MAKALAH REFERAT

LABORATORIUM ILMU FARMASI

OTITIS MEDIA AKUT
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Madya

Oleh:
Alfiani Rosyida Arisanti
209.121.0013
Pembimbing :
Dr. Aris Rosida
H. Yudi Purnomo, S.Si., Apt., M.Kes.
Prof. Dr. H. M. Aris Widodo, MS., Sp.Fk., PhD.

KEPANITERAAN KLINIK MADYA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah,
serta inayah-Nya kepada penyusun sehingga Makalah Referat Laboratorium Ilmu
Farmasi yang berjudul “Otitis Media Akut” ini dapat terselesaikan sesuai harapan.
Tujuan penyusunan diskusi kasus ini adalah untuk memenuhi tugas
Kepaniteraan Klinik Madya serta guna menambah ilmu pengetahuan mengenai
permasalahan penyakit khususnya dalam aspek farmakoterapinya misalnya pada
penyakit Otitis Media Akut. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada
pembimbing kami atas segenap waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan
kepada kami selama proses pembuatan makalah diskusi kasus ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah diskusi kasus ini belumlah sempurna.
Untuk itu, saran dan kritik dari para dosen dan pembaca sangat diharapkan demi
perbaikan makalah ini. Atas saran dan kritik dosen dan pembaca, penyusun
ucapkan terima kasih.
Semoga makalah diskusi kasus ini bermanfaat bagi dosen, penyusun, pembaca
serta rekan-rekan lain yang membutuhkan demi kemajuan ilmu pengetahuan di
bidang kedokteran.

Malang, Oktober 2014
Penyusun
Alfiani Rosyida Arisanti

DAFTAR ISI

2

............................................................................................................................................................................................................................................................................................... i Kata Pengantar ...................... 12 Tujuan Terapi.................... 4 Bab IV : Terapi Non-Farmakoterapi.......................................................................................... 14 Daftar Pustaka.........................................Halaman Judul ............................................ 6 Bab V : Ilustrasi Kasus Anamnesa...................................... 12 Diagnosis....................... 12 Resume........................................................................................... ii Daftar Isi ..................................................................... 13 Bab VI : Pembahasan Obat......................................... 12 Farmakoterapi.......................................................................................................................................................................................................................... 8 Pemeriksaan Fisik.................................................. 9 Pemeriksaan Penunjang............................................................................................................................................................................................. 16 MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI BAB I EPIDEMIOLOGI 3 ...................................................................................................................................................................................................................................................... 1 Bab II : Patomekanisme....... iii Bab I : Epidemiologi.......................... 6 Farmakoterapi........................................................ 12 Terapi Non-Farmakoterapi......................... 13 Prognosis.................................................................... 2 Bab III : Penegakan Diagnosis............................................................................................................... 13 Resep.........

Penyebab utama OMA adalah invasi bakteri piogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Pada anak-anak. maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya OMA. Gambar 1: Perbedaan anatomi tuba Eustachius pada anak dan dewasa MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI BAB II PATOMEKANISME Otitis Media Akut (OMA) merupakan peradangan akut sebagian atau seluruh bagian mukosa telinga tengah. Tetapi tidak jarang juga mengenai orang dewasa. Di Amerika. 70 % dari anak-anak dengan riwayat OMA. Bakteri tersering penyebab OMA diantaranya Streptokokus hemolitikus. semakin sering menderita infeksi saluran napas atas. Sistem kekebalan tubuh anak yang belum sempurna 2. Adenoid yang mudah terinfeksi menjadi jalur penyebaran bakteri dan virus ke telinga tengah.Prevalensi kejadian Otitis Media Akut (OMA) banyak diderita oleh anak-anak maupun bayi dibandingkan pada orang dewasa tua maupun dewasa muda. Proteus 2 . Pnemokokus.3 tahun. Otitis media akut paling sering diderita oleh anak usia 3 bulan. Tuba Eusthacius anak lebih pendek. antrum mastoid dan sel-sel mastoid yang berlangsung mendadak yang disebabkan oleh invasi bakteri maupun virus ke dalam telinga tengah baik secara langsung maupun secara tidak langsung sebagai akibat dari infeksi saluran napas atas yang berulang. Adenoid anak relatif lebih besar dan terletak berdekatan dengan muara saluran tuba Eusthachius sehingga mengganggu pembukaan tuba Eusthachius. tuba eusthacius. mengalami episode OMA sebelum usia dua tahun. Escherichia coli. Kadang ditemukan juga Haemofilus influenza. Anak-anak lebih sering terkena OMA dikarenakan beberapa hal. lebar dan terletak agak horizontal 3. Streptokokus anhemolitikus. diantaranya : 1. Stafilokokus aureus.

dapat terjadi perforasi membran timpani dan nanah keluar mengalir dari 3 . lebar. Penyakit ini juga mudah terjadi pada bayi karena secara anatomis tuba Eustachiusnya pendek. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. Gejala klinis pasien tampak terasa sangat sakit. sehingga timbul tekanan negatif di telinga tengah. serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Apabila tekanan tidak berkurang. Faktor lain yang berpengaruh adalah faktor pertahanan tubuh yang buruk yang secara fisiologis bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Pada penyakit ini biasanya terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran napas atas yang berulang. Di tempat ini akan terjadi ruptur. Haemofilus influenza sering ditemukan pada anak berusia dibawah 5 tahun. Kadang membran timpani berwarna normal atau berwarna keruh pucat. akan terjadi iskemia. Stadium Supurasi Membran timpani manonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial. Ada 5 stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi (pengamatan dengan otoskopi). Efusi tidak dapat dideteksi. nadi dan suhu meningkat. 2. serta rasa nyeri pada telinga bertambah hebat. Stadium Perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi. 3. 4. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengkibatkan kehilangan pendengaran secara konduktif. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.vulgaris dan Pseudomonas aurogenosa. dan letaknya agak horizontal. tromboflebitis. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran tympani. dan nekrosis mukosa serta submukosa. yaitu : 1. Stadium Hiperemis (Presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di sebagian atau seluruh membran timpani tampak hiperemis disertai edema. Sehingga terdapat gangguan drainase pada teling tengah dan kondisi ini mendukung bakteri untuk berkoloni secara mudah. Stadium Oklusi Ditandai dengan gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif telinga tengah.

Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah. nyeri telinga 3. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang. 3. 5. mual dan muntah Biasanya adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya Namun gejala-gejala ini tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata. 2. yaitu: a. dapat mengganggu tidur dan aktivitas normal Demam dan rewel (demam bisa sangat tinggi atau sampai kejang) Keluarnya cairan dari telinga Berkurangnya pendengaran atau telinga terasa penuh Sulit makan. 4.telinga tengah ke telinga luar. Nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi. 5. kadang berwarna normal atau keruh pucat. Stadium Resolusi Bila membran timpani tetap utuh. Ditemukan tanda efusi (pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Bila terjadi perforasi. MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI BAB III PENEGAKAN DIAGNOSIS Diagnosis OMA dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan tandanya. reflek cahaya menurun. Stadium Supurasi : gejala klinis bertambah hebat. maka secret akan berkurang dan mengering. yaitu: Gejala : 1. dan dapat tidur nyenyak. maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. 7. suhu badan turun. Stadium Oklusi : membran timpani tampak retraksi. 6. reflek cahaya menurun. Tanda : (diperiksa dengan otoskop untuk melihat dengan jelas keadaan membran timpani dan cairan di liang telinga) 1. Onset yang mendadak (akut) dalam waktu kurang dari 3 minggu 2. maka perlahan-lahan akan normal kembali. Stadium Hiperemis (Presupurasi) : membran timpani tampak hiperemis disertai edema. Mengembangnya (bulging) membrana timpani 4 .

Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa. Stadium Perforasi : membran timpani perforasi serta cairan pus atau nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Timpanosintesis. Stadium Resolusi : Secret akan berkurang dan mongering atau tidak ada. bermanfaat pada anak yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika. MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI BAB IV TERAPI Tujuan Terapi : - Menghilangkan penyebab Mengembalikan fungsi tuba eusthacius (mengurangi peradangan) 5 .b. suhu badan turun. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran timpani dan rantai tulang pendengaran. diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah. Timpanosintesis merupakan standar emas untuk menunjukkan adanya cairan di telinga tengah dan untuk mengidentifikasi patogen yang spesifik. nyenyak. Adanya bayangan cairan di belakang membrana timpani 4. dan dapat tidur Gambar 2: tampak membran timpani eritem dan bulging. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang. atau pada imunodefisiensi. Timpanometri juga dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik. Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah. tetapi tergantung kerjasama pasien. Pemeriksaan Tambahan: Jika konfirmasi diperlukan. membrana timpani berangsur menutup. Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan timpanometri. Timpanometri merupakan konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Terbatas/tidak adanya gerakan membrana timpani c. 5.

dan analgetika. Makan dan olahraga yang teratur untuk menjaga dan mempertahankan kekebalan tubuh optimal.4 mg/kg/hari klavulanat dibagi 2 dosis). Istirahat yang cukup 3. Stadium Presupurasi Antibiotika. Alternatif terapi 7 . Jika pasien alergi amoksisilin dan reaksi alergi bukan reaksi hipersensitifitas (urtikaria atau anafilaksis). azitromisin (10 mg/kg/hari pada hari 1 diikuti 5 mg/kg/hari untuk 4 hari sebagai dosis tunggal harian) atau klaritromisin (15 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi). sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Menjaga kebersihan telinga 2. 6. Obat lain yang bisa digunakan eritromisin-sulfisoksazol (50 mg/kg/hari eritromisin) atau sulfametoksazol-trimetoprim (6-10 mg/kg/hari trimetoprim.- Mengurangi gejala (nyeri dan demam) Mencegah rekurensi Mencegah komplikasi (ex: komplikasi supuratif seperti mastoiditis. Stadium Oklusi Diberikan obat tetes hidung (dekongestan) yang bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius. Diberikan antibiotik jika penyebab atau sumber infeksi diketahui berupa kuman dan bukan berupa virus atau alergi. Pada pasien dengan penyakit berat dan bila mendapat infeksi βlaktamase positif Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis terapi dimulai dengan amoksisilin-klavulanat dosis tinggi (90 mg/kg/hari untuk amoksisilin. meningitis) Non-Farmakoterapi : 1. Jika diputuskan perlunya pemberian antibiotik. 2. diantaranya: 1. cefpodoksim (10 mg/kg/hari 1 kali/hari) atau cefuroksim (20 mg/kg/hari dibagi 2 dosis). Amoksisilin dengan dosis 80-90 mg/kg/hari dibagi dalam tiga kali pemberian (anak BB < 40kg) atau 500 mg tiga kali sehari (dewasa). Pada kasus reaksi tipe I (hipersensitifitas). Farmakoterapi : Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. dapat diberi cefdinir (14 mg/kg/hari dalam 1 atau 2 dosis). Pemberian antibiotika dosis tinggi dianjurkan selama 3 hari kmudian dievaluasi secara klinis. obat tetes hidung. lini pertama adalah dari golongan penisilin atau ampisilin.

5. 4. Stadium Perforasi Sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut (pulsasi). ILUSTRASI KASUS 8. 14. 4. 16. Nama : An. I. Pada pasien yang muntah atau tidak tahan obat oral dapat diberikan dosis tunggal parenteral ceftriakson 50 mg/kg. MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI 5. Stadium Resolusi Lanjutkan pemberian antibiotika sampai 3 minggu bila tidak terjadi resolusi. A Umur : 10 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Nama orang tua : Ny. bila membran timpani masih utuh. Tidak terjadinya resolusi dapat disebabkan berlanjutnya edema mukosa telinga tengah.pneumoniae dapat diberikan klindamisin 30-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi. 3. 15. Identitas Pasien 10. maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. 6. Curigai telah terjadi mastoiditis jika sekret masih banyak setelah kita berikan antibiotik selama 3 minggu. 11. 12. Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H 2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Malang 8 . 13. ANAMNESA 9. A Pekerjaan orang tua : Petani Alamat : Dinoyo. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.pada pasien alergi penisilin yang diterapi untuk infeksi yang diketahui atau diduga disebabkan penisilin resistan S. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya secret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari. idealnya harus disertai dengan miringotomi. BAB V 7. Stadium Supurasi Selain diberikan antibiotika.

Riwayat bersin-bersin pagi hari : disangkal 28. lebih sering makan daging ayam. II. Keadaan umum : compos mentis. Ketika sakit khususnya saat mengeluh batuk pilek yang dirasakan sebelumnya. Riwayat telinga sering kemasukan air : disangkal 26. gizi 42. Tanda vital : Tekanan darah : 110/70 mmHg 9 . RM : 12345 Tgl. 36.17. tahu. Pada 3 hari sebelum datang ke rumah sakit. sayur dan buah. 18. Riwayat asma : disangkal 33. Pemeriksaan: 7 Oktober 2014 19. sakit sedang. Penderita biasa makan tiga kali sehari dengan nasi. tempe. PEMERIKSAAN FISIK 40. Riwayat Penyakit Keluarga 31. tetapi sejak mengeluh batuk pilek serta sampai sekarang nafsu makan pasien menurun. Riwayat alergi : disangkal 34. Riwayat Penyakit Dahulu 23. Pasien juga mengeluh demam dan tidak nyenyak dalam tidur. Pasien adalah anak seorang petani dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Riwayat penyakit serupa : disangkal 24. Riwayat Sosial Ekonomi 37. kesan cukup 41. 22. pasien jarang diperiksakan dan hanya mengkonsumsi obat-obatan tradisional yang dibuat sendiri oleh orang tuanya. Riwayat Status Gizi 35. Riwayat batuk + pilek berulang : (+) 30. No. Pasien tidak mengeluh adanya cairan yang keluar dari liang telinga. Pasien merasa tidak nyaman dan terasa penuh pada telinga kanannya serta pendengarannya sedikit menurun dibanding sebelumnya. pasien mengalami batuk dan pilek yang lama tetapi saat ini sudah sembuh. 38. 39. Riwayat mondok : disangkal 29. Pasien mengeluh nafsu makan menurun tetapi tidak mual dan muntah. Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada telinga kanan yang dirasakan mendadak sejak 2 hari yang lalu. Riwayat telinga dikorek : disangkal 25. Riwayat Penyakit Sekarang 21. Riwayat sakit serupa : disangkal 32. lauk pauk. Riwayat alergi makanan dan obat : disangkal 27. Keluhan Utama : Nyeri telinga kanan 20.

Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tak tampak 55. Batas kanan bawah: SIC IV linea parasternalis dextra 59. Kepala : bentuk mesocephal. gallop (-). Status Generalis 49. HR : 85 kali/menit. Palpasi : Ictus cordis tak kuat angkat. turgor baik (+) 50. petechie (-). Batas kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra 60. pucat (-). luka (-). isi cukup Respirasi : 24 x / menit Suhu : 38. Mata : cekung (-/-). Nadi : 85 x / menit. spider nevi (-). 44. simetris. intensitas normal. KGB retroaurikula dextra membesar (+). tiroid membesar (-) 53. Batas kanan atas : SIC II linea parasternalis dextra 58. Perkusi : sonor / sonor 10 . Batas kiri bawah : SIC V lateral linea midclavicula sinistra 61. bising (-). oedem palpebra (-/-) 52. 45. Kesan : Batas jantung normal 62. JVP tidak meningkat. BJ I tunggal. Ictus cordis teraba di SIC V linea midclavicula sinistra. trachea di tengah. reguler. Kulit : warna coklat. Perkusi : Batas jantung 57. ikterik (-). Auskultasi : 63. reflek cahaya (+/+). reguler. retraksi supraternal (-). Palpasi : fremitus raba kanan = kiri 67. 56. Leher : simetris. 46. Paru : Depan : Inspeksi : simetris statis dan dinamis 66. spider nevi (-).5 0 C (per axiller) Berat badan : 30 kg Tinggi badan : 110 cm 48. venectasi (-). reguler 64. pupil isokor (3mm/3mm). 47. rambut warna hitam dan tidak mudah dicabut 51. sklera ikterik (-/-). ekstrasistole (-) 65. conjungtica pucat (-/-). BJ II tunggal.43. pernapasan tipe thoracoabdominal 54. Thorax : normochest.

Nyeri Tekan : (-) (-) 85. 78. ST (-/-) Abdomen : Inspeksi : dinding perut lebih tinggi dari dinding dada Auskultasi : peristaltik usus (+) normal Perkusi : timpani. nyeri tekan (-). Mukosa : Tenang Tenang 88. Wheezing (-/-) 69. Perkusi : sonor / sonor 72. Belakang:Inspeksi : simetris statis dan dinamis 70. Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+). Nyeri Tekan : (+) (-) 93. acites (-). Tumor : (-) (-) 91. Belakang Telinga Kanan Kiri 92. luka (-/-) 79. akral dingin (-/-). 75. Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+).68. Bentuk : Normotia Normotia 83. Aurikula Kanan Kiri 82. luka (-/-) Bawah : pitting oedem (-/-). Telinga 81. pekak alih (-) Palpasi : supel. Stasus THT 80. Radang : (-) (-) 84. ST (-/-) RBK(-/-). 76. Pembesaran KGB : (+) (-) 11 . Canalis Aurikularis Kanan Kiri 87. 74. Palpasi : fremitus raba kanan = kiri 71. akral dingin (-/-). hepar dan lien tidak teraba Extremitas : Atas : pitting edem (-/-). Serumen : (-) (+) 89. A. Tumor : (-) (-) 86. 73. Radang : (-) (-) 90. 77.

Retraksi (-) 102. B. Rhinoskopi anterior Kiri 114. Pemeriksaan Luar Kiri 109. Radang (-) 111. Bulging (-) 101. Tes Weber 106. Hidung 108. Cavum nasi Normal 115. Sekret/discharge (-) 116. (-) 95. Tumor (-) 113. Edema (-) 100. Massa (-) 12 : (-) : Kanan : Intake : Hiperemi : (-) : (+) : (-) : (-) : : : : lateralisasi dextra Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Kanan : Normal : (-) : (-) : (-) Kanan : Normal : (-) : (-) : Normal : (-) . Fistel pre/post aurik. Tes Rinne 105. Nyeri Tekan (-) 112. Tes Schwabach 107. Reflek cahaya (+) 99. Tes Pendengaran 103. Edema (-) 117.94. Bentuk Normal 110. Warna Putih perak 98. Membran Timpani Kiri 96. Tes gesek jari/ bisik 104. Intak/perforasi Intake 97. Septum Normal 118.

Laring : tidak diperiksa 148. pasien mengalami batuk dan pilek yang lama tetapi saat ini sudah sembuh serta nafsu makan menurun.A (10 tahun) datang dengan keluhan nyeri pada telinga kanan yang dirasakan mendadak sejak 2 hari yang lalu. Meatus Inferior dan Media 125. III. IV. Pada 3 hari sebelum datang ke rumah sakit. Edema : 128. Pasien An. Pemeriksaan Rhinoskopi Posterior 129. Sekret/discharge : Tidak ada 127.Pemeriksaan fisik ditemukan suhu axilla 38. 154. Gigi geligi : Normal 138. Sinus etmoidalis : Tidak dilakukan 122. Koana : Tidak dilakukan 131. Kripta : Melebar 143. 152. Pasien merasa tidak nyaman dan terasa penuh pada telinga kanannya serta pendengarannya sedikit menurun dibanding sebelumnya. Post nasal drip : ( . Cavum Oris dan Orofaring 135. Sinus frontalis : Tidak dilakukan 123. Ukuran konka : Eutrophia 126. Tes bisik didapatkan hasil lateralisasi ke kanan. Konka Nasalis. 13 . membrana timpani hiperemi. PEMERIKSAAN PENUNJANG 150. Dasar sinus Sphenoid : Tidak dilakukan 134.) 147. Sinus maksilaris : Tidak dilakukan 121. Mukosa mulut : Tenang 136. Palatum : Hiperemi 140. Torus Tubarius : Tidak dilakukan 133. reflek cahaya menurun. Fosa Rosenmuler : Tidak dilakukan 132. Uvula : Tidak ada deviasi 137. dan edema. 149. Pemeriksaan Sinus Paranasal 120. Tonsil Ukuran : T1/T1 (besarnya 1/4 jarak arcus anterior & uvula) 141. RESUME 153. Transluminasi : Tidak dilakukan 124. Hiperemis :(-) 142. Detritus :(-) 144. C. Adenoid : Tidak dilakukan 130. Granula :(-) 146.119. Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang 151. Faring Mukosa : Tenang 145. Pasien juga mengeluh demam dan tidak nyenyak dalam tidur.5 0C. KGB retroaurikula membesar. Lidah : Normal 139.

DIAGNOSIS 157. . dosis tiap pemberian = 800 mg). Oxymetazoline Hydrochloride 0. 156. TUJUAN PENATALAKSANAAN - Menghilangkan penyebab Mengurangi gejala (nyeri dan demam) Mencegah rekurensi dan progresifitas Mengembalikan fungsi tuba eusthacius (mengurangi peradangan) Mencegah komplikasi (ex: OMSK (otitis media supuratif kronis). 166. f. .l.025% 171. meningitis. Paracetamol sirup 120mg/5ml 168. Non-Farmakoterapi & KIE - Istirahat yang cukup - Menjaga kebersihan telinga - Asupan nutrisi yang cukup dan olahraga yang teratur untuk menjaga dan mempertahankan kekebalan tubuh optimal. VI.Antibiotik : 165. Dosis usia 6-12 tahun : 2-4 sdt atau 250-500 mg tiap 4-6 jam 169. 159. R/ Amoksisilin mg 800 174.Analgesik Antipiretik : 167. 161. abses otak) 160. Amokisisilin dosis tinggi (80 mg/kgBB/hari) terbagi dalam tiga dosis selama 3 hari (BB = 30 kg. Farmakoterapi 164. VII. RESEP 173.Otitis Media Akut Stadium Hiperemis Aurikula Dextra 158. kemudian dilakukan evaluasi secara klinis. - Mengkonsumsi obat secara teratur dan sesuai anjuran dokter - Jika obat habis atau keluhan tidak membaik segera kontrol ke dokter 163. G. PENATALAKSANAAN 162. 172.a pulv dtd 14 No.Dekongestan Topikal (tetes hidung) : 170.155. abses subperiosteal. V. . mastoiditis.IX .

∫ 2 dd gtt II nasales dextra 180. H. PROGNOSIS 183.175.I 177.I 179. R/ Oksimetazolin hydrochloride 0. Quo ad Vitam : Dubia ad bonam 184. 178. 182.025% guttae nasales lag No. ∫ prn 1-6 dd C I aggr. ∫ 3 dd Pulv I 176. A (10 Tahun) 181. Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam 15 . Pro : An. Quo ad Functionam : Dubia ad bonam 185. febr. R/ Paracetamol syr fl No.

199. Sebagai analgesik.Kontra indikasi : 204. sakit waktu haid dan sakit pada otot.Amoxicilin merupakan 16 192. 191. Untuk penderita dengan gangguan ginjal perlu dilakukan pengurangan dosis. 222.Dewasa dan anak-anak dengan BB > 20kg 250500mg tiap 8 jam. abses gigi dan infeksi rongga mulut lainnya.Komposisi & sediaan: 195. PEMBAHASAN OBAT 190. eradikasi Helicobacter pylori.< 1 tahun : ½ -1 sdt atau 60-120 mg tiap 4-6 jam 224. antrax 202. 197.186.Amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilin anhidrat 250mg/kapsul. infeksi saluran napas atas (H.influenza.Komposisi & sediaan: 220. .Dosis: 223. bronkitis. BAB VI 189. penyakit lyme. osteomielitis.Indikasi : 201. Anakanak dengan BB <8kg sebaiknya diberikan sediaan sirup kering. gonorrhea. Dosis sebaiknya setelah makan. MAKALAH REFERAT LABORATORIUM ILMU FARMASI 187.Paracetamol 120mg/5ml sirup. 228. streptococcus). otitis media. menurunkan demam dan setelah vaksinasi. profilaksis paska splenektomi. Anakanak dengan BB < 20kg: 20-40mg/kgBB sehari dengan dosis bagi tiap 8 jam.Dosis: 198.hipersensitif terhadap penisilin 205. 188. tablet 100mg. sakit gigi.1-5 tahun : 1-2 sdt atau 120250 mg tiap 4-6 jam 225.> 12 tahun : ½ -1 g tiap 4 jam.Mekanisme kerja: 207. 500mg/kaplet 196. 200.Paracetamol 219.infeksi saluran kemih. pneumonia. profilaksis endokarditis. Indikasi: Sebagai antipiretik/analg esik.6-12 tahun : 2-4 sdt atau 250500 mg tiap 4-6 jam 226. infeksi ginekologis.Amoksisilin 193. 125mg/ 5 ml sirup kering.500mg 221. 194. termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. maksimum 4 g/hari 227. misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala. 203. 206.

Infeksi jamur pada kelamin (2%).Sejumlah efek samping yang pernah ditemukan: 217. dan kemungkinan infeksi HIV.Waktu paruh 13 jam 233.Efek samping : 216. 229. 234. pertahankan hidrasi yang cukup pada dosis tinggi (risiko kristaluria).7%). Nyeri perut (0.Metabolisme: 231. 208. kehamilan dan menyusui 211. bercak kemerahan pada demam kelenjar (glandular fever). 215. yaitu lewat penghambatan sintesis peptidoglikan yang merupakan komponen utama pembentuk dinding/ membran bakteri. leukimis limfositik kronik. Mekanisme kerja amoksisilin sebagai bakterisida.Riwayat alergi. Diare (1.Kehamilan dan meyusui : 213. Sakit kepala (1%). kemerahan pada kulit. infeksi cytomegalovirus. Tidak boleh digunakan penderita dengan gangguan fungsi hati. 209. 218.Mekanisme Kerja: Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analg esik.antibiotik golongan penicillin subgolongan amoxicilin. anemia. 230. Efek samping lainnya namun sangat jarang ditemukan antara lain reaksi alergi (anafilaksis). dan gangguan ginjal. bekerja menghambat pembentukan prostaglandin yang merupakan inisial peningkatan temperature set body . Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai . Muntah (0. gangguan fungsi hati.Tidak diketahui berbahaya pada kehamilan.Metabolisme di hepar 232.7%).3).3%).Perhatian: 210. pada air susu jumlah sangat sedikit (trace amount) 214. Merupakan antibiotik broad spectrum yang sensitif terhadap bakteri gram negatif maupun gram positif. 212. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. gangguan ginjal. Mual (1. 17 Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase.

membantu membuka kembali tuba eusthacius yang tersumbat oleh sekret sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang. .Perhatian: 237. Oksimetazolin http://dinkes. Setelah periode itu. Merupakan decongestan topical (tetes hidung) yang mempunyai fungsi sebagai golongan agonis reseptor α-adrenergik yang bisa menyebabkan kontraksi dari vena pada jaringan hidung. Obat ini memiliki efek rebound kongesti terutama jika digunakan dalam waktu yang lama. DAFTAR PUSTAKA 255. Indikasi : . Penggunaan obat-obatan ini disarankan untuk terapi antara 3 sampai 5 hari.Efek samping: 240. 246.Oxymetazoline Hydrochloride 0.untuk hidung tersumbat oleh karena flu/pilek .php/informasi-obat/332oksimetazolin-hcl. 2011. 235.05%). 247. 243.Hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan penggunaan jangka lama pada anemia. (7 Oktober 2014) 18 HCL.Dosis : Dewasa (0.Methemoglobin emia. 248. Vasokontriksi local umumnya muncul dalam 5-10 menit dan bertahan selama 5-6 jam dengan penurunan bertahap setelah 6 jam.025%)  2-3 tetes/spray 2 kali sehari 252.Efek samping : jarang menimbulkan efek sistemik 250.025% 242.otitis media akut stadium hiperemis. Kadang-kadang sejumlah oksimetazolin dalam jumlah yang cukup dapat terabsorpsi dan menghasilkan efek sistemik. 238.sedang. 249.html. 236. Sifat antiinflamasiny a sangat lemah sehingga sehingga tindak digunakan sebagai antirematik. 245. hepatotoksik (dosis tinggi mengekibatkan kerusakan fungsi hati) 241. 254. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. 244.go. mukosa akan resisten terhadap efek dekongestan sehingga memerlukan pengobatan yang lebih sering.id/index. Dekongestan efektif pada pasien dengan hidung tersumbat dan memiliki toleransi yang baik. Anak (0. 253. 251.tasikmalayakota. 239. hemolisis eritrosit. 256.

2002.cochrane.. Kelainan Telinga Tengah. 2008. 259. 17 . 2007.D.html(7 Oktober 2014) 258. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher.A. Djaafar Z. Mansjoer A. p: 79-81. Predictors of poor outcome and benefits from antibiotics in children with acute otitis media: pragmatic randomized trial. Helmi. BMJ. Hayem M.. Jilid I. dkk. Dalam: Triyanti K.. dkk (eds). 2005. Little P. dkk (eds). 6th ed. 22:325. 260.A. Sanders SL. Otitis Media Akut. 3rd ed. Antibiotiks for Acute Otitis Media in Children (Cochrane Review). Glasziou PP. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Del Mar CB. Restuti R..257. p: 69. Kapita Selekta Kedokteran. http://www. Dalam: Soepardi E.org/cochrane/revabstr/AB000219. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. et al.