PROFESIONALISME GURU SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGRI 2 CIKATOMAS KABUPATEN TASIKMALAYA

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar dapat ditunjukkan melalui nilai yang diberikan oleh

seorang guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh siswa. Setiap kegiatan pembelajaran tentunya selalu mengharapkan akan mengahasilkan pembelajaran yang

maksimal. Dalam proses pencapaiannya, prestasi belajar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan

pembelajaran adalah keberadaan guru. Mengingat keberadaan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat

berpengaruh, maka sudah semestinya kualitas guru harus diperhatikan. Untuk itu, upaya awal yang dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas guru. Kualifikasi pendidikan

1

guru sesuai dengan prasyarat minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang profesional.Guru profesional yang dimaksud adalah guru yang berkualitas,berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswayang nantinya akan menghasilkan prastasi belajar siswayang baik. Adapun pengertian guru menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni berikut: .guru adalah pendidik profesional membimbing, dengan tugas utama melatih,

mendidik,mengajar,

mengarahkan,

menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan dasar dan menengah..Selanjutnya Moh Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional mendefinisikan bahwa: guru

profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan kemampuan tugas dan fungsinya Pendapat sebagai lain guru dengan oleh

maksimal.

dikemukakan

Asrorun Ni.am Sholeh dalam buku yang berjudul Membangun Profesionalitas Guru, mengungkapkan bahwa: dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (values) serta membangun karakter (character building) siswa secara berkelanjutan.

Dari uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa profesi mengajar merupakan kewajiban yang hanya

dibebankan kepada orang yang berpengetahuan. Dengan demikian, profesi mengajar harus didasarkan pada adanya kompetensi dan kualifikasi tertentu bagi setiap orang yang hendak mengajar. Secara konseptual urain diatas memberikan dua hal prinsip dalam konteks membicarakan mengenai profesi guru dan dosen. Pertama, adanya semangat

keterpanggilan jiwa, pengabdian dan ibadah. Profesi pendidik merupakan profesi yang mempunyai kekhusususan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dan memerlukan keahlian, idealisme, kearifan dan

keteladanan melalui waktu yang panjang. Kedua, adanya prinsip profesionalitas, keharusan adanya kompetensi dan kualifikasi akademik yang dibutuhkan, serta adanya

penghargaan terhadap profesi yang diemban. Maka prinsip idealisme dan keterpanggilan jiwa serta prinsip profesionalitas harus mendasari setiap perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat guru dan dosen. Dengan demikian profesi guru dan dosen merupakan profesi tertutup yang harus sejalan dengan prinsip-prinsip idealisme dan profesionalitas secara sampai akibat pada perjuangan dan berimbang. Jangan penonjolan aspek

3

profesionalisme berakibat penciptaan gaya hidup materialisme dan pragmatisme yang menafikan idealisme dan

keterpanggilan jiwa. Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Johson, sebagaimana yang dikutip oleh Martinis Yamin mencakup tiga aspek, yaitu; (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, dan (c) kemampuan personal (pribadi). Akan tetapi melihat realita yang ada, keberadaan guru professional Menjamurnya sangat jauh dari apa yang yang dicita-citakan. mutunya

sekolah-sekolah

rendah

memberikan suatu isyarat bahwa guru profesional hanyalah sebuah wacana yang belum terrealisasi secara merata dalam seluruh pendidikan yang ada di Indonesia. Hal itu

menimbulkan suatu keprihatinan yang tidak hanya datang dari kalangan akademisi, akan tetapi orang awam sekalipun ikut mengomentari ketidakberesan pendidikan dan tenaga

pengajar yang ada. Kenyataan tersebut menggugah kalangan akademisi, sehingga mereka membuat perumusan untuk meningkatkan kualifikasi guru melalui pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dari pelatihan sampai

dengan intruksi agar guru memiliki kualifikasi pendidikan minimal Strata 1 (S1). Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka

penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul “PROFESIONALISME GURU DAN HUBUNGANNYA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWASMP NEGERI 2 CIKATOMAS KABUPATEN TASIKMALAYA”. Alasan penulis mengambil judul itu, Stelah peneulis melihat, membaca, serta mengidentifikasi permasalahan yang tertera pada data yang diperoleh. Adapun datanya swebagai berikut : Tabel : 1 Jumlah peseta dan lulusan SMP se-Indonesia Dari Tahun 2003 s.d. 2008 Persentas Tahun 2003/20 04 2004/20 05 2005/20 06 2006/20 07 2007/20 08 Peserta 2.382.2 59 2.450.2 72 2.343.3 83 2.499.7 87 2.542.9 17 Lulusan % 2.301.58 96,62 4 2.368.33 96,65 9 2.265.98 96,69 2 2.436.50 97,46 6 2.508.78 98,65 9 6,05 5,42 5,42 5,42 4,80 rata Nlai Rata-

Sumber : Departemen Pendidikan Nasional (Badan Statistika Pendidikan Nasional)

Dari tabel diatas didapat bahwa peserta ujian nasional dari tahun 2005/2006 sampai tahun 2007/2008 mengalami penongkatan, demikian pula dengan jumlah lulusan seiring 5

dengan meningkatnya peserta ujia nasional meningkat pada jumlah lulusannya, tetapi bila dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh dari tahun 2003/2004 s.d. 2004/2005 mengalami peningkatan, tetapi dari tahun 2004/2005 sampai dengan tahun 2006/2007 seolah-olah diam ditempat todak mengalami peningkatan, ini bisa dilihat dari nilai rata-rata. Baru dari tahun 2006/2007 ke tahun 2007/2008 mengalami peningkatan yang cukup berarti. Sedangkan ila dliha dari persentase kelulusan dari tahun 2005 sampai dengan ahun tahun 2008 mengalami peningkatan. a. Analisa : Penyebab terjadinya peningkatan persentase kelulusan dikarenakan:

− Adanya peningkatan jumlah peserta, − Sedangkan bila dilihat dari nilai rat-rata dari tahun 2004/2005 sampai dengan tahun 2006/2007 tidak terjadi peningkatan. Hal ini dikarenakan tenaga pengajar (guru) di

banyak Sekolah baik Negeri maupun Swasta masih banyak yng kualifikasinya jauh

dibawah standar persyaratan minimal yang telah tenaga ditetapkan, pengajar serta yang masih mengajar banyak tidak

sesuai dengan bidang yang dibinanya.

b. Argumentasi : Bila profesionalisme guru ditingkatkan, maka dapat

meningkatkan prestasi elajar siswa lebih baik, seperti yang telah terjadi antara tahun 2006/2007 sampai dengan

2007/2008, terlihat seperti pada tabel berikut : Tabel 2 Jumlah Guru Menurut Izajah Tertinggi di SMP se-Indonesia Dari Tahun 2003/2004 – 2007/2008
Tahun
2003/20 04 2004/20 05 2005/20 06 2006/20 07 2007/20 08

D1
38.7 22 42.3 03 47.8 95 72.7 76 48.6 14

D2
64.2 14 38.7 79 44.4 51 45.5 45 35.9 61

D3 Non Keg Keg
67.7 38 83.8 10 96.4 46 86.4 94 70.7 30 4.76 9 10.0 60 11.7 02 16.1 77 16.4 23

Sarmud Non Keg Keg
30.7 87 23.3 90 26.5 57 5.74 4 9.04 9 10.5 88

S1 Non Keg Keg
245. 515 285. 087 322. 113 344. 527 391. 358 9.55 9 25.0 86 29.6 03 26.4 21 27.2 54

S2
2.0 07 2.7 87 3.1 58 8.7 60 5.4 01

Jml
469. 055 520. 351 592. 513 600. 040 595. 741

Sumber : Departemen Pendidikan Nasional (Badan Statistika Pendidikan Nasional)

Dari tabel diatas terlihat, bahwa keberadaan guru di Indonesia pada Sekolah Mennengah Pertama di Indonesia masih belum memenuhi kriteria guru profesional bila dilihat dari kualifukasi pendidikan yang guru yang selesai dengan

persyaratan

minimal

ditentukan

oleh

syarat-syarat

7

seorang guru yang profesional, sesuai dengan instruksi agar guru memiliki kualifikasi minimal strata 1 (S 1). Untuk dapat lebih efektif serta efisien untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan penelitian selanjutnya, maka penulis akan menyelesaikan penelitian pada salah satu

sekolah yang berada di daerah Kabupaten Tasikmalaya, yaitu Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya. 2. Identifikasi Masalah A. Pernyataan Masalah 1. Kebijakan Pemerintah bahwa guru wajib

memilki kompetensi minimal Strata I (S1) yang menjadi permasalahan baru adalah, guru hanya memahami intruksi tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan yang sifatnya administratif. Sehingga

kompetensi guru professional dalam hal inti tidak menjadi prioritas tersebut, kurang utama. kontribusi Dengan untuk bahkan

pemahaman siswamenjadi terabaikan. 2. Minimnya

terperhatikan

tenaga

pengajar

dalam

suatu

lembaga pendidikan juga memberikan celah

seorang guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan keahliannya. Sehingga yang menjadi imbasnya adalah siswasebagai anak didik tidak mendapatkan maksimal. hasil pembelajaran adalah yang sasaran

Padahal

siswaini

pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan, bantuan, latihan, pengetahuan

yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai, sikap yang baik dari seorang guru. Maka hanya dengan seorang guru profesional hal tersebut dapat terwujud secara utuh, sehingga akan menciptakan kesadaran kondisi dan yang menimbulkan dalam proses

keseriusan

kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, apa yang disampaikan seorang guru akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran.

Sebaliknya, jika hal di atas tidak terealisasi dengan baik, maka akan berakibat ketidak puasan siswadalam proses kegiatan belajar mengajar. 3. Tidak kompetennya seorang guru dalam

penyampaian bahan ajar secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil dari

9

pembelajaran.

Karena

proses

pembelajaran

tidak hanya dapat tercapai dengan keberanian, melainkan faktor utamanya adalah kompetensi yang ada dalam pribadi seorang guru guru. dalam

Keterbatasan

pengetahuan

penyampaian materi baik dalam hal metode ataupun penunjang pokok pembelajaran lainnya akan berpengaruh terhadap pembelajaran. 4. kegagalan pendidikan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tingkat profesionalisme guru yang kurang baik.

B. Identifikasi Masalah Agar masalah dalam penelitian ini lebih fokus dan tidak menyimpang dari apa yang ingin diteliti, maka penulis mengidentifikasi pada permasalahan sebagai berikut: 1. Secara garis besar, permasalahan yang menyangkut dengan profesionalisme guru sangat kompleks sekali. Adapun pada skripsi ini, profesionalisme guru yang dimaksud adalah profesionalisme guru Ilmu Pendidikan Sosial yang profesional, guru yang yaitu guru yang yang memiliki dapat

kompetensi,

berkualitas

mempengaruhi prestasi belajar siswa. Kompetensi guru

yang akan diteliti dalam skripsi ini dibatasi ke dalam empat kategori, yakni; merencanakan program belajar mengajar, menguasai bahan pelajaran, melaksanakan dan memimpin atau mengelola proses belajar mengajar, serta menilai kemajuan proses belajar mengajar. 2. Sedangkan prestasi belajar yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kemampuan siswayang diperoleh dari

penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dilihat dari hasil belajar siswaberupa nilai raport dalam bidang IPS Terpadu. Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka

rumusan masalah yang akan diteliti adalah: • Bagaimana profesionalisme guru IPS Terpadu SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya ? • Bagaimana prestasi belajar siswadalam bidang studi IPS Terpadu SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten

Tasikmalaya ? • Apakah ada korelasi antara profesionalisme guru IPS Terpadu dengan prestasi belajar siswadi SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya?

3. Maksud dan Tujuan Penelitian A. Maksud

11

Adapun maksud dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui profesionalisme guru, 2. Memperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa, 3. Mengetahui hubungan antara profesionalisme guru

B. Tujuan 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat

profesionalisme guru dalam bidang studi IPS Terpadu yang ada di sekolah SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya 2. Untuk memperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswaIPS Terpadu SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya dalam bidang studi IPS Terpadu. 3. Untuk mengetahui hubungan antara profesionalisme guru dalam proses pembelajaran dengan prestasi belajar

siswadalam bidang studi IPS Terpadu.

4. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang hendak dicapai dari hasil penelitian ini : 1. Penelitian sekolah ini berguna untuk untuk kepala

meningkatkan

profesionalisme dan kinerjan guru. 2. Penelitian rangka ini juga bermanfaat dalam

memperbaiki

kegiatan

pembelajaran sekolah yang bersangkutan. 3. Melalui penelitian ini diharapkan guru

mampu meningkatkan kualitas personal dan profesional sebagai pendidik. 4. Bagi lembaga (instansi) yang terkait,

diharapkan dapat menjadi bahan acuan dalam meningkatkan kaderisasi pendidik baik untuk saat ini maupun untuk yang akan datang. 5. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan mendapat informasi baru mengenai pengetahuan yang harus tentang dimiliki profesionalisme seorang demikian, guru. dapat

Sehingga

dengan

memberikan masukan dan pembekalan untuk proses kedepan.

13

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Profesionalisme Guru 1. Pengertian Profesionalisme Guru Istilah profesionalisme berasal dari profession. Dalam Kamus Inggris Indonesia, .profession berarti pekerjaan..1 Arifin (1995:105) mengemukakan bahwa profession mengandung

arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Kunandar (2007: 45) disebutkan pula bahwa “profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh

seseorang”. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Martinis Yamin (2007:35) “profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas”.Jasin Muhammad dalam (Namsa 2006:29), “profesi adalah .suatulapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yng berorientasi pada pelayanan yang ahli”.

Pengertian profesi ini tersirat makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan yang ahli. Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik

15

kesimpulan

bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau

keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperolah melalui proses pendidikan secara akademis. Dengan demikian, guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna. Usman (2006:14-15) “bahwa suatu pekerjaan yang bersifat professional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum”. Kata .profesional itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dalam memenuhi kebutuhan hidup yang

dapat memperoleh pekerjaan lain. Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal. Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah, suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

17

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertantu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional. guru profesional juga diharapkan mampu

memberikan mutu pendidikan yang baik sehingga mampu menghasilkan siswayang berprestasi. Untuk mewujudkan itu, perlu dipersiapkan sedini mungkin melalui lembaga atau sistem pendidikan guru yang memang juga bersifat profesional dan memeliki kualitas pendidikan dan cara pandang yang maju. B. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar Kata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu .prestasi. dan belajar. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895), yang dimaksud dengan presatasi adalah: .Hasil yang telah dicapai (dilakukan, menurut dikerjakan, pengertian dan secara

sebagainya).Adapun

belajar

psikologis, adalah merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan seluruh aspek tingkah tersebut laku. akan nyata dalam

Menurut

Slameto(2003:2)

pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut: . ”Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.M. Ngalim Purwanto (2003:83) “mengemukakan bahwa belajar adalah .tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap”. Dalam rumusan H. Spears dalam bahwa Dewa belajar Ketut itu Sukardi

(1983:13)

“mengemukakan

mencakup

berbagai macam perbuatan mulai dari mengamati, membaca, menurun, mencoba sampai mendengarkan untuk mencapai suatu tujuan”. Selanjutnya, definisi belajar yang diungkapkan oleh Cronbach dalam Sumardi Suryabrata (2002:39)

“menyatakan bahwa: belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya”. Berdasarkan definisi yang dikemukakan beberapa tokoh di atas, maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang merupakan sebagai akibatdari pengalaman atau latihan.

19

Sedangkan pengertian prestasi belajar sebagaimana yang tercantum dam Kamus Besar Bahasa Indonesia .penguasaan pengetahuan atau keterampilan adalah: yang

dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar dapat bersifat tetap dalam serjarah kehidupan manusia karena sepanjang kehidupannya selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masingmasing. Prestasi belajar dapat memberikan kepuasan kepada orang yang bersangkutan, khususnya orang yang sedang menuntut ilmu di sekolah. Prestasi belajar meliputi segenap ranah kejiwaan yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswayang bersangkutan. Prestasi belajar dapat dinilai dengan cara: a. Penilaian formatif Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajarmengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan.

b. Penilaian Sumatif Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana

penguasaan atau pencapaian belajar siswaterhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. 2. Jenis-jenis Prestasi Belajar Pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah pada diri siswa sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa . Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah meneliti perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garisgaris besar indikator (penunjuk adanya prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis prestasi yang hendak diukur. Tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai tiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswadalam menerima hasil pembelajaran atau ketercapaian siswa dalam penerimaan pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar akan terukur melalui ketercapaian siswa dalam penguasaan ketiga ranah tersebut. Maka Untuk lebih

spesifiknya, penulis akan akan menguraikan ketiga ranah

21

kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai berikut: a. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilakuperilaku yang menekankan aspek pengertian, dan intelektual, seperti berpikir.

pengetahuan,

keterampilan

Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama adalah berupa Pengetahuan dan bagian kedua berupa

Kemampuan dan Keterampilan Intelektual. Winkel (1996: 247) “Pengetahuan (Knowledge) Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar dan sebagainya. Pengetahuan juga diartikan sebagai kemampuan mengingat akan hal-hal yang pernah dipelajaridan disimpan dalam ingatan atau problem yang konkret dan baru. Pemahaman (Comprehension).Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti yang dari bahan yang dipelajari”. b. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti

minat, sikap, apresiasi,dan cara penyesuaian diri. Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hail belajar atau

kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. c. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilakuperilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan

mengoperasikan mesin.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap siswa, karena melalui belajar mereka memperoleh pengalaman dari situasi yang dihadapinya.Dengan perubahan demikian diri belajar berhubungan sebagai hsil

dengan

dalam

individu

pengalamannya di lingkungan. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan menjadi dua macam Sabri (1992:59-60)” a. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi dua aspek yakni: 1) Aspek Fisiologis Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendisendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswadalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak membekas. 2) Aspek Psikologis Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualits perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswayang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: a) Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) b) Sikap siswaSikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif c) Bakat Siswa Secara umum, d) Minat b. Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), terdiri dari factor lingkungan dan faktor instrumental sebagai berikut: 1) Faktor-faktor Lingkungan Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: faktor lingkungan alam/non sosial dan faktor lingkungan sosial. 2) Faktor-faktor Instrumental Faktor instrumental ini terdiri

23

dari gedung/sarana fisik kelas, sarana/alat pengajaran, media pengajaran, guru dan kurikulum/materi pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa”.

C. Kerangka Penelitian Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka dapat

dibangun kerangka pemikiran sebagai berikut : • Hubungan Profesionalisme Guru Dengan

Prestasi Belajar Siswa Guru yang memiliki prefesionalisme yang baik yang dapat mewujudkan tujuan dari pendidikan. Profesionalisme guru yang menjadi peran utama dalam pendidikan. Tidak kompetennya seorang guru dalam penyampaian bahan ajar secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil dari pembelajaran. Karena proses pembelajaran tidak hanya dapat tercapai dengan keberanian, melainkan faktor utamanya adalah kompetensi yang ada dalam pribadi seorang guru. Keterbatasan pengetahuan guru dalam penyampaian

materi baik dalam hal metode ataupun penunjang pokok pembelajaran pembelajaran. lainnya Dari itu akan semua berpengaruh dalam terhadap ini

penelitian

mencoba meneliti sejauh mana Profesionalisme Guru Serta

Hubungannya Dengan Prestasi Belajar SiswaDi SMP Negeri 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya. Benang merah dari teori-tori di atas dapat dibuat bagan sbb:

D. Hipotesis Untuk menguji ada atau tidaknya hubungan variabel X (profesionalisme guru) dengan variabel Y (prestasi belajar siswa), maka penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut:: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara

profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswadi SMPN 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya. Ho: Tidak terdapat

hubungan positif yang signifikan antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswadi SMPN 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya. Dari hipotesis di atas, penulis memiliki dugaan sementara bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswadi SMPN 2 Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya. BAB BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Cikatomas 25

Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi. Jawa barat.

3.2. Metode Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode deskriftif analisis yaitu metode penelitia yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan pelaksanaannya tidak hanya terbatas pada pengumpulan serta penyususnan data melainkan melputi analisis dan interpretasi data (Winarno, 1989:139).

3.3.

Variabel dan Operasionalisasi Variabel Untuk memperoleh data dari hubungan

profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS Terpadu di SMPN 2 Cikatomas Kaupaten Tasikmalaya, penulis membuat daftar dalam dua variabel, yaitu : “variabel X yang merupakan variabel

bebas/dependent” untuk profesionalisme guru dan “variabel Y meerupakan variabel terikat/independent” untuk prestasi belajar siswa.

Tabel 2.1. Overasional Variabel

Variabel Prefesionalism e Guru (X)

Dimensi Variabel Kompetensi Guru

Indikator a) Kompete nsi Pedagogi k b) Kompete nsi Sosial c) Kompete nsi Profesion al d) Kompete nsi Kepribadi an a) Hasil UN b) Nlai Raport c) Nilai Ulangan Blok

Skala

Interval

Prestasi Belajar Siswa (Y)

Hasil Belajar

Interval

3.4. Tekhnik Pengumpulan Data a) Metode Angket/Kuesioner Angket adalah sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperole informasi dari responden baik berupa laporan tentang pribadi atau hal-hal yang diketahui. Nasution (2001:128), atau dapat “ angket adalah langsung daftar pertanyaan di distribusikan melalui post untuk di isi dan dikembalikan dijawab dibawah pengawasan langsung peneliti”. b) Metode Dokumentasi Metode ini penulis gunakan un tuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa atau nilai yang diperoleh siswa, khususnya pada pelajaran IPS Terpadu.

27

3.5. Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis Teknik analisis data yang digunakan meliputi : a. Validasi Untulk mendapatkan tingkat kevalidan atau kesahehan suatu instrumen. Menggunakan rumus korelasi product moment simpangan : dengan

Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y dan variabel yang dikorelasikan (x=X – X, dan y= Y – Y) ∑xy = jumlah perkalian x dan y

= kuadrat dari x

= kuadrat dari y

b. Reliabilitas pengujian angket dilakukan dengan cara internal consistency dengan rumus

Keterangan :

= reabilitas secara keseluruhan P = proporsi subjek yang menjawab intern dengan benar Q = proporsi subjek yang menjawab intern dengan salah (q = 1 – p) ∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q n = banyaknya item S = standar deviasi dari tes

c. Analisis Statistik Dalam menganalisis data yang tela terkumpul, penulis

menggunakan tekhnik analisa dengan langkah-langkah sebagai berikut : Menyortir lembar jawaban yang diberikan oleh responden Memberikan skor terhadap jawaban dari responden Mentabulasi data ke dalam tabel perhitungan antara

profesionalisme guru hubungannya dengan prestasi belajar siswa Mengadakkan perhitungan untuk mengetahui antara

profesionalisme guru hubungannya dengan prestasi belajar

29

siswa dengan rumus

r hitung =

{n.∑ X

n(∑ XY ) − (∑ X )(∑ Y )
2

− (∑ X ) 2 . n.∑ Y 2 − (∑ Y ) 2

}{

}

Keterangan: r hitung = Koefisien korelasi antara variabel x dengan y ∑X = Variabel Bebas ∑Y = Variabel Terikat n = Jumlah Responden ∑XY = jumlah perkalian tiap skor asli x dan y

d. Uji Hipotesis Untuk menguji hipotesis menggunakan uji t dengan rumus : r n−2 t hitung = 1− r2

Keterangan : t = t hitung r = koefisien korelasi n = jumlah data Untuk mengetahui apakah korelasi memiliki tingkat

signifikan delakukan dengan cara membandingkan t hitung dengan t tabel. a. Jika t hitung < t tabel. Maka Ho diterima dan Ha ditolak,

artinya profesionalisme guru tidak ada hubungan dengan prestasi belajar siswa. b. Jika t hitung > t tabel. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya profesionalisme guru terdapat prestasi belajar siswa. hubungan dengan

3.6. Jadwal Penelitian N o Uarian Kegiatan Waktu Kegiatan Tahun 2009/2010 Des Jan 1 2 3 4 5 6 7 Persiapan Penelitian Penyusunan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penelitian Pelaksanaan Penelitian Lapangan Pengolahan Data Penelitian Penulisan/Penyusuna n Skripsi Pelaksanaan Ujian Sidang Skripsi Fe b Ma r Ap r M ei Ju n

DAFTAR PUSTKA Arifin, H.M, Kapita Selekta Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995, Cet. Ke-3. Departemen Pendidikn dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, Cet. Ke- 2. 31

Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006, Cet, Ke-4. http://www.unissula.ac.id/v1/download/Peraturan/PP_19_2005_ST ANDAR_NAS _PENDDKN.. http://www.setjen.depdiknas.go.id/prodhukum/dokumen/5212007 134511Permen_ 162007.pdf Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Gur, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007, Cet. Ke-1. Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya: Bandung, 2008, Cet. Ke-3. _____, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003, Cet. Ke-19. _____, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996,Cet. Ke-2. Sholeh, Asrorun, Ni.am, Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: eLSAS, 2006, Cet. Ke-1. Sudjana, Nana, Dasar-dasar Pproses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Sinar Baru Algesindo, 1998, Cet. Ke-4. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:Rineka Cipta, 2002, Cet. Ke-12. Departemen Pendidikn dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka, 2002, Cet. Ke- 2.

Namsa, M. Yunus, Kiprah Baru Profesi Guru Indonsia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Pustaka Mapan, 2006, Cet. Ke-1. Sukardi, Dewa, Ketut, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional, 1983, Cet. Ke-1. Suryabrata, Sumardi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindi Persada,2002, Cet. Ke-2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Bandung: Citra Umbara, 2006, Cet. Ke-1. Usman, M. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006, Cet. Ke-20.

33

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful