You are on page 1of 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tembaga (Cu2+)
Tembaga adalah logam merah-muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia
melebur pada 1038˚C. karena potensial elektrode standar positif, (+0,34 V untuk
pasangan Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun
dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit (Svehla, 1979).
Cu memiliki stabilitas terbesar jika dibandingkan dengan logam transisi
deret pertama yang lain dan lebih stabil jika dibandingkan dengan bilangan oksidasi
+1 dan +3, karena Cu(I) mudah teroksidasi menjadi Cu(II) dan Cu(III) mudah
teroksidasi menjadi Cu(II). Cu(II) bisa membentuk senyawa kompleks dengan
beberapa bilangan koordinasi, umumnya berada pada bilangan koordinasi 4, 5 dan 6
(Sugiarto, 2006).
Tembaga banyak digunakan pada berbagai barang elektronik, misalnya
kabel, kumparan, dan lain-lain. Logam tembaga pada barang-barang tersebut
mengandung kadar tembaga yang cukup tinggi. Sehingga, biasanya bekas tembaga
dari barang-barang tersebut diolah kembali menjadi logam tembaga baru untuk
digunakan pada barang elektronik lagi. Hal itu memunculkan ide pengolahan limbah
tembaga untuk diolah menjadi bentuk yang lain dalam rangka peningkatan nilai guna
(Fitrony, 2013).
Pengembangan aplikasi berbasis tembaga di abad ke-21 membutuhkan sifat
menuntut

dari

tembaga,

terutama

dalam

elektronik,

semikonduktor

dan

superkonduktor industri. Sebagai contoh, disarankan bahwa kontrol dari mikro
tembaga di interkoneksi merupakan masalah penting untuk kinerja yang lebih baik
dari perangkat konduktivitas (Kekki dkk, 2014).

Kehadiran logam berat di lingkungan dapat merusak varietas spesies. Oleh
karena itu, penghapusan logam berat dari perairan dan air limbah adalah penting
untuk melindungi kesehatan masyarakat (Ghomri dkk, 2013).
Tembaga memiliki konduktivitas tertinggi dari setiap logam komersial.
Memegang sepotong tembaga dan akan terasa dingin , indikasi seberapa cepat tangan
panas dapat dilakukan jauh. Setiap kali menekan saklar untuk menyalakan sebuah
ruangan, memikirkan konduktivitas listrik tinggi dari tembaga di sirkuit yang
membuat bahwa operasi sederhana mungkin (CDA Publication, 1998).
2.2 Oksin
Oksin disebut juga dengan 8-hidroksi kuinolin (8 kuinolinol) dengan
strukturnya seperti gambar 1 (Oktavia, 2002):

Oksin mempunyai berat molekul 145,15 g/mol dengan rumus molekulnya
C9H7ON, merupakan suatu senyawa kristal putih dengan titik lebur 74-76˚C. hampir
tidak larut dalam air dan eter, tetapi sangat larut dalam alkohol, kloroform, benzen
dan dalam larutan asam mineral. Oksin merupakan suatu amfoter dalam larutan,
karena mempunyai gugus nitrogen dan gugus hidroksil fenolik. Pada suhu kamar
oksin mempunyai harga angka banding distribusi, D antara kloroform dengan air
dengan nilai D = 720. Angka banding ini tercapai bila fasa air pH-nya antara 5-9.
Karena sifat atmosfer tersebut oksin tidak sempurna tereksitasi pada pH dibawah
5 atau pH diatas 9 (Oktavia, 2002).

Sedang reaksi kimia antar oksin dengan logam membentuk senyawa
komplek inner, dimana ion logam membentuk ikatan koordinasi dengan atom
nitrogen (N) atau atom oksigen (O) dari gugus karbonil sehingga membentuk cincin
lingkar lima yang stabil (Oktavia, 2002).
8-Hidrosiquinolin (oksin) mungkin dianggap berfungsi sebagai fenol, tapi
dari 7 isomer hidrosiquinolin hanya oksin menunjukkan aktivitas antimikroba yang
signifikan dan merupakan satu-satunya untuk memiliki kapasitas untuk logam
(Patel dkk, 2012)
2.3 Titrasi
2.3.1 Iodometri
Banyak pengoksidasi kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium
iodida berlebihan dengan mentitrasi iod yang dibebaskan. Karena banyak zat
pengoksid yang menuntut larutan asam untuk bereaksi dengan iodida, natrium
tiosulfat lazim digunakan sebagai titran. Larutan tak boleh distandarkan berdasarkan
penimbangan langsung, melainkan harus distandarkan terhadap suatu standar primer.
Larutan natriumtiosulfat tidak stabil dalam waktu lama. Bakteri yang memakan
belerang akhirnya masuk kedalam larutan itu dan proses metaboliknya akan
mengakibatkan pembentukan SO32-, SO42- dan belerang koloidal. Belerang ini akan
menyebabkan kekeruhan, bila timbul kekeruhan larutan harus dibuang. Biasanya air
yang digunakan untuk menyiapkan larutan tiosulfat dididihkan agar steril dan sering
ditambahkan boraks atau natrium karbonat senagai pengawet. Oksida tiosulfat oleh
udara berlangsung lambat (Day dan Underwood, 1986).
Sejumlah zat dapat digunakan sebagai standar primer untuk larutan tiosulfat.
Iod murni paling jelas sebagai standar, namun jarang digunakan karena sukar
menangani dan menimbangnya. Lebih sering menggunakan zat pengoksid kuat yang

akan

membebaskan

iod

dari

iodida,

jadi

suatu

proses

iodometri

(Day dan Underwood, 1986).
Iodometri dengan Na2S2O3 sebagai titrant (titrasi tidak langsung), analat
harus berbentuk suatu oksidator yang cukup kuat, karena dalam metoda ini analat
selalu direduksi dulu dengan KI sehingga menjadi I2. Titrasi dapat dilakukan tanpa
indikator dari luar karena warna I2 yang dititrasi itu akan lenyap bila titik akhir
tercapai, warna itu mula-mula coklat agak tua, menjadi lebih muda, lalu kuning,
kuning muda dan seterusnya, sampai akhirnya lenyap.bbila diamati dengan cermat
perubahan warna tersebut, maka titik akhir dapat ditentukan dengan cukup jelas.
Konsentrasi = 5 x 10-6 M yod masih tepat dapat dilihat dengan mata dan
memungkinkan penghentian titrasi dengan kelebihan hanya dengan senilai 1 tetes
yod 0,05 M. namun lebih mudah dan lebih tegas bila ditambahkan amilum kedalam
larutan sebagai indikator. Amilum dengan I2, membentuk suatu kompleks berwarna
biru tua yang masih sangat jelas sekalipun I 2 sedikit sekali. Pada titik akhir, yod yang
terikat itupun hilang bereaksi dengan titrant sehingga warna biru lenyap mendadak
dan perubahan warnanya tampak sangat jelas. Penambahan amilum ini harus
menunggu sampai mendekati titik akhir titrasi. Maksudnya ialah agar amilum tidak
membungkus yod dan menyebabkannya sukar lepas kembali. Hal itu akan berakibat
warna biru sulit sekali lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan tajam lagi. Bila yod
masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini
mengganggu perubahan warna pada titik akhir. Titrasi-titrasi melibatkan reaksi
pengendapan tidak berjumlah banyak dalam suatu analisis (Harjadi, 1990).
2.3.2 Permanganometri
Titrasi dengan oksidator kuat sebagai titrant. Kalium permangat merupakan
oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari
pH larutannya. Kekuatannya sebagai oksidator juga berbeda-beda sesuai dengan

reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu. Kebanyakan titrasi dilakukan dalam
keadaan asam , disamping itu ada beberapa titrasi yang sangat penting dalam suasana
basa untuk bahan-bahan organik daya oksidasi MnO4- dalam keadaan ini lebih kecil
sehingga

letak

kesetimbangan

kurang

menguntungkan.

Untuk

menarik

kesetimbangan kearah hasil titrasi, titrat ditambahkan Ba 2+ yang dapat mengendapkan
ion MnO42- sebagai BaMnO4. Selain menggeser kesetimbangan kekanan,
pengendapan ini juga mencegah reduksi MnO42- itu lebih lanjut

(Harjadi, 1990).

Karena daya oksidasi yang besar dalam keadaan asam itu, banyak titrasi
yang dapat dilaksanakan, titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus
tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas analat yang dapat
dioksidasi seperti misalnya Fe2+, asam/garam oksalat yang dapat larut dan
sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak
langsung antara lain: ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn dan Hg(II) yang mula-mula
diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam
H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat
inilah yang akhirnya dititrasi dan dari hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion
logam yang bersangkutan. Ion-ion Ba dan Pb juga dapat diendapkan sebagai garam
kromat, setelah disaring, dicuci dan dilarutkan dalam asam, ditambahkan pula larutan
baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh kromat tersebut dan sisanya dapat
ditentukan bnyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4 (Harjadi, 1990).
Kristal KMnO4 untuk pembuatan larutan sering sudah terkontaminasi
dengan MnO2, disamping itu MnO2 juga mudah terbentuk didalam larutan karena
adanya berbagai bahan organik. Maka pada pembuatan larutannya, sesudah kristal
larut, sebaiknya larutan dipanaskan untuk mempercepat oksidasi zat-zat organik,
setelah dingin, larutan disaring untuk memisahkan MnO2 (Harjadi, 1990).