You are on page 1of 4

Pembalasan Dendam

Cerpen berjudul Pembalasan Dendam merupakan salah satu cerpen karya
Nugroho Notosusanto yang ditulis dalam sebuah buku Kumpulan Cerita Pendek,
Hujan Kepagian. Dalam buku tersebut, selain cerpen Pembalasan Dendam terdapat
beberapa cerpen lain diantaranya Senyum, Konyol, Perawan di Garis Depan, Bayi,
dan Eksekusi. Nugroho Notosusanto mengalami langsung peristiwa yang
diceritakan di dalam cerpen-cerpen tersebut.
Cerpen Pembalasan Dendam menceritakan tentang saudara kembar
bernama Jon dan Con, serta tokoh aku (Nug) yang berperang melawan Belanda.
Jon melarang Con untuk ikut berperang bersamanya dan memerintahkan Con
untuk membantu Nug mengatur pasukan. Hal ini membuat Con penasaran
mengapa ia dilarang untuk ikut berperang. Lalu Nug menceritakan kepada Con,
bahwa dua bersaudara tidak boleh dalam satu pasukan. Telah banyak kejadian yang
terjadi jika dua bersaudara dalam satu pasukan, salah satu dari sudara tersebut akan
gugur. Mendengar cerita Nug, Con tidak percaya dan menganggap bahwa cerita
tersebut hanya isapan jempol belaka. Namun pada akhirnya Con tidak ikut
berperang.
Pada saat mengawasi kampung daerah patroli “Tijger Brigade”, Con dan
Nug melihat rakyat berbondong-bondong melarikan diri ke arah Con dan Nug
dengan berteriak Belanda...Belanda....Lalu Con menanyakan tentang Jon kepada
rakyat-rakyat tersebut, namun jawaban mereka justru membuat pikiran Con
simpang siur tidak karuan. Kemudian datang seorang laki-laki memakai jas hitam
yang mengatakan bahwa teman Con dan Nug ditangkap Belanda. Akhirnya Con
langsung berlari mencari Jon. Lalu Con dan Nug melihat Jon ditusuk oleh seorang
militer Belanda. Hal tersebut tentu membuat Con sangat marah dan hendak
membals dendam kepada Belanda atas kematian Jon. Con ingin menusuk orang
Belanda yang telah menusuk Jon, tetapi orang itupun telah mati. Ketika
berbincang-bincang dengan Nug, Con berubah pikiran meskipun ia membunuh
orang Belanda, ia tidak akan merasa puas.
Kelebihan dari cerpen ini adalah susunan kalimatnya sederhana dan disusun
secara runtut sehingga terkesan tidak berbelit-belit dalam menyampaikan isi cerita.
Namun ada beberapa kekurangan dari cerpen tersebut diantaranya penulis banyak
menggunakan istilah bahasa Belanda yang tidak banyak orang mengetahui artinya.
Sebaiknya penulis membuat c atatan kaki yang lebih lengkap. Selain itu ada
beberapa kata yang salah dalam hal pengetikan. Cerpen ini cocok dibaca untuk
remaja dan dewasa, karena mengajarkan bahwa balas dendam bukanlah hal yang
benar serta dari cerpen tersebut dapat diketahui tentang perjuangan bangsa
Indonesia pada masa lalu.

dan memang tak ada pembicaraan apapun sebelumnya tentang tugas ini. Namun rasa malu pada diriku lebih besar jika tak ada yang maju presentasi. maka kelompok dibentuk menjadi 4 kelompok. Kompak dalam tidak mengerjakan tugas. Jika Pak Guru menilai hasil tulisan bukan apa yang didengar. tentu dengan asumsi apa yang diucapkan sama persis dengan yang dituliskan. Yogya dan Jakarta. juga sekaligus merenda ingatan Koran-koran yang pernah memuat sebuah resensi buku. maka kelompok kami tetap mendapatkan peringkat satu. . Settingnya memang menggunakan tiga kota: Rembang. dan tibalah giliran kelompok saya. tak ada satupun yang maju. Jika seandainya Pak guru menilai atas apa yang kami lakukan bukan apa yang saya ucapkan pastilah kelompok kami akan mendapatkan peringkat pertama sebagai kelompok yang amburadul. Berhubung Pak Guru saat itu hanya menilai apa yang didengarkan. Kami sebagai siswa bertugas menyimak. namun tak sampai pada akhir masa jabatan karena terlebih dahulu dipanggil oleh yang maha Kuasa. maka kelompok kami memperoleh peringkat pertama. Karena meja membentuk deretan 4 kolom. daripada mengakui bahwa kami tak melakukan pekerjaan apapun. Waktu itu guru Bahasa Indonesia membacakan Mbah Danu dari Tiga Kota.Tiga Kota Ini sebuah kisah masa SMA. Entahlah sampai saat ini sepertinya pujian itu belum juga sepenuhnya tercapai. Dengan modal nekad dan sedikit corat coret pekan kemaren maka teramat nekad saya akhirnya yang maju. namun juga tak sepenuhnya tak sampai. Tentang Tiga Kota sendiri adalah hasil karya seorang sastrawan yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Satu persatu kelompok mempresentasikan hasil resensi. Aneh. Kisah belajar meresensi buku. Sebelumnya sudah ditentukan bahwa pembagian kelompok berdasarkan posisi deretan tempat duduk. bahkan bias menghidupi diri dengan tulisannya. lama kelamaan saya tak jujur. Pecan berikutnya giliran kami yang bicara di depan kelas. Bukan tulisan yang saya baca namun mulut ini ngelantur sendiri sambil merenda ingatan apa yang kemaren dibacakan oleh Pak Guru. Sebagai kelompok yang tak bias menyusun kalimat. Luar biasa nekadnya. Sebenarnya kisah yang memalukan. Dengan amat meyakinkan saya mula-mula benar-benar membaca. Masa yang sudah lewat puluhan tahun yang lalu. Plus segudang pujian bahwa yang barusan membacakan di kelak kemudian hari layak menjadi seorang penulis.

karena kakek juga tak berdaya untuk menolak perintah bupati. Pada bagian awal ketika diceritakan Nenek masih anak-anak. perempuan Jawa tetap nrimo (menerima) akan keadaan. ketertindasan. ke neraka pun terbawa). seperti berupa kesabaran. 26). Nduk. dan papan.Melalui cerpen ini diketemukan sikap laki-laki yang mengabaikan adanya perspektif gender.” “Mengapa semuda itu. kultur Jawa itu telah . Nduk?Suami itu yang mencari nafkah untuk makan dan pakaianmu.Tentu saja dalam pandangan feminisme.Melalui tokoh Nenek. Suami dianggap pencari nafkah untuk makan. Sikap feminism para perempuan pada zaman. 24). yakni: …“Kakek adalah laki-laki paling berbudi di seluruh dunia. bukan subjek yang memiliki kesetaraan yang sejajar dalam berdiri.Cucu merasa sikap neneknya demikian tak berdaya. kok tidak mau itu bagaimana.Perempuan hanya dianggap sebagai objek semata. Lebih dari itu sikap nenek juga menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap suaminya. Cerpen “Tayuban” karya Nugroho Notosusanto banyak menghidangkan sikap dan pandangan perempuan Jawa yang dilandasi aspek sosiokultur yang demikian melekat. dan kebahagiaan keluarga.Jiwa maupun raga seorang istri harus diberikan dengan ikhlas kepada suami.” “O!”(hlm. 27). Tragisnya. kesetiaan.Seorang suami harus kaulayani dengan setia di dunia dan di akhirat.” (hlm. Kalau tidak begitu dia akan lari kepada perempuan lain. Ketertindasan yang ditampilkan dalam cerpen“Tayuban” karya Nugroho Notosusanto bukanlah ketertindasan fisik. seperti pada bagian akhir cerpen itu.Sehingga suami harus dilayani secara total. Meskipun mengalami penderitaan batin. tokoh Nenek dipandang cukup sandang. nenek mulai dipingit pada umur 11 tahun. yakni: “Itu ya tidak baik. cenderung pada sikap-sikap yang introvert.Laki-laki demikian superior melalui tokoh Kanjeng Gusti dan Kakek. agar lebih memperhatikan suaminya sebagai suatu kewajiban istri terhadap suami. Secara fisik. untuk kebahagianmu.Sungguh tidak baik.Pandangan seperti ini menurut nenek merupakan wujud kesetiaan. pakaian. hal ini bertentangan. yang memang berbeda generasi. tetap pasrah dan sabar. bahkan menganggap kakek wajar. karena hak-hak feminis yang banyak dikorbankan.Pada zaman yang merupakan setting cerpen “Tayuban” karya Nugroho Notosusanto memiliki perspektif yang berbeda dengan zaman memasuki Abad ke-21. pangan.” “Ah! Saya tidak mau. sedangkan perempuan demikian inferior melalui tokoh Nenek. dan pemberi harapan. Sikap sabar dan pasrah akan penderitaan yang menimpa batin tokoh Nenek bisa ditemui di hampir seluruh bagian cerpen. 23-24). pandangan perempuan Jawa demikian melekat. Dialog antara nenek dengan cucunya menunjukkan hal tersebut. melainkan lebih pada ketertindasan rohaniah atau batin. kebahagiaan untuknya kalau ia ada di rumah. seluruh kehidupan perempuan pada cerpen itu telah diserahkan kepada suaminya. karena hak-hak perempuan tidak dihormati. penenang hati.Alasan nenek. Sebaliknya engkau harus menciptakan ketenteraman. akan tetapi secara mental ia telah ditindas melalui perilaku kultur Jawa para priyayi yang lebih mengagungkan derajat laki-laki dan perasaan ewuh-pakewuh terhadap perintah atasan (bupati). atau dalam budaya Jawa disebut sebagai suwarga nunut neraka katut (ke surga menurut. justru dianggap aneh oleh tokoh Cucu. Nek!” “Hla. paparan penderitaan itu sudah terlihat begini: “Seperti sudah kauketahui. Bahkan lebih dari itu tokoh Nenek memberikan nasehatkepada cucunya.”(hlm. meskipun harus meminum minuman keras dan bermain dengan perempuan penari di kamar yang telah disediakan. Nduk. Sikap heran cucu diperlihatkan seperti ini: …Cucu dengan mengamat-amati wajahnya yang tak tampak beremosi itu…(hlm. bahkan di hadapan nenek pula. karena nenek sudah kotor bulanan.Tayuban Sikap feminisme pada zaman tertentu seringkali memiliki perbedaan ekspresi . Sikap sabar dan pasrah terhadap penderitaan. Dari dialog itu kelihatan. seperti pada cerpen yang ditulis Nugroho. Nek?Bukankah nenek belum dewasa waktu itu?” “Sudah.

27). hidup dengan bebas di tengah-tengah dunia yang jauh lebih lebar daripada ruangan yang dibatasi empat dinding dan isinya cuma tempat tidur dan alat membatik…”(hlm. halus. …Dan kakek ngibing terus dengan terhuyung-huyung hampir jatuh dan dipeluk oleh perempuan itu. 25). “jangan pernah berkata begitu lagi!Nenek amat kasihan kepada kakek pada waktu pulang dari kabupaten itu. 24). datanglah ayah nenek mengatakan. Di tengah cerita ketertindasan. bahwa sebulan lagi nenek akan dikawinkan dengan seorang mantri polisi yang baru berumur 25 tahun.”Nenek meludah di paidon dengan tenang. Bukankah perkawinan itu pembebasan dari kurungan?Apalagi kawin dengan seorang mantri polisi yang masih muda pula!”(hlm.Ketertindasan batin seperti ini awalnya memang mengagetkan. seperti: “Pada waktu nenek berusia 16.“Kalau suami tidak kauhibur sendiri. Bahkan ia menganggap hal ini sebagai persoalan nasib semata bagi kaum perempuan. Bahkan menjadi penderitaan batin selama bertahun-tahun bagi tokoh Nenek. 26). termasuk tokoh Kakek. seperti pandangan berikut ini: Dan cucu bercerita betapa nakal suaminya.dirembesi kultur Barat yang secara sengaja memasukkan unsur “pesta” minuman keras dan bermain perempuan dalam pergelaran tari Tayuban di pendopo kabupaten. 23). cerpen “Tayuban” karya Nugroho Notosusanto ternyata juga mengetengahkan harapan dalam beberapa alurnya. ia sudah menyianyiakan istrinya. Sebagai inspektur polisi ia tidak hanya dinas siang tapi siang malam. putra seorang jaksa.Setiap laki-laki yang akan jadi suami gadis pingitan. Bagi tokoh Cucu yang berbeda generasi. tersembul juga adanya kegembiraan dan harapan seperti ini: “Tentu saja nenek sangat sedih akan dikawinkan dengan laki-laki yang belum pernah nenek lihat?” “Sedih? Aduh nduk. Dan setiba di rumah mukanya asam dan minta dimanjakan oleh istrinya. Pandangan yang berbeda justru dikemukakan Nenek. tampan. 26). sikap suaminya dianggap keterlaluan. tetapi sesuatu yang berlangsung terus-menerus kemudian berubah menjadi kebiasaan.” “Memang sudah nasib wanita. seperti pernyataan ini: …. “…. 24). lagi pula terkenal baik kelakuannya. Bukan main gembira nenek mendengar akan dikawinkan itu. tidak enak!”(hlm. “Nduk!” sahut nenek terkejut. . serta menganggap sebagai suatu kewajaran.Ia akan dipecat kalau berani menolak undangan Gusti Kanjeng. 27). kemudian dengan terhuyung-huyung masuk ke dalam gelanggang menghadapi joged yang sudah meringis-ringis menantikannya…(hlm. “Kakek berbuat demikian karena kewajiban. Pandangan hidup tokoh Nenek yang telah mengalami penderitaan batin selama berpuluh-puluh tahun pada akhirnya mengental pada sikap pasrah dan sabar. dia mencari hiburan kepada yang mau menghibur dia. dibayangkannya sebagai seorang Arjuna. juga bergelar “Raden”. Baru enam bulan mereka kawin. Perintah Gusti Kanjeng bagi bawahannya untuk berpesta menjadikan sikap ambigu para bawahannya. Meskipun penuh dengan penderitaan yang bercampur dengan kesabaran dan kepasrahan. Lihatlah deskripsi nenek berikut ini: Dengan hormat kakek meminum brandy sisa Gusti Kanjeng itu dengan sekali teguk sebagaimana layaknya seorang laki-laki sejati. Akhirnya kakek keluar dari gelanggang dan masuk ke dalam salah satu kamar dengan perempuan itu (hlm. “Tentu nenek amat membenci kakek sejati itu?” tanyanya pada akhirnya. sehingga Nenek pun akhirnya menganggap sesuatu yang wajar. menggairahkan hati…” “…Bukankah gadis pingitan itu akan jadi Raden Ayu.”(hlm. misalnya saja ia tak pernah mempunyai selir. 24).(hlm.”(hlm. engkau tak tahu apa arti dipingit bagi jiwa seorang gadis. lalu menjadi tradisi dan budaya. seolah-olah sang istri sehari-harian cuma nganggur saja di rumah (hlm. karena apa yang dialami cucunya belumlah seberapa dibandingkan apa yang dialami dirinya.