You are on page 1of 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul “INSTRUMENTASI
DAN PENSKALAAN”, yang mana makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Metode Penelitian Bisnis dan Teknik Penulisan Laporan.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyajian data dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah
ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan para pembaca.
Demikian makalah ini kami susun, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan
dan banyak terdapat kekurangan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Malang, 21 Februari 2016

Penyusun

1

DAFTAR ISI
halaman
COVER
KATA PENGANTAR ..........................................................................................

i

DAFTAR ISI ........................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................

1

1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................

1

1.3 Tujuan .............................................................................................................

1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Skala Penelitian ...............................................................................................

3

2.1.1 Pengertian Skala Penelitian ................................................................... 3
2.1.2 Jenis-jenis Skala Pengukuran ................................................................

3

2.2 Instrumen Penelitian ........................................................................................ 5
2.2.1 Pengertian Instrumen Penelitian ............................................................ 5
2.2.2 Jenis-jenis Instrumen Penelitian ............................................................ 6
2.2.3 Langkah-langkah Instrumen Penelitian ................................................

8

2.2.4 Proses Pengembangan Instrumen .........................................................

9

2.2.5 Konstruksi Pertanyaan ..........................................................................

10

2.2.6 Ciri-ciri Instrumen yang Baik ...............................................................

12

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

2

15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya ilmu pengetahuan menuntut
manusia untuk terus mencari sumber-sumber ilmu baru yang sesuai dengan tuntutan
zaman. Tak bisa dipungkiri untuk mendapatkan berbagai cabang ilmu dibutuhkan
sebuah usaha yang matang dan sungguh-sungguh melalui banyak cara salah satunya
dengan melakukan penelitian. Suatu penelitian dirancang dan dilakukan untuk dapat
memecahakan suatu masalah tertentu. Untuk melakukan sebuah penelitian dibutuhkan
metode-metode dan alat yang valid agar proses dan hasil yang didapatkan dari
penelitian dapat dipastikan. Peneliti perlu mengetahui secara menyelidik permasalahan
yang akan diselesaikan melalui teknik-teknik penelitian yang tepat. Sebelum melakukan
metode penelitian kita harus mengetahui skala pengukuran dan instrumen penelitiaan
yang bertujuan agar penelitian yang dilakukan dengan menggunakan instrumen (alat)
serta skala, diharapkan sebuah penelitian dapat menghasilkan hasil yang berkualitas.
Instrumentasi sangatlah penting bagi berlangsungnya sebuah penelitian karena kualitas
instrumen akan menentukan kualitas data yang terkumpul. Sebagaimana halnya dengan
skala yang memiliki arti sebagai nilai angka yang bertujuan untuk mengukur sifat.
Kedua hal ini sangat berperan penting dalam menyusun serta melaksanakan seuah
penelitian.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan penskalaan?
2. Apa saja jenis penskalaan?
3. Apa yang dimaksud dengan instrumen penelitian?
4. Apa yang dimaksud dengan pengujian validitas dan realibilitas

1

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari penskalaan dalam penelitian
2. Untuk mengetahui jenis-jenis penskalaan dalam penelitian
3. Untuk mengetahui pengertian dari instrumen penelitian
4. Untuk mengetahui pengertian dari pengujian validitas dan realibilitas

2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SKALA PENELITIAN
2.1.1 Pengertian Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, alat ukur tersebut
digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitaif (Sugiyono, 2001:84) .
2.1.2

Jenis-Jenis Skala Pengukuran
Skala pengukuruan terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan kriteria yang ada.
1) Berdasarkan sifatnya
a. Skala Nominal
Skala yang dberikan untuk obyek yang bersifat label atau kode saja
b. Skala Ordinal
Skala yang diberikan untuk obyek yang bersifat menyatakan tingkat
dengan jarak atau rentang yang tidak harus sama.
c. Skala Interval
Skala yang diberikan pada obyek yang sifatnya menyatakan tingkat
dengan baik atau rentang yang harus sama namun tidak terdapat titik nol
absolut.
d. Skala Ratio
Skala yang diberikan pada obyek yang sifatnya menghimpun semua sifat
dari ketiga skala lainnya dan dilengkapi dengan titik nol absolut dengan
makna empiris
2) Berdasarkan fenomena sosial
a. Skala Pengukuran untuk mengukur perilaku sosial dan kepribadian
Contoh : skala sikap skala moral, test karakter, skala partisipasi sosial

3

b. Skala pengukuran untuk mengukur beragai aspek budaya lain dan
lingkungan sosial
Contoh : skala untuk mengukur status soial ekonomi, lembaga-lembaga
kemasyarakatan dan kondisi kerumahtanggan.
3) Berdasarkan penggunaannya
a. Skala Likert
Jenis skala untuk mengukur variabel penelitian (fenomena sosial
spesifik) Contoh : sikap, pendapat, persepsi sosial seseorang atau kelompok
orang
Variabel skala likert dapat disusun menjadi item-item instrumen
berbentuk pertanyaan maupun pernyataan. Jawaban setiap instrumen
memiliki gradasi dari tinggi (sangat positif) ke rendah (sangat negatif).
Instrumen skala likert dapat juga dibuat dalam bentu multiple choice atau
checklist.
b. Skala Guttman
Dikembangan oleh Louis Guttman, atau bisa disebut metode skalogram
atau juga analisis skala. Skala ini memiliki ciri yaitu :
-

Memiliki sifat uni dimensional
Hanya ingin mengukur satu dimensi dari suatu variabel penelitian

yang memiliki beberapa dimensi (multi dimensi)
-

Merupakan skala kumulatif
Pernyataan atau pertanyaannya hanya memiliki bobot yang berbeda

apabila seseorang menyetujui pernyataan yang berbobot lebih berat,
maka dia juga akan menyetujui pernyataan yan bobotnya lebih rendah.
c. Skala Thurstone
Dikembangkan oleh L. L. Thurstone yang bertujuan untuk mengurutkan
responden berdasarkan kriteria tertentu. Skala disusun sedemikian rupa

4

sehingga interval antarurutan mendekati interval yang sama besar, karna hal
ini skala ini jua disebut sebagai skala interval sama.

2.2 INSTRUMEN PENELITIAN
2.2.1 Pengertian Instrumen Penelitian
Dalam penulisan laporan dari sebuah penilitian dibutuhkan data-data yang
diolah untuk kemudian dianalisis dan didapatkan hasil yang telah disimpulkan. Untuk
mendapatkan

data-data

yang

dibutuhkan

dalam

penelitian

maka

diperlukan

pengumpulan data dengan instrumen atau alat pengumpul data. Instrumen dalam
melakukan penelitian sangat dibutuhkan untuk mendapatkan data berdasarkan variabel
yang dibutuhkan. Maka data yang akan diperoleh dapat terukur, mudah divalidasi dan
juga mengerucut. Instrumen dapat dilakukan dengan cara tes dan non tes. Hal tersebut
disesuaikan dengan kebutuhan dari peneliti dan juga data yang ingin dapatkan. Biasanya
untuk dapat yang bersifat kognitif maka intrumen tersebut menggunakan cara tes.
Berdasarakan paparan diatas maka dapat diketahui bahwa instrumen merupakan
alat yang digunakan untuk mendapatkan dan merekan data yang mana data tersebut
akan diolah sebagai informasi yang mana digunakan sebagai alat ukur, memecahkan
permasalahan dalam penelitian, dan mencapi tujuan atas penelitian. Beberapa ahli
seperti Darmadi(2008:85) mendefinisikan instrumen adalah sebagai alat ukur untuk
mengukur informasi atau melakukan pengukuran. Sedangkan menurut Sukaryana dkk
(2003:71) mendifinisikan instrume sebagai alat-alat yang digunakan untuk memperoleh
atau mengumpulkan data dalam rangka menyelesaikan masalah penelitian dan mencapai
tujuan peneliatian. Jika data yang diperoleh tidak akuarat(valid), maka pengambilan
keputusan pun akan tidak tepat.
Dalam melakukan penelitian di dalam pendidikan maupun sosial sudah sering
kali kita menjumpai berbagai cara pengumpulan data antara lain dengan skala ordinal,
skala nominal, skala interval, dan skala rasio. Dari keempat cara tersebut maka kita
dapat memilih untuk bagaimana cara menilai sebuah data yang kemudian diterapkan
dalam sebuah instrumen.

5

2.2.2

Jenis – Jenis Instrumen Penelitian
Dalam melakukan pengumpulan data perlu diketahui cara yang akan digunakan

serta alat apa yang sesuai dengan data dan subjek yang dituju. Dalam instrumen ada 2
(dua) bentuk yang bisa digunakan yaitu tes dan non tes. Untuk menggunakan bentuk tes
maka yang berkaitan adalah tes psikologis dan tes non psikologis, sedangkan untuk
bentuk non tes adalah angket atau kuisioner, wawancara atau interview, observasi atau
pengamatan.
1. Instrumen Tes
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali yang telah mengetahui tes.
Biasanya tes digunakan sebagi tolok ukur atas apa yang telah lakukan. Dalam
melakukan tolok ukur maka tes dibagi menjadi 2 (dua) yaitu psikologis dan non
psikologis.
Tes psikologis sendiri dibagi menjadi 2 ( dua) yaitu afektif atau yang sering
disebut dengan tes kepribadian dan intelektual. Dalam melakukan tes afektif
atau tes kepribadian maka dalam terminologi yang akan diketahui hasil dari tes
tersebut adalah emosional atau EQ, sikap, motivasi, dan niat. Sedangkan untuk
melakukan tes intelektual dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu tes bakat dan
kemahiran yang mana tes ini disebut dengan ability test.
2. Instrumen Non Tes
1) Angket/ Kuisioner
Angket atau kuisioner adalah bentuk pengumpulan data berupa pertanyaan
yang disusun yang mana digunakan untuk mendapatkan informasi dari
responden mengenai data yang ingin didapatkan. Pada umumnya hasil yang
didapatkan adalah semua data informasi hasil jaringan semua skala pengukuran.
Maka dari itu, perlu diadakan uju skoring dan semua teknik analisis baik secara
kualitatif dan kuantitatif. Kuisioner atau angket banyak sekali digunakan saat
melakukan survey, hal ini karena kuisioner atau angket memiliki 2 (dua)
keungguan yaitu pertama, daftar pertanyaan yang dibuat akan lebih teliti dan
sistematik, sehingga data yang ingin didapatkan akan lebih tercapai. Kedua,
waktu yang diperlukan untuk pengumpulan data relatif singkat karena dapat

6

dikerjakan dalam satu waktu. Alat pengumpulan data pada alat angket terdiri
dalam 2(dua) praktek yaitu :
a. Daftar pertanyaan terbuka, yang dimaksud adalah jawaban yang
diberikan tidak berdasarkan jawaban yang telah disediakan melainkan
disediakan kolom alternatif jawaban.
b. Daftar pertanyaan tertutup, yang dimaksudkan adalah pertanyaan yang
ada telah dipersiapakan jawaban, sehingga dalam penyusunan jawaban
peneliti biasanya telah berpatokan pada skala yang dikehendaki.
2) Wawancara atau Interview
Wawancara atau interview adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih antara pewawancara yang biasanya juga sebagai peneliti dengan
responden atau informan. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti dilakukan
untuk mendapatkan informasi pribadi dari informan atau responden. Penggunaan
alat ini dapat dilakukan dalam kondisi yaitu :
a. Wawancara mendalam, wawancara dilakukan lebih mendalam untuk
mengetahui informasi tentang responden tersebut. Tidak ada batasan lagi
antara

intervier dan interviewe. Disini biasanya masalah yang ada

dianggap menjadi masalah bersama.
b. Wawancara bebas adalah hampir sama dengan wawancara mendalam
tetapi pertanyaan yang diajukan bebas.
c. Wawancara berpedoman adalah wawanara yang dilakukan berdasarkan
pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu.
3) Observasi atau pengamatan
Obseravsi atau pengamatan adalah serangkaian kegiatan pengumpulan data
dengan melakukan pengamatan terhadap objek. Dalam kegiatan ini peneliti tidak
hanya melihat melainkan mengamati secara seksama sehingga data yang
dihasilkan harus dicatat. Dalam melakukan pengamatan atau observasi beberapa
hal yang harus dilakukan adalah menetapkan objek yang diamati, merumuskan
definisi operasional yang akan diamati, mendeskripsikan objek yang akan
diamati, membuat dan menyusun pertanyaan-pertanyaan apa saja yang akan

7

diamati, melakuakan uji coba dan selanjutnya menyusun kembali pertanyaan
tersebut.
Pengumpulan data pada observasi bisa dilakukan dalam 3(tiga) cara yaitu
melalui observasi terlibat, observasi setengah terlibat, observasi tidak terlibat.
a. Observasi terlibat, peneliti dalam hal ini ikut terlibat langsung dengan
objek yang sedang diamati atau diteliti.
b. Observasi setengah terlibat, peneliti akan hanya beberapa saat
melibatkan diri dengan objek yang sedang diobservasi dan terkadang
mengamati dari jauh.
c. Observasi tidak terlibat, peneliti tidak terlibat sama sekali dengan objek
yang sedang diamati. Peneliti akan mengamati dari jauh objek dengan
mencatat segala keperluan data yang diperolehnya dari pengamatan
tersebut.
2.2.3 Langkah – langkah Instrumen Penelitian
a. Analisis variable yaitu peneliti melakukan penganalisisan terhadap variable
yang akan digunakan menjadi subvariabel dan menjadi subpenelitian, sehingga
data yang didapatkan akan semaikin jelas dan terinci.
b. Peneliti menetapkan instrumen mana yang dapat digunakan atau sesuai dengan
variable-variable dan kondisi yang ada serta mempertimbangkan indikator yang
akan digunakan untuk melakukan penelitian.
c. Selanjutnya peneliti melakukan penyususnan kisi kisi serta layout instrumen
yang akan digunakan. Dalam hal ini peneliti harus bisa mengukur estimasi
waktu pengumpulan data, ability atau kemampuuan yang diharapkan dari
koresponden, serta jensi pertanya dan banyaknya jumlah pertanyaan yang akan
digunakan untuk pengukuran.
d. Selanjutnya peneliti dapat menuliskan pertanyaan sesuai dengan jenis
pertanyaan yang dipakai yang disesuaikan dengan instrumen yang dipilih.
e. Yang terakhir adanya melakukan uji kelayakan terhadap pertanyaan yang dibuat
sehingga data yang di dapat lebih jelas dan akurat serta melakukan revisi ketika
terjadi kesalahan pada pertanyaan yang dibuat.
2.2.4 Proses Pengembangan Instrumen
a. Hirarki Pertanyaan
Dilihat dari proses dan tujuan atau masalah manajemen umum menjadi tolak
ukur untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Pengukuran yang spesifik
memiliki empat tahap pertanyaan penting :
8

1. Pertanyaan manajemen – masalah-masalah yang diberikan dan dijawab
oleh manajer.
2. Pertanyaan-pertanyaan penelitian – pertanyaan yang dibuat berdasarkan
fakta yang ada agar peneliti dapat memberi andil pada solusi pertanyaan
manajemen.
3. Pertanyaan-pertanyaan investigatif – peneliti mengajukan pertanyaanpertanyaan yang spesifik agar rincian dan cakupan dapat memadai
terhadap pertanyaan penelitian.
4. Pertanyaan-pertanyaan pengukuran – pengumpulan informasi yang
didapat dari para responden.
b. Strategi Survei
Peneliti dapat memahami hubungan antar pertanyaan investigatif dengan
pertanyaan pengukuran potensial, hal ini dilakukan dalam penentuan strategi
survei.
Berikut beberapa hal penting dalam strategi survei :
1. Menentukan metode komunikasi yang akan digunakan dalam penelitian.
2. Penentuan banyanyak struktur yang digunakan dalam proses tanya
jawab.
3. Menyusun pendekatan pertanyaan dimana ada beberapa pertanyaan yang
disamarkan

atau

menyembunyikan

tujuan

dan

maksud

untuk

mendapatkan informasi yang lebih.
c. Desain Skedul
Ada empat langkah utama dalam mengembangkan survei :
1. Penentuan kebutuhan informasi
2. Keputusan proses mengumpulkan data
3. Pengkoonsepan instrumen
4. Pengujian instrumen
2.2.5 Kontruksi Pertanyaan
Instrumen survei terdiri dari tiga tipe informasi. Yang pertama adalah data target
dalam hal ini mengumpulkan fakta, sikap, preferensi, dan topik-topik sentral. Tipe yang
kedua adalah memperhatikan karakteristik responden yang akan digunakan untuk
klasifikasi dan analsis. Dan tipe yang ke tiga yaitu administratif, mencakup beberapa
identifikasi mulai dari responden, pewawancara, tanggal, tempat, dan kondisi
wawancara.
Dalam mengembangkan instrumen survei peneliti harus mengkonsep pertanyaan
setelah anda memutuskan informasi apa yang dibutuhkan serta proses pengumpulan
data yang akan digunakan.

9

Ada empat keputusan utama :
1.
2.
3.
4.

Isi Pertanyaan
Kalimat Pertanyaan
Struktur Tanggapan
Tahapan Pertanyaan

a. Penyusunan Kata Pertanyaan
Kebanyakan orang merasa kesulitan dalam penyusunan kata pertanyaan dalam
survei yang dilakukan. Hal ini dapat menyebablan kesalah pahaman, maksud dan
tujuan atas pertanyaan yang nantinya diajukan kepada responden yang kemudian
akan akan mengalami kesalahan pengukuran. Berikut adalah perancangan serta
peletakan pertanyaan yang tepat sebelum pertanyaan tersebut memenuhi kriteria
ini :
1. Kosa kata umum
Penggunaan kosa kata yang tepat dan mudah di mengerti oleh responden.
Oleh karena itu pewawancara harus mengetahui karakteristik atau latar
belakang responden.
2. Kejelasan pertanyaan
Dapat mengartikan maksud dari pertanyaan yang diberikan kepada
responden serta pelafalan kata yang jelas agar.
3. Asumsi
Pewawancara dapat mempelajari kerangka refrensi yang digunakan oleh
responden. Dengan demikian pewawancara dapat mespesifikasikan opini
responden ke dalam beberapa bagian.
4. Penyusunan kata yang bias
Pewawancara harus berhati-hati dalam melakukan pembiasan kata.
Pewawancara dapat menciptakan bias tanggapan dengan penggunaan
superlatif (pemakaian kata yang berlebihan), ekspresi slang, dan kata-kata
iseng. Namun, alangkah lebih baik hal tersebut ditiadkan kecuali bersifat
kritis terhadap tujuan pertanyaan.
5. Personalisasi
Pertanyaan yang dibuat sebaiknya sesuai dengan keadaan yang ada.
6. Alternatif yang tepat
Pewawancara harus bijaksana dalam menyatakan setiap alternatif secara
eksplisit untuk mencegah bias.
7. Menuju Pertanyaan yang Lebih Baik

10

b. Struktur Tanggapan
Ada lima determinan situasional yang mempengaruhi keputusan untuk
menggunakan pertanyaan tanggapan terbuka atau tertutup :
1.
2.
3.
4.

Tujuan wawancara
Tingkat informasi respinden tentang topik tersebut
Hasil pemikiran responden terhadap keseluruhan topik
Kemudahan komunikasi dan motivasi responden untuk menjawab

pertanyaan
5. Derajat dimana faktor-faktor responden di atas diketahui oleh pewawancara
Tujuan pertanyaan tertutup yaitu untuk mengklasifikasikan reponden ke
beberapa titik pandangan. Dan bentuk tanggalan tertutup biasanya mengabaikan
opini responden secara menyeluruh dan bagian yang mendahuluinya.
Sedangkan pertanyaan tebuka biasanya untuk mempelajari tingkat informasi
responden tersebut. Pertanyaan tebuka akan membuka perasaan dan ekspresi
intensitas.
c. Rangkaian Pertanyaan
Dengan berbagai rangkaian pertanyaan tidak semua responden memiliki
kemauan untuk bekerjasama dan memberikan tanggapan kepada pewawancara.
Oleh

sebab

itu

sebaikanya

pewawancara

melakukan

pendekatan

serta

membangkitkan minat responden dalam melakukan wawancara. Untuk pembukaan
pertanyaan sebaiknya pewawancara memberikan pertanyaan yang relatif sederhana,
mudah, jelas, dan tidak mengancam sesuai dengan tujuan pertanyaan yang
diajukan. Kemudian kerangka refrensi lebih diperkecil dan pertanyaan-pertanyaan
yang akan diajukan sebaiknya disusun dengan baik agar tidak mendistorsi jawaban
pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
d. Sumber-sumber Pertanyaan
Sumber-sumber pertanyaan dapat berasal dari kuisioner yang dibuat oleh
pewawancara yang mencakup beberapa literatur yang berhubungan dengan
penelitian. Pengujian ulang sangat disarankan untuk menggeneralisasi reabilitas dan
validitas dari instrumen yang sedang dibangun.
2.2.6

Ciri-ciri Instrumen Yang Baik

11

Ada dua syarat yang harus dipenuhi dalam mendapatkan instrumen penelitian
yaitu reliabilitas dan validitas.
1. Reliabilitas (keandalan, dapat dipercaya)
Tingkat ketepatan atau ketelitian sebuah instrumen. Hal ini menunjukkan apakah
instrumen dapat memberikan hasil ukuran yang sama tentang sesuatu yang diukur
secara konsisten.
Reliabilitas instrumen diketahui melalui pengujian secara eksternal maupun
internal.
a. Reliabilitas eksternal : reliabilitas di mana ukuran berada di luar instrumen
b. Reliabilitas internal : reliabilitas di mana ukuran berada di dalam instrumen
Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan metode-metode berikut.
a. Metode tes ulang (test-retest)
Teknik pengukuran dengan mencobakan instrumen beberapa kali pada
responden
b. Metode konsistensi atau metode paralel
Teknik pengukuran yang terdiri atas dua instrumen yang butir-butir pertanyaan
atau pernyataannya ekuivalen
c. Metode belah dua
Teknik pengukuran dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama
besar. Ada tiga cara pembelahan yaitu.
-

Pembelahan atas dasar nomor ganjil-genap

-

Pembelahan atas dasar nomor awal-akhir

-

Pembelahan dengan cara undian
Teknik belah dua ini memiliki 2 syarat agar didapat instrumen yang reliabel,
yaitu.

12

1. Jumlah butir yang ada pada instrumen harus genap agar dapat dibelah menjadi
dua
2. Butir-butir yang ada dalam instrumen hendaknya memenuhi untuk persyaratan
untuk dibelah.
2. Validitas (sahih)
Suatu ukuran untuk menunjukan tingkat kesahihan suatu instrumen. Hal ini
dapat diketahui dengan pengujian secara eksternal dan internal
a. Validitas eksternal (empiris)
Dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrumen sesuai dengan data lain yang
mengenai variabel penelitian terebut. Disusun dari fakta empiris yang telah terbukti
b. Validitat internal (rasional)
Dicapai apabila terdapat kesamaan antara bagian-bagian instrumen dengan
instrumen secara keseluruhan. Disusun menurut teori yang relevan atau program
yang telah ada.
Pengukuran validitas dapat dilakukan dengan mengunakan metode berikut.
1. Validitas butir atau analisis butir
Validitas tinggi apabila butir-butir pembentuk instrumen tidak menyimpang dari
fungsi instrumen. Validitas butir dilakukan dengan sebuah asumsi, jika setiap butir
yang membentuk instrumen tersebut sudah valid
2. Validitas faktor
Validitas tinggi apabila faktor-faktor bagian dari instrumen tidak menyimpang
dari fungsi instrumen. Validitas faktor dilakukan dengan sebuah asumsi, jika setiap
faktor yang membentuk instruem tersebut sudah valid
Sevill (1988) menambahkan 3 syarat validitas, yaitu.
1. Sensitivitas

13

Kemampuan instrumen untuk melakukan diskriminasi yang diperlukan untuk
masalah penelitian
2. Obyektivitas
Tingkat pengukuran yang dilakukan bebas dari penilaian subyektif, pendapat,
bias, dan perasaan orang-orang yang menggunakan instrumen tersebut.
3. Fisibilitas
Aspek-aspek keterampilan, penggunaan sumber daya dan waktu.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya untuk

melakukan sebuah penelitian diperlukan sebuah alat bantu bagi peneliti untuk
mengumpulkan data. Kualitas data yang terkumpul ditentukan berdasarkan instumen
atau alat yang digunakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun
instrumen penelitian, antara lain:
a. Masalah dan variabel yang diteliti harus jelas dan spesifik sehingga dapat
dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan
b. Sumber data atau sumber informasi harus diketahui terlebih dahulu sebagai
bahan dasar dalam menentukan isi, bahasa, maupun sistematika yang akan
digunakan dalam melakukan penelitian.
Di dalam penelitian, selain perlu menggunakan metode yang tepat juga perlu
14

memilih teknik pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik pengumpulan data
yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam suatu penelitian
selalu terjadi proses pengumpulan data. Dalam proses tersebut akan digunakan satu atau
beberapa metode. Jenis metode yang dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data
tentunya harus sesuai dengan sifat dan karakteristik penelitian yang dilakukan.
Ada beberapa jenis teknik pengumpulan data yang lazim dipakai oleh peneliti
antara lain seperti teknik observasi, teknik komunikasi, teknik pengukuran, teknik
sosiometris, dan teknik dokumenter.
Di samping teknik pengumpulan data, adapun prasyarat alat pengumpul data
yang mana sebuah alat tersebut bersifat reliable, sejauh mana suatu alat pengukuran
dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dalam hal ini reliablitas mudah untuk
dimengerti dengan memerhatikan tiga aspek yaitu kemantapan, ketepatan dan
homogenitas. Di sisi lain dalam mengukur validitas, perhatian ditujukan pada isi dan
kegunaan instrumen.

15

Daftar Pustaka

Faisal, Sanapiah. 1989. Format-format Penelitian Sosial. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Ali, Fried. 1997. Metodologi Penelitian Sosial Dalam Bidang Ilmu Administrasi dan
Pemerintahan. Jakarat: Raja Grafindo Persada.
M. Amirin, Tatang. 1990. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarata: Bina Aksara.
Bungin, M. Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kumulatif: Komunikasi, Ekonomi,
dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media.
Margono, S. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kualititatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: CV.
Alfa Beta.
Surya Brata, Sumadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ulfatin, N. 2014. Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan: Teori dan
Aplikasiya. Malang: Bayumedia.
Hadjar, Ibnu. 1996. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hasan, M. Iqbal. 2002. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian Dan Aplikasi.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Moh. Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Zainudin, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Suarabaya: Unversitas Airlangga.
Suryabrata, Sumadi. 1981. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.
Surachman, Winarno. 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik.
Bandung: Tarsito.
Riyanto, Yatim. 1996. Metode Penelitian Pendidikan, Suatu Tinjauan Dasar. Surabaya:
SIC.

16

17