You are on page 1of 10

Kelompok

:
1.Desak Nyoman Savita Mardani
2. Fitri Nurrohmah Dewi
3. Naila Syani Zulfah
4. Mochammad Fachri Azhar
5. M. Ray Chairil Fauzan
6. M.Samsul Herdiansyah

Naskah Drama “Bawang merah dan Bawang putih” .

Pengawal B. . Pangeran 6. Ibu si Bawang Putih sakit parah. Bapak dan seorang anak perempuan yang bernama “Bawang Putih”. dia melihat kecantikannya dan kemudian jatuh hati padanya. Bawang Putih semakin hari semakin sedih dan menderita karena disiksa oleh Ibu dan saudara tirinya. C. hingga suatu ketika si Bawang Merah memanggil Bawang Putih dengan penuh amarah. Si Bawang Putih sangat sedih sekali karena ditinggalkan Ibunya. Ketika itu bapaknya sedang berdagang. Bapak Bawang Putih 5. Bawang Putih 3. sedangkan Bapak yang disayangi menikah lagi dengan wanita lain yang telah mempunyai anak perempuan yang bernama “Bawang Merah”. mereka hidup bahagia. Ibu si Bawang Putih tidak bisa diobati akhirnya meninggal dunia. tapi karena kebaikan si Bawang Putih akhirnya dilamarlah oleh pangeran itu dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Pada suatu hari lewatlah seorang pangeran yang tampan dia melihat Bawang Putih sedang mencuci baju di sungai. Ibu Bawang Merah 4.“BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH” A. SINOPSIS CERITA BAWANG MERAH BAWANG PUTIH Alkisah di sebuah desa hiduplah satu keluarga yang terdiri dari: Ibu. Bawang Merah 2. NASKAH DRAMA Alkisah disebuah desa hiduplah satu keluarga yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih. Pada suatu hari musibah menimpa keluarga mereka. yang dalam hidupnya Bawang Putih penuh dengan siksaan dan hinaan serta omelan. Pangeran mengejar si Bawang Putih kerumahnya tetapi dihalangi oleh saudara tirinya. Pemain: 1.

Ibu jaga diri baik-baik ya dan juga anak kita baik-baik. kok sepi. Bawang Merah! (merunduk dan pergi mangambil sapu. (sambil merebah kepundaknya). Kamu… harus membersihkan ruang tamu ini sampai bersih. dan saya sayang sekali sama Ibu juga anak kita berdua (mengelus rambut istri) kalau begitu Bapak berangkat berdagang lagi ya bu.Babak I Bawang Merah: Putih… Putih…!! kesini kamu. Bapak bangga sekali punya istri sebaik Ibu. (sambil memegang tangannya). Bawang Putih kemana ya. Emangnya si Bawang Putih kemana bu? Dan kenapa dia? (dengan penuh keheranan). : Iya pak (sambil mencium tangan Bapak) hati-hati dijalan.. memang Bapak sengaja nggak ngetokngetok pintu. Baiklah bu Ibu Bapak berangkat dulu ya. Bapak : Terima kasih ya bu. (mengulurkan tangannya). soalnya bapak dengar Ibu berteriakteriak memanggil-manggil Bawang Putih. kamu kira saya betul-betul mencintai kamu apa! Tidak ya. oh ya ini ada sedikit uang buat belanja (sambil menyodorkan uang). saya . Ibu : Eh…! Bapak. pak. lho kapan Bapak yang datang kok Ibu nggak dengar Bapak ngetok-ngetok pintu. Ingat ya kalau sampai aku datang ruangan ini tidak bersih tahu sendiri nanti akibatnya! (mencebir dan membuang muka). Bapak : E… tadi bu. Bawang Putih : Baik. Ibu : Oh tidak ada apa-apa pak (sambil mengelus-ngelus tangan suami) Ibu takut Bawang Putih kenapa-napa. Ibu : Lho. (sambil berkacak pinggang). paling disana saya 1 minggu. jangan sampai ada debu-debu yang masih menempel. da…! Hem… dasar suami bodoh. kok ngak kelihatan! (sambil melihat kanan kiri) Putih… Putih… Putih…! kemana ya anak itu dipanggilpanggil gak nyaut! Bapak : Ada apa sih bu…! (dengan perasaan tanda tanya). e tak tahunya lagi istirahat dikamarnya.

betul-betul. Maka berangkatlah Bawang Putih ke sungai untuk mencuci baju itu. ada apa bu? Ibu : Kemana aja sih kamu ha… kemana aja? (sambil menarik dan mendorong Putih) dipanggil-panggil dari tadi nggak ada jawaban. (sambil mengangguk-ngangguk kepala) sekarang kamu cuci baju itu sampai bersih mengerti? Ingat Bawang Putih. Bawang Putih : Baik bu…! (dengan nada ketakutan). sepertinya lagi mencuci pakaian tuan! (dengan penuh semangat). Bawang Putih : Ya… ya… bu. sebelum Ibu datang cucian ini dan lantai ini sudah harus bersih! Dengar…. ternyata perempuan itu sendirian…! Perempuan itu cantik tuan dan kelihatannya orang baik-baik! Pangeran :(Sambil mengangguk-ngangguk) Mari pengawal kita kesana…! (sambil menunjuk). sambil menangis Bawang Putih Berkata! Bawang Putih : Ya Allah. Ya Allah bukakanlah pintu hati Ibu tiriku dan saudara tiriku agar dia mau menyayangiku. e… lihat disana tuan. kamu tuli ya… (sambil membuang muka). Putih… putih…putih… kesini kamu! (berkacak pinggang). Pengawal : Tuan. Pengawal : Baik tuan…! Pangeran : E… e… nona! (dengan gugup dan malu). tapi… sama siapa ya dia? Apa dia sendirian pengawal? (dengan penuh keheranan dan melihat kearah wanita itu. Kalau boleh saya tahu nama nona siapa? Dan nona berasal dari mana? Dan kenapa pula sendirian di sungai yang sangat sepi ini…? Bawang Putih : Maaf… tuan…! (sambil menjinjing rok dan mau . (sambil menunjuk).! (nada keras membentak). (sambil menangis) Pengawal : Maaf tuan. Ibu : Ya bagus. berikanlah kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Pengawal : Baik tuan…! (sambil mengangguk). sepertinya ada seorang wanita. ampunilah dosa-dosa Ibu tiriku. Pangeran : Iya. sambil berfikir) pengawal coba kalian lihat kesana…! (sambil menunjuk).hanya mencintai uang dan rumah kamu ini… ha… ha… ha… (sambil menepuk-nepuk uang).

(dengan senyuman). Pangeran : Tidak…! (dengan lantang) Saya kesini hanya untuk melamar anak ibu. sepertinya yang datang Pangeran. saya bermaksud baik. (dengan penuh senyuman). apa tuan mau mempersunting anak kami. (sambil memegang pundaknya). Ibu tahu kedatangan Pangeran itu ingin mencari permaisuri. jadi saya memberanikan diri menghampiri nona! (dengan senyuman). Bawang Putih untuk menjadi permaisuriku. Pangeran : Permisi…. Bawang Merah : Iya bu. kemudian si Pangeran bergegas pergi ke rumah si Bawang Putih. saya mau menjadi permaisuri Pangeran itu bu. Bawang Merah : Kenapa sih Pangeran lebih suka Bawang Putih dari . siapa itu yang datang? (dengan penuh keheranan). Ibu : Tenang sayang. Bawang Putih : Nama saya Bawang Putih tuan. yang cantik dan manis ini tuan? (sambil memegang dagu Bawang Merah).berlari pergi). saya tidak bisa berlamalama disini. Pangeran : Jangan… jangan… nona. saya lihat nona sendirian. dimana sebenarnya rumahnya! Kemudian berangkatlah Pangeran dan pengawalnya untuk menuju rumah Bawang Putih. jangan lari. (berloncat kegirangan). e… tapi maaf tuan. Pangeran merasa dialah wanita yang selalu diidam-idamkan. Bawang Merah : Benarkah itu bu? Tolong saya bu. Ibu : Anakku coba lihat disana. saya berasal dari desa Pangeran seberang. permisi…! Ibu : Tuan…! (dengan terkejut) E… ada apa gerangan tuan datang kegubuk kami ini. saya takut dimarahi Ibu saya tuan…! : Tunggu… tunggu…! tunggu nona…! (sambil berteriak) mari pengawal kita ikuti Bawang putih itu. Aduh betapa gagahnya dan ganteng Pangeran itu.

tidak seperti saya yang baik. Bawang Merah…! (menghampiri Bawang Merah dan memeluknya). Bawang Putih : Ibu…! (menghampiri Ibu dan memeluknya). Lagian Pangeran Bawang Putih itu orangnya jelek tidak seperti saya cantik. padahal Pangeran Bawang Putih orangnya licik sekali dan suka mempermainkan lelaki. permisi…! . huuuh… sebel…!! (sambil menghentakkan kaki). Bawang Putih lagi.pada saya. Ibu : Maaf tuan. (dengan mimik yang sinis penuh kebencian). manis. Kalau begitu kami berangkat dulu bu. berarti dia mau). ia kan Pangeran? Pangeran : E… iya-ya betul. kamu juga cantik. patuh dan setia. dan menarik. (dengan senang hati). ikutlah kamu keistanamu kamu akan aku persunting menjadi permaisuriku! (mengulurkan tangan dan menggandeng Bawang Putih pergi). saya akan membawa Bawang Putih ke istanaku dan akan aku jadikan permaisuriku. mbak…!!! Bawang Merah : Kesini kamu lihat ini ada Pangeran mau mempersunting kamu menjadi istrinya. tapi sayang hati saya sudah terpikat sama si Bawang Putih. maukah kamu menjadi permaisuriku? (memberikan senyuman). (sambil senyum gembira). Bawang Putih : (Merunduk penuh senyuman dan malu-malu. manis dan menarik nona. Pangeran : Bawang Putih. Pangeran : Baiklah bu. itu berarti tandanya Bawang Putih setuju menjadi permaisuri tuan! Pangeran : Mari kesini Bawang Putih. memangnya nggak ada orang lain selain Bawang Putih. saya mohon tolong panggilkan Bawang Putih segera…! Bawang Merah : Huuuh…! Bawang Putih. Putih…! Puith…!! Bawang Putih : Iya.

namun karena kesempurnaan itu kadang mereka lalai pada apa yang membuat mereka menjadi sempurna”. Amanat : “Kejahatan tidak bisa mengalahkan kebaikan.(berjalan keluar rumah). dan manusia memang mahluk paling sempurna di muka bumi. . samapai akhirnya Pangeran dan Bawang Putih bahagia selamanya. Ibu Bawang Merah : Ya tuan…! Maka berangkatlah Pangeran dan Bawang Putih beserta pengawalnya untuk menuju istana kerajaan dan dijadikanlah Bawang Putih sebagai permaisuri.