You are on page 1of 22

KEBUTUHAN BIOLOGI DAN FISIOLOGI I STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA CHOLELITIASIS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
TAHUN 2015
CHOLELITIASIS

A. Definisi
Kolelitiasis merupakan batu saluran empedu, kebanyakan terbentuk didalam kandung
empedu itu sendiri. Unsur pokok utanya adalah kolesterol dan pigmen,dan sering
mengandung campuran komponen empedu manifestasi batu empedu timbulbila batu
bermigrasi ked an menyumbat duktus koleduktus.obstruksi menyebabkan nyeri dan
menyumbat ekskresi empedu nyeri visceral diperkirakan oleh kontraksi bilier dan
disebut kolik bilier nyeri ini tidak seperti kolik tetapi biasanya dirasakan menetap
,sangat sakit atau ada tekanan di epigastrium.(Monica Ester,2000)
B. Etiologi
Ada dua tipe utama batu empedu : batu yang terutama tersusun dari pigmen dan batu
yang terutama tersusun dari kolesterol.
Batu pigmen : kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang terkonyugasi dalam
empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu . batu ini
bertanggung jawab atas sepertiga pasien pasien batu

empedu di amerika, resiko

terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis, dan infeksi
percabangan bilier, batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan
operasi( Brunner suddarth edisi 8 vol 2, 2002)
Batu kolesterol bertanggung jawab atas sebagian besar kasus batu empedu lainnya di
amerika serikat. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat
tidak larut dalam air.kelarutannya bergantung pada asam asam empedu dan
lesitin(fosfolipid ) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu
akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam
hati: keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang
kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu
yang enuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan
berperan sabagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. ( Brunner
suddarth edisi 8 vol 2, 2002)

C. Faktor resiko

Jenis kelamin dan hormone Estrogen. Pasien dapat mengalami kolik bilier disertai nyeri hebat pada abdomen kuadaran kanan atas yang menjalar ke punggung atau bahu kanan. Manifestasi Klinis 1. . 3.Genetik 3..enteritis regional.Pada sebagian pasien rasa nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten. bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding abdomen pada daerah kartilago kosta 9 dan 10 kanan.Kegemukan 5. . pankreatitis. penyakit ileus atau reseksi(yang mengakibatkan kekurangan garam empedu). Ikterus Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam dudodenum akan menimbulkan gejala yang khas. terapi kolfibrat(untuk mengobati hiperlipidemia)dan terapi koleltiramin. 2.Diet rendah sehat D. kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi.Diabetes. 4. rasa nyeri ini biasanya disertai mual dan muntah dan bertambah hebat dalam makan makanan dalam porsi besar. yaitu: gatah empedu yang tidak lagi dibawa kedalam duodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan menbran mukosa berwarna kuning. Pasien akan menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada abdomen. nutrisi parenteral jangka panjang (yang mengakibatkan penurunan motilitas kantung empedu). kehamilan multiple. Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu empedu kolesterol adalah : (Inayah. Dalam keadaan distensi. vagotomi (pemotongan saraf vagus yang mempersarafi fundus lambung).Serangan kolik bilier semacam ini disebabkan kontraksi kandung empedu yang tidak dapat mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu. Sentuhan ini menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas ketika pasien melakukan inspirasi dalam dan menghambat pengembangan rongga dada.2004) 1.Usia 2.2000). Perubahan warna urine dan feses.pembatasan kalori dengan diet tertentu. (Monica Ester. Rasa nyeri dan kolik bilier Jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu. Keadaan ini sering disertai dengan gejal gatal-gatal pada kulit.

Obstruksi duktus empedu diikuti oleh kolelistitis akut yang mungkin berhubungan dengan peningkatan tekanan dan iskemia di kandung emedu atau iritasi kimia dari organ yang disebabkan oleh pemajananjangka panjang terhadap konsentrat empedu. 4. yang pertama adalah apedistitis. Karenanya diangap bahwa kontamiasi bakteri dapat menjadi sekunder akibat statis atau dapat diakibatkan leh infeksi berat. 2002) E. .E. tetapi sampai dengan 80 % kasus.Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat urine berwarna sangat gelap. termasuk masukan lemak tinggi mempunyai hubungan dengan kolelitiasis. Patofisiologi Gangguan paling umum dari kandung empedu atau kolesistitis (inflasi) dan kolelitiasis (batu empedu. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen empedu aka tampak kelabu. Defisiensi Vitamin Obstruksi aliran empedu juga akan mengganggu absorbsi vitamin A.D.dan sering mengandung campuran komponen empedu manifestasi batu empedu timbulbila batu bermigrasi ked an menyumbat duktus koleduktus. ( Brunner suddarth edisi 8 vol 2. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu pembekuan darah yang normal. Kolelitiasis merupakan batu saluran empedu.sangat sakit atau ada tekanan di epigastrium. Infeksi bakteri utama dapat meneyebabkan kolesistitis. seperti septisemia. Refluks pankreas dapat terjadi dan menyebaban iritasi oleh kontak enzim pankreas dengan mukosa duktus empedu. terjadi batu obstruktif dalam saluran empedu.K yang larut lemak.obstruksi menyebabkan nyeri dan menyumbat ekskresi empedu nyeri visceral diperkirakan oleh kontraksi bilier dan disebut kolik bilier nyeri ini tidak seperti kolik tetapi biasanya dirasakan menetap . kebanyakan terbentuk didalam kandung empedu itu sendiri. Karena itu pasien dapat memperlihatkan gejala defisiensi vitaminvitamin ini jika obstruksi bilier berlangsung lama. Inflamasi kandung empedu adalah penyakit nyeri abdomen paling umum kedua yang memerlukan pembedahan abdomen. dan biasanya pekat yang disebut “Clay-colored”.Faktor diet. Unsur pokok utanya adalah kolesterol dan pigmen.

Kolelistitis kronik biasanya dihubungan dengan batu didalam duktus biier dan dmanifestasikan oleh intoleran terhadap makanan berlemak.Kolelitiasis akut dapat menyebabkan komplikasi dengan abses dan atau perforasi empedu. mual dan .

.(Monica Ester.muntah dam nyeri setelah makan.2000). .

.

Prosedur ini akan memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada malam harinya sehingga kandung empedunya berada dalam keadan distensi.Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung empedu untuk melakukan pengisian. Pemeriksaan Diagnostik 1. Radiologi Pemeriksaan USG telah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. berkontraksi serta mengosongkan isinya. dan dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Sonogram Sonogram dapat mendeteksi batu dan menentukan apakah dinding kandung empedu telah menebal. Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat optik yang fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens. Pemeriksaan Laboratorium (Inayah.2004) 1. Radiografi: Kolesistografi Kolesistografi digunakan bila USG tidak tersedia atau bila hasil USG meragukan. Oral kolesistografi tidak digunakan bila pasien jaundice karena liver tidak dapat menghantarkan media kontras ke kandung empedu yang mengalami obstruksi. Sebuah kanula dimasukan ke dalam duktus koleduktus serta duktus pankreatikus. F.SC dan Bare. 2. (Smeltzer dan Bare. pemeriksaan USG tidak membuat pasien terpajan radiasi inisasi.SDP (Meningkat lebih dari 12. (Williams 2003).000) 2. 3.BG 2002).Disamping itu.Amilase serum. 2002). ERCP (Endoscopic Retrograde Colangiopancreatografi) Pemeriksaan ini memungkinkan visualisasi struktur secara langsung yang hanya dapat dilihat pada saat laparatomi.F. Penggunaan ultra sound berdasarkan pada gelombang suara yang dipantulkan kembali. kemudian bahan kontras disuntikan ke dalam duktus tersebut untuk menentukan keberadaan batu di duktus dan memungkinkan visualisassi serta evaluasi percabangan bilier (Smeltzer.Pemeriksan USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koleduktus yang mengalami dilatasi. 4.Bilirubin serum 3. . memekatkan isinya.

Obat obat analgesic lainnya. klien tetap puasa dengan pemberian cairan intravenauntuk mempertahankan hidrasi.(Monica Ester.Ada juga yang membagi berdasarkan ada tidaknya gejala yang menyertai kolelitiasis. atau aminoglikosida. Analgesik biasanya meperidin (Demerol) dapat diberikan intramuscular pada jadwal atau sesuai kebutuhan untuk nyeri.Koleksistogram(hanya untuk kolelistitis saja) 7.2000). atau makan makanan yag normal. :Eschercia coli. Klien dapat diinstruksikan untuk menghindari makanan yang mencetuskan kolik bilier. Antibiotki yang efektif diberikan tunggal mencakup ampisilin. Clostridum welchii.Pemeriksaan Ultrasonografi/Radiologi abdomen 5. . Kombinasi obat obat ini mungkin lebih efektif pada klien dengan diabetes mellitus atau dengan kondisi lemah. mengkonsumsi makanan yang banyak setelah puasa.2000).(Monica Ester.Pemeriksaan radiologi dada(untuk mengetahui pneumonitis) H. dan antimetik diberikan unuk mualdan muntah. ` b. Spesies proteus.masa protombin(PT) 8.Klebsiella aerogenes. . Diet ditingkatkan sesuai toleransi klien. dan penatalaksanaan awal harus mencakup pemberiaan antibiotic efektif terhadap organisme yang ditemukan dalam empedu kira kira 80% kasus. Antasida diberikan untuk menetralisasi hiperasiditas gester dan mengurangi nyeri yang berhubungan.4.Skintigrafi kandung empedu. . Organisme ini mencakup baik gram-positif dan gram negative aerob dan anaerob. Penatalaksanaan Penanganan kolelitiasis dibedakan menjadi dua yaitu penatalaksanaan non bedah dan bedah. Penatalaksanaan Non bedah a) Penatalaksanaan diet. Ini dapat mencakup memakan makanan berlemak. Streptococus faecialis..sefalosporin. yaitu penatalaksanaan pada kolelitiasis simptomatik dan kolelitiasis yang asimptomatik. 1. 6.streptokoki anaerob.antibiotika diberikan unuk mengurangi kemungkinan infeksi. Selama serangan akut olik bilier. Klien yang dicurigai mengalami kolelistitis akut perlu dirawat di rumah sakit. spesies enterobakter.

2.(Monica Ester. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren. b) Kolesistektomi laparaskopi .2% pasien. Kontraindikasi untuk prosedur adalah adanya batu koledektus. Intervensi non bedah yang penting adalah penggunaan agens yang diberikan peroral senodeoksidat untuk atau melarutkan senodiol. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL) ESWL dapat digunakan pada kelompok klien terpilih.C .(Monica Ester. .Agen pelarut kolesterol. Ursodiol) telah secara luas digunakan karena efektifitasnya dan tidak menghasilkan efek samping. kolelitiasis akut baru. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0. dokter memasukkan endoskop secara oral ke duodenum.2000). Penatalaksanaan Bedah a) Kolesistektomi terbuka Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga kolelitiasis simtomatik. diikuti oleh kolesistitis akut.5%. kemudian memasukan kawat sinar ke duktus koledektusmelalui ampula vater. dan pankreatitis. kolangitis. Endoskopi. Klien harus mempunyai gejala kolelitiasis dengan batu lebih dari empat dan masing masing dengan diameter kurang dari 3 cm.prosedur pembedahan dilakukan dengan anestesi umum. D.Untuk mengangkat batu empedu dari duktus koledektus.Asam secara luas karena kecenderungan untuk mengakibatkan diare yang berhubungan dengan dosis. masing masing obat menggunakan mekanisme yang berbeda. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0. . Endoskopi retrograd untuk pembuangan batu adalah alternatif non bedah yang Penting.gelombang syok diulang sampai batu hancur.2000).mengikat dan menangkat batu yang tersumbat. E. Namun asam urso-deoksilat (UDCA. tidak batu empedu digunakan kolesterol. Kedua obat ini bekerja dengan mennurunkan jumlah kolesterol dalam empedu.

Perikolesistitis 6.Secara teoritis keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan. Kolesistitis kronis . nyeri menurun dan perbaikan kosmetik. Kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Peradangan pankreas (pankreatitis) 7.5% untuk operasi normal) dengan mengurangi komplikasi pada jantung dan paru. banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien dengan batu duktus koledokus.Masalah yang belum terpecahkan adalah keamanan dari prosedur ini. berhubungan dengan insiden komplikasi seperti cedera duktus biliaris yang mungkin dapat terjadi lebih sering selama kolesistektomi laparoskopi. Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut. pasien dapat cepat kembali bekerja. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis : 1. K.Karena semakin bertambahnya pengalaman.Kolesistektomi laparoskopik mulai diperkenalkan pada tahun 1990 dan sekarang ini sekitar 90% kolesistektomi dilakukan secara laparoskopi. Kolik bilier 4. Obstruksi duktus sistikus 3.1-0. 80-90% batu empedu di Inggris dibuang dengan cara ini karena memperkecil resiko kematian dibanding operasi normal (0. Kolesistitis akut 5. Asimtomatik 2. Perforasi 8.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S DENGAN DIAGNOSA MEDIS CHOLELITIASIS SOAL KASUS Pada hari Selasa tanggal 12 November 2013 jam 10:00. Sa . di ruang Paviliun Garuda RS KARIADI Identitas Nama : Ny.

perut kanan atas nyeri seperti mencengkeram. kemudian periksa di UGD RS Mardi Rahayu Kudus dilakukan USG : Suspect batu di duktus choleduktus distal dengan cholelithiasis intra/ekstra hepatal. RPD : Belum pernah sakit seperti ini hanya mual. A. kemudian minta dirujuk ke RSDK sampai sekarang. nyeri dirasa hilang timbul. Utama : Suami : Nyeri perut kanan atas RPS : 2 Minggu SMRS perut sakit badan panas. kencing seperti teh. waktu dikaji klien hanya makan 3 sendok. K Umur : 55 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Pati Pekerjaan : PNS Hubungan dengan pasien Kel. penyakit jantung (-). makan sedikit terasa penuh. Nafsu makan kurang.skala nyeri 5. HT (-). Klien takut operasi kalau bisa minta diobati saja. Register : 8099075 . PENGKAJIAN 1. berak seperti dempul.Umur : 52 tahun Agama : Islam Alamat : Perumda Sukoharjo RT 01 RW VI Margorejo Pati Pekerjaan : PNS Tgl Masuk : 11 November 2013 CM : C255717 Diagnosa medis : Cholelithiasis Penanggung jawab Nama : Tn.mual sering kemudian periksa kata dokter saki t maag. Biodata a. EKG : RBBB inkomplit. Data Demografi Tanggal masuk : 12 Nopember 2013 No. perut makin membesar. bila dipaksakan terasa mau muntah.

00 WIB Diagnosa : Cholelitiasis Biodata Klien Nama : NY. dilakukan USG Abdomen hasil suspect batu di duktus cholekduktus distal dengan cholelitiasis intra/ekstra hepatal. nyeri dirasakan kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan Utama Nyeri Perut kanan atas. Riwayat Keluhan utama Pada saat dilakukan pengkajian di ruang Paviliun garuda tgl 12 nopember 2013 pasien mengatakan nyeri perut kanan atas. Q : mencengkram R : nyeri di right hypochondriac region S : skala 5 . Dengan klien : Suami 2. skala nyeri 5. kemudian periksa ke RS MARDI RAHAYU Kudus.perut makin membesar. nyeri seperti mencengkram. Riwayat Kesehatan a.K Umur : 55 tahun Agama : Islam Status : Menikah Pekerjaan : PNS Hub. nyeri hilang timbul.S Umur : 52tahun Agama : Islam Status : Menikah Pekerjaan : PNS Alamat : -- Biodata Penanggung Jawab Nama : Tn.Ruang / Kamar : Paviliun Garuda Tanggal Pengkajian : 12 Nopember 2013 jam 10.Kemudian minta dirujuk ke RS KARIADI DS : Nyeri P : penyebab nyeri adanya batu empedu. b.

66 kg saat sehat. Riwayat penyakit dahulu Pasien belum pernah sakit seperti ini hanya mual mual sering . ADL ( Activity Daily Living ) No ADL 1 1. bila . Minum b. merasa akan muntah. Nutrisi Jenis Menu Frekuensi Porsi Pantangan Keluhan 2 2. Air putih 6 Gelas 1200 cc Kopi Air Putih 6 Gelas 1200 cc Kopi Hanya makan 3 sendok. Jenis minum Frekuensi Jumlah Pantangan Di Rumah Di Rumah Sakit Ikan. Riwayat penyakit keluarga Dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit jantung koroner dan penyakit keturunan. d. Lunak 1700 Kkalori 3x/hari 1 piring makan sedikit kerasa makan dipaksakan pasien penuh. Tanda-tanda vital TD :115/70 mmhg P : 100x/Menit irregular. Pasien mengatakan nyeri perut kanan atas. c.T : hilang timbul DO : tampak gelisah. kemudian periksa kata dokter sakit maag.5 ºC BB : 62 kg saat sakit.(1 bulan yang lalu) TB : 165 cm I. Penampilan Umum Kesadaran Compos Mentis. meringis kesakitan. tempe+tahu+nasi 3x/hari 1 piring Tidak ada Nafsu makan kurang. pasien tidak pernah sakit jantung atau hipertensi. teraba kuat RR :22x/Menit Suhu : 36. DATA BIOLOGIS 1.

Baru masuk rumah sakit pagi 8 jam ini tgl 12 nopember 2013 21: 00. a. Berpakaian Ganti pakaian Mobilisasi aktivitas 4. BB selama sakit : 62Kg TB : 165cm Vital Sign Tekanan darah : 115/70 mmHg + + 1X Dibantu oleh keluarga Mudah capek . Personal Hygine a.3 3. a. Pemeriksaan Fisik 1. Kesukaran tidur b. Eliminasi BAK Frekuensi Jumlah Warna Bau Kesulitan 7x 950 cc Kemerahan seperti teh Khas Tidak ada 7x 950 cc Kemerahan seperti teh Khas Tidak ada BAB Frekuensi Konsistensi Warna Bau Kesulitan 1x lembek putih seperti dempul Khas Tidak ada 1x Lembek Putih seperti dempul Khas Tidak ada 2x 2x + + dibantu 1X Dibantu kadang-kadang Mudah capek 2x 6 5. Mandi Frekuensi Sabun Gosok gigi 7 b. Istirahat dan Tidur Malam Dari jam … s/d jam….05:00 Malam kadang kadang terbangun karena kadang kerasa sakit 4 4. Parameter Umum Kesadaran : composmentis BB sebelum sakit : 66kg b. 5 b.

ronchi tidak ada. BJ 2 + 8) Perut Inspeksi : tidak ada acites. jvp tidak ada peningkatan 2) Mata dan Telinga Konjungtiva pucat. ictus cordis teraba kuat di ICS 5 dada sebelah kiri.Suhu : 36. Perkusi: batas jantung dalam batas nomal Auskultasi :Bunyi gallop tidak diketemukan. wheezing tidak ada 7) Sistem Cardiovaskuler Inspeksi: Konjungtiva anemis bibir dan kuku tidak ada Sianosis. telinga pendengaran baik. tidak ada benjolan atau lesi.tidak terjadi peningkatan jvp Palpasi :tidak ada thrill. 3) Hidung Simetris. tidak tampak ictus cordis. lubang hidungbesar. tidak ada pembesaran kelenjar limfe. lingkar gelap bawah kelopak mata (-) normal. perut tampak membesar di sebalah kanan. Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. BJ 1 +. burel chest. Tidak rontok. distribusi alis rata. tidak ada kelainan dada kogenital seperti scoliosis. funnel chest dan pigeon chest. melalui pemeriksaan vocal premitus teraba getaran di kedua belah dada. Perkusi :bunyi resonan Auskultasi : tidak adanya suara nafas tambahan. distribusi rata. bersih. . Auskultasi : bising Usus 8x/menit Palpasi hepar tidak ada hepatomegali. Palpasi : Dada simetris tidak ada massa .3oC Nadi : 100x / mnt teraba kuat RR : 22x / mnt 1) Kepala dan leher Rambut hitam. 4) Mulut dan Tenggorokan mukosa lembab 5) Kulit turgor baik tidak terlihat adanya edema atas dan bawah 6) Dada Inspeksi : bentuk dada simetris. ada nyeri tekan pada perut bagian kanan atas.

2 33.03 133 Negatif 40 72 0.6 13 3.6 37 29. . tetesan lancar Bawah kaki kanan dan kiri tidak edeme Prosedur Diagnostik dan Laboratorium a.0 29.00 Wib Kesan : RBBB inkomplit. Hasil pemeriksaan USG ABDOMEN :suspect batu di duktus cholekduktus distal dengan 1 0.5 Satuan [g/dl] [ 10^6/UL] [ 10^3/UL] [%] [fL] [P9] [g/dl] [ 10^3/UL] mg/dl mg/dl (H ) mg/dl (H) mmol/l mmol/l mmol/l mmol/l No 1 4. 3. pekak pada perut kanan atas.3 1.5 142 4.2 3. 12 Nopember 2013 jam 07. 9) Genetalia Bersih 10) Ekstremitas Tangan kiri terpasang infus RL 12 tpm .5 4.6 308 96 60 1.Perkusi :suara timpani pada tiga kuadran. Pemeriksaan Darah 22/05/2015 Parameter Hemoglobin Eritrosit Leukosit Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit GDS UREUM KREATININ Natrium Kalium Kalsium Chlorida Hbsag SGOT SGPT Bilirubin Direk Bilirubin Total Albumin Hasil 8.0 0. 3 7 27.3 10 42. 98 ne 1 1 3. tidak bengkak.0 15 80-160 U/L U/L mg/dl mg/dl gr/dl Hasil Pemeriksaan EKG TGL .

abdomen. Hb : 8.15 WIB nafsu makan. 10.10 DS. ancaman kematian C. Masalah Nyeri Akut P : penyebab nyeri adanya iritasi batu empedu.30 O: Pasien tampak bertanya perubahan tentang penyakitnya status kesehatan. lambung.cholelitiasis intra/ekstra hepatal DIET : Lunak 1700 Kilokalori B. sedikit makan nutrisi kurang dari perut terasa penuh. kebutuhan O : Pasien maan sedikit. ANALISA DATA Tanggal 12-11-2013 Data Nyeri Penyebab Distensi 10. DIAGNOSA KEPERAWATAN Ansietas . Q:mencengkram Obstruksi R : nyeri di right kandung hypochondriac region empedu S : skala 5 T : hilang timbul R:p DO : tampak gelisah 12-11-2013 S: Pasien mengatakan tidak Anoreksia Ketidakseimbangan 10. 62 Kg.5 S : Pasien merasa cemas. tubuh BB sebelum sakit : 66 kg BB saat sakit .5 g/dl 12-11-2013 Albumin : 3.

obstruksi kandung empedu. Lakukan berkurang setelah komprehensif meliputi lokasi. INTERVENSI Hari / Tgl/ Jam 12-11-2013 Dx. terapi aktivitas. transcutaneous stimulation yang penggunaan nonfarmakologi a. intensitas keperawatan selama 1x24 atau keparahan nyeri. mengatasi nyeri terapi bermain. Ansietas b. Pasien mampu (misalnya. berkurang b. iritasi lambung. dan selama penggunaan 3. e. imajinasi terbimbing.30 WIB Tujuan Intervensi Pasien mengatakan nyeri 1.Monitor kulitas nyeri pasien. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. relaksasi. biasanya kepala ditinggikan 30 sampai 45 derajat. Skala nyeri nyeri (TENS).d distensi abdomen . dan faktor presipitasinya. 3. 5. –Kaji dan dokumentaskan tingkat kecemasan . 4. distraksi. akupresur. jam dengan kriteria pengkajian 2.RR.d perubahan status kesehatan. teknik umpan balik electrical nerve hipnosis.Monitor Vital sign (TD.S) 4. 3. karakteristik.35WIB 2 Pasien mengatakan cemas berkurang setelah 1. Nadi 60- aktivitas yang menyakitkan. frekuensi. ancaman kematian. Nyeri Akut b. RR : 12- tindakan pengurangan nyeri yang lain. 2. Tampak rileks c. teknik non setelah dan jika memungkinkan. 18X/menit terjadi atau meningkat.N. jangan lipat lutut.Monitoring : 2. Ajarkan hasil : biologis. 1. dan masase) sebelum. selama farmakologis d. a 5 12-11-2013 10. pertahankan tirah baring yang memberikan posisi nyaman. Kep 1 10. kualitas. terapi musik. sebelum nyeri 100x/menit.d anoreksia D.1. dilakukan tindakan awitan/durasi. dengan beberapa kompres hangat/dingin.

2.klien menunjukkan pada pasien. 2. masalah ketidak seimbangan nutrisi berkurang dengan kriteria hasil: 1.Tampak rilek 3 3. –jelaskan semua prosedur termasuk yang biasanya dirasakan selam prosedur. 10. –ajarkan tehnik distraksi dan terpi okupasi untuk mengurangi ansietas 12. 7. 6. –pernyatan yang jelas tentang harapan dari perilaku pasien. –jelaskan dan sediakan infornasi aktual tentang diagnosis. Kaji makanan kesukaan pasien. 8. - Membran mukosa lembab 7. Timbang pasien tiap 3 hari sekali - Hasil lab albumin 8. 9. perawatan. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan. 5.Tindakan mandiri.Tidak menunjukkan perilaku agresif 4 4. –motivasi pasien untk mengungkapkan pilihan kemampuan untuk berfokus pada pengetahuan dan keterampilan yang baru. –Observasi kemampun pengambilan keputusan hasil : - 1.40WIB 3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24jam. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi - 5. Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi .mampu mengidentifikasi gejala kecemasanyang mncul. 3. 4. Catat warna jumlah.tingkat kecemasan berkurang 2. –dampingi pasien selama prosedur untuk mengurangi rasa takut. 5. 13. Anjurkan oral hygiene sebelum makan. 11. dan prognosis.dilakukan tindakan keperawatan selama 1x1 klien. –Observasi penggunaan tehnik relaksasi yang telah dimiliki dan belum dimiliki untuk jam dengan kriteria mengurangi ansietas di masa lalu 4. dan frekuensi muntah. dan perasaan untuk mengestimalisasikan ansietas. Identifikasi faktor pencetus mual muntah. berat badan dapat dipertahankan atau bertambah. –bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang mencetuskan cemas. 14. - Nafsu makan meningkat 6. – gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. 3. 12-11-2013 10.

Suzanne C. Kolaborasi dengan ahli gizi 10. 2001.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. Smeltzer. Inayah. Albumin serum. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Berikan umpan balik positif kepada pasien yang menunjukkan peningkatan selera makan 13.2000. Sylvia Anderson. 1995. .Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Libatkan keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien 11. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Keperawatan Medikal bedah. Pendekatan system Gastrointestinal. Monica Ester. Pantau BUN. DAFTAR PUSTAKA Price. Ciptakan lingkungan yang menenangkan saat makan 12.meningkat 9.Asuhan Keperawatan pada kilen dengan gangguan system Pencernaan.2004.