You are on page 1of 3

Kritik Atas Konsep Film

sebagai Bahasa Visual
MOHAMAD ARIANSAH

Abstrak
Terdapat kecenderungan umllm bahwa sebuah usaha llntuk mengklaim film sebagai sebuah seni
menuntut eksistensi dari cara bertutur yang khas dalam berekspresi. Dari sinilah maka konsep
bahasa/ilm menjadi syarat Imlt/ak lIntuk ditawarkan sebagai sesuatu yang unik hasil kOlltemplasi
para senimannya. Tapi seandainya konsep berekspresi tersebut justru mempersempit potensi yang
mungkn dicapai oleh mediumnya maka seni tersebut tidak akan berkembang. Malah menjadikan
setiap tawaran estetik bam akan mandek, karena paradigma lama berubah menjadi doktrin yang
tidak bisa dtkritisi walaupun ia lahir dari kesalahan sejarah semata. Padahal bahasa film tidak
harus melayani naratVdan mengtkuti model seperti sent lukis yang berorientasi pada imaji semata.

B

sa tu bahan pe rbincangan saat o rang de ngan

terlihat dalam berbagai puncak pencapaian sepanjang

minat serius terhadap film mulai berbicara tentang

sejarah fil m. Akibatnya implementasi dari bahasa fil m

bid ang ya ng mereka te kun i tersebut. Bagi para

untuk mengkomun ikasikan ekspres i dari pembuat

teoritisi film , pengajar dan pembuat film yang berasal

film adalah sesuatu yang harus dijaga denga n penuh

dari sekolah film, konsep bahasa film adalah kunci

kebanggaan.

ahasa film atau Film Language meru pakan salah

untuk mengartikulas ika n be rbagai eksp resi ya ng

yang membu at film m ampu hadir dengan kepala

Berbagai kode dari elemen-elemen sinematik yang

tegak sebagai sebuah bidang seni yang mapan dan

akan berkembang menjadi bahasa film , seperti

mandi ri dari bidang seni lainnya. Sebab ketika

penemuan shot, gerak kamera, kode-kode editing,

sebuah bidang kesenian telah memiliki al at

simbolisasi dekor, hingga penerapan suara untuk

ekspresinya yang khas, maka ia menjadi sahih sebagai

bercerita dicatat sebagai momen-momen spesial

seb uah bidang yang mandiri untuk disandingkan

dalam mewujudkan independensi dari film.

dengan seni-seni yang lain. Ada semacam kebanggaan

Meskipun pada awal kemunculannya hingga dekade

kolektif yang berkembang pesat menjadi mitos agung

1910-an berikutnya masih dipandang sebagai

karena selalu diulang terus-menerus dari generasi ke
generasi sebagai panduan moral dalam menilai

pencapaian teknologi semata tanpa masa depan
setidaknya buat pelopornya seperti Lumiere

kekuatan film dan pedoman dalam menciptakan

bersaudara. Diyakini pula pada awalnya bahwa usaha

sebuah karya, sebab terkadang ia merupakan garis

membangun kemandirian sinema sebagai sebuah seni

pemisah antara karya yang baik dan buruk maupun

yang mapan tidak mungkin, kecuali bersandar dari

bernilai dan omong kosong. Ia diyakini pula sebagai

seni-seni yang telah berkembang selama ribuan tahun

us aha penuh perjuangan dalam menemukan cara

sebelumnya seperti sastra, teater, seni lukis dan

12

buta terhadap bahasa film yang menj ad ikan film unik Pada tahun 1907 film secara perlahan mulai d e n gan bahasa medium ya ng kh as sebe n a rnya berorientasi kepada naratif. tap i lebih kepada esens inya send iri. Artinya sinema gambaran jelas. dalam perjuanga n menegakkan independensi film . di mana film memiliki keterkaitan bisu bukanlah sinema yang tanpa suara melainkan dengan seni lain. Ini terjad i karena kekeliruan yang mendasar dalam melihat konsep dari bahasa film itu sendiri. sebab musik dan juga sound effects sebagai sebuah kesatuan dengan gambar masih bisa dimungkinkan Notes on Cinematographer (Sumber amazon. Sebab un sur p al in g perke mb a ngann ya kemudian bahasa film disinonimkan dengan bahsa visual. Sebab keyakinan secara membab i awal bagi film untuk berce rita. film-film yang muncul di layar bukanlah sebuah film yang hanya memperlihatkan gambar-gambar bergerak kepada penonton. Sebab berb aga i kemunculan dari kode-kode sinematik dalam film di atas menjadi tumbuh secara subur dan ter us mempengaruhi ekspresi para pembuat film sampai hari ini. Pada periode film bisu ( sekitar 1895 sa mpai 1927 ) yang sering dipahami secara keliru . sepe rti ide film sebagai musik dalam tanp a dialog. Tapi diyakini bahwa mensinkronkan gambar atau ge rak bibir dengan suara para pioner film telah merin tis jala n yang benar percakapannya masih menj ad i sebuah kendala teknis.com) untuk 13 . Karena film kekhasannya sendiri. Tapi sebuah film d iperlihatkan secara bersamaan dengan iringan musik sebagai ilustrasi gambar yang dibawakan oleh sekelompok orkestrasi di samping layar ketika pertunjukan sedang berlangsung. Ini berarti dalam sinema bisu unsur suara tidaklah menghilang sepenuhnya. m alah menceritakan sesuatu masalah dari berbagai karakter sebaliknya semakin tergantung d an tidak mem iliki dengan kompleksitas psikologisnya. Di mana teater berperan sebagai model kontra produktif. Dalam menjelaskan persoalan tersebut maka kita aka n ke mba li ke periode awal dari pembentukan bahasa film pad a masa film bisu . Bebe rap a t eori film awal meru p akan dipertontonkan secara be rsamaan. Karena pad a era itu us aha untuk gerak atau lukisan dengan cahaya.musik . Lantas men ga pa sinema ta npa di alog te rse but Masalahnya kemudian disadari atau tidak oleh para menjadi esensi d ari persoalan dalam perkembangan pioner keingi nan untu k me njadikan fil m sebagai estetika film yang masih seumur jagung saat itu?T idak sebuah bidang yang mand iri sejak 191O-an melalu i lain karena pengaruh yang sangat kuat dari seni teater penekanan terhadap bahasa fil m adalah sesuatu yang pada era itu. Yang dalam segera munc u l pe rs oa lan . menga mbil teater sebagi model untuk bercerita maka Persoalannya bukan karena eksistensi dari bahasa film . Secara do minan muncul cenderung membuat film tidak pernah menj adi seni kecenderungan k uat dalam setiap film untuk yang independ e n dari se ni yang lai n.

Jad i bahasa film yang muncul pada era film bisu dan berkembang sampai hari ini. Walaupu n se harusnya sa rna sekali berbeda dan waj ib untuk dibedakan.com) dominan dari teater untuk menceritakan persoalan dalam d rama di panggung adalah dialog. . Los Angeles. Notes on the Cinematographer.W Murnau. Grovel Atlantic Inc. tap i tidak dieksploras i en t a h karena keterba t asan krea t if atau sikap reduksionistk dan simp lifikatif dala m memandang medium film. Tapi setiap usaha untuk mengafirmasi konsep bahasa film seperti era film bisu. sementara fi lm saat itu menemu i kesulitan menghad irkan unsur tersebut di layar. Meskipun musik dan efek suara mampu di had irkan pada saat itu. New York. Secara implisit konsep bahasa visual mempersempit keunikan dari medium film itu sendiri.r I The Theatre and Its Double (Sumber: amazon. Dengan kata lain dipandang sarna saja antara bahasa film pada era film bisu dan era film suara. Sergei Eisenstein dan sutradara pionir lainnya mulai merintis cara-cara yang khas dari ekspresi filmis dalam menyampaikan pesan kepada penonton walaupun hambatan utama seperti dialog harus ma mpu dilewati . Yang mengakibatkan terjadi kesalahan 14 dalam berp ikir bahwa in ti dari bahasa film adalah visual. di mana film sebagai bahasa visual akibat posisi utama gambar dalam bercerita sarna dengan memandang bahwa film tidak lebih dari lukisan. Robert. Bahasa film sebagai cara berekspresi yang khas belum benar-benar matang selama orie ntasi d alam menggali po tensi dari mediumnya berjalan tidak integral. Bila argumentasinya kemud ian suara tidak bisa menjadi bagian dar i eksp resi komu ni ka t if dan impres if dalam fi lm kare n a ke tidakutu h an dari format teknologi pertunjukan film pada era film bisu. memil iki sebuah kekhususan yakni harus melayani kepentingan dari naratif dan berorientasi pada imaji. Untuk mengatasi masalah tersebut maka para pembuat fil m seperti D. Green Iteger Books. Antonin. The Theater and its Double. Padahal dalam film tidak h a nya terdapat gambar. Ernst Lubitsch. tapi ada suara dengan potensi yang tanpa batas.W Griffith. Karena faha pertunjukan film yang tidak sepenuhnya bisu pada era film bisu. menjadi tidak diindahkan karena konsep estetika dari bahasa film itu tidak peka dengan batas-batas mediumnya sendiri. juga dituntut untuk memperkuat imaji dalam menyampaika n pes a n karena ketidakhadiran dari dialog. F. Fritz Lang. Walaupun pada esensinya tetaplah lukisan. 1997. 1994 Bresson. Yang selain mampu menceritakan hal­ hal yang kompleks. Hal inilah yang menjadi penggerak utama dan penentu lahirnya bahasa film.. Bagaimana dengan periode film bersuara setelah itu sejak tah un 1930-an? Bukan kah konsep bahasa fi lm yang sarna d e n ga n era film bis u ma s ih teta p dipertahankan. Tentu dengan sedikit apresiasi yakni lukisan yang bergerak. R eferensi Pustaka Artaud.