You are on page 1of 36

LI.1.

Memahami dan Menjelaskan Defisiensi Imun
LO.1.1. Definisi
1. Gangguan difisiensi imun adalah gangguan yang disebabkan oleh kerusakan herediter
yang mempengaruhi perkembangan sistem imun atau dapat terjadi akibat efek sekunder
dan penyakit lain (misalnya, infeksi, malnutrisi, penuaan, imunosupresi, autoimunitas
atau kemotrapi)
2. Penyakit defisiensi imun adalah defek salah satu komponen system imun yang dapat
menimbulkan penyakit berat bahkan fatal yang secara kolektif. (Imunologi dasar FKUI)
LO.1.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi
Penyakit defisiensi imun dibagi menjadi:
1. Defisiensi imun kongenital atau primer
Relatif jarang, Merupakan defek genetic yang meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi yang sering sudah bermanifestasi pada abyi dan anak, tetapi kadang secara
klinis baru ditemukan usia lebih lanjut.
2. Defisiensi imun didapat atau sekunder
Relative lebih sering terjadi karena disebabkan berbagai factor sesudah lahir.
Timbul akibat:
a. Malnutrisi
b. Kanker yang menyebar
c. Pengobatan dengan imunosupresan
d. Infeksi sel system imun yang Nampak jelas pada infeksi virus HIV, yang
merupakan sebab AIDS
e. Radiasi
Klasifikasi
1

Defisiensi Imun Non-Spesifik
a Komplemen
Dapat berakibat meningkatnya insiden infeksi dan penyakit autoimun (SLE),
defisiensi ini secara genetik.
i Kongenital
Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE dan
glomerulonefritis).
ii Fisiologik
Ditemukan pada neonatus disebabkan kadar C3, C5, dan faktor B yang masih
rendah.
iii Didapat
Disebabkan oleh depresi sintesis (sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori).
b

Interferon dan lisozim
i Interferon kongenital
Menimbulkan infeksi mononukleosis fatal
ii Interferon dan lisozim didapat
Pada malnutrisi protein/kalori

c

Sel NK
i Kongenital
Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit), kadar IgG, IgA, dan
kekerapan autoantibodi meningkat.
ii Didapat
Akibat imunosupresi atau radiasi.

d

Sistem fagosit
Menyebabkan infeksi berulang, kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan
langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun, resiko meningkat apabila jumlah
fagosit turun < 500/mm3. Defek ini juga mengenai sel PMN.
i Kuantitatif
Terjadi neutropenia/granulositopenia yang disebabkan oleh menurunnya
produksi atau meningkatnya destruksi. Penurunan produksi diakibatkan
pemberian depresan (kemoterapi pada kanker, leukimia) dan kondisi genetik
(defek perkembangan sel hematopioetik). Peningkatan destruksi merupakan
fenomena autoimun akibat pemberian obat tertentu (kuinidin, oksasilin).
ii Kualitatif
Mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, fagositosis, dan membunuh
mikroba intrasel.
1 Chronic Granulomatous Disease (infeksi rekuren mikroba gram – dan +)
2 Defisiensi G6PD (menyebabkan anemia hemolitik)
3 Defisiensi Mieloperoksidase (menganggu kemampuan membunuh benda
asing)
4 Chediak-Higashi Syndrome (abnormalitas lisosom sehingga tidak mampu
melepas isinya, penderita meninggal pada usai anak)
5 Job Syndrome (pilek berulang, abses staphylococcus, eksim kronis, dan otitis
media. Kadar IgE serum sangat tinggi dan ditemukan eosinofilia).
6 Lazy Leucocyte Syndrome (merupakan kerentanan infeksi mikroba berat.
Jumlah neutrofil menurun, respon kemotaksis dan inflamasi terganggu)
7 Adhesi Leukosit (defek adhesi endotel, kemotaksis dan fagositsosis buruk,
efeks sitotoksik neutrofil, sel NK, sel T terganggu. Ditandai infeksi bakteri
dan jamur rekuren dan gangguan penyembuhan luka)

2

Defisiensi Imun Spesifik
a

Kongential/primer
Sangat jarang terjadi.
i Sel B
Defisiensi sel B ditandai dengan penyakit rekuren (bakteri)
1 X-linked hypogamaglobulinemia
2 Hipogamaglobulinemia sementara
3 Common variable hypogammaglobulinemia
4 Disgamaglobulinemia
ii Sel T
Defisensi sel T ditandai dengan infeksi virus, jamur, dan protozoa yang rekuren
1 Sindrom DiGeorge (aplasi timus kongenital)
2 Kandidiasis mukokutan kronik

iii Kombinasi sel T dan sel B
1 Severe combined immunodeficiency disease
2 Sindrom nezelof
3 Sindrom wiskott-aldrich
4 Ataksia telangiektasi
5 Defisiensi adenosin deaminase
b

Fisiologik
i Kehamilan
Defisiensi imun seluler dapat diteemukan pada kehamilan. Hal ini karena
pningkatan aktivitas sel Ts atau efek supresif faktor humoral yang dibentuk
trofoblast. Wanita hamil memproduksi Ig yang meningkat atas pengaruh
estrogen
ii Usia tahun pertama
Sistem imun pada anak usia satu tahun pertama sampai usia 5 tahun masih
belum matang.
iii Usia lanjut
Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena terjadi atrofi timus
dengan fungsi yang menurun.

c

Defisiensi imun didapat/sekunder
i Malnutrisi
ii Infeksi
iii Obat, trauma, tindakan, kateterisasi, dan bedah
Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu
kemotaksis neutrofil. Kloramfenikol, tetrasiklin dapat menekan antibodi
sedangkan rifampisin dapat menekan baik imunitas humoral ataupun selular.
iv Penyinaran
Dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, dosis rendah menekan aktivitas
sel Ts secara selektif.
v Penyakit berat
Penyakit yang menyerang jaringan limfoid seperti Hodgkin, mieloma multipel,
leukemia dan limfosarkoma. Uremia dapat menekan sistem imun dan
menimbulkan defisiensi imun. Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek
fagosit sekunder yang mekanismenya belum jelas. Imunoglobulin juga dapat
menghilang melalui usus pada diare.
vi Kehilangan Ig/leukosit
Sindrom nefrotik penurunan IgG dan IgA, IgM norml. Diare (linfangiektasi
intestinal, protein losing enteropaty) dan luka bakar akibat kehilangan protein.
vii Stres
viii Agammaglobulinmia dengan timoma
Dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari sirkulasi.
Eosinopenia atau aplasia sel darah merah juga dapat menyertai

d

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Karena banyaknya pemeriksaan yang harus dilakukan (sesuai dengan kelainan klinis dan mekanisme dasarnya) maka pada tahap pertama dapat dilakukan pemeriksaan penyaring dahulu. Pemeriksaan penunjang merupakan sarana yang sangat penting untuk mengetahui penyakit defisiensi imun. apakah membaik.Leukosit total 3. seperti IgA atau grup isotop.Titer antibodi Tetatus. Sel B yang bersirkulasi diidentifikasi dengan antibodi monoklonal terhadap antigen sel B. Pemeriksaan fisik defisiensi antibodi jarang menunjukkan tanda fisik diagnostik. Defek sintesis antibodi dapat melibatkan satu isotop imunoglobulin.LO. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Dalam penegakan diagnosis defisiensi imun.Penilaian komplemen (komplemen hemolisis total = CH50) 5.Titer antibodi H. secara klinis terdapat berbagai tanda dan gejala yang dapat membimbing kita untuk mengenal penyakit ini. penting ditanyakan riwayat kesehatan pasien dankeluarganya. IgM.1. operasi atau transfusi juga dicatat. bahkan pasien yang sakit berat pun masih mempunyai IgM dan IgG yang dapat dideteksi.Hitung jenis leukosit (persentasi) 4.Kadar antibodi terhadap imunisasi sebelumnya (fungsi IgG) 1. Walaupun penyakit defisiensi imun tidak mudah untuk didiagnosis. Pengukuran imunoglobulin serum dapat menunjukkan abnormalitas kuantitatif secara kasar. infeksi rekuren biasanya terjadi mulai usia 4 bulan sampai 2 tahun. Beberapa individu gagal memproduksi antibodi spesifik setelah imunisasi meskipun kadar imunoglobulin serum normal.Morfologi limfosit 5. seperti ruptur membran timpani dan bronkiektasis. IgE) 3. Sel B matur yang tidak ada pada individu dengan defisiensi antibody imembedakan infantile Xlinked agammaglobulinaemia dari penyebab lain defisiensi antibodi primer dengan kadar sel B normal atau rendah. Pemeriksaan laboratorium penting untuk diagnosis. meskipun dapat menunjukkan infeksi berat sebelumnya. Riwayat imunisasi dan kejadian efek simpangnya juga dicari. Pada darah normal. Defisiensi imunoglobulin sekunder lebih sering terjadi dibandingkan dengan defek primer. tetap atau memburuk. Riwayat pengobatan yang pernah didapat juga harus dicatat. kultur dan pencitraan yang sesuai) Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan apa yang kita cari .influenzae 4. IgA. Imunoglobulin yang sama sekali tidak ada (agamaglobulinemia) jarang terjadi. seperti IgA dan IgG. yaitu: 1.Pemeriksaan darah tepi 1.Evaluasi infeksi (Laju endap darah atau CRP. sejak masa kehamilan. Defisiensi antibodi primer yang didapat lebih sering terjadi dibandingkan dengan yang diturunkan.Hitung trombosit 2. Sesuai dengan gejala dan tanda klinis tersebut maka dapat diarahkan terhadap kemungkinan penyakit defisiensi imun.3. karena IgG ibu yang ditransfer mempunyai proteksi pasif selama 3-4 bulan pertama. Tampilan klinis yang umum adalah gagal tumbuh. persalinan dan morbiditas yang ditemukan sejak lahir secara detail. dan 90% muncul setelah usia 10 tahun. Pada bentuk defisiensi antibodi kongenital. sel-sel tersebut sebanyak 5-15% dari populasi limfosit total. Beberapa defisiensi antibodi primer bersifat diturunkan melalui autosomresesif atau Xlinked . disertai keterangan efek pengobatannya.Hemoglobin 2. Difteri 2. Bila pernah dirawat.Pemeriksaan imunoglobulin kuantitatif (IgG.

Analisis mutasi Defisensi komplemen . tetapi biasanya baru muncul pada usia 10-20 tahun. Foto sinar X dada : ukuran timus . dibagi menjadi lima yaitu: a.Uji lanjutan: Opsonin assays. sedangkan pada penderita lainnya tidak. Titer IgE . C4a. Penyakit defisiensi imun kongenital atau primer.Uji lanjutan: Enumerasi subset sel T (CD3.Riset: Aktivitas jalur alternative.Riset: Fenotiping sel B lanjut.tuberculin. Uji kulit tipe lambat (CMI) : mumps. IgM dan IgA. Analisis kromosom . Aktivitas CH50 .coli. Riset aktivasi sel T. Analisis aktivasi sel. CD8)Respons proliferatif terhadap mitogen. Kadar IgE dan IgD. Analisis sitokin dan sitokin reseptor.1.Uji lanjutan: Reduksi dihidrorhodamin. Biopsi kelenjar Respons antibodi terhadap antigen khusus missal phage antigen Ig-survival in vivo. immune adherence) LO. Penyakit dimana terdapat kadar antibodi yang rendah Ada empat macam penyakit defisiensi imun karena kadar antibody yang rendah yaitu: 1) Common Variable Immunodefisiensi Merupakan Immunodefisiensi yang berubah-ubah terjadi pada pria dan wanita pada usia berapapun. Phagocytosis assay. Sintesis Ig in vitro. Biopsi. Activation assays (C3a. Oxidative metabolism. Kadar Ig sekretoris. Memahami dan Menjelaskan Contoh Penyakit Macam-macam Penyakit Defisiensi Imun Secara garis besar ada dua macam penyakit defisiensi imun yaitu: 1.Uji tapis: Hitung leukosit total dan hitung jenis. antigen dan sel alogeneik HLA typing. Respons antibodi terhadap vaksin tifoid dan pneumokokus. Kemotaksis dan mobilitas random. difteri. Penyakit ini terjadi akibat sangat rendahnya kadar antibodi meskipun jumlah limfosit Bnya normal. Cytotoxic assay (sel NK dan CTL). fosforilase nukleoside purin/PNP). H. G6PD. Titer antibodi natural (Anti Streptolisin-O/ASTO.Uji tapis: Hitung limfosit total dan morfologinya.Uji lanjutan: Enumerasi sel-B (CD19 atau CD20). kandida.Pemeriksaan lanjutan pada penyakit defisiensi imun Defisiensi Sel B . Respon antibodi pada vaksin (Tetanus. Th dan Ts. Morfologi special. Penilaian fungsi (faktor kemotaktik. Analisis mutasi Defisiensi sel T .Riset: Adhesion molecule assays (CD11b/CD18. NADPH).influenzae) . Riset apoptosis. Hitung sel T dan sub populasi sel T : hitung sel T total. Uji NBT (Nitro blue tetrazolium). Titer isoaglutinin.Uji tapis: Titer C3 dan C4. C5a) . Analisis reseptor sel T. CD4. Analisis mutasi Defisiensi fagosit .Riset: Advance flow cytometry. C4d. Kadar subklas IgG. Bactericidal assays . toksoid tetanus. ligan selektin).E. Component assays. Foto faring lateral untuk mencari kelenjar adenoid . Enzyme assay (adenosin deaminase. . Pada beberapa penderita limfosit T berfungsi secara normal. Enzyme assays (mieloperoksidase. White cell turn over.4. Pencitraan timus dab fungsinya.Uji Tapis: Kadar IgG. kemiluminesensi : fungsi metabolik neutrophil.

Sering terjadi penyakit autoimun. mereka menerima antibodi ibunya dalam jumlah yang lebih sedikit. Beberapa bayi (terutama bayi prematur) sering mengalami infeksi. 3) Hippogammaglobulin sementara pada bayi Pada penyakit ini. tetapi penderita lainnya bisa mengalami infeksi pernafasan menahun dan alergi. anak-anak bisa menderita polio. beberapa penderita menghasilkan antibodi anti-IgA. tetapi penyakit ini lebih sering terjadi tanpa penyebab yang jelas. tetapi terdapat kekurangan antibodi jenis tertentu. 1) Kelainan limfosit T . b. plasma atau immunoglobulin yang mengandung IgA. Biasanya diberikan selama 3-6 bulan jika perlu. Tetapi infeksi biasanya baru terjadi setelah usia 6 bulan karena sebelumnya bayi memiliki antibodi perlindungan di dalam darahnya yang berasal dari ibunya. Penyakit ini juga bisa timbul akibat pemakaian fenitoin (obat anti kejang). Kadang kekurangan IgA sifatnya diturunkan. Jika diberikan transfusi darah. Jika terjadi infeksi bakteri diberikan antibiotik. sinus dan tulang. kadar antibodi total adalah normal. Antibiotik diberikan pada mereka yang mengalami infeksi berulang. Suntikan atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita. Biasanya tidak ada pengobatan untuk kekurangan IgA. 4) Agammaglobulinemia X-linked Agammaglobulinemia X-linked (agammaglobulinemia Bruton) hanya menyerang anak laki-laki dan merupakan akibat dari penurunan jumlah atau tidak adanya limfosit B serta sangat rendahnya kadar antibodi karena terdapat kelainan pada kromosom X. Pemberian immunoglobulin sangat efektif untuk mencegah dan membantu mengobati infeksi. Sebagian besar penderita kekurangan IgA tidak mengalami gangguan atau hanya mengalami gangguan ringan. Sebagian bayi mampu membuat antibodi dan tidak memiliki masalah dengan infeksi. sehingga tidak diperlukan pengobatan. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang lahir prematur karena selama dalam kandungan. Mereka juga bisa menderita artritis. dan menyerang anak laki-laki dan anak perempuan. Penyakit ini tidak diturunkan. Penyakit dimana terjadi gangguan fungsi sel darah putih Dibagi menjadi dua yaitu karena kelainan limfosit T dan kelainan limfosit T dan B. tiroiditis dan artritis rematoid. biasanya karena bakteri (misalnya Hemophilus dan Streptococcus) dan bisa terjadi infeksi virus yang tidak biasa di otak. yang mulai terjadi pada usia 3-6 bulan. Anak laki-laki penderita agammaglobulinemia X-linked banyak yang menderita infeksi sinus dan paru-paru menahun dan cenderung menderita kanker. bisa diberikan antibiotik. Jika terjadi infeksi diberikan antibiotik. yang bisa menyebabkan reaksi alergi yang hebat ketika mereka menerima plasma atau immunoglobulin berikutnya. bayi memiliki kadar antibodi yang rendah. Yang paling sering terjadi adalah kekurangan IgA. Suntikan atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita agar penderita memiliki antibodi sehingga bisa membantu mencegah infeksi. Biasanya terjadi diare dan makanan pada saluran pencernaan tidak diserap dengan baik.Jika tidak mendapatkan vaksinasi polio. seperti penyakit Addison. 2) Kekurangan antibody selektif Pada penyakit ini. Bayi akan menderita infeksi paru-paru.

Juga dilakukan tindakan untuk mengatasi rendahnya kadar kalsium dalam darah. Kelainan pada serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi) menyebabkan pergerakan yang tidak terkoordinasi (ataksia). (b) Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat . ototototnya lemah dan kadang terjadi keterbelakangan mental. Infeksi internal oleh Candida jarang terjadi. Jamur bisa menyebabkan infeksi mulut (thrush). Kadang kelainan jantungnya lebih berat daripada kelainan kekebalan sehingga perlu dilakukan pembedahan jantung untuk mencegah gagal jantung yang berat dan kematian. demensia dan kematian. infeksi pada kulit kepala. sehingga kadar kalium darahnya rendah dan segera setelah lahir seringkali mengalami kejang. yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur Candida yang menetap pada bayi atau dewasa muda. Kelainan pergerakan biasanya timbul ketika anak sudah mulai berjalan. (b) Anomali DiGeorge Anomali DiGeorge terjadi akibat adanya kelainan pada perkembangan janin. Ataksia-telangiektasia biasanya berkembang menjadi kelemahan otot yang semakin memburuk. Kadang kelainannya bersifat parsial dan fungsi limfosit T akan membaik dengan sendirinya. Beberapa penderita mengalami hepatitis dan penyakit paru-paru menahun. 2) Kelainan limfosit T dan B (a) Ataksia-telangiektasia Ataksia-telangiektasia adalah suatu penyakit keturunan yang menyerang sistem kekebalan dan sistem saraf. kulit dan kuku. Keadaan ini tidak diturunkan dan bisa menyerang anak laki-laki maupun anak perempuan. Biasanya infeksi bisa diobati dengan obat anti-jamur nistatin atau klotrimazol. tetapi bisa juga baru muncul pada usia 4 tahun. kelumpuhan.(a) Kandidiasis mukokotaneus kronis Kandidiasi mukokutaneus kronis terjadi akibat buruknya fungsi sel darah putih. Antibiotik dan suntikan atau infus immunoglobulin bisa membantu mencegah infeksi tetapi tidak dapat mengatasi kelaianan saraf. Kadang dilakukan pencangkokan sumsum tulang. Anak-anak tidak memiliki kelenjar thymus. Telangiektasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pelebaran kapiler (pembuluh darah yang sangat kecil) di kulit dan mata. Infeksi yang lebih berat memerlukan obat anti-jamur yang lebih kuat (misalnya ketokonazol per-oral atau amfoterisin B intravena). kemandulan dan diabetes. Bisa juga dilakukan pencangkokan kelenjar thymus dari janin atau bayi baru lahir (janin yang mengalami keguguran). Penderita juga tidak memiliki kelenjar paratiroid. Anak tidak dapat berbicara dengan jelas. Jika keadaannya sangat berat. Penderita lainnya memiliki kelainan endokrin (seperti hipoparatiroidisme). Anak-anak memiliki kelainan jantung dan gambaran wajah yang tidak biasa (telinganya lebih renadh.Kelainan pada sistem endokrin bisa menyebabkan ukuran buah zakar yang kecil. tulang rahangnya kecil dan menonjol serta jarak antara kedua matanya lebih lebar). Penyakit ini agak lebih sering ditemukan pada anak perempuan dan beratnya bervariasi. yang merupakan kelenjar yang penting untuk perkembangan limfosit T yang normal. dilakukan pencangkokan sumsum tulang.

(c) Sindroma Wiskott-Aldrich Kelainan pada proses ekspresi antigen oleh makrofag. seperti pneumonia pneumokistik. Pengobatan terbaik adalah pencangkokan sumsum tulang atau darah dari tali pusar. Pada beberapa kasus. Penyakit ini kebanyakan menyerang anak laki-laki dan terjadi akibat kelainan pada sel-sel darah putih yang menyebabkan terganggunya kemampuan mereka untuk membunuh bakteri dan jamur tertentu. d. Beberapa penderita menunjukkan gejala-gejala alergi. Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-Buckley) adalah suatu penyakit immunodefisiensi yang ditandai dengan sangat tingginya kadar antibodi IgE dan infeksi bakteri stafilokokus berulang. tetapi pengobatan terbaik adalah dengan pencangkokan sumsum tulang.Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat merupakan penyakit immunodefisiensi yang paling serius. disertai kekurangan atau tidak berfungsinya limfosit T. Penyakit dimana terdapat kelainan pada sistem komplemen Defisiensi masing-masing komponen komplemen menyebabkan penderita tidak mampu mengeliminasi kompleks antigen antibody yang terdapat dalam tubuh secara efektif. sehingga penderita tidak mampu melawan infeksi secara adekuat. disamping itu terjadi gangguan pelepasan factor kemataksis sehinggs proses fagositosis juga terganggu. Defisiensi komplemen C3 atau C5 dapat menyebabkan gangguan opsosinasi mikroorganisme. Penyakit Defisiensi Imun Dapatan Defisiensi imun sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain. Penyakit dimana terdapat kelainan pergerakan sel darah putih Ada dua macam penyakit dimana terdapat kelainan pergerakan sel darah putih salah satunya yaitu Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-Buckley).Sebagian besar bayi akan mengalami pneumonia dan thrush (infeksi jamur di mulut). tetapi tidak menyembuhkan. c. Infeksi bisa menyerang kulit. sendi atau organ lainnya. biasanya anak akan meninggal pada usia 2 tahun. Suntikan gamma interferon setiap minggu bisa menurunkan kejadian infeksi. hidung tersumbat dan asma. Sebagai tindakan pencegahan diberikan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol. Antibiotik bisa membantu mencegah terjadinya infeksi. Ditandai dengan trombositopeniadan eksim serta kadar IgM yang sangat rendah. Antibiotik diberikan secara terus menerus atau ketika terjadi infeksi stafilokokus. Terjadi kekurangan limfosit B dan antibodi. trauma. Bisa juga terjadi infeksi yang lebih serius. umur. e. diare biasanya baru muncul pada usia 3 bulan. paru-paru. pencangkokan sumsum tulang berhasi menyembuhkan penyakit ini. seperti eksim. Penyakit dimana terjadi kelainan pada fungsi pembunuh dari sel darah putih Ada empat macam penyakit dimana terjadi kelainan pada fungsi pembunuh dari sel darah putih salah satunya yaitu enyakit granulomatosa kronis. Antibiotik dan immunoglobulin bisa membantu. Antibiotik dan infus immunoglobulin bisa membantu penderita. 2. Jika tidak diobati. atau pengobatan. Beberapa jenis penyakit yang dapat menyebabkan defisiensi imun .

Jenis penyakit Sel target Acquired immine deficiencies syndrome Sel T (sel merusak sel Th ) (AIDS) Immunodeficiencies sIgA Sel B dan sel t (rentan terhadap infeksi pada mukosa) Reticular disgenesis Sel B. sel B dan sel T tidak berkembang) Severe Combined immunodeficiency Sel B. dan sel induk (defisiensi pada sel B dan selT) Di Geeorge Syndrome Sel T (kelainan pada timus menyebabkan difesiensi sel T) Sindroma Wiskott-Aldrich Sel B dan sel T(ksedikit platelet dalam darah dan sel T abnormal) X-Linked agammaglobulinemia Sel B (penurunan produksi immunoglobulin) . dan sel induk (defisiensi sel induk. sel T. sel t.

Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS (Acquired Imunnodeficiency Syndrome).2.Selama infeksi berlangsung. LO. 000 milimeter. menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Virus ini diklasifikasikan dalam famili Retroviridae.1.2.LI. Struktur AMPLOP VIRUS HIV adalah berbentuk bulat dan memiliki diameter 1/10. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan retrovirus bersifat limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh.2. subfamili Lentiviridae. Lapisan luar dari virus. Definisi AIDS (Acquired immune deficiency syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human imunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae.2. yang dikenal sebagai amplop virus. terdiri dari dua lapisan molekul lemak yang . Memahami dan Menjelaskan HIV/AIDS LO. genus Lentivirus.

pol. Gen env. protein nukleokapsid HIV. N. Interaksi ini dapat berfungsi sebagai target baru untuk obat antivirus. misalnya. dan O. peneliti menemukan bahwa VIF (protein yang dikode oleh gen vif) berinteraksi dengan protein pertahanan antivirus dalam sel inang (APOBEC3G). vif. Kapsid mengelilingi dua untai tunggal HIV RNA. Eropa. dan batang yang terdiri dari tiga molekul yang disebut gyclycoprotein 41 (gp41) jangkar bahwa struktur dalam amplop virus. Selatan.disebut lipid. Env terdiri dari topi terbuat dari tiga molekul yang disebut glikoprotein 120 (gp120). misalnya. Tertanam di seluruh amplop virus adalah protein dari sel inang. Klasifikasi virus HIV Menurut spesies terdapat dua jenis virus penyebab AIDS. menyebabkan inaktivasi efek antivirus dan meningkatkan replikasi HIV. HIV-1 maupun HIV-2 mempunyai struktur hampir sama. komponen protein env. HIV-1 mempunyai gen VPU. HIV memiliki tiga gen struktural (gag. dan protease. dan Afrika Tengah. Pada HIV-1 protein Vpu yang membantu pelepasan virus. Ini salinan Env menonjol atau lonjakan melalui permukaan partikel virus (disebut " virion ").dikodekan mempengaruhi pelepasan partikel virus baru dari sel yang terinfeksi. dan VPU) yang berisi informasi yang dibutuhkan untuk memproduksi protein yang mengontrol kemampuan HIV untuk menginfeksi sel. menghasilkan salinan baru dari virus . tetapi tidak mempunyai gen VPX. yaitu HIV-1 dan HIV-2 . HIV memiliki enam gen pengatur (tat. diambil dari membran sel manusia ketika baru terbentuk tunas partikel virus dari sel. kode untuk protein yang disebut gp160 yang dipecah oleh enzim virus untuk membentuk gp120 dan gp41. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat. Protein yang dikode oleh nef. a HIV-1 Merupakan penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Protein lain yang disebut p17 HIV. Daerah di LTR bertindak sebagai saklar untuk mengontrol produksi virus baru dan dapat dipicu oleh protein dari HIV atau sel inang. Inti HIV juga mencakup protein yang disebut p7. dan env) yang berisi informasi yang diperlukan untuk membuat protein struktural untuk partikel virus baru. terletak di antara inti virus dan amplop virus. rev. tampaknya diperlukan bagi virus untuk mereplikasi efisien. Tiga enzim kemudian melakukan langkah-langkah dalam siklus hidup virus : reverse transcriptase. Asia. Genom HIV mengkode sembilan protein esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus.000 salinan protein virus. atau protein matriks HIV. atau menyebabkan penyakit. VIRAL INTI Dalam amplop virus adalah inti berbentuk peluru atau kapsid. dan protein VPU . terdiri dari 2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat. integrase. vpr. p24. nef. . yang masingmasing memiliki salinan lengkap dari gen virus . serta 72 salinan (ratarata) dari protein HIV rumit yang dikenal sebagai Env. Baru-baru ini. Terdapat 3 tipe dari HIV-1 berdasarkan alterasi pada gen amplopnya yaitu tipe M. Ujung-ujung setiap helai RNA HIV mengandung urutan RNA yang disebut long terminal repeat (LTR). dan Timur. Banyak penelitian untuk mengembangkan vaksin untuk mencegah infeksi HIV telah difokuskan pada protein amplop tersebut. sedangkan HIV-2 sebaliknya.

tes antibodi terhadap HIV positif. b. yaitu perilaku seksual yang berisiko terhadap penularan HIV/AIDS. seperti gejala flu dan tes antibodi terhadap HIV negatif. anal dan oral) tanpa menggunakan kondom. Faktor ini meliputi riwayat transfusi darah. sama dengan group IVB disertai sel CD4 < 200 mm. yang meliputi partner hubungan seks lebih dari 1.2. neurophati.3. sama dengan group IVA disertai adanya penyakit neurologi. Walaupun sama-sama menyebabkan penyakit klinis dengan HIV-2 tetapi kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1. (2) Group II (Asimtomatis). Berikut ini beberapa faktor resiko HIV/AIDS yang paling umum terjadi dimasyarakat: 1. Klasifikasi HIV/AIDS adalah sebagai berikut : (1) Group I. (6) Group IVC.dan keganasan yang lain. tes antibodi terhadap HIV Positif. Faktor risiko infeksi menular seksual (IMS). dementia.tidak ada gejala-gejala dan laboratorium yang mengarah ke HIV/AIDS (3) Group III (Simtomatis). dan gonorrhoea. LO. Faktor risiko parenteral. tes antibodi terhadap HIV positif.penurunan berat badan lebih 10% dari berat badan normal) (5) Group IVB. Faktor risiko perilaku. (7) Group IV-D. seks anal.b HIV-2 Protein Vpu pada HIV-1 digantikan dengan protein Vpx yang dapat meningkatkan infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan hasil duplikasi dari protein lain (Vpr). yaitu riwayat penyakit infeksi bakteri atau virus yang ditularkan melalui hubungan seksual yang pernah diderita responden. dan terjadi penyakit konstitusional (demam atau diare yang persisten. sama dengan group IVC disertai terjadi tuberkulosis paru. dengan seseorang yang terinfeksi HIV atau mereka yang statusnya terinfeksi HIV namun tidak anda ketahui. seperti sifilis. Melakukan hubungan seksual (vaginal. Bergonti-ganti pasangan seksual / Berhubungan seks dengan pekerja seks komersial / homoseksual . condiloma acuminata. infeksi akut. kanker servikal yang invasif.dan terjadi pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persisten generalized lymphadenopathy) (4) Group IVA. pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) secara suntik (injecting drug users). Faktor Resiko a. yaitu faktor risiko penularan HIV/AIDS yang berkaitan dengan pemberian cairan ke dalam tubuh melalui pembuluh darah vena. dan myelophati. pemakaian kondom. 2. dan terjadi infeksi opurtunistik. c.

7. 2. 2000). 5. 6.4. Seksual Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling dominan dari semua cara penularan.2. oral (mulut) antara dua individu. Penularan dari ibu ke anak Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung. dan orang lain yang bekerja dengan spesimen/bahan terinfeksi HIV. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. 8. Memiliki ibu yang terinfeksi HIV sebelum bayi lahir. Kontak fisik . Menggunakan narkoba jenis suntikan secara bergantian atau melakukan hubungan seks dengan pengguna narkoba (suntik) yang terinfeksi HIV. dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI. pencukur jenggot secara bergantian hendaknya dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas laboratorium. persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu). kontak dengan darah atau sekret yang infeksius. 4. Melalui transplantasi organ pengidap HIV 6. 2000). 2007c). Melalui silet atau pisau. Memberikan transfusi darah atau menerima produk transfusi darah. 7. Selain itu air liur terdapat inhibitor terhadap aktivitas HIV(Fauci. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi petugas kesehatan. sifilis .3. Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara. cairan sperma. terdapat beberapa cara dimana HIV tidak dapat ditularkan antara lain: 1. seperti herpes . (Zein. Menurut WHO (1996). petugas laboratorium. ibu ke anak selama masa kehamilan. Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya sewaktu bekerja pada pekerja kesehatan. Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil namun defenitif. LO. Menggunakan jarum untuk piercing (anting) atau tato yang tidak steril. 3. PMS dapat menyebabkan perubahan dalam jaringan yang membuat penularan HIV menjadi lebih mudah. Cara Penularan HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. klamidia . disaat mereka hilang kesadaran mereka dapat melakukan hubungan seksual diluar kewajaran tanpa pengaman (kondom). Melakukan hubungan seksual dibawah pengaruh narkoba dan alkohol. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus HIV. cairan vagina dan air susu ibu (KPA. Cairan yang berpotensial mengandung HIV adalah darah. seperti jarum tato atau pada pengguna narkotik suntik secara bergantian. 4. yaitu pekerja kesehatan. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV. 2006) 1. Memiliki penyakit menular seksual (PMS ) . atau gonore. Senggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal. terutama bila menggunakan benda tajam (Fauci. yaitu : kontak seksual. anal (anus). 5.

5 kali lebih tinggi pada Ras Kulit hitam dibandingkan pada Ras Kulit putih (RR 5. Di Canada. Berdasarkan laporan dari UNAIDS (2004). prevalensi pengidap HIV dewasa (15. tangan dan kening penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular. dan dari jumlah ini sebanyak 2. kasus AIDS tertinggi dilaporkan berada pada golongan umur 20-39 tahun (79. Distribusi dan Frekuensi HIV/AIDS Berdasarkan Orang Menurut Chin (2000).2. tidak diketahui adanya kekebalan orang terhadap infeksi HIV/AIDS.58 juta telah menjadi penderita AIDS dengan CFR sebesar 98.36).000 penduduk dengan prevalensi kasus tertinggi dilaporkan dari Propinsi Papua yaitu sebesar 50. handuk. tidak dipengaruhi oleh ras. Kelompok umur 20-49 tahun merupakan kelompok umur yang aktif dalam aktivitas seksual dan pengguna IDU juga didominasi oleh kelompok umur produktif. Epidemiologi Pada tahun 1992.3%. sekurang-kurangnya 12. 4. a. jenis kelamin dan kehamilan. bernapas dengan udara yang sama. sehingga setiap orang mungkin untuk terserang HIV/AIDS. Berdasarkan profil tersebut juga dinyatakan bahwa penularan HIV/AIDS terbanyak adalah melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bersama pada IDU. Berdasarkan Profil Kesehatan Nasional Tahun 2005.05). .9%. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.54) dan 4 kali lebih tinggi pada orang Aborigin dibandingkan IR Ras Kulit putih (RR 4.000 penduduk dan disusul dengan Propinsi Jakarta dengan prevalensi sebesar 28.Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita HIV/AIDS. namun di saat yang sama.47 per 100. Memakai milik penderita Menggunakan tempat duduk toilet.16 dan Ras Hispanik mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi daripada Ras Kulit Putih (RR 3. diperoleh bahwa Ras Kulit hitam 9 kali berisiko menderita AIDS dibanding Ras Kulit putih dengan Resiko Relative (RR) 9. 2. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV. bekerja maupun berada dalam suatu ruangan dengan pasien tidak akan tertular. peralatan makan maupun peralatan kerja penderita HIV/AIDS tidak akan menular. 3. Demikian juga dengan prevalensi pengidap HIV dewasa (15-49 tahun) di Amerika Utara sebesar 0.47%) sedangkan berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI (2007). Bersalaman.73 per 100.9 juta penduduk dunia terinfeksi dengan HIV termasuk anak-anak.07:1.6% dan di Eropa Barat sebesar 0. LO.98%) dan 40-49 tahun (8.000 penduduk. Risiko menderita AIDS 2 kali lebih tinggi pada orang Indian Amerika/penduduk asli Alaska dari pada orang Asia/Kepulauan Pasifik (RR 2. tetapi kerentanan setiap orang terhadap HIV/AIDS diasumsikan bersifat umum. 60% dari jumlah populasinya telah mengidap AIDS. berpelukan maupun mencium pipi.4%. Penelitian Hall dkk tahun 2005 dalam Journal Acquired Immune Deficiency Sindrome (2009) di 33 negara bagian Amerika Serikat. Berdasarkan laporan dari Dirjen PP dan PL Depkes RI (2006). RR AIDS 5.49 tahun) di wilayah Sub Sahara Afrika sebesar 7.5. Benua Afrika didiami oleh 10% jumlah populasi dunia.05).94 per 100. rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4. prevalensi kasus AIDS secara nasional sebesar 3.

2% berjenis kelamin laki-laki. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara terdapat 3.2%.4 juta penderita HIV/AIDS di dunia tahun 1999.1% terdapat pada kelompok umur 20-29 tahun. 68% terdapat pada orang dewasa.20%).51% pada kelompok umur > 60 tahun. 1.3%.7 juta ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara. 605 kasus perempuan (7. 46 kasus pada kelompok umur 10-19 tahun (2.49% pada kelompok umur 50-59 tahun.312 kasus adalah laki-laki (91.7 juta kasus baru pada tahun 2008.65% pada kelompok umur < 15 tahun dan 3. 40. 37. Menurut laporan Ditjen PP & PL Depkes RI (2009). desain case series. 22.Berdasarkan data UNAIDS (2008).5% pada kelompok umur 40-49 tahun.6% pada kelompok umur 50-59 tahun. 62. SLTA 32.2% dan berpendidikan Akademi/PT 2. 61% berasal dari Colombo yang merupakan ibukota Sri Lanka.000 penduduk tertinggi adalah Papua .1% pada kelompok umur 30-39 tahun.07% terdapat pada kelompok umur 20-29 tahun.4%.82%) dan 523 kasus pada kelompok umur 30-39 tahun (31. Berdasarkan hasil survei rumah tangga yang dilakukan di enam kota di India.8%). 3. Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009). terdapat 19. Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (2009).9%) berada pada kelompok umur 20-40 tahun.973 jumlah kumulatif kasus AIDS dengan 49.966 kasus. Di Asia Timur terdapat 850.70%) dan 341 kasus pada perempuan (20.6%). 2. 41 kasus pada kelompok umur >50 tahun (2. 121 kasus pada kelompok umur 40-49 tahun (7. di kawasan Sub-Sahara Afrika terdapat 22. 8 kasus pada kelompok umur 1-4 tahun (0.5%. SD 19. tercatat 19. dengan PR pada orang dewasa sebesar 5.29%) Berdasarkan Tempat Menurut data dari Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) tahun 2008.000 di AS.2% penderita AIDS terdapat pada kelompok Pengguna Napza Suntik atau IDU.5%. Dari 2.47%). Provinsi dengan rate kumulatif kasus AIDS per 100.82% pada kelompok umur 40-49 tahun.44%).14% pada kelompok umur 30-39 tahun. 921 kasus pada kelompok umur 20-29 tahun (54.Menurut Chin (2000). 7.5 juta diantaranya terdapat di negaranegara Sub-Sahara Afrika. 8. 30.000 kasus.13%).8% tidak diketahui kelompok umurnya. 1. 2. 0. Penelitian yang dilakukan oleh Hamdan di Kota Batam (2003). Berdasarkan data SEARO (2009).8% berjenis kelamin perempuan. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. berpendidikan SLTP 33.74%). Sebesar 6.8 juta ODHA dengan PR pada orang dewasa sebesar 0.680 jumlah kumulatif HIV/AIDS. dari sekitar 33. 1.5% pada kelompok umur 15-19 tahun.6%) dan 49 kasus tidak diketahui jenis kelaminnya (0.4% prevalensi HIV terdapat pada perempuan.1% dan 2. 64. Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009). 0. prevalensi HIV/AIDS lebih tinggi di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan. ditemukan bahwa prevalensi HIV/AIDS 40% lebih tinggi di perkotaan dibanding dengan daerah pedesaan. sejak 1992 hingga April 2009 terdapat 1. Pada tahun 2008. tidak sekolah 12. pada kelompok umur 5-14 tahun dan >60 tahun masing-masing 0.26. Kumulatif kasus AIDS pada Pengguna Napza Suntik di Indonesia hingga tahun 2009 adalah 7.000 penderita HIV/AIDS dengan jumlah kematian 59.27% tidak diketahui.30%). terdapat 164 penderita HIV/AIDS. 27.4 penderita HIV/AIDS. 3. 126 penderita (76.973 kumulatif kasus AIDS terjadi di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.4 juta terdapat di Amerika Latin dan 665. masingmasing 5 kasus pada kelompok umur 5-9 tahun dan <1 tahun (0.05% pada kelompok umur 15-19 tahun. 67% infeksi HIV di dunia terdapat di SubSahara Afrika.339 kasus pada pria (79. dan 6.3%. dari 96 kasus baru yang dilaporkan di Sri Lanka.

virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain. Provinsi yang memiliki proporsi AIDS terbanyak hingga Desember 2009 adalah Jawa Barat (18. sebagaimana Virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh.81%.09%). Pada kelompok pengguna napza suntik.973 kasus. Sampai 31 Desember 2009 secara kumulatif pengidap infeksi AIDS menjadi 19. DKI Jakarta (14. Kepulauan Riau (22. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan pola transmisi utama.27%. namun sejak tahun 1991 jumlah kasus AIDS lebih dua kali lipat dari tahun sebelumnya.67).07). Informasi yang diperoleh dari Pusat AIDS International fakultas Kesehatan Masyarakatat Universitas Harvard. Jawa Timur (16. Virus HIV atau virus AIDS.01%). DKI Jakarta (31. b. pada tahun 2008 meningkat menjadi 4. Sumatera Barat 2. Kasus AIDS sejak awal tahun 2006 sampai 31 Desember 2006 mencapai 2.873 kasus baru. tahun 2006 meningkat menjadi 2.947 kasus baru. proporsi AIDS terbanyak dilaporkan dari Provinsi Jawa Barat 32.99%.21).45). tahun 2007 meningkat menjadi 2.639 kasus baru. DKI Jakarta 25. Menurut data dari Ditjen PPM & PL Depkes RI (2009). Determinan HIV/AIDS  Agent HIV merupakan virus penyebab AIDS termasuk Retrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh. semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. Jawa Timur 12. trend kecenderungan jumlah kasus AIDS senantiasa mengalami peningkatan. Sampai dengan tahun 1990 perkembangan kasus AIDS masih lambat.91).36).93) dan Riau (8.16%).  Host Distribusi penderita AIDS di Amerika Serikat Eropa dan Afrika tidak jauh berbeda kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Amerika Serikat . Bali 3. Maluku (14.36). Pada tahun 2000 diperkirakan Virus AIDS menular pada 110 juta orang dewasa dan 110 juta anak-anak.16%). Seperti kebanyakan virus lain. Papua (14.05%).863 kasus baru. Bangka Belitung (11. Papua Barat dan Jawa Timur (8. dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Sejak ditemukan kasus AIDS pertama di Indonesia tahun 1987.873 kasus mengalami peningkatan 235 kasus dari tahun sebelumnya.23) Kalimantan Barat (16. Berdasarkan Waktu AIDS atau SIDA (Sindrom Imuno Defisiensi Akuisita) adalah suatu penyakit yang dengan cepat telah menyebar ke seluruh dunia (pandemik). hingga tahun 2009 terdapat 3. dan Bali (8. Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60° selama 30 menit. perkembangan jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada didalam darahnya. Bali (45. Mengingat masa inkubasi AIDS yang berkisar dari 5 tahun ke atas maka infeksi terbesar terjadi pada kelompok umur muda/seksual paling aktif yaitu 20-30 tahun. Hampir 50% dari 110 juta orang itu adalah remaja dan dewasa muda usia 13 -25 tahun.13%.969 kasus baru.82%.(133. virus tersebut. Pada tahun 2005 terdapat 2.

terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf. kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Faktor sosial. budaya dan agama secara bersama-sama atau sendirisendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Gejala Tanda-tanda gejala-gejala (symptom) secara klinis pada seseorang penderita AIDS adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditujukan pada umumnya adalah bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada berbagai penderita penyakit lain. Manifestadi tumor diantaranya : a.2.  Environment Lingkungan biologis sosial. Sarkoma kaposi . Manifestasi Oportunistik diantaranya  Manifestasi pada Paru-paru  Pneumonia Pneumocystis (PCP) Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-paru PCP dengan gejala sesak nafas. namun secara umum dapat kiranya dikemukakan sebagai berikut :  Rasa lelah dan lesu  Berat badan menurun secara drastis  Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam  Mencret dan kurang nafsu makan  Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut  Pembengkakan leher dan lipatan paha  Radang paru-paru Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara lain tumor dan infeksi oportunistik : 1. dan bertahan kurang lebih 1 tahun. Pada para WTS di Nairobi terbukti bahwa kelompok yang menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi. sakit bernafas dalam dan demam. LO. Limfoma ganas . maka mereka sudah ke dalam keadaan promiskuitas. ekonomi. Faktor biologis lainnya adalah penggunaan obat KB. Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positip akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV. Frekuensi kejadiannya 36-50% biasanya terjadi pada kelompok homoseksual. Bila semua faktor ini menimbulkan permissiveness di kalangan kelompok seksual aktif. dan jarang terjadi pada heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer.sejumlah orang yang terinfeksi virus AIDS yang telah berkembang secara penuh akan meningkat 10 kali lipat. b.6. batuk kering. Lingkungan biologis adanya riwata ulkus genitalis. budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. ekonomi. 2.  Cytomegalo Virus (CMV) .

Ini adalah tahapan ketika infeksi HIV berlangsung tanpa munculnya gejala. berat badan turun lebih 10% per bulan. Lakukan tes HIV jika Anda merasa berisiko terinfeksi atau ketika muncul gejala yang disebutkan di atas. biasanya tidak gatal  Pembengkakan noda limfa  Penurunan berat badan  Diare  Kelelahan  Nyeri persendian  Nyeri otot Gejala-gejala di atas bisa bertahan hingga satu bulan. timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan. yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Manifestasi pada Gastroitestinal Tidak ada nafsu makan. Mycobacterium Avilum Menimbulkan pneumoni difus. Manifestasi Neurologis Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis. Jika merasa telah melakukan sesuatu yang membuat Anda berisiko terinfeksi. Setelah ini. Tapi perlu diingat. meningitis. tidak semua orang mengalami gejala sama seperti yang disebutkan di atas. penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar ke organ lain diluar paru. Diperkirakan sekitar 8 dari 10 orang yang terinfeksi HIV mengalami ini. Dan tahap yang ketiga adalah infeksi HIV berubah menjadi AIDS. . 3. Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala yang muncul. diare khronis. demensia. Tapi gejala tersebut bisa disebabkan oleh penyakit selain HIV. Gejala yang paling umum terjadi adalah:  Tenggorokan sakit  Demam  Muncul ruam di tubuh. Infeksi HIV muncul dalam tiga tahap. Ini sering disebut sebagai serokonversi. biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun (masa jendela). Gejala seperti flu ini akan muncul beberapa minggu setelah terinfeksi. Tahap pertama adalah serokonversi. Mycobacterium Tuberculosis Biasanya timbul lebih dini. Ini adalah pertanda sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus. Kondisi ini tidak semata-mata karena terinfeksi HIV. Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis. kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk menjalani tes HIV. Virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. mielopati dan neuropari perifer. CMV merupakan penyebab kematian pada 30% penderita AIDS.  Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. HIV tidak menyebabkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Tahap Pertama Orang yang terinfeksi virus HIV akan menderita sakit mirip seperti flu. Tahap Kedua Setelah gejala awal menghilang. 4.

WHO menganjurkan untuk dilakukan pada usia 6-8 minggu. Diagnosis infeksi HIV pada bayi yang mendapat ASI Bila seorang bayi yang terpapar infeksi HIV mendapat ASI. Tahap Ketiga atau Tahap Terakhir Infeksi HIV Jika tidak ditangani.  Infeksi jamur pada mulut. Lama tahapan ini bisa berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan bisa lebih. Bila uji virologik tidak dapat dilakukan tetapi ada tempat yang mampu memeriksa. Tahap akhir ini lebih dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). maka pemeriksaan uji virologik diperlukan untuk mendiagnosis pasti.7. Bila saat itu bayi sudah berumur 9-18 bulan saat pemberian ASI dihentikan. tetapi sensitivitasnya masih sekitar 48%.  Merasa kelelahan hampir pada tiap saat.  Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit.Pada tahapan ini. Bila dilakukan pada usia 4 minggu maka sensitivitasnya naik menjadi 98%. Satu hasil positif uji virologik pada usia berapa pun dianggap diagnostik pasti. Hasil yang positif memastikan terdapat infeksi HIV. uji antibodi dapat dilakukan sebelum uji virologik. Anda akan merasa sehat dan tidak ada masalah. karenanya uji virologik negatif pada bayi yang terus mendapat ASI tidak menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV. ia akan terus berisiko tertulari HIV selama masa pemberian ASI. Bila tidak mungkin dilakukan dua kali maka harus dipastikan kehandalan laboratorium penguji. Berikut ini adalah gejala yang muncul pada infeksi HIV tahap terakhir:  Noda limfa atau kelenjar getah beningmeningkat pada bagian leher dan pangkal paha. karena secara praktis uji antibodi jauh lebih murah. meskipun waktu yang pasti anak-anak membuat antibodi anti HIV pada yang terinfeksi post partum belum diketahui. HIV akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Kita mungkin tidak menyadari sudah mengidap HIV.  Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.  Berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya.  Diare yang parah dan berkelanjutan. dimana bayi yang tertular in utero. Pada anak yang didiagnosis infeksi HIV hanya dengan satu kali pemeriksaan virologik yang positif. Uji virologik yang dilakukan pada usia 48 jam dapat mengidentifikasi bayi yang tertular in utero.2. tapi kita bisa menularkan infeksi ini pada orang lain. maupun intra partum dapat tercakup.  Berkeringat di malam hari. LO. harus dilakukan uji antibodi anti HIV pada usia lebih dari 18 bulan. semua bayi kurang dari 12 bulan yang terpapar HIV dan menunjukkan gejala .  Sesak napas. Anda akan lebih mudah terserang penyakit serius. Dianjurkan uji virologik dilakukan setelah bayi tidak lagi mendapat ASI selama minimal 6 minggu. Tetapi bila akses untuk uji virologik ini terbatas. Diagnosis Diagnosis HIV AIDS Pada Anak • • • Anak yang berumur kurang dari 18 bulan Diagnosis definitif laboratoris infeksi HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan hanya dapat ditegakkan melalui uji virologik.  Mudah memar atau berdarah tanpa sebab. tenggorokan atau vagina. Meskipun demikian tetap direkomendasikan untuk melakukan uji ulang pada sampel darah yang berbeda. Dengan kondisi ini. Bila hasil uji antibodi positif.

Diagnosis presumtif pada kondisi ini tidak dianjurkan karena pemeriksaan antibodi saja dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis. Dalam situasi sulit diperbolehkan menggunakan dasar klinis untuk memulai pengobatan ARV pada anak kurang dari 18 bulan dan terpapar HIV yang berada dalam kondisi sakit berat.• • • • • • • • dan tanda infeksi HIV harus dirujuk untuk uji virologik. sebagian besar bayi yang terpapar HIV sudah tidak lagi memiliki antibodi maternal. Konfirmasi hasil yang positif harus mengikuti algoritme standar nasional. Untuk bayi dan anak berumur kurang dari 18 bulan yang berada di tempat dimana uji virologik tidak mungkin dilakukan. DNA HIV akan tetap terdeteksi pada sel mononuklear darah tepi anak yang terinfeksi HIV dan sudah mendapat ARV meskipun hasil assay RNA HIVnya tidak terdeteksi. Karenanya kondisi klinis seperti ini menjadi faktor penentu untuk pemeriksaan antibodi anti HIV. Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan dengan gejala dan tanda sugestif infeksi HIV. Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dikombinasikan dengan pemeriksaan CD4 atau parameter lain saat ini belum terbukti sebagai alat diagnosis infeksi HIV.5% seroreversi pada usia 12 bulan. Uji antibodi anti HIV (dapat berupa rapid test) dan peningkatan akses untuk uji virologik dini dapat membantu dokter membuat algoritme diagnostik yang lebih baik. Diagnosis infeksi bila ibu minum ARV Belum diketahui apakah pemakaian ARV pada ibu yang menyusui bayinya dapat mempengaruhi deteksi RNA HIV atau p24 pada bayi. bahkan tidak dapat diandalkan unutk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi yang berumur kurang dari 12 bulan. Metode yang direkomendasikan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi dan anak Metode Rekomendasi Tingkat rekomendasi/bukti Uji virologik( DNA. paling tidak menggunakan reagen uji antibodi yang berbeda. Tidak ada algoritme diagnosis klinis tunggal yang terbukti sangat sensitif atau spesifik untuk mendiagnosis HIV. Hasil yang positif pada stadium apapun menunjukkan positif infeksi HIV. diagnosis presumtif ineksi HIV secara klinis dapat dibuat. RNA. Hasil uji antibodi yang positif pada usia ini dapat dianggap indikasi tertular (94. dalam hal sensitivitas dan spesifisitas. dapat digunakan pemeriksaan antibodi untuk menegakkan diagnosis. Spesifisitas 96%) dan harus diulang pada usia 18 bulan. pada bayi yang lahir mendapat ARV. Secara umum waktu pendeteksian tidak berbeda. Pemakaian ARV pada ibu dan bayinya untuk PMTCT tidak akan mempengaruhi hasilnya. Anak yang berumur lebih dari 18 bulan Diagnosis definitif infeksi HIV pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan (apakah paparannya diketahui atau tidak) dapat menggunakan uji antibodi. ICD) Untuk mendiagnosis infeksi pada bayi < 18 bulan . WHO menyatakan bahwa pemeriksaan RNA tidak berbeda dengan DNA. assay DNA dapat mulai diperiksa pada usia 48 jam. Pada usia 12 bulan. kandidiasis esofagus. Akurasi diagnosis berdasarkan algoritme klinis jarang yang mencapai sensitifitas 70% dan bervariasi menurut umur. Sampai saat ini belum ada data pasti apakah sensitivitas RNA HIV atau assay antigen ICD p24 dipengaruhi oleh profilaksis ARV pada ibu dan bayi. meskipun sudah dibuktikan uji DNA HIV tidak terpengaruh. Diagnosis infeksi ini dapat menjadi dasar untuk menilai apakah diperlukan pemberian ARV segera. sesuai proses diagnosis pada orang dewasa. uji inisial direkomendasi mulai umur 6-8 minggu A(I) Uji antibodi anti HIV Untuk mendiagnosis infeksi HIV pada ibu atau identifikasi paparan pada bayi A(I) Untuk mendiagnosis infeksi pada anak > 18 bulan Untuk mengidentifikasi infeksi HIV pada umur < 18 bulan dengan kemungkinan besar HIV positif* * Anak kurang dari 18 . Beberapa kondisi seperti pneumonia pneumositis. meningitis kriptokokus jarang terjadi pada anak yang tidak terinfeksi HIV. terdapat gejala yang sugestif infeksi HIV.

Hal ini dapat disebabkan oleh efek langsung HIV pada sel asal. adanya pembentukan autoantibodi terhadap sel asal. Tetapi meskipun terdapat hipergamaglobulinemia. dan anak yang tidak terinfeksi tetapi masih membawa antibodi maternal. seperti respons terhadap vaksinasi difteri. Pemeriksaan laboratorium lain bersifat melengkapi informasi dan membantu dalam penentuan stadium serta pemilihan obat ARV. Komplikasi A. Tuberkulosis (TB) Di negara-negara miskin. Evaluasi dan pemantauan kualitas uji laboratorium harus terus dilakukan untuk kepastian program.2. Fungsi sel T menurun. masih terbatas pada penelitian. menurunnya fungsi sel T ini dapat pula dilihat dari adanya anergi kulit terhadap antigen yang menimbulkan hipersensitivitas tipe lambat. LO. Jumlah limfosit CD4 menurun dan CD8 meningkat sehingga rasio CD4/CD8 menurun. atau hepatitis B menurun. respons antibodi spesifik terhadap antigen baru. dan trombositopenia. Kadar imunoglobulin meningkat secara poliklonal. . Secara in vivo. Karenanya diperlukan uji laboratorik yang mampu mendeteksi virus atau komponennya seperti: assay untuk mendeteksi DNA HIV dari plasma assay untuk mendeteksi RNA HIV dari plasma assay untuk mendeteksi antigen p24 Immune Complex Dissociated (ICD) Teknologi uji virologi masih dianggap mahal dan kompleks untuk negara berkembang. Assay ICD p24 yang sudah dikembangkan hingga generasi keempat masih dapat dipergunakan secara terbatas. limfopenia. leukositopenia.8. TB merupakan infeksi oportunistik yang paling umum yang terkait dengan HIV dan menjadi penyebab utama kematian di antara orang yang hidup dengan AIDS. Tetapi karena antibodi anti HIV maternal ditransfer secara pasif selama kehamilan dan dapat dideteksi hingga usia anak 18 bulan. Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan uji antibodi termasuk uji cepat (rapid test) dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV sama seperti orang dewasa. saat ini juga telah dikembangkan di negara tertentu penggunaan dried blood spots (DBS) pada kertas saring tertentu untuk uji DNA maupun RNA HIV. Meskipun uji deteksi antibodi tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis definitif HIV pada anak yang berumur kurang dari 18 bulan. antibodi HIV dapat digunakan untuk mengeksklusi infeksi HIV. Pada pemeriksaan darah tepi dapat dijumpai anemia. Selain sampel darah lengkap (whole blood) yang sulit diambil pada bayi kecil. atau akibat infeksi oportunistik. Jutaan orang saat ini terinfeksi HIV dan TBC dan banyak ahli menganggap bahwa ini merupakan wabah dua penyakit kembar. Dasarnya adalah antibodi maternal akan sudah menghilang dari tubuh anak pada usia 12 bulan. maka adanya hasil antibodi yang positif pada anak kurang dari 18 bulan tidak serta merta menjadikan seorang anak pasti terinfeksi HIV. dapat dilihat dari menurunnya respons proliferatif sel T terhadap antigen atau mitogen. Real time PCR(RT-PCR) mampu mendeteksi RNA dan DNA HIV. dan saat ini sudah dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Tetapi uji ini belum dipergunakan secara luas. tetanus. paling dini pada usia 9 sampai 12 bulan pada bayi yang tidak mendapat ASI atau yang sudah dihentikan pemberian ASI sekurangkurangnya 6 minggu sebelum dilakukannya uji antibodi. Pemeriksaan laboratorium • • • Pemeriksaan assay antibodi dapat mendeteksi antibodi terhadap HIV.bulan dengan hasil uji antibodi positif termasuk di antaranya adalah anak yang benarbenar terinfeksi.

Sarkoma Kaposi juga dapat mempengaruhi organ-organ internal. C. E. Tanda awal yang paling umum adalah rasa sakit dan pembengkakan kelenjar getah bening ketiak. Gejalanya termasuk diare berat. Penularan parasit ini disebabkan terutama oleh kucing. LO. Tata Laksana Terapi antiretroviral (ARV) . Cryptococcal meningitis infeksi sistem saraf pusat yang umum terkait dengan HIV. saluran pencernaan. muntah. Disebabkan oleh jamur yang ada dalam tanah dan mungkin berkaitan dengan kotoran burung atau kelelawar. Kanker yang biasa terjadi pada pasien HIV/AIDS: a. dan air susu ibu. menggigil.9. Cytomegalovirus (CMV) Virus ini adalah virus herpes yang umum ditularkan melalui cairan tubuh seperti air liur. Sarkoma Kaposi Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor pada dinding pembuluh darah. kadang-kadang. urine.2.B. leher atau selangkangan. Penularan kriptosporidiosis terjadi ketika menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Salmonelosis Kontak dengan infeksi bakteri ini terjadi dari makanan atau air yang telah terkontaminasi. semen. Kriptosporidiosis Infeksi ini disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan. lesi mungkin terlihat hitam atau coklat gelap. Limfoma Kanker jenis ini berasal dari sel-sel darah putih. Sarkoma Kaposi biasanya muncul sebagai lesi merah muda. D. Limfoma biasanya berasal dari kelenjar getah bening. G. darah. H. Toxoplasmolisis Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Parasit tumbuh dalam usus dan saluran empedu yang menyebabkan diare kronis pada orang dengan AIDS. Parasit berada dalam tinja kucing yang terinfeksi kemudian parasit dapat menyebar ke hewan lain. b. Kandidiasis Kandidiasis adalah infeksi umum yang terkait HIV. sakit perut dan. termasuk saluran pencernaan dan paru-paru. virus menjadi aktif kembali dan dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Pada orang dengan kulit lebih gelap. Meskipun orang terkena bakteri salmonella dapat menjadi sakit. hal ini menjadi biasa pada orang dengan HIV-positif. kerongkongan atau vagina. Hal ini menyebabkan peradangan dan timbulnya lapisan putih tebal pada selaput lendir. salmonellosis jauh lebih umum ditemukan pada orang yang HIV-positif. demam. F. paru-paru atau organ tubuh lainnya. merah atau ungu pada kulit dan mulut. lidah. mulut. Jika sistem kekebalan tubuh melemah. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat menonaktifkan virus sehingga virus tetap berada dalam fase dorman (tertidur) di dalam tubuh. Anak-anak mungkin memiliki gejala parah terutama di mulut atau kerongkongan sehingga pasien merasa sakit saat makan. Cryptococcal Meningitis Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meskipun jarang terjadi pada orang yang tidak terinfeksi HIV.

. .Delavirdin : obat ini diberi dipikir dulu. yang menggunakan kombinasi minimal tiga obat antiretroviral. Tujuan terapi : • Mencegah transmisi penyakit • Menurunkan angka kesakitan & kematian terkait HIV • Memperbaiki kualitas hidup ODHA • Memulihkan / memelihara fungsi kekebalan tubuh • Menekan replikasi virus secara maksimal & terus-menerus • Terapi kombinasi ARV  menekan replikasi HIV Antiretroviral : • NRTI memiliki 3 tahap fosforilasi NRTI menghambat secara kompetitif RT dan dapat bergabung dengan rantai DNA virus yg sedang berkembang  terminasi.Zidovudin : Risiko toksik  jika: jumlah sel CD4<<.Nevirapin : Tidak boleh diberikan kepada pasien yang mengalami sirosis hati. dosis >>. Waktu memulai terapi ARV harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka panjang. . Terapi ini terbukti efektif dalam menekan replikasi virus (viral load) sampai dengan kadar di bawah ambang deteksi.Tenofovir : Terapi HIV dalam kombinasi dgn efevirenz.Efavirens : kontraindikasi pada kehamilan • NtRTI memiliki 2 tahap fosforilasi Obat bekerja lebih cepat dan konversinya menjadi bentuk aktif lebih sempurna . Pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load lebih dari 100. Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan jumlah limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load kurang dari 100. terapi memanjang.Zalsitabin : lebih aktif pd monosit / makrofag & sel yg istirahat • NNRTI tidak memiliki tahap fosforilasi (-) Hambat aktivitas enzim RT dgn cara berikatan di tempat yg dekat dgn tempat aktif enzim.000 kopi/ml.Didanosin : Tidak toksik terhadap sel2 hematopoietik / limfosit pd dosis terapi Indikasi: terapi HIV/AIDS untuk pasien yang tidak tahan terhadap zidovudin . Penyakit bertambah parah. namun dapat pula ditunda. ARV dapat diberikan apabila infeksi HIV telah ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan dibuktikan secara laboratories. Dosis tunggal 200mg + zidovudin  efektif cegah transmisi HIV dr ibu ke bayi jika diberikan awal persalinan & 3 hari pd neonatus . . jangan sembarangan.000 kopi/ml terapi ARV dapat dimulai. Obat ini juga direkomendasikan pada pasien asimptomatik dengan jumlah limfosit CD4 kurang dari 200 sel/mm3.Terapi anti-HIV yang dianjurkan saat ini adalah HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy). Pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200-350 sel/mm3 dapatditawarkan untuk memulai terapi. .Stavudin : Pengganti zidovudin kalo terjadii anemia. .Lamivudin : Tidak dapat mencegah penularan dr ibu  bayi . tidak boleh dikombinasikan dengan lamivudin & abacavir. Obat ARV direkomendasikan pada semua pasien yang telah menunjukkan gejala yang termasuk dalam kriteria diagnosis AIDS atau menunjukkan gejala yang sangat berat tanpa melihat jumlah CD4+.

. informasi dan edukasi (KIE) yang dalam implementasinya berupa : konseling AIDS dan upaya mempromosikan kondomisasi.1 & 2 .10. maka dalam melakukan hubungan seksual perlu dipergunakan kondom secara benar. yang ditujukan kepada keluarga dan seluruh masyarakat yang potensial tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual yang dilakukannya. alat cukur. Ibu-ibu yang ternyata mengidap virus HIV/AIDS disarankan untuk tidak hamil. Selain dari berbagai cara pencegahan yang telah diuraikan diatas. c. Anjuran dari badan kesehatan dan WHO: 1. Pencegahan Penularan Melalui Darah dapat berupa : pencegahan dengan cara memastikan bahwa darah dan produk-produknya yang dipakai untuk transfusi tidak tercemar virus HIV.2. Untuk ini perlu dilakukan penyuluhan agar orang berperilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab. mempertebal iman agar tidak terjerumus ke dalam hubungan-hubungan seksual di luar nikah. yaitu : a. ada beberapa cara pencegahan lain yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mencegah penularan atau penyebaran HIV/AIDS. 2. alasan mengganti ARV : karena kegagalan terapi atau pun resistensi.Zidovudin (anemia)  ganti dengan stavudin . kalau salah seorang pasangan anda sudah terinfeksi HIV. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda Program penyuluhan sebaya (peer group education) untuk berbagai kelompok sasaran Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik . jangan menerima donor darah dari orang yang berisiko tinggi tertular AIDS. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual. Tindakan Promotif dan Preventif PREVENTIF Pencegahan tentu saja harus dikaitkan dengan cara-cara penularan HIV seperti yang sudah dikemukakan. b. 3. Pencegahan penularan dari Ibu-Anak (Perinatal). .Indinavir : menyebabkan pengendapan mineral di urin. infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual. Hindari: simvastain & lovastatin () .Ritonavir : Penghambat protease HIV. alat tusuk untuk tindik yang bersih dan suci hama. PI menghambat penglepasan polipeptida prekursor virus  hambat maturasi virus  sel akan hasilkan virus yg immatur dan tidak virulen. yakni : hanya mengadakan hubungan seksual dengan pasangan sendiri (suami/isteri sendiri).Saquinafir : Hambat enzim protease.Nevirapin (hepatotoksik)  ganti: evafirenz / protease inhibitor (saquinavir / ritonavir) LO. Kegiatan tersebut berupa kegiatan komunikasi.• Protease inhibitor HIV protease penting untuk infektivitas virus & penglepasan poliprotein virus. sehingga pencegahan AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual. gunakan alat-alat kesehatan seperti jarum suntik.Evafirenz (toksisitas SSP)  ganti dgn nevirapin . Ada beberapa cara pencegahan HIV/AIDS.

b. (6) Populasi sasaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) merupakan populasi yang menjadi sasaran program. pelanggan/ pasangan seks WPS. kesehatan peduli remaja. promosi kesehatan bagi remaja dan dewasa muda. dan e. (3) Promosi kesehatan yang terintegrasi pada pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan pada pelayanan: a. 5. Pasal 11 (1) Promosi kesehatan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan maupun program promosi kesehatan lainnya. (7) Populasi kunci sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi: a. waria.4. (2) Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk advokasi. kemitraan dan peran serta masyarakat sesuai dengan kondisi sosial budaya serta didukung kebijakan publik. 6. pemberdayaan. warga binaan lapas/rutan. gay. dan e. b. bina suasana. pengguna napza suntik. (4) Sasaran promosi kesehatan meliputi pembuat kebijakan. program promosi kesehatan lainnya. (3) Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan terlatih. tenaga non kesehatan yang terlatih. dan Laki pelanggan/ pasangan Seks dengan sesama Laki (LSL). iklan layanan masyarakat. pencegahan komprehensif untuk pengguna narkotika. (2) Promosi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. d. . Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung maupun tidak langsung. (5) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diutamakan pada populasi sasaran dan populasi kunci. peningkatan kapasitas dalam promosi pencegahan penyalahgunaan napza dan penularan HIV kepada tenaga kesehatan. c. d. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. program pengadaan jarum suntik steril Program pendidikan agama Program layanan pengobatan infeksi menular seksual (IMS) Program promosi kondom di lokalisasi pelacuran dan panti pijat PROMOTIF PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS Bagian Kedua Promosi Kesehatan Pasal 10 (1) Promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta diskriminasi. 7. c. kampanye penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko penularan penyakit. sektor swasta.

c. Pemeriksaan Air Liur Pad kapas digunakan untuk memperoleh air liur dari bagian dalam pipi. Jika tes ELISA negatif. Viral Load Test Tes ini bertujuan untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah. rehabilitasi napza. ELISA cukup sensitif pada infeksi HIV kronis. intergrase. d. virus tersebut akan menyerang makrofag tersebut. HIV dideteksi menggunakan urutan DNA yang terikat secara khusus pada virus. . hasil tes mungkin negatif selama beberapa minggu untuk beberapa bulan setelah terinfeksi. Penting untuk dicatat bahwa hasil dapat bervariasi antara tes. tetapi ada kemungkinan pasien tersebut memiliki HIV. pemeriksaan harus diulang lagi dalam satu sampai tiga bulan. tuberkulosis. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman teknis promosi kesehatan penanggulangan HIV dan AIDS diatur dengan Peraturan Menteri. tes Western blot biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Umumnya. kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. tetapi karena antibodi tidak diproduksi segera setelah infeksi.2. LO. Virus HIV yang mempunyai Gp 120 dan G41 dimana Gp120 akan menempel di CD4 yaitu reseptor di makrofag. dan f. Tiga teknologi yang digunakan untuk mengukur viral load HIV dalam darah: ReverseTranscription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). 2. infeksi menular seksual. ELISA ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV. Pad ditempatkan dalam botol dan diserahkan ke laboratorium untuk pengujian. Jika tes ELISA positif. tes ini digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan atau mendeteksi dini infeksi HIV. Western Blot Ini adalah pemeriksaan darah yang mengkonfirmasihasil tes ELISA positif sangat sensitif yang digunakan untuk Patofisiologi HIV Pada tahap pertama HIV memasuk tubuh seseorang. pemeriksaan asuhan antenatal. Meskipun hasil tes mungkin negatif selama periode ini. 3. Virus HIV yang telah masuk makrofag akan membuka envelope nya dan menysikanan RNA dan beberapa enzim seperti transverse transcriptase. Hasil dapat diperoleh dalam tiga hari. Branched DNA (bDNA) and Nucleic Acid Sequence-Based Amplification Assay (NASBA). Prinsip-prinsip dasar darites ini sama. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan tes darah. Screening dan Konfirmasi Pemeriksaan penunjang : 1. pasien mungkin memiliki tingkat penularan tinggi.11.protease. 4.b. Makrofag selain mempunyai reseptor CD4 dia juga mempunyai koreseptor CCR5 yang akan membantu reseptor CD4 untuk menelan virus HIV kedalam sel makrofag tersebut. e.

Kemudian . segera setelah terinfeksi akan terjadi replikasi cepat dimana virologic set point terjadi pada 4-8 minggu dengan 10 6 pada tahap ini hampir semua orang yang terkena tidak menyadarinya karena gejalanya sangat ringan. Kemudian protein virus HIV tersebut akan dipotong menjadi protein-protein kecil yang dapat bergabung menjadi viru HIV baru yang berada di makrofag. Pada tahap ini terjadinya kenaikan jumlah limfosit karena kenaikan limfosit T CD8 walaupun limfosit T CD4 turun karena sel CD8 membunuh limfosit CD4 yang terinfeksi .Virus HIV akan melepas envelopenya dengan menggunakan enzim protease yang hanya meninggalakn RNA dan beberapa enzim lainnya. Hanya strain R5 saja yang mempunyai kemampuan untuk mentransmisikan sinyal yang mengaktifkan limfosit CD4 dan merekutnya dengan mekanisme kemotaksis. fase infeksi akut HIV HIV yang ditularkan adalah strain-M tropik yang mempunyai hampir 95% pada kasus infeksi akut. RNA virus HIV akan diubah menjadi DNA dan diduplikat menjadi ds-DNA yang kemudian akan menuju nukleus makrofag menggunakan enzim intergrase dan menempel diantara DNA yang berada didalam nukleus makrofag. Protein virus HIV dapat menekan sistem imun seperti sel limfosit CD4 menjadi energi dan TAT ekstraseluler dapat bersifat toksis yang menyebabkan apoptosis sel limffosit CD4 3. fase kronik limfosit CD8 sebagai sel efektor dapat mengontrol infeksi akut oleh virus. Pada tahap ini jumlah perlindungan tubuh dengan antigen seimbang. Lalu akan dihasilka kopian ds-DNA virus HIV kemudian ds-DNA tersebut akan dibawa menuju ribosom untuk ditranlasi menjadi protein. Dapat terjadi perangsangan pembentukan antibodi netralisasi dan meningkatnya sel limfosit T CD8 yang sitotoksis dan pelepasan kemokin seperti MIP 1 alfa dan MIP 1 beta untuk mencegah ineksi dengan memblok reseptor kemokin untuk masuknya HIV kedalam sel 2. Sel limfosit T CD4 yang semakin turun jumlah nya dapat menyebabkan berbagai infeksi sekunder karena telah turunnya sel T CD4 yang membuat mudah nya terinfeksi karena sel T helper berperan penting dalam reponse imun hummoral dan respon seluler . Walaupun sel dendritik dapat membawa strain R5 dan X4 ke kelenjar limfosit terdekat. Pada kondisi tertentu virus HIV yang menyerang makrofag dapat bermutasi dibagian Gp120 sehingga dapat membuat virus HIV menyerang limfosit yang mempunyai reseptor CD4 dan yang mempunyai koreseptor CXCR4 untuk menelan virus HIV kedalam limfosit dengan mekanisme yang sama seperti saat virus HIV menyerang makrofag. Infeksi HIV mempunyai beberapa tahap 1. HIV dapat ditemukan dalam jaringan limfoid dan dengan cepat menyebar ke seluruh sistem limfatik. Ds-DNA HIV akan ikut berkembang di dalam nukleus makrofag. Kemudai virus HIV tersebut dapat keluar dengan membuat lubang di makrofag sehingga dapat membuat makrofag mati. HIV dapat terdeteksi setelah 5 hari terinfeksi. infeksi AIDS pada tahap ini sistem tubuh sudah dirusak total oleh virus HIV karena virus HIV yang berkembang didalam tubuh dapat bermutasi sehingga sel limfosit TCD4 tetap terinfeksi yang menyebabkan sel limfosit T CD4 memberikan sinyal untuk dihancurkan (apoptosis) oleh sel T CD 8 namun pada saat ini virus tersebut tidak dikenal oleh sel CD8 sehingga tidak terserang.protein virus HIV. Waktu infeksi mukosa sampai terjadi viremia 4-11 hari.

website tersebut akan dilink dengan . Media utama ditargetkan adalah Majalah Kedokteran Indonesia (MKI) dan Berita Ikatan Dokter Indonesia (BIDI). yaitu dengan melakukan diseminasi informasi dan edukasi melalui media tentang HIV AIDS.000 ODHA. Dalam rangka penangulanggan HIV-AIDS di Indonesia pula. Penanganan Kasus HIV Strategi Ikatan Dokter Indonesia dalam Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia Peningkatan epidemiologi HIV-AIDS yang cenderung meningkat setiap tahunnya dimana dua cara penularan utama melalui penularan melalui hubungan seksual dan penularan penggunaan jarum suntik tak steril (terutama bagi pengguna narkoba suntik). Tercatat di Indonesia terdapat 195. namun yang telah mendapatkan pengobatan terapi ARV diperkirakan sekitar 5. Langkah lain untuk mengkomunikasikan penangulangan ini adalah dengan membuat website khusus tentang AIDS serta untuk lebih mudah dalam penyebaran informasi ini.1.3. Dari sudu komunikasi. ataupun mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh berbagai instansi yang menangani bidang AIDS baik itu lembaga atau yayasan yang berkaitan dengan penanggulangan HIV-AIDS. Rencana kegiatan ini akan disosialisasikan kesegala instansi pemerintah maupun IDI cabang dan dinas kesehatan guna penyebaran penangulanggan HIV. Memahami dan Menjelaskan Dilema Etika LO. Garis besar rencana kegiatan strategi IDI penanggulangan HIV-AIDS: 1.AIDS di plosok Indonesia. laporan kasus. Rencananya setiap edisi akan diterbitkan sebuah tulisan baik itu sebuah penelitian.000 ODHA. IDI menyusun rencana kegiatan dalam jangka waktu 3 tahun yaitu mulai tahun 2006 hingga 2008.LI.3. Hal ini yang perlu dilihat bahwa perlu lebih banyak kegiatan sosialisasi guna mengurangi penderita HIV-AIDS. Dua majalah yang terbit setiap bulannya ini diharapkan sebagai salah satu jalan untuk dapat mengkomunikasikan informasi dan edukasi terbaru tentang perkembangan HIV-AIDS dan cara penangulangan yang lebih efektif.

Dalam konteks pendidikan dan pelatihan. MKKI. MPAI untuk membangun aliansi dan membahas system kooordinasi yang kuat. IDI juga merencanakan mengadakan penelitian tentang pelayanan dan evaluasi kebijakan. PDPAI. Salah satu isu penelitian yang diangkat adalah tentang pemanfaatan ARV. sebagai sumber data sekretariat HIV-AIDS PB IDI akan membuat database dan direktori tentang pusat pelayanan HIV. Pertemuan dengan berbagai pihak luar tidak menutup kemungkinan cara penangulangan HIV-AIDS akan lebih efektif. PDPAI. Dalam pembuatan website ini merupakan langkah awal untuk jangka panjangnya. Untuk menunjang kegiatan ilmiah. Dalam jangka pendek ditargetkan adanya pertemuan dengan berbagai lembaga kesehatan seperti KPA. guna penyusunan kurikulum pendidikan. Depkes RI. dan dalam waktu dekat Sekretariat HIV-AIDS PB IDI akan melakukan pertemuan dengan KD.or.org/ dan http://www. Dan melakukan advokasi ekstern yang dapat mendorong peningkatan program penangulangan HIV-AIDS. tentang SDM dokter yang sudah mendapat pelatihan HIV-AIDS dan lainnya. Dengan semakin banyaknya kegiatan ilmiah akan semakin banyak pula pemikiran-pemikiran terbaru guna penanggulangan tersebut. Tidak itu saja. karena tidak dari satu atau dua pemikiran saja namun dari berbagai sudut pandang orang yang .idionline. Dengan tujuan jangka panjang adalah Sekretariat HIV-AIDS PB IDI sebagai sumber nformasi utama dan mendukung kegiatan ilmiah nasional tentang HIV-AIDS. yang akan disebarluaskan Strategi Ikatan Dokter Indonesia dalam Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia kepada instansi kesehatan dana masyarakat guna peningkatan pengetahuan yang lebih luar tentang HIV-AIDS. website ini akan digunakan sebagai salah satu program Continuing Professional Development (CPD) tentang HIV-AIDS. Dan tak luput pula dari rencana ini adalah adanya kebijakan dan advokas. IDI akan menyusun modul-modul CPD. Tidak hanya dengan menghadiri/mengadakan simposium atau kegiatan ilmiah namun IDI juga memberikan jalan kepada mahasiswa atau pun tenaga kesehatan yang telah mendapatkan banyak ilmu atau perkembangan terbaru tentang HIV-AIDS untuk diikutsertakan dalam kegiatan temu ilmiah ASHM dengan pemilihan abstrak terbaik.AIDS di Indonesia dimana akan terdapat data-data kegiatan setiap lembaga yang berkaitan dengan HIV-AIDS dan sejumlah data SDM yang telah mendapatkan pelatihan HIV-AIDS. 4. Selain kedua cara diatas IDI juga mempunyai strategi yaitu dengan mengikuti simposium-simposium ataupun kegiatan ilmiah HIV-AIDS baik tingkat nasional maupun international.id/. Selain dengan komunikasi strategi yang kedua adalah dengan menjalankan koordinasi dan pemberdayaan profesi. Rencana pertemuan ini akan dilakulkan setiap dua bulan dan rutin.mkionline. dengan malukukan advokasi intern organisasi di badan PB IDI dan perhimpunan Spesialis dan Seminat. 3. Salah satu caranya adalah dengan memfungsikan sekretariat HIV-AIDS PB IDI sebagai tempat koordinasi dan membangun jejaring dengan pihak-pihak terkait dalam penangulangan HIV-AIDS. Kegiatan ini juga memicu para tenaga kesehatan untuk lebih peduli pada HIV-AIDS. IDI merencanakan untuk materi HIVAIDS dapat masuk dalam kurikulum Fakultas Kedokteran. Tidak bergerak disitu saja. 2.website http://www. AIPKI.

kegiatan apa yang seharusnya lebih banyak dilakukan untuk menjangkau sasaran. Kenakalan Remaja. Dalam presentasinya dikatakan bahwa “dokter keluarga dapat melakukan KIE tentang: Gizi Keluarga. DR. Acara penyusunan Rencana Kegiatan Strategi IDI dalam Penangulangan HIV/IADS di Indonesia terselenggara atas kerjasama PB IDI dengan IHPCP dan turut mengundang setiap perwakilan Komisi Penangulangan AIDS. kuratif dan rehabilitatif). Dr. Stigma pada ODHA : • Lingkungan masyarakat (71.4%). serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. Moeloek. ‘Higiene’. Dan acara lokakarya ini merupakan sebagai tempat tukar pengalaman untuk menambahakan program-program atau kegiatan. F. IDI cabang dan lembaga kesehatan lain yang berhubungan dengan penanggulangan HIV/AIDS. ‘Stress’ dan Kesehatan Jiwa di dalam keluarga. Kebijakan-kebijakan secara bersamaan akan diusulkan dan disusun sedemikian rupa yang dpat digunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegitan ilmiah dan sosial. Etika Dokter Dalam Menangani Kasus Stigmanisasi Definisi Stigma adalah stempel yang menimbulkan kesan jijik.berbeda-beda akan menghasilkan sesuatu yang lebih dibanding dengan apa yang kita harapakan. Keluarga Berencana. Kaidah Dasar Bioetik KODEKI Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. Narkoba. kotor. baik fisik maupun psiko-sosial. Subdit TB P2M.5%) • Dilingkungan keluarga (18.2. KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN .5%). SpOG.” LO. Dengan hadirnya beberapa perwakilan dari berbagai instansi diharapakn dapat mensosialisasikan programprogram PB IDI tentang penggulangan HIV/IADS ke seluruh pihak terkait terutama para dokter untuk meningkatkan peran dokter dalam penangulangan HIV/AIDS di Indonesia. PDPAI.A. • Ditempat pelayanan kesehatan (35. Selain acara utama yaitu penyusunan rencana Strategi PB IDI dalam Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia ada seminar-seminar yang dibawakan oleh Instansi kesehatan salah satu tema yang diangkat adalah Peran profesi atau dokter keluarga dalam penangulangan Epidemi HIV/AIDS di Indonesia dibawakan oleh Prof. preventif. WHO.3. Subdit HIV/AIDS P2M. antipati dan berbagai perasaan negatif lainnya. Acara yang terselenggara berberapa waktu yang lalu (23 September 2006) bertempat di Hotel Grand Cempaka Jakarta. ‘HIV/AID’ dan ‘STD’. terutama untuk di daerah-daerah yang masih dibilang kurang perhatian dari pemerintah. IDI Wilayah.

kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. Perbuatan / tindakan yang bertentangan dengan kode etik adalah menyebarluaskan informasiyang terkandung dalam laporan rekam medis HIV AIDS yang dapat merusak citra profesi rekam administrator informasi kesehatan. bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Privacy berarti menghormati hak privacy pasien. Memilih lebih banyak manfaatnya daripada buruknya. menghormati hak-hak pasien. hak otonomi pasien. Selalu menjunjung tinggi doktrin kerahasiaan dan hak atas informasi pasien yang terkait dengan identittas individu atau sosial. Pasal 13 Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan. mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributiv justice) UUD yang Berhubungan Pasal 30 Pemberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan. tindakan karantina. confidentialty berarti kewajiban menyimpan informasi kesehatan sebagai rahasia. pengebalan. Dalam kaitannya aspek hukum kerahasiaan pasien HIV AIDS . . pengobatan. Melahirkan informed consent Prinsip Beneficence.KEP. Kaidah turunan moral bagi tenaga kesehatan adalah privacy. dan veracity berarti menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Kewajiban etik yang utama dari professional MIK maupun tenaga kesehatan adalah melindungi privasi dan kerahasiaan pasien dan melindungi hak-hak pasien dengan menjaga kerahasiaan rekam medis pasien HIV AIDS. perawatan dan kegiatan lainnya harus dijaga kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekam medis. kode etik administrator perekam medis dan informasi kesehatan adalah : Selalu menyimpan dan menjaga data rekam medis serta informasi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan ketentuan prosedur manajemen. fidelity berarti kesetiaan. ketetapan pimpinan institusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Melarang tindakan yang memperburuk kedaan pasien. Pengelolaan informasi pasien HIV AIDS di tempat kerja juga diatur Menurut Kepmenaker No.Pasal 12 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien. confidentiality. Prinsip Non-maleficence. dan upaya lain yang diperlukan. penyelidikan. Kaidah Dasar Bioetik     Prinsip Autonomy. tes HIV. Tindakan untuk kebaikan pasien. 68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS : Pasal 6 Informasi yang diperoleh dari kegiatan konseling. Pasal 31 Pemberantasan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dan penyakit karantina dilaksanakan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. menghilangkan sumber dan perantara penyakit. Administrator informasi kesehtan wajib mencegah terjadinya tindakan yang menyimpang dari kode etik profesi. Prinsip Justice. Primum non nocere atau above all do no harm. fidelity dan veracity.

memiliki Kode Etik Rumah Sakit ( Kodersi ) dalam kaitannya manajemen informasi kesehatan : Pasal 4 Rumah sakit harus memelihara semua catatan / arsip. Pasal 11 Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien ( informed consent ) sebelum melakukan tindakan medik. harus dijaga kerahasiaannya. 29 Tahun 2004 pasal 47 ayat (2) sebagaimana disebutkan di atas. Menurut Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sebagai berikut: Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien. selain untuk kepentingan jabatan adalahuntuk menghindarkan pasien dari hal-hal yang merugikan karena terbongkarnya statuskesehatan. UU tersebut memang hanya menyebut dokter. namun PP No 10tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran tetap mewajibkan seluruh tenaga kesehatan dan mereka yang sedang dalam pendidikan di sarana kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran. Perkecualian untuk kerabat pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat memberitahukan mengenai resiko kesehatan mereka. dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya pribadi. kerahasiaan rekam medis diatur di dalam UU Praktik Kedokteran No. prognosis. . Tujuan dari rahasia kedokteran dalam kasus HIV AIDS.diagnosis.dokter gigi dan pimpinan sarana yang wajib menyimpannya sebagai rahasia. Selain itu.Disisi lain rumah sakit sebagai institusi tempatdilaksanakannya pelayanan medis. Pasal 9 Rumah sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien Pasal 10 Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien dan tindakan apa yang hendak dilakukan. bahkan setelah kematian. baik medik maupun non medik secara baik. kondisi medis.

Maka. Sebagaimana sabda Nabi saw. dan seks bebas (free sex dan free love).Razi. “Pandangan yang bersumber dari syahwat itu merupakan busur panah setan.” (QS an-Nur [24]: 31). yaitu berpakaian yang bisa memancing perhatian lawan jenis. pintu ini harus ditutup rapat-rapat. Allah SWT berfirman: “Janganlah kalian mendekati perzinaan. Dengan tegas Nabi menyatakan.” (QS al-Isra’ [17]: 32) Islam bukan hanya mengharamkan perzinaan. memandang lawan jenis dengan syahwat juga dilarang. Islam juga mengharamkan wanita berpakaian tabarruj. XXIII/371). “Hendaknya salah seorang di antara kalian tidak berdua-duaan dengan seorang wanita. karena pihak yang ketiga adalah setan. Bahkan. Tafsir ar-Razi. “Dan hendaknya para wanita itu tidak menampakkan perhiasannya. ketika keduanya meraba. Karena itu.” (HR Ahmad dan an-Nasa’i) Tidak hanya berduaan. yaitu gonta-ganti pasangan seks. Dengan tegas Allah menyatakan. tetapi semua jalan menuju perzinahaan pun diharamkan. Islam juga mengharamkan pria dan wanita menampakkan auratnya. X/145).” (as-Sarakhshi. kecuali apa yang boleh nampak darinya (wajah dan kedua telapak tangan). mengharamkan pria dan wanita berkhalwat (menyendiri/berduaan). bahwa zina mata adalah melihat (HR Ahmad). dengan tegas Islam mengharamkan perzinaan dan seks bebas. Dengan tegas Allah menyatakan. seraya bersabda. yaitu seluruh badan. Dengan tegas ayat ini mengharamkan wanita menampakkan auratnya. ketika keduanya sama-sama melihat. misalnya.LI. Sedangkan bagi pria.” Dalam riwayat lain Nabi menyatakan. Nabi pernah memalingkan kepala Fadhal bin Abbas ketika memandangi wajah perempuan Khas’amiyah. atTirmidzi dan Abu Dawud). Pandangan Islam Tentang Kasus HIV Tindakan Preventif Sumber penyakit AIDS ini jelas. “Hendaknya .. tanpa disertai mahram. Islam mengharamkan pria memperlihatkan pahanya. Dua tangan berzina. “Dua mata berzina.4. karena sesungguhnya perzinaan itu merupakan perbuatan yang keji. Islam. kecuali wajah dan kedua telapak tangan. dan cara yang buruk (untuk memenuhi naluri seks). atau perzinaan. melihat paha orang hidup maupun mayit (HR ar. al-Mabsuth. Nabi juga melarang pandangan kedua (pandangan yang disertai dengan syahwat) (HR Ahmad.

Khilafah juga akan melakukan riset dengan serius untuk menemukan obat yang bisa menanggulangi virus HIV-AIDS ini. Islam pun tegas melarang produksi. Dalam hal ini. yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada hakim. bagaimana dengan mereka yang tertular penyakit AIDS.” (QS al-Ahzab [33]: 33). dan sebagainya? Karena itu merupakan masalah kesehatan yang menjadi hak masyarakat. maka seluruh pintu perzinaan benar-benar telah ditutup rapat-rapat oleh Islam. Tidak hanya itu. Islam memberlakukan sanksi jild (cambuk) hingga 100 kali. misalnya. Dengan cara seperti itu. atau dicambul 100 kali bagi ghair muhshan. Lalu. Mulai dari perawatan. Islam menetapkan sanksi dalam bentuk ta’zir. tetapi semua bentuk pelanggaran yang bisa mengantarkan pada perbuatan zina. konsumsi dan distribusi barang dan jasa yang bisa merusak masyarakat. Dengan begitu. maka hukumnya haram. maka negara wajib menyediakan layanan kesehatan nomor satu bagi penderita penyakit ini. bisa dianggap sebagai orangorang yang benar-benar nekat. maka Islam memberlakukan sanksi rajam (dilempari batu) hingga mati. dan orang lain yang tertular. atau anak-anak balita. cambuklah masing-masing di antara mereka dengan 100 kali cambukan. maka salah satu sumber penyebaran penyakit AIDS ini pun dengan sendirinya bisa dihilangkan. Dari aspek obyek seksualnya. Ketika Maiz al-Aslami dan al-Ghamidiyyah melakukan zina. . orang yang melakukan zina. atau make up yang menarik perhatian. seperti pornografi dan pornoaksi. Seperti menampakkan lekuk tubuh. sama-sama untuk menundukkan pandangan kepada lawan jenis dan menjaga kemaluan mereka (QS anNur [24]: 30-31). Jika pelaku zina muhshan dirajam sampai mati. dengan rajam bagi yang muhshan. Tidak hanya itu.(perempuan) tidak berpakaian dengan tabarruj. Maslahat dari penerapan seluruh ketentuan dan hukum ini adalah terbebasnya masyarakat dari perilaku seks yang tidak sehat. Bagi yang belum menikah (ghair muhshan).” Tindakan Kuratif Jika seluruh hukum dan ketentuan di atas diterapkan. “Pezina perempuan dan laki-laki.” (QS an-Nur [24]: 02) Punishment bukan hanya diberikan kepada pelaku zina. prilaku seks yang menjadi sumber penyakit AIDS pun benar-benar telah ditutup rapat. memakai parfum. Sebagaimana kaidah ushul yang menyatakan. dan bukan pelaku zina? Seperti ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang heteroseksual. maka praktis pintu zina telah tertutup rapat. Bagi yang telah menikah (muhshan). Dengan tegas Allah menyatakan. obat-obatan hingga layanan pengobatan. maka keduanya di-rajam oleh Nabi SAW hingga mati. sebagaimana cara perempuan jahiliyah bertabarruj. “Sarana yang bisa mengantarkan pada keharaman. melalui jarum suntik. Karena semuanya ini bisa mengantarkan pada perbuatan zina. Ini dari aspek pelakunya. Islam memberlakukan tindakan tegas. Maka terhadap orang-orang seperti ini. Islam juga memerintahkan baik pria maupun wanita.

Nabi memerintahkan kita lari dari penderita lepra. karena lepra merupakan penyakit menular. mereka tidak hanya dirawat secara medis. Dalam hal ini. Berarti. perintah melarikan diri. tindakan ini bisa diwujudkan dalam bentuk karantina. karena sama-sama menderita penyakit menular. . juga pandangan masyarakat terhadapnya. Dalam karantina itu. Karena itu. berdasarkan hadits ini. yang berarti penderitanya harus dijauhkan dari orang sehat. yaitu sama-sama harus dikarantinakan. khususnya dalam aspek psikologis. maka para penderitanya bisa dikarantina. sebagaimana kamu melarikan diri dari (kejaran) singa. Kedua. penderita lepra harus dikarantika. Artinya. Ini didasarkan pada hadits Nabi.” (HR Abdurrazaq. Dalam konteks medis. al-Mushannaf. ditanamkan kepada mereka sikap ridha (menerima) kepada qadha’.Karena ini merupakan jenis virus yang berbahaya dan mematikan. selain beban penyakit yang dideritanya. Dengan terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka agar lebih terpacu melakukan amal untuk menyongsong kehidupan berikutnya yang lebih baik. ini bisa dianalogikan kepada penyakit menular yang lain. “Larilah kamu dari orang yang terkena lepra. X/405). sabar dan tawakal. lepra sebagai jenis penyakit menular. bukan lepra sebagai penyakit tertentu. Tindakannya juga sama. penderita AIDS bisa disamakan dengan penderita lepra. Dari hadits ini bisa ditarik dua hukum: Pertama. tetapi juga non medis. Penderita AIDS tentu akan mengalami tekanan psikologis yang luar biasa.

1. Rengganis I. Ilmu Penyakit Dalam. Rosyidah.wordpress. Edisi IV.id/bitstream/123456789/3684/1/fkm-fazidah4. Edisi 4.files. Hamzah M. (2008). Djuanda A. Djauzi.Tutii Parwati. Djauzi. Kritik Islam Terhadap Strategi Penangulangan HIV-AIDS Berbasis Paradigma Sekuler-Liberal dan Solusi Islam dalam Menangani Kompleksitas Problematika HIV-AIDS.Daftar Pustaka Baratawidjaja KG. Aisah S. (2011).com/2008/05/yemima-septiany-puraja0781141201.pdf) (http://repository. Jakarta : EGC. (2010). Hanafiyah MJ. Huriawati Hartanto.usu. F. Imunologi Dasar.pdf) . Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Samsuridjal (2006). Zubairi. Sylvia Anderson. Merati. Edisi IV. Etika kedokteran dan hokum kesehatan. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Price. Djoerban. vol. vol I Jakarta : Departemen Penyakit Dalam FKUI. Samsuridjal (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Amir A. (http://mikrobia. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. vol III Jakarta : Departemen Penyakit Dalam FKUI.ac. Edisi VI. (2006). Jakarta : Balai Penerbit FKUI.