You are on page 1of 31

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

artinya infeksi yang terjadi dirumah sakit. maka infeksi nosokomial dapat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit dasar.07.07.04.04 No: Sprin / 278 / XI/ 2015 Tentang Pembentukan Tim Pokja Akreditasi Rumah Sakit Tk IV 02. terdiri dari berbagai unit terkait yang bertanggung jawab kepada Karumkit Tk iv 02. Akibat lain adalah hari rawat yang lebih panjang dan itu berarti perlu adanya tambahan biaya sedangkan bagi rumah sakit dapat memberikan kesan kurang baik terhadap pencegahan infeksi yang merupakan indikator keselamatan pasien rumah sakit. PENGORGANISASIAN Berdasar pada SK Kepala Rumah Sakit Tingkat IV 02.Juni 2015) 1.03 RUMAH SAKIT TINGKAT IV 02.04 LAPORAN INFEKSI RUMAH SAKIT TAHUN 2015 (Januari. Hal ini berimplikasi sangat luas menimbulkan masalah bagi penderita dan dapat merugikan nama baik rumah sakit. bahwa PPIRS berbentuk Panitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit.07. PENDAHULUAN Terjangkitnya infeksi Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan/HAIs (Hospital Aquired Infections).04 dan Komite Medik. 2. ada Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit yang terdiri dari unsur perawat (IPCN =Infection prevention control nurse dan IPCLN= Infection prevention control link nurse) . Kemudian untuk operasional.04 tanggal 18 Nopember 2015.07. Sebagai sebuah penyakit yang berdiri sendiri (terlepas dari keterkaitan penyakit dasar) yang muncul sebagai akibat tindakan medis dan asuhan keperawatan yang dilakukan baik sesuai SPO atau pun tidak.DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 02.

Petugas IPCN belum purna waktu. iklim dan cuaca. Petugas PPI / IPCN dapat bertugas secara purna waktu dengan jumlah tenaga sesuai dengan kapasitas tempat tidur yaitu 1:100 TT.PPIRS mempunyai peran penting dalam rangka memberikan pelayanan yan berkualitas terhadap pasien. biaya yang belum teranggarkan dan lain-lain 4. 3. Masukan dari PPI untuk keselamatan pasien dan keselamatan pekerja dapat diperhatikan oleh seluruh pegawai dan pengambil keputusan. Memberi pengertian dan tambahan wawasan terhadap pasien dan pengunjungnya tentang perkembangan penyakit dan kuman setidaknya akan mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien. .07.04 dan bisa berkolaborasi dengan unit yang lain untuk kemajuan dan akhirnya berpartisipasi dalam mewujudkan mayarakat Indonesia yang berkualitas. Semua kendala saat ini dapat dihilangkan pada tahun ini. baik langsung ataupun tidak langsung. 4. Dalam perjalan kinerjanya PPIRS masih menghadapi beberapa kendala antar lain belum ditetapkannya IPCN yang Purnawaktu sehingga banyak hal yang tidak tergarap antara lainnya adalah pekerjaan survey yang harus dilakukakan secara kontinyu dan berkesinambungan. 2 Kendala yang dihadapi : 1. PPIRS kedepan bisa memberikan kontribusi yang baik untuk peningkatan mutu layanan di Rumah Sakit Tingkat IV 02. 2. masih diberi tugas merangkap Harapan-harapan 1. Masukan PPIRS tidak bisa langsung dilaksanakan mengingat keadaan. Beberapa kerjasama yang semestinya di lakukan dengan unit lainnya menjadi tidak dapat dilakukan contohnya mendisain sebuah ruangan seharusnya melibatkan unsur PPIRS untuk memberikan masukan kepada tim/unit/pihak yang melaksanakan pembangunan sehingga dapat sesuai atau paling tidak mendekati kaidah PPI 3. 2. Sehat dan Mandiri sehingga usia harapan hidup akan lebih baik.

GOENAWAN PARTOWIDIGDO JANUARI .3 3. TABEL ANGKA INFEKSI REKAP ANGKA INFEKSI RUMAH SAKIT PARU Dr. M.JUNI 2014 PENYEBUT N O BULAN 1 JANUARI 2 FEBRUARI 3 MARET 4 APRIL 5 MEI 6 JUNI IVL UC WSD ETT PEMBILANG CVL JUMLAH DALAM / MIL NO 1 JAN-JUNI JML INF % TIRAH BARIN G Ventilator Assosiate d Pneumon ia Hospital Acquired Pneumon ia Infeksi Saluran Kemih Infeksi Aliran Darah Phlebit is Lab Phlebiti s IVL Infek si Luka WSD Decubit us .

Kepatuhan cuci tangan petugas saat sebelum melaksanakan tindakan a septic masih sangat rendah. Dekubitus masih terjadi sebesar ……… ‰. 1. HAP nihil. orang pasien yang terifeksi dan angka ini masih dianggap wajar. dan ini menjadi salah satu indikator mutu pelayanan. SURVEY KEPATUHAN CUCI TANGAN (HH) .% artinya daalam 100 kali operasi akan ada …. 2. VAP nihil. 5. Penggunaan IV line ≥ 1 minggu di satu tempat. Terdapat Infeksi luka WSD …….. meskipun belum ada data untuk kepatuhan cuci tangan. 5. berarti tiap 1000 hari perawatan akan ada pasien yang phlebitis sebanyak …… orang akibat pemasangan infus dan ada …… orang phlebitis akibat pengambilan sample darah.4 4. Perawatan luka / puncture site yang tidak adequate 6. ‰ berarti setiap 1000 hari perawatan akan terjadi 2 kasus infeksi sekitar luka WSD. ANALISA TABEL Terjadi infeksi saluran kemih. Rumus untuk mendapatkan inciden rate: kejadian infeksi kasus baru X 1000 Semua pasien yang berpotensi terinfeksi Rumus untuk mendapatkan inciden rate pada kasus bedah Jumlah kejadian infeksi kasus baru X 100 Semua pasien yang berpotensi terinfeksi (post op) Kemungkinan penyebabnya adalah .. IADP nihil ( ditunggu selama 3x24 Jam) Phlebitis akibat pemasangan infus sebesar ……. 3. Infeksi luka Operasi ……. 4. pasca pemasangan urine catheter sebesar …… ‰ (mil). Lingkungan terkontaminasi kuman. Prosedur yang tidak dijalankan dengan baik saat pemasangan IV Catheter. ‰ dan akibat pengambilan darah laboratorium sebesar …… ‰ dan ini terkait dengan mutu pelayanan dan tidak ditunggu 3 x 24 jam. Disinfeksi yang tidak adequat.

04 hanya 21.Tabel survey kepaatuan cuci tangan yang dilaksanakan pada 2015 NO NAMA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 a.5 0 0 21. 27. 1 1 0 0 0 0 0 0 TIDAK % .3 45.. c. b.7 V V Analisa tabel diatas Sebelum kontak dengaan pasien hanya ……. d. X X X X X X X X V V . X X X X X X X V V V 3 X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X .. 20 20 0 0 0 0 0 0 80 80 60 21. . . X 4 V V X V 4 V V X X 3 3 5 0 0 13 . % Sebelum melakukan tindakan hanya ……. SESUDAH KONTAK DENGAN CAIRAN TUBUH PASIEN TINDAKAN SEBELUM KONTAK DENGAN PASIEN SEBELUM MELAKUKAN TINDAKAN ASEPTIK SETELAH KONTAK DENGAN PASIEN SETELAH KONTAK DENGAN LINGKUNGAN PASIEN GV VISITE VISITE GV GV GV PERBEDENT GV GV AS ETT AS ETT VISITE JUMLAH .7 .07.% Sesudah kontak dengan cairan tubuh pasien hanya …….% Setelah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien hanya 0 % Jadi kepatuhan cuci tangan di Rumkit Tk IV 02.7% YA .

sehingga tidak dikira-kira dan ada bukti otentik bahwa infeksinya akibat kuman yang terdapat dilingkungan rumah sakit dan atau petugas rumah sakit. IV 02. Namun meskipun baru beberapa pasien yang diperiksa kultur sudah ditemukan beberapa kuman penyebab HAIs antara lainnya sudah ditemukan MRSA.07. akan berdampak pada banyak hal terutama. Tapi pada kasuskasus yang jelas terjadi infeksi setelah 2 hari perawatan di RS (3 x 24 jam). tapi tidak aman bagi pasien.07. sarung tangan menjadi media perpindahan kuman dari satu pasien kepasien lainnya. sehingga infeksi yang terjadi betul-betul dapat dikendalikan. Pseodomonas. . maka tidak menunggu hasil kultur.  Manfaat Pemeriksaan Kultur o Mengetahui jenis kuman/peta kuman o Mengetahu resistensi kuman/Mengetahui Antibiotik yang harus diberikan Pemeriksaan Kultur di RS TK. Telah dimaklumi bersama bahwa.04 sudah dimulai untuk pemeriksaan kultur dan Resistensi dimana manfaat dari pemeriksaan tersebut adalah untuk meneliti peta kuman di RS dengan demikian pemberian antibiotik/antimikroba kepada pasien betul-betul berdasar pada peta kuman yang ada.GAMBARAN CUCI TANGAN DI RUMKIT TK IV 02.04. MEKANISME PENENTUAN HAIs DENGAN KULTUR Di Rumkit Tk IV 02.07. Penggunaan sarung tangan yang salah. ke Catatan medik dll.07. penentuan beberapa kasus infeksi rumah sakit harus ditentukan dengan pemeriksaan kultur. Selain itu pemeriksaan kultur juga dilakukan untuk pemeriksaan kejadian HAIs. dan beberapa kuman yang belum familier di RS TK. IV 02. ke nurse station.04 Gambaran seperti ini diakibatkan karena setiap tindakan mereka selalu menggunakan sarung tangan (Handschoen).04 baru dimulai pada bulan Mei 2015 sehingga belum ada hasil peta kuman dan baru akan ada hasilnya pada juni 2015. ini yang mengakibatkan cuci tangan menjadi diabaikan karena semua merasa aman untuk dirinya. MRS. 6.

P jumlah % Keterangan inisiatif Dari daftar tersebut maka belum semua dokter aktif meminta pemerikasaan kultur dan kultur yang diperiksa baru terbatas pada sample.MARS dr.Sp.Sp.M dr. Noldy. Bima Wisnu Nugroho. dahak dan cairan pleura . Ivan Ferdion dr.7.Pd dr.B dr. Khaeriyah dr. Coccus Cairan Pleura Dahak Cairan Kacapiring pseudomonas Pseudomonas Melati Gram(-) sp Pseudomonas Melati Batang Gram(-) Aureginesus Acinobacter Coccus gaumanii.THT.An dr. TABEL PEMERIKASAAN KULTUR TERKAIT HAIS Berikut ini ada beberapa pasien yang yang diperkirakan terpapar kuman RS Nama Jenis Specimen dahak Ruangan Pemeriksaa Hasil kultur Melati n Gram(-) Klebsiella. Hotmen Sijabat.Sp. ada 28 pasien yang dimperiksa kultur oleh dokter sehingga terdapat gambaran secara kulitatif sbb: Daftar dokter yang memeriksakan kultur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Dokter dr. Rosdianti. Nina.Sp.Sp. Djoko Sulistyo P.Sp. Pleura staphylococc Dahak Kacapiring Gram(-) Coccus Gram(-) us Staphylococc us aureus Batang Pemeriksaan Kultur harus diminta/oleh dokter klinisi ynang merawat. Imelda dr.

ILO. Urine. . sudah dilaksanakan meskipun belum sepenuhnya. baik darah. khususnya bagi petugas/karyawan yang rencananya akan dilakukan immunisasi Hep. Adapun prosedur tetap terkait pemeriksaan kultur akan segera diterbitkan. Kampanye Cuci tangan (hand Hygiene campain) Kegiatan ini terus dilaksanakan dan secara bertahap kesadaran untuk pentingnya cuci tangan Program kepada pasien dan pengunjung rumah sakit: Program pendidikan dan pelatihan kepada pasein dan penunggunya belum dilaksanakan secara berkesinambungan. orientasi petugas/karyawan baru siswa perawat. Program immunisasi tahap ke II belum dapat dilaksanakan pada bulan ini karena terbentur dengan anggaran. sehingga apa saja yang harus diperiksa.Harapan dan himbauan : Semua dokter berperan aktif untuk memeriksakan kultur.B Untuk Survey dapat terlaksana secara rutin untuk melihat mutu pelayanan ditinjau dari beberapa angka infeksi yang antara lain ISK. langkah pengambilan dan perlakuan terhadap sample dapat dilaksanakan dengan benar. cairan tubuh pasien. 8. memberikan informasi tentang pengendalian infeksi kepada pengunjung menjadi bagian yang cukup penting untuk bisa terkendalinya infeksi nosokomial (HAIs). pneumania. sebelum diberi antimikroba/antibiotik. Program pendidikan kepada petugas sedikit demi sedikit sudah berjalan. KEGIATAN YANG SUDAH DILAKSANAKAN a. apusan tenggorokan (untuk pasien yang dipasang ETT) dan diperiksa pada hari ke 3 perawatan di RS. Sosialisasi tentang pengendalian infeksi masih sangat minim dilakukan.

04 segeraa dapat disusun. sepsis. Pengunjung baik anak dibawah 12 th sampai yang dewasa bebas memasuki area rumah sakit. Sepalosporin generasi III adalah antimikroba yang banyak dipilih. di Hotel Emmersia Bandar Lampung oleh Persi. Kejadian infeksi sangat terkait dengan terkait dengan program penyehatan lingkungan dirasakan masih perlu banyak koreksi terutama lingkungan pasien yang berbaur dengan penunggu pasien sangat mempengaruhi infeksi silang dari penunggu kepada pasien atau sebaliknya. sehingga formularium antibiotika/ antimikroba di Rumkit Tk IV 02. Mengikuti Workshop tenaga surveiland pada 9 – 12 Juli 2014 yang dilaksanakan oleh Dirjen BUK. b.04 belum ada standarisasi / formularium yang disepakati. decubitus dan angka infeksi pada pemasangan WSD. c. mengurangi kontaminasi terhadap pasien Sampai saat ini bila kita perhatikan pembatasan waktu berkunjung belum sempurna bahkan hampir tidak dibatasi. hal. PENGGUNAAN ANTI MIKROBA Penggunaan antibiotika dan antimikroba di Rumkit Tk IV 02. 10.07. kemudia golongan quinolon dan gol penisilin adalah pilihan ke 3. Bahwa pemetaan kuman di Rumkit Tk IV 02.04 saat ini sedang berlangsung dimana hasil peta kuman dapat digunakan untuk keperluan penggunaan antibiotika dan antimikroba yang wajar. ketertiban keamanan dan kenyamanan. Pemutusan rantai karena akan kebersihan menyangkut lingkungan. karena dokter lebih mengutamakan kesembuhan pasiennya dengan cara pemberian antimikroba yang dipercaya. . Pada umumnya antimikroba yang digunakan adalah sepalosforin generasi III. 9.07. PEMBATASAN PENGUNJUNG Pembatasan pengunjung menjadi penting beberapa penularan.tusukan jarum infus.07. Mengikuti Pelatihan PPI dasar Pada 16 – 22 Maret 2015.

4 ‰ terjadinya phlebitis akibat tusukan jarum. 11. pisen lauk. tapi digunakan untuk semua pasien. sehingga terkadang ruangan menjadi penuh dan pengap. Sehingga perlu adanya pelatihan kepekaan untuk mengamil darah. Kesimpulan a).07. Rekomendasi . Seperti di ruangan lain yang seharusnya menjadi ruangan “isolasi” digunakan juga oleh keluarga pasein untuk tidur dan menunggu pasien diruangan yang sama/diruang rawat. kesamaan cara desinfeksi dan tidak menggunakan sarung tangan satu kali pakai. b) Kewaspadaan isolasi belum dipahami oleh staf dan petugas dilapangan sehingga masih mengabikan prinsip-prinsip / konsep kewaspadaan isolasi. keculai angka phlebitis yang masih perlu ditindak lanjuti karena hal ini menjadi indikator mutu RS. dan alat makan (nampan. Sehingga meskipun kami tidak memeiliki data yang pasti. b. dan piring makan) tidak terdapat kuman/mikroorganisme yang pathogen yang dapat menyebabkan kesakitan atau wabah. plato. LAPORAN PENGUJIAN BALAI BESAR TEHNIK KESEHATAN LINGKUNGAN PALEMBANG  Bahwa saat dilakukan pengujian baku mutu udara tidak ditemukan angka diatas baku mutu yang telah ditetapkan  Untuk pemeriksaan alat medis. mangkok. tentunya perlu disadari oleh berbagai praktisi kesehatan lainnya seperti laboratorium juga memberikan kontribusi sebesar 23.  Seluruh ruangan terdapat/ditemukan jamur (laporan kami lampirkan) 12. Angka Infeksi rumah sakit / HAIs. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI a. sehingga menjadi kurang nyaman. di Rumkit Tk IV 02. usap dinding.04 periode April juni 2014 masih terkendali. banyak ditemukan yang dulunya menunggu pasien sekarang menjadi pasien.Diruang kelas VIP melati belum bisa dilaksanakan pembatasan pengunjung.

sesuai aturan yang ada. bisa dilakukan pada kelompok-kelompok kecil disetiap ruangan. dan pelatihan penangan pasien menular. 7) Perlu difikirkan penggunaan masker efisiensi tinggi sperti N 95. 8) Untuk Instalasi gizi agar memperbaiki cara mencuci bahan makanan dan alat makan yang digunakan pasien. Perlu adanya pelatihan / Refresh untuk pemasangan IV Chateter. melakukan tindakan secara septik dan a septik. mengeksekusi vena. 3) Kepada Komite Medik segera merampungkan pedoman/panduan penggunaan antibiotik/antimikroba yang wajar. 5) PKMRS Agar memberikan pemahaman kepada semua pihak baik kepada petugas maupun pengunjung tentang pembatasan kunjungan dimana waktu belum terkontrol dan anak-anak dibawah 12 tahun masih banyak yang masuk bahkan menginap di ruangan rawat inap. meskipun linen bukan media transmisi yang baik untuk kuman direkomendasikan supaya . 2) Untuk Bidang Perawatan dan Diklat. troli ECG. termasuk unit laboratorium. Jangan abaikan 5 moment di poliklinik. 9) Dari hasil PPI Day (survey ke ruangan perawatan) a. gunakan disinfekstan yang aman untuk pencucian bahan makanan dan alat makan bila perlu menggunkan air hangat. kami anggap salah jika visite. tangan (handscoen) dan cara yang terbaik adalah menertibkan/membiasakan Hand Hygiene (5 moment). tidak hanya di ruangan poli DOTS saja tapi diruangan rawat inap yang mempunyai resiko yang sama sehingga para perawat mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dalam melakukan tindakan keperawatan / merawat pasien yang beresiko menular secara airbone. menyuapi menggunakan sarung pasien. dan akses menuju poli yang lainnya. 6) Selayaknya Poli bedah dilaksanakan di poliklinik saja sehingga OK hanya digunakan sesuai fungsinya. sebaiknya diatur kembali untuk akses khusus. nyetir tindaakan Mendorong membagi dll masih pasien/menggotong makanan. penentuan kaliber jarum infus. Gordeng sebaiknya tidak menggunakan dari bahan linen. pasien. bila mungkin alat makan dilakukan sterilisasi. 4) Gunakan sarung tangan sewajarnya. mulai dari desinfeksi.1) Poli MDR sudah berjalan. sambil menunggu peta kuman yang akan direalisasikan pada tahun ini. pemasangan elektrode membersihkan mendorong lantai.

Kesed alas kaki sebaiknya tidak digunakan karena akan menjadi media yang subur untuk pertumbuhan kuman. Ventilasi di ruang anggrek dan poliklinik lantai 2 adalah yang paling buruk sebaiknya segera dibuatkan exhous fan sehingga udara dapat bersirkulasi dengan baik.menggunakan bahan-bahan dari sejenis plastik sehingga mudah untuk dibersihkan. Penjimpanan linen kotor harus pada kontainer yang tertutup. sehingga pada saat dibawa ke loundry kuman yang terdapat pada linen kotor tidak beterbangan / menjadi droplet. b. 10) Suport dan pengawasan serta kepedulian tentang HAIs dari pihak direksi dan stafnya secara berkesinambungan sangat dibutuhkan untuk dapat meningkatkan layanan yang berkualitas. Tentu tujuannya adalah mempertahankan kebersihan ruangan karena sering kali pengunjung memakai sepatu / sandal yang kotor. h. Kursi yang digunakan untuk pelayanan sebaiknya dilapisi sejenis kalp/plastik agar mudah untuk dibersihkan. dengan Seharusnya meningkatkan frekwensi pembersihan lantai. kaki pengunjung menjadi terkontaminasi kuman dari lantai rumah sakit selain itu juga mengganggu akses keluar masuk ruangan karena pada umumnya diletakan didepan mempertahankan pintu dan kebersihan mengganggu lantai estetika. c. Menurut kaidah PPI tidak disarankan melepas alas kaki karena. f. pengunjung diminta untuk melepas alas kaki. Simpan bak seng atau piiring makan pada tempat yang benar. sehingga sisa-sisa makanan tidak dirambah kucing atau binatang pengganggu lainnya. Diruangan supaya tidak menyimpan dan me-reuse alat habis pakai seperti spuit dan selang oksigen dan atau alat kesehatan yang sudah ditetapkan tidak di-reuse. terutama dimusim hujan. d. g. Hampir disemua ruangan. e. 11) Konsep Isolasi segera dilaksanakan dengan pemenuhan kebutuhan standar .

. PPIRS. Khaeriyah Pns III/c NIP 1973060720072005 2015 IPCN / Sekretaris PPIRS Suhaimi Pns III/aNIP 196903131992031001 . terbiasa dan dilaksanakan. Bandar lampung. melalui penanganan pasien yang tepat pemutusan rantai penularan penyakit dan pencegahan penyakit menular. Penutup Demikian laporan ini di buat mudah-mudahan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk beberapa kebijakan yang menyangkut PPIRS.12) Kewaspadaan isolasi harus segera disosialisasikan secara intensif kepada seluruh staf Rumah sakit sehingga dapat segera dipahami. ……. KETUA dr. 13. membebaskan manusia dari sakit dan kecacatan. tentunya untuk kemajuan rumah sakit yang dapat memberikan pelayanan yang bermutu. Dengan demikian rumah sakit kita turut berkontribusi untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan mandiri.