You are on page 1of 4

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA

)
A. Pengertian
Infeksi saluran pernafasan Akut adalah pross inflamasi yang disebabkan oleh virus,
bakteri, atipikal ( mikoplasma ) atau aspirasi substansi asing, yang melibatkan sesuatu atau
semua bagian saluran pernafasan. ( Wong L. Donna, 2003 ; 458 ).
ISPA adalah infeksi primer nasofaring dan hidung yang sering mengenai bayi dan
anak.( Ngastiyah, 1995 ; 12 ).
B. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah virus dan alergi. Masa menular beberapa jam sebelum
gejala timbul sampai 1 – 2 hari sesudah gejala hilang. Komplikasi timbul akibat invasi
sekunder bakteri patogen seperti : pneumokokus, streptokokus, Haemophilus influenzae atau
stafilokokus.
Masa tunasnya adalah 1 – 2 hari, dengan faktor predesposisi kelelahan, gizi buruk,
anemia, dan kedinginan. Pada ummnya penyakit teradi pada waktu pergantian musim
( Ngastiyah, 1995 ; 12 ).
C. Fisiologis
Fisiologis dari Respirasi
Konsentrasi O2 menurun CO2 dan H+ naik

Chemo Reseptor pada cabang aorta dan karotid merangsang medula

Impuls melalui spina cord ke otot intercostalis kontraksi

Paru – paru mengembang

Inhalasi

Dibawa ke alveoli

Difusi O2 dan CO2
Pernafasan pertama dari hidung menghirup O2 dan mngeluarkan CO2, dari sini
konsentrasi O2 menurun CO2 dan H+ naik, setelah itu chemoreseptor pada cabang aorta dan
karotid merangsang medula dari situ melalui Impuls spina cord ke otot respiratory untuk

dan diafragma melengkung ke otot inrcostalis kontraksi dan paru – paru dapat mengembang dan terjadi inhalasi. Klasifikasi ISPA meliputi : Sinusitis. 1995. inflamasi juga menyebabkan proses infeksi sehingga timbul hipertermi b/d proses aktivasi virus. Patofisiologis ISPA disebabkan oleh virus dan alergi dari sini dapat menyebabkan inflamasi dan edema mukosa hidung. edema di mukosa hidung. Pharyngitis. Manifestasi klinis : disfagia. etiologi : virus dan bakteri ( misal : hemolytic stertcocy. suara serak. yang pertama melalui CO2 dibuang via jalan nafas ( ekhalaisi / elspirasi ). pemeriksaan : Ditemukan membran mukosa meradang atau hiperemi dan edema dengan post nasal drips serta tonsil membesar. tonsilitis dan laringitis. dan Haemofilus influenza ( Ngastiyah . Edema mukosa hidung menyebabkan meningkatkan mediator – mediator nyeri sehingga dapat meningkatkan prostaglandin di hipotalamus sehingga menyebabkan gangguan rasa nyaman nyeri telan b/d proses inflamasi. 16 ). plak putih pada amandel. 2) Sinusitis adalah radang sinus yang ada di sekitar hidung. . neisseria gonnorhoeae ). pneumokokus. sesak nafas dan stridor disebabkan karena kuman Streptococcus hemolyticus. Sinusitis dapat berlangsung akut atau kronik . dan yang kedua : melalui O2 larut dalam plasma dan Diikat Hb setelah itu diabawa sampai sel dan dapat berdifusi O2 dan CO2 lagi D. tahun 1995. Sinusitis pada anak tersering dijumpai pada anak umur 6 – 11 tahun ( Ngastiyah . demam. 20 ). batuk kering. Rhinitis. penularannya : transmisi droplet dengan masa inkubasi waktu beberapa jam – hari. Dari inflamasi dapat meyebakan peningkatan produksi sekret sehingga timbul ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d penumpukan sekresi dihidung. ia dapat mengenai anak yang sudah besar. 1) Pharyngitis adalah proses peradangan pada tenggorokan. setelah itu dibawa ke alveoli dan dufusi O2 dan CO2 melalui 2 jalan . inflamasi pada mukosa hidung. hal 15 ).berkontraksi. Staphylococci. saat sinus parnasal sudah berkembang. 3) Laringitis adalah radang pada laring yang disertai batuk keras. dapat berupa sinusiotis maksilaris atau sinusitis frontalis. E. Streptococcus viridans. 1995. tenggorokan edema atau hiperemi ( Ngastiyah .

( Wong L. 2003 . Pemeriksaan Penunjang 1) X – Ray pada sinus : Mengkonfirmasi diagnosa sinusitis dan mengindentifikasi masalah – masalah struktur. ( Marilyn Dongoes . 4 ) H. 462 ). 2003 . 3) Keluaran nasal : Sering menyertai infeksi pernafasan. stridor. suhu dapat mencapai 39. Donna . 2001. dapat menetap selama beberapa bulan setelah penyakit muncul ( Wong L. dapat menyebabkan otitis media dan sinusitis. paling besar pada usia 6 bulan sampai 3 tahun. Manifestasi Klinis 1) Demam : Tidak ada pada bayi baru lahir. sedatif untuk menenangkan pasien. 462 ). donna . 2003 . dapat mencetuskan kejang febris.5º – 40. 2) Sumbatan Nasal : Pasase nasal kecil dari bayi mudah tersumbat oleh pembengkakan mukosa dan eksudasi. 4) Batuk : Gambaran umum dari penyakit pernafasan dapat menjadi bukti hanya selama fase akut. 2) CT – Scan sinus : Mendeteksi adanya infeksi pada daerah sfenoidal dan etmoidal. Kecenderungan untuk mengalami peningkatan suhu disertai infeksi pada keluarga tertentu. 2003 . suara sesak. Donna . 3) Darah Lengkap : Mendeteksi adanya tanda – tanda infeksi dan anemi. 462 ). 462 ). misalnya ekspektoransia untuk mengatasi bauk. Donna .F. malformasi rahang. mungkin encer dan sedikit ( rinorea ) atau kental pada purulen bergantung pada tipe dan atau tahap infeksi berhubungan dengan gatal. mengi ( Wong L. 5) Bunyi pernafasan : Bunyi yang berhubungan dengan penyakit pernafasan : batuk. Dapat mengiritasi bibir atas dan kulit sekitar hidung ( Wong L. mengorok. G. Dapat mempengaruhi pernafasan dan menyusu pada bayi. Penatalaksanaan Untuk batuk pilek tanpa komplikasi diberikan pengobatan simtomatis.5 ºC bahkan dengan infeksi ringan. dan anti peiretik .

Jakarta. Pada anak besar dapat diberikan tetes hidung larutan efedrin 1 %. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. penumpukan sekret hingga dapat meyebabkan bronkopneumonia. Wong. EGC . Kapita Selekta Kedokteran. Penghisapan lendir hidung tidak efektif dan sering menimbulkan bahaya. Jakarta. ( 1997 ). Jakarta. Jakarta . Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. (2000). Edisi 3 jilid 2. ( 1997 ). Buku Kedokteran EGC . EGC . Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik. Edisi 9.untuk menurunkan demam. EGC . 13 ). Edisi 3. Mary E. dapat diberikan pengobatan dengan penyinaran ( Ngastiyah. Jakarta. Selain pengobatan tersebut. Lynda Juall. ( 2005 ). Donna L. Muscari. ( 2000). Perawatan Anak Sakit. Media Aesculapius . Hall & Guyton. Jakarta. Cara yang paling mudah untuk pengeluaran sekret adalah dengan membaringkan bayi tengkurap. bila ada infeksi sekunder hendaknya diberikan antibiotik. Diagnosa Keperawatan. terutama yang kronik. Mansjoer. karena menyebabkan depresi pusat batuk dan pusat muntah. Batuk yang produktif ( pada bronkoinfeksi dan trakeitis ) tidak boleh diberikan antitusif. Keperawatan Pediatrik. Ngastiyah. Obstruksi hidung pada bayi sangat sukar diobati. Arief. misalnya : kodein. EGC . 1995 . ( 2003 ).