You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Laut memiliki peran strategis dalam bidang ekonomi dan ekologi bagi
pengembangan jasa-jasa lingkungan. Secara ekonomi laut memiliki potensi besar
sebagai penghasil komoditi karena memiliki sumber daya alam yang dapat
diperbaharui (ikan, rumput laut dan lain-lain) dan sumber daya alam yang tidak
dapat diperbaharui (bahan tambang, minyak bumi, gas dan lain-lain).
Secara ekologi wilayah laut merupakan bentang alam yang di tempati oleh
berbagai macam ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun yang
menjadi habitat bagi biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagi
organisme perairan termasuk ikan. Pelestarian wilayah laut merupakan upaya
yang harus

dilakukan, karena menyangkut kelestarian

sumber daya alam

bagi generasi yang akan datang.
Pencemaran minyak berpengaruh besar terhadap

ekosistem laut,

penetrasi cahaya matahari akan menurun akibat tertutup lapisan minyak. Proses
fotosintesis akan terhalang pada zona euphotik sehingga rantai makanan akan
terputus. Lapisan minyak juga menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan
mengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya perairan tidak mampu lagi untuk
mendukung kehidupan laut yang aerob.
Ancaman utama pencemaran minyak terhadap biota perairan adalah
terjadinya penutupan fisik permukaan air sehingga hewan dan tumbuhan sangat
beresiko kontak dan terkontaminasi oleh minyak. Kura-kura, reptil laut, dan

tumbuh dan mencari makan karena paparan konsentrasi minyak.burung yang hidupnya mencari makan dengan menyelam akan terkena dampak akibat pencemaran minyak di perairan. senyawa organoklorin juga mempunyai dampak nyata terhadap kesehatan manusia karena bersifat persisten dalam jangka waktu yang lama dan bersifat bioakumulasi karena tidak mudah. Efek sub-letal dari minyak menyebabkan terganggunya kemampuan organisme laut untuk bereproduksi. Di Indonesia penelitian tentang pestisida organoklorin di perairan laut. . khususnya perairan pantai masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan luas dan panjangnya perairan pantai. Hal ini merupakan masalah penting yang berhubungan dengan kehidupan nelayan dan masyarakat konsumen yang mengkonsumsi hewan laut termasuk ikan hingga kembali ke kondisi normal. yang pada akhirnya sampai ke manusia. Keberadaan komponen minyak di tubuh organisme ikan dapat mempengaruhi cita-rasa hewan tersebut saat dikonsumsi karena adanya rasa atau aroma minyak. Bioakumulasi senyawa oragnoklorin di perairan terjadi melalui rantai makanan. Selain senyawa hidrokarbon aromatik. Komponen hidrokarbon aromatis dari minyak bumi benzen dan toluen langsung biota merupakan perairan saat senyawa seperti senyawa toksik yang mampu membunuh terjadinya pencemaran minyak di perairan. Oleh karena itu diperlukan teknologi yang tepat untuk mengendalikan pencemaran minyak di perairan Selat Rupat untuk mencegah timbulnya resiko terhadap kerusakan ekosistem di sekitarnya. begitu juga halnya dengan biota laut lainnya termasuk ikan.

Untuk mengetahui pengaruh senyawa dari Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dalam air laut 3.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : 1. Pengertian Polisiklik aromatik Polisiklik Aromatik Hidrokarbon 2. Di India bahkan residu pestisida organoklorin ditemukan dalam .1. Untuk mengetahui pengertian dari Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dan 2. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam menganalisis Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dalam air laut 1. Senyawa kimia utama pestisida adalah organokhlorin yang telah diketahui mengkontaminasi lingkungan secara global seperti dalam air dan tanah.3 Rumusan Masalah 1. Bagaimana metode yang digunakan untuk menganalisis Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dalam air laut BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Senyawa pestisida organoklorin Senyawa pestisida organoklorin merupakan senyawa organik sangat sukar terurai dan di alam racunnya bersifat akumulatif. Apakah pengaruh dari senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dalam air laut 3. udara serta kerang hijau.

yang pada akhirnya sampai ke manusia.air susu ibu sedangkan di Indonesia pestisida organoklorin juga ditemukan di kerang-kerangan. pertanian. Bahan dan Metode Penelitian . Metode Analisis Senyawa Organoklorin Menurut Jurnal Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia (2010) 36(1): 1. Di Indonesia penelitian tentang pestisida organoklorin di perairan laut.19 . Pestisida organoklorin yang terdapat dalam kerang hijau akan terakumulasi dalam rantai makanan. khususnya perairan pantai masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan luas dan panjangnya perairan pantai. sedangkan pestisida yang terdapat dalam air dan sedimen dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap kesehatan berbagai burung dan mamalia laut. Dampak dari Senyawa Organoklorin Senyawa organoklorin ini mempunyai dampak nyata terhadap kesehatan manusia karena bersifat persisten dalam jangka waktu yang lama dan bersifat bioakumulasi karena tidak mudah terurai Bioakumulasi senyawa oragnoklorin di perairan terjadi melalui rantai makanan. Judul Pestisida Organoklorin Di Perairan Teluk Klabat pulau Bangka. perkebunan maupun kehutanan. serta menghambat pertumbuhan dan reproduksi ikan dan organisme yang hidup dalam suatu perairan. Seluruh bahan kimia untuk pembuatan senyawa pestisida organoklorin ini adalah bahan sintetik buatan manusia (“man-made”) dengan tujuan untuk membasmi hama tanaman.

3.a sebanyak 3 kali masing-masing 100 ml. 13. 11. 13. Peta lokasi stasiun pengambilan sampel penelitian di perairan Teluk Klabat. sedimen dan biota. 17. 11. 3.Lokasi stasiun pengambilan sampel di perairan Teluk Klabat dan sekitarnya dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian ini dilakukan dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Maret (mewakili awal musim peralihan barat ke musim timur) dan bulan Juni (mewakili awal musim timur) 2007. 14 dan 15. 4. Filtrat diekstrak dalam corong pisah dengan n-heksan p. yaitu Stasiun 1. 17 dan 18. Sampel air permukaan diambil sebanyak 2 liter menggunakan gayung “stainless steel”. 7. 7. 6. Sampel air laut diambil di 14 stasiun. 10. 12. 9. kemudian dimasukkan ke dalam botol kaca dan segera disimpan dalam Ice box. 12. Sampel yang dianalisis ialah air laut. 2. 18. Gambar 1.45 mikron. 9. 2. 50 ml . 10. 4. Di laboratorium. contoh air segera disaring dengan megunakan kertas saring GFC (Glass Fiber) ukuran 0. 16 . sedangkan sampel sedimen diambil sebanyak 16 stasiun yaitu Stasiun 1. 6. 2007. 16 .

konsentrasi total pestisida organoklorin dalam air laut berkisar antara 0. sama dengan analisis pestisida dalam sedimen. hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan ppt untuk air dan ppb untuk lumpur dan biota. kemudian diambil lebih kurang 50 gram. Proses berikutnya sama dengan perlakuan untuk contoh air.329 .513 ppt. Konsentrasi pestisida organoklorin diukur dengan alat khromatografi gas 5890 series II. Larutan ekstrak yang mengandung pestisida organoklorin di “clean up" menggunakan alumina WB 5 basic SIGMA dan pemisahan fraksi non polar (F1) dan polar (F2) dengan silika Merck 7754.dan 50 ml. Sampel sedimen dipanaskan 50 – 60 oC. Sampel biota yang dianalisis adalah ikan kurisi (Nemipterus sp. Proses analisis kandungan pestisida dalam biota.28.) dan siput gonggong (Strombus turturella) yang dibeli dari nelayan setempat. Sampel sedimen diambil menggunakan grab. Semua sampel dianalisis untuk 18 senyawa pestisida. kemudian ditambahkan Na2SO4 untuk mengisap sisa air yang ada. Komposisi senyawa pestisida dalam air paling tinggi pada bulan Maret adalah . Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut diklorometan dalam alat soklet. konsentrasi yang tinggi (> 10 ppt) diperoleh pada bulan Maret di Stasiun 10 dan 2. sedangkan pada bulan Juni diperoleh di beberapa stasiun yang ditunjukkan dalam Gambar 2. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa.

292 – 28. Konsentrasi total pestisida dalam contoh air laut pada bulan Maret berkisar antara 0.329 – 11. telah menetapkan ambang batas konsentrasi pestisida organoklorin dalam suatu perairan untuk kehidupan biota laut sebesar 10 ppt. yang posisinya dekat mulut Sungai Antam. Pada bulan Juni konsentrasi pestisida organoklorin di perairan Teluk Klabat berkisar antara 5. MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP (MNLH) No. yaitu Stasiun 2 dan 10 masing-masing konsentrasi totalnya 10. 980 ppt dengan rata-rata sebesar 7.980 (Tabel 1 dan Gambar 2). Tabel 1). 51 tahun 2004.BHC. Bila mengacu pada ketetapan MNLH tersebut maka konsentrasi rata-rata pestisida organoklorin di perairan Teluk Klabat pada bulan Maret (rata-rata 7. namun secara keseluruhan ada dua stasiun yang sudah melampaui. Konsentrasi terendah diperoleh di Stasiun 18 ditemukan 4 senyawa yang terletak di tengah Teluk Klabat bagian luar. aldrin. terrendah pada .018 ppt. Delta .362 dan 11.018 ppt) masih jauh di bawah ambang batas ketetapan Menteri tersebut. heptaklorepoksid adalah senyawa pestisida yang umumnya dalam penelitian ini sebagaimana tampak dalam Tabel 1. sedangkan pada bulan Juni diperoleh 18 senyawa (Stasiun 6. California sedikit meningkat dibanding hari-hari lainnya.513 ppt. Sesuai dengan laporan KRATZER (1999) bahwa pada musim irigasi maka pestisida di sungai San Joaquin. keduanya terletak di mulut sungai (Gambar 1). dengan konsentrasi rata-ratanya 15.707 ppt. Tabel 4). dan yang tertinggi di Stasiun 10 ditemukan 8 senyawa.delapan senyawa (Stasiun 10. Hal ini menunjukkan ada pengaruh aktif pertanian di darat yang menggunakan pestisida yang kemudian terhanyut ke dalam aliran sungai.

LI et al.513 ppt. selain kontak langsung. Gambar 1). Gambar 2). 2. Pada bulan Maret adalah awal musim peralihan dari musim barat ke musim timur.Stasiun 13 sebesar 5. . 3. di muara –muara sungai. kemudian berturut-turut Stasiun 1. curah hujan masih cukup banyak sehingga terjadi pengenceran konsentrasi senyawa pestisida. (2006) menyatakan bahwa penyebaran pestisida ke lingkungan alam sekitar. Pada umumnya stasiun yang total konsentrasi pestisida organoklorinnya tinggi berada di perairan Teluk Klabat bagian dalam. kecuali Stasiun 11 yang berada di perairan Teluk Klabat bagian luar yang langsung berhubungan dengan perairan Laut China Selatan. 10 (dekat mulut sungai) dan Stasiun 11yang lokasinya berada di tengahtengah mulut Teluk Klabat bagian luar (Tabel 4. ditemukan 13 senyawa dan tertinggi di Stasiun 6 sebesar 28. ditemukan 16 senyawa (Tabel 4. juga dapat melalui udara. Hal ini diduga ada hubungannya dengan musim. sudah tidak ada lagi hujan sehingga terjadi pemekatan konsentrasi pestisida. yaitu di urutan tertinggi Stasiun 6 lokasinya berada di perbatasan Teluk Klabat bagian dalam dan Teluk Klabat bagian luar. Pada bulan Juni diperoleh lebih banyak stasiun yang konsentrasinya tinggi. sebaliknya pada bulan Juni adalah awal musim timur. Tingginya kadar total pestisida di Stasiun 11 ini diduga oleh adanya penyebaran pestisida yang terbawa oleh angin yang berasal dari daratan Pulau Bangka. dan terperangkap di lokasi tersebut. Rata-rata konsentrasi pestisida organoklorin pada bulan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi rata-rata organoklorin bulan Maret dan sudah melampaui ketetapan MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP (2004).292 ppt.

Konsentrasi total pestisida dalam sedimen di perairan Teluk Klabat dalam dua kali penelitian berkisar antara 0. pp’DDT.002 ppb dan rata-rata 3. LI et al. 15 stasiun . sedangkan 12 senyawa lainnya menyebar di lebih dari 10 stasiun dan hanya 2 senyawa yang penyebarannya lebih kecil dari 10 stasiun yaitu senyawa gamma-BHC dan metotoksiklor (Tabel 4). Gambar 3). Senyawa heptaklor. Dibandingkan dengan bulan Maret. Pada bulan Maret berkisar antara 0. endrin dan endosulfan diperoleh hampir di seluruh stasiun.121 ppb. dan membawa dampak terhadap organisme non target di lokasi penyemprotan maupun daerah sekitarnya.096 .Lebih banyaknya stasiun yang kadar total pestisidanya sudah melebihi ketetapan MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP (2004) pada bulan Juni. (2006) juga menyatakan bahwa penyebaran pestisida ke suatu lingkungan selain kontak langsung. juga dapat disebabkan pada saat itu daratan Pulau Bangka sedang musim penyemprotan pestisida untuk melindungi tanaman pertanian maupun perkebunannya. terendah ditemukan di Stasiun 1 terdiri dari 6 senyawa sedangkan yang paling besar di peroleh di Stasiun 6 ditemukan 9 senyawa . Pestisida yang terdapat dalam air akan mengendap di permukaan sedimen dan mengkontaminasi organisme yang hidup dalam kolom air maupun pada sedimen. Senyawa dieldrin. sebaran 18 senyawa pestisida pada bulan Juni lebih banyak di temukan di banyak stasiun. juga dapat melalui air.437 ppb (Tabel 2.31.096 – 50. REINECKE & REINECKE (2007) menyatakan bahwa hujan yang turun setelah penyemprotan pestisida organoklorin akan membawa pestisida organoklorin ini mengalir ke permukaan air sungai maupun laut. endrin aldehid dan endrin keton ditemukan di seluruh stasiun. hepox.

dari 16 stasiun. di perairan Klabat masih lebih rendah (MUNAWIR 2005). Pada bulan Juni konsentrasi pestisida dalam sedimen kisarannya antara 0. Konsentrasi petisida yang paling tinggi . sedangkan delta – BHC.807 ppb (Tabel 5. misalnya Teluk Jakarta. terendah terletak pada Stasiun 14 terdiri dari 9 senyawa. Gambar 3). Baku Mutu MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP (2004) belum mencantumkan konsentrasi pestisida organoklorin yang diperbolehkan dalam sedimen. sedangkan senyawa beta-BHC. Tingginya kadar total pestisida pada bulan Juni ini dapat dipahami karena kadar total pestisida dalam airnyapun lebih tinggi di bulan Juni dibandingkan dengan bulan Maret. sedangkan yang tertinggi di peroleh di Stasiun 17 ditemukan 15 senyawa. aldrin dan metotoksiklor menyebar di lebih dari 10 stasiun.388 – 31.121 ppb dan rata-rata 3. Rata-rata kosentrasi total pestisida organoklorin dalam sedimen pada bulan Juni lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Maret. gamma –BHC. konsentrasi pestisida. Bila dibandingkan dengan konsentrasi pestisida dalam sedimen perairan Teluk Jakarta. heptaklor. Senyawa metoksiklor merupakan senyawa yang dominan karena menyebar di seluruh stasiun. namun dominansi senyawa pestisidanya hampir sama. endosulfan I dan pp’-DDT menyebar di lebih dari 10 stasiun (Tabel 5). Pestisida yang berada di sedimen adalah hasil pengendapan pestisida dalam air di atasnya terbukti dominansinya senyawa pestisida dalam air hampir sama dengan yang berada di sedimen. oleh karena itu konsentrasi yang diperoleh di perairan ini hanya bisa dibandingkan dengan di lokasi lain sesama teluk. Hal ini sesuai denganpendapat ERKMEN & KOLANKAYA (2006) pestisida yang tercemar dalam air akan diserap (absorb) oleh sedimen di perairan tersebut.

sebagaimana tampak dalam Tabel 3 dan Tabel 6. sedimen dan biota di perairan .) yang diperoleh pada bulan Maret (217. Konsentrasi pestisida organoklorin dalam sample biota ikan kurisi (Nemipterus.5 ppm) yang disarankan U. Kondisi konsentrasi pestisida dalam biota ini berbanding terbalik dengan kondisi konsentrasi pestisida yang berada dalam air maupun sedimen.340 ppb). konsentrasi pestisidanya hampir sama dengan ikan kurisi yaitu pada bulan Maret adalah 2803.909 ppb (Tabel 3).642 ppb (Tabel 6). Kondisi ini dapat dimaklumi karena kedua jenis biota tersebut mampu bergerak bebas dalam kolom air maupun sedimen. Namun senyawa pestisida yang diperoleh pada bulan Juni lebih banyak yaitu 14 senyawa dibandingkan bulan Maret yang hanya diperoleh 10 senyawa (Gambar 4).(2001) lebih tinggi pestisida organoklorin yang diperoleh dalam musim kering disebabkan oleh kandungan lipid (lemak) yang tinggi dalam beberapa jenis ikan. Dengan demikian konsentrasi pestisida dalam biota yang diperoleh di perairan Teluk Klabat masih lebih rendah. walaupun konsentrasinya pada bulan Juni menjadi berkurang masih jauh lebih rendah dari ambang batas (1.dalam sedimen di perairan Teluk Jakarta dalam tahun 2005. sp. Terdeteksinya pestisida organoklorin dalam air laut.S DEPARTMENT OF HEALTH (1968). Pada siput gonggong (Strombus turturella).926 ppb). jauh lebih besar dibandingkan dengan yang diperoleh bulan Juni (9. yaitu sebesar 51. yang kadarnya lebih tinggi di bulan Juni. Ditemukannya pestisida dalam air dan sedimen ternyata telah mengkontaminasi biota ikan kurisi dan siput gonggong yang hidup di dalamnya.126 ppb. jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh pada bulan Juni yang konsentrasinya hanya 39. Menurut JABBER et al.

hal ini menunjukkan bahwa pemakaian pestisida di Thailand juga masih berlangsung. Hepoks. Di Thailand. karena konsentrasinya sudah melebihi ambang batas normal yang dikeluarkan oleh MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP (2004).Teluk Klabat ini menunjukkan bahwa pestisida jenis ini masih digunakan di Indonesia. dieldrin. antara lain Thailand. walaupun sudah dilarang semenjak tahun 1993. RUANGWISES et al. . Konsentrasi pestisida dalam ikan kurisi dan siput gonggong masih normal. di lebih dari 10 kali dari 14 stasiun yang diamati. Kemudian tahun 1993 Departemen Pertanian Indonesia melarang peredarannya. Penggunaan DDT di Indonesia dimulai tahun 1952 untuk mengendalikan penyakit malaria. (1994) juga berhasil mendeteksi residu pestisida organoklorin dalam kerang hijau (Mytlus viridis). Kesimpulan Perairan Teluk Klabat telah tercemar pestisida organoklorin. namun karena ditemukan penyakit karsinogenik maka tidak digunakan lagi sejak tahun 1984. sehingga aman dikonsumsi oleh manusia. endrin dan endrin aldehid adalah senyawa yang paling banyak dijumpai dalam kolom air dan sedimen. (MANUBA 2007). Bahkan DDT masih digunakan di banyak Negara.