You are on page 1of 6

Tiga Kebijakan Moneter yang Digunakan oleh Bank Sentral

Paper Halaqoh
Disajikan pada tanggal 20 Februari 2016

Pengasuh :
Prof. Dr. KH. Ahmad Mudhor, S. H
Oleh
Muhlis Faroqi
Mahasiswa Semester VI
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Universitas Brawijaya

Halaqoh Ilmiah
LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR MALANG
Februari 2016

baik secara langsung maupun tidak langsung. dalam praktiknya. Inflation targeting secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan akhir kebijakan moneter adalah mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Inflation targeting adalah sebuah kerangka kerja untuk kebijakan moneter yang ditandai dengan pengumuman kepada masyarakat tentang angka target inflasi dalam satu periode tertentu.A. baik kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal serta kebijakan-kebijakan ekonomi lainnya. meskipun dalam penerapannya banyak ahli ekonomi yang mengkritik. Keberhasilan kebijakan ini dapat dinilai dari bagaimana efektivitas kebijakan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan menjaga kestabilan laju inflasi pada jangka panjang. yang dicerminkan oleh: (1) stabilitas harga (rendahnya laju inflasi). Kejadian ekonomi yang terjadi secara global. 2004). Untuk mengurangi dampak goncangan perekonomian global terhadap perekonomian dalam negeri. menjaga stabilitas perekonomian tidaklah mudah. Fokus penerapan kebijakan moneter di Indonesia sesuai Undang-undang No. Dengan semakin besarnya keterkaitan antar-negara. dan (3) cukup luasnya lapangan kerja yang tersedia (Warjiyo. Hal itu disebabkan terdapat trade-off antara pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi dalam jangka pendek yang sering digambarkan dalam kurva philip jangka pendek. (2) membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi). dengan tingginya tingkat kerentanan terhadap goncangan dari luar negeri serta tingginya tingkat ketergantungan terhadap perubahan harga internasional dibutuhkan kebijakan yang efektif dan efisien. dalam kondisi demikian. Khusus Indonesia. kebijakan moneter ditujukan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro. maka semakin terbuka pula perekonomian. perekonomian yang relatif tidak stabil. khususnya indonesia yang merupakan negara kecil yang mempunyai karakteristik perekonomian dengan tingkat ketergantungan yang sangat tinggi pada perekonomian global. . 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia adalah pada pengendalian laju inflasi (inflation targeting). Pendahuluan Interaksi ekonomi antar negara adalah sebuah keniscayaan dalam perekonomian yang semakin terbuka. memberikan pengaruh terhadap perekonomian dalam negeri.

Pembahasan Bank Indonesia (Bank Sentral) Menurut UU Republik Indonesia No. Sebagai badan hukum perdata. fasilitas diskonto (discount rate). kedudukan Bank Indonesia juga tidak sama dengan Departemen. Sebagai Lembaga negara yang independen kedudukan Bank Indonesia tidak sejajar dengan Lembaga Tinggi Negara. dengan tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. dan rasio . 23/1999 tentang Bank Indonesia. Sebagai Badan Hukum Status Bank Indonesia baik sebagai badan hukum publik maupun badan hukum perdata ditetapkan dengan undang-undang. dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. Undang-undang ini memberikan status dan kedudukan sebagai suatu lembaga negara yang independen dan bebas dari campur tangan Pemerintah ataupun pihak lainnya. Bank Indonesia dapat bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan. karena kedudukan Bank Indonesia berada diluar Pemerintah. dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas Bank Indonesia. Instrumen Kebijakan Moneter Ada tiga instrument utama yang digunakan untuk mengatur jumlah uang beredar. Status dan kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar Bank Indonesia dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien. Disamping itu. dan Bank Indonesia juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga. Bank Indonesia mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. yang akan dicapai melalui pelaksanaan kebijakan moneter secara berkelanjutan. yaitu UU No.B. Kebijakan Moneter Pengertian kebijakan moneter adalah upaya mengendalikan atau mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan mengatur jumlah uang beredar. 3 tahun 2004. Status Dan Kedudukan Bank Indonesia Sebagai Lembaga Negara yang Independen Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dimulai ketika sebuah undang-undang baru. yaitu operasi pasar terbuka (open market operation). Sebagai suatu lembaga negara yang independen. transparan. Sebagai badan hukum publik Bank Indonesia berwenang menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan tugas dan wewenangnya. konsisten. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia.

Melalui penjualan SBI atau SPBU uang yang ada pada masyarakat ditarik. Misalnya jika rasio cadangan wajib mulanya hanya 10% maka untuk setiap unit deposito yang diterima. maka SBI dan SBPU yang telah dijual dibeli kembali.cadangan wajib (reserve requirement ratio). b. maka BI akan menurunkan bunga pinjaman sehingga mendorong Bank umum meminjam dana dan menyalurkannya ke masyarakat. jika rasio cadangan wajib diperbesar. a. Dengan demikian uang yang beredar dalam masyarakat mengalir ke otoritas moneter. Jika ingin menambah yang beredar. Bank Indonesia telah mengembangkan kedua instrument tersebut dengan menambahkan fasilitas repurchase agreement (repo) ke masing-masing instrument. Jika ingin mengurangi jumlah uang beredar. pemerintaah dapat melakukan himbaaan moral. sehingga uang yang beredar dapat ditekan. sehingga saat ini dekenal SBI repo dan SBPU repo. sehingga mengurangi minat Bank umum untuk meminjam. perbankan dapat mengalirkan pinjaman sebesar 90% dari deposito yang diterima perbankan. Bila ingin mengurangi jumlah uang yang beredar. Bila rasio cadangan wajib deperbesar menjadi 20% maka untuk setiap unit dposito yang diterima. Oprasi Pasar Terbuka (open market operation) Yang termasuk operasi pasar terbuka (open market operation) adalah pemerintah mengendalikan jumlah uang beredar dengan cara menjual atau membeli surat-surat berharga milik pemerintah (government securities). Dengan demikian angka multiplier uang dari system perbamkan adalah 10. Diluar tiga instrument tersebut (yang merupakan kebijakan moneter bersifat kuantitatif). Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Penetapan rasio cadangan wajib juga dapat mengubah jumlah uang yang beredar. bila ingin menambah jumlah uang yang beredar. sehingga uang yang beredar akan bertambah. Di Indonesia operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual atau membeli sertifikat Bank Indonesia SBI dan surat berharga pasar uang (SPBU). Biasanya penjualan SBI atau SPBU dilakukan jika jumlah uang beredat dianggap sudah mengganggu stabilitas perekonomian. maka pemerintah menjual surat-surat berharga (open market selling). sehingga jumlah uang beredar berkurang. maka kemampuan bank memberikan kredit akan lebih kecil disbanding sebelumnya. system perbankan hanya dapat menyalurkan kredit sebesar 80% . Fasilita DIskonto (Discount Rate) Yang dimaksud tingkat suku bunga diskonto adalah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah atas bank-bank umum yang meminjam ke bank sentral. pemerintah menjual SBI atau SPBU. Melalui pembelian itu pemerintah mengeluarkan uang sehingga menambah jumlah uang beredar. agar perbankan lebih mampu memberikan kredit yang akan memacu pertumbuhan ekonomi. c. Angka . Jika ingin mengurangi jumlah yang beredar. Dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dengan merubah bunga pinjaman Bank bila akan meminjam dana ke BI. sehingga jumlah uang beredar berkurang. Guna lebih mengefektifkan operasi pasar terbuka ini. maka BI akan manaikkan suku bunga pinjaman tersebut. maka pemerintah membeli kembali suratsurat berharga tersebut. Begitu pula sebaliknya. Bila pemerintah melihat jumlah uang beredar perlu ditambah.

dan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio). otoritas moneter mencoba mengarahkan atau mengendalikan jumlah uang beredar. yang berarti akan meningkatkan jumlah uang beredar. konsisten. Sebab penurunan rasio tersebut akan memperbesar angka multiplikasi uang. transparan. dengan tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. d. B. Kebijakan moneter adalah upaya mengendalikan atau mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan mengatur jumlah uang beredar. fasilitas diskonto (discount rate). . Misalnya. Sejak April 1997 besarnya rasio cadangan wajib adalah 5%. Imbauan Moral Dengan imbauan moral. yang akan dicapai melalui pelaksanaan kebijakan moneter secara berkelanjutan. Gubernut Bank Indonesia dapat memberi saran agar perbankan berhati-hati dalam memberikan kredit atau membatasi keinginannya meminjam uang dari bank senteal (berhati-hati menggunakan fasilitas diskonto). Untuk pertama kalinya sejak pakto 1988 Bank Indonesia menggunakan rasio cadangan wajib guna mengerem pertumbuhan besar-besaran menoeter yang masih tinggi. dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. yaitu operasi pasar terbuka (open market operation). Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. Diluar tiga instrument tersebut (yang merupakan kebijakan moneter bersifat kuantitatif). pemerintaah dapat melakukan himbaaan moral. dengan demikian jumlah uang beredar di masyarakat akan berkurang. yaitu dengan menetapkan rasio menjadi 3% pada februari 1996 (ketentuan sebelumnya menurut pakto adalah 2%). Sebaliknya yang terjadi bila pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib.multiplikasi uang dari system perbankan menurun menjadi 5. Ada tiga instrument utama yang digunakan untuk mengatur jumlah uang beredar.

2008. 2006. PT Raja Grafindo Persada. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan BI.DAFTAR PUSTAKA Pohan. 2004. S. Jakarta Zakaria. Kebijakan Moneter dan Perkembangan Ekonomi Indonesia. Potret Kebijakan Moneter Indonesia. A. P. Bayumedia Malang . Jakarta Suseno & Abdulloh. Kebijakan Perbankan.