UJI METABOLISME BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM
Untuk Memenuhi Matakuliah Mikrobiologi
Yang dibina oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas

oleh: Kelompok 1 / Offering B
Intan Permatasari

(140341605268)

Joddy Oki Ibrahim

(140341606446)

Ni’matul Khoiriyyah (140341605274)
Nikita Rizky

(140341604916)

Nisrina Deti N.A.M

(140341606721)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
FEBRUARI 2016

A. TOPIK
B. TANGGAL PRAKTIKUM
C. TUJUAN

: Uji Metabolisme Bakteri
: Selasa, 16 Februari 2016
:

1.

Untuk menguji kemampuan menghidrolisis amilum

2.

Untuk menguji kemampuan menghidrolisis protein.

3.

Untuk menguji kemampuan menghidrolisis lemak

D. Dasar Teori
Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energi yang diperoleh dari
proses metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk
kehidupan mikroba. Metabolisma didefinisikan sebagai semua reaksi kimia yang
terjadi dalam sel hidup. Termasuk juga eksoenzim yang tetap di anggap sebagai
metabolisma, sebab meskupun reaksi kimia berlangsung di luar sel tetapi enzim
disekresikan dari dalam sel. Sintesis protoplasma dan penggunaan energi yang
disebut sebagai Anabolisma.

Oksidasi substrat diiringi dengan terbentuknya

energi disebut dengan Katabolisma (Drakuni, 2001)
Kegiatan metabolisme meliputi proses perubahan yang dilakukan untuk
sederetan reaksi enzim yang berurutan. Secara singkat kegiatan proses ini disebut
tansformasi zat. Hasil kegiatan ini akan dihasilkan nutrien sederhana seperti
glukosa, asam lemak berantai panjang atau senyawa-senyawa aromatik yang dapat
digunakan sebagai bahan untuk proses neosintetik bahan sel. Reaksi kimiawi yang
membebaskan energi melalui perombakan nutrient disebut reaksi disimilasi atau
penguraian; jadi merupakan kegiatan katabolik sel. Sedangkan reaksi kimiawi
yang menggunakan energi untuk sintesis dan fungsi-fungsi sel lainnya disebut
reaksi asimilasi atau anabolik. Jadi, reaksi disimilasi menghasilkan energi, dan
reaksi asimilasi menggunakan energi. Menurut Darkuni (2001) bila dalam suatu
reaksi menghasilkan energi maka disebut reaksi eksergonik, dan apabila untuk
dapat berlangsungnya suatu reaksi diperlukan energi, reaksi ini disebut reaksi
endergonik.
Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama metabolisme,
energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis.
Selama masa hidup sel, kerja ini bersifat ekstensif dan beragam. Mikroorganisme

heterotrofik nonfotosintesik memperoleh energinya dari oksidasi (pengusiran
electron atau atom hydrogen) senyawa-senyawa anorganik (Pelezer, 2006).
Enzim sangat di pengaruhi oleh beberapa hal yaitu, konsentrasi enzim,
konsentrasi substrat, pH, suhu,setiap enzim berfungsi optimal pada pH dan
temperatur tertentu. Suhu yang sangat rendah dapat menghentikan aktivitas enzim
tetapi tidak menghancurkannya. Aktivitas enzim diatur melalui 2 cara yaitu,
pengendalian katalis secara langsung pengendalian genetik. Proses metabolisme
akan menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan
makromolekul dari hasil metabolisme yang bergun sebagai penyediaan tahap awal
bagi komponen-komponen sel menghasilkan dan menyediakan energi yang
dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan fosfat. Energi ini sangat penting untuk
kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa berlagsung kalau tersedia
energi (Pelezer, 2006).
Bakteri memperoleh energi melalui proses Oksidasi-Reduksi. Oksidasi
adalah proses pelepasan elektron sedang reduksi adalah proses penangkapan
elektron. Istilah oksidasi digunakan disini untuk mencakup semua proses
penghasilan energi yang terjadi dalam se (Tarigan, 1988). Karena elektron tidak
dapat berada dalam bentuk bebas, maka setiap reaksi oksidasi selalu diiringi oleh
reaksi reduksi. Hasil dari reaksi oksidasi dapat terbentuknya energi. Pada
umumnya reaksi oksidasi secara biologi dikatalisis oleh enzim dehidrogenase.
Enzim tersebut memtransfer elektron dan proton yang dibebaskan kepada aseptor
elektron intermedier seperti NAD+ dan NADP+ untuk dibentuk menjadi NADH
dan NADPH. Fosforilasi oksidasi terjadi pada saat elektron yang mengandung
energi tinggi tersebut ditranfer ke dalam serangkain transpor elektron sampai
akhirnya ditangkap oleh oksigen atau oksidan anorganik lainnya sehingga oksigen
akan tereduksi menjadi H2O (Tarigan, 1998).
Respirasi didefenisikan sebagai penggunaan serangkaian transfor elektron
untuk mentransfer elektron menuju aseptor elektron terakhir. Energi diperoleh
melalui fosporilasi oksidatif tetapi dalam prosesnya bisa menggunakan oksigen
sebagai aseptor elektron terakhir (respirasi aerob) atau senyawa anorganik lain
(respirasi anaerob). Letak perbedaan antara respirasi aerob dan anaerob adalah

bahwa pada respirasi anaerob yang berperan sebagai aseptor elektron terakahir
adalah senyawa anorganik, bukan oksigen (Dwidjosaputro, 2005).
Komponen hidup yang esensial pada bakteri sama seperti protoplasma
dari semua organisme hidup. Komponen tersebut terdiri dari karbon, oksigen,
hidrogen, nitrogen, sulfur dan fosfor dengan beberapa elemen yang jumlahnya
lebih sedikit. Rata-rata sebesar 80-85 % dari tubuh bakteri yang tumbuh mungkin
terdiri dari air. Protein, karbohidrat, lipid, dan ada asam nukleat, juga semua
subtansi yang penting yang disebut enzim (Volk, 1984).
Perombakan lipid atau lemak diawali dengan pecahnya trigliseride oleh
penambahan air sehingga terbentuk gliserol dan asam lemak dengan bantuan
enzim-enzim lipase. Ada lebih banyak hasil energi per gram lemak daripada per
gram karbohidrat. Namun, relatif hanya beberapa spesies mikroba yang efektif
dalam merombak lipid, baik tipe yang sederhana maupun yang rumit, antara lain
karena terbatasnya daya larut lipid (Pelczar, 2005).
Untuk keperluan identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri,
selain dipelajari sifat-sifat morfologinya

perlu pula dipelajari sifat-sifat

biokimianya dan factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Ada
beberapa cara pengujian sifat biokimia, diantaranya ialah uji adanya hidrolisis
amilum, uji adanya hidrolisis lemak, dan uji adanya hidrolisis protein. (Hastuti,
2012).

E. Alat dan Bahan
Alat
 Jarum Inokulasi lurus
 Pipet
 Tabung reaksi
 Cawan petri
 Incubator
 Gelas ukur 10 ml
 Lampu spiritus
 Beaker glass 500 ml
 Rak tabung reaksi

Bahan
 Biakan murni koloni 1
 Biakan murni koloni 2
 Medium amilum agar
 Medium skim milk agar
 Medium NA yang mengandung 1% lemak

mentega atau minyak zaitun dan neutra





red
Medium nutrient cair
Lisol
Sabun cuci
Lap
Larutan iodium
Alcohol 70%

F. Langkah Kerja
1.
Pembuatan Medium
2 koloni x 2 cawan x 6 kelompok = 24 cawan
= 24 cawan x 10 ml = 240 ml = 300 ml
aquades

300 ml
1000 ml

Medium NA=

Mediun SMA =

300 ml
1000 ml

x 100 gram = 30 gram susu skim

Medium NAL =

300 ml
1000 ml

x 10 ml = 3 ml minyak zaitun

Medium AA =

 Medium SMA

300 ml
1000 ml

x 20 gram = 6 gram

x 2 gram = 0,6 gram amilum

Bahan yang digunakan ditimbang menggunakan neraca analitik (30 gram susu skim, 6 gram NA,
aquades 300 ml)
Disiapkan 300 ml aquades
Dimasukan 30 gram susu skim, 6 gram NA, aquades 300 ml ke dalam gelas beaker 500 ml
Dipanaskan diatas hotplate yang diikuti oleh pengadukan dengan menggunakan magnetic stire
Dipanaskan hingga homogen
Dimasukan kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 5 ml dan mulut tabung disumbat dengan
kapas
Dimasukan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi
Otoklaf diisi air hingga di atas sedikit angsang ±1 cm
Dimasukkan panci dan media yang akan disterilisasi ke dalam panci yang disusun dengan rapi
Dipasang tubuh sterilisator cocok dengan tempatnya, yang terletak pada tutup
Otoklaf ditutup dengan rapat, dipastikan baut-baut yang ada dibagian atas tutup sudah terpasang
Diputar serentak secara bersama-sama baut-baut yang berlawanan letaknya agar tutup autoklaf berada
pada posisi yang tepat
Dibuka pengatur katup pengaman , agar udara yang ada di dalam autoklaf keluar
Dinyalakan kompor, hingga terdengar bunyi desisan dan katup segera ditutup
Dijaga skala jarum pada 15 lbs ±15 menit lalu kompor dimatikan
Ditunggu hingga tekanan turun menjadi 0 untuk meluruskan katup pengaman dan dibuka tutup otoklaf
untuk mengeluarkan medium steril
Di simpan medium dalam inkubator selama 1x24 jam

 Medium NAL

Bahan yang digunakan ditimbang menggunakan neraca analitik (3 ml minyak zaitun, 6 gram NA,
aquades 300 ml)
Disiapkan 300 ml aquades
Dimasukan 3 ml minyak zaitun, 6 gram NA, aquades 300 ml ke dalam gelas beaker 500 ml
Dipanaskan diatas hotplate yang diikuti oleh pengadukan dengan menggunakan magnetic stire
Dipanaskan hingga homogen
Dimasukan kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 5 ml dan mulut tabung disumbat dengan
kapas
Dimasukan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi
Otoklaf diisi air hingga di atas sedikit angsang ±1 cm
Dimasukkan panci dan media yang akan disterilisasi ke dalam panci yang disusun dengan rapi
Dipasang tubuh sterilisator cocok dengan tempatnya, yang terletak pada tutup
Otoklaf ditutup dengan rapat, dipastikan baut-baut yang ada dibagian atas tutup sudah terpasang
Diputar serentak secara bersama-sama baut-baut yang berlawanan letaknya agar tutup autoklaf berada
pada posisi yang tepat
Dibuka pengatur katup pengaman , agar udara yang ada di dalam autoklaf keluar
Dinyalakan kompor, hingga terdengar bunyi desisan dan katup segera ditutup
Dijaga skala jarum pada 15 lbs ±15 menit lalu kompor dimatikan
Ditunggu hingga tekanan turun menjadi 0 untuk meluruskan katup pengaman dan dibuka tutup otoklaf
untuk mengeluarkan medium steril
Di simpan medium dalam inkubator selama 1x24 jam

 Medium AA

Bahan yang digunakan ditimbang menggunakan neraca analitik (0,6 gram amilum, 6 gram NA,
aquades 300 ml)
Disiapkan 300 ml aquades
Dimasukan 0,6 gram susu skim, 6 gram NA, aquades 300 ml ke dalam gelas beaker 500 ml
Dipanaskan diatas hotplate yang diikuti oleh pengadukan dengan menggunakan magnetic stire
Dipanaskan hingga homogen
Dimasukan kedalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 5 ml dan mulut tabung disumbat dengan
kapas
Dimasukan ke dalam autoklaf untuk disterilisasi
Otoklaf diisi air hingga di atas sedikit angsang ±1 cm
Dimasukkan panci dan media yang akan disterilisasi ke dalam panci yang disusun dengan rapi
Dipasang tubuh sterilisator cocok dengan tempatnya, yang terletak pada tutup
Otoklaf ditutup dengan rapat, dipastikan baut-baut yang ada dibagian atas tutup sudah terpasang
Diputar serentak secara bersama-sama baut-baut yang berlawanan letaknya agar tutup autoklaf berada
pada posisi yang tepat
Dibuka pengatur katup pengaman , agar udara yang ada di dalam autoklaf keluar
Dinyalakan kompor, hingga terdengar bunyi desisan dan katup segera ditutup
Dijaga skala jarum pada 15 lbs ±15 menit lalu kompor dimatikan
Ditunggu hingga tekanan turun menjadi 0 untuk meluruskan katup pengaman dan dibuka tutup otoklaf
untuk mengeluarkan medium steril
Di simpan medium dalam inkubator selama 1x24 jam

2.

Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Amilum
disediakan 3 buah medium lempeng amilum agar, berilah kode A dan B. Tiap medium dibagi
atas 2 bagian, membuat garis tengah pada bagian dasar cawan petri.

di inokulasi dengan menggunakan jarum inokulasi biakan murni bakteri koloni 1 pada
setengah bagian medium A, biakan murni bakteri koloni 2 pada setengah bagian medium B,
Kemudian pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.

di inkubasi pada suhu 37o C selama 2x24 jam

larutan iodium dituangkan ke permukaan medium dan memperhatikan warna yang terjadi di
sekeliling goresan garis inokulasi. Bagian jernih di sekeliling koloni bakteri menunjukkan
adanya hidrolisis amilum oleh bakteri tersebut, sedangkan bagian lainnya berwarna biru
kehitaman.

3.

Adanya Kemampuan menghidrolisis Protein
disediakan 3 buah medium lempeng Skim Milk Agar, diberi kode A dan B.

di inokulasi dengan menggunakan jarum inokulasi biakan murni bakteri koloni 1 pada
setengah bagian medium A, biakan murni bakteri koloni 2 pada setengah bagian medium B.
menginkubasikan pada suhu 370C selama 2 x 24 jam.

di inkubasi pada suhu 370C selama 2 x 24 jam

di amati warna medium. Koloni bakteri yang dapat menghidrolisis casein akan dikelilingi
oleh daerah yang jernih, sedangkan bagian lainnya nampak tetap berwarna putih susu.

4.

Uji adanya Kemampuan Menghidrolisis Lemak

di sediakan 2 buah medium lempeng NA yang mengandung 1% minyak zaitun dan indikator
Neutral Red.

di inokulasi dengan menggunakan jarum inokulasi biakan murni bakteri koloni 1 pada
setengah bagian medium A, biakan murni bakteri B.koloni 2 pada setengah bagian medium B.

di inkubasikan pada suhu 37 0C selama 2 x 24 jam

diamati warna medium. Koloni bakteri yang dapat menghidrolisis lemak akan menyebabkan
penurunan pH medium, sehingga terbentuk warna merah pada bagian bawah koloni bakteri.
Jika tidak terjadi hidrolisis lemak, maka medium tetap dalam pH mendekati netral dan
berwarna kuning pada bagian bawah koloni bakteri.

G. Hasil Pengamatan
Spesies Bakteri
Koloni 1
Koloni 2

Amilum
++
-

Keterangan:
+++

= kemampuan menghidrolisis tinggi

++

= kemampuan menghidrolisis sedang

+

= kemampuan menghidrolisis rendah

-

= tidak mampu menghidrolisis

Kemampuan Menghidrolisis
protein
-

lemak
-

H. Analisis Data
Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan mengenai respirasi pada
bakteri. Medium yang digunakan adalah medium SMA 30 gram susu skim, 6
gram NA dan 300 ml aquades yang dicampur dan dipanaskan hingga mendidih.
Medium NAL 3 ml minyak zaitun, 6 gram NA dan 300 ml aquades yang dicampur
dan dipanaskan hingga mendidih. Medium AA 0,6 gram amilum, 6 gram NA dan
300 ml aquades yang dicampur dan dipanaskan hingga mendidih. Medium yang
telah dibuat dimasukkan dalam tabung sebanyak 10 ml ke dalam cawan petri lalu
disterilkan menggunakan otoklaf dan disimpan selama 24 jam. Cara sterilisasi
dengan otoklaf antara lain mengisi air hingga di atas sedikit angsang ±1 cm lalu
memasukkan panci dan memasukkan media yang akan disterilisasi ke dalamnya
yang

disusun

dengan

rapi,

tubuh

sterilisator

dipasang

cocok dengan

tempatnya, yang terletak pada tutup. Otoklaf ditutup dengan rapat, pastikan bautbaut yang ada dibagian atas tutup sudah terpasang. memutar serentak secara
bersama-sama baut-baut yang berlawanan letaknya agar tutup autoklaf ini berada
pada posisi yang tepat, kemudian pengatur katup pengaman dibuka, agar udara
yang ada di dalam autoklaf keluar. Saat sumber pemanas (api) dari kompor
dinyalakan, dan sudah keluar uap banyak hingga terdengar bunyi desisan, katup
segera ditutup. Skala jarum dijaga pada 15 lbs ±15 menit lalu kompor dimatikan.
Tunggu hingga tekanan turun menjadi 0 untuk membuka atau meluruskan katup
pengaman dan membuka tutup otoklaf untuk mengeluarkan medium steril.
Sesuai dengan tabel hasil pengamatan, koloni 1 mempunyai kemampuan
menghidrolisis amilum sedang karena setelah dicampurkan dengan larutan
iodium, di sekeliling bakteri akan berwarna transparan (bening). Koloni 1 tidak
mempunyai kemampuan menghidrolisis protein dengan melihat adanya lapisan
transparan (jernih) yang tebal di sekitar bakteri yang berada di medium skim mik
agar. Pada pengamatan penghidrolisisan lemak, koloni 1 tidak mempunyai
kemampuan menghidrolisis, hal ini dikarenakan tidak adanya corak merah di sisi
pinggir bakteri. Kemudian pada medium kontrol tidak ada perubahan. Hasil
pengamatan pada koloni 2 tidak mempunyai kemampuan dalam menghidrolisis
amilum, protein maupun lemak

Dapat disimpulkan sementara dari hasil pengamatan yang sudah dianalisis
di atas, yang mempunyai kemampuan sedang dalam menghidrolisis amilum
adalah koloni 1. Kemudian yang tidak

mempunyai kemampuan dalam

menghidrolisis lemak dan protein adalah koloni 1 dan koloni 2. Data di atas
menunjukkan bahwa adanya persamaan tingkat kemampuan menghidrolisis
protein dan lemak Antara koloni 1 dan koloni 2.
I. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kita menggunakan tiga medium, yaitu
AA(Amilum agar), NAL (Nutrient Agar Lemak), dan SMA (Skim Milk Agar).
Masing – masing dari medium tersebut mengandung bahan dasar bagi bakteri
untuk melakukan metabolisme. Disini digunakan dua bakteri yaitu bakteri koloni
1 dan bakteri koloni 2.
Karakterisasi dan klasifikasi sebagian besar mikrobia seperti bakteri
berdasarkan pada reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada
beberapa tipe media, memproduksi tipe metabolit tertentu yang dideteksi dengan
interaksi mikrobia dengan reagen test yang menghasilkan warna reagen. Reaksireaksi dalam sel akan teridentifikasi dengan melakukan pengujian-pengujian
tertentu. Sel akan memberikan respon sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya, misalnya menghasilkan enzim katalase, enzim gelatinase atau
kemampuan untuk menghidrolisis lemak (Pelczar 1986). Untuk mempelajari
karakteristik biokimia suatu biakan murni bakteri maka dapat digunakan suatu uji
biokimia yaitu uji hidrolisis amilum, uji hidrolisis protein dan uji hidrolisis lemak.
1.

Uji Hidrolisis Amilum
Mikroorganisme yang bersifat amilolitik dapat memecah pati (amilum)

yang terdapat dalam makanan menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama
dalam bentuk glukosa. Reaksi hidrolisis pati menyebabkan pencairan pati
sehingga menyebabkan perubahan pada cita rasa makanan
Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida.
Polisakarida merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida
yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi

sebagai materi simpanan atau cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan
dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel. Kemampuan untuk memanfaatkan
gula atau unsur yang berhubungan dengan konfigurasi yang berbeda dari glukosa
merupakan hasil kemampuan organisme untuk mengubah substrat menjadi
perantara-perantara sebagai jalur untuk fermentasi glukosa (Sukarminah, 2010)
Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida.
Polisakarida
monosakarida

merupakan

makromolekul,

yang dihubungkan dengan

polimer
ikatan

dengan

beberapa

glikosidik.

Beberapa

polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau cadangan yang nantinya
ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel
(Campbell, 2002). Amilum tidak dapat langsung digunakan, karena memiliki
ukuran molekul yang terlalu besar, sehingga bakteri harus menghidrolisis amilum
terlebih dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke dalam sel. Untuk
menghidrolisis amilum dibutuhkan enzim amilase. Amilase, yaitu enzim
yang menguraikan amilum menjadi maltosa (suatu disakarida), reaksinya
adalah sebagai berikut:

Kemampuan untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa, dan
dekstrin karena mempunyai enzim amilase. Amilum tidak dapat langsung
digunakan, sehingga bakteri harus menghidrolisis amilum terlebih dahulu menjadi
molekul sederhana dan masuk ke dalam sel (Sukarminah, 2010)
Fungsi uji positif hidrolisis amilum pada bakteri ditandai dengan
tampaknya area jernih di sekitar pertumbuhan bakteri yang digoreskan. Adanya
daerah jernih tersebut disebabkan eksoenzim dan organisme menghidrolisis
amilum dalam medium agar. Fungi atau bakteri memproduksi α-amilase sehingga
mampu menguraikan amilum dengan eksoenzim amilolitik tersebut amat luas
antara mikroorganisme, diantaranya bakteri Bacillus macerans, Bacillus
polimexa, dan Bacillus subtilis (Sukarminah, 2010)
Indikator yang digunakan pada uji amilolitik ini adalah yodium. Yodium
1% diteteskan tepat di atas koloni. Tujuan penetasan larutan yodium 1% diberikan

untuk membuktikkan apakah bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri
amilolitik. Pati yang tidak terhidrolisis akan membentuk warna biru dengan
yodium yang menunjukkan tidak terdapatnya enzim amilase yang dihasilkan oleh
bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang terhidrolisis di sekeliling koloni akan
terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase. Warna jernih tersebut
mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada
bakteri. Menurut Fardiaz (1992) warna jernih atau bening pada sekeliling bakteri
setelah ditambahkan iodium disebabkan karena amilum tidak dapat bereaksi lama
dengan iodium. Areal berwarna coklat kemerahan di sekeliling koloni
menunjukkan hidrolisis sebagian terhadap pati.
Dari data dihasilkan bahwa pada uji hidrolisis amilum ini hanya bakteri
koloni 1 yang mampu melakukan hidrolisis amilum yang ditandai dengan
terbentuknya warna jernih disekitar bakteri yang diinokulasikan setelah medium
diberikan larutan iodium. Warna jernih atau bening pada sekeliling bakteri setelah
ditambahkan iodium disebabkan karena amilum tidak dapat bereaksi lama dengan
iodium. Pada bakteri koloni 1 yang diamati, mampu menghidrolisis amilum, hal
ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut menghasilkan enzim α-amilase. Larutan
iodium disini berfungsi sebagai indikator adanya amilum, bila medium yang
mengandung pati atau amilum diberi iodium maka akan nampak warna biru.
Namun jika pati atau amilum tersebut telah terhidrolisis maka warnanya akan
jernih atau bening. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau
amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada bakteri selain itu koloni 1 mampu
untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa dan dextrin. Sedangkan
pada bakteri 2 hasilnya negatif yang menunjukkan tidak adanya warna bening
(transparan) yang berarti bakteri koloni tidak mempunyai enzim amilase yang
memiliki kemampuan untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa dan
dextrin. Hal ini dikarenakan juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya bakteri yang
diinokulasikan pada medium, semakin sedikit bekteri yang diinokulasikan dapat
mengakibatkan hasil bentukan jernih ini juga semakin kecil (Hadioetomo, 1990).
2.

Uji Hidrolisis Protein

Proses metabolisme dibedakan menjadi dua jenis, yaitu anabolisme dan
katabolisme. Anabolisme (biosintesis) yaitu reaksi biokimia yang merakit
molekul-molekul sederhana menjadi molekul-molekul yang lebih kompleks.
Misalnya pembentukkan protein dari asam amino. Secara umum, proses anabolik
membutuhkan energi. Sedangkan katabolisme yaitu reaksi biokimia yang
memecah atau menguraikan molekul-molekul kompleks menjadi molekulmolekul yang lebih sederhana. Proses katabolik melepaskan energi yang
dibutuhkan oleh sel (Waluyo, 2004).
Menurut Volk & Wheeler (1988), bakteri sangat mengagumkan
keluwesannya dalam keanekaragaman senyawa yang dapat diuraikan; pada
kenyataannya, substansi biologi ini tidak dapat dipecahkan oleh beberapa
organisme. Di antara senyawa organik umum yang dapat dipecahkan oleh bakteri
adalah protein, asam nukleat, dan lemak. Pemecahan senyawa-senyawa tersebut
tak luput dari peranan enzim yang dihasilkan oleh bakteri. Enzim itu disebut
hidrolase karena enzim ini menghidrolisis molekul-molekul besar menjadi
komponen-komponen kecil yang dapat digunakan. Pada bakteri enzim-enzim ini
disekresi sel ke lingkungan luarnya; jadi senyawa besar yang tak larut dapat
dipecah menjadi molekul yang larut sehingga dapat memasuki sel bakteri dan
menjadi bahan makanan.
Dalam praktikum pengujian metabolisme bakteri, untuk mengetahui
adanya hidrolisis protein maka digunakanlah medium berupa Skim Milk Agar
(SMA). SMA (Skim Milk Agar) merupakan medium yang terbuat susu skim yang
dicampur dengan agar dan aquades, yang mana susu skim tersebut terkandung
kasein yang nantinya akan terhidrolisis menjadi peptida dan asam amino. Bakteri
mampu mengahsilkan hidrolisis protein karena di dalam tubuh bakteri dihasilkan
koenzim yang mampu menghidrolisis kasein dengan adanya enzim protease.
Menurut Hadioetomo (1993), yang menyatakanbahwa uji positif dari
pengujian hidrolisis protein ditandai dengan tampaknya area jernih di sekitar
pertumbuhan organisme yang digoreskan. Senada dengan pernyataan tersebut,
Hastuti (2015), menyatakan bahwa koloni bakteri yang dapat menghidrolisis
protein akan dikelilingi oleh daerah yang jernih, sedangkan bagian lainnya akan
nampak tetap berwarna putih susu.

Namun, berdasarkan hasil akhir yang kita peroleh dalam pengujian ini
bertolak belakang dengan teori yang disebutkan diatas. Hasil akhir dari uji
hidrolisis protein, baik dari Koloni I maupun Koloni II, tidak terdapat warna
jernih yang mengelilingi bagian koloni bakteri. Seharusnya setiap bakteri dapat
melakukan hidrolisis protein. Ketidakcocokan hasil akhir ini mungkin dapat
disebabkan oleh perlakuan penggoresan terhadap medium yang relatif dalam.
Seharusnya perlakuan penggoresan medium ini dilakukan dengan goresan yang
tipis.
Menurut Waluyo (2004), jika protein dihidrolisis oleh bakteri akan tampak
zona jernih di sekitar tumbuh koloni. Jika tidak mampu dihidrolisis maka medium
tetap berwarna putih Enzim protease merupakan enzim penghidrolisis protein,
yaitu enzim yang memutus ikatan peptida pada rantai protein sehingga dihasilkan
asam amino atau peptida berantai pendek. Jadi, adanya hasil berwarna jernih pada
koloni bakteri menunjukkan bahwa bakteri dapat menghidrolisis protein yang ada
pada medium.
Protein adalah molekul yang sangat besar tersusun dari asam amino yang
dikaitkan dengan ikatan peptida. Penguraian protein menjadi asam amino-asam
amino dilakukan dengan menggunakan enzim protease yang dapat menghidrolisis
ikatan peptida hingga dapat melepas masing-masing asam amino sehingga asam
amino dapat diserap ke dalam sel (Volk & Wheeler, 1988).Menurut Balqis (2003),
protein merupakan senyawa yang disusun oleh asam amino yang memiliki ikatan
peptide, sedangkan lemak merupakan merupakan suatu kelompok biomolekul
yang memiliki ciri khusus dalam kelarutannya dan berperan penting dalam
struktur dan metabolisme sel. Untuk melakukan hidrolisis protein, bakteri dapat
mensekresikan enzim protease yang dapat menghidrolisis ikatan peptide sehingga
dapat melepas masing-masing asam aminonya.
3.

Uji Hidrolisis Lemak
Kemampuan menghidrolisis lemak ini ditunjukkan dengan intensitas

terbentuknya warna merah pada bakteri yang diinokulasikan. Hasil ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemungkinan perbedaan kemampuan
menghidrolisis lemak adalah jumlah sel bakteri dari tiap jenis yang diinokulasikan

pada medium tidak sama, sehingga metabolisme yang diperlukan juga berbeda.
Semakin banyak bateri yang diinokulasikan berarti semakin besar metabolisme
yang terjadi di dalam medium sehingga hidrolisis lemak juga semakin besar
karena untuk memenuhi kebutuhan hidup bakkteri dan sebaliknya (Pelczar, 1986).
Kemampuan bakteri untuk menghidrolisis lemak dikarenakan pada tubuh
bakteri dihasilkan enzim lipase. Enzim lipase ini termasuk golongan ester yaitu
esterase. Dimana enzim ini memiliki kemampuan menghidrolisis lemak dan
memecahkan menjadi 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Lemak
merupakan campuran trigleserida yang terdiri atas 1 molekul gliserol yang
berikatan dengan 3 molekul asam lemak. Lemak memiliki sifat antara lain: tidak
larut dalam air, bila dipanaskan akan terjadi perubahan pada titik cair, titik asap
dan titik nyala, serta plastis dan bentuknya mudah berubah-ubah bila mendapat
tekanan, bisa mengalami ketengikan, dan reaksi dengan alkali akan membentuk
sabun dan gliserol (Pelczar, 1986).
Pada uji hidrolisis lemak ini menggunakan medium lemak atau Nutrien
Agar Lemak (NAL). Dari data dihasilkan bahwa bakteri koloni 1 dan koloni 2
tidak memiliki kemampuan dalam menghidrolisis lemak . Hal ini disebabkan
bakteri koloni 1 dan2 tidak menghasilkan enzim lipase sehingga tidak mampu
mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol
Selain dapat menghidrolisis lemak, protein dan amilum ternyata bakteri
juga dapat menghidrolisis gelatin. Pada uji hidrolisis gelatin yang telah diuji oleh
beberapa ahli bakteri dapat menghidrolisis gelatin. Gelatin tetap berwujud cair
setelah berada pada suhu rendah, sedangkan pada tabung reaksi yang hanya berisi
gelatin tanpa ditetesi bakteri, mengalami perubahan wujud menjadi padat dalam
suhu rendah. Hal tersebut menunjukan bahwa bakteri yang diteteskan tersebut
mampu menghidrolisis gelatin sehingga gelatin menjadi tetap cair ketika
ditempatkan pada suhu rendah. Bakteri tersebut dapat menghidrolisis gelatin
karena

bakteri

tersebut

memiliki eksoenzim

proteolitik

yang

disebut

gelatinisme. Hal ini menunjukan bahwa gelatin adalah protein yang diperoleh dari
hasil

hidrolisa

kolagen,

yaitu

suatu

komponen

jaringan

pengikat pada tendon manusia dan hewan. Pada temperatur dibawah 25oC gelatin

berbentuk padat sedangkan diatas suhu 25oC gelatin akan berbentuk cair
(Dwidjosaputro, 2005).
J. Kesimpulan
1. Pada Bakteri koloni 1 dapat melakukan hidrolisis amilum dengan kemampuan
sedang sedangkan pada koloni 2 tidak mampu melakukan hidrolisis amilum
2. Pada bakteri koloni 1 dan koloni 2 tidak mempunyai kemampuan untuk
melakukan hidrolisis protein
3. Pada bakteri koloni 1 dan koloni 2 tidak mempunyai kemampuan untuk
melakukan hidrolisis lemak

Daftar Rujukan
Balqis, dkk. 2003. Biokimia. Malang: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Peningkatan Manajemen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional

Darkuni. 2001. Mikrobiologi (bakteriologi, virologi, dan mikologi). Malang:
Universitas Negeri Malang.
Dwidjosaputro, D . 2005. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Hadioetomo,R.S.1990. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi.
Jakarta: Gramedia.
Hastuti, Sri Utami.2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM Press
Pelezar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.
Sukarminah E., Sumanti, D.M. dan Hanidah,I. 2010. Mikrobiologi Pangan.
Bandung: Universitas Padjajaran
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tingkat Kependidikan.
Volk, Wesley A., dan Wheeler, Margaret F. 1984. Mikrobiologi dasar. Jakarta:
Erlangga.
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhamadiyah
Malang.

K. Lampiran

Hidrolisis protein

Hidrolisis amilum

Hidrolisis
lemak