You are on page 1of 60

Asuhan Keperawatan pada Klien Asma

Pengertian
Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang
reversibel. (Joyce M. Black : 1996).
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon
secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas
obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme,
peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan
jalan nafas.

Etiologi
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh :
1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
2) Pembengkakan membran bronkus.
3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis, kedua faktor
tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal
mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan
nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai

macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi
ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi
tertentu, selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti eksim, dermatitis, demam tinggi
dan klien dengan riwayat asma. Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering
ditemukan adanya faktor-faktor pencetus yang tidak jelas, faktor yang spesifik seperti flu, latihan fisik,
dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma.

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik pada pasien asma adalah batuk, dyspnoe, dan wheezing.
Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada, pada penderita yang sedang bebas serangan
tidak ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam,
gelisah, duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja
dengan keras.
Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
1) Tingkat I :
a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di
laboratorium.
2) Tingkat II :
a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda
obstruksi jalan nafas.
b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3) Tingkat III :
a) Tanpa keluhan.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4) Tingkat IV :
a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.

5) Tingkat V :
a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat
refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.
Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :
Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.

Klasifikasi Asma
Asma dibagi atas dua kategori, yaitu ekstrinsik atau alergi yang disebabkan oleh alergi seperti debu,
binatang, makanan, asap (rokok) dan obat-obatan. Klien dengan asma alergi biasanya mempunyai
riwayat keluarga dengan alergi dan riwayat alergi rhinitis, sedangkan non alergi tidak berhubungan
secara spesifik dengan alergen.
Faktor-faktor seperti udara dingin, infeksi saluran pernafasan, latihan fisik, emosi dan lingkungan
dengan polusi dapat menyebabkan atau sebagai pencetus terjadinya serangan asma. Jika serangan non
alergi asma menjadi lebih berat dan sering dapat menjadi bronkhitis kronik dan emfisema, selain alergi
juga dapat terjadi asma campuran yaitu alergi dan non alergi.

Penatalaksanaan
Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale :
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas
b. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
c. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan
penyakit.
Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
a. Pengobatan dengan obat-obatan
Seperti :
1) Beta agonist (beta adrenergik agent)
2) Methylxanlines (enphy bronkodilator)
3) Anti kolinergik (bronkodilator)
4) Kortikosteroid

2) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. e.5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.Pemeriksaan Penunjang : Beberapa pemeriksaan penunjang seperti : a.25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan. misalnya : 1) Oksigen 4-6 liter/menit. 4) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh. 2) Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2. 3) Tes provokasi bronkial seperti : Tes provokasi histamin. f. Pemeriksaan sputum. g. metakolin. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. c. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.5) Mast cell inhibitor (lewat inhalasi) b. Komplikasi . 3) Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB. c. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. kegiatan jasmani. d. Tes provokasi : 1) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. alergen. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya. jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0. b. 4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.

takut. pucat atau tidak. bronkhitis dan fraktur iga. muntah. alergi debu. tidak ada defresi sternum 2) Diameter antero posterior lebih besar dari diameter transversal 3) Keabnormalan struktur Thorax 4) Contour dada simetris 5) Kulit Thorax . cepat lelah b. kering. gelisah 4) Pernapasan : perubahan frekuensi. keringat dingin. kedalaman pernafasan. 6) Pola aktivitas : kelemahan tubuh. Confek. Identitas klien 1) Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan. gagal nafas. atelektasis. distribusi warna merata 6) RR dan ritme selama satu menit. Pemeriksaan fisik Dada 1) Contour. 3) Status mental : lemas.Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks. Pengkajian a. udara dingin 2) riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas. Hangat. Palpasi : 1) Temperatur kulit 2) Premitus : fibrasi dada 3) Pengembangan dada 4) Krepitasi 5) Massa 6) Edema . 5) Gastro intestinal : adanya mual.

4) Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. 2) Tes provokasi : a) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. 8) Pemeriksaan sputum. alergen. 3) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh. metakolin. 5) Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. Test provokasi bronchial seperti : Test provokasi histamin. Diagnosa Keperawatan Diagnosa 1 : . c) Tes provokasi bronkial Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus . c. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata.Auskultasi 1) Vesikuler 2) Broncho vesikuler 3) Hyper ventilasi 4) Rochi 5) Wheezing 6) Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya. test provokasi dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri. b) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. kegiatan jasmani. Pemeriksaan penunjang 1) Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. 6) Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. 7) Pemeriksaan eosinofil total dalam darah.

Intervensi : a. Auskultasi bunyi nafas. Observasi karakteristik batuk. Kaji pasien untuk posisi yang aman. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema). Berikan air hangat. Kolaborasi obat sesuai indikasi. klien dapat mengeluarkan sputum.Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus. sakit akut/kelemahan. catat adanya bunyi nafas. Tujuan : . batuk berkurang. Rasional : Membebaskan spasme jalan nafas. wheezing berkurang/hilang. c. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. tak ada fungsi nafas (asma berat). f. Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Diagnosa 2 : Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. d. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. vital dalam batas normal keadaan umum baik. Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. Rasional : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Tujuan : Jalan nafas kembali efektif. mengi dan produksi mukosa. Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Rasional : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. e. khususnya pada klien lansia. Kriteria hasil : Sesak berkurang. basah. misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk. menetap. batuk pendek. ronkhi. Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). misalnya : wheezing. b.

. memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret. ekspansi paru mengembang. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada 2. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. wheezing. Kriteria hasil : Pola nafas efektif. 4. Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk. Diagnosa 3 : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels. Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. 3. Rasional : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. TTV dalam batas normal.Pola nafas kembali efektif. 5. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Rasional : Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi. Intervensi : 1. Kolaborasi . Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada.Berikan oksigen tambahan . batuk berkurang. Observasi pola batuk dan karakter sekret. bunyi nafas normal atau bersih. 6. Rasional : ronki dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer Rasional : memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.

Kriteria hasil : Keadaan umum baik. tekstur kulit baik.Vitamin B squrb 2×1. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering Rasional : memenuhi kebutuhan nutrisi klien. Rasional : air hangat dapat mengurangi mual. Rasional : defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi. 3. nafsu makan baik. Rasional : menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya.Antiemetik rantis 2×1 Rasional : untuk menghilangkan mual / muntah. rambut. Rasional : peningkatan pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan keperawatan. . Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit. Rasional : Penurunan berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi. Anjurkan klien minum air hangat saat makan. Rasional : menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan. konjungtiva). . 6. Timbang berat badan dan tinggi badan. 4. .Konsul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi. Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Intervensi : 1. Kolaborasi . mukosa bibir lembab. Diagnosa 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 2. bising usus 6-12 kali/menit. 5. klien menghabiskan porsi makan yang disediakan. berat badan dalam batas normal. .Berikan obat sesuai indikasi.

Rasional : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal. badan tidak lemas. Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Kriteria hasil : KU klien baik. Diagnosa 5 : Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. klien dapat beraktivitas secara mandiri.Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. kekuatan otot terasa pada skala sedang Intervensi : 1. Kriteria hasil : Mencari tentang proses penyakit : . 2. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas. Rasional :meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. menghemat energi untuk penyembuhan. Rasional : menetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. 3. Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan meningkatkan istirahat. 4. Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.Klien mengerti tentang definisi asma . 5. Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas.

Rasional : upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah meminimalkan komplikasi.. membatasi terpajan pada patogen. misalnya : istirahat dan aktivitas seimbang. Jalan nafas kembali efektif. dan harapan kesembuhan. c. Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal. Pola nafas kembali efektif. 2. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. Rasional : menaikan pertahanan alamiah atau imunitas. Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. lamanya penyembuhan. Rasional : kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mangasimilasi informasi atau mengikuti program medik.Klien mengerti tentang penyebab dan pencegahan dari asma . Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. b. Rasional : informasi dapat manaikkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan. e. 4. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan. d. Rasional : selama awal 6-8 minggu setelah pulang.Klien mengerti komplikasi dari asma Intervensi : 1. 3. 5. Evaluasi a. diet baik. Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan. pasien beresiko besar untuk kambuh dari penyakitnya. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan. .

Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia) 4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria) 5. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita. Diabetes mellitus tipe 1 Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin. Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita : 1. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya 10. Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan.ASKEPASKEP KLIEN DENGAN DIABETES MELITUS Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia) 3.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose). Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). anak-anak dan remaja. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya 6.  Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.  Tipe Penyakit Diabetes Mellitus 1. dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Sampai saat ini. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba 9. Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang . dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 . Cepat lelah dan lemah setiap waktu 8. Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1. umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. lemak. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria) 2. Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki 7.

 Kadar Gula Dalam Darah Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 .8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}. Accurate. 2. Namun demikian. dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin. BCJ Group. Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan. dan berolahraga. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal. kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. yaitu dengan mengurangi berat badan. Diabetes mellitus tipe 2 Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL. Pada penderita diabetes tipe 2. selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet). Pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan. Bahkan pemberian . Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah. Humalog. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan. diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih.dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. diantaranya faktor kegemukan (obesitas). diet. OneTouch UltraEasy machine. dan pemberian tablet diabetik. penurunan berat badan. ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 . Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus. sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit. dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi. sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal. Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl. pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet. maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan. Riwayat keluarga. resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.  Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir. maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya. Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek.

diet. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. ANALISA DATA TGL / NO JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. o Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN . gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. o Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan o Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. A. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah.suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diisi pada saat tanggal pengkajian o Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. o o o o o D.dll pasien C. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. o Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh.

gula darah pemberian anti biotik. pus dan jaringan gangren pada nekrotomi jaringan yang mati. untuk pemberian insulin. teraba hangat. di berhubungan .Berkurangnya berhubungan angkat sisa balutan yang 2 oedema sekitar luka. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka Kriteria Hasil : Gangguan integritas secara abseptik menggunakan jaringan larutan yang tidak iritatif. . Kaji luas dan keadaan luka Tercapainya proses serta proses penyembuhan penyembuhan luka. Ajarkan tentang modifikasi darah ke daerah luka tidak faktor-faktor resiko berupa : gangren akibat pucat/sianosis Hindari diet tinggi kolestrol. pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). 1. Kerja sama dengan tim membaik kesehatan lain dalam pemberian vasodilator. Kolaborasi dengan dokter granulasi.Oedema tidak terjadi merokok. .Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi 2. 1 / menurunnya aliran . 6. 1.Kulit sekitar luka teknik relaksasi. dan penggunaan dan luka tidak obat vasokontriksi bertambah parah.Warna kulit sekitar 3. adanya obstruksi . pembuluh darah. hindari jaringan penggunaan bantal. 5. Adanya jaringan 7. Bau busuk luka pemeriksaan kultur pus pemeriksaan berkurang. Gangguan perfusi Hasil : hindari balutan ketat. menghentikan kebiasaan . Dengan Kriteria hindari penyilangkan kaki.Sensorik dan motorik 4. 4. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan mempertahankan aliran darah : sirkulasi perifer tetap Tinggikan kaki sedikit lebih normal rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ). berkurang ekstrimitas 3. dengan adanya menempel pada luka dan 2.Denyut nadi perifer belakang lutut dan dengan melemahnya teraba kuat dan reguler sebagainya.

dingin. . tanda vital dalam batas normal. dan 1.rasa nyeri hilang/berkurang Kriteria Hasil : Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) 3 berhubungan dengan iskemik jaringan.Penderita secara reaksi nyeri yang dialami pasien. . mengatasi atau 12.5 0C. untuk pemberian analgesik. Pergerakan keinginan pasien penderita bertambah 13. frekuensi. 10. T : 100 – 130 mmHg. Penderita dapat yang tenang. N: 14. Tidak ada keringat saat rawat luka. kompres luka dengan BWC 4. senyaman mungkin sesuai 3. 60 – 80 x /menit. melakukan metode 11. Kaji tingkat. Atur posisi pasien mengurangi nyeri . 8. RR : 18 – 20 x /menit ). Ciptakan lingkungan 2. Ajarkan teknik atau tindakan untuk distraksi dan relaksasi. Lakukan massage dan luas. Kolaborasi dengan dokter ( S : 36 – 37. Jelaskan pada pasien tentang nyeri berkurang/hilang sebab-sebab timbulnya nyeri. verbal mengatakan 9.

ASKEP KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL AKUT
A. TEORI
Adalah penurunan tiba-tiba faal ginjal pada individu dengan ginjal sehat sebelumnya, dengan
atau tanpa oliguria dan berakibat azotemia progresif disertai kenaikan ureum dan kreatinin
darah (Imam Parsoedi A dan Ag. Soewito :Ilmu Penyakit dalam Jilid II;91 )
KLASIFIKASI :
1. Gagal Ginjal Akut Prerenal
2. Gagal Ginjal Akut Post Renal
3. Gagal Ginjal Akut Renal
Gagal Ginjal Akut Prerenal;
Gagal ginjal akut Prerenal adalah keadaan yang paling ringan yang dengan cepat dapat
reversibel, bila ferfusi ginjal segera diperbaiki. Gagal ginjal akut Prerenal merupakan kelainan
fungsional, tanpa adanya kelainan histologik/morfologik pada nefron. Namun bila hipoperfusi
ginjal tidak segera diperbaiki, akan menimbulkan terjadinya nekrosis tubulat akut (NTA).
Etiologi
1. Penurunan Volume vaskular ;
a. Kehilangan darah/plasma karena perdarahan,luka bakar.
b. Kehilangan cairan ekstraselular karena muntah, diare.
2. Kenaikan kapasitas vaskular
a. sepsis
b. Blokade ganglion
c. Reaksi anafilaksis.
3. Penurunan curah jantung/kegagalan pompa jantung
a. renjatan kardiogenik
b. Payah jantung kongesti
c. Tamponade jantung
d. Distritmia
e. Emboli paru
f. Infark jantung.
Gagal Ginjal Akut Posrenal
GGA posrenal adalah suatu keadaan dimana pembentukan urin cukup, namun alirannya dalam
saluran kemih terhambat. Penyebab tersering adalah obstruksi, meskipun dapat juga karena
ekstravasasi

Etiologi
1. Obstruksi
a. Saluran kencing : batu, pembekuan darah, tumor, kristal dll.
b. Tubuli ginjal : Kristal, pigmen, protein (mieloma).
2. Ektravasasi.
Gagal Ginjal Akut Renal
1. GGA renal sebagai akibat penyakit ginjal primer seperti :
a. Glomerulonefritis
b. Nefrosklerosis
c. Penyakit kolagen
d. Angitis hipersensitif
e. Nefritis interstitialis akut karena obat, kimia, atau kuman.
2.Nefrosis Tubuler Akut ( NTA )
Nefropati vasomotorik akut terjadi karena iskemia ginjal sebagai kelanjutan GGA. Prerenal atau
pengaruh bahan nefrotoksik.Bila iskemia ginjal sangat berat dan berlangsung lama dapat
mengakibatkan terjadinya nekrosis kortikol akut( NKA) dimana lesi pada umumnya difus pada
seluruh korteks yang besifat reversibel.Bila lesinya tidak difus (patchy) ada kemungkinan
reversibel.
Pemeriksaan Laboratorium :
4. Darah : ureum, kreatinin, elektrolit, serta osmolaritas.
5. Urin : ureum, kreatinin, elektrolit, osmolaritas, dan berat jenis.
6. Kenaikan sisa metabolisme proteinureum kreatinin dan asam urat.
7. Gangguan keseimbangan asam basa : asidosis metabolik.
8. Gangguan keseimbangan elektrolit : hiperkalemia, hipernatremia atau hiponatremia,
hipokalsemia dan hiperfosfatemia.
9. Volume urine biasanya kurang dari 400 ml/24 jam yang terjadi dalam 24 jam setelah
ginjal rusak.
10. Warna urine : kotor, sedimen kecoklatan menunjukan adanya darah, Hb, Mioglobin,
porfirin.
11. Berat jenis urine : kurang dari 1,020 menunjukan penyakit ginjal, contoh :
glomerulonefritis, piolonefritis dengan kehilangankemampuan untuk memekatkan;
menetap pada 1,010menunjukan kerusakan ginjal berat.
12. PH. Urine : lebih dari 7 ditemukan pada ISK., nekrosis tubular ginjal, dan gagal ginjal
kronik.
13. Osmolaritas urine : kurang dari 350 mOsm/kg menunjukan kerusakan ginjal, dan ratio
urine/serum sering 1:1.

14. Klierens kreatinin urine : mungkin secara bermakna menurun sebelum BUN dan
kreatinin serum menunjukan peningkatan bermakna.
15. Natrium Urine : Biasanya menurun tetapi dapat lebih dari 40 mEq/L bila ginjal tidak
mampu mengabsorbsi natrium.
16. Bikarbonat urine : Meningkat bila ada asidosis metabolik.
17. SDM urine : mungkin ada karena infeksi, batu, trauma, tumor, atau peningkatan GF.
18. Protein : protenuria derajat tinggi (3-4+) sangat menunjukan kerusakan glomerulus bila
SDM dan warna tambahan juga ada. Proteinuria derajat rendah (1-2+) dan SDM
menunjukan infeksi atau nefritis interstisial. Pada NTA biasanya ada proteinuria
minimal.
19. Warna tambahan : Biasanya tanpa penyakit ginjal ataui infeksi. Warna tambahan selular
dengan pigmen kecoklatan dan sejumlah sel epitel tubular ginjal terdiagnostik pada
NTA. Tambahan warna merah diduga nefritis glomular.
Darah :
20. Hb. : menurun pada adanya anemia.
21. Sel Darah Merah : Sering menurun mengikuti peningkatan kerapuhan/penurunan hidup.
22. PH : Asidosis metabolik (kurang dari 7,2) dapat terjadi karena penurunan kemampuan
ginjal untuk mengeksresikan hidrogen dan hasil akhir metabolisme.
23. BUN/Kreatinin : biasanya meningkat pada proporsi ratio 10:1
24. Osmolaritas serum : lebih beras dari 285 mOsm/kg; sering sama dengan urine.
25. Kalium : meningkat sehubungan dengan retensi seiring dengan perpindahan selular
( asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).
26. Natrium : Biasanya meningkat tetapi dengan bervariasi
27. Ph; kalium, dan bikarbonat menurun.
28. Klorida, fosfat dan magnesium meningkat.
29. Protein : penurunan pada kadar serum dapat menunjukan kehilangan protein melalui
urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan, dan penurunan sintesis,karena
kekurangan asam amino esensial
30. CT.Scan
31. MRI

o o o Resiko tinggi terhadap infeksi b/d depresi pertahanan imunologi. akumulasi/penumpukan urea toksin. konduksi jantung. B. o Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan katabolisme protein o Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik/pembatasan diet.dll pasien D. EKG mungkin abnormal menunjukan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN . Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diisi pada saat tanggal pengkajian o Perubahan kelebihan volume cairan b/d gagal ginjal dengan kelebihan air. irama. gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. kalsifikasi jaringan lunak. ANALISA DATA TGL / NO JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas. B. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh. anemia.32. o Resiko tinggi terhadap menurunnya curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairandan elektrolit.prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang mengingat. Kurang pengetahuan tentang kondisi. gangguan frekuensi.

Monitor data-data laboratorium : Serum pH. Potasium. 5. Clorida dan bicarbonat. Monitor ECG Berikan cairan sesuai indikasi Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya. Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya) serta tanda – tanda chvostek”s dan Trousseau”s 7. distensi vena jugularis. Monitor oedema. Hidrogen.1. Kalium. Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri). 9. BUN dan serum kreatinin. Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap pengobatan. bicarbonat. . 4. 3. kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam. calsium magnesium. 8. Timbang berat badan pasien setiap hari. Kaji status mental. Perubahan kelebihan volume 1 cairan b/d gagal ginjal dengan kelebihan air Volume cairan tubuh normal Kriteria hasil : Tidak terjadi oedem. 6. HT. tidak ada keluhan pada tubuh 2. Ukur intake dan output tiap 24 jam. refleks hepato jugular. Ukur CVP dan PAWP Monitor data laboratorium : Serum Natrium. Gangguan perfusi jaringan renal sehubungan dengan kerusakan nepron Metabolisme kembali 2 sehingga tidak normal mampu mengeluarkan sisa metabolisme Kaji Perubahan EKG. Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic. Hb.

5 Resiko tinggi Tidak terjadi infeksi terhadap infeksi b/d depresi pertahanan imunologi. culture sputum. Monitor serum Kalium. Kaji terhadap adanya tanda. Lakukan perawat kulit secara benar. 18. muntah dan anorexia 11. Monitor data laboratorium : Serum protein. porsi makan habis Kaji terhadap adanya Mual. Pruritis. status nutrisi yang adekuat dan istirahat . 13. Monitor intake makanan dan perubahan berat badan . 21.10. Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien. 22. Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih. Resiko tinggi terjadinya Tidak terjadi 4 kerusakan integritas Kerusakan integritas kulit sehubungan kulit dengan efek uremia. 25. Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari 3 kebutuhan tubuh berhubungan dengan katabolisme protein Nutrisi seimbang Kriteria Hasil : BB stabil. Urine. Pertahankan kebersihan diri. Monitor Lipatan kulit dan area yang oedema 19. Kalium dan natrium. 15. Lemak. 20. Berikan antiemetik dan monitor responya. Monitor temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah. Kaji terhadap kekeringan kulit. 24. 23. Pertahankan tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution. Kaji terhadap adanya petechie dan purpura. 12. 17. Berikan pengobatan antipruritis sesuai pesanan. 14. Excoriations dan infeksi. Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien. 16.tanda infeksi.

Kebiasaan hidup yang sehat membantu mencegah infeksi. . Observasi terhadap perubahan perilaku. 26. Kaji tipe kepribadian 28. Orientaskan pasien terhadap kenyataan saat ini. Berikan latihan relaksasi sebelum tidur dan brikan periode stirahat. tempat tidur tidak boleh terlalu tiggi. rasa terbakar. Pertahankan tindakan kenyamanan : Tutup rel tempat tidur. 32. adanya neuropathi perifer. letakan bel dekat pasien. kram otot dan gejala paresthesia lainnya. 30. gangguan proses pikir sehubungan 6 dengan Proses pikir normal abnormalitasnya zat – zat kimia dalam tubuh yang dihubungakan dengan uremia Kaji status neurologic : Orientasi terhadap waktu. tanyakan klien dengan kalimat terbuka. 29. Tingkat kesadaran dan ktivitas motorik (kejang) 27. Sempatkan waktu anda untuk bersama – sama klien. jaukan barang – barang tajam. 31.yang cukup. tempat dan orang : Pola tidur . Resiko Tinggi terjadinya gangguan persepsi / sensori.

Kurang mampu merawat diri Personal hygiene 7 sehubungan dengan terpenuhi kelemahan fisik. ). Jika pasien tidak mampu sama sekali Bantu lakukan perawatan dipasien dengan melibatkan kelurag. 34.). 35. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen. TEORI Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon. . Kaji kelemahan dan kelelahan. dan berikan penjelasan tentang kebutuhan perawatan diri. L. Lakukan latihan nafas dalam batuk dan ambulasi di tempat tidur ASKEP HIPERTENSI A.Rogen.33.

Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah. Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: a. Patofisiologi Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel jugularis. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. 3. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na. b. Gangguan endokrin dll. lingkungan. . Hipertensi Esensial (Primer) Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika. Dan apabila diteruskan pada ginjal. Etiologi Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi: 1. sehingga terjadi kenaikan tekanan darah. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. (Barbara Hearrison ) Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. merokok dan stress. Hipertensi Sekunder Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. susunan saraf simpatik. obesitas. 2. efek dari eksresi Na.Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih. system rennin angiotensin. hiperaktivitas. Stress Lingkungan 4.

Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal. pusing/migrain. 4. bersepeda atau berenang. lemah dan lelah. Manifestasi klinis Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan tekanan darah > 140/90 mmHg. muka pucat suhu tubuh rendah. jogging. . Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan darah. epistaksis. 3. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma. Penatalaksanaan Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis penatalaksanaan: 1. gagal jantung. Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu: 1.  Aktivitas. pecahnya pembuluh darah otak. Penatalaksanaan Farmakologis. rasa berat ditengkuk. Tidak menimbulakn intoleransi.  Diet Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. 2. sakit kepala. gagal ginjal. Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Mempunyai efektivitas yang tinggi. Penatalaksanaan Non Farmakologis. Komplikasi Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan. Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan. mata berkunang kunang. Memungkinkan penggunaan obat secara oral. 6. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung. 2. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien. sukar tidur. 5.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium.

o Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Urinalisa : darah. o Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. golongan antagonis kalsium. B. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas. . pola hidup monoton. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diisi pada saat tanggal pengkajian o Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah.dll pasien D. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. anemia. encelopati 8. 3. 9. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal. 7. Poto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup. 4. 5. gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. o Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi in adekuat. glukosa. keyakinan budaya. dimana luas. golongan betabloker. mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic. golongan penghambat konversi rennin angitensin. ANALISA DATA TGL / NO JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas. pembesaran jantung.Golongan obat . EKG : Dapat menunjukan pola regangan. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal. Test diagnostic. protein. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. 6. perbaikan ginjal. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini C. 10. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh.

o Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif. 2. harapan yang tidak terpenuhi. dingin. kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan karotis. dan masa pengisian kapiler. (adanya pucat. mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat diterima. kelembaban. persepsi tidak realistic. PERENCANAAN 1. Dengan Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban kerja jantung . (S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium. TUJUAN Curah jantung kembali normal. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN 1 Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. Catat keberadaan. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi. perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler). adanya krakels. kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat . Amati warna kulit. o B. mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik). 3. Dunyut pada tungkai mungkin menurun.jugularis. mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena). 4. suhu.

9. pusig atau pingsan. dipsnea. Berikan lingkungan yang nyaman. (dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress. membuat efek tenang. aktivitas kembali normal. 6.deuritik. sehingga akan menurunkan tekanan darah). atau nyeridada. 8. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter : frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat. kurangi aktivitas / keributan ligkungan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress. 2 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. (membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis. . panduan imajinasi dan distraksi. berkeringat.mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung). aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja / jantung). Catat adanya demam umum / tertentu. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti hipertensi. 5. catat peningkatan TD. Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan. (menurunkan tekanan darah). Anjurkan teknik relaksasi. kelelahan berat dan kelemahan. meningkatkan relaksasi). ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. (dapat mengindikasikan gagal jantung. melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur. kerusakan ginjal atau vaskuler). tenang. 7. batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.

Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung). Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan. 13. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. 12. (Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan mencegah kelemahan). . Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi. (Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen). TD stabil.10. (Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual). frekwensi nadi. 11.

3 Gangguan rasa Nyeri berkurang atau teratasi nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan Kriteria Hasil : dengan peningkatan tekanan vaskuler Melaporkan nyeri / ketidak cerebral. mengikuti regiment farmakologi yang diresepkan. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala : mengejan saat BAB. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah makan. Beri cairan. 16. 14. 15. (menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan). nyamanan tulang / terkontrol. (Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan menghambat / memblok respon simpatik. batuk panjang. efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya). pijat punggung dan leher serta teknik relaksasi. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. (Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien). mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan. diazepam dll. (Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatkan tekanan vakuler serebral). misalnya : kompres dingin pada dahi. (Analgetik . 18. Pertahankan tirah baring selama fase akut.dan membungkuk. (Meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi). Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. makanan lunak. 17. 19. anti ansietas.

kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi). gagal jantung. stroke. menunjukan perubahan pola makan. misalnya. penyakit ginjal. Kebuituhan nutrisi terpenuhi.garam dan gula sesuai indikasi. Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan kegemukan. kerena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan masa tumbuh). (Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya. 4 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi in adekuat. Tetapkan keinginan . 20. keyakinan budaya.menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf simpatis). pola hidup monoton. (Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi. 21. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak. Kriteria hasil : klien dapat mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan. melakukan / memprogram olah raga yang tepat secara individu. 22.

(motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan. bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil). Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien. Membantu dalam menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan / penyuluhan). membantu untuk memfokuskan . Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasukkapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. (mengidentivikasi kekuatan / kelemahan dalam program diit terakhir. (memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan. 24. 23. Misalnya : penurunan berat badan 0. (Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat badan 0.5 kg per minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan).5 kg / minggu. 25. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.klien menurunkan berat badan.

kerusakan konsentrasi. 29. Catat laporan gangguan tidur. kuning telur. peka rangsangan. Koping individu menjadi efektif Kriteria hasil : Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekkuensinya. (Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang. Kaji keefektipan strategi koping dengan mengobservasi perilaku. 5 Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif. ketidak . penurunan toleransi sakit kepala. 28. harapan yang tidak terpenuhi. 27. es krim. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat . persepsi tidak realistic. daging dll) dan kolesterol (daging berlemak. (Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis). (Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual). produk kalengan. keju. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. 26. hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega. mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terafi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari).jeroan).perhatian pada factor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan). telur. peningkatan keletihan. menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi.

Memperbaiki keterampilan koping. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya. Tanyakan pertanyaan seperti : apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan ?. (Fokus perhtian klien pada realitas situasi yang relatif terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan.mampuan untuk mengatasi / menyelesaikan masalah. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. 30. (Manifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic). 31. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisifasi maksimum dalam rencana pengobatan. dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik. (pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor). Etika kerja keras. 32. (keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. kebutuhan untuk kontrol dan focus keluar dapat .

2. merokok. dan minum alcohol (lebih dari 60 cc / hari dengan teratur) pola hidup penuh stress.mengarah pada kurang perhatian pada kebutuhankebutuhan personal). kemajuan dan prognosis. dan kolesterol. Mempertahankan TD dalam parameter normal. Bila klien tidak menerima realitas bahwa . 33. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. o Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan. misalnya : obesitas. (kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien / orang terdekat untuk mempelajari penyakit. 1. (Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya). Bantu untuk menyesuaikan ketibang membatalkan tujuan diri / keluarga. pola hidup monoton. Bantu klien dalam mengidentifikasi factorfaktor resiko kardivaskuler yang dapat diubah. (Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal). diet tinggi lemak jenuh. 6 Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi Pengetahuan klien tentang proses penyakit meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria hasil : o Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.

tanda dan gejala. pengobatan. . dan akibat lanjut. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi (pengertian. (mengidentivikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudahj dalam menentukan intervensi). maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan). tanda dan gejala.pencegahan. dan akibat lanjut) melalui penkes.membutuhkan pengobatan kontinu. 4. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian.penyebab. penyebab. pengobatan. (Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses penyakit hipertensi). pencegahan. 3.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronis adalah kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) atau penurunan faal ginjal yang menahun dimana ginjal tidak mampu lagi mempertahankan lingkungan internalnya yang berlangsung dari perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat yang berlangsung dalam jangka waktu lama dan menetap sehingga . 1995: 812). Long (1996 : 368) mengemukakan bahwa Gagal ginjal kronik adalah ginjal sudah tidak mampu lagi mempertahankan lingkugan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi sudah tidak dimulai Gagal ginjal kronik merupakan penurunan faal ginjal yang menahun yang umumnya tidak riversibel dan cukup lanjut. (Suparman. Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat. biasanya berlangsung dalam beberapa tahun (Lorraine M Wilson. TEORI Ada beberapa pengertian gagal ginjal kronis yang dikemukakan oleh beberapa ahli meliputi yaitu : Gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung pelahanlahan karena penyebab berlangsung lama dan menetap yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit (Hudak & Gallo.ASKEP KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK A. 1990: 349). 1996).

100-76 ml/mnt. disebut insufisiensi ginjal kronik. 25-5 ml/mnt. 3. gangguan metabolisme 5. 6. Riwayat edema yang mengarah ke penyakit ginjal glomerular. 3. infeksi. Gout menyebabkan nefropati gout. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh. Riwayat batu yang menyebabkan penyakit ginjal glomerular. nefropatik toksik dan neoropati obstruksi B. 4. 4. 8. 75-26 ml/mnt.dll pasien D. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini C. penyakit hipersensitif 10. gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. SLE yang menyebabkan nefropati SLE. penyakit Hipertensi 2. <> Etiologi 1. dengan pembagian sebagai berikut: 1. Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga (yang diduga mengarah ke penyakit ginjal genetik) / herediter 9. lesi obstruksi pada traktus urinarius 11. penyakit peradangan. Klasifikasi Sesuai dengan test kreatinin klirens. 2. maka GGK dapat di klasifikasikan menjadi 4. disebut gagal ginjal kronik. Diabetes Mellitus yang menyebabkan nefropati DM. ANALISA DATA TGL / NO JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas.mengakibatkan penumpukan sisa metabolik (toksik uremik) berakibat ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan dan pemulihan fungsi lagi yang menimbulkan respon sakit. disebut insufisiensi ginjal berkurang. DIAGNOSA KEPERAWATAN o Gangguan perfusi jaringan renal sehubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak Diisi pada saat tanggal pengkajian mampu mengeluarkan sisa metabolisme o Kelebihan volume cairan sehubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan natrium . 7.

4. calsium magnesium. 3. Potasium. HT.o Gangguan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake (Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori. . Hb. bicarbonat. Resiko Tinggi terjadinya gangguan persepsi / sensori. Monitor data-data laboratorium : Serum pH. Gangguan perfusi jaringan renal sehubungan dengan kerusakan nepron Metabolisme kembali sehingga tidak normal mampu mengeluarkan sisa metabolisme Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji respon terhadap pengobatan. o Potensial Infeksi sehubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia. Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit sehubungan dengan efek uremia. o Resiko terjadinya diskusi seksual o Gangguan gambaran diri E. Hidrogen. o Kurang mampu merawat diri sehubungan dengan kelemahan fisik. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN o o NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN 1 PERENCANAAN Kaji Perubahan EKG. Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic. 1. gangguan proses pikir sehubungan dengan abnormalitasnya zat – zat kimia dalam tubuh yang dihubungakan dengan uremia. Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya) serta tanda – tanda chvostek”s dan Trousseau”s 2. BUN dan serum kreatinin.

Monitor intake makanan dan perubahan berat badan . Clorida dan bicarbonat. Kalium. Monitor data laboratorium : Serum Natrium. Monitor oedema. refleks hepato jugular. Berikan cairan sesuai indikasi 5. muntah dan anorexia 11. Gangguan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan pembatasan intake 3 (Diit) dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi protein – calori Nutrisi seimbang Kriteria Hasil : BB stabil.Timbang berat badan pasien setiap hari. 9. Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien. Ukur intake dan output tiap 24 jam. Berikan antiemetik dan monitor responya. air dan natrium tidak ada keluhan pada tubuh Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya. Volume cairan tubuh normal Kelebihan volume cairan sehubungan dengan Kriteria hasil : 2 ketidakmampuan ginjal mengeskkresi Tidak terjadi oedem. Kalium dan natrium. Lemak. distensi vena jugularis. 7. Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien. Monitor ECG 8. 15. porsi makan habis . Kaji status mental. 13. 10. 12. Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan. 14. Ukur CVP dan PAWP 6. Kaji terhadap adanya Mual. Monitor data laboratorium : Serum protein. kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam. Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri).

19. Orientaskan pasien terhadap kenyataan saat ini. Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih. Pruritis. Pertahankan tindakan kenyamanan : Tutup rel 26. Pertahankan tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution. gangguan proses pikir sehubungan dengan abnormalitasnya zat – zat kimia dalam tubuh yang dihubungakan dengan uremia Kaji status neurologic : Orientasi terhadap waktu. rasa terbakar. Berikan pengobatan antipruritis sesuai pesanan. Kaji terhadap kekeringan kulit. . Pertahankan kebersihan diri. 30. 18. Monitor Lipatan kulit dan area yang oedema 23. status nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup. Resiko tinggi terjadinya Tidak terjadi 5 kerusakan integritas Kerusakan integritas kulit sehubungan kulit dengan efek uremia. adanya neuropathi perifer. 24. 20. Urine. Kaji tipe kepribadian 28. tempat dan orang : Pola tidur . 6 Resiko Tinggi Proses pikir normal terjadinya gangguan persepsi / sensori. Lakukan perawat kulit secara benar.tanda infeksi. Kaji terhadap adanya petechie dan purpura. Monitor temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah. kram otot dan gejala paresthesia lainnya. 29. Tingkat kesadaran dan ktivitas motorik (kejang) 27. 21. 17. 16.Potensial Infeksi sehubungan dengan 4 Tidak terjadi infeksi penekanan sistim imun akibat uremia Kaji terhadap adanya tanda. Excoriations dan infeksi. culture sputum. Observasi terhadap perubahan perilaku. Kebiasaan hidup yang sehat membantu mencegah infeksi. Monitor serum Kalium. 25. 22.

39. 37. 32. dan berikan penjelasan tentang kebutuhan perawatan diri. Kurang mampu merawat diri Personal hygiene 7 sehubungan dengan terpenuhi kelemahan fisik. . Kaji kelemahan dan kelelahan. tempat tidur tidak boleh terlalu tiggi. tanyakan klien dengan kalimat terbuka. Jika pasien tidak mampu sama sekali Bantu lakukan perawatan dipasien dengan melibatkan kelurag. Jelaskan pasien tentang permasalahan yang terjadi. 36. Rujuk pasien kekonseling bila dibutuhkan 9 Gangguan gambaran diri Dapat menerima keadaan tubuhnya 33. Kaji dan jelaskan kepada pasien tentang keadaan ginjalnya serta alternatif tindakan lainnya seperti dialysis atau transplantasi 41. jaukan barang – barang tajam. 40. 38. Minta pasien untuk mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Berikan latihan relaksasi sebelum tidur dan brikan periode stirahat. 31. 35. Lakukan latihan nafas dalam batuk dan ambulasi di tempat tidur Resiko terjadinya 8 diskusi seksual Dapat mengungkapkan masalahnya Kaji keadaan pasien secara umum. Sempatkan waktu anda untuk bersama – sama klien. Bantu pasien untuk memecahkan masalah . letakan bel dekat pasien. 34. Libatkan support sistim dalam perawatan 42.tempat tidur.

Di negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negaranegara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat. WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB. penderita TB . Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175. 1993). persalinan serta nifas (WHO). TEORI Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit TB paru. Diperkirakan setiap tahun 450. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor I dari golongan infeksi.000 per tahun. Kematian wanita karena TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan. praktek swasta dan sisanya belum terjangku unit pelayanan kesehatan. ASKEP KLIEN DENGAN TUBERKULOSIS ( TBC ) A.000 penduduk. Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif. 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintahd an swasta. menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO.pasien. Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Antara tahun 1979 ? 1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita tiap 100.

dimana 50 % penderita adalah BTA positif. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman). cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Definisi : Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). makin menular penderita tersebut. mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada pewarnaan. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %. maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Riwayat terjadinya Tuberkulosis Infeksi Primer : Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. tertidur lama selama beberapa tahun. Resiko Penularan : Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 ? 2 %. kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung. Droplet yang . 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Dari 1995-1998. hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Dari keterangan tersebut diatas. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant. atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya. sistem saluran linfe. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. Pada waktu batuk atau bersin. berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk.kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan. sebagian besar kuman TB menyerang Paru. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Kuman Tuberkulosis : Kuman ini berbentuk batang.baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB. Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Cara Penularan : Sumber penularana adalah penderita TB BTA positif. kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya. tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. maka diantara 100. dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR).saluran napas. diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS. melalui sistem peredaran darah. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak.

Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 ? 6 minggu. sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. tapi cukup diberikan pengobatan simptomatis. Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru. Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB) : Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer. Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. Meskipun demikian. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. Masa inkubasi. dan 25 % sebagai ?kasus Kronik? yang tetap menular (WHO 1996).gejala Tuberkulosis Gejala Umum : . 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi. persendian. yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit. Bila perdarahan berat. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). setelah lima tahun. akibatnya dalam beberapa bulan. dan ini disebut sebagai kompleks primer. 50 % dari penderita TB akan meninggal. tulang. pengobatan dengan OAT tidak diperlukan. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Pada kasus seperti ini. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. diperkirakan sekitar 6 bulan. Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik. Perjalanan Alamiah TB yang Tidak Diobati : Tanpa pengobatan. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). seperti tuberkulosis. ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis : Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut : Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas. yang mengakibatkan peradangan di dalam paru.terhirup sangat kecil ukurannya. maka jumlah penderita TB akan meningkat. ginjal dan sebagainya. Gejala . saluran linfe akan membawa kuma TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru. Pengaruh Infeksi HIV : Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity). penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh.

berat badan turun. namun gejala klinis tetap mencurigakan TB. pada saat ini. Bila tiga spesimen dahak negatif.Semua tersangka penderita harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut. harus diperiksa dahaknya. untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita.Bila hasil rontgen mendukung TB. Badan lemah. Bila tidak ada perubahan. Seorang petugas kesehatan diharapkan menemukan tersangka penderita sedini mungkin. Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif. penderita dapat dirujuk untuk difoto rontgen dada. demam meriang lebih dari sebulan. misalnya biakan. Batuk darah. Penemuan penderita tuberkulosis pada anak merupakan hal yang sulit. sebab sebagian besar masyarakat sudah terinfeksi dengan . maka pemeriksaan lain. didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam menentukan diagnosis TB pada orang dewasa. Penemuan penderita TB dilakukan secara Pasif. nafsu makan menurun. Kalau hasil rontgen mendukung TB. semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala sama. UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen.Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB. Kalau hasil SPS tetap negatif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB. penderita tersebut bukan TB. mengingat tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian. misalnya biakan. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. . gambaran radiologis dan uji tuberkulin. Penemuan pederita Tuberkulosis (TB) Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. Gejala Lain Yang Sering Dijumpai : Dahak bercampur darah. ALUR DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU PADA ORANG DEWASA Di Indonesia. ulangi pemeriksaan dahak SPS : Kalau hasil SPS positif. artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan. Diagnosis Tuberkulosis (TB) Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. untuk mendukung diagnosis TB. Sebagian besar diagnosis tuberkulosis anak didasarkan atas gambaran klinis. . berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. maka dapat dilakukan pemeriksaan lain. baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat. rasa kurang enak badan (malaise). Penemuan Penderita Tuberkulosis Pada Anak. Apabila fasilitas memungkinkan. yaitu sewaktu ? pagi ? sewaktu (SPS). maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Sesak napas dan rasa nyeri dada. lakukan pemriksaan foto rontgen dada. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif. diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 ? 2 minggu. Cara ini biasa dikenal dengan sebutan Passive Promotive Case Finding Selain itu.

Tema ini sekali lagi mengingatkan kita akan bahaya TBC dan urgensi pemberantasannya. Mereka imigrasi ke Amerika dan menjadi sumber penyebaran TBC. Dilain pihak. bahkan pada saat meludah dan berbicara. Dengan kata lain pertambahan jumlah infeksi lebih dari 56 juta tiap tahunnya. Diperkirakan sebanyak 50 persen dari pengungsi di dunia berpeluang terinfeksi TBC.Mycobacterium Tuberculosis Karena tingginya prevalensi TB. di mana jumlahnya 2-3 kali jumlah kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS yang berada di peringkat kedua.infeksi. Stop TB Now!". rusaknya "breath" karena TBC akan mengakibatkan rusaknya segala aktivitas manusia. Biasanya 5-10 persen di antara infeksi berkembang menjadi penyakit.org) menunjukan bahwa TBC membunuh sekitar 2. Selain itu migrasi manusia juga mempercepat penyebaran TBC. Indonesia berada di bawah India.6 juta setiap tahun. malnutrisi berat. Begitu juga dengan meningkatnya jumlah pengungsi akibat perang dengan lingkungan yang tidak sehat sehingga memudahkan penyebaran TBC. Dibandingkan dengan penyakit menular lainnya.8-5. Berdasarkan data Rumah Sakit "Prof DR Sulianti Saroso" (http:www. dan 40 persen di antara yang berkembang menjadi penyakit berakhir dengan kematian. Antara tahun 2002-2020 diperkirakan sekitar 1 miliar manusia akan terinfeksi. yaitu India dan Indonesia. yakni 2 juta jiwa meninggal tiap tahun. forum dan kampanye Stop TBC untuk 2004-2005 yang diselenggarakan di New Delhi. di Indonesia . perlu kita sadari kembali bahwa TBC adalah penyakit yang sangat perlu mendapat perhatian untuk ditanggulangi. pertambahan jumlah pasien TBC akan bertambah sekitar 2. adalah berdasarkan perhitungan ini. diikuti Cina di peringkat kedua. Angka ini adalah angka yang besar. Di kawasan Asia Tenggara. Kita bisa membayangkan betapa seriusnya masalah TBC ini. dan 1. Refleksi Hari TBC Sedunia Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari Tuberkulosis (TBC) sedunia. Di Amerika Serikat. Kecepatan penyebaran TBC bisa meningkat lagi sesuai dengan peningkatan penyebaran HIV/AIDS dan munculnya bakteri TBC yang resisten terhadap obat. dan hampir 4 orang setiap menit meninggal karena TBC ini. Dan sekitar 40 persen dari kasus TBC di dunia berada di kawasan Asia Tenggara. Karena itu.2 juta jiwa meninggal setiap tahun karena TBC. berada di wilayah ini. WHO memperkirakan bakteri ini membunuh sekitar 2 juta jiwa setiap tahunnya. Karena bakteri mycobacterium tuberculosis sangat mudah menular melalui udara pada saat pasien TBC batuk atau bersin. Suatu uji tuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium Tuberculosis . Sehingga.1-2. karena 2-4 orang terinfeksi setiap detik. penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD) tidak sampai sepersepuluhnya.000 jiwa setiap hari. hasil uji tuberkulin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita tuberkulosis. hampir 40 persen dari penderita TBC adalah orang yang lahir di luar negeri. Tahun ini peringatan hari TBC sedunia bertemakan "Every Breath Counts. Dalam rangka memperingati hari TBC ini juga dilakukan "2nd Stop TBC Partners". Perkiraan WHO. Pembunuh massal Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan TBC adalah bekteri pembunuh massal.com). dengan jumlah penderita terbanyak di dunia. data WHO (http:www. Jika dihitung. Satu penderita bisa menyebarkan bakteri TBC ke 10-15 orang dalam satu tahun. TB milier dan Morbili. TBC juga menjadi pembunuh nomor satu di kawasan ini. tetapi juga merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Tema ini menekankan pada kata "breath" yang tidak hanya berarti pernapasan. Misalnya pada penderita HIV / AIDS.whosea. Dua di antara tiga negara dengan jumlah penderita TBC terbesar di dunia. Sementara itu.

Sampai saat ini. Di Indonesia. Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia. tingkat deteksi hanya 21 persen. streptomycin. Setelah minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini. WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Berdasarkan data WHO. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik. yaitu 85 persen. karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. . dan kuman tersebut menyebar. Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini. dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. yaitu mendeteksi pasien. diberikan sebelum berumur dua bulan. Karena itu. Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten. Jika dihitung. pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan. melakukan pengobatan. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid. Karena itu. pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh. tapi tidak pada manusia. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki TBC. tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. dan ethambutol. biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.tiap tahun terdapat 583 ribu kasus dan 140 ribu di antaranya meninggal dunia. Jika ini terjadi. untuk benar-benar sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. jelaslah bahwa TBC adalah pembunuh massal yang harus diberantas. diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000 (http:www.int). dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi. Angka ini melebihi target WHO. 70 persen. Vaksin TBC. pengontrolan efektif TBC mengurangi pasien TBC tersebut. Terapi TBC Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine). Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC. Imunisasi Pengontrolan TBC yang kedua adalah imunisasi. Selain itu. rifampicin. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi. untuk tahun 2001. dan melakukan pengawasan langsung. Karena itu. pyrazinamide. yaitu terapi dan imunisasi. sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan. pada tahun berikutnya jumlah yang tertular adalah 5. Untuk terapi. Walaupun demikian. Kalau 1 orang pasien bisa menularkan ke 10 orang. jauh di bawah target WHO. Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya.who.8 juta orang.

sehingga memudahkan kita untuk mendeteksi pasien TBC. Amerika Serikat tidak melakukan vaksinasi BCG. dianggap semua anak tidak terinfeksi kuman TBC. setelah RRC dan India. jumlah kasus dugaan (suspected cases) jauh akan berkurang. setiap US$ 1 yang untuk program penanggulangan TBC. Jika hasil tes positif. Penelitian ekonomi kesehatan di Indonesia menemukan bahwa jika pengobatan dapat diterapkan secara dini. Pasien yang terdeteksi akan langsung diobati. karena dibentuknya GERDUNAS-TBC (Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TBC) yang merupakan wujut nyata kemitraan dengan berbagai sektor yang terkait dalam penanggulangan TBC di Indoensia.Imunisasi TBC ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan TBC. Tahun 1996. pemerintah Indonesia mulai mengadopsi starategi DOTS (Directly Observed Tratment Short-Course) untuk menanggulangi TBC. obat TBC di Puskesmas diberikan dalam bentuk Kombipak. sehingga diputuskan bahwa tes Tuberculin tidak perlu lagi dilaksanakan. Kedua pendekatan. Pendapat yang kedua adalah perlunya imunisasi. sebagian besar rakyat bisa dilindungi dari infeksi kuman TBC. Dengan melaksanakan vaksinasi ini.000 kasus TBC di Indonesia Secara nasional. Tahun 1995. agaknya masih perlu melaksanakan vaksinasi BCG ini. walaupun telah menerima vaksin. yaitu vaksinasi dan terapi perlu dilakukan untuk memberantas TBC dari bumi Indonesia. Bahkan Jepang telah memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi yang lahir tanpa melakukan tes Tuberculin.000 orang setiap tahun Setiap hari 425 orang meninggal akibat TBC di Indonesia.4. maka akan dapat menghemat US$ 55 dalam waktu 20 tahun.4 % ( menurut data 1972-1987 ). Pendapat pertama adalah tidak perlu imunisasi. kita masih harus waspada terhadap serangan TBC ini. Karena jarangnya kasus TBC di Jepang. secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TBC ini. Amerika Serikat adalah salah satu di antaranya. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna. : Andi Utama (Peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI dan Pemerhati Masalah Kesehatan) PERANGI TBC : 10 HAL TENTANG TBC DAN PENANGGULANGANNYA. dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin. 10 FAKTA PENTING MENGENAI SITUASI TBC DI INDONESIA Tiap tahun terdapat 583. 10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC Tiap tahun selalu terdapat peningkatan jumlah penderita TBC yang tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. . untuk selanjutnya dilakukan terapi DOTS untuk pasien yang terdeteksi. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah negara yang menganggap perlunya imunisasi. Sistem deteksi dan diagnosa yang rapi inilah yang menjadi kunci pengontorlan TBC di AS. Sekitar ¾ pasien TBC di Indonesia tergolong dalam usia produktif. Karena tingkat efektivitasnya 70-80 persen. TBC ?membunuh? kira-kira 140. tes yang dilakukan untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang dihasikan oleh infeksi kuman TBC. Indonesia merupakan ?penyumbang? kasus TBC ke-3 di Dunia. Karena itu. tetapi mereka menjaga ketat terhadap orang atau kelompok yang berisiko tinggi serta melakukan diagnosa terhadap mereka. Tahun 1999 merupakan dimulainya era penting dalam penanggulangan TBC di Indonesia. Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak. Tingkat resiko untuk terserang TBC di Indonesia berkisar antara 1.7 % .

ditemukan pada orang yang tempat kelahirannya bukan di AS Jumlah kasus TBC di AS diantara orang-orang yanglahirnya bukan di AS. ada 1 orang yang meninggal akibat tertular TBC. Perempuan dalam usia reproduksi lebih rentan terhadap TBC dan lebih mungkin terjangkit oleh penyakit TBC dibandingkan pria dari kelompok usia yang sama. meludah atau berbicara. lebih dari 17. jumlah pengungsi dan pelarian di seluruh dunia telah berlipat 9 kali selama 20 tahun terakhir. TBC merupakan penyakit pembunuh yang paling mematikan bagi perempuan muda usia. . Setiap detik. perjalanan antar-negara dan migrasi menunjang terjadinya penyebaran kuman TBC. TBC memiliki andil sekitar 9 % dari kematian berusia 15-44 tahun. sesegera mungkin setelah fase darurat bagi para pengungsi itu berlalu.000 orang pengungsi menderita sakit akibat TBC. Di Amerika Serikat. Turisme.TBC membunuh lebih banyak kaum muda dan wanita dibandingkan penyakit menular lainnya. 1/3 dari jumlah kasus TBC. WHO merekomendasikan bahwa TBC harus menjadi prioritas utama. Wanita pada kelompok usia reproduksi juga beresiko lebih tinggi terhadap penuaran HIV. Penderita TBC yang tidak dirawat dapat menyebarkan penyakitnya secara cepat. Pada tahun 1995. 10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PEREMPUAN TBC merupakan penyakit menular paling ganas yang menyerang dan membunuh kaum perempuan. Lebih dari 900 juta wanita di seluruh dunia tertular oleh kuman TBC. Setiap tahun. Terdapat sekitar 2 sampai 3 juta orang meninggal akibat TBC setiap tahun. Setiap 4 detik. kuman TBC menyebar di udara pada saat seseorang yang menderita TBC batuk dan bersin.5 juta akan segera menderita penyakit tersebut pada tahun ini. ditemukan pada orang-orang yang lahir di negara lain. Populasi pengungsi menghadapi peningkatan masalah akibat TBC. 1 juta diantaranya akan meninggal dan 2. 1 % dari seluruh populasi di seluruh dunia terjangkit oleh penyakit TBC. Setiap tahunnya. Di banyak negara industri maju. terutama di lingkungan penampungan dan kamp pengungsi.dan penyakit jantung:3 % ). Seperti halnya flu. dilaporkan bahwa hampir 30 % dari populasi gelandangan di San Francisco (AS) dan sekitar 25 % dari populasi gelandangan di London (Inggris) telah tertular oleh kuman TBC ? jauh lebih tinggi daripada rata-rata nasional di kedua negara tersebut. Penderita TBC yang tidak berobat dapat menularkan pentakit kepada sekitar 10 ? 15 orang dalam jangka waktu 1 tahun. Sesungguhnya setiap kematian akibat TBC itu bisa dihindari. dibandingkan penyebab kematian lainnya (akibat perang:4%. ada yang sakit akibat tertular TBC. Perempuan yang menderita TBC ini berusia antara 15 ? 44 tahun. paling tidak setengah dari jumlah kasus TBC. Sepertiga dari jumlah penduduk di dunia ini sudah tertular oleh kuman TBC (walaupun) belum terjangkit oleh penyakitnya. senantiasa meningkat setiap tahun.HIV:3%. 10 FAKTA PENTING MENGENAI TBC & PERPINDAHAN PENDUDUK Sekitar 50 % dari jumlah pengungsi di seluruh dunia kemungkinan telah tertular TBC. Kaum gelandangan di negara maju merupakan golongan yang resiko tertular TBC-nya semakin meningkat. Kuman TBC biasanya menyerang paru-paru. Amatlah sulit memberikan perawatan TBC bagi penduduk yang berpindah-pindah.

stigma atau rasa malu akibat TBC menyebabkan terjadinya isolasi.Di sebagian negara Afrika. ANALISA DATA TGL / NO JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas. TBC menyebabkan jumlah kematian lebih besar bagi wanita dibandingkan kematian akibat melahirkan. o Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar. dyspnea atau anoreksia . o Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis o Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek. Dengan menggunakan startegi DOTS. Di beberapa bagian dunia. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diisi pada saat tanggal pengkajian o Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh. o Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten. APAKAH DOTS ITU ? DOTS atau kependekan dari Directly Observed Treatment. pengucilan dan perceraian bagi kaum wanita. diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Menelan Obat). Short-course adalah strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan secara langsung. gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. Startegi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TBC.dll pasien C. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini B. A. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Di beberapa bagian dunia. bisa sampai 95 %. jumlah perempuan yang terjangkit TBC lebih besar dibandingkan jumlah penderita pria. yaitu : o Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh menanggulangi TBC. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TBC agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. maka proses penyembuhan TBC dapat secara cepat. o Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk. pergerakan kaum perempuan sedang mengusahakan adanya upaya lebih baik penanggulangan penyakit TBC. o Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.

Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. Hasil : 5. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk. saat duduk setegak mungkin. 6. peningkatan kental/darah. 4. 2. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. Kebersihan jalan 3. Napas dalam dan perlahan napas efektif. keluarkan nyaman yang 1 berhubungan sebanyak mungkin melalui memudahkan dengan sekresi yang mulut. Auskultasi paru sebelum dan pertukaran udara. terapi dan pencegahan berhubungan dengan infornmasi kurang / tidak akurat. Lakukan pernapasan Dengan Kriteria diafragma. meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. . Ajarkan klien tindakan untuk batuk efektif.o Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer.5 Bersihan jalan detik kemudian secara ? Mencari posisi yang napas tak efektif perlahan-lahan. o Kurang pengetahuan tentang kondisi. D. penurunan geraan silia. 1. pernapasan. sesudah klien batuk. menurunkan viskositas ? Menyatakan strategi sekresi : mempertahankan untuk menurunkan hidrasi yang adekuat. kekentalan sekresi. ? Mendemontrasikan 7. stasis dari sekresi. Tahan napas selama 3 . 8.

? Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Tawarkan makan makanan mana yang sedikit tapi sering (enam kali tinggi protein dan sehari plus tambahan). 10. Pertahankan perilaku tenang. Balik ke sisi yang sakit. . Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. ? Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. Pertukaran gas efektif.Berikan posisi yang nyaman. bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. Pembatasan cairan ? Menu makanan yang pada makanan dan disajikan habis menghindari cairan 1 jam ? Peningkatan berat sebelum dan sesudah makan. Observasi fungsi pernapasan. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. dispnea dan mual. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. catat frekuensi pernapasan. 13. ? Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. ? Menyebutkan 16. biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. badan tanpa 18. Diskusikan penyebab anoreksia. Ajarkan dan bantu Kriteria Hasil : klien untuk istirahat sebelum makan. 9. 12. Kriteria Hasil : Kerusakan pertukaran gas berhubungan 2 dengan kerusakan membran alveolarkapiler. dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. dyspnea atau anoreksia Kebutuhan adekuat nutrisi 14. 11. Atur makanan dengan peningkatan edema protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien merasa paling suka untuk memakannya. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. kalori 17. 3 Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi spuntum/batuk. 15.

1999). Biasanya gangren tersebut terjadi pada daerah tungkai. iskemia. dan infeksi. Menurut Ari Sutjahjo (1998 ) hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Keadaan ini ditandai dengan pertukaran sekulitis dan timbulnya vesikula atau bula yang hemoragik kuman yang biasa menginfeksi pada gangren diabetik adalah streptococcus (Soeatmaji. 1999). Faktor resiko terjadinya gangren diabetik Berbagai faktor resiko yang dapat mempengaruhi timbulnya gangren diabetik adalah neuropati. kecelakaan kerja atau terbakar). Kerusakan endotel ini merangsang agregasi platelet dan timbul trombosis. SKEP KLIEN DM DENGAN GANGREN Gangren atau pemakan luka didefinisikan sebagaii jaringan nekrosis atau jaringan mati yang disebabkan oleh adanya emboli pembuluh darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti. Dapat terjadi sebagai akibat proses inflamasi yang memanjang. 1998 ) Iskemia disebabkan karena adanya penurunan aliran darah ke tungkai akibat makroangiopati ( aterosklerosis ) dari pembuluh darah besar di tungkai terutama pembuluh darah di daerah betis. perlukaan (digigit serangga. Ischemia atau gangren pada kaki . Angka kejadian gangguan pembuluh darah perifer lebih besar pada diabetes millitus dibandingkan dengan yang bukan diabetes millitus. Resiko lebih banyak dijumpai pada diabetes mellitus sehingga memperburuk fungsi endotel yang berperan terhadap terjadinya proses atherosklerosis. proses degeneratif (arteriosklerosis) atau gangguan metabolik diabetes mellitus (Tabber. selanjutnya akan terjadi penyempitan pembuluh darah dan timbul hipoksia. 19. dikutip Gitarja.Konsul dengan dokter/shli gizi bila klien tidak mengkonsumsi nutrien yang cukup. Ganggren diabetik adalah nekrosis jaringan pada bagian tubuh perifer akibat penyakit diabetes mellitus. (Sutjahyo A.

Pengobatan dan perawatan Pengobatan dari gangren diabetik sangat dipengaruhi oleh derajat dan dalamnya ulkus. bahkan bertambah luas baru penderita menyadari dan mencari pengobatan. rasa nyeri makin meningkat. Luka tersebut biasanya disebabkan karena penderita tertusuk atau terinjak paku kemudian timbul gelembung-gelembung pada telapak kaki. Apabila luka tersebut tidak sembuh-sembuh. sebaliknya hanya digunakan pada jaringan nekrosis / slough dan tidak digunakan pada jaringan granulasi.9%). hal ini paling sering terjadi. 1999 ).diabetik dapat terjadi akibat dari atherosklerosis yang disertai trombosis. ulkus ini timbul didaerah-daerah yang sering mendapat tekanan atau trauma pada telapak kaki. Cairan antiseptik seperti provine iodine sebaiknya hanya digunakan saat luka terinfeksi atau tubuh pada keadaan penurunan imunitas. tidak terasa nyeri tetapi kadang-kadang ada rasa sakit yang berasal dari struktur jaringan yang lebih dalam atau lebih luar dari luka. Ulkus berjalan progresif secara kronik. sehingga bahayanya mudah terjadi infeksi pada gelembung tersebut dan akan menjalar dengan cepat (Sutjahyo A. Gambaran klinik yang tampak adalah penderita mengeluh nyeri tungkai bawah waktu istirahat. Penggunaan hidrogenperoxida. biasanya berdiameter lebih dari satu sentimeter dan terisi masa. Ulkus terjadi makin lama makin dalam mencapai daerah subkutis dan tampak sebagaii sinus atau kerucut bahkan sampai ketulang. Cairan yang terbaik dan teraman untuk mencuci luka adalah yang non toksik pada proses penyembuhan luka (misalnya NaCl 0. yang mengakibatkan terjadinya atropi pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang mengakibatkan pula terjadinya ulkus pada kaki. Ulkus berbentuk bullae. sebelum terjadi luka keluhan yang timbul adalah berupa kesemutan atau kram. Biasanya gejala yang menyertai adalah kemerahan yang makin meluas. maka apabila penderita mengalami trauma atau luka kecil hal tersebut tidak dirasakan. 1998 ). apabila dijumpai ulkus yang dalam harus dilakukan pemeriksaan yang seksama untuk menentukan kondisi ulkus dan besar kecilnya debridement yang akan dilakukan. Debridement Debridement adalah pembuangan jaringan nekrosis atau slough pada luka. kemudian penebalan tersebut mengalami trauma disertai dengan infeksi sekunder. Gejala Umum Penderita dengan gangren diabetik. pembentukan mikro trombin akibat infeksi. Infeksi sendiri jarang merupakan faktor tunggal untuk terjadinya gangren. sisa-sisa jaringan tanduk. cairan luka yang berlebihan. kolesterol emboli yang bersal dari plak atheromatous dan obat-obat vasopressor. Akibat dari keluhan ini. rasa lemah dan baal pada tungkai dan nyeri pada waktu istirahat. pulsasi pembuluh darah kurang kuat dan didapatkan ulkus atau gangren. osteolisis dan destruktif tulang. antara lain : •Mengurangi atau menghilangkan faktor penyebab •Optimalisasi suanana lingkungan luka dalam kondisi lembab •Dukungan kondisi klien atau host (nutrisi. kesemutan. hypoclorite solution dan beberapa cairan debridement lainnya. cepat lelah. sisa balutan yang digunakan dan sisa metabolik tubuh pada permukaan luka. Kadang menjalar sampai punggung kaki dimana tidak menimbulkan rasa nyeri. karena jaringan nekrosis selalu berhubungan dengan adanya . panas badan dan adanya nanah yang makin banyak serta adanya bau yang makin tajam. Dari penatalaksanaan perawatan luka diabetik ada beberapa tujuan yang ingin dicapai. ulkus ini dapat lebih progresif bila tidak diobati dan dapat terjadi periostitis atau osteomyelitis oleh infeksi sekunder akibatnya timbul osteoporosis. kontrol faktor penyerta) •Meningkatkan edukasi klien dan keluarga Perawatan luka diabetik Mencuci luka Mencuci luka merupakan hal pokok untuk meningkatkan. Proses pencucian luka bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilangnya atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. Bila krusta dan produk-produk ulkus dibersihkan maka tampak ulkus yang dalam seperti kerucut. (Gitarja. Infeksi lebih sering merupakan komplikasi yang menyertai gangren akibat ischemia dan neuropathy. yang kemudian dilakukan pembilasan kembali dengan saline. Ulkus yang terjadi pada kaki diabetik umumnya diakibatkan karena trauma ringan. kontrol DM. memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka serta menghindari kemungkinan terjaadinya infeksi. Debridement dilakukan untuk menghindari terjadinya infeksi atau selulitis. Mula-mula inti penebalan hiper keratotik dikulit telapak kaki. didaerah sendi metatarsofalangeal satu dan lima didaerah ibu jari kaki dan didaerah tumit. lemak pus dan krusta diatas dasar granulomatous. sehingga penderita akan mengalami trauma tanpa terasa. pada perabaan terasa dingin. Adanya neurophaty perifer akan menyebabkan gangguan sensorik maupun motorik.

1998 ). ini merupakan salah satu tanda memburuknya infeksi yang ada sehingga luka sukar sembuh. 20% kalori protein. hydroactive gel. Secara alami dalam keadaan lembab tubuh akan membuang sendiri jaringan nekrosis atau slough yang menempel pada luka (peristiwa autolysis). Terapi Antibiotika Pemberian antibiotika biasanya diberikan peroral yang bersifat menghambat kuman gram positip dan gram negatip. Nutrisi Faktor nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam penyembuhan luka. Selain pengobatan dan perawatan diatas. 20% kalori lemak. mempercepat proses penyembuhan hingga 50%. PATHWAYS Pathways dapat dilihat disini C. nyaman digunakan dan menurunkan rasa sakit saat mengganti balutan dan menurunkan jumlah biaya dan waktu perawatan (cost effektive). kontrol terhadap infeksi / terhindar dari kontaminasi. morbiditas penderita gangren dapat ditekan serendahrendahnya. jumlah bakteri akan menurun dengan sendirinya yang diikuti dengan kemampuan tubuh secara efektif melawan infeksi.Hindari kebiasaan merokok . A. Pemilihan jenis balutan Tujuan pemilihan jenis balutan adalah memilih jenis balutan yang dapat mempertahankan suasana lingkungan luka dalam keadaan lembab. maka terapi antibiotika dapat diberikan perparenteral yang sesuai dengan kepekaan kuman. 1999. yaitu : . Setelah debridement.Lindungi kaki dari kedinginan . Debridement dengan sistem autolysis dengan menggunakan occlusive dressing merupakan cara teraman dilakukan pada klien dengan luka diabetik. deteksi dini beserta terapi yang rasional bisa dilaksanakan dengan harapan biaya yang besar. 1998 ). (Gitarja W. karena adanya anemia dan hipoalbumin akan sangat berpengaruh dalam penyembuhan luka. (Gitarja. ANALISA DATA . hydrocoloid. perawat dan penderita sehingga tindakan pencegahan. Penderita dengan ganren diabetik biasanya diberikan diet B1 dengan nilai gizi : yaitu 60% kalori karbohidrat.Hindari merendam kaki dalam air dingin •Gunakan kaos kaki atau stoking yang tidak menyebabkan tekanan pada tungkai atau daerah tertentu •Periksalah kaki setiap hari dan laporkan bila terdapat luka. (Sutjahyo A. 1999 ). Apabila tidak dijumpai perbaikan pada luka tersebut.5 g/dl. Upaya untuk pencegahan dapat dilakukan dengan cara penyuluhan dimana masing-masing profesi mempunyai peranan yang saling menunjang. Terutama untuk menghindari resiko infeksi. membuang jaringan nekrosis / slough (support autolysis ). Dalam memberikan penyuluhan pada penderita ada beberapa petunjuk perawatan kaki diabetik (Sutjahyo A.peningkatan jumlah bakteri. Untuk mencegah timbulnya gangren diabetik dibutuhkan kerja sama antara dokter.Hindari bertumpang kaki duduk . Dan perlu juga dilakukan monitor glukosa darah secara ketat. perlu juga pemeriksaan Hb dan albumin minimal satu minggu sekali. sehingga segera dilakukan tindakan awal •Jika kulit kaki kering gunakan pelembab atau cream B. absorbsi eksudat / cairan luka yanag keluar berlebihan. 1998 ): •Gunakan sepatu yang pas dan kaos kaki yang bersih setiap saat berjalan dan jangan bertelanjang kaki bila berjalan •Cucilah kaki setiap hari dan keringkan dengan baik serta memberikan perhatian khusus pada daerah sela-sela jari kaki •Janganlah mengobati sendiri apabila terdapat kalus. Diusahakan agar Hb lebih 12 g/dl dan albumin darah dipertahankan lebih 3. (Tjokroprawiro. hal. 16). Autolysis adalah peristiwa pecahnya atau rusaknya jaringan nekrotik oleh leukosit dan enzim lyzomatik. tonjolan kaki atau jamur pada kuku kaki •Suhu air yang digunakan untuk mecuci kaki antara 29.5 – 30 derajat celsius dan diukur dulu dengan termometer •Janganlah menggunakan alat pemanas atau botol diisi air panas •Langkah-langkah yang membantu meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah yang harus dilakukan. Karena bila didapatkan peningkatan glukosa darah yang sulit dikendalikan. bullae kemerahan atau tanda-tanda radang. Jenis balutan: absorbent dressing.

o Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. o Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit. o Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. diet. o Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. o Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. o Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN . E. gangguan pola yang diderita keperawatan aktiviatas. o Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. gangguan keseimbangan penyakit didapat dari pengkajian suhu tubuh. Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang o Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi o Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.NO TGL / JAM DATA PROBLEM ETIOLOGI masalah yang sedang dialami Etiologi Berisi data subjektif pasien seperti gangguan pola berisi tentang dan data objektif yang 1 nafas. DIAGNOSA KEPERAWATAN o Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah Diisi pada saat tanggal pengkajian ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.dll pasien D.

6. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan mempertahankan aliran darah : sirkulasi perifer tetap Tinggikan kaki sedikit lebih normal rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ). . berkurang ekstrimitas. 4. . menghentikan kebiasaan .Warna kulit sekitar 3. pembuluh darah teraba hangat. dan penggunaan dan luka tidak obat vasokontriksi. 1. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka Kriteria Hasil : Gangguan integritas secara abseptik menggunakan jaringan larutan yang tidak iritatif.Denyut nadi perifer belakang lutut dan dengan melemahnya teraba kuat dan reguler sebagainya. 3. Kerja sama dengan tim membaik kesehatan lain dalam pemberian vasodilator. Ajarkan tentang modifikasi darah ke daerah luka tidak faktor-faktor resiko berupa : gangren akibat pucat/sianosis Hindari diet tinggi kolestrol. Kaji luas dan keadaan luka Tercapainya proses serta proses penyembuhan penyembuhan luka.Berkurangnya berhubungan angkat sisa balutan yang 2 oedema sekitar luka. di berhubungan . 5.Sensorik dan motorik 4.Oedema tidak terjadi merokok.Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi 2. hindari jaringan penggunaan bantal. 1. Dengan Kriteria hindari penyilangkan kaki. pus dan jaringan gangren pada nekrotomi jaringan yang mati. Gangguan perfusi Hasil : hindari balutan ketat. gula darah pemberian anti biotik.Kulit sekitar luka teknik relaksasi. adanya obstruksi . Kolaborasi dengan dokter granulasi. Adanya jaringan 7. bertambah parah. dengan adanya menempel pada luka dan 2. 1 / menurunnya aliran . Bau busuk luka pemeriksaan kultur pus pemeriksaan berkurang. pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). untuk pemberian insulin.

. yang tenang 2. nyeri berkurang/hilang 10. Lakukan massage dan luas. 8. kompres luka dengan BWC 4. atau tindakan untuk 12. T : 100 – 130 mmHg. N: untuk pemberian analgesik.rasa nyeri hilang/berkurang Kriteria Hasil : Kaji tingkat. RR : 18 – 20 x /menit ). Jelaskan pada pasien tentang verbal mengatakan sebab-sebab timbulnya nyeri. dingin. Pergerakan keinginan pasien. 14. Tidak ada keringat saat rawat luka. tanda vital dalam batas normal. Penderita dapat 11. penderita bertambah 13. 1. Kolaborasi dengan dokter ( S : 36 – 37. senyaman mungkin sesuai 3. frekuensi. 60 – 80 x /menit. dan reaksi nyeri yang dialami pasien. Ciptakan lingkungan .5 0C. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) 3 berhubungan dengan iskemik jaringan. Atur posisi pasien mengatasi atau mengurangi nyeri .Penderita secara 9. Ajarkan teknik melakukan metode distraksi dan relaksasi.