You are on page 1of 76

BAHAN AJAR STRUKTUR ALJABAR

BAB I
OPERASI PADA HIMPUNAN
Kompetensi Umum :
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dengan
baik operasi pada himpunan dan operasi pada himpunan dan dapat memecahkan suatu
masalah tentang himpunan.
Kompetensi Khusus :
Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat :
a. Menentukan irisan dan gabungan dari dua atau lebih himpunan.
b. Menentukan komplemen dari suatu himpunan
c. Memeriksa apakah suatu relasi merupakan suatu relasi biner
d. Memeriksa apakah suatu pemetaan bersifat injektif, surjektif atau bijektif
Deskripsi Singkat :
Himpunan didefinisikan sebagai kumpulan objek-objek dengan suatu sifat/ciri tertentu.
Dalam bab ini akan dibahas mengenai teori himpunan, relasi dan pemetaan yang akan
mendasari pokok-pokok bahasan bab-bab berikutnya.
1.1 Himpunan
Secara harafiah himpunan mengandung pengertian sebgai suatu kumpulan atau koleksi /
gabungan dari objek-objek. Objek-objek ini baisa disebut anggota atau unsur atau
elemen dari himpunan tersebut. Jadi himpunan dapat didefinisikan sebagai kumpulan
objek-objek dengan suatu sifat/ciri tertentu, dengan kata lain himpunan adalah
kumpulan suatu objek yang mempunyai ciri dan karakteristik yang sama. Suatu
himpunan biasa dinotasikandengan menggunakan huruf besar/kapital, misalkan
A,B,C….. , X, Y, Z, sedangkan unsur-unsur atau anggota-anggota dinotasikan dengan
huruf kecil, misalkan a,b,c,k, …..
Misalkan suatu x menyatakan anggota dari himpunan A maka dinotasikan dengan “x A”
dan misalkan y menyatakan bukan anggota dari himpunan A maka dinotasikan “y A”.
Sedangkan himpunan yang tidak mempunyai anggota disebut himpunan kosong, dan
dinotasikan dengan
Contoh 1.1 :
misalkan + adalah himpunan semua bilangan akhir bulat positif, ditulis Z+ = {0,1,2,3,
….}, maka 2 Z+ tetapi -1 Z+
contoh 1.2 :
Misalkan 2Z+ = {0,2,4,6, …. }, maka 2 Z+ tetapi 3 Z+
Definisi 1.1 :
Suatu himpunan A dikatakan merupakan himpunan bagian dari himpunan B, jika setiap
anggota dari himpunan A merupakan anggota dari himpunan B, yang dilambangkan
dengan A
Definisi 1.2 :
Suatu himpunan A dikatakan merupakan himpunan bigian sejati (proper subset) dari
himpunan B, jika A dan terdapat sedikitnya satu unsur dari B yang bukan anggota dari
A, yang dilambangkan dengan A
Dengan kata lain, A artinya A tetapi B bukan merupakan himpunan bagian dari A,
dilambangkan dengan A bisa juga diartikan A jika dan hanya jika A dimana A ≠ B(A A
dimana A≠ B).
Gambar 1.1.
Himpunan Bagian dan Himpunan Bagian Sejati
Contoh 1.3:

Tunjukkan bahwa himpunan bilangn asli N merupakan himpunan bagian sejati dari
himpunan bilangan bulat Z, himpunan bilangan bulat Z merupakan himpunan bagian
sejati dari himpunan bilangan rasional Q dan himpunan bilangan rasional Q merupakan
bagian sejati dari himpunan bilangan real R.
Penyelesaian :
N = (himpunan bilangan asli) = {1,2,3 ….}
Z = (himpunan bilangan bulat) = {…, -2,-1,0,1,2, … }
Q = {himpunan bilangan rasional} = { …,2,-1,5,-1,-0,5,0,0,5,1,…}
R = {himpunan bilangan real} = { …,-2,-1,5,-1,-1/2,-1/4,0,0,25, ½, …}
Disini akan ditunjukkan bahwa N, Z, Z Q, dan Q R, sehingga N Z Q R.
Gambar 1.2,
Himpunan Bagian Sejati dari Sistem Bilangan Real
Definisi 1.3 :
A gabungan B ditulis dengan A B adalah himpunan yang semua anggotanya merupakan
anggota A atau anggota B, disimbolkan dengan A B ={x A dan x B}.
Definisi 14 :
A irisan B, ditulis dengan A B adalah himpunan yang semua anggotanya merupakan
anggota A, sekaligus anggota B, disimbolkan dengan A B = {x A dan x B}.
Definisi 15 :
Komplemen dari suatu himpunan A adalah himpunan anggota-anggota x dengan x € A,
yang dinyatakan dengan Ac.
A B A B AC
gambar 1.3
Diagram Venn Suatu gabungan, irisan dan komplemen
Contoh 14 :
Himpunan A = {a,b,c,d,e,f} dari himpunan B = {d,e,f,g}, maka
A B = {d,e,f} dan A B = {a,b,c,d,e,f,g}.
Dari definisi-defini yang ada diperoleh sifat-sifat dari himpunan, sebagai berikut:
Teorema 1.1 :
Untuk sebarang dua himpunan A dan B diperoleh :
AAB = A
AAB = B
Bukti :
Harus dibuktikan A  A B = A dan A B = A dan A B A = A
a. A A B = A.
Misalkan x € A dan x € B, maka x € A B
A B dan A B B, maka A= A B
b. A A B = A B
misalkan x € A dan x € B
x € A B = A maka A B B sehingga A B.
Dari persamaan a dan b, terbukti bahwa A A B. B = B
(ii) Harus dibuktikan A A B B = B dan A A B = B B
a. A A B B = B
Misalkan x A, atau B, maka x keduanya.
x A A B, x A atau x B maka B = A B
b. A A B B
Misalkan x € A atau € B, sehingga A B

Dari persamaan a dan b, terbukti bahwa A A B B = B
Teorema 1.2 :
Untuk sebarang tiga himpunan A,B dan C diperoleh :
A (B C) = (A B) (A C)
Bukti :
Yang perlu dibuktikan dari A (B C) = (A B) (A C) adalah :
a. A (B C) = (A B) (A C)
Misalkan x A dan x B, x C.
x A (B C)
x A dan x (B C)
x A dan {x B atau x C)
(x A dan x B) atau (x A dan x C)
x (A B) atau x (A C)
x (A B) (A C)
sehingga A (B C) (A B) (A C)
b. (A B) (A C) A (B C)
Misalkan x A dan x B, x C
x (A B) (A C)
x (A B) atau x (A C)
( x A dan x B)atau (x A dan x C)
x A dan (x B atau x C)
x A dan x (B C)
x A (B C)
sehingga (A B) (A C) A (B C)
dari persamaan a dan b, terbukti bahwa (A B) (A C) A (B C)
Definisi 1.6:
Selisih himpunan A dan B adalah A-B = {x l x A dan x Bc}
A–B
Gambar 1.4.
Diagram Venn suatu selisih dari dua himpunan
Jika himpunan A mempunyai n unsur maka ditulis lAl = n. Jika dua himpunan A dan B
masing-masing mempunyai n dan m unsur, mkaa ditulis lAl = n dan lBl = m.
Teorema 1.3 :
Untuk dua himpunan A dan B yang mempunyai masing-masing n dan m unsur, maka lA
Bl = lAl + lBl – lA Bl = n + m – lA Bl
Bukti :
ABB
Gambar 1.5.
Diagram Venn gabungan himpunan-himpunan yang saling lepas
Dari gambar 1.5 diilustrasikan A B dapat dinyatakan sebagai gabungan dari himpunanhimpunan yang lepas A dan B – A, dan B dapat dinyatakan sebagai gabungan
himpunan-himpunan yang lepas A B dan B – A, sehingga di peroleh:
lBl = lB – Al + lA Bl, maka lB-Al = lBl – lA Bl
lA Bl = lAl + lB – Al
= lAl + lBl – lA Bl
= n + m – lA Bl
Definisi 1.7
Himpunan kuasa (power set) dari A adalah himpunan yang terdiri dari himpunan bagian
dari A. Banyaknya anggota himpunan kuasa dari himpunan yang mempunyai n anggota
(n bilangan bulat) adalah 2”

{b}. Contoh 1.b. {a}.b}. {a. ditulis dengan aTb. yiatu himpunan yang anggotanya adalah anggota dari semua himpunan yang dibicarakan.2.b).  T disebut relasi terurut total jika T transitif dan trikotomi.  Irisan himpunan-himpunan di adalah himpunan yang menjadi anggota dari sebarang satu himpunan di .c} adalah 23 = 8 yaitu { .10 : Relasi < pada himpunan A = {a. dan transitif.7 : Himpunan kuasa ( power set) dari A= {a. (b.c}.R3} Suatu himpunan semesta bisa dinotasikan dengan S.R2. Simetris jika aTb maka bTa berlaku c.c)} dan relasi ≤ pada A adalah {(a. (a.9 : Misalkan = {R1. maka suatu relasi T biner dari A ke B adalah suatu himpunan bagian dari AxB. R2.c).R2. maka aTc berlaku d.22 : Kesebangunan adalah suatu relasi ekivalen pada himpunan semua segitiga.  T disebut relasi berurut parsial pada A jika T refleksif. Contoh 1. maka T disebut Relasi biner pada A.13 : < adalah suatu relasi terurut total pada himpunan semua bilangan rel (rasional.3} maka keluarga (koleksi) dari himpunan tersebut adalah R = {R1. Contoh 1. (b.c}}. = {1. dan transitif. Jika suatu himpunan semua anggotanya adalah himpunan disebut keluarga (family) atau koleksi himpunan dinotasikan dengan huruf cantik.11 : Kesamaan merupakan suatu relasi ekuivalen pada sebarang himpunan.2}. Definisi 18 : Misalkan R suatu keluarga (koleksi).Contoh 1.3.b.c}. Contoh 1. anti simetris.b).c). untuk suatu Himpunan ini memuat semua anggota (di S) yang menjadi anggota dari sebarang satu himpunan di .4} b. himpunan tak kosong.a).b) T. jika T repleksif. Transitif jika aTb dan bTc.2. simetris. (b.c} adalah himpunan {(a.b).10 : Misalkan T suatu relasi pada A maka T disebut : a. = {1} 1.c)} Bila T suatu relasi pada A maka (a. Contoh 1. Refleksi jika aTa berlaku b. . = {1.R3} adalah keluarga ( koleksi ) dari himpunan seperti pada contoh 8. (a.{a.b.c).9 : Misalkan A dan B merupakan dua himpunan tak kosong. (c.{a. (a. jika A=B. maka :  Gabungan himpunan-himpunan di R adalah himpunan yang didefinisikan dengan :  untuk suatu Himpunan ini memuat semua anggota (di S) yang menjadi anggota dari sebarang satu himpunan di . maka : a. Trikotomi jika tepat salah satu berlaku : aTb atau a = b atau bTa dari definisi didapatkan :  T disebut relasi ekuivalen pada A.4}.2 Relasi Definisi 1.8 : Misalkan Rt = {1. bulat. R3 = {1.{c}. Contoh 1. asli). Definisi 1.{b.

B R didefinisikan A = {x l 1 ≤ x ≤ 4} = {1. dan bijektif Definisi 1.1). 3.7 Grafik Kartesius AxB dan BxA.Misalkan f. 2. 2.b) f.6 Pemetaan dari AxB Pada gambar 1.3).1. 1.3). g : A . surjektif. (2. 4} dan B = { x l 2 ≤ x ≤ 3} = {2.3)} Relasi terhadap B x A = {(2.4)} Dari gambar 1. (1. g : B Jika A. Dengan kata lain. B himpunan tak kosong. suatu fungsi f dikatakan sama dengan g ditulis f = g jika f(a). fungsi atau pemetaan dari A ke B adalah suatu himpunan bagian f dari A x B demikian sehingga untuk setiap a A terdapat satu b B dengan (a. B suatu himpunan tak kosong.13: B.2). Tunjukan bahwa A x B ≠ B x A ! Penyelesaian : Relasi terhadap A x B = {(1. Contoh 1.15 : Jika A. = a2 maka f(a1) = f(a2). maka g o f : A B. a2. dan C himpunan dan f : A C adalah . (2. Untuk setiap a A terdapat b B sehingga f(a) = b 2. C fungsi. B.12 : Misalkan A.2).3).1 (injektif) dan onto/pada (surjektif). (3.4). (3. suatu pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan 1 – 1 (injektif) jika untuk sebarang a1.b) l a A dan b B}. Untuk sebarang a1.2).11 : Misalkan A.6 ditujukan bahwa setiap anggota A dipetakan tepat pada suatu anggota B. (4. (2. A dengan f(a1) = f(a2) maka a1 = a2.1. Dalam koordinat kartesius pemetaan A x B = B x A. Y 4 3 2 1 1234X AXB BxA Gambar 1. misalkan A.2). Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari f dan himpunan B disebut daerah kawan (kodomain).2).3}.B himpunan tak kosong.8 Pemetaan injektif. (3. (3. ABAB AB Ijektif Surjektif bijektif Gambar 1. (4. didefinisikan A x B = {(a.2). (2. (2.7 terlihat grafik kartesius A x B ≠ B x A.a2 A dengan a1. (3. 3.3).3).3 Pemetaan Definisi 1. (3. suatu pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan onto / pada (surjektif) jika untuk setiap b B terdapat a A sehingga f(a) = b. Gambar 1. suatu pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan bijektif (korespondensi 1 -1) jika f pemetaan 1. Definisi 1. Suatu pengaitan f dari A ke B disebut pemetaan atau fungsi jika : 1.

Jika terdapat n bilangan bulat positif demikian sehingga A dan {1. (f o g) (x) = f(g(x)) = f = x = i3Z menunjukkan bahwa g adalah balikan kanan dari f. Balikan kiri dari f jika g o f = iA 2. Contoh 1. Definisi 1. Dikarenakan g o f = iZ dan f o g = i3Z maka g saling berbalikan dengan f. 2. …. 3. disimbolkan dengan A B= { x A dan x B}. fungsi g o f ini disebut komposisi dari f dan g. Tunjukan bahwa g balikan kiri dan juga balikan kanan dari f : Penyelesaian : (g o f) (x) = g(f(x)) = g(3x) = x = iz.18 : Misalkan H adalah himpunan semua bilangan bulat positif yang kuran dari 30. yaitu g o f = iA dan f o g = iB.15 : Misalkan A dan B suatu himpunan tak kosong. Definisi 1. .ekuivalen jika dan hanya terdapat f : A Contoh 1. 2. 1. himpunan A dan B dikatakan B fungsi korespondensi 1-1. n} tidak ekuivalen untuk setiap n bilangan bulat positif. Bila A = B maka dapat disingkat g o f = iA = f o g.4 Rangkuman 1.16 : 3Z dengan f(x) = 3x. Contoh 1.4 : D fungsi. Komplemen dari suatu himpunan A adalah himpunan anggota-anggota x dengan x A. Himpunan A dikatakan hingga (finite). n} adalah ekuivalen. balikan kanan dari f jika f o g = iB 3. maka G adalah suatu himpunan hingga. balikan dari f jika g balikan kiri sekaligus balikan kanan dari f.16: Misalkan A suatu himpunan tak kosong. maka h o (g o f) (a) = (h o g) o f (a) h((g o f) (a)) = (h o g) (f(a))] h(g(f(a))) = h(g(f(a))) Definisi 1. yang dinyatakan Ac . Himpunan adalah kumpulan suatu objek yang mempunyai cirri dan karakteristik yang sama.14 : A disebut : B suatu fungsi. …. 3. Fungsi g : B Misalkan f : A 1. g : B Komposisi fungsi adalah assosiatif yaitu jika f : A Bukti : Misalkan . menunjukan bahwa g adalah balikan kiri dari f. irisan adalah himpunan yang semua anggotanya merupakan anggota B. disimbolkan dengan A B= {x A atau x B}. Sedangkan himpunan A dikatakan tak hingga (infinite) jika A dan {1. Teorema 1.fungsi yang didefinisikan dengan (g o f) (a) = g(f(a)) untuk setiap . maka h o (g o f) = (h o g) o f C dan h : C  B.Misalkan f : Z 3Z dengan g(x) =dan g : Z . Gabungan adalah himpunan yang semua anggotanya merupakan anggota A atau anggota B.17 : Himpunan Z dan 3Z adalah ekuivalen. karean terdapat pengaitan f(n) = 3n untuk n yang mendefinisikan fungsi korespondensi 1 – 1. 2. himpunan dinyatakan dengan huruf besar dan anggota / unsurnya dengan huruf kecil.

Himpunan semesta S={x / x bilangan bulat . Tentukan (A B)c dan (B C) c. adalah suatu relasi terurut parsial pada himpunan semua bilangan real (rasional. Tentukan relasi < dan pada himpunan A={1.-1. dan transitif.3. lima puluh orang suka mata kuliah aljabar dan empat puluh lima orang suka mata kuliah Differensial. A – (B C)=(A-B) (A-C) 2. dan nilai fungsi dimana-mana sama. c. diketahui A={-5. dan transitif.3.5 Soal-soal latihan 1. Pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan bijektif (korespondensi 1 – 1) jika f pemetaan 1 – 1 (injektif) dan onto/pada (surjektif). Tujuh puluh orang suka mata kuliah kalkulus. lalu bandingkan dengan Ac Bc dan Bc Cc 4.0. asli) d. Tunjukkan bahwa banyaknya bijektif dari A B adalah n ! 7. a2 A dengan f(a1)=f(a2) maka a1 = a2. Pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan onto / pada (surjektif) jika untuk setiap b B terdapat a A sehingga f(a)=b. Dua pemetaan (fungsi) dikatakan sama jika domain dan kodomain dari keduanya sama. g : B C. anti simetris. Misalkan A. b. simetris.3. 22 orang suka mata kuliah Kalkulus dan Differensial. Kesebangunan adalah suatu relasi ekuivalen pada himpunan semua segitiga. 4. T disebut relasi ekuivalen pada A.– + c. 5. = + + – . Pemetaan f dari A ke B disebut pemetaan 1 – 1 (injektif) jika untuk sebarang a1. Misalkan A dan B adalah himpunan tak kosong. lalu bandingkan dengan A (B C) b. 1. -5 x 20}. B dan C himpunan tak kosong. Tunjukkan bahwa : a. bulat.2. B={-2.19. Kesamaan merupakan suatu relasi ekuivalen pada sebarang himpunan. Buktikan bahwa g=h BAB 2 OPERASI BINER PADA HIMPUNAN BILANGAN BULAT Kompetensi Umum: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengidentifikasi suatu himpunan terhadap suatu operasi biner. A (B C) = (A B) (A C) b.6} dan C={5. Juga 36 orang mengatakan suka mata kuliah Kalkulus dan Aljabar. Berapa banyak mahasiswa yang tidak suka ketiga mata kuliah tersebut dan gambarkan grafiknya ! 3.7. .5.20} a. Tentukan (A B) (A C). Misalkan A dan B dua himpunan masing-masing mempunyai n unsure.4}. 5. Buktikan : a. Jika f : A B. h : C D. < adalah suatu relasi terurut total pada himpunan semua bilangan real (rasional.1. bulat. Seratus mahasiswa diberikan kuisioner tentang mata kuliah yang digemarinya.2. T disebut relasi terurut total jika T transitif dan trikotomi. T disebut relasi terurut parsial pada A jika T refleksif. pemetaan sedemikian hingga gof=hof dan f surjektif. jika T refleksif.7}.4. dan 3 orang suka ketiga mata kuliah tersebut. asli) 6.-3.

Kompetensi khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: a. Komutatif Misalkan a. c.-2.-2. 1.). Jadi sesuai dengan konsep pemetaan.= {….c Z maka (a * b) * c = a * (b * c) 4.3. maka pemetaan S x S S disebut operasi biner. secara singkat akan dijelaskan dalam definisi berikut: Definisi 2.-2.*). Tertutup Misalkan a dan b adalah suatu anggota himpunan tak kosong.1.0.2.3. Untuk himpunan bagian dari Z yaitu {….-2.dan Z+.0. maka a dan b tertutup terhadap bilangan bulat Z bila a * b Z 2.1. Sudah diterangkan sebelumnya bahwa himpunan semua bilangan bulat {…. sesungguhnya pasangan terurut (a. Misalkan f suatu operasi biner dalam S.b) S x S dengan c.b) c. Menentukan operasi biner jika diberikan suatu operasi pada himpunan tertentu b.2.1. maka ditulis a * b = c (dibaca a operasi biner b sama dengan c).-1. maka pemetaan s X s ke s disebut operasi biner.= {0. Mengidentifikasi sifat-sifat dari operasi biner apakah tertutup. Adanya unsure balikan atau invers Misalkan a Z maka a * a-1 = a-1 * a = e .2: Sifat operasi biner (*) pada suatu himpunan bilangan bulat Z disimbolkan dengan (Z.2.…} disimbolkan dengan Z.…} Z.b) S x S dengan f(a.…} Pada himpunan bilangan bulat Z dikenal dua operasi baku penjumlahan/aditif (+) dan perkalian/ multikatif (. yaitu suatu pemetaan dari S x S ke S.-3.b Z maka a * b = b * a 3. Definisi 2. Adanya unsur satuan atau identitas Misalkan a Z maka a * e = e * a = a 5.3.2.1: Misalkan S adalah suatu himpunan sebarang yang tak kosong. Menentukan bilangan bulat modulo n Deskripsi singkat: Misalkan s adalah suatu himpunan sebarang yang tak kosong.1 Sifat-sifat Operasi Biner Sebelum membicarakan sifat-sifat operasi biner pada himpunan bilangan bulat. assosiatif memiliki identitas dan adanya invers untuk setiap elemen himpunan itu. yang dinotasikan dengan (a.b. Menerapkannya dalam operasi perkalian e. terlebih dahulu akan diuraikan secara singkat mengenai himpunan bilangan bulat. secara singkat dapat ditulis sebagai berikut: Z = {…. Dalam bab ini akan diperkenalkan konsep tentang operasi biner dan sifat-sifatnya dengan menggunakan pendekatan pemetaan. dan misalkan (a.-1} Z+. Ide penambahan atau perkalian akan didefinisikan secara lebih umum sebagai operasi biner salam suatu himpunan. 2. Assosiatif Misalkan a.b) c.-3.-3. komutatif.1. …} berturut-turut merupakan himpunan semua bilangan bulat negative dan himpunan semua Z.-3. begitu pula setiap pasang bilangan rasional atau bilanagan real. Menerapkannya dalam operasi penjumlahan d.3.-1. Sebagaimana telah diketahui setiap pasang bilangan bulat dapat ditambahkan (dijumlahkan) maupun dikalikan.-1} dan {0.

1: Misalkan suatu himpunan yang tak kosong S={a.c. Table 2.2 : Misalkan suatu himpunan yang tak kosong Z+ adalah himpunan bilangan bulat positif. y Z+. misalkan ambil unsure x 2.b. Komutatif x. sehingga x.d}. didefinisikan x * y = bila x y dan x * x = x untuk setiap x.Contoh 2.1 Daftar Cayley (Operasi Biner) S ={a. Dengan demikian dalam daftar Cayley yang terdapat dalam table 2.d}yang didefinisikan x * y = y x.1 adalah sebagai berikut: 1. sehingga unsure x * y adalah unsur yang sekelompok dengan y sebaris dengan x. Unsur yang terakhir ini dibaca pada baris yang paling atas. Tunjukan apakah operasi binernya tertutup. Kemudian unsure x mau dioperasikan dengan unsure y dari sebelah kanan. komutatif dan assosiatif.y Z+. Tertutup Misalkan x = 2 dan y = 3 x*y=2*3=1 x*x=2*2=2 x * y dan x * x tertutup terhadap Z+.c.y Z+ b. biasa dipakai untuk mendefinisikan suatu operasi biner dalam himpunan yang banyak anggota / unsurnya terhingga. Penyelesaian: Disini akan ditunjukkan daftar operasi biner dalam bentuk table (yang dinamakan daftar Cayley). Tunjukkan operasi biner dari himpunan tersebut.1. Unsur yang mau dioperasikan dari sebelah kiri kit abaca kolom paling kiri. 3. misalkan x = 2 dan y = 3 x * y = 2 * 3 = =1 . dapat kita baca : a*a=a a*b=b a*c=c a*d=db*a=a b*b=b b*c=c b*d=dc*a=a c*b=b c*c=c c*d=dd*a=a d*b=b d*c=c d*d=d Contoh 2. Penyelesaian : a.b. didefinisikan x * y = y untuk setiap x.y S y *Ab c d x a Ab c d bAb c d c Ab c d dAb c d Cara membaca daftar Cayley seperti pada table 2.y S adalah suatu operasi biner dalam S.

akan dijelaskan definisi dan contoh dari opersi biner terhadap penjumlahan yang merupakan grupoid.5}dan (Z6.5} Definisi 2. ) adalah merupakan grupoid. y = y untuk setiap x. didefinisikan x .3 : Himpunan semua bilangan bulat Z terhadap operasi penjumlahan dan perkalian merupakan suatu struktur aljabar. . maka (S.1. Assosiatif Misalkan a.4 : Misalkan S adalah suatu himpunan tak kosong.2. didefinisikan : Definisi 2.1. ) Definisi 2. +. yang dinotasikan (Z.+).o. +) menyatakan bahwa penjumlahan bilangan bulat Z tertutup terhadap Z6 = {0. maka S menjadi satu struktur aljabar dengan dua operasi biner yang dinotasikan (S.3. 2.4. bila operasi biner mempunyai satu atau lebih operasi biner yang merupakan dasar-dasar Struktur Aljabar. didefinisikan x + y = y untuk setiap x.b Z maka a + b = b + a 3. + ) adalah merupakan grupoid.*) Contoh 2. misalkan x = 2 dan y = 3. z = 4 (x * y) * z = (2 * 3)* 4 = * 4 = = 3 x * (y * z) = 2 * (3 * 4) = 2 * = = 1 (x * y) * z x * (y * z) tidak assosiatif Dari definisi sebelumnya mengenai operasi biner.y S. Contoh 2.o) atau (S. ) atau (Z. dismbolkan dengan (Z.4. Misalkan Z6 = {0. Komutatif Misalkan a. ) atau (Z6.c Z maka (a + b) + c = a + (b + c) 4. Assosiatif x.1. Tertutup Misalkan a dan b adalah suatu anggota himpunan tak kosong. y.y*x=3*2==1 x * y = y * x komutatif c.4 : Grupoid adalah suatu struktur aljabar yang mempelajari hanya satu operasi biner (terhadap penjumlahan atau perkalian) Contoh 2. maka penjumlahan a dan b tertutup terhadap bilangan bulat Z bila a + b Z 2.b. ) atau (Z.3.5} ini menyatakan bahwa bilangan bulat Z tertutup terhadap {0. maka (S.*.4. Pada sub bab selanjutnya akan dijelaskan secara lebih mendalam mengenai struktur aljabar yang berupa grupoid terhadap penjumlahan dan perkalian. Misalkan S suatu himpunan yang dilengkapi dengan sekelompok Operasi biner * dan o.y S.2 Operasi Biner Terhadap Penjumlahan Pada sub pokok bahasan ini.3. .5 : Sifat operasi biner pada himpunan bilangan bulat Z terhadap penjumlah (Z.+) adalah : 1. Adanya unsur satuan atau identitas Misalkan a Z untuk penjumlahan unsur satuan atau identitas e = 0 sehingga a + e = a + 0 .3 : Struktur Aljabar adalah ilmu yang mempelajari suatu himpunan dengan satu atau lebih operasi biner pada sistem aljabar tersebut.z Z+.2.5 : Misalkan S adalah suatu himpunan tak kosong.2.

1. Assosiatif Ambil sebarang nilai dari Z5.+) Tabel 2. 3. Adanya unsur balikan atau invers Misalkan a Z untuk penjumlahan unsur balikan atau invers dari a adalah (-a). Komutatif Ambil sebarang nilai dari Z5. . misalkan 2 dan 3 Z5 2 + 3 = 0. 4} terhadap penjumlahan (Z5.3 dan 4 Z5 (2 + 3 ) + 4 = 0 + 4 = 4 2 + (3 + 4) = 2 + 2 = 4 sehingga (2 + 3 ) + 4 = 2 + (3 + 4) = 4 maka Z5 assosiatif d. misalkan 2 dan 3 Z5 2+3=0 3+2=0 sehingga 2 + 3 = 3 + 2 = 0 maka Z5 komutatif c. misalkan 2 Z5 2 + (-2) = 2 – 2 = 0 = e (-2) + 2 = -2 + 2 = 0 = e sehingga 2 + (-2) = (-2) + 2 = 0 = e maka Z5 ada unsur balikan atau invers. misalkan 2 Z5 2+e=2+0=2 2+e=0+2=2 sehingga 2 + e = 2 + e = 2 maka Z5 ada unsur satuan atau identitas e. misalkan 2. 2.6 : Buatlah table operasi biner Z5 = {0. Penyelesaian: Terlebih dahulu kita definisikan operasinya: 0+3=30+4=4 1+3=41+4=0 2+3=02+4=1 3+3=13+4=2 4+3=24+4=3 setelah itu kita buat table operasi biner dari (Z5. sehingga a + (-a) = a – a = 0 = e dan (-a) + a = -a + a = 0 = e Contoh 2. karena hasilnya 0 Z5. maka tertutup terhadap Z5 b. Tertutup Ambil sebarang nilai dari Z5.= a dan e + a = 0 + a = a 5.+) +01234 001234 112340 223401 334012 440123 untuk mengetahui sifat-sifat penjumlahan operasi binernya dapat dilihat dari table: a.2 Operasi biner (Z5. Adanya unsure balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari Z5. +} dan tunjukkan sifat-sifat dari operasi binernya. Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari Z5.

Tertutup Misalkan a dan b adalah suatu anggota himpunan tak kosong.+) .a = 1 = e Contoh 2. akan dijelaskan definisi dan contoh dari opersi biner terhadap perkalian yang merupakan grupoid. ) atau (Z. a2 = a1 a5 .3 Operasi Biner Terhadap Perkalian Pada sub pokok bahasan ini. Misalkan Z6 = {0.a5} terhadap perkalian (a. a 3.). a2.7 : buatlah table operasi biner A = {a1. a3 . misalkan a1 dan a2 A a1 . Adanya unsur balikan atau invers Misalkan a Z untuk perkalian unsur balikan atau invers dari a adalah (a-1)= . ) atau (Z6.6 : Sifat operasi biner pada himpunan bilangan bulat Z terhadap perkalian (Z.1. Penyelesaian : Terlebih dahulu kita definisikan operasinya: a1 .2. a2 = a5 a4 . 1 = a dan e . c = a .3. Adanya unsur satuan atau identitas Misalkan a Z untuk perkalian unsur satuan atau identitas e = 1 sehingga a .4. .2. a = 1+a=a 5. sehingga a + (a-1) = a .1. b Z 2. = 1 = e dan a-1 .1.3. a2 = a2 setelah itu kita buat table operasi biner dari (A. e = a .5}dan (Z6.3. (b .a4 .c Z maka (a . ) atau (Z.3 Operasi biner (A.4.5} Definisi 2.2. b = b .4.2. . Assosiatif Misalkan a. Komutatif Ambil sebarang nilai dari A misalkan a1 dan a2 A . dismbolkan dengan (Z.b Z maka a . Tertutup Ambil sebarang nilai dari A. Komutatif Misalkan a.) Tabel 2. a= . .5} ini menyatakan bahwa bilangan bulat Z tertutup terhadap {0.b. maka perkalian a dan b tertutup terhadap bilangan bulat Z bila a . maka tertutup terhadap A b. a2 = a3 karena hasilnya a3 A.. c) 4. a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 a1 a2 a3 a4 a5 Untuk mengetahui sifat-sifat perkalian operasi binernya dapat dilihat dari table: a.) menyatakan bahwa perkaliann bilangan bulat Z tertutup terhadap Z6 = {0. a2 = a4 a3 .) dan tunjukkan sifat-sifat dari opersi binernya.) adalah : 1. a2 = a3 a2 . b) ..

e = a . a-1= a . a2 dan a3 A (a1 . a3 )= a1 maka A assosiatif d. e = e + a1 = a maka A ada unsur satuan atau identitas e. . Definisi 2. a1 = a3 sehingga a1 . Model yang paling mudah dipahami adalah bilangan bulat.Dalam grupoid tersebut kita tahu jika ab = ac maka b = c dimana a 0.).7 : Sebuah grupoid S dikatakan memenuhi hokum pencoretan kiri jika kesamaan ab =ac mengakibatkan b = c. misalkan a1 A a1.dimana a 0 Definisi 2. (a2 . a1 = 1 = e maka A ada unsur balikan atau invers.8 : Sebuah grupoid S dikatakan memenuhi hukum pencoretan kanan jika kesamaan ba = ca mengakibatkan b = c.9: Himpunan semua bilangan bulat tak nol merupakan grupoid komutatif terhadap perkalian yang memenuhi hokum pencoretan. a3 = a1 a1 . a2 ) . (a2 . Definisi 2. a2 = a3 a2 .Misalkan kita ambil grupoid dari himpunan semua bilangan bulat yaitu(Z. Assosiatif Ambil sebarang nilai dari A misalkan a1 . . Definisi 2. a3 = a3 .a1 . Pada bagian ini dibicarakan lebih lanjut tentang bilangan bulat yaitu tentang algoritma pembagian bilangan bulat dan bilangan bulat modulo n dengan menggunakan prindip kongruensi. a2 = a3 = a2 . a3 = a1 .sifat ini dinamakan hukum pencoretan kiri bila ba = ca maka b = c dimana a 0. a = a sehingga a1 . Masih ada beberapa hal lagi yang dapat kita katakana mengenai grupoid terhadap perkalian. a2 ) .dimana a 0. a5 = a1 sehingga (a1 . Adanya unsur balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari A. = 1 a-1 . a= 1 sehingga a1. a3 )= a1 .4 . 2. a-1= a-1 .10: Himpunan semua bilangan asli merupakan grupoid komutatif terhadap perkalian yang memenuhi hokum pencoretan. 1 = a e + a1 = 1 . untuk memahami topik-topik yang ada pada struktur aljabar diperlukan suatu contoh sebagai model. a1 = . Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari A misalkan a1 A a1 . Bilangan Bulat Modulo n Telah dikemukakan.maka sifat ini dinamakan hukum pencoretan kanan. a1 = a3 maka A komutatif c.

dan dikatakan a dan r kongruen modulo n. karena 9 – 2 2. 3 dikatakan bukan pembagi 8. 4. .5 Rangkuman 1. sebab tidak terdapat q Z yang memenuhi 8 = 3q dengan kata lain 8 3q untuk sebarabg q Z. sehingga dapat dikatakan n membagi a – r. karena 8 – 2 = 2 .b.12: 8 2 (mod 3) merupakan kongruen modulo n. Selanjutnya a disebut bilangan yang dibagi. q disebut hasil bagi. jika terdapat q Z yang memenuhi a = bq. dimana a 0. sebaliknya b tidak membagi a. untuk a. Bilangan bulat q dan r ditentukan secara tunggal oleh a dan b yang diperlukan. sebab 8 = 4 . b Z. Grupoid adalah suatu struktur aljabar yang mempelajari hanya satu operasi biner (terhadap penjumlahan atau perkalian). 3 contoh 2. b Z dan b 0.c Z dan n 0. 2 Contoh 2. dinotasikan b / a. b dikatakan membagi a. n Z dimana n 0. dan grupoid S dikatakan memenuhi hokum pencoretan kanan jika kesamaan ba=ca mengakibatkan b=c.*) terhadap penjumlahan ataupun perkalian adalah : • Tertutup • Komutatif • Assosiatif • Adanya unsure satuan atau identitas • Adanya unsure balikan atau invers 2.1 : (Algoritma Pembagian) Misalkan a. Contoh 2. Struktur Aljabar adalah ilmu yang mempelajari suatu himpunan dengan satu atau lebih operasi biner yang diberlakukan pada system aljabar tersebut. dinotasikan b a. Sifat-sifat operasi biner (*) pada suatu himpunan bilangan bulat Z disimbolkan dengan (Z. r Z demikian sehingga a = bq + r. Contoh 2.10: Misalkan a.r Z demikian sehingga a = nq + r.11: 3 ╪ 8. jika tidak terdapat q Z yang memenuhi a = bq.10: 4| 8. Sebuah grupoid S dikatakan hokum pencoretan kiri jika kesamaan ab=ac mengakibatkan b=c. dengan 0 r < . jika membagi (a – b). terdapat q. 3. b disebut pembagi.Teorema 2. dengan 0 r < . Dalam hal ini dapat ditulis a – r = nq. maka terdapat q. 4 dikatakan pembagi 8. ditulis : a = r (mod n) secara eksplisit dua bilangan bulat a dan b kongruen modulo n didefinisikan sebagai berikut: Definisi 2. b disebut pembagi a atau factor dari a. ditulis a = r(mod n). Berdasarkan algoritma pembagian bilangan bulat.3 2. bilangan bulat a dan b dikatakan kongruen modulo n. dimana a 0.13: 9 2 (mod 3) bukan merupakan kongruen modulo n.9: Misalkan a. dan r disebut sisa. Definisi 2.

ditulis a r (mod n). b. 1. Tunjukkan apakah perkalian matriks A = dan B = adalah komutatif atau bukan. Bilangan bulat q dan r ditentukan secara tunggal oleh a dan b yang diperlukan. b Z dan b 0.. Assosiatif terhadap penjumlahan . Misalkan a. bilangan bulat a dan b dikatakan kongruen modulo n. 6. Tunjukkan sifat-sifat operasi biner dari a + b dan a . maka q. maka x = y.1. Buktikan jika bx = by (b 0. b. Buktikan teorema 1 (Algoritma Pembagian) dalam sub pokok bahasan 2. c Z dan n 0. E himpunan bilangn genap yang tidak tertutup terhadap operasi biner. jika membagi (a-b). dan r disebut sisa. yang merupakan struktur aljabar yang paling sederhana. Selanjutnya a disebut bilangan yang dibagi. Menjelaskan serta memberi contoh suatu Semigrup b.1 Semigrup dan Monoid Telah kita pelajari konsep grupoid yaitu suatu struktur aljabar dengan satu operasi biner. 2. n Z Didefinisikan m * n = m + n + 1 Tunjukkan : a.4 BAB 3 SEMIGRUP DAN MONOID Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengidentifikasi dan memahami konsep dari Semigrup dan Monoid. Misalkan a. 3. Untuk sebarang m.2. Misalkan X = {0. Grupoid adalah suatu struktur aljabar hanya dengan satu operasi biner saja dan tanpa syarat apa-apa. b disebut pembagi. tetapi sudah diberi prasyarat yaitu sifat tertutup dan assosiatif dari operasinya. akan dipelajari struktur aljabar dengan satu operasi biner.5. Diketahui : a*b=c 3*1=0 3*2=1 3*3=2 Buatlah table operasi biner dan jelaskan sifat-sifatnya. 5. 2.+) tertutup terhadap penjumlahan 2.1: Suatu grupoid (G. 3. (G. Kompetensi Khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: a. b di Z+ jika a. K himpunan bilangna ganjil yang tertutup terhadap operasi biner. jika dalam bab sebelumnya dijelaskan mengenai struktur aljabar yang mempunyai satu atau dua operasi biner. 6. q disebut hasil bagi. Dalam sub pokok bahasan ini.3} dimana X Z. r Z demikian sehingga a = bq +r. Definisi 3. +) dikatakan semigrup terhadap penjumlahan jika memenuhi syaratsyarat: 1. x dan y Z). Menjelaskan serta memberi contoh suatu Monoid Deskripsi Singkat: Dalam bab ini merupakan kelanjutan dari bab 2. dengan 0 r < .6 Soal-soal latihan. dalam bab ini akan dibahas mengenai Semigrup yang mempunyai satu prasyarat tertutup dan assosiatif dan operasinya dan bila Semigrup memiliki unsur kesatuan maka dinamakan Monoid. b Z+ 4. gunakan hokum pencoretan kiri.

merupakan semigrup terhadap penjumlahan dengan lambing (N.+) dan (R. +). . y = a dan z = a (x . (Z.abcd abcda bdabc cabcd dcdab Tunjukkan apakah grupoid tersebut merupakan suatu semigrup. 2. Assosiatif terhadap perkalian Contoh 3. Definisi 3.4 : Misalkan suatu grupoid yang didefinisikan dalam disajikan daftar Cayley sebagai berikut: Table 3.a =d x . Tertutup Misalkan a. .3 : Misalkan himpunan bilangan asli N. .2 : Suatu grupoid (G. (G. Misalkan x =a.1 : Grupoid bilangan asli N.) bilangan real. bilangan rasional Q dan bilangan R. Contoh 3. Assosiatif Misalkan a. Tunjukkan bahwa (N.+).) dikatakan semigrup terhadap perkalian jika memenuhi syarat-syarat : 1.) tertutup terhadap perkalian 2.Contoh 3. z = (a . merupakan semigrup terhadap perkalian dengan lambang (N.c N berlaku a * b) * c = a * (b * c) Jadi.b N a * b = a + b + ab N maka a * b tertutup terhadap bilangan asli N.2 : Grupoid bilangan asli N. (a . . a) . a) . bilangan bulat Z. (Q. bilangan bulat Z.) untuk bilangan rasional dan (R.+).1 Daftar Cayley suatu grupoid . (Z. Penyelesaian : Akan ditunjukkan apakah grupoid tersebut assosiatif atau bukan. z) = a . . *) yang didefinisikan a * b = a + b + ab merupakan suatu semigrup.) untuk bilangan bulat. bilangan rasional Q dan bilangan R. (N.b. Contoh 3.c N (a * b) * c = (a + b + ab) * c = (a + b + ab) + c + (a + b + ab) c = a + b + ab + c + ac + bc + abc a * (b * c) = a * (b + c + bc) = a + (b + c + bc) + a (b + c + bc) = a + b + c + bc + ab + ac + abc Maka a. a =b. y) . Penyelesaian : 1. (y .b. (Q. *) adalah suatu semigrup.) untuk bilangan asli. didefinisikan sebagai operasi biner a * b = a + b + ab. .

Dengan kata lain.3 Soal-soal latihan 1. Suatu grupoid (G. Definisi 3. . Suatu semigrup yang memiliki unsure satuan atau identitas dinamakan sebuah monoid. *) tertutup • Assosiatif 2. diidentifikasikan sebagai operasi biner x * y = x . semigrup terhadap perkalian yang mempunyai unsur satuan atau identitas (e = 1) disebut monoid terhadap perkalian. *) dikatakan semigrup jika memenuhi syarat-syarat : • (G.4 : Suatu grupoid (G. (G. Assosiatif terhadap penjumlahan 3.+). . semigrup yang mempunyai unsur satuan atau identitas disebut monoid.=a. .2 Rangkuman 1. . (y . +). bilangan rasional (Q.5 : Grupoid-grupoid bilangan bulat (Z. Mempunyai unsur satuan atau identitas terhadap penjumlahan. Contoh 3. Kalau kita buat bagan yang melukiskan suatu struktur aljabar yang berupa semigrup dan monoid dapat diperoleh gambar sebagai berikut: Gambar 3. Misalkan himpunan bilangan asli N. 3. semigrup terhadap penjumlahan yang mempunyai unsur satuan atau identitas (e = 0) disebut monoid terhadap penjumlahan. *) dikatakan smonoid jika memenuhi syarat-syarat : • (G. Dengan kata lain.) tertutup terhadap perkalian 2. z = d dan x . z) = c Sehingga (x . (y .1 Gambar dari suatu Semigrup dan Monoid 3. y) . bilangan rasional (Q. Assosiatif terhadap perkalian 3. dijelaskan pada definisi berikut ini : Definisi 3.+) tertutup terhadap penjumlahan 2.*) tertutup • Assosiatif • Mempunyai unsure satuan atau identitas Dengan kata lain.+) dikatakan monoid terhadap penjumlahan jika memenuhi syaratsyarat: 1. kesemuanya juga memiliki unsur satuan atau identitas yaitu nol (0).+) dan bilangan (R.b =c Didapat (x . merupakan monoid-monoid karena selain kesemuanya memiliki sifat assosiatif.).). (G.) dan bilangan (R. Suatu grupoid (G. y) .3 : Suatu grupoid (G. z) Jadi grupoid tersebut bukan merupakan suatu semigrup. Mempunyai unsur satuan atau identitas terhadap perkalian.) dikatakan monoid terhadap perkalian jika memenuhi syarat-syarat : 1. kesemuanya juga memiliki unsur satuan atau identitas yaitu satu (1). . merupakan monoid-monoid karena selain kesemuanya memiliki sifat assosiatif. Contoh 3. z x.6 : Grupoid-grupoid bilangan bulat (Z.

Tertutup GMisalkan a. himpunan bagian dari Grup yang merupakan Subgrup. serta mementukan orde suatu Grup. 4.*) merupakan monoid. BAB 4 DASAR-DASAR GRUP Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal sifat-sifat dasar suatu Grup. baik itu terhdap penjumlahan atau perkalian.2. 2. Sifat-sifat Grup Pada bab 3. Mengidentifikasi suatu himpunan bagian dari suatu Grup merupakan suatu Subgrup atau bukan d. Dalam bab ini akan dibahas mengenai sifat-sifat atau syarat suatu grup. Menentukan orde suatu Grup Deskripsi Singkat: Grup merupakan struktur aljabar dengan satu operasi biner. semigrup b. c. Kompetensi Khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: a. telah kita pelajari konsep semigrup yaitu suatu struktur aljabar dengan satu operasi biner (grupod terhadap suatu penjumlahan atau perkalian) yang memiliki prasyarat tertutup dan assosiatif. b adalah anggota G maka a dan b tertutup bila a * b b. monoid 4. Tunjukkan bahwa (N. b di Z+ memenuhi sifat-sifat dari: a.*) dikatakan suatu grup jika memenuhi syarat-syarat: a.1. Asosiatif . adapun definisi mengnai grup adalah: Definisi 4. tunjukkan bahwa (N. Adapun untuk lebih jelasnya mengenai syarat-syarat suatu grup akan dijabarkan dalam definisi berikut ini: Definisi 4. Misalkan X = {0.+ y – xy. 3. Membuktikan dan menerapkan sifat-sifat sederhana suatu grup. Dari soal no 1. dari definisi tersebut dapat kita ketahui syarat-syarat dari suatu grup yaiutu memenuhi sifat monoid dan setiap anggotanya memiliki unsure balikan atau invers. Mengidentifikasi suatu himpunan tak kosong terhadap operasi suatu grup b.2 : Grupoid (G. akan dipelajari definisi atau syarat-syarat dasar dari suatu grup dan mengaplikasikannya dalam contoh-contoh soal sederhana. Diketahui : a*b=c 3*1=0 3*2=1 3*3=2 Buatlah tabel operasi biner dan apakah memenuhi sifat-sifat semigrup dan monoid.*) adalah suatu semigrup.1: Suatu monoid (G.3} dimana X Z. Sedangkan monoid adalah suatu struktur aljuabar dengan satu operasi biner (semigrup yerhadap penjumlahan atau perkalian)yang setiap anggotanya memiliki unsure satuan atau identitas.*) dikatakan suatu grup jika setiap anggotanya memiliki unsure balikan atau invers yaitu : G sehingga a * a-1 = a-1 * a = e a-1  G  a  Dengan kata lain. Tunjukkan bahwa operasi biner dari a + b dan a . Dalam sub pokok bahasan ini.

1) = -1 . -1 = 1 . Adanya unsur satuan atau identitas G maka a * e = e * a = aMisalkan a d.1 Daftar Cayley G = {-1. b) . -1 = – . -1 = -1 sehingga -1 . Adanya unsure satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan -1 -1 . Tertutup Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan 1 dan -1 -1 . c) = -1 . Apakah G merupakan suatu grup terhadap penjumlahan (G.1} terhadap (G. e = e . -1 = 1 sehingga (a . e = -1 . (b . c) = 1 maka G assosiatif C. -1 = -1 maka G ada unsure satuan identitas atau invers D. b. 1 = -1 e . Tunjukkan bahwa G adalah suatu grup terhadap perkalian (G. -1 = 1 = e Maka G ada unsure balikan atau invers Jadi. (-1)-1 = -1 .) . 1 = -1 G. (b . (-1 . – = 1 = e (-1)-1 . maka tertutup terhadap Gkarena hasilnya -1 B.1 akan ditunjukkan bahwa G = {-1. Assosiatif Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan a = -1.2 : Misalkan G = {-1. Adanya unsure balikan atau invers GAmbil sebarang nilai dari G. c = (-1 . c c.1} adalah suatu himpunan.1} merupakan grup terhadap perkalian (G. G = {-1. b = -1 dan c = 1 (a .1} terhadap (G.+) .2 Daftar Cayley G = {-1. 1 = 1 .1 = 1 a . c = a .G maka (a * b) * c = a * (b * c)Misalkan a. -1 1 -1 -2 0 102 .) Contoh 4. +) Penyelesaian: Tabel 4.). ..) Penyelesaian: Tabel 4. . yaitu : A..1: Misalkan G ={-1. Adanya unsure balikan atau invers R maka a * a-1 = a-1 * a = e = 0Misalkan a Contoh 4. b) . misalkan -1 -1 . -1 = 1 = e Sehingga -1 . (-1)-1 = (-1)-1 .1} adalah suatu himpunan. -1) . -1 1 -1 1 -1 1 -1 1 Dari tabel 4.1} merupakan suatu grup terhadap perkalian (G.

+). maka tertutup terhadap Gkarena hasilnya 0.1. Operasi penjumlahan himpunan G = {-1.1}menghsilkan {-2. 1. 0.+) +012345 0012345 1123450 2234501 3345012 4450123 5501234 Dari tabel 4. 3. Assosiatif Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan a = 2.3 Daftar cayley G ={0. 2}adalah bukan merupakan anggota dari himpunan G = {-1. +). . 3. 1. GMisalkan 4 4 + (-4) = 4 – 4 = e (-4) + 4 = -4 + 4 = e Sehingga 4 + (-4) = (-4) + 4 = 4 = e Maka G ada unsur balikan atau invers Jadi. 4. maka operasi penjumlahan G = {-1. 5} terhadap (G. +).3: Misalkan G ={0. 2. 2. Tertutup Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan 0. 3. yaitu: a. Penyelesian: Tabel 4. 4. 2. 4. 5} merupakan grup terhadap penjumlahan (G. 2. 5 1+2=3 1+3=4 1+4=5 1+5=0 G.Berdasarkan daftar Cayley tabel 4.+). 2. tunjukkan bahwa G adalah suatu grup terhadap penjumlahan (G. Contoh 4. 1. 5} adalh merupakan himpunan dari Z6. 3. 4. 3. b = 4 dan c = 5 (a + b) + c = (2 + 4) + 5 = 0 + 5 = 5 a + (b + c) = 2 + (4 + 5) = 2 + 3 = 5 sehingga (a + b) + c = a + (b + c) = 5 maka G assosiatif c. 0. G = {0. 1. 3. 4. 5}merupakan suatu grup terhdap penjumlahan (G.1} adalah bukan suatu grup terhadap penjumlahan (G.3 akan ditunjukkan bahwa G ={0. Dikarenakan {-2. 5 b. Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari G GMisalkan 4 4+e=4+0=4 e+4=0+4=4 sehingga 4 + e = e + 4 = 4 maka G ada unsure satuan identitas atau invers d.2. 2}.1}tidak tertutup terhadap himpunannya. Adanya unsur balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari G. 4. Sehingga G = {-1. 1.

-1 = -1 karena grup tersebut memnuhi sifat komutatif.5: Dari contoh 4. Ambil sebarang nilai dari G : G (pada tabel 4.1)Misalkan 1 dan -1 -1 . b.1} adalah suatu grup komutatif terhadap perkalian (G. Adanya unsur satuan atau identitas G maka a * e = e * a = aMisalkan a d. Sekarang akan ditunjukkan sifatkomutatif dari grup tersebut.4: Dari contoh 4.3)Ambil sebarang nilai dari G. misalkan 1 dan 5 1+5=0 5+1=0 sehingga 1 + 5 = 5 + 1 = 0 .*) dikatakan grup komutatif (grup abelian) jika memenuhi syaratsyarat : a.). b Contoh 4. 1. 4. 1 = -1 1 . Contoh 4. Adapun definisinya adalah sebagai berikut: Definisi 4. 5} adalah suatu grup terhadap penjumlahan (G.1} adalah suatu grup terhdap perkalian (G.SEMIGROUP GROUPOID MONOID GROUP Gambar 4. dimana a* b = b * a.3 : Suatu grupoid (G.3 tunjukkan bahwa G = {0. 2.1. Asosiatif G maka (a * b) * c = a * (b * c)Misalkan a. Sekarang akan ditunjukkan sifat komutatif dari grup tersebut. Tertutup GMisalkan a. 1 = 1 . Adanya unsure balikan atau invers G maka a * a-1 = a-1 * a = eMisalkan a e. 3. Bagan dari suatu Grup Bila suatu grup memenuhi sifat komutatif. Penyelesaian: Dari contoh 4. -1 = -1 sehingga -1 . maka grup tersebut dinamakan grup komutatif atau grup abelian.+). c c.).+).1. 5} adalah suatu grup komutatif terhadap penjumlahan (G. Komutatif G maka a * b = b * aMisalkan a.. 3. maka grup tersebut adaloah grup komutatif atau grupabelian terhadap perkalian (G. Penyelesaian: Dari contoh 4.3 telah ditunjukkan bahwa G = {0..1 telah ditunjukkan bahwa G = {-1. 4.. tunjukkan bahwa G = {-1. G (pada tabel 4. b adalah anggota G maka a dan b tertutup bila a * b b. 2. 1.).

+) adalah suatu grup. a-1. b. G. G maka (ab)-1 = b-1a-1Jika a. dengan sifat ketunggalan balikan.)adalah suatuu grup dan a. G. maka -(-a) = aJika a b. Sub Grup Pada sub pokok bahasan ini akan diperkenalkan subgroup yang merupakan bagian dari grup. Jika ax = bx.. Jika a + x = b + x. (ab) (b-1a-1) = ((ab)b-1)a-1 = (a(bb-1))a-1 = (ae)a-1 = aa-1 = e Dengan cara yang sama didapat : (b-1a-1) (ab) = b-1(a-1(ab)) = b-1((a-1a)b) = b-1(eb) = b-1b = e Sehingga dengan sifat ketunggalan balikan.4: G. Jika xa = xb. maka -(a+b) = (-a) + (-b)Jika a. b. maka a = b (penghapusan kanan) Bukti: a. maka grup tersebut adalah grup komutatif atau grup abelian terhadap penjumlahan (G. b Bukti: 1. .3 dapat ditulis sebagai berikut: Teorema 4. teorema 4. maka a = b (penghapusan kiri) b. Dari sifat unsur satuan atau identitas. maka dapat dikatakan bahwa a unsure balikan dari a-1 .+) Ada beberapa sifat dari suatu grup. yang akan dijelaskan dalam teorema berikut ini: Teorema 4. x a. Misalkan ax = bx Maka: (ax)x-1 = (bx)x-1 a (x-1x) = b (x-1x) ae = be Sehingga : a = b (penghapusan kanan) Dalam operasi penjumlahan (+). Secara harfiah subgroup dapat diartikan sebagai grup bagian yang mempunyai sifat-sifat dari grup. maka a = b (penghapusan kiri) b.) adalah suatu grup.1 Misalkan (G. maka:Misalkan (G. Adapun definisinya adalah sebagai berikut: . didapat (a-1)-1 = a 2. teorema tersebut dapat ditulis sebagai berikut: Teorema 4. x a. a = e = a . diketahui a-1 . G maka (a-1)-1 = aJika a b. maka a = b (penghapusan kanan) a. maka: a. Misalkan xa = xb Maka: x-1(xa) = x-1(xb) (x-1x) a = (x-1x) b ea = eb Sehingga : a = b (penghapusan kiri) b.+)adalah suatuu grup dan a.2: Misalkan (G. maka: a. maka:Misalkan (G. didapat (ab)-1 = b-1a-1 Dalam operasi penjumlahan (+). b Teorema 4. Jika x + a = x + b.karena grup tersebut memnuhi sifat komutatif.3: G.

*). akan ditunjukkan H = {1} memenuhi syarat-syarat suatu grup: a. harus ditunjukkan bahwa (H.H = {0. GHarus ditunjukkan bahwa H b. 4.). (H. H = {1} memenuhi syarat-syarat suatu grup. tunjukkan bahwa H = {1} adalah merupakan subgroup dari G = {-1. Adanya unsur balikan atau invers HMisalkan 1 1 .e=1. (1 . 2.1. . (1)-1 = (1)-1 . (b .1=1. maka tertutup terhadap Hkarena hasilnya 1 b. 2. harus melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Penyelesian: G. c = a . 4}memenuhi syarat-syarat suatu grup: a. c) = 1 maka H assosiatif c. (b . .1=1 e.5: G. Adanya unsur satuan atau identitas HMisalkan 1 1. 3.*).6: Dari contoh 4. 2. 1. Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa untuk membuktikan bahwa (H. jika (H.*) adalah suatu grup terhadap operasi yang ada dalam (G.*). (1)-1 = 1 . 1 = . b) .*) merupakan suatu grup Contoh 4. c = (1 .). 5} terhdap penjumlahan (G. akan ditunjukkan H = {0.) merupakan subgroup dari (G.7: Dari contoh 4.1}sehingga H Dari tabel 4. 1 = 1 = e Sehingga 1 . 1 = 1 = e. Assosiatif HMisalkan a = 1. 4.3.1=1 sehingga -1 . Contoh 4. Tertutup Ambil sebarang nilai dari H HMisalkan 0.*) adalah subgroup dari grup (G.*) adalah suatu grup dan H dari (G.1} terhadap perkalian (G. . e = e . 3. 1 = 1Misalkan 1 H. b) .*) dikatakan subgroupMisalkan (G. Tertutup H dan 1 . 1) . 4} adalah merupakan subgroup dari G = {0. 1) = 1 . maka tertutup terhadap Hkarena hasilnya 0. 2. sehingga (H. +). 4 0+0=0 0+2=2 0+4=4 2+2=4 2+4=0 4+4=2 H. 1 = 1 . 2.3. 2. 1 = 1 sehingga (a . 5} sehingga H Dari tabel 4. c) = 1 . 4} adalah merupakan subgroup dari G = {0. = 1 = e (1)-1 .Definisi 4. b = 1 dan c = 1 (a . Penyelesaian: G. 1. tunjukkan bahwa H = {0. 4 . -1 = -1 maka H ada unsur satuan identitas atau invers d.H = {1} merupakan himpunan bagian dari G = {-1. 2. maka G ada unsur balikan atau invers Jadi.1.1 = 1 a .

5}. b) . 3} adalah bukan merupakan subgroup dari G = {0.+) maka bukan merupakan subgroup dari G = {0. Orde suatu Grup G. 3 Dari tabel 4. . Penyelesaian: G. G Definisi4. 1. 3.*) disebut G disebut orde dari grup (G. H = {0. sedemikian hingga an = e (e = 1. (G.8: Dari contoh 4.+) karena operasi di Z dan di G = {-1. 5} terhadap penjumlahan (G. 3. Unsur dari grup ini dapat membentuk atau membangun suatu grup. Contoh 4.*). 2.6: Misalkan (G. maka orde dari unsur tersebut tak hingga. (b . sehingga (H. . Adanya unsur balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari H HMisalkan 4 4 + (-4) = 4 – 4 = 0 = e (-4) + 4 = -4 + 4 = 0 = e Sehingga 4 + (-4) = (-4) + 4 = 0 = e. 4} memenuhi syarat-syarat suatu grup. Banyaknya unsure-unsur dari grup (G. +) merupakan subgroup dari (G. tunjukkan bahwa H = {1. 5}. 1. didapat : 2 + 3 = 5 H.b. maka G ada unsur balikan atau invers Jadi.*) .3. Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari H HMisalkan 4 4+e=4+0=4 e+4=0+4=4 sehingga 4 + e = e + 4 = 4 maka H ada unsur satuan identitas atau invers d. 1. 3} adalah bukan merupakan subgroup dari G = {0. 2. +).a merupakan unsure atauMisalkan G adalah suatu grup dan a anggota atau elemen dari grup. Contoh 4.7: Orde dari suatu unsur a dalam suatu grup (G. 2.3. Definisi 4. tetapi bukan merupakan subgroup dari (Z. 2. b = 2 dan c = 4 (a + b) + c = (2 + 2) + 4 = 4 + 4 = 2 a + (b + c) = 2 + (2 + 4) = 2 + 0 = 2 sehingga (a . 2. 2.1} adalah subgroup dari (Z. +).*) adalah suatu grup. Bila tidak ada bilangan seperti n tersebut. 3. untuk penjumlahan). 4.1} tidak sama.9: G = {-1. sehingga H Akan ditunjukkan bahwa H = {1. 4. b. dilambangkan dengan terhingga (finite) dan disebut grup tak hingga bila G grup hingga bila tah hingga.H = {1. 2.). 4. c) = 2 maka H assosiatif c.*) adalah bilangan bulat positif terkecil n. sehingga lima tidak tertutup terhadap operasi biner G tetapi 5 5 (H. untuk perkalian) na = e (e = 1. Assosiatif Ambil sebarang nilai dari H HMisalkan a = 2. jumlah dari unsure suatu grup atau subgroup tersebut disebut orde. c = a . 3} memenuhi syarat-syarat suatu grup: HAmbil sebarang nilai dari H misalkan 2.

Contoh 4. 1. 3. 2.*) disebut orde dari grup (G.*) adalah subgroup dari grup (G. 4.*). Banyaknya unsure-unsur dari grup . Z+} yang didefinisikan operasi biner pada G dengan a * b = a + b + ab. 2.*) adalah bilangan bulat positif terkecil n. 2. 3} orde dari Subgroup dari unsure-unsur Z4 adalah: Z4}Missal n = 0. 4. 3 dan Ha = {na. sedemikian hingga an = e (e = 1. (H. G. 2.+) dan (Z. jika (H. 1.*) merupakan suatu grup G. 2. Misalkan (G. Asosiatif c.*). Contoh 4.10: Orde dari grup (Z. 5} adalah 6 dan orde dari subgroup H = {0.11: Orde dari grup G = {0. 0} = 4 H3 Sehingga 4.*). untuk perkalian) na = e (e = 1.*) adalah suatu grup dan H subgroup dari (G. 1. 4. untuk semua a. n a=0 H0 = {0} = 1 H0 Sehingga a=1 H1 = {1. G hingga bila 5. b Misalkan G = {x . 4}adalah 3. Grupid (G. dilambangkan dengan terhingga (finite) dan disebut grup tak G disebut grup hingga bila tah hingga.4 Rangkuman a. Penyelesaian: = 4 Z4 Grup Z4 = {0. untuk penjumlahan).*) dikatakanDengan kata lain. 0} = 2 H2 Sehingga a=3 H3 = {3. (G.5 Soal-Soal Latihan 1. Orde dari suatu unsur a dalam suatu grup (G. 2. 1.*) G (G. Bila tidak ada bilangan seperti n tersebut.*) dikatakan suatu grup jika memenuhi syarat-syarat: a. Adanya unsur satuan atau identitas d.*) adalah suatu grup terhadap operasi yang ada dalam (G. (G.*). maka orde dari unsur tersebut tak hingga.) adalah tak hingga. harus melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. (H. harus ditunjukkan bahwa (H. GHarus ditunjukkan bahwa H b. 3. Tertutup b. Adanya unsur balikan atau invers 2.12: Tentukan subgroup dari Grup (Z4. 0} = 4 H0 Sehingga a=2 H2 = {2.Contoh 4. 3. . Suatu Grup dikatakan grup komutatif atau grup abelian jika memenuhi syarat-syarat dari grup dan mempunyai sifat komutatif.+) dan tentukan orde masing-masing subgroup.*) adalah suatu grup.

Tunjukkan apakah (G. b -(a + b) = (-b) + (-a). Siklik. Misalkan G adalah suatu grup dan 0 dan H G dengan H H terhingga. Memahami dengan baik definisi dari Homomorfisma Grup 7. telah dibahas mengenai orde dari suatu grup dan subgroup.+) dan tentukan orde dari masing-masing subgrupnya. Memahami dengan baik ketiga-tiga hokum homomorfisma 8. b.*) juga merupakan grup abelian. GMisalkan (G. G a. Misalkan Q+ adalah bilangan rasional positif.+) adalah suatu grup Buktikan : i. Memahami dengan baik definisi dari Grup Permutasi 5. Jika x + a = x + b. HOMOMORFISMA Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat Grup. buktikan apakah operasi bineruntuk a. G a -(-a) = a. 2. 5. Memberikan contoh dari Grup Siklik 4. Grup Permutasi dan Homomorfisma Grup.+) adalah suatu grup dan a. 3. Memberikan contoh dari Homomorfisma Grup Deskripsi Singkat: Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai definisi dan sifat-sifat atau syarat dalam membentuk suatu Grup Siklik. BAB 5 GRUP SIKLIK.*) merupakan suatu grup dan periksa apakah (G. Misalkan (G. GRUP PERMUTASI. Menentukan generator dan orde dari Grup Siklik 3.) 4. Misalkan g adalah grup matriks 2 x 2 . Grup Siklik Pada bab 4. Buktikan bahwa H suatu subgroup dari G jika H tertutup terhadap operasi yang ada dalam G. a. didefinisikan : Buktikan G adalah grup abelian terhadap oprasi biner perkalian (G. Memberikan contoh dari Grup Permutasi 6. b tersebut merupakan grup da periksa apakah merupakan grup abelian. Tentukan subgroup yang dibangun oleh unsure-unsur dari grup(Z9. Jika a + x = b + x. ii. 7. Pada sub pokok bahasan ini akan dijelaskan suatu orde dari suatu grup yang setiap unsurnya dapat . maka a = b (penghapusan kiri) b. Memahami dengan baik definisi dari grup siklik 2. didefinisikan operasi biner a * b = Q+ . . Kompetensi Khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: 1. maka a = b (penghapusan kanan) 6. Grup Permutasi dan Homomorfisma Grup. x Buktikan : a.

1: Misalkan G = {-1. n  {an Definisi 5. 2. Penyelesaian: Generator dari G = {0. bila ada elemen a Definisi 5. (1)1. (-1)2. 3} adalah 0. Contoh 5. Definisi 5. 2. 1. bila ada elemen a Z}.1} adalah -1 dan 1 [-1] = Z }n  {(-1)n = {(-1)0. 3} [2] = Z}n  {n(2) . Grup siklik yang beranggotakan banyaknya unsure terhingga dinamakan grup siklik berhingga dan grup siklik yang beranggotakan banyaknya unsure tak terhingga dinamakan grup siklik tak hingga.1. 3. Dengan kata lain. Definisi 5.1: (Terhadap perkalian) G sedemikian hingga G =Grup (G. Tentukan grup siklik dari grup tersebut. Jadi yang dimaksud dengan subgroup siklik yaitu suatu grup yang dibangkitkan oleh suatu unsur. 1. . maka subgroup tersebut dinamakan grup siklik. (1)2. sehingga: [1] = {1} Contoh 5. Suatu grup siklik bisa beranggotakan terhingga banyaknya unsur.ditulis sebagai perpangkatan (positif atau negatif) atau perkalian dari suatu unsure tetap dari grup tersebut. 1} Generator 1 adalah membangun grup siklik. 2.*). 1.3: G. 1.).*) adalah suatu grup dan a membangun suatu subgrup [a] dinamakan subgroup siklik dari (G. sehingga: [-1] = {-1.*) adalah suatu grup dan a membangun suatu subgrup [a] dimana [a] = G.+) disebut siklik. 3 [0] = Z}n  {n(0) = {0} [1] = Z}n  {n(1) = {0. Grup yang seperti ini dinamakan grup siklik.4: G.1. Tentukan grup siklik dari grup tersebut. elemen a disebut generator dari grup siklik tersebut.2: (terhadap penjumlahan) Z}.) disebut siklik.…} = {-1. grup siklik adalah subgroup yang unsure-unsurnya merupakan unsurunsur dari grup itu sendiri.+).…} = {1} Generator -1 adalah membangun suatu grup siklik. n  G sedemikian hingga G = {na Grup (G.1. 1. …} = {0. 2. bisa juga beranggotakan tak hingga unsur-unsur. maka generator a yangMisalkan (G. .1. Penyelesaian: Generator dari G = {-1. 3} adalah suatu grup terhadap penjumlahan (G.2: Misalkan G = {0.1} adalah suatu grup terhadap operasi perkalian (G. 1} [1] = Z }n  {(1)n = {(1)0. maka generator a yangMisalkan (G. (-1)1. 2.

-i} adalah grup bilangan kompleks terhadap perkalian (I4. i.+) merupakan grup komutatif.) merupakan grup siklik dan a merupakan pembangun dari G. i. (-i)-2.…} = {-1. 1. 3} generator 0 dan 2 adalah membangun subgroup siklik.+) merupakan grup siklik dan a merupakan pembangun dari G. (i)1. i. …} = {0. 2. Penyelesaian: [1] = {….n  Misalkan (G. G.= {0. (-1)2. 2. -2.+) merupakan grup siklik tak hingga yang dibangun oleh 1. 2} [3] = Z}n  {n(3) = {0. dan –i [1] = Z }n  {(1)n = {(1)0. 1 merupakan generator yang membentuk grup siklik tak hingga. 1. -2. 1. sehingga x = am dan y = anAmbil x. y x + y = na + ma = (n + m)a = ma + na = y + x Jadi. i. -1. (1)2. i} [-i] = Z }n  {(-i)n = {…. 2. -1. 1. -i} adalah 1. sehingga x = na dan y = ma. 2.3. -1. (i)3. i.3. sehingga G = {(a)n G. …} = {0. 1} generator 1 dan 3 adalah membangun suatu grup siklik. am = y . (-1)1.3. -1. untuk m.2. -i. sehingga G = {na Z. i. -1} generator i dan –i adaalh membangun suatu grup siklik. 1} [i] = Z }n  {(i)n = {(i)0. 0.4: Misalkan I4 = {1.1. . 3. -i} generator 1 dan -1 adalah membangun subgroup siklik. (1)1. tentukan grup siklik dari grup tersebut. sehingga : [0] = {0} [2] = {0. . Penyelesaian: Generator dari I4 = {1. y = am . an = am+n = an+m = an . 2. …} = {…. (G. 0. Contoh 5. …} Jadi. (i)4…} = {1.3. n Ambil x.1: Setiap grup siklik adalah grup abelian.2. sehingga : [1] = {1} [-1] = {1.…} = {1} [-1] = Z }n  {(-1)n = {(-1)0. Bukti: Z }.2.n  Misalkan (G. Z }. 2. -1} Teorema 5.3: Grup (Z. -1. (-1)1.…} = {1.1. (i)2. .1..1. untuk m. (G. 3.) merupakan grup komutatif. -1.1. n x . (-1)2. 1. -1. 2} Contoh 5. sehingga : [i] = [-i] = {1. y Z. sehingga : [1] = [3] = {0. 3. x Jadi.2. .). (-i)-1(-i)0.

Penyelesaian: Generator 1 dan 3 adalah membangun suatu grup siklik dari grup G = {0. tunjukkan bahwa grup siklik tersebut merupakan grup komutatif. dan generator a = 3 x + y = na + ma = (n + m)a = 1. maka hasil kali dari  dan Jika (i)) untuk setiap i = 1. disajikan :Permutasi Contoh 5.3 = 1 y + x = ma + na = (m + n)a = 2. sehingga x =na dan y = ma.3 = 3. sehingga :   kita definisikan komposisi Untuk menentukan (5) = 3(1)) = ((1) =  (4) = 5(2)) = ((2) =  (3) = 4(3)) = ((3) =  (2) = 1(4)) = ((4) =  (1) = 2(5)) = ((5) =  Jadi kita definisikan komposisiUntuk menentukan .5: Suatu pemutasi dari n unsur adalah suatu fungsi bijektif dari himpunan n unsure kehimpunan itu sendiri.3 = 1 Jadi. grup siklik G = {0. 5) sehingga (2) = 3.3 = (1 + 2).(4) = 5.+).3 + 1. n Misalkan x. 3}merupakan grup komutatif. b. 2.3 = 3.7: dua permutasi yang didefinisikan sebagai berikut : dan Misalkan dan Penyelesaian: . 3} terhadap penjumlahan (G. (3) = 4. G. bilangan-bilangan bulat (1. …. Z. 1. Untuk memudahkan digunakan bilangan bulat (1.6 : pemutasi pada himpunan permutasi-permutasi dariMisalkan (2) = 1. untuk m. berarti pertama kita mengerjakan permutasi kali pada hasil kalinya). Grup Permutasi Definisi 5. n) untuk menyatakan himpunan n unsur. 4.Contoh 5. 2.  Ditulis permutasi ini : di dan  adalah dua permutasi.(1) = 2. ….mengerjakan permutasi Contoh 5. sehingga :   (2) = 4(1)) = ((1) =  (1) = 5(2)) = ((2) =  (4) = 2(3)) = ((3) =  .3 + 2. 2. n( yaitu  ((i) = definisikan kemudian.2.5: Dari contoh 5. y Ambil n = 1 dan m = 2. 2. 3. 2. 3.3 = (2 + 1). 1. 3.

1.6: Misalkan A adalah suatu himpunan berhingga ari S(A) adalah himpunan semua pemetaan bijektif dari himpunan A pada dirinya sendiri.(5) = 1(4)) = ((4) =  (3) = 3(5)) = ((5) =  Jadi Definisi 5. dapat dibuktikan bahwa grup 3yang sebayakbanyaknya terdiri dari 5 unsur yang abelian.9: 3}. o). Grup dari semua permutasi dari himpunan n unsur n. 0. S(A) dan himpunan A  permutasi dari A jika dan hanya jika Jadi berhingga. 0.8: 2 =2 adalah 2! = 2. 2. adalah n! dan bila ndari > 2 dimana n bilangan bulat positif. 3 = {3 adalah 3! = 6. Sebarang himpunan permutasi-permutasi yang membentuk grup disebut grup permutasi. 2.1. sehingga Orde grup ari 0 = dan 1 = 1 = 2dan = 2 = dan 3 = Diperoleh tabel komposisi dari grup ini : Tabel 5.maka Contoh 5. sebelum rotasi sesudah rotasi 0 : rotasi 00 (3600) 1 : rotasi 1200 2 : rotasi 2400 sebelum pencerminan sesudah pencerminan 0 : pencerminan 1terhadap garis bagi . n tidak komutatif. Sedangkan 3 merupakan suatu contoh grup tidakterdiri dari 6 unsur. unsur-unsur 2 dapat ditafsirkan rotasi searah jarum jam dari segitiga sama1. 3. maka komposisi pemetaan adalah merupakan grup permutasi. Odisebut grup simetris berderajat n dan dinyatakan dengan (rder n. 1. dimana :2.  sisi meneglilingi titik berat bidang. 3komposisi grup simetris O 0 1 2 1 2 3 0 0 1 2 1 2 3 1 1 2 0 3 1 2 2 2 0 1 2 3 1 1 1 2 3 0 1 2 2 2 3 1 2 0 1 3 3 1 2 1 2 0 Grup tersebut tidak komutatif / abelian. Perhatikan segitaga sama sisi dengan titik sudut 1. sehingga Orde grup Contoh 5. sehingga abelian dengan unsure terkecil.

berbeda a. 3. misalnya : adalah siklus-4 dan dan Contoh 5. maka siklus-siklus tersebutdisebut siklus yang saling lepas(disjount). 1. Misalnya  = (5) =4(1) = (2) = 5.. dan 3(1) = 2(1) = (0) = 3.(x) = x bila x dan Dari definisi tersebut. . dan 5.Orbit dari 4 dan 7 adalah mereka sendiri. n}. …. a2.n dan a  adalah suatu permutasi lebih siklus. yang diberikan oleh siklus-2 yaitu (6 8). bila diperhatikan nilai dari n tak muncul dalam notasi siklus. jadi orbit dari 1 adalah {1. Dikarenakan tidak ada suatu bilangan yang termasuk ke dalam dua siklus yang berbeda. dan tiap-tiap orbit diberikan sebagai suatu siklus. 5} dan juga merupakan orbit dari 2. sisi dengan lambing D3 yang berarti grup dihedral ketiga. dapat digambarkan oleh gambar berikut:Orbit-orbit dari = (1Dapat kita periksa bahwa hasil dari 3 2 5)o(4)o(6 8)o(7). 3. Definisi 5. . tetap pada mereka. Grup dihedral ke-n dengan notasi D3 adalah grup simetris segi n yang beraturan.1 : pencerminan 2terhadap garis bagi 2 : pencerminan 3terhadap garis bagi 3 juga disebut grup simetris segitiga samaOleh karena alas an ini. Dalam permutasi a. …. 2. o  o 4 . 2. 2.…. Hitunglah 4) sebagai permutasi dalam Penyelesaian:  = (1 3 4 2) =  = (1 3) =  = (1 2) o (3 4) = o = sehingga oo=oo = = (2 4 3) Suatu permutasi yang tidak siklus dapat dipisahkan menjadi dua atau {1. permutasi yang didefinisikan oleh: (ar) = a1(ar-1) = ar.7: n  Bila a1 adalah unsur-unsur yang berbeda dari {1. (a1) = a2. (a2) = a3. 8}. 3.…2(a).  {a1. karena Orbit 6 dan 8 adalah {6. 3. Bila terdiri dari unsur yangmaka orbit atau putaran dari a didalam 3(a). ar} disebut siklus dari r unsur atau siklus-r. Permutasi dapat dipisahkan menjadi beberapa orbit yang berbeda. orbit tersebut diberikan oleh siklus-4 yaitu (1 3 2 5). Homomorfisma . n}.10: = (1Tulislah 3 4 = (12) dan = (13) serta 2)o(3 .. c.

B. Jika himpunan bilangan kompleks kita misalkan sebagai himpunan {e. bila : S a. b (b).11: Tunjukkan bahwa grup (Z2. . b.*) dan (T. Tabel 5. C}. seperti pada grup multikatif (perkalian) dari himpunan bilangan kompleks {1. -i} dan grup dari matriks-matriks terhadap perkalian matriks. Daftar cayley {E. maka fungsi : (S. i. Definisi 5. . Epimorfisma adalah suatu homomorfisma grup yang surjektif c.b) =  bila grupgrup-grup tersebut memiliki operasi berbeda. maka fungsi S a. Contoh 5.3. (a) . E AB C E E AB C AAE C B B B CAE CCBEA Dari tabel 5.) dan (T.) adalah merupakan dua grup. C} . i.o). bila : : S Bila (S.Sering kita jumpai adanya dua grup yang memiliki struktur yang sama. dikatakan perpadanan tersebut sebagai mengawetkan hasilkali.9: a. (a) o (a * b) =  Ada beberapa definisi khusus mengenai homorfisma adalah sebagai berikut : Definisi 5. yang memiliki daftar cayley yang sama atau identik. yang dinamakan isomorfik. Isomorfisma adalah suatu homomorfisma grup yang bijektif Definisi 5.3.) adalah merupakan homomorfisma. a.8: T disebtu homomorfisma grup.2. maka daftar cayley dapat kita buat seperti pada tabel 5. . B. c} dan grup dari matriks-matriks kita misalkan sebagai himpunan {E. dan 5. b (b). Dapat disimpulkan dari daftar cayley bahwa kedua grup tersebut struktur-strukturnya memiliki sifat yang sama atau identik. -1.Eabc eeabc aaecb bBcae cCbea Tabel 5. misalnya (S. -i} dan grup matriks sedemikian hingga jika x perpadanan dengan x’ dan y perpadanan dengan y’ maka xy berpadanan dengan x’y’.2. -1. dapat kita lihat adanya perpadanan satu-satu (1 – 1) antata unsur-unsur dari grup empat bilangan kompleks {1. Penyelesaian: Tabel 5.10: Suatu homomorfisma dari suatu grup ke dalam dirinya sendiri dinamakan suatu endomorfisma dan suat endomorfisma yang bijektif dinamakan automorfisma. a. b.3.*) (T. 1}. (a. A.4.2 dan 5. Daftar cayley {e.o) disebtu homomorfisma grup.+) dan (H = {-1. A. . c} . Monomorfisma adalah suatu homomorfisma grup yang injektif b.

Jadi kedua grup tersebut dikatakan isomorfik.…ar adalah unsure-unsur yang berbeda dari {1. x Z. maka : (x + y) = 2 (x + y) = 2x + 2y (x + y) ( y)(x) + = adalah suatu Homomorfisma. Misalkan A adalah suatu himpunan berhingga dan S(A) adalah himpunan semua pemetaan bijektif dari himpunan A pada dirinya sendiri.  (ar)(ar-1) = ar. Jumlah dari sebarang dua unsure di (Z2. +) yang didefinisikan pemetaan 2x. bila ada elemen a G sedemikian hingga G = {an │n Z}.4. 5. dengan kata lain pemetaan itu dari suatu Grup ke dalam dirinya sendiri. = a3. Grup (G.Daftar cayley grup (Z2. maka generator a yang membangun suatu subgroup [a] dimana [a] = G. = (1) = 1 . 1}. . 4. maka Subgrup tersebut dinamakan Grup Siklik. = (0 + 1) (1)(0) . sehingga merupakan Isomorfisma. . b (1) = -1. . menunjukkan kedua grup (Z2.a2.n}. Dari(H . Bila a1. (x) = : Z Z adalah Tunjukkan bahwa (Z. = a1 (x) = x bila xDan { a1. sehingga :(0) = 1 dan table diketahui pemetaan (a + b) (b)(a) . +) adalah grup penjumlahan dari semua bilangan bulat.) suatu homomorfisma yang pemetaannya bijektif.+) dan (H. 2.…ar} disebut suatu siklus dari r unsure atau siklus-r . .….+) dan (H = {-1.y Z.).) disebut siklik. bila ada elemen a G sedemikian hingga G={na │n Z}. Penyelesaian : Akan ditunjukkan sifat dari Homomorfisma: Misalkan x.4 Rangkuman 1.12: Misalkan (Z.) + 0 1 .a2.+) berkorespondensi pada hasil kali kedua unsur yang bersesuaian (H. Grup (G. -1 1 0 0 1 1 -1 1 1 0 -1 1 Dari tabel 5.2.) tidak sama. tetapi dari kedua tabel tersebut menunjukkan kemiripan satu dengan yang lainnya.+)Sekarang akan ditunjukkan bahwa pemetaan Z2.….3. sehingga terdapat korespondensi 1 – 1 dari kedua tabel tersebut. permutasi n yang didefinisikan oleh : (a2) (a1) = a2.*) adalah suatu Grup dan a G. Contoh 5. +) disebut siklik. -1 -1 = -1 : (Z2. .Sehingga merupakan suatu Endomorfisma karena daerahDalam hal ini Homomorfisma kawan (kodomain) sama dengan daerah asal (domain). . : (Z2. Misalkan (G. +)Jadi terbukti bahwa (H. Elemen a disebut generator dari Grup Siklik tersebut. 3. Hal ini menunjkkan bahwa kedua grup memiliki struktur yantg sama. adalah suatu Homomorfisma.) untuk setiap a. maka komposisi pemetaan adalah merupakan Grup Permutasi.

7.5 Soal-soal Latihan 1.) merupakan suatu Grup Siklik. Tunjukkan apakah (M.5. Dari fungsi f : R R berikut.+) ke (R. T = Terhadap operasi perkalian merupakan suatu Grup.*) (T.+) 10. x > 0. Z ke D3 BAB 6 GRUP FAKTOR Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat dari grup faktor. . Carilah orde Grup dari dan tentukan Grup Dihedral D4. bila :Suatu pemetaan (a . +) ke (R. Tentukan apakah: a. 8. bila :Suatu pemetaan (a * b) (b). Selidiki apakah himpunan permutasi-permutasi berikut: a. f(x) = b. θ = θ b. a. Buktikan bahwa jika (x) = In x. suatu Homomorfisma Grup yang surjektif disebut Epimorfisma. θ) θ) θ = θ (( 5. (a) . dan suatu Homomorfisma Grup yang bijektif disebut Isomorfisma. Buktikan dengan contoh bahwa Subgrup dari Grup Siklik merupakan juga Grup Siklik. Suatu Homomorfisma Grup yang injektif disebut Monomorfisma. = a. Suatu Homomorfisma dari suatu Grup ke dalam dirinya sendiri dinamakan suatu Endomorfisma dan suatu Endomorfisma yang bijektif dinamakan Automorfisma. dengan gambar dan buatlah table komposisinya. Diketahui matruks M = adalah suatu Grup terhadap perkalian. 2. 6. : S T dari Grup G ke Grup T disebut Homomorfisma Grup. Tunjukkan apakah (N.+).o) dari grup G ke Grup T disebut Homomorfisma Grup. (1 2 4 5) o (2 3 4) c. S= b.) merupakan suatu Grup Siklik. Carilah semua Homomorfisma Grup dari : a. maka adalah suatu Isomorfisma dari (R+. f(x) = x3 9. (a) o = a. Diketahui : θ = dan = . b S : (S. f(x) = 3x – 3 c. b) (b). . Carilah hasil kali dari permutasi-permutasi berikut: a. (3 7 2) o (1 5) o (4 2) 7. 5. manakah yang merupakan suatu Isomorfisma dari (R. Z ke Z4 b. 3. 4. x R. . Diketahui matriks N= adalah suatu Grup terhadap perkalian. b S 6. (1 4 6 7) o (2 5 3) b.

Suatu relasi T dari A ke B mempunyai sifat bahwa untuk suatu unsur a A dan b B. Kita katakan bahwa a kongruen dengan b modulo n. misalnya “<” pada himpunan bilangan-bilangan real. 6.b. aTa berlaku a A (sifat Refleksif) b. aTb dan bTc.b) merupakan anggota dari T. Menentukan Koset Kiri dan Koset Kanan dari Grup c. Suatu relasi dari himpunan A ke A sendiri disebut relasi pada A.1 Relasi Ekuivalen Pada bab 1. yaitu suatu himpunan bagian dari suatu Grup yang merupakan Grup terhadap operasi yang sama. telah dijelaskan secara singkat mengenai relasi. aTb maka bTa berlaku a. a dan b adalah bilangan-bilangan bulat. Himpunan dari semua kelas ekuivalen disebut himpunan faktor dari A oleh T. bila n membagi a – b. dan ditulis A/T. Menerapkan Teorema Lagrange dalam Grup d. “lebih pintar dari”. Memahami dengan baik pengertian Grup Faktor Deskripsi Singkat : Pada bab 4 telah diperkenalkan konsep tentang subgrup. himpunan bagian T dari A X B adalah grafik dari fungsi tersebut. Suatu relasi ekuivalen adalah relasi yang mempunyai beberapa sifat yang harus dipenuhi. Sedangkan relasi-relasi dalam matematika misalnya “sama dengan”. Relasi-relasi dalam kehidupan sehari-hari misalnya “orang tua dari”.Kompetensi Khusus : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat : a. Jadi A/T = {[a]| aTA} Suatu koleksi dari himpunan-himpunan bagian tak kosong disebut partisi dari himpunan A bila gabungan dari himpunan-himpunan bagian tersebut adalah A dan sebarang dua himpuanan bagian tersebut adalah lepas. Dengan demikian maka relasi-relasi adalah keadaan yang umum daripada fungsi-fungsi.c A (sifat Transitif) Bila T adalah suatu relasi ekuivalen pada himpunan A dan a A. maka [a] = {x A| xTa} disebut kelas ekuivalen yang memuat a. Suatu fungsi f : A B menunjukkan suatu relasi T dari A ke B yang memberikan aTb yang artinya f (a) = b. Bila (a. adalah anggota dari”. Suatu relasi T dari himpunan A ke himpunan B adalah himpunan bagian dari A X B.1 : Misalkan n adalah bilangan bulat positif. suatu terurut parsial pada suatu himpunan. Contoh 6. a A} dari AXA. dan “sebangun”. Gabungan dari koset-koset dari suatu Subgrup Normal dapat membentuk suatu Grup yang dinamakan Grup Faktor. maka aTb atau a=b. Satu unsur dapat berelasi dengan beberapa unsur atau tidak berelasi sama sekali. maka a berelasi dengan b. maka aTc berlaku a. yaitu operasi yang ada dalam Grup tersebut. yang ditulis : A = b mod n .b) bukan merupakan anggota T. maka a tidak berelasi dengan b dan ditulis a=b.b A (sifat Simetris) c. dan ditulis sebagai aTb. Menentukan relasi ekuivalen dari Grup b.a). Memahami dengan baik defenisi dari Subgrup Normal e. Dalam bab ini akan diperkenalkan dengan Subgrup Normal yaitu suatu Subgrup yang mempunyai sifat tambahan.1 : Suatu relasi T pada himpunan A disebut relasi ekuivalen bila memenuhi sifat-sifat berikut : a. “sama dengan (=)” adalah relasi pada suatu himpunan S dan didefenisikan oleh himpunan bagian {(a. atau “himpunan bagian dari ” pada suatu himpunan kuasa P(X) adalah relasi pada himpunanhimpunan tersebut. “berasal dari daerah yang sama dengan”. bila pasangan (a. seperti dalam defenisi berikut: Defenisi 6.

Penyelesaian : A b mod n bila dan hanya bila n | (a-b) a. Pada definisi berikut ini akan dijelaskan mengenai koset kiri dan koset kanan. 3. sehingga aTb Bila n | -(a-b)=n | (b-a). 4. maka aTc Jadi kongruensi modulo n adalah suatu relasi ekuivalen pada himpunan Z. Sifat Transitif a. sehingga bTc Bila n | (a-b) + (b-c) = n | (a-c).c Z Bila n | (a-b).2 Koset dan Teorema Lagrange Pada sub bab 6. 2. mempunyai kelas-kelas ekuivalen sebagai berikut : [0] = {…. maka = . bila aTb dan bTc. Definisi 6. …} = [1] Suatu kelas ekuivalen pada bilangan bulat modulo 2 haruslah satu diantara [0] atau [1]. ini berarti a a mod n. ini berarti a b mod n. 2. Jadi (1. 0.d) bila dan hanya bila ad = bc.*) adalah suatu grup dan H suatu Subgrup dari G. tunjukkan bahwa korelasi kongruen modulo n adalah suatu relasi ekuivalen pada himpunan bilangan bulatz. sehingga aTa b. …} = [0] [1] = {….2)T(2.2 : Misalkan (G.b G.b.1 dijelaskan bahwa relasi kongruensi modulo n pada himpunan bilangan bulat Z dapat didefenisikan oleh a b mod n bila dan hanya bila a – b nZ. bila dan hanya bila ab-1 H.b)] oleh . Di dalam relasi kongruensi modulo 2. 5. …} [2] = {…. …. Relasi tersebt adalah relasi ekuivalen pada Z X Z*. [1]. Pada sub bab ini. dan ditulis a b mod n. Salah satu himpunan dari kelas-kelas ekuivalen yang termasuk ke dalam sederhana (dasar) adalah himpunan bilangan-bilangan rasional.b)T(c. ini berarti a b mod n. ini berarti b a mod n.3 : Relasi a b mod H adalah suatu relasi euivalen pada G. 4. -2. [2]. sehingga aTc Jadi. 1. -1. 7.b Z Bila n | (a-b). dikatakan bahwa a kongruen dengan b modulo H.Himpunan dari kelas-kelas ekuivalen tersebut disebut himounan dari bilangan-bilangan bulat modulo n dan ditulis dengan zn. sehingga bTa Jadi bila aTb maka bTa c.4). [1]} Suatu kelas ekuivalen pada bilangan bulat modulo n adalah Zn = {[0]. dimana nZ adalah dubgrup dari Z yang memuat semua bilangan bulat yang merupakan kelipatan dari n. 6. akan dibahas mengenai konsep relasi ekuivalen dan kekongruenan yang didefenisikan ke dalam suatu Grup dengan modulonya salah satu dari Subgrupnya. 6. 6. ini berarti b c mod n. dan Z2 = {[0]. sehingga aTb Bila n | (b-c). …} [2] = {…. Definisi 6. 1. 0. dan kelas-kelas ekuivalen tersebut ditulis [(a. 9. 8. misalkan dan merupakan bilangan rasional yang sama. Sifat Refleksif aZ Bila n | (a-a). untuk a. Sifat Simetris a. h H} disebut koset kanan dari H dalan G bila aH . [n – 1]}. 7. 3. merupakan kongruen n dengan sisa pembagian n. 5. Pada konsep dari kelas ekuivalen didefenisikan relasi T pada Z X Z* (dengan Z* = Z – {0}) oleh (a. kelas ekuivalen yang memuat a dapat ditulis sebagai bentuk Ha= {ha. ini berarti a b mod n.

= {ah, h H} disebut koset kiri dari H dalam G. Unsur a disebut generator dari koset
tersebut.
Contoh 6.2 :
Misalkan (G,+) = Z4 adalah suatu grup dan H = {0,2} adalah merupakan Subgrup dari
G. tentukan koset kiri dan koset kanan dari H dalam G.
Penyelesaian :
(G,+) = Z4 = {0, 1, 2, 3}, generatornya 0, 1, 2, dan 3
Koset kiri : 0 + H = 0 + {0,2} = {0,2}
1 + H = 1 + {0,2} = {1,3}
2 + H = 2 + {0,2} = {2,1}
3 + H = 3 + {0,2} = {3,1}
Koset kanan : H + 0 = {0,2} + 0 = {0,2}
H + 1 = {0,2} + 1 = {1,3}
H + 2 = {0,2} + 2 = {2,0}
H + 3 = {0,2} + 3 = {3,1}
Sehingga :
0 + H = H + 0 = {0,2}
1 + H = H + 1 = {1,3}
2 + H = H + 2 = {2,0}
3 + H = H + 3 = {1,3}
Maka koset kiri = koset kanan
Contoh 6.3 :
Misalkan 3Z adalah merupakan Subgrup dari z. tentukan koset kiri dan koset kanan dari
3Z dalam Z.
Penyelesaian :
Kita akan selidiki koset kiri dan koset kanan terhadap operasi penjumlahan dan operasi
perkalian.
Diketahui ;
Z = {…, -2, -1, 0, 1, 2, …)
3Z = {…, -6, -3, 0, 3, -6, …)
a. Terhadap operasi penjumlahan
Koset kiri :
-2 + 3Z = {…, -8, -5, -2, 1, 4, …}
-1 + 3Z = {…, -7, -4, -1, 2, 5, …}
0 + 3Z = {…, -6, -3, -0, 3, 6, …}
-1 + 3Z = {…, -5, -2 1, 4, 7, …}
-1 + 3Z = {…, -4, -1, 2, 5, 8, …}
Koset kanan :
3Z + (-2) = {…, -8, -5, -2, 1, 4, …}
3Z + (-1) = {…, -7, -4, -1, 2, 5, …}
3Z + 0 = {…, -6, -3, -0, 3, 6, …}
3Z + 1 = {…, -5, -2 1, 4, 7, …}
3Z + 2 = {…, -4, -1, 2, 5, 8, …}
Koset kiri = Koset kanan
b. Terhadap operasi perkalian
Koset kiri :
-2 . 3Z = {…, 12, 6, 0, -6, -12, …}
-1 . 3Z = {…, 6, 3, 0, -3, -6, …}
0 . 3Z = {0}
1 . 3Z = {…, -6, -3, 0, 3, 6, …}
2 . 3Z = {…, -12, -6, 0, 6, 12, …}

Koset kanan :
3Z . (-2) = {…, 12, 6, 0, -6, -12, …}
3Z . (-1) = {…, 6, 3, 0, -3, -6, …}
3Z . 0 = {0}
3Z . 1 = {…, -6, -3, 0, 3, 6, …}
3Z. 2 = {…, -12, -6, 0, 6, 12, …}
Koset kiri = Koset kanan
Contoh 6.4 :
Misalkan G3 adalah suatu Gruo dalam terhadap perkalian dan H = {(1), (1 2 3),
(1 3 2)} adalah Subgrupnya. Carilah koset kiri dan koset kanan dengan generator a = (1
2).
Penyelesaian :
Diketahui :
H = {(1), (1 2 3), (1 3 2)}
a
Koset kiri :
= {(1 2), (2 3), (1 3)}
Koset kanan :
Jadi koset kiri = koset kanan
Dari contoh – contoh tersebut, ternyata bahwa setiap koset mempunyai unsur-unsur
yang sama banyaknya. Akan kita gunakan hasil tersebut untuk membuktikan teorema
yang terkenal dari Joseph Lagrange (1736-1813).
Teorema 6.1 (Teorema Lagrange)
Bila G adalah suatu Grup terhingga dan H Subgrup dari G, maka |H| membagi |G|.
Bukti :
Misalkan koset-koset kiri dari H dalam G membentuk partisi dari G, sehingga G dapat
ditulis sebagai gabungan dari koset-koset yang lepas (disjoint) sebagai berikut :
G = a1H a2H a3H … akH
Untuk suatu himpunan terhingga dengan unsur-unsur a1, a2, a3, …, ak G. |H| adalah
sebagai banyaknya unsur-unsur dalam tiap-tiap koset.
Jadi, jumlah semua unsur dalam gabungan ;
G = a1H a2H a3H … akH = |G| = k |G|
Oleh karena itu, |H| membagi |G|.
Dengan kata lain, koset-koset dapat membentuk partisi artinya gabungan dari kosetkoset itu dapat membentuk Grup itu sendiri dan interaksi dari kedua koset tersebut dapat
membentuk himpunan kosong.
Contoh 6.5 :
Dalam contoh 6.2, G = Z, = {0, 1, 2, 3,} dan H = {0, 2}
Misalkan kita ambil koset kiri :
0 + H = {0, 2}
1 + H = {1, 3}
2 + H = {0, 2}
3 + H = {1, 3}
Maka : 0 + H = 2 + H = {0, 2}
1 + H = 3 + H = {1, 3}
Sehingga :
(0 + H) (1 + H) = {0,1,2,3} = G
(0 + H) (1 + H) = ={ }
Definisi 6.4 :
Bila H adalah Subgrup G, maka banyaknya koset yang berbeda dari H dalam G disebut
indeks dari H dalam G, dan ditulis :

Ind |G:H|
Definisi 6.5 :
Bila G adalah suatu Grup terhingga dan H adalah merupakan subgrup dari G, maka :
Ind |G : H| =
Definisi 6.6 :
Bila a suatu unsur dari Grup terhingga, maka a|G| = e
Definisi berikut merupakan akibat langsung dari pembuktian teorema Lagrange.
Fungsi teorema Lagrange salah satunya adalah untuk mencari banyaknya koset relatif
yang ada pada Subgrupnya. Seperti akan diperlihatkan pada contoh berikut ini.
Contoh 6.6 :
Dalam contoh 2, G = Z4 = {0, 1, 2, 3} dan H = {0,2}
Indeks dari H dalam G adalah
Ind |G : H| =
6.3 Subgrup Normal dan Grup Faktor
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai himpunan faktor yang merupakan suatu Grup
dengan perkalian yang didefenisikan dalam G. misalkan G adalah merupakan suatu
Grup dengan H adalah Subgrup dari G dan relasi a b mod H adalah suatu relasi
ekuivalen pada G. akan kita tunjukkan himpunan faktor yang merupakan suatu Grup
dengan perkalian yang diddifinisikan dalam G berlaku bila dan hanya bila koset kiri dari
H dalam G aH = {ah, h H}.
Definisi 6.7 :
Misalkan H adalah suatu Subgrup dari Grup G, Subgrup H dikatakan subgrup Normal
dari G g-1hg H untuk setiap g G dan h H.
Definisi 6.8 :
Misalkan H adalahsuatu Subgrup Normal dari Grup G, maka setiap koset kiri dari H
dalam G juga merupakan koset kanannya (aH=Ha).
Dari definisi tersebut dapat dikatakan untuk menentukan bahwa suatu Subgrup H adalah
Subgrup Normal dari Grup G, maka harus dibuktikan bahwa koset-koset kiri dari H
dalam G sama dengan koset-koset kanan dari H dalam G (aH = Ha).
Jika H adalah merupakan Subrup Normal dari Grup (G,*) dan G/N adalah himpunan
semua koset-koset kiri atau koset-koset kanan dari N dalam G, yang didefinisikan :
(gH)*(nH) = (g*n)H
Dari penjelasan tersebut, maka adapun definisi dari grup faktor adalah sebagai berikut :
Definisi 6.9 :
Bila H adalah Subgrup Normal dari Grup (G,*), himpunan dari koset-koset
G/H = {H*g | g G} membentuk Grup (N/G,*) yang didefinisikan oleh
H(g1)* H(g2) = H(g1* g2), disebut Grup Faktor G oleh H.
Orde dari grup Faktor (G/N,*) adalah banyaknya koset-koset dari N dalam G, sehingga :
Ind |G/N| = Ind |G:H| =
Contoh 6.7 :
Misalkan (G,+) = Z6 = {0, 1, 2, 3, 4, 5} adalah suatu Grup dan H = {0, 2, 4} adalah
merupakan Subgrup dari G. tentukan Grup Faktor dari G oleh H, yaitu (G/H).
Penyelesaian :
Terlebih dahulu akan ditunjukkan bahwa Grup tersebut merupakan Subgrup Normal,
dimana koset kiri sama dengan koset kanan.
(G,+) = Z6 = {0, 1, 2, 3, 4, 5}, generatornya 0, 1, 2, 3, 4, dan 5
Koset kiri :
0 + H = 0 + {0, 2, 4} = {0, 2, 4}

2} 5 + H = {5. 0} 3 + H = 3 + {0. 2. 0. 2. 4} H + 1= {0. 5} H + 2= {0. 4} + 2 = {2. 3} Sehingga : 0 + H = H + 0= {0. 0. 5. 2. 2. 4} = {5. 5. 4} = {2. Integral Domain. 0. 2. 0. 5} Unsur-unsur dari Grup Faktor tersebut adalah 2 : 0 + H = {0. 3. 2. 1} 4 + H = {4. 4} + 0= {0. 0} 3 + H = H + 3= {3. 2. 2} 5 + H = 5 + {0. 5. 3. 2. 1. 4} + 3= {3. 2} H + 5= {0. 2. 1. 1. 4} 1 + H = {1. 4. 1} H + 4= {0. 2. 1. 3. 5} 2 + H = 2 + {0. 5} 2 + H = H + 2= {2. 5. 1} 4 + H = H + 4= {4. 3. 4} + 5= {5.1 + H = 1 + {0. 4} 1 + H = H + 1= {1. 0} H + 3= {0. 3} Maka : Koset Kiri = Koset Kanan Sehingga : Subgrup dari H = {0. 5} Adapun daftar Cayley dari Grup Faktor tersebut adalah : Tabel 6. 4} = {3. Kompetensi Khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: . 4.4} +H1+H HH1+H 1+H1+HH BAB 7 RING (GELANGGANG) Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat suatu Ring. 1} 4 + H = 4 + {0. 4. 2. 2. dan Field. 4} + 1= {1.2} merupakan Subgrup Normal Sekarang kita akan menentukan Grup Faktor G oleh H yang dibentuk dari Subrup Normal tersebut : Ind |G/N| = Ind |G:H| = Unsur-unsur dari grup Faktor tersebut adalah 2 Misalkan kita ambil korset kiri : 0 + H = {0. 2} 5 + H = H + 5= {5. 3} Maka : 0 + H = 2 + H = 4 + H = {0. 2. 4} 1 + H = 3 + H = 5 + H = {1. 3.2. 3. 3} Koset kanan H + 0= {0. 2. 4} 1 + H = {1. 2. 0} 3 + H = {3.1 Grup Faktor dari G = Z4 oleh H = {0. 5} 2 + H = {2. 4. 4} = {1. 2. 4} = {4. 4} + 4 = {4.

b = c. Adanya unsur satuan atau identitas a+e = e+a = a R Misalakn a 4. Tertutup R a+b = c.) adalah suatu himpunan tak kosong dengan operasi biner penjumlahan (+) dan Perkalian(. Memberikan contoh Field Deskripsi Singkat: Ring adalah suatu himpunan tak kosong yang memenuhi du operasi biner terhadap penjumlahan dan perkalian.c = a. . Adanya unsur satuan atau identitas a.c) R Misalkan a. Untuk lebih jelasnya dalam definisi berikut: Definisi 7. dengan sifat-sifat sebagai berikut: 1. ).a. tetapi kedua struktur tersebut mengabaikan relasi antara penjumlahan (+) dan perkalian ( . Dalam bab ini akan dibahas sifat-sifat Ring.+.+) merupakan suatu Grup Komutatif dengan sifat-safat sebagai berikut: 1. Komutatif b+a = a+b R Misalkan a. Assosiatif (a+b) + c = a + (b+c) R Misalkan a.c 3.a = aR Misalkan a .b 2. Integral Domain dan Field. Memahami definisi dari Field f. Memahami definisi dari Integral Domain d.1 Sifat-Sifat Ring Pada bab terdahulu telah dibicarakan mengenai struktur aljabar yang terdiri dari satu himpunan kosong dengan satu operasi biner yaitu terhadap penjumlahan (aditif) atau terhadap perkalian (multiplikatif) yang disebut grup.) merupakan suatu Semigrup/Monoid (beberapa penulis buku mengatakan bahwa di dalam suatu ring tidak perlu mempunyai identitas terhadap perkalian).b.c 3. Ring dengan unsur kesatuan. Memberikan contoh Ring tanpa pembagi nol (Integral Domain) dan Ring dengan pembagi nol e. Memberikan contoh struktur aljabar dengan dua operasi biner yang berupa Ring maupun tidak. b 2.) Untuk (R. Misalkan kita pandang suatu bilangan bulat Z sebagai suatu Grup (Z. Adanya unsur balikan atau invers a+ (-a) = (-a) + a = e = 0 R Misalkan a 5.. Tertutup R a.b). Terhadap penjumlahan (+) (R.) pada R yang memenuhi aksioma-aksioma berikut: a. b. misalkan kita ketahui bahwa perkalian tersebut distributif terhadap penjumlahan. Ring Komutatif. Memahami definisi dari Ring. c. +) dan himpunan bilangan bulat yang tidak sama dengan nol Z’ sebagai monoid (Z’. Assosiatif (a. 7.(b. c R Misalkan a.b.1: Suatu Ring (R.).. struktur aljabar ini disebut dengan Ring (Gelanggang). Terhadap perkalian (. b b. Pada bagian ini akan dibahas mengenai struktur aljabar yang terdiri dari satu himpunan tak kosong dengan dua operasi biner yaitu terhadap penjumlahan dan perkalian.e = e. c  R Misalkan a.

) dikatakan suatu Ring (Gelanggang) bila: 1. (R.0123 0012300000 1123010123 2230120202 3301230321 Dari tabel 7. . Akan ditunjukkan bahwa Z4 = merupakan suatu ring bila memenuhi: 1.+. Kita juga bebas menamakan mana yang merupakan operasi yang pertama ataupun mana operasi yang kedua. +) merupakan suatu Grup Komutatif 2.*) ataupun yang lainnya. asalkan operasi biner tersebut memenuhi syarat-syarat suatu Ring. 3 • Assosiatif Ambil sebarang nilai dari Z4 Z4Misalkan a = 2.o) ataupun (R.+.) +0123. Contoh 7. Distributif perkalian terhadap penjumlahan a . dan c=3 (a+b) + c = (2+1) + 3 = 3 + 3 = 2 a + (b+c) = 2 + (1+3) = 2 + 4 = 6 Z4 assosiatifsehingga: (a+b) + c = a + (b+c) • Adanya unsur satuan atau identitas Z4Ambil sebarang nilai Z4.2.) merupakan suatu Semigrup/ Monoid (catatan : Beberapa penulis buku mengatakan bahwa di dalam suatu Ring tidak perlu mempunyai identitas terhadap perkalian) 3.1.c) + (b. 1: Tunjukkan bahwa Z4 adalah merupakan suatu ring Penyelesian: Tabel 7.b. (b+c) = (a.3 1+0=1 1+1=2 1+2=3 1+3=0 tertutup terhadap Z4 Z4 Karena hasilnya 0. 2. b=1.c.c) dan (a+b).c = (a.c Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. +) • Tertutup Z4Ambil sebarang nilai dari Z4 misalkan 0. Distributif perkalian terhadap penjumlahan Sebagai catatan yang perlu diingat pada konsep Ring bahwa notasi untuk kedua operasi tersebut boleh apa saja. . +.1.b) + (a. . 1.c) R Misalkan a. Grup komutatif terhadap penjumlahan (Z4. +) dan (Z4. (R.1 Daftar Cayley (Z4. misalkan (R. misalkan 3 3+e = 3 + 0 = 3 e+3 = 0 + 3 = 3 Z4 ada unsur satuan atau identitassehingga: 3+e = e+3 = 3 • Adanya unsur balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari Z4 a + (-a) = (-a) + a = e = 0 0+0=0 1+3=0 .

1. c = 3 a. Monoid terhadap perkalian (Z4.(1+3) (a. Distributif perkalian terhadap penjumlahan Ambil sebarang nilai dari Z4 Z4Misalkan a = 2.c = (2+1).3 = 2+3 =1=1 Maka.1).e=e. +.c) = 1 Jadi.3 3. a.c) = 0 (a+b).) • Tertutup Ambil sebarang nilai dari Z4 Z4Misalkan 0.3) = 2.c) + (b. . . Contoh 7. .2=2 1.c = (a.3) + (1. .0=0 1. 3 • Assosiatif Ambil sebarang nilai dari Z4 Z4Misalkan a = 2. 2.(1.+) 2.b) + (a.) bukan merupakan suatu Ring karena tidak tertutup terhadap operasi penjumlahan.3=3 Z4.3: .(b. (R.b). Z4 = distributif perkalian terhadap penjumlahan.) Contoh 7. 3 1.(b+c) = 2.c) = 2.c) + (b. 1.b)+(a. 2.1=1 1.3 = 2 Z4 assosiatifsehingga: (a.3 3=3 Z4 ada unsur satuan atau identitas Jadi. Z4 = merupakan Grup Komutatif terhadap penjumlahan (Z4.c) = (2.c = (2.3) = 2.) 3.(b.3) = (3).3 = 2.2: Misalkan R = . b = 1.2+2=0 3+1=0 Z4 ada unsur balikan atau invers • Komutatif Ambil sebarang nilai dari Z4 Misalkan a = 2.c) = (2. b = 1 dan c = 3 (a.3 (a.c) = 2 • Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari Z4 Z4Misalkan 3 3. (a+b).b).1) + (2.c = a. +. Z4 = Monoid terhadap perkalian (Z4.(b+c) = (a.1=1.0 = 2 + 6 =0=0 Maka.3 = 2 a. b = 3 Z4 (a + b) = (2 + 3) = 1 (b + a) = (3 + 2) = 1 Sehingga: (a + b) = (b + a) = 1 Maka Z4 komutatif Jadi. maka Z4 tertutupKarena hasilnya 0. Karena Z4 memenuhi semua aksioma yang ada maka Z4 adalah suatu Ring (Z4.

(R..1.. Secara singkat akan dijelaskan syarat dari Ring Komutatif pada definisi berikut: Definisi 7. ganjil P genap + genap = genap genap + ganjil = ganjil ganjil + ganjil = genap karena hasilnya genap dan ganjil P.2: Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. (R.5: Misalkan P = dan P Z.+) • Tertutup Ambil sebarang nilai dari P Misalkan genap. ambil sebarang nilai dari Z4.a.b = b. (Z2. +) dan ( . Contoh 7.) merupakan suatu Ring karena tertutup terhadap operasi penjumlahan dan memenuhi sifat-sifat dari Ring. 2 = 2 Karena Ring (Z4. +. +. Distributif perkalian terhadap penjumlahan Jadi.1) 2.2=2 Sehingga 2 . +.. . maka Ring (Z4.+) merupakan suatu grup komutatif 2. .2 akan ditunjukkan bahwa P = merupakan suatu Ring Komutatif bila memenuhi: 1. +. Tunjukkan bahwa elemen-elemen bilangan “genap” dan “ganjil” afdalah suatu Ring Komutatif.3=2 3.) yang merupakan suatu semigrup atau monoid harus memenuhi sifat-sifat komutatifnya. a. Contoh 7..) dikatakan suatu ring (gelanggang) komutatif (abelian) bila: 1. pada Ring komutatif (R.Misalkan R = . +. 3 = 3 . +. (R.1. yaitu: R a. tetapi Z2 = . ditunjukkan bahwa Ring (Z. maka tertutup terhadap P • Assosiatif Ambil sebarang nilai dari P Misalkan a = genap. b = ganjil dan c = genap P . Penyelesaian: Tabel 7. a. Sekarang akan ditunjukkan sifat komutatif dari Ring tersebut.) tersebut memenuhi sifat komutatif. .).) tersebut adalah Ring Komutatif atau Ring Abelian. Suatu Ring dikatakan komutatif / abelian bila pada operasi perkalian (multiplikatif) terpenuhi sifat komutatifnya. misalkan 2 dan 3 (pada table 7.4: Dari contoh 7. Grup Komutatif terhadap penjumlahan (P. genap ganjil genap Genap ganjil genap genap genap ganjil Ganjil genap ganjil genap ganjil Dari tabel 7. telah ditunjukkan bahwa Z4 = adalah suatu Ring (Z4..) merupakan suatu Ring Komutatif. . .b a. Penyelesaian: Dari contoh 7.b = b .) bukan merupakan suatu Ring karena tidak tertutup terhadap operasi penjumlahan. +.) merupakan suatu semigrup / monoid komutatif 3.2 Daftar Cayley ( .) + Genap ganjil .

genap = genap a .(a + b) + c = (genap + ganjil) + genap = ganjil + genap = ganjil a + (b + c) = genap + (ganjil + genap) = genap + ganjil = ganjil sehinggga : (a + b) + c = a + (b + c) = ganjil Maka P assosiatif • Adanya unsur satuan dan identitas Ambil sebarang nilai dari P Misalkan genap Z4 genap + e = genap + 0 = genap e + genap = 0 + genap = genap sehingga: genap + e = e + genap = genap maka P ada unsur satuan atau identitas • Adanya unsur balikan atau invers Ambil sebarang nilai dari P Misalkan genap Z4 genap + (-genap) = genap – genap = 0 = e (-genap) + genap = – genap + genap = 0 = e Sehingga: genap + (-genap) = (-genap) + genap = 0 = e maka P ada unsur balikan atau invers • Komutatif Ambil sebarang nilai dari P Misalkan a = genap. . genap) = genap . maka tertutup terhadap P • Assosiatif Ambil sembarang nilai dari P Misalkan a = genap.+).) • Tertutup Ambil sebarang nilai dari P Misalkan genap dan ganjil P genap . genap = genap maka P ada unsur satuan atau identitas • Komutatif . genap = genap sehingga: genap . genap = 1 . e = e . genap = genap ganjil . (b . 1 = genap e . c = a . (ganjil . genap = genap sehingga: (a . b) . ganjil) . c) = genap . b = ganjil dan c = genap P (a . e = genap . P = merupakan Grup Komutatif terhadap penjumlahan (P. genap = genap . b = ganjil P (a + b) = (genap + ganjil) = ganjil (b + a) = (ganjil + genap) = ganjil Sehingga: (a + b) = (b + a) = ganjil Maka P komutatif Jadi. 2. c = (genap . ganjil =ganjil karena hasilnya genap dan ganjil P. b) . ganjil = genap genap . Monoid terhadap perkalian (P. c) = genap Maka P Assosiatif • Adanya unsur satuan atau identitas Ambil sebarang nilai dari P Misalkan genap Z4 genap . (b .

c) = (genap.a = -a 8.. P = distributif perkalian terhadap penjumlahan. . a.c) + (a. maka P adalah suatu Ring Komutatif (P.0 = 0. (ganjil + genap) = genap .(-b) = a. b) = (genap . c = (genap +ganjil). b = ganjil P (a .(b-c) = a.Ambil sebarang nilai dari P Misalkan a = genap. a. Karena P = memenuhi semua aksioma-aksioma yang ada. (-a).b 7. Sifat tersebut menyatakan bahwa hukum kensel berlaku untuk unsur-unsur (elemen-elemen) yang bukan unsur nol. karena bila ab = ac dan a 0. suatu unsur bukan nol a R sedemikian hinggadisebut pembagi nol bila ada unsure yang bukan nol b a. b) = (b . genap) = genap Sehingga: (a . Misalkan unsur a ditambah invers aditif dari b.b=0 . . maka ditulis a + (-b) atau a – b.(b + c) = genap .b) + (a.3: RBila (R. +. P = merupakan Monoid Komutatif terhadap perkalian (P.) adalah suatu Ring komutatif. (a + b). a) = genap Maka P Komutatif Jadi.b) = (genap.c 6.b) = (-a).c) + (a.b 3. maka a = 0 atau b = 0. Distributif perkalian terhadap penjumlahan Ambil sebarang nilai dari P Misalkan a = genap.+.c = a. b = ganjil dan c = genap P a.(-b) = – (a.genap) + (ganjil.). –(a+b) = (-a)+(-b) 5.c – b. ganjil) = genap (b . Definisi 7. genap = (ganjil) . (a-b). Teorema 7. a. a) = (ganjil . genap = genap (a.a = 0 2. Jadi yang dimaksud dengan –a adalah invers aditif dari a. Telah kita ketahui bahwa suatu Ring merupakan Grup Komutatif terhadap Penjumlahan.genap) = genap + genap = genap Maka.c 7. –(-a) = a 4.genap) = genap + genap = genap Maka.c) = genap (a + b). Balikan suatu unsur terhadap operasi penjumlahan dinamakan lawan atau invers aditif yang dinyatakan dengan tanda (-). maka a(b – c) = 0 dan diperoleh b = c.b) + (a.b) = genap Jadi. 3.ganjil) + (genap. (-1). (ganjil) = genap (a.(b + c) = (a.). yaitu –b.2 Integral Domain (Daerah Integral) Salah satu sifat yang banyak digunakan dari sistem bilangan-bilangan yang telah kita kenal adalah bahwa bila ab = 0.b – a. a. c = (a.1: Dalam suatu Ring berlaku sifat-sifat: 1.

pengurangan dan perkalian terhadap unsur suatu Ring akan diperoleh hasil. serta b.b = b.4: Suatu ring komutatif yang tidak mempunyai pembagi nol disebut integral domain (daerah integral).) merupakan semigrup / monoid komutatif 3 Tidak ada pembagi nol RMisalkan a.6: Field adalah suatu ring yang unsur-unsur bukan nolnya membentuk grup komutatif / .b = 0. yang disebut Field (lapangan). unsur-unsurnya dapat dikensel tetapi tidak selalu diperoleh hasil bila dibagi dengan Z. tetapi tidak setiap unsur Z dapat dibagi 3.b = 0 jika a = 0.+. Definisi 7. dengan kata lain: a. bila a. tetapi bilangan genap ada unsur nol. Dari himpunan tersebut dapat dilihat bahwa bilangan ganjil tidak ada unsur nol. Akan ditunjukkan bahwa Ring Komutatif tersebut adalah Integral Domain. Di dalam Integral Domain. maka: ab-ac = 0 a (b-c) = 0 0.+) merupakan grup komutatif 2 (R... atau b = 0.7: R. . Misalkan. Contoh 7.5: Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. penjumlahan.R 0  R disebut pembagi nol di R bila a. maka:karena R adalah integral domain yang tidak mempunyai pembagi nol dan a b-c = 0 jadi b=c 7. Ada suatu sistem bilangan-bilangan yang selalu diperoleh hasil bila dibagi unsur yang bukan nol.b = 0 untuk suatu unsur b  0 Dengan kata lain suatu unsure a Definisi 7. Tunjukkano.c Jika R adalah suatu daerah integral dan ab = ac untuk a bahwa b=c Penyelesaian: ab = ac. karena a.b b=0 a=0 a. P = adalah suatu Ring Komutatif. maka 3a = 3b menghasilkan aunsur yang bukan nol.5.3 Field (Lapangan) Pada umumnya di dalam suatu Ring.b = 0 4 Distributif perkalian terhadap penjumlahan Contoh 7. untuk a = 0 atau b= 0 Misalkan: X = adalah himpunan bilangan ganjil dan Y = adalah himpunan bilangan genap.b=0  Definisi 7.) dikatakan suatu integral domain (daerah integral) bila: 1 (R. b=0) a=0  (a. Penyelesaian: Diketahui P = adalah suatu Ring Komutatif Syarat dari Integral Domain adalah Ring komutatif yang tidak mempunyai pembagi nol. Jadi dapat disimpulkan bahwa P = merupakan Integral Domain.6 : Dari soal 7. tetapi untuk pembagian tidak selalu iperoleh hasil.

.) merupakan suatu Semigrup / Monoid • Distributif perkalian terhadap penjumlahan 2. . +) merupakan suatu Grup Komutatif • (R. =1 a-1.abelian tyerhadap perkalian. +. Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. +. genap =1 Pa merupakan Field. +) merupakan suatu Grup Komutatif • (R.ganjilJadi dapat disimpulkan bahwa P = dimanagenap.+) merupakan suatu grup komutatif 2.a-1 = genap. ganjilDari contoh 7.a = (genap)-1 .) adalah suatu Ring Komutatif.) dikatakan suatu Ring (gelanggang) bila: • (R. 7.5.) dikatakan suatu Integral Domain (Daerah Integral) bila: • (R.(genap)-1 = genap . Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. genap = .) merupakan suatu Semigrup / Monoid komutatif . Dengan kata lain suatu field adalah ring komutatif yang mempunyai unsure balikan / invers terhadap perkalian.. +) merupakan suatu Grup Komutatif • (R.) merupakan suatu Semigrup / Monoid • Distributif perkalian terhadap penjumlahan 3. Bila (R.  a-1 P. genap. +. (R.) dikatakan suatu Ring (Gelanggang) Komutatif bila: • (R. ganjilDiketahui P = Syarat field adalah ring komutatif yang mempunyai unsure balikan atau invers terhadap perkalian. Atau kita tunjukkan R merupakan suatu Grup Komutatif terhadap penjumlahan. 4. Akan ditunjukkan bahwa ring komutatif tersebut adalah field.a-1=a1.9: adalah suatu ringgenap.. (R. .a-1 = a-1. Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. adalah suatu ring komutatif yang juga merupakan integral domainP (daerah integral ) dan juga merupakan Field (lapangan). a Misalkan: Pa = genap a.a=1 P. . Contoh 7. dapat kita disimpulkan bahwa P = Z.) dikatakan Field bila: 1. karena a. dengan kata lain: a. +.. .a = 1.b = 0. ganjilDari soal 7. Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R.+. Distributif perkalian terhadap penjumlahan Jadi untuk menunjukkan bahwa suatu Ring adalah Field harus kita buktikan Ring itu komutatif dan punya unsur balikan atau inversterhadap perkalian. P = komutatif.5.) merupakan suatu grup komutatif 3. suatu unsur bukan nol a R disebut pembagi nol bila ada unsur yang bukan nol b R sedemikian hingga a. . Penyelesaian: adalah suatu ring komutatifgenap.4 Rangkuman 1.

Tunjukkan pada soal no 1. +. Field BAB 8 SUBRING DAN IDEAL Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengindentifikasi suatu ring merupakan subring dan ideal.) adalah merupakan suatu Ring Komutatif. Misalkan (R. apakah merupakan: a. Field 8. Tunjukkan pada soal no 4. . Buatlah tabel penjumlahan dan perkalian untuk (Z5. . Kompetensi Khusus : Setelah mengikuti pokok bahasaan ini mahasiswa secara rinci diharapkan: a.• Tidak ada pembagi nol • Distributif perkalian terhadap penjumlahan 5. Integral Domain b. apakah merupakan: a. .5 Soal-Soal Latihan 1. .) adalah Ring Komutatif dengan Q( ) = . +. Mengidentifikasi suatu ring merupakan ideal atau bukan d.) dikatakan suatu Field (Lapangan) bila: • (R.). Suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner (R. Memberi contohn dari suatu subring c. Integral Domain b. +. 4. Tunjukkan pada soal no 2. Mengidentifikasi suatu ring merupakan suatu subring atau bukan b. +) merupakan suatu Grup Komutatif • (R. 5. Tunjukkan bahwa (Q( ). Integral Domain b. Tunjukkan bahwa bilangan bulat (Z. Tunjukkan apakah merupakan suatu Ring Komutatif. . Tunjukkan apakah merupakan suatu Ring Komutatif. dengan penjumalahan dan perkalian pada kelas-kelas kongruensi modulo n yang didefinisikan oleh [x] + [y] = [x + y] dan [x].y]. 3. Field 7. 2. Field 6. +. +. Tunjukkan pada soal no 3.) merupakan suatu Grup Komutatif • Distributif perkalian terhadap penjumlahan 7.) didefinisikan operasi dan pada R sebagai berikut: a b = a + b + 1 dan a b = ab + a + b. Memberikan contoh dari suatu ideal Deskripsi Singkat : Dalam bab ini menitik beratkan mengenai penjelasan mengenai sifat-sifat subring dan . apakah merupakan: a.[y] = [x. Integral Domain b. apakah merupakan: a. .

+. . a . . Bila operasi yang sama dengan ( S. (2). Contoh 8. 1.).1 SUBRING Pada sub pokok bahasan ini akan di jelaskan mengenai struktur bagian dari ring yang disebut subring (gelanggang bagian). 3}. yaitu sebagai berikut: Definisi 8. S ≠ .. dan (3) terpenuhi maka S adalah subring dari Z4. 2} adalah subring dari Z4. a – b S 3. Syarat (3) menyatakan bahwa (S. b S misalkan 0. Dikarenakan S adalah himpunan bagian dari R. . Penyelesaian : Akan kita tunjukkan bahwa S = {0. 2} adalah subring dari Ring Z4 = { 0.. ) adalah suatu ring. Misalkan (R.2=0 Sehingga 0. Sehingga dapat dikatkan bahwa syarat-syarat tersebut telah memenuhi syarat dari suatu Ring. . adapun definisinya adalah sebagai berikut : Definisi 8. karena (S. 2 S 2–0=2 2–2=0 0–2=2 Sehingga 0. b S Syarat (1) menyatakan bahwa himpunan bagian dari ring disebut bukan himpunan kosong ( ).+. +. dengan menunjukkan operasi yang sama pada Z4 terhadap penjumlahan dan perkalian. Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui syarat-syarat dari subring. Contoh 8. S Syarat (1). .) memenuhi syarat-syarat dari suatu Ring.b Q } adalah merupakan subring dari R. 2. Penyelesaian : Akan kita tunjukkan bahwa Q( ) = { a+b |a.b Q }memenuhi syarat-syarat dari suatu Ring.1. +.+) dan juga merupakan semigrup / monoid terhyadap perkalian (S. S ≠ 2.0=0 2. 2.pengertian dari ideal dalam ring yang merupakan suatu subring yang khusus yaitu suatu sub grup aditif yang tertutup terhadap perkalian unsure luar. tunjukkan bahwa S = {0. ) membentuk suatu ring maka S disebut suatu subring dari R. 3} merupakan suatu Ring. 1. b S berlaku: 1. syarat terpenuhi karena S = {0.) adalah merupakan suatu semi grup. bila untuk setiap a. S R. S adalah himpunan dari R yang disebut subring dari R. syarat (2) menyatkan bahwa ( S. 2} 2. 2}memenuhi syarat-syarat dari suatu Ring. maka S dapat dikatakan sebagai subring dari R. Sehingga S merupakan Grup komutatif terhadap penjumlahan (S.2 Misalakan (R.1 Misalkan Z4 = { 0. 2 S 3. +) adalah merupakan grup komutatif. 1.2=0 0. Kita juga bisa membuktikan S (dalam contoh 1) merupakan suatu subring dari Z4.2 Tunjukkan bahwa Q( ) = { a+b |a. a – b S misalkan 0. maka S = {0. 2 S 2. ) adalah suatu ring. 8. a . s ≠ adalah merupakan himpunan bagian dari R ( S R ).

b S dan r S berlaku: 1. Ideal Pada materi grup kita ketahui ada subgroup normal yang merupakan subgroup yang memiliki sifat khusus. . s ≠ adalah merupakan himpunan bagian dari R ( S R ). ) adalah suatu ring. +.b Q } 2) a – b S misalkan a + b . +.). c + d Q( ). +. . Disebut ideal kiri setiap a. Definisi 8. a . . Dari contoh 8. Definisi 8. a . a – b S 2. ) adalah suatu ring dan (S. a – b S 2.6: Misalkan (R. Untuk lebih jelas kita akan melihat dalam definisi berikut : Definisi 8.b S dan r S berlaku: 1. . (2).2.5: Misalkan (R. . ) adalah subring R disebut ideal kiri jika untuk setiap a S dan r R maka ar S. (c + d ) = (ac + 2bd) + (ad + bc) Q( ) Syarat (1).1.1 dan 8. 8.. ra S Definisi 8. ra S dan ar S jadi suatu subring dinamakan ideal bila subring tersebut tertutup terhadap operasi . +.4: Misalkan (R.2 bisa kita simpulkan bahwa bila R adalah suatu Ring. Disebut ideal kanan setiap a.b S dan r S berlaku: 1. +. ) adalah suatu ring. . a – b S 2. +.) memenuhi syarat-syarat dari suatu Ring . Pada ideal dikenal dengan ideal kiri yaitu bila tertutup terhadap perkalian unsur disebelah kiri dan ideal kanan yaitu bila tertutup terhadap perkalian unsur disebelah kanan.8: Misalkan (R.b Q } adalah subring dari R. b S 3. a .1) S ≠ . Di dalam ring juga ada subring yang memiliki sifat-sifat istimewa yaitu tertutup terhadap perkalian unsure di luar subring.b Q } adalah subring dari R. ar S Definisi 8.2) merupakan suatu subring dari R. Subring semacam ini dinamakan suatu ideal. ) adalah subring R disebut ideal kanan jika untuk setiap a S dan r R maka ra S. +. maka : (a + b ) .3: Misalkan (R. syarat terpenuhi karena Q( ) = { a+b |a. . maka Q( ) = { a+b | a. Sehingga S adalah merupakan Grup komutatif terhadap penjumlahan (Q( ).. . kita juga bisa membuktikan Q( ) (dalam contoh 8. S R dan S ≠ . bila untuk setiap a. ) adalah suatu ring dan (S. s ≠ adalah merupakan himpunan bagian dari R ( S R ). +. dengan operasi yang sama pada R terhadap penjumlahan dan perkalian. +. b S misalkan a + b . ) adalah suatu ring dan (S. +. b S 3. s ≠ adalah merupakan himpunan bagian dari R ( S R ). Definisi 8. c + d Q( ). . +) dan juga merupakan semigrup / monoid terhadap perkalian (Q( ). maka S merupakan suatu subring bila S memenuhi syarat-syarat dari suatu Ring. karena (Q( ). ) adalah suatu ring. maka : a + b – c + d = (a-b) + (c-d) Q( ) 3) a . Disebut ideal. b S 3. dan (3) terpenuhi maka Q( ) = { a+b |a. Sama halnya pada contoh 8. ) adalah subring R disebut ideal jika merupakan ideal kiri dan ideal kanan yaitu untuk setiap a S dan r R maka ra S dan ar S.7 : Misalkan (R.

4: Misalkan (Z. Sekarang kita tunjukan bahwa S merupakan suatu ideal. +.1 Misalkan Z4 = { 0. 1.2=2 1.) adalah suatu Ring.3=0 2. +. +.3 Rangkuman 1.2=0 3. Diketahui : 0. . 1 = 2 2.2 S Ideal kiri 0 . Misalkan (R. 2} adalah subring dari Z4 = { 0. Misalkan (R.2=0 2.0=0 0. .bS 3. Gambar 8.) adalah suatu Ring. . . 3 Z4 dan 0. berlaku: •a–bS . kita harus membuktikan S terlebih dahulu merupakan suatu Subring. S adalah merupakan himpunan bagian dari R (S R). (4Z.0=0 3. berlaku: •S •a–bS •a. +. 0= 0 0. bila operasi yang sama dengan (S.3: Dari contoh 8. .) yaitu (2Z. . 2. Contoh 8.2=0 0. +. Tetapi bila belum mengetahui bahwa S adalah suatu Subring atau bukan. .2=2 S merupakan ideal kiri dari Z4 Ideal kanan 0 . Penyelesaian : Pada contoh 8.) Contoh 8.b S. S adalah himpunan bagian dari R yang disebut Subring dari R. 3} merupakan suatu Ring. 3}.1 telah kita tunjukan bahwa S = {0. . 2.0=0 2. . bila untuk setiap a. kita cukup mencari nilai dari perkalian unsurnya saja tidak perlu lagi dibuktikan bahwa S adalah suatu Subring. +.). (3Z. . Contoh 8. 2. +. setelah itu kita baru mencari nilai dari perkalian unsurnya yang tertutup terhadap subring tersebut. 1 Bagan dari suatu Ideal 8. 1.) membentuk suatu Ring maka S disebut Subring dari R. bila kita telah mengetahui bahwa S adalah suatu Subring dari R. 1. bila untuk setiap a. 2} adalah suatu ideal.5: Misalkan contoh yang telah diberikan.).2=2 2.3=2 S merupakan ideal kanan dari Z4 Jadi S merupakan ideal kiri dan ideal kanan dari Z4 sehingga S adalah ideal dari Z4.b S.) adalah suatu Ring maka himpunan bagian dari (Z.) adalah suatu Ring dan S merupakan himpunan bagian dari R (S R) disebut Ideal Kiri. 2. +. 0 = 0 1.0=2 2.perkalian unsur disebelah kiri ( ideal kiri ) dan subring tersebut juga tertutup terhadap operasi perkalian unsur disebelah kanan ( ideal kanan ). +.1=0 0. +. Misalkan (R. dengan membuktikan bahwa S adalah ideal kiri dan ideal kanan.) dan seterusnya merupakan suatu Ideal (Z. tunjukkan bahwa subring S = {0.

4 Soal-soal Latihan 1. Misalkan R adalah suatu Ring dan A dan B adalah Subring dari R. a. Menentukan dan mendefinisikan apakah suatu Ring merupakan Homomorfisma Ring c.•a. didalam Ring juga dikenal denga Ring Faktor dan Homomorfisma Ring. Buktikan bahwa S T juga merupakan Ideal dari R. 5. 2. Tentukan subring-subring yang dibangun oleh unsur-unsur dari bilangan “genap” dan “ganjil”. +. Kompetensi Khusus : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: a. berlaku: •a–bS •a. +. K + L merupakan Ideal Kanan dari R. K dan L adalah merupakan ideal kanan-ideal kanan dari R. bila untuk setiap a. Apakah subring-subring tersebut merupakan suatu Ideal. b. a. . b. 3.) adalah subring dari Q. b. Tunjukkan bahwa Q( ) adalah suatu Ideal dari Q. Misalkan (R. Butikan bahwa A B juga merupakan subring dari R. bila untuk setiap a. Diketahui R adalah suatu Ring. Misalkan (R. dengan K + L = BAB 9 RING FAKTOR DAN HOMORFISMA Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sidat-sifat Ring Faktor dan Homorfisma Ring. +. berlaku: •a–bS •a.bS • ra S 4. . Apakah subring-subring tersebut merupakan suatu Ideal. Buktikan: a. K L merupakan Ideal kanan dari R. . Misalkan P adalah suatu Ring dan S dan T adalah Ideal dari R.b S.bS • ar S 5. Menentukan dan mendefinisikan apakah suatu Ring merupakan Ring Faktor b. Misalkan (Q( ). Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai Ring Faktor mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Grup Faktor dan Homomorfisma Ring yang mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Homomorfisma Grup BAB 9 RING FAKTOR DAN HOMORFISMA RING . 6. Tentukan subring-subring yang dibangun oleh unsur-unsur dari Z5. Misalkan unsur-unsur bilangan “genap” dan “ganjil” adalah membentuk suatu Ring. 4. didefinisikan Q( ) = .b S.) adalah suatu Ring dan S merupakan himpunan bagian dari R (S R) disebut Ideal. Memahami dengan sepenuhnya teorema dasar dari Isomorfisma Deskripsi Singkat: Sama halnya dengan Grup Faktor dan Homomorfisma Grup.bS • ra S dan ar S 8.) adalah suatu Ring dan S merupakan himpunan bagian dari R (S R) disebut Ideal Kanan. Misalkan Z5 adalah suatu Ring.

). didalam Ring juga dikenal denga Ring Faktor dan Homomorfisma Ring. Menentukan dan mendefinisikan apakah suatu Ring merupakan Homomorfisma Ring f. b R dan a + b R Maka Untuk setiap (S + a) . (S+b).c R Maka (a + b) + c = a + (b + c) Sehingga : Untuk setiap (S + a) . Sekarang akan kita buktikan bahwa R/S = {S + a a R}membentk suatu Ring. yang mirip dengan subgroup Normal dalam Grup. tertutup terhadap penjumlahan di R/S 2. Assosiatif terhadap penjumlahan (+) di R/S Misalkan a . Tertutup terhadap penjumlahan (+) di R/S Misalkan a .+. Memahami dengan sepenuhnya teorema dasar dari Isomorfisma Deskripsi Singkat: Sama halnya dengan Grup Faktor dan Homomorfisma Grup. Adanya unsur satuan atau identitas terhadap penjumlahan (+) di R/S Misalkan a R Maka a + e = e + a = a Sehingga : Untuk setiap (S + a) R/S (S + 0) + (S + a) = S + ( 0 +a) = S + a (S + a) + (S + 0) = S + ( a +0) = S + a . yaitu dengan memperhatikan syarat-syarat suatu struktur aljabar dengan dua operasi biner yaitu terhadap penjumlahan (+) dan terhadap perkalian (. Definisi 9. .1 : Misalkan R adalah suatu Ring dan S adalah suatu Ideal dari R. R/S = {S + a a R} adalah Ring dengan (S + a) + (S+b) = S + (a+b) dan (S+a) . (S+b) = S + (a .1 RING FAKTOR Pada bab 8. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai Ring Faktor mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Grup Faktor dan Homomorfisma Ring yang mempunyai sifat-sifat hampir sama dengan Homomorfisma Grup 9.) yang membentuk suatu Ring (R/K. b). Suatu Ring Faktor terdiri dari himpunan dari koset-koset ring tersebut yang diantaranya aadala Ideal-Ideal. tela kita pelajari mengenai Ideal. (S+b) R/S Berlaku (S + a) + (S+b) = S + (a+b) Yang berarti S + (a+b) R/S Sehingga S + (a+b) R/S. b. Menentukan dan mendefinisikan apakah suatu Ring merupakan Ring Faktor e. Ring semacam ini dsebut Ring Faktor atau Ring Koisen.Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sidat-sifat Ring Faktor dan Homorfisma Ring. Adapun syarat-syarat suatu struktur aljabar yang mempunyai dua operasi biner membentuk suatu Ring adalah sebagai berikut: 1. Kompetensi Khusus : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: d. (S + c) R/S [ (S + a) + (S+b) + (S + c) = (S + a) + [(S+b) + (S + c)] [ S + (a+b)] + (S + c) = (S + a) + [(S+(b + c)] S + [(a+b) + c] = S + [a +(b + c)] S + [a + (b + c)] = S + [(a+b) + c)] (S + a) + [S+ (b + c) = [S + (a+b)] + (S + c) (S + a) + [(S+b) + (S + c)] = [(S + a) + (S+b) ]+ (S + c) 3.

b)] . (S+b). (S + c)] = [(S + a) . (S + b)]+ [(S + a) .(b . (S + 1) = S + ( a . Distributif terhadap perkalian (. [S+ (b . (S+b) = S + (a. c) = [S + (a. (S + c) R/S [ (S + a) . c)] = (S+ a) . c)] S + [(a .) terhadap penjumlahan (+) di R/S Misalkan a. (S+b). (S . b)] +[S+(a.b. (S+c) R/S (S + a) . [(S + b) + (S + c)] = [(S+a) . (S+b) R/S Berlaku (S + a) . (S + c) 8. b R dan a .b) R/S Sehingga S + (a. b ) + (a .b) R/S.) di R/S Misalkan a .[(S+(b . (S + c)] = (S+ a) .b) Yang berarti S + (a. Assosiatif terhadap perkalian (.b) . c)] S + [a . (S + c) = (S + a) .(S + 0) + (S + a) = (S + a)+ ( S + 0) = S + a 4. c] = S + [a . (S + b) R/S (S + a) + (S + b) = (S + b) + (S + a) S + (a + b) = S + (b + a) S + (b + a) = S + (a + b) (S + b) + (S + a) = (S + a)+ ( S + b) 6. (b . (S + a) = (S + a). b )+(a . (S+b) . c)] S + [(a. [(S+b) + (S + c)] . b) . [S + (b + c)] = [S+ (a . Adanya unsur satuan atau identitas terhadap perkalian (.b)] .( b+ c)] [S + (a . (S + c)] [ S + (a. c) (S + a) . e = e . c) dan (a +b) . a = a Sehingga : Untuk setiap (S + a) R/S (S + 1) . Tertutup terhadap perkalian (. (S + c)] (S + a) . c = (a .c R Maka a . (S + a) = S + ( 1 . a) = S + a (S + a) . b)] + [S+ (a . c) Sehingga : Untuk setiap (S + a) . (S + c) = (S + a) . (b + c)] = S+ [(a . Adanya unsur balikan atau invers terhadap penjumlahan (+) di R/S Misalkan a R Maka a + (-a) = (-a) + a = e =0 Sehingga : Untuk setiap (S + a) R/S (S + a) + (S + (-a) = S + ( a + (-a) = S + 0 = S (S + (-a)) + (S + a) = S + ((-a) +a) = S + 0 = S (S + a) + (S + (-a)) = (S + (-a))+ ( S + a) = S + 0 = S 5. (S+b)] + [(S+a) . (b + c ) = ( a . (S+b) ]. c = a . (b . 1) = S + a (S + 1) . c) Sehingga : Untuk setiap (S + a). Komutatif terhadap penjumlahan (+) Misalkan a. [(S+b) . b R Maka Untuk setiap (S + a) . [(S+b) . c) + (b . c)] S + [a .) di R/S Misalkan a R Maka a . ( S + 1) = S + a 9. b)] + (a .b R Maka a + b = b + a Sehingga : Untuk setiap (S + a). c)] (S + a) . tertutup terhadap penjumlahan di R/S 7.b) . c)] = S + [(a.) di R/S Misalkan a . [S+ (b + c)] [(S + a) . b. c)] = S+ [a .c R Maka (a .

c ] [S + (a . Adanya unsur balikan atau invers terhadap penjumlahan (+) di Z6/K K.(S+c)] =[(S+a) + (S+b)] . c)] = S + [(a + b) .c)] S + [(a . c) + (b . (S+c)]+[(S+b). K+1 Z6/K Brlaku K + (K+1) = K + (0+1) = K+1 Sehingga K+1 Z6/K 2. (R/S. Adanya unsur satuan atau identitas terhadap penjumlahan (+) di Z6/K K.1. (R/S. K K+1 K K K+1 K K K K+1 K+1 K K+1 K K+1 Tabel 9. tnjukkan Z6/K adala merupakan Ring Faktor.1. menunjukkan penjumlah dan perkalian unsur-unsur dari Z6/K. maka R/S disebut Ring Faktor jika: 1. c] = S + [ (a.) merupakan suatu Semigrup / Monoid. (S + c) = [(S+ a) .+.c)] + [S+(b . Komutatif terhadap penjumlahan (+)di Z6/K K.5} Sehingga Z6/K = {K. Slanjutnya dari tabel.4} adala suatu Ideal yang dibangu oleh 2 dalam Z6.2. Penyelesaian: Ada dua koset/ Ideal dari Ring Z6 yaitu: K = {0.3. c)] S + [(a + b) .(S + c)] [S + (a+ b)] .c) + (b. Adapun syarat-syaratnya sbagai berikut: 1. Daftar Cayley (Z6/K = Z6/{0. (S+ c) Dengan kata lain.2. misalkan R adalah suatu Ring dan S adalah suatu Ideal dari R.4} K + 1 = {1.K+1} Tabel 9. kita akan membuktikan bahwa Z6/K dengan syarat-syarat suatu Ring meruakan faktor dari Z6/K. Assosiatif terhadap penjumlahan (+) di Z6/K K.Dan [(S + a) . K+1 Z6/K (K+1) + (K+(-1)) = K + (1+(-1)) = K+0 = K (K+(-1)) + (K+1) = K + ((-1)+1) = K +0 = K Sehingga (K+1) + (K+(-1)) = (K+(-1)) + (K+1) = K+0 = K 5. (S+c)] + [(S+b). (S + c) [(S +a) . +) merupakan suatu Grup Komutatif 2. (R/S. Tertutup terhadap penjumlahan (+) di Z6/K K. K+1 Z6/K [K + (K +1)] + (K+1) = K + [(K+1) + (K+1)] [K + (0+1)] + (K+1) = K + [K + (1+1)] (K+1) + (K+1) = K + (K+0) K+(1+1) = K + (0+0) K=K Sehingga [K + (K +1)] + (K+1)= K + [(K+1) + (K+1)] = K 3. c )] + [S + (b . +) dan (Z6/K=Z6/{0. K+1 Z6/K (K+0) + (K+1) = K + (0+1) = K+1 (K+1) + (K+0) = K + (1+0) = K +1 Sehingga (K+0) + (K+1) = (K+1) + (K+0) = K+1 4.4}.) + K K + 1 . .) merupakan distributif perkalian terhadap penjumlahan. Contoh 9.2.2. K+1 Z6/K . 3.1 : Bila K = {0.4}. (S + b)] . . (S + c) = [S+(a.. c)] = [S + (a + b)] .

[ (K+1) + (K+1)= [K .) ke ring (R ) disebut suatu homomorfisma Ring bila a. 9. 1) K=K Sehingga [K . b R berlaku : 1. [K + (1 . Tertutup terhadap perkalian (. Definisi 9. K+1 Z6/K [K . Adanya unsur satuan atau idntitas terhadap perkalian ( . c) K . (K+1)] [K+(0 . Jadi bila K adalah suatu Ideal dan R adalah Ring.) di Z6/K K.) di Z6/K K. Assosiatif terhadap perkalian (. [ (K+1) + (K+1) = [K . (K+1) K + (0 . b) + (a . c) = (a . (K+1) = K . maka kita dapat menentukan Ring Faktor dari R/K dengan membuat tabel daftar Cayley terhadap penjumlahan dan perkalian unsur-unsur dari R/K. 0) = K + 0 = K K . 1)] K + [ 0 . (K+1)]=K Jadi. (K+1) = K + (0 . 1)] . [K+ (1+1)] = [K + (0 . K+1} adalah merupakan suatu Ring Faktor. [(K + 1) . Sebenarnya dari tabel juga kita telah bisa mengetahui bahwa Z6/K adalah merupakan Ring faktor. +. (K+1) = K . (K+1)] = K 8. yang disebut tabel Ring faktor dari R/K. K = K + (1 . (K+1) = K + (0+1) = K + 0 = K Sehingga K Z6/K 7. 1) = K + 0 = K Sehingga (K + 1) + K = K + (K + 1) = K + 0 = K 9. Z6/K = {K. 1)] K + (0 . karena hasil dari penjumlahan dan perkalian unsur-unsur Z6/K menghasilkan unsur-unsur itu sendiri.) di Z6/K Z6/K K  (K+1) . (K+1) = K . 1)] + [K + (0 . b = K +1 dan c = K +1 a . [(K + 1) . 1)] (K + 0) .1)+(0 . 1) = K + (0 . 0) = K + (0+0) K=K Sehingga K . sehingga biar tidak menimbulkan keraguan maka definisi tersebut dapat kita tulis sebagai berikut: . ( b . b) = f(a) f(b) Dalam suatu ring telah kita ketahui operasi biner yang ada pada umumnya adalah operasi penjumlahan dan operasi perkalian. (K+1)] + [K . Sama halnya dengan grup. K+1 Z6/K Berlaku K . pada ring juga ada pemetaan dari ring R kering R yang mengawetkan kedua operasi yang ada dalam Ring tersebut yang disebut dengan homomorfisma ring. (K+1)] K . Distributif perkalian ( . . (1 + 1)] = K + [(0 . f( a + b ) = f(a) f(b) 2. (K+1) = K . (K+1) ] . (K+1)] + [K . (K+1)] .) terhadap penjumlahan (+) di Z6/K K.2 Suatu pemetaan f dari ring (R.2 HOMOMORFISMA RING Pada bab 5 telah kita pelajari mengenai homorfisma grup yaitu suatu pemetaan dari grup G ke grup G yang mengawetkan operasi yang ada pada grup tersebut. K+1 Z6/K Misalkan a = K.K+ (K+1) = (K + 1) + K K+(0 + 1) = K + (1+0) K+1 = K + 1 Sehingga K+ (K+1) = (K+1) + K = K+1 6. f(a .

. c. b) = f(a) . Teorema 9. b R berlaku : 1. (b) a. yaitu bersifat injektif (1 – 1) dan subjektif (pada) disebut dengan isomorfisma Ring.. f(a . b) ≠ f(a) . b R 2ab= 2a. f(b) maka f : Z R dengan f(a) = a adalah suatu homomorfisma Ring. a. 2b 2ab ≠ 4ab karena untuk f(a . . b. f(b) maka f : Z R dengan f(a) = 2a bukan merupakan homomorfisma Ring. f(b). b R berlaku : 1. maka : 1. b R berlaku : 1.) ke ring (R ) disebut suatu homomorfisma Ring bila a.b karena untuk f( a + b ) = f(a) +f(b) dan f(a . Penyelesaian : Akan kita buktikan bahwa a. b) = f(a) . a. f( a + b ) = f(a) +f(b). f( a + b ) = f(a) +f(b). f(a . f(b) Sehingga : 1. b R (a . f(0) = 0 dengan 0 merupakan unsur nol di R dan 0 merupakan unsur nol di R .. b) = (a) . suatu homomorfisma Ring yang bersifat injektif (1 – 1) disebut dengan homomorfisma ring. b R 2( a + b ) = 2a + 2b 2( a + b) = 2(a + b) a+b=a+b 2. f( a + b ) = f(a) +f(b) 2.2 Tunjukan apakah f : Z R dengan f(a) = a adalah suatu homomorfisma Ring. Suatu homomorfisma ring yang bersifat surjektif (pada) disebut dengan epimorfisme ring. Penyelesaian : Akan kita buktikan bahwa a. b) = f(a) . +. ( a + b ) = (a) +(b) a+b=a+b 2. Suatu homomorfisme yang berssifat bijektif. b) = f(a) . Bila pemetaan f : Z R Adalah suatu homomorfisma Ring. f( a + b ) = f(a) +f(b) 2.1 : Misalkan R suatu ring dan R juga merupakan suatu ring. Definisi 9. b) = f(a) .3 Tunjukan apakah f : Z R dengan f(a) = 2a adalah suatu homomorfisma Ring.b=a.5 Suatu homomorfisma dari suatu ring ke dalam dirinya sendiri dinamakan suatu Endomorfisma dan suatu endomorfisma yang bijektif dinamakan Automorfisma ring. f(b) Sehingga : 1. f(b). f(b) ada beberapa definisi khusus mengenai homomorfisma ring adalah sebagai berikut: Definisi 9. Contoh 9. f(a . f(a .4 a. f( a + b ) = f(a) +f(b) 2. f(a . a.. b R . b) = f(a) .3 Suatu pemetaan f dari ring (R. a. Contoh 9.Definisi 9.

6 kernel (inti) dari suatu homomorfisma ring f adalah {a R | f(a) = 0 }. Teorema 2. akan ditunjukan bahwa merupakan suatu pemetaan misalkan K + a = K + b. karena unsur nol di R adalah 0 maka dengan sifat ketunggalan unsur nol didapat f(0) = 0 . Bila adalah suatu homomorfisma dari R pada R dengan kernel k. maka f(-a) = -f(a). a R ambil sebarang nilai a R karena ada a R. Teorema dasar isomorfisma Misalkan terdapat dua Ring R dan R . maka R = R/K. maka (K + a) = (a) dan (K + b) = (b) jika adalh homomorfisma maka (a – b) = (a) – (b) K + a = K + b. terdapat tiga teorema dasar mengenai isomorfisma Ring yang akan dijelaskan dalam sub pokok bahasan ini. yang berarti a + 0 = 0 + a = a Sehingga : f( a + 0 ) = f(a) +f(0) dan f( 0 + b ) = f(0) +f(b) maka : f(a) = f(a) + f(0) = f(0) + f(a) ini berarti bahwa f(0) merupakan unsur nol di R .ambil sembarang nilai a R 0 merupakan unsur nol di R. yaitu teorema dasar isomorfisma. 2. Definisi 9. dimakan K + a . Bukti : Misalkan : R/K R.3. (teorema pertama isomorfisma) Misalkan R dan R adalah suatu ring. maka (K + a) = (a) a. f(-a) = -f(a). maka ada -a R yang berarti a + (-a) = (-a) + a = 0 sehingga : f(0) = f(b +(-a)) = f(a) + f(-a) dan f(0) = f((-a) + a) = f(-a) + f(a) maka f(0) = f(a) + f(-a) = f(-a) + f(a) dari pembuktian f(0) = 0 didapat : f(a) + f(-a) = f(-a) + f(a) = f(0) = 0 dengan sifat keuntungan dari unsur balikan atau invers. Ring R dan R dikatakan isomorfik jika terdapat suatu isomorfisma dari R dan R atau sebaliknya terdapat suatu isomorfisma dari R dan R. Teorema berikut disebut sebagai teorema pertama untuk isomorfisma Ring. berarti juga a – b K Sehingga : (a – b) = 0 (a) – (b) = 0 (a) = (b) (K + a) = (K + b) Jadi merupakan suatu pemetaan b. Akan ditunujukan bahwa merupakan suatu homomorfisma [(K + a) + (K + b) ] = (K + (a + b )) = (a + b) = (a) + (b) . bisa ditulis k = {a R | f(a) = 0} pada sub pokok bahasan berikut akan dibicarakan mengenai teorema yang cukup penting dalam homomorfisma Ring. 9. K + b R/K.

( (K + b) Jadi merupakan suatu homomorfisma c. sehingga (c) = (K + a) = (a) = b R Jadi bersifat surjektif (pada) Terbukti terdapat isomorfisma dari R/K ke R R R/K atau R/K R Terorema berikut ini dusebut sebagai teorema kedua dari isomorfisma Ring. b) ] = (K + (a . bila k suatu ideal dari R dan K S adalah suatu ideal dari R. Akan ditujukan bahwa merupakan suatu homomorfisma Misalkan a. b R berlaku (a + b) = (a) + (b) dan (a . mendefinisikan pemetaan : a R / S a. maka R/S R / S untuk S = {a R | (a) S}. b )) = (a . b) = (a .= (K + a) + ( (K + b) Dan [(K . sehingga K + a = K + b Jadi bersifat injektif (1 – 1) d. berarti a R sehingga (a) = a Maka diperoleh x = (a) + S Pilih a (a) sehingga (a) = (a) + S = x Jadi x R / S . maka R/S (R/K)/(S/K). secara ekuivalen. Akan ditujukan bahwa bersifat surjektif (pada) Misalkan b R . Akan ditujukan bahwa bersifat surjektif (pada) Ambil x R / S Misalkan x = a + S R Jika pemetaan pada. dan S adalah suatu ideal dari R. ( (b) + S ) = (a) . berarti a di petakan K + a R/K Kita pilih c = K + a R/K. (K . a) . (b). (b) Jadi a. Akan ditujukan bahwa bersifat injektif (1 – 1) Misalkaan (a) = (b) K + a = K + b (a) = (b) (a) + (b) = 0 (a + b) = 0 Itu berarti a – b K. yang berarti merupakan suatu homomorfisma b. a R sehingga (a) = x . b) + S = ( (a) . b R Sehingga diperoleh (a) = (a) + S dan (b) = (b) + S (a + b) = (a + b) + S = ( (a) +( (b) + S = ( (a) S ) + ( (b) + S ) = (a) + (b) Dan (a . bila S adalah suatu ideal dari R dan S adalah suatu ideal dari R.( (b) + S = ( (a) S ) .3 ( teorema kedua isomorfisma ) Misalkan R dn R adalah suatu Ring dan adalah homomorfisma dari R pada R dengan kernel K. berarti b = (b) untuk suatu a R Diketahui a R dan f : R/K R. Bukti : Misalkan : a (a) + S atau (a) R / S . b) = (a) . Terorema 9. (b) = (K + a) . b) = (a) .

b) = f(a) . Suatu pemetaan f dari ring (R. dan S adalah suatu ideal dari R. sebab (a) S sehingga a K.c. R dn R adalah suatu Ring dan adalah homomorfisma dari R pada R dengan kernel K. Misalkan R suatu ring dan R juga merupakan suatu ring. bila k suatu ideal dari R dan K S adalah suatu ideal dari R. maka R/S R / S untuk S = {a R | (a) S.Suatu homomorfisme yang berssifat bijektif. padahal R S/K sehingga terbukti terdapat isomorfisma dari R / S . . Bila adalah suatu homomorfisma dari R pada R dengan kernel k. berdasarkan teorema kedua isomorfisma. misalakan R adalah suatu Ring dan S adalah suatu ideal dari R. bila S adalah suatu ideal dari R dan S adalah suatu ideal dari R. 7. dan S adalah suatu ideal dari R.5 Soal – soal latihan . 4 Suatu homomorfisma dari suatu ring ke dalam dirinya sendiri dinamakan suatu Endomorfisma dan suatu endomorfisma yang bijektif dinamakan Automorfisma. 9.4 Rangkuman 1.) ke ring (R ) disebut suatu homomorfisma Ring bila a. 8 Misalkan R dn R adalah suatu Ring dan adalah homomorfisma dari R pada R dengan kernel K.ke R/S R / S R/S (R/K)(S/K).Suatu homomorfisma ring yang bersifat surjektif (pada) disebut dengan epimorfisme ring. Bila pemetaan f : Z R Adalah suatu homomorfisma Ring. padahal (a) = (a) + S Jadi (a) + S = S karena S grup bagian aditif dari R diperoleh (a) = S berdasarkan definisi ideal. yaitu bersifat injektif (1 – 1) dan subjektif (pada) disebut dengan isomorfisma Ring. maka R = R/K. yang berarti S K dari dapat disimpulakan bahwa S = K diperoleh : a R / S homomorfisma surjektif (pada) dengan kernel K = S. Misalkan R dan R adalah suatu ring. 4. Akan ditunjukann bahwa S = K Ambil a ker( ) R Diperoleh (a) = S . b R berlaku : f( a + b ) = f(a) +f(b) f(a . bila S adalah suatu ideal dari R dan S adalah suatu ideal dari R. a R 6. R/S = {S + a | a R } adalah suatu ring factor atau ring kosisen dengan: (S + a ) + (S + b) = S + (a + b ) Dan (S + a ) + (S + b) = S + (a + b ) 2. diperoleh a S jadi a ker( ) a S dengan kata lain . f(b) 3 Suatu homomorfisma Ring yang bersifat injektif (1 – 1) disebut dengan homomorfisma ring. maka R/S R / S untuk S = {a R | (a) S}. secara ekuivalen. diperoleh R/S R / S . +. 9. maka : • f(0) = 0 dengan 0 merupakan unsur nol di R dan 0 merupakan unsur nol di R • f(-a) = -f(a).berarti a R dan (a) S diperoleh (a) = (a) + S . maka R/S (R/K)/(S/K). ker( ) S ambil a S .

b 0 berlaku d(a) d(ab) 2. Dalam bab ini akan dibahas mengenai definisi dan teorema serta sifat-sifat Daerah Euclid. yang nama dari pemetaan –pemetaan tersebut merupakan homomorfisma • F : Z Z.+. carilah ideal-ideal yang digabungkan tersebut dan tunujkan Z4/K adalah merupakan ring factor. 5) Tunjukan bila R. b R dan a. dengan f(a) = 4a • F : Z Z. a. Daerah Ideal Utama dan Daerah Faktorisasi Tunggal.+. ada q.) merupakan integral Domain. b 0 . dengan f(a) = a + 1 • F : Z R. setelah itu harus ditunjukkan pemetaannya dengan d(a) = memenuhi sifat-sifat sebagai berikut: 1. 2) Carilah K yang merupakan suatu ideal yang dibagun oleh 2 dalam Z8. b 0 berlaku d(a) d(ab) 2. ada q. a. a. Mendefinisikan dan memahami sifat-sifat dari Daerah Euclid g. yang memenuhi pemetaan: 1. b Z dan a. Mendefinisikan dan memahami sifat-sifat dari Daerah Faktorisasi Tunggal Deskripsi singkat: Daerah Euclid. tunujukan Z8/K adalah merupakan Ring faktor. R dan R adalah merupakan suatu ring-ring dan bila g : R R dan f : R R adalah merupakan suatu homomorfisma-homomrfisma. Kompetensi khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: f. b R dan a.2 : Tunjukkan bahwa bilangan bulat Gauss (Gauussian Integer). r R sehingga a = qb + r dengan r = 0 atau d(r)< d(b) Contoh 10. maka pemetaan komposisi f g : R R adalah juga merupakan Homomorfisma. a. r Z sehingga a = qb + r dengan r = 0 atau d(r)< d(b) Contoh 10.1 : Ring bilangan bulat Z adalah merupakan Daerah Euclid.) adalah Daerah Euclid. 3) Berikut ini diberikan pemetaan-pemetaan. Daerah Euclid Definisi 10. BAB 10 RING KHUSUS Kompetensi Umum: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat serta karakteristik Ring. Mendefinisikan dan memahami sifat-sifat dari Daerah Ideal Utama h. d(a) = . dengan f(a) = 2a 4) Tunujukan apakah Z2 X Z3 merupakan isomorfisma dengan Z6. Penyelesaian: Untuk menunjukkan bahwa Ring (Z.1. dengan f(a) = a3 • F : Z6 Z3. b Z dan a.1 : Suatu Integral Domain R dikatakan sebagai Daerah Euclid jika untuk setiap a 0 di R ada bilangan tak negative.. harus ditunjukkan terlebih dahulu bahwa Ring (Z.1) Misalkan K adalah ideal – ideal yang digabungkan oleh Z4.. 10. sehingga Z2 X Z3 = Z6. Daerah Ideal Utama dan Daerah Faktorisasi Tunggal merupakan ringring khusus. b 0 . yaitu Z [i] = {a+bi Z} .

Penyelesaian : Untuk menunjukkan bahwa (Z[i]. a dan b Z[i] Maka a dan b tertutup bila a+b = (a1 + b2i) +( b1 + b2i) = (a1 + b1) + (a2 + b2)i Z[i] Assosiatif terhadap penjumlahan (+) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i.) adalah merupakan Daerah Euclid. Z[i] = {a+bi Z}adalah merupakan integral Domain.a dan b Z[i] a + b = (a1 + b2i) +( b1 + b2i) = (a1 + b1) + (a2 + b2)i = ( b1+ a1) + (b2 + a2 )i = ( b1 + b2i) + (a1 + b1) =b+a Sehingga a+b=b+a • (Z[i]. a dan b Z[i] . a dan c = c1 + c2i sehingga a.+) merupakan suatu Grup Komutatif Tertutup terhadap penjumlahan (+) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i..b..a1 + a2i) + (a1 + a2i) = (-a1 + a1) + (-a2 + a2) i =0=e Sehingga a + (-a) = (-a) + a = e = 0 Komutatif terhadap penjumlahan (+) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i .) memenuhi syarat-syarat berikut ini: a.adalah Daerah Euclid dengan d (a+bi) = a2 + b2. • (Z[i].+..) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i.c assosiatif bila a+b+c = [(a1 + b2i) +( b1 + b2i)] + (c1 + c2i) = [(a1 + b1) + (a2 + b2)i ] + (c1 + c2i) = [(a1 + b1) + c1]+[(a2 + b2) ] + c2]i = [a1 + (b1 + c1 )]+[a2 (b2+ c2 )]i = (a1 + a2i) +[(b1 + c1 )+ (b2+ c2 )]i = (a1 + a2i) +[(b1 + b2i )+ (c1+ c2 i)] = a + (b+c) Sehingga (a+b) + c = a + (b+c) Adanya unsur satuan atau identitas terhadap penjumlahan (+) Misalkan a = a1 +a2i dan a Z[i] Terdapat e = 0 Z[i] Maka a + e = (a1 + a2i) +0 = a1 + a2i = a e + a = 0 + (a1 + a2i) = a1 + a2i = a sehingga a+e=e+a=a Adanya unsur balikan atau invers terhadap penjumlahan (+) Misalkan a = a1 +a2i dan a Z[i] Maka a + (-a) = (a1 + a2i) +[-( a1 + a2i)] = (a1 + a2i) -( a1 + a2i) = (a1 – a1) + (a2 – a2i) =0=e (-a) + a = -( a1 + a2i) + (a1 + a2i) = (. akan ditunjukkan bahwa (Z[i].+.) merupakan suatu Semigrup/ Monoid Komutatif Tertutup terhadap perkalian (.

(c1 + c2i) = (a1 + a2i) . Pemetaan Z[i] = {a + bi a.a=a Komutatif terhadap perkalian (.) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i. (b.( b1 + b2i)] . (a2 + b2)i Z[i] Assosiatif terhadap perkalian (. a2 I )+( b2i .b.t Z[i] dan s.b.b Z} dengan d (a + bi) = a2 + b2 memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1.[(b1 + b2i ). b = 0.a dan b Z[i] Maka a dan b komutatif bila a + b = (a1 + b2i) +( b1 + b2i) = (a1 . c = a . a2) i = ( b1 + b2i) + (a1 + a2 i) =b+a Sehingga a+b=b+a • Distrubutif perkalian terhadap penjumlahan Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i.Maka a dan b tertutup bila a+b = (a1 + b2i) .c = [(a1 + b2i) . a1) + (b2 . (b. b1 )+(a1 .c) Sehingga (a. (c1+ c2 i)] = a . sehingga a12 + a22 0 Diperoleh : b12 + b22 = 0 b12 = -( b2 )2 b12 = b2 2 b1 = b2 jadi bahwa Z[i] adalah integral Domain b. e = (a1 + a2i) .e=e.c assosiatif bila a. b2) i = ( b1.1 = a1 + a2i = a e . a dan c = c1 + c2i sehingga a . a = 1 + (a1 + a2i) = a1 + a2i = a sehingga a.) Misalkan a = a1 +a2i dan a Z[i] Terdapat e = 1 Z[i] Maka a .b Z[i] Akan ditunjukkan a . s. ( b12 + b22 )= 0 Karena a1 0 maka a12 0. maka a = 0 atau b = 0 ab = (a1b1 – a2b2) + ( a1b2 + a2b1)i= 0 Andaikan a =a1 +a2i 0 berarti a1 0 dan a2 0 Diperoleh : (a1b1 – a2b2) = 0 dan ( a1b2 + a2b1)i= 0 (a1b1 – a2b2)2 + ( a1b2 + a2b1)2= 0 (a12 + a22 ) .c Z[i] • Tidak ada pembagi nol Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i.( b1 + b2i) = (a1 + b1) . b2i ) + (a2 .) Misalkan a = a1 +a2i dan b = b1 + b2i . a1) + (b1 . a.b) . b1) + (a2i .b dan c Z[i] Maka a.t 0 berlaku d(s) d(st) Misalkan s = a1 + b1i dan t = a2 + b2i t 0 berarti a2 0 atau b2 0 sehingga a22 + b22 0 berarti a22 + b22 1 .b. dan c = c1 + c2i Sehingga a.c) Adanya unsur satuan atau identitas terhadap perkalian (.

11 = 2. Factor Persekutuan Terbesar (FPB) dalam Daerah Euclid dapat dihitung dengan menggunakan Algoritma Euclid. maka kita sebut bahwa b membagi a atau b adalah factor dari a ditulis b a.3 : Carilah factor persekutuan terbesar (FPB) dari 37 dan 20 dan carilah bilangan bulat s dan t sedemikian hingga 37s + 20t = FPB (37. …………. [a] disebut sebagai Ideal Utama.4 + 3 dengan r2 = 3 3.11 + 4 dengan r1 =4 2.2.b) = rk+1 Bila r1 = 0 maka pembagian sekutu terbesar a. Misalkan R adalah suatu ring dan a R maka [a] adalah suatu Ideal R (disebut Ideal yang dibangun oleh a). pengulangan algoritma pembagian dapat ditulis: a = bq1 + r1 dengan d(r1) < d(b) b = r1q2 + r2 dengan d(r2) < d(r1) r1 = r2q3 + r3 dengan d(r3) < d(r2) …. Daerah Ideal Utama Pada bab terdahulu telah dipelajari mengenai Ideal yang dibangun oleh suatu Ring. b dan q adalah tiga elemen dari suatu Integral Domain sedemikian hingga a = qb. 37 = 3.20) = 1 Selanjutnya akan kita cari bilangan bulat s dan t.3 +1 dengan r3 = 1 4. misalkan (2 + i ) (9 + i ) dalam bilangan bulat Gauss Z [i].b adalah b FPB(a.20). (2 + i).b R dan b 0. Algoritma pembagian memberikan jalan untuk mengeneralisasikan konsep pembagi-pembagi dan konsep factor persekutuan terbesar untuk suatu Daerah Euclid.. ……… …………….37 – 9. yang dijelaskan dalam definisi berikut ini: .11 Jadi nilai s = 3 dan t = 10 10. 4 = 1. Diketahui 37s + 11t = 1 Dari algoritma pembagian tersebut kita dapat mencari nilai s dan t sebagai berikut: 37s + 11t = FPB (37.selanjutnya st = (a1a2 – b1b2 ) + (a1b2 – a2b1 )i d(s) = d(a1 + b1 i) = a12 + b12 d(st) = Pada bab 2 telah dibahas mengenai Algoritma Pembagian Bilangan Bulat.4) = 3 .11) = 1 1 = 4 – 1. sehingga 9 + I = (4 + i) .4 – 11 = 3(37 – 3.b adalah rk+1 FPB(a. yaitu sebagai berikut: Definisi 10. Penyelesaian : Menurut algoritma pembagian kita peroleh: Diketahui a = 37 dan b = 11 1.2 : (Algoritma Euclid) Misalkan R adalah Daerah Euclid dan a.11) – 11 = 3.3 = 4 – 1 ( 11 – 2. 3 = 3. Bila a.37 – 10.11 – 11 = 3.b) = b Contoh 10.1 + 0 dengan r4 = 0 Sisa terakhir yang nol menunjukkan bahwa FPB (37. Sebagai contoh. rk-1 = rkqk+1 + rk+1 dengan d(rk-1) < d(rk) rk = rk+1qk+2 + rk+2 dengan d(rk+2) < d(rk+1) bila rk+2 = 0 maka pembagian sekutu terbesar a.

Definisi 10.2} adalah suatu Ideal.2 = 1. 4. Contoh 10.4 : Misalkan R adalah suatu Ring. 2. maka terdapat R sehingga 3 .1 = 1 dan 3. maka S adalah suatu Ideal Utama. dimana [a] merupakan Ideal yang dibangun oleh a.2} 10.6 : Pada beberapa Ring Komutatif sering kita temui “sekawan”. Tunjukkan bahwa S adalah suatu Daerah Ideal Utama.2. Pada Z ini setiap unsurnya dapat difaktorkan secara tunggal ke dalam perkalian-perkalian bilangan prima. Unsur a R dikatak “unit” di R bila terdapat unsur b R sehingga ab = 1.3 Daerah Faktorisasi Tunggal Himpunan bilangan bulat Z terhadap operasi penjumlahan dan perkalian baku membentuk suatu Ring yang juga merupakan suatu Integral Domain. tunjukkan bahwa Subring S = {0.4: Misalkan Z4 = { 0.2} merupakan suatu Ideal di z4 sehingga S = [2] = {o.6 : Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif dan r. • Pada Z7 unit-unitnya adalah semua anggota Z7 kecuali 0 yaitu 1. dan 6.s R. Pada sub pokok bahasan ini akan dibicarakan tentang Ring secara khusus yang merupakan Integral Domain dengan sifat setiap unsurnya selalu dapat dinyatakan sebagai perkalian unsur-unsur prima pada Ring tersebut dan pemfaktorkan tersebut tunggal sehingga Ring ini dinamakan Daerah Faktorisasi Tunggal.1.4 = 1.2}. R disebut sebagai Ideal Utama (Principal Ideal Domain) bila: 1.3.3 =1 Definisi 10. Penyelesaian: Kita harus tunjukkan bahwa unsur-unsur dari z4 yaitu 0. 3. yaitu: [0] = {0} [1] = {0.3 : Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif dan S adalah suatu Ideal di R. = 1.3} merupakan suatu Ring.6 = 1 • Pada Z4 unit-unitnya adalah 1 dan 3 sehingga 1.1. Jadi S adalah merupakan Ideal Utama di z4 dengan S = [2] = {0.2.2. [a] = {xa x R} Definisi 10. R merupakan Suatu Integral Domain.2.3.1} yang unsur-unsurnya adalah 1 dan -1 menghasilkan 1.0 } [3] = {3. sehingga [2] = {0.5 : Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif. (-1) = 1 .3 = 1 dan 6. sehingga 1.5. yaitu sebagai berikut: . Unsur r dikatakan “sekawan” dengan unsur s jika r = as untuk suatu a “unit” di R. S disebut sebagai Ideal Utama bila S = [a] untuk setiap a R.2.0} Dari unsur z4 diketahui bahwa [2] merupakan suatu subring yang merupakan Ideal dari z4.4.1 = 1.4} [2] = { 2.2.5.5 : Pada beberapa Ring Komutatif sering kita temui “unit”. S = {0. Untuk setiap S yang merupakan Ideal di R. sehingga unit-unitnya adalah 1 dan -1 • Pada himpunan bilangan real R yang unit-unitnya adalah sebarang unsur R yang tidak nol. Misalkan 3 R.1 = 1 dan (-1) .1.5 = 1.3 membentuk suatu Ideal. yaitu: • Pada himpunan bilangan {-1. Contoh 10.2}. Contoh 10. Definisi 10.

b R dan a. maka p a atau p b.2.3. dengan a 0 dan b 0. sehingga faktorisasi yang sama dari 2 adalah sekawan.1 : Bila R adalah suatu Daerah Faktorisasi Tunggal dan a.1} unit-unitnya adalah 1 dan -1. (-1) dan 1 =(-1) . Jika p adalah suatu unsure prima R sedemikian hingga p ab.2 =5.7 : Misalkan R adalah suatu Integral Domain. …………. b 0 berlaku d(a) d(ab) • a. ada q.b R.pr dan b = q1q2 …qj . b R dan a. dan p adalah suatu unsur prima R sedemikian hingga p ab.2. ……… ……………. Maka sekawan dari 2 adalah semua bilanagn real R kecuali 0. Contoh 10. Diketahui a R. dan R Daerah Faktorisasi Tunggal. • Pada Z7 unit-unitnya adalah semua anggota Z7 kecuali 0 yaitu 1. 1 • Pada himpunan bilangan real R yang unit-unitnya adalah sebarang unsur R yang tidak nol. r R sehingga a = qb + r dengan r = 0 atau d(r)< d(b) 2. yang memenuhi pemetaan : • a. d(a) = .3.6 dan 2 = 6.pr dan b = q1q2 …qj dengan pi dan qj adalah unsur-unsur prima dari R.1.1. Sehingga diperoleh: ab = (p1p2…pr) ( q1q2…qt) Karena p ab dan pi dan qj masing-masing adalah unsur prima dari R. dengan a 0 dan b 0.4. Suatu Integral Domain R dikatakan sebagai Daerah Euclid jika untuk setiap a 0 di R ada bilangan tak negative.• Pada himpunan bilangan {-1. pengulangan algoritma pembagian dapat ditulis: a = bq1 + r1 dengan d(r1) < d(b) b = r1q2 + r2 dengan d(r2) < d(r1) r1 = r2q3 + r3 dengan d(r3) < d(r2) …. R disebut sebagai Daerah Faktorisasi Tunggal jika untuk setiap a R.3} unit-unitnya adalah 1 dan 3 Misalkan a = 2 dimana a 0 dan a unit..2 Definisi 10. Misalkan R adalah Daerah Euclid dan a.dan 6. Bukti: Misalkan R adalah suatu Daerah Faktorisasi Tunggal dan a. sehingga 2 = 1. Maka a dapat dinyatakan sebagai hasil perkalian sejumlah hingga unsur-unsur tak tereduksi di Z4 dan faktorisasi tersebut adalah tunggal.2. sehingga p a atau p b.2. maka p adalah salah satu diantara p1p2 …. 2 = 3. yang berarti dapat dimisalkan a = p1p2 …. • Pada Z4 unit-unitnya adalah 1 dan 3. maka sekawan dari 2 adalah semua anggota Z7 kecuali 0.2 = 3. Teorema 10. sehingga sekawan dari -1 adalah 1 dan -1 = 1.b R.3 dan 2 = 3. akan ditunjukkan p a atau p b. a 0 dan a unit. Tunggal yang dimaksud dalam hal ini adalah jika terdapat s1s2…sm dan t1t2 …tn adalah faktorisasi yang sama dari suatu unsure dari R maka m = n dan qj dapat disusun kembali sehingga si dan tj sekawan. Maka sekawan dari 2 adalah 1 dan 3.b R dan b 0.7 : Tunjukkan Faktorisasi Tunggal pada Z4 Penyelesaian: Z4 = {0. 1.5. Jadi 2 adalah merupakan Daerah Faktorisasi Tunggal dari Z4 10. rk-1 = rkqk+1 + rk+1 dengan d(rk-1) < d(rk) rk = rk+1qk+2 + rk+2 dengan d(rk+2) < d(rk+1) .5.2.4. 2 = 1. a dapat dinyatakan sebagai hasil perkalian sejumlah unsure-unsur tak tereduksi di R dan faktorisasi tersebut adalah tunggal.2. sehingga 2 = a untuk setiap R yang tidak nol. sehingga 2 = 1.2 = 4. b 0 .4 Rangkuman.

. .+.) • (Z5. . Periksa apakah ring-ring berikut merupakan Daerah Euclid : • (Z2. unsur r dikatakan “sekawan” dengan unsur s jika r = as untuk suatu a “unit” di R.s R.) • (Z4. Tunggal yang dimaksud dalam hal ini adalah jika terdapat s1s2…sm dan t1t2 …tn adalah faktorisasi yang sama dari suatu unsure dari R maka m = n dan qj dapat disusun kembali sehingga pi dan pj sekawan. .) • (Z3.b adalah b FPB(a. .b adalah rk+1 FPB(a. . periksa apakah: • ab adalah unit di R • a + b adalah unit di R 5. Kompetensi Khusus: Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa secara rinci diharapkan dapat: .) • (Z5.b) = b 3.) • (Z4.) • (Z3. Buktikan jika a “unit” di R maka d(1) = d(a) BAB 11 RING POLINOM Kompetensi Umum : Setelah mengikuti pokok bahasan ini mahasiswa dapat mengenal dan mengaplikasikan sifat-sifat Ring Polinom. Misalkan R adalah suatu Integral Domain. Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif. .) • (Z6.) 4. Perikas apakah ring-ring berikut merupakan Daerah Faktorisasi Tunggal: • Z2. . Unsur a R dikatakan “unit” di R bila terdapat unsure b R sehingga ab = 1. Untuk setiap S yang merupakan Ideal di R.+.) • (Z6. maka S adalah suatu Ideal Utama. S disebut sebagai Ideal Utama bila S = untuk suatu a R. Misalkan R adalah suatu Ring. a dan b adalah unit-unit di R. = {xa x R} 4. Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif. 5.+. R disebut sebagai Ideal Utama ( Principal Ideal Domain) bila : a. Perikas apakah ring-ring berikut merupakan Daerah Ideal Utama: • Z2.) • (Z6. Misalkan r. Misalkan R adalah Daerah Euclid. +.bila rk+2 = 0 maka pembagian sekutu terbesar a.) • (Z4. R merupakan Suatu Integral Domain. +.) 2. +.) • (Z5. +. +. 6. dimana merupakan Ideal yang dibangun oleh a. +. . . a dapat dinyatakan sebagai hasil perkalian sejumlah hingga unsure-unsur tak tereduksi di R dan faktorissai tunggal.+. a 0 dan a unit. . . .+. +. +. +. b. R disebut sebagai Daerah Faktorisasi Tunggal jika untuk setiap a R. Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif dan S adalah suatu Ideal di R. .b) = rk+1 Bila r1 = 0 maka pembagian sekutu terbesar a.) 3.5 Soal-soal Latihan 1. . 10.+.) • (Z3.

yaitu koefisien x4 di ruas kiri tidak sama dengan x4 di ruas kanan.m} untuk setiap i.a. Untuk perkalian dan penjumlahan dua buah polinom didefinisikan sebagai berikut: Definisi 11. i {n.2: 3×6 + 2×4 – 2x + 1 karena derajat koefisien yang3×6 + x4 – 2x + 1 tidak sama. maka: p(x) + q(x) = (2×2 + 2) + (2x + 2) = 2×2 + 2x + 4 Definisi 11.2: Misalkan dua buah polinom p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn dan q(x) = b0+b1x1+b2x2+…+bmxm dikatakan sama jika dan hanya jika ai = bi untuk 0.4: Misalkan dua buah polinom p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn dan q(x) = b0+b1x1+b2x2+…+bmxm .1: Bentuk umum dari suatu polinom (suku banyak) adalah p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn = ixi dimana ai adalah koefisien dari p(x). untuk 0 Contoh 11. algoritma pembagian dan unsur tereduksi dan tidak tereduksi dari Ring Polinom. Memahami algoritma pembagian dari Ring polinom c. ci = ai + bi.1: P(x) = 3×6 + x4 – 2x + 1. 11. q(x) = c0+c1x1+c2x2+…+ckxk dimana k = n + m untuk setiap i. adalah polinom yang mempunyai derajat 6. perkalian. Bila xn 0 maka derajat dari p(x) adalah n dan bila n = 0 maka derajat p(x) adalah nol. pembagian dari Ring Polinom d. yaitu sebagai berikut: Definisi 11.1 Ring Polinom Salah satu kegunaan yang terpenting dari teori Ring dan Field adalah perluasan dari suatu Field yang lebih besar atau lebih luas sehingga suatu polinom (suku banyak) yang diketahui mempunyai akar.3: Misalkan dua buah polinom p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn dan q(x) = b0+b1x1+b2x2+…+bmxm . akan dibahas mengenai struktur dari Ring Polinom yang merupakan gabungan dari ring-ring (suku banyak-suku banyak). Berikut ini akan merupakan definisi dari Ring Polinom. Contoh 11. Sedangkan 3×6 + x4 – 2x + 1 = 3×6 + x4 – 2x + 1 karena untuk masing-masing suku yang berkesesuaian mempunyai koefisien yang sama.3: Misalkan p(x) dan q(x) dengan p(x) = 2×2 + 2 dan q(x) = 2x + 2. Bab ini akan membahas mengenai sifat-sifat dari ring Polinom. Menentukan unsur-unsur tereduksi dan tidak tereduksi dari Ring Polinom Deskripsi Singkat: Ring Polinom merupakan gabungan dari dua atau lebih Ring. p(x) . pengurangan. p(x) + q(x) = c0+c1x1+c2x2+…+ckxk dimana k = maks k. Pada sub pokok bahasan ini. Berikut merupakan definisi dari kesamaan dua buah polinom. b. Sebagai contoh Field bilangan kompleks dapat diperoleh dengan memperluas Field bilangan real sehingga semua persamaan kuadrat akan mempunyai solusi.semua i Contoh 11. Menentukan hasil penjumlahan. Memahami definisi dari Ring Polinom. yaitu: Definisi 11. ci = ai b0+ai-1b1+ …+a1bi-1 + a0bi .

f(x). R[x] dikatakan sebagai Ring Polinom atas R dengan R[x] = {p(x). g(x) disebut polinom pembagi. bn berarti derajat f(x) = n dan derajat g(x) = m • Bila n < m berarti derajat f(x) < derajat g(x) Maka terdapat q(x) = 0 dan r(x) = f(x) di R[x] sehingga f(x) = q(x).5: Misalkan p(x) dan q(x) adalah polinom-polinom pada Z3[x]. r(x) g[x] sedemikian hingga: f(x) = q(x)g(x) + r(x) dengan r(x) = 0 atau derajat r(x) < derajat g(x). Definisi 11. Selanjutnya f(x) disebut polinom yang dibagi. Bukti: Bila f(x) adalah polinom nol.1: (Algoritma pembagian polinom-polinom) R[x] danMisalkan f(x) dan g(x) adalah dua buah polinom. maka: p(x) . Dalam sub pokok bahasan ini. q(x) = (2×2 + 2) .6: Misalkan p(x) dan q(x) adalah polinom-polinom pada Z3[x]. an dan 0q(x) = b0+b1x1+b2x2+…+bmxm . maka: p(x) . akan dibahas mengenai algoritma pembagian polinom-polinom. maka: p(x) + q(x) = (2×2 + 2) + (2x + 2) = 2×2 + 2x + (2+2) = 2×2 + 2x + 1 Contoh 11.5: Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif. dan r(x) disebut sisa hasil bagi polinom. r(x). maka q(x) = 0 dan r(x) = 0 adalah polinom-polinom dari R[x] sehingga: r(x) = q(x) .… dan ai Contoh11. adapun tentang pembagian itu dapat dinyatakan dalam algoritma pembagian sebagai berikut: Teorema 11.2)x(2+1) + (2. q(x). maka diperoleh suatu hasil bagi (faktor) dan sisa. q(x) disebut hasil bagi polinom. g(x) R[x] 0. (2x + 2) = 2×2 + 2x + 4 Dari definisi dan sifat-sifat polinom-polinom berikut merupakan definisi dari Ring Polinom. q(x) = (2×2 + 2) . maka terdapat polinom-polinom unik q(x). Rq(x)= ixi.2 Algoritma Pembagian Pada bab terdahulu telah dibahas mengenai algoritma pembagian bilangan bulat. dimana bila suatu bilangan bulat dibagi oleh bilangan bulat yang lainnya.g(x) + r(x) .4: Misalkan p(x) dan q(x) dengan p(x) = 2×2 + 2 dan q(x) = 2x + 2. dengan p(x) = 2×2 + 2 dan q(x) = 2x + 2. g(x) + r(x) Dengan r(x) = 0 0 0 dan g(x) Bila f(x) adalah bukan polinom nol. …} untuk p(x)= ixi. dimana f(x) Misalkan: 0p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn .Contoh 11. polinom-polinom q(x) dan r(x) ditentukan secara tunggal oleh f(x) dan g(x) yang diperlukan.2)x + (2. (2x + 2) = (2.2)x2 + (2+2) = x0 + x + x2 +1 = x2 + x + 2 11. degan p(x) = 2×2 + 2 dan q(x) = 2x + 2.

g(x) + r(x) Dengan q(x) = (anbm-1xn-m) + q1(x) dan derajat r(x) = drajat f(x) < derajat g(x). Keunikan dari faktor g(x) dan keunikan sisa r(x) sama seperti ditunjukkan oleh faktor dan sisa dalam algoritma pembagian bilangan-bilangan bulat. sehingga: f1(x) = q1(x).g(x) + r’(x) dengan r’(x)=0 atau derajat r’(x) < derajat g(x) karena berlaku juga: f(x) = q(x).g(x) + r(x) dengan derajat r(x) = derajat f(x) < derajat g(x) sehingga diperoleh: f(x) = (anbm-1xn-m)g(x) + q1(x). kita misalkan polinom-polinom lain q’(x) dan r’(x) sehingga: f(x) = q’(x). g(x) + r(x) = (x – 1) . Untuk membuktikan keunikan dari q(x) dan r(x). Polinom faktor dan polinom sisa dapat dihitung dengan pembagian panjang dari polinom-polinom tersebut. . Hasil ini diulang terus sehingga diperoleh hasil yang diinginkan. (2x + 2) + 4 = 2×2 – 2x + 2x – 2 +4 = 2×2 + 2 Jadi terbukti bahwa hasil bagi dari p(x) / g(x) = adalah x – 1 dengan sisa 4. dimana p(x) = 2×2 + 2 dan q(x) = 2x + 2.7: Tentukan hasil bagi dari polinom-polinom berikut. Contoh 11. Penyelesaian: Diketahui: p(x) = 2×2 + 2 adalah polinom yang dibagi g(x) = 2x + 2 adalah polinom pembagi p(x) / g(x) = .g(x) + r(x) = q’(x). Sehingga : p(x) = q(x) .dengan derajat r(x) = derajat f(x) < derajat g(x) • derajat g(x) m berarti derajat f(x) Bila n Misalkan: Pembagian f(x) dan g(x) menghasilkan: f(x) = (anbm-1xn-m)g(x) + f1(x) dengan f1(x) adalah polinom berderajat (n-1) di R[x] pembagian f1(x) dan g(x) pada R[x] terdapat q1(x) danm r(x) di R[x]. sehingga q(x) = q’(x) dan r’(x) = r(x)  0 r’(x) – r(x) q(x) – q’(x) jadi terbukti bahwa q(x) dan r(x) adalah unik.g(x) + r’(x) karena itu [q(x) – q’(x)]g(x) = r’(x) – r(x) sehingga ada kemuningkinan yang didapat:  q(x) – q’(x) = 0 dan r’(x) –r(x) = 0.g(x) + r(x) = [(anbm-1xn-m) + q1(x)]g(x) + r(x) = q(x). selanjutnya : x–1 2×2 + 2 2×2 + 2x – 2x + 2 – 2x – 2 4 Dari pembagian polinom-polinom tersebut didapat hasil bagi g(x) = x – 1 dan sisa r(x) = 4. p(x) adalah polinom yang dibagi dan g(x) polinom pembagi.g(x) + r(x) dengan r(x) = 0 atau derajat r(x) < derajat g(x) diperoleh: q(x).

Penyelesaian : Diketahui : P(x) = 2×2 + 2 adalah polinom yang dibagi dalam Z3[x] g(x) = 2x + 2 adalah polinom pembagi dalam Z3[x] artinya koefisien-koefisien dari polinom-polinom tersebut adalah hanya bernilai 0. g(x) + r(x) = x. Sehingga : p(x) = q(x) . p(x) adalah polinom yang dibagi dan g(x) polinom pembagi. 2.8: Tentukan hasil bagi dari polinom-polinom berikut terhadap Z3[x]. g(x) + r(x) = (3x + 3) .Bila tidak ada penjelasan mengenai koefisien polinom-polinomnya dianggap sebagai bilangan real. selanjutnya: 3x + 3 3×3 + 3×2 + 2x + 1 3×3 + 2x 3×2 + 1 3×2 + 2 3 Dari pembagian polinom-polinom tersebut dalam Z4[x] didapat hasil bagi q(x) = 3x + 3 dan sisa r(x) = 3. dan 3 saja. dan 2 saja. Contoh 11. p(x) / g(x) = . dimana p(x) = 3×3 + 3×2 + 2x + 1 dan g(x) = x2 + 2. (2x + 2) + (x + 2) = 2×2 + 2x + x + 22 = 2×2 + (2 + 1)x + 2 = 2×2 + 0x + 2 = 2×2 + 2 Jadi terbukti bahwa hasil bagi dalam Z3[x] dari p(x)/g(x) = adalah x dengan sisa x + 2. g(x) = polinom pembagi. Penyelesaian: Diketahui : p(x) = 3×3 + 3×2 + 2x + 1 adalah polinom yang dibagi dalam Z4[x] g(x) = x2 + 2 adalah polinom pembagi dalam Z4[x]. Contoh 11. Sehingga : p(x) = q(x) . Tetapi bila koefisien polinom-polinomnya ditentukan seperti pada contoh berikut ini. p(x) / g(x) = . selanjutnya : x 2×2 + 2 2×2 + 2x x+2 dari pembagian polinom-polinom tersebut dalam Z3[x] didapat hasil bagi q(x) = x dan sisa r(x) = x + 2. 1. dimana p(x) = 2×2 + 2 dan g(x) = 2x + 2. 1. (x2 + 2) .9: Tentukan hasil bagi dari polinom-polinom berikut terhadap Z4[x]. maka koefisien dan derajat dari polinom-polinomnya sesuai dengan koefisien sesuai dengan Ring yang ditunjuk. Misalkan dalam contoh berikut ditentukan dengan Ring Z3[x]. artinya koefisien-koefisien dari polinom-polinom tersebut adalah hanya bernilai 0.

3 Unsur Tereduksi dan Tidak Tereduksi Pada sub pokok bahasan ini kita akan mempelajari tentang unsur tereduksi dan tidak tereduksi pada Ring polinom. 10: Polinom f(x) = xn + an-1xn + … + a1x + a0 adalah merupakan polinom monik Contoh 11. ditulis x2 + 2  R[x] dikatakan membagi g(x) = 2×2 + 4 f(x) = x2 + 2 Contoh 11.2) + 3 = 3×3 + 3×2 + 2x + 2 + 3 =3×3 + 3×2 + 2x + 1 Jadi pembagian polinom-polinom tersebut dalam Z4[x] dari p(x) / g(x) = adalah 3x + 3 dengan sisa 3. 14: p(x) = x – 1 dengan g(x) = x + 1 adalah merupakan relatif prima Contoh 11. sehingga f(x). Contoh 11.9: R[x] dikatakan relative prima jika membagi sekutu terbesarnya adalah 1.h)h(x) < derajat (f). 11: Misalkan 2×2 + 4 karena 2×2 + 4 = 2(x2 + 2) R[x].10: R[x] dikatakan tak tereduksi atas RSuatu polinom tak konstan f(x) jika f(x) tidak dapat dinyatakan sebagai perkalian dua polinom g(x). bila f(x) = a(x). g(x) Polinom d(x) R[x].2)x + (3. g(x) f(x).Polinompolinom f(x). Definisi 11. maka (x)  (x6 + x3 + x + 1) dan (x)  Jika (x) Contoh 11. maka (x)  f(x) dan (x)  jika (x) Definisi 11. 11. Polinomnya g(x) dikatakanpolinomnya.untuk suatu a(x) Definisi 11. karena x2 – 3 tidak dapat Q[x] dengandinyatakan sebagai perkalian dua polinom g(x).6: Misalkan f(x) adalah suatu polinom dan R[x} adalah merupakan Ring R[x] dikatakan polinom monik bila koefisien x denganPolinom. g(x) Definisi 11. f(x) pangkat tertingginya adalah 1. R[x] dengan derajat (g. bila d(x) adalah polinom monik sehingga: • g(x) f(x) dan d(x)  d(x) • d(x) g(x). h(x) derajat (g. dinotasikan dengan (f(x). 13: Pembagi sekutu terbesar antara p(x) = x6 + x3 + x + 1 dengan q(x) = x+1 adalah x + 1 adalah polinom monik sehingga:  (x + 1) (x6 + x3 + x + 1) dan (x + 1)  (x+1)  (x + 1) (x + 1).= (3x +3) .g(x)) = d(x) dengan f(x) dan g(x) tidak boleh keduanya nol. 15: f(x) = x2 – 3 tidak tereduksi di Q[x].g(x) 0. ditulis g(x) membagi f(x) dengan g(x) R[x].(x2 + 2) + 3 = 3×3 + 3×2 + (3.8:  R[x] disebut membagi sekutu terbesar dari f(x).h) < derajat (f) .7: Misalkan f(x) dan g(x) adalah dua buah polinom dan R[x] merupakan ring R[x]. Adapun definisi-definisinya adalah sebagai berikut: Definisi 11.

Bukti:  misalkan f(x) tereduksi atas R berarti f(x) = g(x).h(x) dengan 0 < derajat (g(x)) dan derajat (h(x)) < derajat (f(x)).. penjumlahan polinom-polinom p(x) + q(x) = C0 + C1x1 + C2x2 +semua i …. maka diperoleh: P(0) = 02 + 0 + 2 =2 P(1) = 12 + 1 + 2 =1+0 =1 P(2) = 22 + 2 + 2 =1+1 =2 Z3 sehingga p(x) = 0Karena tidak terdapat x Jadi p(x) tidak teredukdi atas Z3 Contoh 11.2}. R. Penyelesaian: Z3 = {0.2}. 1.4 Rangkuman 1.1.Teorema 11. Contoh 11. berarti g(a) = 0 sehingga f(a) = 0. Bentuk umum dari suatu polinom (suku banyak) adalah p(x) = a0+a1x1+a2x2+… +anxn = ixi dimana ai adalah koefisien dari p(x). Misalkan dua buah polinom p(x) = a0+a1x1+a2x2+…+anxn dan q(x) = b0+b1x1+b2x2+…+bmxm dikatakan sama jika dan hanya jika ai = bi untuk 0. maka g(x) = x – a. 11.2: R[x] dan misalkan derajat (f(x)) = 2 atau 3.+ Ckxk + dimana k = maks {n. Bila xn 0 maka derajat dari p(x) adalah n dan bila n = 0 maka derajat p(x) adalah nol. untuk 0 ≤ I ≤ k. Ci = ai + bi.m} untuk setiap i.  Rmisalkan f(a) = 0 dan a berarti (x-a) adalah factor dari f(x) jadi f(x) tereduksi atas R. q(x) = C0 + C1x1 + C2x2 + …. maka diperoleh: P(0) = 02 + 0 + 1 =1 P(1) = 12 + 1 + 1 =1+2 =0 P(2) = 22 + 2 + 1 =1+0 =1 Z3 sehingga p(1) = 0Karena terdapat x = 1 Jadi p(x) tereduksi atas Z3. untuk a Jadi f mempunyai pembuat nol di R. Diperoleh g(x) atau h(x) berderajat 1. perkalian polinom-polinom p(x) .17: Tunjukkan bahwa polinom p(x) = x2 + x + 2 tidak tereduksi atas Z3. maka berlakuBila f(x) f(x) tereduksi atas R jika dan hanya jika f mempunyai pembuat nol di R.1..Misalkan g(x) berderajat 1.+ Ckxk dimana k = n + m .18 Tunjukkan bahwa polinom p(x) = x2 + X + 1 tereduksi atas Z3 Penyelesaian: Z3 = {0.

…} untuk p(x)= ixi. f(x) + g(x) dalam Z4[x] b. Misalkan R adalah suatu Ring Komutatif.q(x)= ixi. Misalkan f(x) adalah suatu polinom dan R[x} adalah merupakan Ring R[x] dikatakan polinom monik bila koefisien x denganPolinom. 8.  R[x] disebut membagi sekutu terbesar dari f(x).g(x)) = d(x) dengan f(x) dan g(x) tidak boleh keduanya nol. f(x) x g(x) dalam Z4 [x] d. 5.… dan ai 3. Soal-soal Latihan 1. maka terdapat polinom-polinom unik q(x). bila f 0. R[x] dan misalkan derajat (f(x)) = 2 atau 3. Carilah : a. Carilah : a. f(x) + g(x) dalam Z5[x] . Diketahui polinom-polinom f(x) = 3×4 + 4×3 – x2 + 3x-1 dan g(x) = 2×2 + x +1. R[x]Misalkan f(x) dan g(x) adalah dua buah polinom. f(x) pangkat tertingginya adalah 1. f(x) : g(x) dalam Q[x] 4.polinom-polinom q(x) dan r(x) ditentukan secara tunggal oleh f(x) dan g(x) yang diperlukan. dinotasikan dengan (f(x). r(x). q(x) disebut hasil bagi polinom.h)h(x) < derajat (f). R[x] dikatakan sebagai Ring Polinom atas R dengan R[x] = {p(x). ditulis g(x) membagi f(x) dengan g(x) (x) = a(x). f(x) x g(x) dalam Q[x]] d. f(x) – g(x) dalam Z4 [x] c. 2. q(x). R[x] dengan derajat (g. maka berlakuBila f(x) f(x) tereduksi atas R jika dan hanya jika f mempunyai pembuat nol di R. f(x) x g(x) dalam Q[x] d. Diketahui polinom-polinom f(x) = 3×3 + x2 + 2x + 2 dan g(x) = x2 + 3. g(x) R[x] 0.untuk setiap i. r(x) dan g[x] sedemikian hingga: f(x) = q(x)g(x) + r(x) dengan r(x) = 0 atau derajat r(x) < derajat g(x). maka (x)  f(x) dan (x)  jika (x) 7. dan r(x) disebut sisa hasil bagi polinom 4. f(x). f(x) : g(x) dalam Q[x] 2.untuk suatu a(x) 6. g(x) disebut polinom pembagi. Polinomnya g(x) dikatakanring polinomnya. f(x) – g(x) dalam Q[x] c. R[x] dikatakan tak tereduksi atasSuatu polinom tak konstan f(x) R jika f(x) tidak dapat dinyatakan sebagai perkalian dua polinom g(x). Selanjutnya f(x) disebut polinom yang dibagi. f(x) + g(x) dalam Q[x] b. Ci = aib0 + ai-1¬b1+ ……+a1bi-1 + a0bi. 11. Misalkan f(x) dan g(x) adalah dua buah polinom dan R[x] merupakan R[x]. g(x) f(x). bila d(x) adalah polinom monik sehingga: • g(x) f(x) dan d(x)  d(x) • d(x) g(x). f(x) + g(x) dalam Q[x] b. Diketahui polinom-polinom f(x) = 3×4 + 4×3 – x2 + 3x-1 dan g(x) = 2×2 + x +1. f(x) : g(x) dalam Z4 [x] 3. sehingga f(x). g(x) Polinom d(x) R[x]. Carilah : a. R. f(x) – g(x) dalam Q[x] c. 5. Diketahui polinom-polinom f(x) = 3×3 + x2 + 2x + 2 dan g(x) = x2 + 3. Carilah : a.g(x) R[x].

Erry. p(x) = x2 – 4 di R[x] c. Diketahui polinom-polinom f(x) = x7 + x6 + x5 + x4 +x+1 dan g(x) = x3 + x +1. 1993. New York: John Willey & Sons. I. Herstein. Jakarta: Universitas Terbuka. 2nd Edition. A. f(x) – g(x) dalam Z2[x] c. Periksalah apakah polinom – polinom berikut tereduksi atau tidak tereduksi a. f(x) – g(x) dalam Z5[x] c. p(x) = x6 + 1 di Z11 [x] DAFTAR PUSTAKA Dublin J. Malang: Universitas Negeri Malang. f(x) x g(x) dalam Z2[x] d. Aljabar Modern. R. 1985. Carilah : a. f(x) : g(x) dalam Z5[x] 5. Soebagjo. p(x) = x5 + 3×4 + x3 + 4×2 + 2x + 5 di Z6[x] b. 1975. Modern Algebra. Depdikbud.S. f(x) x g(x) dalam Z5[x] d. 1989. Bandung: Tarsito. f(x) + g(x) dalam Z2[x] b. Materi Pokok Struktur Aljabar. 2001. p(x) = x7 + 3 di Z10 [x] d. New York: John Willey & Sons. Struktur Aljabar.b. Wahyudin. Hidayanto.N. Topic In Algebra. . f(x) : g(x) dalam Z2[x] 6.