You are on page 1of 4

Salah satu parameter penentu kualitas air adalah pH atau point of hidrogen.

Kelimpahan suatu hidrogen dalam air dapat menentukan kualitas suatu air. Beberapa makhluk
hidup yang berhabitat di air biasanya memiliki toleransi terhadap keasamaan air. Hanya
beberapa makhluk hidup yang dapat hidup dalam kondisi pH asam dan hanya beberapa
makhluk hidup yang dapat hidup dalam kondisi pH basa.
Sampel yang didapatkan dari sungai Muara Bulian dideteksi derajat keasamannya
dengan pH meter. Di suhu air 27,7 ᵒC, didapat pH sebesar 5,39 atau bisa dikatakan asam.
Data ini belum bisa dikatakan mewakili pH sungai Muara Bulian karena sampel yang
didapatkan belum bisa dikatakan mewakili semua area sungai sehingga harus dilakukan
penelitian lebih lanjut dan bertingkat agar diketahui nilai pH yang dapat mewakili sungai
Muara Bulian. Pengambilan sampel juga harus diperhatikan seperti suhu dan kondisi cuaca.
Karena pada suhu dan kondisi cuaca yang berbeda dapat mempengaruhi tinggi rendahnya pH.
Nilai pH dalam suatu perairan merupakan suatu indikasi terganggunya perairan
tersebut. Berkurangnya nilai pH dalam suatu perairan ditandai dengan semakin meningkatnya
senyawa organik diperairan tersebut (Simanjutak, 2012). Menurut KMNHLH (2004), air
dikatakan baik jika memenuhi kriteria Nilai Ambang Batas (NAB) Kementerian Lingkungan
hidup yaitu 6,5– 8,5.
Parameter penentu kualitas air lainnya adalah DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen
telarut. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi
untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi
bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam
suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis
organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000 dalam Salmin, 2005).
Sampel yang telah diambil dari sungai Muara Bulian, oksigen terlarut dapat
ditentukan dengan dua cara, menurut Salmin (2000), Oksigen terlarut dapat dianalisis atau
ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu :
1. Metoda titrasi dengan cara Winkler
Metoda titrasi dengan cara winkler secara umum banyak digunakan untuk
menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri.
Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl 2 dan NaOH - KI,
sehingga akan terjadi endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan
yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I 2) yang

4 mL. Titrasi dengan menggunakan natrium thiosulfat ini disarankan menggunakan ketelitian yang tinggi.ekivalen dengan oksigen terlarut. selanjutnya sampel dititrasi dengan Na2S2O3. Hasil ini didapatkan sehari setelah sampel didapat. memiliki cara yang sama dengan cara dengan metode winkler. Reaksi yang terjadi adalah : Tetapi pada analisis ini. dikarenakan titik akhir titrasi sebelum ditambahkan indikator sangatlah tipis. Yodin yang terbentuk kemudian dititrasi dengan sodium thiosulfat dengan indikator amilum. Indikator amilum ditambahkan hingga warna sampel yang dititrasi berubah warna menjadi biru. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3)dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Sehingga DO yang didapat adalah .→ S4O6. Oksigen terlarut bereaksi dengan ion mangan (II) dalam suasana basa menjadi hidroksida mangan dengan valensi yang lebih tinggi (Mn IV). Titrasi dilanjutkan hingga warna biru hilang.14-2004. Reaksi yang terjadi adalah MnSO4 + 2 NaOH → Mn(OH)2 + Na2SO4 Mn(OH)2 + ½ O2 → MnO2 + H2O MnO2 + KI + 2 H2O → Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 S2O32. sampel yang setelah ditambahkan MnSO4 dan alkali yadida azida akan memiliki endapan dan ketika diteteskan dengan H2SO4. Ini dikarenakan H2SO4 yang dipakai adalah yang memiliki 6 normalitas. Seharusnya jika memakai asam sulfat 6 N. sampel yang didapat dari sungai Muara Bulian ditambahkan dengan MnSO4 sesuai dengan SNI 06-6989. endapannya akan kembali larut tetapi pada sampel ini tidak larut. Setelah endapan sampel berhasil terendapkan. Pada intinya. Hasil titrasi yang didapat adalah 0. harus ditambahkan sebanyak 3 mL agar endapan pada sampel berhasil terendapkan tetapi jika memakai asam sulfat pekat dapat menggunakan sekitar 1 mL. ion mangan (IV) akan kembali menjadi ion mangan (II) dengan membebaskan yodin (I2) yang setara dengan kandungan oksigen terlarut. Dengan adanya ion yodida (I-) dalam suasana asam.+ 2 ITitrasi langsung pada lokasi tidak mendapatkan hasil.

Metoda elektrokimia Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Idealnya. elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. oksidasi udara dan adsorpsi I2 oleh endapan (Salmin. Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme.kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik).31 mg/L Data diatas belum dapat dijadikan acuan kualitas air. 2. . kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah : Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. dikarenakan DO seharusnya diukur langsung pada hari sampel diambil. hal ini disebabkan karena I 2 mudah menguap.DO ( mgL )= 0. Kelemahan Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara Winkler penambahan indikator amilum harus dilakukan pada saat mendekati titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar bereaksi untuk kembali ke senyawa semula.098 N ×8000 ×( 300 ) 300−2 50 = 6. Pada alat DO meter. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin.7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet. 1970). Secara keseluruhan. 2000). Dan ada yang harus diperhatikan dari titrasi iodometri yang biasa dapat menjadi kesalahan pada titrasi iodometri yaitu penguapan I2. 2000). Tetapi menurut Swingle (1968) . probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut (Salmin. Sampel yang telah didiamkan selama satu hari juga kemungkinan telah berinteraksi dengan oksigen di udara sehingga menambah jumlah oksigen terlarut dalam air.4 mL ×0.

Karena setiap perubahan suhu pada saat pengambilan atau pemeriksaan sampel air mempengaruhi besarnya kadar DO yang diukur oleh DO meter. Disamping itu. penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. sampel dari sungai Muara Bulian memiliki DO sebesar 3. peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. karena DO meter hanya dijadikan sebagai pembanding dari data analisis DO dengan menggunakan metode winkler. sebagaimana lazimnya alat yang digital. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. .86 mg/L. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran (Salmin.Menurut DO meter. Berdasarkan pengalaman di lapangan. Tetapi data ini tidak dapat dijadikan sebagai acuan kualitas air. 2000). Cara DO meter.