You are on page 1of 18

BAB I

PEMBAHASAN

1. Kegawat-Daruratan Urologi Non-Trauma
 Urosepsis
Urosepsis adalah sepsis yang disebabkan oleh mikrobakteria yang berasal dari
saluran urogenitalia. Bakteri lebih mudah masuk ke dalam peredaran darah
terutama jia pasien mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh, diantaranya
adalah pasien: diabetes melitus, lansia, penderita keganasan, HIV, dan gangguan
imunitas lainya.
Bakteri yang berada dalam peredaran darah akan mengeluarkan endotoksin yang
dapat memacu terjadinya rangkaian septic cascade. Keadaan ini menimbulkan
sindroma respon inflamasi sistemik (systemic inflamation response syndrome)
American College of Chest Physicians and the Society of critical Care Medicine
memberikan batasan tentang sepsis dan syok septik. SIRS merupakan respon
tubuh terhadap inflamasi sistemik yang disebabkan oleh berbagai macam
kelainan, antara lain:






Infeksi
Trauma
syok hemoragik
Kombustio
Kerusakan jaringan
Iskemia akibat multipel trauma
pankreatitis

Kuman penyebab sepsis paling sering adalah bakteri gram negatif yang hidup
secara komensalisme di saluran cerna, yaitu + 30% - 80%; sedangkan kuman
gram positif merupakan penyebab + 5% - 24% sepsis. E.coli adalah kuman yang
Urology Emergency

1

dan syok lanjut atau cold shock. menembus mukosa saluran kemih. sehingga menyebabkan bakterimia. nyeri pinggang. sistitis. dan susunan saraf pusat.paling sering menyebabkan sepsis. Takikardi. Sepsis yang telah berlanjut memberi gejala atau tanda-tanda gangguan bebrapa fungsi organ tubuh. kemudian disusul Klebsiella. Mengigil. atau pasca pembedahan saluran kemih. dan dalam hal ini pseudomonas seringkali menunjukkan resistensi terhadap berbagai antibiotik. Gejala klinis pasien urosepsis tergantung pada kelainan organ urogenitalia yang menjadi sumber infeksi dan sampai seberapa jauh proses sepsis telah berlangsung. Enterobacter. antara lain gangguan pada fungsi ginjal. Kuman yang paling virulen adalah Pseudomonas serta Klebsiella. Urosepsis timbul karena adanya obstruksi saluran kemih sehingga kemampuan urine untuk mengeliminasi kuman dari saluran kemih terganggu. pielonefritis. atau warm shock. keluhan miksi. Serratia. Kardiovaskuler Perubahan pada sistem hemodinamik dimulai dari fase pre syok. epididimitis. dan keganasan saluran kemih yang menyebabkan timbulnya hidronefrosis dan bahkan pionefrosis. yang sebelumnya didahului oleh gejala kelainan saluran kemih. Takipneu. dll. Timbulnya syok ini adalah Urology Emergency 2 . pencernaan. kardiovaskuler. Keadaan ini menyebabkan kuman dengan mudah berkembang biak didalam saluran kemih. pasca kateterisasi uretra. Pseudomonas. prostattitis akut. Hipotensi. Keadaan urologi yang dapat mengakibatkan urosepsis antara lain batu saluran kemih. Gambaran klinis yang didapat antara lain : Demam. dan masuk kedalam sirkulasi darah. hiperplasia prostat. fase syok awal. pernafasan.

dan akhirnya sopor dan koma. oliguria. Urology Emergency 3 . bila tidak segera ditangani dapat terjadi distres nafaas hingga acute respiratory distress syndrome SSP Perubahan status mental antara lain asien menjadi bingung. Pernafasan Tanda awal dari gangguan pernafasan adalah takipneu. dan peningkatan fosfatase alkali. letargi. dingin. hingga anuria. dan curah jantung menurun.akibat dari menurunya resistesi arteriol. Ginjal Syok yang berkelanjutan akan menimbulkan nekrosis akut pada tubulus ginjal yang ditandai dengan azotemia. Hingga pada fase syok awal pasien masih demam dan curah jantung normal. Tampak adanya gangguan elektrolit dan asidosis metabolik Pencernaan Terjadi disfungsi hepar yang ditandai dengan ikterus akibat kolestasis. peningkatan serum bilirubin sampai 10 g/dl dengan 80% berupa bilirubin direk. Manifestasi lain pada saluran cerna adalahperdarahan saluran cerna akbat stress ulcer dan gangguan perfusi pada mukosa saluran cerna. tetapi pada syok lanjut tampak pasien dalam keadaan letargi.

 Secara empirik diberikan antibiotik yang sensitif terhadap bakteri gram negatif. amikasin. atau tobramycin)  Ampicilin  Cefalosporin generasi III  Floroquinolon  Sumber-sumber infeksi lainnya harus segera dihilangkan. perirenal. lebih baik diambil contoh urine dan contoh darah untuk pemeriksaan kultur guna mengetahui jenis kumn penyebab urosepsis. yaitu:  Aminoglikosida (gentamycin. hal ini bermanfat jika pemberian antibiotik secara empirik tidak berhasil. dan abses prostat dilakukan drainase  Hidronefrosis yang terinfeksi dilakukan diversi urine atau drainase pus dengan nefrostomy Urology Emergency 4 . misalnya:  Pemakaian kateter uretra harus diganti dengan yang baru atau dilakukan cystostomy  Abses pada ginjal. Penanganan urosepsis harus dilakukan secara komperhensif dan ditujukan terhadap poin-poin berikut:  Penanganan infeksi (eradikasi kuman penyebab infeksi & menghilangkan sumber infeksi)  Sebelum dilakukan pemberian antibiotik.Untuk menegakkan diagnosis dari urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri yang beredar didalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam saluran kemih (kulltur urine).

2 Etiologi Adanya penyumbatan pada uretra. atau adanya miskoordinasi antara buli-buli dengan uretra dapat menimbulkan terjadinya retensi urine.1  Pada sumber lain disebutkan bahwa definisi retensio urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urine yang terkumpul didalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli terlampaui. kontraksi buli-buli yang tidak adekuat.  Disfungsi multiorgan yang paling sering menyebabkan kematian adalah gagal napas (18%) dan gagal ginjal (15%). dan neurologi. metabolisme. hematologi. Akibat lanjut dari infeksi (SIRS.  Toksin atau mediator yang dikeluarkan oleh bakteri.  Retensio Urine Definisi  Definisi dari retensio urine adalah keadaan penderita yang tidak dapat berkemih walaupun kandung kemih penuh. multiple organ failure)  Jenis terapi suportif yang diberikan tergantung pada organ yang mengalami gangguan. sedangkan sisanya adalah kegagalan sistem kardiovaskular.2  Proses miksi terjadi karena koordinasi harmonik antara otot destrusor buli sebagai penampung dan pemompa urine dengan uretra yang bertindak sebagai pipa untuk menyalurkan urine. Urology Emergency 5 . syok sepsis. Kematian akibat sepsis biasanya disebabkan karena kegagalan dalam memberikan terapi suportif terhadap multiple organ failure.

melainkan dapat langsung dilakukan tindakan definitif terhadap penyebab utama Urology Emergency 6 .Komplikasi Pada kasus retensio urine. harus segera dilakukan tindakan untuk mengeluarkan ureine dari dalam buli-buli. Urine yang tertahan lama didalam buli-buli jika dibiarkan akan menimbulkan beberapa kondisi yaitu:  Resiko terjadinya ISK (Infeksi Saluran Kemih)  Kontraksi otot buli melemah  Hidroureter dan hidronefrosis  Renal failure Tindakan  Tujuan utama tindakan pada retensio urine adalah untuk mengeluarkan urine dai dalam buli-buli. Urine dapat dikeluarkan dengan cara pemasangan kateter atau cystostomy.  Untuk kasus tertentu tidak perlu pemasangan kateter terlebih dulu. Intertvensi penyakit primer dikerjakan setelah kondisi pasien stabil.

misalnya batu di meatus uretra eksternum atau meatal stenosis. Urology Emergency 7 . Keadaan ini diderita oleh 1 diantara 4000 ribu pria yang berumur kurang dari 25 tahun. fimosis dan parafimosis dilakukan sirkumsisi atau dorsumsisi. Disamping itu tidak jarang janin yang masih berada dalam uterus atau bayi baru lahir menderita torsio testis yang tidak terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral maupun bilateral.  Strangulasi Torsio Testis Strangul asi Parafimo sis Priapism us  Torsio Testis Torsio testis adalah kondisi terpuntirnya funikulus sprematikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada testis. dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun).retensio urine.

Adanya kelainan penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Patofisiologi Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekat dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral testis. Keadaan ini akan memudahkan testis mengalami torsio testis intravaginal.Testis normal dibungkus oleh tunika albuginea. testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas dua lapis. yaitu lapisan viseralis yang langsung menempel ke testis dan di bagian luarnya adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding skrotum. Urology Emergency 8 . Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis dengan mudah bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada funikulus spermatikus. epididimis. Pada permukaaan anterior dan lateral. Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan kelainan sistem penyangga testis. Kelainan ini dikenal dengan anomali bell-clapper. Pada masa janin dan neonatus lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak terdapat jaringan pengangga sehingga testis. pada kelainan ini tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi epididimis ke dinding skrotum. dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpuntir pada sumbu funikulus spermatikus. Terpuntirnya pada keadaan ini disebut torsio testis ekstra vaginal.

defekasi. yakni gelisah. ketakutan. edema testis. yang akhirnya testis akan menjadi nekrosis. atau trauma yang mengenai skrotum. celana yang telalu ketat. batuk.Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan pergerakkan yang berlebihan antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak. Keadaan ini dikenal sebagai akut skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut bagian bawah sehingga jika tidak diwaspadai sering dikacaukan dengan apendisitis akut. letaknya lebih tingi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. rewel. dan iskemia. latihan fisik yang berlebihan. atau tidak mau menyusu. testis membengkak. Pemeriksaan penunjang yang dapat membedakan torsio testis dengan keadaan skrotum lainnya adalah dengan memakai stetoskop doppler. Keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam. Pada torsio testis tidak didapatkan aliran darah ke testis sedangkan ada peradangan akut testis . terjadi peningkatan aliran darah ke testis. yang sifatnya mendadak dan diikuti pembekakan pada testis. Pada bayi gejalanya tidak khas. dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Pada pemeriksaan fisik. dan yang kesemuanya bertujuan menilai aliran darah ke testis. Tindakan  Detorsi Manual Urology Emergency 9 . Kadang pada torsio testis yang baru terjadi. USG doppler. Tanda & Gejala Pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum. Terpuntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah testis sehingga tesitis mengalami hipoksia.

Jika detorsi berhasil operasi harus tetap dilaksanakan. mungkin masih viable atau sudah mengalami nekrosis.  Operasi Tindakan operasi ditujukan untuk mengembalikan posisi testis pada arah yang benar dan setelah itu dilakukan penilaian viabilitas testis yang mengalami torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis kearah lateral terlebih dulu. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Retraksi preputium kearah proksimal biasanya dilakukan saat bersenggama atau masturbasi atau setelah dilakukan pemasangan kateter. dapat menyebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri berjalan normal. Urology Emergency 10 . Jika testis masih viable dilakukan orkdopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian dilanjutkan orkidopeksi pada testis kontralateral.  Parafimosis Parafimosis adalah preputium enis yang diretraksi sampai sulkus koronarius dan tidak dapat dikembalikan pada kondisi semula sehingga timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius. yaitu dengan cara memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio.Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya. Jika preputium tidak secepatnya dikembalikan ke tempat semula. bila tidak terjadi perubahan dilakukan pemutaran kearah sebaliknya. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan terasa nyeri.

Tindakan Preputium diusahakan untuk dikembalikan secara manualdengan cara memijat glans selama 3-5 menit. Setelah edema dan proses inflamas menghilang. Etiologi Menurut etiologinya priapismus dibedakan dalam 2 kategori yaitu: priapismus primer atau idiopatik yang belum jelas penyebabnya sebanyak 60% dan priapismus sekunder.Jika dibiarkan bagian penis di bagian distal jeratan makin membengkak yang akhirnya dapat mengalami nekrosis glans penis. Priapismus sekunder dapat disebabkan oleh :  Kelainan pembekuan darah  Trauma paraperineum atau genitalia Urology Emergency 11 . Istilah priapismus berasal dari kata Yunani priapus yaitu nama dewa kejantanan pada Yunani kuno. pasien dianjurkan untuk dilakukan sirkumsisi. dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga reputium dapat dikembalikan pada ttempatnya.  Priapismus Priapismus adalah ereksi penis yang berkepanjangan tanpa diikuti dengan hasrat seksual dan sering disertai dengan rasa nyeri. diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan preputium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil. Priapismus merupakan salah satu kedaruratan urologi karena jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menimbulkan kecacatan yang menetap berupa disfungsi ereksi.

detumesensi terjadi setelah 2-4 minggu dan otot polos yang mengalami nekrosis diganti oleh jaringan fibrosa sehingga kehilangan kemampuan untuk mempertahankan ereksi maksimal. atau akibat peningkatan aliran darah ke jaringan erektil (“inflow). psikotropika) Pasca injeksi intrakavernosa dengan zat vasoaktif Klasifikasi Ereksi penis yang berkepanjangan pada pr0iapismus dapat terjadi karena: kegagalan penis untuk melemas kembali ini dapat terjadi karena : gangguan mekanisme veno-oklusi (“outflow”) sehingga darah tak dapat keluar dari jaringan erektil. > 48 jam terjadi pembekuan darah dalam kaverne dan destruksi endotel sehingga jaringan-jaringan trabekel kehilangan daya elastisitasnya. “High-Flow” Priapismus (non-ischemic) yang sering tanpa rasa nyeri dan prognosanya baik. Ereksi berkepanjangan 4-6 jam harus dicurigai priapismus. 2. yang kemudian setelah 24 jam terjadi kerusakan dan nekrosis sel-sel yang luas. Urology Emergency 12 . sehingga dibedakan 2 jenis priapismus yaitu:4 1. Spycher & Hauri (1986) menyatakan bahwa akibat kegagalan hemodinamik pada korpora kavernosa pertama-tama akan terjadi edem jaringan pada interstitiel trabekula. Nyeri biasanya terjadi 6-8 jam. “Low-flow” Priapismus (statis=Ischemic) yaitu berupa ereksi berkepanjangan dan diikuti rasa nyeri.    Gangguan neurogenik (pengaruh anestesi regional atau paraplegia) Penyakit keganasan Pemakaian obat-obatan tertentu (alkohol. Lue dkk (1986) membedakan keduanya dengan mengukur tekanan dan memeriksa gas darah intrakavernosa. Jika tidak diterapi.

Jika dilakukan sebelum 24 jam setelah serangan. untuk itu diperlukan tindakan operatif. USG doppler yang dapat mendeteksi adanya pulsasi arteri kavernosa dan analisis gas darah yang diambil intrakavernosa dapat membedakan priapismus jenis iskmeik atau non-iskemik Terapi Pada prinsipnya terapi priapismus adalah secepatnya mengembalikan aliran darah pada korpus kavernosum yang dicapai dengan cara medika mentosa maupun operatif. Diagnosis Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti diharapkan dapat mengungkapkan etiologi priapismus.Priapismus jenis non-iskemik banyak terjadi setelah suatu trauma pada daerah perineum atau setelah operasi rekonstruksi arteri pada disfungsi ereksi. kemudian dilakukan instilasi 10-20 μg epinefrin atau 100-200 μg fenilefrin yang dilarutkan dalam 1ml NaCl 0.9% setiap 5 menit hingga penis detumesensi. 21. Prognosisnya lebih baik daripada jenis iskemik dan ereksi dapat kembali seperti semula. Aspirasi dilakukan dengan memakai jarum scalp vein no. Pada pemeriksaan lokal didpatkan corpus penis yang menegang tanpa diikuti oleh ketegangan pada glans penis. Priapismus iskemik derajat berat yang sudah terjadi beberpa hari tidak memberikan respon terhadap aspirasi dan irigasi obat intrakavernosa. Aspirasi sebanyak 10-20 ml darah intrakavernosa. hampir semua kasus dapat dengan cara ini. Aspirasi darah kavernosa diindikasikan pada priapismus noniskemik atau priapismus iskemik yang masih baru saja terjadi. Urology Emergency 13 .

Kavernosum) Shunt safeno-kavernosum (anatomosis k. Dalam kondisi terisi penuh oleh urine. namun seiring bertambahnya usia. buli-buli mudah sekali robek jika mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut bagian bawah. spongiosum-k. tempatnya turun dan terlindung di dalam kavum pelvis. Shunting korpus kavernosum. hal ini untuk mencegah timbulnya sindroma kompartemen dapat menekan arteri kavernosa dan berakibat iskemia pada korpus kavernosa. Beberapa jenis shunt antara lain: • • • Shunt korpo-glanular Shunt korpo-spongiosum (k. buli-buli terletak di rongga abdomen. Robekan buli-buli karena fraktur elvis juga dapat terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dinding buli. tindakan ini harus difikirkan terutama pada priapismus veno-oklusif atau yang gagal setelah terapi medikamentosa. sehingga kemungkinan mendapat trauma dari luar jarang terjadi Kurang lebih 90% trauma adalah akibat fraktur pelvis. dapat merobek buli-buli. Buli-buli aka robek pada daerah fundus dan menyebabkan ekstravasasi urine ke rongga intraperitoneum.Selain obat-obatan tersebut. Kavernosum – vena safena) 2. dapat pula dipakai instilasi streptokinase pada priapismus yang telah berlangsung 14 hari yang sebelumnya telah gagal dengan instilasi α adrenergik. Kegawat-Daruratan Urologi Trauma  Ruptur Buli Pada waktu lahir hingga usia anak. Fiksasi buli-buli pada tulang pelvis oleh fascia endopelvik dan diafragma pelvis sangat kuat sehingga cedera deselerasi terutama jika titik fiksasi fascia bergerak pada arah berlawanan (seperti pada fraktur pelvis). Urology Emergency 14 .

Sedangkan cedera buli ektraperitoneal + 45-60% dari seluruh trauma buli. Cedera intraperitoneal merupakan 2545% dari seluruh kejadian trauma buli . dan cedera buli intraperitoneal. Ruptur buli-buli dapat terjadi secara spontan. Jika tidak mendapat perawatan dengan segera 10-20% trauma buli dapat berakibat kematian karena peritonitis atau sepsis. atau obstruksi infravesikal kronis menyebabkan perubahan struktur otot buli-buli yang menyebabkan kelemahan dinding buli-buli. serta Urology Emergency 15 . Pada kontusio buli hanya terdapat memar pada dindingnya. Demikian pula partus atau tindakan operasi didaerah pelvis dapat menyebabkan trauma iatrogenik pada bulibuli. nagian buli yang mengalami cedera (intra/ekstra). mungkin terdapat hematom periversikal. Tanda & gejala  Riwayat trauma pada bagian bawah abdomen  Nyeri supra simfisis  Hematuria  Retensi urine Gambaran klinis lain tergantung dari etiologi trauma. namun tidak terjadi ekstravasasi urine ke luar buli.Tindakan endourologi dapat menyebabka trauma buli-buli iatrogenik antara lain pada reseksi buli-buli transuretral atau pada litotripsi. Tumor buli. Terkadang cedera buli intraperitoneal terjadi bersama dengan cedera buli ekstraperitoneal (2-12%). hal ini biasanya terjadi jika sebelumnya terdapat kelainan pada dinding buli-buli. adanya organ lain yang mengalami cedera. Secara klinis cedera buli-buli dibedakan menjadi kontusio buli cedera buli ekstraperitoneal.

Jika tidak dioperasi. hematoma perivesika. Pada kontusio buli.penyulit yang terjadi akibat trauma (fraktur pelvis. robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal) dianjurkan untuk dipasang kateter selama7-10 hari. Dengan cara ini diharapkan buli sembuh dalam 7-10 hari Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparotomi untuk mencari robekan ada buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. ekstravasasi urine ke ronga peritoneum dapat mengakibatkan peritonitis Pada cedera ekstraperitoneal. Urology Emergency 16 . syok. peritonitis. atau abses perivesika). cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk memberikan istirahat ada buli. sepsis. namun sebagian ahli menganjurkan untuk dilakukan penjahitan buli dan pemasangan kateter cystostomy. Pemeriksaan radiologis Cystography  Foto abdomen AP saat buli teri kontras  Foto abdomen oblik  Foto abdomen saat kontras dikeluarkan (wash out film) Terapi Terapi pada cedera buli tergantung dari jenis cedera yang dialami.

Klasifikasi Melalui gambaran uretrogram McCollum membagi derajat cedera uretra dalam 3 jenis: 1. 2. Foto uretrogram tidak menunjukkan ekstravasasi. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras diatas diafragma urogenitalia. 3. Ruptur Uretra Ruptur Uretra Posterior Ruptur uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. dan uretra hanya tampak memanjang. Uretra posterior. menyebabkan robekan uretra pars prostato-membranasea. dan uretra pars bulbosasebelah proksimal ikut rusak. Fraktur yang mengenai simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis . diafragma urogenitalis. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami streching (peregangan). • Uretropalsty Ruptur Uretra Anterior Urology Emergency 17 . Uretra posterior terputus pada perbatasan prostato-membranasea. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras meluas dibawah diafragma urogenitalia Tanda & Gejala • Perdarahan melaui OUE • Retensi urine • Floating prostate pada rectal toucher • Adanya gambaran ekstravasasi kontras pada uretrografi retrogard. Tindakan • Hindari tindakan invasif melaui uretra • Cystostomy • Primary Endoscopic Realignment.

Dasar-dasar UROLOGI. Purnomo. Jenis kerusakan yang bisa terjadi berupa:  Kontusio dinding uretra  Ruptur parsial dinding uretra  Ruptur total dinding uretra Pada kontusio uretra . uretra terjepit tulang pelvis dan benda tumpul. 2010. terlihat adanya hematom pada penis. 2010. Buku ajar ilmu bedah Sjamsuhidayat-de jong. Mc Graw Hill Urology Emergency 18 . Jakarta: EGC. Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus. B Basuki. Pemeriksaan uretrografi retrogard pada kontusio uretra tidak menunjukkan adanya ekstrvasasi kontras. pasien mengeluh adanya perdarahan melalui uretra atau hematuria. Sjamsuhidayat. F. Charles Brunicardi. DAFTAR PUSTAKA 1. Schwartz’s Principles Of Surgery Tenth Edition. Jakarta: SAGUNG SETO 3. 2. Sedangkan pada ruptur uretra menunjukkan adanya ekstravasasi kontras di pars bulbosa. tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan striktur uretra dikemudian hari. R. Pada ruptur uretra dengan ekstravasasi ringan dapat dilakukan cystostomy untuk mengalihkan aliran urine. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum. 2011. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi. New York.Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle injury. Maka setelah 4-6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulang.