You are on page 1of 172

BAGIAN ANGGARAN 015

LAPORAN KEUANGAN
KEMENTERIAN KEUANGAN
TAHUN ANGGARAN 2010
AUDITED

Jalan Wahidin Raya No 1 Jakarta Pusat

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

KATA PENGA NTAR

Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Perubahan Tahun Anggaran 2010, Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna
Anggaran/Barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan
Satuan Kerja yang dipimpinnya.
Kementerian Keuangan adalah salah satu Kementerian Negara/Lembaga yang berkewajiban
menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara dengan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Keuangan mengacu pada Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
Pusat serta Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor
PER-65/PB/2010 tentang Pedoman
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. Informasi yang disajikan di dalamnya
telah disusun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Sehubungan dengan Laporan Keuangan Tahun Anggaran (TA) 2010 ini, perlu kami
kemukakan hal-hal sebagai berikut:

1.

Laporan Realisasi Anggaran memberikan informasi tentang realisasi pendapatan dan belanja
Kementerian Keuangan. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah untuk periode yang berakhir
31 Desember 2010 adalah sebesar Rp723.531.430.596.043,00 atau 97,26 persen dari estimasi
pendapatan TA 2010 sebesar Rp743.914.748.104.240,00. Sementara itu, realisasi Belanja
Negara adalah sebesar Rp14.276.465.681.945,00 atau 92,75 persen dari pagu yang
dianggarkan dalam DIPA TA 2010 sebesar Rp15.391.864.198.000,00.

2.

Neraca menyajikan informasi tentang posisi aset, kewajiban, dan ekuitas Kementerian
Keuangan per 31 Desember 2010. Adapun nilai Aset Kementerian Keuangan per 31
Desember 2010 adalah sebesar Rp109.432.138.938.078,00 dan Kewajiban sebesar
Rp761.816.067.975,00, sehingga Ekuitas Dana (kekayaan bersih) Kementerian Keuangan per 31
Desember 2010 adalah sebesar Rp108.670.322.870.103,00.

3.

Catatan atas Laporan Keuangan dimaksudkan agar pengguna laporan keuangan dapat
memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang hal -hal yang disajikan dalam laporan
keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi uraian tentang kebijakan fiskal, kebijakan
akuntansi, dan penjelasan pos-pos laporan keuangan, daftar rinci atau uraian atas nilai pos
yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca.

4.

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 ini berstatus sebagai laporan keuangan yang
telah diperiksa oleh BPK-RI (Audited).

Kata Pengantar

Halaman i

.

nomor dan nomor halamannya. 8. nomor lampiran dan nomor halamannya. Daftar Isi Merupakan daftar yang memuat isi laporan beserta nomor halamannya. memuat informasi mengenai Kementerian Negara/Lembaga dan periode penyampaian laporan keuangan. Daftar Singkatan Merupakan daftar yang memuat singkatan-singkatan yang digunakan dalam laporan keuangan. 5. 9. memuat informasi mengenai Kementerian Negara/Lembaga dan periode penyampaian laporan keuangan. Daftar Lampiran Merupakan daftar lampiran yang terdapat dalam laporan keuangan. 3. Daftar Grafik Merupakan daftar grafik yang terdapat laporan keuangan. Pernyataan Tanggung Jawab Merupakan pernyataan tanggung jawab dari Pengguna Anggaran terhadap penggunaan anggaran pada lingkup Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya. Kata Pengantar Merupakan pengantar dari laporan keuangan yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang yang memberikan gambaran ringkas mengenai laporan keuangan yang disampaikan. 2. Daftar tersebut memuat nama tabel. 4. 7. 6. maka kami sampaikan sistematika penyajian laporan keuangan sebagai berikut: Sistematika penyajian Laporan Keuangan Kementerian Keuangan 1. Daftar Tabel Merupakan daftar tabel yang terdapat dalam laporan keuangan. Sampul Dalam Merupakan sampul dalam dari laporan keuangan. Pernyataan Tanggung Jawab ditandatangani oleh Menteri/Pimpinan Sistematika Penyajian Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Halaman iii . Sampul Luar Merupakan sampul luar dari laporan keuangan. nomor tabel dan nomor halamannya. Daftar tersebut memuat nama grafik. Daftar tersebut memuat nama lampiran.SISTEMATIKA PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN Dalam penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Keuangan serta untuk mempermudah penyajian laporan keuangan.

11. Sistematika Penyajian Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Halaman iv . Laporan yang disampaikan dapat dilihat pada lembar muka laporan keuangan. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran menyajikan pendapatan dan belanja selama tahun anggaran. untuk laporan keuangan periode semesteran. kewajiban. kewajiban. dan ekuitas per 31 Desember TA berjalan. 12. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas akuntansi dan/atau entitas pelaporan mengenai aset. dan ekuitas per 30 Juni TA berjalan. ekuitas dana per tanggal tertentu. Neraca Semester I menyajikan posisi aset. Untuk periode tahunan. Pernyataan tanggung jawab paling tidak memuat pernyataan sebagai berikut : • pernyataan bertanggungjawab terhadap penyusunan dan isi laporan keuangan yang disampaikan. 14. dengan membandingkan anggaran dan realisasi TAYL dengan tahun anggaran berjalan. laporan yang disampaikan adalah laporan Semester I. Untuk periode tahunan laporan yang disampaikan adalah laporan komparatif dengan membandingkan anggaran dan realisasi Tahun Anggaran Yang Lalu (TAYL) dengan tahun anggaran berjalan. yang masing-masing dibandingkan dengan anggarannya dalam satu periode. Pernyataan Telah Direviu Merupakan pernyataan dari aparat pengawasan intern kementerian negara/lembaga atas hasil reviu terhadap LKKL sebelum dipertanggungjawabkan oleh menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan. 13. Untuk Neraca Tahunan menyajikan posisi aset. Laporan Realisasi Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Laporan Realisasi Anggaran menyajikan informasi realisasi pendapatan dan belanja. • pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAP dan. Ringkasan Merupakan gambaran ringkas mengenai kondisi laporan keuangan yang dipertanggungjawabkan. 10. laporan yang disampaikan adalah laporan komparatif. Untuk laporan keuangan periode semesteran. • pernyataan laporan keuangan telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai.Lembaga setiap periode penyampaian laporan keuangan. kewajiban. neraca. laporan yang disampaikan adalah laporan Semester I. Laporan Realisasi Anggaran dihasilkan berdasarkan cetakan dari SAI. Memuat gambaran ringkas mengenai anggaran. Neraca dihasilkan melalui SAI. dan catatan atas laporan keuangan. Neraca disajikan secara komparatif dengan posisi keuangan pada TAYL. realisasi anggaran.

dan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga. daftar rinci. Berita Acara Rekonsiliasi Aset Tetap c. wajib. Laporan Keuangan Lembaga Non Struktural : Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) e. dan analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca. Lampiran lainnya sebagai pendukung Catatan a. Laporan Keuangan BLU: i) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) ii) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) d. Tindak Lanjut Atas Temuan BPK 17. Berita Acara Rekonsiliasi LRA b. CaLK merupakan unsur pokok.15. Laporan barang pengguna i) Laporan Barang Pengguna Tahunan -Laporan Barang Pengguna Tahunan Intrakomptabel -Laporan Barang Pengguna Tahunan Ekstrakomptabel -Laporan Barang Pengguna Tahunan Gabungan ii) Laporan Posisi BMN di Neraca c. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) mengungkapkan penjelasan. Laporan Barang Tegahan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai e. Laporan Rekening Pemerintah f. Laporan Barang Sitaan Direktorat Jenderal Pajak Sistematika Penyajian Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Halaman v . 16. Lampiran Laporan Keuangan a. Laporan-laporan pendukung sebagai lampiran i) LRA Pendapatan dan LRA Pengembalian Pendapatan ii) LRA Belanja dan LRA Pengembalian Belanja iii) Neraca Percobaan b. Laporan Barang Pengguna Barang Persediaan d.

3. Kebijakan Teknis Kementerian Keuangan A.4.2.2. Barang Sitaan Halaman i iii vi viii xi xii xv xvi xviii xix 1 3 4 5 5 5 8 17 19 26 26 26 61 68 68 69 127 142 142 142 143 144 144 Laporan-laporan Pendukung sesuai Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER.65 /PB/2010 • LRA Pendapatan dan LRA Pengembalian Pendapatan • LRA Belanja dan LRA Pengembalian Belanja • Neraca Percobaan Laporan Barang Pengguna • Laporan Barang Pengguna Tahunan • Laporan Posisi BMN di Neraca Daftar Isi– Halaman vi . Rekening Pemerintah D.1. Barang Tegahan D.2.1.1. Penjelasan Umum Neraca C. Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual D. Laporan Realisasi Anggaran ( LRAKT perbandingan 2010 dan 2009) III. Penjelasan Umum Laporan Realisasi Anggaran B. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran B.DAFTAR ISI Kata Pengantar Sistematika Penyajian Laporan Keuangan Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Indeks Catatan atas Laporan Keuangan Daftar Lampiran Daftar Singkatan Pernyataan Tanggung Jawab Pernyataan Telah Direviu I. Penjelasan atas Pos-pos Neraca C.4. Dasar Hukum A. Temuan dan Tindak Lanjut Temuan BPK D.3. Catatan Penting/Pengungkapan Lainnya D.3.3.2. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan A. Catatan atas Laporan Keuangan A.1. Penjelasan Per Pos Laporan Realisasi Anggaran B. Pengungkapan Penting Lainnya D. Catatan Penting Lainnya C. Kebijakan Akuntansi B. Neraca (NSAIKPT perbandingan 2010 dan 2009) IV.5. Penjelasan Umum A. Ringkasan II. Penjelasan Per Pos Neraca C.

Daftar Barang Sitaan Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai) Daftar Isi– Halaman vii .Lampiran-Lampiran Lain : 1. Laporan Barang Pengguna Barang Persediaan 8. Laporan Barang Tegahan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 9. Berita Acara Rekonsiliasi Aset Tetap 7. Laporan Keuangan BLU: i) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) ii) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) 2. Tindak Lanjut Atas Temuan BPK 5. Laporan Rekening Pemerintah 4. Laporan Keuangan Lembaga Non Struktural : Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) 3. Berita Acara Rekonsiliasi LRA 6.

viii .DAFTAR TABEL Halaman 17 19 26 Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Rekapitulasi Jumlah Satker menurut Eselon I Rekapitulasi Jumlah Satker menurut Eselon I Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja TA 2010 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 dan 2009 Realisasi Pendapatan Per Unit Eselon I TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Per Unit Eselon I TA 2010 dan 2009 Realisasi Pendapatan Per Jenis Penerimaan TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Per Jenis Penerimaan TA 2010 dan 2009 Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan TA 2010 Perbandingan Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 dan 2009 Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 Perbandingan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dan 2009 26 27 28 28 29 29 Realisasi Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 dan 2009 Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 dan 2009 Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 dan 2009 Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 Berdasarkan Satuan Kerja Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Unit Eselon I TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Unit Eselon I TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 dan TA 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Pegawai Per Eselon I TA 2010 Perbandingan Belanja Pegawai TA 2010 dan TA 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Barang TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Barang TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Barang Per Eselon I TA 2010 Perbandingan Belanja Barang Per Eselon I TA 2010 dan TA 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Modal TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2010 dan 2009 Realisasi Belanja Modal Per Eselon I TA 2010 Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2010 dan 2009 Realisasi Pembayaran Kewajiban Utang TA 2010 dan 2009 Komposisi Neraca Per 31 Desember 2010 dan 2009 Kas di Bendahara Pengeluaran Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Per 31 Desember 2010 42 43 43 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Tabel 25 Tabel 26 Tabel 27 Tabel 28 Tabel 29 Tabel 30 Tabel 31 Tabel 32 Tabel 33 Tabel 34 Tabel 35 Tabel 36 Tabel 37 Tabel 38 Tabel 39 Tabel 40 Tabel 41 Tabel 42 Tabel 43 Tabel 44 Tabel 45 Tabel 46 Tabel 47 Tabel 48 Tabel 50 30 30 33 34 37 38 38 40 40 41 44 44 45 47 48 48 49 49 50 51 52 53 54 54 55 55 56 57 57 58 59 60 60 61 68 69 70 Daftar Tabel-Halaman.

ix .Tabel 51 Tabel 52 Kas di Bendahara Penerimaan Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Penerimaan Per 31 Desember 2009 70 71 Tabel 53 Tabel 54 Tabel 55 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Penerimaan Per 31 Desember 2010 Kas Lainnya dan Setara Kas Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Penyetoran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Ke Kas Negara Per 31 Desember 2009 Pembayaran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Kepada Pihak Lain Per 31 Desember 2009 Penyetoran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Ke Kas Negara Per 31 Desember 2010 Pembayaran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Kepada Pihak Lain Per 31 Desember 2010 Kas pada Badan Layanan Umum Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Piutang Pajak Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang Per 31 Desember 2010 Rincian Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang Per 31 Desember 2010 Penyisihan Piutang Tak Tertagih Per 31 Desember 2010 Piutang PNBP Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Piutang Bukan Pajak di BPPK Per 31 Desember 2010 Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Uang Muka Belanja Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Piutang dari Kegiatan Operasional BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Piutang Kekurangan Jasa Giro Per 31 Desember 2010 Rincian Piutang Dari Kegiatan Non Operasional BLU Per 31 Desember 2010 Persediaan Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Persediaan Per Jenis Per 31 Desember 2010 Persediaan BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Investasi Jangka Panjang Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Perbandingan Komposisi Aset Tetap Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Rincian Mutasi Aset terkait Belanja Modal Per 31 Desember 2010 Perbandingan Saldo Awal Aset Tetap Neraca dan SIMAK BMN per 31 Desember 2009 Perbandingan Posisi Aset Tetap Neraca dan SIMAK BMN per 31 Desember 2010 Tanah Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Tanah Peralatan dan Mesin Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi / Perubahan Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Gedung dan Bangunan Jalan dan Jembatan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Jalan dan Jembatan Irigasi Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Irigasi Jaringan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Jaringan Aset Tetap Lainnya Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Lainnya 71 72 72 Tabel 56 Tabel 57 Tabel 58 Tabel 59 Tabel 60 Tabel 61 Tabel 62 Tabel 63 Tabel 64 Tabel 65 Tabel 66 Tabel 67 Tabel 68 Tabel 69 Tabel 70 Tabel 71 Tabel 72 Tabel 73 Tabel 74 Tabel 75 Tabel 76 Tabel 77 Tabel 78 Tabel 79 Tabel 80 Tabel 81 Tabel 82 Tabel 83 Tabel 84 Tabel 85 Tabel 86 Tabel 87 Tabel 88 Tabel 89 Tabel 90 Tabel 91 Tabel 92 Tabel 93 Tabel 94 Tabel 95 Tabel 96 73 73 73 74 75 76 76 79 79 80 81 85 86 86 87 87 88 88 89 89 90 90 92 94 95 96 98 99 100 101 102 103 103 104 104 105 105 106 106 107 107 Daftar Tabel-Halaman.

x . Irigasi. Irigasi. dan Jaringan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Jalan.Tabel 97 Tabel 98 Tabel 99 Tabel 100 Tabel 101 Tabel 102 Tabel 103 Tabel 104 Tabel 105 Tabel 106 Tabel 107 Tabel 108 Tabel 109 Tabel 110 Tabel 111 Tabel 112 Tabel 113 Tabel 114 Tabel 115 Tabel 116 Tabel 117 Tabel 118 Tabel 119 Tabel 120 Tabel 121 Tabel 122 Tabel 123 Tabel 124 Tabel 125 Tabel 126 Tabel 127 Tabel 128 Tabel 129 Tabel 130 Tabel 131 Tabel 132 Tabel 133 Tabel 134 Tabel 135 Konstruksi Dalam Pengerjaan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Konstruksi Dalam Pengerjaan Tanah BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Tanah BLU Peralatan dan Mesin BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Peralatan dan Mesin BLU Gedung dan Bangunan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Gedung dan Bangunan BLU Jalan. dan Jaringan BLU Aset Tetap Lainnya BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Lainnya BLU Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Komposisi Aset Lainnya Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 dan 2009 Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/TGR Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Aset Tak Berwujud Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tak Berwujud Aset Tak Berwujud BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Tak Berwujud BLU Aset Tak Berwujud BLU Per Jenis Aset Lain-lain Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Perbedaan Saldo Akhir Akun Aset Tetap Yang Tidak Digunakan Dalam Operasi Pemerintahan Pada Neraca SAK dengan Laporan Posisi BMN di Neraca Aset Lain-lain BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Mutasi/Perubahan Aset Lain-lain BLU STAN Rincian Dana Kelolaan BLU Rincian Kewajiban Jangka Pendek Per 31 Desember 2010 dan 2009 Utang Kepada Pihak Ketiga Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Utang Kepada Pihak Ketiga Per Akun Per 31 Desember 2010 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Per Akun Per 31 Desember 2010 Pendapatan Diterima di Muka Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Uang Muka Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Uang Muka dari KPPN Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Pendapatan Yang Ditangguhkan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rincian Ekuitas Dana Lancar Per 31 Desember 2010 dan 2009 Rekening Pemerintah Lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual Untuk Periode yang Berakhir 31 Desember 2010 108 108 108 109 109 110 110 110 111 111 111 112 112 112 113 114 115 115 116 116 116 117 117 118 119 119 120 120 121 121 122 122 123 123 124 124 125 142 143 Daftar Tabel-Halaman.

DAFTAR GRAFIK Grafik 1 Grafik 2 Grafik 3 Grafik 4 Grafik 5 Grafik 6 Grafik 7 Grafik 8 Grafik 9 Grafik 10 Grafik 11 Grafik 12 Grafik 13 Grafik 14 Grafik 15 Grafik 16 Grafik 17 Grafik 18 Grafik 19 Grafik 20 Grafik 21 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Komposisi Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Komposisi Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan TA 2010 Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 Komposisi Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 Perbandingan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dan 2009 Komposisi Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Kementerian Keuangan TA 2010 dan 2009 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 Komposisi Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 Komposisi Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 Komposisi Realisasi Belanja Barang TA 2010 Komposisi Realisasi Belanja Modal TA 2010 Komposisi Neraca Per 31 Desember 2010 dan 2009 Komposisi Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 Komposisi Aset Tetap Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 Perkembangan Aset Tetap per Jenis Aset Tetap Komposisi Aset Lainnya Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 Halaman 27 27 31 33 34 35 41 42 46 47 50 51 52 53 56 59 68 77 93 93 113 Daftar Grafik– Halaman. xi .

1.1.2 Belanja Kementerian Keuangan Menurut Unit Eselon I 48 Catatan B.2.2.1 Aset Lancar 69 Catatan C.2.1.1.2.2 Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 38 Catatan B.1 Pendapatan Negara dan Hibah 26 Catatan B.2.1 Penerimaan Perpajakan 29 Catatan B.2 Belanja Barang 55 Catatan B. Penjelasan Umum Laporan Realisasi Anggaran (Netto) Catatan B.2.2.2.2.2.2 Penjelasan Per Pos Neraca 69 Catatan C.2.1.2.2.2. Penjelasan atas pos-pos laporan realisasi anggaran Catatan B.1.2 Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) 43 Catatan B.1.2.1.2.1 Pendapatan PNBP Lainnya 42 Catatan B.4 Kas pada BLU 74 Catatan C.3 Belanja Modal 58 Catatan B.2.2.1.1.2.2.4.2.2.1.2.2.4.4.4 Belanja Kementerian Keuangan Menurut Jenis Belanja 50 Catatan B.2.1 Belanja Kementerian Keuangan Menurut Sumber Dana 47 Catatan B.2.1.4.1 Kas di Bendahara Pengeluaran 69 Catatan C.2. Penjelasan Per Pos Laporan Realisasi Anggaran (Bruto) Catatan B.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak 40 Catatan B.3 Kas Lainnya dan setara Kas 71 Catatan C.INDEKS CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Halaman LAPORAN REALISASI APBN Pendapatan Negara dan Hibah Catatan B.2.1.3 Catatan Penting Lainnya 61 NERACA ASET Aset Lancar Catatan C Penjelasan Atas Pos-Pos Neraca 68 Catatan C.1.2.2 Kas di Bendahara Penerimaan 70 Catatan C.B.1 Penjelasan Umum Neraca 68 Catatan C.2.1.2.1.2.2.1 Belanja Pegawai 52 Catatan B.3 Penerimaan Hibah 45 Belanja Negara Catatan B.2.2.2.1 Pendapatan Pajak Dalam Negeri 32 Catatan B.2.2.1.2.2 Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Per Jenis Penerimaan 28 Catatan .2.2 Belanja Negara 46 Catatan B.2.4 Pembayaran Kewajiban Utang 61 Catatan B.2.1 Penjelasan Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Per Unit Eselon I 28 Catatan B.5 Piutang Pajak 75 Indeks Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman xii .2.3 Belanja Kementerian Keuangan Menurut Fungsi 49 Catatan B.

2.2.2 Aset Tak Berwujud 114 Catatan C.7 Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 85 Catatan C.13 Aset Tetap Lainnya BLU 111 Catatan C.8 Uang muka belanja 86 Catatan C.1 Tanah 99 Catatan C.3 Aset Tak Berwujud BLU 115 Catatan C.6 Jaringan 106 Catatan C.2 Peralatan dan Mesin 101 Catatan C.4.2.4 Aset Lain-Lain 116 Catatan C.2.12 Jalan.2.10 Peralatan dan Mesin BLU 109 Catatan C.2.2.2.11 Persediaan 88 Catatan C.4.6 Piutang Bukan Pajak 81 Catatan C.2.3 Aset Tetap 92 Catatan C.2.3.3 Gedung dan Bangunan 102 Catatan C.1.10 Piutang dari kegiatan Non Operasional Badan Layanan Umum 87 Catatan C.5.14 Konstruksi dalam Pengerjaan BLU 112 Aset Lainnya Catatan C.3.2.4.9 Tanah BLU 108 Catatan C.2.2.1.2.1.2.3.2.3.2 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan 121 Indeks Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman xiii .4.3.Catatan C.1.2.2.2.3.3.1. Irigasi dan Jaringan BLU 111 Catatan C.7 Aset Tetap Lainnya 107 Catatan C.4 Jalan dan Jembatan 104 Catatan C.1.2.5 Aset Lain-Lain BLU 118 Catatan C.3.2 Investasi Jangka Panjang 90 Catatan C.2.1 Investasi BLU Pengelola Dana Investasi 90 Aset Tetap Catatan C.6 Dana Kelolaan BLU 119 KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Catatan C.3.4.11 Gedung dan Bangunan BLU 110 Catatan C.2.2.3.1 Utang kepada Pihak Ketiga 120 Catatan C.2.3.4 Aset Lainnya 113 Catatan C.3.2.2.2.2.2.3.4.2.5 Irigasi 105 Catatan C.12 Persediaan Badan Layanan Umum 89 Investasi Jangka Panjang Catatan C.2.2.2.1.1.5 Kewajiban Jangka Pendek 119 Catatan C.3.8 Konstruksi dalam Pengerjaan 108 Catatan C.5.9 Piutang dari kegiatan Operasional Badan Layanan Umum 87 Catatan C.2.2.2.2.1 Investasi Non Permanen BLU 90 Catatan C.1 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi 114 Catatan C.

2.2.7 Ekuitas Dana Lancar 125 Catatan C.5 Uang Muka dari KPPN 123 Catatan C.2.2.3 Informasi Pendapatan dan Belanja secara Akrual 143 Catatan D.2.4 Barang Tegahan 144 Catatan D.7.3 Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek 125 Catatan C.1 Temuan dan Tindak Lanjut Temuan BPK 142 Catatan D.6 Barang/Jasa yang harus diserahkan 126 Ekuitas Dana Investasi Catatan C.4 Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang 127 Catatan C.5.Catatan C.4 Uang Muka 123 Catatan C.2.2.1 Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang 126 Catatan C.4 Dana Lancar BLU 126 Catatan C.1 Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya 124 EKUITAS Ekuitas Dana Lancar Catatan C.2.5.5.6 Kewajiban Jangka Panjang 124 Catatan C.5 Barang/Jasa yang harus diterima 126 Catatan C.2.8 Ekuitas Dana Investasi 126 Catatan C.7.2.2 Cadangan Persediaan 125 Catatan C.7.2.5.7.2 Rekening Pemerintah 142 Catatan D.2.1 Cadangan Piutang 125 Catatan C.7.6 Pendapatan yang Ditangguhkan 124 Kewajiban Jangka Panjang Catatan C.6.8.8.2.3 Pendapatan Diterima Dimuka 122 Catatan C.5 Barang Sitaan 144 Indeks Catatan atas Laporan Keuangan – Halaman xiv .7.2 Diinvestasikan dalam Aset Tetap 126 Catatan C.2.2.2.3 Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 127 Catatan C.8.3 Catatan Penting Lainnya 127 Pengungkapan Penting Lainnya Catatan D Pengungkapan Penting Lainnya 142 Catatan D.2.2.8.

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 LRA Pendapatan dan LRA Pengembalian Pendapatan Lampiran 2 LRA Belanja dan LRA Pengembalian Belanja Lampiran 3 Berita Acara Rekonsiliasi LRA Lampiran 4 Berita Acara Rekonsiliasi Penerimaan Perpajakan DJP Lampiran 5 Pungutan Ekspor/Bea Keluar Lampiran 6 Informasi Pendapatan dan Belanja Akrual Lampiran 7 Neraca Percobaan Lampiran 8 Piutang Pajak DJP Lampiran 9 Berita Acara Rekonsiliasi Piutang Pajak DJP Lampiran 10 BAR Rekon SP3DRI antara DJP dengan DJBC Lampiran 11 Piutang Bukan Pajak Bapepam-LK Lampiran 12 Daftar Tagihan TGR Lampiran 13 Laporan Barang Pengguna Kementerian Keuangan Lampiran 14 Berita Acara Rekonsiliasi Aset Tetap Lampiran 15 Daftar Barang Sitaan Kementerian Keuangan Lampiran 16 Laporan Rekening Pemerintah Lampiran 17 Temuan dan Tindak Lanjut Atas Temuan BPK Lampiran 18 Peraturan Mengenai Kebijakan BAPEPAM-LK Lampiran 19 Laporan Keuangan BLU Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Lampiran 20 Laporan Keuangan BLU Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Lampiran 21 Laporan Keuangan Lembaga Non Struktural : Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) Daftar Lampiran Halaman. xv .

xvi .DAFTAR SINGKATAN APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN-P : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan BLU : Badan Layanan Umum BMDTP : Bea masuk Ditanggung Pemerintah BPK : Badan Pemeriksa Keuangan BUN : Bendahara Umum Negara DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran LRA : Laporan Realisasi Anggaran MA : Mata Anggaran Penerimaan / Pengeluaran MPN : Modul Penerimaan Negara PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak SIMAK-BMN : Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara SAI : Sistem Akuntansi Instansi SAK : Sistem Akuntansi Keuangan SAP : Standar Akuntansi Pemerintahan SKPA : Surat Kuasa Pengguna Anggaran UP : Uang Persediaan TA : Tahun Anggaran TAB : Tahun Anggaran Berjalan TAYL : Tahun Anggaran Yang Lalu TGR : Tuntutan Ganti Rugi TPA : Tagihan Penjualan Angsuran UP : Uang Persediaan TNP : Treasury Notional Pooling SETJEN : Sekretariat Jenderal ITJEN : Inspektorat Jenderal DJA : Direktorat Jenderal Anggaran Daftar Singkatan– Halaman.

DJP : Direktorat Jenderal Pajak DJBC : Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJPK : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan DJPU : Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang DJPB : Direktorat Jenderal Perbendaharaan DJKN : Direktorat Jenderal Kekayaan Negara BAPEPAM-LK : Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan BKF : Badan Kebijakan Fiskal Daftar Singkatan– Halaman.xvii .

.

.

RINGKASAN Berdasarkan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.321.66 persen dari estimasi yang ditetapkan. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah pada TA 2010 sebesar Rp723.656.954.296. Adapun realisasi Belanja Negara tanpa imbalan bunga pada TA 2010 adalah sebesar Rp12.845 621.10 persen dari anggarannya.292.487.691. 1.000.832 Anggaran 650.596.75 persen dari anggarannya.211.374.638.968.798 Penerimaan Perpajakan 2.240 Realisasi 708.978.104.778.194.000.084.104.00.641 0 0 0 0 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH TRANSAKSI NON KAS 2.782.845 1.748. Jumlah tersebut terdiri dari Penerimaan Pajak sebesar Rp722.614.02 persen dari anggarannya.137.000.939.000 620.656.000. Jumlah realisasi Belanja tersebut terdiri dari realisasi Belanja Rupiah Murni sebesar Rp14.778.104.639.00 atau mencapai 97.782. selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2010.325.000 14.165.299. dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).216.000 10.271.000. Belanja Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sebesar Rp139. menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL) yang meliputi Laporan Realisasi Anggaran.525. Laporan Keuangan Kementerian Keuangan ini telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (Audited) Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2010 Audited ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).135.832. Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Tahun Anggaran 2010 Audited ini disusun dari laporan keuangan seluruh satuan kerja yang berada di bawah Kementerian Keuangan dan disusun secara berjenjang.00 atau mencapai 84.00 atau 27.142.000 10.815. LAPORAN REALISASI ANGGARAN Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2010 dengan realisasinya.271.903.845 Realisasi 621.266.10 persen dari anggarannya.914.084.778.104. yang mencakup unsur-unsur pendapatan dan belanja.240.00 (termasuk didalamnya realisasi belanja imbalan bunga yang tidak tersedia pagu anggarannya dalam DIPA sebesar Rp1.00 atau 86.798 0 0 0 0 743.000.090.000 707.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) I.039.430. Realisasi Belanja Negara termasuk imbalan bunga pada TA 2010 sebesar Rp14.803.787.240 723.430.906.967.637 588.500.00) atau 95.983 649.454.500. Ringkasan Laporan Realisasi Anggaran TA 2010 dan 2009 dapat disajikan sebagai berikut: (Dalam Rupiah) TA 2010 TA 2009 Anggaran 741.299.17 persen dari anggarannya.255.05/2007.887.465.748.714.914.000.778.00 atau mencapai 167.20 persen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp987.977.778. dan Catatan atas Laporan Keuangan kepada Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal.00 atau mencapai 92.000 14.544.138.211 2.849.000.211 2.14 persen dari anggarannya. Jumlah realisasi Belanja tersebut terdiri dari realisasi Belanja Rupiah Murni sebesar Rp12.525.278 741.681.090. Belanja Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sebesar Rp139.727.159.945.702.849 683.043 652.135.000.914.044.023.000.240 987.842.043.596.000.076 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH KAS Penerimaan Perpajakan PNBP Hibah PNBP JUMLAH PENDAPATAN DAN HIBAH Ringkasan Halaman 1 .00 atau 27.26 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp743.803.531. Neraca.276.00 atau 97.823.748.817.294.324.000.377.531.469.817.

152.153.138.00 dan Ekuitas Dana Investasi sebesar Rp36.465.292.975 149.195.276.648.103.937.318 7.634.318 0 103.657 611.138. kewajiban.349.00 yang terdiri dari Ekuitas Dana Lancar sebesar Rp71. Sementara itu.779.322.975.339 7.775.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) BELANJA TRANSAKSI KAS Belanja Rupiah Murni 15.529.691) 3.878.455 36.067. Dalam CaLK ini diungkapkan pula kejadian penting setelah tanggal pelaporan keuangan serta informasi tambahan yang diperlukan.872.387.391.198. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan oleh dan dari KUN.142. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menguraikan dasar hukum. NERACA Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset.694.407.306.209.491 Belanja PHLN Jumlah Belanja 2.000 14.057.279.681.879 761.142. Selain itu.251. dan belanja diakui berdasarkan basis kas.879.108.870.670.803 555.975.556.00 yang terdiri dari Aset Lancar sebesar Rp72.509) 402.673. dan ekuitas dana pada tanggal pelaporan dan dibandingkan dengan tanggal pelaporan sebelumnya.00.369 513. Nilai Aset adalah sebesar Rp109.856.046.000 12. Ringkasan Neraca per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat disajikan sebagai berikut: Uraian Aset Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Aset Lainnya Kewajiban Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Ekuitas Dana Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Tanggal Neraca 31 Desember 2010 31 Desember 2009 (Dalam Rupiah) Nilai kenaikan/ (penurunan) 109.142. pendapatan.875.727.823.176.046 0 36.491 14.938.775.731.033.00 dan Kewajiban Jangka Panjang sebesar Rp149.023.465.846.000 14.723.000 12.816.137.000 139. yaitu pada saat kas diterima atau dikeluarkan oleh dan dari Kas Umum Negara (KUN).655 33.465.684 252.441.00.663 1.00 yang terdiri dari Kewajiban Jangka Pendek sebesar Rp611.000.432.875.374.076 72.383 (1.670.945 15.000 108. Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran.321.373.991.407.034.937.058.252.775.432. dan kebijakan akuntansi yang diterapkan.762.195.694.322. nilai Ekuitas Dana adalah sebesar Rp108.376.762.875.417.358.459.417.856.002 5.727.671.529.808.345 38.648 64.000 14.276.000 146.816.142 15.626.209.975 64.153 985. yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban.306.371.579.198.793.351.823.078 103.388 359.650.495.878.564. penyajian aset.023.568.000 12.998.938.152.708.078. Nilai Kewajiban adalah sebesar Rp761. CaLK menyajikan penjelasan pos-pos laporan keuangan dalam rangka pengungkapan yang memadai.991.808.251.174.846.268.00 dan Aset Lainnya sebesar Rp985.937. dan ekuitas dana di neraca diakui berdasarkan basis akrual.568.119.061.945 15.778.616.061.371.731.703.878.122 15.735.387.657 149.110 (2.142.793.067.00.037.296 4. Ringkasan Halaman 2 .455.677.903.701.296.710.655) 2. Sementara itu.872.992.00.587.063. Aset Tetap sebesar Rp36.103 359. metodologi penyusunan Laporan Keuangan.090.00.857 (3. kewajiban. Investasi Jangka Panjang sebesar Rp0.141.419 71.864.870.579.214.479.058.739.739.000 5.292.391.404.864.295.681.677.198.

LAPORAN REALISASI ANGGARAN (LRAKT PERBANDINGAN TA 2010 dan 2009) Halaman 3 .II.

.

.

.

III.NERACA (NSAIKPT PERBANDINGAN TA 2010 dan 2009) Halaman 3 .

.

6. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang telah dirubah terakhir kali dengan Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) IV. 38 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara yang menetapkan bahwa Laporan Keuangan (Audited) disusun berdasarkan Laporan Keuangan (Audited) yang telah dikoreksi atau disesuaikan menurut hasil pemeriksaan BPK. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Perubahan atas Undangundang nomor 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 7. PENJELASAN UMUM A. 2. 8. 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2005 tentang Pungutan Ekspor atas Barang Ekspor Tertentu. 9. 3. UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 5 . Pasal 30 ayat (1) menetapkan bahwa Presiden menyampaikan rancangan undangundang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 12 tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDITED Dasar Hukum A. 5. 11. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD). 4. Pasal 55 ayat (4) menetapkan bahwa Menteri/Pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang memberikan pernyataan bahwa Pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan .1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Perubahan atas UndangUndang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Nomor 47 Tahun 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010.

02/2005 tentang Tata cara pembayaran kembali PPN dan PPnBM atas perolehan BKP dan atau JKP yang digunakan oleh BU atau BUT dalam pengusahaan minyak dan gas bumi.766/KMK. Instruksi Presiden RI No. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. Kontrak Production Sharing dan Kegiatan Pertamina sendiri.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2005 tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor.05/2007 tentang Penertiban Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/ Kantor/Satuan Kerja.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor. 19. Keputusan Menteri Keuangan No. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 21. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.06/2006 Tentang Modul Penerimaan Negara.03/2008 tanggal 4 November 2008 tentang Mekanisme Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah dan Penghitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Hasil Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkitan Energi/Listrik. 49 Tahun 1991 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan. 12 tahun 1975 tentang Tata Cara Penyetoran Penerimaan Negara yang berasal dari pelaksanaan Kontrak Karya. dan PungutanPungutan Lainnya terhadap Pelaksanaan Kuasa dan Ijin Pengusahaan Sumberdaya Panas Bumi untuk Pembangkitan Energi/Listrik. 25. 15.02/2005 tentang Penetapan Tarif Pungutan Ekspor atas Batubara. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK. Pajak Penghasilan. 16. 26. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Pajak Pertambahan Nilai dan Pungutan-Pungutan Lainnya atas Hasil Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkitan Energi/Listrik. 17. 64/PMK. Penyetoran. 18. 27. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK. 20. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK. 23. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 165/PMK. dan Pelaporan Bagian Pemerintah. 22. Peraturan Menteri Keuangan No. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 58/PMK. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 6 .04/1992 tentang Tatacara Penghitungan. 24. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK. Pajak Pertambahan Nilai. 14.05/2007 tentang Pengelolaan Rekening Milik Kementerian Negara/Lembaga/ Kantor/Satuan Kerja .05/2007 tentang Bagan Akun Standar.

34. dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK. 30. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-40/PB/2006 Tentang Pedoman Akuntansi Persediaan.05/2009 tentang Mekanisme Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Atas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2009. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-48/PB/2006 Tentang SP3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK.03/2009 tentang Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah Atas Penghasilan Pekerja pada Kategori Usaha Tertentu. 33. 41. 44. 40. 37. 39. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-78/PB/2006 Tentang Penatausahaan Penerimaan Negara Melalui Modul Penerimaan Negara.09/2010 tentang Standar Reviu Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. 38. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 87/PMK. 120/KM. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-02/PB/2007 Tentang Pedoman Penatausahaan Dan Akuntansi Piutang Penerimaan Negara Bukan Pajak. 35. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 102/PMK. 45. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK. Penghapusan. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 7 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 41/PMK.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 28. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK. 43. 32.05/2009 tentang Sistem Akuntansi Hibah. Pemanfaatan. 36. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-07/PB/2005 Tentang Pemberian Kuasa Antar Kuasa Pengguna Anggaran.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum. 42. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-67/PB/2006 Tentang Tata Cara Pembukaan dan Pengesahan atas Realisasi Hibah Luar Negeri Pemerintah yang Dilaksanakan Secara Langsung. Peratutan Menteri Keuangan Nomor Penatausahaan Barang Milik Negara. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-38/PB/2006 Tentang Pedoman Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan.05/2007 tentang Kodefikasi Barang Milik Negara. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-69/PB/2006 Tentang Pedoman Koreksi Kesalahan Laporan Keuangan.05/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan. Penggunaan.05/2007 tentang 31. 29.05/2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi Barang Milik Negara Dalam Rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.

transparan. yang dimaksud dengan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara adalah Kementerian Keuangan sebagai lembaga/institusi yang mempunyai tugas menghimpun dan mengalokasikan keuangan negara dan kekayaan negara. Dari visi yang ditetapkan tersebut. hati-hati (prudent). Akuntabel adalah pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang mengacu pada praktik terbaik internasional yang berlandaskan asas profesionalitas. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-67/PB/2007 Tentang Tata Cara Pengintegrasian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum Ke Dalam Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga.2.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 46. 49. 50. 4. Rencana Strategis A. Visi Kementerian Keuangan Visi Kementerian Keuangan adalah Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara yang Dipercaya dan Akuntabel untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera. maka Kementerian Keuangan memiliki Misi: 1. Profesional. yaitu semua penerimaan negara. berkelanjutan. dan bertanggung jawab.2. efisien. Misi Kementerian Keuangan Untuk merealisasikan Visi yang telah ditetapkan. Misi Kekayaan Negara adalah Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal sesuai dengan asas fungsional.2. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-08/PB/2009 tentang Penambahan dan Perubahan BAS. proporsionalitas. Membangun dan Mengembangkan Organisasi Berlandaskan Administrasi Publik Sesuai dengan Tuntutan Masyarakat. Misi Penguatan Kelembagaan adalah: i.2. Misi Fiskal adalah mengembangkan kebijakan fiskal yang sehat. dan bertanggung jawab. Membangun dan Mengembangkan SDM yang Amanah. 3. dan keterbukaan. Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan adalah Mewujudkan industri pasar modal dan lembaga keuangan non-bank sebagai penggerak dan penguat perekonomian nasional yang tangguh dan berdaya saing global. Dipercaya adalah semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat karena pengelolaan keuangan dan kekayaan negara dilakukan secara transparan. Demokratis. dan Berkeadilan. 47. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-09/PB/2009 tentang Pelaksanaan Rekonsiliasi dan Pelaporan Realisasi Pendapatan Sektor Pajak pada Sistem Akuntansi Instansi Direktorat Jenderal Pajak.05/2010 tentang Pelaksanaan Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian/ Lembaga. kepastian hukum. ii.1. 48. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-65/PB. dan pembiayaan defisit anggaran dilakukan melalui mekanisme APBN. A. 2. belanja negara. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 8 . Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor: PER-62/PB/2009 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penyajian Informasi Pendapatan dan Belanja secara Akrual pada Laporan Keuangan. KEBIJAKAN TEKNIS KEMENTERIAN KEUANGAN A.

6. A. Tingkat pendapatan yang optimal Tingkat pendapatan yang optimal adalah tingkat pencapaian penerimaan dalam negeri yang sesuai dengan target sebagaimana tercantum dalam APBN atau APBN. Tujuan 5 : Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal serta menjadikan nilai kekayaan negara sebagai acuan dalam berbagai keperluan. Tingkat kepatuhan wajib pajak.Alokasi belanja negara yang tepat sasaran adalah alokasi anggaran yang dapat mencapai kinerja program dan kegiatan kementerian negara/lembaga yang telah ditetapkan dalam APBN. Sasaran Strategis a. Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi diukur berdasarkan hasil survey kepuasan stakeholder oleh lembaga independen. 2. Tujuan 3 : Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Belanja Negara Untuk Mendukung Penyelenggaraan Tugas K/L dan Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal. Tujuan Kementerian Keuangan Guna mengaktualisasikan visi dan misi tersebut. kepabeanan. 4.4. efisien dan akuntabel . Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dan citra yang meningkat yang didukung oleh tingkat pelayanan yang handal. A. maka Kementerian Keuangan menetapkan tujuan pencapaian organisasi sebagai berikut : 1. Sasaran Strategis dalam Tema Belanja Negara : 1.2. 3. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 9 .P.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Berintegritas Tinggi dan bertanggung jawab. Tujuan 2 : 3. Mewujudkan kapasitas pembiayaan yang mampu memberikan daya dukung bagi kesinambungan fiskal. Alokasi belanja negara yang tepat sasaran. tepat waktu. iii. Membangun dan Mengembangkan Teknologi Informasi Keuangan yang Modern dan Terintegrasi serta Sarana dan Prasarana Strategis Lainnya. Tujuan 6 : Membangun Otoritas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang Amanah dan Profesional. kepabeanan dan cukai. 5. Sasaran Strategis dalam Tema Pendapatan Negara adalah: 1. b. yang Mampu Mewujudkan Industri Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Sebagai Penggerak Perekonomian Nasional yang Tangguh dan Berdaya Saing Global. Tingkat kepatuhan wajib pajak. Tujuan 4 : Pengelolaan perbendaharaan negara yang profesional dan akuntabel serta mengedepankan kepuasan stakeholders atas kinerja perbendaharaan negara.2. kepabeanan. efektif.3. Tujuan 1 : Meningkatkan dan Mengamankan Pendapatan Negara dengan Mempertimbangkan Perkembangan Ekonomi dan Keadilan Masyarakat. Hasil survey yang positif akan meningkatkan citra Kementerian Keuangan di mata stakeholder. 2. dan cukai yang tinggi. dan cukai terhadap peraturan perundang-undangan yang pada akhirnya menunjukkan potensi pendapatan pajak.

dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintahan daerah. dan akuntabel dalam pelaksanaan belanja negara. Terpenuhinya pembiayaan APBN melalui utang secara tepat waktu. 3. dan tepat sasaran. tanggung jawab. kreditor. Alokasi belanja negara yang efisien adalah penuangan anggaran pada DIPA yang dapat digunakan untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan.Tata kelola yang transparan dan akuntabel adalah pengelolaan belanja Negara yang dilakukan secara terbuka sehingga proses pengelolaannya dapat diketahui oleh stakeholder dan dapat dipertanggungjawabkan. dengan mempertimbangkan biaya dan risiko untuk mendukung kesinambungan fiskal. 2. dan kewenangan yang dimiliki oleh pusat maupun daerah sesuai dengan norma dan standar yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. akuntabel. dan pelaku pasar lainnya) terhadap pengelolaan utang yang transparan. Perimbangan Keuangan adalah pelaksanaan kebijakan hubungan keuangan Pusat dan daerah yang dapat menjamin keseimbangan keuangan terkait dengan besarnya beban. akuntabel. .Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan transfer ke daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . Tata kelola yang yang tertib transparan. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 10 . kredibel. transparan.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) - Alokasi belanja negara yang tepat waktu adalah pengesahan DIPA yang dapat diselesaikan sesuai jadwal yang ditetapkan.Transparan adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat diakses oleh seluruh stakeholder.Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan belanja Negara sesuai dengan sistem dan prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. . . 2. Terciptanya kepercayaan para pemangku kepentingan (investor. Memenuhi target pembiayaan APBN melalui utang yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri. . Mengoptimalkan struktur jatuh tempo SBN dengan memperhatikan jenis. tepat jumlah. Sasaran Strategis dalam Tema Pembiayaan APBN adalah: 1. c. dan kredibel. Alokasi belanja negara yang akuntabel adalah alokasi belanja negara yang proporsional sesuai dengan prioritas rencana kerja pemerintah dan dapat dipertanggungjawabkan pelaksanaannya. Tersedianya informasi terkait pengelolaan utang kepada publik secara transparan dan akurat. dan terjaganya kredibilitas pengelolaan utang dengan melakukan pembayaran kewajiban secara tepat waktu. Peningkatan efektivitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintahan daerah.Akuntabel adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat dipertanggungjawabkan. 3. cukup. 4. Terciptanya struktur portofolio utang yang optimal. dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Pinjaman. dan efisien. Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan.

d. Salah satu kebijakan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah melalui penerapan akuntansi pemerintah modern sebagai dasar penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). dan pemanfaatan idle kas. Peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. serta kondisi pasar keuangan. Optimalisasi pengelolaan kas negara adalah dalam rangka mewujudkan efisiensi pengelolaan kas dengan mengedepankan prinsip ”meminimumkan biaya” dan ”memaksimalkan manfaat” bila terjadi kekurangan kas (cash mismatch) atau pemanfaatan kelebihan kas (idle cash). Sasaran Strategis dalam Tema Perbendaharaan Negara adalah: 1. Dana penerusan pinjaman tersebut harus dioptimalkan pengembalian dan penyetorannya kembali ke APBN sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Sampai dengan saat ini LKPP yang telah disusun masih berdasarkan basis Kas Menuju Akrual. Optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. Melalui penyempurnaan regulasi terkait dengan pengelolaan BLU. Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja keuangan pada satker BLU. sehingga selanjutnya akan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat. Optimalisasi pengelolaan kas negara meliputi dalam hal perencanaan kas. 4. peningkatan penilaian kinerja satker BLU serta pembinaan yang berkelanjutan. Salah satu bagian dari pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya adalah pengembalian penerusan pinjaman. Terciptanya pasar SBN yang dalam. yang dilaksanakan untuk menjamin ketersediaan kas dalam jumlah yang cukup. 3. Selanjutnya secara bertahap LKPP akan disusun berdasarkan akrual basis. Hal ini dikarenakan pengembalian dana tersebut mempunyai kontribusi dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri dan penerimaan defisit APBN. 2. sehingga diharapkan akan terwujud peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara serta peningkatan opini BPK (dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian) melalui LKPP yang lebih berkualitas. pengendalian kas. serta meningkatkan sebaran investor. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. diharapkan satker yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU akan dapat melaksanakan fungsinya secara lebih efektif dan efisien. 4. Efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. Optimalisasi pengelolaan kas.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) tingkat bunga. Mengembangkan pasar SBN dengan menyediakan alternatif instrumen SBN yang variatif. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 11 . Penyaluran belanja negara untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan secara akurat dan tepat waktu berarti pelaksanaan penyaluran belanja dilakukan sesuai dengan norma waktu yang ditetapkan. dan likuid. dan tenor. aktif. 5.

Sasaran Strategis dalam Tema Kekayaan Negara adalah: 1. Tercapainya peningkatan kualitas pelayanan pengelolaan kekayaan negara Pelayanan pengelolaan kekayaan Negara meliputi pelayanan permohonan penetapan status pemanfaatan. e. Terlaksananya penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel Penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel adalah tercatatnya seluruh kekayaan negara/BMN dalam daftar barang baik di kementerian dan lembaga sebagai pengguna dan di Kementerian Keuangan sebagai pengelola. Terwujudnya database nilai kekayaan negara yang kredibel Mendapatkan. tepat waktu. dan dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan bagi pimpinan Kementerian Keuangan. penggunaan. 5. penghapusan dan pemindahtanganan barang milik negara. Terciptanya sistem perbendaharaan negara yang modern. dapat diandalkan dan berstandar internasional Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 12 .Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 6. akurat. Untuk menciptakan sistem perbendaharaan negara yang modern. keadilan dan keterbukaan (fairness and transparency) 6. Terwujudnya industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang stabil. 2. Tersedianya infrastruktur pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang kredibel. Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. handal dan terpadu. Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional 2. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. Terwujudnya pemanfaatan BMN berdasarkan prinsip the highest and best use Pemanfaatan BMN adalah upaya penggunaan secara maksimal seluruh BMN untuk mendukung penyelenggaraan Tupoksi penyelenggaraan negara. 3. serta penghematan penggunaan anggaran dengan mengoptimalkan BMN idle yang ada di kementerian dan lembaga. f. Terlaksananya perencanaan kebutuhan barang milik negara yang optimal Mengkoordinasikan pemberian data dan informasi keberadaan asset idle kementerian dan lembaga dalam rangka perencanaan pengadaan belanja modal dari kementerian dan lembaga. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sarana investasi yang menarik dan kondusif dan sarana pengelolaan risiko yang handal 4. 4. mengumpulkan dan mengolah data kekayaan negara sehingga menjadi informasi eksekutif yang utuh. Sasaran Strategis dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank adalah: 1. resilience dan liquid 5. mulai tahun anggaran 2009 telah dilaksanakan proyek penyempurnaan sistem perbendaharaan dan anggaran negara yang dikenal dengan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). handal dan terpadu. efisien dan kompetitif 3.

Misi. Terwujudnya dan termanfaatkannya TIK yang terintegrasi. Terwujudnya good governance. Good Governance adalah terciptanya tata kelola pemerintahan dalam menerapkan prinsip Good Governance (Transparansi. Responsibilitas. Tujuan. Terwujudnya organisasi yang handal dan modern. A. dan Sasaran Strategis yang telah ditetapkan. Sistem rekrutmen yang kredibel dan pengembangan SDM yang tertata dan berkelanjutan diharapkan menghasilkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi dalam mengelola Keuangan Negara 2. Akuntabilitas.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) g. Sasaran Strategis Pembelajaran dan Pertumbuhan dalam menunjang pencapaian tujuan strategis 6 tema pokok adalah: 1. Program dan Kegiatan Kementerian Keuangan Berdasarkan Visi.SOP (Standar Operating Procedure) adalah standar yang dijadikan panduan bagaimana suatu kegiatan dilaksanakan sehingga akan memberikan kepastian mengenai apa yang harus dilaksanakan.Fungsi unit organisasi merupakan fungsi yang telah disusun berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan . 3.5. Responsiveness. SOP yang disusun harus memenuhi prinsip efisiensi. Efektifitas. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 13 . waktu penyelesaian. dengan mengacu kepada RPJM Nasional 2010–2014. Sasaran strategis ini terkait dengan product/service yang dihasilkan oleh Inspektorat Jenderal yang difokuskan pada hasil pengawasan yang dapat memberikan nilai tambah bagi kinerja Kementerian Keuangan melalui asistensi. Tercapainya akuntabilitas laporan keuangan. Sistem informasi/aplikasi yang ada di seluruh lingkungan Kementerian Keuangan diupayakan terintegrasi didukung dengan kualitas layanan infrastruktur yang prima 5.2. Terwujudnya SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi. Pengembangan organisasi dilakukan berdasarkan fungsi masing-masing unit organisasi dan SOP yang dimiliki . monitoring dan review penyusunan Laporan Keuangan pada unitunit di lingkungan Kementerian Keuangan dan Laporan Keuangan Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan. Kementerian Keuangan menetapkan 14 (empat belas) program. dan Efisien) 4. dan biaya (bila ada biaya).

333.000 180.882.040. terdapat 6 (enam) SS Kementerian Keuangan yang disusun untuk mewujudkan pendapatan nasional. 128 Program pengembangan komunikasi dan informasi dan hubungan antar lembaga Program pendidikan tinggi.93 97.074.085.38 97.000 88. 122 Program pembinaan akuntansi keuangan negara.656.298.845 85.35 15.26 34. 120 Program peningkatan penerimaan dan pengamanan keuangan negara.707.710 74.319.113.73 519.000 41.325.523.452. dan utilisasi kekayaan negara yang optimal. 113 117 601 Jumlah Capaian Kinerja ANGGARAN REALISASI % - 1.660. Keseluruhan IKU Kementerian Keuangan pada tahun 2010 untuk semua SS berjumlah 39 IKU. internal process perspective.255.00 11.000 56.010 77.000 83.75 Kementerian Keuangan telah menetapkan target kinerja yang akan dicapai dalam bentuk kontrak kinerja pada Tahun Anggaran 2010 antara Menteri Keuangan dengan Presiden.077.547 85.088.296. 121 Program peningkatan efektivitas pengeluaran negara.764.554 60. pertanggungjawaban yang transparan dan akuntabel.174. Peta strategi memudahkan Kementerian Keuangan untuk mengkomunikasikan keseluruhan strateginya kepada seluruh pejabat/pegawai dalam rangka pemahaman demi suksesnya pencapaian visi.745 76.295.704 61.56 1.273.000 386. pembiayaan yang aman bagi kesinambungan fiskal.000 10. misi.788. 126 Program pemantapan pelaksanaan sistem penganggaran.681. 124 Program stabilisasi ekonomi dan sektor keuangan.690.542.977 0.903.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) REALISASI DIPA PER PROGRAM KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN ANGGARAN 2010 KODE PROGRAM 102 Program Pembiayaan lain-lain 109 Program penerapan kepemerintahan yang baik 110 Program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.382. tahan uji dan likuid.211. Peta strategi Kementerian Keuangan memetakan setiap SS yang disusun dalam rangka pencapaian tujuan organisasi sesuai visi dan misi yang diemban.101.973.12 161.617.72 44. dan tujuan Kementerian Keuangan.634 94.000 74.000 765. dan learning and growth perspective.15 66.48 231.000 978. setiap SS dikelompokkan ke dalam empat perspektif.03 986. dan industri pasar modal dan jasa keuangan non bank yang stabil.87 10.796.269 94. Untuk setiap SS yang disusun dan ditetapkan memiliki ukuran yang disebut sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU).971.874.585.625.524. yaitu stakeholders perspective.690. Pengelolaan sumber daya manusia aparatur.910.945 92. 125 Program pengelolaan dan pembiayaan hutang.500.927. Dari perspektif customer Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 14 .276. Dengan menggunakan metodologi Balanced Scorecard. Peta strategi merupakan suatu dashboard (panel instrument) yang memetakan SS ke dalam suatu kerangka hubungan sebab akibat yang menggambarkan keseluruhan perjalanan strategi Kementerian Keuangan.706.385.086.644.159.501.171.864.776. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur negara.321.487.363 88.000 14. Pada kontrak kinerja tersebut terdapat peta strategi (strategy map) dengan 16 sasaran strategis (SS) yang ingin dicapai.000 9.000 98.198.655 84.848 78.084 92.08 103.903.591. Dari perspektif stakeholder. 123 Program pengembangan kelembagaan keuangan. customers perpective.465.136.474. pelaksanaan belanja.391.000 32.128.291.649.

Realisasi Penerimaan Pajak tidak mencapai target. • Penerimaan PPh Final tidak mencapai target diantaranya disebabkan tingkat suku bunga 2010 (6. pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang efektif dan efisien. • Penerimaan PPh Pasal 23 tidak mencapai target diantaranya disebabkan adanya penurunan tarif PPh Pasal 23 terutama terhadap sewa dan penggunaan harta. dan tingginya pertumbuhan restitusi jika dibandingkan dengan tahun 2009 Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 15 . • Penerimaan PPh Fiskal Luar Negeri tidak mencapai target diantaranya disebabkan bertambahnya jumlah kepemilikan NPWP dan berlakunya ketentuan bebas fiskal bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki NPWP. proses internal yang dimaksud terkait dengan kajian dan perumusan kebijakan yang berkualitas. menurunnya penerimaan PPh Pasal 22 dari pemungut. teknologi informasi dan komunikasi (TIK). pengelolaan dan pengembangan. Dalam hal ini. organisasi. • Penerimaan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi tidak mencapai target diantaranya disebabkan tidak adanya lagi penerimaan dari sunset policy di tahun 2009. dapat dijelaskan sebagai berikut : • Penerimaan PPh Pasal 21 tidak mencapai target.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) terdapat 2 (dua) SS Kementerian Keuangan yaitu Transparansi dan kredibilitas pengelolaan keuangan negara dan Tingkat Kepuasan Pelanggan yang tinggi. • Penerimaan PPN Dalam Negeri tidak mencapai target diantaranya disebabkan tidak tercapainya penyerapan anggaran tahun 2010.49T (100%) yang dicapai sebesar Rp649. Sedangkan dari perspektif learning and growth. serta monitoring dan evaluasi kepatuhan dan penegakan hukum yang efektif. serta menurunnya penerimaan PPh Pasal 23 dari deviden.75%). dari 39 IKU Depkeu-Wide terdapat 33 IKU berstatus hijau. Dari perspektif proses internal Kementerian Keuangan. 6 IKU berstatus kuning. dan tidak ada IKU berstatus merah. untuk mendukung pencapaian SS Kementerian Keuangan pada dua layer stakeholders perspective dan customers perspective tersebut diperlukan adanya tiga faktor penting berupa perumusan. diantaranya disebabkan tidak ada lagi kewajiban memasukkan SPT Tahunan.5%) relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat suku bunga 2009 (8. Adapun 3 IKU yang berstatus kuning tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.75% . serta pengawasan dan pengembangan hukum terhadap core business Kementerian Keuangan. sehingga tidak ada lagi penerimaan PPh Pasal 29 dari SPT Tahunan PPh Pasal 21.6. menurunnya penerimaan dari penyerahan rokok. Sampai dengan periode Triwulan IV Tahun 2010. terdapat empat faktor penting yang harus dikelola dengan baik guna menciptakan modal utama untuk mencapai tujuan organisasi yaitu faktor pengembangan sumber daya manusia.16%). dan pengelolaan anggaran. Persentase realisasi penerimaan pajak (Sub IKU dari IKU Jumlah Pendapatan Negara) Unit yang bertanggung jawab adalah Direktorat Jenderal Pajak dengan target sebesar Rp661.35T (98. • Penerimaan PPh Pasal 22 tidak mencapai target diantaranya disebabkan tidak tercapainya penyerapan anggaran tahun 2010. serta menurunnya penerimaan dari SKPKB PPh Pasal 22. peningkatan edukasi masyarakat dan pelaku ekonomi.

diantaranya disebabkan: • • • Efisiensi belanja. honorarium. seperti terlambatnya No Objection Letter (NOL) dari lender untuk kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri.321.78 Milyar. terutama dalam pelayanan ekspor impor.954.864. belanja perjalanan. Persentase penyerapan DIPA Unit yang bertugas adalah Sekretariat Jenderal dengan target 85.00.00 (termasuk didalamnya realisasi belanja imbalan bunga yang tidak tersedia pagu anggarannya dalam DIPA sebesar Rp1. Indeks kepuasan pelanggan tidak mencapai target.043. Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Dibandingkan dengan TA 2009.09 persen. Pendapatan PENDAPATAN KEMENTERIAN KEUANGAN Realisasi Pendapatan Kementerian Keuangan TA 2010 adalah sebesar Rp723.00 atau 84. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dengan target 3. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.531. langganan daya dan jasa.89%). fiskal. Indeks Kepuasan Pelanggan Unit yang bertangggung jawab adalah Sekretariat Jenderal.26 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN-P TA 2010 sebesar Rp743.748.00 atau 16.92 dan realisasi 3. Laporan capaian kinerja Kementerian Keuangan secara lengkap terlampir. Direktorat Jenderal Anggaran. Kendala internal. Sedangkan realisasi belanja tanpa imbalan bunga sebesar Rp12.00. keterlambatan dukungan dari instansi lain serta kesulitan memperoleh lahan sebesar Rp664. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.945. 2.” • Kebijakan baru yang belum dipahami sepenuhnya. jasa konsultan dan jasa profesi.17 persen dari anggarannya.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) • (26. lembur. serta belanja modal sehubungan dengan pengadaan melalui e-procurement sebesar Rp1.596.240.977.469.104.704.55 Milyar. operasional perkantoran.000. Target penyerapan DIPA tidak mencapai target.218.00) atau 92.391. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. diantaranya disebabkan masih adanya : • Kemampuan teknis SDM yang masih kurang di beberapa lokasi pelayanan • Sikap petugas layanan yang kurang “bersahabat. Realisasi belanja TA 2010 mengalami kenaikan Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 16 .465. seperti kurangnya panitia pengadaan barang dan jasa di daerah dan rencana kerja yang kurang baik sebesar Rp50. realisasi pendapatan TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp102. Kendala eksternal. seperti belanja transito. Belanja BELANJA KEMENTERIAN KEUANGAN Realisasi Belanja Kementerian Keuangan pada TA 2010 adalah sebesar Rp14.914.978.967. Penerimaan PPn Impor tidak mencapai target diantaranya disebabkan adanya tren penguatan nilai tukar rupiah. 3. dan perpajakan di beberapa satuan kerja.211.487.00 atau 97.264.276. dan • Ketidakpatuhan.681.198. Direktorat Jenderal Pajak.78 Milyar.816.968.00 persen dan realisasi 84.75 persen dari pagu belanja dalam DIPA sebesar Rp15.430.46 persen.87.

A.799.000 44.514.007. Laporan Keuangan Kementerian Keuangan disusun berdasarkan penggabungan data/laporan keuangan satuan kerja Kementerian Keuangan.003.531.371.00 atau 11. rincian anggaran satuan kerja BLU adalah sebagai berikut : Tahun Jumlah Jenis Sumber Dana Anggaran Satker APBN BLU 2009 2 60.00 meliputi: • • Satuan kerja pusat/KP Rp10.762. termasuk di dalamnya jenjang struktural di bawah Kementerian Keuangan seperti eselon I. serta satuan kerja yang bertanggung jawab atas otorisasi kredit anggaran yang diberikan kepadanya.093.086.000. Kementerian Keuangan TA 2010 ini memperoleh anggaran yang berasal dari APBN sebesar Rp15.3.666. Rincian satuan kerja tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 berikut. kantor wilayah.935. termasuk 1 satker termasuk 1 satker BLU BLU PIP sebesar STAN sebesar Dari total anggaran di atas.491. Dari jumlah tersebut terdapat 11 satker pada DJP yang tidak mengelola DIPA. Tabel 1 Rekapitulasi Jumlah Satker Menurut Eselon 1 Kode Eselon I 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Uraian Sekretariat Jenderal Inspektorat Jenderal Ditjen Anggaran Ditjen Pajak Ditjen Bea dan Cukai Ditjen Perimbangan Keuangan Ditjen Pengelolaan Utang Ditjen Perbendaharaan Ditjen Kekayaan Negara Bapepam-LK BPPK BKF Jumlah Keterangan: Catatan atas Laporan Keuangan KP Jumlah Jenis Kewenangan KD DK M TM M TM 22 559 11 134 - M 9 1 1 1 5 1 TM - 1 - - - - 3 1 1 1 1 26 - 208 87 19 1029 11 - Jumlah Satker M - TP TM - - - - 1 - - - 211 88 1 20 1 1066 31 1 1 571 139 1 Halaman 17 .875.932.406.806.00.701. Satuan kerja daerah/KD Rp5.198.384. sehingga tidak menyampaikan laporan keuangan. PENDEKATAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh entitas pelaporan Kementerian Keuangan.698.00.000 49.528.066 satker.864.454.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) sebesar Rp1.391.457.86 persen dari realisasi belanja TA 2009 sebesar Rp12.299.000 Jumlah satuan kerja lingkup Kementerian Keuangan adalah 1.973.000 2010 2 70.00.

3. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 18 .526. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan menyajikan informasi tentang pendekatan penyusunan laporan keuangan.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) M = Menyampaikan LK TM = Tidak menyampaikan LK Selain memperoleh dana dari DIPA BA 015 Kementerian Keuangan juga mengelola dana yang berasal dari BA 999. Dari jumlah tersebut terdapat 11 satker pada DJP yang tidak mengelola DIPA/Barang Milik Negara. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran disusun berdasarkan penggabungan Laporan Realisasi Anggaran seluruh entitas akuntansi yang berada di bawah Kementerian Keuangan Laporan Realisasi APBN terdiri dari Pendapatan Negara dan Hibah dan Belanja.066 satker.962.00. 2. Jumlah satuan kerja lingkup Kementerian Keuangan adalah 1. SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga (LKKL) yang terdiri dari: 1. penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca dalam rangka pengungkapan yang memadai. Laporan Keuangan dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI). yang terdiri dari Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN).07 (Belanja Subsidi) sebesar Rp158.478. Neraca Neraca disusun berdasarkan penggabungan neraca entitas akuntansi yang berada di bawah Kementerian Keuangan dan disusun melalui SAI.08 (Belanja Lain-lain) sebesar Rp56.098.252.000. Data BMN yang disajikan di neraca ini telah seluruhnya diproses melalui SIMAKBMN.00 dan dari BA 999.739. sehingga tidak menyampaikan laporan barang. Rincian satuan kerja tersebut dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.094.

dan ekuitas dana dalam Neraca diakui berdasarkan basis akrual. dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). kewajiban. Penyusunan dan penyajian LK TA 2009 telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan LK Kementerian Keuangan adalah : Pendapatan (1) Pendapatan Pendapatan adalah semua penerimaan KUN yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah pusat dan tidak perlu dibayar kembali oleh Pemerintah Pusat. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto. Dalam penyusunan LKKL telah diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan. KEBIJAKAN AKUNTANSI Laporan Realisasi Anggaran disusun menggunakan basis kas yaitu basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN) atau dikeluarkan dari KUN. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 19 .Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 2 Rekapitulasi Jumlah Satker Menurut Eselon 1 Kode Eselon I 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Uraian Sekretariat Jenderal Inspektorat Jenderal Ditjen Anggaran Ditjen Pajak Ditjen Bea dan Cukai Ditjen Perimbangan Keuangan Ditjen Pengelolaan Utang Ditjen Perbendaharaan Ditjen Kekayaan Negara Bapepam-LK BPPK BKF Jumlah KP Jumlah Jenis Kewenangan KD DK M TM M TM 22 559 11 134 - M 9 1 1 1 5 1 TM - 1 - - - - 3 1 1 1 1 26 - 208 87 19 1029 11 - Jumlah Satker M - TP TM - - - - 1 - - - 211 88 1 20 1 1066 31 1 1 571 139 1 Keterangan: M = Menyampaikan Laporan Barang TM = Tidak menyampaikan Laporan Barang Kebijakan Akuntansi A.4. Pendapatan disajikan sesuai dengan jenis pendapatan. Penyajian aset. yaitu dengan membukukan penerimaan bruto. yaitu pada saat diperolehnya hak atas aset dan timbulnya kewajiban tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan dari KUN. Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada KUN.

Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar. baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat. belanja disajikan menurut klasifikasi organisasi dan fungsi. dipakai. serta dapat diukur dalam satuan uang. Dalam pengertian aset ini tidak termasuk sumber daya alam seperti hutan. Piutang dinyatakan dalam neraca menurut nilai yang timbul berdasarkan hak yang telah dikeluarkan surat keputusan penagihannya. Aset Lancar a. sedangkan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sesuai dengan P-47/BC/2010 tentang Pedoman Penatausahaan Piutang di DJBC. Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari KUN. sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pegawai tersebut atau Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 20 . atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Aset lancar ini terdiri dari kas. Investasi. Aset Tetap. Aset Lancar Aset Lancar mencakup kas dan setara kas yang diharapkan segera untuk direalisasikan. Belanja disajikan di lembar muka (face) laporan keuangan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja. piutang. dan kandungan pertambangan. Aset (3) Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. dan Aset Lainnya. Berdasarkan Buletin Teknis 06 tentang Akuntansi Piutang menyatakan bahwa Tagihan Ganti Rugi merupakan piutang yang timbul karena pengenaan ganti kerugian negara/daerah kepada pegawai negeri bukan bendahara. adapun di Catatan atas Laporan Keuangan. Kas dalam bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca. Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal. Kebijakan penyisihan Piutang Pajak dan umur piutang pada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sesuai dengan PER-08/PJ/2009 tentang Pedoman Akuntansi Piutang Pajak. termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Belanja (2) Belanja Belanja adalah semua pengeluaran KUN yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah pusat. Surat Pemberitahuan Piutang Pajak Dalam Rangka Impor (SP3DRI) yang dikeluarkan oleh DJBC ke DJP merupakan dokumen hapus buku atas piutang pajak DJBC. Aset diakui pada saat diterima atau pada saat hak kepemilikan berpindah. kekayaan di dasar laut. pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). dan persediaan. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran.

Investasi jangka panjang dibagi menurut sifat penanaman investasinya. dividen dan royalti. Persediaan dicatat di neraca berdasarkan: . Investasi b.Nilai wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan. Investasi pemerintah diklasifikasikan kedalam investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. pemerintah daerah. Investasi non permanen sifatnya bukan penyertaan modal saham melainkan berupa pinjaman jangka panjang yang dimaksudkan untuk pembiayaan investasi perusahaan negara/ daerah. apabila diperoleh melalui pembelian. penyertaan modal dalam proyek pembangunan. investasi dalam bentuk dana bergulir. . atau manfaat sosial sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. ditujukan dalam rangka manajemen kas. dan investasi non permanen lainnya. dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. (i) Investasi Non Permanen Investasi non permanen adalah investasi jangka panjang yang tidak termasuk dalam investasi permanen dan dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan. . Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah.Harga pembelian terakhir. Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari setahun. dan beresiko rendah atau bebas dari perubahan atau pengurangan harga yang signifikan.  Seluruh dana pemerintah yang diberikan dalam bentuk Pinjaman Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 21 . Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca disajikan sebagai bagian lancar TPA/TGR.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) kelalaian dalam pelaksanaan tugas yang menjadi kewajibannya. yaitu non permanen dan permanen. Investasi Investasi adalah aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomik seperti bunga. Investasi jangka pendek adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki dalam kurun waktu setahun atau kurang. Investasi Non Permanen meliputi:  Seluruh dana pemerintah yang bersumber dari dana pinjaman luar negeri yang diteruspinjamkan melalui Subsidiary Loan Agreement (SLA) dan dana dalam negeri dalam bentuk Rekening Dana Investasi (RDI) dan Rekening Pembangunan Daerah (RPD) yang dipinjamkan kepada BUMN/BUMD dan Pemda. dan pihak ketiga lainnya.Harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri.

anggota koperasi. Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 22 . Aset Tetap Aset tetap mencakup seluruh aset yang dimanfaatkan oleh Pemerintah maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. lembaga internasional. (ii) Investasi Permanen Investasi Permanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan. Investasi permanen dimaksudkan untuk mendapatkan dividen atau menanamkan pengaruh yang signifikan dalam jangka panjang. pos investasi dalam mata uang asing dilaporkan dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca. nasabah Usaha Simpan Pinjam/Tempat Simpan Pinjam (USP/TSP) atau nasabah BPR. menggunakan metode biaya. Investasi dalam bentuk pinjaman jangka panjang kepada pihak ketiga dan non earning asset atau hanya sebagai bentuk partisipasi dalam suatu organisasi. yaitu: (a.000. Penilaian investasi jangka panjang diprioritaskan menggunakan metode ekuitas. nasabah Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP).Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)  Dana Bergulir kepada pengusaha kecil. seperti penyertaan pada lembaga-lembaga keuangan internasional. Aset Tetap c. yaitu kepemilikan modal bukan dalam bentuk saham pada perusahaan yang bukan perseroan. PMN dapat berupa surat berharga (saham) pada suatu perseroan terbatas dan non surat berharga. Pada setiap tanggal neraca. Investasi permanen meliputi seluruh Penyertaan Modal Negara (PMN) pada perusahaan negara. PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya yang kurang dari 51 persen (minoritas) disebut sebagai Non BUMN. Pengakuan aset tetap yang perolehannya sejak tanggal 1 Januari 2002 didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi. Dana pemerintah yang ditanamkan dalam bentuk surat berharga pada BUMN terjadi dalam rangka penyelamatan perekonomian. Investasi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs tengah BI pada tanggal transaksi.) Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin dan peralatan olah raga yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp300.) Pengeluaran untuk gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp10. Aset tetap dilaporkan pada neraca Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 berdasarkan harga perolehan. anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). dan badan usaha lainnya yang bukan milik negara. PMN pada badan usaha atau badan hukum lainnya yang sama dengan atau lebih dari 51 persen disebut sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Badan Hukum Milik Negara (BHMN). maka digunakan metode nilai bersih yang direalisasikan.000 (tiga ratus ribu rupiah). dan (b.000 (sepuluh juta rupiah). dan pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jika suatu investasi bisa dipastikan akan diperoleh kembali atau terdapat bukti bahwa investasi hendak dilepas.

Berdasarkan Buletin Teknis 09 tentang akuntansi aset tetap menyatakan bahwa pengakuan aset tetap renovasi yang telah selesai pada akhir periode pelaporan harus segera diserahterimakan kepada satker kuasa pengguna barang. Aset tetap yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2004 disajikan berdasarkan hasil penilaian Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Aset Lainnya d. Aset Tetap Renovasi yang belum selesai pada akhir periode pelaporan maka Aset Tetap Renovasi tersebut dieliminasi dari neraca dan Kementerian Keuangan selaku entitas pelaporan akan mencatat dan menambahkannya sebagai Kontruksi Dalam Pengerjaan Aset Tetap terkait. Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang jatuh tempo lebih dari satu tahun. dan dana moratorium Nias dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 23 . investasi jangka panjang.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) tersebut di atas. Apabila sampai dengan akhir periode pelaporan dokumen sumber penyerahan telah diterbitkan atau aset renovasi belum diserahkan. Kemitraan dengan Pihak Ketiga. dan aset tetap. jalan/irigasi/jaringan. maka aset tetap renovasi tersebut dieliminasi dari neraca dan Kementerian Keuangan selaku entitas pelaporan akan mencatat dan menambahkannya sebagai aset tetap terkait. diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah. Terhadap aset tetap per 31 Desember 2004 yang belum dilakukan penilaian disajikan dengan harga perolehan. Kemitraan dengan pihak ketiga merupakan perjanjian antara dua pihak atau lebih yang mempunyai komitmen untuk melaksanakan kegiatan yang dikendalikan bersama dengan menggunakan aset dan/atau hak usaha yang dimiliki. rekening dana reboisasi. TPA menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset pemerintah secara angsuran kepada pegawai pemerintah yang dinilai sebesar nilai nominal dari kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan setelah dikurangi dengan angsuran yang telah dibayar oleh pegawai ke kas negara atau daftar saldo tagihan penjualan angsuran. Dana yang Dibatasi Penggunaannya. Aset Tak Berwujud. TGR merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap bendahara/pegawai negeri bukan bendahara dengan tujuan untuk menuntut penggantian atas suatu kerugian yang diderita oleh negara sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari suatu perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh bendahara/pegawai tersebut atau kelalaian dalam pelaksanaan tugas kewajibannya. Dana yang Dibatasi Penggunaannya merupakan kas atau dana yang alokasinya hanya akan dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan tertentu seperti kas besi perwakilan RI di luar negeri. TPA dan TGR yang akan jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca disajikan sebagai aset lainnya. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah Tagihan Penjualan Angsuran (TPA). Aset Lainnya Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar. Dana Kelolaan BLU dan Aset Lain-lain. dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.

b. dan hak lainnya. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah. Kewajiban Jangka Panjang Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. a. Aliran ekonomi sesudahnya seperti transaksi pembayaran. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang-undangan. Tagihan TGR. Dana Kelolaan BLU adalah bagian dari dana yang disediakan pada PIP. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 24 . Aset lain-lain dapat berupa aset tetap pemerintah yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah. Kemitraan dengan Pihak Ketiga. Kewajiban (4) Kewajiban Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Aset Lain-lain merupakan aset lainnya yang tidak dapat dikategorikan ke dalam TPA. Di samping itu. yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung. Utang Bunga (accrued interest) dan Utang Jangka Pendek Lainnya. maupun Dana yang Dibatasi Penggunaannya. paten. diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. perubahan penilaian karena perubahan kurs mata uang asing. lisensi dan franchise. entitas pemerintahan lain. dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar. Aset Tak Berwujud meliputi software komputer. piutang macet Kementerian Keuangan yang dialihkan penagihannya kepada Kementerian Keuangan cq. Dalam konteks pemerintahan. atau lembaga internasional. hasil kajian/penelitian yang memberikan manfaat jangka panjang. Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK).Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Aset Tak Berwujud merupakan aset yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa atau digunakan untuk tujuan lainnya termasuk hak atas kekayaan intelektual. lembaga keuangan. goodwill. kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat. hak cipta (copyright). Kewajiban pemerintah diklasifikasikan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang. Kewajiban Jangka Pendek Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga. yang sampai dengan tanggal pelaporan belum direalisasikan sebagai pinjaman kepada pihak lain atau belum diinvestasikan. Ditjen Kekayaan Negara juga termasuk dalam kelompok Aset Lain-lain.

dan aset lainnya. dan merupakan akun lawan dari Dana Cadangan. dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. aset tetap. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 25 . Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ekuitas Dana Investasi dan Ekuitas Dana Cadangan. Ekuitas dana diklasifikasikan menjadi Ekuitas Dana Lancar. Ekuitas Dana Lancar merupakan selisih antara aset lancar dan kewajiban jangka pendek.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Ekuitas Dana (5) Ekuitas Dana Ekuitas dana merupakan kekayaan bersih pemerintah. Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam investasi jangka panjang. yaitu selisih antara aset dan utang pemerintah.

Pendapatan Negara dan Hibah Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Rp764.531.00 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah Kementerian Keuangan pada TA 2010 adalah sebesar Rp764.141.391.391.864.706.820.678 192.296.2.226.206.142 95.000 763.104.792.642.00 atau 97.299.778.464.829.70 743.544.271.00 atau 17.000.090.057.00 atau 102.104.1.590. Kenaikan ini berasal dari Penerimaan Perpajakan sebesar Rp111.2.465.00.945 92.531.596.240.544.748. Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 4 dan Grafik 1 berikut.849 167.276.73 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp743. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN (BRUTO) B.430.00 atau 92.296.758.00.531.198. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN B.000.803 27.00.02 139.162.325.237.748. Dibandingkan dengan TA 2009. 441.842.903.748.26 722.194 102.681.240 987.827.758.000 14.240.596.681.000.706.137.159.240 764. Tabel 4 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Estimasi Realisasi Bruto Pengembalian Realisasi Netto % 743.926.441 40.906.398 723.829.299.296.568.104.66 14.374.104.842.465.271.758.240 15.159.194 97.945.043 97.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) B.596.26 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp743.235.829.250.829 987.75 14. realisasi pendapatan TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp111.906. PENJELASAN UMUM LAPORAN REALISASI ANGGARAN (NETTO) Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah Kementerian Keuangan pada TA 2010 adalah sebesar Rp723.240 743.237.748.569 722.914.000 588.043.914.10 B.430.254.878.914.104.325.133.10 persen. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.75 persen dari pagu yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp15.000 513. Realisasi Belanja Negara Kementerian Keuangan pada TA 2010 adalah sebesar Rp14.430.043 102.237.531.00.849 167.899.441.20 987. Tabel 3 Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja TA 2010 (dalam rupiah) No Uraian 1 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah Penerimaan Perpajakan Penerimaan Negara Bukan Pajak 2 Realisasi Belanja Negara Belanja Rupiah Murni Belanja Pinjaman dan Hibah LN Anggaran Realisasi 743.68 588.763 40.864.1.276.73 halaman 26 .104.000 % 723.399.914.365.198.

237.000.794 19.820.678 Catatan atas Laporan Keuangan halaman 27 .441 652.036.135.430.959.216.534 16.464.792.340.906 763.134.226.250.642.682.427) (18.08 29.074 10.491.590.637.254 17.365.000 400.827 17.464.763 651. 987.105 (229.450.78 Penerimaan Negara Bukan Pajak 987.294.889.133.678 1.365.969.763 TA 2010 Penerimaan Negara Bukan Pajak.250.250.464 Penerimaan Negara Bukan Pajak Perbandingan realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 dan TA 2009 dapat dilihat pada Tabel 5.858.263.614 111.773.000.231.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 1 Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Estimasi (dalam jutaan rupiah) Realisasi 743.000 588.366 800.262.325.899. 763.080.477.000.720 52.000.435 101. Grafik 2 Komposisi Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 Penerimaan Perpajakan.531.231.398. Tabel 5 Perbandingan Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan Pendapatan Pajak Dalam Negeri Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Komposisi Realisasi Pendapatan TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 763.870.226.969 632.509 111.000 600.758.647.17 733.842 0 Penerimaan Perpajakan 987.10 Komposisi realisasi Pendapatan Negara dan Hibah TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 2 berikut.829.000 200.182.804.85) Jumlah 764.968.742.531.

981.728.022.233.344.550 546.506) (97.000.469.729 63.552.792.938.295 667.527.291.660.717.581 117. Penjelasan Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Per Unit Eselon I Realisasi pendapatan per unit eselon I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.946.377.874.849.403 53.920.827 17.861 76.460 (130.171.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) B.500.966.966.883.945 6.846.522.425 89.590.375.416 310.946 16.496.858.639.032.263.899.330.078.639.729 185.00 7 DJPU 0 30.601.02 5 DJBC 95.000 415.113.08 12 BKF 0 331.530.888.047 225.1.783 10.377 17.052.053.148.000 161.15) 4 DJP 667.277.277.047 331.000 74.748. Tabel 7 Perbandingan Realisasi Pendapatan Per Unit Eselon I TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) NO.218.752.647.233.253 112.923.135 12.440) (60.441 652.437.758.394.155.178. ESELON I TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 1 SETJEN 415.810.73 JUMLAH Perbandingan realisasi pendapatan per unit eselon I TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.975 16. Tabel 6 Realisasi Pendapatan Per Unit Eselon I TA 2010 (dalam rupiah) No.874.126 19.47 8 DJPB 6.00 8 DJPB 1. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Per Jenis Penerimaan Pendapatan Kementerian Keuangan terdiri dari (1) Penerimaan Perpajakan.888.004.104.46 10 BAPEPAM-LK 74.004.132.606.552.000 95.2.651.036.809.530.037 214.98 6 DJPK 0 366.2.933 119.975 335.291.135 0.530.178.004.754.231.648.753.74 764.639.530.829.810 37.113.504.237.351.950.364 100.689 140.345.011.351.920.553 (219.981.910) 2 ITJEN 161.389 92.237.30 12 BKF 331.98 1 SETJEN 2 ITJEN 3 DJA 0 133.755 85.469.240 764.854.688.008 179.01 10 BAPEPAM-LK 40.1.735 25.669.143.414.975 0.933 164.29) 9 DJKN 183.83 6 DJPK 366. dan (2) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).446 17.71 7 DJPU 30.197.530 63.77 11 BPPK 24.875.441.377 130.10 JUMLAH (23.238.829.1.441 102.000 183.415 (201.718.947. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 28 .614 111.550 175. Eselon I Estimasi Realisasi % 237.612.345.718.009 277.15 90.94) B.00 4 DJP 661.000.40 3 DJA 133.00 743.456 54.752.612.914.394.758.15 9 DJKN 111.008 76.425 0.037 0.364 575.000.43 11 BPPK 18.2.000 24.861 116.92 5 DJBC 82.567 6.665.

804.73 Perbandingan realisasi pendapatan per jenis penerimaan TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.590.365.365.135.2.870.794 130.894.820.475.231.250.226.477.829.365.531.678 1. Realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp111.373.240 987.240 764.08 Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 29.681.226.134.827 17.00.00 atau 17.773.250.674.237.000.464.758.450.250.829.036.889.820. Pendapatan Cukai sebesar Rp 9.365.742.398.225.781.294.133. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 29 .116.080.78 Penerimaan Negara Bukan Pajak 987.430. 763.853.00.758.637.906. Kenaikan Penerimaan Perpajakan terutama terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar Rp42.531.216.531.68 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp743.00.000.262.763 102.614 111.858. Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp42.561.074 10.105 (229.725.570.491.794 19.133.00 TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 763.682.678 167.441 652.642.263.231.380.000 29. Realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2010 adalah sebesar Rp763.254.17 persen dari realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2009.303. Realisasi Penerimaan Perpajakan per jenis penerimaan TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.00 atau 102.533.000 763.969.1.465.914.10 B.509 111.340.250.720 52.000 733.748.000.842.00.70 743.153. dan Pendapatan Bea Keluar sebesar Rp8.642.325.65 588.104.899.237. Penerimaan Perpajakan Penerimaan Perpajakan berasal dari Pajak Dalam Negeri dan Pajak Perdagangan Internasional.464. Tabel 9 Perbandingan Realisasi Pendapatan Per Jenis Penerimaan TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan Realisasi Penerimaan Perpajakan Rp763.450.647.441 102.1.427) (18.763. Tabel 8 Realisasi Pendapatan Per Jenis Penerimaan TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Estimasi Penerimaan Perpajakan Pendapatan Pajak Dalam Negeri Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Penerimaan Negara Bukan Pajak Jumlah Realisasi % 743.764.969 632.531.435 101.969 101.959.080.534 16.477.00.2.000.773.231.000.225.968.68 720.417.80 22.254 17.325.182.763 651.134.906.104.792.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Komposisi realisasi pendapatan TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.17 Pendapatan Pajak Dalam Negeri 733.85) Jumlah 764.

00 20.530.148.398 130.268.147.235.491.206.531.871.517.870.044.268.570.813.494.922.999.885.219.347.000.140.00 8.818.001 28.94 Pendapatan BPHTB 7.316.763 40.794 19.000 256.968.794 562.901 15.325.561.706.490.494.629.573.000 8.59 Pendapatan PBB 25.739.007.596.00 28.004.83 Pendapatan PBB Pendapatan Pajak Dalam Negeri 28.682.134.337.002.000.934.454.740 1.261.853.417 13.012.501 120.020.250.475.13 Pendapatan BPHTB 8.474.048.52 Pendapatan Cukai 59.143.890.834.906.450.227.966.133.856.470.763 651.65 Pendapatan Bea Masuk 17.841.796 101.560. Tabel 11 Perbandingan Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 763.969 632.209.000.036.22 Pendapatan PPN 262.08 Pendapatan PPh 370.205.182.227.465.509 111.596.497.153.303 19.624 42.319.681 1.165 24.000.927 214.180.227.651.925.231.140.205.802.00 8.016.898.20 Pendapatan Cukai 66.436.958.935.436 3.34 Pendapatan Pajak Lainnya Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Komposisi realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2010 per jenis penerimaan dapat dilihat pada Grafik 3 berikut.78 Pendapatan Bea Masuk 20.477.69 4.594.902.505 112.065.068.579.380.127.561 4.905 24.717.209.000.398.639.430.758.534 16.948 1.389.764.168.807 554.897 163.366.482.394.000 763.294.797 56.254 17.919.542.533.000.271.935.65 3.959.365.00 230.135.250.007.410.134.725 16.739.531.894.544.436 91.231.642.81 Pendapatan Pajak Dalam Negeri Pendapatan Pajak Lainnya Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Perbandingan realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2010 dan 2009 per Jenis Penerimaan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.000 66.340 18.368.584 27.497.036.271.000 20.534.225.194 102.914.720 52.396.235.223.165.744.155.430.106.625.807 36.962.639.569 722.905 6.074 10. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 30 .039 9.146 97.510.026.003 327.000.852 884.723.08 Pendapatan Bea Keluar 5.901 24.820.568.052.491.159.797 2.935.296 105.168.263.080.625.000.768.194.051.265.291.672.412.430.262.365.435 101.987 525.592 111.80 Pendapatan PPh 362.924.296.637.594.968.09 Pendapatan PPN 256.917.927 26.116.768.580.417.206.231.703.674.134 356.781.00 3.450.149.992.715.341.357.101.000 370.525.374.477.060.000.813.969 40.374.773.175.486.173 693.62 Pendapatan Bea Keluar 8.396 28.542.534.482.388 112.773.889.85 29.869 102.769.225.68 22.126 8.000 29.999 4.910.781.080.004.000.060.000 733.000 8.003 13.639.987 18.68 720.00 66.127.081.368.373.063.016.853.17 733.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 10 Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan Estimasi Realisasi Bruto Pengembalian Realisasi Netto % 743.271.051.072 9.586 42.081.329.

(ii) tendensi wajib pajak untuk membayar kewajiban pajaknya.969. kesederhanaan. PINTAR merupakan Project Assistance pada Direktorat Jenderal Pajak yang mempunyai jangka waktu pelaksanaan 48 bulan (1 Januari 2009 – 1 Januari 2016).870.00 atau naik 16. Direktorat Jenderal Pajak dalam TA 2009 merencanakan reformasi perpajakan tahap ke dua yang juga disebut sebagai PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform). Dalam upaya meningkatkan Penerimaan Perpajakan.080.00. Tercapainya prinsip-prinsip perpajakan yang sehat seperti persamaan.00.968.135. Estimasi Total Pendanaan PINTAR adalah sebesar USD 150 juta.134.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 3 Komposisi Realisasi Penerimaan Perpajakan Per Jenis Penerimaan TA 2010 Pendapatan Pajak Dalam Negeri 96.773.534.450.959.231.398.14% Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 3. Sebagaimana GFMRAP (Government Financial Management and Revenue Catatan atas Laporan Keuangan halaman 31 .08 persen dibanding realisasi TA 2009 yang besarnya Rp632.262.00 atau 52.435. yaitu UU No.637.86% Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 adalah sebesar Rp733.794. (iii) dan kondisi perekonomian yang didominasi sektor informal.78 persen. realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp10. Sedangkan Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 adalah sebesar Rp29. terdiri dari Pendanaan Luar Negeri dan Dalam Negeri.182. agar pelaksanaan sistem perpajakan dapat lebih efektif dan efisien.682. 6/1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.720. Dibandingkan dengan TA 2009. 28/2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. Pemerintah melaksanakan penyempurnaan administrasi perpajakan. Langkah-langkah yang diambil untuk memperbaiki administrasi perpajakan dalam mengatasi rendahnya rasio pajak dipengaruhi oleh (i) sistem perpajakan yang rumit dan kecenderungan terjadinya tumpang-tindih peraturan. dan keadilan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas fiskal dan merangsang perkembangan ekonomi makro yang lebih baik dengan menghapuskan hambatan berinvestasi.00 yang berarti mengalami kenaikan sebesar Rp101. Upaya nyata yang telah dilakukan adalah perubahan UU perpajakan.477.

080.103. b.637.284. Pemindahbukuan karena diperolehnya kejelasan Surat Setoran Pajak (SSP) yang semula diadministrasikan dalam Bermacam-macam Penerimaan Pajak (BPP).00 atau 101. 969.231. Pemindahbukuan karena salah mengisi Surat Setoran Pajak (SSP) baik menyangkut Wajib Pajak sendiri maupun Wajib Pajak lain.163.04/1991 tentang Tata Cara Pembayaran Pajak Melalui Pemindahbukuan. dengan kegiatan utama dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan. PINTAR merupakan GFMRAP Tahap II yang difokuskan pada administrasi perpajakan dan dilaksanakan pada Direktorat Jenderal Pajak.969. c. Pemindahbukuan (Pbk) Penerimaan Pajak Untuk memberikan kepastian hukum dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak yang menghendaki pembayaran pajaknya melalui perhitungan dengan kelebihan pembayaran pajak dan/atau bunga yang diterima dan/atau melalui perhitungan dengan setoran pajak yang lain.00 Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 adalah sebesar Rp733. Kementerian Keuangan mengatur tata cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan. Hal ini berarti Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp101. Pendapatan Pajak Dalam Negeri Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri Rp733./1994) masih dalam proses pembahasan.773. f.1.000.80 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp720.682.00 atau Catatan atas Laporan Keuangan halaman 32 . Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 88/KMK.1.2.000. Perubahan terhadap TUPRP (saat ini masih mengacu pada KEP .2. Pemindahbukuan karena adanya pelimpahan Pajak Penghasilan Pasal 22 dalam rangka impor atas dasar inden sebelum berlakunya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 539/KMK.262.080. Nilai tersebut merupakan pemindahbukuan yang disebabkan oleh perubahan Mata Anggaran Pendapatan (MAP) dan bukan merupakan pelunasan tunggakan pajak.533.773. d.00. B. Pemindahbukuan meliputi: a. Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud belum terakomodasi dalam nilai Penerimaan Perpajakan dalam Laporan Keuangan dikarenakan belum adanya Peraturan dalam Pedoman Induk Tata Usaha Penerimaan dan Restitusi Pajak (TUPRP) yang mengatur pemindahbukuan berdasarkan data MPN.764.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Administration Project) Tahap I yang dititikberatkan pada Public Financial Management.231.534.1.335.11/PJ. Pajak Pertambahan Nilai dan atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah untuk kegiatan usaha di bidang impor atas dasar inden.00.04/ 1990 tentang Pajak Penghasilan Pasal 22. Pemindahbukuan karena adanya pemecahan setoran pajak yang berasal dari Surat Setoran Pajak. Pemindahbukuan karena adanya kelebihan pembayaran pajak atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang berdasarkan Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak atau surat keputusan lainnya yang menyebabkan timbulnya kelebihan pembayaran pajak. Pemindahbukuan karena adanya pemberian bunga kepada Wajib Pajak akibat kelambatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. e. Pemindahbukuan yang terjadi selama TA 2010 adalah sebesar Rp2.

004.000.436 105.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) naik 16.000.533.001 28.000.051.962.525.168.594.764.000 0 256.000 256.051.94 Pendapatan BPHTB 7.639.231.227 8.999 4. Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 12 dan Grafik 4 berikut.374.927 97.060.59 Pendapatan PBB 25.000.494.060.000.000.000.148.036.003 102.271. Tabel 12 Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Estimasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri Realisasi % 720.000 100.922.080.594 28.22 Pendapatan PPN 262. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 33 .000 66.841.155.219.227.000.000 200.000.004 400.497 4.640 66.625.000.80 Pendapatan PPh 362.000 8.268.000 733.168.430.08 persen dari realisasi TA 2009.000 370.901 112.52 Pendapatan Cukai 59.534.268 Estimasi Realisasi Perbandingan realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 13 dan Grafik 5 berikut.000 300.000 50.925.000.000.596.773.000 250.000.992.625.000 150.596.271.497.265.000 350.319.969 101.209.020.905 112.797 111.68 Pendapatan Pajak Lainnya Grafik 4 Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 (dalam jutaan rupiah) 370.65 3.000.999.

417 13.000 50.417. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 34 .135.262.303 19.366.149.002.08 PPh 370.781.637.852 884.773.625.271.051.000 300.491.340 18.715.651.570.004.813.624 42.703.165 24.000 150.723.060.389.83 PBB 28.740 1.586 42.639.594.044.924.725 16.225.003 327.968.534.497 28.175.051.000.004 350.000 256.534 16.000.561 4.398.116.13 BPHTB 8.072 9.060.000.225.329.000.935.682.000.000 200.482.09 PPN 256.209.853.374.596.227.436 3.080.000.674.227 8.69 4.85 Pendapatan Pajak Lainnya Grafik 5 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 (dalam jutaan rupiah) 400.291.205.168.271.494.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 13 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 733.000 100.000.231.584 27.430.465.435 101.905 6.568.596.901 24.475.594 250.639.640 0 4.797 56.000 66.036.902.268.919.000.497.168.20 Cukai 66.271.268 TA 2010 TA 2009 Komposisi Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 6 berikut.625.490.969 632.000 370.206.927 214.

00 berdasarkan PMK Nomor 226/PMK. dan LPG Catatan atas Laporan Keuangan halaman 35 .526. PPh DTP atas penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan yang diterima atau diperoleh masyarakat yang terkena luapan lumpur Sidoarjo untuk Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp191.637. terdapat realisasi Pendapatan Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah dengan rincian sebagai berikut: 1.000. 3.627.00 dengan rincian sebagai berikut: a.962. Realisasi Pajak DTP TA 2010 sebesar Rp14.483.730. dan 4.011/2010. PPN DTP atas Subsidi Bahan Bakar Minyak.000.962. Bahan Bakar Nabati.135. 2.817. PPh DTP atas hasil pengusahaan sumber daya panas bumi untuk pembangkitan energi/listrik Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp624.000.011/2010.000.00. Pajak Penghasilan dengan anggaran sebesar Rp3.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 6 Komposisi Realisasi Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 BPHTB 1.526.000. PPh DTP atas bunga atau imbalan Surat Berharga Negara yang diterbitkan di pasar internasional sebesar Rp2. dari anggaran tersebut terdapat realisasi Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah dengan rincian sebagai berikut: 1.073.16% PBB 4.00 berdasarkan PMK Nomor 35/PMK.656.000.17% Pendapatan Pajak Lainnya 0.250.54% PPN 33.44% Kenaikan Pendapatan Pajak Dalam Negeri merupakan salah satu capaian positif dari upaya Direktorat Jenderal Pajak untuk selalu meningkatkan Penerimaan Perpajakan.863.521.656.154. Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp12.011/2010. Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) Berdasarkan Undang-Undang APBN Nomor 2 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010 terdapat anggaran untuk Pajak Ditanggung Pemerintah sebesar Rp17.00. b. PPh DTP atas Piutang Pajak eks BPPN dan TVRI sebesar Rp461.211.00 berdasarkan PMK Nomor 240/PMK.290.000.00 berdasarkan PMK Nomor 239/PMK.57% PPh 51. baik melalui penyempurnaan administrasi perpajakan maupun reformasi perpajakan.423.928.804.00.011/2010.12% Cukai 9.

Jika dibandingkan dengan TA 2009.061. PPN DTP atas transaksi Murabahah perbankan syariah sebesar Rp248.00 berdasarkan PMK Nomor 253/PMK. Pendapatan Pajak Dalam Negeri mengalami kenaikan.527.00. 4.457.011/2010.00 berdasarkan PMK Nomor 221/PMK.726. dan e.05 persen dibandingkan TA 2009.011/2010.50 persen yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan dari sektor jasa.414. Pendapatan Bea Masuk ditanggung Pemerintah atas Hibah (SPM Nihil) sebesar Rp2. c. meningkatnya impor TA 2010 senilai US$ 135.619.591. PPN DTP atas Piutang Pajak tertentu eks BPPN. 5. meningkatnya pembayaran dividen kepada WP Luar Negeri sehingga menyebabkan PPh Pasal 26 mengalami pertumbuhan positif sebesar 25. dari anggaran tersebut terdapat realisasi Bea Masuk Ditanggung Pemerintah dengan rincian sebagai berikut: 1.101.00 berdasarkan PMK Nomor 251/PMK.443. PPN DTP atas impor barang untuk kegiatan usaha eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan eksplorasi panas bumi Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp1.555.479. Kenaikan Pendapatan PPN disebabkan oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah masing-masing sebesar 56. Sedangkan kenaikan Pendapatan PPh disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: a.000.00 atau 37. dan PT KAI sebesar Rp1.091. c.00 berdasarkan PMK Nomor 25/PMK.696. peningkatan pembayaran masa di tahun 2010 seiring dengan tidak diwajibkannya lagi SPT Tahunan PPh Pasal 21. LPG Tabung Tiga Kilogram.977. TVRI.880.800.000. b.902.000. 3.227.637.82 persen dan kenaikan Pendapatan PPh sebesar Rp3.1 persen pada tahun 2010.011/2010. PPN DTP atas penyerahan minyak goreng kemasan sederhana di dalam negeri untuk Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp4.788.02/2010. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 36 .00 berdasarkan PMK Nomor 24/PMK.897.61 miliar atau meningkat sebesar 40. Bea Masuk sebesar Rp2.000. d.00. PPN DTP atas penyerahan minyak goreng di dalam negeri dan atas impor dan/atau penyerahan gandum dan tepung gandum/terigu untuk realisasi yang melebihi APBN pada Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp851.917.194. 7.000.716.545.913. 6. Pendapatan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM-DTP) sebesar Rp257.028.140.902. naiknya harga minyak dunia pada tahun 2010 sehingga menyebabkan naiknya PPh Pasal 22 Final Penebusan Migas.95 persen.011/2010. pertumbuhan sektor pengangkutan sebesar 13.00 berdasarkan PMK Nomor 215/PMK. dan Marketing Fee PT Pertamina Persero pada tahun-tahun sebelumnya dan tahun berjalan sebesar Rp1.702.488.00 berdasarkan PMK Nomor 252/PMK/03/2010.00.632.000.961.70 persen dan 9.292. PPN DTP atas Pembayaran Kekurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak.466. diantaranya disebabkan oleh kenaikan Pendapatan PPN sebesar Rp5.011/2010.15 persen.00 atau 26.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 2. Tabung Tiga Kilogram Bersubsidi Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp5. 2.000.

517 13.143.085 11.101.475 26.657.900.502.579. Perkembangan pendapatan cukai juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan jumlah produksi barang kena cukai serta tarif dan Harga Jual Eceran (HJE) produk Hasil Tembakau.740.00.464. Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 14 berikut.977 11.470.286 74.184.00 atau 16.00 Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Dalam Negeri TA 2010 adalah sebesar Rp40.781 20. Cukai Hasil Etil Alkohol (EA) dan Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA).848.482.346 3.306 5.1 73.347. Tabel 14 Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Pendapatan Pajak Dalam Negeri TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 40.279.478.235.446.46 PPh 13.95 PPN 26.827.194.396 3.168. juga dilakukan penegakan hukum terhadap pemakai jasa yang melanggar aturan. Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Dalam Negeri Rp40. Faktor lain yang juga mempengaruhi kinerja pendapatan cukai adalah upaya peningkatan efektivitas pemungutan cukai.758.871.573.654 30.261. atau pita yang tidak sesuai peruntukannya.797.519 9. Untuk mengeliminasi penyimpangan tersebut.890.890.913.412.134 9.886 31.530.205 1.432 83.012.101.023.285.82 PBB 15.446.254 52.40 BPHTB 24.830.919 1.436.585.00 juga mengalami kenaikan sebesar Rp9.788 37. Pendapatan Cukai pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terdiri atas Pendapatan Cukai yang terdiri dari Cukai Hasil Tembakau. disamping dilakukan perubahan peraturan.143.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Realisasi Pendapatan Cukai TA 2010 sebesar Rp66.371.702.725.494.563.07 Cukai 2.140.419 348.194.640. Pendapatan Cukai hingga saat ini masih merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang penting.638.845. dan melaksanakan operasi pemberantasan pita cukai ilegal.696.143.890.012.102.173.619.173 30.857.040.699. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau yang mulai berlaku 1 Januari 2010 dan adanya kenaikan tarif cukai etil alkohol serta tarif cukai MMEA yang berlaku mulai 1 April 2010. Dalam upaya meningkatkan target penerimaan dari sektor cukai ditemukan kendala diantaranya dalam bentuk penyimpangan seperti pita cukai palsu.74 Pendapatan Pajak Lainnya Catatan atas Laporan Keuangan halaman 37 . Disamping itu juga karena adanya extra effort dari DJBC dalam pemberantasan peredaran rokok dengan pita cukai palsu atau tanpa pita cukai serta upaya peningkatan efektivitas pemungutan cukai.443.403.012.953.705.140 59.529.772. Dalam tiga tahun terakhir ini pendapatan cukai mengalami peningkatan.69 persen dari realisasi TA 2009.47 91.

126 8.1.000 20.000.807.935.294.802.935.081.007.720 52.65% atau dari Rp11.134.127.935.78 Pendapatan Bea Masuk 20.234 juta sehingga mengalami peningkatan sebesar 58.081.450.127. Kenaikan Pendapatan Bea Masuk pada TA 2010 tersebut disebabkan oleh meningkatnya kegiatan impor karena mulai pulihnya kondisi perekonomian dalam negeri yang ditunjukkan dengan menguatnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya transaksi impor-ekspor. Besarnya realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional dapat dilihat pada Tabel 15 berikut.853.987.106.373.373.368.2.000.542. Hal ini berarti Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp10.477.000 8.368.000.454.739. Pendapatan tersebut terdiri dari Pendapatan Bea Masuk Rp20.717.134. Hal ini berarti Pendapatan Bea Masuk TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp1.477.000.368.00 atau 120. Ketiga variabel tersebut Catatan atas Laporan Keuangan halaman 38 .00 atau 9.813.182.34 Realisasi Pendapatan Bea Masuk selama TA 2010 tercatat sebesar Rp20.497.007.987 120.4 50.794 130.065.83 pada TA 2010.81 persen dari target yang ditetapkan.00 Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 adalah sebesar Rp29.717.477.380.474.08 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp17.65 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp22.62 Pendapatan Bea Keluar 8.794.08 Pendapatan Bea Keluar 5.542.000.016.057.00 atau 52.065.182.081.153.450.477.542.542.08 persen dari target yang ditetapkan dan Pendapatan Bea Keluar sebesar Rp8.20 pada TA 2009 menjadi Rp9.720.491.681 1.134.127.65 Pendapatan Bea Masuk 17.62 persen dari realisasi TA 2009.2.2.987. Tarif Efektif Rata-rata dan Nilai Tukar Rupiah atau Kurs.561.510.000 29.007.263.00.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) B. Tabel 15 Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Estimasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Realisasi % 22.894.807 554.450.948 1.039.000. Nilai Dutiable Impor selama TA 2010 sebesar USD 52. Tabel 16 Perbandingan Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 29.00.794 19.987 18. Demikian pula nilai kurs rupiah rata-rata menguat 16.074 10.807 163.802.215.127.959.81 Perbandingan realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 16 berikut.560.813.134.039 9.959.106.561.00 atau 120.410. Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Realisasi Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Rp29. Pendapatan Bea Masuk ditentukan oleh beberapa variabel antara lain: Nilai Devisa Bayar.78 persen dari realisasi TA 2009.00 atau 130.574 juta sedangkan pada TA 2009 sebesar USD 33.870.081.000.794.870.19%.00 atau 163.1.

454.61/ton dan pada Triwulan II sebesar $ 825. Kesepakatan seperti : ASEAN Free Trade Area ( AFTA). maka mulai tahun 2009 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bertanggung jawab atas pemungutan Bea Keluar. sebagai pengganti Pungutan Ekspor yang selama ini merupakan penerimaan Direktorat Jenderal Anggaran.153.935.000. yang berdampak negatif terhadap tingkat penerimaan Bea Masuk.807. Dengan demikian. melindungi kelestarian sumber daya alam. IJEPA dengan Jepang dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA ).00.00 atau 1.000. Variabel lain yang mempengaruhi Pendapatan Bea Masuk adalah Nilai tukar Rupiah/kurs terhadap US$.894. Sebagian besar realisasi Bea Masuk Ditanggung Pemerintah terjadi pada akhir tahun 2010. Dasar pengenaan Bea Keluar adalah amanat dalam perubahan undang-undang tersebut.750/ton. Terjadinya penurunan Tarif Efektif rata-rata dan nilai tukar Rupiah akan sangat berpengaruh terhadap tingkat Pendapatan Bea Masuk Untuk Bea Masuk di Tanggung Pemerintah (BM DTP) terdapat estimasi sebesar Rp2. Demikian pula Harga Pungutan Ekspor (HPE) meningkat pada Triwulan I sebesar $708/ton dan pada Triwulan II sebesar $753.380. Tujuan pengenaan Bea Keluar sebagaimana dimaksud Undang–Undang Nomor 17 Tahun 2006 antara lain adalah: untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. namun disisi lain dapat mempengaruhi tingkat importasi. Semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Di samping itu terhitung mulai April 2010 atas ekspor biji kakao terkena bea keluar dengan tarif 10% dan harga pungutan ekspornya di atas $ 2. Faktor nilai tukar rupiah akan berpengaruh terhadap Pendapatan Bea Masuk. serta berbagai fasilitas perdagangan dan industri yang diberikan pemerintah dalam rangka mendorong peningkatan daya saing.00 yang merupakan transaksi non kas dan tidak dicantumkan dalam Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Bea dan Cukai.000. mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional atau menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri.681.21/ton.67/ton sehingga tarif Bea Keluar yang digunakan lebih tinggi. dimana nilai tukar rupiah yang tinggi cenderung meningkatkan Bea Masuk.368.34 persen dari realisasi TA 2009.000. Peningkatan ini disebabkan karena tarif bea keluar pada Triwulan I naik sebesar 3% dan pada Triwulan II naik 4.000. yang menyatakan bahwa terhadap barang ekspor dapat dikenakan Bea Keluar.81 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp5.5%. pengenaan Bea Keluar terhadap beberapa komiditi ekspor tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara tetapi ada tujuan lain sebagaimana disebutkan di Catatan atas Laporan Keuangan halaman 39 . diharapkan meningkatkan Devisa Bayar yang akan berdampak positif bagi peningkatan Pendapatan Bea Masuk. yang menjadi salah satu variabel Nilai Dasar Perhitungan Bea Masuk (NDPBM).560. Kenaikan tersebut dipicu oleh harga referensi komoditi CPO mengalami peningkatan pada Triwulan I sebesar $782.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) berbanding lurus terhadap peningkatan nilai Pendapatan Bea Masuk. dimana Indonesia terikat perjanjian dengan negara-negara lain di bidang liberalisasi perdagangan.510. yaitu antara lain: adanya komitmen perdagangan internasional. Realisasi Pendapatan Bea Keluar selama TA 2010 tercatat sebesar Rp8. Hal ini berarti Pendapatan Bea Keluar TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp8. Namun demikian terdapat faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan dampak penurunan terhadap penerimaan. berdampak pada penurunan tarif.007. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.000. Bea Keluar menjadi penerimaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.00 atau 163.

122.316.1.064.464.926. Tabel 17 Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 562.223.235.885.842.226. Penerimaan Negara dalam Rangka Ekspor.953 (81.950. 00 Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 adalah sebesar Rp562.422. 00 Penerimaan Negara Bukan Pajak berasal dari (i) Pendapatan PNBP Lainnya. kulit.619.829 987.396 608.742. Tabel 18 Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Estimasi Realisasi Bruto Pengembalian Realisasi Netto % Pendapatan PNBP Lainnya 332.467.464.235.926.58 Pendapatan BLU 256.316.226.205.2.753.958.37) Pendapatan Bea Keluar 36.223.271.467) (13.43 B.396.00. Saat ini komoditi ekspor yang dikenakan Bea Keluar adalah ekspor komoditi CPO dan turunannya.007.904.235.000 426.54 588.717. dialihkan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mulai TA 2009. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.464.678 192.678.337. Selanjutnya.340. Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 17 berikut.991. dan Penerimaan Negara yang Berasal dari Pengenaan Denda Administrasi atas Pengangkutan Barang Tertentu.00 atau 14.240.379 168.910 1. dan biji kakao.602 35.00 426.00 atau 18. 100/PMK.220.208 192.357. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) TA 2010 adalah sebesar Rp987.04/2008 tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara dalam Rangka Impor.159) (7. 213/PMK. rotan.00. pengelolaan Pendapatan Bea Keluar dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.316.70 Jumlah Apabila dibandingkan dengan TA 2009. Besarnya realisasi PNBP TA 2010 dapat dilihat dalam Tabel 18 berikut.00 atau 23.867.00 atau 167.470 166.104.308 2.54 persen. Penerimaan Negara atas Barang Kena Cukai. dan (ii) Pendapatan Badan Layanan Umum.223. Realisasi Pengembalian Pendapatan Pajak Perdagangan Internasionai Rp562.204.486 606. PNBP TA 2010 mengalami penurunan sebesar Rp229.140. terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009.55) Pendapatan Bea Masuk 525. penatausahaan Pendapatan Bea Keluar yang semula menjadi tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran.299.746.829 560.85 persen dari realisasi TA 2009.746.2.240 560.727. Penurunan PNBP ini terjadi pada pos-pos PNBP yaitu PNBP Lainnya mengalami penurunan sebesar Rp97.109. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.745.525.606.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) atas.226.240 987.842.849 167.940.487.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan.2.390.396.70 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 sebesar Rp588. kayu.678.104. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 40 .87 persen dan Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) mengalami penurunan sebesar Rp131.682.950.470 0.427. Penerimaan Negara Bukan Pajak Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak Rp987.555 (45.

85) Jumlah Grafik 7 Perbandingan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dan 2009 (dalam jutaan rupiah) 700.718 600.742.122.105 (229.000 658.957 (131.340.148 (97.940) (14.427) (18.000 300.470 558.390.678 1.950.87) Pendapatan BLU 426.000 0 Pendapatan PNBP Lainnya Pendapatan BLU TA 2010 TA 2009 Komposisi realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 8 berikut.668 560.969.804.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perbandingan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 19 dan Grafik 7 berikut.114.54) 987.668.000 100.991.000 426.137 500.216.208 658. Catatan atas Laporan Keuangan halaman 41 .136.226.000 558.619.746.235.746 400.464.854.717.487) (23. Tabel 19 Perbandingan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % Pendapatan PNBP Lainnya 560.000 200.

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)
Grafik 8
Komposisi Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak TA 2010

Pendapatan
BLU
43,22%

Pendapatan
PNBP Lainnya
56,78%
Pendapatan PNBP Lainnya
Pendapatan BLU

B.2.1.2.2.1. Pendapatan PNBP Lainnya
Realisasi
Pendapatan PNBP
Lainnya
Rp560.717.991.208,
00

Realisasi Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 adalah sebesar Rp560.717.991.208,00
atau 168,58 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN TA 2010 yaitu sebesar
Rp332.606.682.240,00. Apabila dibandingkan dengan TA 2009, Pendapatan PNBP
Lainnya TA 2010 mengalami penurunan sebesar Rp97.950.122.940 atau 14,87 persen
dari realisasi TA 2009. Besarnya realisasi Pendapatan PNBP Lainnya dapat dilihat pada
Tabel 20 berikut.
Tabel 20
Realisasi Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010
(dalam rupiah)

Uraian
Pendapatan Penjualan dan Sewa

Estimasi

Realisasi

%

2.078.113.692

38.885.635.772

1.871,20

288.273.130.264

416.383.040.771

144,44

Pendapatan Bunga

0

72.592.848

0,00

Pendapatan Pendidikan

0

194.991.000

0,00

Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil Korupsi

0

59.035.000

0,00

40.004.931.530

80.427.887.461

201,04

2.250.506.754

24.694.808.356

1.097,30

332.606.682.240

560.717.991.208

168,58

Pendapatan Jasa

Pendapatan Iuran dan Denda
Pendapatan Lain-lain
Jumlah

Perbandingan realisasi Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 dan 2009 dapat dilihat
pada Tabel 21 berikut.

Catatan atas Laporan Keuangan

halaman 42

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)
Tabel 21
Perbandingan Realisasi Pendapatan PNBP Lainnya
TA 2010 dan 2009
(dalam rupiah)
Uraian
Pendapatan Penjualan dan Sewa
Pendapatan Jasa
Pendapatan Bunga

TA 2010

TA 2009

Kenaikan/(Penurunan)

%

38.885.635.772

24.212.520.036

14.673.115.736

60,60

416.383.040.771

558.619.429.613

(142.236.388.842)

(25,46)

72.592.848

140.418.393

(67.825.545)

(48,30)

194.991.000

146.880.000

48.111.000

32,76

59.035.000

195.180.100

(136.145.100)

(69,75)

Pendapatan Iuran dan Denda

80.427.887.461

64.893.829.133

15.534.058.328

23,94

Pendapatan Lain-lain

24.694.808.356

10.459.856.873

14.234.951.483

136,09

560.717.991.208

658.668.114.148

(97.950.122.940)

(14,87)

Pendapatan Pendidikan
Gratifikasi dan Uang Sitaan Hasil
Korupsi

Jumlah

Jika dibandingkan dengan TA 2009, terjadi penurunan realisasi Pendapatan PNBP
Lainnya sebesar Rp97.950.122.940,00 atau 14,87%. Penurunan yang signifikan
terutama terjadi pada Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan. Penurunan ini disebabkan
oleh penerapan kebijakan atas Treasury Notional Pooling (TNP), dimana pendapatan
dari jasa lembaga keuangan (jasa giro) dari rekening bendahara pengeluaran dipotong
langsung oleh pihak bank dan disetor ke rekening kas negara sebagai Pendapatan
BUN. Selanjutnya pendapatan tersebut dibukukan pada BA 999.99 (BA-BUN Transaksi
Khusus).

Realisasi
Pengembalian
Pendapatan PNBP
Lainnya
Rp192.926.829,00

Realisasi Pengembalian Pendapatan PNBP Lainnya TA 2010 adalah sebesar
Rp192.926.829,00. Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan PNBP Lainnya
TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 22 berikut.
Tabel 22
Perbandingan Realisasi Pengembalian Pendapatan PNBP Lainnya
TA 2010 dan 2009
(dalam rupiah)
Uraian
Pendapatan Penjualan dan Sewa
Pendapatan Jasa
Pendapatan Iuran dan Denda
Pendapatan Lain-lain
Jumlah

TA 2010

TA 2009

Kenaikan/(Penurunan)

%

3.838.000

159.300

3.678.700

2.309,29

184.417.089

14.139.174

170.277.915

1.204,30

4.426.000

0

4.426.000

0,00

245.740

2.702.990

(2.457.250)

(90,91)

192.926.829

17.001.464

175.925.365

1.034,77

B.2.1.2.2.2. Pendapatan Badan Layanan Umum (BLU)
Realisasi
Pendapatan BLU
Rp426.746.235.470,
00

Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 adalah sebesar Rp426.746.235.470,00 atau 166,54
persen dari target yang ditetapkan dalam DIPA TA 2010 yaitu sebesar
Rp256.235.422.000,00. Apabila dibandingkan dengan TA 2009, Pendapatan BLU
TA 2010 mengalami penurunan sebesar Rp131.390.619.487,00 atau 23,54 persen dari
realisasi TA 2009.
Rincian Realisasi Pendapatan BLU yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 23 berikut.

Catatan atas Laporan Keuangan

halaman 43

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

Tabel 23
Realisasi Pendapatan BLU TA 2010
(dalam rupiah)
Uraian
Pendapatan Jasa Layanan Umum
Pendapatan Hibah BLU

Estimasi

Realisasi

%

249.466.562.000

107.672.070.738

43,16

100.000.000

1.825.000

1,83

Pendapatan Hasil Kerja Sama BLU

2.500.000.000

2.794.642.023

111,79

Pendapatan BLU Lainnya

4.168.860.000

316.277.697.709

7.586,67

256.235.422.000

426.746.235.470

166,54

Jumlah

Perbandingan realisasi Pendapatan BLU TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 24
berikut.
Tabel 24
Perbandingan Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 dan 2009
(dalam rupiah)
Uraian
Pendapatan Jasa Layanan Umum

TA 2010

TA 2009

Kenaikan/(Penurunan)

%

107.672.070.738

173.932.393.282

(66.260.322.544)

(38,10)

1.825.000

300.000

1.525.000

508,33

2.794.642.023

5.114.850.125

(2.320.208.102)

(45,36)

Pendapatan BLU Lainnya

316.277.697.709

379.089.311.550

(62.811.613.841)

(16,57)

Jumlah

426.746.235.470

558.136.854.957

(131.390.619.487)

(23,54)

Pendapatan Hibah BLU
Pendapatan Hasil Kerja Sama BLU

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 mencakup 2 (dua) unit satker
Badan Layanan Umum (BLU), yaitu Pusat Investasi Pemerintah (PIP) dan Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara (STAN). Realisasi Pendapatan BLU TA 2010, jika dibandingkan
dengan TA 2009 mengalami penurunan sebesar Rp131.390.619.487,00 atau 23,54%.
Hal ini disebabkan adanya penurunan Pendapatan Jasa Layanan Umum sebesar
Rp66.260.322.544,00 atau 38,10% dan Pendapatan BLU Lainnya sebesar
Rp62.811.613.841,00 atau 16,57%. Penurunan Pendapatan Jasa Layanan Umum
tersebut terutama disebabkan oleh penurunan pos Pendapatan Investasi. Pada tahun
2009 terdapat penjualan atas kepemilikan saham yang dimiliki PIP. Pendapatan
Investasi yang berupa keuntungan penjualan saham sebesar Rp122.148.146.107,00,
pendapatan instrumen jangka pendek sebesar Rp849.315.068,00, dan penerimaan
dividen sebesar Rp5.030.132.790,00 yang diterima PIP pada tahun 2009 tidak terjadi
lagi pada tahun 2010. Sedangkan penurunan Pendapatan BLU Lainnya terutama
disebabkan oleh penurunan pos Pendapatan Jasa Layanan Perbankan BLU yang dipicu
oleh penurunan suku bunga deposito dari 12 persen menjadi 7 persen. Hal tersebut
mempengaruhi penerimaan bunga deposito kurang dari 3 (tiga) bulan pada satker PIP
sehingga mengalami penurunan, yaitu dari TA 2009 sebesar Rp375.393.339.757,00
menjadi sebesar Rp313.052.240.421,00 pada TA 2010.
Realisasi Pendapatan BLU berdasarkan satuan kerja dapat dilihat pada Tabel 25
berikut.

Catatan atas Laporan Keuangan

halaman 44

Catatan atas Laporan Keuangan halaman 45 .000.460. yang diberi kuasa atas nama Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) mewakili Pemerintah dalam pencatatan Penerimaan Hibah adalah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang.361 166.235. B.2.422.36 256. oleh karena itu dalam Laporan Keuangan Bagian Anggaran 015 ini tidak ada Penerimaan Hibah.370.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 25 Realisasi Pendapatan BLU TA 2010 Berdasarkan Satuan Kerja (dalam rupiah) Uraian Estimasi Realisasi Pusat Investasi Pemerintah (PIP) 237.00 Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.215 170.1.26 Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 18.3.422.865.146 117. Penerimaan Hibah Realisasi Penerimaan Hibah Rp0.000 404.37 Jumlah Realisasi Pengembalian Pendapatan BLU Rp0.05/2009 tentang Sistem Akuntansi Hibah.000 426.397.139.000 22.290.00 % Tidak terdapat Realisasi Pengembalian Pendapatan BLU TA 2010 dan 2009.151.063.

000 10.000.000.85 persen dari realisasi belanja TA 2009 sebesar Rp12. Belanja Kementerian Keuangan diklasifikasikan berdasarkan sumber dana.05% 92.211.000.501 Realisasi TA 2009 15.000.142.849 Realisasi Belanja Belanja dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan dan efisiensi.298.000.142.306.142.514. fungsi.783.579.000.298.00.000.082.000 Pagu TA 2010 URAIAN PAGU REALISASI TA 2009 TA 2010 15.501.00.000 14.2.298.538.198.00. Dalam jumlah tersebut termasuk pembayaran imbalan bunga sebesar Rp1.977. Grafik 9 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Kementerian Keuangan TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) 82.000.000.849.000 14.000.487.000 4.604.000 8.294. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 46 . apabila angka ini dikeluarkan maka realisasi belanja Kementerian Keuangan adalah sebesar Rp12.976.000.31 persen dari pagu.000.00 Perbandingan Realisasi Belanja TA 2010 dan 2009 Realisasi belanja Kementerian Keuangan pada TA 2010 adalah sebesar Rp14.89 persen dari pagu belanja dalam DIPA sebesar Rp15.000.000 12.321.000 12.000.391.000. namun tetap menjamin terlaksananya kegiatan-kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Kerja Kementerian Keuangan.000.000.524.050.000.89% 16.000.000.2. BELANJA Realisasi belanja Rp14.294.652.000.00 atau 84.00 atau 11.00 atau 92.142.198.391.000 6.783.243. unit eselon I.000.864.5 01.000.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) B.655.050.294.000 2.000. Realisasi belanja TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp1.000.864.538. Perbandingan antara realisasi belanja TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Grafik 9 berikut. dan jenis belanja.

000 14.501.000 4.2.000.000.000.000 8.000 117.594 31.00 dapat dirinci menurut sumber dana sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 26 dan Grafik 10 berikut.192.000 14.872.1.198.72% 443.544 26.528.000 2.035.000.17% Badan Layanan Umum 44.30% 15.000.907 63.000.660 20.41% Rupiah Murni Pendamping 76.287 57.087.669.000.000.000.000 - Catatan atas Laporan Keuangan Pagu Realisasi Halaman 47 .825.57% PNBP 23.103.086.509 % 95.864.000.000 10.501 92.294. Belanja Kementerian Keuangan Menurut Sumber Dana Realisasi Belanja TA 2010 Menurut Sumber Dana Realisasi belanja Kementerian Keuangan TA 2010 sebesar Rp14.2.298.000 14.000.298.000 6.142.000.000. Tabel 26 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Pagu Realisasi 14.000.000 15.000.003.391.294.156.531.734.612.000.000 14.000.89% Jumlah Grafik 10 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 (dalam rupiah) 16.041.000.270.000.000.048.316.142.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) B.000.42% Hibah 70.048.799.000.000 12.000.000.935.000 25.574.000.103.761.000 22.000.

511.062.248.83% 22.281) -48.514.880.676.2.025.977.007.211.612.838.099.206.574.877 13.85% 21.2.000 14.175.593.878.039 111.000 145.790 84.154.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perbandingan antara realisasi belanja TA 2010 dan 2009 menurut sumber dana dapat dilihat pada Tabel 27 berikut. Tabel 27 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Sumber Dana TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Belanja Rupiah Murni Belanja Pinjaman Luar Negeri Belanja Hibah Jumlah Belanja Bruto Pengembalian Belanja Jumlah Belanja Neto TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % 14.627.003.191.490.159.000 95.783.04% 117.585.595.086.26% 102.37% 2.000 106.454 2.00 atau 111.637.077.198 14.853.487.391.812. Berdasarkan daya serap realisasi TA 2010.28% 3.266 12.243.521.544 103.652 11.198.048.2.97% 218.069.396.00 atau 38.396.991.45% 15.000 498.318.798.29 persen dari pagu belanja DJP.875 (20.896.173.000 184.039.07% 630.952.490.988.26% 14.501 12.567.849 1.518. penyerapan terbesar pada DJP sebesar Rp4.999.893.551.757.020 80.610.945 12.764.319.467.556 21.005.615.325.544.518.137.000 90.09% BPPK 447.822 89.875. Tabel 28 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Unit Eselon I TA 2010 (dalam rupiah) NO. Dalam realisasi belanja DJP termasuk didalamnya pembayaran imbalan bunga sebesar Rp1.89% Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 48 .298.604.200.165.822.864.319.166.667 12.721.124.806. UNIT ESELON I 1 SETJEN 2 ITJEN 3 DJA 4 DJP 5 DJBC 4 DJPK 5 DJPU 8 DJPB 9 DJKN 10 11 12 PAGU REALISASI % 6.000 1.538.98% BAPEPAM-LK 167.762.363 12.321.093.406.26% BKF 128.671 93. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran terbesar adalah pada Setjen sebesar Rp5.999.514.716.256.000 5.40 persen dari total realisasi belanja Kementerian Keuangan.681.86% B.41% 11.318. Apabila imbalan bunga ini dikeluarkan maka realisasi belanja DJP adalah sebesar Rp2.997.050.491 1.709.298.371.625.113.000 367.00 yang tidak tersedia pagu anggarannya di dalam DIPA.097 1.821.064.738.050.71% 125.888 84.294.589 85.437.42% 1.943.37 persen dari pagu belanja DJP.594 42.496 93.764.465.038.767.501 92. Perbandingan pagu dan realisasi belanja menurut unit eselon I dapat dilihat pada Tabel 28 berikut.000 109.609 82.000 1.507.312.189.526.697.294.142.351.358 510.787.015.276.262. Belanja Kementerian Keuangan Menurut Unit Eselon I Realisasi Belanja Per Eselon I Realisasi belanja Kementerian Keuangan TA 2010 dapat dirinci menurut unit eselon I sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 28.773.132 86.926 78.519 87.81% 97.000 4.00 atau 77.005.142.

025.645.635.020 1.099.963.356.514.049.262.671 76.556 21.2.325.298.95% 12 BKF Jumlah Pengembalian Belanja Jumlah Belanja Neto 109.519 134.663.790 71.535.154 24.827 4. UNIT ESELON I 1 SETJEN 2 3 TA 2010 TA 2009 Naik/Turun % 5.652 11.137.774 112.864.926 417.207.396.825.402 20.267. Tabel 30 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Pelayanan Umum Pendidikan Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Pagu Realisasi % 15.26% ITJEN 90.210.437.762.473.005.3.43% 10 BAPEPAM-LK 145.999.63% 11 BPPK 367.142.945 12.248.94% 97.025.59% 4 DJP 4.37% 15.142.073 25.816.206.550.496 71.175.892.507.040.460.2.039 4.487.762 4.243.896.000.952.000 14.214.501 12.812 81.160 9.318.764.86% B.132 984.639.114 19.237.526.207.021.497.291 28.319.038.240 85.198.838.298. Tabel 29 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Unit Eselon I TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) NO.491 1.888 81. Belanja Kementerian Keuangan Menurut Fungsi Realisasi Belanja TA 2010 Menurut Fungsi Belanja Kementerian Keuangan juga dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi.967.841 278.00% 5 DJPU 184.304.870.363.514.880.016 156.798.676.822 5.423 18.501 92.261 92. Perbandingan pagu dan realisasi belanja Kementerian Keuangan menurut Fungsi pada TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 30 dan Grafik 11 berikut.000 83.604.535.450.024.294.85% 21.517 18.391.093.622.782.316.983.869.529.893.207 63.754.649.198 2.662 465.392.875.358.111 8.591.681.000 14.74% DJA 95.40% 4 DJPK 106.538.371.625.166.589 105.200.177 269.358 510.996.744.26% 9 DJKN 498.453.294.973.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perbandingan antara realisasi belanja per unit eselon I TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 29 berikut.110 24.89% Halaman 49 .312.225.272.783.050.943.454 11.595.778 30.408 11.972.812.276.587.609 304.294.973.65% 5 DJBC 1.849 1.136.929 11.627.22% 8 DJPB 1.189.59% 14.806.419.798.465.490.41% 14.862 6.612.091 166.736.

649.294.538.372.371.000 4.240 50.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 11 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 (dalam rupiah) 15.000 Pagu Pelayan Umum Pendidikan Realisasi Perkembangan realisasi belanja berdasarkan fungsi dalam kurun waktu 2 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 31 berikut.916.316.000 14.000.000.973.000 8.240 2.000.000.142.63% 83.000.000.514.681.000 10.261 12.326.08% 14.2.762.4. Belanja Kementerian Keuangan Menurut Jenis Belanja Realisasi Belanja TA 2010 Menurut Jenis Belanja Belanja Kementerian Keuangan menurut jenis belanja terdiri dari Belanja Pegawai.000.00 atau 92.225.604.358 510.733.276.645.453.41% 14.000.214.849 1.945 12.676.000.525 1.316.000.000.000.94 persen dari total realisasi belanja Kementerian Keuangan.165.261. Belanja Modal.454 11.481.000.783.86% Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa realisasi belanja Kementerian Keuangan TA 2010 menurut fungsi yang terbesar digunakan untuk Fungsi Pelayanan Umum yaitu sebesar Rp14. dan Pembayaran Bunga Utang.000.612.645.825.150.591.806.000 16. B. Belanja Barang.2.736 % 11.000.000.175.294.050.916 66.000.000 83.166. Uraian Pelayanan Umum Pendidikan Jumlah Belanja Bruto Pengembalian Belanja Jumlah Belanja Neto Tabel 31 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Fungsi TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) TA 2010 14.000.465.298.318.261 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) 12.437.000.000. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 50 .732.324 33.214.825.652 11.214.85% 21.875.000 97.243.000.093.000.645.000 14.000.556 21.000 6.272.649. Perbandingan pagu dan realisasi belanja menurut jenis belanja dapat dilihat pada Tabel 32 dan Grafik 12 berikut.198 2.501 12.000.514.825.491 1.

142.000 14.34% Belanja Barang 5.000.00% 15.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 32 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Pagu Realisasi % Belanja Pegawai 7.000.000.000 3.000 1.000.000.000.17% Belanja Modal 2.194.487.89% Pembayaran Bunga Utang (SPM-IB) Jumlah Perbandingan pagu dan realisasi belanja berdasarkan jenis belanja untuk TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 12 berikut.000.194.07% 0 1.000.000.000 6.481.000 3.391.000 - Belanja Pegawai Catatan atas Laporan Keuangan Belanja Barang Belanja Modal Pembayaran Bunga Utang (SPM-IB) Pagu Realisasi Halaman 51 .211.000.501 92.626.567.000 5.977 0.559.000.302.000.000.936.000.298.000 2.864.000 4.848.294.850.000 7.321.993. Grafik 12 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 (dalam rupiah) 8.000.000.880.000.000.791.000.931.721.184 76.161.198.603.000.247 71.093 94.523.000 7.000.000.000.000 1.000.

935.093.832.514.1.875.356.34 persen dari pagu yang ditetapkan dalam DIPA TA 2010 sebesar Rp7.764.253 135.880.556 21.641.050.198 2.01% 14. Grafik 13 Komposisi Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 Belanja Modal 13% Belanja Pegawai 50.000.89% Pembayaran Bunga Utang (SPM-IB) 1.977 1.294.142.523. 093. Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Pegawai TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 34 berikut.567.514.465.794 25.85% Jumlah Belanja Bruto Pengembalian Belanja Jumlah Belanja Neto 21.806.246.762.35% Belanja Barang 3.088 429.454 11.880.005.86% B.626.00 yang berarti 94.32% Pembayaran Bunga Utang (SPM-IB) 9% Belanja Barang 28% Perbandingan realisasi belanja Kementerian Keuangan menurut jenis belanja TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 33 berikut.175.41% 14.093.194.523. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 52 .931.184 3.849 1.364.721. Apabila dibandingkan dengan TA 2009.612.429.523.850.2.00 atau 6.676.113.882.965.832.243.994 7.538.817.35 persen dari TA 2009.2. realisasi Belanja Pegawai TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp.166.652 11. Tabel 33 Perbandingan Realisasi Belanja Menurut Jenis Belanja TA 2010 dan TA 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % Belanja Pegawai 7.4.325 685.783.501 12.247 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Komposisi realisasi belanja berdasarkan jenis belanja untuk TA 2010 juga dapat dilihat pada Grafik 13 berikut.358 510.880.714.194.437.093 6.00 Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 adalah sebesar Rp7.848.882.604.681.057.276.298.211.00.194.859 21.228.373.10% Belanja Modal 1.487.491 1.194. Belanja Pegawai Realisasi Belanja Pegawai Rp7.119.481.276.703.183 264.777.945 12.936.321.005 6.048.371.

000 7.523.194.310. Khusus & B.93% 128.317.716. Peg.088.093 94.469.373. Grafik 14 Komposisi Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 Belanja Gaji dan Tunjangan PNS 33% Belanja Tunj.08% 0 0 0.402.000 2. Peg.00% 7.000 97.384. Komposisi realisasi Belanja Pegawai TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 14 berikut. Gaji dan Tunj.259 92.080.652.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 34 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Pagu Belanja Gaji dan Tunjangan PNS B.457.350.266.615.880.786.00% 7.848.80% 0 0 0.253.315.150 76.000 90.000 7.567. Transito Belanja Pegawai BLU Jumlah Realisasi % 2.69% 0 0 0.626.079.34% Realisasi Belanja Pegawai BLU nihil karena gaji masih dibayar oleh satuan kerja asal pegawai BLU. Pegawai Transito 66% Belanja Lembur 1% Catatan atas Laporan Keuangan Belanja Honorarium 0% Halaman 53 . Non PNS Belanja Honorarium Belanja Lembur Belanja Vakasi B. Khusus & B.00% 5.623. Tunj.684 98.859.000 4.

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

Perbandingan antara realisasi Belanja Pegawai TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada
Tabel 35 berikut.
Tabel 35
Perbandingan Realisasi Belanja Pegawai TA 2010 dan 2009
(dalam rupiah)

Uraian

TA 2010

TA 2009

Kenaikan/(Penurunan)

%

Belanja Gaji & Tunjangan PNS

2.373.350.859.684

2.188.220.785.791

185.130.073.893

8,46%

B. Gaji dan Tunj. Peg. Non PNS

0

0

0

0,00%

7.080.310.000

6.893.650.000

186.660.000

2,71%

97.623.457.150

76.810.459.290

20.812.997.860

27,10%

0

0

0

0,00%

4.716.469.253.259

4.492.716.153.007

223.753.100.252

4,98%

Belanja Pegawai BLU

0

0

0

0,00%

Jumlah Belanja Buro

7.194.523.880.093

6.764.641.048.088

429.882.832.005

6,35%

21.676.612.556

21.166.175.358

510.437.198

2,41%

7.172.847.267.537

6.743.474.872.730

429.372.394.807

6,37%

Belanja Honorarium
Belanja Lembur
Belanja Vakasi
B. Tunj. Khusus & Peg. Transito

Pengembalian Belanja
Jumlah Belanja Neto

Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Pegawai per unit eselon I dapat dilihat pada
Tabel 36 berikut.
Tabel 36
Perbandingan Pagu dan Realisasi
Belanja Pegawai Per Eselon I TA 2010
(dalam rupiah)

NO.

UNIT ESELON I

PAGU

REALISASI

%

5.151.508.959.000

4.792.240.216.650

93,03%

1

SETJEN

2

ITJEN

23.000.000.000

21.706.062.406

94,37%

3

DJA

36.057.218.000

35.172.586.568

97,55%

4

DJP

1.230.963.284.000

1.227.818.953.099

99,74%

5

DJBC

459.821.818.000

415.142.724.527

90,28%

4

DJPK

18.084.284.000

15.829.981.932

87,53%

5

DJPU

13.452.491.000

12.860.726.562

95,60%

8

DJPB

442.981.942.000

434.337.315.256

98,05%

9

DJKN

148.283.159.000

144.360.875.363

97,35%

10

BAPEPAM-LK

38.425.735.000

35.075.584.035

91,28%

11

BPPK

45.398.302.000

41.649.914.648

91,74%

12

BKF

18.590.656.000

18.328.939.047

98,59%

7.626.567.848.000

7.194.523.880.093

94,34%

Jumlah

Catatan atas Laporan Keuangan

Halaman 54

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

Perbandingan Belanja Pegawai Kementerian Keuangan per unit eselon I menurut jenis
belanja TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 37 berikut
Tabel 37
Perbandingan Belanja Pegawai
TA 2010 dan TA 2009
(dalam rupiah)
NO.

UNIT ESELON I

TA 2010

TA 2009

(Kenaikan/Penurunan)

%

4.792.240.216.650

4.560.108.734.231

232.131.482.419

95,16%

1

SETJEN

2

ITJEN

21.706.062.406

19.851.980.953

1.854.081.453

91,46%

3

DJA

35.172.586.568

33.568.880.206

1.603.706.362

95,44%

4

DJP

1.227.818.953.099

1.116.236.032.958

111.582.920.141

90,91%

5

DJBC

415.142.724.527

382.277.591.263

32.865.133.264

92,08%

4

DJPK

15.829.981.932

14.080.029.185

1.749.952.747

88,95%

5

DJPU

12.860.726.562

11.745.448.778

1.115.277.784

91,33%

8

DJPB

434.337.315.256

409.574.902.266

24.762.412.990

94,30%

9

DJKN

144.360.875.363

131.281.188.687

13.079.686.676

90,94%

10

BAPEPAM DAN LK

35.075.584.035

31.844.866.514

3.230.717.521

90,79%

11

BPPK

41.649.914.648

36.950.774.832

4.699.139.816

88,72%

12

BKF

18.328.939.047

17.120.618.215

1.208.320.832

93,41%

7.194.523.880.093

6.764.641.048.088

429.882.832.005

94,02%

17.054.385.504

16.790.151.573

264.233.931

98,45%

7.177.469.494.589

6.747.850.896.515

429.618.598.074

94,01%

Jumlah Belanja Bruto
Pengembalian
Jumlah Belanja Neto

B.2.2.4.2. Belanja Barang
Realisasi Belanja
Barang
Rp3.931.936.721.
184,00

Realisasi Belanja Barang TA 2010 adalah sebesar Rp3.931.936.721.184,00 yang berarti
76,17 persen dari pagu yang ditetapkan dalam DIPA TA 2010 sebesar
Rp5.161.993.559.000,00. Apabila dibandingkan dengan TA 2009, realisasi Belanja
Barang TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp684.248.791.083,00 atau 21,10
persen dari TA 2009. Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Barang TA 2010 dapat
dilihat pada Tabel 38 berikut.
Tabel 38
Perbandingan Pagu dan Realisasi
Belanja Barang TA 2010
(dalam rupiah)
Uraian

Pagu

Realisasi

%

Belanja Barang Operasional

1.741.008.821.000

1.415.715.748.039

81,32%

Belanja Barang Non Operasional

1.009.432.352.000

813.922.970.904

80,63%

Belanja Jasa

745.430.595.000

437.239.445.747

58,66%

Belanja Pemeliharaan

743.092.978.000

541.507.464.640

72,87%

Belanja Perjalanan Dalam Negeri

833.664.470.000

668.347.998.809

80,17%

Belanja Perjalanan Luar Negeri

55.551.278.000

33.245.473.491

59,85%

Belanja Barang BLU

33.813.065.000

21.957.619.554

64,94%

5.161.993.559.000

3.931.936.721.184

76,17%

Jumlah
Catatan atas Laporan Keuangan

Halaman 55

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

Komposisi Belanja Barang TA 2010 dapat dilihat dalam Grafik 15.
Grafik 15
Komposisi Realisasi Belanja Barang TA 2010
Belanja
Perjalanan
Luar Negeri
1%
Belanja
Perjalanan
Dalam
Negeri
17%

Belanja Barang
BLU
0%
Belanja Barang
Operasional
36%

Belanja Jasa
11%

Belanja Barang
Non Operasional
21%

Belanja
Pemeliharaan
14%

Perbandingan antara realisasi Belanja Barang TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada
Tabel 39 berikut.

Uraian

Tabel 39
Perbandingan Realisasi Belanja Barang
TA 2010 dan 2009
(dalam rupiah)
TA 2010
TA 2009
Kenaikan/(Penurunan)

%

Belanja Barang Operasional

1.415.715.748.039

1.212.305.453.652

203.410.294.387

16,78%

Bel. Barang Non Operasional

813.922.970.904

544.606.966.336

269.316.004.568

49,45%

Belanja Jasa

437.239.445.747

419.373.223.967

17.866.221.780

4,26%

Belanja Pemeliharaan

541.507.464.640

487.060.281.922

54.447.182.718

11,18%

Bel. Perjalanan Dalam Negeri

668.347.998.809

548.202.971.741

120.145.027.068

21,92%

Belanja Perjalanan Luar Negeri

33.245.473.491

22.404.140.317

10.841.333.174

48,39%

Belanja Barang BLU

21.957.619.554

12.864.326.390

9.093.293.164

70,69%

Jumlah Belanja Bruto

3.931.936.721.184

3.246.817.364.325

685.119.356.859

21,10%

Pengembalian Belanja

4.380.644.502

4.003.279.906

377.364.596

9,43%

3.927.556.076.682

3.242.814.084.419

684.741.992.263

21,12%

Jumlah Belanja Neto

Catatan atas Laporan Keuangan

Halaman 56

000 372.958.82% 11 BPPK 242.349 90.364.81% ITJEN 64.432.785.266.937.625.924.691.627 79.378 72.781. UNIT ESELON I TA 2010 1 SETJEN 2 ITJEN 3 DJA 53.701.057.483.781.729.644.910.465 26.814.296.792.999.981 89.102 73.279.000 1.67% 5.545 57.161.96% 9 DJKN 362.000 50.000 3.978 95.737.077.627 398.592.608 17.000 252.24 9 DJKN 252.842 294.496.424.434.967 31.11 DJPU 50.613.000 59.613.12 Jumlah Belanja Bruto Pengembalian Jumlah Belanja Neto Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 57 .502 Jumlah Belanja Neto 5.267.340.730.721.000.181.181.843.427.179.215.958.45% 8 DJPB 673. UNIT ESELON I 1 SETJEN 2 PAGU REALISASI % 511.498 92.340.618.380.993.000 86.682 3.659 16.729.254.141.817.936.981 60.592.540.687.000 765.781.029 16.514.380.85 3.545 18.80 33.841.924.483.377 77.603.471.10% 4 DJPK 79.60% 10 BAPEPAM DAN LK 84.789.000 53.182.89% 5 DJBC 968.000 3.617.753.010.817 212.242 35.62 10 BAPEPAM DAN LK 69.909.125 30.596 9.347.38 12 BKF 86.076.424.494 13.753.000 185.448.242.000 70.43% 12 BKF 104.184 76.927.626 52.496.17% Jumlah Belanja Bruto Pengembalian 4.228.000 69.388) -4.906 377.455.28% 4 DJP 1.912.844.441.102 82.184 3.674.936.010.325 685.662. Tabel 40 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Barang Per Eselon I TA 2010 (dalam rupiah) NO.785.003.802.179 115.37 59.584.406.682 0 76.618.924.853.227 76.611.559.722.10 4.161.40% 5 DJPU 52.366 (2.077.559.947 10.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Barang per unit eselon I dapat dilihat pada Tabel 40 berikut.556.388.221.197.342.315.790.927.349 199.036.263 21.992.09% Perbandingan realisasi Belanja Barang per unit eselon I TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 41 berikut.954.084.000 538.308.246.137.119.432.19 11 BPPK 185.24 649.12% 3 DJA 58.759 79.617.036.663.842 72.580 17.993.107 24.817 69.931.272 39.776.556.628.603.626 81.170.759 4 DJPK 5 TA 2009 (Kenaikan/Penurunan) % 372.076.082.910.427.336.434.931.349 4 DJP 1.034 17.411.644. Tabel 41 Perbandingan Belanja Barang Per Eselon I TA 2010 dan TA 2009 (dalam rupiah) NO.859 21.776.364.722.910.36 1.123.974.804 19.335.379.936.419 684.102 43.227 142.925.43 3.844.375.356.082.83 70.741.781.932.378 5 DJBC 765.385 140.170.749.760.391 11.978 52.502 4.266.538.721.498 47.31 8 DJPB 538.

Tabel 42 Perbandingan Pagu dan Realisasi Belanja Modal TA 2010 (dalam rupiah) Uraian Pagu Realisasi % Belanja Modal Tanah 187. Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Modal TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 42 berikut.282 76.24 7.895. Pada DJP terdapat realisasi anggaran proyek PINTAR (Project for Indonesia Tax Administration Reform) yang bersumber dari Belanja Barang sebesar Rp58.056.000.068.840.15% 1. dan langganan daya dan jasa.798 63.870. honorarium.00 yang berarti 71. realisasi Belanja Modal TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp135.00.952. Terdapat kesulitan mencari negara/instansi di luar negeri untuk internship.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rendahnya realisasi Belanja Barang disebabkan oleh hal-hal berikut: 1.64% Belanja Pemeliharaan yg Dikapitalisasi 224.000 1.000 18. Kebijakan efisiensi dan efektivitas anggaran terhadap kegiatan perjalanan dinas luar kota dan konsinyering.692. 2.582.849.986.302.543.000 660.228.565.481.2.791.000 3.43% Belanja Modal Jalan.302.791.000 42.884.040.194.000 Halaman 58 .933.07% 241.966 90.000 955.481.667.541.994.00 tidak dapat direalisasikan kegiatannya pada TA 2010 karena proses pengadaan masih berjalan dan kontrak-kontraknya baru akan ditandatangani pada triwulan pertama tahun 2011.603.477.247 71.63% Belanja Modal Peralatan & Mesin 866.194. 4.00% 1.194.185.850. Realisasi Belanja Modal Rp1.227.247.697 71.711.000 169.07% persen dari pagu yang ditetapkan dalam DIPA TA 2010 sebesar Rp2.870.603.975 76.603. 3.4.489. Realisasi peserta pada beberapa diklat di BPPK tidak sesuai dengan yang direncanakan. Apabila dibandingkan dengan TA 2009.850.000.2.000.898.302. Belanja Modal Realisasi Belanja Modal TA 2010 adalah sebesar Rp1.3.850.650. Irigasi & Jaringan 0 0 0.06% Belanja Modal Gedung & Bangunan Jumlah belanja Bruto Pengembalian Belanja Jumlah belanja Neto Catatan atas Laporan Keuangan 2.08% Belanja Modal BLU 10.493 8.00% Belanja Modal Fisik Lainnya 67.777.282.481.104. uang lembur.550 0.733 33.791.31 persen dari TA 2009.00 B.246.802.320.78% 2.00 atau 7.

550 64.895.879.06% Belanja Modal Gedung & Bangunan 955.975 626.933.427 5.13% 1.884.253 135.00% 42.850.952.02% Belanja Modal Peralatan & Mesin 35. Grafik 16 Komposisi Realisasi Belanja Modal TA 2010 Belanja Modal Fisik Lainnya 2.994 7.976.073.713.493 23. Irigasi & Jaringan 0 0 0 0.015.128.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Komposisi Belanja Modal TA 2010 dapat dilihat pada Grafik 16 berikut.798 96.703.20% Belanja Modal Tanah 9.422 (53.692.809 90.679 (3.178.16% Belanja Modal Jalan.697 1.52% Belanja Pemeliharaan yg Dikapitalisasi 18.527.979.253.42% Belanja Modal Peralatan & Mesin 660. Tabel 43 Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % Belanja Modal Tanah 169.946) -86.840.548 33.714.565 (4.650.736 42.194.733 6.68% Belanja Modal Gedung & Bangunan 51.965.30% Belanja Modal BLU 0.072) -22.185.735.444 7.937.282 864.13% Belanja Modal Fisik Lainnya Belanja Modal BLU Jumlah belanja Bruto Pengembalian Belanja Jumlah belanja Neto Catatan atas Laporan Keuangan 3.891.007.924.869.550 86.368.000 154.312.995.058.898.30% Halaman 59 .253 135.55% 1.209.541.228.966 97.565.17% Belanja Pemeliharaan yg Dikapitalisasi 1.687.777.195.667.582.31% 241.687.714.849.980.840.473 9.230 71.247 1.228.711.63% Perbandingan antara realisasi Belanja Modal TA 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 43 berikut.104.645.624) -126.847.481.212.

253 135.840.000 101.89% 241.898.000 140.723.335.000 7.194.754 96.71% Jumlah Belanja Bruto 1.850.704.110.603.592 4.931.46% 159.000 121.39% 5 DJPU 121.764.394.282.374.073.952.36% 9.356.250 7.989.000 Perbandingan Belanja Modal per unit eselon I Kementerian Keuangan TA 2010 dan TA 2009 dapat dilihat pada Tabel 45 berikut.44% 5. UNIT ESELON I TA 2010 TA 2009 (Kenaikan/Penurunan) % 1 SETJEN 326.364.832.550 0.590 (306.226.990.215.321. UNIT ESELON I PAGU REALISASI 1 SETJEN 2 ITJEN 3 DJA 4 DJP 5 DJBC 587.942.853.697 71.267.778.45% 7.975 7.697 1.898.975 70.853 28.263.71% 5 DJPU 152.995.849.97% 3 DJA 7.507 (2.444 7.000 342.572.229.415.849.740.64% 10 BAPEPAM DAN LK 11 BPPK 12 BKF Jumlah Belanja Bruto 44.703.692.735.706.249 82.978 12.550 86.365.988 4.335.000 41.994 7.058.82% Jumlah Belanja Neto 1.372.69% 9 DJKN 119.253 135.585 49.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perbandingan pagu dan realisasi Belanja Modal per unit eselon I dapat dilihat pada Tabel 44 berikut.601.550 178.421.247 1.494.440 14.302.099.753) -22.686.794.87% 10 BAPEPAM DAN LK 11 BPPK 12 BKF 41.564.734 88.690.686.546.416.228.849.40% 8 DJPB 289.686.234.356.079 4.672.879.777.791.445.13% 4 DJPK 19.671.829.19% 140.482.219.997 171.05% 2 ITJEN 9.533.513 109.069.000 326.580.227.046.454.000 19.000 1.620 1452.250 79.634.22% 5 DJBC 446.343.14% 688.714.235 (8.891.818.816.03% 9 DJKN 101.876.994.734 124.218.054.481.579.080.098.754 9.756.005) -47.330 170.276 91.000 % 450.582.946.599.706.481.374.756.000 4.88% 4 DJPK 27.07% 241.118 (9.746 17.585 648.734 75.893 38.66% 4.255.330 72.263.634.678) -66. Tabel 45 Perbandingan Realisasi Belanja Modal TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) NO.247 71.582.64% 8 DJPB 350.054 155.88% Pengembalian Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 60 .965.302.645.390.267.603.06% Pengembalian Jumlah Belanja Neto 2.876.010.048.818.461 12.412.227.69% 446.599.645.249 176.883.253.811.046.957.000 9.734 428.858 49.858 93.957.153.714.82% 2.452.190 113.816.016.541.664.377) -16.692.850.725.00% 4 DJP 342.099.069.229.440 94.937.261.592 98.684.791.00% 1.194.630 113.674.931.030.059 64.000 154.048. Tabel 44 Realisasi Belanja Modal Per Eselon I TA 2010 (dalam rupiah) NO.752.994.952.746 84.746 72.883.869.273 15.290.000 289.267.

Pada GKN Jayapura terdapat proyek rehabilitasi dengan pagu sebesar Rp37.3. Pembangunan fisik belum dapat dilakukan karena bangunan lama yang ada belum laku dijual.211.211. Efesiensi harga pengadaan hasil lelang belanja modal yang dilaksanakan dengan lelang umum maupun secara e-procurement.00 Realisasi Belanja Pembayaran Kewajiban Utang TA 2010 adalah sebesar Rp1.977 1. Rekonsiliasi Penerimaan Direktorat Jenderal Pajak Dalam rangka menjaga validitas data realisasi pendapatan.093.487. 4.794 25.4.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rendahnya realisasi Belanja Modal disebabkan oleh hal-hal berikut: 1.020.276.113. CATATAN PENTING LAINNYA 1.487.977.01 persen apabila dibandingkan dengan pengeluaran yang sama untuk TA 2009.00% 1.321.321.977 1.2.321. Pembayaran Imb.211.057.373.057.782.000. Komposisi realisasi Pembayaran Kewajiban Utang tersebut dapat dilihat pada Tabel 46 berikut.4.782.000. Adanya keterlambatan dukungan dari instansi terkait.00.903) -100.393.183 264.935.01% Pembyrn Imb. Rekonsiliasi dilaksanakan dengan tujuan untuk menguji bahwa jumlah penerimaan pajak yang disajikan sebesar Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 61 .424.321.903 (20. B. Belanja Modal Gedung dan Bangunan yang dilakukan baru sebatas Perencanaan Konstruksi dan Manajemen Konstruksi. Demikian pula untuk renovasi beberapa gedung di Kementerian Keuangan juga mengalami gagal lelang.211. Pada Setjen terdapat proyek pengadaan lift Gedung Keuangan Negara (GKN) Bandung yang batal dilaksanakan karena mengalami gagal lelang dengan pagu sebesar Rp2.505. Pada DJP terdapat realisasi anggaran proyek PINTAR yang bersumber dari Belanja Modal sebesar Rp202. Bunga Pajak 1.649. Tabel 46 Realisasi Pembayaran Kewajiban Utang TA 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian TA 2010 TA 2009 Kenaikan/(Penurunan) % B. khususnya untuk data penerimaan pajak telah dilakukan rekonsiliasi antara DJP selaku pengguna anggaran dengan DJPB selaku Bendahara Umum Negara.00 tidak dapat direalisasikan kegiatannya pada TA 2010 karena proses pengadaan masih berjalan dan kontrak-kontraknya baru akan ditandatangani pada triwulan pertama tahun 2011 serta adanya keterlambatan No Objection Letter (NOL) untuk beberapa kegiatan yang didanai dari PHLN.00.393.000. Bunga Bea & Cukai 0 20.575.429.487.697 25.000.697. Realisasi Pembayaran Kewajiban Utang TA 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp264. 977. 3.00 yang merupakan imbalan bunga atas keterlambatan pembayaran pengembalian kelebihan pajak. 2. untuk perijinan dan rekomendasi pembangunan.280 264. 5.00 atau 25.505. Pembayaran Kewajiban Utang Realisasi pembayaran kewajiban utang Rp1.452.01% Jumlah B.487.2.

4/2011. Program PINTAR Direktorat Jenderal Pajak Tim Pendampingan PINTAR telah dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 337/KM.726. Penarikan dana tersebut dilakukan karena terjadi pergeseran penandatanganan kontrak dari sebelumnya pada Januari 2010 menjadi awal Maret 2010. DJPB dan DJP pada tanggal 28 Februari 2011 telah menyelenggarakan Rekosiliasi Pendapatan Perpajakan dengan hasil Berita Acara Rekonsiliasi Nomor: BAR-130/SM II/PB.00 telah didukung uang (kas) yang masuk ke negara dengan jumlah yang sama. Terhadap angka penerimaan telah dilakukan koreksi pada SAI audited. Dari rekonsiliasi tersebut diperoleh data penerimaan yang unmatch sebesar Rp274. Terhadap transaksi penerimaan SAI dan SAU unmatch tersebut.05/2007.021. Dikarenakan perubahan dalam penandatanganan kontrak tersebut.111.II/PB. Rekonsiliasi Penerimaan dan Pengembalian Penerimaan Perpajakan tingkat Eselon I. DJBC dengan surat Direktur PPKC Nomor S-129/BC.000.64/2011.291. 2.879.64/2011 tanggal 16 Februari 2011 sebagaimana terakhir dilakukan rekonsiliasi pada tanggal 20 Mei 2011 dengan Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) Nomor : BAR-166/SM.992.64/2011 tanggal 16 Februari 2011.6. Rekonsiliasi Penerimaan Dan Pengembalian Penerimaan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJBC telah mencatat penerimaan berdasarkan bukti setor SSPCP/SSBP secara berjenjang (bottom-up) dari tingkat Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) dan telah dilakukan rekonsiliasi secara berjenjang sesuai tingkat unit akuntansinya sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor:171/PMK.728. Dalam pelaksanaan proyek PINTAR tersebut selama tahun 2010. 3. terjadi pergeseran waktu pelaksanaan program PINTAR yang semula dari 2010 – 2015 menjadi 2011 – 2016.777.8/2011 tanggal 2 Maret 2011 tentang Tindak Lanjut Rekonsiliasi Penerimaan Perpajakan atas BAR-51/SM II/PB.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rp707.00. DJP telah mengusulkan revisi anggaran berupa penarikan dana PINTAR untuk TA 2010 dan TA 2011. Piutang Perpajakan dan SP3DRI DJBC Tahun anggaran 2010 melakukan tindakan sebagai berikut: Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 62 .1/2010 tentang Pembentukan Tim Pendampingan Project For Indonesian Tax Administration Reform (PINTAR).00 dengan tetap memperhitungkan kemungkinan terjadinya perubahan dan/atau penyesuaian penarikan dana di masa datang yang sangat tergantung dengan saat dimulainya pekerjaan atau adanya perubahan term of payment pada draft bidding document yang digunakan sebagai dasar perhitungan dari kontraktor. Dengan demikian tidak ada selisih lagi antara SAI dan SAU. Terhadap selisih penerimaan SAI dan SAU unmatch tersebut telah ditelusuri lebih lanjut sehingga semua selisih penerimaan dapat dijelaskan dan dapat diterima. karena berdasarkan penelitian jumlah tersebut telah diterima di Kas Umum Negara (KUN) dengan MAP Pajak.992. DJBC sebagai Pengguna Anggaran dan DJPB sebagai Bendahara Umum Negara telah melaksanakan rekonsiliasi pada tanggal 16 Februari 2011 dengan hasil Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) Nomor : BAR-51/SM II/PB. Nilai penarikan dana yang telah diusulkan sebesar Rp362.

395.772.125 26.996.4/2011 masih terdapat selisih sebesar Rp279.092.052.716.785 104.091 26.II/PB.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) a. c.907.071 Atas hasil rekonsiliasi SAI DJBC dengan SAU dan dengan pertimbangan bahwa penerimaan diakui berdasarkan uang yang masuk ke kas Negara maka akun penerimaan dikoreksi sebagai berikut: .180. Hasil rekonsiliasi tanggal 20 Mei 2011 dengan Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) Nomor : BAR-166/SM.110.Terdapat transaksi sebesar Rp68. Meneliti data SAI dan SAU unmatch dengan membandingkannya dengan data MPN . Menginstruksikan kepada KPPBC/KPU yang memiliki transaksi penerimaan unmatch Tahun 2010 untuk melakukan penelusuran dan memberikan jawaban konfirmasi pada kesempatan pertama.099 29.052.346 162. b.741 nilai trx trx 2 15 1 18 .700. DJBC telah mengajukan reklasifikasi kepada Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan sesuai Surat Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor S-128/BC.660 trx 102.Terhadap sisa data SAI unmatch yang belum ditelusuri maka akan dikurangkan sedangkan terhadap data SAU unmatch akan ditambahkan dalam LRA DJBC sesuai kode satker hasil pemetaan dengan data MPN.288. Melakukan asistensi kepada Satuan Kerja dengan volume unmatch yang relative besar.975 dengan rincian sebagai berikut: MAP 411511 412111 412211 Unmatch SAI 348.106. .631 493.00 tidak tercatat di SAI karena penerimaan ini sebenarnya adalah potongan SPM (penerimaan pajak) namun dicatat sebagai penerimaan DJBC. .Terhadap data partial match yang elemen nilai antara SAI dan SAU berbeda maka dilakukan koreksi atas nilai SAI tersebut. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 63 . akan dilakukan reklasifikasi akun sesuai MAP SAU.288.285 1.031 6.346 SAU nilai 467.00 yang tercatat di SAI sebagai pendapatan bea keluar (412211) namun di SAU dibukukan sebagai pendapatan anggaran lain-lain.461. c.052.446.716 2 68. Dalam hal kode satker tidak diketahui maka akan dicatat sebagai penerimaan Satker Kantor Pusat. SAI nilai 136.008 trx 28.865. Berdasarkan hasil penelitian diatas dan pembahasan dengan Tim BPK dan Setjen Kementerian Keuangan maka: a.Terhadap data partial match yang elemen MAP antara SAI dan SAU berbeda namun nilai keduanya sama. .735 348.975 56. Nilai Unmatch Penerimaan SAI DJBC dengan SAU yang masih harus ditindaklanjuti oleh DJBC yaitu: ELEMEN Unmatch IV Hasil rekon yang masih harus dijelaskan Unmatch b.650.725 1.716 2 SAU nilai 4.607.575.13/2011 tanggal 10 Mei 2011 hal Permohonan Perubahan Akun Penerimaan Bea Keluar.741.763. Atas perbedaan MAP tersebut.Terdapat dua transaksi sebesar Rp348.6.

Perusahaan calon penerima insentif BM DTP mengajukan penandasahan RIB (Rencana Impor Barang) kepada Instansi Pembina Sektor (IPS). Kuasa PA Belanja Subsidi BM-DTP menerbitkan SPM kepada Kuasa BUN dalam hal ini KPPN Jakarta II untuk diterbitkan SP2D Pengesahan. 3) Proses Execution (Pelaksanaan) yaitu: a. 4) Proses Accountability & Reporting (Pertanggungjawaban dan Pelaporan): a. Setiap Triwulan dilakukan rekonsiliasi antara realisasi penerimaan BM DTP Satker Kantor Pusat DJBC.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 4. dan Kuasa BUN. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran Instansi Pembina Sektor mengajukan RKAKL alokasi belanja subsidi insentif BM DTP yang akan diberikan kepada perusahaan penerima kepada Ditjen Anggaran untuk selanjutnya diterbitkan DIPA Belanja Subsidi BM DTP.05/2010 secara umum yaitu: 1) Proses Planning (Perencanaan) yaitu berdasarkan permohonan dari Instansi Pembina Sektor. realisasi belanja subsidi BM DTP Satker Belanja Subsidi Instansi Pembina Sektor. Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan memberikan insentif fiskal BM-DTP kepada perusahaan dengan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan pemberian BM DTP. Berdasarkan SKMK pemberian BM DTP tersebut. b. c. e. Selanjutnya RIB yang telah ditandasahkan oleh perusahaan diajukan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai u. Selanjutnya Laporan realisasi BM DTP beserta dokumen SSPBC+PIB ditatausahakan dan disampaikan kepada Satker Belanja Subsidi BM-DTP dalam hal ini Instansi Pembina Sektor sebagai dasar penerbitan SPM. c. Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM-DTP) Mekanisme Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Atas BM DTP sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 63/PMK. d.p Direktur Fasilitas Kepabeanan. Berdasarkan dokumen PIB+SSPCP BM DTP dari DJBC. Menteri Keuangan setiap tahunnya menetapkan sektor-sektor industri yang mendapat insentif fiskal berupa BM-DTP sesuai kriteria penilaian tertentu. perusahaan melaksanakan importasi barang dan menyelesaikan formalitas kepabeanan di KPPBC pelabuhan bongkar. b. 2) Proses Budgeting (Penganggaran) yaitu berdasarkan penetapan insentif fiskal per sektor. KPPBC pelabuhan bongkar melakukan pemotongan kuota BM DTP dan menatausahakan dokumen PIB+SSPCP BMDTP serta mengirimkan laporan realisasi BM DTP beserta dokumen terkait kepada Kantor Pusat DJBC. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 64 . SSPCP BM DTP sebagaimana dimaksud huruf c digunakan sebagai dasar untuk mencatat Laporan Realisasi Penerimaan BM DTP yang dicatat oleh Satker Kantor Pusat DJBC. SPM dan SP2D Pengesahan sebagai tersebut huruf d digunakan sebagai dasar pencatatan realisasi belanja subsidi BM DTP yang dicatat oleh Satker Belanja Subsidi BM DTP melalui Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain.

Instansi Teknis Pembina Sektor dalam hal ini berfungsi sebagai pemberian penandasahan RIB (Rencana Impor Barang) dari Perusahaan yang dapat diberikan subsidi BM DTP. Proses Pengajuan SPM Belanja Subsidi BM DTP di KPPN Jakarta II baru dapat dilaksanakan pada bulan Desember 2010 karena petunjuk pelaksanaan yang mengatur mengenai penerbitan SPP.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) ALUR PROSES BISNIS BM DTP 5) Permasalahan Secara umum pelaksanaan BM DTP melibatkan beberapa instansi yaitu: a. Dalam pelaksanaan BM DTP Tahun 2010 ini masih ditemukan kendala-kendala terutama dalam proses pertanggungjawaban BM DTP yaitu: a. KPA Belanja Subsidi Instansi Pembina Sektor dalam hal ini berfungsi dalam penerbitan SPM belanja subsidi BM DTP. e. d. Direktorat PPKC dalam hal ini berfungsi dalam penatausahaan realisasi penerimaan BM DTP untuk selanjutnya disampaikan kepada Bagian Keuangan KP DJBC. f. akuntansi realisasi belanja subsidi BM DTP. Kuasa BUN dalam hal ini KPPN Jakarta II yang berfungsi dalam penerbitan SP2D Pengesahan Belanja Subsidi BM DTP. b. KPPBC/KPU Bea dan Cukai dalam hal ini berfungsi dalam pelayanan importasi BM DTP termasuk pemotongan kuota BM DTP dan penatausahaan BM DTP serta pengiriman dokumen PIB+SSPCP. Bagian Keuangan KP DJBC dalam hal berfungsi dalam akuntansi realisasi penerimaan BM DTP dan rekonsiliasi dengan realisasi belanja subsidi BM DTP. dan Penerbitan SP2D Pengesahan BM DTP baru diterbitkan pada bulan November 2010 melalui Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 44/PB/2010. c. Direktorat Fasilitas Kepabeanan dalam hal ini berfungsi dalam pemberian SKMK fasilitas BM DTP dan penyampaian dokumen PIB+SSPCP BM DTP kepada KPA Instansi Pembina Sektor. SPM. dan rekonsiliasi dengan BUN dan DJBC. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 65 .

Tekstil dan Aneka. b. b. Selama tahun 2010 ini DJBC melakukan hal-hal sebagai berikut: a. f. c. dan Para Instansi Pembina Sektor untuk menyakini realisasi BM DTP yang akan dipertanggungjawabkan baik oleh DJBC maupun oleh Instansi Pembina Sektor. Instansi Pembina Sektor dan KPPN Jakarta II untuk mendapatkan persepsi yang sama mengenai alur proses BM DTP dan fungsi masing-masing pihak dalam proses BM DTP. Realisasi importasi dengan menggunakan fasilitas BM DTP masih dimungkinkan terjadi sampai dengan akhir tahun 2010 mengingat batas waktu penggunaan fasilitas tersebut sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 07/PMK. Terkait dengan koordinasi antara DJBC dengan Instansi Pembina Sektor diperoleh kejelasan penanggung jawab dari masing-masing Instansi Pembina Sektor yang berfungsi dalam penerbitan dan pengajuan SPM BM DTP kepada KPPN Jakarta II sehingga DJBC dalam hal ini Direktorat Fasilitas Kepabeanan dapat langsung mengirimkan dokumen PIB+SSPCP BM DTP kepada PIC tersebut. diperoleh hasil sebagai berikut: a. Mendorong DJPB untuk dapat segera menerbitkan peraturan yang mengatur mengenai proses penerbitan SP2D BM DTP di KPPN sehingga realisasi penerimaan BM DTP dapat diajukan SP2D Belanja Subsidinya oleh Instansi Pembina Sektor. Mengajukan permohonan dispensasi kepada Direktur Jenderal agar masih dapat memproses SPM belanja subsidi BM DTP tahun 2010 yang diajukan setelah tanggal 20 Desember 2010 sampai dengan tanggal 15 Januari 2011 mengingat batas waktu penggunaan fasilitas BM DTP Tahun 2010 adalah tanggal 31 Desember 2010 untuk memberikan waktu bagi DJBC maupun Instansi Pembina Sektor untuk pengajuan SPM Belanja Subsidi BM DTP.011/2010 adalah sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. d. Menyelenggarakan pertemuan mediasi berdasarkan rekomendasi Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan antara Ditjen Perbendaharaan. c. Mesin. Belum adanya penunjukan Pejabat Pembuat Komitmen Belanja Subsidi Tahun 2010 di Ditjen Industri Logam. dan Para Instansi Pembina Sektor pada tanggal 19 Januari 2011 untuk menyelesaikan angka realisasi BM DTP Tahun 2010 yang belum dikeluarkan SP2Dnya. KPPN Jakarta II. KPPBC/KPU BC. Masih terdapat data realisasi impor BM DTP yang perlu diklarifikasi oleh DJBC dan Instansi Pembina Sektor. e. Belum pahamnya Instansi Pembina Sektor mengenai alur bisnis BM DTP khususnya dalam hal pertanggungjawabannya sehingga sering timbul permasalahan bahwa dokumen SSPCP dan PI.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) b. Terkait dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan yang mengatur mengenai Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 66 . e. Melakukan klarifikasi data realisasi penerimaan BM DTP Tahun 2010 antara Kantor Pusat. 6) Upaya Yang Telah Dilakukan DJBC Untuk mengantisipasi permasalahan yang timbul sebagaimana tersebut diatas. 7) Capaian DJBC Berdasarkan upaya-upaya yang telah dilakukan DJBC. d. DIPA Belanja Subsidi Instansi Pembina Sektor (Badan POM) Tahun 2010 masih dalam proses pengesahan sampai dengan bulan Desember 2010. sedangkan batas waktu pengajuan SPM ke KPPN paling lambat tanggal 31 Desember 2010. Melakukan koordinasi antara DJBC.

Terkait dengan penyelesaian angka realisasi BM DTP yang belum dapat di SP2Dkan sampai dengan awal Januari 2011. Ditjen Perbendaharaan telah mengeluarkan peraturan dimaksud dan mulai efektif dilaksanakan pada pertengahan Desember 2010. Menurut keterangan dari Direktorat terkait. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 67 .Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) proses penerbitan SP2D BM DTP di KPPN. c. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). berdasarkan hasil pertemuan mediasi yang telah dilakukan diketahui bahwa dari empat Instansi Pembina Sektor yang masih terdapat angka realisasi BM DTP tahun 2010 yang belum di SP2Dkan yaitu Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia (Ditjen IAK). terdapat masalah internal karena adanya mutasi pejabat sehingga proses penerbitan SPM BM DTP tidak dapat dilakukan. Direktorat Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara. dan Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur (Ditjen BIM (d/h Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (Ditjen ILMTA) Kementerian Perindustrian) hanya satu yang tidak menindaklanjuti yaitu Ditjen BIM.

432.138.138.870.000.1 PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA 109.046.684 Kenaikan/ (Penurunan) 5.387.153.723.078.214 40.349.708.793.138 C Aset 31 Desember 2010 Catatan atas Laporan Keuangan Kewajiban Ekuitas 31 Desember 2009 Halaman 68 .292.479.061.465.673. dan Ekuitas Dana sebesar Rp108.000 359.00.078 761.52 112. Nilai Kewajiban per 31 Desember 2010 sebesar Rp761.00.417.321.975 108.823.000 761.879.670. dan Aset Lainnya sebesar Rp985.657 5.870.15 Komposisi Neraca per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Grafik 17 berikut.000.650.00 dan Ekuitas Dana Investasi sebesar Rp36.138. Investasi Jangka Panjang sebesar RpNihil.808.938.648.455.529.00.975.00.459.739.00.000 108.06 5.322.322.108.856.00 terdiri dari Aset Lancar sebesar Rp72.322.349.775.067. Nilai Aset per 31 Desember 2010 sebesar Rp109.670.00.564.214.103.322 60.878.00 dan Kewajiban Jangka Panjang sebesar Rp149.000.670.975.000.00 terdiri dari Kewajiban Jangka Pendek sebesar Rp611.209.465 C.938. Aset Tetap sebesar Rp36.991.000 103.318 103.078.872. Grafik 17 Komposisi Neraca Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam juta rupiah) 120.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) PENJELASAN UMUM NERACA Posisi Neraca Kementerian Keuangan pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: Aset sebesar Rp109.076 402. Nilai Ekuitas Dana per 31 Desember 2010 sebesar Rp108.251.00.938.058.670.708. Kewajiban sebesar Rp761.846.000 103.00 terdiri dari Ekuitas Dana Lancar sebesar Rp71.419 % 5.002 359.816.103.000.816.816 100.251 80.000.870.142.067.432.103 103.727.937.000. Komposisi Neraca per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 47 berikut.000 20.067.432.407. Tabel 47 Komposisi Neraca Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian 31 Desember 2010 Aset Kewajiban Ekuitas Dana 31 Desember 2009 109.00.432.816.975.

384. 00.00 merupakan saldo rekening koran bank yang dibuka oleh Bendahara Pengeluaran untuk kepentingan operasional.586 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Halaman 69 .612.726 205.207 (207.253.371. Posisi Kas di Bendahara Pengeluaran pada unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 48 berikut.614.584 932. Tabel 48 Kas di Bendahara Pengeluaran Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I 31 Desember 2010 SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BPPK Jumlah 31 Desember 2009 44.268.253.708. Seluruh saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 telah disetorkan ke Kas Negara pada TA 2010.586 Kenaikan/ (Penurunan) 25.2.95) Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp2.023) % 0.00.54) (100.838 470.465 413.334) (1.436.436.563.253.058 443.253.757.141.354 117.563.895 707.18) (93.895 707. Tabel 49 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Per 31 Desember 2009 (dalam rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Uraian Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BPPK Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Saldo Kas 44.508.334.584 932.910.045 262.021.912 4.95 (41.265 726.726 205.584 932.726 205.058 443.1 Aset Lancar C.258 44.954 489. Rincian daftar rekening bank dapat dilihat pada Lampiran Daftar Rekening Dipertahankan.578 2.570 (294.708.268. Saldo tersebut merupakan saldo Uang Persediaan yang belum disetor dan bukti-bukti pengeluaran yang belum dipertanggungjawabkan Bendahara Pengeluaran ke Kas Negara pada tanggal neraca.703.612.912 4.89 (44.294.436.842.149 0 0 1.265 726.00 Nilai Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp2.838 470.838 470.912 4.277.354 117.265 726.00) 36.996.757.895 707.954 489.058 443.141.584) 344.563.268.704.586.996.00) (100.88) (43.543.563 44.842.586 Penyetoran ke Kas Negara TA 2010 Sisa kas yang belum disetor ke Kas Negara 44.543.996.614.708. Penyetoran saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Per Eselon I sampai dengan tanggal neraca dapat dilihat pada Tabel 49 berikut.021.021.934.2 PENJELASAN PER POS NERACA C.543.141. saldo kas tunai (brankas).2.767.954) (489.354 117.1 Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Pengeluaran Rp Rp2.06 (100.141.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.068 0 211.563.954 489.007) (682.990) (443.614.543.726) 5.021.004.842.996.00 dan Rp4. dan kuitansi-kuitansi yang belum dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran.176.757.00) 2.795 (117.757.612.1.

879 11.760.97) 0.512.035.013.640.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Sedangkan saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2010 yang telah disetorkan ke Kas Negara pada TA 2011 sebesar Rp2. Penyetoran saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Per Eselon I sampai dengan tanggal neraca dapat dilihat pada Tabel 50 berikut.760.567) 11.566.00 dan sisanya masih berada di rekening Bendahara Pengeluaran DJPB sebesar Rp30.578 2.103.032 262.915.66) (62.00 (64.703. Kas di Bendahara Penerimaan Rp4.00.223.00.703.580.2.156 3.117.915.176.446 0 11.550.068 180.013 0 0 30.757.149 1.349.362.258 44.294.277.294. baik saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai yang berada di bawah tanggung jawab Bendahara Penerimaan yang belum disetor ke Kas Negara.465 413.580.176.00 terdapat pada Kanwil DJPB Propinsi Kalimantan Timur karena telah terjadi pencurian uang di brankas.349.87) Halaman 70 .563 Penyetoran ke Kas Negara TA 2011 Sisa kas yang belum disetor ke Kas Negara 44. Tabel 51 Kas di Bendahara Penerimaan Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I DJBC DJKN BPPK Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 315.068 211.550. Tabel 50 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No 1 2 3 4 5 6 Uraian Eselon I SETJEN DJP DJBC DJPB DJKN BPPK Jumlah Saldo Kas 44.000 (7.013.508.640.731.035.033.704.775.253.727) (6.550 0 0 0 30.045 262.371. Penetapan kerugian negara masih menunggu hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan.477.329 Kenaikan/ (Penurunan) (1.1.465 413.149 1.294) % (78.2 Kas di Bendahara Penerimaan Nilai Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp4.508.035 1.883 10.258 44.330.640. Nilai tersebut mencakup seluruh kas.329. 00 C.068. Posisi Kas di Bendahara Penerimaan pada unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 51 berikut.068.258.117.349.640.000 4.277.704.068.223.161.741.881.578 2.00 dan Rp11.013 Sisa Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp30.

00 dan Rp1.000 4. Tabel 53 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Penerimaan Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No Kode Perkiraan Uraian Eselon I 1 2 3 111711 DJBC 117111 DJKN 117111 BPPK Jumlah Saldo Kas 315.258.035 Penyetoran ke Sisa kas yang belum Kas Negara TA 2011 disetor ke Kas Negara 315.035 0 Seluruh saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2010 telah disetorkan ke Kas Negara pada TA 2011.000 0 4.068.156 0 3.741.760.741.709. dan uang pihak ketiga yang belum dibayarkan kepada yang bersangkutan.103.349. C. pengembalian Belanja TA 2010 (SSPB) yang belum disetor ke Kas Negara per 31 Desember 2010.258.881. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 71 .330.1.477.883 10. Pendapatan bunga jasa giro yang berasal dari rekening Bendahara Penerimaan yang belum disetor dilihat di akun Kas di Bendahara Penerimaan. Posisi Kas Lainnya dan Setara Kas pada unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 54 berikut.248.349.760.446 0 11.580.3 Kas Lainnya dan Setara Kas Kas Lainnya dan Setara Kas Rp2.915.156 3.033.103.149.062.580.915.211.879 11.329 Penyetoran ke Sisa kas yang belum Kas Negara TA 2010 disetor ke Kas Negara 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Penyetoran saldo Kas di Bendahara Penerimaan setelah tanggal neraca dapat dilihat pada Tabel 52 dan 53 berikut.2.881. baik saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai yang berada di bawah tanggung jawab Bendahara Pengeluaran.879 0 11.248.068. 00 Nilai Kas Lainnya dan Setara Kas per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp2.709.329 0 Seluruh saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31 Desember 2009 telah disetorkan ke Kas Negara pada TA 2010.487. Nilai tersebut terdiri dari bunga dan jasa giro rekening Bendahara Pengeluaran yang belum menerapkan Treasury Notional Pooling (TNP).149.446 11.00.033.330.477. Tabel 52 Penyetoran Saldo Kas di Bendahara Penerimaan Per 31 Desember 2009 (dalam rupiah) No Kode Perkiraan Uraian Eselon I 1 2 111711 DJBC 117111 DJKN Jumlah Saldo Kas 1.883 0 10.

709.643.149.248.949 40.77) 0.637.358 132.331.070 97.920.331.661 87.00.300 662.201.070 97.012.848 241.00 44.55 Saldo Kas Lainnya Di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2009 sebesar Rp1.001 933.697 22.062. Tabel 55 Penyetoran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Ke Kas Negara Per 31 Desember 2009 (dalam rupiah) Kode Akun Debit 111821 111821 111821 111821 111821 111821 Kode Akun Kredit 212411 212411 212411 212411 212411 212411 Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Uraian Eselon Saldo Kas Per 31 Penyetoran ke Kas Negara Sisa Kas yang belum 1 Desember 2009 dalam TA 2010 disetor ke kas negara SETJEN DJP DJBC DJPB DJKN BPPK 1.65 (39.557 142.845 0 0 6.905.913.481.050 65.296.891) 29. Saldo tersebut telah seluruhnya disetor ke kas negara dan diserahkan kepada pihak lain pada Tahun Anggaran 2011.377 50.001 933.38) 0.848 241.313.007 0 0 0 0 0 0 0 Halaman 72 .022.841.062 SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah Kenaikan/ (Penurunan) (1.546.00.133 418.378.848 0 994.670 0 1. Saldo tersebut telah seluruhnya disetor ke kas negara dan diserahkan kepada pihak lain pada Tahun Anggaran 2010.170 420.022.436.007 1.378. Penyetoran saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran ke Kas Negara dan Pembayaran Kepada Pihak Lain per 31 Desember 2009 dapat dilihat pada Tabel 55 dan Tabel 56 berikut.498.022.022.845 6.377 50.211.012. Saldo Kas Lainnya Di Bendahara Pengeluaran per 31 Desember 2010 sebesar Rp2.546.920.779 29.913.87) (76.217) (109.445 298.893 (118.300 2.822.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 54 Kas Lainnya dan Setara Kas Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 0 347.248 1.709.697 44.436.715) 418.643.313.551.00 0.546.00 (93.437.338 179.211.340 33.149.170 420.487.81 196.845) 347.00) 0.658.229.949 33.184.845 6.114.00 513.387.050 (928.487.186 % (100.697 22.

967.300 0 1.949 12.535.470.855.404.649.825.012.358 43.309.220.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 56 Pembayaran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Kepada Pihak Lain Per 31 Desember 2009 (dalam rupiah) No Kode Akun Debit 1 2 3 4 111821 111821 111821 111821 Pembayaran Kode Akun Saldo Kas Per 31 Sisa Pembayaran Uraian Eselon 1 Kepada Pihak Lain Kredit Desember 2009 Kepada Pihak Lain dalam TA 2010 211291 211291 211291 211291 Jumlah DJBC DJPB DJKN BPPK 22.304.535.000 27.436.000 0 27.000 752.012.779 29.533 0 Terdapat saldo Dana Operasional Taktis Pengamanan Penerimaan Negara (DOTPPN) sebesar Rp597.066.055 1.133 33.180 92.000 752.436.000 15.585 0 124.753 132.647 0 33.001 0 933.533 294.437.855.00 yang merupakan dana untuk membiayai kegiatan Kementerian Keuangan dalam rangka mengamankan keuangan negara.300 1.753 0 54.288.375 200.795.288.114.000 30.066.833.518.304.585 124.220.874.437.500 22.050 0 49.124.404.693 0 418.358 0 43.133 0 15.779 0 29.795.500 0 0 0 0 1.715 0 Tabel 58 Pembayaran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Kepada Pihak Lain Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No 1 2 3 4 5 6 Kode Akun Kode Akun Debit Kredit 111821 111821 111821 111821 111821 111821 211291 211291 211291 211291 211291 211291 Jumlah Uraian Eselon 1 ITJEN DJP DJBC DJPB DJKN BPPK Pembayaran Saldo Kas Per 31 Sisa Pembayaran Kepada Pihak Lain Desember 2010 Kepada Pihak Lain dalam TA 2011 30.366.693 418.309.000 0 294.649.375 200.050 49.180 92.000 0 132.949 12.647 54.825.470. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 73 . Tabel 57 Penyetoran Saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran Ke Kas Negara Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Kode Akun Debit Kode Akun Kredit Uraian Eselon Saldo Kas Per 31 1 Desember 2010 111821 111821 111821 111821 111821 111821 111821 111821 212411 212411 212411 212411 212411 212411 212411 212411 JUMLAH ITJEN DJA DJP DJBC DJPB BAPEPAMLK BPPK BKF 316.114.967.715 Penyetoran ke Sisa Kas yang belum Kas Negara disetor ke kas negara dalam TA 2011 316.874.833.015.015.001 933.055 0 Penyetoran saldo Kas Lainnya di Bendahara Pengeluaran ke Kas Negara dan Pembayaran Kepada Pihak Lain per 31 Desember 2010 pada TA 2011 dapat dilihat pada Tabel 57 dan Tabel 58 berikut.518.

070.722. 6.076.000 20.000. Kas Di Bendahara Penerimaan selain kewajiban setor Kas Negara dan Kas di Bendahara Pengeluaran. 18.00 di Setjen merupakan besaran kas di bank milik PIP (baik dalam bentuk giro maupun deposito dengan masa sampai dengan tiga bulan). 19.1.225.000 183.000. 7.147.535.070.000.722. 15.000 256.000.172 5.535.988.011 401.918 684.825.500. 10.152. 12. 076.375 1.238.555.207.000.722.227.466.000 37.147 Halaman 74 .69 52.691. Nama Bank 2 Deposito BRI Deposito Bank Mandiri Deposito BNI Deposito BTN Deposito Bank Bukopin Deposito Bank bjb Deposito BTPN Deposito Bank DKI Deposito BRI Syariah Deposito Bank Muamalat Deposito Bank Syariah Mandiri Deposito Bank bjb Syariah Deposito Bank Bukopin Syariah Kas di Bendahara pengeluaran Kas di Bendahara penerimaan Kas BLU yang dibukukan pada RIDI Kas di Rekening IGIF Kas di Bank Kustodian Kas yang berada pada pihak ketiga Pembulatan Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan Jumlah Rupiah 3 115.000.070.227.000 108.085.000 40.771.000.085.4 Kas pada BLU Kas pada BLU Rp1.340 25. 8.000.360.500. 3.670.2.014.000. Tabel 59 Kas pada Badan Layanan Umum Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I SETJEN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 1.893. Rincian saldo Kas pada BLU PIP sebagai berikut: Nomor 1 1.227. Posisi Kas pada Badan Layanan Umum pada unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 59 berikut.977.744.00 Nilai Kas pada Badan Layanan Umum per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp1.147 14. 11.500.000. 16.000 50. 9.238.00. 4.332 100 1.00 dan Rp684.60 Penjelasan Kas pada Badan Layanan Umum 1.166.000.000.000. 13.000.076 674.975 9. Nilai sebesar Rp1.44 58.893 Kenaikan/ (Penurunan) 396.183 % 58.929 1.000 10.000.000.000.555. 5.615.085.000.500. 2.000.945.000.729.000 22.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.238.000 15.000.744.000 193. 20.744. 17. 14.000 35.000.000 140.763.

945.00 11.727.2.5 Piutang Pajak Piutang Pajak Rp70.440.008.446.00 atau 11.658.945.000) 14.Cek Beredar Kas Tunai .286. Rincian Piutang Pajak per Jenis Pajak per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 61 berikut.180 Kenaikan/ (Penurunan) 4.559.887.658.498.934 91.977.063.999.988.500.00 di BPPK merupakan Saldo Kas pada BLU STAN.453.425. Posisi Piutang Pajak pada unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 60 berikut.008.425) 119.008.996 13.271.1.620.540.620.446 .195 70.977. Apabila dibandingkan dengan saldo per 31 Desember 2009 mengalami kenaikan sebesar Rp7.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 2.906.271. Nilai Piutang Pajak pada DJP per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp54.011 7. Nilai sebesar Rp14.448.446.659.Honor yang belum dibayar JUMLAH (1+2) Jumlah 14.498.00 dan Rp63.Kas di Brankas .440 % 8.929.999.278.00 merupakan tagihan pajak yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB).271.00 dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.060.620.Kas di LPMAK .45 persen.100 (15. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) dan Surat Tagihan Pajak (STP) atau Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) yang belum mendapat pelunasan sampai dengan 31 Desember 2010.772.716.060.540.240.843. Uraian Saldo Rekening Koran . Nilai piutang pajak pada DJP di Neraca berbeda dengan Laporan Perkembangan Piutang Pajak Per 31 Desember 2010 sebesar Rp453.823.653. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 75 .00.929 C. Rincian Saldo Kas pada BLU STAN sebagai berikut: No 1.00.02 24.510.271.995 15.945.45 Saldo Piutang Pajak per 31 Desember 2010 sebesar Rp70.401. 2.834 43.045. Hal tersebut disebabkan adanya pembulatan dalam proses jurnal dan telah dijelaskan pada Berita Acara Rekonsiliasi Piutang Pajak antara Bagian Keuangan dengan Sub Direktorat Penagihan terlampir.937.858.446.420 (651.988.823.00 dan Rp49.727.429 3.772.286.887.00 Nilai Piutang Pajak per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp70.586.559.Saldo Rekening Koran .180.165.332. per Tabel 60 Piutang Pajak Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I DJP DJBC Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 54.210.996.945.620 49.425 16.184 63.

349.814.93) 8.716.606.021 3.011.288) 54.638.885.014 158.394.412.766.84 24.619 (78.45 2.859) 120.905.560.322 1.911 492.189 4.519.39 (43.048.332.662.554.004.220.726.300 4.47) 7.539.473 101.654 Kenaikan/ (Penurunan) 314.980 (86.078.931.486 489.17) 25.445.673.528.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 61 Rincian Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Jenis Piutang Piutang PPh Pasal 21 Piutang PPh Pasal 22 Piutang PPh Pasal 23 Piutang PPh Pasal 25 OP Piutang PPh Pasal 25 Badan Piutang PPh Pasal 26 Piutang PPh Final dan Fiskal LN Piutang PPN Dalam Negeri Piutang PPNBM Dalam Negeri Piutang PBB Pedesaan Piutang PBB Perkotaan Piutang PBB Perkebunan Piutang PBB Kehutanan Piutang PBB Pertambangan Piutang BPHTB Piutang PTLL Piutang Bunga Penagihan PPh Jumlah 1.195.606.689.266.341.972 Komposisi Piutang Pajak per Jenis Pajak pada DJP per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Grafik 18 berikut.467.668) (749.472 3.951.263.441.051.270.75) (86.701.294) 125.485.432.023 9.871.996 14.401.327.533.554.339 14.688.663.20 (5.776 220.997 54.207.649 16.617.203.638.139.304. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 76 .203.497 2.386.617 617.403 (5.366 951.889 483.787 1.534.219 2.840.879.121.016.788.877 756.375.633.155.707) (247.060.444 13.871.433.52 (3.585.551.566.448 (775.361.96) (12.799.33) (10.689.888.862.101 535.425 49.996 4.941.542.029.175 3.140 1.484 18.20) 30.240.556.793 280.528 1.626.551.893.931.790 2.727.586.145.690 1.060.393.848.947.493.265 2.034.756 1.755.024.125 279.823.716.847.429 31 Desember 2010 31 Desember 2009 % 33.198.431.406.067.065.268.02 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 62 berikut.145.893.471) 515.384) (14.540.497.889.222.09 (1.495 7.601) 289.736.008.530.637.186 1.784.345.33) (0.057.617.040 474.129.217.862.424.272.999.934.950.391.033.281 1.805.960.030.698 6.758.053.425.008.473.794) (2.566 (41.273.62 41.707.27) 21.452.008.834.854 179.020 388.905.662.894.741. Tabel 62 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Umur Piutang Sampai dengan 1 Tahun Lebih dari 1 Tahun sampai dengan 2 Tahun Lebih dari 2 Tahun sampai dengan 3 Tahun Lebih dari 3 Tahun sampai dengan 4 Tahun Lebih dari 4 Tahun sampai dengan 5 Tahun Lebih dari 5 Tahun Jumlah Jumlah 17.447.084.51 (18.884.133 16.539.470.224.548.805.

pengurangan dan penghapusan sanksi administrasi.530.828.008.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 18 Komposisi Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 0.579.00 dan $1. pengurangan dan pembatalan Surat Tagihan Pajak. Selama TA 2010 nilai piutang pajak yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan untuk dihapusbukukan sebesar Rp45. Dari jumlah tersebut terdapat penyisihan piutang pajak sebesar Rp9.00.00. telah diusulkan penghapusan sebesar Rp202. pembetulan.425.71% PPh PPN dan PPnBM 25.620. nominal ketetapan pajak yang diajukan upaya hukum tersebut termasuk SKPKB/SKPKBT tahun pajak 2008 dan seterusnya hasil pemeriksaan pajak yang tidak disetujui oleh Wajib Pajak yang belum diakui sebagai piutang pajak.00. pembatalan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan pajak. pengurangan.00 tersebut merupakan nilai nominal tunggakan pajak.90 dari piutang pajak sebesar Rp7.699.00.374. gugatan dan peninjauan kembali tersebut yang belum diterbitkan keputusan atau putusan sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 adalah Rp44.569. banding.802. Dari Piutang Pajak yang telah daluwarsa tersebut.980.100.37% 29.240. banding.255.238. Daluwarsa.984. Hal ini disebabkan oleh nilai nominal ketetapan pajak yang diajukan upaya hukum tersebut adalah atas nilai ketetapan pajak awal. Nominal ketetapan pajak kurang bayar yang diajukan keberatan.605. bukan atas nilai piutang pajak.510. penghapusan. DJP memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan. Nilai nominal ketetapan pajak yang diajukan upaya hukum tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan nilai piutang pajak per 31 Desember 2010. dan Penghapusan Piutang Pajak Nilai Piutang Pajak sebesar Rp54. pembetulan.164.00.540.456. Sengketa Pajak Dalam rangka pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 77 . Selain itu. DJP telah melakukan penyitaan terhadap harta benda Wajib Pajak sebagai jaminan piutang pajak yang tidak dilunasi Wajib Pajak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.00.859. Barang Sitaan dalam Rangka Penagihan Pajak Dalam rangka melaksanakan penagihan pajak dengan surat paksa.913.73% 40.229. Nilai estimasi harga pasar aset Wajib Pajak yang dilakukan penyitaan yang belum dilakukan penjualan secara lelang dan/atau penjualan yang dikecualikan dari lelang sebesar Rp2. gugatan dan peninjauan kembali. pengurangan dan pembatalan surat ketetapan pajak.19 serta €7. Nilai piutang yang disisihkan tersebut termasuk piutang yang telah daluwarsa penagihannya sebesar Rp Rp2.060.904.719.19% 3.239.018.99% PBB BPHTB PTLL Bunga Penagihan Penyisihan. pembatalan.643.227.451.

SP3DRI yang telah dibayar oleh Wajib Pajak senilai Rp8.784.974.425.518.294.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) SP3DRI Surat Pemberitahuan Piutang Pajak Dalam Rangka Impor (SP3DRI) merupakan pemberitahuan dari DJBC yaitu KPPBC kepada DJP melalui KPP terkait.057.00. Sesuai dengan SE-78/PJ.663. penelitian/pemeriksaan dan menerbitkan SKPKB atas pajak-pajak yang terutang sebagaimana tercantum dalam SP3DRI tersebut.184. 2. Data SP3DRI dari DJBC yang diterima Kantor Pelayanan Pajak selama Tahun Anggaran 2010 senilai Rp125.107./2008 atas data SP3DRI yang diterima telah ditindaklanjuti dengan hasil sebagai berikut: 1.094. Piutang pajak merupakan tagihan pajak yang telah mempunyai surat ketetapan yang dapat dijadikan kas dan belum diselesaikan pada tanggal neraca yang diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun./2008 tanggal 18 Desember 2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindak Lanjut Surat Pemberitahuan Piutang Pajak Dalam Rangka Impor (SP3DRI).00.240.971. Setelah dilakukan cek fisik atas SP3DRI diketahui bahwa terdapat selisih antara rekapitulasi SP3DRI dengan dokumen fisiknya sebesar Rp1. Hasil rekapitulasi lebih besar daripada dokumen fisiknya.00. SP3DRI yang sudah dilunasi oleh Wajib Pajak sebesar Rp1.650.00 3. SP3DRI yang dilakukan klarifikasi dan himbauan kepada Wajib Pajak Importir dan belum diterbitkan SKPKB senilai Rp22.210. Surat edaran tersebut antara lain mengatur bahwa KPP dapat melakukan himbauan.380.00.101.407.00. PPnBM dan PPh Pasal 22 dalam rangka Impor yang belum dan/atau kurang dipenuhi. Dalam SP3DRI tersebut antara lain disampaikan bahwa importir (Wajib Pajak) telah melakukan transaksi impor tetapi terdapat kewajiban PPN.238. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 78 .045.817.279.408.937.906.00.624.722. 2. Dari nilai tersebut yang bisa ditindaklanjuti oleh DJP sebesar Rp122. Nilai Piutang Pajak pada DJBC per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp16.00 2.00.063.00 dan Rp13. SP3DRI yang menjadi piutang pajak melalui penerbitan SKP/STP sebesar Rp53. Sedangkan sisanya masih dalam proses penyelesaian. Rincian Piutang Pajak per Jenis Pajak per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 63 berikut.659.255.165. SKPKB sebagai tindak lanjut SP3DRI tersebut digunakan sebagai penambahan piutang pajak dalam Laporan Perkembangan Piutang dari masing-masing KPP. Selisih tersebut berasal dari: 1. Tindak lanjut SP3DRI mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-78/PJ.195. 4. Terdapat selisih antara nilai yang diserahkan dengan nilai yang bisa ditindaklanjuti sebesar R3.

897.870.361.277.426.368 24.492.538.157.937.906.060.000 2.275 16.559.934.402.623.993 9.646.883.180.407.378 84.272.015 409.368 24.159 Piutang Bunga Penagihan PPN 1.180 179.000.052.212 264.448.340 175.437.698 62.616.969.897 1.642.534.101 33.821.274. 3 Thn 125.478.195 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 64 berikut.445.152.271 - - 5.589.159 2.640.180 2.172 175.d.d.645 156.294 17.321 24.108.897 1.640.694.100 64.104.553.201 645.557 5.597.673.808 4.673.125.557 445.000 2.076 4.685 57.174.848 60.100.212 20.347.219 5.085.557.465.526.000 17.870.603.589.133 324.946.433 179.961.323.172 2.854.195 Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 79 .946.245.645.405 11.649.434.342 JUMLAH 700.603.805 15.407.135.000 154.485.301.210.d.403.623.805 700.340 1.980 19.853 12. Tabel 64 Rincian Piutang Pajak Berdasarkan Umur Piutang Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Uraian Akun Bea Masuk Bea Keluar Cukai Hasil Tembakau Cukai MMEA Pabean Lainnya Cukai Lainnya Denda Administrasi Pabean Denda Administrasi Bea Keluar Denda Administrasi Cukai Bunga Bea Keluar PPN Impor PPN Lain PPN Dalam Negeri PPN-BM PPh Pasal 22 Impor 0 s.209.318.851 1.040 175.205 154.491 2 s.922.937.869.538.257 1.060.534 4.496.337.600 294.044.934.933.085.434.853 33.693 208.293.305.168.596 16.700 2.341.821.000 20.809.809.060.300 86.694.897.791.802.608.267.600 8.709 76.929.070.204.738.738.095 > 3 Tahun 421.321 12.197.100.603 15.378.737.896 20.989.815.279 1.108.000 133.853.323.559 445.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 63 Rincian Piutang Pajak Per Jenis Pajak Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Akun 113123 113131 113132 113139 113142 113161 113163 113164 113169 113174 113181 113183 113184 113185 113186 113187 Nama Perkiraan Piutang PPh Pasal 22 Impor Piutang PPN Dalam Negeri Piutang PPN Impor Piutang PPN Lainnya Piutang PPnBM Impor Piutang Cukai Hasil Tembakau Piutang Cukai Minuman mengandung Ethyl Alkohol Piutang Pendapatan Denda Administrasi Cukai Piutang Pendapatan Cukai Lainnya Piutang Bunga Penagihan PPN Piutang Bea masuk Piutang Pendapatan Denda Administrasi Pabean Piutang Pendapatan Pabean Lainnya Piutang Pajak/Pungutan Ekspor Piutang Pendapatan Denda Administrasi Bea Keluar Piutang Pendapatan Bunga Bea Keluar Jumlah Rupiah 57.323.172 1.293.112.526.934. 2 Thn 41.723.358 454.152.969.210.819.275 264.610.433 33.431.232 1 s.897.609.609.646.361.131.015.131.700 2.549.051.559 1.181.305.437.899.000 2.139.305.402.580 16.960.685 12. 1 Thn 113.113.275 76.559.939 821.280.209.899.669.408 426.657.338.532 208.906.800.549.174.

693 208.066 2.559.333 144. 2 Thn 4.069. Macet.660.044.440.205 154.239.267.015.666 26.738.481.000 133.851 1.294 48.985 239.615. Kurang lancar.596 JUMLAH 488.342 821.404.083.249.378 84. dan d.755. ditetapkan apabila umur piutang lebih dari 3 tahun.538.759.800.561 169.426.439. yaitu: 1.948 10.350 876.872.876 1.253.526 129.526 382.718.650.669.806. ditetapkan apabila umur piutang lebih dari 2 tahun sampai dengan 3 tahun. Diragukan.640.131.971 7.327 15.014 300.001. Rincian Penyisihan Piutang Tak Tertagih pada DJBC per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 65 berikut.908 473.636.334.729.659 10.246.486 571.457. kualitas piutang ditetapkan menjadi 4 golongan.d.970 > 3 Tahun 421.960 815.464 428. 3. c.614.434.670 13.424 63.197.892 63. 4.100 876.360 29.140 569.870 6. Tabel 65 Penyisihan Piutang Tak Tertagih Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Bea Masuk Bea Keluar Cukai Hasil Tembakau Cukai MMEA Pabean Lainnya Cukai Lainnya Denda Administrasi Pabean Denda Administrasi Bea Keluar Denda Administrasi Cukai Bunga Bea Keluar PPN Impor PPN Lain PPN Dalam Negeri PPN-BM PPh Pasal 22 Impor Piutang Bunga Penagihan PPN Catatan atas Laporan Keuangan 0 s.538.280. ditetapkan apabila umur piutang lebih dari 1 tahun sampai dengan 2 tahun.902.600 1.521 89.199.718.603 15.946.486 8.648. 5‰ (lima permil) dari piutang dengan kualitas lancar.125.486.615 1. Lancar.000.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Sesuai dengan Peraturan DJBC Nomor P-47/BC/2010 tentang Pedoman Penatausahaan Piutang di DJBC pasal 11 ayat (5).513.437 169.713.501 2 s.326 8.341 1.673.445.532 208.000 2.338.373 82. Penyisihan piutang tidak tertagih ditetapkan sebesar: a.321.629 556.961.737 2.647.896 124.044.313.427.688.d.350.618.381. b.749 420.081 427.229.066 162. 2.120.d. ditetapkan apabila umur piutang belum lebih dari 1 tahun.336 45.873.980.026 Halaman 80 .434.787.170.241.746.229.284.154.864.706 321.288 77.195 25.705.000 77.318.150 43. 3 Thn 62.670 13. 10% (sepuluh perseratus) dari piutang dengan kualitas kurang lancar setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan.815.845.523. 100% (seratus perseratus) dari piutang dengan kualitas macet setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan.105.225.155.990 9.686 3.018.157 124.181.958 1 s.993 9.646.441.048 204.016.824.232. 50% (lima puluh perseratus) dari piutang dengan kualitas diragukan setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan.610.253. 1 Thn 567.

00 (100.212.239. pekerjaan.454 341.798.00.412 (132.11 4. Saldo Piutang Bukan Pajak di DJPB per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp278.362) 255.00 atau 1.862.00.6 Piutang Bukan Pajak Piutang Bukan Pajak Rp59.301.00 dan Rp87.000.858.362. pendapatan DJBC.273. Saldo per 31 Desember 2010 mengalami penurunan sebesar Rp35. Saldo Piutang Bukan Pajak di DJBC per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp34.263 1.940 87.997.362 23.832. 4.922.826.486.694.128. barang atau jasa yang dapat dijadikan kas dan belum diselesaikan pada akhir tahun anggaran dan diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun.00 dan RpNihil.000 278.368.862.610.121.128.00 39.90) 1.00 dan RpNihil.862.852 0 17.128.922 0 0 132.313 7.740.188 (28. Piutang Bukan Pajak DJA merupakan denda keterlambatan atas penyelesaian pekerjaan.826.128.00 Nilai Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp59.21 0.00 dan Rp69.740.362.446 SETJEN DJA DJP DJBC DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK Jumlah Kenaikan/ (Penurunan) 4.862.263.412 0 34. 2.00 0.486.21 persen apabila dibandingkan dengan saldo tahun sebelumnya.524) % 0.806.901.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.922 .219.90 persen apabila dibandingkan dengan saldo tahun sebelumnya karena adanya pelunasan.128 59.826.694.2.500.301.799. informasi.00 atau 50.096. Piutang Bukan Pajak merupakan semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang.801. pelatihan.922.51 (32.368. Saldo Piutang Bukan Pajak di Setjen per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp4.32) Saldo Piutang Bukan Pajak per Eselon I per 31 Desember 2010 sebesar Rp59.446. 3.438.468. Posisi Piutang Bukan Pajak per unit Eselon I per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 66 berikut.500 7.525. Piutang Bukan Pajak DJBC merupakan pendapatan jasa tenaga.000 6.659.00 dan Rp23.862. Tabel 66 Piutang PNBP Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 4.832.00 dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Adapun posisi Piutang Bukan Pajak di DJPB berdasarkan transaksinya adalah sebagai berikut: Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 81 .525.852.115 1.000 24. Saldo Piutang Bukan Pajak di DJA per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp7.438.412.115.00) (50. teknologi.735.500 7.405.610.096.799. Piutang Bukan Pajak Setjen merupakan pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri yang belum diterima pada saat tanggal neraca.767 349. Saldo per 31 Desember 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp255.832.826.979) (35.858.00.468.1.273.979 69.

6. Piutang Denda di Bidang Pasar Modal sebesar Rp1.200.767.000.212.798.115 5. • Bidang Dana Pensiun sebesar Rp104.212.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) No 1 2 3 4 5 6 KETERANGAN JUMLAH Kelebihan uang makan. Pembayaran iuran tahunan ini akan dilakukan paling lambat tanggal 15 Januari 2011.620. Piutang dari Iuran Badan Usaha di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan triwulan IV tahun 2010 berdasarkan Laporan Keuangan Self Regulatory Organization (SRO) sebesar Rp21.313.902 278. 3.000. Piutang Denda di Bidang Lembaga Keuangan sebesar Rp389. Peraturan mengenai kebijakan piutang Bapepam-LK dapat terlampir.935. Piutang Bukan Pajak DJKN merupakan kelebihan pembayaran uang makan yang telah disetorkan kembali ke Kas Negara pada TA 2011.000 4.00.767.00.991. lembur.740.405.456.638 56.767.580.956.798.300. Saldo Piutang Bukan Pajak di Bapepam-LK per 31 Desember 2010 dan 2009 masingmasing sebesar Rp24.562. Saldo Piutang Bukan Pajak di DJKN per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp1.142.867.000.075 3.500 1.00.000.801.000.212. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 82 .00 dan RpNihil.00 dan Rp17. Saldo Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2010 sebesar Rp24.00. Piutang Bukan Pajak Bapepam-LK berasal dari Piutang atas Denda di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bidang Asuransi dan Dana Pensiun).000 192.00 terdiri dari: • Bidang Perasuransian sebesar Rp284.680.862. terdiri dari: 1. 2. dan tunjangan Kelebihan belanja barang Sewa rumah dinas Sewa Kantin Sewa Koperasi Sewa Mess JUMLAH 19.00.00 merupakan piutang denda yang belum jatuh tempo.

15) .000. b.213.000 - 5.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2010 dan 2009 adalah sebagai berikut: No.39 - 128.454.753.313 7.000 - 168.000 12.438.867.66 persen.80 persen.454 39.454.94) .213.956.000 714.00 atau 90.456.Piutang atas denda yang telah jatuh tempo tetapi belum terbayar 20. Bidang Perasuransian mengalami penurunan sebesar Rp429.031.806.000.000.852.385.000 44.000 (128.00 atau 39.82 persen.499.666.173. Uraian 2 1 1 31 Desember 2009 (Rp) (Rp) Rp % 3 4 5=3-4 6 = 5/4 X 100 Piutang atas Denda di Bidang Pasar Modal 1.000 - 84.580.633.00 atau 328.348.000 - Piutang atas Denda di Bidang Dana Pensiun 104. Bidang Pasar Modal mengalami kenaikan sebesar Rp1.000 - 21.000) (100.806.000 (1. Pengurangan (a+b) a.000.394.997. Piutang dari denda karena wanprestasi dan keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah mengalami penurunan sebesar Rp405.748.903. c.20) .000 506.00) (100.801. Penambahan (a+b) a.000 2.438.348.249.499. Bidang Dana Pensiun mengalami penurunan sebesar Rp1.000) Piutang atas Denda di Bidang Perasuransian 284.000.173.10 Berdasarkan tabel di atas.562. Bidang Pasar Modal 1.66 .00 atau 48.000 (435.000 1.000) (60.210.694.Piutang atas bunga belum terbayar 2 Kenaikan/(Penurunan) 31 Desember 2010 5.210.136.405.000 (429.Piutang atas bunga belum terbayar 3 Piutang dari iuran badan usaha di bidang pasar modal dan lembaga keuangan 4 Piutang dari denda karena wanprestasi dan keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah Jumlah (1+2) 168. maka Piutang Bukan Pajak Bapepam-LK per 31 Desember 2010 mengalami kenaikan sebesar Rp6.000.316. d.210.000) (100.000 1.80) .00 atau 60.580.580.200. e.000 (1.15 persen.10 persen apabila dibandingkan dengan posisi saldo awal per 31 Desember 2009.00) 24. Perubahan/mutasi tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : a.000.200. Penyesuaian 3.313 6.454 48. Tambahan Piutang Bidang Pasar Modal b.051.000 (405.000 Halaman 83 . Piutang dari iuran Badan Usaha di Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mengalami kenaikan sebesar Rp7.000 456.654.000) (90.000 714. Saldo Awal (1 Januari 2010) 456.000) (60.798.000 1.852.000.630.000 328. Pembayaran Piutang Bidang Pasar Modal b.000.956.Piutang atas denda yang belum jatuh tempo 1.Piutang atas denda yang belum jatuh tempo 84.606.82 - 405.000 (5.600.000.000 14.000.000.997.000 - .00 (pada tahun 2010 tidak terdapat piutang atas denda tersebut).Piutang atas denda yang telah jatuh tempo tetapi belum terbayar 279.000 1.063.136.212.600.Piutang atas denda yang telah jatuh tempo tetapi belum terbayar . Adapun perubahan/mutasi tersebut berasal dari : a.000 2.630.272.Piutang atas bunga belum terbayar 2 - 5.748.031.000.000) (98.000 10.115.000 1.767 17.817.767 14.000 322.200.243. Pelimpahan Piutang Bidang Pasar Modal ke DJKN (tidak termasuk pelimpahan dari kasus pailit) Saldo Akhir 31 Desember 2010 (1+2-3) Catatan atas Laporan Keuangan 14.00) .956.000.

n PT Agrodana Securities 7 Penyesuaian pencatatan atas pembayaran a.n.000 400.000 30.000. Salam Rauf & Rekan .a.n.000 5.000 300.000 540.000. PT. MAPPI .660.a.140.n.000 4.n.a.a. PT. Sogeng Pamuji 4 Penyesuaian Bunga Piutang a. Penambahan 1 Kelebihan Pembayaran .000 1.000.n.000 10.000 77. Apac Citra Centertex .000 700. PT.000 45. dikarenakan telah melunasi pokok piutang sebelum jatuh tempo . Tambahan Piutang Bidang Perasuransian 3.000 20.203.n. EM.n.a.000 6. Pengurangan (a+b) a. Pengurangan 5 Koreksi pencatatan pembayaran (seharusnya pembayaran tahun 2009 a. PT. Richard K. PT Mandiri Sekuritas 2 Pembayaran dilakukan sebelum dikenakan sanksi : . Luki Hentriawan .n.000 142. Reklasifikasi ke aset lainnya (dicabut izin usaha) d.000 300. Saldo Awal (1 Januari 2010) 2. dikarenakan kelebihan pembayaran B.n PT Apac Citra Centertex Total (A-B) 77.a.000 8.a.n.KAP DRS. KAP Tjahjadi) 6 Ralat jumlah sanksi denda a.n. Syukrial .000 60.a. Pembatalan sanksi denda Saldo Akhir 31 Desember 2010 (1+2-3) Catatan atas Laporan Keuangan 714. PT.a. Penyesuaian Pokok Piutang a.990.n. Setiawan.000 508.n.360.a.000 642.000 284.614.654. Apac Citra Centertex 3 Penambahan bunga karena telah lewat 2 bulan sejak tanggal .000 b.000 400. PT.000 44. Kertas Basuki Rahmat .Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Adapun rincian atas penyesuaian tersebut sebagai berikut: sebesar Rp44. Mandiri Sekuritas . MAPPI .000 4.580.000 28.000 32.n.000 17. Sumber Alfaria 9.n.000 300. Utomo .000 200.000 5. a.774.a.n. Sara Lee Body Care Indonesia .a. PT.a.a.000.000. Basri Hardjosumarto .000 14.000.00 adalah A.000 430.n. Bidang Perasuransian 1.000 Halaman 84 . Pembayaran Piutang b. Pelimpahan Piutang ke DJKN c.n. Richard K 8 Bunga diabaikan.n.882.210. A.000 8.536.000 30. Widianingsih .654.n PT Eficorp Securities.a.000 1.n. Grha Satu Enam Lima .000 10.a.000. Setiawan.000.330.

Penyesuaian (ralat 2 surat sanksi) 235.204.000 Kelebihan pembayaran tunjangan fungsional 4. Rincian Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 67 berikut.000 1.935 Kelebihan pembayaran pembangunan gedung 349.362.300.000 Penyesuaian bidang dana pensiun berupa ralat atas 2 (dua) buah sanksi administratif yaitu: 1) Ralat surat sanksi a.393.128.000.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) c.000 129.362.500.262 Jaminan pemeliharaan yang belum diterima 498.00.144 Persekot Gaji 13. 7. Saldo Awal (1 Januari 2010) 1.483.200.1.062.00 dan Rp7.000 1.407. Bidang Dana Pensiun 1.204. Tabel 67 Rincian Piutang Bukan Pajak di BPPK Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No.121.266.418.00 menjadi nihil.00 Nilai Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp327.00. Tambahan Piutang Bidang Dana Pensiun 3.121.800.000 1. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 85 .219. Rincian dan penyisihan Piutang Bukan Pajak Bapepam-LK per 31 Desember 2010 terlampir.000. Pengurangan (a+b+c) a.2.00 dan Rp228. Penambahan (a) a.000 Saldo Akhir 31 Desember (1+2-3) 104. Reklasifikasi piutang sebelum tahun 2010 c.790 Kelebihan pembayaran uang mutasi 90. 2) Ralat surat sanksi a.00 menjadi Rp3.953.184.000 2.n.128 C.000.000 235.000. DP Persekutuan Gereja Indonesia dengan S-6100/BL/2010 tanggal 2 Juli 2010 dari Rp600.000.7 Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) Bagian Lancar TGR Rp327.200.00.136. Pembayaran Piutang Bidang Dana Pensiun b. Uraian 1 Piutang Bukan Pajak 2 Piutang Bukan Pajak 3 Piutang Bukan Pajak 4 Piutang Bukan Pajak 5 6 7 Piutang Bukan Pajak Piutang Bukan Pajak Piutang Bukan Pajak Jumlah Rupiah Keterangan 3.855.300. Saldo per 31 Desember 2010 merupakan saldo Tagihan TGR Kementerian Keuangan yang akan jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal neraca (sampai dengan 31 Desember 2011).940. Piutang Bukan Pajak di BPPK per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp349.562.000 Kelebihan pembayaran uang makan 228.n.855. Yayasan LPPPK Sinode dengan S-6099/BL/2010 tanggal 6 Juli 2010 dari Rp4.136.997 Denda atas keterlambatan penyelesaian pembangunan TA 2009 8.

201.050 110.000) (8.00 73.473.625.642.475.028 (4.008 53.157.001.830 20.000 689. per Tabel 68 Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 Kenaikan/ (Penurunan) 29.142.438.00.296.000 31.650 91.201.025 0 23.659.940.999.000.437 43.466.999.999) (82.Uang Muka Belanja Modal Rp 616.967.Uang Muka Belanja Barang Rp 1.201.739 1.898.010.101.733.473.550 1.000 DJP 44.36 17.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Posisi Bagian Lancar TGR per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 68 berikut. Posisi Uang Muka Belanja per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 69 berikut.000 % SETJEN 35.043.00 59.010.000.846.135 74.200 DJKN 2.00 327.00 Jumlah Rp 30.365.00 .725 74.00) (25.685.00 .148.Belanja Pegawai yang Dibayar di Muka Rp 168.468.194) (52.204.00 Nilai Uang Muka Belanja per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp30.475.020 1.Belanja Barang yang Dibayar di Muka Rp 25.855 228.150 65.111.388.00 0.925.746.47 Jumlah 487.625.148.000 689.038.201.00 .786.000 0 39.054.819.112.134.947.349.428 (9.00 (14.Uang Muka Belanja Pegawai Rp 2.763 1.101.70 0.733.630.325.000) (9.764.12) (100.080.062.000 0.073 1.000 0.111.124.50 36.002.250.2.242.930.07) Nilai Uang Muka Belanja per 31 Desember 2010 terdiri dari: .996 (14.743 860.734.000 6.997 BPPK 39.050.365.820.844 (48.550 2.124.836.025.940. per Tabel 69 Uang Muka Belanja Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 SETJEN ITJEN DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah 1.733 .365.475.365.026 0 0 0 35.721.666 1.733 1.48) C.339.57 120.590 0 1.87) DJPK 36.000.583.713 1.349.317) % (0.8 Uang Muka Belanja Uang Muka Belanja Rp30.1.688.473.82) DJBC 43.00 Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 86 .073 1.20 0.107.00 0.050 Kenaikan/ (Penurunan) (1.099.365.42) 941.025 9.00 dan Rp35.418 99.028 30.746.250.000 0 DJPB 125.420) (16.892.836) 18.00 .076.

251. Tabel 71 Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I SETJEN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 5.1.237.800.747.654.911 (10. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 87 .253.000.724.967.775.255.237. Piutang tersebut berasal dari piutang kekurangan setor jasa giro dan deposito yang dihitung secara akrual pada tanggal 31 Desember 2010.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.879.147) (147.879.105.028.9 Piutang dari Kegiatan Operasional BLU Piutang dari Kegiatan Operasional BLU Rp1.105.028.068.882. Tabel 70 Piutang dari Kegiatan Operasional BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) ESELON I SETJEN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 0 1.805 16.147.000) (24. C.800.1.795) % (65.000 24.269.352 6.146.00) (98. Piutang dari Kegiatan Operasional BLU pada Unit Eselon I BPPK per 31 Desember 2010 merupakan piutang penerimaan bukan pajak dari Kegiatan Operasional BLU STAN yang berasal dari Piutang Pendapatan Penyediaan Barang dan Jasa Lainnya sebesar Rp1.800.91) Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU pada Unit Eselon I Setjen per 31 Desember 2010 merupakan Piutang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Kegiatan Non Operasional PIP sebesar Rp5.146.99) Piutang dari Kegiatan Operasional BLU pada Unit Eselon I Setjen per 31 Desember 2010 merupakan piutang penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari Kegiatan Operasional BLU PIP yaitu dari kegiatan investasi jangka panjang baik investasi langsung yang belum diselesaikan pada tanggal neraca dan diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun.00.00.495.654.00 dan Rp17. Posisi Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 71 berikut.00.805.967.715.706) 141.017. 00 Nilai Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp6. Nilai sebesar RpNihil merupakan piutang yang dihitung secara akrual pada tanggal 31 Desember 2010.068 17. Posisi Piutang dari Kegiatan Operasional BLU per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 70 berikut.854.2.147 Kenaikan/ (Penurunan) (24.732.237.00.00 dan Rp24.46 (63.000 1.147) % (100.263 304.700.91) 46.511 445.147 149.975.10 Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU Rp6.000.068.023.800.800.700.146.000.00 Nilai Piutang dari Kegiatan Operasional BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masingmasing sebesar Rp1.255.863 Kenaikan/ (Penurunan) (11.863.80) (99.000 24.732.2.

00.921. Posisi Persediaan per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 74 berikut.008.693. Piutang tersebut berasal dari denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan.890. Tabel 72 Rincian Piutang Kekurangan Jasa Giro Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Kode Akun 1 113831 Uraian 2 Bunga deposito Bank Mandiri Kekurangan jasa giro Rek Pendapatan Jumlah Jumlah Rupiah 3 Rp 7.958.819 Rp 316.986 Rp 306.167.645.541.904 Rp 5.205 Piutang dari Kegiatan Non Operasional pada Eselon I BPPK per 31 Desember 2010 merupakan Piutang Bukan Pajak yang berasal dari Kegiatan Non Operasional BLU STAN sebesar Rp445.350.698.096 Rp 10.411 Rp 557.438 Rp 5.932 Rp 41. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 88 .322.342 Rp 675.630 Rp 517.808 Rp 148.269.917.342.685 Rp 239.467.219 Rp 264. Nilai tersebut merupakan hasil stock opname per 31 Desember yang dinilai berdasarkan harga pembelian/perolehan terakhir.466 Rp 18.2.575.1.00 dan Rp184.1 02.288 Rp 1.228.008.136.600 Tabel 73 Rincian Piutang Dari Kegiatan Non Operasional BLU Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Kode Perkiraan 1 113831 Uraian Piutang 2 Bunga deposito Bank BRI Bunga deposito Bank Mandiri Bunga deposito Bank BNI Bunga deposito Bank BTN Bunga deposito Bank Jabar Banten Bunga deposito Bank Bukopin Bunga deposito Bank BTPN Bunga deposito Bank DKI Bunga deposito Bank BRI Syariah Bunga deposito Bank Mu’amalat Bunga deposito Bank Syariah Bukopin Bunga deposito Syariah Mandiri Bunga deposito Syariah Jabar Jumlah Jumlah Rupiah 3 Rp 1.808.781 Rp 7. C.11 Persediaan Persediaan Rp251.439.102.780.005.684.616.167.00 Nilai Persediaan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp251.00.123.263. Satuan kerja lingkup Kementerian Keuangan telah menyelenggarakan Akuntansi Persediaan melalui aplikasi yang merupakan bagian dari SIMAK BMN.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU di SETJEN-PIP per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 72 dan Tabel 73 berikut.

549) 4.511 251.848.167.977.382.740.120.819 737.792.270.877.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 74 Persediaan Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPU DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah 31 Des 2010 31 Des 2009 3.811 157.589 481.26 22.397.538.097.167.842. Satuan kerja BLU lingkup Kementerian Keuangan telah menyelenggarakan akuntansi persediaan melalui aplikasi yang merupakan bagian dari SIMAK BMN.800.438.674 8.580.342.000 1.120 2.045.1.091.928.762 124.039.976.337 55.74 22.00.538.779.986 103.91 (3.320.606 1.767.347.616.106.05 38.588.685.070.714.106 40.793.775 134.823.574.682.671) 1.397.760 1.12 Persediaan BLU Persediaan BLU Rp1.449.57 38.656 450.638.2.664 13. Nilai tersebut merupakan hasil stock opname per 31 Desember yang dinilai berdasarkan harga pembelian/perolehan terakhir.908 (167.142.553.008.048.176.771 17.545.267.94 67.389.934.939.697 785.553.181 % 15.17 95.556 66.941.642 554.921 Kenaikan/ (Penurunan) 457.435.799 43.534.222 21.909 526.340.00 dan Rp1.752.068.923.533.780.200.909. Tabel 75 Persediaan Per Jenis Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) Akun 115111 115112 115113 115114 115121 115124 115127 115131 115191 115199 Jumlah Jenis Persediaan Barang Konsumsi Amunisi Bahan Untuk Pemeliharaan Suku Cadang Pita Cukai. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 89 .224 251.824.102 2.755 530.386.090 5.335 5.668 184.480 1.221.547.824.93 Rincian saldo Persediaan per 31 Desember 2010 per jenis persediaan dapat dilihat pada Tabel 75 berikut.008.327.097.191 130.110 636.34 35.923.953 255.231 15.752.329 2.946.933.824.680.635.50 (25.867.313 1.752.720 (64.083 1. Posisi Persediaan BLU per unit Eselon I lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 76 berikut.044 602.102 C.505 20.367.681 649.864. Materai dan Leges Peralatan dan Mesin untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat Aset Lain-lain untuk diserahkan kepada masyarakat Bahan Baku Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga Persediaan Lainnya 31 Desember 2010 159.610.644 10.478 47.02 9.181.312.85) 26.83) 95.370.366.033. 00 Nilai Persediaan BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp1.567.228.012 113.

Jumlah tersebut merupakan Investasi Non Permanen yang dikelola oleh Pusat Investasi Pemerintah yaitu pinjaman yang disalurkan sebagai Investasi Non Permanen Badan Layanan Umum.195. Pemberian pinjaman modal kerja yang diberikan kepada PT Nindya Karya berdasarkan Perjanjian Investasi antara PIP dengan PT Nindya Karya Nomor 19 Tanggal 25 Agustus 2010 dalam rangka Pemberian Pinjaman Modal Kerja untuk Pekerjaan Rehabilitasi Bendungan Gintung dan Pekerjaan Sipil Bendungan dan Jaringan Irigasi Utama pada Sub Proyek Irigasi Batang Anai dengan nilai pinjaman sebesar Rp29.2.000.050 336.00 seluruhnya merupakan Investasi Jangka Panjang Non Permanen. Pinjaman telah disalurkan seluruhnya per tanggal 12 November 2010. pemerintah daerah.310. Investasi Non Permanen PIP per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar RpNihil dan Rp1.655.000. dan pihak ketiga lainnya.1 Investasi BLU Pengelola Dana Investasi Investasi BLU Pengelola Dana Investasi merupakan bentuk Investasi Non Permanen PIP berupa Penanaman dalam proyek yang dialihkan kepada pihak ketiga yang berasal dari dana bergulir dan pendapatan PIP yang digulirkan kembali.731.731.04 C.790.2.694. Pemberian pinjaman modal kerja yang diberikan kepada PT Wijaya Karya berdasarkan Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 90 . Investasi Non Permanen sifatnya bukan penyertaan modal saham melainkan berupa pinjaman jangka panjang yang dimaksudkan untuk pembiayaan investasi perusahaan negara/ daerah.655 1.850 1. Tabel 77 Investasi Jangka Panjang Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Eselon I 31 Desember 2010 SETJEN Jumlah Investasi Non Permanen BLU RpNihil Investasi BLU Pengelola Dana investasi RpNihil 0 0 31 Desember 2009 1.000.2 INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Jangka Panjang RpNihil Nilai Investasi Jangka Panjang per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar RpNihil dan Rp1.1.824 34.655. Investasi Non Permanen PIP sebesar RpNihil.694.923.00.195.731.553. C.731.195.03.655) C.731.100.142.767 Kenaikan/ (Penurunan) 40.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 76 Persediaan BLU Per Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Eselon I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 SETJEN BPPK Jumlah 74.974 1. Posisi Investasi Jangka Panjang per 31 Desember 2010 dan 2009 dapat dilihat pada Tabel 77 berikut.386.007 377.536.967 1.2.694.655) (1.195.731.226.694.694.823.694.77 29.655 Kenaikan/ (Penurunan) (1.195.176. Investasi tersebut pada Tahun Anggaran 2010 tidak dicatat lagi pada BA 015 tetapi dialihkan ke BA 999.2.479.00.596.195.48 32.2.800 1.057 % 117.1 Investasi Non Permanen BLU Investasi Non Permanen adalah investasi jangka panjang yang tidak termasuk dalam investasi permanen dan dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan.

000.03.000.000.000. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 91 . Pinjaman telah disalurkan sebesar Rp20. namun mulai TA 2010 dipertanggungjawabkan melalui BA 999.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Perjanjian Investasi antara PIP dengan PT Wijaya Karya Nomor 101 tanggal 29 Juli 2010 dalam rangka Pemberian Pinjaman Modal Kerja untuk Pembangunan Terminal LPG Pressurized di Tanjung Sekong Banten dengan nilai pinjaman sebesar Rp50.000.00 pada tanggal 29 Desember 2010.00. Investasi yang dilaksanakan PIP sejak berdiri sampai TA 2009 disajikan di BA 015.000.

092 881.868.00.034.304.776) 1.506.150.506 Jalan.407.676.664. Penjelasan mengenai hasil koreksi nilai aset tetap selengkapnya sesuai dengan hasil penilaian Tim Penilaian Aset DJKN dijelaskan dalam pengungkapan lainnya.51% -92.063.408.70% 62.407.19% 0.104.424.827 543.062.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) ASET TETAP C.163.760 121.000 1.585.228.779.167.18% 7.058.808.576.98% 131.621.00.648 Jumlah 36. DJKN telah melaksanakan inventarisasi dan penilaian terhadap aset tetap yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2004.862.514.953.30% 13.261. Dalam rangka penyajian nilai wajar aset tetap milik pemerintah.185 17.182.651.828.298.306.597.659 82. Irigasi & Jaringan BLU 16.511.2.021 706.169.813.496 Konstruksi Dalam Pengerjaan 615.833 (238.779.142 17.058.228.657. Rincian Aset Tetap menurut jenis Aset Tetap dapat dilihat pada Tabel 78 berikut.641.857 % 4.745.321.192.576.000 Peralatan dan Mesin BLU 31.225 62.963.726.784 Aset Tetap Lainnya BLU 7.697.279.794.75% Komposisi Aset Tetap menurut Jenis Aset per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Grafik 19 berikut.058.908 16.034.00 Nilai Aset Tetap Per 31 Desember 2010 dan 2009 masing–masing sebesar Rp36.201 259.672.929.3 Aset Tetap Aset Tetap Rp36.762.151 Tanah BLU 545.480 1. termasuk yang dimiliki oleh Kementerian Keuangan.037.401.775.757.093.880.1 53.872.872.33% 33.845 194.296.296 Naik / (Turun) 707.486.218.407.053 Jalan.795.153.264 3.519.72% 7.19% 6.816 Peralatan dan Mesin 7.015.153 33. dan Jaringan 316.860 KDP BLU 18. Irigasi.865.00 dan Rp33.36% 80. Tabel 78 Perbandingan Komposisi Aset Tetap Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Perk 1311 1313 1315 1317 1319 1321 1351 1352 1353 1354 1355 1356 Uraian 31 Desember 2010 31 Desember 2009 Tanah 17.496.062.458.902.827 14. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 92 .487 Gedung dan Bangunan 9.872.813 9.966.845.641.012 Aset Tetap Lainnya 20.447.46% 352.505.844.537 2.940.074.928.124.377.507.981.701.373.420.476.173. Nilai tersebut termasuk Koreksi Nilai dari Tim Penertiban Aset Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) pada tahun 2010 sebesar Rp10.702.043.375 629.508 6.719 13.154.063.860 5.703.548.09% -2.483 Gedung dan Bangunan BLU 144.295) (13.

Grafik 20 Perkembangan Aset Tetap per Jenis Aset Tetap Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 93 .Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Grafik 19 Komposisi Aset Tetap Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 Perkembangan Aset Tetap per jenis Aset Tetap dapat dilihat pada Grafik 20 berikut.

386 -27.194.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi Aset Tetap Kementerian Keuangan selama periode TA 2010 dapat dilihat pada Tabel 79 berikut.854.457.273.891 5.257.703.518.012.250 71.596.797 38.411.008.124 0 -35.799.519.320.247.182.153 36.018.240.256.918 -54.398.032.131.049 -34.872.742.717 -3.656.067 214.751 298.842 66.268.078 -1.572.836 -95.868 -21.822 5.483.000 -56.935.726 1.580 -19.823.574.150.989.755 142.872.130.554.026.407.395 1.304.586.323.153 Halaman 94 .074 955.481.779.411.696 551.019.402 22.000 713.696 -13.936.203.404.000 -127.296 8.754.828 5.802 -128.667.249.728.481.420 -576.600.465 -98.472.320 -1.574.034.295.976. Tabel 79 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 202 204 205 206 208 501 502 503 506 201 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 504 505 507 599 Catatan atas Laporan Keuangan Uraian transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Saldo Awal KDP Perolehan KDP Pengembangan KDP Transfer Masuk KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Pengurangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Koreksi Nilai KDP Penghapusan/Penghentian KDP Trnasfer Keluar KDP Reklasifikasi KDP menjadi Aset Jadi Mutasi Kurang SALDO AKHIR Jumlah 33.287 105.553.078.982 38.273.474.759 744.568.407.967.202 6.063.351.803.647.262.961.134 35.949.061 36.341.179.115 -88.389.088.184.236 1.931.185.129.131.211.071.605 -102.509.854.058.991.364 815.658 27.159.552.795.642.058.

369.797 3.933.387.565.203 Penjelasan Selisih : Pembelian tanah dengan Utang Belanja Barang yang Dikapitalisasi (9.828.395.000) (55.800.385.493 Belanja Modal Fisik Lainnya 42.390.203) - Halaman 95 .840.798 Belanja Modal BLU Jumlah Belanja Modal 3.895.772.952.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian mutasi aset terkait belanja modal dapat dilihat pada Tabel 80 berikut. Irigasi dan Jaringan 18.546.898.900 313.692.078.935.843.238.673) Belanja yang belum disahkan dengan dana BLU (210.600) Koreksi Nilai karena Pengembalian Belanja Modal (187.322.175.847 (313.733 1.032.016.975 Belanja Modal Gedung dan Bangunan 954.732 Belanja Modal Jalan. Tabel 80 Rincian Mutasi Aset terkait Belanja Modal Per 31 Desember 2010 Uraian Jumlah Jenis Belanja : Belanja Modal Tanah 169.008.651.797.930 2.272 (50.697 Transaksi : Pembelian Pengembangan Langsung Koreksi Pencatatan Perolehan dan Pengembangan KDP Penyesuaian nilai KDP terkait belanja modal Penambahan Aset Tetap Renovasi Jumlah Mutasi Selisih 1.949.147) 4.966 Belanja Modal Peralatan dan Mesin 660.650.509.713.493.369.849.476 1.630) Pembulatan Belanja Modal Tidak Dikapitalisasi Jumlah Selisih setelah penyesuaian Catatan atas Laporan Keuangan (307.163.629.521.884.175.334) 49.759 66.711.808.073.088.099.

225.911.779.854.514.701.486.514.359. Akun Gedung dan Bangunan pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU. Akun Peralatan dan Mesin pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.063.507. sementara pada Neraca SAK Peralatan dan Mesin diklasifikasikan sebagai Peralatan dan Mesin (kode akun 131311) dan Peralatan dan Mesin BLU (kode akun 135211).514.634 Irigasi 29.454.198.838 Penjelasan selisih aset tetap dalam neraca SAK dengan laporan posisi BMN di neraca SIMAK-BMN per 31 Desember 2009 adalah sebagai berikut: 1.911.751 77.360) 51.159.000) (19.035.173.784 5. nilai tersebut telah dikeluarkan namun dalam laporan SIMAK-BMN belum dihapuskan.00 merupakan perbedaan saldo awal laporan neraca pada SAK dengan laporan posisi BMN di Neraca pada SIMAK-BMN dengan rincian sebagai berikut: Halaman 96 .526.648 Jumlah 33.065.762.296 Uraian Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.505.487 Gedung dan Bangunan 9. sementara pada Neraca SAK Tanah diklasifikasikan sebagai Tanah (kode akun 131111) dan Tanah BLU (kode akun 135111).313.424) (17.511.243.893. Tabel 81 Perbandingan Saldo Awal Aset Tetap Neraca dan SIMAK BMN per 31 Desember 2009 No.228.506 Jalan.072.104.151 Tanah BLU 543.483 Gedung dan Bangunan BLU 62.00 merupakan nilai Peralatan dan Mesin BLU.627 Aset Tetap Lainnya 259. Selisih kurang Gedung dan Bangunan sebesar Rp69.938.507.676. Selisih kurang Tanah sebesar Rp543.526.860 KDP BLU 17.511.483.00 merupakan nilai Tanah BLU.971.844.712 9.702.844.844.660.225) (69.784 Aset Tetap Lainnya BLU 5.844.813. Akun Tanah pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.000 17. dimana dalam neraca berdasarkan SAK.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Posisi saldo awal aset tetap pada neraca SAK dibandingkan dengan posisi aset tetap pada SIMAK-BMN per 31 Desember 2009 dapat dilihat pada Tabel 81 berikut.388.723.988) 543. Selisih kurang Peralatan dan Mesin sebesar Rp19.293.124.648 55.000.087.470.621.065.000 Peralatan dan Mesin BLU 17.480.860 17.021.621.447.139 0 0 0 0 0 0 33.228.816 6.015.228.762.365.307.124.674.779.093.604. sementara pada Neraca SAK Gedung dan Bangunan diklasifikasikan sebagai Gedung dan Bangunan dan Gedung dan Bangunan BLU.751 Jaringan 76.104.053 Jalan dan Jembatan 89.754.587.814.00 terdiri dari: - - Sebesar Rp17.408.443.496 Konstruksi Dalam Pengerjaan 629. Irigasi dan Jaringan BLU 3.470.987 207.776 639.00 merupakan reklasifikasi aset tetap ke aset lainnya melalui jurnal SAK pada BPPK.928.420. Sebesar Rp1.458 Selisih (543.261.868.058 29.649. 3.200. Sebesar Rp134.505.990.702.793.635.00 merupakan nilai Gedung dan Bangunan BLU.816 Peralatan dan Mesin 6.000) (905.762.804.384.720 (10.093.424. Sebesar Rp7.034.664. 2.166) (2.731.066. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 Aset Tetap dalam Neraca Tanah 16.505.00 merupakan reklasifikasi aset yang hilang pada DJP dan DJPK.219 91.726.506.506 3.104.416.00 terdiri dari: - - Catatan atas Laporan Keuangan Sebesar Rp62.483 62.779.166.212.726.833.764.657.228.

072.045.00 merupakan nilai Aset Tetap Lainnya BLU. DJKN.621.935.631 54.230. Selisih kurang Konstruksi Dalam Pengerjaan sebesar Rp10.093.000 (7.660.238. Selisih kurang sebesar Rp5.419.021. DJBC.680.00 terdiri dari: - Selisih lebih sebesar Rp56.971.00 merupakan nilai Aset Tetap Renovasi pada Itjen.021. sementara pada Neraca SAK Konstruksi Dalam Pengerjaan diklasifikasikan sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan (kode akun 132111) dan Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU (kode akun 135611).248 4.483. DJPK. DJA.277 233. DJPB.971 Posisi BMN di Neraca 4.245.511. Selisih lebih Aset Tetap Lainnya sebesar Rp51. Jumlah tersebut adalah koreksi reklasifikasi pada aplikasi SAK atas Gedung dan Bangunan sampai tanggal neraca 31 Desember 2009 yang belum dipergunakan dalam operasi pemerintah menjadi Konstruksi Dalam Pengerjaan. BPPK. sementara pada Neraca SAK Tanah diklasifikasikan sebagai Aset Tetap Lainnya (kode akun 131921) dan Aset Tetap Lainnya BLU (kode akun 135511).011.00.810.365.011. Posisi aset tetap pada neraca SAK dibandingkan dengan posisi aset tetap pada SIMAK BMN per 31 Desember 2010 dapat dilihat pada Tabel 82 berikut. Akun Konstruksi Dalam Pengerjaan pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.648.660) SAK Selisih Keterangan: *) Selisih pada DJP merupakan pembulatan dalam aplikasi SIMAK-BMN pada saat melakukan koreksi atas penilaian Tim Penertiban DJKN Tahun 2009.869.446.00 merupakan nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU.021. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 97 .660.087.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Eselon I DJP *) BPPK **) Jumlah 4.660) 4.419. Selisih kurang sebesar Rp17.815.596. dan BKF.313.00 merupakan koreksi reklasifikasi pada aplikasi SAK atas Gedung dan Bangunan pada BPPK yang sampai tanggal neraca 31 Desember 2009 belum dipergunakan dalam operasi pemerintah menjadi Konstruksi Dalam Pengerjaan. BAPEPAM-LK.574. **) Selisih pada BPPK merupakan perbedaan saldo awal laporan neraca pada SAK dengan laporan posisi BMN di Neraca pada SIMAK-BMN sebesar Rp7. 5.908 (7.507.277 226.871. 4.468.860.720.871. Akun Aset Tetap Lainnya pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.988. DJPU.00 terdiri dari : - - Selisih lebih sebesar Rp7.021.580.419.

860) (18.724. sementara pada Neraca SAK Peralatan dan Mesin diklasifikasikan sebagai Peralatan dan Mesin (kode akun 131311) dan Peralatan dan Mesin BLU (kode akun 135211).061 633. Selisih kurang sebesar Rp127.192.062.315.703. Akun Peralatan dan Mesin pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU. dimana dalam neraca berdasarkan SAK. Irigasi.00 terdiri dari: . dan Jaringan BLU (kode akun 135411). dan Jaringan diklasifikasikan sebagai Jalan.000.799.680) (4.769 41. merupakan nilai Aset Tetap Renovasi pada DJPB.142 144.Selisih lebih sebesar Rp22.062.185 22.049.253.701.857. dan Jaringan BLU.111) (1. Akun Jalan.576.508 9.902.153.316.828.745.372.701.391.827) (31. Akun Tanah pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.825.281.860 18.493.153. sementara pada Neraca SAK Jalan.142.214. dan Jaringan (kelompok akun 1317) dan Jalan.983.067.971 194.745.062. dan DJA. Irigasi.585.225 16.506.016.887.545 27. Irigasi.375 545.004 91. merupakan nilai Gedung dan Bangunan BLU.067 Penjelasan selisih aset tetap dalam neraca SAK dengan laporan posisi BMN di neraca SIMAK-BMN per 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut: 1.684 96.697.585. Irigasi & Jaringan BLU Aset Tetap Lainnya BLU KDP BLU Jumlah Aset Tetap dalam Neraca 17.186.539.457.486.264 7.506.973.201 615.408. Selisih kurang Peralatan dan Mesin sebesar Rp31.672.827 31.158) (10.966.020.735 7.192.154.476.515. dan Jaringan pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.672.072 20. sementara pada Neraca SAK Gedung dan Bangunan diklasifikasikan sebagai Gedung dan Bangunan (kode akun 131511) dan Gedung dan Bangunan BLU (kode akun 135311).629. DJPK.880.813 184. sementara pada Neraca SAK.703.00 merupakan reklasifikasi aset yang hilang pada DJPK.337.486.951.321. Irigasi.407.502.760.062.486.966.343.049. .585.153 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 17.062.142) (122.827 31.321. Selisih kurang Aset Tetap Lainnya sebesar Rp7.00 merupakan nilai Peralatan dan Mesin BLU.650 10.185) 545.242.697.377.225.058.703. Selisih kurang Tanah sebesar Rp545.651.00 terdiri dari: - - Selisih kurang sebesar Rp31.143.158.192.964.00 merupakan nilai Aset Tetap Lainnya BLU.860 18.488.697.908 7. 2.037. Akun Aset Tetap Lainnya pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.086 Selisih (545.00 merupakan nilai Tanah BLU.825.Selisih kurang sebesar Rp144.036.519. sementara pada Neraca SAK Tanah diklasifikasikan Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 98 . 3.585.658.192.185 36.794.506. Selisih kurang Gedung dan Bangunan sebesar Rp122.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 82 Perbandingan Posisi Aset Tetap Neraca dan SIMAK BMN per 31 Desember 2010 No. Tanah diklasifikasikan sebagai Tanah (kode akun 131111) dan Tanah BLU (kode akun 135111). Irigasi. Irigasi. Selisih kurang Jalan dan Jembatan.264 7.872. 4.00 merupakan nilai Jalan.966.700.502.560 0 0 0 0 0 0 36.827.225 16. 5.745.862.880 42.672.142.321. Uraian 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan dan Jembatan Irigasi Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Tanah BLU Peralatan dan Mesin BLU Gedung dan Bangunan BLU Jalan.473) (7. Akun Gedung dan Bangunan pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU. nilai tersebut telah dikeluarkan namun dalam laporan SIMAK-BMN belum dihapuskan. dan Jaringan sebesar Rp16.860.486.162.676.701.142 144.002.306.264.496.754.

621 4.092 % 8.351. 908.500.163.052.585 0 61. Akun Konstruksi Dalam Pengerjaan pada SIMAK-BMN tidak diklasifikasikan berdasarkan BLU dan Non BLU.950.828.567. Nilai tersebut termasuk Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar Rp27. sementara pada Neraca SAK Konstruksi Dalam Pengerjaan diklasifikasikan sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan (kode akun 132111) dan Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU (kode akun 135611).849.92 0.055 19.663 210.930.2.794.094.476.861.614 99.370.570.804.035.052.00 4.616.448 5.664.999.227.305.68 0.716 1.185.497 8.608 190.124.316 30.294.257.432 173.816 Naik / (Turun) 429. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 Uraian SETJEN ITJEN DJP DJBC DJPU DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 5.050.730 0 707.229.576.447.17 1.811.206 4.730.028.00 3.05 1.000.00.364.321.1 Tanah Tanah Rp17.115.161.985.953.110 2.431.000 66.154.500.813.828. Atas hal tersebut menyebabkan selisih lebih Konstruksi Dalam Pengerjaan Badan Layanan Umum (135611) dengan nilai yang sama.941.868.154.981.154.750 466.879.000 2.794.528.08 0.332.986 1.00 Nilai Tanah per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp17.908 31 Desember 2009 4.252.875.124.664.448 5.833.164. C.588 89.690.111 0 2.3. Tabel 83 Tanah Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.816.950.828.897.213.000.984.000 16.477 89.00.989.933. Selisih kurang Konstruksi Dalam Pengerjaan sebesar Rp18.027.000 17.00 merupakan nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) sebagai Aset Tetap Lainnya (kode akun 131921) dan Aset Tetap Lainnya BLU (kode akun 135511).966.908.00 1.813.802.950.30 10.48 0.836.135.30 Halaman 99 .054.985.447.106.247 475.00 dan Rp16.288.538.182 99.426 2. Rincian nilai Tanah yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 83 berikut.798. 6.

562.793.483 62.526.587.143 -36. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 Catatan atas Laporan Keuangan Tanah Aset Tetap dalam Neraca Tanah 16.028.488.150 9.911.359.784 Aset Tetap Lainnya BLU 5.600 2.359.860 17.983.530.300 -7.483 Gedung dan Bangunan BLU 62.058 29.501 0 159.000.035.860.776.720 (10.796 115.093.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi/perubahan Tanah dapat dapat dilihat pada Tabel 84 berikut.649.000) (905.307.324.908 Selisih (543.893.000 -36. Tabel 84 Mutasi/Perubahan Tanah Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Uraian transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR No.333.093.860 KDP BLU 17.664.166) (2.990.549 1.034.063.015.243.674.228.634 Irigasi 29.071.000 80.779.173.447.000 17.360) 51.779.604.384.764.066 -74.151 Tanah BLU 543.688.225) (69.486.511.118.480.657.754.816 6.514.296 Uraian Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.261.645.559.734.505.424.104.000 -158.578.664.915.000) (19.154.074 8.928.051.742.000 0 0 0 0 837.726.507. Irigasi dan Jaringan BLU 3.784 5.751 77.844.353.507.139 0 0 0 0 0 0 33.000 Peralatan dan Mesin BLU 17.514.987 207.454.648 Jumlah 33.470.066.072.598.731.504.313.139.712 9.194.702.408.124.635.053 Jalan dan Jembatan 89.166.828.675.779.159.838 Halaman 100 .388.621.159.844.776 639.768.447.104.795.467 0 0 0 -25.219 91.212.511.087.783.000 0 0 0 -344.443.506 3.420.621.723.496 Konstruksi Dalam Pengerjaan 629.988) 543.200.814.833.664.106.228.813.124.375 17.409 64.147 547.375.648 55.726.000 0 13.487 Gedung dan Bangunan 9.627 Aset Tetap Lainnya 259.762.458.720.646.794.065.228.511.505.701.866 -4.762.868.458 16.241 320.198.751 Jaringan 76.816 Peralatan dan Mesin 6.506 Jalan.813.676.816 164.844.702.424) (17.971.800.

037.111.677.92 6.385 6.07 17.508.808.306.769.522.073 22.400 120.455.670 182.101 32.860.051.600.308.152.220 BAPEPAM-LK 79.511.279.582 22.787.114.339 2.799 DJPK 24.306.00 dan Rp6.532 4.090.15 41.72 Halaman 101 .027 DJPU 24.577.78 9.083 15.255.56 13.650.002 81.637.881.465.042.844 510.398.365.151.708.748. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai dari Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar minus Rp46.420.487.330.699 886.649.566.710.062.420.321.603.210. 00 Nilai Peralatan dan Mesin per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp7.899 BKF 38.61 30.137 36.342.700.003.926.185.560 35.641.508.563.037.487 Naik / (Turun) 58.412.28 21.309 DJKN 237.02 8.84 39.815.291.391 DJP 3.282.00. Tabel 85 Peralatan dan Mesin Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.431.424.169.859.062.218.966.169.062.62 3.625.657.446.622.719 28.028.314 Jumlah 7.929 881.998.824.2 Peralatan dan Mesin Peralatan dan Mesin Rp7.32 39.889.021 % 15.267 20.00.868.103 BPPK 114.635 271.550.094. Rincian nilai Peralatan dan Mesin yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 85 berikut.147 56.2.146 295.573. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Catatan atas Laporan Keuangan Uraian 31 Desember 2010 SETJEN 433.77 23.868.685.037.187.349.508 31 Desember 2009 375.888.400.381.942.340.244 DJPB 631.215.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.445 2.418 ITJEN 28.550.564 DJBC 2.709.306.213.707.424.403.220 DJA 52.418 1.756 3.861.384.639 55.3.896.

228.065.854.506 3.198.532 -50.748.451.591.784 5.844.928.476.814.731.384. Tabel 86 Mutasi / Perubahan Peralatan dan Mesin Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Uraian transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR Peralatan dan Mesin 6.396.793.402.702.053 9.635.025.901.526.104.784 Aset Tetap Lainnya BLU 5.071.81 3.725.550.648 -483.988) 543.280.738.487 6.047.722 -7.280 1.3.458 (905.804 27.307.306.219 Rincian nilai03Gedung dan Bangunan yang dimiliki UAPPA-E I lingkup(69.659.720 (10.754. Uraian Selisih koreksi Neraca SIMAK-BMN nilai dari Tim01Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar Rp10.391.505.00 Nilai Gedung dan Bangunan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Aset Tetap dalam Aset Tetap dalam Rp9.709.779.307.833.166) Kementerian 04 Jalan dan Jembatan 89.00 dan Rp9.568 0 -127.994.093.195.085.726 268.263 0 -54.649.2.073 1.984.037.536 1.225) 06 07 08 09 10 11 12 13 14 Jaringan 76.507.424) Keuangan dapat dilihat pada Tabel 87 berikut.990.124.799.987 207.062.333 -74.860 KDP BLU 17.762.388.715.944.617.612.000 17.911.844.476.702.092.262.648 55.350.634 91.296 77.712 (19.034.420.782.779.200.035.261.015.408.764.507.893.664.000 0 -28.420.359.447.037 -18.709 0 -777.621.037.159.035.072.816 (543.751 29.902.514.732.184.872.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi/perubahan Peralatan dan Mesin dapat dilihat pada Tabel 86 berikut.828 540.243.544.838 Gedung dan Bangunan 9.539.508 C.698 551.674.781.124.762.547 7.130.261.627 Aset Tetap Lainnya 259.830.104.723.483 Gedung dan Bangunan BLU 62.346.856 16. 05 Irigasi 29.511.00.506 Jalan.424.000 Peralatan dan Mesin BLU 17.173.685.465 -78.928.880.000 252.917 3.726.751 (17.813.511.902.000) Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 102 .228.776 639.374 500.313.3 Gedung dan Bangunan Gedung dan Bangunan Rp9.212.587.971.487 134.466.151 Tanah BLU 543.007 2.095 16.953.063.241.139 0 0 0 0 0 0 33.634.470.173.657.505.701.066.410.443.058 (2.360) 51.860 17.514.844.967.132 37.568 5.431 776.663.179.00 Tanah 16.875 -13.454.133.868.424.880. Irigasi dan Jaringan BLU 3.486.726.959.648 Jumlah 33.053.000) 02 Peralatan dan Mesin 6.816 16.228.621.600.496 Konstruksi Dalam Pengerjaan 629.342 0 289.813.093.868.113.480.779.483 62. Nilai tersebut termasuk No.676.994.087.604.

600. Tabel 88 Mutasi/Perubahan Gedung dan Bangunan Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Uraian transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR Catatan atas Laporan Keuangan No.364 0 580.400.038 2.885.00 7.628.309.411.254.655.444.21 31.281.972.668.548.218.162 625.470.779.56 0.734.600.560.843.228.911.152.754.285.255.360.079 -54.971 368.967.114.948.420.908.632.751 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.487 9.019.070.880.000 0 0 -44.053 89.476.137.166) (2.523.012.441.430 52.023.704.865.424) (17.454.902.70 Mutasi/perubahan Gedung dan Bangunan dapat dilihat pada Tabel 88 berikut.326 226.928.893.82 0.173.054 7.687.793.000 368.261.925 27.173.751 Gedung dan Bangunan 9.021.000 4.875.928.985.876 2.610.762.269.813 Selisih (543.610 1.809.544.053 Naik / (Turun) 209.816 6.689.507.48 0.243.827 36.869.257 1.760 % 8.843.000) Halaman 103 .731.703 1.00 11.272 -55.893.730.081.779.814.621.519.314 -26.261.464 0 842.320 -872.778 27.000 114.822.074 436.634 29.000) (19.358.424.316.020.911.355 0 706.187.666 5.503.841.443.122.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 87 Gedung dan Bangunan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.261.764 93.779.559.105.574.011.241.864.519 191.067 22.712 9.805 -518.730.372.972 4.252 177.277 1.453. 01 02 03 04 05 Uraian Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan dan Jembatan Irigasi Aset Tetap dalam Neraca 16.587.887.980.173.813.641.526.10 0.975.880.46 14.225.065.559.066.000 9.550 293.506. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 Uraian SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPU DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 2.058 29.485 56.660 22.159.035.082.868.114.928.980.428.25 39.359.870.180 0 66.219 91.400.810.225) (69.813 9.829.897.816 6.942.695 171.974.000 0 1.000 1.844.205.419.752.726.152.677.023.186.772 234.053 7.026.428 1.750.787.762.550 395.00 29.990.486.457.604.871.072 395.570 4.657.319 9.525 -46.132.447.224.091.372.105 0 58.161 -8.905 0 -1.885.015 0 392.821 0 -18.850 12.902.823.715 1.00 1.382 96.476.799.001 -9.548.200.574.920.253.664.

527.487 9.769.000 1.366 2.647 0 93.33 107.009.949 2.712 9.893.066.576.843.066.693.634.486.420.096.663 89. 00 Nilai Jalan dan Jembatan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp184.780.066.488.488.925.893.77 665.769.488.430.868.243.422.443 167.998.573 162.816 6.910.219 5.853 184.570 942.664.731.316. Tabel 90 Mutasi/Perubahan Jalan dan Jembatan Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Uraian transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR Catatan atas Laporan Keuangan No.813.00.12 120.454.844.479.447.40 83.00.779.839 2.760 88.225) (69.080.800 749.28 68.035.043.2.071.000 184.424.261.443.990.870 569.470.315.769 Halaman 104 Selisih (543.990.000) (19.065.360.928.813 73.800.360.34 18.166) .229 85.925 0 81.788 4.237 6.769 31 Desember 2009 2.710.736.657. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai dari Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar Rp942.853 2.763.036.816 6.000 0 0 0 -8.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.135 % 16.911.444.423.280.634 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.228.328.141.943.173.035.288.222. 01 02 03 04 05 06 Uraian SETJEN DJP DJBC DJPB DJKN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 3. 01 02 03 Uraian Tanah Peral atan dan Mesi n Gedung dan Bangunan Aset Tetap dalam Neraca 16.219 41.161.422.464.190 95.600.053 Jalan dan Jembatan 89.237 7.432.000 0 0 -3.099 655.931.4 Jalan dan Jembatan Jalan dan Jembatan Rp184.961.084 95.634 Naik / (Turun) 480.666 0 0 12.01 Mutasi/perubahan Jalan dan Jembatan dapat dapat dilihat pada Tabel 90 berikut.315.00 dan Rp89.000 0 0 0 0 0 168.731. Tabel 89 Jalan dan Jembatan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.022.035.888. Rincian nilai Jalan dan Jembatan yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 89 berikut.488.315.182.526.842.676.320.315.683.3.897.135 0 0 0 0 0 -4.

634 29.449 -94.38 05 DJKN 625.039 0 0 0 0 0 0 0 0 0 127.253 39.235 33.00 dan Rp29.970.004.402.000.143.000 0 -1.221 0 114.470.260 57.751 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.305.380.902 0 0 0 0 -1.893.751.934 18. Tabel 91 Irigasi Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.674 10.676.000 13.538.5 Irigasi Irigasi Rp41.516.173.012.844.000) .664.526.33 -11.560 1.420.756.587.814.193 114.274 1.813.000 8.424) (17.331.000 11.333.161.159.34 04 DJPB 4. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai dari Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar Rp125.900.428 03 DJBC 29.013.004 Selisih Halaman 105 (543.443.765.751 29.000 0 -150.726.3.066.200.642 79.021.649 41.594.210.261.82 5.604.779. Tabel 92 Mutasi/Perubahan Irigasi Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Catatan atas Laporan Keuangan Uraian transaksi Irigasi SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR No.393.159.847.874.06 Jumlah Mutasi/perubahan Irigasi dapat dapat dilihat pada Tabel 92 berikut.657.312.004.166) (2.670) % 02 DJP 1.143.896.035.065.486.00.712 9.816 6. 31 Desember 2010 31 Desember 2009 01 SETJEN Uraian 3.359.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.447.287.000 0 0 12.846 85.159.320 4.680.676.990.058 29.556.731.911.751 11.162.200 -2.918.587.004 29.074.488 0 0.587.900.2.970.676.062.816 6.143.00 06 BPPK 1.026.587.676.92 41.868. Rincian nilai Irigasi yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 91 berikut.917.663.454.000 0 0 -1.990 Naik / (Turun) (492.059.657.159.424.000) (19.924.193 1. 01 02 03 04 05 Uraian Tanah Peral atan dan Mesi n Gedung dan Bangunan Jal an dan Jembatan Iri gasi Aset Tetap dalam Neraca 16.670.487 9.793.950.795 3.433.228.00.928.0 0 Nilai Irigasi per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp41.000.225) (69.751 61.243.000.219 91.053 89.572.909.083.694.393.679.779.488 625.143.

558.072.893.228.447.643.173.222 91.000) .627 15.493.868.205.200.667 0 0 0 -3.166.928.581.243.299 0 2.65 03 DJBC 18.847.091.480.79 07 BKF Jumlah Naik / (Turun) % 37.793.712 9.600 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.493.166) (2.065.00 05 DJKN 1.261.445 19.066.813.634 29.990.814.0 0 Nilai Jaringan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp91.049.643.026.537 02 DJP 29.751 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.697.587.307 1.452.338.445 0.621.700 401.077.438.416. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai dari Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar minus Rp55.937) -5.359.275.813. Tabel 93 Jaringan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.669 0 0 0 0 2.000 0 0 -239.225) (69.729.04 69.844.587 114. Rincian nilai Jaringan yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 93 berikut.957.3.493.470.443.454.884 2.682.053 89.159.594.605.307.990 (1.486.035. 31 Desember 2010 31 Desember 2009 01 SETJEN Uraian 32.449.526.816 6.247.00 91.813.420.072.777.212.393 31.424) (17.751 76.294.00.487 9.00 dan Rp76.812.726.065.000 -55.219 91.053 31.890.911. Tabel 94 Mutasi/Perubahan Jaringan Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Catatan atas Laporan Keuangan Uraian transaksi Jaringan SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR No.630.150 0 -4.715.635.627 402.719.000) (19.657.072 Selisih Halaman 106 (543.072 76.779.048.307.69 06 BPPK 4.750 23.213 8.000 3.000 19.627.800 4.604.493.100.467.545.882.6 Jaringan Jaringan Rp91.809.141.266.008.332.83 04 DJPB 4.816 6.320.670. 01 02 03 04 05 Uraian Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan dan Jembatan Irigasi Aset Tetap dalam Neraca 16.445 0 69.316.800 0 118.635.520 18.193 14.770.664.032 1.635.307.508.026 0 -301.424.766.779.040 728.00.316.290.857.731.832.046 0 -134.457.978.316.471 1.982.059.560 4.643.560 0 0 9.2.67 Mutasi/perubahan Jaringan dapat dilihat pada Tabel 94 berikut.058 29.900 37.618.730.000.316.

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.426 1.516) (1.000) (19.060 4.295 20.0 0 Nilai Aset Tetap Lainnya per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp20.015.169) (2.917) (4. Tabel 96 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Lainnya Kode 100 101 102 103 104 105 106 107 111 112 177 199 201 202 204 205 206 208 204 205 301 302 303 304 305 399 401 402 Uraian transaksi Aset Tetap Lainnya SALDO AWAL Reklasifikasi saldo awal Reklasifikasi menjadi ATR Penambahan Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Hibah (Masuk) Rampasan Penyelesaian Pembangunan Pembatalan Penghapusan Reklasifikasi Masuk Pertukaran Perolehan Lainnya Reklasifikasi Dari Aset Lainnya ke Aset Tetap Perolehan Reklasifikasi Dari Intra ke Ekstra Pengurangan Nilai Aset Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Pengembangan melalui KDP Mutasi Tambah Pembulatan saldo awal Write off Aset yang hilang Reklasifikasi saldo awal Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (-) Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Transfer Keluar Hibah (Keluar) Reklasifikasi Keluar Koreksi Pencatatan Penghapusan semu karena reklasifikasi dari aset tetap ke aset lainnya Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Penggunaan kembali BMN yang sudah dihentikan penggunaannya Mutasi Kurang SALDO AKHIR 259.085.201 31 Desember 2009 3.718.09 Mutasi/perubahan Aset Tetap Lainnya dapat dilihat pada Tabel 96 berikut.825.845.10 -25. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai oleh Tim Penertiban Aset DJKN sebesar minus Rp1.540.44 -9.377.862.576 3.243.454.470.147.404.000 188.446 3.646 259.137 345.125.308.627.215.000 0 0 0 825.137.586.496 Naik / (Turun) (2.177.496.58 -92.075.407.884.813.166.519.263 -10.151.000 0 0 1.496.843.000 0 0 -56.928.755.995.899.219 Selisih (543.837) (2.726.228.657.496 16.065.150. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 Uraian SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPU DJPB DJKN BAPEPAM-LK BPPK BKF Jumlah 31 Desember 2010 1.001 4. 01 02 03 Uraian Tanah Peral atan dan Mesi n Gedung dan Bangunan Aset Tetap dalam Neraca 16.990.489) (29.000 4.526.726.952.576.935.272.590.020 2.258.322.295) % -64.322.576. Rincian nilai Aset Tetap Lainnya yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 95 berikut.69 -26.868.702.223.12 -88.576.911.941.00 dan Rp259.256.000 0 1.721.352.746 29.508 2.754.197.257 116.618.576.943.375) (210.760.203 347.387.851.816 6.312.261.46 -75.466 0 0 -289.496.00.00.769 4.990.48 -54.568.918.603) (9.015.482 54.487 9.201.893.100 0 787.492 600.844.277 371.580 0 -1.483.68 -99.447.842 839.829.628.816 6.631.201.303.941) (459.641) (238.992 427.779.173.935.486.439.425 5. Tabel 95 Aset Tetap Lainnya Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.563 470.536.20 -92.38 -97.802.009.2.335.360 0 -243.015.187.263.467 629.500 -597.957.496.791.426) (124.005 20.166) .159.308.420.120 4.043.424.119.3.629.183 696.592.496.201 Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 107 No.053 Aset Tetap dalam SIMAK-BMN 16.08 -81.231) (184.544.126 0 -185.731.443.028 15.899.150) (1.61 -61.225) (69.304.576 2.064.337.778.295.500 0 5.664.974.095.448.060.850 15.7 Aset Tetap Lainnya Aset Tetap Lainnya Rp20.726.956.712 9.868.

651. Tabel 98 Mutasi/Perubahan Konstruksi Dalam Pengerjaan Kode 501 502 503 504 505 506 507 599 Uraian SALDO AWAL 2010 Mutasi Saldo Awal KDP Perolehan KDP Pengembangan KDP Koreksi Nilai KDP Penghapusan/Penghentian KDP Transfer Masuk KDP Transfer Keluar KDP Reklasifikasi KDP menjadi Aset Jadi SALDO AKHIR KDP 629.262.946.566.192.676.192.946.36% Halaman 108 .705 34. Rincian Tanah BLU per Eselon I dapat dilihat pada Tabel 99 berikut.151.377.00.948 82.045 629.791 187.408.250 69.350.105.568.651.710.492 8.867.062.318.486.10 -6. Nilai tersebut merupakan nilai Tanah BLU STAN pada BPPK.157 (105.779 13.676.828 15. 01 02 03 04 05 06 Uraian SETJEN DJP DJBC DJPB DJKN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 83.394 39.049.23 -60.182.745 615.358 -995.9 Tanah BLU Tanah BLU Rp545.746.351.676.758.298.062.827.238.215.3.375 31 Desember 2009 102.844.276.00 dan Rp629.408.906) (2.844.2.991 926.776) % -18.300) (13.827.333.693.062.238) 19.159.945.182.228.218.679 615.995.07 -56.00.161 370.757.192. Rincian nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan yang dimiliki UAPPA-E I lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 97 berikut.776.08 44.334 -21.827 543.151 Naik / (Turun) (18.563) 113.040.375 C.662.821. 00 Nilai Tanah BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp545.08 238.433.944.646.513.340.651.386 27.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.035.786.2.000 Naik / (Turun) 1.375 .677.411.55 -2.228.375.397.963.780.724 257.668.377.062.224.074 (20.129.000.408.196 -70.372.8 Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi Dalam Pengerjaan Rp615.344.523.203.827 % 0. Uraian 01 BPPK Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 545.00 Nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp615.377.590. Tabel 99 Tanah BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 No.052.488 37. Tabel 97 Konstruksi Dalam Pengerjaan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.377.3.254 28.720.19 Mutasi/perubahan Konstruksi Dalam Pengerjaan dapat dilihat pada Tabel 98 berikut.824.651.00 dan Rp543.151 35.

659 % 25.142.703.700 12.142.52 80.793.0 0 Nilai Peralatan dan Mesin BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp31.940.142 31 Desember 2009 4.827 1.00.762.963.697.327.483 Naik / (Turun) 1. Rincian nilai Peralatan dan Mesin BLU per Eselon I dapat dilihat pada Tabel 101 berikut.10 Peralatan dan Mesin BLU Peralatan dan Mesin BLU Rp31.334 31.781. Tabel 101 Peralatan dan Mesin BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.000.2.721.827 C.514.000 1. Nilai tersebut merupakan nilai Peralatan dan Mesin BLU pada PIP Setjen dan STAN BPPK.98 Halaman 109 .987.31 101.963.218.827 0 545.228.192.916.062. Uraian 01 SETJEN 02 BPPK Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 5.808 25.367.00 dan Rp17.218.182.959 14.703.375 17.514.762.483.108 12.753.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi/perubahan Tanah BLU dapat dilihat pada Tabel 100 berikut. Tabel 100 Mutasi/Perubahan Tanah BLU Kode 101 102 105 112 188 202 204 206 201 205 301 401 Uraian Transaksi SALDO AWAL Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Perolehan lainnya Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset Lai Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Mutasi Tambah Pengurangan Nilai Aset Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Mutasi Kurang SALDO AKHIR Jumlah 543.844.194.3.703.00.395.980.375.697.697.959. Nilai tersebut termasuk koreksi nilai dari Tim Penertiban Aset DJKN pada tahun 2010 sebesar minus Rp105.

3.506.762.084.672.174.401.077 21.505.2.701.293.11 Gedung dan Bangunan BLU Gedung BLU Rp144.225 Halaman 110 .416. Tabel 102 Mutasi/Perubahan Peralatan dan Mesin BLU Kode 101 102 105 112 188 202 204 206 201 205 301 401 Uraian Transaksi SALDO AWAL Reklasifikasi Saldo Awal Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Perolehan lainnya Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset Lai Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Mutasi Tambah Pengurangan Nilai Aset Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Mutasi Kurang SALDO AKHIR Jumlah 17.753.506 Naik / (Turun) 82.167.557.514.000.719 % 131.672.225. Nilai tersebut merupakan nilai Gedung dan Bangunan BLU STAN pada BPPK.505.559.288.507. Uraian 01 BPPK 31 Desember 2010 31 Desember 2009 144.902.438.495.961.607 144.506 453.746 398.693.064.931.672.039.506.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi/perubahan Peralatan dan Mesin BLU dapat dapat dilihat pada Tabel 102 berikut.225 62.871 17.833.697. Rincian Peralatan dan Mesin BLU per eselon I dapat dilihat pada Tabel 103 berikut.875 729.000 31.506.225.075.753.607 -7.938 10.00 dan Rp62.369 38.104.46 Mutasi/perubahan Peralatan dan Mesin BLU dapat dilihat pada Tabel 104 berikut.632.158.946 775.703.142 C.672. 00 Nilai Gedung dan Bangunan BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp144.000 9.104.559.326 -7.505.483 1.00.615 82.506.659 -105.093.000 14.000 -105. Tabel 103 Gedung dan Bangunan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.648 4.900 525.104. Tabel 104 Mutasi/Perubahan Gedung dan Bangunan BLU Kode 101 102 105 112 188 202 204 206 201 205 301 401 Catatan atas Laporan Keuangan Uraian Transaksi SALDO AWAL Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Perolehan lainnya Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset Lai Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Mutasi Tambah Pengurangan Nilai Aset Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Mutasi Kurang SALDO AKHIR Jumlah 62.506.

Uraian 01 SETJEN 02 BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 218.860.811.00 dan Rp3. Irigasi.511.480 7.000 % 0. dan Jaringan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 No.380 7.585.287.074. dan jaringan BLU Rp16. dan Jaringan dapat dilihat pada tabel 106 berikut.444.00.480 % 0.264.500 218.784.000 1.224.702. Uraian 01 SETJEN 02 BPPK Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 42.00.043.659.174. dan Jaringan BLU Kode 101 102 105 112 188 202 204 206 201 205 301 401 Uraian Transaksi Jumlah SALDO AWAL Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Perolehan lainnya Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset Lai Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Mutasi Tambah Pengurangan Nilai Aset Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Mutasi Kurang SALDO AKHIR 3.00 dan Rp5.579.764 3.13 Aset Tetap Lainnya BLU Aset Tetap Lainnya BLU Rp7.486.702.860.701.784 13.074.389.701.124.860 5.756 2.405. Rincian Jalan.361. Nilai tersebut merupakan nilai Jalan.576.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.784 Naik / (Turun) 0 13.865.486.860 Naik / (Turun) 0 1.480 13. Tabel 105 Jalan.284 16.500 16.000 0 0 39.174.00 33.2.621.395 4. Irigasi.380 42.865.39 352.511. dan Jaringan BLU per eselon I dapat dilihat pada Tabel 105 berikut.585.745.3.264 3. Tabel 107 Aset Tetap Lainnya BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.043.264 C.33 Mutasi/perubahan Jalan.585.745.00 374.12 Jalan.00 Nilai Aset Tetap Lainnya BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp7. dan Jaringan BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp16.784 1. Irigasi.860.480 5. irigasi.264.2.124.576.526. dan Jaringan BLU Jalan.950.701.480 0 0 0 0 0 16.000 38. Irigasi.702. Tabel 106 Mutasi/Perubahan Jalan.343.856.066. Nilai tersebut merupakan nilai Aset Tetap Lainnya BLU pada PIP Setjen dan STAN BPPK.224. dan Jaringan BLU pada PIP Setjen dan STAN BPPK.681. Irigasi.527.745.3.917.18 Halaman 111 .410.483.486.701.43 33.0 0 Nilai Jalan. Irigasi.621.043.545 4.124. Rincian Aset Tetap Lainnya BLU per eselon I dapat dilihat pada Tabel 107 berikut. Irigasi.745.576.

966.170.865.648.966.000 -99. Tabel 110 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Uraian SALDO AWAL 2010 Mutasi Saldo Awal KDP Perolehan KDP Pengembangan KDP Koreksi Nilai KDP Penghapusan/Penghentian KDP Transfer Masuk KDP Transfer Keluar KDP Reklasifikasi KDP menjadi Aset Jadi SALDO AKHIR Catatan atas Laporan Keuangan KDP BLU 17.185 17.966.093.648 0 162.966.282.185.486.458.000 7.865.321.00 dan Rp17.228.548 18.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Mutasi/perubahan Aset Tetap Lainnya BLU dapat dilihat pada Tabel 108 berikut.860 1.185.860 C. Uraian 01 BPPK 31 Desember 2010 31 Desember 2009 18.724.173.511.14 Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Rp18.507. Tabel 108 Mutasi/Perubahan Aset Tetap Lainnya BLU Kode Uraian Transaksi SALDO AWAL Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Perolehan lainnya Reklasifikasi Dari Aset Tetap ke Aset Lai Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Penerimaan Aset Tetap Renovasi Mutasi Tambah Pengurangan Nilai Aset Koreksi Nilai Tim Penertiban Aset (-) Penghapusan Penghentiaan Aset Dari Penggunaan Mutasi Kurang SALDO AKHIR 101 102 105 112 188 202 204 206 201 205 301 401 5.648 Naik / (Turun) 1.507.093.585. Tabel 109 Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) No.000 -99.19% Mutasi/perubahan Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU dapat dilihat pada Tabel 110 berikut.173.889.00.400 20.2.0 0 Nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp18.621.321.185 Halaman 112 .270.321.685 -3. Rincian Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU per eselon I dapat dilihat pada Tabel 109 berikut.959.000 1.537 % 7.093.3.321. Nilai tersebut merupakan nilai Konstruksi Dalam Pengerjaan BLU pada STAN BPPK.507.000 0 0 0 -19.

Grafik 21 Komposisi Aset Lainnya Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 113 .108.209.739.556.287.550.790 548.938 2501.388.647 70.879.372 15.209.00) (3.358.00.568. Aset Tak Berwujud BLU. Aset Tak Berwujud.164.524.249.400.002.682 808.798 312.023.38) 48.617.519.402.BLU Aset Lain-lain Aset Lain-lain BLU Dana Kelolaan BLU 31 Desember 2010 31 Desember 2009 5.815.603 41.000.739.879 .378.000) (100.384 0 985.40 161.310 534.95 (3. Tabel 111 Komposisi Aset Lainnya Per Jenis Aset Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian Tagihan Tuntutan Perbendaharaan / TGR Aset Tak Berwujud Aset Tak Berwujud .879 5.790 386.417.398.044 2.005.209.422) (0.077. Rincian Aset Lainnya Per Jenis Aset dapat dilihat pada Tabel 111 berikut.037.876.315.568.50) Komposisi Aset Lainnya Per Jenis Aset dapat dilihat pada Grafik 21 berikut.00 Nilai Aset Lainnya per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp985. Aset Lain-lain. Aset Lain-lain BLU.801.000 4.739.509) (75.295.400.709.422.39 274.658.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.2.980.446 3. merupakan saldo Tagihan TP/TGR.4 Aset Lainnya Aset Lainnya Rp985.295.753.023.388 Kenaikan/ % (Penurunan) (20.495. dan Dana Kelolaan BLU.706.00 dan Rp4.000 51.376 360.416.83 67.315.000.

005. Tabel 112 Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/TGR Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.671 222.519.438.374. Berkurangnya nilai Tagihan Tuntutan Ganti Rugi/TGR tersebut dikarenakan reklasifikasi akun Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi menjadi akun Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi dan reklasifikasi menjadi akun Aset lainlain karena penagihannya dialihkan kepada DJKN.000 427.592.005.000.03) (132.868.375.666.376.495.005. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 114 . Aset Tak Berwujud Rp360.069 0.09 015.546 2.682.249.1 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi Tuntutan Perbendaharaan/ Tuntutan Ganti Rugi Rp5.4.441. Nilai Tagihan Tuntutan Ganti Rugi/TGR Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp5.671) (87.08 015.069 5.992.00 dan Rp312.193 1.384.127. Aset ini semuanya merupakan software yang dibeli dan/atau dikembangkan oleh Kementerian Keuangan.495.01 015.350 6.11 Eselon I SETJEN DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 120.76) 40.402.992.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C. 00 C.664) (100.05 015.422. Rincian Aset Tak Berwujud dapat dilihat pada Tabel 113 berikut.00) 834.00 26.4.00 Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi yang ada pada Kementerian Keuangan hanya berupa Tagihan Tuntutan Ganti Rugi.2.422.411 21.511.700) (59.04 015.002.664 0 5.310.799 Kenaikan/ % (Penurunan) (808.908.682.00 dan Rp5.000 3.700 3.38) Adapun rincian Tuntutan Perbendaharaan/TGR dapat dilihat pada lampiran daftar Tagihan TGR Kementerian Keuangan TA 2010.402.000 0.05 21.2 Aset Tak Berwujud Nilai Aset Tak Berwujud per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp360.00 (20.747.376 928.849.00.218 0 400.06 015.402.812.376.2. Rincian Tuntutan Perbendaharaan/ TGR dapat dilihat pada Tabel 112 berikut. Nilai Tagihan Tuntutan Ganti Rugi/TGR merupakan tagihan yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan mendatang.002.122.00.000.798.63 (2.423) (0.524.417.666.524.000 89.896 0 834.

872.000) (266.438.634.650.310 Kenaikan/ (Penurunan) 10.495.160 8.495.750 4.116 1.303.810.726 14.000 1.610.910 734.658.006.300.74 7.421 50.108.496 360.10 015.04 015.921.427.959 54.265.767.543.280 14.524. Aset Tak Berwujud BLU tersebut merupakan Aset Tak Berwujud Pusat Investasi Pemerintah (PIP).600 3.08 015.518.01 015.75 711.790.247.116. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 115 .753.310 50.659.293.790.122 999.03 015.05 015.169.56 3.401.993.39 Mutasi/perubahan Aset Tak Berwujud dapat dilihat pada Tabel 114 berikut.077.3 Aset Tak Berwujud BLU Aset Tak Berwujud BLU Rp808.933 6.12 Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPU DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK BKF Jumlah 31 Desember 31 Desember 2010 2009 60.894.115.029.124.908.288.434 43.072 36.000 47.840 526.382.06 840.600 660.950.156.814.000 7.249.719 182.000 (2.02 015.350 18.470.000.372 379.68 25.370.11 015.000 1.578.06 015.217.451.159. Tabel 114 Mutasi/Perubahan Aset Tak Berwujud SALDO AWAL Mutasi Tambah Pembelian Transfer Masuk Penyelesaian Pembangunan Reklasifikasi Masuk Pengembangan Nilai Aset Koreksi Pencatatan Nilai/Kuantitas (+) Pengembangan Melalui KDP Penambahan Saldo Awal Mutasi Kurang Penghapusan Reklasifikasi Keluar Transfer Keluar SALDO AKHIR 312.520.132 3.726 6.823 4.425.390.277.000 3.143.39 15.690.79 10.760 11.954.002.151.700.685.830 6.832.372 % 21.07 015.811.2.133 41.00 dan Rp534.4.288.002.417.242.000 1.610.349.700) 360.040.81 25.658.960.650.700) (2.073.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 113 Aset Tak Berwujud Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.00 Nilai Aset Tak Berwujud BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp808.315 5.567.217.08 21.971.79 2.200 188.550 396.933.682 C.470.000) (34.116.260.112.761 155.850 7.902.29 21.417.09 015.177.673 107.430.682 312.010 4.636 48.598 4.790.241.862.681.926.707.315 8.249.882.00.840 3.339 48.330.157 7.650.068.252.284.661.612.63 224.256.

00.815. 00 Nilai Aset Lain-lain per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp548.01 SETJEN 808.617.790 Kenaikan/ (Penurunan) 274.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian Aset Tak Berwujud BLU dapat dilihat pada Tabel 115 berikut.000 532.900.000 226.658.790 274. aplikasi cash management dan investasi jangka pendek PIP.108.350.044. Rincian Aset Lain-lain dapat dilihat pada Tabel 118 berikut.550. Tabel 115 Aset Tak Berwujud BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode Eselon I 31 Desember 2010 31 Desember 2009 015.00 dan Rp386. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 116 .658.000 48. Tabel 117 Aset Tak Berwujud BLU Per Jenis (dalam rupiah) Uraian Perangkat sistem informasi manajemen PIP Aplikasi cash management dan invenstasi jangka pendek PIP Website dan webmail PIP Sistem pengelolaan kinerja (pendekatan balanced scorecard) dan kompetensi berbasis web Jumlah Nilai 49.000.000 808.208.4 Aset Lain-lain Aset Lain-lain Rp548. website dan webmail PIP serta sistem pengelolaan kinerja (pendekatan balanced scorecard) dan kompetensi berbasis web dengan rincian yang dapat dilihat pada Tabel 117 berikut.647.647.4. Tabel 116 Mutasi/Perubahan Aset Tak Berwujud BLU SALDO AWAL Mutasi Tambah Pembelian Pengembangan Nilai Aset Mutasi Kurang Penghapusan Transfer Keluar SALDO AKHIR 534.108.790 C.200.378.550.378.398.790 Aset Tak Berwujud PIP per 31 Desember 2010 berupa perangkat sistem informasi manajemen PIP.790 534.000 % 51.550.000 0 0 0 808.000 191.658.2.790 35.617.40 Mutasi/perubahan Aset Tak Berwujud BLU dapat dilihat pada Tabel 116 berikut.

249.480.371.892.62 60.00 merupakan write-off nilai gedung bangunan GKN Aceh sudah hancur karena tsunami tahun 2004 namun belum terbit SK penghapusan.145.000) (1.287.296.710.06 015.533.775.617.531.760 2.89 (100.378.08 015.316.67 (17.229 Selisih (944. Dalam neraca berdasarkan SAK.316.862.398.241.200.145.775.095) 1.01 015.798 98.987 46.716.801.517.856.055.000) 0 (220.349 2.744.279 53.272 207.826.462.910.297.838.296 5.773 386.027.907 5.95 20.000) (434.626.081 7.699 6.00) 41.517.905 (9.05 015.297.922.672) 2.032.513. Tabel 119 Perbedaan Saldo Akhir Akun Aset Tetap Yang Tidak Digunakan Dalam Operasi Pemerintahan Pada Neraca SAK dengan Laporan Posisi BMN di Neraca (dalam rupiah) Eselon I SETJEN ITJEN DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK Jumlah SAK 4.78) 1.595.03 015.09 015.00.134 SIMAK-BMN 5.410.647 6.111 136.292 153.69 64.088 153.378. Selisih kurang sebesar Rp944.079 932.10 015.481.872.786.799.000) 23.617.607.697.987 45.568 347.380 29.956.758 548.085 5.884.279 42.324.145) 0 (19.858. nilai tersebut telah dikeluarkan namun Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 117 .617.114.783.783.079 932.797.079 35.83 Aset Lain-lain sebesar Rp548.044 Kenaikan/ (Penurunan) (723.070.502 (220.956.055.815.517.272 209. Terdapat perbedaan saldo akhir akun Aset Tetap yang tidak digunakan dalam operasi pemerintahan (154112) pada Neraca SAK dengan Laporan Posisi BMN di Neraca pada SIMAK-BMN sebesar Rp1.12 Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK BKF Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 5.13) 23.509.457 211.00 dan akun Aset Tetap yang tidak digunakan dalam operasi pemerintahan (154112) sebesar Rp207.739.976.542.184.773) 161.769.279 44.511) 1.00) 30.351.297.04 015.694.574 7.316 142.603 % (10.786.02 015.731.569.387 2.235.197 153.675.279 42.801.700.088 153.513.00 dengan rincian yang dapat dilihat pada Tabel 119 berikut.980.654.413.945.204.316.579.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 118 Aset Lain-lain Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.026.134.147 3.302.950) 0 0 (167.11 015.113.902.542.000 75.256 220.043.297.694.647.956.729.582 (142.595.360.136. Aset rusak berat yang hilang pada GKN Denpasar I dan II serta Kantor Pusat Setjen.159.898 99.858.296 5.987.872.169.127.798 98.912.329.215.721.280.98 (100.928.131 7.771.059 209.204 2.675.00 terdiri dari akun aset lain-lain (154111) berupa Piutang Pajak/Bukan Pajak dan Tagihan Tuntutan Ganti Rugi yang penagihannya dilimpahkan ke DJKN sebesar Rp340.

000.00 merupakan write-off 1 unit sepeda motor hilang pada Kanwil VI DJPB Palembang dan Compaq Disc pada Kanwil DJPB Papua.938 2. Selisih kurang sebesar Rp19.000.384 0. 2.709. 3.000.416.569.384 31 Desember 2009 0 2.000.706.384 0 70.00.446 Kenaikan/ % (Penurunan) 70.000.446) (100.416.00.000.00 dan KPPBC Tangerang sebesar Rp138.00.95 Aset Lain-lain BLU pada Setjen sebesar Rp70.164. C. Aset Lain-lain BLU Aset Lain-lain BLU Rp70. Rincian mutasi/perubahan Aset Lain-lain BLU STAN (pada Unit Eselon I BPPK) dapat dilihat pada Tabel 121 berikut.00 merupakan bunga diterima dimuka dari deposito 1 bulanan Rp70.164.000.416.00 yang merupakan pokok deposito 1 bulanan yang dananya berasal dari bunga diterima dimuka deposito 12 bulanan Dana Pengembangan Pendidikan (DPPN)/endowment fund senilai Rp1.950.000.287.000.00.00 merupakan aset hilang namun belum terbit SK Penghapusannya.600. KPPBC Merak sebesar Rp147.2.00 (diterima 30 Desember 2010).000. Jumlah tersebut terdiri dari Rp70.876.164.164.000.706.000.000.000.00 merupakan write-off 3 Unit Mobil hilang pada KPPBC Bogor sebesar Rp147.000.000.384.00 merupakan write-off aset hilang pada BLU STAN dan Rp16. Rincian Aset Lain-lain dapat dilihat pada Tabel 120 berikut.00 dan Rp2.200.00) 67.000.5.00 tersebut dicatat dalam BA 999. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 118 .966.164.03 oleh DJKN.164.00 (2. Senilai Rp416.680.446 2.0 0 Nilai Aset Lain-lain BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp70. Selisih kurang sebesar Rp434.4.000. Atas pokok endowment fund sebesar Rp1.501.706.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) dalam laporan SIMAK-BMN belum dihapuskan. Selisih kurang sebesar Rp220. Tabel 120 Aset Lain-lain BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode Eselon I 015.706.380.00 merupakan Aset Lain-lain BLU Pusat Investasi Pemerintah (PIP).416.287.000.384.000.200.287.026. Selisih kurang sebesar Rp150. 4.01 SETJEN 015.000.287.446.00.416.384.000.00 dan Kanwil DJP Medan sebesar Rp11.416.164.000.884.384.00 merupakan write-off 2 unit Sepeda Motor hilang yang belum diterbitkan SK penghapusan yaitu pada Kanwil DJP Jakarta Timur sebesar Rp 8. 5.11 BPPK Jumlah 31 Desember 2010 70.000.

417. Kewajiban Jangka Pendek ini terdiri dari Utang Kepada Pihak Ketiga.00.504 686.292. dan Pendapatan yang Ditangguhkan. Berdasarkan rekomendasi BPK-RI dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c.000.868.00 dan Rp359.00) C. Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan. Tabel 122 Dana Kelolaan BLU Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode Uraian 015.400. Dana Kelolaan BLU Dana Kelolaan BLU RpNihil Dana Kelolaan BLU per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar RpNihil dan Rp3.000 2.000.973. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 119 .2.843.386.000 - C.400.5 Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Pendek Rp611.000) 31 Desember 2009 % (100.251.000 99. Dana Kelolaan BLU per 31 Desember 2010 mencerminkan saldo Dana Kelolaan BLU yang belum digulirkan atau diinvestasikan.03 serta dilaporkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara.01 SETJEN 31 Desember 2010 0 Kenaikan/ (Penurunan) 3.878.03 yang dikelola dan digulirkan kepada masyarakat.000 (3.706.975.287.315.975. Uang Muka.292.569.706.000. Dana Kelolaan BLU merupakan dana yang berasal dari BA 999.315.318. Pendapatan Diterima Dimuka. PNBP dan tujuan lainnya. Rincian Kewajiban Jangka Pendek dapat dilihat pada Tabel 123 berikut.446 99. Uang Muka dari KPPN.315.00. 00 Nilai Kewajiban Jangka Pendek per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp611.400.q Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. Dana Kelolaan BLU pada Tahun Anggaran 2010 dicatat dalam BA 999.000.6.446 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 121 Mutasi/Perubahan Aset Lain-lain BLU STAN (dalam rupiah) Saldo Per 31 Desember 2009 Mutasi Tambah Reklasifikasi dari Aset Tetap ke Aset Lainnya Mutasi Kurang Penghapusan Koreksi saldo awal Write-off Aset hilang Saldo Per 31 Desember 2010 2.878. Badan Usaha dan BLU oleh PIP yang bertujuan meningkatkan ekonomi rakyat.4.942 150.2.

00 dan Rp47.207 0 4.690.10 70.203 329.520.592 28.306.860.592 11.805.975 1.774.935.638 102.50 15. Rincian Utang Kepada Pihak Ketiga per Unit Eselon I dapat dilihat pada Tabel 124 berikut.128.074 36.292.07 015.025) 4.641 28.627 35.903 2.563 76.626.02 015.203.11 015.56) 671.703 47.83) 22.349.286.689.318 (145.06) 536. Tabel 124 Utang Kepada Pihak Ketiga Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.877 237.455.339.000 2.766 15.256 1.712 18.387.934.12 Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPU DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK BKF Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 159.2.349.497.251.657. 00 Nilai Utang kepada Pihak Ketiga per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp202.306 Kenaikan/ (Penurunan) 155.940) (39.129.878.934.089 202.295 3.000 19.522.284.927 81.596 611.878.105.04 015.320 329.68 Halaman 120 .586 12.5.203 937.635.09 015.77 (17.43) (1.759.807.021.602.058.023) 64.109 131.583.564.641.120.124.970.387.32 C.293.833.132.00.106.292.953.504.692) (65.432.858.42 560.363.600.284.235 2.97 (68.841 121.058 3.1 Utang Kepada Pihak Ketiga Utang Kepada Pihak Ketiga Rp202.349.821 34.417.686.203.829.520.000 (1.50 (7.736.883 Kenaikan/ % (Penurunan) 158.155.05 015.057.969.83) 20.00 (44.09) 0.284.561.40) 155.132.036 271.803.664 430.944 20.908.34) (428.717.802) (12.614) (99.182 4.83 (8.774.01 015.943 103.519 463.10 015.665) (84.206.859.340.001.284.06 015.196.813.035.03 015.934.125 1.141.109.871 3.422.132.260 252.303 79.687.569.761) (55.657 31 Desember 2010 31 Desember 2009 Utang Kepada Pihak Ketiga Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Pendapatan Diterima di Muka Uang Muka Uang Muka dari KPPN Pendapatan yang Ditangguhkan Jumlah % 329.155.320 34.431 47.635.160 1.336 359.320.771.68 11.08 015.905.520.875.973.394.520.434.883.883 294.559.539.684 16.249.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tabel 123 Rincian Kewajiban Jangka Pendek Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian 202.09 (33.169.023.

997.858.000 191. Tabel 126 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode Eselon I 015.505.427.873 329.997.813.169.652 202.05 DJBC Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 325.606 17.00.2 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Rp329.430.169.270.306 Kenaikan/ (Penurunan) 31.803 157.431.125 % 10.858.610.873 34.554.610.835.83 Halaman 121 .431.203 Utang kepada pihak ketiga pada TA 2010 mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan dengan TA 2009 yang disebabkan adanya utang pembelian tanah oleh Biro Umum yang akan jatuh tempo pembayaran tahap ke-2 pada bulan Juni 2011 sebesar Rp157.804. Nilai tersebut merupakan SPM-KP per 31 Desember yang belum diterbitkan SP2D-nya di DJP dan pengembalian pungutan ekspor yang belum direalisasikan oleh eksportir di DJBC.105.292.430.301.258.2.858.105.804.000.306 0 294.04 DJP 015.292.00.520.713.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian Utang Kepada Pihak Ketiga Per Akun dapat dilihat pada Tabel 125 berikut.252 3.142 17.54 0.169.431 294. Rincian Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan per Unit Eselon I dapat dilihat pada Tabel 126 berikut.558 3.284.464.00 11.292.306.009. Tabel 125 Utang Kepada Pihak Ketiga Per Akun Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No 1 2 3 4 5 Uraian Belanja pegawai yang masih harus dibayar Belanja barang yang masih harus dibayar Belanja modal yang masih harus dibayar Utang Kepada Pihak Ketiga BLU Utang Kepada Pihak Ketiga Lainnya Jumlah 31 Desember 2010 9.689. C. 00 Nilai Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan per 31 Desember 2010 dan 2009 masingmasing sebesar Rp329.5.105.00 dan Rp294.660.

850 223.55) (8.856.542.105.333 158.406.336.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Rincian Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Per Akun dapat dilihat pada Tabel 127 berikut.500.000 24.08 015.908.062.000.01 015.182.583 11.00 0.00.708 306.00 merupakan pendapatan dari kerjasama pendidikan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor.182. Pemerintah Kota Semarang dan Kabupaten Kuantan Singingi. GKN Banda Aceh.878.062.500.00 0.744. Rincian Pendapatan Diterima Dimuka dapat dilihat pada Tabel 128 berikut. 3.207.333 158.498.157 0 0 0 1.168. Pendapatan Sewa Diterima Dimuka DJPB sebesar Rp158. Pendapatan Diterima Dimuka Setjen sebesar Rp428.00 Nilai Pendapatan Diterima Dimuka per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp1. 4.970.550) (145.45 0.970.3 Pendapatan Diterima Dimuka Pendapatan Diterima Dimuka Rp1.803.657. GKN Palembang. Tabel 127 Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Per Akun Per 31 Desember 2010 (dalam rupiah) No 1 2 3 4 Uraian Utang Kelebihan Bayar Pajak PPh Utang Kelebihan Bayar Pajak PPN/PPnBM Utang Kelebihan Bayar Bea Masuk Utang Kelebihan Bayar Bea Keluar Jumlah 31 Desember 2010 101. Pendapatan Sewa Diterima Dimuka pada Ditjen Pajak sebesar Rp11.744.00 merupakan kelebihan pendapatan sewa rumah dinas yang telah diterima dan akan diperhitungkan pada periode tahun berikutnya.00 terdiri dari Pendapatan Sewa Diterima Dimuka pada PIP.11 Eselon I SETJEN DJP DJBC DJPB BPPK Jumlah 31 Desember 2010 31 Desember 2009 428.168.00.2. dan GKN Makassar.878.479.583.05 015.5.168.020.00 merupakan pendapatan sewa gedung (423142) atas sewa tahun 2011 yang telah dibayarkan pada tahun 2010 pada Kanwil DJBC Banten dan KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda.080.445.207 Kenaikan/ (Penurunan) 368.050 1.09) 1. Pendapatan Diterima Dimuka Ditjen Bea dan Cukai sebesar Rp24.766.500 1. 2.182 59. Tabel 128 Pendapatan Diterima Dimuka Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.262.970.194.426 11.333.803.766 (550.766 1.873 329.080. GKN Yogyakarta.657.431 C.000 24.025) % 621.657.000 3.500.00 dan Rp1. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 122 .168.00 (31.500.858.04 015. PNBP Lainnya Diterima Dimuka pada BLU STAN BPPK sebesar Rp1. 5.194.

11 015.000.216.12 Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPK DJPU DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK BKF Jumlah Catatan atas Laporan Keuangan 31 Desember 2010 31 Desember 2009 44.578 0 2.00 Nilai Uang Muka dari KPPN per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp2.584) (100.584 932.5.586.00 C. Tabel 129 Uang Muka Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode Eselon I Kenaikan/ (Penurunan) 4.000 0 % 0.00 1. Tabel 130 Uang Muka dari KPPN Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.508.06) Halaman 123 .795 0.602.176.00 (1.00 dan RpNihil.18) 0 0.354 117.277.09 015.02 015.996.00 dan Rp4.021.294.708.95 (294.068 0 0 207.990) (41.586 Kenaikan/ % (Penurunan) 25.703.895 707.07 015.00) (489.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.155.01 015.249.539.614.602.268.87 (207.00) 344.465 413.2.563 44.058 443.563.612.436.563.954 489.779.726 0 205.704.141.00.10 015.996.06 (117.155.88) 0 0.265 0 726.007) (44.00 Nilai Uang Muka per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp4.05 015.141.03 015.4 Uang Muka Uang Muka Rp4.000.00) 0 0.258 0 44.726) (100.249.543.2.570 36.910.771. Uang Muka dari KPPN merupakan akun penyeimbang dari akun Kas di Bendahara Pengeluaran. Nilai tersebut merupakan uang muka yang berasal dari penarikan kembali kelebihan setoran sisa UP TA 2008 pada Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Tengah yang dilakukan pada TA 2010.334) (93.023) (44.912 0 4.021.155. Rincian Uang Muka dari KPPN dapat dilihat pada Tabel 130 berikut.08 015.207 0.54) (443.155.954) (100.249.838 470.045 262. Nilai tersebut merupakan saldo Uang Persediaan yang ada pada Bendahara Pengeluaran yang belum dipertanggungjawabkan.00 (682.08 DJPB 4.004.000 31 Desember 2010 31 Desember 2009 015.149 0 0 1.563.5.04 015.334.5 Uang Muka dari KPPN Uang Muka dari KPPN Rp2.06 015.602.842.543. Rincian Uang Muka dapat dilihat pada Tabel 129 berikut.

741.722 3.775.00 6.022.000 % 0.10 31 Desember 2010 31 Desember 2009 70.08 015.775.184.336.384 316.0 0 Nilai Pendapatan Yang Ditangguhkan per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp76.345 27.358 315.141.2.154.340.48) 29.001.937.884.339.340.546.562.539 6.1 Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya Rincian Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya dapat dilihat pada Tabel 132 berikut.949 0.03 015.012.22 (1.661 93. Pendapatan Yang Ditangguhkan merupakan akun penyeimbang dari akun Kas di Bendahara Penerimaan.300 76.00 933.6 Kewajiban Jangka Panjang Kewajiban Jangka Panjang Rp149.05 015.000.775.6.336 C. dan Kas BLU yang dibatasi penggunaannya.953 97.00 dan Rp12.170 0 12.300 0.312 418. Kewajiban Jangka Panjang ini terdiri dari Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya.499.743.5.775.01 Eselon I SETJEN 31 Desember 2010 31 Desember 2009 149.412.98) 26.260 536.949 12.02 015.415.422. 00 Nilai Kewajiban Jangka Panjang per 31 Desember 2010 dan 2009 masing-masing sebesar Rp149. Tabel 131 Pendapatan Yang Ditangguhkan Per Unit Eselon I Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.596 1.676.937.050 0.00 Nilai tersebut merupakan kewajiban pada Sekretariat Jenderal atas pembelian tanah yang akan jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan.000 0 Kenaikan/ (Penurunan) 149.11 015.00 64.192.727. Kas Lainnya dan Setara Kas.649. C.129.00 (180.375.469.050 61.6 Pendapatan Yang Ditangguhkan Pendapatan Yang Ditangguhkan Rp76.795.377 10.301.697 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.436.01 015.436.001 933.102.09 015.61 316.012.795.937.779 29.422.15) 418. Tabel 132 Rincian Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Kode 015.596.422.001.04 015.293. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 124 .416.982) (63.845 0 0 6.391) (74. Nilai tersebut merupakan PNBP yang belum disetor ke Kas Negara oleh Bendahara Penerimaan dan pendapatan BLU yang dibatasi penggunaannya yang belum disahkan per 31 Desember 2010. Rincian Pendapatan Yang Ditangguhkan dapat dilihat pada Tabel 131 berikut.001 0.000.2.00.10 015.00 dan RpNihil.212) (78.340.913.294 0 241.213.22 (6.293.741 124.937.596.164.243.2.920.12 Eselon I SETJEN ITJEN DJA DJP DJBC DJPB DJKN BAPEPAM LK BPPK BKF Jumlah Kenaikan/ % (Penurunan) 70.649.

555.515.167.56 3.351.875.466.657.1 Cadangan Piutang Cadangan Piutang Rp71.102.Persediaan Rp 251.00 0.875.455 64.846.7.926 185.2.068 71.085.073.Persediaan BLU Rp 1.00) Uraian Piutang Pajak Piutang Bukan Pajak Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/ TGR Piutang dari Kegiatan Operasional BLU Piutang dari Kegiatan Non Operasional BLU Jumlah 31 Desember 2010 70.688 Dana yang harus disediakan untuk pembayaran (531.563) utang jangka pendek (342.931.342.879.341) Dana Lancar BLU 1.345 Kenaikan/ (Penurunan) 7.535.201.076 684.29 58.691.010.7.000 6.466 C.219.010. Jumlah tersebut terdiri dari : .00 Cadangan Piutang sebesar Rp71.227.342.237.922 327.735.4 55.010.515.00 Ekuitas Dana Lancar adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara nilai Aset Lancar dengan Kewajiban Jangka Pendek yang terdiri dari : Tabel 133 Rincian Ekuitas Dana Lancar Per 31 Desember 2010 dan 2009 (dalam rupiah) Uraian 31 Desember 2010 31 Desember 2009 Cadangan Piutang 71.26 35.926.657.361 66.970.620 59.732 0 Barang/Jasa yang Harus Diserahkan (1.722.183 30.332.846. Nilai tersebut terdiri dari : Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 125 .332.931.193.893 Barang/Jasa yang Harus Diterima 30.800.296.00 merupakan akun penyeimbang dari akun Piutang dan Uang Muka Belanja yang terdiri dari: No 1 2 3 4 5 Cadangan Persediaan Rp252.992.826.162.970.926.466 63.824.727.182) 0 71.720.00).515.732 (1.553.720.105 Cadangan Persediaan 252.446.146.855 1.152.110 % 11.2 Cadangan Persediaan Cadangan Persediaan sebesar Rp252.7 Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Lancar Rp71.4 66.00 C.529.052.010.201.945.128.2.875.3 Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Pendek Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Pendek sebesar (Rp531.365.529.60 0.957.720.342.188.204.271. 00 Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Pendek (Rp531.563.923.170.2.00 11.238 (189.727.166.495.182) 7.763.65 C.875.008.90 55.332.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) C.149.2.931.822.00 .515.222) 401.365.00 merupakan akun penyeimbang dari akun Persediaan.7.802.376.

2.00 Diinvestasikan dalam Aset Tetap sebesar Rp36.857 6.8.692) (5.07 6.872.142 531.937.4 Dana Lancar BLU Dana Lancar BLU sebesar Rp1. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 126 .0 0 C.657.063.00) 0 1.279.058.894) (77.7. C.295.722.5 Barang/Jasa Yang Harus Diterima Barang/Jasa Yang Harus Diserahkan (Rp1.342.793.153.201.775. C.660.495 4.1 Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang RpNihil Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang sebesar RpNihil merupakan akun penyeimbang Investasi Jangka Panjang.00 merupakan akun penyeimbang dari akun Uang Muka Belanja.268.000) 0 (149.407.365.872.227.058.040.823.00 Ekuitas Dana Investasi adalah dana yang diinvestasikan dalam investasi jangka panjang.722.431 165.076.655) (100.937.057.00 Uraian 31 Desember 2010 Belanja yang Masih Harus Dibayar Utang Kelebihan Pembayaran Pendapatan Pendapatan yang Ditangguhkan Utang Kepada Pihak Ketiga Lainnya Utang Kepada Pihak Ketiga BLU Jumlah 185.00 merupakan akun penyeimbang dari akun Kas pada BLU. dan aset lainnya.995.788.779.195.694.648 38.00 merupakan akun penyeimbang Aset Tetap.045.107.373.407.023.340 C.811.972.142.000) 0.227.8.731.655 36.487 16.872. Barang/Jasa Yang Harus Diterima Rp30.00 (2.2.2.409 329.998.183.6 Barang/Jasa Yang Harus Diserahkan Barang/Jasa Yang Harus Diterima sebesar Rp30.568.2.7.694.731.326.105.732.365.970.1 53. Ekuitas Dana Investasi per 31 Desember 2010 terdiri dari: Uraian Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan Dalam Aset Tetap Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran utang Jangka Panjang 31 Desember 2010 31 Desember 2009 Kenaikan/ % (Penurunan) (1.094 191.389 (3.75 915.407.201.522.195.732.085.142.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) No 1 2 3 4 5 Dana Lancar BLU Rp1.085. Barang/Jasa Yang Harus Diserahkan sebesar (Rp1.2.2 Diinvestasikan Dalam Aset Tetap Diinvestasikan Dalam Aset Tetap Rp36.061.00) merupakan akun penyeimbang dari akun Pendapatan Diterima Dimuka.058.0 0) C.25) (149.296 2.7.58) 36. aset tetap.8 Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Investasi Rp36.2.034.182.808.153 33.793.858.823.323.332.775.182.6 48.657.174.970.563 C.

3) Telah diusulkan Penetapan Status Golongan Rumah Negara kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan untuk Rumah Negara yang terdapat di Kanwil DJP Banten.022 unit Bangunan Tempat Tinggal di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Upaya Administratif. 5) Pembentukan Tim Penertiban Rumah Negara di lingkungan Kementerian Keuangan Nomor: 534/KM. C.323. Sehubungan dengan hal tersebut. terdapat 378 unit yang dihuni oleh orang yang tidak berhak.2. 2) Penerbitan surat-surat dalam rangka pengamanan aset tanah.775.937. C.00) merupakan akun penyeimbang Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Lainnya.323.00 0./2009 tanggal 14 Juli 2009 dimana seluruh Kabag Umum Kanwil DJP terlibat dalam Tim Satuan Tugas tersebut.045. Kanwil DJP Jawa Timur I dan Kanwil DJP Kalimantan Timur sebagai Rumah Negara Golongan I.8.495.775. Aset Rumah Negara Dari 3.8.4 Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang sebesar (Rp149.1/2009 tanggal 5 Des 2009.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Rp915. yaitu: 1) Penerbitan surat-surat kepada penghuni yang tidak berhak. yaitu: dengan melaporkan 119 (seratus sembilan belas) orang pensiunan penghuni rumah negara kepada Polda Metro Jaya dengan tuduhan telah memasuki pekarangan tanpa ijin yang berhak (Pasal 167 KUHP).2.495. Upaya tersebut antara lain: a. 4) Pembentukan Tim Satuan Tugas Penertiban Pengelolaan Barang Milik Negara di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Nomor: KEP-83/PJ. 2. 00 Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang (Rp149. Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan upaya–upaya pengamanan baik secara administrastif maupun secara hukum. b) Setjen Kementerian Keuangan telah melakukan proses sertifikasi atas tanah di Jakarta Timur (Sertifikat Hak Pakai Nomor 54). sedangkan tanah di Jakarta Pusat masih dalam proses. Aset Tetap berupa Tanah pada Kementerian Keuangan yang belum memiliki sertifikat telah ditindaklanjuti sebagai berikut: a) Bapepam LK telah melakukan proses sertifikasi atas tanah di Matraman (Sertifikat Hak Pakai Nomor 378 Tanggal 20 Desember 2010) dan Pejambon (Sertifikat Hak Pakai Nomor 346 Tanggal 9 Agustus 2010). Upaya Hukum.937.045. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 127 .00 merupakan akun penyeimbang Aset Lainnya. yaitu surat dalam rangka melakukan koordinasi dengan instansi terkait. b.000.00) Catatan Penting Lainnya C.3 CATATAN PENTING LAINNYA 1.3 Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya Diinvestasikan dalam Aset Lainnya sebesar Rp915.

000 dan belanja modal sebesar Rp202. peningkatan kapasitas manajemen proyek dan implementasi manajemen perubahan. serta knowledge management.000. alokasi anggaran untuk kegiatan yang didanai hibah CTF-7 seluruhnya tidak dapat terserap dan direalisasikan kegiatannya karena proses pengadaan masih berjalan dan kontrak-kontraknya baru akan ditandatangani pada triwulan pertama tahun 2011.563.200.000. Sengketa Pajak Dalam rangka pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak.575.343.744. Closing date dari loan agreement PINTAR adalah pada 31 Desember 2015. terdapat alokasi untuk belanja jasa konsultan yang didanai oleh hibah sebesar Rp21.q. Dalam grant agreement CTF-7.988. Namun untuk TA 2010.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 3.918.00 yang terdiri dari belanja barang sebesar Rp37. 093998. Komposisinya terdiri dari pinjaman (loan) sebesar Rp217. berupa Indonesia: Technical Assisstance to Indonesia Tax administration Reform under the Support to Public Financial Management and Revenue Administration Multi Donor Trust Fund Grant No. Dalam DIPA Tahun Anggaran 2010 Direktorat Jenderal Pajak.00. PINTAR dan CTF-7 DJP dalam TA 2010 melaksanakan reformasi perpajakan tahap kedua yang juga disebut sebagai PINTAR (Project for IndonesianTax Administration Reform). PINTAR merupakan proyek berskala besar yang membutuhkan waktu penyelesaian lebih dari satu tahun sehingga merupakan proyek yang bersifat multi years. sedangkan 25% atau USD 36 juta dibiayai oleh APBN.080.550. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 128 . terdapat alokasi untuk PINTAR sebesar Rp239.00 dan Rupiah Murni Pendamping (RMP) sebesar Rp21. alokasi anggaran untuk kegiatan PINTAR seluruhnya tidak dapat terserap dan direalisasikan kegiatan pembangunannya mengingat proses pengadaannya sendiri baru dapat diiklankan pada tanggal 15 September 2010 dan penandatanganan kontrak diperkirakan bulan Juli 2011.438. Selain itu.125.000. DJP juga mendapatkan program bantuan dari World Bank untuk mendukung tujuan reformasi administrasi perpajakan.. Proyek yang didanai oleh hibah ini ditujukan untuk penyempurnaan sistem administrasi perpajakan guna mendukung PINTAR.632.424. Dalam DIPA Tahun Anggaran 2010 Direktorat Jenderal Pajak.125. Permohonan revisi anggaran PINTAR telah disampaikan kepada Menteri Keuangan c. Permohonan revisi anggaran kegiatan yang didanai hibah CTF-7 telah disampaikan kepada Menteri Keuangan c.00.00 dengan asumsi penandatanganan kontrak dilakukan pada tahun 2010. Namun untuk TA 2010.000. 4. Direktorat Jenderal Pajak memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan. Loan agreement PINTAR ditandatangani pada 9 Februari 2009 dan berlaku efektif (loan effectiveness) pada bulan Agustus 2009. pengembangan kapasitas intelijen dan penyidikan pajak. jumlah hibah yang diberikan oleh World Bank adalah USD 2. Direktur Jenderal Anggaran. Dalam hal pendanaan. dimana sekitar 75% atau sebesar USD 110 juta dibiayai oleh pinjaman dari World Bank.q. estimasi total pendanaan PINTAR adalah sebesar kurang lebih USD 146 juta.000. Direktur Jenderal Anggaran.

Untuk kepentingan penyusunan Laporan Keuangan ini. Disamping itu. 4) pengurangan atau pembatalan Surat Tagihan Pajak yang tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf c UU KUP. 7) pengurangan denda administrasi Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud Pasal 20 dalam UU PBB. Atas putusan banding atau gugatan dari Pengadilan Pajak. meliputi: a) Keberatan terdiri dari: 1) keberatan PPh dan PPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). pengurangan dan penghapusan sanksi administrasi. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 129 . undang-undang perpajakan memberikan hak kepada Wajib Pajak untuk mengajukan banding atau gugatan ke Pengadilan Pajak. 5) pembatalan hasil pemeriksaan pajak yang tidak didahului dengan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dan/atau Pembahasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf d UU KUP. yang dimaksudkan dengan sengketa pajak adalah keseluruhan pengajuan baik melalui permohonan oleh Wajib Pajak maupun jabatan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang dapat mempengaruhi nilai ketetapan pajak sebelumnya. masing-masing pihak yang bersengketa baik Direktorat Jenderal Pajak maupun Wajib Pajak masih diberikan hak oleh UU Pengadilan Pajak untuk menempuh upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. b) Non Keberatan terdiri dari: 1) pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 UU KUP. pengurangan dan pembatalan surat ketetapan pajak. 6) pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan yang terutang sebagaimana dimaksud Pasal 19 UU PBB. 3) keberatan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (UU BPHTB). 2) keberatan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan 16 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (UU PBB). 2) pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP. pembatalan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan pajak. dan 8) Pengurangan pokok BPHTB yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 UU BPHTB. pengurangan dan pembatalan Surat Tagihan Pajak.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) pembetulan. 3) pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP.

345.349.478 812 22.45 19.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) c) Banding atau Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.573 Jenis Sengketa Pajak Catatan atas Laporan Keuangan Dalam Rp 26.501.917.974 3.900 52.573 10.773.143.583 Peninjauan Kembali 1.687 3.608. penghapusan.759 Banding/Gugatan 3. tunggakan sengketa pajak berdasarkan jenis sengketa dapat dirinci sebagai berikut: Jumlah Ketetapan Keberatan 9.285 4.753.204.464.458.040.18 4.556.63 12.309 103.431.349. Apabila dinyatakan dalam rupiah seluruhnya.431.339.068.656 Jumlah 22.853 259.753 Nominal Ketetapan Dalam USD Total Rp 330. d) Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.458.327. non keberatan (pembetulan.027.700.460.460 Halaman 130 .467.111.590.247.374.027.083.918 18.773.573 ketetapan dengan nominal ketetapan pajak yang menggunakan satuan mata uang rupiah sebesar Rp52.113. Jumlah ketetapan pajak yang diajukan keberatan.157.247.734.141.622.254.438.058. nilai nominal seluruh ketetapan pajak yang diajukan sengketa pajak dan belum diterbitkan keputusan atau putusan per tanggal 31 Desember 2010 adalah Rp56.313 18.287.027.181 52.575 Non Keberatan 7.582 56.464.374.906. banding.238. gugatan dan peninjauan kembali dan belum diputuskan per 31 Desember 2010 adalah 22.972. dan pembatalan).63.00 29.283 41.913.127.458.254.464.753 196.941.773.137.035.00 dengan rincian sebagai berikut: Jenis Ketetapan Jumlah Ketetapan Dalam Rp Nominal Ketetapan Dalam USD Total Rp Kurang bayar (SKP KB/SKPKBT/STP/SPPT) 20.940.879 Lebih bayar (SKP LB) Nihil (SKP N) Jumlah 1.908.604.218.769.63 56.316.374. pengurangan.704.729.00 dan nominal ketetapan pajak yang menggunakan satuan mata uang valas sebesar USD455.546 455.774.247.93 44.497.491.062.460 Selanjutnya.00 3.70 455.808.349.374.254.

946. DJP masih tetap mengelola PBB-P2 sampai dengan 31 Desember 2013.031. Pasal 19 dsb) 652 765.297 696.182 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Tunggakan sengketa pajak berdasarkan jenis pajak dapat disajikan sebagai berikut: No.285 10 PBB 3.847 220. dan pembatalan) ketetapan pajak. dan non keberatan (pembetulan.239.813.404 - 112.330. Pasal 15.035 - 127.893.464.091.254.682.119.396 1.605 - 765.169.11 226.190.576.091. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 131 .088 414.913.027. PBB-P2 dan BPHTB merupakan 2 (dua) jenis Pajak Pusat yang dialihkan ke kabupaten/kota dan menjadi bagian dari 11 (sebelas) jenis Pajak kabupaten/kota yang diamanatkan UU PDRD.589.264.894.573.311.573 52. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD). Sedangkan.63 56.003 - 3. mengurangkan.576.882 38. membetulkan.247.781.976.443.458. b.894.900 9 PPn BM 81 573.855.628.960.605 8 PPN 10. Pengalihan BPHTB dan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan Hal-hal penting terkait pengaturan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dalam Undang-undang No. pengajuan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung baik yang diajukan oleh Direktorat Jenderal Pajak maupun oleh Wajib Pajak akan diputuskan oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung dengan amar putusan menerima atau menolak permohonan pemohon PK.438.336.246.105.210.727.469 5 PPh Pasal 23 1.066.285 11 BPHTB 185 88.960. Majelis Hakim dapat menerbitkan putusan yang dapat mempengaruhi nominal ketetapan pajak semula dengan amar putusan mengabulkan seluruhnya atau sebagian.285 - 573.427. membatalkan. penghapusan.237.484.889.97 24.982.573.003 7 PPh Final (Pasal 4(2). pengurangan.845.771.813.349 - 546.323. menolak.864.374.713. menambah.500.007 20.395.781.460 Jumlah Atas sengketa pajak berupa keberatan.349.190.105.395. adalah sebagai berikut: a.253.173.349 4 PPh Pasal 22 88 433.893.404 22. Direktorat Jenderal Pajak dapat menerbitkan keputusan yang dapat mempengaruhi nominal ketetapan pajak semula dengan isi keputusan mengabulkan seluruhnya atau sebagian.671 56.239.484 - 88. tidak dapat diterima dan membetulkan.469 - 433.484 12 Bunga Penagihan 264 174.288 PPh Pasal 21 940 546.429.330.865 22. Jenis Pajak 1 PPh Pasal 25 OP 2 PPh Pasal 25 Badan 3 Jumlah Sengketa Pajak Jumlah Ketetapan Nilai Dalam Rp Nilai Dalam USD Total Dalam Rp 504 127.035 3. menghapuskan. sepanjang belum terbit Peraturan Daerah. Atas sengketa banding dan gugatan yang diajukan ke Pengadilan Pajak.773.753 455.032 6 PPh Pasal 26 688 3.776. dan membatalkan.90 2.324.864.628. menolak. 5.52 184.429.058.746.13 22.945.322 13 Lain-lain 56 112.776.

100% (PP No.20 Tahun 2000 5% (fixed) Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) 1.000. Setinggi-tingginya Rp12.000 untuk waris dan hibah wasiat 2. Ditetapkan Menteri Keuangan UU PDRD UU No.00 untuk waris dan hibah wasiat 2.000 untuk selain waris dan hibah wasiat 3.NPOPTKP) 5%(maksimal) dari (NPOP NPOPTKP) Penggunaan NJOP Dalam hal NPOP tidak diketahui atau nilainya lebih rendah daripada NJOP maka NJOP digunakan sebagai NPOP Dalam hal NPOP tidak diketahui atau nilainya lebih rendah daripada NJOP maka NJOP digunakan sebagai NPOP Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 132 . Ditetapkan dengan Perda 0. kecuali yang terkait dengan tarif pajak. Paling rendah Rp10.000.3%(maksimal) x (NJOP NJOPTKP) 5 6 2.21 Tahun 1997 sttd UU No. Ditetapkan dengan Perda Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJKP) Penghitungan PBB Kepala Daerah Perbandingan UU BPHTB dengan UU PDRD adalah sebagai berikut: No Uraian 1 Tarif 2 Dasar Pengenaan 3 4 5 Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) UU BPHTB UU No. Ditetapkan dengan Perda Penghitungan BPHTB 5% dari (NPOP .12 Tahun 1994 Uraian UU PDRD UU No. Secara umum pengaturan PBB-P2 serta BPHTB dalam UU PDRD adalah sama dengan yang diatur dalam UU PBB dan UU BPHTB. sejak tahun 2011 BPHTB menjadi Pajak Kabupaten/Kota.00 2. e.12 Tahun 1985 stdtd UU No.28 Tahun 2009 tidak dikenal sektoral (meliputi sektor Perdesaan. Paling rendah Rp300.000. Perbandingan antara UU PBB dengan UU PDRD adalah sebagai berikut: No UU PBB UU No. Tahapan pengalihan PBB PBB-P2 serta BPHTB diatur bersama oleh Menteri Keuangan dengan Menteri Dalam Negeri.000.5% x (20% atau 40%) x (NJOP NJOPTKP) 0.000.000 untuk selain waris dan hibah wasiat 3. DJP masih tetap mengelola BPHTB untuk tahun 2010.25 tahun 2002 NJKP 20% dan 40%) Tidak ada 1. Perhutanan. Ditetapkan dengan Perda Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) 1. dan Pertambangan) sektor perdesaan dan perkotaan saja 0. Diatur oleh Menteri Keuangan 2. Paling rendah Rp60. d.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) c. Paling banyak Rp300.5% (fixed) 1.000.000. Paling tinggi 0. Perkebunan.000. Perkotaan.00 1.000. Paling banyak Rp60.28 Tahun 2009 1. Paling tinggi 5% 2.3% 1 Cakupan sektor 2 Tarif 3 Penetapan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Menteri Keuangan 4 Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) 20% s. NJOPTKP dan NPOPTKP.d.

baru Pemerintah Kota Surabaya yang akan melakukan pemungutan PBB-P2 maupun BPHTB sesuai dengan persetujuan Menteri Keuangan melalui surat nomor S-642/MK. dan data tunggakan selambat-lambatnya 4 bulan sebelum tahun pajak dimulai kepada kabupaten/kota dengan suatu berita acara oleh Kepala KPP Pratama setempat.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Sehubungan dengan tahapan pengalihan PBB-P2. b. maka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 hanya dapat dilakukan pada 1 Januari Tahun Pengalihan bagi Pemerintah Daerah yang memenuhi persyaratan yang diatur dalam Peraturan Bersama. secara umum adalah sebagai berikut: a. Sebagai tindak lanjut Peraturan Bersama tersebut. copy basis data SISMIOP tahun terakhir (data OP. Sehubungan dengan kegiatan pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 dan BPHTB. Sesuai PER-47/PJ/2010 tersebut kewenangan pemungutan BPHTB dialihkan dari Direktorat Jenderal Pajak ke Pemerintah Daerah mulai tanggal 1 Januari 2011 dengan persiapan pengalihan BPHTB sebagai pajak daerah dilakukan dalam waktu paling lambat tanggal 31 Desember 2010. sesuai data per 31 Desember 2010 daerah yang telah mempersiapkan Perda BPHTB adalah sekitar 268 daerah atau 54. yang memberikan persetujuan bagi Pemerintah Kota Surabaya untuk melaksanakan pemungutan PBB-P2 mulai tahun 2011 sekaligus ditunjuk sebagai Pilot Project Pemungutan PBB-P2. Kementerian Keuangan pada hari Kamis tanggal 2 Desember 2010 telah melakukan Diseminasi dan Asistensi Pengalihan PBB-P2 dan BPHTB Sebagai Pajak Daerah yang bertempat di Surabaya. copy peta-peta (peta blok dan ZNT). DJP telah menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2010 tentang Tata Cara Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah. Untuk tahun 2011. Pengalihan pengelolaan PBB Perdesaan dan Perkotaan serta BPHTB ke kabupaten/kota dapat dilakukan setelah : 1) Perda tentang Pelaksanaan PBB-P2 dan BPHTB dari suatu kabupaten/kota telah disetujui Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan. dan NJOP).07/2010 | Nomor 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Sebagai Pajak Daerah. telah disusun Peraturan Bersama antara Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 186/PMK. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 133 . Mengenai kesiapan Peraturan Daerah (Perda).5% dari jumlah total 492 Kabupaten/Kota. DJP telah menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2010 tentang Tata Cara Persiapan Pengalihan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Sebagai Pajak Daerah. Sesuai PER61/PJ/2010 tersebut. Sehubungan dengan tahapan pengalihan BPHTB.07/2010 | Nomor 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah. Desain pengalihan PBB-P2 dan BPHTB. WP. 2) Pemerintah kabupaten/kota memberitahukan persetujuan Perda tersebut 4 bulan sebelum awal tahun pajak. telah disusun Peraturan Bersama antara Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 213/PMK.07/2010 tanggal 19 November 2010. Proses pengalihan PBB-P2 adalah dengan penyerahan aset DJP yang meliputi copy aplikasi SISMIOP (source code dan dokumen teknis). Sebagai tindak lanjut Peraturan Bersama tersebut.

DJP tetap berhak memanfaatkan data tersebut guna kepentingan perpajakan. pemutakhiran data dan lain-lain yang diawasi dan dikoordinir oleh Kepala Kanwil setempat. kelengkapan kertas kerja penentuan NJOP. Data subjek pajak kondisi terakhir. 5) Menyampaikan konsep Surat Edaran Dirjen Pajak tentang: a) Materi dan tatacara sosialisasi pengalihan PBB-P2 dan BPHTB ke kabupaten/kota. ii. Data objek pajak termasuk NJOP kondisi terakhir. aplikasi SISMIOP dan tunggakan PBB-P2 dan BPHTB ke kabupaten/kota. KPPN dan lain-lain. Peta Blok dan Peta ZNT per kabupaten/kota yang terbaru baik berbentuk hardcopy maupun softcopy untuk siap diserahkan copy-nya ke kabupaten/kota guna mendukung basis data SISMIOP. 2) Menyampaikan peraturan. Proses pengalihan BPHTB adalah dengan penyerahan data tunggakan selambatlambatnya 2 bulan sebelum tahun pajak dimulai kepada kabupaten/kota dengan suatu berita acara oleh Kepala KPP Pratama setempat. Dalam rangka menjalankan desain dimaksud diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a. g) Tatacara penyampaian usulan penghapusan tunggakan PBB-P2 dan BPHTB. e) Pengaturan penyelesaian berkas pengurangan. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 134 . dan user manual SISMIOP). d) Kebijakan stabilitas NJOP dalam rangka mengantisipasi pengalihan PBB-P2 dan BPHTB ke kabupaten/kota. b) Tatacara pelayanan. f) Evaluasi dan penegasan pelaksanaan SE-84/PJ/2008 tentang Pemutakhiran Data Pembayaran PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan. d. maka DJP tidak lagi bertanggung jawab atas penggunaan data tersebut oleh kabupaten/kota dan khusus untuk basis data PBB. dokumentasi sistem SISMIOP. 3) Membentuk Tim IT dan Basis Data yang bertugas menyiapkan aplikasi dan basis data SISMIOP yang akan diserahkan copy-nya ke meliputi: a) Menyiapkan Aplikasi SISMIOP serta kelengkapannya (source code SISMIOP. Bank. Masa persiapan (tahun 2010) 1) Melakukan sosialisasi ke seluruh Wajib Pajak dan stake holder lainnya seperti Pemda. 4) Menyiapkan Data dokumen Peta Desa. c) Langkah-langkah pemeliharaan basis data PBB-P2 kepada KPP Pratama antara lain : kelengkapan dokumentasi. b) Menyiapkan basis data SISMIOP meliputi : i.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) c. Setelah penyerahan aset dan copy data ke kabupaten/kota. keberatan dan banding pada masa transisi dan pada masa setelah PBB-P2 dan BPHTB dialihkan ke kabupaten/kota. h) Tatacara dan SOP penyampaian basis data. SOP dan bagan organisasi terkait pelaksanaan PBBP2 dan BPHTB oleh DJP kepada kabupaten/kota guna dijadikan rujukan/model. PPAT. batas waktu penyampaian permohonan dan jangka waktu penyelesaian pelayanan PBB-P2 dan BPHTB pada masa transisi.

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

6) Menginventarisasi tunggakan PBB-P2 dan BPHTB untuk siap dialihkan ke
kabupaten/kota dengan berita acara;
7) Menginventarisasi infrastruktur yang dapat dialihkan secara hibah;
8) Membuat analisis sebaran SDM di DJP untuk mengelola PBB sektor
Perkebunan, Perhutanan dan Pertambangan yang masih dikelola oleh DJP;
9) Membuat analisis penyesuaian unit organisasi DJP pada tingkat Kanwil yang
akan melaksanakan fungsi pengelolaan PBB sektor Perkebunan, Perhutanan
dan Pertambangan;
b. Masa pengalihan
1) Kanwil DJP dan KPP berkoordinasi dengan kabupaten/kota;
2) Pelaksanaan Berita Acara Penyerahan Basis Data, Peta, Aplikasi SISMIOP dan
Tunggakan PBB Perdesaan dan Perkotaan;
3) Serah terima selambat-lambatnya 2 Bulan sebelum tahun pajak dimulai;
c. Masa pasca pengalihan
DJP selama satu tahun dapat memberikan asistensi kepada kabupaten/kota
terkait pelaksanaan PBB-P2 dan BPHTB apabila diminta oleh kabupaten/kota.
d. Pengalihan Piutang Pajak PBB dan BPHTB
1. Pengalihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagai Pajak Daerah
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010,
kewenangan pemungutan BPHTB dialihkan dari Pemerintah Pusat ke
Pemerintah Daerah mulai tanggal 1 Januari 2011. Sebagai bagian persiapan
pengalihan tersebut, telah diterbitkan serangkaian ketentuan sebagai berikut:
a) Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor
186/PMK.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tanggal 18 Oktober 2010 tentang
Tahapan Persiapan Pengalihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Sebagai Pajak Daerah;
b) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2010 tanggal 22
Oktober 2010 tentang Tata Cara Persiapan Pengalihan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan Sebagai Pajak Daerah;
c) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE 108/PJ/2010 tanggal 25
Oktober 2010 tentang Tindak Lanjut Persiapan Pengalihan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan ke Pemerintah Kabupaten/Kota.
Dengan mengacu kepada ketentuan di atas, piutang BPHTB per 31 Desember
2010 tetap dilaporkan di Neraca Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dan
akan menjadi piutang pajak di Neraca Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
sejak Berita Acara Serah Terima ditandatangani antara KPP Pratama dan
Pemerintah Kabupaten/Kota setempat.
Dari saldo piutang BPHTB per 31 Desember 2010 sebesar
Rp101.220.473.265,00 sebagaimana yang tercantum dalam neraca Direktorat
Jenderal Pajak, telah dialihkan oleh KPP Pratama ke Pemerintah
kabupaten/Kota sebesar Rp93.012.053.871,00. Rincian atas nilai piutang
BPHTB yang dialihkan ke pemerintah kabupaten/kota adalah sebagai berikut:

Catatan atas Laporan Keuangan

Halaman 135

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)
NO

KANWIL DJP

NILAI PIUTANG BPHTB
YANG DIALIHKAN (Rp)

1

Kanwil DJP NAD

1.703.282

2

Kanwil DJP Sumut I

1.650.330.563

3

Kanwil DJP Sumut II

175.254.998

4

Kanwil DJP Riau dan Kep. Riau

9.090.463.489

5

Kanwil DJP Sumbar dan Jambi

820.512.777

6

Kanwil DJP Sumsel & Kep. Babel

7

Kanwil DJP Bengkulu & Lampung

8

Kanwil DJP Jakarta Pusat

10.384.997

9

Kanwil DJP Jakarta Barat

2.827.055.057

10

Kanwil DJP Jakarta Selatan

11

Kanwil DJP Jakarta Timur

8.310.623.339

12

Kanwil DJP Jakarta Utara

1.638.028.486

13

Kanwil DJP Jakarta Khusus

14

Kanwil DJP Banten

1.272.429.856

15

Kanwil DJP Jawa Barat I

7.244.653.898

16

Kanwil DJP Jawa Barat II

3.614.173.530

17

Kanwil DJP Jawa Bag. Tengah I

6.207.451.766

18

Kanwil DJP Jawa Bag. Tengah II

2.514.932.796

19

Kanwil DJP DI Yogyakarta

20

Kanwil DJP Jawa Timur I

2.534.580.911

21

Kanwil DJP Jawa Timur II

1.197.136.038

22

Kanwil DJP Jawa Timur III

2.410.098.141

23

Kanwil DJP Kalbar

24

Kanwil DJP Kalsel & Kalteng

25

Kanwil DJP Kaltim

26

Kanwil DJP Sulsel, Barat, dan Tenggara

651.682.060

27

Kanwil DJP Sulut, Tengah, dan Gorontalo

279.878.192

28

Kanwil DJP Bali

972.532.217

29

Kanwil DJP Nusa Tenggara

30

Kanwil DJP Maluku dan Papua

-

31

Kanwil DJP Wajib Pajak Besar

-

4.923.497.441
365.191.740

848.184.510

-

-

15.966.222.889
2.859.916.667
12.341.661.725

Jumlah

2.283.472.506

93.012.053.871

2. Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan sebagai
Pajak Daerah
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010,
kewenangan pemungutan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan dialihkan dari
Pemerintah kepada Pemerintah Daerah paling lambat tanggal 31 Desember
2013.

Catatan atas Laporan Keuangan

Halaman 136

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited)

Sebagai bagian persiapan pengalihan tersebut, telah diterbitkan serangkaian
ketentuan sebagai berikut:
a) Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor
213/PMK.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tanggal 30 November 2010 tentang
Tahapan Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Sebagai Pajak
Daerah;
b) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2010 tanggal 17
Desember 2010 tentang Tata Cara Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah;
Dengan mengacu kepada ketentuan di atas, piutang PBB Sektor Perdesaan dan
Perkotaan per 31 Desember 2010 tetap dilaporkan di Neraca Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat dan akan menjadi piutang pajak di Neraca Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah sejak Berita Acara Serah Terima ditandatangani antara KPP
Pratama dan Pemerintah Kabupaten/Kota setempat.
Dari saldo piutang PBB per 31 Desember 2010 Sektor Perdesaan dan Perkotaan
sebesar Rp1.617.432.555.900,00 dan Rp9.391.433.663.661,00 sebagaimana yang
tercantum dalam neraca Direktorat Jenderal Pajak, telah dialihkan oleh KPP
Pratama ke Pemerintah kabupaten/Kota sebesar Rp619.519.003.081,00. Rincian
atas nilai piutang PBB Perdesaan dan Perkotaan yang dialihkan ke pemerintah
kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
NO

KANWIL
DJP

BERITA ACARA PENGALIHAN PBB
KPP

NOMOR
-

-

-

1

JATIM I

KPP MADYA
SURABAYA

2

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
SUKOMANUNGGAL

BA-12/WPJ.11/KP.01/2011

14-01-2011

146.121.706.871

3

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
KREMBANGAN

BA-42/WPJ.11/KP.0201/2011

14-01-2011

15.416.160.000

4

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
GUBENG

BA-04/WPJ.11/KP.04/2011

21-01-2011

73.079.350.000

5

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
TEGALSARI

BA-04/WPJ.11/KP.0501/2011

14-01-2011

15.511.255.775

6

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
WONOCOLO

BA-03/WPJ.11/KP.07/2011

14-01-2011

59.334.972.590

7

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
GENTENG

BA-03/WPJ.11/KP.09/2011

14-01-2011

14.232.153.134

8

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
PABEAN CANTIKAN

BA-05/WPJ.11/KP.03/2011

14-01-2011

11.389.989.441

9

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
SAWAHAN

BA-03/WPJ.11/KP.06/2011

14-01-2011

42.979.818.000

10

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
RUNGKUT

BA-02/WPJ.11/KP.08/2011

14-01-2011

67.851.398.000

11

JATIM I

KPP PRATAMA SBY
SIMOKERTO

BA-03/WPJ.11/KP.1004/2011

14-01-2011

17.400.283.000

12

JATIM I

KPP PRATAMA
KARANGPILANG

BA-03A/WPJ.11/KP.13/2011

14-01-2011

81.369.451.362

13

JATIM I

KPP PRATAMA
MULYOREJO

BA-10/WPJ.11/KP.12/2011

14-01-2011

74.832.464.908

JUMLAH

Catatan atas Laporan Keuangan

TANGGAL

NILAI PIUTANG PBB
P2
YANG DIALIHKAN

619.519.003.081

Halaman 137

809.190.190.076.572 Non Keberatan 117 4.028 - 4.884. Sesuai peraturan yang berlaku.809. b) Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terkait dengan Perdesaan dan Perkotaan oleh Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2013.229.793.362 185 88. 3. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 138 . dapat diinformasikan bahwa tunggakan atas sengketa pajak yang berkaitan dengan BPHTB yang belum mendapatkan atas keputusan atau putusan per 31 Desember 2010 sebagai berikut: Jenis Sengketa Pajak Nominal Ketetapan Jumlah Ketetapan Dalam Rp Dalam USD Total Rp Keberatan 44 17.162.572 - 17.740.1. Tunggakan Banding/Gugatan merupakan surat permohonan banding/gugatan atas BPHTB oleh Wajib Pajak ke Pengadilan Pajak yang telah dikirimkan pemberitahuannya melalui permintaan Surat Uraian Banding (SUB) oleh Pengadilan Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak sebagai pihak Terbanding/Tergugat dan belum diterima putusannya per 31 Desember 2010.436.100. Informasi Sengketa Pajak atas BPHTB Berkaitan dengan pengalihan BPHTB yang mulai berlaku 1 Januari 2011. akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2010.522 - 42.100.484 Jumlah Tunggakan atas keberatan dan non keberatan atas BPHTB per 31 Desember 2010 yang masih tersisa sebanyak 161 berkas dengan nilai Rp21. sepanjang belum ada Peraturan Daerah tentang PBB yang terkait dengan Perdesaan dan perkotaan. Pengalihan Tunggakan Sengketa Pajak atas PBB dan BPHTB Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.522 Peninjauan Kembali 7 24. Tunggakan Peninjauan Kembali adalah surat memori Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung atas BPHTB yang telah diajukan baik oleh Direkotorat Jenderal Pajak maupun oleh Wajib Pajak dan belum diterima putusannya per 31 Desember 2010.793.362 - 24.740.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 3.910. diatur antara lain: a) Pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) oleh Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.00 merupakan tunggakan yang pada awalnya menjadi wewenang penyelesaian Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Wilayah DJP.600. Direktorat Keberatan dan Banding mewakili Direktorat Jenderal Pajak dalam menghadiri sidang banding/gugatan.884.484 - 88.028 Banding/Gugatan 17 42.436.162.076.813. proses Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung tidak memerlukan kehadiran sidang baik dari Direktorat Jenderal Pajak maupun Wajib Pajak.813.

273 1.072.073 85.490 - 847.181.873 Saldo Piutang per 31 Desember 2010 mengalami penurunan karena adanya koreksi.089 24.615) Penambahan Mutasi Pelimpahan 12.744.246) 113.315.499.355. Pungutan Ekspor/Bea Keluar Terhitung tanggal 1 Januari 2009 seluruh urusan Pungutan Ekspor yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) telah diserahkan penyelesaiannya kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). diinformasikan bahwa terdapat satu pemerintah daerah yang sudah siap melakukan pengalihan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan mulai 1 Januari 2011 yaitu Pemerintah Kota Surabaya. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 139 .766. 1 Jakarta dan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima Nomor: 01/AG/2009.628.994.781. Mutasi akun pungutan ekspor selama Tahun 2010 secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: AKUN ASET LANCAR Piutang PE ASET LAIN-LAIN Piutang PE (DJKN) KEWAJIBAN UTANG PIHAK KETIGA (EKSPORTIR) Saldo Awal 12/31/2009 Koreksi 14. pembayaran dan pelimpahan penagihan kepada KPKNL sehingga direklasifikasi dari aset lancar menjadi aset lain-lain.498.2.099.262.029. Atas serah terima pengurusan PE tersebut.079.715 Pembayaran(Reali sasi Restitusi) Saldo Akhir 12/31/2010 9.941 Banding/Gugatan 1 847.941 231.717. Wahidin No.645.034.845 66. Informasi Sengketa Pajak atas PBB Berkenaan dengan pengalihan PBB.447.079.429.315. Penyerahan keseluruhan berkas dilakukan pada tanggal 20 Februari 2009 bertempat di Gedung Radius Prawiro Lantai 3.067 123. Jalan Dr.431 - 1.937 (43.793.717.197.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) 3.532 10.597.078.496.548.483 19.538 3.490 85 1.766 (85.431 Peninjauan Kembali Jumlah 6.597. Tunggakan sengketa pajak yang berkaitan dengan PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan untuk Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I yang wilayah kerjanya meliputi Pemerintah Kota Surabaya sebagai berikut: Jenis Sengketa Pajak Jumlah Ketetapan Nominal Ketetapan Dalam Rp Dalam USD Total Rp - - Keberatan Non Keberatan 84 231.359.334 8. Tim PE telah melakukan verifikasi berkas yang hasilnya terdapat ketidaktepatan klasifikasi berkas dan belum jelasnya posisi piutang PE yang telah dilimpahkan penagihannya kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). DJBC telah membentuk Tim Penyelesaian Pungutan Ekspor sesuai Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: 09/BC/2009 Tanggal 6 April 2009.078.942.

04/2009. Barang yang Dikuasai Negara adalah: a. Barang yang tidak dikeluarkan dari Tempat Penimbunan Sementara yang berada di luar area pelabuhan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak penimbunannya. Barang yang Menjadi Milik Negara adalah: a. 2) Dengan tujuan luar Daerah Pabean yang diterima kembali karena ditolak atau tidak dapat disampaikan kepada alamat yang dituju dan tidak diselesaikan oleh pengirim dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya Pemberitahuan dari Kantor Pos. atau Barang yang dikirim melalui Pos : 1) Yang ditolak oleh si alamat atau orang yang dituju dan tidak dapat dikirim kembali kepada pengirim di luar Daerah Pabean. c. kecuali terhadap barang dimaksud ditetapkan lain berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Barang yang Dikuasai Negara dan Barang Yang Menjadi Milik Negara adalah sebagai berikut: Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai adalah: a. aset lain-lain dan kewajiban masih dibukukan oleh Kantor Pusat DJBC.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) Pada tanggal 28 Juni 2010 telah dilakukan penyerahan berkas pengembalian yang belum selesai diproses oleh Tim pungutan Ekspor sampai dengan berakhirnya jangka waktu masa tugas Tim Pungutan Ekspor. Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai yang merupakan barang yang dilarang untuk diekspor atau diimpor. Berkas pengembalian Non SK Menteri Keuangan yang disetujui oleh KPPBC pada semester II tahun 2010 dibukukan oleh KPPBC yang bersangkutan sedangkan realisasi pengembalian atas berkas SK Menkeu dan Non SK yang telah disetujui oleh Tim pungutan Ekspor dicatat oleh Kantor Pusat DJBC sebagai pengurang akun kewajiban. Barang yang dilarang atau dibatasi untuk diimpor atau diekspor yang tidak diberitahukan atau diberitahukan secara tidak benar dalam Pemberitahuan Pabean.04/2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK. Barang Yang Dikuasai Negara Dan Barang Yang Menjadi Milik Negara Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK. Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditinggalkan di Kawasan Pabean oleh pemilik yang tidak dikenal. Atas penyerahan tersebut maka pencatatan akun pungutan ekspor baik piutang. kriteria dari Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai. Barang yang tidak dikeluarkan dari Tempat Penimbunan Sementara yang berada di dalam area pelabuhan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak penimbunannya. b.atau c. Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai. Pengelolaan Barang Hasil Tegahan. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 140 . Barang yang tidak dikeluarkan dari Tempat Penimbunan Berikat yang telah dicabut izinnya dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak pencabutan izin. 7. b. Sitaan/Rampasan. Barang dan/atau sarana pengangkut yang dicegah oleh Pejabat Bea dan Cukai.

Sedangkan terhadap sisa sebesar Rp13 miliar masih dalam proses identifikasi.3P/2010 tanggal 31 Desember 2010 (BA IP terlampir). Hal ini karena barang-barang tersebut berada dibawah pengawasan Kantor Bea dan Cukai. c. d. Sedangkan terhadap sisa sebesar Rp59 miliar masih dalam proses identifikasi. Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai yang merupakan barang yang dibatasi untuk diekspor atau diimpor.3P/2010 tanggal 31 Desember 2010 (BA IP terlampir). Voice Recorder. Atas barang yang menjadi milik negara yang dinilai dan dicatat dalam laporan keuangan sebagai persediaan adalah barang yang telah memiliki status akan dilelang dan sudah mendapat keputusan dari Menteri Keuangan.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) b. Sedangkan barang yang berstatus dihibahkan. 9. Printer. Surat tersebut baru ditandatangani oleh PT Sarana Multigriya Finansial dan Bapepam dan LK.02/2010 tanggal 23 Maret 2010 (BA IP terlampir). Barang Milik Negara (BMN) yang belum dilakukan Inventarisasi dan Penilaian (IP) pada Kementerian Keuangan telah ditindaklanjuti dengan progress per 31 Desember 2010 sebagai berikut: a) BMN yang belum dilakukan IP pada Biro Umum Setjen Kemenkeu telah dilaksanakan penilaiannya sebesar Rp137 miliar sesuai dengan BA IP Nomor: 67/KN. Copyboard dan Voice conference kepada Bapepam-LK sesuai dengan Certificate of Disposal/Turnover Of TA Equipment TA 4715-INO : Secondary Mortgage Facility tertanggal 2 November 2009. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 141 . Oleh karena itu pihak Bapepam-LK belum mencatat barang tersebut dalam SIMAK BMN Bapepam-LK. dinyatakan dirampas untuk negara. Semua barang tersebut telah diterima oleh Bapepam-LK. dimusnahkan dan barang yang belum ada peruntukannya hanya diungkapkan di Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK) sebagai lampiran. Barang dan/atau sarana pengangkut yang berdasarkan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. b) BMN yang belum dilakukan IP pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) telah selesai dilaksanakan sesuai dengan BA IP Nomor: 66/KN. c) BMN yang belum dilakukan IP pada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah diselesaikan penilaiannya sebesar Rp182 miliar sesuai dengan BA IP Nomor:08/WKN. Scanner.atau f. tetapi pihak ADB sendiri belum menandatangani surat penyerahan barang dimaksud. Hibah Barang dari Asian Development Bank (ADB) ADB menghibahkan barang berupa Note Book.04. e. Switch Hub. Barang dan/atau sarana pengangkut yang dicegah oleh Pejabat Bea dan Cukai yang berasal dari tindak pidana yang pelakunya tidak dikenal. yang tidak diselesaikan oleh pemiliknya dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak disimpan di Tempat Penimbunan Pabean. 8. dan selanjutnya dikirim ke pihak ADB untuk dimintakan tanda tangan. tetapi belum ada keputusan dari Menteri Keuangan tentang peruntukannya. Barang dan/atau sarana pengangkut yang ditinggalkan di Kawasan Pabean oleh pemilik yang tidak dikenal yang tidak diselesaikan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak disimpan di Tempat Penimbunan Pabean. Barang yang Dikuasai Negara yang merupakan barang yang dilarang atau dibatasi untuk diimpor atau diekspor.07/KNL.

Rek.00 0.332. Rek.00 0.00 4 2.275. Pembahasan deadlock (dokumen/informasi tidak lengkap) Sub Total Total Rek.107 3.00 0. 0.645.30 0 0 2 17.637 38.00 2 315.746.26 0.00 Dolar 15 1.00 1.11 0 0 0. pemerintah lainnya Ditutup setor ke Kas Negara dan Non 4.781. Ditutup setor ke Non Kas Negara Ditutup digabung ke rekening 3.00 693.16 0 0.656. 7. Perkembangan rekening pemerintah lingkup Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 134 berikut.475.057.550. Penutupan yang belum/tidak dilaksanakan 2.107. Penampungan Dana Titipan Rek.000.665.100.681.663 0.41 1.028.861 38.48 1. D.00 0.752.114.562.81 1.66 dan 7 rekening senilai US$1.692.29 0 0.112.489.1.77 0.823. Temuan dan Tindak Lanjut Temuan BPK Daftar temuan dan tindak lanjut temuan BPK-RI terlampir.028.021.380.605.509. 8.962. Tabel 134 Rekening Pemerintah Lingkup Kementerian Keuangan per 31 Desember 2010 dan 2009 No. Ditutup 1.00 1. Rek.790 972.77.45 0 0. Penampungan Dana Jaminan Pihak Ketiga Rek.00 0.140.496 25.73 4 887.48 1. Ditutup setor ke Kas Negara 2.32 0. Dipertahankan 1.902.77 0 0 0 0 320 5.624. Pengelompokan Rekening I.656.00 124 1.036.082 313 391.270.801.538. Sub Total Rek.16 0 0.00 1. PENGUNGKAPAN PENTING LAINNYA Pengungkapan Penting Lainnya D. Penampungan Dana Dukungan Pelayanan Khusus yang Bersifat Permanen (Diusulkan menjadi BLU) 4.106 3.379.590.00 0.486.562.084.00 3.00 53 0 161.00 1.262. Daftar rekening pemerintah lingkup Kementerian Keuangan terlampir.375 314 562.684.837. 8 1.321.72 0 0.665.11 185 Dolar per 31 Desember 2009 Rupiah Rek.861 rekening senilai Rp1.86 1.66 324 5.180. Bend.156.352.00 0. Rek.514.528.518.112.51 1.72 0 0 0.703.392.25 3.00 4 2. 5.00 0 0 0.376. Pengeluaran 3.176.460.944.721.523 412.509.190.565.531.29 0 0.613 15.38 1 0. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 142 .684.48 0 0 0 0 5 1.00 0.25 7 1.00 320 38. Aktif Lainnya II.621.880.823.36 0.605.878 582. Rekening Pemerintah Jumlah rekening pemerintah lingkup Kementerian Keuangan yang terdata hingga 31 Desember 2010 adalah 5.772.028.77 1 0 0.190.910.80 6 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) D.00 0.625. Kas Negara Sub Total 1.342.48 324 38. Bend.074.752.868 rekening dengan rincian 5.628.509.00 775.684.82 18.805.180. 6.778.060.064.00 0 0 0 0 2.021.509.77 1 0 2.00 2 0. Penerimaan Non DIPA Rek.167.514.100.900.00 0.028.248.211.16 18.64 0 50 0 148. per 31 Desember 2010 Rupiah Rek.189. Tidak jelas identitas pemilik rekening 3. Penampungan Hibah dan Kerjasama Terikat Rek.089.00 1.406.563.248.2. Penerimaan 2.731.77 Rincian mutasi rekening Kementerian Keuangan disajikan pada Lampiran Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 Audited.05 2 0 3 5 23.00 1.464.114.746.

Berdasarkan mutasi penyesuaian tersebut maka realisasi belanja TA 2010 secara akrual adalah sebesar Rp14.321.563.246.406. Informasi pendapatan dan belanja secara akrual tingkat pemerintah pusat merupakan suplemen yang dilampirkan pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahunan.945.032.275.746.066.992 1.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) D.131. terdapat penyesuaian akrual tambah sebesar Rp24.275.00 dan penyesuaian akrual kurang sebesar Rp 53.247.00 dan penyesuaian akrual kurang sebesar Rp20.988 56.221.275.086.657.455 Belanja Pegawai 7.742.272.064 1.211.272.755.482.595.770.190 7.062.639.884.178. dan/atau 2.600.044 Belanja Modal Belanja Pembayaran Kewajiban Utang 1.030 104.913. Transaksi pendapatan secara akrual terdiri dari: 1.708.466.043 Penyesuaian Akrual Tambah (Rp) 24.347.321. secara berjenjang dari mulai UAKPA sampai dengan UAPA.265.582.900. Realisasi belanja TA 2010 menurut basis kas adalah sebesar Rp14.120.746.977 16.740.163 1. Daftar Informasi pendapatan dan belanja secara akrual terlampir.653.227 981.477 9.053 50.836 3.595.365. Berdasarkan mutasi penyesuaian tersebut maka realisasi pendapatan TA 2010 secara akrual adalah sebesar Rp749.428.417.632.091.028.177.321.963 135.338. Pendapatan yang masih harus diterima (disajikan sebagai penambah pada informasi pendapatan secara akrual dan sebagai piutang di neraca).012.959 646.073 24.261.228 744.763.502 23.160.053.428.123 Belanja Barang 3.066.755.746 20.927. Belanja dibayar dimuka (disajikan sebagai pengurang pada informasi belanja secara akrual dan sebagai piutang pada neraca).758 Penyesuaian Akrual Kurang (Rp) 20. Pendapatan diterima dimuka (disajikan sebagai pengurang pada informasi pendapatan secara akrual dan sebagai kewajiban jangka pendek pada neraca). Tabel 135 Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual Untuk Periode yang Berakhir 31 Desember 2010 (dalam Rupiah) Uraian Penerimaan Perpajakan Penerimaan Negara Bukan Pajak Total Penerimaan Realisasi Menurut Basis Kas (Rp) 743.849.575 Realisasi MenurutBasis Akrual (Rp) 748.582.365 749.221.849. Realisasi pendapatan TA 2010 menurut basis kas adalah sebesar Rp744.988.551.527. Pendapatan dan belanja secara akrual tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 135 berikut.763.917.421.921. Belanja yang masih harus dibayar (disajikan sebagai penambah pada informasi belanja secara akrual dan sebagai kewajiban jangka pendek di neraca).008 Jumlah Belanja Berdasarkan Tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.786 3.134.462. Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 143 .471.790 1.930.275.875.131 14.00.00 terdapat penyesuaian akrual tambah sebesar Rp50.225.131.787.012.789. dimulai dari Laporan Keuangan Tahunan TA 2009.713.002.563.988.00.183. Sedangkan transaksi belanja secara akrual meliputi: 1.120.073.900.869.653.086 53.730.455.347.639.487.485.770.008.097 214.00. dan/atau 2.804.310.3 Informasi Pendapatan dan Belanja secara Akrual Basis Akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat hak dan/atau kewajiban timbul.328 49.466. 2.00.134.900.407.254.777 14.00.258.740.746.

Catatan atas Laporan Keuangan Halaman 144 .4.Laporan Keuangan Kementerian Keuangan TA 2010 (Audited) D. D.5. Barang Sitaan Daftar Barang Sitaan DJP lingkup Kementerian Keuangan terlampir. Barang Tegahan Daftar Barang Tegahan DJBC lingkup Kementerian Keuangan terlampir.