You are on page 1of 19

INDAHNYA BERBAGI

ILMU PENGETAHUAN
Selasa, 12 Maret 2013

SISTEM IMUN
1. Sistem Imun Non-spesiflk

Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai
mikroorganisme, karena sistem imun spesifik memerlukan waktu sebelum dapat memberikan responsnya. Sistem
tersebut disebut non-spesifik, karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.
Kornponen-kornponen sistem imun non-spesifik terdiri atas :
A. Pertahanan fisis dan mekanis.
B. Pertahanan biokimia.
C. Pertahanan humoral.
D. Pertahanan selular.
A. Pertahanan Fisis dan Mekanis
Kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, batuk, dan bersin dapat mencegah berbagai kuman patogen masuk ke dalam
tubuh. Kulit yang rusak misainya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh karena asap rokok akan
meningkatkan risiko infeksi.
B. Pertahanan Biokimia

Bahan yang disekresi mukosa salurannapas, kelenjar sebaseus kulit, kelenjar kulit, telinga, spermin dalam semen
merupakan bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Asam hidroklorik dalam cairan lambung, lisosim dalarfi
keringat, ludah, air mata, dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap kuman gram positif dengan jalan
menghancurkan dinding kuman tersebut. Air susu ibu mengandung pula laktoferitin dan asam neurominik yang
mempunyai sifat antibakterial terhadap E.coli dan stafilokok.
Lisozim yang dilepas makrofag dapat menghancurkan kuman gram negatif dengan bantuan kornpleen.
Laktoferitin dan transferin dalam serum dW#at mengikat zat besi yang dibutuhkan untuk kehidupan
kuman pseudomonas (Gambar 2).

C. Pertahanan Humoral

1. Komplemen

Kejadian-kejadian tersebut di atas adalah fungsi sistem imun nonspesifik. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus tersebut. C-Reactive'Protein (CRP) CRP dibentuk tubuh pada keadaan infeksi. 2. Proses fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis. Fagosit Meskipun berbagai set dalam tubuh dapat melakukan fagositosis. (Gambar 5) D. set utama yang berperan pada pertahanan nonspesifik adalah set mononuklear (monosit dan makrofag) serta set polimorfonuklear seperti neutrofil. Set NK dapat menghancurkan set yang mengandung virus atau set neopiasma. Perannya ialah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. interferon dapat pula mengaktifkan natural killer cel-sel NK untuk membunuh virus (Gambar 4) dan sel neoplasma. Di samping itu. Kedua golongan set tersebut berasal dari set hemopoietik yang sama. tetapi dapat pula terjadi atas pengaruh respons imun spesifik. Interferon Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus. 3. menangkap. Interferon mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik set NK . dan mencerna. 2. Natural Killer Cell (sel NK) Set NK adalah set limfosit tanpa ciri-ciri" set limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi.Kornplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi bakteri dan parasit dengan jalan opsonisasi (Gambar 3). Pertahanan Selular Fagosit/makrofag dan set NK berperan dalam sistem imun non-spesifik selular. Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman akan dapat mencegah timbuInya penyakit. Oleh karena itu disebut juga set non B non T atau set populasi ketiga atau null cell. 1. membunuh.

.

.

sistem imun spesifilk mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya.2. Sistem Imun Spesifik Berbeda dengan sistem imun nonspesifik. Bila set sistem tersebut terpajan ulang dengan benda asing yang sama. Oleh karena itu sistem tersebut disebut spesifik. Benda asing yang pertama timbul dalam badan yang segera dikenal sistem imun spesifik. akan mensensitasi sel-sel imun tersebut. . yang akhir akan dikenal lebih cepat dan dihancurkannya.

Istilah sel T inducer dipakai untuk menunjukkan aktivitas sel Th yang mengaktifkan subset sel T lainnya. Oleh karena komplemen turut diaktifkan. set T terdiri atas beberapa subset set yang mempunyai fungsi yang berlainan. sedang limfokin asal sel Th2 mengaktifkan sel B/sel plasma yang membentuk antibodi. tetapi pada umumnya terjalin kerja sama yang baik antara antibodi. B. Untuk memproduksi antibodi. Set tersebut juga berasal daril set asal yang sama seperti set B. Sel Th juga melepas limfokin. respons imun yang terjadi sering disertai dengan reaksi inflamasi. Berbeda dengan set B. Sel Th (T helper) Sel Th dibagi menjadi Th1 dan Th2. Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri.Sistem imun spesifilk dapat bekeria sendifi untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi badan. 2. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan di dalam serum. tetapi proliferasi dan diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus. Th2 menolong sel B dalam memproduksi antibodi. set tersebut akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi set plasma yang dapat membentuk antibodi. Set B tersebut berasal dari set asal multipoten. sel sasaran yang mengandung virus dan sel kanker. - Fungsi set T umumnya ialah : membantu set B dalam memproduksi antibodi mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus mengaktifkan makrofag dalam fagositosis mengontrol ambang dan kualitas sistem imun Sel T terdiri atas beberapa subset sel sebagai berikut : 1. 3. Menurut fungsinya. Sistern Imun Spesifilk Selular Yang berperan dalam sistem imun spesifilk selular adalah limfosit T atau set T. Sel Tc (cytotoxic) Sel Tc mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogpnik. Sel Ts (T supresor) Sel Ts menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. memerlukan rangsangan dari sel Thl. Dalam fungsinya. kebanyakan antigen (T dependent antigen) harus dikenal terlebih dahulu. limfokin asal Th1 mengaktifkan makrofag. virus dan netralisasi toksin. . A. sel Ts dapat dibagi menjadi sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel Ts non-spesifik. Pada unggas set asal tersebut berdiferensiasi menjadi set B di dalam alat yang disebut Bursa Fabricius yang letaknya dekat kloaka. Sistem Imun Spesifilk Humoral Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau set B. Sel Tdh atau Td (delayed hypersensitivity) Sel Tdh adalah sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat terjadinya reaksi lambat. 4. baik oleh sel T maupun sel B. Sel Th (Th1) berpengaruh atas sel Tc dalam mengenal sel yang terkena infeksi virus. fagosit dan antara set T-makrofag. komplemen. jaringan cangkok alogenik dan sel kanker. Bila set B dirangsang benda asing.

Dalam fungsinya.Sel Th dan Tc disebut juga sel T regulator sedang sel Tdh dan sel Tc disebut sel efektor. Sel K Sel K atau ADCC (Antibody Dependent Cell Cytotoxicity) adalah sel yang tergolong dalam sistem imun non-spesifilk tetapi dalam kerjanya memerlukan bantuan imunoglobulin (molekul dari sistem imun spesifik). ANTIGEN DAN ANTIBODI Antigen . 5. sel Tc memerlukan rangsangan dari sel Thl.

lgA lgA ditemukan dalam jumlah sedikit dalam serum. Selanjutnya opsonisasi dibantu reseptor untuk kornplemen pada permukaan fagosit. keringat. lgG mempunyai sifat opsonin yang efektif oleh karena monosit dan makrofag memiliki reseptor untulk fraksi Fc dari IgG yang dapat mempererat hubungan antara fagosit dengan sel sasaran. 1g3. lgG ditemukan juga dalam berbagai cairan lain antaranya cairan saraf sentral (CSF) dan juga urin.000 dan polisakarida mikrobial. airmata. Molekul-molekul tersebut diikat rantai Y pada fraksi Fc (Gambar 7). IgG mempunyai 4 subkelas yaitu Igl. IgM lgM mempunyai rumus bangun pentamer dan merupakan lg terbesar. Sernua molekul ]g mempunyai 4 poiipeptid dasar yang terdiri atas 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang identilk. tetapi kadarnya dalam cairan sekresi saluran napas. saluran kemih.Antigen atau imunogen adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan reaksi imun spesifik pada manusia dan hewan. Satu antigen dapat memiliki beberapa epitop. lgM dibentuk paling dahulu pada respons imun primer tetapi tidak berlangsung lama. Carrier sering digabung dengan hapten dalam usaha imunisasi. ludah dan kolostrum lebih tinggi sebagai 19A sekretori (s lgA). Antibodi Antibodi atau imunoglobulin (lg) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik. lg ditemukan terbanyak dalani fraksi globulin y meskipun ada beberapa yang ditemukan juga dalam fraksi globulin a dan 0. saluran cerna. dihubungkan satu dengan lainnya oleh ikatan disulfid (Gambar. Bila serum protein tersebut dipisahkan secara elektroforesis. . Bailk igA dalam serum maupun dalam sekret dapat menetralisasi toksin atau virus clan atau mencegah kontak antara toksin/virus dengan alat sasaran. meningkatkan pertahanan badan meialui opsonisasi dan reaksi inflamasi. B. IgG lgG merupakan komponen utama imunoglobulin serum. Kornponen antigen yang disebut determinan antigen atau epitop adalah bagian antigen yang dapat mengikat antibodi. 1g4 dapat clikat oleh sel mast dan basofil. Antigen poten alamiah terbanyak adalah protein besar dengan berat molekul lebih dari 40.6). 1g2. karena itu kadar lgM yang tinggi merupakan tanda adanya infeksi dini. C. Hapten adalah determinan antigen dengan berat molekul yang rendah dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar (carrier) dan dapat mengikat antibodi. A. dengan berat molekul 160. Hapten biasanya dikenal oleh sel B dan carrier oleh sel T. lgG dapat menembus plasenta dan masuk ke fetus clan berperan pada imunitas bayi sampai umur 6-9 bulan. Kadamya dalam serum yang sekitar 13 mg/mL merupakan 75% dari sernua lg. Kebanyakan sel B mempunyai lgM pada permukaannya sebagai reseptor antigen. clan 1g4. Sekretori lgA diproduksi lebih dulu dari pada IgA dalam serum clan tidak menembus plasenta. Albumin serum memiliki 6 epitop dan masing-masing dapat merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi dan terbentulk 6 jenis antibodi yang berlainan.000. lgG dapat mengaktifkan kornplemen.

dan virus sitomegalo. rubela. Kebanyakan antibodi alamiah seperti isoaglutinin. antibodi heterofil adalah lgM. toksoplasmosis. lgM juga merupakan antibodi yang dapat mengikat komplemen dengan kuat dan tidak menembus plasenta. golongan darah AB.Bayi yang baru dilahirkan hanya mempunyai lgM 10% dari kadar lgM dewasa oleh karena lgM tidak menembus plasenta. Kadar lgM anak mencapai kadar lgM dewasa pada usia satu tahun. memudahkan fagositosis dan merupakan aglutinator kuat terhadap butir antigen. lgM dapat mencegah gerakan mikroorganisme patogen. . Fetus umur 12 minggu sudah dapat membentuk lgM bila sel B-nya dirangsang oleh infeksi intrauterin seperti sifilis kongenital.

lgE mudah diikat mastosit. Selanjutnya lgD ditemukan bersama 1gM pada permukaan sel B sebagai reseptor antigen. IgE lgE ditemukan dalam serum dalam jumlah yang sangat sedikit. trikinosis. lgE pada alergi dikenal sebagai antibodi reagin. eosinofil. basofil. penyakit hidatid. IgD lgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah dalam darah. Kadar lgE serum yang tinggi ditemukan pada alergi. .D. E. lgD tidak mengikat komplemen. infeksi cacing. clan trombosit yang pada permukaannyg memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari lgE. Kecuali pada alergi. skistosomiasis. mempunyai aktivitas antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan auto-antigen seperti komponen nukieus. lgE dibentulk juga setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran napas dan cerna. lgE diduga juga berperan pada imunitas parasit. makrofag.

bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis ekstrinsik alergi) atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). berperan pada fase lambat dari reaksi tipe 1 yang sering timbul beberapa jam sesudah kontak dengan alergen. kinin. Antigen yang masuk tubuh akan ditangkap oleh tagosit. Sel yang akhir melepas sitokin yang merangsang sel B untuk membentuk lgE. Reaksi Tipe Ill Reaksi tipe Ill yang juga disebut reaksi kompleks imun terjadi akibat endapan kompleks antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah. . akan clikat oleh lgE tadi (spesifik) clan menimbulkan degranulasi sel mast. Istilah alergi yang pertama kah digunakan Von Pirquet pada tahun 1906 diartikan sebagai "reaksi pejamu yang berubah" bila terjadi kontak dengan bahan yang sama untuk kedua kali atau lebih. Antibodi tersebut dapat mensensitasi sel K sebagai efektor antibody dependent cell cytotoxicity (ADCC) atau mengaktifkan komplemen dan menimbulkan lisis. Di samping histamin. mediator lain seperti prostaglandin. Infeksi tersebut disertai antigen dalam jumiah yang berlebihan. Reaksi Tipe I Reaksi Tipe I yang disebut juga reaksi cepat. diprosesnya lalu dipresentasikan ke sel Th2. tetapi di dalam klinis dua atau lebih jenis reaksi tersebut sering tedadi bersamaan (Gambar 8 dan Tabel 1). Anemia hemolitik dapat ditimbulkan oieh obat seperti penisilin. Reaksi Tipe II Reaksi tipe II yang disebut juga reaksi sitotoksik terjadi oleh karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Reaksi ini dapat terjadi sendiri-sendiri. tetapi tidak disertai respons antibodi efektit. Sebagian kerusakan jaringan pada penyakit autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis juga ditimbulkan meIalui mekanisme reaksi tipe 11. Antibodi di sini biasanya jenis IgG. Reaksi tersebut oleh Gell dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi menurut kecepatannya dan mekanisme imun yang terjadi. Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten (malaria). rinitis.REAKSI HIPERSENSITIVITAS Hipersensitivitas adalah respons imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Pembentukan kompleks imun dalam pembuluh darah terlilhat pada gambar 10. Penyakit-penyakit yang timbul segera sesudah tubuh terpajan dengan alergen adalah asma bronkial. Kompleks tersebut mengaktifkan komplemen yang kemudian melepas berbagai mediator terutama macrophage chemotactic factor. lgE akan diikat terutama oleh sel mast melalui reseptor Fc Ouga oleh basofil dan eosinofil). Degranulasi tersebut mengeluarkan berbagai mediator antara lain histamin (Gambar 9) yang didapat dalam granul-granul sel clan menimbulkan gejala pada reaksi hipersensitivitas tipe 1. Sebab-sebab reaksi tipe Ill dan alat tubuh yang sering merupakan sasaran penyakit kompleks imun terlihat pada tabel 2. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut akan merusak jaringan sekitarnya. clan dermatitis atopik. Bila ada alergen yang sama masuk tubuh. urtikaria. Contoh reaksi tipe II adalah destruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi dan penyakit anemia hemolitik pada bayi yang baru dilahirkan dan dewasa. reaksi anafilaksis atau reaksi alergi dikenal sebagai reaksi yang segera timbul sesudah alergen masuk ke dalam tubuh. clan leukotrin (SRS-A) yang dihasilkan metabolisme asam arakidonat. dan sulfonamid.

3 timbul sesudah 20-72 jam. Hipersensifivitas Jones Mote (Reaksi JM) Reaksi M ditandai oleh adanya infiltrasi )eukosit basofil di bawah epidermis yang sering disebut hipersensitivitas basofil kulit yang dapat dicetuskan pada binatang percobaan. ukuran kompleks imun merupakan faktor penting. Kompleks imun yang ada dalam sirkulasi meskipun untuk jangka waktu lama. MAF (lihat gambar). Dalam hal ini tidak ada peran antibodi. Reaksi granulomata Hal-hal yang tercantum dalam butir 1. Hat tersebut biasanya ditimbulkan antigen yang larut. Akibat sensitasi tersebut sel Thl melepas Jimfokin antara lain MIF. Set Langerhans sebagai antigen presenting cell (APC). Kompleks yang larut yang terjadi bila antigen ditemukan jauh lebih banyak dari pada antibodi. limpa dan paru tanpa bantuan komplemen. Ada 4 jenis tipe IV sebagai berikut: 1 . Reaksi maksimal terjadi setelah 48 jam dan merupakan reaksi epidermal. timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpajan antigen.Antigen (Ag) dan antibodi (Ab) bersatu membentulk kompleks imun. Tipe tuberkulin 4. Reaksi Tipe IV Reaksi tipe IV yang juga disebut reaksi hipersensitivitas lambat. 1. Bila ada antigen menetap untuk jangka waktu lama. Gangguan fungsi fagosit diduga dapat merupakan sebab mengapa kompleks imun sulit dimusnahkan. enzim dan sebagainya) sehingga dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai mediaior (sitokin. Dalam proses tersebut. dan makrotag memegang peran pada reaksi di sini. Dermatitis Kontak Dermatitis kontak dikenal dalam klinik sebagai dermatitis yang timbul pada kulit tempat kontak dengan alergen. mudah dan cepat dimusnahkan dalam hati. sedang reaksi granulomata timbul beberapa minggu sesudah tubuh terpajan antigen. Tipe Tuberkulin . Permasalahan akan timbul bila kompleks imun menembus dinding pembuluh darah dan mengendap di jaringan. biasanya tidak berbahaya. 2. sulit untuk dimusnahkan dan oleh karena itu dapat febih lama ada dalam sirkulasi. Hipergensitivitas kontak 3.2. makrofag akan terus menerus diaktifkan dan membentuk jaringan granulomata. Reaksi Jones Mote 2. set Thl. Reaksi terjadi karena respons sel Thl yang sudah disensitisasi terhadap antigen tertentu. Mengapa Kornpleks Imun Menetap ? Dalam keadaan normal kompleks imun dimusnahkan oleh sel fagosit mononulklear terutama dalam hati. Selanjutnya kompleks imun mengaktifkan C yang melepas C31 dan C5a dan merangsang basofil dan trombosit melepas berbagai mediator antara lain histamin yang meningkatkan permeabilitas vaskular. 3. Pada umumnya kompleks yang besar.

4. Hat tersebut terjadi oleh karena adanya antigen yang persisten di dalam makrofag yang biasanya berupa mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan atau kompleks imun yang menetap misainya pada alveolitis alergik. Granulomata imunoiogis ditandai oleh inti yang terdiri atas set epiteloid dan makrofag. di bagian sentral dapat ditemulkan nekrosis dengan hilangnya struktur jaringan (Gambar 11). Kedua reaksi tersebut dapat terjadi akibat sensitasi terhadap antigen mikroorganisme yang sama misainya Utuberculosae dan M. Seteiah 48 jam.Reaksi tuberkulin adalah reaksi dermal yang berbeda dengan reaksi dermatitis kontak dan terjadi 20 jam setelah terpajan antigen. Granulomata terjadi pula pada hipersensitivitas terhadap zerkonium sarkoidosis dan rangsangan bahan non-antigenik seperti bedak (talcum). Di samping itu dapat ditemukan fibrosis (endapan serat kolagen) yang terjadi akibat proliferasi fibroblas dan peningkatan sintesis kolagen. Reaksi terdiri atas infiltrasi set mononuMear (50% adalah limfosit dan sisanya monosit). . Set tersebut mempunyai belberapa nulkleus yang tersebar di bagian perifer set dan oleh karena itu diduga set tersebut merupakan hasil diferensiasi terminal set monosit/makrofaq. Dalam hat ini makrofaq tidak dapat memusnahkan benda inorganik tersebut. Granulomata nonimunologis dapat dibedakan dad yang imunologis oleh karena yang pertama tidalk mengandung limfosit. Dalam reaksi granulomata ditemukan set epiteloid yang diduga berasal dari sel-sel makrofag. timbul infiltrasi limfosit dalam jumlah besar sekitar pembuluh darah yang merusak hubungan serat-serat kolagen kulit. Pada beberapa penyakit seperti tuberkulonis. Sifatsifat penting keempat jenis reaksi hipersensitivitas lambat terliliat pada tabel 3. reaksi tuberkulin dapat berianjut*menimbulkan kavitas atau granulomata. kadang-kadang ditemukan set raksasa yang dikelilingi oleh ikatan limfosit.lepra. Reaksi Granutomata Reaksi granulomata merupakan reaksi tipe IV yang dianggap paling penting oteh karena menimbulkan banyak efek patologis. Reaksi granulomata terjadi sebagai usaha badan untuk membatasi kehadiran antigen yang persisten dalam tubuh. Sel-sel raksasa yang memilki banyak nukleus disebut sel raksasa Langhans. sedangkan reaksi tuberkulin merupakan respons imun seluiar yang terbatas. Bila reaksi menetap.

.

.

.

.

.

13 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Mengenai Saya Muhammad Husaini Lihat profil lengkapku Arsip Blog  ▼ 2013 (11) o ▼ Maret (2)  TEORI PERKEMBANGAN ANAK MENURUT SULLIVAN  SISTEM IMUN o ► Februari (7) o ► Januari (2) Muhammad Husaini. Diberdayakan oleh Blogger. .Diposkan oleh Muhammad Husaini di 10. Template Travel.