eosinofil karena eosinofil mengekspresikan VLA-4 yang akan berikatan 13 . Mekanisme tertariknya eosinofil sampai ke lokasi alergi dipengaruhi sekresi sitokin oleh sel mast. Apabila mediator-mediator telah mengalami metabolisme dan dibersihkan dari mukosa.2 Keadaan ini secara klinik ditandai dengan penebalan mukosa hidung yang dapat dideteksi dengan adanya kenaikan resistensi nasal airflow dengan sedikit perubahan pada gejala hidung lainnya. mengerakkan reflek sistemik seperti bersin-bersin dan reflek parasimpatik yang mengakibatkan peningkatan sekresi kelenjar. GMCSF) dan eosinofil chemoattractant (eotaxin. dan komplek Ca2+ kemudian mengaktifkan enzim myosin light chain kinase C. IP3 menyebabkan pelepasan ion calcium intraseluler (Ca2+) dari reticulum endoplasma. Neuron berasal dari cabang pertama dan kedua nervus trigeminus. Salah satu fungsi penting dari saraf nociceptive mengaktifkan pusat gatal. Selain itu histamin juga terikat pada resptor H1 di saraf nociceptive tipe C. Histamin merupakan mediator penting yang dihasilkan dari degranulasi sel mast. adanya pelepasan sitokin dan aktivasi sel endotel mengakibatkan terjadinya reaksi fase lambat yang terjadi antara 4-6 jam setelah paparan alergen dan menetap selama 24-48 jam. Selanjutnya oleh karena pengaruh sitokin (IL-4) terjadi peningkatan ekspresi molekul adhesi endotel seperti ICAM-1 (inter cell adhesion molecule-1). Tetapi setelah reaksi fase cepat. Reseptor histamin H1 terdapat pada sel endotel. merupakan penyebab lebih dari 50% gejala rinitis alergi.

Gambar 14. EDN dapat menginaktifkan saraf mukosa dan EPO menyebabkan kerusakan sel oleh karena radikal bebas. Protein ini juga merusak membran sel yang berakibat kematian sel. Tertariknya eosinofil ditempat alergi menyebabkan perubahan mukosa saluran nafas. eosinophil derived neurotoxin (EDN) dan eosinophil peroxidase (EPO) yang berikatan dengan proteoglikan dan hyaluran membran basalis menyebabkan disagregasi sel dan deskuamasi epitel. eosinophil cationic protein (ECP). 2012) 14 . kemudian terjadi perubahan bentuk dan diikuti migrasi eosinofil keluar dari pembuluh darah lewat celah antar sel endotel (diapedesis) untuk selanjutnya menuju lokasi alergi. Pelepasan granula eosinofil yang mengandung berbagai macam mediator kimia yaitu major basic protein (MBP).RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 dengan VCAM-1. Reaksi hipersensitivitas yang terjadi pada kasus rhinitis alergi dan asma (Holt & Sly. sehingga ekspresi VCAM-1 meningkat pada rinitis alergi. Dengan adanya ikatan antara VCAM-1 dan VLA-4 ini eosinofil semakin kuat melekat pada endotel.

prostaglandine. yang kemudian menstimulasi terjadinya respon infalmasi dengan menyebabkan pelepasan mediator seperti histamine. Respon inilah yang menyebabkan gejala kongesti nasal. Ingus (rinore) yang encer Hidung tersumbat Hidung dan mata gatal Banyak air mata yang keluar (lakrimasi) Lipatan hidung melintang (garis hitam melintang pada tengah punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas      menirukan pemberian hormat (allergic salute)) Lubang hidung bengkak Edema kelopak mata Kongesti konjungtiva Lingkar hitam di bawah mata (allergic shiner) Otitis media serosa sebagai hasil hambatan tuba eustachii Gejala lain yang tidak khas dapat berupa. sel B. Apabila penderita telah beberapa kali terpapar antigen spesifik. antigen tersebut akan diikat oleh dua antibodi IgE. gatal. 2008) Gambar 15. dan dikategorikan sebagai reaksi atopic. masalah penciuman. dan sel plasma. yang mana IgE ini sudah berikatan dengan sel mast. Akibatnya.5 Manifestasi klinis  Serangan bersin berulang terutama pada pagi hari atau bila      terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. dan lapisan subkutan dari kulit.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Singkatnya. terjadinya rhinitis alergi adalah sebagai akibat dari respon hipersensitivitas tipe 1. pengeluaran histamine menyebabkan gejala seperti bersin-bersin. Pada pasien dengan disposisi atopic (atau yang memiliki ‘bakat’ genetik). reaksi alergi bermula dengan sensitasi terhadap alergen spesifik (pada kasus rhinitis alergi. Pelepasan sitokin dan leukotrien kemudian menyebabkan influks dari sel inflamatori (umumnya eosinofil) ke tempat terjadinya reaksi alergi (kemotaksis). Reaksi ini dapat memperpanjang respon alergi hingga selama 48 jam. reaksi IgE ini menyebabkan degranulasi sel mast. Sel mast ini banyak terdapat pada lapisan submucosa dari saluran pernafasan dan saluran pencernaan. sitokin. serta gatal pada palatum 3. mudah marah. serta terdapat juga di bagian subconjunctiva mata. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu. dan platelet-activating factor. dan kongesti hidung. mengi. Rekasi ini termasuk reaksi early-phase atau humeral reaction. dan terjadi dalam waktu 10-15 menit setelah terjadinya paparan alergen. yang umumnya terjadi dalam waktu 4-6 jam setelah sensitasi pertama. Respon inflamasi ini termasuk rekasi late-phase atau celullar reaction. Reaksi ini terjadi karena cascade reaction sel T. Respon ini melibatkan produksi IgE yang berlebihan. leukotrien. kehilangan nafsu makan dan sulit tidur 15 . vasodilatasi. Rhinitis alergi merupakan penyakit inflamasi pada saluran pernafasan atas yang ditandai dengan rinorrhea. batuk. bersin-bersin. (Lawalni. penekanan pada sinus dan nyeri wajah. post nasal drip. umumnya alergen yang ada di udara). dan sekresi glandular. yang dapat menginduksi terbentuknya antibodi IgE. gatal-gatal. sakit kepala. rinorrhea.

perlu dilakukan anamnesis (umumnya menanyakan riwayat alergi pasien). dan wheezing asma. pemeriksaan fisik. terdapat IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu. Pada anamnesis. dan saluran hidung (inspeksi juga perlu dilakukan setelah pemberian decongestan topikal). karena dapat memunculkan beberapa petunjuk penting. pucat. namun lebih spesifik. Metode ini digunakan oleh hampir seluruh klinisi alergi THT. dapat terlihat ‘shiners’ (lingkar hitam pada bagian bawah mata). dan saat ini dapat diperiksa dengan akurat dan cepat. durasi. spesifik. Pada alergi perennial. Pemeriksaan Penunjang a. memiliki kemungkinan >50% menderita alergi. Hal ini berguna untuk menetukan klasifikasi rhinitis alergi yang dideritanya. kongesti nasal merupakan tanda utama. dan tidak ada interfensi dari antihistamin yang sedang dikonsumsi. maka kemungkinannya lebih kecil. Jika dibandingkan dengan pemeriksaan kulit. Abnormalitas anatomi. serta terjadi kongesti hidung dengan obstruksi nasal. Selain itu. Faktor genetik menyebabkan individu lebih mudah tersensitasi dan memproduksi antibodi IgE. b. dan untuk mengetahui alergen kausatifnya. dan ekonomis. maka kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan. Tes ini sifatnya cepat. Riwayat keluarga yang positif menderita alergi.6 Diagnosis & Diagnosis Banding Anamnesis Diagnosis dari rhinitis alergi perlu ditegakkan dengan benar agar jelas apabila pasien mengalami atopic. dan costeffective. Pemeriksaan in vitro Pada serum. 16 . yaitu dengan menggunakan dilusi 1:5 kuantitatif. dan nasal salute (menggaruk-garuk bagian ujung hidung secara konstan). dan juga terapi yang tepat. pernafasan mulut. Beberapa kondisi yang umum ditemui antara lain conchae yang berwarna kebiruan. Tes Alergi (epikutan dan intradermal) Prick Test merupakan tes alergi epikutan yang paling umum dilakukan. Apabila terdapat polip nasal. aman. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik untuk kasus rhinitis alergi meliputi inspeksi bagian telinga. ataupun asma dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya rhinitis alergi. misalnya deviasi septum nasal. progresi. tipe. eczema. dan lembab. namun tetap signifikan. Pada anak-anak. Pemeriksaan intradermal. perlu ditanyakan riwayat penyakit pasien maupun keluarga terkait dengan alergi. Untuk mendiagnosis. Mucosa hidung terlihat basah dan bengkak. Anak dengan kedua orangtua yang menderita alergi. Dengan peralatan yang modern. Metodologi terbaru dapat menghitung IgE total pada serum. tenggorokan. maka perlu dilakukan endoskopi nasal. perlu ditanyakan juga bagaimana rhinitis yang dialami dapat memengaruhi kualitas hidupnya. Karena dengan diagnosis yang tepat. Namun apabila hasil tes tidak memberikan petunjuk. bullosa concha. dan juga derajat gejala yang dialami. Beberapa temuan lainnya antara lain conjunctivitis. dan pemeriksaan penunjang. pemeriksaan in vitro kurang lebih ekuivalen dengan pemeriksaan kulit untuk mendiagnosis alergi atopic. Apabila hanya salah satu orangtua yang menderita. dan polip dapat ditemukan. Pasien perlu ditanyakan mengenai onset.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 3. Pemeriksaan in vitro aman. Kelainan anatomi ini perlu diperhatikan. spesifik. pemeriksaan IgE total kurang sensitif. apakah abnormalitas ini menjadi penyebab utama ataupun menjadi faktor kontribusi dari gejala yang dialami pasien. eczema. maka perlu dilakukan pemeriksaan intradermal.

d. dan juga dapat digunakan sebagai faktor prediktif bagi bayi maupun anak-anak. Azelastine dalam bentuk semprot (spray) bermanfaat bagi pasien yang mengalami vasomotor rhinitis (non-alergi). Nilai normal IgE serum berdasarkan usia (McPherson & Pincus. olopatadine. bilastine. 2011) Differential Diagnosis Beberapa diganosis banding yang perlu diperhatikan antara lain: a. Meski demikian. Antihistamin H1 generasi terbaru lebih selektif terhadap H1. Antihistamin tersebut antara lain fexofenadine. e. tumor atau badan asing. rhinitis medicamentosa. rhinitis infeksi (akut atau kronis). dan juga dapat mengatasi gatal pada bagian mata dan erythema. Antihistamin Antihistamin oral (kelas H1) sangat efektif untuk mengatasi gatal nasopharyngeal. Antihistamin generasi awal bersifat sedasi. antishistamin tidak dapat mengatasi kongesti nasal. cetirizine. Obat-obat antihistamin generasi baru ini tidak berbeda efektivitasnya dengan generasi sebelumnya. dan umumnya sedikit yang dapat menembut brain blood barrier. 17 . 3. g. dan rinorrhea yang encer. maka obat a-adrenergic seperti phenylephrine atau oximetazoline biasanya digunakan secara topikal untuk mengatasi obstruksi nasal. levocetirizine. dan biasanya menyebabkan penurunan fungsi psikomotor. Sifat anticholinergicnya menyebabkan gangguan pengelihatan.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Penghitungan protein IgE total dalam serum dapat mendiagnosis berbagai macam penyakit terkait alergi. loratadine. deloradine. Karena antihistamin memiliki efek yang sedikit untuk hidung tersumbat. b. rhinitis hormonal (pada saat kehamilan atau hypotiroid). deformitas anatomi. dan azelastine. Tabel 2. iritan atau polutan. c. rhinitis nonalergic (vasomotor rhinitis). f. bersin-bersin.7 Penatalaksanaan & Pencegahan Terapi Farmakologis a. retensi urin dan konstipasi.

misal :bronkodilatasi. Perangsangan Sistem Saraf Pusat : perangsangan pernapasan dan aktivitaspsikomotor.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 3. 6. berikut dengan aktivitas anticholinergicnya. 18 . Kerja obat ini digolongkan 7 jenis : 1. Obat golongan ini disebut obat adrenergik atau obat simptomimetik. Efek prasipnatik : peningkatan pelepasan neurotransmiter. Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa. Efek metabolik : peningkatan glikogenolisis dan lipolisis. Perangsangan jantung : peningkatan denyut jantung dan kekuatankontraksi. Obat ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melaluireseptor alfa 1 sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung. 5. dan hormon hipofisis. 4. 7. renin. Tabel 3. Beberapa antihistamin H1. Dekongestan Dekongestan nasal adalah alfa agonis yang banyak digunakan pada pasien rhinitis alergika atau rinitis vasomotor dan pada pasien ISPA dengan rinitisakut. Efek endokrin : modulasi sekresi insulin. Penghambatan organ perifer : otot polos usus dan bronkus. (Katzung. karena obat ini merangsang saraf simpatis. 2012) b. misal : vasokontriksi mukosa hidung sehingga menghilangkanpembengkakan mukosa pada conchae. 2.

Reseptor β Reseptor ini memiliki respon yang berbeda dengan reseptor alpha. yaitu α1 dan α2. dan peningkatan dari resistensi perifer serta peningkatan tekanan darah. Kebalikannya. (Harvey. dan β3 Gambar 16. αadrenoreceptor dibagi menjadi dua subgroup. clonidine secara selektif berikatan dengan α2. β2. dan sedikit efeknya pada reseptor α1. Karakteristik Respon pada Stimulasi Reseptor Adrenergic Penting untuk mengetahui respon fisiologis yang dihasilkan reseptor adrenergic ketika distimulasi. stimulasi dari reseptor β menyebabkan stimulasi jantung. dan β adrenoreceptor (Harvey. Reseptor α2 Reseptor ini terdapat pada presinaptik dari ujung saraf. Hal ini ditunjukkan dengan respon yang sangat kuat terhadap isoproterenol.Misalnya. 2011) 19 . Efek beberapa direct adrenergic agonist pada reseptor α adrenoreceptor. Aktivasi dari reseptor α1 dapat menginisiasi serangkaian aktivasi protein G. 2011) α-adrenoreceptor menunjukkan respon yang lemah terhadap agonist sinteteik isoproterenol. yaitu β1. Secara general. stimulasi dari reseptor α1 menyebabkan vasokonstriksi (terutama pada kulit dan visceral abdominalis). misalnya pada sel beta di pankreas dan beberapa sel otot polos vaskular. sedangkan stimulasi β2 menyebabkan vasodilatasi dan relaksasi otot polos. dan dengan sensitivitas yang lebih kecil pada epniephrine serta norepinephrine. Reseptor β terbagi lagi menjadi 3 subdivisi. Sebaliknya. yang umumnya melibatan konstriksi dari otot polos. berdasarkan afinitasnya terhadap α agonist dan α blocker.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Reseptor α1 Reseptor ini terdapat pada membran postsinaptik dari organ efektor dan memediasi berbagai macam efek. reseptor α1 memiliki afinitias yang lebih tinggi pada penylephrine daripada α2. namun responsif terhadap beberapa catecholamine seperti epinephrine dan norephinephrine.

2011) Obat Dekongestan Oral 1. Harus digunakan sangat hatihati pada pasien hipertensi dan pada pria dengan hipertrofi prostat. Terjadi peningkatan tekanan darah karena vasokontriksi dan stimulasi jantung. Efek farmakodinamiknya menyerupai efedrin tapi kurang menimbulkan efek SSP. Obat ini jika digunakan dalam dosis besar (>75 mg/hari) pada orang yang obesitas akan meningkatkan kejadian stroke. mencegah pengeluaran protein sitotoksik dari eosinofil. budesonid. tekanan nadi membesar. Menyebabkan konstriksi pembuluh darah kulit dan daerah splanknikus sehingga menaikkan tekanan darah. beta 1 dan beta 2.5 mg/4 jam Anak-anak 2-5 tahun : 6.25 mg/4 jam3. mengurangi aktifitas limfosit. sehingga hanya bolehdigunakan dalam dosis maksimal 75 mg/hari sebagai dekongestan. furoat dan triamsinolon). Preparat sodium kromoglikat topikal bekerja menstabilkan mastosit (mungkin menghambat ion kalsium) sehingga pelepasan mediator dihambat. Efektif pada pemberian oral. Hanya sedikit mempengaruhi jantung secara langsung dan tidak merelaksasi bronkus.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Gambar 17. Selain menimbulkan konstriksi pembuluh darah mukosa hidung. Dosis Dewasa : 25 mg/4 jam Anak-anak 6-12 tahun : 12. Dosis Dewasa : 60 mg/4-6 jam Anak-anak 6-12 tahun : 30 mg/4-6 jam Anak-anak 2-5 tahun : 15 mg/4-6 jam 2. Bekerja pada reseptor alfa. Efedrin Adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan efedra. mometason. sering terjadi pada pengobatan kronik yang dapat diatasi dengan pemberian sedatif. mencegah bocornya plasma. Efek kardiovaskular : tekanan sistolik dan diastolik meningkat. Terjadi bronkorelaksasi yang relatif lama. Kortikosteroid Inhalasi & Oral Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala terutama sumbatan hidungakibat respon fase lambat tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Kombinasi obat ini dengan penghambat MAO adalah kontraindikasi.Efek sentral : insomnia. flunisolid. masa kerja panjang. juga menimbulkan konstriksipembuluh dara h lain sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan menimbulkan stimulasi jantung. Phenylpropanolamine Dekongestan nasal yang efektif pada pemberian oral. 3. efek sentralnya kuat.flutikason. Efek stimulasi adrenoreseptor (Harvey. Kortikosteroid topikal bekerja untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid topikal (beklometason. Hal ini menyebabkan epitel hidung tidak hiperresponsif terhadap rangsangan allergen (bekerja pada respon cepat danlambat). Phenylephrine Phenylephrine adalah agonis selektif reseptor alfa 1 dan hanya sedikit mempengaruhi reseptor beta. Pada 20 .

dan juga sensitivitas terhadap alergen yang signifikan. Farmakoterapi untuk rhinitis alergi (Lalwani. dengan dosis empat kali sehari. Imunoterapi Imunoterapi bertujuan untuk meningkatkan tingkat toleransi individu terhadap paparan aeroallergen. Cara tatalaksana imunoterapi (di Amerika Serikat) adalah dengan meningkatkan dosis paparan antigen secara bertahap. hingga gejala berkurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan bagi penderita rhinitis alergi (Lalwani. Pada beberapa klinik. Pencegahan Tabel 5. klnisi harus memastikan bahwa pasien mengalami atopic. atau terapi yang inadekuat (ataupun intoleransi terhadap obat). Imunoterapi lebih umum dilakukan di Eropa dan cenderung lebih aman dan mudah untuk dilakukan mandiri di rumah . beberapa pendapat mengatakan bahwa imunoterapi dapat menginduksi produksi antibodi ‘pemblokir’. eosinofil dan monosit. Sebelum melakukan imunoterapi. dan juga regulasi terhadap serangkaian respon imun yang menyebabkan reaksi alergi. Indikasi imunoterapi adalah apabila adanya farmakoterapi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Mekanisme bagaimana cara kerja imunoterapi saat ini masih belum bisa dijelaskan. imunoterapi sublingual menjadi pilihan. 2008) Tabel 4. yaitu dengan cara memeriksakan IgE pasien terhadap spesifik alergen. Obat ini tergolong aman digunakan. Cromolyn Intranasal Penggunaan intranasal cromolyn (misalnya Nasalcrom) hanya efektif apabila diberikan sebelum terjadinya onset gejala.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 respons fase lambat. 2008) 21 . obat ini juga menghambat proses inflamasi dengan menghambat aktifasi sel netrofil. Hasil terbaik dapat dicapai bila diberikan sebagai profilaksis.

dan bahkan bersin itu adalah pemberian dari Allah. Jika ia mengatakan. terutama pada anak-anak. BATUK.8 Komplikasi Komplikasi rinitis alergi yang paling sering adalah: 1. 4009). no. “aah…” berarti syaithon sedang tertawa di dalam perutnya. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‫اطيلبعططنابس نمطن الن طوالشتطثنابؤبب نمطن الششيططنانن‬، ‫ضيع طيطدبه طعطل ى نفينه‬ ‫طفنإطذا طتطثناطءطب أططحبدبكيم طفيلطي ط‬، ‫ آيه آيه طفنإشن الششيططناطن طي ي‬:‫طوإنطذا طقناطل‬، ‫ضطحبك نمين طجيونفنه‬ ‫طوإنشن الط بينحبب ايلبعططناطس طوطييكطربه الشتطثنابؤطب‬ Gambar 18. no. Jika salah seorang diantara kalian menguap. tatkala kita sedang bersin. Polip hidung. Managemen pasien dengan rhinitis (Fauci. Sinusitis paranasal “Bersin itu dari Allah dan menguap itu dari syaithon. LO. 2008) 3. no. bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. 2666. 2746. 2. Beberapa peneliti mendapatkan. maka hendaklah kita memperhatikan adabadab yang diajarkan oleh Nabi kita.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Ibnu Khuzaimah. alHakim.Berikut ini adalah 22 . Sesungguhnya Allah menyukai perbuatan bersin dan membenci menguap. SENDAWA DAN MENGUAP Bersin adalah sesuatu yang disukai Allah Ta’ala. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ADAB BERSIN. no.4. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Otitis media yang sering residif.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 3. Agar bersin yang kita lakukan bisa mendatang pahala di sisi Allah Ta’ala. 3. hendaknya dia menutup dengan tangannya.9 Prognosis Prognosis baik jika penderita tidak terpajan dengan alergen dan belum terjadi komplikasi serta tidak memiliki predisposisi seperti asma dan riwayat keluarga. IV/264. 921 dan Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah.

hendaklah ia mengucapkan Alhamdulillah. Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫إنطذا طعطططس أططحبدبكيم طفيلطيبقنل ايلطحيمبد نشلن‬ ‫ طييرطحبمطك الب‬:‫صنانحببه‬ ‫طويلطيبقيل طلبه أطبخيوبه أطيو ط‬، ‫طفنإطذا طقناطل طلبه طييرطحبمطك ا ب‬ ‫صنلبح طبناطلبكيم‬ ‫ طييهنديبكبم الب طوبي ي‬: ‫ طفيلطيبقيل‬،‫ل‬ “Jika salah seorang di antara kalian bersin. no. IV/264 dan beliau menshohihkannya. “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin. Dalam redaksi yang lainnya disebutkan. maka ucapkanlah: yahdikumulloh wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu). ‫ضيع طكشفيينه طعطل ى طويجنهنه طويلطييخنف ي‬ ‫صيوطتبه‬ ‫إنطذا طعطططس أططحبدبكيم طفيلطي ط‬ ‫ض ط‬ “Apabila salah seorang dari kalian bersin hendaklah ia meletakkan tangannya ke wajahnya dan mengecilkan suaranya. Dan jika temannya berkata yarhamukallah. beliau meletakkan tangan atau bajunya ke mulut dan mengecilkan suaranya. oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mengucapkan tahmid tatkala bersin. 2745 dan beliau menshohihkannya. kadangkala ketika seseorang itu bersin. Disepakati pula oleh adz-Dzahabi. at-Tirmidzi. Pertama : Meletakkan Tangan Atau Baju ke Mulut Ketika Bersin Salah satu akhlaq mulia yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersin adalah menutup mulut dengan tangan atau baju.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 adab-adab yang harus kita perhatikan ketika bersin.” (Hadits shohih. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 9353. ‫ض أطيو طغ ش‬ ‫صيوطتبه‬ ‫طوطخطف ط‬ ‫ض نبطهنا ط‬ Ketiga : Memuji Allah Ta’ala Ketika Bersin Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan. Kedua : Mengecilkan Suara Ketika Bersin Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shohiih al-Jaami’. no. beliau menshohikannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi). atau menjadi sebab tersebarnya penyakit dengan ijin Allah Ta’ala.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim. keluarlah air liur dari mulutnya sehingga dapat menggangu orang yang ada disebelahnya. dan alBaihaqi dalam asy-Syu’ab. Maka tidak layak bagi seorang muslim menyakiti saudaranya atau membuat mereka lari. Maka sudah selayaknya setiap muslim mengecilkan suaranya ketika bersin sehingga tidak mengganggu atau mengejutkan orang-orang yang ada di sekitarnya. 6224 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) 23 . Hal ini sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau bersin. 5029. Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan kepada kita untuk mengamalkannya. 685) ‫ضطع طيطدبه أطيو طثيوطببه طعطل ى نفينه‬ ‫صشل ى الب طعلطيينه طوطسلشطم إنطذا طعطططس طو ط‬ ‫طكناطن طربسيوبل الن ط‬ Betapa banyaknya orang yang terganggu atau terkejut dengan kerasnya suara bersin. no. jika ia mengatakannya maka hendaklah saudaranya atau temannya membalas: yarhamukalloh (semoga Allah merahmatimu). no. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim. Diriwayatkan oleh al-Bukhori. no. IV/293. Di antara hikmahnya.

684) Dalam redaksi lainnya disebutkan. “Apa yang seharusnya diucapkan seseorang jika ia bersin?” Orang itu mengatakan. ‫صشل ى الب طعطليينه طوطسشلطم‬ ‫ ط‬. no.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫طشميت أططخناطك طث ط‬ ‫لثثنا طفطمنا طزاطد طفبهطو بزطكنام‬ “Do’akanlah saudaramu yang bersin tiga kali dan bila lebih dari itu berarti ia sedang sakit.‫طكناطن ايلطيبهيوبد طيطتطعناططبسيوطن نعينطد الشننبمي‬‫طييربجيوطن أطين طيبقيوطل طلبهيم طييرطحبمبكبم الب‬، ‫صنلبح طبناطلبكيم‬ ‫ طييهنديبكبم الب طوبي ي‬:‫طفطيبقيوبل‬ 24 . 8/257. Ini termasuk bagian dari nasihat. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam al-Misykah. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. 5034 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iiman. “Yarhamukalloh. 7/32. maka Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: ‫طالشربجبل طميزبكيوم‬ “Laki-laki ini sedang sakit. Beliau bersabda: ‫إنطذا طعطططس أططحبدبكيم طفيلبيطشميتيه طجنليبسبه‬، ‫ل بيطششميت طبيعطد طث ط‬ ‫ طو ط‬،‫لمث طفبهطو طميزبكيومم‬ ‫طفنإين طزاطد طعطل ى طث ط‬ ‫لمث‬ “Jika salah seorang dari kalian bersin. no. ‘Abdullah bin al-Mubarak melihat orang lain bersin tapi tidak mengucapkan Alhamdulillah.” Kelima : Tidak Perlu Mendo’akan Orang Yang Sudah Bersin Tiga Kali Berturut-Turut Demikianlah sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata.” Kemudian ia bersin lagi. “Yarhamukalloh. hendaklah kita mengingatkannya. hendaklah orang yang ada di dekatnya mendo’akannya. dan Ibnu ‘Asakir. no. no. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalamShohiih al-Jaami’. “Alhamdulillah. maka beliau berkata kepadanya. Ibnus Sunni.RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Dalam redaksi lainnya disebutkan. Janganlah kalian mentasymit bersinnya setelah tiga kali. no. 4743) Ada seorang laki-laki bersin di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla.” Maka Ibnul Mubarak menjawab. no. no. 6226 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Keempat : Mengingatkan Orang Yang Bersin Agar Mengcapkan Tahmid Jika Ia Lupa Jika kita mendapati orang yang bersin namun tidak memuji Allah Ta’ala. 2993) Keenam : Tidak Mengucapkan Tasymit Terhadap Orang Kafir Yang Bersin Meskipun Ia MengucapkanAlhamdulillah Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Jika salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah. 5034. Dan jika (ia bersin) lebih dari tiga kali berarti ia sakit. maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan tasymit (yarhamukalloh) …” (Hadits shohih. 251. ia mengatakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫إنشن الط بينحبب ايلبعططناطس طوطييكطربه الشتطثنابؤطب‬، ‫طفنإطذا طعطططس طفطحنمطد ا ط‬ ‫ طفطحقق طعطل ى بكمل بميسنلمم طسنمطعبه أطين بيطشمطتبه‬،‫ل‬ “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

RIVAN TRISATRIO 110 2014 230 B5 Dahulu orang Yahudi sengaja bersin di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan Nabi mengatakan. no. 25 . no. 2739. “yarhamukumulloh (semoga Allah merahmatimu)” tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Yahdikumulloh wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud. 5038 dan At-Tirmidzi. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih).