You are on page 1of 16

SEBUAH TINJAUAN

TEORI SCHUMPETER
Ekonomi Pembangunan
Teori Para Ahli

2016

AKASCODY

TEORI SCHUMPETER
A. Kehidupan dan Pemikirannya
1. Kehidupan Schumpeter
Schumpeter yang bernama panjang “Joseph Alois Schumpeter”
berumur 67 tahun saat meninggal dunia. Namun jasanya yang besar
terhadap pemikiran ekonomi menjadikannya salah satu ekonom paling
berpengaruh di abad ke-20.
Schumpeter dilahirkan di Triesch, Moravia (bagian dari Austria-Hungaria,
sekarang Trest di Republik Ceko). Ia merupakan murid yang luar biasa
pintar dan sering dipuji oleh guru-gurunya. Ia memulai karirnya dengan
mempelajari ilmu hukum di Universitas Vienna di bawah asuhan Eugen
von Bohm-Bawerk di mana ia memperoleh gelar doctoral pada tahun
1906.
Tidak beberapa lama kemudian, setelah beberapa perjalanan belajar, ia
menjadi professor ilmu ekonomi dan pemerintahan di Universitas
Czernowitz pada tahun 1909, begitu pula di Universitas Graz pada tahun
1911, di mana ia menetap hingga perang dunia I. Pada tahun 1919
hingga tahun 1920, dia menjadi Menteri Keuangan Austria yang sukses.
Ia kemudian menjadi presiden bank swasta Biederman pada tahun 19201924. Sayangnya bank itu bangkrut pada tahun 1924.
Dari tahun 1925 hingga 1932, ia menjabat suatu posisi penting di
Universitas Bonn, Jerman. Karena harus meninggalkan Eropa tengah
akibat kemunculan kaum Nazi, di memutuskan untuk berangkat ke
Harvard (dimana ia telah mengajar pada tahun 1927-1928 dan 1930),
dan kembali mengajar dari tahun 1932 hingga 1950.

2

Selama tahun-tahunnya di Harvard, dia tidak dianggap sebagai guru
yang sangat baik, namun dia memperoleh pengikut yang setia terhadap
pemikirannya. Menurut catatan, Schumpeter tidak begitu diakui di
kalangan teman sejawatnya. Hal ini disebabkan karena anggapan bahwa
pemikirannya yang kurang sesuai dengan pemikiran Keynesian yang
sedang naik daun pada masa itu. Schumpeter menginspirasi beberapa
ekonom matematika pada masanya dan bahkan menjadi presiden
Econometric Society (1940-1941). Padahal, Schumpeter bukan seorang
ahli

matematik,

melainkan

seorang

ekonom

yang

mencoba

mengintegrasikan pengertian sosiologi pada teori ekonominya. Jika ditilik
dari masa sekarang ini, ide Schumpeter mengenai siklus bisnis dan
perkembangan ekonomi memang tidak ditangkap oleh ilmu matematika
pada masa itu. Setidaknya diperlukan sistem dinamik yang non-linear
yang telah dibakukan untuk menangkapnya.
2. Pemikiran-pemikiran Schumpeter
a. Originalitas Pemikiran Schumpeter
Jika ekonom Austrian School seperti Hayek dan Mises merubah
warisan dari guru mereka dengan cara mereka sendiri, Schumpeter
mencoba lebih jauh dengan melepaskan diri dari batasan-batasan
yang dibuat dalam hasil karya pendahulunya. Daripada sekedar
mengembangkan dan memperkuat beberapa kecenderungan dalam
tulisan pendahulunya, dia lebih terbuka pada pengaruh-pengaruh di
luar Austria.
Dalam hal ini, Schumpeter sangat berbuka pada pemikiran Walras
yang dia kagumi sebagai seorang ekonom teoritis terbaik. Ia juga
menyukai beberapa pengikut tradisi Anglo-Amerika, dimana ia
memiliki kontak pribadi secara langsung.

3

Ketika berumur dua puluhan, dia melepaskan pengaruh gurunya
dengan mengembangakan teori bunga yang berbeda dengan BohmBawerk. Lebih jauh lagi, Schumpeter juga melepaskan tradisi Austria
dengan membentuk pendekatan umumnya sendiri, yang disebut
sebagai salah satu toleransi metodologi. Pekerjaanya tidak hanya
menyangkut pada jenis teori murni yang dibentuk oleh orang Austria
sebelumnya, tetapi lebhi luas dan merefleksikan harapan yang tinggi
yang diletakannya pada pada ilmu ekonomi matematika dan studi
empiris berorientasi kuantitatif.
Dia bahkan menyebutkan bahwa takdir memungkinkan untuk
mengulang

kembali

pelajaran-pelajarannya,

dia

ingin

menjadi

seorang ahli sejarah ekonomi. Luasnya topik yang menjadi minatnya
ditunjukkan dalam judul salah satu bab dalam bukunya Business

Cycles, di mana ia tuliskan sebagai A Theoretical, Historical and
Statistical Analysis of Capitalist Process.
b. Karya-Karya Utama Schumpeter
Pemikiran Mengenai Pengaruh Entrepreneur dalam Perekonomian

Unsur strategis dalam aktivitas Entrepreneur adalah inovasi, yaitu
aplikasi dari ide-ide baru dalam tehnik dan organisasi yang akan
membawa perubahan-perubahan dalam fungsi produksi. Inovasi akan
mengerem siklus melingkar dari ekonomi stationer dan menghasilkan
perkembangan ekonomi dengan posisi ekuilibrium baru pada tingkat
pendapatan yang lebih tinggi.
Dalam perekonomian yang dinamis jenis tersebut, akan muncul
bunga, yang diintrepretasikan Schumpeter sebagai bagian dari
“pajak” yang dibebankan pada entrepreneur oleh banker sebagai
ganti dari adanya inflasi. Berbagai inovasi, yang dipaksa oleh imitator
dan speculator akan membuat gerakan siklus. Teori tentang kaum
4

elite yang disebut entrepreneur tersebut didasarkan pada kontradiksi
yang samar antara the mass and the elite. Baginya, kebanyakan agen
ekonomi tersebut ditandai oleh kelemahan akan kompetensi dan
keinginan.
Bagaimanapun, Schumpeter secara jelas menuliskan hal berikut
untuk menunjukkan perbandingan terhadap the masses.

Sebuah minoritas orang-orang dengan intelegensia yang lebih tinggi
dan imaginasi yang lebih lancer percaya akan kombinasi-kombinasi
baru…Kemudian ada minoritas yang lebih kecil – dan orang ini
bertindak….Ini adalah jenis yang membenci hedonic equilibrium dan
menghadapi resiko tanpa ketakutan. Ia tidak mempertimbangkan
implikasi

kesalahan

yang

mungkin

terjadi

padanya,

atau

memperdulikan apakah seseorang yang bergantung padanya akan
kehilangan miliknya pada masa tua…Saat yang menentukan oleh
sebab itu adalah energi dan bukan hanya rekaan (Schumpeter,
2002b)
Pemikiran Mengenai Siklus Bisnis/Business Cycles
Teori siklus bisnis memiliki peranan penting karena banyak orang
yang mempercayai tentang keberadaanya. Namun kepercayaan ini
bukanlah kepercayaan yang permanen. Pada abad 19, siklus bisnis
tidak dipikirkan sebagai siklus-siklus melainkan sebagai krisis-krisis
yang menganggu perkembangan perekonomian yang mulus. Di
tahun-tahun kemudian, ekonom dan non-ekonom mulai mempercayai
berulangnya krisis-krisis tersebut, menganalisa bagaimana mereka
dapat dipisahkan dan dihubungkan dengan struktur ekonomi yang
berubah.

5

Pemikiran mengenai Kapitalisme
Kejatuhan kapitalisme, yang diperkirakan oleh Schumpeter dalam

“Capitalism, Socialism and Democracy” dan tidak seperti skema Marx,
akan muncul sebagai hasil bukan dari kegagalan melainkan dari
kesuksesan dari kapitalisme yang dikaitkan dengan takdir dari elite

entrepreneur. Seperti yang dikatakan dalam analisis Max Weber,
factor yang menentukan di sini adalah kebangkitan rasionalisme,
yang membuat kapitalisme berkembang tetapi dihancurkan oleh
serat-serat social yang terkandung di dalamnya.
Perusahaan semakin besar dan tidak lagi memiliki perasaan
kemanusiaan, dan dengan skala yang besar tersebut, inovasi hingga
sekarang merupakan hak dari pemimpin-pemimpin industri, menjadi
depersonalized dan ditransformasi menjadi kegiatan administrasi rutin
yang

dilakukan

keuntungan.

oleh

orang-orang

Orang-orang

yang

bergaji

digaji

dan

daripada

penerima

pemegang

saham

melepaskan properti pribadi dan kebebasan kontrak dari kerugian
manajemen: kepemilikan yang dematerialized, defunctionalized tidak
menghasilkan komitmen moral sebagaimana yang dilakukan bagian
vital dari property.
Pemikiran

Schumpeter

mengenai

Monopoli,

Creative

estruction dan Evolusi Perekonomian.
Pujian

Schumpeter

terhadap

entrepreneur

juga

mewarnai

pandangannya terhadap monopoli, dimana ia meminta maaf, juga
terhadap ekonomika Keynesian, dimana dia sangat menentang. Dia
melihat kekuatan monopoli sebagai insentif yang pas dan reward
yang tepat bagi entrepreneur yang berinovasi, yang akan menikmati
kekuatan tersebut hanya pada jangka waktu yang terbatas, hingga
itu dipatahkan dan digantikan dalam rantai “creative destruction” oleh
monopoli dari innovator lainnya.
6

Salah satu contoh utama dari pandangan luas Schumpeter mengenai
proses ekonomi tertuang dalam konsepnya mengenai „ creative

destruction„ atau penghancuran kreatif. Dapat dengan mudah
ditunjukkan bahwa konsep tersebut menyebar pada seluruh trilogy
evolusi, tetapi dia pertama kali menunjukkan konsep ini secara
eksplisit dalam bukunya Capitalism:

Poin penting untuk dimengerti saat menghadapi kapitalisme yaitu kita
berhadapan dengan proses evolusioner…(hal itu merupakan proses)
yang terus menerus merevolusi struktur ekonomi dari dalam (from
within),

senantiasa

menghancurkan

bagian

lama,

senantiasa

menghasilkan bagian baru. Proses penghancuran kreatif merupakan
fakta penting mengenai kapitalisme. Hal itu terkandung dalam
kapitalisme dan harus dihadapi kapitalis yang ingin berlanjut
(Schumpeter 1942, 82-83)
Melalui konsep dari proses destruksi kreatif, Schumpeter secara
efektif menjauhkan ide standar mengenai perubahan ekonomi.
Pertama evolusi ekonomi bukan merupakan proses pertumbuhan
sederhana

dimana

seluruh

sektor

dalam

kehidupan

ekonomi

berekspansi secara seimbang. Sebaliknya, ditandai oleh kreasi yang
baru dan penghancuran produk dan proses lama. Lebih jauh, banyak
dari perusahaan yang muncul dan organisasi lain tidak meningkatkan
kompetensi secara mulus dan mengganti area spesialisasi mereka.
Akibatnya, sering kali mereka lenyap dalam proses evolusioner.
Akhirnya, para pekerja yang kehilangan pekerjaan-pekerjaan, mereka
sering menghadapi tekanan yang berat dan kehilangna kesejahteraan
(welfare loss) yang terlihat lebih jelas dari keuntungan jangka
panjang dari evolusi kapitalis. Reaksi mereka meliputi tantangan
permanent terhadap lembaga kapitalisme. Oleh sebab itu, proses
destruksi kreatif merupakan konsep yang merefleksikan perjuangan
7

kompetitif dan focus terhadap reaksi -reaksi pada kehilangan
kesejahteraan sementara pada tingkat mikro dan makro.
Schumpeter menulis pada tahun 1942 mengenai destruksi kreatif
sebagai bagian utama dari kemajuan, namun pada tahun 1947 dia
memikirkan kembali slogannya tersebut dan menggantinya sebagai
„response kreatif‟ sebagai ganti destruksi. Meskipun demikian,
Schumpeter tidak pernah membuang visinya mengenai destruksi
kreatif., Schumpeter (1949, hal. 326) menyatakan bahwa „kita harus

meneliti berdasarkan sejarah, proses industri sebenarnya yang
menghasilkannya dan dalam melakukannya merevolusi struktur
ekonomi yang ada. Oleh sebab itu, ada sedikit keraguan bahwa ia
akan terus berfokus pada „proses destruksi kreatif yang kita lihat
sebagai inti dari kapitalisme‟ (Schumpeter 1942, 104).
Tiga Konsep Berbeda Mengenai Destruksi Kreatif
Istilah „destruksi kreatif‟ menjadi ambigu jika dipertimbangkan dalam
isolasi

dari

konteks

dimana

Schumpeter

menggambarkannya.

Sebenarnya, kita dapat berpendapat bahwa ada paling sedikit tiga
konsep destruksi kreatif tertentu, dan kita dapat menghubungkan
konsep-konsep ini atas penemuan Sombart, Simon, dan Schumpeter.
Makna harafiah dari konsep tersebut menyatakan „destruksi‟ dalam
beberapa aspek memiliki sifat „creative‟. Sebenarnya, pandangan ini
adalah milik Werner Sombar, anggota terkemuka dari German

Historical School yang menggunakannya. Dia memakai konsep itu
pada buku War and Capitalism, sehingga masalah destruksi menjadi
jelas. Herbert Simon (1982) memiliki pendapat bahwa bukan
destruksi
terhadap

sumber

daya

sebenarnya

keberlangsungan

tetapi

perusahaan

ancaman
yang

potensial

menyebabkan

perubahan dalam cara rutin. Sedangkan menurut Schumpeter, kreasi

8

merupakan kejadian yang relatif independen dan bukan merupakan
response adaptif terhadap kekurangan atau tekanan lainnya.
Menurut skema ini, evolusi dari cara perekonomian cenderung terjadi
melalui rentetan kejadian-kejadian :

Initial equilibrium: titik awal analitik merupakan sistem
perekonomian yang didasarkan pada Cara yang solid. Sistem ini
diasumsikan memiliki equilibrium yang membiarkan agen ekonomi
beroperasi dalam cara yang dibiasakan dari tahun ke tahun.

Inovasi: Equilibrium awal hancur ketika beberapa innovator
memulai perusahaanya. Hal ini menciptkan kenaikan /upswing
perekonomian, namun secara perlahan arus inovasi menghilang
karena kurangnya ketrampilan inovasi dan kesulitan untuk
berinovasi dalam kondisi yang diluar equilibrium awal.

Ekuilibrium yang dibaharui melalui destruksi kreatif: Pada
akhirnya, keinginan besar untuk berinovasi tidaklah cukup untuk
mempertahankan kenaikan. Penurunan mempertajam proses
kompetitif dalam destruksi kreatif, dimana banyak perusahaan tua
dipilih dari sistem ekonomi sedangkan yang lain bertahan dari
cara lama yang merusak. Pada akhirnya, sistem cara yang
dibaharui dan telah bertahan muncul.

Evolusi ekonomi sebagai proses destruksi kreatif: Evolusi
ekonomi dari sistem cara terdapat dalam equilibria yang
dibiasakan dan kerusakan inovatif yang menantang cara tersebut.
Proses

in

menciptakan

reaksi

sosio-politis

mengubah secara radikal fungsi masa depannya.

9

yang

mungkin

Pemikiran Schumpeter mengenai Koevolusi Perekonomian
dan Sistem Sosio-Politik
Sebelum Schumpeter menyelesaikan buku Cycles, dia menerima surat
menanyakan

mengenai

studinya

yang

berorientasi

sosiologis

mengenai tujuan kapitalisme. Surat ini secara spesifik menanyakan
tentang paragraph terakhir mengenai tulisannya mengenai „ The

Instability

of

Capitalism„.

Di

sini

Schumpeter

(1982,

395)

menekankan:

Tidak ada hal apapun yang ditulis dalam paper selain fakta-fakta
ekonomi dan masalah-masalahnya. Diagnosa yang ada, oleh sebab
itu, tidak lebih dari cukup sebagai dasar dari prediksi daripada
diagnosa dokter mengenai efek bahwa seseorang tidak memiliki
kanker merupakan suatu dasar prediksi bahwa ia akan hidup
selamanya. Kapitalisme, sebaliknya, dalam suatu proses transformasi
menjadi sesuatu yang lain.
Pertanyaan mengenai bagaimana cara untuk mempelajari
proses transformasi, dan Schumpeter (2000, 309) menjawab bahwa
meskipun dia tidak pernah melakukan analisis secara detail, dia telah
„secara

berulang-ulang

membicarakannya

dalam

berpikir

mengenai

berbagai

hal

kesempatan.

itu

dan

Lebih

jauh,

proyeknya dalam Cycles telah mendorongnya untuk bergerak maju:

Bahwa jika seseorang berpikir mengenai siklus-siklus bisnis
sebagai bagian tipikal dari evolusi kapitalis dan jika seseoran gmelihat
dalam gerakan jangka panjang, yang kadang kala disebut revolusi
industri,

sebagai

suatu

jenis

siklus,

adalah

alami

untuk

menghubungkan fenomena siklikal secara praktis dari seluruh ilmu
ekonomi dan sosiologi dari masyarakat kapitalis (Schumpeter 2000,
309).

10

B. Makna Pembangunan Ekonomi Schumpeter
Schumpeter menyatakan bahwa perekonomian persaingan sempurna berada
dalam kondisi keseimbangan mantap dimana tidak ada laba, tidak ada
pengangguran terpaksa, tidak ada suku bunga, tidak ada tabungan, dan
tidak ada investasi. Dan keseimbangan ini ditandai oleh ”arus sirkuler” yang
senantiasa berulang kembali dengan cara yang sama dari tahun ke tahun,
sama halnya dengan sirkulasi dalam darah binatang.
Menurut Schumpeter “pembangunan adalah perubahan yang spontan dan
terputus-putus pada saluran-saluran arus sirkuler tersebut, gangguan
terhadap keseimbangan yang selalu mengubah dan mengganti keadaan
keseimbangan yang ada sebelumnya.” Perubahan yang spontan dan
terputus-putus ini tidak

dipaksakan dari luar tetapi timbul atas inisiatif

perekonomian sendiri dan muncul di atas cakrawal kehidupan perdagangan
dan industri. Unsur utama pembangunan terletak pada usaha melakukan
kombinasi baru yang didalamnya mengandung berbagai kemungkinan yang
ada dalam keadaan mantap. Kombinasi ini muncul dalam bentuk inovasi.
1. Inovasi terdiri dari

memperkenalkan komoditas baru atau yang lebih baik secara
kualitatif dari komoditas yang sudah ada.

Diperkenalkannya cara produksi baru

Pembukaan daerah pasar baru

Penemuan sumber bahan mentah baru

Perubahan organisasi industri

Menurut Schumpeter, inovasi ini kemudian yang membawa ke arah
pembangunan.

11

2. Peranan Inovator
Pengusaha bukanlah seorang manusia yang mempunyai kemampuan
manajemen biasa tetapi seseorang yang memperkenalkan sesuatu yang
sama sekali baru. pengusaha didorong oleh (a) keinginan untuk
mendirikan kerajaan bisnis swasta, (b) keinginan untuk menguasai dan
membuktikan

superioritasnya,

(c)

kesenangan

membuat

dan

mendapatkan sesuatu, atau sekedar menyalurkan kepintaran dan tenaga
seseorang. Sifat dan tindakannya tergantung dari lingkungan dan
budayanya.
C. Kritik terhadap Teori Schumpeter
Teori Schumpeter harus diajarkan sebagai suatu karya besar. Kritik yang
diberikan atas teori Schumpeter, antara lain:

Keseluruhan

teori

Schumpeter

didasarkan

pada

inovator

yang

dianggapnya sebagai pribadi yang ideal. Orang seperti itu ditemui pada
abad 18 dan 19. Pada masa itu, inovasi dilakukan oleh para pengusaha
atau penemu (pencipta). Tapi sekarang, bentuk inovasi sudah menjadi
bagian dari perusahaan modal bersama.

Menurut Schumpeter, pembangunan ekonomi adalah akibat dari proses
siklus. Pasang naik dan pasang surut tidak penting bagi pembangunan
ekonomi.

Pendapat Schumpeter bahwa perubahan siklus merupakan akibat inovasi
juga tidak benar.

Schumpeter menganggap inovasi sebagai sebab utama pembangunan
ekonomi. Ini jauh dari kenyataan. Pembangunan ekonomi tidak hanya
bergantung pada inovasi tetapi juga pada banyak perubahan ekonomi
dan sosial lain.

12

Schumpeter dalam teorinya terlalu banyak menekankan pentingnya
kredit bank. Kredit bank barangkali memang penting dalam jangka
pendek ketika perusahaan industri mendapatkan fasilitas kredit dari
bank. Tetapi dalam jangka panjang, ketika kebutuhan dan modal
semakin besar, kredit bank tidak memadai lagi.

Analisa

Schumpeter

mengenai

proses

peralihan

dari

kapitalisme

kesosialisme tidak benar. Dia tidak menganalisa bagaimana suatu
masyarakat kapitalis berubah menjadi sosialis. Dia menyatakan secara
naif bahwa kerangka kelembagaan masyarakat kapitalis berubah dengan
adanya perubahan pada fungsi-fungsi pengusaha. Analisanya mengenai
berakhirnya kapitalisme agak emosional Ketimbang Riil.
D. Analisa Schumpeter dan Negara Terbelakang
Kemungkinan penerapan teori Schumpeter pada negara terbelakang begitu
terbatas dikarenakan :
1. Perbedaan tatanan sosio ekonomi
Di negara terbelakang, kondisi sosio ekonomi sama sekali berbeda dan
tidak ada prasyarat pembangunan dalam bentuk overhead ekonomi dan
sosial
2. Kurangnya kewiraswastaan
Negara terbelakang kekurangan jiwa wiraswasta yang memadai.
Rendahnya harapan laba dan keadaan teknologi tidak mendorong
investasi yang bersifat inovasi pada pabrik dan peralatan baru.
Kurangnya tenaga yang memadai, angkatan tenaga terampil, dan lainlain bertindak sebagai penghambat kegiatan wiraswasta.
3. Tidak dapat diterapkan pada negara sosialis
Analisa Schumpeter tidak dapat diterapkan pada mayoritas

Negara

terbelakang yang mempunyai kecenderungan sosialis.
4. Tidak dapat diterapkan pada ekonomi campuran
Menurut versi Schumpeter, di negara terbelakang yang menjadi
innovator adalah pemerintah.
13

5. Yang dibutuhkan adalah Perubahan Kelembagaan bukan inovasi
Yang dibutuhkan adalah perubahan struktur organisasi, praktek bisnis,
tenaga yang terampil dan nilai-nilai, sikap dan motivasi yang tepat.
6. Asimilasi Inovasi
Menurut Henry

Walich, proses pembangunan di negara terbelakang

didasarkan tidak pada inovasi tetapi pada asimilasi atas inovasi yang
ada.
7. Mengabaikan konsumsi
Proses

Schumpeter

“berorientasikan

produksi”

sementara

proses

pembangunan “berorientasikan konsumsi”
8. Mengabaikan Tabungan
Penekanan utama Schumpeter pada arti kredit bank mengabaikan arti
tabungan riil dalam investasi.
9. Mengabaikan pengaruh eksternal
Menurut Schumpeter, pembangunan merupakan dari perubahan yang
muncul dari dalam perekonomian. Tetapi di negara terbelakang,
perubahan tidak terjadi dari dalam perekonomian, malahan perubahan
tersebut adalah dari gagasan, eknologi, dan modal yang diimpor.
10. Mengabaikan pertumbuhan penduduk
Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi cenderung menurunkan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang sedang berkembang
11. Penjelasan yang tak memuaskan mengenai tekanan inflasi
Inflasi merupakan bagian integral

dari proses pembangunan

tetapi,

gerakan tersebut tidak mencakup inflasi jangka panjang. Tingkat harga
jangka

panjang

tetapi

stabil

namun

demikian

dalam

ekonoomi

terbelakang bebas inflasi sangat kuat. Bukan hanya pembangunan dan
investasi yang menjadi penyebab kecenderungan inflasi, tetapi seluruh
iklim sosial dari perekonomian yang berorientasi permintaan.

14

KESIMPULAN
Orang-orang yang statis atau bertindak seperti kebanyakan orang tidak akan
membawa perubahan. Investigasi empiris Schumpeter terhadap sesuatu di balik
dinamika perubahan ekonomi membawanya ke tema “kreativitas dan inovasi “.
Dan aktor ekonomi yang membawa inovasi tersebut adalah aktor superior yang
jarang dan sedikit yang disebut “entrepeneur”. Jadi entrepreneur adalah pelaku
ekonomi yang inovatif yang akan mendobrak keseimbangan dan kejenuhan
kehidupan untuk membawanya ke tingkat “akumulasi” yang tinggi.
Dobrakan

dan

dinamisasi

yang

ditimbulkan

entrepreneur

ternyata

mendatangkan kompetitor dan Resentment (kemarahan) banyak orang yang
berada dalam status quo. Ekonomi pun berangsur mengalami “deklinasi” atau
kembali ke pola, ritme dan rutinitasnya yang biasa. Menurut Schumpeter hal ini
sudah inheren dan tak perlu dikhawatirkan karena demikianlah entrepreneur
bekerja memutarkan business cycle.
Dibandingkan dengan konsepsi Kapitalisme Kreatif Bill Gates, yang berarti
“sebuah pendekatan di mana pemerintah, sektor bisnis, dan kegiatan-kegiatan
nirlaba, saling bekerjasama untuk memperluas jangkauan pasar, sehingga akan
semakin banyak manusia yang memperoleh insentif (keuntungan),” maka
konsepsi Schumpeter ini memiliki banyak kesamaan. Menggelembungkan pasar
finansial adalah tindakan yang naif (untuk tidak mengatakan bodoh). Sudah
saatnya pembangunan diarahkan ke infrastruktur sektor riil dan peningkatan
kesejahteraan publik secara massif.

= Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari semua ini =
TERIMA KASIH

15

DAFTAR PUSTAKA
Arief, Budiman. Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 1996
Baldwin, Robert E, Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi di Negara-negara

berkembang, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1986
Boediono. Teori Pertumbuhan ekonomi; Seri synopsis Pengantar Ilmu Ekonomi

No.4. edisi 1. BPFE, Yogyakarta, 1981
Jhingan, M.L, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1996
---------------------------, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012
Susilowati,

Dwi,

Pengantar Ekonomi Pembangunan, Ebook, Universitas

Muhammadiyah Malang, Malang, 2011
Thirlwall, A.P, Keynes and Economic Development; The Seventh Keynes

Seminar Held at the University of Kent at Canterbury , Macmillan Press,
Cantebury, 1985
Todaro, Michael P, Smith, Stephen C. Pembangunan Ekonomi. Edisi kesebelas .
Penerbit Erlangga. 2011. Jakarta
---------------------- Pembangunan Ekonomi di dunia ketiga. Edisi kedelapan.
Penerbit Erlangga. 2003. Jakarta

16