You are on page 1of 13

METHYLPREDNISOLONE

Methylprednisolone
Injeksi IM/IV
Komposisi
Methylprednisolone 125 mg
Tiap vial mengandung:
Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan
Metilprednisolon 125 mg
Methylprednisolone 500 mg
Tiap vial mengandung:
Metilprednisolon natrium suksinat setara dengan
Metilprednisolon 500 mg
Farmakologi:
Metilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori
adrenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan.
Adrenokortikoid:
Sebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdifusi melewati membran dan membentuk
komplek dengan reseptor sitoplasmik spesifik. Komplek tersebut kemudian memasuki inti sel,
berikatan dengan DNA, dan menstimulasi rekaman messenger RNA (mRNA) dan selanjutnya
sintesis protein dari berbagai enzim akan bertanggung jawab pada efek sistemik adrenokortikoid.
Bagaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman mRNA di beberapa sel (contohnya: limfosit).
Efek Glukokortikoid:
Anti-inflamasi (steroidal)
Glukokortikoid menurunkan atau mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi, karena
itu menurunkan gejala inflamasi tanpa dipengaruhi penyebabnya.
Glukokortikoid menghambat akumulasi sel inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada
lokasi inflamasi. Metilprednisolon juga menghambat fagositosis, pelepasan enzim lisosomal,
sintesis dan atau pelepasan beberapa mediator kimia inflamasi. Meskipun mekanisme yang pasti
belum diketahui secara lengkap, kemungkinan efeknya melalui blokade faktor penghambat
makrofag (MIF), menghambat lokalisasi makrofag: reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler
yang terinflamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada endotelium kapiler, menghambat
pembentukan edema dan migrasi leukosit; dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin),
suatu inhibitor fosfolipase A2-mediasi pelepasan asam arakhidonat dari membran fosfolipid, dan
hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonat-mediator inflamasi derivat
(prostaglandin, tromboksan dan leukotrien). Kerja immunosupresan juga dapat mempengaruhi
efek antiinflamasi.
Immunosupresan
Mekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti secara lengkap tetapi kemungkinan dengan
pencegahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya
tindakan yang lebih spesifik yang mempengaruhi respon imun, Glukokortikoid mengurangi
konsentrasi limfosit timus (T-limfosit), monosit, dan eosinofil. Metilprednisolon juga

Dermatitis seboreik berat. Dermatitis inflamatori berat. konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin. Reaksi transfusi urtikaria. Pada beberapa pasien penggantian mineralokortikoid tambahan juga mungkin diperlukan. Arteritis giant-cell (temporal). Pengobatan sakit karena serum. Penggantian sodium dan cairan juga dibutuhkan. Vaskulitis. Poliarteritis nodosa. Gangguan alergi: Reaksi alergi karena obat. Angioderma (pengobatan tambahan) Laringeal edema akut non infeksi. Dermatomiositis sistemik (polimiositis): Glukokortikoid mungkin merupakan obat pilihan pada anak dengan kondisi demikian. Gangguan pada kulit: Dermatitis yang bersifat atopik. Gangguan kolagen: Diindikasikan selama eksaserbasi akut atau terapi perawatan pada kasus-kasus berikut: Carditis rheumatik (atau non rheumatik) akut. Dermatitis herpetiformis bullous. Polikondritis kambuhan. Lupus eritematosus sistemik. Polimialgia rheumatik. sehingga T-limfosit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. atau situasi dimana dapat timbul resiko kekambuhan. Psoriasis berat. kontak. Phemphigus. mineralokortikoid tidak selalu dibutuhkan. Reaksi anafilaktik atau anaphytold (pengobatan tambahan) Penggunaan glukokortikoid umumnya untuk reaksi lambat (yang tidak berhasil dengan tindakan lain dalam 1 jam). . Indikasi: Abnormalitas fungsi adrenokortikal. eksfoliatif. Pemphigoid.menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin. Eritema multiforma berat (sindrom Stevens-Johnson) Mikosis fungoides. Insufisiensi adrenokortikoid sekunder: Penggantian dengan glukokortikoid umumnya mencukupi. Glukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran. Rinitis alergi parennial (tahunan) atau seasonal (musiman). Penyakit jaringan ikat campuran. untuk pengobatan: Insufisiensi adrenokortikal akut dan kronik primer: Hidrokortison dan kortison lebih dipilih sebagai terapi pengganti karena aktivitas mineralokortikoidnya yang berarti.

pemberian dalam jangka waktu lama tidak direkomendasikan. untuk meringankan penyakit neoplastik berikut ini beserta problem yang berhubungan: Leukemia akut atau limfositik kronik.v. Tenosinovitis nonspesifik akut. terapi jangka panjang mungkin diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Neurotrauma: luka pada tulang belakang. Gangguan darah: Anemia hemolitik yang diperoleh (oto imun) Anemia hipoplastik bawaan (eritroid) Anemia sel darah merah (eritoblastopenia) Trombositopenia sekunder (pada orang dewasa) Trombositopenia purpura idiopatik pada orang dewasa (secara oral atau i. Penyakit neoplastik (pengobatan tambahan): Diindikasikan bersama dengan terapi penyakit antineoplastik spesifik yang sesuai. diindikasikan untuk pengobatan penyakit eksaserbasi akut. kontraindikasi untuk injeksi i. Hiperkalsemia yang berhubungan dengan neoplasma (atau sarkoidosis). diindikasikan untuk pemberian bersama dengan kemoterapi anti tuberkulosa pada pasien dengan blok subarakhnoid. Gangguan saluran pencernaan: Diindikasikan untuk pengobatan inflamasi pada usus besar seperti di bawah ini: Inflamasi pada usus besar. Limfoma Hodgkin atau non-Hodgkin.Sarkoid kutan lokalisasi.) Hemolisis. Saja. Penyakit neurologik: Meningitis tuberkulosa (pengobatan tambahan). Nekrosis hepatik sub akut. termasuk colitis ulceratif. Enteritis regional (penyakit Crohn) Penyakit celiac berat. Hepatitis non alkoholik pada wanita. Sklerosis ganda.m. Kanker prostat. Epikondilitis. Gangguan pada mata: . Sindroma nefrotik: Diindikasikan untuk menginduksi diuresis atau mengurangi gejala proteinuria pada sindrom idiopatik nefrotik. Inflamasi non rheumatik: Diindikasikan selama episode akut atau eksaserbasi dari gangguan-gangguan di bawah ini. Bursitis akut atau sub akut. Hepatitis kronis aktif. Pemberian secara oral atau parenteral diindikasikan bila terapi sistemik dibutuhkan selama periode kritis penyakit. Injeksi lokal lebih baik dilakukan bila hanya beberapa sendi atau daerah yang terkena. Kanker payudara. Demam yang disebabkan kanker ganas. Mieloma ganda. Penyakit hati: Hepatitis alkoholik dengan enselofati.

Arthritis psoriatik. Herpes zoster.m. Arthritis reumatoid (termasuk arthritis pada anak-anak). atau i. Sarkoidosis simptomatik. istirahat. Koroiditis posterior difusi. Status asmatikus: pemberian harus secara i. Polip nasal. atau i. Bronkitis asmatik akut dan kronik. Hemangioma. Perikarditis: digunakan untuk menghilangkan inflamasi dan demam. .v. Edema pulmonari nonkardiogenik (disebabkan sensitivitas protamin): pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. Keratis yang tidak berhubungan dengan herpes simpleks atau infeksi fungal. Gout arthritis akut. Pneumonia aspirasi. seperti: Klorioretinitis.v. pneumosistitis carinii. facial.m. Pneumonia.Diindikasikan untuk pengobatan alergi kronis atau akut dan kondisi inflamasi oftalmik. obstruksi kronis (yang tidak dapat dikontrol dengan teofilin dan β-adrenergik agonis). Pada penderita AIDS atau yang mengidap infeksi HIV yang terkena pneumonia pneumocystis. obstruksi saluran nafas pada anak: pengobatan sebaiknya diberikan dalam injeksi i. Uveitis posterior difusi. Diindikasikan sebagai terapi tambahan selama episode akut atau eksaserbasi gangguan rheumatik seperti: Ankilosing spondilitis. atau leher untuk mencegah edema yang dapat menghambat jalan nafas. Gangguan rheumatik: Injeksi lokal dilakukan bila hanya beberapa sendi atau area yang terlibat. Konjungtivitis alergi (yang tidak dapat diatasi secara topikal). yang berhubungan dengan sindrom immunodefisiensi yang diperoleh (pengobatan tambahan). Pengobatan: Asma bronkial Berillosis Sindrom Loeffler (pneumonitis eosinofil atau sindrom hipereosinofil). Penyakit paru-paru. Gangguan pernafasan: Untuk pengobatan dan profilaksis. Untuk pasien yang tidak dapat lagi diobati dengan aspirin. Oftalmia simpatika.m. Profilaksis: Diberikan sebelum atau selama pembedahan jantung jika pasien mempunyai gangguan preexiting pulmonary dan diberikan sebelum. antiinflamasi non steroidal. atau i. Tuberkulose paru-paru yang tersebar atau fulminant (pengobatan tambahan): diberikan bersamaan dengan kemoterapi anti tuberkulosa yang sesuai. selama dan setelah pembedahan oral. dan terapi fisik. Iridosiklitis.v. Neuritis optik.

4 mg per kg berat badan per jam.139-0. selama 23 jam.835 mg) (base) per kg berat badan atau 4. sinovitis. 5. 117 mikrogram (0. Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum dan peptikum. Untuk eksaserbasi akut pada sklerosis ganda: intramuskular atau intravena. 15 mg sekali sehari pada hari ke sebelas sampai dua puluh satu. kondrokalsinosis artikularis. atau 39 sampai 58. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: Anakanak berusia 13 tahun atau kurang: dosis belum ditentukan secara pasti. Penyakit deposisi kalsium pirofosfat akut (pseudogout.Osteoarthritis post traumatik. 160 mg (base) perhari selama satu minggu. selama 23 jam. Polimialgia rheumatik. 30 mg (base) dua kali sehari pada hari pertama sampai kelima. diulangi sesuai keperluan. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. Pengobatan trikinosis. diikuti selama 45 menit dengan infus 5. Penyakit reiter.039 sampai 0. 139-835 mikrogram (0.5 mikrogram (0. 10-40 mg (base). diikuti dengan 45 menit infus.16-25 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh setiap 12 sampai 24 jam. 30 mg sekali sehari pada hari keenam sampai kesepuluh. yang disebabkan oleh kristal). Untuk dosis tinggi (pulse terapi): intravena. . Pasien yang sedang diimunisasi. Dosis: Dewasa Secara intramuskular atau intravena. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. diikuti dengan 64 mg setiap hari selama satu bulan. Pencegahan dan pengobatan penolakan pencangkokan organ: diberikan bersamaan dengan immunosupresan lainnya seperti azathioprine atau siklosporin.0585 mg) (base) per kg berat badan atau 1. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan selama 15 menit. 30 mg (base) per kg berat badan diberikan sekurangkurangnya 30 menit.117 mg) (base) per kg berat badan atau 3.11 sampai 1. Untuk pengobatan tambahan pada AIDS yang berhubungan dengan pneumosistis carinii: intravena. Indikasi lain: intramuskular. Anak-anak berusia lebih dari 13 tahun: sama dengan dosis dewasa. Dosis dapat diulangi setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena.4 mg per kg berat badan per jam. Pengobatan shock: akibat insufisiensi adrenokortikal.66 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sekali sehari. Kontraindikasi: Infeksi jamur sistemik dan hipersensitivitas terhadap bahan obat.33 mg (base) permeter persegi permukaan tubuh sehari (dalam dosis terbagi tiga) setiap hari ke tiga. Sinovitis osteoarthritis. osteoporosis berat. Bayi dan anak: Insufisiensi adrenokortikal: intramuskular. Untuk pengobatan luka tulang punggung akut: intravena. Bayi prematur. Pengobatan tiroiditis non supuratif. herpes.

anoreksia yang berakibat turunnya berat badan. bahaya diabetes mellitus.Cara pemberian: Untuk intramuskular atau intravena: Rekonstitusi serbuk dengan larutan injeksi yang telah disediakan (mengandung benzyl alkohol 0. pankreatitis.5% dalam NaCl 0. timbulnya keadaan cushingoid. Pemberian dengan intravena langsung dapat diberikan selama sekurang-kurangnya 1 menit. peningkatan aktivitas motor. dan atropi matriks protein tulang yang menyebabkan osteoporosis. urtikaria. eksoftalmus.9% atau dektrosa 0. hirsutisme. glaukoma. demam. Juga menimbulkan reaktivasi. hambatan pertumbuhan pada anak. konvulsi. dan atau hipotensi. eritema fasial. Efek sistem syaraf: Sakit kepala. kocok hingga larut. kehilangan berat badan. iritasi lambung. hiperglikemia. Efek samping: Insufisiensi adrenokortikal: Dosis tinggi untuk periode lama dapat terjadi penurunan sekresi endogeneous kortikosteroid dengan menekan pelepasan kortikotropin pituitary insufisiensi adrenokortikal sekunder. Larutan stabil secara fisika dan kimia selama 48 jam. Efek muskuloskeletal: Nyeri atau lemah otot. peningkatan selera makan yang berakibat naiknya berat badan. Efek pada saluran cerna: Mual.9% selama sekurang-kurangnya 30 menit. striae. alergi dermatitis. penyembuhan luka yang tertunda. kehilangan nafsu makan. muntah. vertigo. insomnia. distensi abdominal. atau retak patologi tulang panjang. perforasi. Efek dermatologi: Atropi kulit. peningkatan tekanan intra okular. nekrosis aseptik pangkal humerat atau femorat. deskuamasi. peningkatan keringat. mialgia. nyeri sendi. letargi. kekurangan kalium. Peringatan dan perhatian: Wanita hamil dan ibu menyusui. ulceratif esofagitis. atau dapat diberikan secara infus intravena dalam 5% dekstrosa. hipertensi.9%). Gangguan cairan dan elektrolit: Retensi sodium yang menimbulkan edema. retak tulang belakang karena tekanan. Efek endokrin: Menstruasi yang tidak teratur. iskemik neuropati. diare atau konstipasi. muntah. abnormalitas EEG. Efek pada mata: Katarak subkapsular posterior. perdarahan dan penyembuhan peptik ulcer yang tertunda. NACl 0. Efek samping lain: Penghentian pemakaian glukokortikoid secara tiba-tiba akan menimbulkan efek mual. hipokalemik alkalosis. . angiodema. toleransi glukosa menurun. serangan jantung kongestif. jerawat. sakit kepala.

Alternate-day therapy. Vaksin dan toksoid. Anak-anak Pemberian dosis farmakologi glukokortikoid pada anak-anak bila mungkin sebaiknya dihindari. asam etakrinat) dan obat lainnya yang mengurangi kalium oleh glukokortikoid. furosemida. Kortikosteroid dapat berdifusi ke air susu dan dapat menekan pertumbuhan atau efek samping lainnya pada bayi yang disusui. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi.Dapat menyebabkan kerusakan fetus bila diberikan pada wanita hamil. Dosis tinggi glukokortikoid pada anak dapat menyebabkan pankreatitis akut yang kemudian menyebabkan kerusakan pankreas. kemungkinan efek ini harus dipertimbangkan. pengobatan antikolinesterase harus dihentikan 24 jam sebelum pemberian awal terapi glukokortikoid. Tidak dianjurkan pada pasien dengan ocular herpes simplex karena kemungkinan terjadi perforasi korneal. Diuretik yang mengurangi kadar kalium (contoh: thiazida. Obat seperti barbiturat. Sementara pasien menerima terapi kortikosteroid. Pasien lanjut usia. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Aspirin harus diberikan secara hati-hati pada pasien hipotrombinernia. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC laten atau tuberculin reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi. atau pyridostigmin dapat menimbulkan kelemahan pada pasien dengan myasthenia gravis. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinik dari suatu penyakit infeksi. . Interaksi obat: Enzim penginduksi mikrosom hepatik. terutama wanita postmenopausal. Obat yang mengurangi kalium. karena obat dapat menghambat pertumbuhan tulang. dianjurkan tidak divaksinasi terhadap Smalpox juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. meminimalkan hambatan pertumbuhan dan sebaiknya diganti bila terjadi hambatan pertumbuhan. Pasien lanjut usia. Bahan antikolinesterase. obat dapat menyebabkan pengurangan respon toksoid dan vaksin inaktivasi atau hidup. Anti inflamasi nonsteroidal. yaitu pemberian dosis tunggal setiap pagi hari. Dapat terjadi hipertensi selama terapi adrenokortikoid. neostigmin. Karena kortikosteroid menghambat respon antibodi. Meskipun pemberian bersamaan dengan salisilat tidak tampak meningkatkan terjadinya ulcerasi saluran pencernaan. akan lebih mudah terkena osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid. Serum kalium harus dimonitor secara seksama bila pasien diberikan obat bersamaan dengan obat yang mengurangi kalium. Jika terapi diperlukan harus diamati pertumbuhan bayi dan anak secara seksama. Pemberian bersamaan dengan obat ulcerogenik seperti indometasin dapat meningkatkan resiko ulcerasi saluran pencernaan. fenitoin dan rifampin yang menginduksi enzim hepatik dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid. Interaksi antara glukokortikoid dan antikolinesterase seperti ambenonium. Jika mungkin. sehingga mungkin diperlukan dosis tambahan atau obat tersebut tidak diberikan bersamaan.

keadaan alergi dan peradangan pada kulit dan saluran pernafasan tertentu. Sebelum dan sesudah rekonstitusi. penyakit kolagen. herpes.Cara penyimpanan: Simpan ditempat kering dan sejuk. terlindung dari cahaya. Pasien yang sedang diimunisasi. 1 vial @ 500 mg metilprednisolon kering dan 1 ampul @ 8 ml pelarut. penyakit hematologik. Indikasi: Abnormalitas fungsi adrenokortikal. Gunakan larutan sebelum 48 jam setelah direkonstitusi. osteoporosis berat. Pemberian kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum. METHYLPREDNISOLONE 500 Kotak. Kontraindikasi: Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif. GKL0405037244B1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30)oC. hiperkalsemia sehubungan dengan kanker. . Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium seperti glukokortikoid yang lain. penderita dengan riwayat penyakit jiwa. TERLINDUNG DARI CAHAYA METHYLPREDNISOLONE TABLET Komposisi: METHYLPREDNISOLONE 4 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 4 mg METHYLPREDNISOLONE 8 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 8 mg METHYLPREDNISOLONE 16 mg Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 16 mg Farmakologi: Metilprednisolon adalah glukokortioid turunan prednisolon yang mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa induknya. simpan pada suhu antara 15-30oC.

Kemungkinan adanya gejala hipoadrenalism. Interaksi obat: Berikan dengan makanan untuk meminumkan iritasi gastrointestinal. meningkatnya tekanan darah. Anak-anak: Insufisiensi . karena penggunaaan jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis tinggi. karena kemungkinan terjadi perforasi corneal. Peringatan dan perhatian: Tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui.33 mg per m2 luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi tiga.50 mg per m2 luas permukaan tubuh sehari dalam dosis terbagi 3 atau 4. misalnya gangguan elektrolit dan cairan tubuh. Indikasi lain: Oral 0. Tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak. gaangguan pertumbuhan pada anak-anak. Dalam multiple sklerosis: Oral 160 mg sehari selama 1 minggu. Efek samping: Efek samping biasanya terlihat pada pemberian jangka panjang atau pemberian dalam dosis besar. cushing syndrome. untuk mencegah kemungkinan bahaya komplikasi neurologi. Penggunaan bersama-sama dengan antiinflamasi non-steroid atau antirematik lain dapat mengakibatkan risiko gastrointestinal.117 mg/kg bobot tubuh atau 3.Dosis: Dewasa: Dosis awal dari metilprednisolon dapat bermacam-macam dari 4 mg . gangguan penyembuhan luka. Pemakaian jangka panjang dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.5 mg . Ada peningkatan efek kortikosteroid pada pasien dengan hipotiroidi dari cirrhosis. kemudian 64 mg setiap 2 hari sekali dalam 1 bulan. tergantung keadaan penyakit. .1. Pemakaian obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi.67 mg per kg berat tubuh atau 12. kelemahan otot. dan bayi yang lahir dari ibu yang ketika hamil menerima terapi kortikosteroid ini harus diperiksa. Penggunaan bersama-sama dengan anti-diabetes harus dilakukan penyesuaian dosis. katarak. Pasien yang menerima vaksinasi terhadap smallpox. perdarahan gastrointestinal. insufisiensi adrenal. Pasien yang menerima terapi kortikosteroid ini dianjurkan tidak divaksinasi terhadap smallpox.adrenokortikal: Oral 0.417 mg . juga imunisasi lain terutama yang mendapat dosis. Tidak dianjurkan penggunaan pada penderita ocular herpes simplex. tukak lambung. Jika kortikosteroid digunakan pada pasien dengan TBC latent atau Tuber Culin Reactivity perlu dilakukan pengawasan yang teliti sebagai pengaktifan kembali penyakit yang dapat terjadi.48 mg per hari. kecuali memang benar-benar dibutuhkan. dosis tunggal atau terbagi. resistensi terhadap infeksi menurun. osteoporosis.

Indikasi : * Tukak lambung dan usus 12 jari * Hipersekresi patologik sehubungan dengan sindrom Zollonger-Ellison. Efek Samping : Efek samping Ranitidine adalah berupa diare. pusing dan timbul ruam kulit. ruam. nausea. ranitidine tidak menghambat fungsi oksidasi obat pada mikrosom hepar. nyeri otot. 2 kali sehari Dosis untuk penunjang dapat diberikan 150mg pada malam hari Untuk sindrom Zollonger-Ellison : 150mg 3 kali sehari & dosis dapat bertambah menjadi 900mg sehari. NAMA GENERIK . eosinofilia). Konstipasi Penurunan jumlah sel darah putih dan platelet (pada beberapa penderita). Beberapa kasus (jarang) reaksi hipersensitivitas (bronkospasme. serta menghambat sekresi asam lambung. demam. 150mg setiap 24 jam dan bila perlu setiap 12 jam.Ranitidine berupa tablet salu selaput yang diproduksi oleh Dexa Medica. urtikaria. Interaksi Obat : Hasil penilitian terhadap 8 penderita yang diberikan ranitidine menunjukan perbedaan dengan simetidin. Sedikit peningkatan kadar serum kreatinin (pada beberapa penderita). malaise. Dosis pada gangguan fungsi ginjal : Bila bersihan kreatinin (50ml/menit). maka waktu pemberian harus disesuaikan sehingga bertepatan dengan akhir hemodialisis. Terhadap 5 penderita normal yang diberikan dosis warfarin harian secara subterapeutik. Kontraindikasi : * Penderita gangguan fungsi ginjal * Wanita hamil atau menyusui Dosis : Dosis yang biasa digunakan adalah 150mg. Komposisi Ranitidine : Setiap tablet salut selaput mengandung : Ranitidine HCL setara dengan ranitidine base 150mg Farmakologi : Ranitidine menghambat kerja histamin pada reseptor-H2 secara kompetitif. Karena ranitidine ikut terdialisis. dengan penmabahan dosis ranitidine menjadi 200mg 2 kali sehari selama 14 hari tidak menunjukan adanya perubahan pada waktu protrombin atau konsentrasi warfarin plasma.

5-3 jam. waktu paruh eliminasi IV untuk fungsi ginjal normal : 2-2. Bioavailabilitas oral : 48%.5 mg/ml. . EFEK SAMPING Terbatas dan tidak berbahaya: aritmia. gagal hati. INTERAKSI OBAT Meningkatkan efek/toksisitas siklosporin (meningkatkan serum kreatinin). fenitoin. Distribusi : volume distribusi untuk fungsi ginjal normal : 1. confusion. IM : <=15 menit. Larutan 1% dalam air mempunyai pH 4.5 jam. eritema multiforme.HCl. dan N-desmetil. (3) STABILITAS PENYIMPANAN Vial injeksi disimpan pada suhu antara 4�C-30�C. .Tablet disimpan di tempat kering pada suhu antara 15�C-30�C.5-6. Ranitidin hidroklorida STRUKTUR KIMIA (C13H22N4O3S). ikatan dengan protein 15%.Ranitidin NAMA KIMIA Ranitidin : NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2-nitrovinylamino)ethylthiomethyl]furfurylamine .Mempunyai efek bervariasi terhadap warfarin. Kantung premixed disimpan pada suhu antara 2�C-25�C. . Ekskresi : di dalam urin : oral = 30%. Clcr 25-35 ml/menit:1. S-oksida. warna yang agak tua tidak mempengaruhi potensi. berdistribusi ke dalam ASI.76 L/kg. .Injeksi bolus intermiten diencerkan sampai maksimum 2. anemia aplastik. feses (sebagai metabolit). glibenklamid. sakit kepala.terlindung dari cahaya. terlindung dari cahaya. triazolam. kuinidin. metoprolol.dimetabolisme di hati menjadi metabolit N-oksida.0. leukopenia. penetrasi melalui sawar darah otak minimal. glipizid. pentoksifilin. Clcr 25-35 ml/menit:4-8 jam.Penyimpanan (serbuk) : dalam wadah tertutup rapat. .5 mg/ml. halusinasi. Larutan jernih tak berwarna sampai berwarna kuning.Infus intermiten diencerkan sampai dengan maksimum 0. vertigo. Sangat mudah larut dalam air. C13H22N4O3S. kemerahan. mengantuk. . Sirup disimpan pada suhu antara 4�C-25�C. . gentamisin (blokade neuromuskuler). anemia haemolitic acquired. IV = 70%(dalam bentuk tak berubah). Larutan injeksi dalam vial dapat dicampur dengan normal saline atau larutan dekstrosa 5% dalam air. pansitopenia. . granulositopenia.Waktu untuk mencapai kadar puncak dalam serum : oral : 2-3 jam. Absorpsi ketokonazol dan itrakonazol berkurang.trombositopenia. reaksi hipersensitivitas INTERAKSI MAKANAN Makanan tidak mengganggu absorpsi ranitidin. pusing. terlindung dari cahaya. terlindung dari cahaya. midazolam (meningkatkan konsentrasi). praktis tidak berbau. (1) SIFAT FISIKOKIMIA Ranitidin hidroklorida (USP 29) : serbuk kristalin berwarna putih sampai kuning pucat.7 L/kg. agranulositosis. jangan menambahkan obat lain ke dalam kantung premixed KONTRA INDIKASI Hipersensitivitas terhadap ranitidin atau bahan-bahan lain dalam formulasi. . . anafilaksis. agak sukar larut dalam alkohol. terlindung dari cahaya SUB KELAS TERAPI Obat Untuk Saluran Cerna FARMAKOLOGI Absorpsi oral : 50%. . pankreatitis. Antasida dapat mengurangi absorpsi ranitidin.Waktu paruh eliminasi oral : untuk fungsi ginjal normal : 2. vaskulitis. larutan stabil selama 48 jam pada suhu kamar.

PARAMETER MONITORING AST. Bila obat ini digunakan untuk mencegah heartburn. Hatihati bila digunakan pada kehamilan. PENGARUH KEHAMILAN Kategori B. Penggunaan etanol dihindari karena dapat menyebabkan iritasi mukosa lambung. 150 ml). PENGARUH MENYUSUI Ranitidin berdistribusi ke dalam ASI. gunakan dengan berhati-hati.9% yang dapat digunakan untuk meringankan inflamasi membran hidung. sekresi faktor intrinsik yang distimulasi oleh penta-gastrin. . simetidin. Sirup 75 mg/5ml (60 ml.Tidak mempengaruhi sekresi pepsin. tes alergi pada kulit menggunakan ekstrak alergen. tes protein urin. BENTUK SEDIAAN Tablet 75 mg. obat diminum 30-60 menit sebelum makan atau minum apapun yang dapat menyebabkan heartburn. dibutuhkan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.Pasien seharusnya tidak menggunakan obat ini bila alergi terhadap ranitidin. Ampul 25 mg/ml (2 ml) PERINGATAN Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati.cefpodoksim. atau serum gastrin. foecal occult blood. mengurangi efek nondepolarisasi relaksan otot. serum kreatinin.. serum kreatinin. efek teratogenik pada fetus belum dilaporkan. INFORMASI PASIEN Dosis oral ranitidin dapat diminum dengan atau tanpa makanan. INDIKASI Breathy tetes hidung berupa larutan isotonis setara dengan larutan isotonis NaCl 0. keamanan dan efikasi belum ditetapkan untuk pasien anak-anak usia<1 bulan. MONITORING Gejala dan tanda-tanda gangguan tukak peptik. ALT. fungsi ginjal. darah lengkap. volume lambung dan konsentrasi ion hidrogen berkurang.5 mg. PENGARUH HASIL LAB Berinteraksi dengan tes sekresi asam lambung. atau nizatidin MEKANISME AKSI Menghambat secara kompetitif histamin pada reseptor H2 sel-sel parietal lambung.terapi jangka panjang mungkin berhubungan dengan defisiensi vitamin B12. Kaplet 300 mg. . yang menghambat sekresi asam lambung. .dapat mengubah kadar prokainamid dan ferro sulfat dalam serum. perbaikan endoskopi DESKRIPSI Tiap mL : Natrium Klorida / sodium chloride / NaCl 6. Ranitidin menembus plasenta. mengurangi toksisitas atropin. 100 ml. efek samping obat. sianoklobalamin (absorpsi berkurang). . 150 mg. hindari penggunaan pada pasien dengan sejarah porfiria akut (dapat memicu serangan). diazepam dan oksaprozin.

DOSIS Dapat digunakan untuk anak-anak dan bayi berusia 1 bulan ke atas. alergi.Untuk melembapkan membran nasal yang kering & meradang karena pilek. Teteskan 1-2 tetes pada masing-masing lubang hidung atau menurut petunjuk dokter. perdarahan hidung & iritasi hidung minor lainnya. KEMASAN Tetes hidung dalam botol plastik isi 30 mL. kelembapan yang rendah. Dapat diulang beberapa saat kemudian. .